<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi &#187; Admin</title>
	<atom:link href="http://abiubaidah.com/author/muhammad/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abiubaidah.com</link>
	<description>Membela Agama dengan Ilmu dan Hujjah</description>
	<lastBuildDate>Fri, 20 Apr 2012 08:41:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Hadits tentang &#8220;Kesialan&#8221;</title>
		<link>http://abiubaidah.com/memahami-hadits-tentang-kesialan.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/memahami-hadits-tentang-kesialan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 May 2011 23:46:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah dan Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Nasib Sial]]></category>
		<category><![CDATA[Takdir Baik]]></category>
		<category><![CDATA[Takdir Buruk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=770</guid>
		<description><![CDATA[Kata orang, kita sekarang sudah berada di zaman modern dan era globalisasi. Namun, entah kenapa, khurofat-khurofat jahiliah masih saja diadopsi oleh sebagian kaum muslimin sekarang, walaupun mereka sudah menyandang pendidikan tinggi. Di antara khurofat tersebut adalah perbuatan tathoyyur yaitu merasa sial dengan burung atau lainnya. Dalam Islam, khurofat seperti itu diberantas dan sebaliknya kita diperintahkan [...]
Related posts:<ol>
<li><a href='http://abiubaidah.com/hadits-palsu-cinta-tanah-air.html/' rel='bookmark' title='Hadits Palsu: Cinta Tanah Air adalah Sebagian dari Iman'>Hadits Palsu: Cinta Tanah Air adalah Sebagian dari Iman</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/telaah-penyakit-menular.html/' rel='bookmark' title='PENYAKIT MENULAR: ANTARA  ILMU HADITS DAN ILMU MEDIS'>PENYAKIT MENULAR: ANTARA  ILMU HADITS DAN ILMU MEDIS</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/keajaiban-hadits-lalat.html/' rel='bookmark' title='KEAJAIBAN HADITS  LALAT'>KEAJAIBAN HADITS  LALAT</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kata orang, kita sekarang sudah berada di zaman modern dan era globalisasi. Namun, entah kenapa, khurofat-khurofat jahiliah masih saja diadopsi oleh sebagian kaum muslimin sekarang, walaupun mereka sudah menyandang pendidikan tinggi. Di antara khurofat tersebut adalah perbuatan <em>tathoyyur</em> yaitu merasa sial dengan burung atau lainnya. Dalam Islam, khurofat seperti itu diberantas dan sebaliknya kita diperintahkan untuk hanya bertawakkal kepada Alloh dalam segala urusan.</p>
<p>Ada suatu masalah penting di sini yang permasalahannya perlu kami dudukkan dengan benar, yaitu adanya beberapa hadits yang sekilas saling bertentangan. Dalam banyak hadits, khurofat tersebut ditiadakan bahkan dimasukkan kategori kesyirikan. Namun, di sisi lain ada beberapa hadits yang sekilas mengisyaratkan adanya beberapa makhluk yang membawa sial. Bagaimana permasalahannya?! Dan bagaimana komentar ulama mengenainya?! Marilah kita kaji bersama masalah ini secara ilmiah.</p>
<h3><span id="more-770"></span></h3>
<h3><strong>Teks Hadits</strong></h3>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong>عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الشُّؤْمُ فِى الدَّارِ وَالْمَرْأَةِ وَالْفَرَسِ ».</strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>Dari Abdulloh bin Umar </em><em> berkata: “Saya mendengar Nabi shallalllahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: ‘Kesialan itu dalam tiga perkara: kuda, wanita, dan rumah.’”</em><a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align: center;"><strong>عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنْ كَانَ الشُّؤْم فَفِى الْمَرْأَةِ وَالْفَرَسِ وَالْمَسْكَنِ ».</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>Dari Sahl bin Sa’ad  bahwasanya Rosululloh shallalllahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: “Seandainya kesialan itu ada, maka pada wanita, kuda, dan tempat tinggal.”</em><a href="#_ftn2">[2]</a></p>
</blockquote>
<p>Bila kita cermati dua hadits di atas, akan kita dapati dua lafazh yang berbeda, pada hadits pertama dengan lafazh tegas dan pada hadits kedua dengan lafazh syarat (seandainya ada).</p>
<h3></h3>
<h3><strong>Sekilas Bertentangan</strong></h3>
<p>Sekilas pandang, seakan-akan terjadi kontradiksi antara hadits di atas dengan dalil-dalil dan hadits-hadits yang banyak sekali tentang larangan merasa sial, di antaranya yang paling tegas adalah hadits Abdulloh bin Mas’ud <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>:</p>
<blockquote><p><em>“Thiyaroh (merasa sial) adalah termasuk kesyirikan.”</em><a href="#_ftn3">[3]</a></p></blockquote>
<p>Hadits ini dengan tegas menyatakan bahwa <em>thiyaroh</em> (tathoyyur) adalah termasuk kesyirikan.</p>
<h3></h3>
<h3>Bagaimana Cara Memadukannya?</h3>
<p>Para ulama telah berusaha untuk memadukan antara kedua hadits di atas dan mereka menegaskan bahwa di sana ada perbedaan antara kesialan dengan tiga hal (yaitu: wanita, rumah, dan kendaraan) di atas dengan thiyaroh yang syirik. Namun, metode mereka dalam memadukannya beragam, di antaranya<a href="#_ftn4">[4]</a>:</p>
<p><strong>Pertama</strong>: Sebagian mereka mengatakan bahwa pada asalnya merasa sial itu tidak boleh, tetapi khusus dengan tiga hal di atas maka boleh.<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p><strong>Kedua</strong>: Sebagian ulama mengatakan bahwa bolehnya merasa sial dengan tiga hal di atas adalah <em>mansukh</em> (terhapus) dengan hadits-hadits larangan.<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p><strong>Ketiga</strong>: Melemahkan dan mengingkari hadits-hadits yang menyatakan kesialan pada tiga hal di atas atau mengingkari ketegasan lafazh tersebut, yang benar menurut mereka adalah dengan lafazh: <em>“Kalau memang ada kesialan pada sesuatu, maka tiga perkara.”</em><a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Pendapat yang kuat adalah yang merinci bahwa kesialan itu ada dua macam:</p>
<ol>
<li>Kesialan yang haram, seperti keyakinan orang-orang jahiliah yaitu pada hal-hal tertentu yang dianggap membawa sial bahwa hal itu berpengaruh pada keadaan dan merupakan faktor kebaikan dan keburukan, sehingga menghalangi mereka dari keinginan dan tekad mereka. Imam Nawawi v\ berkata tatkala menjelaskan segi kesyirikan thiyaroh: “Sebab mereka berkeyakinan benda tersebut berpengaruh untuk maju mundurnya suatu keinginan.”<a href="#_ftn8">[8]</a></li>
<li>Kesialan yang ditetapkan dalam hadits, yaitu apa yang dijumpai pada hati seorang kebencian pada hal-hal tertentu ketika terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan padanya. Di antara ciri-cirinya:</li>
<li>Kesialan ini tidak muncul kecuali setelah terjadinya kemadhorotan yang berulang-ulang. Seandainya seorang merasa terkena madhorot dari sesuatu, maka boleh baginya untuk meninggalkannya.</li>
<li>Kesialan ini muncul karena adanya sifat yang tercela, berbeda dengan kesialan terlarang yang biasanya muncul karena sebab yang tidak jelas, seperti membatalkan rencana bepergian gara-gara melihat seekor burung.</li>
<li>Dampak dari kesialan ini adalah meninggalkan, dengan tetap berkeyakinan bahwa hanya Alloh saja yang menciptakan dan mengatur kebaikan dan keburukan. Kesialannya bukan karena zat benda tersebut memiliki pengaruh, melainkan karena apa yang Alloh takdirkan pada benda tersebut berupa kebaikan dan kejelekan. Hal ini diperkuat oleh hadits dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> bahwa ada seorang berkata kepada Nabi <em>shallalllahu &#8216;alaihi wa sallam</em>: “Wahai Rosululloh, dahulu kami berada di rumah dan jumlah kami serta harta kami banyak, tatkala kami pindah rumah lain, jumlah kami dan harta kami menjadi sedikit.” Lalu Nabi <em>shallalllahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda: “Tinggalkan rumah tersebut.”<a href="#_ftn9">[9]</a></li>
</ol>
<p>Dalam hadits ini, Nabi <em>shallalllahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memerintahkan kepada orang tersebut pindah rumah tatkala beliau mendapati kebencian mereka, adanya madhorot yang menimpa mereka serta berulangnya hal itu pada mereka. Nabi <em>shallalllahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memerintahkan untuk pindah agar hilang perasaan benci dalam hati mereka, bukan karena zat rumah itu memiliki pengaruh.<a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Demikianlah perincian para ulama dalam masalah ini, sehingga dengan demikian hilanglah anggapan tentang adanya kontradiksi pada hadits-hadits Rosululloh <em>shallalllahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.<a href="#_ftn11">[11]</a></p>
<h3></h3>
<h3>Beberapa Masalah Tentang Hadits</h3>
<p>Untuk melengkapi pembahasan hadits ini, kami akan sedikit menambahkan beberapa pembahasan seputar hadits ini secara ringkas<a href="#_ftn12">[12]</a>.</p>
<p><strong>1.  Definisi tathoyyur</strong></p>
<p>Tathoyyur (thiyaroh) adalah merasa sial karena melihat atau mendengar sesuatu seperti keyakinan orang jahiliah dahulu apabila melihat burung terbang ke arah kanan maka pertanda baik dan bila terbang ke kiri maka pertanda keburukan.</p>
<p>Perlu diketahui bahwa khurofat ini sampai sekarang masih bercokol di sebagian masyarakat. Sebagai contoh, sebagian masyarakat masih meyakini bila ada burung gagak melintas di atas maka itu pertanda akan ada orang mati, bila burung hantu berbunyi pertanda ada pencuri, bila mau beergian lalu di jalan dia menemui ular menyeberang maka pertanda kesialan sehingga perjalanan harus diurungkan.</p>
<p>Demikian pula ada yang merasa sial dengan bulan Muharrom (Suro: Jawa), hari Jum’at Kliwon, ada juga yang merasa sial dengan angka seperti angka 13 dan sebagainya.<a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p><strong>2.  Hukum thiyaroh</strong></p>
<p>Thiyaroh hukumnya adalah haram dan termasuk kesyirikan yang menodai tauhid seseorang, karena dua hal:</p>
<p><strong>Pertama</strong>: Seorang yang merasa sial berarti telah menghilangkan tawakkalnya kepada Alloh dan dia malah berpedoman pada selain Alloh.</p>
<p><strong>Kedua</strong>: Seorang yang merasa sial berarti bergantung pada perkara yang tidak ada hakikatnya padahal hanya khayalan belaka, sehingga semua ini dapat menodai tauhid seorang hamba.</p>
<p>Orang yang merasa sial tidak lepas dari dua keadaan:</p>
<p><strong>Pertama</strong>: Dia meninggalkan keinginannya karena mengikuti keyakinan sialnya. Ini adalah bentuk kesialan yang paling berbahaya bagi aqidah seorang.</p>
<p><strong>Kedua</strong>: Dia melanjutkan keinginannya, namun dengan perasaan takut dan gundah dalam hatinya. Ini juga berbahaya bagi tauhid seorang sekalipun lebih ringan dari yang sebelumnya.</p>
<p>Maka hendaknya bagi seseorang untuk melanjutkan keinginannya dengan lapang dada dan tawakkal yang kuat kepada Alloh tanpa melirik pada kesialan karena hal itu berarti buruk sangka kepada Alloh. Bahkan merasa sial juga bisa sampai kepada derajat syirik besar yang mengelurkan seorang dari Islam yaitu apabila dia menyakini bahwa benda yang dia anggap pembawa sial tadi memiliki pengaruh secara dzatnya, karena dengan demikian berarti dia menjadikan tandingan bagi Alloh dalam masalah penciptaan dan pengaturan.<a href="#_ftn14">[14]</a></p>
<p><strong>3.  Hukum meninggalkan tiga hal (rumah, istri, kendaraan)</strong></p>
<p>Maksudnya kalau seandainya seorang terkena cobaan pada tiga hal tersebut terus-menerus sehingga dia merasa keberatan dan merasakan kebencian terhadapnya, bolehkah untuk meninggalkannya?! Jawabannya adalah boleh dan ini tidak termasuk kesialan yang dilarang. <strong>Imam al-Baghowi</strong> <em>rahimahullah</em> mengomentari hadits pembahasan: “Ini adalah petunjuk Nabi <em>shallalllahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bagi yang memiliki rumah, istri, atau kuda yang tidak menyenangkannya agar dia berpisah darinya. Kalau rumah maka dengan pindah darinya, kalau istri maka dengan menceraikannya, kalau kuda (kendaraan) maka dengan menjualnya. Dan semua ini tidaklah termasuk thiyaroh yang terlarang.”<a href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p><strong>4.  Tanda-tanda kesialan pada tiga hal dan faktor pengkhususannya</strong></p>
<p>Para ulama menyebutkan bahwa tanda kesialan pada rumah yaitu sempitnya, tetangga yang jelek, sering kena musibah (pencurian, misalnya), jauhnya dari masjid sehingga tak mendengar adzan, dan sebagainya. Tanda kesialan istri yaitu dengan kemandulannya, jelek akhlaknya, selingkuh, dan sebagainya. Adapun tanda kesialan pada kuda adalah sulit ditumpangi, lambat jalannya, dan sebagainya.</p>
<p>Adapun kenapa dikhususkan tiga hal tersebut saja? Jawabannya adalah karena tiga hal itu kebutuhan primer seorang yang selalu berkaitan dengan manusia yaitu rumah, istri, dan kendaraan.<a href="#_ftn16">[16]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Demikianlah pembahasan yang dapat kami sajikan. Semoga bermanfaat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;"><em>Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>(www.abiubaidah.com)</em></p>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> HR. Bukhori: 2858 dan Muslim: 2225</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> HR. Bukhori: 5095 dan Muslim: 2226</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> HR. Ahmad 1/389, Abu Dawud: 3910, Tirmidzi: 1614, dan dishohihkan al-Albani dalam <em>Shohih Sunan Tirmidzi</em> 2/216.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Diringkas dari <em>Ahadits Aqidah</em> karya Sulaiman bin Muhammad ad-Dubaikhi 1/115–129, Darul Bayan al-Haditsiyyah, cet. pertama 1422 H.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Lihat <em>Fathul Bari</em> 10/213 oleh Ibnu Hajar, <em>Ma’alim Sunan</em> 4/236, 237, <em>Ta‘wil Mukhtalifil Hadits</em> hlm. 106 oleh Ibnu Qutaibah, <em>Taisir Aziz Hamid</em> hlm. 377 oleh Sulaiman bin Abdillah, <em>al-Adab Syar’iyyah</em> 4/7 oleh Ibnu Muflih.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Lihat <em>at-Tamhid</em> 9/290 oleh Ibnu Abdil Barr.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Lihat <em>Syarh Ma’anil Atsar</em> 4/314 oleh ath-Thohawi, <em>Tahdzibul Atsar</em> 1/31 oleh ath-Thobari, <em>at-Tamhid</em> 9/283 oleh Ibnu Abdil Barr, <em>al-Ijabah li Irodi Mastadrokathu Aisyah ’ala Shohabah</em> hlm. 128 oleh az-Zarkasyi, <em>Silsilah Ahadits ash-Shohihah</em> 1/727, 4/565 oleh al-Albani.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a><em> Syarh Muslim</em> 14/471</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> HR. Abu Dawud: 3917, al-Bukhori dalam <em>Adabul Mufrod</em>: 918 dan dihasankan al-Albani dalam <em>Shohih Sunan Abu Dawud</em> 2/743.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a><em> Ta‘wil Mukhtalifil Hadits</em> hlm. 99 oleh Ibnu Qutaibah</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Lihat <em>Miftah Dar Sa’adah</em> 3/344 oleh Ibnul Qoyyim, <em>Latho‘if Ma’arif</em> hlm. 83 oleh Ibnu Rojab, <em>Majmu’ Fatawa Ibnu Baz</em>: 142, <em>al-Majmu’ Tsamin</em> oleh Ibnu Utsaimin 1/61.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> Diringkas dari risalah <em>Ma’na Hadits asy-Syu’mu fi Tsalatsah</em> oleh Dr. Muhammad bin Abdul Aziz al-Ali.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> Lihat risalah <em>at-Tathoyyur</em> oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd dan lihat kembali tulisan Ustadzuna Abu Nu’aim <em>rahimahullah</em> tentang masalah ini dalam Majalah Al Furqon Edisi 5/Th. III hlm. 23.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> Lihat <em>Miftah Dar Sa’adah</em> 2/320, <em>Latho‘iful Ma’arif</em> hlm. 71, <em>al-Qoulus Sadid</em> hlm. 18 oleh as-Sa’di, <em>al-Qoulul Mufid</em> 1/560 oleh Ibnu Utsaimin.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a><em> Syarh Sunnah</em> 9/13, 12/178–179</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a><em> Syarh Sunnah</em> 9/14 oleh al-Baghowi, <em>Faidhul Qodir</em> 3/33 oleh al-Munawi.</p>
</div>
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://abiubaidah.com/hadits-palsu-cinta-tanah-air.html/' rel='bookmark' title='Hadits Palsu: Cinta Tanah Air adalah Sebagian dari Iman'>Hadits Palsu: Cinta Tanah Air adalah Sebagian dari Iman</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/telaah-penyakit-menular.html/' rel='bookmark' title='PENYAKIT MENULAR: ANTARA  ILMU HADITS DAN ILMU MEDIS'>PENYAKIT MENULAR: ANTARA  ILMU HADITS DAN ILMU MEDIS</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/keajaiban-hadits-lalat.html/' rel='bookmark' title='KEAJAIBAN HADITS  LALAT'>KEAJAIBAN HADITS  LALAT</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/memahami-hadits-tentang-kesialan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Binatang Juga Mengutuk Perzinaan</title>
		<link>http://abiubaidah.com/binatang-juga-mengutuk-perzinaan.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/binatang-juga-mengutuk-perzinaan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 May 2011 00:46:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=763</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya kedudukan kitab Shohih Bukhori dan Muslim sangat tinggi dalam pandangan para ulama. Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Para ulama—semoga Alloh merahmati mereka—bersepakat bahwa kitab yang paling shohih setelah al-Qur‘an adalah Shohih Bukhori dan Muslim.”[1]. Beliau juga berkata: “Umat telah bersepakat tentang keshohihan dua kitab ini dan wajibnya beramal dengan hadits-haditsnya.” [2] Namun anehnya, sebagian kalangan [...]
