Mustahil Menghindar dari Celaan

وَلَسْتُ بِنَاجٍ مِنْ مَقَالَةِ طَاعِنٍ
وَلَوْ كُنْتُ فِيْ غَارٍ عَلَى جَبَلٍ وَعْرِ
وَمَنْ ذَا الَّذِيْ يَنْجُوْ مِنَ النَّاسِ سَالِمًا
وَلَوْ غَابَ عَنْهُمْ بَيْنَ خَافِيَتَيْ نَسْرِ

Aku tidak akan pernah selamat dari celaan orang
Meski aku bersembunyi di gua atau gunung yang sulit didaki
Siapakah orangnya yang bakal selamat dari manusia
Walau dia telah bersembunyi di antara dua sayap burung. (Muqaddimah Shifat Shalat Nabi (hlm. 44–45) oleh al-Albani)

Hikmah di Balik Celaan

وَإِذَا أَرَادَ اللهُ نَشْرَ فَضِيْلَةٍ طُوِيَتْ أَتَاحَ لَهَا لِسَانَ حَسُوْدِ
لَوْلاَ اشْتِعَالُ النَّارِ فِيْمَا جَاوَرَتْ مَا كَانَ يُعْرَفُ طِيْبُ عَرْفِ الْعُوْدِ
Bila Allah berkehendak menyebarkan keutamaan yang rahasia
Maka Dia memberi kesempatan lidah pendengki untuk menyebarkannya
Seandainya bukan karena nyala api yang merayap
Maka tidak diketahui wanginya bau kayu wangi. (Diwan Abu Tammam no. 45–46)