31. Muadzin yang Malang Karena Wanita

Hati manusia mudah berbolak-balik, apalagi pada zaman kita sekarang yang penuh dengan fitnah. Dikisahkan, ada seorang muadzin yang sangat rajin adzan dan shalat. Dia sangat taat beribadah dan sering di masjid. Suatu hari, dia melihat ke rumah seorang Nasrani yang berada di bawah menara masjid, ternyata dia melihat putri penghuni rumah dan langsung jatuh cinta padanya. Dia pun meninggalkan adzannya dan turun menuju rumahnya. Wanita tersebut mengatakan, “Apa yang Anda inginkan?” Muadzin menjawab, “Saya menginginkan dirimu.” Wanita itu bertanya, “Kenapa begitu?” Dia menjawab, “Aku telah jatuh cinta padamu.” Wanita itu berkata, “Saya tidak mau berbuat dosa.” Muadzin berkata, “Aku akan menikahimu.” Wanita itu menjawab, “Kamu seorang muslim dan saya seorang Nasrani, ayahku jelas tidak akan merestui.” Muadzin berkata, “Saya akan beragama Nasrani.” Akhirnya, dia pun menjadi pemeluk agama Nasrani agar bisa menikahi wanita itu dan tinggal bersamanya, tetapi sebelum menikah dia menaiki loteng rumahnya dan terpeleset lalu meninggal dunia. Aduhai, sungguh merugi orang tersebut, dia sudah murtad ditambah lagi tidak jadi menikah. Hanya kepada Allah kita memohon husnul khatimah (akhir kematian yang baik). (at-Tadzkirah fi Umuril Akhirah oleh al-Qurthubi hlm. 43)

Di antara faedah kisah ini adalah hendaknya kita selalu waspada dari berbagai fitnah yang menjadikan hati ini menyimpang, termasuk fitnah wanita yang seringkali meruntuhkan iman. Oleh karenanya, hendaknya kita selalu berdo’a kepada Allah dan mengambil kiat-kiat jitu untuk bisa selalu istiqamah di atas agama-Nya. Ya Allah, teguhkanlah hati kami di atas jalan-Mu dan berikanlah kepada kami husnul khatimah.

32. Menangis Karena Salah Paham Hadits

Suatu saat, pernah ada seorang mendengar hadits dari seorang khatib di atas mimbar membawakan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallm:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَتَّاتٌ

“Tidak akan masuk surga qattaat (pengadu domba).” (HR Bukhari: 6056 dan Muslim: 105)

Tiba-tiba lelaki itu menangis seraya mengatakan, “Aku harus kerja apa lagi, aku tidak punya pekerjaan kecuali jualan al-qatt yaitu makanan hewan.”

Lihatlah orang tersebut, dia salah paham hadits, karena maksud Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallm dalam hadits tersebut bukan penjual al-qatt (makanan hewan) melainkan maksudnya adalah orang yang suka namimah (mengadu domba). (Fathul Mughits 3/73 oleh as-Sakhawi)

Di antara faedah kisah ini adalah pentingnya bagi kita memahami hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallm secara benar dengan bimbingan penjelasan para ulama. Janganlah hanya memahami hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallm secara tekstual lafalnya saja dengan pemahaman kita sendiri sehingga kita malah terjatuh dalam kesalahan yang fatal.

33. Gelar yang Ngawur

Sangat lucu apa yang diceritakan oleh Syaikh al-Albani bahwa salah seorang guru beragama Nasrani di sekolah Damaskus pernah menceritakan tentang gerakan dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan kegigihannya dalam memberantas kesyirikan, kebid’ahan, dan khurafat yang sekilas guru tadi mendukungnya, maka sebagian muridnya berkata, “Tampaknya, guru kita ini Wahabi!!” (Silsilah Ahadits ash-Shahihah 1/153)

Kisah ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa label “Wahabi” banyak disematkan secara ngawur oleh sebagian kalangan. Lihatlah, orang Nasrani tersebut dicap sebagai Wahabi hanya gara-gara dia menceritakan kegigihan dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Persis dengan hal ini, gelar yang diberikan sebagian orang bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah Wahabi, padahal beliau wafat tahun 728 H, sedangkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab wafat tahun 1206 H, lantas apakah Ibnu Taimiyah bisa hidup kembali setelah Muhammad bin Abdul Wahhab?!!

