Syi’ah Menghujat Sahabat Nabi

Urgensi Pembahasan

Pembahasan tentang tema ini sangatlah penting karena beberapa faktor:

1.  Masalah ini termasuk aqidah yang telah mapan dalam kitab-kitab salaf.

2.  Bantahan terhadap beberapa pemahaman yang menyimpang seperti Syi’ah.

3.  Mengokohkan kita untuk semakin cinta dan mengikuti jalan para Sahabat.

Definisi Sahabat

Definisi “sahabat” yang paling bagus adalah sebagaimana dikatakan oleh al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani Rahimahullahu Ta’ala, “Sahabat adalah setiap yang bertemu dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beriman kepada beliau, meninggal dalam Islam, sekalipun pernah murtad.”[1]

Penjelasan definisi ini:

–   Setiap: Mencakup pria dan wanita, manusia dan jin.[2]

–   Bertemu: Sekalipun bertemu hanya sekali. Oleh karenanya, Isa ibn Maryam termasuk Sahabat[3]. Adapun jika tidak bertemu maka bukan termasuk Sahabat; seperti Raja Najasyi.

–   Beriman: Adapun jika tidak beriman maka tidak termasuk Sahabat; seperti Abu Jahl, Abu Thalib, dan sebagainya.

–   Meninggal dalam Islam: Adapun yang murtad maka bukan Sahabat; seperti Abdullah ibn al-Khaththab yang dibunuh saat Fathu Makkah.

–   Sekalipun pernah murtad: Maksudnya dia pernah murtad lalu masuk Islam lagi dan mati di atas Islam, seperti Asy’ats ibn Qais, maka dia termasuk Sahabat.[4]

Keutamaan Para Sahabat[5]

Seluruh sahabat adalah manusia yang mulia setelah Nabi, sebab mereka telah mengikuti Rasul dalam berdakwah, dan telah mengorbankan jiwa, raga, dan harta demi agama Allah, sehingga umat Islam menjadikan mereka suri teladan setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Seluruh umat Islam meyakini bahwa seluruh sahabat Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah orang yang mulia yang telah dipuji Allah dalam al-Qur’an dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam banyak haditsnya. Berikut ini beberapa dalil tentang keutamaan mereka:

Dalil al-Qur’an

وَٱلسَّـٰبِقُونَ ٱلْأَوَّلُونَ مِنَ ٱلْمُهَـٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحْسَـٰنٍۢ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّـٰتٍۢ تَجْرِى تَحْتَهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًۭا ۚ ذَ‌ٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ ﴿١٠٠﴾

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (QS at-Taubah [9]: 100)

لَّقَدْ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنِ ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ ٱلشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِى قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَـٰبَهُمْ فَتْحًۭا قَرِيبًۭا ﴿١٨﴾

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). (QS al-Fath [48]: 18)

Dalil Hadits

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

« خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ أَقْوَامٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ »

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang datang sesudah mereka, kemudian yang datang sesudah mereka, kemudian datang kaum yang persaksian seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.”[6]

Bahkan secara khusus, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjanjikan dan menjamin surga untuk 10 orang sahabatnya yang paling utama, Khulafaurrasyidin termasuk di dalamnya. Dalam sebuah hadits disabdakan, “10 orang akan masuk Surga; Abu Bakar masuk Surga, Umar masuk Surga, Utsman masuk Surga, Ali masuk Surga, Thalhah masuk Surga, az-Zubair masuk Surga, Abdurrahman ibn Auf masuk Surga, Sa’ad masuk Surga, Sa’id ibn Zaid masuk Surga dan Abu Ubaidah ibn al-Jarrah masuk Surga.” ( HR Ahmad, at-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibn Hibban)

Dalil Atsar Sahabat

Abdullah ibn Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu berkata:

مَنْ كَانَ مُسْتنّا فَلْيَسْتَنَّ بِمَنْ قَدْ مَاتَ أُولَئِكَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ n كَانُوْا خَيْرَ هَذِهِ الأمَّةِ وَأَبَرَّهَا قُلوْبًا، وَأَعْمَقَهَا عِلْمًا ، وَأَقَلَّهَا تَكَلُّفًا، قَوْمٌ اخْتَارَهُمُ اللهُ لِصُحْبَةِ نَبِيِّهِ n ونَقْلِ دِيْنِهِ فَتَشبَّهُوْا بِأَخْلاَقِهِمْ وطَرَائِقِهِمْ ؛ فَهُمْ كَانُوْا عَلَى الهَدْي المُسْتَقِيْمِ