No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sesungguhnya kedudukan kitab <em>Shohih Bukhori dan Muslim</em> sangat tinggi dalam pandangan para ulama. Imam Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata: “Para ulama—semoga Alloh merahmati mereka—bersepakat bahwa kitab yang paling shohih setelah al-Qur‘an adalah <em>Shohih Bukhori dan Muslim</em>.”<a href="#_ftn1">[1]</a>. Beliau juga berkata: “Umat telah bersepakat tentang keshohihan dua kitab ini dan wajibnya beramal dengan hadits-haditsnya.” <a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Namun anehnya, sebagian kalangan telah gegabah dalam melemahkan hadits-hadits Bukhori-Muslim dengan penuh kelancangan tanpa hujjah yang ilmiah. Sikap semacam itu, sembarangan tanpa hujjah dalam melemahkan hadits yang terdapat di dalamnya, adalah kebiasaan ahli bid’ah. Banyak sekali contoh-contohnya, namun pembahasan kali ini adalah salah satu di antaranya. Semoga Alloh menjadikan kita pejuang-pejuang sunnah dan pembela hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.<span id="more-763"></span></p>
<h3>Teks Hadits</h3>
<blockquote>
<h3 style="text-align: center;"><strong>قَالَ الإِمَامُ الْبُخَارِيُّ : حَدَّثَنَا نُعَيْمُ بْنُ حَمَّادٍ ، حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ عَنْ حُصَيْنٍ ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ قَالَ : رَأَيْتُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ قِرْدَةً اجْتَمَعَ عَلَيْهَا قِرَدَةٌ قَدْ زَنَتْ فَرَجَمُوهَا فَرَجَمْتُهَا مَعَهُم.</strong></h3>
<p style="text-align: center;"><em>Imam Bukhori berkata: Menceritakan kepada kami Nu’aim bin Hammad, menceritakan kepada kami Husyaim dari Hushoin dari ’Amr bin Maimun, dia berkata: “Saya pernah melihat pada masa jahiliah ada seekor kera yang berzina, lalu beberapa kera berkumpul untuk merajamnya, lalu saya ikut merajam bersama mereka.”</em></p>
</blockquote>
<h3>Takhrij Hadits</h3>
<blockquote><p><strong>SHOHIH</strong>. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam <em>Shohih</em>-nya: 3849 dan <em>Tarikh Kabir</em> 6/367 dari Nu’aim bin Hammad: Menceritakan kepada kami Husyaim dari Hushoin dari ’Amr bin Maimun. Dan Ibnu Abdil Barr dalam <em>al-Isti’ab</em> 1/374 dari jalur Abbad bin Awwam dari Hushoin. Dan juga al-Isma’ili sebagaimana dalam <em>Fathul Bari</em> 7/201 dari jalur Isa bin Khithon dari ’Amr bin Maimun dalam kisah yang panjang. Dengan demikian maka hadits ini adalah shohih dan kuat.</p></blockquote>
<h3>Syubhat dan Bantahan</h3>
<ul>
<li>Sebagian kalangan mempermasalahkan hadits ini dari segi sanad dan matan-nya. Sebagai pembelaan terhadap hadits Bukhori ini, kita berusaha untuk menjelaskan duduk permasalahannya:</li>
</ul>
<h3>Syubhat Pertama: Dari segi sanad</h3>
<p>Dipermasalahkan rowi Nu’aim bin Hammad dan Husyaim seorang yang mudallis, sedangkan dia meriwayatkan dengan lafazh <em>’an</em>.</p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<ol>
<li>Nu’aim bin Hammad tidaklah sendirian, dia dikuatkan oleh Abbad bin Awwam—seorang rowi yang terpercaya—juga Isa bin Khithon sebagaimana dalam penjelasan takhrij di atas.</li>
<li>Sekalipun Husyaim meriwayatkan dengan lafazh <em>’an</em> (dari) dalam riwayat ini, tetapi dalam <em>Tarikh Kabir</em> dia meriwayatkan dengan lafazh <em>haddatsana</em> (menceritakan kepada kami) sehingga kekhawatiran tersebut hilang, bahkan Imam Bukhori mengiringkan bersama Hushoin rowi lain yang bernama Abu Malih.<a href="#_ftn3">[3]</a></li>
<li>Perlu diketahui terlebih dahulu bahwa kisah ini bukanlah dari Nabi <em> </em><em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> atau sahabat, melainkan dari ’Amr bin Maimun <em>rahimahullah</em> dan beliau adalah seorang <em>mukhodhrom</em> yaitu tabi’in yang mendapati masa jahiliah dan memeluk agama Islam pada masa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tetapi tidak bertemu dengan beliau.<a href="#_ftn4">[4]</a></li>
<li>Tujuan inti Imam Bukhori menyebutkan kisah ini adalah untuk menjelaskan bahwa ’Amr bin Maimun mendapati masa jahiliah. Oleh karena itu, beliau mencantumkannya dalam <em>Bab al-Qosamah fil Jahiliyyah</em>.</li>
<li>’Amr bin Maimun menceritakan kisah tersebut karena adanya indikasi-indikasi kuat bahwa kera tersebut melakukan perzinaan. Ini hanyalah sekadar cerita yang diungkapkan berdasarkan praduga kuat, bukan berarti memastikan zina atau rajam betulan atau menganggap bahwa binatang adalah makhluk yang <em>mukallaf</em>. Namun, beliau menyebut demikian karena menyerupai perbuatan zina.</li>
</ol>
<h3>Syubhat Kedua: Dari segi Matan</h3>
<p>Ada baiknya bila kami kutip kisah lengkap dan panjang yang diriwayatkan oleh al-Ismaili agar kita mengetahui jalur kisah ini secara lengkap. Kata ’Amr bin Maimun <em>rahimahullah</em>:</p>
<blockquote><p>“Suatu saat ketika saya berada di Yaman menggembala kambing milik keluarga saya dan saya berada di tempat yang tinggi. Saya melihat ada seekor kera jantan bersama kera betina berdua-duan lalu mereka berdua tidur berpelukan. Tiba-tiba datang kera betina lain lebih kecil (muda) lalu menggoda kera betina. Kemudian kera betina secara pelan-pelan keluar dari pelukan jantannya kemudian pergi bersama kera muda tadi lalu keduanya berjima’ lalu dia kembali ke kepala jantannya dengan pelan-pelan. Tak lama, jantannya bangun kaget kemudian mencium dubur betina lalu berteriak sehingga berkumpullah kera-kera yang cukup banyak. Sang betina terus berteriak sembari mengisyaratkan tangannya ke betina. Kera-kera itu akhirnya pergi ke kanan dan ke kiri lalu mereka datang membawa kera muda yang aku kenal tadi. Setelah itu mereka membawa keduanya ke lubang kecil kemudian merajam keduanya. Sungguh aku telah melihat rajam pada selain anak adam.” <a href="#_ftn5">[5]</a></p></blockquote>
<h3><span style="color: #ff0000;">Mutiara Hadits</span></h3>
<p>Atsar ini mengandung beberapa pelajaran berharga, di antaranya:</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>1.  Kejinya perbuatan zina</strong></span></p>
<p>Zina adalah perbuatan seorang lelaki menggauli wanita di luar pernikahan yang sah atau perbudakan<a href="#_ftn6">[6]</a>. Zina termasuk dosa besar setelah syirik dan pembunuhan<a href="#_ftn7">[7]</a>, sebagaimana ditegaskan dalam al-Qur‘an, hadits, ijma’, dan akal. Perhatikanlah firman Alloh:</p>
<p style="text-align: center;">وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَـٰحِشَةًۭ وَسَآءَ سَبِيلًۭا ﴿٣٢﴾</p>
<p style="text-align: center;"><em>Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.</em> (QS. al-Isro‘ [17]: 32)</p>
<p>Perhatikanlah bagaimana Alloh menyifati perzinaan dengan perbuatan keji dan buruk karena memang dalam perzinaan terdapat beberapa dampak negatif yang banyak sekali seperti hancurnya keutuhan keluarga, bercampurnya nasab, merebaknya penyakit-penyakit berbahaya, menimbulkan permusuhan, kehinaan, keruwetan hati, dan sebagainya.<a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Jika binatang saja merasa jijik dan mengutuk perbuatan zina dan pelakunya padahal mereka tiada berakal, lantas bagaimana dengan dirimu wahai manusia?! Sungguh menyedihkan hati kita maraknya perzinaan, pencabulan, perselingkuhan di negeri ini, banyaknya pos-pos perzinaan yang terlindungi, dan mesin-mesin pengantar menuju perzinaan dari gambar-gambar porno dan seronok yang meruyak di internet dan majalah, bahkan televisi!!</p>
<p>Maka melalui tulisan ini, kami menghimbau kepada pemerintah untuk menyikapi masalah ini secara tegas. Alangkah bagusnya ucapan Imam al-Mawardi <em>rahimahullah</em>: “Adapun mu’amalat yang mungkar seperti zina dan transaksi jual beli haram yang dilarang syari’at—sekalipun kedua belah pihak saling setuju—apabila hal itu telah disepakati keharamannya maka merupakan kewajiban bagi pemimpin untuk mengingkari dan melarangnya serta menghardiknya dengan hukuman yang sesuai dengan keadaan dan pelanggaran.” <a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Lebih parah lagi dari semua tadi, apa yang dilakukan oleh kelompok Syi’ah tatkala menjadikan praktik perzinaan yang keji atas nama ibadah di balik kedok “nikah mut’ah”. Sungguh, ini adalah perzinaan yang lebih besar dosanya karena menjadikan kemaksiatan sebagai ibadah. Hanya kepada Alloh kita mengadukan kebodohan mereka.</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>2.  Penegakan hukum rajam bagi pezina adalah haq</strong></span></p>
<p>Kebenaran hukum rajam bagi pezina yang <em>muhshon</em> (sudah menikah) dalam syari’at ini ditetapkan berdasarkan Kitabulloh dan mutawatir sunnah Rosululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> serta kesepakatan kaum muslimin semenjak dahulu hingga sekarang. Tidak ada yang menyelisihinya kecuali Khowarij yang ucapan mereka tidak perlu dilirik.<a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Sekalipun demikian jelasnya hukum rajam dalam Islam<a href="#_ftn11">[11]</a>, anehnya masih ada sekelompok orang dari para pemikir dan penulis masa kini<a href="#_ftn12">[12]</a> yang menggugat hukum ini hanya karena mengikuti arus hawa nafsu mereka, dan mengikuti langkah nenek moyang mereka dari kalangan Khowarij. Hanya kepada Alloh kita mengadukan semua ini.<a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Tidakkah orang-orang tersebut mengambil pelajaran dari kera-kera yang menegakkan hukum Alloh ketika anak adam tidak menegakkannya?!!<a href="#_ftn14">[14]</a></p>
<p>Mirip dengan kisah ini, apa yang diceritakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah <em>rahimahullah</em>, beliau berkata:</p>
<blockquote><p>“Sebagian syaikh terpercaya bercerita kepadaku bahwa dia melihat di masjid suatu jenis burung bertelur, lalu ada seorang mengambil telurnya dan menggantinya dengan telur jenis burung lainnya. Tatkala telur burung itu menetas, maka yang keluar adalah jenis lain. Serta merta mengetahui hal itu, maka sang jantan langsung memanggil kawan-kawannya sehingga mereka semua mengeroyok si betina sampai mati. Seperti ini sangatlah populer dalam kebiasaan binatang.” <a href="#_ftn15">[15]</a></p></blockquote>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>3.  Belajar dari kecerdikan sebagian hewan<a href="#_ftn16">[16]</a></strong></span></p>
<p>Imam Ibnul Qoyyim <em>rahimahullah</em> berkata: “Banyak manusia berakal yang belajar dari binatang beberapa perkara yang bermanfaat dalam mencari rezeki, akhlak, produksi, peperangan, kesabaran, dan sebagainya.” <a href="#_ftn17">[17]</a></p>
<p>Terlebih lagi kera, ia adalah binatang yang cukup cerdas. Oleh karenanya, al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata: “Disebut secara khusus kera dalam hadits ini karena ia memiliki kecerdasan lebih dibandingkan dengan hewan lainnya dan cepat belajar menirukan, hal yang jarang dijumpai pada kebanyakan hewan lainnya.” <a href="#_ftn18">[18]</a></p>
<p>Di antara <strong>kecerdasan kera</strong> adalah apa yang diceritakan oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<blockquote><p>“Dahulu ada seorang yang menjual khomer di kapal bersama kera. Apabila dia menjual khomer maka dia campuri dengan air. Maka kera mengambil kantong uang lalu naik di kayu (tiang) layar kapal seraya membagi uang, sebagian dinar ia lempar ke laut dan sebagian dinar ia lempar ke kapal.” (HR. Ahmad 2/306, an-Naqqosy dalam <em>Funun Ajaib</em> 78–79, Abu Syaikh dalam <em>Thobaqot Muhadditsin</em> 2/104, Abu Nu’aim dalam <em>Akhbar Ashbahan</em> 2/28 dengan sanad shohih)</p></blockquote>
<ul>
<li>Hadits ini menunjukkan kecerdikan sebagian hewan. Al-Munawi <em>rahimahullah</em> berkata dalam <em>Faidhul Qodir</em> 1/491: “Telah shohih bahwa sekelompok orang pernah melihat kera bisa menjahit dan kera yang digaji untuk menjaga sawah.” Lalu beliau berkata: “Cerita seperti ini banyak sekali.”</li>
<li>Adakah manusia yang dapat mengambil pelajaran dari semua ini?! Apakah mereka akan sombong dari menuntut ilmu sehingga kalah dengan hewan?!!</li>
</ul>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>4.  Di Manakah Sifat Cemburu sekarang ini?<a href="#_ftn19">[19]</a></strong></span></p>
<p>Cemburu merupakan sifat yang mulia. Dengannya terjaga kehormatan seorang dan keluarganya. Adapun bila sifat cemburu telah hilang maka akan terkoyak pula kehormatan seorang dan keluarganya. Anehnya, sifat yang mulia ini sangat jarang kita jumpai pada zaman sekarang dengan alasan kebebasan dan perkembangan zaman. Orang yang cemburu dianggap kampungan, kolot, dan ketinggalan zaman!! Oleh karenanya, sering kita dengan dengar ucapan sebagian orang: “Ini zaman modern, bukan zaman Siti Nurbaya lagi”!!!</p>
<blockquote><p><em>Subhanalloh</em>, apakah kita tidak mengambil pelajaran dari binatang yang masih memiliki kecemburuan?!! Imam Abu Ubaidah Ma’mar bin Mutsanna <em>rahimahullah</em> menyebutkan dalam <em>Kitabul Khoil</em> dari jalur al-Auza’i bahwa ada seekor kuda diperintah untuk menggauli ibunya maka dia enggan. Akhirnya, ibu kuda tadi dimasukkan ke rumah dan ditutupi kain lalu perintahkan kepada anaknya untuk menggaulinya. Karena dia tidak tahu, maka ia pun menggaulinya. Tatkala ia mencium aroma ibunya serta-merta ia menggigit dzakarnya sendiri dengan giginya sampai putus.” <a href="#_ftn20">[20]</a></p>
<p>Kisah yang mirip juga adalah kisah kecemburuan seekor sapi yang bunuh diri karena dia telah menggauli ibunya sendiri. Alkisah, sapi tersebut ditutup matanya lalu diseret ke ibunya agar menggaulinya. Setelah proses pengawinan selesai, dibukalah mata sapi tadi, dan ketika dia tahu bahwa yang ia gauli adalah ibunya sendiri maka serta-merta sapi tersebut langsung lari terbirit-birit menghantamkan kepalanya ke tembok sehingga berlumuran darah, lalu lari dengan gila menuju sungai kemudian menenggelamkan dirinya hingga mati!! <em>Subhanalloh</em>, jika binatang saja memiliki cemburu seperti itu, lantas bagaimana dengan dirimu wahai manusia?!!!<a href="#_ftn21">[21]</a></p></blockquote>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>5.  Inilah Makna “Jahiliyyah”</strong></span></p>
<p><em>Jahiliyyah</em> (jahiliah) adalah masa sebelum datangnya Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang penuh dengan kejahilan dan kesesatan. Jahiliah secara mutlak adalah masa sebelum Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> saja. Maka termasuk kesalahan apabila menyifati masa diutusnya Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan jahiliah secara mutlak.<a href="#_ftn22">[22]</a> Dari sini pula dapat kita ketahui kesalahan sebagian tokoh pergerakan yang mencuatkan sebuah istilah “Jahiliah Abad 20”.<a href="#_ftn23">[23]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;"><em>Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>www.abiubaidah.com</em></p>
<div>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a><em> Syarh Shohih Muslim</em> 1/14</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a><em> Tahdzib al-Asma‘ wa Lughot</em> 1/73</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a><em> Fathul Bari</em> 7/201</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Lihat <em>al-Ishobah</em> 3/118, <em>Siyar</em> 4/158, <em>Kasyful Musykil</em> 4/175 Ibnul Jauzi, dan <em>Tafsir al-Qurthubi</em> 1/442.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Lihat <em>Fathul Bari</em> 7/201–202, <em>Ta‘wil Mukhtalifil Hadits</em> hlm. 473–474 Ibnu Qutaibah.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a><em> Bidayatul Mujtahid</em> oleh Ibnu Rusyd 2/324</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Imam Ahmad bin Hanbal <em>rahimahullah</em> berkata: “Saya tidak mengetahui dosa yang lebih besar setelah pembunuhan daripada dosa zina.” (<em>ad-Da‘ wa Dawa‘</em> oleh Ibnul Qoyyim hlm. 230)</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Lihat <em>ad-Da‘ wa Dawa‘</em> Ibnul Qoyyim hlm. 250–251 dan <em>at-Tadabir al-Waqiyah Mina Zina</em> oleh Dr. Fadhl Ilahi.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a><em> Al-Ahkam as-Sulthoniyyah</em> hlm. 406</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a><em> Sailul Jarror</em> 4/328 oleh asy-Syaukani</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Lihat masalah rajam secara luas dalam <em>al-Maqoshid Syar’iyyah lil Uqubat Syar’iyyah</em> oleh Dr. Rowiyah Ahmad Abdul Karim dan <em>al-Hudud wa Ta’zirot</em> oleh Syaikh Bakr Abu Zaid.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> Seperti Hasan at-Turabi sebagaimana dalam <em>Riyadhul Jannah fir Roddi ’ala Madrosah Aqliyah</em> Dr. Sayyid Husain hlm. 74. Kalau di Indonesia, pengingkaran ini dimotori oleh JIL yang dikenal banyak menyebarkan pemikiran-pemikiran beracun. Maka waspadailah!!</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a><em> Al-Mulakhosh al-Fiqhi</em> 2/445 Sholih al-Fauzan</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a><em> Syifa‘ul Alil</em> 1/250 Ibnul Qoyyim</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a><em> Majmu’ Fatawa</em> 15/147</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> Lihat lebih lengkap dalam <em>Kitab al-Hayawan</em> oleh ad-Damiri dan <em>Ghoroib wa Ajaib Makhluqotillah</em> yang disusun oleh Abul Mundzir Kholil Amin.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a><em> Syifa‘ul Alil</em> 1/252</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a><em> Fathul Bari</em> 7/202</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref19">[19]</a><em> Al-Muru‘ah wa Khowarimuha</em> hlm. 263 oleh Syaikhuna Masyhur bin Hasan Alu Salman</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref20">[20]</a><em> Fathul Bari</em> 7/203</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref21">[21]</a><em> Hal Ataka Hadits Rofidhoh</em> hlm. 125 — Maktabah Syamilah</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref22">[22]</a> Lihat <em>al-Ajwibah al-Mufidah</em> hlm. 149–150 oleh Syaikh Sholih bin Fauzan</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref23">[23]</a> Lihat bantahannya dalam <em>Hayah Albani</em> 1/391–394 dan <em>Mu’jam Manahi Lafzhiyyah</em> hlm. 212–214 oleh Syaikh Bakr Abu Zaid.</p>
</div>
</div>
<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/binatang-juga-mengutuk-perzinaan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aqidah Imam Syafi’i</title>
		<link>http://abiubaidah.com/sumber-aqidah-imam-syafi%e2%80%99i.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/sumber-aqidah-imam-syafi%e2%80%99i.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 May 2011 07:50:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah dan Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Pilihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=760</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Alloh yang membangkitkan para ulama pada setiap zaman di saat kekosongan para rosul, mereka menunjuki orang yang tersesat jalan, sabar menghadapi rintangan, menghidupkan orang mati dengan al-Qur‘an, dan menyalakan cahaya Alloh kepada orang-orang yang lelap dalam kebutaan. Betapa banyak korban Iblis yang mereka sembuhkan dan betapa banyak orang tersesat kebingungan yang mereka [...]
