Kiat-Kiat Menghadapi Fitnah

Bertubi-tubi fitnah datang menghampiri umat manusia sehingga menjadikan kaum muslimin sekarang dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Adakah solusi dari semua ini?! Apakah kiat-kiat yang semestinya dilakukan oleh seorang muslim untuk menghadapi fitnah tersebut?!

Jawaban pertanyaan ini dari dua segi:

 Secara global, solusi semua itu adalah dengan kembali kepada agama Islam dan mengamalkan ajaran-ajarannya.  Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di berkata di awal risalahnya yang berjudul “Ad-Diin Ash-Shohih Yahullu Jami’a Al-Masyakil” (Agama Yang Benar Merupakan Solusi Segala Problematika): “Inilah sebuah risalah yang berkaitan dengan agama Islam yang menunjukkan ajaran terbaik dan membimbing hamba dalam aqidah dan akhlak serta mengarahkan mereka menuju kebahagiaan di dunia dan akherat. Serta penjelasan yang gamblang bahwa tidak ada cara untuk memperbaiki umat sepenuhnya kecuali dengan Islam. Dan penjelasan bahwa semua undang-undang yang menyelisihi agama Islam tidak dapat memperbaiki dunia dan akherat kecuali apabila bersumber dari ajaran agam Islam.

Apa yang kami ungkapkan di atas telah dibuktikan kebenarannya oleh fakta dan pengalaman sebagaimana telah ditunjukkan kebenarannya oleh syari’at, fithrah dan akal yang sehat, karena agama ini seluruhnya adalah mengajak kepada kebaikan dan membendung kerusakan”.[2]

Adapun secara terperinci, ada bebarapa kiat dalam menghadapi fitnah yang sangat ditekankan oleh agama Islam[3]:

1. Taubat dan Kembali Kepada Agama Islam

                Wahai saudaraku, pernahkah terbesit dalam hati kita bahwa bencana yang menimpa bangsa saat ini adalah disebabkan perbuatan dosa agar kita segera menyadari dan kembali kepada ajaran agama yang suci?! Allah berfirman :

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di daratan dan lauatan disebabkan ulah perbuatan manusia. (Ar-Ruum : 41)

Alangkah benarnya ucapan Syaikh Ibnu Utsaimin tatkala berkata dalam khutbahnya tentang dampak kemaksiatan: “Demi Allah, sesungguhnya kemaksiatan itu sangat berpengaruh pada keamanan suatu negeri, kenyamanan, dan perekonomian rakyat. Sesungguhnya kemaksiatan menjadikan manusia saling bermusuhan antara satu dengan lainnya”. [4]

                Hasan al-Bashri berkata: “Ketahuilah –semoga Allah mengampunimu- bahwa kedhaliman pemimpin adalah sebagian di antara kemurkaan Allah, sedangkan kemurkaan Allah tidaklah diobati dengan pedang, tetapi diobati dengan do’a, taubat dan meninggalkan dosa”.[5]

                Demikianlah sikap terbaik mengatasi segala krisis dan bencana yang menyelimuti bangsa ini adalah dengan sabar, bertaubat kepada Allah dari segala dosa serta memperbaiki diri kita serta keluarga kita dengan aqidah shohihah dan membersihkan diri kita dari segala noda kesyirikan dan kebid’ahan.

 2. Taqwa, taat pemimpin dan berpegang pada sunnah

     Tiga hal tersebut terkumpul dalam hadits Nabi:

عَنِ اْلعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ قَالَ: صَلَّى لَنَا رَسُوْلُ اللهِ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيْغَةً, ذَرِفَتْ لَهَا اْلأَعْيُنُ وَ وَجِلَتْ مِنْهَا اْلقُلُوْبُ. قُلْنَا أَوْ قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ, كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَأَوْصِنَا! أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَ اْلسَّمْعِ وَ اْلطَّاعَةِ وَ إِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا, فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى بَعْدِيْ اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا, فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَ سُنَّةِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اْلمَهْدِيِّيْنَ وَ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ, وَ إِيَّاكُمْ وَ مُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَ إِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Dari Irbadz  bin Sariyah, berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat mengimami kami lalu beliau menhadap kami dan menasehati kami dengan nasehat yang mendalam, air mata kami menetes olehnya dan hati kami terenyuh dibuatnya. Kami atau mereka berkata, “Ya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sepertinya ini nasehat orang yang berpamitan, maka berilah kami nasehat.” Beliau berkata, “Aku wasiatkan kepada kalian dengan taqwa kepada Alloh Subhanahu wa ta’ala dan mendengar serta taat (kepada pemimpin) sekalipun dia adalah budak  Habsyi (orang hitam). Sesungguhnya orang yang hidup dari kalian, niscaya dia akan mendapati setelahku perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Khulafaur yang lurus dan mendapat petunjuk, gigitlah dengan gigi gerahammu (peganglah kuat-kuat). Dan hati-hatilah dari perkara-perkara yang baru, (dalam ibadah), sesungguhnya setiap perkara baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.”[6]

           Dalam hadits ini, Nabi menjelaskan penyakit fitnah dan obatnya, yaitu dengan:

  1. Bertaqwa kepada Allah, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan hambaNya yang bertaqwa kepadaNya. Tholq bin Habib pernah menasehatkan kepada Bakr bin Abdillah tatkala berkecamuk fitnah Ibnul Asy’ats: “Hadapilah dengan taqwa, yaitu engkau mengamalkan ketaatan kepada Allah di atas cahaya Allah dengan mengharapkan pahala Allah, dan engkau meninggalkan kemaksiatan di atas cahaya Allah karena takut siksa Allah”.[7]
  2. Taat kepada pemimpin dan tidak memberontak mereka sebagaimana sangat ditekankan oleh agama Islam, karena dengan demikian akan terwujudkan keamanan dan ketentraman negara. Sebaliknya, dengan melalaikan hal ini akan membawa keburukan dan kerusakan sebagaimana terbukti dalam sejarah sepanjang zaman. Abdullah bin Mubarok berkata: “Barangsiapa meremehkan ulama maka akheratnya hancur dan barangsiapa meremehkan pemimpin maka dunianya akan hancur”.[8]
  3. Berpegang kepada sunnah dan sunnah para khalifah setelah beliau, karena dia akan mengikuti petunjuk-petunjuk Nabi dalam menghadapi fitnah sehingga akan tegar dan selamat. Dan perhatikanlah Nabi mengiringkan sunnah beliau dengan sunnah para khalifah rasyidin sebagai isyarat kepada pentingnya pemahaman salaf shalih dalam memahami Al-Quran dan Sunnah.

 3. Doa

           Doa merupakan senjata seorang mukmin, apalagi saat fitnah yang sangat membutuhkan pertolongan dan hidayah dari Allah. Allah telah memerintahkan hal ini dalam firmanNya:

È@è% §Nßg¯=9$# tÏÛ$sù ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur zNÎ=»tã É=ø‹tóø9$# Íoy‰»pk¤¶9$#ur |MRr& â/ä3øtrB tû÷üt/ x8ϊ$t6Ï㠒Îû $tB (#qçR%x. ÏmŠÏù šcqàÿÎ=tGøƒs† ÇÍÏÈ  

Katakanlah: “Wahai Allah, Pencipta langit dan bumi, yang mengetahui barang ghaib dan yang nyata, Engkaulah yang memutuskan antara hamba-hamba-Mu tentang apa yang selalu mereka memperselisihkannya.” (QS. Az-Zumar: 46)

           Para salaf telah menerapkan obat ini pada diri mereka saat fitnah.  Abdullah bin Amir bin Rabi’ah berkata: “Tatkala manusia banyak mencela Utsman, maka ayahku (sahabat Amir bin Rabi’ah) melakukan sholat malam seraya berdoa: “Ya Allah, jagalah diriku dari fitnah sebagaimana Engkau menjaga hamba-hambaMu yang shalih”. Maka ayahku tidak keluar (karena sakit) kecuali ketika meninggal dunia”.[9]