“Barangsiapa yang mau mencontoh, maka contohlah orang-orang yang sudah mati, yaitu para sahabat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka adalah sebaik-baik umat ini dan, paling baik hatinya, paling luas ilmunya, dan paling sedikit memberatkan diri, suatu kaum yang dipilih oleh Allah untuk menemani Nabi-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan menukil agama-Nya, maka contohlah akhlak mereka dan cara mereka karena mereka berada di atas jalan yang lurus.”[7]

Oleh sebab keutamaan itulah, para sahabat Nabi dinilai adil (shalih) dengan kesepakatan para ulama. Keadilan Sahabat bermakna diterimanya periwayatan mereka tanpa perlu bersusah payah mencari sebab-sebab keadilan dan kebersihan mereka. Ijma’ ulama tentang keadilan Sahabat itu diutarakan oleh Ibn Abdil-Barr dalam al-Isti’ab (1/19), Ibn Shalah dalam Muqaddimah (hlm. 294–295), an-Nawawi dalam Syarh Muslim 15/149, Ibn Hajar dalam al-Ishabah 1/17, as-Suyuthi dalam Tadrib ar-Rawi (2/164), as-Sakhawi dalam Fat·h al-Mughits 3/122, dan sebagainya.

Aqidah Ahlus Sunnah Terhadap Sahabat[8]

Aqidah Islam dan aqidah Ahlus Sunnah terkait para Sahabat adalah sebagaimana dinyatakan al-Imam Abu Ja’far ath-Thahawi (wafat 321 H), “Kita mencintai para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan tidak berlebihan dalam mencintai salah seorang dari mereka. Kita tidak berlepas diri dari mereka. Kita membenci orang yang membenci mereka (para Sahabat) dan yang menyebut mereka tidak baik. Kita tidak menyebut mereka kecuali dengan kebaikan. Mencintai mereka adalah agama, iman, dan ihsan. Membenci mereka adalah kekafiran, kemunafikan, dan sikap melampaui batas.”[9]

Adapun sikap dan etika kita terhadap para sahabat sebagai berikut:

1. Mencintai mereka dengan hati dan lisan

Perlu diketahui bahwa mencintai mereka berarti kita telah mewujudkan konsekuensi cinta Allah, sebab Allah telah mengabarkan bahwa Dia telah ridha terhadap para Sahabat.

يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُم بِرَحْمَةٍۢ مِّنْهُ وَرِضْوَ‌ٰنٍۢ وَجَنَّـٰتٍۢ لَّهُمْ فِيهَا نَعِيمٌۭ مُّقِيمٌ ﴿٢١﴾

Rabb mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada-Nya, keridhaan, dan Surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal. (QS at-Taubah [9]: 21)

Alangkah bagusnya ucapan al-Imam Malik Rahimahullahu Ta’ala, “Adalah para salaf, mereka mengajarkan kepada anak-anak mereka untuk cinta kepada Abu Bakr dan Umar sebagaimana mereka mengajarkan surat dalam al-Qur’an.”[10]

2. Memohonkan rahmat dan ampunan untuk mereka

Sebagai realisasi firman Allah:

وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَ‌ٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَـٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّۭا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌۭ رَّحِيمٌ ﴿١٠﴾

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdo’a: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS al-Hasyr [59]: 10)

Oleh karenanya, setiap kali kita menyebut nama sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam maka kita mendo’akan “Radhiyallahu ’anhu (Semoga Allah meridhainya)”.

3. Menahan lisan dari membicarakan kesalahan mereka apalagi mencela mereka[11]

Karena kesalahan mereka sangatlah sedikit dibandingkan dengan kebaikan mereka yang begitu banyak, apalagi kesalahan mereka bersumber dari ijtihad yang diampuni. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

« لَا تَسُبُّوْا أَصْحَابِيْ فَوَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ أَنْفَقَ أَحَدُكُمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيْفَهُ »

“Janganlah kalian mencela sahabatku. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya seorang di antara kalian kalian menginfaqkan emas seperti Gunung Uhud, sungguh belum menyamai satu mud seorang di antara mereka, tidak pula separuhnya.” (HR al-Bukhari: 3673 dan Muslim: 2541)

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda:

« إِذَا ذُكِرَ أَصْحَابِيْ فَأَمْسِكُوْا »

“Apabila disebut sahabatku maka diamlah.”[12]

Al-Munawi Rahimahullahu Ta’ala berkata, “Yakni apa yang terjadi di antara mereka berupa peperangan dan persengketaan. (Diamlah) secara wajib dari mencela mereka dan membicarakan mereka dengan tidak pantas, karena mereka adalah sebaik-baik umat.”[13]

Hukum dan Bahaya Mencela Sahabat

Sesungguhnya mencela para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah dosa besar[14] dan perbuatan nista[15]. Allah berfirman:

وَٱلَّذِينَ يُؤْذُونَ ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَـٰتِ بِغَيْرِ مَا ٱكْتَسَبُوا۟ فَقَدِ ٱحْتَمَلُوا۟ بُهْتَـٰنًۭا وَإِثْمًۭا مُّبِينًۭا ﴿٥٨﴾

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (QS al-Ahzab [33]: 58)

Al-Hafizh Ibn Katsir menjelaskan bahwa di antara golongan yang paling sering terkena ancaman ini adalah orang-orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kaum Rafidhah yang telah mencela para Sahabat Radhiallahu ‘Anhum dan menuduh yang bukan-bukan bahkan mereka menjuluki para Sahabat Radhiallahu ‘Anhum dengan sifat-sifat yang bertentangan dengan Allah yang telah menyatakan ridha dan memuji kaum Muhajirin dan Anshar. Namun, justru orang-orang bodoh dan tolol tersebut (Syi’ah Rafidhah) malah mencela dan mencaci maki para Sahabat serta menuduh yang bukan-bukan. Sesungguhnya merekalah yang terbalik akalnya sehingga mencela orang-orang yang terpuji dan memuji orang-orang yang tercela.[16]

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga secara tegas telah bersabda:

« لَا تَسُبُّوْا أَصْحَابِيْ فَوَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ أَنْفَقَ أَحَدُكُمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيْفَهُ »

“Janganlah kalian mencela sahabatku. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya seorang di antara kalian kalian menginfaqkan emas seperti Gunung Uhud, sungguh belum menyamai satu mud seorang di antara mereka, tidak pula separuhnya.” (HR al-Bukhari: 3673 dan Muslim: 2541)[17]

Sebab, mencela para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dampaknya sangat fatal karena pada hakikatnya—sebagaimana dijelaskan oleh asy-Syaikh Ibn Utsaimin—berarti mencela empat perkara:

1.  Celaan kepada para Sahabat itu sendiri.

2.  Celaan kepada syari’at karena yang mentransfer syari’at ini kepada kita adalah mereka para Sahabat. Jika mereka telah dikafirkan maka otomatis syari’at tidak diterima karena informasi orang kafir tidak diterima.

3.  Celaan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, karena berarti sahabat karib dan pembela Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah orang-orang kafir, padahal seorang itu dinilai dengan temannya.

4.  Celaan kepada Allah, karena Allah mempercayakan syari’at ini kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam padahal para sahabatnya adalah kafir, dan Allah menyatakan ridha kepada sahabat berarti Allah meridhai orang-orang kafir.[18]

Dalam pandangan ulama empat mazhab, tindakan mencaci apalagi mengafirkan sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat dicela dan dikecam. Berikut beberapa nukilannya:

–   Dari kalangan ulama Hanafiyyah: “Jika seorang Rafidhi mencaci maki dan melaknat Syaikhaini (yakni Abu Bakr dan Umar Radhiallahu ‘Anhu, Red.) maka dia kafir, demikian halnya dengan mengafirkan Utsman, Ali, Thalhah, az-Zubair, dan Aisyah—semoga Allah meridhai mereka—(juga adalah kafir).[19]

–   Dari kalangan ulama Malikiyyah, al-Imam Malik berkata: “Jika dia berkata bahwa para Sahabat itu (Abu Bakr, Umar, Utsman, Mu’awiyyah, Amr ibn al-Ash) berada di atas kesesatan dan kafir maka ia dibunuh, dan jika mencaci mereka seperti kebanyakan orang maka dihukum berat.”[20]

–   Dari kalangan ulama Syafi’iyyah: “Dipastikan kafir setiap orang yang mengatakan suatu perkataan yang ujungnya berkesimpulan menyesatkan semua umat Islam atau mengafirkan semua Sahabat.”[21]

–   Dari kalangan ulama Hanabilah: “Siapa yang menganggap para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah murtad atau fasik setelah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wafat, maka tidak ragu lagi bahwa orang itu kafir.”[22]

Dengan demikian, siapa pun yang mencela apalagi mengafirkan Sahabat, seperti yang dilakukan kaum Syi’ah, maka berarti telah mengkhianati dalil al-Qur’an dan hadits Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan menyalahi keyakinan mayoritas umat Islam. Semoga Allah merahmati al-Imam asy-Syafi’i tatkala berkata menasihati muridnya Rabi’:

لَا تَخُوْضَنَّ فِيْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ n ، فَإِنَّ خَصْمَكَ النَّبِيُّ n غَدًا

“Janganlah engkau mencela para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, karena musuhmu kelak adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”[23]

Syi’ah Memusuhi Sahabat[24]