34. Kedengkian Kepada Ulama

Anda pernah mendengar sosok ulama salafi mujahid bernama Ihsan Ilahi Zhahir?! Dialah seorang ulama yang tegar membela Islam dan sunnah serta menjadi senjata tajam terhadap musuh-musuhnya. Betapa banyak sekte-sekte sesat padam karena keberkahan lisan dan tulisannya sehingga beliau seringkali dipenjarakan, namun beliau tetap berjuang membela Islam dan membongkar kedok aliran-aliran sesat.

Kedengkian musuh-musuh Islam dan Sunnah memuncak ketika beliau menyampaikan muhadharah pada 23 Rajab 1407 H di Jam’iyyah Ahli Hadits di Lahore, Pakistan, yang dihadiri oleh dua puluh ribu orang, di mana di sekitar meja pidatonya ternyata telah ditaruh bom yang kemudian diledakkan, sehingga sepuluh ulama dan beberapa tamu undangan meninggal dunia.

Beliau kemudian dilarikan ke Riyadh (Saudi Arabia) untuk berobat, tetapi kematian menjemputnya beberapa hari setelah itu. Beliau dishalati oleh Imam al-Mujaddid Abdul Aziz bin Baz dan dikubur di kuburan Baqi’ bersama para wali-wali Allah setelah para nabi, karena beliau selalu membela kehormatan para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallm dan para istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallm. Semoga Allah merahmati beliau dan memasukkannya ke surga-Nya. (Ihsan Ilahi Zhahir, al-Jihad wal Ilmu minal Hayati ilal Mamat hlm. 1360–1407 oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim asy-Syaibani)

Kisah ini menunjukkan betapa dengkinya para ahli bid’ah dalam memusuhi ulama dan kegigihan mereka untuk merenggut nyawa para ulama Sunnah. (Lihat al-Hiqdu Dafiin ’ala Ulama wa Shalihin oleh Ubaid asy-Sya’bi, dinukil dari Basha‘ir fil Fitan hlm. 30–31 oleh Isma’il al-Muqaddam.)

35. Peristiwa Aneh Tapi Dusta

Pernahkah Anda mendengar atau membaca berita sebuah peristiwa aneh tentang seorang gadis yang sedang asyik melihat tayangan lewat parabola, padahal dalam waktu yang sama ibunya sedang mengaji membaca kitab suci al-Qur‘an. Anak gadis tersebut merasa terganggu dengan suara lantunan ibunya sehingga membentaknya, “Suara al-Qur‘an ini telah menggangguku, pergilah ke tempat lainnya.” Namun, sang ibu tetap tidak berpindah tempat. Maka sang anak tersebut berdiri dan mengambil mushaf lalu melemparnya ke tanah, lalu sang ibu pergi untuk mengambilnya lalu meletakkan ke atas dadanya. Selang tak lama dari itu, anak perempuan tersebut jatuh ke tanah dan berubah menjadi hewan. Kini gadis tersebut dirawat di rumah sakit pemerintah di ’Umman.

Demikianlah kurang lebih isi berita yang tersebar di media dan internet saat itu dan sayangnya banyak juga orang yang mempercayainya begitu saja tanpa tatsabbut (pengecekan) terlebih dahulu, padahal berita ini adalah dusta dan tidak benar adanya. Rumah sakit pemerintah di ’Umman ketika dimintai konfirmasi tentang berita ini, mereka langsung mendustakan dan tidak ada pasien di rumah sakit mereka seperti dalam berita tersebut.

