Gelapnya Kedzaliman

Sifat dzalim dan jahil merupakan sifat asli manusia, seorang tidak bisa lepas dari dua sifat tersebut kecuali dengan karunia dan petunjuk Allah. Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah maka Dia akan menunjukinya dan mengeluarkannya dari kejahilan dan kedzaliman. Adapun orang yang tidak dikehendaki oleh Allah kebaikan, maka dia akan tetap pada tabiat aslinya. Oleh karenanya, sumber segala kebaikan adalah ilmu dan keadilan, sebaliknya sumber segala kejelekan adalah kejahilan dan kedzaliman”.[1]

Sungguh, betapa banyak fenomena kedzaliman yang kita jumpai pada kehidupan ini: Kedzaliman seseorang terhadap Robb yang menciptakannya, kedzaliman seorang anak terhadap orang tuanya, kedzaliman pemimpin terhadap bawahannya, kedzaliman  seorang terhadap kawan dan tetangganya, bahkan kedzaliman seorang terhadap dirinya. Aduhai, tahukah kita kesudahan orang-orang yang dzalim?! Balasan apakah yang dipersiapkan Allah kepada orang yang dzalim?! Apakah bentuk-bentuk kedzaliman?! Inilah yang akan menjadi pokok bahasan kita kali ini. Kita memohon kepada Allah perlindungan dari segala kedzaliman.

Defenisi Kedzaliman

Kedzaliman menurut para ahli bahasa dan ulama bermakna meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya.

Al-Kafawi berkata: “Kedzaliman adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya dan mengambil hak orang lain serta menerjang batas-batas Allah”.[2]

Al-Jurjani berkata: “Kedzaliman adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Dan dalam istilah syar’I adalah suatu ungkapan yang menunjukkan berpaling dari kebenaran menuju kebathilan, atau mengambil hak milik orang lain dan melampui batas”.[3]

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata: “Kedzaliman berputar pada dua perkara:

Pertama: Tidak menunaikan kewajiban terhadap orang lain, seperti orang yang memiliki hutang tapi tidak membayarnya atau menunda-nunda padahal mampu.

Kedua: Mewajibkan kepada orang lain sesuatu yang tidak wajib baginya, seperti kamu menuduh kawanmu punya hutang kepadamu lalu kamu membuat surat-surat palsu sehingga kamu menang di pengadilan.[4]

Macam-Macamnya

Kedzaliman terbagi menjadi tiga macam:

1. Berbuat dzalim kepada Allah dengan kesyirikan dan kekufuran. Allah berfirman:

 

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar. (QS. Luqman: 13)

Segi kesyirikan termasuk kedzaliman adalah karena seorang yang berbuat syirik telah menjadikan makhluk sejajar dengan kedudukan Al-Kholiq (Pencipata), yaitu dengan beribadah kepadanya. Hal itu berarti meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, karena makhluk tidak berhak untuk diibadahi, ibadah hanya khusus bagi Allah.

Dan kebanyakan ancaman Allah terhadap orang dzalim dalam Al-Qur’an maksudnya adalah orang yang berbuat kesyirikan. Allah berfirman:

وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Dan orang-orang kafir Itulah orang-orang yang zalim. (QS. Al-Baqoroh: 254)

 

2. Berbuat dzalim kepada manusia. Allah berfirman:

وَجَزَآؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةً مِّثْلَهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ إِنَّهُ لاَيُحِبُّ الظَّالِمِينَ

 

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baikMaka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. (QS. Syuro: 40)

Rasulullah pernah bersabda dalam khutbah saat haji wada’:

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا

Sesungguhnya darah-darah kalian, harta-harta kalian, dan kehormatan kalian haram di antara kalian seperti haramnya hari kalian ini dan bulan kalian ini. (HR. Bukhori 67 dan Muslim 1679)

 

3. Berbuat dzalim terhadap diri sendiri dengan dosa dan maksiat. Allah berfirman:

 

فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ

Diantara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS. Fathir: 32)

قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِى

Musa mendoa: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya Aku Telah menganiaya diriku sendiri.. (QS. Al-Qoshos: 16)

Semua macam di atas pada hakekatnya adalah mendzalimi diri sendiri, sebab manusia sejak awal ingin berbuat dzalim sebenarnya telah mendzalimi dirinya sendiri.[5]

Ibnul Qoyyim berkata: “Kedzaliman di sisi Allah ada tiga macam:

Pertama: Kedzaliman yang tidak diampuni oleh Allah, yaitu perbuatan syirik kepadaNya.