Ni’matullah al-Jazairi (ulama Syi’ah) berkata, “Bahwa Sayyidina Abu Bakr dan Sayyidina Umar tidak pernah beriman kepada Rasulullah sampai akhir hayatnya.”[25] Tak puas sampai di situ, ia juga memfitnah Abu Bakr; dia katakan, “Telah berbuat syirik dengan memakai kalung berhala saat salat di belakang Nabi dan bersujud untuknya.”[26]

Ulama Syi’ah lainnya, al-Kulaini, mengatakan bahwa seluruh sahabat itu murtad setelah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wafat, kecuali tiga orang: al-Miqdad ibn al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi. Sementara al-Iyasyi dalam Tafsir-nya, dan al-Majlisi dalam Bihar al-Anwar, menyatakan bahwa meninggalnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam karena telah diracuni oleh Aisyah dan Hafshah.[27]

Dalam Kitab ath-Thaharah, pemimpin revolusi Iran, al-Khumaini (Khomeini, Red.) menyatakan bahwa Aisyah, Thalhah, az-Zubair, Mu’awiyah, dan orang-orang sejenisnya meskipun secara lahiriah tidak najis, mereka lebih buruk dan menjijikkan daripada anjing dan babi.[28]

Sebagai bentuk taqarrub, tidak sedikit kitab Syi’ah yang mengemas pelaknatan Sahabat dalam bentuk do’a. Salah satunya adalah “Do’a Dua Berhala Quraisy” dalam kitab al-Mishbah yang ditulis oleh Syaikh al-Kaf’ami. Do’a yang ditujukan melaknat Abu Bakr dan Umar ini diyakini memiliki derajat yang tinggi dan merupakan dzikir yang mulia. Bahkan disebutkan pahalanya, jika dibaca saat sujud syukur, seperti pemanah yang menyertai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada Perang Badar, Uhud, dan Hunain dengan satu juta anak panah.[29]

Di Indonesia, berbagai publikasi Syi’ah telah memfitnah, menjelek-jelekkan, melaknat, dan bahkan mengafirkan sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Di antaranya:

–   Menyebut Abu Bakr dan Umar sebagai Iblis (Abbas Rais Kermani, Kecuali Ali. Al-Huda 2009, hlm. 648–649)

–   Menyamakan Abu Hurairah dengan Paulus yang telah mengubah teologi Kristen (Antologi Islam; Risalah Islam Tematis dari Keluarga Nabi. Al-Huda 2012, hlm. 648–649)

–   Melecehkan dan memfitnah Sayyidah Aisyah tidak pantas menjadi Ummulmukminin (Ibid hlm. 59–60, 67–69)

–   “Syi’ah melaknat orang yang dilaknat Fatimah.” (Emilia Renita AZ. 40 Masalah Syi’ah. Bandung: IJABI. Editor Jalaluddin Rakhmat, cet. ke-2, 2009, hlm. 90)

–   Dan yang dilaknat Fatimah adalah Abu Bakr dan Umar (Jalaluddin Rakhmat. Meraih Cinta Ilahi. Depok: Pustaka IIMaN, 2008. Dalam footnote hlm. 404–405 dengan mengutip riwayat kitab al-Imamah was Siyasah)

–   Jalaluddin Rakhmat menulis dalam bukunya: “Berdasarkan riwayat dalam kitab al-Ansab karya Mash’ab al-Zubairi, disimpulkan bahwa Ruqoyyah dan Ummu Kultsum, istri Khalifah Utsman, bukan putri Nabi Muhammad.” (Pengantar Studi Kritis Tarikh Nabi, Muthohhari Press, hlm. 164–165. Manusia Pilihan yang Disucikan. Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2008, hlm. 164)

–   “Para sahabat suka membantah perintah Nabi.” (Jalaluddin Rakhmat. Sahabat Dalam Timbangan Al-Qur’an, Sunnah dan Ilmu Pengetahuan. Pps UIN Alauddin 2009, hlm. 7)

–   “Para sahabat merobah-robah agama.” (Artikel dalam Buletin al Tanwir i Yayasan Muthahhari Edisi Khusus No. 298. 10 Muharram 1431 H. Hal. 3)

–   “Para sahabat murtad.” (Ibid hlm. 4)

–   “Tragedi Karbala merupakan gabungan dari pengkhianatan sahabat dan kedhaliman musuh (Bani Umayyah).” (Jalaluddin Rakhmat. Meraih Cinta Ilahi. Depok: Pustaka IIMaN, 2008 hal. 493)

–   “Aisyah memprovokasi khalayak dengan memerintahkan mereka agar membunuh Utsman bin Affan”. (Syarafuddin al-Musawi, Dialog Sunnah-Syiah, cet MIZAN 1983, hal. 357)