Related posts:<ol>
<li><a href='http://abiubaidah.com/imam-syafi%e2%80%99i-rahimahullah-ngalap-berkah-di-kuburan-imam-abu-hanifah-rahimahullah.html/' rel='bookmark' title='Imam Syafi&#8217;i Ngalap Berkah?'>Imam Syafi&#8217;i Ngalap Berkah?</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/kajian-asyafii.html/' rel='bookmark' title='Kajian Umum Madiun: Prinsip-Prinsip Imam Asy-Syafi&#8217;i dalam Beragama'>Kajian Umum Madiun: Prinsip-Prinsip Imam Asy-Syafi&#8217;i dalam Beragama</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/kajian-madiun.html/' rel='bookmark' title='Prinsip-Prinsip Beragama Imam Asy-Syafi&#8217;i'>Prinsip-Prinsip Beragama Imam Asy-Syafi&#8217;i</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Segala puji bagi Alloh yang membangkitkan para ulama pada setiap zaman di saat kekosongan para rosul, mereka menunjuki orang yang tersesat jalan, sabar menghadapi rintangan, menghidupkan orang mati dengan al-Qur‘an, dan menyalakan cahaya Alloh kepada orang-orang yang lelap dalam kebutaan. Betapa banyak korban Iblis yang mereka sembuhkan dan betapa banyak orang tersesat kebingungan yang mereka selamatkan!</p>
<p>Alangkah besarnya jasa mereka terhadap manusia, tetapi alangkah jeleknya balasan manusia kepada mereka! Mereka menepis segala penyelewengan orang-orang yang berlebih-lebihan, kedustaan pembela kebatilan, dan penafsiran orang-orang jahil yang kebingungan — yang melepaskan tali fitnah dan mengibarkan bendera kebid’ahan, mereka berselisih dalam al-Qur‘an, menyelisihi kandungan al-Qur‘an, dan bersatu untuk meninggalkan al-Qur‘an, mereka berkata tentang Alloh dan kitab-Nya tanpa dasar ilmu, menyebarkan syubhat untuk menipu manusia yang dungu. Kita berlindung kepada Alloh dari fitnah yang menyesatkan.<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Di antara deretan para ulama tersebut—insya Alloh—adalah <strong>Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i</strong> <em>rahimahullah</em>, yang namanya tidak asing lagi bagi kita semua. Alloh telah mengangkat derajat beliau dan mengharumkan nama beliau sampai detik ini.<span id="more-760"></span></p>
<p><strong>Imam Syafi’i</strong> <em>rahimahullah </em>termasuk ulama pembaharu agama yang menyeru manusia untuk kembali kepada al-Qur‘an dan Sunnah serta meninggalkan ilmu kalam. Oleh karenanya, dalam setiap karya beliau bertaburan ayat-ayat dan hadits-hadits dengan ditunjang oleh dalil-dalil akal dan bantahan terhadap setiap yang menyelisihinya.</p>
<p>Nah, termasuk nikmat Alloh kepada penulis pada saat ini adalah menyumbangkan salah satu tulisan sederhana tentang ilmu <strong>Imam Syafi’i</strong> <em>rahimahullah </em>yang kita berdo’a kepada Alloh agar menjadikan tulisan ini ikhlas karena mengharapkan pahala Alloh dan bermanfaat bagi semua.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3><span style="color: #0000ff;">Pentingnya Pembahasan</span></h3>
<p>Ada beberapa faktor yang mendorong hati kami untuk menulis pembahasan ini, minimal ada empat alasan penting:</p>
<ol>
<li>Imam Syafi’i adalah seorang imam madzhab empat yang pendapat-pendapatnya menjadi pedoman banyak umat Islam, di antaranya adalah negeri kita Indonesia ini yang mayoritas penduduknya bermadzhab Syafi’i. Maka menjelaskan landasan-landasan agama Imam Syafi’i sangatlah penting sekali agar mereka mengetahuinya dan mencontohnya.</li>
<li>Meluruskan klaim kebanyakan orang yang menisbatkan dirinya kepada madzhab Syafi’i dalam fiqih, tetapi dalam aqidah berpaham Asy’ari, karena ini termasuk kontradiksi yang amat nyata, sebab Imam Syafi’i tidaklah berpaham Asy’ariyyah, bahkan beliau adalah seorang salafi yang mengikuti dalil, baik dalam masalah aqidah dan lainnya.</li>
<li>Banyak orang menganggap bahwa manhaj salaf hanyalah dicetuskan oleh Ibnu Taimiyyah, Muhammad bin Abdul Wahhab, atau al-Albani dan Ibnu Baz. Maka penjelasan ini membantah dugaan tersebut karena semua imam panutan umat—termasuk Imam Syafi’i—mereka satu aqidah dan manhaj.</li>
<li>Membantu saudara-saudara kami para da’i dan para penuntut ilmu ketika berdakwah di masyarakat hendaknya sering menukil ucapan Imam Syafi’i kepada mereka, sebab termasuk cara hikmah dalam berdakwah adalah mengutip perkataan ulama Ahli Sunnah yang dikenal baik di masyarakat luas, serta menghindari penyebutan nama ulama tertentu yang mereka fobia dengan nama-nama tersebut.<a href="#_ftn2">[2]</a> Maka dengan terkumpulnya ucapan-ucapan Imam Syafi’i dalam tulisan semacam ini, diharapkan dapat memudahkan saudara-saudara kami menerapkan metode hikmah ini.</li>
</ol>
<h3>Sumber Aqidah Menurut Imam Syafi’i</h3>
<p>Sesungguhnya pedoman hukum dalam beragama adalah al-Qur‘an, hadits shohih, dan ijma’. Tentang hujjahnya al-Qur‘an dan hadits, Alloh berfirman:</p>
<blockquote>
<h3>يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَـٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍۢ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۚ ذَ‌ٰلِكَ خَيْرٌۭ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا ﴿٥٩﴾</h3>
<p><em>Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh (al-Qur‘an) dan Rosul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.</em> (QS. an-Nisa’ [4]: 59)</p></blockquote>
<p><strong>Imam Abdul Aziz al-Kinani</strong> <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<blockquote><p>“Tidak ada perselisihan di kalangan orang yang beriman dan berilmu bahwa maksud mengembalikan kepada Alloh adalah kepada kitab-Nya dan maksud mengembalikan kepada Rosululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> setelah beliau wafat adalah kepada sunnah beliau. Tidak ada yang meragukan hal ini kecuali orang-orang yang menyimpang dan tersesat. Penafsiran seperti yang kami sebutkan tadi telah dinukil dari <strong>Ibnu Abbas</strong> <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> dan sejumlah para imam yang berilmu. Semoga Alloh merahmati mereka semua.” <a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>&nbsp;</p></blockquote>
<p>Adapun dalil bahwa ijma’ (kesepakatan ulama) merupakan hujjah adalah firman Alloh<a href="#_ftn4">[4]</a>:</p>
<blockquote>
<h3>وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ ٱلْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِۦ جَهَنَّمَ ۖ وَسَآءَتْ مَصِيرًا ﴿١١٥﴾</h3>
<p><em>Dan barang siapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.</em> (QS. an-Nisa’ [4]: 115)</p></blockquote>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga bersabda:</p>
<blockquote>
<h3>لَا يَجْمَعُ اللّٰهَ أُمَّتِيْ عَلَى ضَلَالَةٍ أَبَدًا</h3>
<p><em>“Sesungguhnya Alloh tidak akan menjadikan umatku bersepakat dalam kesesatan.”</em> <a href="#_ftn5">[5]</a></p></blockquote>
<p>Dan inilah yang dijadikan landasan oleh <strong>Imam Syafi’i</strong> <em>rahimahullah </em>juga sebagaimana beliau tegaskan dalam banyak ucapannya, di antaranya adalah sebagai berikut:</p>
<p><strong>Imam Syafi’i</strong> <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<blockquote><p>وَلَمْ يَجْعَلِ اللّٰهُ لِأَحَدٍ بَعْدَ رَسُوْلِ اللّٰهِ أَنْ يَقُوْلَ إِلَّا مِنْ جِهَةِ عِلْمٍ مَضَى قَبْلَهُ وَجِهَةُ الْعِلْمِ بَعْدُ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ وَالإِجْمَاعُ وَالآثَارُ وَمَا وَصَفْتُ مِنَ الْقِيَاسِ عَلَيْهَا</p>
<p><em>“Alloh tidak memberikan kesempatan bagi seorang pun selain Rosululloh n\ untuk berbicara soal agama kecuali berdasarkan ilmu yang telah ada sebelumnya, yaitu Kitab, Sunnah, ijma’, atsar sahabat, dan qiyas (analogi) yang telah kujelaskan maksudnya.”</em> <a href="#_ftn6">[6]</a></p></blockquote>
<p><strong>Imam Syafi’i</strong> <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<blockquote>
<h3>كُلُّ مُتَكَلِّمٍ عَلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ فَهُوَ الْجِدُّ، وَمَا سِوَاهُمَا فَهُوَ هَذَيَانُ</h3>
<p><em>“Setiap orang yang berbicara berdasarkan al-Qur‘an dan Sunnah maka dia sungguh-sungguh. Adapun selain keduanya maka dia mengigau.”</em> <a href="#_ftn7">[7]</a></p></blockquote>
<p><strong>Imam Syafi’i</strong> <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<blockquote>
<h3>فَقَدْ جَعَلَ اللّٰهُ الْحَقَّ فِيْ كِتَابِهِ، ثُمَّ سُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَّ</h3>
<p><em>“Sungguh Alloh menjadikan al-haq (kebenaran) berada di dalam al-Kitab dan Sunnah Nabi-Nya.”</em> <a href="#_ftn8">[8]</a></p></blockquote>
<h3><span style="color: #0000ff;">Imam Syafi’i Mendahulukan Dalil Daripada Akal</span></h3>
<p>Termasuk pokok-pokok Ahli Sunnah wal Jama’ah adalah bahwa akal bukanlah pedoman untuk menetapkan hukum dan aqidah. Namun, patokannya adalah dalil yang bersumber dari al-Qur‘an dan Sunnah. Adapun akal hanyalah alat untuk memahami.</p>
<p>Maka amatlah salah jika manusia menjadikan akal sebagai hakim terhadap dalil al-Qur‘an dan hadits sebagaimana dilakukan oleh sebagian kalangan, karena akal manusia terbatas. Inilah yang ditegaskan oleh <strong>Imam Syafi’i</strong> <em>rahimahullah</em> tatkala berkata:</p>
<blockquote>
<h3>إِنَّ لِلْعَقْلِ حَدًّا يَنْتَهِيْ إِلَيْهِ كَمَا أَنَّ لِلْبَصَرِ حَدًّا يَنْتَهِيْ إِلَيْهِ</h3>
<p><em>“Sesungguhnya akal itu memiliki batas sebagaimana pandangan mata juga memiliki batas.”</em> <a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>&nbsp;</p></blockquote>
<h3><span style="color: #0000ff;">Imam Syafi’i dan Ilmu Kalam/Filsafat</span></h3>
<p>Disebut ilmu kalam karena ilmu ini hanyalah dibangun di atas ucapan, pendapat, dan logika semata, tanpa dibangun di atas dalil al-Qur‘an dan Sunnah yang shohih. Ilmu kalam sangat banyak dipengaruhi oleh ilmu <em>manthiq</em> dan filsafat Yunani yang muncul berabad-abad sebelum datangnya Islam.</p>
<p>Islam tidak membutuhkan ilmu ini sama sekali karena ilmu ini hanyalah berisi kejahilan, kebingungan, kesesatan, dan penyimpangan.<a href="#_ftn10">[10]</a> Oleh karena itu, para ulama telah mengingatkan kepada kita agar waspada dan menjauhi ilmu ini sejauh-jauhnya.<a href="#_ftn11">[11]</a> Di antara deretan para ulama tersebut adalah Imam Syafi’i.<a href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p>Imam adz-Dzahabi <em>rahimahullah</em> berkata: “Telah mutawatir dari <strong>Imam Syafi’i</strong> bahwa beliau mencela ilmu kalam dan ahli kalam. Beliau adalah seorang yang semangat dalam mengikuti <em>atsar</em> (sunnah) baik dalam masalah aqidah atau hukum fiqih.” <a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Ucapan Imam Syafi’i begitu banyak, di antaranya:</p>
<blockquote>
<h3>الْعِلْمُ بِالْكَلَامِ جَهْلٌ</h3>
<p><em>“Mempelajari ilmu kalam adalah kejahilan (kebodohan).”</em> <a href="#_ftn14">[14]</a></p>
<h3>حُكْمِيْ فِيْ أَهْلِ الْكَلاَمِ أَنْ يُضْرَبُوْا بِالْجَرِيْدِ، وَيُحْمَلُوْا عَلَى الإِبِلْ، وَيُطَافُ بِهِمْ فِي الْعَشَائِرِ، يُنَادَى عَلَيْهِمْ: هٰذَا جَزَاءُ مَنْ تَرَكَ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ وَأَقْبَلَ عَلَى الْكَلَامِ</h3>
<p><em>“Hukumanku bagi ahli kalam adalah dipukul dengan pelepah kurma, dan dinaikkan di atas unta, kemudian diarak keliling kampung seraya dikatakan pada khayalak: ‘Inilah hukuman bagi orang yang berpaling dari al-Qur‘an dan Sunnah lalu menuju ilmu kalam/filsafat.’ ”</em> <a href="#_ftn15">[15]</a></p></blockquote>
<p><strong>Imam as-Sam’ani</strong> <em>rahimahullah</em> berkata — setelah membawakan ucapan-ucapan seperti di atas: “Inilah ucapan Imam Syafi’i tentang celaan ilmu kalam dan anjuran untuk mengikuti Sunnah. Dialah imam yang tidak diperdebatkan dan tidak terkalahkan.” <a href="#_ftn16">[16]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<div style="text-align: right;"><em><strong>Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi</strong></em></div>
<div style="text-align: right;">www.abiubaidah.com</div>
<div>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> <em>Ar-Rodd ’ala al-Jahmiyyah wa Zanadiqoh</em> hlm. 85 oleh Imam Ahmad bin Hanbal, tahqiq Dr. Abdurrohman ’Umairoh.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Lihat <em>al-Hatstsu ’ala al-Mawaddah wal I’tilaf</em> hlm. 21–23 oleh Syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkholi dan <em>14 Contoh Praktek Hikmah Dalam Berdakwah</em> hlm. 56 oleh akhuna al-Ustadz Abdullah Zaen, M.A.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> <em>Al-Haidah wal I’tidzarr fir Roddi ’ala Man Qola Bikholqil Qur‘an</em> hlm. 32, tahqiq Dr. Ali al-Faqihi</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Ayat ini dijadikan dalil oleh Imam Syafi’i tentang hujjahnya ijma’ ulama, sebagaimana dalam kisah yang panjang. (Lihat <em>Manaqib Imam Syafi’i</em> hlm. 83 al-Aburri, <em>Thobaqot Syafi’iyyah</em> 2/243 Ibnu Subki, <em>Siyar A’lam Nubala‘</em> 3/3295 adz-Dzahabi)</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> HR. al-Hakim dalam <em>al-Mustadrok</em> 1/116, al-Baihaqi dalam <em>Asma‘ wa Shifat</em>: 702. Hadits ini memiliki penguat yang banyak. Al-Hafizh as-Sakhowi <em>rahimahullah</em> berkata dalam <em>al-Maqoshidul Hasanah</em> hlm. 460: “Kesimpulannya, hadits ini masyhur <em>matan</em>-nya, memiliki sanad yang banyak, dan penguat yang banyak juga.” Syaikh al-Albani juga menshohihkan dalam <em>ash-Shohihah</em>: 1331 dan <em>Shohihul Jami’</em>: 1848</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> <em>Ar-Risalah</em> hlm. 508</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> <em>Tawali Ta‘sis</em> hlm. 110 Ibnu Hajar</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> <em>Al-Umm</em> 7/493</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> <em>Adab Syafi’i</em> hlm. 271 Ibnu Abi Hatim, <em>Tawali Ta‘sis</em> hlm. 134 Ibnu Hajar.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Lihat tulisan al-Ustadz Armen Halim Naro “Filsafat Islam Konspirasi Keji” yang dimuat dalam Majalah <em>Al Furqon</em> Edisi 2 Tahun 6 rubrik Aqidah.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Al-Hafizh as-Suyuthi menyebutkan tiga alasan di balik larangan ulama salaf terhadap mempelajari ilmu kalam: <em>Pertama</em>: Ilmu kalam merupakan faktor penyebab kebid’ahan. <em>Kedua</em>: Ilmu ini tidak pernah diajarkan oleh al-Qur‘an dan hadits serta ulama salaf. <em>Ketiga</em>: Merupakan sebab meninggalkan al-Qur‘an dan Sunnah. (Lihat <em>Shonul Manthiq</em> hlm. 15–33)</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> Lihat peringatan para ulama tentang ilmu kalam dan ahli kalam secara panjang dalam kitab <em>Dzammul Kalam wa Ahlihi</em> oleh Imam al-Harowi dan <em>Shounul Manthiq</em> oleh al-Hafizh as-Suyuthi.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> <em>Mukhtashor al-Uluw</em> hlm. 177</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> <em>Hilyatul Auliya‘</em> 9/111</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> <em>Manaqib Syafi’i</em> 1/462 al-Baihaqi, <em>Tawali Ta‘sis</em> hlm. 111 Ibnu Hajar, <em>Syarof Ashhabil Hadits</em> hlm. 143 al-Khothib al-Baghdadi. Imam adz-Dzahabi <em>rahimahullah</em> berkata dalam <em>Siyar A’lam Nubala‘</em> 3/3283: “Ucapan ini mungkin mutawatir dari Imam Syafi’i.”</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> <em>Al-Intishor li Ashhabil Hadits</em> hlm. 8</p>
</div>
</div>
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://abiubaidah.com/imam-syafi%e2%80%99i-rahimahullah-ngalap-berkah-di-kuburan-imam-abu-hanifah-rahimahullah.html/' rel='bookmark' title='Imam Syafi&#8217;i Ngalap Berkah?'>Imam Syafi&#8217;i Ngalap Berkah?</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/kajian-asyafii.html/' rel='bookmark' title='Kajian Umum Madiun: Prinsip-Prinsip Imam Asy-Syafi&#8217;i dalam Beragama'>Kajian Umum Madiun: Prinsip-Prinsip Imam Asy-Syafi&#8217;i dalam Beragama</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/kajian-madiun.html/' rel='bookmark' title='Prinsip-Prinsip Beragama Imam Asy-Syafi&#8217;i'>Prinsip-Prinsip Beragama Imam Asy-Syafi&#8217;i</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/sumber-aqidah-imam-syafi%e2%80%99i.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KUNCI KEMENANGAN</title>
		<link>http://abiubaidah.com/kunci-kemenangan.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/kunci-kemenangan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Mar 2011 04:59:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah dan Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=743</guid>
		<description><![CDATA[Dengan jatuhnya Baghdad, otomatis Iraq jatuh ke dalam genggaman sekutu; AS dan Inggris. Berarti sudah dua negara kaum muslimin baru-baru ini yang sudah sukses diobok-obok oleh orang-orang kafir, yang pertama adalah Afghanistan kemudian disusul Negeri 1001 malam itu. Inilah nasib perjalanan hidup kaum muslimin, menjadi permainan orang-orang kafir tanpa punya daya untuk melawan. Setiap muslim [...]
