Wasiat Bohong

Imam Ibnu Qutaibah pernah bertutur:

Manusia itu seperti sekumpulan burung, mereka saling mengikuti antara satu dengan lainnya. Seandainya saja ada orang yang mengaku nabi -padahal mereka tahu kalau Muhammad adalah penutup para nabi-, atau ada orang yang mengaku Tuhan, niscaya ada saja manusia yang membenarkan dan mengikutinya“. (Ta’wil Mukhtalifil Hadits hal. 77, tahqiq Salim bin I’ed al-Hilali).

Sungguh benar apa yang beliau katakan!! Begitu banyak manusia mudah terpedaya dengan tipuan dan penampilan, padahal sangat jelas kebohongannya bagi orang yang sedikit memiliki cahaya pengetahuan. Sebuah contoh mudah dan fakta, selebaran wasiat dusta yang dinisbatkan kepada Syaikh Ahmad, penjaga hujrah Nabi. Sebuah selebaran yang sangat laris manis, banyak beredar di berbagai negara semenjak puluhan tahun yang lalu. Dalam wasiat tersebut terdapat janji kebaikan bagi orang yang menulisnya tiga puluh kali dan membagikan kepada kenalannya, sebaliknya petaka akan menimpa bagi seorang yang mengabaikannya dan tidak berpartisipasi dan menulis dan mengedarkannya.

Selebaran ini telah menelan banyak korban. Aneh dan lucunya, bukan hanya di kalangan orang awam saja, bahkan di sebagian orang yang katanya berpendidikanpun terjerat dalam jaring-jaringnya!!. Kurang lebih dua tahun yang lalu, seorang pemuda mahasiswa IAIN Surabaya mengkhabarkan padaku bahwa selebaran ini ditempelkan di dinding pajangan sekolahnya. Sungguh mengherankan, di zaman yang serba modern ini, kita masih percaya dengan cerita-cerita konyol seperti ini!!

Telah banyak para ulama yang memperingatkan dari wasiat bohong ini, diantaranya adalah Syaikh Muhammad Rasyid Ridha dalam Fatawanya 1/240-242, Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam risalahnya At-Tahdzir Minal Bida’, Syaikh DR. Shalih bin Fauzan al-Fauzan dalam Al-Bayan li Akhta’ Ba’dhi Kuttab hal. 221-227 dan lain sebagainya.

Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan:

“Saya tidak menyangka sebelumnya kalau wasiat batil ini laris di kalangan orang yang sedikit memiliki pengetahuan dan fithrah yang sehat, tetapi banyak diantara saudaraku memberikan informasi kepadaku bahwa wasiat ini laris manis di tengah-tengah mayoritas manusia, bahkan sebagian diantara mereka membenarkannya. Oleh karenanya, saya memandang bahwa kewajiban orang sepertiku untuk menulis penjelasan tentang kebatilan isi wasiat ini dan kebohongan terhadap Rasulullah agar manusia tidak tertipu dengannya. Setiap orang yang memiliki ilmu dan keimanan serta fithrah sehat apabila mau merenunginya, niscaya dia kan mengetahui bahwa wasiat ini bohong belaka ditinjau dari berbagai sudut pandangannya.

Saya telah bertanya kepada sebagian kerabat Syaikh Ahmad yang dinisbatkan kedustaan wasiat ini kepadanya, lalu dia memberikan jawaban kepadaku bahwa ini hanyalah kedustaan yang dinisbatkan kepada Syaikh Ahmad, beliau tidak pernah mengatakannya sedikitpun, Syaikh Ahmad tersebut telah lama meninggal dunia. Anggaplah memang benar kalau Syaikh Ahmad atau bahkan orang yang lebih tinggi darinya mengaku bahwa dia melihat Nabi dalam keadaan mimpi atau sadar lalu Nabi memberikan wasiat ini kepadanya, niscaya kita akan mendustakannya secara pasti, dan sebenarnya yang mengatakannya adalah Syetan, bukan Nabi…”. (At-Tahdzir Minal Bida’ hal. 18)

Lembaga riset fatwa dan dakwah Saudi Arabia telah mengeluarkan penjelasan yang mengingatkan manusia agar berwaspada dari wasiat bohong ini. Berikut teks fatwa mereka:

Segala puji bagi Allah semata. Shalawat dan salam bagi rasulnya, keluarga dan para sahabatnya. Amma Ba’du:

Memang mungkin saja secara akal dan syari’at seorang muslim bisa bermimpi melihat Nabi dalam bentuk aslinya, sehingga mimipinya itu benar, karena Syetan tidak mungkin menyerupai beliau. Hal ini berdasarkan sabdanya:

 

مَنْ رَآنِيْ فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِيْ, فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَتَمَثَّلُ بِيْ

Barangsiapa melihatku dalam mimpi, maka sesungguhnya dia benar-benar melihatku, karena Syetan tidak mungkin bisa menyerupaiku. (HR. Ahmad dan Bukhari dari Anas)

Namun seorang bisa jadi berdusta mengaku mimpi melihat Nabi tetapi dia mensifatkannya kepada kita ciri-ciri Nabi dengan benar, atau bisa jadi juga dia mimipi melihat seorang yang tidak sesuai dengan sifat Nabi, tetapi syetan membisikan kepadanya bahwa itu adalah Nabi padahal sebenarnya bukan.

Mimpi yang dinisbatkan kepada Syaikh Ahmad, penjaga hujrah Nabi tidak benar adanya, cerita ini hanya dibuat-buat belaka. Hal ini sangat nampak jelas sekali, betapa sering seorang tak dikenal mengaku bernama Syaikh Ahmad dan mengaku mimpi melihat Nabi. Syaikh Ahmad, penjaga hujrah Nabi telah lama meninggal dunia sebagaimana informasi para kerabatnya ketika diklarifikasikan masalah ini, dan mereka mengingkari adanya mimpi ini, padahal mereka adalah orang yang paling dekat dan paling mengerti tentang keadaannya. Seandainya penisbatan ini benar, maka hanya ada dua kemingkinan; mungkin ini adalah dusta kepada Nabi, atau ini hanyalah impian dan khayalan belaka yang didesuskan oleh Syetan kepada orang yang bermimpi, bukan mimpi sebenarnya. Hal yang menunjukkan batilnya mimpi ini adalah banyaknya hal yang sangat bertentangan dengan fakta dan syari’at Rasulullah. Adapun bertentangan dengan fakta, karena selebaran ini tetap disebarkan padahal kerabat dekatnya sendiri mengingkarinya. Sedangkan pertentangannya dengan syari’at maka banyak sekali, diantaranya:

Pertama: Informasi tentang jumlah umat ini yang mati tidak di atas Islam setiap jum’atnya. Hal ini merupakan perkara ghaib yang tidak diketahui oleh manusia, ini hanya diketahui oleh Allah dan para rasul yang diberi wahyu pada saat mereka masih hidup, sedangkan wahyu kerasulan sekarang telah terputus dengan wafatnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

بَلِ ادَّارَكَ عِلْمُهُمْ فِي اْلأَخِرَةِ بَلْ هُمْ فِي شَكٍّ مِّنْهَا بَلْ هُم مِّنْهَا عَمُونَ

Katakanlah: Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghaib kecuali Allah“. (QS. An-Naml: 65)

عَالِمَ الْغَيْبِ فَلاَ يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا {26} إِلاَّمَنِ ارْتَضَى مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا {27}

Dialah (Allah) Yang Mengetahui perkara ghaib, maka Dia tidak memperlihatkannya kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhainya, sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya“. (QS. Al-Jinn: 26-27)

مَّاكَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًا

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki diantara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi“. (QS. Al-Ahzab: 40)

Kedua: Dia mengkhabarkan bahwa Nabi mengatakan: “Saya sangat malu dengan perbuatan manusia yang penuh dosa, saya tidak bisa menghadap Rabbku dan Malaikat”. Ini termasuk kebohongan dan kedustaan, sebab Nabi Muhammad tidak mengetahui keadaan umatnya setelah meningal dunia, bahkan ketika masih hidup-pun beliau tidak tahu kecuali yang beliau lihat sendiri atau informasi dari orang yang menyaksikannya, atau mendapatkan wahyu dari Allah.

Dari Ibnu Abbas berkata: Rasulullah pernah berkhutbah:

Wahai sekalian manusia, kalian akan dikumpulkan di hadapan Allah dengan tidak beralas kaki, telanjang dan tidak khitan, beliau lalu membacakan firman Allah:

 يَوْمَ نَطْوِي السَّمَآءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ كَمَا بَدَأْنَآ أَوَّلَ خَلْقٍ نُّعِيدُهُ وَعْدًا عَلَيْنَآ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ

Sebagaimana kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti kami tepati“. (Al-Anbiya’: 104)

Kemudian beliau melanjutkan: “Ketahuilah bahwa nanti akan didatangkan beberapa orang umatku dari arah kiri, lalu saya berkata: Wahai Rabbku! Mereka sahabatku!!, kemudian dikatakan: Engkau tidak tahu apa yang mereka perbuat setelah kematianmu. Maka saya mengatakan seperti ucapan hamba shalih:

} مَاقُلْتُ لَهُمْ إِلاَّ مَآأَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللهَ رَبِّي وَرَبَّكُمُ وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَّا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِى كُنتَ أَنتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنتَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدٌ

Aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada diantara mereka. Maka setelah engkau wafatkan (angkat) aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau Maha Menyaksikan segala sesuatu”. (QS. Al-Maidah: 117)

Lalu dikatakan: Sesungguhnya mereka tetap dalam kemurtadan mereka semenjak engkau meninggalkan mereka”. (HR. Bukhari)

Anggaplah bahwa beliau mengetahui keadaan umatnya setelah wafat, namun tumpukan dosa umatnya tidaklah membuat beliau harus malu dan keberatan diri. Telah shahih dalam hadits syafa’at bahwa karena dahsatnya hari itu, maka manusia baik yang kafir maupun mukmin meminta syafa’at kepada Nabi mereka masing-masing, lalu seluruh para nabi mengemukakan alasan tidak bisa memberikan syafa’at, sehingga sampailah mereka kepada Nabi Muhammad dan memintanya agar memberikan syafa’at kepada Allah, kemudian Nabipun memenuhi permintaan mereka dan tidak menolak permohonan mereka atau marasa malu karena banyaknya dosa mereka atau, beliau kemudian sujud di bawah Arsy dan memuji Allah sehingga diperintahkan untuk mengangkat kepalanya dan memberikan syafa’at keada mereka. Setelah itu mereka pergi untuk berurusan denga hisab (pembalasan). Semua itu beliau lakukan tanpa terhalangi oleh rasa malu untuk bertemu dengan Rabbnya dan para Malaikat.

Ketiga: Dalam wasiat itu diberitakan tentang pahala menulis wasiat ini dan menyebarkannya dari tempat ke tempat lainnya, padahal penentuan pahala perbuatan merupakan perkara ghaib yang tidak diketahui kecuali hanya Allah semata, sedangkan wahyu telah terputus dengan wafatnya penutup para Nabi. Dengan demikian, maka pengakuan mengetahui hal tersebut merupakan kebatilan nyata. Hal ini telah diakui oleh syaikh Ahmad dalam wasiat bohongnya: “Barangsiapa menulisnya sedangkan dia miskin papa, niscaya Allah menjadikannya kaya raya, kalau dia berhutang niscaya Allah akan melunasinya, kalau dia berdosa niscaya Allah akan mengampuninya dan juga kedua orang tuanya”. Semua ini hanyalah kebohongan semata.

Demikian pula ancaman kerasnya terhadap orang yang tidak menulisnya dan menyebarkannya bahkan dia menvonis orang tersebut bakal tidak mendapatkan syafa’at Nabi Muhammad dan wajahnya akan menjadi hitam di dunia dan akherat. Ini juga termasuk perkara ghaib yang tidak diketahui kecuali oleh Allah, maka menginformasikannya sedangkan wahyu telah terputus merupakan kedustaan. Demikian pula ucapannya: “Barangsiapa mempercayainya, niscaya akan selamat dari siksa Neraka dan barangsiapa yang mendustakannya maka dia telah kafir, keluar dari agama”. Hal ini juga kedustaan dan kebohongan, sebab tidak memercayai mimpi selain Nabi tidak termasuk kekufuran dengan kesepakatan kaum muslimin.

Keempat: Semua yang dia khabarkan berupa janji dan ancaman tersebut mengandung sebuah unsur syari’at untuk menganjurkan penulisan wasiat ini dan menyebarkannya di tengah-tengah manusia agar supaya diamalkan dan diyakini pahala yang tertera di dalamnya. Demikian pula mengandung syari’at haramnya menyembunyikannya, tidak menyebarkannya, atau memperingatkan manusia darinya, karena khawatir tertimpa ancaman keras berupa haramnya Syafa’at Nabi baginya serta hitamnya wajah di dunia dan akherat kelak.

Kelima: Tidak ada kesesuaian antara amalan dan ganjarannya. Hal ini membuktikan kedustaan wasiat ini. Dan masih banyak lagi hal-hal lain yang merupakan kedustaan nyata. Oleh karenanya maka kewajiban bagi setiap muslim untuk waspada dari wasiat ini dan berusaha untuk melenyapkannya.

Hanya kepada Allah kita memohon taufiq. Shalawat dan salam bagi Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya”. (Fatawa Lajnah Daimah 4/74-77/no. 999).

(Dinukil dari Kutub Hadzdzara Minha Ulama’ 2/332-347 oleh Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Salman).

Penyusun:  Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi

http://abiubaidah.com