–   “Aisyah, Thalhah dan sahabat-sahabat yang satu aliran dengan mereka memerangi Imam Ali as. Sebelumnya, mereka berkomplot untuk membunuh Utsman.” (Emilia Renita, 40 Masalah Syi’ah, editor Jalaluddin Rakhmat, IJABI 2009, hlm. 83)

Semua itu adalah tuduhan dusta dan fitnah yang sangat keji kepada sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang berdasarkan imajinasi dan cerita-cerita bohong, bentuk penodaan terhadap agama dan sejarah Islam, serta bentuk penodaan terhadap citra Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Aneh bukan, mereka menjuluki para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan kejelekan padahal kaum Yahudi dan Nasrani saja menjuluki para sahabat nabi mereka dengan sebaik-baik manusia?! Bukankah ini menunjukkan bahwa Syi’ah lebih parah daripada Yahudi dan Nasrani dalam hal ini?! Al-Imam asy-Sya’bi pernah mengatakan:

“Kaum Yahudi dan Nasrani memiliki kelebihan bila dibandingkan dengan Syi’ah. Bila dikatakan kepada kaum Yahudi: ‘Siapakah orang terbaik dari penganut agamamu?’ Niscaya mereka menjawab: ‘Para sahabat Nabi Musa.’ Dan bila dikatakan kepada kaum Nasrani: ‘Siapakah orang terbaik dari penganut agamamu?’ Niscaya mereka akan menjawab: ‘Para sahabat dan pembela Isa.’ Namun, tatkala ditanyakan kepada kaum Rafidhah (Syi’ah): ‘Siapakah yang terjelek dari penganut agamamu?’ Niscaya mereka menjawab: ‘Para sahabat Nabi Muhammad.’”

Dan perhatikanlah nukilan-nukilan di atas, niscaya Anda akan mendapati bahwa nukilan tersebut dilontarkan oleh para penganut Syi’ah zaman dahulu, tokoh revolusi Iran abad ini, bahkan para penyebar paham Syi’ah di Indonesia sekarang. Lantas, akankah ada yang mengatakan bahwa mencela Sahabat hanya terjadi pada zaman dahulu saja?

Hubungan Sahabat Dengan Ahli Bait

Kaum Syi’ah telah menyembunyikan trik licik mereka dalam mencela para Sahabat dengan berlindung di bawah kedok membela Ahli Bait. Mereka menyangka dan menggambarkan bahwa hubungan antara Sahabat dengan Ahli Bait adalah saling memusuhi, padahal semua itu hanyalah bualan kaum Syi’ah semata dan omong kosong mereka saja.

Fakta membuktikan bahwa hubungan antara mereka adalah saling mencintai dan menghormati. Di antara buktinya, bahwa para Ahli Bait menamai keturunan mereka dengan nama para Sahabat seperti Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Aisyah yang notabene dikafirkan dan dilaknat oleh Syi’ah.

Lebih daripada itu, mereka menjalin ikatan tali pernikahan antara Sahabat dengan Ahli Bait, bahkan dengan keluarga Abu Bakr, Umar, dan Mu’awiyah Radhiallahu ‘Anhum yang juga notabene dikafirkan kaum Syi’ah. Bukankah Umar ibn al-Khaththab Radhiallahu ‘Anhu menikah dengan Ummu Kultsum binti Ali ibn Abi Thalib?! Sungguh, banyak sekali fakta dan catatan sejarah tentang hal itu semua.

Al-Imam asy-Syaukani telah menyingkap masalah ini dalam risalahnya yang berjudul Irsyadu al-Ghabii ila Madz·habi Ahli Baiti fi Shahbi Nabi[30] sebagai pembelaan terhadap kehormatan Sahabat dan penjelasan bahwa mencela Sahabat bukanlah ajaran Ahli Bait, bahkan mereka telah bersepakat melarangnya, sebagaimana telah shahih dari tiga belas jalur.[31]

Alangkah bagusnya ucapan al-Imam Manshur Billah Abdullah ibn Hamzah (salah seorang Ahli Bait), “Barangsiapa menyangka bahwa salah seorang bapak kami mencela Sahabat maka dia pendusta.” Dan sungguh fakta membuktikan bahwa setiap orang yang mencela Sahabat dan memusuhi mereka, maka dia tidak bahagia agama dan dunianya.[32]

Dengan ini, Anda dapat mengetahui betapa liciknya kaum Syi’ah yang berdusta dengan kedok Ahli Bait. Namun, hal itu tidaklah mengherankan karena Syi’ah memang sangat lihai dalam berdusta. Al-Imam asy-Syafi’i Rahimahullahu Ta’ala pernah mengatakan:

لَمْ أَرَ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ الأَهْوَاءِ أَشْهَدَ باِلزُّوْرِ مِنَ الرَّافِضَةِ

“Saya tidak mendapati seorang pun dari pengekor hawa nafsu yang lebih pendusta daripada kaum Rafidhah.”[33]

Salah seorang ulama lainnya menyifati sekte Syi’ah: “Mereka adalah manusia paling pendusta dalam hal riwayat dan paling bodoh dalam hal logika.”