No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dengan jatuhnya Baghdad, otomatis Iraq jatuh ke dalam genggaman sekutu; AS dan Inggris. Berarti sudah dua negara kaum muslimin baru-baru ini yang sudah sukses diobok-obok oleh orang-orang kafir, yang pertama adalah Afghanistan kemudian disusul Negeri 1001 malam itu. Inilah nasib perjalanan hidup kaum muslimin, menjadi permainan orang-orang kafir tanpa punya daya untuk melawan.</p>
<p>Setiap muslim pasti merasa sedih dan geram melihat realita tersebut terpampang sinis di hadapannya. Namun jangan dulu terburu-buru untuk menunjukkan jari ke arah mereka (orang-orang kafir) itu sebagai biang keladi. Meski mereka mempunyai andil yang dominan. Tapi coba cermati, ada apa dalam tubuh kaum muslimin? Dalam krisis Iraq, negara-negara muslim hanya sekedar berteriak dan demo anti perang Irak, tidak lebih. Ironisnya, sebagian mereka mendukung agresi brutal itu. Sangat mengenaskan. Nah, nampak nyata bahwa mereka telah dihinggapi sindrom nasionalisme akut; pokoknya negara (kekuasaan) saya selamat. Nyata pula bahwa mereka terhinggapi penyakit cinta dunia dan sekaligus takut mati.  Hal ini jauh hari telah disinyalir oleh Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan sabdanya:<span id="more-743"></span></p>
<blockquote>
<h3>يُوْشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا. فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيْرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللهُ الْمَهَابَةَ مِنْ صُدُوْرِ عَدُوِّكُمْ وَليَقْذِفَنَّ اللهُ فِيْ قُلُوْبِكُمْ الْوَهْنَ. قَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَّةُ الْمَوْتِ</h3>
<p>“Nyaris para umat akan mengerubungi kalian sebagaimana mengerumuni makanan. Seseorang bertanya: Apakah karena  jumlah kita sedikit? Jawab beliau: Tidak, bahkan jumlah kalian banyak, hanya saja seperti buih banjir. Allah telah m,encabut rasa takut mereka terhadap kalian. Dan sungguh Allah telah menyusupkan wahn ke dalam hati kalian. Mereka bertanya: Apa wahn itu? jawab beliau: Cinta dunia dan takut mati”. (Shahih. HR. Abu Daud, Ahmad, Ibnu Asakir dan At-Thabrani dan dishahihkan Al-Albani dalam As-Shahihah no. 958).</p></blockquote>
<p>Apakah keadaan ini akan terus menggelayuti umat Islam? Tidak, sebab Allah telah menjanjikan akan menyempurnakan cahayanya. Dan Rasul pun telah menandaskan bahwa umat Islam pada akhirnya akan memenangkan pergulatan ini. Namun, apakah kemenangan itu turun begitu saja dari langit? Tentu saja tidak. Umat Islam harus berupaya untuk mencari jalan meraih kemenangan yang telah dijanjikan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>A. Kemenangan sebuah kepastian.</strong></span></p>
<p>Tumbangnya Afghanistan dan disusul Irak oleh kebrutalan invasi serdadu koalisi Amerika dan inggris menjadikan sebagian kaum muslimin pesimis dan berputus asa dari kemenangan. Di saat seperti ini maka kewajiban bagi kita sebagai para aktivis da’wah untuk memberikan kabar gembira sehingga umat Islam merasa optimis akan pertolongan Allah sebagaimana Dia menceritakan tentang Nabi Musa:</p>
<blockquote>
<h3>فَلَمَّا تَرَآءَا الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَى إِنَّا لَمُدْرَكُونَ  قَالَ كَلآ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ</h3>
<p>Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: &#8220;Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”. Musa menjawab: &#8220;Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku”. (QS. As-Syu’ara’: 61-62).</p></blockquote>
<p>Kepada mereka yang dirundung kesedihan dan rasa pesimis akan kejayaan Islam, berikut ini  saya turunkan beberapa dalil yang menjelaskan bahwa Islam akan meraih kejayaan dan kemenangan. Semoga menjadi obat penawar akan luka di hati sanubari kita saat ini.</p>
<p><strong>Dalil pertama:</strong></p>
<blockquote>
<h3>هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ</h3>
<p>Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur&#8217;an) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai. (QS. At-Taubah: 33).</p></blockquote>
<p>Ayat mulia ini memberikan kabar gembira kepada kita semua bahwa Islam akan menang dan jaya di masa depan. Tidak seperti anggapan sebagian manusia bahwa ayat ini sudah terwujudkan pada masa Nabi, para khalifah rosyidin dan raja-raja Islam. Itu hanyalah sebagian saja, sebagaimana dijelaskan dalam hadits <strong>Imam Muslim</strong> dalam Shahihnya(8/182) bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<h3>لاَ يَذْهَبُ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ حَتَّى تُعْبَدَ اللاَّتُ وَالْعُزَّى فَقَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنْ كُنْتُ لأَظُنُّ حِيْنَ أَنْزَلَ اللهُ: …….أَنَّ ذَلِكَ تَامًّا, قَالَ: إِنَّهُ سَيَكُوْنُ مِنْ ذَلِكَ مَا شَاءَ اللهُ</h3>
<p>Tidaklah berlalu suatu malam dan siang sehingga Lata dan Uzza disembah. Aisyah berkata: Wahai Rasulullah, tatkala ayat itu turun “Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur&#8217;an) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai”. (At-Taubah: 33), saya menyangka sudah sempurna. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda: Ayat itu akan terus terwujudkan di masa depan sekendak Allah.</p>
<p><strong>Dalil kedua:</strong></p>
<blockquote>
<h3>لَيَبْلُغَنَّ هَذَا الأَمْرُ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَلاَ يَتْرُكُ اللهُ بَيْتَ مَدَرٍ وَلاَ وَبَرٍ إِلاَّ أَدْخَلَهُ اللهُ هَذَا الدِّيْنَ بِعِزٍّ عَزِيْزٍ أَوْ بِذُلٍّ ذَلِيْلٍ عِزًّا يَعِزُّ اللهُ بِهِ الإِسْلاَمَ وَذُلاًّ يُذِلُّ بِهِ الْكُفْرَ</h3>
<p>“Agama ini akan meluas (ke penjuru dunia) seluas malam dan siang. Allah tidak akan meninggalkan satu rumahpun di desa maupun kota kecuali Allah memasukkan agama ini ke dalamnya, dengan kemulian atau kehinaan yang sangat, kemuliaan yang Allah memuliakan Islam dengannya dan kehinaan yang Allah hinakan kekufuran dengannya. (HR. Ahmad (4/103), At-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir (1/126), Ibnu Mandah dalam Al-Iman (1/102) Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (4/430-431) dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya (1631, 1632). Lihat As-Shahihah no. 3 dan Tahdzir Sajid hal. 118 oleh Al-Albani).</p></blockquote>
<p><strong>Dalil ketiga:</strong></p>
<blockquote>
<h3>عَنْ عَبْدِ اللهِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ حَوْلَ رَسُوْلِ اللهِ نَكْتُبُ, إِذْ سُئِلَ رَسُوْلِ اللهِ: أَيُّ الْمَدِيْنَتَيْنِ تُفْتَحُ أَوَّلاً: الْقُسْطَنْطِيْنِيَّةُ أَوْ رُوْمِيَّةُ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ: مَدِيْنَةُ هِرَقْلَ تُفْتَحُ أَوَّلاً. بَعْنِيْ قُسْطَنْطِيْنِيَّةَ.</h3>
<p>Dari Abdullah bin Amr’ berkata: “Suatu kali kami pernah menulis di sekitar Rasulullah, tiba-tiba beliau ditanya: “Kota mana yang lebih dahulu ditaklukkan, <strong>Konstantinopel</strong> ataukah <strong>Roma</strong> (ibu kota Italia)? Rasulullah menjawab: Kotanya Heraclius lebih dahulu ditaklukkan yaitu Konstantinopel”. (HR. Ahmad (2/126), Darimi (1/126), Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (2/47), Al-Hakim (4/422, 508, 555) dengan sanad shahih. Lihat As-Shahihah no. 4).</p></blockquote>
<p>Penaklukan pertama telah terwujudkan setelah delapan ratus tahun semenjak zaman Nabi di tangan <strong>Muhammad Al-Fatih Al-Utsman</strong>i sebagaimana sudah maklum dalam sejarah. Adapun penaklukan kedua akan segera terwujudkan dengan izin Allah. Engkau akan segera mengetahuinya sebentar lagi. Maka kewajiban kaum muslimin saat ini adalah mempersiapkan diri dengan bertaubat kepada Allah, mempraktekkan Al-Qur’an dan sunnah Nabi, mematuhi perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya dan menyatukan barisan. Semoga hal ini lekas terwujudkan. (Dinukil dari Silsilah As-Shahihah juz.1 hal. 31-33 dan Tahdzir Sajid hal. 118-119).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>B. Faktor-faktor kekalahan.</strong></span></p>
<p>Tragedi-tragedi yang memilukan hati setiap muslim dan membuat air mata berlinang saat ini menjadikan kita bertanya-tanya: Mengapa kita selalu kalah? Mengapa kita begitu lemah tak berdaya? Kapankah pertolongan Allah tiba? Akankah kejayaan Islam terwujudkan di pelupuk mata?! Hendaknya setiap kita bercermin dan intropeksi diri dengan mengenal faktor-faktor kekalahan berikut kemudian bertindak lebih lanjut untuk menambal dan memperbaikinya guna merengkuh kemenangan yang kita dambakan semua. Berikut sebagaian faktor kekalahan kaum muslimin:</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>1.      Melanggar syari’at Allah.</strong></span></p>
<p>Banyaknya jumlah pasukan dan lengkapnya persenjataan bukanlah suatu jaminan kemenangan bila kita -kaum muslimin- melanggar aturan agama Islam. Allah berfirman:</p>
<blockquote>
<h3>أَوَلَمَّآأَصَابَتْكُم مُّصِيبَةُُ قَدْ أَصَبْتُم مِّثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِندِ أَنفُسِكُمْ إِنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرُُ</h3>
<p>Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: &#8220;Darimana datangnya (kekalahan) ini?&#8221; Katakanlah: &#8220;Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri&#8221;. Sesungguhnya Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Ali Imran: 165).</p>
<h3>وَمَآأَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَن كَثِيرٍ</h3>
<p>Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Alloh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (Qs. As-Syura: 30).</p></blockquote>
<p>Sejarah telah manjadi saksi akan hal ini. Dalam <strong>perang Uhud</strong>, Nabi memerintahkan kepada para pasukan panah yang dikomando oleh <strong>Abdullah bin Jubair</strong>,</p>
<blockquote><p>“Tetaplah, jika kalian melihat kami menang, maka kalian tak perlu membantu kami. Dan jika kalian melihat mereka menang, maka janganlah kalian turun membantu kami”. Tatkala perang meletus, orang-orang kafir berlari tertatih-tatih. (Melihat hal itu) kaum muslimin mengatakan: “Harta rampasan, harta rampasan…! Mereka enggan mentaati teguran komandan mereka. Akhirnya sebanyak tujuh puluh sahabat meninggal dunia”. (Lihat Shahih Bukhari no. 4043).</p></blockquote>
<p>Dalam kisah ini tersimpan sebuah pelajaran berharga bagi kaum muslimin yaitu segala kekalahan yang mereka pikul dalam kancah jihad dan da’wah, hanyalah disebabkan kemaksiatan mereka.</p>
<p>Amirul mukminin <strong>Umar bin Khattab</strong> pernah mengutus pasukannya yang dipimpin oleh <strong>Sa’ad bin Abi Waqash</strong> untuk menaklukkan <strong>Persia</strong>. Beliau menulis sebuah nasehat berharga berikut,</p>
<blockquote><p>“Amma ba’du, sesungguhnya saya wasiatkan padamu beserta pasukanmu sekalian untuk selalu bertaqwa kepada Allah dalam setiap keadaan karena taqwa adalah senjata pemusnah musuh yang paling ampuh dan siasat perang yang paling jitu.</p>
<p>Saya wasiatkan padamu beserta pasukanmu untuk lebih mewaspadai  maksiat daripada kewaspadaan musuh karena dosa kalian lebih berbahaya daripada musuh kalian sendiri. Sesungguhnya kaum muslimin akan meraih kemenangan disebabkan dosa musuh mereka. Kalau bukan karena itu, kekuatan apa lagi yang kita miliki, jumlah tentara kita tak sebanding dengan jumlah mereka dan persenjataan kita tak sebanding dengan persenjataan mereka. Apabila kemaksiatan kita sepadan dengan mereka, maka mereka akan mengalahkan kita dengan kekuatannya. Dan apabila kemenangan bukan karena keutamaan kita, maka musuh tak akan kalah dengan kekuatan kita.</p>
<p>Ketahuilah bahwa kalian bersama para malaikat pencatat amal yang mengetahui perbutan kalian, maka merasa malu-lah kalian terhadap mereka, janganlah kalian berbuat maksiat dalam jihad fi sabilillah, janganlah kalian mengatakan: Sekalipun kita berbuat jelek, kita tidak akan kalah. Toh musuh kita jauh lebih jelek dibanding kita. Sebab bisa jadi suatu kaum dapat dikalahkan oleh kaum yang lebih jelek sebagaimana bani Israil dikalahkan oleh orang-orang kafir Majusi karena kemaksiatan mereka. Berdoalah kepada Allah untuk kemenangan kalian dan kekalahan musuh kalian&#8221; (Lihat <em>Al-Bidayah wa Nihayah</em> oleh imam <strong>Ibnu Katsir</strong>).</p></blockquote>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>2.      Perpecahan dan perselisihan.</strong></span></p>
<p>Penyakit berbahaya ini termasuk faktor utama kekalahan. Bukankah Allah telah menginformasikan bahwa penyebab kegagalan kaum muslimin pada perang uhud adalah perselisihan pasukan pemanah dan keengganan sebagian mereka untuk mentaati perintah Nabi?!!. Allah berfirman:</p>
<blockquote>
<h3>وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللهُ وَعْدَهُ إِذْتَحُسُّونَهُم بِإِذْنِهِ حَتَّى إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي اْلأَمْرِ وَعَصَيْتُم مِّن بَعْدِ مَآأَرَاكُم مَّاتُحِبُّونَ</h3>
<p>Dan sesungguhnya Alloh telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada sa&#8217;at kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Alloh memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. (QS. Ali Imran: 152).</p></blockquote>
<ul>
<li><strong>Imam Sya’bi</strong> <em>rahimahullah </em>berkata: “Tidaklah sebuah umat berselisih setelah Nabi mereka kecuali ahli batil (musuh) akan mengalahkan ahli haq (kaum muslimin)” (Lihat <em>Siyar Alam Nubala’</em>: 4/311, karya <strong>Adz-Dzahabi</strong>).</li>
</ul>
<p>Fenomena sekarang sebagai bukti nyata bahwa setiap perjuangan yang dilancarkan oleh kaum muslimin tidak lepas dari persengkataan, perselisihan, perbedaan, kebencian dan kurangnya kekompakan. Akhirnya, dengan modal dengkul mereka nekad maju walaupun barisan centang perenang. Lantas, mungkinkah kita akan menang bila seperti ini modelnya?!</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>3.      Tergesa-gesa.</strong></span></p>
<p>Semua orang tahu bahwa dalam medan perang penuh dengan tantangan, kemelaratan dan serba kesusahan sehingga banyak orang yang tak sabar dan tergesa-gesa. Penyakit ini juga merupakan faktor yang berdampak negatif yaitu kekalahan atau minimalnya adalah terlambatnya kemenangan. Allah berfirman:</p>
<blockquote>
<h3>قَالَ هُمْ أُوْلآءِ عَلَى أَثَرِي وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى 0 قَالَ فَإِنَّا قَدْ فَتَنَّا قَوْمَكَ مِن بَعْدِكَ وَأَضَلَّهُمُ السَّامِرِىُّ</h3>
<p>Berkata, Musa: &#8220;Itulah mereka sedang menyusuli aku dan aku bersegera kepada-Mu. Ya Tuhanku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku)&#8221;. Alloh berfirman: &#8220;Maka sesungguhnya Kami telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri. (QS. Thaha: 84-85).</p></blockquote>
<p>Perhatikanlah ayat ini! Tatkala Nabi Musa tergesa-gesa, maka kaumnya mendapat fitnah yaitu beribadah kepada selain Allah.</p>
<ul>
<li><strong>Imam Ibnu Qoyyim</strong> <em>rahimahullah </em>menjelaskan dalam <em>I’lam Muwaqq’in</em> (3/4): “Barangsiapa yang mencermati kecamuknya berbagai fitnah yang berbentuk kecil maupun besar di dunia Islam, niscaya dia akan mengetahui bahwa faktor penyebabnya adalah melalaikan kaidah ini dan tidak sabar menghadapi kemungkaran lalu ingin merubahnya tetapi malah membawa kerusakan yang lebih besar darinya”.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Al-Ustadz Muhammad Quthub</strong> <em>rahimahullah </em>menceritakan dalam bukunya “<em>Waqi’una Al-Mua’shir</em>” tentang harakah-harakah Islam Mesir internal maupun eksternal, katanya: “Adapun gerakan internal (Mesir), ternyata ada ketergesaan dalam memamerkan kekuatan kelompok, baik dengan pawai ke jalan-jalan, demonstrasi, longmars (gerak jalan) atau terjun ke kancah politik yang aktual saat itu seperti perang melawan komunis dan mendukung keamanan Mesir. Seakan-akan setiap kelompok mengatakan: “Tenang, kami ada di sini, kami bisa!!” hingga dia berkata: “Terlepas tentang persoalan yang aktual saat itu, namun bolehkah kelompok Islam terjun menanganinya? Ataukah kewajiban kita sekarang adalah menyerukan perbaikan pola hidup yang asasi, penegakan pilar-pilar dan penyempurnaan pendidikan dan bimbingan. Disebabkan ketergesaan sebelum matangnya, maka segala rencana program manjadi terhambat”. (Dinukil dari At-Tasfiyah wa Tarbiyah hal. 136 oleh Syeikh Ali bin Hasan Al-Halabi).</li>
</ul>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>4.      Cinta dunia.</strong></span></p>
<p>Virus berbahaya dan akut ini telah menyusup ke tubuh mayoritas kaum muslimin saat ini sehingga mereka tak berwibawa lagi di depan musuh-musuh Islam, mereka dianggap hina dina dan lemah oleh musuh Islam. Musuh-musuh Islampun sudah begitu berani berbuat semena-mena dan menginjak-nginjak kaum muslimin karena mereka mengetahui bahwa kaum muslimin terjangkit penyakit cinta dunia dan takut mati. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<blockquote>
<h3>يُوْشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا. فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيْرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللهُ الْمَهَابَةَ مِنْ صُدُوْرِ عَدُوِّكُمْ وَليَقْذِفَنَّ اللهُ فِيْ قُلُوْبِكُمْ الْوَهْنَ. قَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَّةُ الْمَوْتِ</h3>
<p>“Nyaris para umat akan mengerubungi kalian sebagaimana mengerumuni makanan. Seseorang bertanya: Apakah karena  jumlah kita sedikit? Jawab beliau: Tidak, bahkan jumlah kalian banyak, hanya saja seperti buih banjir. Allah telah m,encabut rasa takut mereka terhadap kalian. Dan sungguh Allah telah menyusupkan wahn ke dalam hati kalian. Mereka bertanya: Apa wahn itu? jawab beliau: Cinta dunia dan takut mati”. (Shahih. HR. Abu Daud, Ahmad, Ibnu Asakir dan At-Thabrani dan dishahihkan Al-Albani dalam As-Shahihah no. 958).</p></blockquote>
<p>Beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>juga pernah bersabda:</p>
<blockquote>
<h3>إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ</h3>
<p>“Apabila kalian telah berjual beli dengan sistem i’nah (salah satu jenis riba), memegang  ekor-ekor sapi, cinta cocok tanam (terlena dengan kehidupan dunia) dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menurunkan kehinaan pada diri kalian, Allah tidak mencabutnya sehingga kalian kembali kepada agama kalian”. (HR. Ahmad dan Abu Daud dan dicantumkan Al-Albani dalam As-Shahihah no. 11).</p></blockquote>
<p>Benar, betapa banyak manusia sekarang dimanjakan dengan kehidupan dunia. Siang malam mereka memeras keringat dan membanting tulang memburu harta, melalaikan shalat dan kewajiban agama dalam keadaan aman, bagaimana lagi saat kancah perang? Akankah kita meraih kejayaan Islam bila seperti ini keadaan kita? (Lihat tulisan “<em><strong>Cinta Dunia</strong></em>” dalam majalah <em>Al-Furqon</em> edisi 5/II Dzul Qo’dah 1423H).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>C. Kunci kemenangan.</strong></span></p>
<p>Setiap tujuan pasti ada jalannya dan setiap kemenangan pasti ada sebabnya. Kemenangan bukan hanya dengan angan-angan dan khayalan tetapi dengan usaha dan jerih payah untuk menggapainya. Hal ini menuntut kita untuk mengetahui lebih lanjut jalan menuju kemenangan. Berikut ini beberapa kunci kemenangan semoga kita dapat memahami, mempraktekkan dan menyebarkannya.</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>1.      Iman dan amal shaleh.</strong></span></p>