Kedua: Kedzaliman yang tidak akan dilepaskan oleh Allah, yaitu kedzaliman hamba terhadap hamba lainnya.

Ketiga: Kedzaliman yang diringankan oleh Allah, yaitu kedzaliman manusia terhadap dirinya sendiri. Kedzaliman jenis ini adalah paling ringan dan mudah dihapus, yaitu dengan taubat, istighfar, amal shalih, musibah dan sebagainya. Berbeda halnya dengan kesyirikan, kedzaliman jenis ini tidak bisa dihapus kecuali dengan tauhid. Adapun kedzaliman hamba terhadap hamba lainnya, hal ini tidak bisa dihapus kecuali dengan keikhlasan pemiliknya. Dan karena syirik merupakan puncak kedzaliman maka Allah mengharamkan surga bagi orang yang berbuat syirik”.[6]

 

Hukumnya

Sesungguhnya Kedzaliman adalah sifat tercela yang muncul dari kegelapan hati. Seandainya hati bersinar, niscaya dia akan mengambil pelajaran.[7]

Tidak ada perselisihan pendapat bahwa kedzaliman hukumnya adalah haram bahkan termasuk dosa besar. Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah yang melarang perbuatan dzalim dan memberikan ancaman-ancaman keras darinya, cukuplah bagi kita dua firman Allah berikut:

وَلاَتَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّار

Dan janganlah kamu cenderung[8] kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka. (QS. Hud: 113)

“Ayat ini bisa dikatakan sebagai ayat yang paling keras tentang larangan dan ancaman dari perbuatan dzalim”.[9] Sebab Allah menegaskan bahwa sekedar condong kepada orang dzalim adalah sebab masuk neraka, lantas bagaimana dengan melakukan kedzaliman itu sendiri?!

Firman Allah lainnya yang menunjukkan haramnya perbuatan dzalim adalah hadits qudsi yang masyhur sebagai berikut:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَى عَنْ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَّهُ قَالَ : يَا عِبَادِي, إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي, وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا, فَلَا تَظَالَمُوا…

Dari Abu Dzar dari Nabi belmeriwyatkan dari robbnya bahwa Alalh berfirman: “Wahai sekalian hambaku, sesungguhnya saya mengharamkan kedzaliman pada diriKu, dan mengharamkannya pada kalian, maka janganlah kalian saling mendzalimi…(HR. Muslim 4674)[10]

 

Bahaya dan Dampak Negatifnya

Sesungguhnya kedzaliman sangat berbahaya sekali bagi pribadi maupun masyarakat. Banyak sekali bahaya dan dampak negatif perbuatan dzalim, di antaranya:

1. Menyebabkan datangnya murka Allah dan siksaNya

عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُمْلِي لِلظَّالِمِ, فَإِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ, ثُمَّ قَرَأَ : وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ.

Sesungguhnya Allah menangguhkan orang yang dzalim, sehingga apabila tiba saatnya Allah menyiksanya maka Allah tidak akan melepasnya, kemudian beliau membaca firman Allah: “Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras”. (QS. Hud: 102). (HR. Bukhori 4686 dan Muslim 2583)

2. Doa orang yang terdzalimi mustajab

Rasulullah pernah berpesan kepada Mu’adz bin Jabal tatkala mengutusnya ke Yaman:

وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ, فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ.