Menakuti manusia dari akibat merendahkan al-Qur‘an memang bagus. Akan tetapi, caranya bukan dengan kebohongan dan kedustaan seperti itu. Cukuplah dengan ancaman-ancaman dalam al-Qur‘an dan hadits serta ucapan para ulama semisal ucapan Imam Nawawi dalam al-Majmu’ (2/170), “Para ulama bersepakat tentang wajibnya menghormati al-Qur‘an dan memuliakannya. Dan mereka bersepakat bahwa barangsiapa yang merendahkan al-Qur‘an atau sebagiannya atau mushaf atau melemparnya ke tempat sampah dalam keadaan sadar dan mengerti maka dia kafir.” (Lihat Nasyarat Kadzibah hlm. 159–161 oleh Dr. Muhammad bin Abdillah as-Samhari.)

36. Kenangan Menarik Syaikh as-Sa’di

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di dikenal sebagai sosok ulama yang berakhlak mulia. Beliau kadang-kadang bercanda untuk menjadikan manusia senang dan tersenyum. Suatu saat, beliau bertemu dengan Shalih al-Muthlaq, salah seorang petugas pemerintah untuk menjaga semisal kebun yang berisi tanaman yang tumbuh ketika musim semi. Ketika itu as-Sa’di masih kecil. Beliau pergi bersama teman-temannya untuk memetik tanaman di kebun tersebut. Namun sial, beliau (Shalih al-Muthlaq) mengusir mereka semua bahkan memukul as-Sa’di agar supaya tidak mendekat ke kebun tersebut.

Nah, setelah sekian tahun berjalan, setelah as-Sa’di menjadi ulama, beliau memutar memori tersebut dan mengingatkan Shalih al-Muthlaq tentang peristiwa tersebut. Dengan nada bercanda beliau mengatakan, “Semoga Allah mengampunimu, wahai Shalih, engkau memukulku padahal aku tak berbuat salah apa-apa?!” Maka Shalih al-Muthlaq menjawab, “Seandainya aku tahu bahwa kamu akan menjadi seorang ulama seperti sekarang, maka dulu aku tidak akan memukulmu!!” Mendengar jawaban tersebut, Syaikh as-Sa’di pun tertawa. (Mawaqif Ijtima’iyyah min Hayati Syaikh Abdirrahman as-Sa’di hlm. 144–145 oleh Muhammad bin Abdirrahman as-Sa’di dan Musa’id bin Abdillah as-Sa’di)

37. Yang Aneh Tentang Jenggot

  • Dalam biografi Dhiya‘ bin Sa’ad bin Muhammad bin Utsman al-Qazwini (wafat tahun 780 H) diceritakan bahwa dia memiliki jenggot yang panjang sekali hingga sampai ke kakinya, dia tidak bisa tidur kecuali kalau jenggotnya disimpan di sebuah kantong, dan apabila dia tidak menaiki kendaraan maka jenggotnya membelah menjadi dua!!!” (Durratul Hijal fi Asma‘ir Rijal, al-Miknasi 3/37, sebagaimana dalam al-Muru‘ah hlm. 119 oleh Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman)
  • Al-Jahidh berkata, “Saya pernah melihat wanita yang berjenggot.” Para penduduk Baghdad menceritakan bahwa salah seorang putri Muhammad bin Rasyid al-Khannaq memiliki jenggot yang lebat. (al-Hayawan 1/36)
  • Dikisahkan bahwa orang-orang Anshar mengatakan, “Aduhai, ingin rasanya kami membelikan jenggot dengan harta-harta kami untuk Qais bin Sa’ad!!” (al-Isti’ab Ibnu Abdil Barr 3/1293, al-Ishabah Ibnu Hajar 5/360)[1]

38. Umar dan Pencuri

Suatu saat, ada seorang pencuri pada zaman Khalifah Umar bin Khaththab Radhiallahu’anhu yang hendak dihukum potong tangan, lalu dia beralasan dengan takdir seraya mengatakan, “Saya mencuri begini karena takdir Allah.” Mendengar ucapan pencuri tersebut, Umar Radhiallahu’anhu pun menjawab, “Dan saya juga akan memotong tanganmu dengan qadha‘ dan takdir Allah.” (Syarh Aqidah Thahawiyyah 1/135 oleh Ibnu Abil Izzi al-Hanafi)

Kisah ini memberikan faedah kepada kita bahwa takdir tidak boleh dijadikan sebagai alasan untuk melakukan dosa dan maksiat. Itu hanyalah perilaku para zindiq dan orang jahil semata.   Beralasan dengan takdir baru dibenarkan dalam masalah musibah. Dahulu dikatakan:

الْقَدَرُ يُحْتَجُّ بِهِ فِي الْمَصَائِبِ لاَ فِي الْمَعَايِبِ

“Takdir dijadikan alasan dalam musibah bukan untuk maksiat.” (Lihat secara luas dalam al-Iman bil Qadha‘ wal Qadar hlm. 81–87 oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd.)