4 Alasan Syi’ah Menghujat Sahabat[34]

Mungkin saja timbul sebuah pertanyaan di hati kita: Sebenarnya apa sih yang mendorong orang-orang Syi’ah begitu berani menghujat dan membenci para Sahabat, terutama ketiga Khulafaurrasyidin?

1. Kejengkelan orang kafir terhadap Sahabat

Mari bersama-sama, kita merenungkan firman Allah:

مُّحَمَّدٌۭ رَّسُولُ ٱللَّهِ ۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَىٰهُمْ رُكَّعًۭا سُجَّدًۭا يَبْتَغُونَ فَضْلًۭا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَ‌ٰنًۭا ۖ سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ ٱلسُّجُودِ ۚ ذَ‌ٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى ٱلتَّوْرَىٰةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِى ٱلْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْـَٔهُۥ فَـَٔازَرَهُۥ فَٱسْتَغْلَظَ فَٱسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِۦ يُعْجِبُ ٱلزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ ٱلْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةًۭ وَأَجْرًا عَظِيمًۢا ﴿٢٩﴾

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah ia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS al-Fath [48]: 29)

Pada suatu hari, ada seseorang yang menemui al-Imam Malik ibn Anas, lalu ia tanpa rasa malu mencela para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di hadapan beliau. Mendengar celaan orang tersebut, maka al-Imam Malik membaca ayat di atas seraya berkata, “Barangsiapa dalam hatinya terdapat kebencian kepada sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam maka berarti ia telah terkena vonis ayat ini.”[35]

2. Menghujat al-Qur’an dan al-Hadits

Hal itu karena mereka adalah perantara yang menyampaikan al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada kita. Kalau seandainya mereka dicela maka pada dasarnya al-Qur’an dan hadits pun tercela. Semoga Allah merahmati al-Imam Abu Zur’ah yang telah mengatakan:

إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَنْتَقِصُ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ n فَاعْلَمْ أَنَّهُ زِنْدِيْقٌ ، وَذَلِكَ أَنَّ الرَّسُوْلَ n عِنْدَنَا حَقٌّ وَالْقُرْآنَ حَقٌّ ، وَإِنَّمَا أَدَّى إِلَيْنَا هَذَا الْقُرْآنَ وَالسُّنَنَ أَصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ n ، وَإِنَّمَا يُرِيْدُوْنَ أَنْ يَجْرَحُوْا شُهُوْدَنَا لِيُبْطِلُوْا الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ ، وَالْجَرْحُ بِهِمْ أَوْلَى وَهُمْ زَنَادِقَةٌ.

Apabila engkau mendapati orang yang mencela salah satu sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka ketahuilah bahwa dia adalah seorang zindik (munafik). Hal itu karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah benar dan al-Qur’an juga benar menurut (prinsip) kita. Dan orang yang menyampaikan al-Qur’an dan as-Sunnah adalah para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan para pencela para saksi kita (Sahabat) hanyalah bertujuan untuk menghancurkan al-Kitab (al-Qur’an) dan as-Sunnah. Mencela mereka lebih pantas. Mereka adalah orang-orang zindik.”[36]

Subhanallah! Betapa kotornya tujuan yang mereka pendam di balik upaya celaan mereka kepada sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam! Akankah masih ada yang menganggap bahwa masalah ini hanyalah sepele belaka?! Anda bisa bayangkan, kalau satu Sahabat saja seperti Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu dicela, entah berapa hadits yang akan tertolak[37]?! Lantas, bagaimana jika kebanyakan sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lainnya juga?! Pikirkanlah!

3. Mengalirkan terus pahala para Sahabat

Hal itu karena orang yang menceIa Sahabat maka amal kebaikan mereka akan digunakan sebagai tebusan atas dosa caciannya dan bila tidak cukup maka dosa para Sahabat akan dilimpahkan kepadanya, sebagaimana dalam hadits shahih.