Hati-hatilah dari doa orang yang didzalimi, karena tidak ada penghalang antaranya dan antara Allah. (HR. Bukhori 1401 dan Muslim 27)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ : دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ, وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ, وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah bersabda: Tiga doa mustajab tanpa ada keraguan di dalamnya; doa orang yang didzalimi, doa musafir dan doa orang tua terhadap anaknya. (HR. Tirmidzi 2448, Abu Dawud 1636, Ibnu Majah 3862, Ahmad 2/258 dan dishahihkan al-Albani dalam ash-Shahihah: 598)

3. Kegelapan di akherat

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ:  قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah bersabda: “Kedzaliman adalah kegelapan-kegelapan di akherat kelak”. (HR. Bukhori 2447 dan Muslim 2579)

4. Dikurangi amal kebaikannya

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا, فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ لِأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ, فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang memiliki kedzaliman pada saudaranya, maka hendaknya dia meminta kehalalan padanya, karena kelak di akherat tiada lagi dinar maupun dirham sebelum kebaikannya diambil untuk saudaranya (yang dia dzalimi), bila tidak memiliki kebaikan maka kejelekan saudaranya (yang dia dzalimi) akan diberikan padanya. (HR. Bukhori: 2440, 6534)

6. Faktor kehancuran umat

 وَاتَّقُوا فِتْنَةً لاَتُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنكُمْ خَآصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (QS.Al-Anfal: 25)

 7. Dijauhi manusia

Orang yang dzalim jelas akan dijauhi dan dibenci oleh masyarakatnya, teman-temannya, keluarganya, bahkan binatangpun akan membencinya. Alangkah bagusnya ucapan Abu Hazim tatkala mengatakan: “Orang yang paling sengsara terhadap manusia yang berakhlak jelek adalah dirinya sendiri, kemudian istrinya dan anaknya, di mana saat ketika mereka tengah dalam kesenangan di rumah tiba-tiba suasana berganti kesedihan tatkala mereka mendengar suara ayah mereka akan masuk rumah, bahkan kendaraannya akan menyingkir darinya karena takut akan dilempar dengan batu, demikian juga anjing akan pergi ke tembok tatkala melihatnya, demikian juga kucing akan lari darinya”.[11]

Beberapa Contoh dan Bentuknya

Banyak sekali contoh bentuk kedzaliman manusia sesama manusia, tetapi semua itu bisa dikembalikan kepada sabda Nabi:

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا

Sesungguhnya darah-darah kalian, harta-harta kalian, dan kehormatan kalian haram di antara kalian seperti haramnya hari kalian ini dan bulan kalian ini. (HR. Bukhori 67 dan Muslim 1679)

Imam adz-Dzahabi berkata: “Kedzaliman itu ada tiga macam:

Pertama: Memakan harta dengan cara yang bathil

Kedua: Mendzalimi manusia dengan cara membunuh, memukul, melukai dan sebagainya

Ketiga: Mendzalimi manusia dengan celaan, la’nat, dan tuduhan dusta”.[12]

Berikut beberapa contoh kedzaliman yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadits, di antaranya:

1. Mengambil harta anak yatim

} إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا

Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, Sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). (QS. An-Nisa’: 10)

2. Merampas tanah orang

عَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :مَنْ اقْتَطَعَ شِبْرًا مِنْ الْأَرْضِ ظُلْمًا, طَوَّقَهُ اللَّهُ إِيَّاهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ سَبْعِ أَرَضِينَ

Dari Said bin Zaid bin Amr bin Nufail bahwasanya Rasulullah bersabda: “Barangsiapa merampas sejengkal tanah secara dzalim maka Allah akan menimpakan tanah tersebut padanya di hari kiamat sampai tujuh bumi. (HR. Muslim 3020)

3. Memperlambat pembayaran hutang padahal mampu

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda: “Memperlambat hutang bagi orang yang mampu adalah suatu bentuk kedzaliman”. (HR. Bukhori: 2400 dan Muslim: 2564)

