Membenarkan Berita Yang Valid

 

إِذَا قَالَتْ حَذَامِ فَصَدِّقُوْهَا           فَإِنَّ الْقَوْلَ مَا قَالَتْ حَذَامِ

Apabila Hadhami[1] berucap maka benarkanlah

Karena kebenaran pada dirinya.

Pribahasa ini merupakan ucapan Duaisim bin Thariq, salah seorang penyair yang hidup pada masa jahiliyah. Pribahasa ini adalah ini untuk mengungkapkan tentang seorang yang harus dipegang ucapannya dan bahwa setiap ucapan orang lain yang menyelisihinya maka tidak perlu diterima.

 Tawadhu’lah, Engkau Seperti Bintang

 

تَوَاضَعْ تَكُنْ كَالنَّجْمِ اسْتَبَانَ لِنَاظِرِ

عَلَى صَفَحَاتِ الْمَاءِ وَهُوَ رَفِيْعُ

وَلَمْ تَكُ كَالدُّخَانِ يَرْفَعُ نَفْسَهُ

                             إِلَى طَبَقَاتِ الْجَوِّ وَهُوَ وَضِيْعُ

Bertawadhu’lah, niscaya engkau akan seperti bintang

Dia menerangi orang yang melihatnya di atas air padahal dia tinggi di atas

Janganlah dirimu seperti asap yang mengangkat dirinya

Ke udara tinggi padahal dia sebenarnya rendah. (A’yanul Ashar, ash-Shofadi 3/24)

 

  Jangan Kau Marahi Di Luar Kemampuannya

 

إِنّما نُعْطِي الَّذِي أُعْطِيناَ

“Kami hanya bisa memberi apa yang diberikan kepada kami”

Pribahasa ini untuk mengungkapkan permohonan maaf karena tidak bisa melakukan suatu hal yang di luar kemampuannya. Asal pribahasa ini adalah tatkala dahulu ada seorang lelaki yang istrinya selalu melahirkan anak perempuan hingga tiga kali, maka dia ngambek (marah) dan pindah rumah. Tatkala istrinya mengetahui hal itu, diapun mengatakan:

مَا لأبِي الذَّلْفَاءِ لاَ يَأْتِيْنَا … وَهُوَ فِي الْبَيْتِ الَّذِيْ يَلِيْنَا

يَغْضَبُ إنْ لَمْ نَلِدِ الْبَنِيَنا … وإنَّما نُعْطِي الَّذِيْ أُعْطِيْنَا

 

Kenapa Abu Dzalfa’ tak datang kepada kami

Padahal dia di rumah sebelah ini

Dia marah karena kami tak melahirkan anak lelaki

Padahal kami hanya memberi apa yang diberikan pada kami.

Tatkala sang suami mendengarkan ucapan sang istri, maka hatinya tenang lalu kembali lagi ke istrinya. (Majma’ul Amtsal hlm. 64 oleh al-Maidani)

 

 Sanad Kitab

الأَسَانِيْدُ أَنْسَابُ الْكُتُبِ

Sanad adalah nasabnya kitab. (Fathul Bari 1/6 Ibnu Hajar)

 Manfaat Safar

تَغَرَّبْ عَنِ الأَوْطَانِ فِيْ طَلَبِ العُلاَ

وَسَافِرْ فَفِيْ الأَسْفَارِ خَمْسُ فَوَائِدِ

تَفَرُّجُ هَمٍّ وَاكْتِسَابُ مَعِيْشَةٍ

وَعِلْمٌ وَآدَابٌ وَصُحْبَةُ مَاجِدِ

Berkelanalah dari kampungmu untuk mencari keutamaan

Lakukanlah safar karena di dalamnya ada lima faedah

Menghilangkan kesumpekan dan mengais rezeki

Mendapatkan ilmu, adab dan teman yang baik.. (Diwan Imam Syafi’I hlm. 7)

Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi



[1] Hadhami adalah nama wanita, isteri seorang penyair. Makna bait ini: Wanita ini dalam setiap ucapannya selalu benar, sehingga apabila dia mengatakan suatu ucapan, maka ketahuilah bahwa itu adalah ucapan yang paten, tidak boleh diselisihi, kalian harus membenarkannya dan menyakini ucapannya. (Lihat Sabilul Huda bi Tahqiq Syarh Qathr Nada hal. 35, Minhatul Jalil bi Tahqiq Syarh Ibni ‘Aqil 1/102 oleh Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid). Dialah yang dimaksud dengan Zarqa’ Yamamah, yang konon ceritanya dapat melihat sesuatu yang jaraknya sejauh perjalanan tiga hari dengan mata kepalanya. Dan ketika dia terbunuh, dilihat ternyata pangkal matanya penuh dengan celak mata Itsmid. (Lihat Khizanatul Adab oleh al-Baghdadi 10/255 dan Syarh Mumti’ 1/157 oleh Syaikh Ibnu Utsaimin).