 4. Mengembalikan problematika kepada para ulama dan pemimpin

Hal ini untuk menjaga rakyat dari fatwa-fatwa sembarangan yang malah berakibat fatal dan membawa kepada kerusakan. Allah berfirman:

Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri (pemimpin dan ulama) di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu). (QS. An-Nisa’: 83)

           Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di berkata: “Dalam ayat ini terdapat kaidah adab bahwa ketika ada suatu permasalahan maka hendaknya diserahkan kepada ahli di bidangnya dan tidak mendahului mereka, karena hal itu akan lebih mendekati kebenaran dan lebih selamat dari kesalahan”.[10]

           Maka kembalikanlah kepada para ulama yang mengetahui wajah fitnah awal munculnya, berbeda dengan para pemuda ingusan yang tidak mengetahui wajah fitnah kecuali setelah nasi menjadi bubur!! Hasan Al-Bashri berkata: “Fitnah apabila pertama muncul maka diketahui oleh setiap alim, dan apabila telah selesai maka diketahui oleh setiap jahil”. [11]

           Aduhai, para pemuda dan para aktivis memperhatikan adab mulia ini, bukan malah mencela para ulama dan melarikan manusia dari mereka dengan gelar-gelar dan tuduhan-tuduhan mengerikan seperti: ulama pemerintahan, ulama Vatikan, ulama haidh dan nifas, ulama tidak mengerti waqi (realita umat), dan sebagainya!!

 5. Menjauhi fitnah dan tidak berkecimpung di dalamnya

           Sebagian orang terpedaya dengan dirinya sehingga dia merasa bahwa dirinya mampu mengatasi fitnah dan manusia sangat menanti geraknya dan lain sebagainya!! Rasulullah bersabda:

    سَتَكُونُ فِتَنٌ الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ ، وَالْقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِى ، وَالْمَاشِى فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِى ، مَنْ تَشَرَّفَ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ ، فَمَنْ وَجَدَ فِيهَا مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِه

Akan terjadi fitnah, orang yang duduk lebih baik daripada yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, orang yang berjalan lebih baik daripada yang berlari, barangsiapa yang mencari fitnah maka dia akan terkena pahitnya dan barangsiapa yang menjumpai tempat berlindung maka hendaknya dia berlindung.[12]

           Para ulama salaf-pun telah menerapkan hal dengan sikap-sikap yang sangat luar biasa. Sahabat Amir bin Rabi’ah tatkala terjadi fitnah Utsman beliau mengatakan kepada keluarganya: “Ikatlah aku dengan besi karena aku telah gila”. Tatkala Utsman telah terbunuh dia mengatakan: “Lepaskanlah aku, segala puji bagi Allah yang menyembuhkanku dari gila dan menyelamatkanku dari pembunuhan Utsman”.[13]

           Abdullah bin Hubairah berkata: “Barangsiapa mendapati fitnah maka hendaknya dia mematahkan kakinya, kalau dia masih berjalan maka hendaknya mematahkan kaki satunya lagi”. [14]

           Al-Aswad bin Sura’I tatkala terjadi fitnah di Bahsroh, beliau menaiki kapal di laut lalu tidak diketahui kabarnya setelah itu!![15]

           Sayyar bin Abdir Rahman berkata: “Para sahabat ahli Badar selalu di rumah mereka setelah terbunuhnya Utsman, mereka tidak keluar kecuali ke kuburan mereka”.[16]

6.Tenang dan tidak tergesa-gesa

             Karena tergesa-gesa dan emosi kerapkali membuat akal menjadi tak berfungsi lagi sehingga tak terkendali. Rasulullah bersabda:

 يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِى الأَمْرِ كُلِّهِ

Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dalam segala urusan.[17]