4. Kedzaliman pemimpin kepada bawahannya

عَنْ عَائِشَةَ سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي بَيْتِي هَذَا : اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ, وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ

Dari Aisyah berkata: Saya mendengar Rasulullah berdoa di rumahku ini: “Ya Allah, siapa yang mengurusi urusan umatku lalu dia mempersulit mereka maka persulitlah dirinya dan barangsiapa yang mengurusi urusan umatku lalu dia mempermudah mereka maka mudahkanlah dirinya”. (HR. Muslim: 3407)

5. Tidak adil kepada para istri

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ كَانَتْ لَهُ امْرَأَتَانِ فَمَالَ إِلَى إِحْدَاهُمَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَشِقُّهُ مَائِلٌ

Dari Abu Hurairah berkata: “Barangsiapa memiliki dua istri, lalau dia condong kepada salah satunya maka dia akan datang pada hari kiamat sedangkan setengah badannya condong”. (HR. Abu Dawud 2133 dishahihkan al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 3/340 dan al-Albani dalam Irwaul Gholil 2017)

 

Dalam Kisah Mereka Terdapat Pelajaran

“Sesungguhnya tiada perselisihan di kalangan manusia bahwa kesudahan orang-orang yang dzalim adalah kehancuran dan kebinasaan, sebagaimana kesudahan dari keadilan adalah kemuliaan dan kejayaan”.[13]

Sejarah menjadi bukti dan saksi akan kebenaran ucapan di atas. Berikut beberapa kisah, semoga menjadi pelajaran berharga bagi kita semua tentang kesudahan orang-orang yang dzalim:

1. Seorang wanita pernah menuduh sahabat Said bin Zaid bahwa beliau mengambil tanah miliknya, lalu beliau berdoa: “Ya Allah, apabila dia dusta maka butakanlah matanya, matikanlah dia di tanahnya”. Akhirnya, wanita itu buta, dan pada suatu malam dia berjalan di tanahnya, tiba-tiba dia jatuh di sumurnya lalu meninggal dunia”[14]

 

2. Seorang laki-laki pernah menuduh Muthorrif bin Abdillah asy-Syikhir yang bukan-bukan, lalu beliau berkata: “Kalau kamu dusta, maka Allah akan menyegerakan kematianmu”. Lalu, seketika itu juga orang tersebut mati di tempatnya.[15]

3. Sejarah mencatat kisah Yahya bin Kholid Al-Barmaky (190 H). Anak-anaknya pernah bertanya kepadanya tatkala semua ditahan dalam penjara kota “Roqoh”: “Wahai ayah, mengapa setelah kemuliaan, kekayaan dan kebahagiaan, kini keadaan kita berubah menjadi seperti ini? Dia menjawab: “Wahai anakku, doa orang yang terdzolimi kita lalaikan padahal Alloh tidak pernah melalaikannya”.[16]

4. Seorang bisnismen besar pernah menderita sakit berkepanjangan di tangannya, para dokter tiada bermanfaat lagi baginya, kemudian dia mendatangi seorang syaikh guna diruqyah barangkali saja ada orang yang menyihirinya, tapi ruqyahpun tiada bermanfaat juga. Akhirnya, Syeikh tersebut berkata: “Intropeksilah, barangkali anda pernah mendzalimi orang lemah, maka segerah bertaubat kepada Allah dan meminta maaf padanya”. Orang itupun pulang lalu memutar kaset rekaman yang ada di pikirannya: “Pernahkah aku mendzalimi seorang?”. Diapun teringat bahwa dia pernah merampas tanah milik wanita janda tua dan memalsu surat-surat untuk kepentingan istananya. Setelah itu, diapun mencari tahu tentang keberadaan janda tersebut, meminta maaf dan mengembalikan hak tanahnya. Demi Allah, seketika itu pula tangannya sembuh total!!.[17]