39. Dunia Penjara Bagi Seorang Mukmin

Suatu saat, ada seorang budak Yahudi bertanya kepada Imam ash-Shu’luki tentang hadits:

 الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِر

“Dunia adalah penjara bagi seorang mukmin.” (HR Muslim: 7606)

Padahal kenyataannya, si budak dalam keadaan hina-dina, sedangkan ash-Shu’luki berada dalam kedudukan dan kehormatan? Maka, spontan ash-Shu’luki menjawab, “Jika kelak seandainya dirimu berada dalam siksaan Allah maka semua ini merupakan surga bagimu. Dan jika kelak seandainya aku berada di nikmat Allah maka semua ini merupakan penjara bagiku.” (ath-Thabaqat as-Sunniyyah 4/60 oleh at-Tamimi, Bad‘a’iul  Fawa‘id 3/1125 oleh Ibnul Qayyim)

Di antara faedah kisah ini adalah bahwa kunci kebahagiaan dan ketenangan dalam hidup ini adalah dengan iman. Oleh karenanya, seorang mukmin akan merasa bahagia bagaimana pun keadaannya di dunia ini. Dahulu, Ibrahim bin Adham bertutur, “Seandainya para raja dan putra-putra raja mengetahui kebahagiaan hati kami, niscaya mereka akan merampasnya dari kami dengan pedang-pedang mereka.” (Dikeluarkan oleh al-Baihaqi dalam az-Zuhd no. 81 dan Abu Nu’aim dalam al-Hilyah 7/370.)

40. Jasa Khalifah Utsman untuk Para Khatib Setelahnya

Pada suatu hari, al-Mutawakkil pernah mengatakan kepada orang-orang yang duduk di sekitarnya, “Tahukah kalian apa jasa Utsman Radhiallahu’anhu kepada kaum muslimin setelahnya?” Mereka menjawab, “Tidak tahu.” Lalu dia mengatakan, “Banyak hal, di antaranya adalah tatkala Abu Bakar Radhiallahu’anhu berdiri di bawah tempat berdirinya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallm satu tingkat, kemudian Umar Radhiallahu’anhu naik setingkat di atas tempat berdirinya Abu Bakar Radhiallahu’anhu, kemudian Utsman Radhiallahu’anhu naik di tempat mimbar semula (tingkat dua).

Spontan, Ubadah langsung berkomentar, “Tidak ada seorang yang lebih berjasa padamu daripada Utsman Radhiallahu’anhu, wahai Amirul Mukminin!!”

Al-Mutawakkil mengatakan, “Kok bisa begitu?”

Ubadah menjawab, “Ya, karena dia naik di tingkat semula mimbar. Seandainya setiap khalifah harus turun satu tingkat dari khalifah sebelumnya, berarti engkau akan berkhotbah kepada kami dari Sumur Jalula.”

Mendengarnya, al-Mutawakkil dan orang-orang di sekitarnya tertawa semua. (al-Adzkiya‘ hlm. 191 oleh Ibnul Jauzi)

Di antara faedah kisah ini adalah bahwa sunnahnya dalam mimbar adalah memiliki tiga tingkat. Adapun lebih dari itu maka tidak disyari’atkan. Demikian juga, bukanlah mimbar yang sunnah podium yang banyak dipakai di sebagian masjid sekarang ini.

Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi



[1]    Lihat masalah fiqih jenggot dan faedah-faedah seputarnya dalam buku kami Bangga Dengan Jenggot, cet. Pustaka an-Nabawi.