           Tatkala pemimpin Kufah sahabat Mughiroh bin Syu’bah meninggal dunia, maka Jarir bin Abdillah menenangkan manusia seraya mengatakan: “Hendaknya kalian bertaqwa kepada Allah semata dan tenang sehingga datang pemimpin kalian yang baru”.[18]

           Dan tatkala terbunuh Walid bin Yazid, maka A’masy menasehatkan kepada para sahabatnya: “Saya penasehat, hendaknya seorang menjaga tangannya, menahan lidahnya dan memperbaiki hatinya”.[19]

           Demikianlah beberapa kiat menghadapi fitnah. Kita berdoa kepada Allah agar menjaga kita semua dari fitnah, karena itu merupakan kebahagian seorang hamba.

           Diceritakan, bahwa sahabat Abu Usaid bersyukur kepada Allah tatkala dia buta sebelum melihat fitnah terbunuhnya Utsman. Setelah terbunuhnya Utsman, beliau mengatakan: “Segala puji bagi Allah menjadikan aku bisa melihat pada masa Nabi sehingga aku dapat melihat beliau dengan kedua mataku. Tatkala Allah mewafatkan NabiNya dan menghendaki fitnah kepada hambaNya, Allah membutakan diriku”.[20]

           Ya Allah, jauhkanlah kami dari fitnah! Ya Allah, jauhkanlah kami dari fitnah! Ya Allah, jauhkanlah kami dari fitnah! Ya Allah, tegarkanlah langkah kami dalam agamaMu sehingga kami bertemu denganMu!

 Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As-Sidawi[1]

====================================================================================

[1] Dinukil dari buku penulis yang berjudul “Demonstrasi, Solusi atau Polusi?” cet. Pustaka Darul Ilmu, Jakarta.

[2] Al-Majmu’ah Kamilah li Muallafat Syaikh As-Sa’di 1/333.

[3] Penulis banyak mengambil manfaat dari kitab Tamyiz Dhawil Fithon Abdul Malik Ramadhani hlm. 72-109.

[4] Atsarul Ma’ashi ‘alal Fardi wal Mujtama’, Ibnu Utsaimin hal. 20.

[5] Asy-Syari’ah oleh al-Ajurri hlm. 38.

[6] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad 4/126-127, Abu Dawud 4607, Tirmidzi 2676, Ibnu Majah 42,43 dll, dishahihkan Al-Albani  dalam Irwaul Ghalil 2455. Lihat pula tulisan penulis tentang hadits ini “Wasiat Berharga” dalam Majalah Al Furqon, edisi 7, Tahun IV.

[7] Dikeluarkan Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhud 1054 dan al-Baihaqi dalam Az-Zuhud Al-Kabir 965.

[8] Dikeluarkan Abu Abdir Rahman as-Sulami dalam Adab Suhbah 41 dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimsayq 32/444.

[9] Dikeluarkan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 1/178-179 dan Al-Hakim 3/358.

[10] Taisir Karimir Ar-Rahman hlm. 194, cet Dar Ibnul Jauzi.

[11] Dikeluarkan Bukhori dalam Tarikh Kabir 4/321.

[12] HR. Bukhori 3601 dan Muslim 2776.

[13] Dikeluarkan Ibnul Banna dalam Risalah Mughniyah fi Sukut wa Luzumil Bait 29.

[14] Dikeluarkan Nu’aim bin Hammad dalam Al-Fitan 509.

[15] Su’alat Al-Ajurri Abi Dawud hlm. 274.

[16] Dikeluarkan Al-Mu’afa dalam Az-Zuhud 48, Ibnu Syabbah dalam Tarikh Madinah 4/1242.

[17] HR. Muslim 2165.

[18] HR. Bukhori 58.

[19] Dikeluarkan Al-Khollal dalam As-Sunnah 91.

[20] Dikeluarkan Bukhori Tarikh Shoghir 1/107, Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah wa Tarikh 1/422, Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimsyaq 39/482.