Ini hanyalah sekelumit kisah yang menunjukkan akibat perbuatan dzalim dan bahwasanya Allah akan menolong hambanya yang terdzalimi sekalipun dia adalah seorang yang lemah. Maka waspadalah wahai saudaraku dari perbuatan dzalim dan janganlah sekali-kali dirimu meremehkannya!! Ingatlah balasan Allah bila engkau hendak berbuat dzalim kepada manusia. Umar bin Abdil Aziz berkata: “Apabila kemampuanmu menggodamu untuk berbuat dzalim kepada manusia, maka ingatlah kemampuan Allah untuk membalasmu”.[18]

Alangkah indahnya ucapan seorang penyair:

لاَ تَظْلِمَنَّ إِذَا مَا كُنْتَ مُقْتَدِرََا

فَالظُّلْمُ آخِرُهُ يَأْتِيْكَ بِالنَّدَمِ

نَامَتْ عُيُوْنُكَ وَالْمَظْلُوْمُ مُنْتَبِهٌ        

  يَدْعُوْ عَلَيْكَ وَعَيْنُ اللهِ لَمْ تَنَمِ

Janganlah engaku berbuat dzalim dalam kemampuanmu

Kedzaliman pada akhirnya akan menyedihkanmu

Matamu tidur dan orang yang terdzalimi tidak tidur

Dia mendoakan bencana bagimu, dan Mata Allah tidak tidur.[19]

Akhirnya, kita berlindung kepada Allah dari mendzalimi orang lain atau didzalimi orang. Ya Allah, sesungguhnya kami telah banyak berbuat dzalim maka ampunilah kami semuanya.[20]

Penyusun: Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi

 


[1] Ighotsatul Lahfan 2/136-137 Ibnul Qoyyim.

[2] Al-Kulliyyat hlm. 594.

[3] At-Ta’rifat hlm. 48.

[4] Syarh Arbai’n Nawawiyyah hlm. 245.

[5] Al-Mufrodat hlm. 315-316 ar-Roghib al-Asfahani, Jami’ul Ulum wal Hikam 2/36 Ibnu Rojab.

[6] Al-Wabilu Ash-Shoyyib hlm. 33.

[7] Fathul Bari 5/121 Ibnu Hajar.

[8] Cenderung kepada orang yang zalim maksudnya menggauli mereka serta meridhai perbuatannya. akan tetapi jika bergaul dengan mereka tanpa meridhai perbuatannya dengan maksud agar mereka kembali kepada kebenaran atau memelihara diri, Maka dibolehkan.

[9] Tafsir al-Baidhowi 3/266-267.

[10] Hadits shahih ini sangat agung sekali, menyimpan ilmu-ilmu berharga. Oleh karenanya, tidak heran jika Abu Idris (seorang rawi hadits ini) apabila beliau menceritakan hadits ini, maka beliau berlutut. Dan Imam Ahmad berkata: “Tidak ada hadits yang lebih mulia bagi penduduk Syam daripada hadits ini”. (Lihat al-Adzkar hlm. 716 an-Nawawi dan Jami’ul Ulum wal Hikam 1/33-34 Ibnu Rojab).

[11] Siyar A’lam Nubala 6/99 adz-Dzahabi.

[12] Al-Kabair hlm. 215, tahqiq Syaikh Masyhur bin Hasan. Lihat pula Syarh Riyadh Sholihin 2/117-121 Ibnu Utsaimin.

[13] Majmu Fatawa 28/62 Ibnu Taimiyyah.

[14] Shohih Muslim: 1610

[15] Mujaabuu Da’wat 92 Ibnu Abi Dunya.

[16] Siyar A’lam Nubala’ 9/90 adz-Dzahabi.

[17] Istamti’ bi Hayatika hlm. 313-315 DR. Muhammad bin Abdurrahman al-‘Arifi.

[18] Siyar A’lam Nubala 5/131 adz-Dzahabi.

[19] Bashoir Dhawi Tamyiz 3/543 Fairuz Abadi.

[20] Penulis banyak mengambil manfaat pembahasan ini dari kitab Mausu’ah Nadhrotin Na’im 10/4871-4926 dan referensi penting lainnya.