<p>Inilah kunci utama kemenangan kaum muslimin. Tiada artinya di sisi Allah jumlah personel pasukan yang terlatih dan kuat, senjata canggih dan tipu daya musuh bila angin iman sudah berhembus di hati kaum muslimin karena Allah -Maha Mampu- telah berjanji pasti menolong hamba-Nya yang beriman dan beramal shaleh:</p>
<blockquote>
<h3>وَلَيَنصُرَنَّ اللهُ مَن يَنصُرُهُ إِنَّ اللهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ  الَّذِينَ إِن مَّكَّنَّاهُمْ فِي اْلأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلاَةَ وَءَاتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ اْلأُمُورِ</h3>
<p>Sesungguhnya Alloh pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Alloh benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa,  (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma&#8217;ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Alloh-lah kembali segala urusan. (QS. Al-Hajj: 40-41).</p>
<h3>يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن تَنصُرُوا اللهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ</h3>
<p>Hai orang-orang mu&#8217;min, jika kamu menolong (agama) Alloh, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS. Muhammad: 7).</p>
<h3>وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي اْلأَرْضِ كَمَااسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لاَيُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ</h3>
<p>Dan Alloh telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS. An-Nur: 55)</p>
<h3>وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ</h3>
<p>Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman. (QS. Ar-Rum: 47).</p></blockquote>
<p>Ayat-ayat  mulia ini menjelaskan bahwa Allah pasti menolong kaum mukminin untuk mengalahkan musuh-musuh Islam. Janji Allah pasti benar, tidak akan meleset. Sejarah menjadi saksi bagaimana Allah menolong Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pada perang Badar, perang Ahzab dan perang-perang lainnya yang disaksikan dunia dengan rasa heran dan gelengan kepala. Demikian pula para salaf shaleh setelah Nabi, mereka meraih kemenangan yang mengundang decak kekaguman sehingga agama Islam menyebar ke penjuru dunia. Sayanganya, mengapa kaum muslimin sekarang selalu pulang dengan kegagalan dan kekalahan? Apakah berarti Allah tidak menepati janji-Nya? Jangan salahkan Allah! Salahkan kita sebagai hamba-Nya! Tanyakanlah kepada para mujahidin kita sekarang: Apakah mereka telah mentauhidkan Allah dan beriman dengan keimanan yang sebenarnya?! Ataukah mayoritas mereka masih bergelimang dengan kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan?! Bila keadaan mereka seperti ini lalu memohon kemenangan kepada Allah, maka perumpamaan mereka seperti seorang pekerja yang meminta gaji pada tuannya padahal dia tidak bekerja. Sungguh tak berakal sekali orang seperti ini.</p>
<p>Camkanlah baik-baik apa yang diceritakan oleh <strong>Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah</strong> <em>rahimahullah </em>dalam kitabnya “<em>Ar-Radd ala Al-Bakri</em>”: “Tatkala pasukan Tartar hendak memasuki Damskus, para ulama tidak langsung bangkit memerangi mereka karena melihat mayoritas pasukannya masih banyak yang bersandar kepada sebuah kuburan, bahkan panglima mereka sendiri pernah mengatakan:</p>
<blockquote><p><em>Wahai orang-orang yang takut pada pasukan Tartar</em></p>
<p><em>berlindunglah ke kuburan Abu Umar</em></p>
<p><em>niscaya dia akan menyelamatkan kalian dari mara bahaya.</em></p></blockquote>
<p>Kemudian para ulama bangkit mengajarkan aqidah kepada manusia. Akhirnya tatkala mereka bertauhid, Allah memberikan kemenagan kepada mereka”.</p>
<p>Oleh karena kewajiban kaum muslimin saat ini di setiap jajaran, baik pemerintah, organisasi, aktivis da’wah, umat dan semua kalangan adalah memperbaiki aqidah dan keimanan sehingga mendapatkan kejayaan Islam sebagaimana diraih oleh para pendahulu kita. Inilah solusi utama keterpurukan umat saat ini. Allah berfirman:</p>
<blockquote>
<h3>إِنَّ اللهَ لاَيُغَيِّرُ مَابِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَابِأَنفُسِهِمْ</h3>
<p>Sesungguhnya Alloh tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS. Ar-Ra’du: 11).</p></blockquote>
<p>Sungguh benar apa yang dikatakan <strong>Imam Malik bin Anas</strong> <em>rahimahullah</em>:</p>
<blockquote>
<h3>لاَ يَصْلُحُ آخِرُ هَذِهِ الأُمَّةِ إِلاَّ بِمَا صَلُحَ بِهِ أَوَّلُهَا</h3>
<p>Umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan (meniru) bagamaina generasi awalnya menjadi baik.</p></blockquote>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>2.      Persiapan perlengkapan perang.</strong></span></p>
<p>Disamping persiapan rohani dengan keimanan dan ketaqwaan, diperlukan juga persiapan perlengkapan perang berupa pengadaan pasukan, persenjataan, makanan, obat-obatan serta segala kebutuhan perang. Tak kalah pentingnya juga pengaturan strategi dan menggelar majlis permusyawaratan militer guna menampung berbagai pendapat dan menetapkan sikap. Allah berfirman:</p>
<blockquote>
<h3>وَأَعِدُّوا لَهُم مَّااسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللهِ وَعَدُوَّكُمْ وَءَاخَرِينَ مِن دُونِهِمْ لاَتَعْلَمُونَهُمُ اللهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَاتُنْفِقُوا مِن شَىْءٍ فِي سَبِيلِ اللهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لاَتُظْلَمُونَ</h3>
<p>Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Alloh dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Alloh mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Alloh niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (QS. Al-Anfal: 60).</p>
<h3>وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِن كَرِهَ اللهُ انبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ</h3>
<p>Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Alloh tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Alloh melemahkan keinginan mereka. Dan dikatakan kepada mereka: &#8220;Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu”.  (QS. At-Taubah: 46).</p></blockquote>
<p>Nabi r juga bersabda:</p>
<blockquote>
<h3>أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ</h3>
<p>Ketahuilah bahwa kekuatan adalah panah. (HR. Muslim: 1917)</p></blockquote>
<p>Termasuk juga dalam hadits ini persenjataan modern seperti pesawat tempur, tank, rudal, bom, tembak dan sebagainya.</p>
<p>Allah juga berfirman:</p>
<blockquote>
<h3>يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ</h3>
<p>Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu. (QS. An-Nisa’: 71).</p></blockquote>
<p>Rasulullah r bersabda:</p>
<blockquote>
<h3>الْحَرْبُ خُدْعَةٌ</h3>
<p>Perang itu tipu muslihat.(HR. Bukhari no.3030 dan Muslim no. 1739-1740).</p></blockquote>
<p>Dua hal di atas (Persiapan iman dan perlengkapan perang) merupakan kunci kemenangan yang tak dapat dipisahkan. Perhatikanlah (surat An-Nisa’: 102). Allah memerintahkan Nabi dan para sahabatnya agar tetap eksis menjalankan kewajiban shalat walaupun dalam kancah perang dengan selalu waspada dari serangan musuh.</p>
<blockquote><p><strong>Syeikh Abdul Aziz bin Baz</strong> <em>rahimahullah </em> berkata: “Dalam ayat ini terkumpul dua kunci kemenangan yaitu iman dan perlengkapan perang. Inilah kewajiban setiap pejuang sepanjang zaman, mereka harus tetap selalu menjaga keimanan dan ketaqwaan yang merupakan kunci utama kemenangan dan mempersiapkan segala kekuatan dan waspada dari tipu muslihat musuh. Dengan kedua kunci inilah kaum muslimin akan meraih kemenangan dan pertolongan Allah”.</p></blockquote>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>3.      Sabar.</strong></span></p>
<p>Saat perang adalah saat yang sangat kritis dan situasi yang mencekamkan sehingga dibutuhkan kesabaran dalam menghadapi lawan, melepaskan segala ketakutan dan bergerak maju tak gentar dengan penuh keberanian. Allah berfirman:</p>
<blockquote>
<h3>إِن تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةُُ تَسُؤْهُمْ وَإِن تُصِبْكُمْ سَيِّئَةُُ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لاَ يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطُُ</h3>
<p>Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Alloh mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. (QS. Ali Imran: 120).</p></blockquote>
<p>Demi Allah, alangkah indah dan benarnya kalamullah di atas! Apabila kita bersabar dalam menghadapi musuh serta bertaqwa kepada Allah maka kita akan meraih kemenangan.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<blockquote>
<h3>وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا</h3>
<p>“Ketahuilah bahwa bahwa dalam kesusahan terdapat kelapangan, dalam kesabaran terdapat kemenangan dan dalam kesulitan terdapat kemudahan”. (HR. Ahmad, Al-Hakim, Abu Nu’aim dan Abdu bin Humaid. Dan dishahihkan Al-Albani dalam As-Shahihah no. 2382).</p></blockquote>
<ul>
<li>Sahabat <strong>Abu Ubaidah bin Jarroh</strong> <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> pernah berkhutbah kepada pasukan perang <strong>Yarmuk</strong> ketika melawan <strong>Romawi</strong>: “Wahai hamba Allah! Tolonglah (agama) Allah, niscya Allah pasti menolong kalian dan menetapkan kaki kalian. Wahai kaum muslimin! Bersabarlah, karena kesabaran dapat menyelematkan seorang kekufuran, mendapatkan keridhoan Allah dan menghancurkan lawan…”</li>
</ul>
<ul>
<li>Sahabat <strong>Abu Sufyan bin Harb</strong> <em>radhiyallahu &#8216;anhu </em>juga berkhutbah dengan ungkapannya yang sangat berharga, diantaranya: “Demi Allah, kalian tidak akan dapat mengalahkan musuh itu (Romawi) dan meraih keridhoan Allah besok hari kecuali dengan kemantapan ketika perang dan sabar menghadapi tantangan”.</li>
</ul>
<p>Allah juga memerintahkan kepada kaum mukminin supaya tetap bertahan menghadapi gempuran musuh:</p>
<blockquote>
<h3>يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ</h3>
<p>Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Alloh sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. (QS. Al-Anfal: 45).</p></blockquote>
<p>Dan termasuk dosa besar dalam agama Islam lari dari medan perang. Rasulullah r pernah memikul tanah di punggungnya ketika membuat parit bersama para sahabat seraya berdoa:</p>
<blockquote>
<h3>وَثَبِّتِ الأَقْدَامَ إِنْ لاَقَيْنَا</h3>
<p>Ya Allah, teguhkanlah kangkah kami ketika menghadapi (musuh). (HR. Bukhari 7/399).</p></blockquote>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>4.      Yakin</strong></span></p>
<p>Hendaknya para ulama’ dan pemimpin jihad membakar semangat dan meniupkan ruh patriotisme kepada pasukan Muslimin sehingga mereka betul-betul yakin akan pertolongan Allah. Janganlah sekali-kali membuat mereka pesimis dalam peperangan. Janganlah terkecohkan oleh trik pihak musuh yang selalu berupaya untuk meluruhkan semangat dan menganjlokkan mental. Perhatikanlah ayat berikut:</p>
<blockquote>
<h3>فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُ قَالُوا لاَ طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُوا اللهِ كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللهِ وَاللهُ مَعَ الصَّابِرِينَ</h3>
<p>Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: &#8220;Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya”. Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Alloh, berkata: &#8220;Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Alloh. Dan Alloh beserta orang-orang yang sabar”. (QS. Al-Baqarah: 249).</p>
<h3>وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِئَايَاتِنَا يُوقِنُونَ</h3>
<p>Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. (QS. As-Sajadah: 24).</p></blockquote>
<p>Inilah yang sering didengungkan oleh <strong>Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah </strong><em>rahimahullah </em>ketika menghadapi pasukan <strong>Tartar</strong>. Dikisahkan, Tatkala tersebar isu bahwa pasukan <strong>Tartar</strong> hendak menuju <strong>Syam</strong>, maka rakyat saat itu sangat panik dan mereka bergegas hendak melarikan diri ke <strong>Mesir</strong>, mereka menjual hewan ternak, barang-barang dan pakaian dengan harga yang sangat relatif murah. Melihat keadaan seperti itu, <strong>Syeikh Ibnu Taimiyyah</strong> berkeliling bersama beberapa rekannya menganjurkan setiap warga supaya tenang, mengajak jihad dan tidak mundur ke belakang serta menganjurkan infaq untuk keperluan perang. Beliau juga menemui para petinggi <strong>Syam</strong> dan memompa semangat mereka untuk mengahadapi pasukan <strong>Tartar</strong> dan berjanji: Kita pasti menang! seraya membaca firman Allah:</p>
<blockquote>
<h3>ذَلِكَ وَمَنْ عَاقَبَ بِمِثْلِ مَاعُوقِبَ بِهِ ثُمَّ بُغِيَ عَلَيْهِ لَيَنصُرَنَّهُ اللهُ إِنَّ اللهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ</h3>
<p>Demikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya (lagi), pasti Alloh akan menolongnya. Sesungguhnya Alloh benar-benar Maha Pema&#8217;af lagi Maha Pengampun. (QS. Al-Hajj: 60).</p></blockquote>
<p>Para petinggi menegurnya: Katakanlah Insya Allah. Beliau menjawab: Insya Allah dengan penuh keyakinan bukan ketergantungan. Akhirnya pertolongan Allah datang sehingga korban pasukan Tartar yang meninggal dunia  tak dapat terhitung jumlahnya. (Lihat <em>Al-Bidayah wa Nihayah</em>: 14/16-28 oleh <strong>Ibnu Katsir</strong>).</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>5.      Persatuan.</strong></span></p>
<p>Kita semua mesti faham slogan “<span style="text-decoration: underline;"><em>Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh</em></span>”. Konon slogan ini pernah terbukti ketika Indonesia menghadapi para penjajah negeri ini. Di saat para pejuang Indonesia menghadapinya dengan per suku dan kelompok, kegagalan dan hambatan selalu menghampiri mereka. Namun, tatkala mereka menghadapinya dengan persatuan maka musuhpun dengan mudah terpukul mengundurkan diri dan angkat kaki. Allah berfirman:</p>
<blockquote>
<h3>وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا</h3>
<p>Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Alloh, dan janganlah kamu bercerai berai. (QS. Ali-Imran: 103).</p>
<h3>وَلاَتَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِينَ</h3>
<p>Dan ta&#8217;atlah kepada Alloh dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Alloh beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Anfal: 46).</p></blockquote>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<blockquote>
<h3>وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا</h3>
<p>Jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara. (HR. Muslim no. 2564).</p></blockquote>
<p>(Lihat Tulisan “<em>Menuju Persatuan Umat</em>” dalam <em>Al-Furqon</em> edisi 5/11 Dzulhijjah 1423H).</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>6.      Keikhlasan.</strong></span></p>
<p>Dalam kondisi perang, setiap orang hendaknya memusatkan kosentrasinya, janganlah fikiran kita dikacaukan oleh bisikan syetan tentang masalah harta, keluarga dan sebagainya, ikhlaskan niatkan kita hanya mengharapkan wajah Allah, syurga Allah dan keridhoan Allah.  Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<blockquote>
<h3>غَزَا نَبِيٌّ مِنَ الأَنْبِيَاءِ فَقَالَ لِقَوْمِهِ: لاَ يَتْبَعْنِيْ رَجُلٌ مَلَكَ بُضْعَ امْرَأَةٍ وَهُوَ يُرِيْدُ أَنْ يَبْنِيَ بِهَا وَلَمَا يَبْنِ وَلاَ أَحَدٌ بَنَى أَحَدٌ بَنَى بُيُوْتًا وَلَمْ يَرْفَعْ سُقُوْفَهَا وَلاَ أَحَدٌ اشْتَرَى غَنَمًا أَوْ خَلِفَاتٍ وَهُوَ يَنْتَظِرُ وِلاَدَهَا</h3>
<p>“Ada seorang Nabi (Yusa’ bin Nun) dari seorang nabi pernah berperang lalu dia berkata kepada kaumnya: Janganlah ikut perang bersamaku seorang yang telah menikah dan ingin menggaulinya tetapi belum terlaksana, dan seorang yang membangun rumah tetapi belum sempurna atapnya dan juga seorang yang membeli kambing atau unta bunting yang dinanti beranaknya” (HR. Bukhari no. 3124, Ahmad (2/318) Lihat As-Shahihah no. 202).</p></blockquote>
<p>Jadi, Nabi <strong>Yusa bin Nun</strong> <em>&#8216;alaihissalaam </em>terlebih dahulu ingin membersihkan hati para pasukannya supaya benar-benar ke depan bukan ke belakang. Sebab, seorang prajurit perang apabila hatinya ke depan, dia akan melawan musuh dengan jantan. Sebaliknya apabila hati mereka ke belakang, seketika itu juga dia akan mundur dari lawan.</p>
<ul>
<li><strong>Abdullah bin Rowahah</strong> <em>radhiyallahu &#8216;anhu </em>pernah mengatakan kepada pasukannya yang berjumlah <strong>tiga ribu</strong> pada perang <strong>Mu’tah</strong> ketika melawan Romawi yang berjumlah <strong>dua ratus ribu pasukan,</strong></li>
</ul>
<blockquote><p>“Wahai semua orang, demi Allah, apa yang tidak kalian sukai dalam kepergian ini sebenarnya justru merupakan sesuatu yang kita cari, yaitu <span style="text-decoration: underline;">mati syahid</span>. Kita tidak berperang dengan manusia karena jumlah, kekuatan dan banyaknya personil. Kita tidak memerangi mereka melainkan karena agama ini, yang dengannya Allah memuliakan kita. Maka berangkatlah, karena di sana hanya ada salah satu dari dua kebaikan, entah kemenangan entah mati syahid”. (Lihat <em>Hilyatul Auliya’</em> : 1/119).</p></blockquote>
<ul>
<li>Sahabat <strong>Khalid bin Walid</strong> <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> pernah berkhutbah di hadapan pasukan perang <strong>Yarmuk</strong> ketika melawan <strong>Romawi</strong>,</li>
</ul>
<blockquote><p>“Sesungguhnya hari ini termasuk hari-hari Allah, tidak sepantasnya ada kesombongan dan kedhaliman di dalamnya. Ikhlaskanlah jihadkan kalian dan mengharaplah pahala Allah atas amal kalian ini”.</p>
<p>&nbsp;</p></blockquote>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>D. Kesimpulan.</strong></span></p>
<blockquote><p>Wahai kaum muslimin, yakinlah bahwa kejayaan Islam akan terwujudkan dan kebatilan pasti akan terpendam dalam kehancuran! Akan tetapi,  bergegaslah menelusuri segala cacat yang menyebabkan kekalahan kemudian obatilah dengan mempraktekkan langkah-langkah menuju kemenangan terutama perbaikan aqidah dan keimanan! Kita berdoa kepada Allah supaya menolong kaum muslimin di manapun berada dan menghancurkan kaum kafirin.</p>
<p>&nbsp;</p></blockquote>
<p>artikel: <strong>abiubaidah.com</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em><strong>Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi</strong></em></p>
<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/kunci-kemenangan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fanatik kepada Ulama</title>
		<link>http://abiubaidah.com/fanatik-kepada-ulama.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/fanatik-kepada-ulama.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Feb 2011 07:46:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah dan Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[fanatik]]></category>
		<category><![CDATA[madzhab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=308</guid>
		<description><![CDATA[(Mengungkap Bahaya Fanatik Mazhab) Oleh Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi Definisi Fanatik Fanatik atau dalam bahasa arabnya disebut dengan “Ta’ashub” adalah anggapan yang diiringi sikap yang paling benar dan membelanya dengan membabi buta. Benar dan salahnya, wala’ dan bara’nya diukur dan didasarkan keperpihakan pada golongan. Fanatik ini bisa terjadi antar madzhab, kelompok, organisasi, suku atau negara. [...]