Oleh karena itu, tatkala Aisyah Radhiallahu ‘Anha mendengar ada sebagian yang mencela sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, termasuk Abu Bakr dan Umar Radhiallahu ‘Anhu, maka beliau berkata, “Apa yang kalian herankan dari kejadian ini? Mereka itu (para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) adalah orang yang terputus kesempatannya untuk beramal, tetapi Allah menghendaki untuk tidak menghentikan aliran pahala mereka.” (Riwayat Muslim)

Al-Imam asy-Syafi’i Rahimahullahu Ta’ala berkata:

مَا أَرَى النَّاسَ ابْتُلُوْا بِشَتْمِ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ n إِلَّا لِيَزِيْدَهُمُ اللهُ ثَوَابًا عِنْدَ انْقِطَاعِ عَمَلِهِمْ

“Menurutku, tidaklah manusia diberi kesempatan untuk mencela para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kecuali agar Allah menambah pahala mereka dengan celaan tersebut ketika amal mereka telah terputus.”[38]

4. Membalas dendam atas runtuhnya Dinasti Majusi

Oleh karenanya, tak heran jika kaum Syi’ah begitu mengagungkan eksekutor pembunuhan Umar ibn al-Khaththab Radhiallahu ‘Anhu dan mengultuskannya yaitu Abu Lu’lu’ah Fairuz al-Majusi yang telah melampiaskan dendam kesumatnya dengan menikam Khalifah Umar ibn al-Khaththab Radhiallahu ‘Anhu dengan pisau beracun saat salat Subuh dengan beberapa kali tikaman. Atas dasar itu, Abu Lu’lu’ah al-Majusi dikaruniai penghargaan besar oleh Syi’ah dengan:

1.  Syi’ah meyakini bahwa Abu Lu’lu’ah al-Majusi dikubur di Iran dan mereka membangun kuburannya dan menjadikannya sebagai tempat yang bersejarah.

2.  Hari keberhasilan Abu Lu’lu’ah al-Majusi melampiaskan dendamnya kepada Umar Radhiallahu ‘Anhu ditetapkan sebagai hari besar. Hari raya itu disebut dengan hari raya Idul Akbar.

Demikianlah paparan tentang aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah tentang para Sahabat Radhiallahu ‘Anhum dan bagaimana kejamnya kaum Syi’ah terhadap para Sahabat Radhiallahu ‘Anhum. Semoga hal ini menjadikan kita selalu mewaspadai pemikiran-pemikiran sesat Syi’ah yang menyebar pada zaman sekarang.

Disusun oleh al-Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi



[1] Al-Ishabah fi Tamyiz Shahabah 1/7, Nukhbatu al-Fikar hlm. 149.

[2] Termasuk keanehan apa yang disebutkan oleh Syaikhuna Masyhur ibn Hasan bahwa salah seorang penulis dari sekte Ibadhiyyah menulis sebuah kitab berjudul Mu’jam Shahabah min al-Jinn (Kamus Daftar Sahabat dari Kalangan Jin)!!!

[3] Al-Imam adz-Dzahabi mencantumkannya dalam kitabnya Tajrid Asma’ ash-Shahabah 1/432, beliau mengatakan dalam biografinya: “Isa ibn Maryam: Seorang Sahabat dan juga seorang Nabi, beliau bertemu dengan Nabi n\ di malam Isra’, dan mengucapkan salam padanya, beliau termasuk Sahabat yang paling terakhir matinya.”

[4]Lihat Nuz·hatu an-Nazhar fi Taudhihi Nukhbati al-Fikar hlm. 136–137 karya al-Hafizh Ibn Hajar, Tahqiqu Raghbah fi Taudhihi Nukhbah hlm. 174–177 karya Abdul-Karim al-Khudhair.

[5] Lihat penjelasan tentang masalah ini secara luas dengan dalil-dalilnya dalam kitab ’Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Shahabah Kiram karya Nashir ibn Ali Ayidh Hasan Syaikh.

[6] Shahih al-Bukhari 3/224 dan Shahih Muslim 7/185 dan ia adalah hadits yang mutawatir, sebagaimana telah ditegaskan oleh al-Hafizh Ibn Hajar dalam al-Ishabah 1/12 dan al-Munawi dalam Faidhu al-Qadir 3/478 serta disetujui oleh al-Kataani dalam kitab Nazhmu al-Mutanatsir hlm. 127.

[7]  Diriwayatkan Abu Nu’aim dalam al-Hilyah 1/305 dan Ibn Abdil-Barr dalam Jami’ Bayani al-’Ilmi wa Fadhlihi 2/97.

[8] Lihat penjelasan secara bagus tentang masalah ini dalam risalah Mahdhu al-Ishabah fi Tahriri ’Aqidah Ahlis Sunnah wa Mukhalifihim fi Shahabah karya Dr. Ibrahim ibn Amir ar-Ruhaili, cet. Dar Imam Ahmad.

