Macam-Macam Manusia

 

الرَِّجَالُ أَرْبَعَةٌ: رَجُلٌ يَدْرِيْ أَنّهُ لاَ يَدْرِيْ فَذَلِكَ جَاهِلٌ فَعَلِّمُوْهُ، وَرَجُلٌ يَدْرِيْ وَلاَ يَدْرِيْ أَنَّهُ يَدْرِيْ فَذَلِكَ غَافِلٌ فَنَبِّهُوْهُ، وَرَجُلٌ يَدْرِيْ وَيَدْرِيْ أَنَّهُ يَدْرِيْ، فَذَاكَ عَالِمٌ فاََتَّبِعُوْهُ، وَرَجُلٌ لاَ يَدْرِيْ وَلاَ يَدْرِيْ أَنَّهُ لاَ يَدْرِيْ فَذَلِكَ مَائِقٌ فَاحْذَرُوْهُ

Manusia itu ada empat macam: Seorang yang tahu bahwa dirinya tidak tahu maka dia adalah jahil, ajarilah. Dan seorang yang tahu tapi dia tidak tahu kalau dirinya tahu maka dia lalai, ingatkanlah. Dan seorang yang tahu bahwa dirinya tahu maka dia seorang berilmu, maka ikutilah. Dan seorang yang tidak tahu namun tidak tahu kalau dirinya adalah tidak tahu, maka dia adalah pandir, waspadahlah. (Jami’ Bayanil ilmi wa Fadhlihi 2/105)

Ketika Si Jahil Berbicara

 

مَنْ تَحَدَّثَ فِيْ غَيْرِ فَنِّهِ أَتَى بِالْعَجَائِبِ

“Barangsiapa yang berbicara bukan pada bidangnya, niscaya dia akan melontarkan keanehan-keanehan”.[1]

 

Kesalahan Ulama Fatal Akibatnya

 

إِذَا زَلَّ الْعَالِمُ زَلَّ الْعَالَمُ

Apabila seorang alim keliru maka alam akan keliru[2]. (Tarikh Baghdad 10/30)

Hati-Hati Menukil Berita

 

 

وَمَا آفَةُ الأَخْبَارِ إِلاَّ رُوَاتُهَا

Tidaklah kecacatan suatu berita kecuali karena para perawinya. (Ghoyatun Nihayah 1/263, dari Lathoiful Kalim fil Ilmi hlm. 301)

Noktah Hitam Dosa

 

رَأَيْتُ الذُّنُوبَ تُمِيتُ الْقُلُوبَ … وَيُتْبِعُهَا الذُّلَّ إِدْمَانُهَا

وَتَرْكُ الذُّنُوبِ حَيَاةُ الْقُلُوبِ … وَالْخَيْرُ لِلنَّفْسِ عِصْيَانهَا

 وَهَلْ أَهْلَكَ الدِّينَ إِلَّا الْمُلُوكُ … وَأَحْبَارُ سُوءٍ وَرُهْبَانُهَا

Aku mendapati dosa itu mematikan hati

Dan terus menerus dalam dosa menjadikan hina

Meninggalkan dosa adalah hidupnya hati

Namun jiwa ingin selalu berdosa

Tidak ada yang merusak agama kecuali

Para raja yang dzalim, ulama jelek dan ahli ibadah yang bodoh. (al-Mujalasah wa Jawahirul ilmi 2/30)

Pandangan Simpati Dan Benci

 

وَعَيْنُ الرِّضَا عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيْلَةٌ

                        وَلَكِنَّ عَيْنَ السُّخْطِ تُبْدِي الْمَسَاوِياَ

Pandangan simpati menutupi segala cacat

Sebagaimana pandangan benci menampakkan segala cacat. (Al-Aghani 12/250)

 



[1] Sebuah kata mutiara dari ucapan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 3/466 tentang seorang alim besar, yaitu Muhammad bin Yusuf al-Kirmani, pensyarah Shahih Bukhari, tatkala dia menjelaskan sebuah masalah yang sangat rumit dalam bidang hadits. Lihat Kalimatul Haq hal. 131 oleh Syaikh Ahmad Syakir.

[2] Maksudnya apabila seorang yang dinggap alim keliru, maka akan diikuti oleh banyak orang, sehingga menyesatkan mereka, sebab seorang alim adalah panutan umat.