Related posts:<ol>
<li><a href='http://abiubaidah.com/mengucapkan-salam-kepada-lawan-jenis-bolehkah.html/' rel='bookmark' title='Mengucapkan Salam Kepada Lawan Jenis: Bolehkah?'>Mengucapkan Salam Kepada Lawan Jenis: Bolehkah?</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>(Mengungkap Bahaya Fanatik Mazhab)</strong></p>
<p style="text-align: center;">Oleh</p>
<p style="text-align: center;"><strong><a href="../"><strong>Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi</strong></a></strong></p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>Definisi Fanatik</strong></span></p>
<ul>
<li>Fanatik atau dalam bahasa arabnya disebut dengan “<em><strong>Ta’ashub</strong></em>” adalah anggapan yang diiringi sikap yang paling benar dan membelanya dengan membabi buta. Benar dan salahnya, wala’ dan bara’nya diukur dan didasarkan keperpihakan pada golongan. Fanatik ini bisa terjadi antar madzhab, kelompok, organisasi, suku atau negara. (Lihat kembali <em><strong>Majalah Al-Furqon</strong></em> hal. 13 edisi 5 Th. 11) <em>-majalah yang dikelola Ustadz Abu Ubaidah (<strong>editor</strong>)-</em></li>
</ul>
<ul>
<li>Adapun <strong>madzhab</strong> ialah pendapat seseorang mujtahid tentang hukum sesuatu, yaitu pendapat yang digali dari Al-Qur’an dan hadits dengan kekuatan ijtihadnya.</li>
<li>Madzhab yang masyhur ada <strong>empat</strong>:  Madzhab Hanafi (<strong>Abu Hanifah</strong> <em>rahimahullah</em>), madzhab Maliki (<strong>imam Malik</strong> <em>rahimahullah</em>), madzhab Syafi’i (<strong>imam Syafi’i</strong> <em>rahimahullah</em>), madzhab Hanbali (<strong>imam Ahmad bin Hanbal</strong> <em>rahimahullah</em>)</li>
<li>Sekalipun sebenarnya ada beberapa madzhab lainnya seperti madzhab <em>Dhahiriyyah, Zaidiyyah, Sufyaniyyah</em> dan sebagainya. Semua madzhab dapat diambil pendapatnya jika benar dan dapat pula ditinggalkan jika salah, karena memang tidak ada yang <em>ma’shum</em> (terjaga dari kesalahan) kecuali Al-Qur’an dan sunnah Nabi. (Lihat <em>Syarh Lum’ah Al-I’tiqad</em> hal. 166-167 oleh <strong>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin</strong> <em>rahimahullah</em>).<span id="more-308"></span></li>
</ul>
<p>.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>Fenomena Fanatik Mazdhab</strong></span></p>
<p>Fenomena fanatik madzhab sangat nyata terpampang tak terelakkan, baik dalam lembaran kitab madzhab klasik dan kontemporer maupun dalam fakta kehidupan. Muatannya sesak dengan saling tuding-menuding, menghujat, dan mencela satu sama lain sehingga memantapkan kita semua bahwa klaim mereka selama ini  “<span style="text-decoration: underline;">semua madzhab adalah benar</span>” hanyalah omong kosong belaka yang tidak ada buktinya.</p>
<blockquote><p>Sejarah menjadi saksi bahwa fanatik buta terhadap madzhab hingga detik ini telah menelan korban yang tak sedikit jumlahnya. Berikut saya akan turunkan beberapa ucapan para ahli fanatisme madzhab yang masing-masing mengkalim bahwa kebenaran pada pihaknya sendiri sedangkan kebatilan pada pihak madzhab lainnya.</p></blockquote>
<ul>
<li>Dari <strong>mazdhab Hanafiyyah</strong>, <strong>Muhammad ‘Alauddin</strong>, seorang tokoh yang cukup populer dalam madzhab Hanafi pernah berkata:</li>
</ul>
<h3 style="text-align: center;">فَلَعْنَةُ<strong> رَبِّنَا أَعْدَادَ رَمْلٍ عَلَى مَنْ رَدَّ قَوْلَ أَبِيْ حَنِيْفَةَ </strong></h3>
<p style="text-align: center;"><em>La’nat Rabb kami sejumlah bilangan pasir </em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Terhadap orang yang menolak perkataan Abu Hanifah</em>. (Ad-Durrul Mukhtar 1/48-49).</p>
<blockquote><p><strong>Abul Hasan Al-Karkhiy Al-Hanafi</strong> juga mengatakan: “Setiap ayat dan hadits yang menyelisihi penganut madzhab kami (Hanafiyyah), maka dia harus dita’wil (diselewengkan artinya) atau mansukh (dihapus hukumnya)”. (Lihat<em> Ma Laa Yajuzu Al-Khilaf Bainal Muslimin</em> hal. 95).</p></blockquote>
<ul>
<li>Dalam <strong>madzhab Malikiyyah</strong>, mayoritas para penganutnya  mempunyai sebuah peribahasa lucu:</li>
</ul>
<h3 style="text-align: center;"><strong>لَوْ لَمْ يَكُنْ مَالِكاً لَكَانَ الدِّيْنُ هَالِكًا </strong></h3>
<p style="text-align: center;"><em>Seandainya bukan karena Malik, maka agama ini akan hancur. </em></p>
<ul>
<li>Dalam <strong>madzhab Syafi’iyyah</strong>, <strong>imam Al-Juwaini As-Syafi’i</strong> <em>rahimahullah </em>berkata: “Menurut kami, setiap orang berakal dan seluruh kaum muslimin, baik di timur maupun barat, jarak dekat maupun jauh wajib mengikuti madzhab Syafi’i. Bagi orang yang masih awam dan jahil, mereka harus mengikuti madzhab Syafi’i dan tidak mencari pengganti lainnya”. (Lihat <em>Mughitsul Al-Khalq</em> hal. 15-16)</li>
</ul>
<ul>
<li>Dalam  <strong>madzhab Hanabilah</strong>, seorang diantara mereka pernah mengungkapkan:</li>
</ul>
<h3 style="text-align: center;"><strong>أَنَا حَنْبَلِيٌّ مَا حَيَيْتُ وَإِنْ أَمُتْ فَوَصِيَّتِيْ لِلنَّاسِ أَنْ يَتَحَنْبَلُوْا</strong></h3>
<p style="text-align: center;"><em>Saya seorang (bermazdhab) hanbali selama hidup dan matiku</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Wasiat saya kepada manusia agar mereka bermadzhab Hanbali</em>. (Lihat <em>Irwa’ul Ghalil</em> 1/22-23 karya Al-Albani)</p>
<p>Ucapan-ucapan serupa seringkali kita jumpai dari kalangan ahli fanatik madzhab, bahkan diantara mereka sangat keterlaluan dalam menjunjung tinggi imamnya, memperjuangkan madzhabnya, berkoar agar manusia hanya mengikutinya, mencoreng habis madzhab selainnya serta berusaha sekuat tenaga menjatuhkan kedudukan lawannya.</p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">Tragisnya, sebagian mereka mengangkat kedudukan imam madzhabnya pada derajat yang<span style="text-decoration: underline;"> belum pernah dijangkau oleh seorang pun dari sahabat Nab</span>i.</span></strong></p>
<p>Perhatikanlah ungkapan<strong> ‘Alauddin Al-Haskafiy Al-Hanafiy</strong> ketika memuji imam <strong>Abu Hanifah</strong> <em>rahimahullah</em>:</p>
<blockquote><p>“Kesimpulanya, imam Abu Hanifah merupakan <span style="text-decoration: underline;">mu’jizat Nabi yang paling besar setelah Al-Qur’an</span>. Cukuplah sebagai keutamaan beliau adalah tersohornya madzhab beliau. Tidak pernah dia mengeluarkan suatu pendapat melainkan ada dari imam kaum muslimin yang mengambilnya. Sejak zaman beliau hingga hari ini, Allah selalu menguatkan madzhabnya bagi para penganutnya hingga Isa bin Maryam kelak akan berhukum dengan madzhabnya…”.</p>
<p>(Lihat <em>Ad-Durrul Mukhtar</em> 1/55-58 diringkas dari <em>Zawabi’ fi Wajhi Sunnah</em> hal. 223 oleh Syaikh Sholah Maqbul Ahmad dan <em>Kutub Hadzara Minha Ulama’ </em>(1/158-167) oleh Syaikh Masyhur Hasan Salman).</p></blockquote>
<p>.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>Wajibkah Bermadzhab dengan salah satu empat madzhab?</strong></span></p>
<blockquote><p>Banyak kaum muslimin berkeyakinan, baik yang masih awam maupun kyainya bahwa seorang muslim wajib mengikuti salah satu madzhab dari empat madzhab. Sungguh ini merupakan anggapan yang salah fatal dan kejahilan yang mendalam. (Lihat <em>Halil Muslim Mulzam bi Ittib’ Madzhab Mu’ayyan</em> hal. 5 oleh <strong>Syaikh Muhammad Sulthan Al-Ma’shumi</strong> <em>rahimahullah</em>).</p></blockquote>
<blockquote><p>Apa yang disindir oleh <strong>Syaikh Al-Ma’shumi</strong> <em>rahimahullah </em>di atas bukan hanya omong kosong tetapi fakta dan nyata. Banyak para penulis dan penceramah memprogandakan wajibnya bermadzhab. Simaklah apa yang dikatakan <strong>Ahmad As-Shawi </strong><em>rahimahullah</em>, salah seorang shufi bermadzhab Maliki dan beraqidah Asya’irah (wafat th. 1241 H) dalam <em>Hasyiyah Al-Jalalain</em> (3/10): “<span style="text-decoration: underline;">Tidak boleh taklid selain kepada empat madzhab walaupun sesuai dengan perkataan sahabat, hadits maupun ayat</span>. Orang yang diluar empat madzhab adalah sesat dan menyesatkan, bahkan dapat menjebloskannya ke lubang kekufuran, sebab mengambil tekstual Al-Qur’an dan hadits termasuk sumber kekufuran !!!”.</p></blockquote>
<blockquote><p><strong>Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad</strong> <em>hafizhahullah </em>mengomentari ucapan ini: “Ucapan As-Shawi di atas merupakan ucapan yang paling kotor. Seandainya seseorang mencari ucapan yang lebih kotor darinya, mungkin dia tak menemukannya.  Hal itu mempengaruhi dirinya dalam menafsirkan Al-Qur’an berdasarkan akal dan fanatik madzhab. Kita memohon kepada Allah keselamatan”. (<em>Ar-Radd Ala Rifa’i wal Buthi</em> hal.47)</p></blockquote>
<blockquote><p><strong>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah</strong> <em>rahimahullah</em> berkata dalam <em>Minhaj Sunnah</em> (3/412): “Tidak ada seorangpun dari kalangan ahli sunnah yang mengatakan: “kesepakatan imam empat adalah hujjah yang <em>ma’shum</em>”, “Kebenaran hanya pada imam empat saja” atau “Siapa yang  tidak mengikutinya berarti salah”. Bahkan, apabila ada seorang yang di luar penganut madzhab empat -seperti <strong>Sufyan Tsauri </strong><em>rahimahullah</em>, <strong>Al-Auza’i</strong> <em>rahimahullah</em>, <strong>Laits bin Sa’ad</strong> <em>rahimahullah</em> dan ulama’ lainnya- suatu perkataan yang bertentangan dengan pendapat madzhab empat, maka harus ditimbang dengan Al-Qur’an dan sunnah. Pendapat yang sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah, itulah yang lebih kuat”.</p></blockquote>
<p>.</p>
<p><strong><span style="color: #ff6600;">Dalil-Dalil Tercelanya Fanatik</span></strong></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Dalil Pertama:</strong></span></p>
<h3 style="text-align: center;"><strong>فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ </strong></h3>
<p style="text-align: center;"><em>Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.</em> (QS. An-Nur: 63).</p>
<ul>
<li><strong>Imam Ahmad</strong> <em>rahimahullah </em>berkata: &#8220;Saya heran dengan suatu kaum yang telah mengenal sanad hadits dan keabsahannya kemudian mereka berpegang dengan pendapat <strong>Sufyan (Ats-Tsauri)</strong> padahal Allah berfirman (beliau membawakan ayat di atas) lalu berkata: Tahukah engkau apa itu fitnah? Fitnah adalah syirik. Bisa jadi jikalau dia menolak sebagian sunnah Nabi, maka akan bercokol dalam hatinya suatu penyimpangan hingga dia hancur binasa&#8221;.</li>
</ul>
<p>Semoga Allah merahmati <strong>Imam Ahmad</strong>. Kalau demikian kecaman keras beliau terhadap orang yang menentang sunnah Nabi dengan pendapat <strong>imam Sufyan Tsauri</strong> <em>rahimahullah </em>padahal beliau adalah salah satu ulama besar, lantas bagaimana kalau seandainya beliau melihat manusia zaman sekarang yang bukan hanya menolak sunnah dengan perkataan alim ulama, tetapi mereka menentang sunnah dengan pendapat para tokoh agama (kyai) yang juhala&#8217; (bodoh), rasionalis, politikus bahkan para artis dan pelawak yang miskin ilmu. Hanya kepada Allah-lah kita mengadu semua ini.</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Dalil Kedua:</strong></span></p>
<h3 style="text-align: center;"><strong>إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ اْلأَسْبَابُ </strong></h3>
<p style="text-align: center;"><em>(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.</em> (QS. Al-Baqarah: 166).</p>
<blockquote><p><strong>Syaikh Muhammad Sulthan Al-Ma&#8217;shumi</strong> <em>rahimahullah </em>berkata dalam risalahnya &#8220;Halil Muslim Mulzam…&#8221; hal. 31: &#8220;Ketahuilah bahwa ayat ini adalah halilintar keras bagi para para ahli taklid karena sikap membeonya mereka terhadap ucapan dan pendapat manusia dalam masalah agama, baik mereka masih hidup atau sudah meninggal dunia! Taklid dalam masalah aqidah dan ibadah! Masalah halal dan haram! Karena semua masalah ini harus bersumber dari Allah dan rasul-Nya, bukan diambil dari pendapat dan pemikiran seorang, lebih-lebih dari para tokoh penyesat agama&#8221;.</p></blockquote>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Dalil Ketiga:</strong></span></p>
<h3 style="text-align: center;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ</h3>
<p style="text-align: center;">(QS. Al-Hujurat: 2).</p>
<p><strong>Imam Ibnu Qoyyim</strong> <em>rahimahullah </em>dalam <em>I&#8217;lamul Muwaqqiin</em> (1/60) berkomentar: &#8220;Apabila mengeraskan suara mereka di atas suara rasul saja dapat menyebabkan gugurnya amalan mereka, lantas bagaimana kiranya dengan mendahulukan dan mengedepankan pendapat, akal, perasaan, politik dan pengetahuan di atas ajaran rasul? Bukankah ini lebih layak untuk sebagai faktor penggugur amalan mereka?&#8221;</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Dalil Keempat:</strong></span></p>
<blockquote>
<h3 style="text-align: center;"><strong>قَالَ النَّبِيُّ: &#8220;وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ بَدَا لَكُمْ مُوْسَى ثُمَّ اتَّبَعْتُمُوْهُ وَتَرَكْتُمُوْنِيْ لَضَلَلْتُمْ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيْلِ وَلَوْ كَانَ حَيًّا وَأَدْرَكَ نُبُوَّتِيْ لاَتَّبَعَنِيْ&#8221;.</strong></h3>
<p style="text-align: center;"><em>Rasulullah bersabda: &#8220;Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa hadir di tengah kalian lalu kalian mengikutinya dan meninggalkanku, maka sungguh kalian telah tersesat dari jalan yang lurus. Kiranya Musa hidup dan menjumpai kenabianku, dia pasti mengikutiku. </em>(Hasan. riwayat Ad-Darimi dalam Sunannya (441) dan Ahmad (3/471, 4/466) Lihat <em>Al-Misykah</em> (177) oleh Al-Albani).</p>
</blockquote>
<p>Maksudnya apabila kita meninggalkan sunnah Nabi dan mengikuti Musa, seorang nabi mulia yang pernah diajak bicara oleh Allah, maka kita akan tersesat dari jalan yang lurus. Lantas bagaimana pendapatmu apabila kita meninggalakan sunnah Nabi dan mengikuti  para kyai, tokoh agama, ustadz, mubaligh, cendekiawan dan sebagainya yang sangat jauh bila dibandingkan dengan Nabi Musa?. Pikirkanlah! (Lihat Muqaddimah <em>Bidayatus Suul</em> hal. 6 oleh <strong>Syaikh Al-Albani</strong>).</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Dalil Kelima:</strong></span><strong> </strong></p>
<blockquote>
<h3 style="text-align: center;"><strong>قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: &#8220;يُوْشِكُ أَنْ تَنْزِلَ عَلَيكُْم ْحِجَارَةٌ مِنَ السَّمَاءِ, أَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ وَتَقُوْلُوْنَ: قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ وَعُمَرُ؟!&#8221; </strong></h3>
<p style="text-align: center;"><em>Ibnu Abbas berkata: &#8220;Hampir saja kalian akan dihujani batu dari langit. Aku katakan: Rasulullah bersabda demikian lantas kalian membantahnya: Tapi Abu Bakar dan Umar berkata demikian?!&#8221; </em>(Shahih. Riwayat Ahmad 1/337 dan Al-Khatib dalam <em>Al-Faqih wal Mutafaqqih</em> 1/145).</p>
</blockquote>
<p><strong>Syaikh Sulaiman bin Abdullah Alu Syaikh</strong> <em>rahimahullah </em>berkata dalam kitabnya <em>Taisir Aziz Al-Hamid</em> hal. 483:</p>
<blockquote><p>&#8220;Jikalau perkataan yang muncul dari <strong>Ibnu Abbas</strong> ini diperuntukkan pada orang yang menentang sunnah dengan pendapat <strong>Abu Bakar</strong> dan <strong>Umar</strong> yang telah diketahui bersama kedudukan mereka berdua, lantas bagaimana kiranya apa yang akan beliau katakan terhadap orang yang menetang sunnah nabi dengan dengan tokoh dan imam madzhab yang dianutnya? Lalu menjadikan pendapat orang tersebut sebagai tolok ukur Al-Qur&#8217;an dan sunnah, bila keduanya sesuai dengan pendapat tokohnya maka diterima dan bila bertentangan dengan pendapat tokohnya maka ditolak atau ditakwil. Kepada Allah kita memohon pertolongan&#8221;. (Lihat pula Al-Qaulul Mufid (2/152) oleh <strong>Syaikh Ibnu Utsaimin </strong><em>rahimahullah</em> cet. Dar Ibnu Jauzi).</p></blockquote>
<p>.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>Dampak Negatif Fanatik</strong></span></p>
<p>Fanatisme memunculkan berbagai dampak negatif yang sangat berbahaya bagi pribadi secara khusus dan masyarakat secara umum. Demi kewaspadaan kita semua agar tidak terjerat dalam belenggunya, akan kami paparkan beberapa dampak tersebut:</p>
<p><strong>1</strong><strong>. Memejamkan mata dari argumen yang kuat dan berpegang dengan argumen yang rap</strong>uh.</p>
<blockquote><p><strong>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah</strong> <em>rahimahullah</em> menandaskan:</p>
<p>“Mayoritas orang-orang fanatik mazdhab tidak mendalami Al-Qur’an dan sunnah kecuali segelintir orang saja. Sandaran mereka hanyalah hadits-hadits lemah, pendapat-pendapat rapuh atau hikayat-hikayat dari para tokoh ulama’ yang bisa jadi benar dan bisa jadi bohong”. (Majmu’ Fatawa 22/254).</p></blockquote>
<p><strong>2. Mementahkan dalil shahih karena bertentangan dengan madzhab.</strong></p>