[9]  Aqidah ath-Thahawiyyah—syarah Ibn Abi al-Izzi—hlm. 467. Lihat juga dalam kitab-kitab aqidah salaf lainnya seperti al-Aqidah al-Washithiyyah karya Ibn Taimiyyah, Aqidah Salaf Ash·habi al-Hadits karya ash-Shabuni, Qathfu Tsamar fi ’Aqidah Ahli Atsar karya Shiddiq Hasan Khan, dan sebagainya.

[10] Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 7/1240 karya al-Lalikai

[11]  Lihat masalah ini lebih luas dalam risalah Tasdidu al-Ishabah fi Ma Syajara Baina Shahabah oleh Dhiyab ibn Sa’ad al-Ghamidi, taqdim asy-Syaikh Shalih al-Fauzan, cet. Maktabah al-Muayyid.

[12] Hadits shahih. Lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 34 karya al-Albani.

[13] Faidhu al-Qadir 1/347

[14] Oleh karenanya, al-Imam adz-Dzahabi mencantumkannya dalam kitab al-Kaba’ir hlm. 410, tahqiq Masyhur Hasan Salman.

[15] Al-Hafizh Dhiya’uddin al-Maqdisi memiliki kitab khusus tentang masalah ini berjudul Shabbul ’Adzab ’ala Man Sabbal Ash·hab, telah tercetak.

[16] Tafsir al-Qur’an al-’Azhim 4/481 oleh Ibn Katsir, cet. Dar Thaibah.

[17] Lihat tentang hadits dalam risalah khusus mengenainya Juz’ Thuruqi Haditsi Laa Tasubbu Ash·habi karya al-Hafizh Ibn Hajar, telah tercetak dengan tahqiq Syaikhuna Masyhur ibn Hasan alu Salman, cet. Dar Ammar.

[18] Lihat Syarh Riyadh ash-Shalihin 3/372.

[19] Al-Fatawa al-Hindiyyah 2/286

[20] Asy-Syifa’ bi Ta’rifi Huquqi al-Mushthafa 2/1108 oleh al-Qadhi Iyadh

[21] Raudhah ath-Thalibin 7/290 oleh an-Nawawi

[22] Ash-Sharimu al-Maslul hlm. 128 oleh Ibnu Taimiyyah

[23] Siyar A’lam an-Nubala’ 3/3283 oleh adz-Dzahabi

[24] Dinukil dari buku panduan Majelis Ulama Indonesia “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia” oleh Tim Penulis MUI Pusat hlm. 55–57.

[25] Al-Anwar an-Nu’maniyyah 1/53

[26] Ibid. 1/45

[27] Tafsir al-’Iyasyi 1/342, Biharu al-Anwar 22/516, Hayatul Qulub oleh al-Majlisi 2/700.

[28] Kitab Thaharah 3/457 oleh al-Khumaini

[29] Al-Mishbah fi al-Ad’iyah wa Shalawat wa Ziyarat hlm. 658–662

[30] Telah tercetak dengan tahqiq Syaikhuna Masyhur ibn Hasan Salman, Dar al-Manar, 1413 H

[31] Ibid. hlm. 50

[32] Wablu al-Ghamam wa Syifa’u al-Awam hlm. 139 karya asy-Syaukani

[33] Adab asy-Syafi’i hlm. 187–189 oleh Ibn Abi Hatim

[34] Disadur dengan sedikit penyesuaian dari buku Air Mata Buaya Penganut Syi’ah hlm. 176–186 cet. Rumah Ilmu oleh Dr. Muhammad Arifin Badri.

[35] As-Sunnah oleh al-Khallal 2/478

[36] Al-Kifayah fi ’Ilmi Riwayah hlm. 48 oleh al-Khathib al-Baghdadi

[37] Al-Imam Ibn Hazm menegaskan dalam Jawami’ Sirah: 275 bahwa Abu Hurairah a\ meriwayatkan sebanyak 5.374 hadits. Demikian juga Ibn al-Jauzi dalam Talqih Fuhum Ahli Atsar: 183 dan adz-Dzahabi dalam Siyar 2/632. Dr. Muhammad Dhiya’ Rahman al-A’zhami telah mengumpulkan riwayat-riwayat Abu Hurairah a\ dalam Musnad al-Imam Ahmad dan Kutub Sittah, beliau dapat mencapai 1.336 hadits saja. Lihat Abu Hurairah fi Dhau’i Marwiyyatihi hlm. 76. (Dinukil dari Syarh Bulugh al-Maram al-Audah 1/275)

[38] Manaqib al-Imam asy-Syafi’i hlm. 120 oleh al-Aburri dan Manaqib asy-Syafi’i 1/441 oleh al-Baihaqi.