<blockquote><p>Bahkan seringkali mereka mementahkan dalil shahih dengan <span style="text-decoration: underline;">uslub yang kasar</span>. Sebagai contoh, <strong>KH. Sirajuddin Abbas</strong> dalam bukunya “40 Masalah Agama” Juz 1 hal. 186 -cet. Kedua puluh sembilan- tatkala mengomentari hadits Abu Malik Al-Asyja’iy tentang bid’ahnya qunut shubuh terus-menerus sebagaimana dilakukan mayoritas kaum muslimin di Indonesia: “Nampaknya Thariq ini tidak dapat dipercayai omongannya dan mungkin ini bukan perkataan Thariq, tetapi <strong>disebut-sebut oleh orang lain dan dikatakan ucapan Tahriq!!!”.</strong></p></blockquote>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>3. Menyulut api perselisihan dan permusuhan</strong></p>
<p>Persatuan dan kedamaian terasa mustahil terwujudkan bila penyakit fanatik madzhab masih bercokol di dada kaum muslimin. Bahkan api kebencian, percekcokan dan perpecahan bertambah menyala-nyala dalam kehidupan. <strong>Imam Dzahabi</strong> <em>rahimahullah </em>menceritakan dalam <em>Mizanul I’tidal</em> (4/51) bahwa <strong>Muhammad bin Musa Al-Balasaghuniy</strong> <em>rahimahullah</em> pernah berkata: “Seandainya aku menjadi pemimpin, niscaya aku akan mengambil pajak dari penganut madzhab Syafi’i”.</p>
<p>Dalam muqaddimah buku <em>“Halil Muslim Mulzam bi Ittiba’ Madzhabin Mu’ayyan” </em>oleh <strong>Muhammad Sulthan Al-Ma’shumi</strong> <em>rahimahullah</em> diceritakan begini:</p>
<blockquote><p>“Rombongan Jepang pernah berkeinginan masuk agama Islam. Untuk melaporkan keperluannya, mereka pergi ke sebuah lembaga Islam di kota Tokyo. Ternyata para pengurusnya dari berbagai madzhab. Orang India mengatakan: “Rombongan ini wajib mengikuti madzhab Abu Hanifah karena beliau adalah pelita umat <strong>sedangkan orang Indonesia “Jawa” menyahut: “Madzhab Syafi’i lebih utama untuk dianut”</strong>. Mendengar keributan para pengurus tersebut, rombongan Jepang terheran-heran dan merasa kebingungan  sehingga akhirnya mereka tidak jadi masuk Islam”.</p></blockquote>
<ul>
<li>Nyarisnya, sumber permusuhan itu biasanya berinduk pada masalah fiqih belaka. <strong>Imam Dzahabi</strong> <em>rahimahullah</em> menceritakan dalam <em>Siyar A’lam Nubala’</em> (17/477) bahwa <strong>Abu Abdillah Muhammad bin Fadhl Al-Farra’ </strong>pernah menjadi imam shalat di masjid Abdullah selama enam puluh tahun lamanya, beliau bermadzhab Syafi’i dan melakukan qunut (shubuh). Setelah itu, imam shalat diambil alih oleh seorang yang bermadzhab Maliki, beliau tidak qunut (shubuh). Karena hal ini menyelisihi tradisi masyarakat, akhirnya mereka bubar meninggalkannya seraya berkomentar: “Shalatnya gak pecus!!!”.</li>
</ul>
<p><strong>4. Menolak kebenaran sekalipun sudah jelas hujjahnya</strong></p>
<p><strong>Imam Ibnul Jauzy</strong> <em>rahimahullah</em> mengatakan:</p>
<blockquote><p>“Termasuk tipu daya Iblis terhadap para fuqaha’ yaitu tatkala jelas kebenaran berada di tangan lawannya, dia akan tetap bersikukuh mempertahankan pendapatnya dan merasa sesak dada untuk menerima kebenaran dari lawannya, bahkan dia akan berusaha menggulingkan lawan padahal sudah jelas dia yang benar. Hal seperti ini sangat nista sekali, karena fungsi dialog adalah mencari kebenaran sebagaimana dikatakan oleh Syafi’i: “Tidak pernah saya berdialog dengan seseorang yang menolak kebenaran kecuali dia hina di hadapanku dan tidak pernah saya berdialog dengan seseorang yang menerima kebenaran kecuali dia berwibawa dalam pandanganku. Tidak pernah saya berdialog dengan seseorang kecuali saya akan mengikuti kebenaran, bila kebenaran memang bersamanya saya akan mengikutinya dan bila kebenaran bersamaku dia mengikutiku”(Talbis Iblis hal.120).</p></blockquote>
<p><strong>5. Mempermainkan dalil demi membela madzhabny</strong>a.</p>
<p>Contohnya banyak sekali, saya akan tampilkan satu contoh saja:</p>
<p><strong>Ahmad As-Shawi</strong> <em>rahimahullah</em> berkata dalam <em>Hasyiyah Jalalain</em> (3/307-308) ketika menafsirkan surat Fathir:</p>
<h3 style="text-align: center;">أَفَمَن زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَءَاهُ حَسَنًا</h3>
<p style="text-align: center;"><em>Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik. </em>(QS. Fathir: 8).</p>
<p>Katanya:</p>
<blockquote><p>“Ayat ini turun kepada kelompok Khawarij yang merubah makna Al-Qur’an hadits dan menghalalkan darah dan harta kaum muslimin sebagaimana dapat kita saksikan sekarang pada cikal bakalnya yang berada di Hijaz yaitu Wahhabiyyah! Mereka menyangka bahwa kelompoknya di atas hujjah padahal tidak sama sekali. Ketahuilah mereka adalah manusia pendusta. Syetan telah menjangkiti mereka sehingga membuat mereka lupa dari mengingat Allah. Merekalah bala tentara Syetan. Ketahuilah bahwa bala tentara Syetan pasti merugi. Kita memohon kepada Allah agar meluluhlantahkan kekuatan mereka”.</p></blockquote>
<p>Lihatlah wahai saudaraku, bagaimana fanatik madzhab membuat buta para pemeluknya sehingga mengeluarkan kata yang tak terkontrol oleh akal warasnya. Saya di sini bukan untuk membantah kedustaan ini sebab sebagaimana kata seorang penyair:</p>
<h3 style="text-align: center;">ئِمَّةُ حَقٍّ كَالشُّمُوْشِ اشْتِهَارُهُمْ                فَمَاانْطَمَسُوْا إِلاَّ مَنْ بِهِ عُمَى</h3>
<p style="text-align: center;"><em>Para Imam Kebenaran, Popularitas mereka seperti matahari</em></p>
<h3 style="text-align: center;"></h3>
<h3 style="text-align: center;"></h3>
<p style="text-align: center;"><em>Tidak ada yang mencela mereka kecuali orang yang buta.</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p><strong>6. Merubah nash demi kepentingan madzhab.</strong></p>
<p>Contohnya banyak sekali, saya akan tampilkan satu contoh saja:</p>
<p>Atsar tentang qunut shubuh yang diriwayatkan oleh<strong> imam Ahmad</strong> <em> </em>(3/472), Ibnu Majah (1241), <strong>Tirmidzi </strong>(2/252) dan beliau menshahihkannya:</p>
<blockquote>
<h3 style="text-align: center;"><strong>عَنْ ماَلِكٍ الأَشْجَعِيِّ قَالَ : قُلْتُ لأَبِيْ: يَا أَبَتِ! إِنَّكَ صَلَّيْتَ وَرَاءَ النَّبِيِّ وَأَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ هَا هُنَا بِاالْكُوْفَةِ, أَكَانُوْا يَقْنُتُوْنَ فِيْ الْفَجْرِ؟ قَالَ : أَيْ بُنَيَّ <span style="text-decoration: underline;">مُحْدَثٌ </span></strong></h3>
<p style="text-align: center;">Dari <strong>Malik Asyja’iy</strong> berkata: “Saya pernah bertanya kepada ayahku: “Wahai ayahku! Engkau pernah shalat di belakang Rasulullah, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali di Kufah sini selama lima tahun lamanya, apakah mereka melakukan qunut shubuh? Jawab beliau: ‘Wahai anakku, Itu merupakan perkara baru”!!</p>
</blockquote>
<p>Dalam kitab <em>Al-Majmu’ Syarh Muhadzab</em> (3/484) karya imam Nawawi, cetakan yang ditahqiq oleh Syaikh Muhammad Najib Al-Muti’iy, seorang tokoh mazdhab Syafi’i di Mesir sekarang tertulis begini:</p>
<h3 style="text-align: center;">أَيْ بُنَيَّ فَحَدِّثْ</h3>
<p style="text-align: center;"><em>Wahai anakku, ceritakanlah!!</em></p>
<p>Hal ini tidak lain kecuali karena dampak fanatik madzhab yang mengakar kuat pada dirinya. Dalam kitabnya <em>An-Nafilah fil Ahaditsil Bathilah</em> (1/47), <strong>Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini</strong> <em>rahimahullah</em>, salah seorang ulama’ ahli hadits Mesir murid Syaikh Al-Albani menceritakan bahwa beliau pernah mendengar <strong>Syaikh Muhammad Najib Al-Muti’iy</strong> <em>rahimahullah</em> mengatakan: “Shalatnya orang yang meninggalkan qunut shubuh secara sengaja hukumnya batal tidak sah”!</p>
<p>Sungguh alangkah indahnya apa yang pernah saya baca dalam <em>Silsilah Ahadits Dha’ifah</em> (3/388) karya <strong>Al-Muhaddits Al-Alban</strong>i <em>rahimahullah,</em> kata beliau:</p>
<blockquote><p>“Dalam biografi Abul <strong>Hasan Al-Kurjiy As-Syafi’i</strong> <em>rahimahullah </em>(wafat th. 532 H) diceritakan bahwa<span style="text-decoration: underline;"> beliau tidak melakukan qunut shubuh</span> seraya berkata: “<span style="text-decoration: underline;">Tidak ada hadits shahih tentang hal itu</span>”. <strong>Syaikh Al-Albani</strong> <em>rahimahullah </em>mengomentari:</p>
<p>“<span style="color: #0000ff;">Ini menunjukkan akan kedalaman ilmu dan inshafnya (keadilan), semoga Allah merahmatinya. Beliau termasuk orang yang diselamatkan Allah dari belenggu fanatik madzhab. Kita memohon kepada Allah agar termasuk mereka</span>”.</p></blockquote>
<p>.</p>
<p><strong>7. Memalsukan hadits demi menjunjung madzhab.</strong></p>
<p>Fanatik madzhab mempunyai andil yang cukup besar dalam pemalsuan hadits demi membela madzhab. Contohnya, hadits palsu bikinan orang-orang fanatik madzhab <strong>Abu Hanifah</strong> <em>rahimahullah</em> sebagai berikut:</p>
<blockquote>
<h3 style="text-align: center;">سَيَأْتِيْ مِنْ بَعْدِيْ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ النُّعْمَانَ بْنَ ثَابِتٍ وَيُكْنَى أَبَا حَنِيْفَةَ لَيُحْيِيَنَّ دِيْنَ اللهِ وَسُنَّتِيْ عَلَى يَدَيْهِ</h3>
<p style="text-align: center;"><em>Akan datang setelahku seorang yang bernama Nu’man bin Tsabit dan kunyah-nya Abu Hanifah, sungguh dia akan menghidupkan agama Allah dan sunnahku.</em> (Lihat <em>Tanzih Syari’ah</em> 2/30 karya Ibnu ‘Arraq dan <em>Tarikh Baghdad</em> 2/289 karya Al-Khatib Al-Bahgdadi).</p>
</blockquote>
<p>Lebih ngeri lagi pernah dikatakan kepada <strong>Ma’mun bin Ahmad Al-Haraw</strong>i <em>rahimahullah</em>: “Bagaimana pendapatmu tentang Syafi’i dan para pengikutnya di Khurasan?” Dia menjawab: “Menceritakanku<strong> Ahmad bin Abdillah bin Mi’dan</strong> <em>rahimahullah </em>dari Anas secara marfu’:</p>
<h3 style="text-align: center;">يَكُوْنًُ فِيْ أُمَّتِيْ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ مُحَمَّدَ بْنَ إِدْرِيْسَ أَضَّّرَ عَلَى أُمَّتِيْ مِنْ إِبْلِيْسَ وَيَكُوْنُ فِيْ أُمَّتِيْ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ أَبَا حَنِيْفَةَ هُوَ سِرَاجُ أُمَّتِيْ</h3>
<p style="text-align: center;"><em>Akan datang pada umatku seorang yang bernama Muhammad bin Idris (nama imam Syafi’i), dia lebih berbahaya bagi umatku daripada Iblis. Dan akan datang pada umatku seorang bernama Abu Hanifah, dia adalah pelita umatku.</em> (Lihat <em>Lisanul Mizan</em> (5/7-8) karya Ibnu Hajar dan <em>Tadrib Rawi</em> (1/277) karya As-Suyuthi).</p>
<p>Hadits ini disamping maudhu’ (palsu), juga bertentangan dengan ketegasan Al-Qur’an yang menyatakan bahwa pelita umat adalah Nabi Muhammad sebagaimana dalam surat Al-Ahzab: 46.</p>
<p><strong>8. Mewajibkan taklid kepada seorang imam madzhab.</strong></p>
<p>Para fanatisme madzhab akan menyerukan kepada kaumnya tentang kewajiban taklid yaitu mengambil pendapat seorang tanpa mengetahui dalilnya. Bahkan, untuk mencapai tujuan ini, mereka membuat hadits dusta yaitu:</p>
<h3 style="text-align: center;">مَنْ قَلَّدَ عَالِمًا لَقِيَ اللهَ سَالِمًا</h3>
<p style="text-align: center;"><em>Barangsiapa yang taklid kepada seorang alim, maka dia akan berjumpa Allah dengan selamat</em>.</p>
<p><strong>Syaikh Muhammad Rasyid Ridha</strong> <em>rahimahullah </em>pernah ditanya tentang hadits ini dalam Majalah Al-Manar (34/759) lalu beliau menjawab : “Itu bukan hadits”. Hal ini disetujui oleh <strong>Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani</strong> <em>rahimahullah </em>dalam <em>Silislah Ahadits Ad-Dha’ifah</em> (551).</p>
<p>.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><span style="color: #000000;"><strong>Berikut ucapan para propagandis taklid beserta sedikit sanggahannya:</strong></span></span></p>
<p>a. <strong>Al-Baijury</strong> dalam “Jauharah Tauhidnya” pernah mengungkapkan:</p>
<blockquote>
<h3 style="text-align: center;">فَوَاجِبٌ تَقْلِيْدُ حَبْرٍ مِنْهُمْ                     كَذَا حَكَى الْقَوْمُ بِلَفْظٍ يُفْهَمُ</h3>
<p style="text-align: center;">Sewajibnya untuk taklid kepada seorang alim diantara mereka</p>
<p style="text-align: center;">Demikianlah diceritakan oleh suatu kaum d<em>engan lafadz yang mudah difahami.</em></p>
</blockquote>
<ul>
<li><strong>Syaikh Muhammad Ahmad Al-Adawi</strong> <em>rahimahullah </em>berkata dalam <em>Al-Jadid ‘ala Jauharah Tauhid</em> hal. 111 mengomentari bait di atas: “Kami belum mendapati pendahulu bagi penulis yang mewajibkan taklid”.</li>
</ul>
<p><strong>b. KH. Ahmad Masduqi</strong>, wakil Ro’is PWNU Jatim berkata dalam bukunya “Konsep Dasar Pengertian Ahlus Sunnah Wal Jama’ah” hal. 60 cet. Pelita Dunia Surabaya: “Apabila sejak ratusan tahun yang lalu sampai sekarang sebagian besar umat Islam di seluruh dunia yang termasuk dalam golongan Ahlus sunnah wal Jam’ah (ala mereka -pent-) membanarkan adanya <strong>kewajiban taklid</strong> bagi orang yang tidak mencukupi syarat-syarat untuk berijtihad…”.</p>
<p>Ini adalah ucapan batil dari akarnya dan kebohongan nyata!. Tidak pernah ada kewajiban seperti ini dari Allah, Rasulullah hatta imam madzhab sekalipun, karena pendapat mereka itu kadang benar dan kadang juga salah. Seringkali para imam imam madzhab berpendapat suatu pendapat lalu setelah jelas baginya dalil, dia ruju’ (kembali) kepada dalil. Para imam sendiri telah mengucapkan perkataan-perkataan berharga tentang haramnya taklid kepada mereka. Imam Syafi’i sendiri pernah berkata:</p>
<h3 style="text-align: center;">كُلُّ مَا قُلْتُ وَكَانَ عَنِ النَّبِيِّ خِلاَفُ قَوْلِيْ مِمَّا يَصِحُّ فَحَدِيْثُ النَّبِيِّ أَوْلَى وَلاَ تُقَلِّدُوْنِيْ</h3>
<p style="text-align: center;"><em>Setiap ucapan saya yang bertentangan dengan hadits shahih, maka hadits Nabi lebih utama dan janganlah kalian taklid kepadaku</em>. (Adab Syafi’i wa Manaqibuhu (1/66) oleh Ibnu Abi Hatim).</p>
<p>Tentang haramnya taklid dan bahayanya, para ulama sudah membahas secara tuntas seperti imam:</p>
<ol>
<li><strong>Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah</strong> <em>rahimahullah</em> dalam <em>I’lam Muwaqqi’in</em>,</li>
<li><strong>Syaikh Shalih Al-Fulani</strong> dalam <em>Iqhadhul Himami Ulil Abshar</em>,</li>
<li><strong>Syaikh Muhammad Sulthan Al-Ma’shumi Al-Hujandi</strong> dalam <em>Halil Muslim Mulzam bi Ittiba’i Madzhabin Mu’ayyanin</em>,</li>
<li><strong>Syaikh Muhammad ‘Ied Al-Abbasi</strong> dalam <em>Bid’ah Ta’ashub Madzhabi</em>,</li>
<li><strong>Muhammad Nasiruddin Al-Albani</strong> dalam muqaddimah  <em>Sifat Shalat Nab</em>i dan masih banyak lainnya lagi.</li>
</ol>
<p><strong>10. Menutup pintu ijtihad.</strong></p>
<p><strong>KH. Ahmad Masduqi</strong> berkata dalam bukunya yang berjudul <em>Konsep Dasar Ahlus Sunnah wal Jama’ah</em>, hal. 60:</p>
<blockquote><p>“Atau dengan lain perkataan, belum pernah ada orang yang mampu memasuki “Pintu Ijthad Yang Mutlaq” semenjak dahulu sampai sekarang, meskipun pintu tersebut tidak pernah ditutup. Dan apabila di sana-sini banyak kita jumpai orang-orang yang berlagak pilon mengaku sebagai mujtahid, artinya menggali sendiri dari Al-Qur’an dan Al-hadits dalam menjalankan syari’at Islam dan tidak mau mengikuti pendapat imam madzhab, maka sebenarnya mereka tidak lebih dari orang-orang yang membebek kepada guru-guru mereka yang masih belum memahami benar-benar arti ijtihad, apalagi memenuhi syarat-syarat untuk berijtihad”.</p></blockquote>
<p>Ucapan di atas <span style="text-decoration: underline;"><strong> salah fatal, tipu daya tak samar, kesesatan nyata dan ajaran baru </strong></span>yang diusung oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab sehingga berdampak negatif yaitu sikap kolot terhadap pendapat madzhab.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong><br />
</strong></span></p>
<h3>Para imam kebenaran,  popularitas mereka seperi matahari</h3>
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://abiubaidah.com/mengucapkan-salam-kepada-lawan-jenis-bolehkah.html/' rel='bookmark' title='Mengucapkan Salam Kepada Lawan Jenis: Bolehkah?'>Mengucapkan Salam Kepada Lawan Jenis: Bolehkah?</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/fanatik-kepada-ulama.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kontroversi Kedatangan Imam Mahdi</title>
		<link>http://abiubaidah.com/kontroversi-kedatangan-imam-mahdi.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/kontroversi-kedatangan-imam-mahdi.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Dec 2010 02:35:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah dan Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[PENGANTAR Polemik berita datangnya Imam Mahdi selalu actual untuk diulas dan dibicarakan. Pasalnya, masalah ini hingga kini masih menjadi buah bibir di kalangan kaum muslimin, khususnya kaum pelajar dan intelektual. Ironis memang, tatkala melihat orang yang bukan bidangnya ikut andil terjun menangani kontroversi masalah prinsip ini, sehingga bukannya menyembuhkan, tetapi justru malah meruwetkan masalah. Beragam [...]
Related posts:<ol>
<li><a href='http://abiubaidah.com/imam-syafi%e2%80%99i-rahimahullah-ngalap-berkah-di-kuburan-imam-abu-hanifah-rahimahullah.html/' rel='bookmark' title='Imam Syafi&#8217;i Ngalap Berkah?'>Imam Syafi&#8217;i Ngalap Berkah?</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/kontemporer-zakat-profes.html/' rel='bookmark' title='Menyibak Kontroversi Zakat Profesi'>Menyibak Kontroversi Zakat Profesi</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/sumber-aqidah-imam-syafi%e2%80%99i.html/' rel='bookmark' title='Aqidah Imam Syafi’i'>Aqidah Imam Syafi’i</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ff6600;"><strong>PENGANTAR</strong></span></p>
<p>Polemik berita datangnya <strong>Imam Mahdi</strong> selalu actual untuk diulas dan dibicarakan. Pasalnya, masalah ini hingga kini masih menjadi buah bibir di kalangan kaum muslimin, khususnya kaum pelajar dan intelektual. Ironis memang, tatkala melihat orang yang bukan bidangnya ikut andil terjun menangani kontroversi masalah prinsip ini, sehingga bukannya menyembuhkan, tetapi justru malah meruwetkan masalah.</p>
<p>Beragam komentar pro kontra bermunculan seputar masalah <strong>Mahdi</strong> di akhir zaman. Betapa banyak para penulis dan penceramah berani menegaskan dengan penuh percaya diri, tanpa ragu sedikitpun: “Hadits-hadits tentang <strong>Mahdi</strong> seluruhnya palsu, hanya karangan politisi Syi’ah”!!<a href="#_ftn1">[1]</a>. Sebaliknya, tak sedikit juga kalangan yang berkomentar dengan mantap: “Si anu adalah Mahdi yang ditunggu-tunggu”. Padahal dia tidak mengerti ciri-ciri <strong>Mahdi</strong> yang hakiki.<span id="more-46"></span></p>
<p>Melihat fenomena di atas, tentu kita tidak bisa tinggal diam begitu saja, kita harus berani bicara kebenaran dan menepis kebatilan. Alangkah bagusnya ucapan <strong>Ali ad-Daqqaq</strong> <em>rahimahullah</em>: “Orang yang tidak berani bicara kebenaran adalah syetan yang bisu dan orang yang bicara kebatilan adalah syetan yang bicara”. <a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>TEKS DAN TAKHRIJ HADITS</strong></span></p>
<p>Ketahuilah wahai saudaraku -semoga Allah merahmatimu- bahwa hadits-hadits tentang datangnya <strong>Imam Mahdi</strong> banyak sekali, ada yang shahih, hasan, dha’if bahkan maudhu’. Untuk menyeleksinya perlu penelitian ahli hadits. Berikut kami paparkan beberapa contoh hadits yang shahih mengenai kedatangan <strong>Imam Al-Mahdi</strong>:</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Hadits Pertama:</strong></span></p>
<blockquote>
<h3 style="text-align: center;">عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: لَوْ لَمْ يَبْقَ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ يَوْمٌ لَطَوَّلَ اللهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ حَتَّى يَبْعَثَ فِيْهِ رَجُلاً مِنِّيْ أَوْ مِنْ أهْلِ بَيْتِيْ يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِيْ وَاسْمَ أَبِيْهِ اسْمَ أَبِيْ يَمْلأُ الأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَجَوْرًا</h3>
<p style="text-align: center;">Dari Abdullah bin Mas’ud <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> berkata: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda: “Seandainya dunia tidak tersisa kecuali tinggal sehari saja, maka Allah akan memanjangkan hari itu sehingga mengutus seorang laki-laki dari keturunanku atau dari ahli baitku, namanya seperti namaku dan nama ayahnya seperti nama ayahku, dia memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi kedhaliman dan penganiayaan”.</p>
</blockquote>
<p>Orang yang meriwayatkan dari <strong>Ibnu Mas’ud</strong> <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> ada dua:</p>
<p><strong>1. Zirr bin Khubaisy</strong></p>
<ul>
<li>Riwayat <strong>Abu Daud</strong>: 4282, <strong>Tirmidzi</strong>: 2230, 2231, <strong>Ahmad</strong> 1/376, 377, 430, 448, <strong>Ath-Thabrani</strong> dalam <em>Al-Mu’jam Al-Kabir</em> 10/10213-10230 dan <em>Al-Mu’jam Ash-Shaghir</em> hal. 245, <strong>Abu Nuaim</strong> dalam <em>Al-Hilyah</em> dan <strong>Al-Khatib</strong> dalam <em>Tarikh Baghdad</em>.</li>
<li><strong>Imam Tirmidzi</strong> berkata: “<em><span style="text-decoration: underline;"><strong>Hasan Shahih</strong></span></em>”. <strong>Imam Adz-Dzahabi</strong> menshahihkannya dalam <em>At-Talkhis</em> 4/442 dan disetujui oleh <strong>Syaikh Al-Albani</strong>.</li>
</ul>
<p><strong>2. Alqomah (bin Martsyad)</strong></p>
<ul>
<li>Riwayat <strong>Ibnu Majah</strong>: 4082 dan <strong>Al-Hakim</strong> dalam <em>Al-Mustadrak</em> 4/264.</li>
<li><strong>Syaikh Al-Albani</strong> berkata: “<strong><span style="text-decoration: underline;"><em>Sanadnya hasan</em></span></strong>”.</li>
</ul>
<h3><span style="color: #0000ff;">Hadits Kedua:</span></h3>
<h3 style="text-align: center;">عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه: الْمَهْدِيْ مِنَّا أَهْلَ الْبَيْتِ يُصْلِحُهُ اللهُ فِيْ لَيْلَةٍ</h3>
<p style="text-align: center;">Dari Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> berkata: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda: “<strong>Al-Mahdi</strong> adalah dari keturunan kami, ahli bait, Allah memperbaikinnya (memberi taufik dan hidayah) dalam sehari”.</p>
<p>Orang yang meriwayatkan dari <strong>Ali bin Abi Thalib</strong> ada dua:</p>
<p><strong>1. Muhammad bin Hanafiyyah</strong></p>
<ul>
<li>Riwayat <strong>Ibnu Majah</strong>: 4085, Ahmad 1/84, Al-Uqaili dalam <em>Adh-Dhu’afa</em>: 470, Ibnu Adi dalam <em>Al-Kamil</em> 2/360 dan Abu Nuaim dalam <em>Al-Hilyah</em> 3/177 dari Yasin Al-Ijli dari Ibrahim bin Muhammad bin Hanafiyyah dari ayahnya.</li>
<li>Sanad hadits ini hasan. Seluruh perawinya terpercaya kecuali Yasin yaitu Ibnu Syaiban, haditsnya hasan. Namun dia tidak sendirian, dia dikuatkan oleh Salim bin Abu Hafshah (haditsnya hasan) sebagaimana riwayat Abu Nuaim dalam <em>Akhbar Ashbahan</em> 1/170 sehingga hadits ini naik kepada derajat shahih.<a href="#_ftn3">[3]</a></li>
</ul>
<p><strong>2. Abu Thufail</strong></p>
<ul>
<li>Riwayat Abu Daud: 4283, Ahmad 1/99 dengan lafadz seperti hadits Abdullah bin Mas’ud.</li>
</ul>
<ul>
<li>Syaikh Adzim Abadi berkata dalam <em>Aunul Ma’bud</em> 11/251: “Sanadnya hasan dan kuat”. Dan dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir dan Syaikh Al-Albani dalam <em>Takhrij Ahadits Fadhail Syam</em> hal. 44.</li>
</ul>
<h3><span style="color: #0000ff;">Hadits Ketiga:</span></h3>
<h3 style="text-align: center;">عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: الْمَهْدِيْ مِنِّيْ أَجْلَى الْجَبْهَةِ أَقْنَى الأَنْفِ يَمْلأَ الأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا وَ يَمْلِكُ سَبْعَ سِنِيْنَ</h3>
<p style="text-align: center;">Dari <strong>Abu Said Al-Khudri</strong> <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> berkata: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda: “Al-Mahdi adalah dari keturunanku, berdahi lebar dan berhidung mancung, dia memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya terpenuhi dengan kedhaliman dan dia berkuasa selama tujuh tahun lamanya”.</p>
<p>Orang yang meriwayatkan dari <strong>Abu Said Al-Khudri</strong> ada dua:</p>
<p><strong>1. Abu Nadhrah</strong></p>
<ul>
<li>Riwayat Abu Daud: 4285 dan Al-Hakim dalam <em>Al-Mustadrak</em> 1/556 dari jalur Imran Al-Qaththan dari Qotadah dari Abu Nadhrah dengannya.</li>
<li>Al-Hakim berkata: “Hadits ini shahih menurut syarat Muslim”. Dan disetujui Adz-Dzahabi. Syaikh Al-Albani berkata: “Sanadnya hasan”.</li>
</ul>
<p><strong>2. Abu Ash-Shiddiq</strong><a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<ul>
<li>Riwayat Tirmidzi: 2232, Ibnu Majah: 4083, Ahmad 3/21 dan Al-Hakim dalam <em>Al-Mustadrak</em> 4/557 dari jalur Zaid Al-‘Ummi dari Abu Ash-Shiddiq.</li>
<li>Imam Tirmidzi berkata: “Haditsnya hasan”.</li>
<li>Al-Hakim berkata: “Shahih menurut syarat Muslim”. Dan disetujui Adz-Dzahabi dan Al-Albani.</li>
</ul>
<h3>.</h3>
<h3><span style="color: #0000ff;">Hadits Keempat:</span></h3>
<h3 style="text-align: center;">عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ : الْمَهْدِيْ مِنْ عِتْرَتِيْ مِنْ وَلَدِ فَاطِمَةَ</h3>
<p style="text-align: center;">Dari Ummu Salamah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em> berkata: Saya mendengar Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda: “Al-Mahdi adalah dari keturunanku dari anak keturunan Fathimah”.</p>
<ul>
<li>Riwayat Abu Daud: 4284, Ibnu Majah: 4086, Al-Hakim dalam <em>Al-Mustadrak</em> 4/557, Abu Amr Ad-Dani dalam <em>As-Sunan Al-Waridah fil Fitan</em>: 99-100 dan Al-Uqaili dalam <em>Adh-Dhu’afa</em>: 139, 300 dari jalur Ziyad bin Bayan dari Ali bin Nufail dari Said bin Musayyib dari Ummu Salamah secara marfu’.</li>
</ul>
<ul>
<li>Syaikh Al-Albani berkata: “Sanadnya jayyid (bagus), seluruh rawinya terpercaya”. <a href="#_ftn5">[5]</a></li>
</ul>
<p>Demikianlah beberapa contoh hadits yang shahih tentang kedatangan Imam Al-Mahdi. Bagi saudara yang ingin memperluas hadits-hadits lainnya, silahkan membaca kitab <em>Al-Idha’ah Lima Kana wa Maa Yakunu Baina Yadai As-Sa’ah</em> oleh Al-Allamah Shiddiq Hasan Khan dan <em>Al-Urful Wardi</em> oleh Imam As-Suyuthi. Wallahu A’lam.</p>
<p><strong>1. Haditsnya Mutawatir</strong></p>
<p>Melihat begitu banyaknya hadits tentang kedatangan Imam Mahdi, maka para pakar ilmu hadits menetapkan bahwa hadits-haditsnya mencapai derajat mutawatir, diantaranya adalah Imam Abul Hasan Al-Aaburri<a href="#_ftn6">[6]</a>, as-Sakhawi dalam <em>Fathul Mughits</em> 3/43, asy-Syaukani dalam <em>At-Taudhih fi Tawaturi Maa Jaa fil Muntadhar wad Dajjal wal Masih</em><a href="#_ftn7">[7]</a>, Shiddiq Hasan Khan dalam <em>al-Idha’ah</em> hal. 112, As-Saffarini dalam <em>Lawami’ Anwar</em> 2/84, Syaraful Haq Adzim Abadi dalam <em>Aunul Ma’bud</em> 11/243, al-Kattani dalam <em>Nadhmul Mutanatsir</em> hal. 147, al-Barazanji dalam <em>Al-Isya’ah li Asyrat As-Saa’ah</em> hal. 87, Muhammad Habibullah Asy-Syinqithi dalam <em>Al-Muqni’ Al-Muharrir</em> hal. 30, al-Albani dalam Majalah <em>Tamaddun Islami</em> 22/646 -sebagaimana dalam <em>Maqalat Al-Albani</em> hal. 110-, Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam <em>Majmu Fatawanya</em> 4/98-99, dll.</p>
<p><strong>2. Para Ulama Yang Menshahihkan</strong></p>
<p>Syaikh al-Albani dalam <em>ash-Shahihah</em> 4/41 menyebutkan lima belas nama ulama yang menshahihkan hadits-hadits-hadits tentang Mahdi, bahkan sebagian mereka menegaskan tentang kemutawatirannya. Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Ismail menulis sebuah kitab berjudul <em>“Al-Mahdi Haqiqah Laa Khurafah”</em><a href="#_ftn8">[8]</a>. Pada hal. 35-36 beliau menyebutkan daftar nama ulama yang menshahihkan hadits-hadits tentang Mahdi, baik para ulama dahulu maupun sekarang:</p>
<ol>
<li>al-Uqaili</li>
<li>al-Aburri</li>
<li>as-Suhaili</li>
<li>al-Khaththabi</li>
<li>al-Baihaqi</li>
<li>Ibnu Atsir</li>
<li>al-Haitsami</li>
<li>Ibnu Hibban</li>
<li>Ibnul Jauzi</li>
<li>al-Mundziri</li>
<li>Ibnu Taimiyyah</li>
<li>Ibnu Qayyim</li>
<li>adz-Dzahabi</li>
<li>Ibnu Katsir</li>
<li>Ibnul Arabi</li>
<li>ash-Shan’ani</li>
<li>al-Munawi</li>
<li>al-Mubarakfuri</li>
<li>Syamsul Haq Abadi</li>
<li>al-Haitami</li>
<li>al-Ajluni</li>
<li>az-Zurqani</li>
<li>Ibnu Hajar</li>
<li>ash-Shabban</li>
<li>Shiddiq Hasan Khan</li>
<li>as-Sindi</li>
<li>as-Suyuthi</li>
<li>Ali al-Qari</li>
<li>al-Kattani</li>
<li>abu Su’ud</li>
<li>abul Ala’ Iraqi</li>
<li>as-Sakhawi</li>
<li>as-Saffarini</li>
<li>al-Qasthalani</li>
<li>al-Bushiri</li>
<li>al-Kisymiri</li>
<li>Abdur Rahman asy-Syaibani</li>
<li>al-Qurthubi</li>
<li>asy-Syakani</li>
<li>as-Samruzi</li>
<li>Muhammad al-Faasi</li>
<li>Jalaluddin Yusuf</li>
<li>Abu Zaid al-Qasimi</li>
<li>Ahmad Syakir</li>
<li>Abu Abdir Rahman</li>
<li>al-Albani</li>
<li>Abdul Qadir al-Farisi</li>
<li>Muhammad Abu Syuhbah</li>
<li>al-Mar’I Hanbali</li>
<li>Humud at-Tuwaijiri</li>
<li>Muhammad Basyir as-Sahsawani</li>
<li>Abdul Aziz bin Baz</li>
<li>Abdul Qadir Salim</li>
<li>Muhammad Husain Makhluf</li>
<li>Habibullah as-Syinqithi</li>
<li>Sayyid Sabiq</li>
<li>Manshur Ali Nashif</li>
<li>Muhammad Amin as-Sinqithi</li>
<li>Dan masih banyak lagi lainnya.</li>
</ol>
<p>Barangsiapa yang mencoba untuk menyelisihi mereka, maka hendaknya meletakkan mereka dalam suatu timbangan kemudian meletakkan dirinya dalam timbangan, kemudian bercermin dengan keadilan . Semoga Allah merahmati seorang yang mengetahui kadar dirinya sendiri.</p>
<h3 style="text-align: center;">أُوْلَئِكَ آبَائِيْ فَجِئْنِيْ بِمِثْلِهِمْ</h3>
<h3 style="text-align: center;">إِذَا جَمَعَتْنَا يَا جَرِيْرُ الْمَجَامِعُ</h3>
<p style="text-align: center;"><em>Merekalah orang tuaku, maka datangkanlah padaku semisal mereka</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Apabila perkumpulan mengumpulkan kita wahai Jarir.</em><a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p><strong>3. Kesepakatan Ulama</strong></p>
<p>Berdasarkan dalil-dalil yang sangat jelas di atas, maka seluruh ulama terpercaya bersepakat bahwa turunnya Isa kelak di akhir zaman merupakan aqidah Islam yang wajib diimani oleh setiap muslim. Diantara para ulama yang menegaskan kesepakatan tersebut adalah Imam As-Saffarini.dalam <em>Lawami’ul Anwar</em> 2/84, kata beliau: “Iman terhadap kedatangan Mahdi merupakan kewajiban sebagaimana ditetapkan oleh ahli ilmu sehingga dikategorikan termasuk aqidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah”.</p>
<p><strong>4. Beberapa Kitab Khusus Tentang Al-Mahdi<a href="#_ftn10">[10]</a></strong></p>
<p>Begitu seriusnya masalah penting ini, maka sebagian peneliti hadits menulis secara khusus. Diantaranya:</p>
<ul>
<li><strong>Imam Abu Nuaim Al-Ashbahani</strong> <em>rahimahullah</em> menulis sebuah kitab berjudul <em>“Akhbar Al-Mahdi”</em> sebagaimana disebutkan Imam Suyuthi dalam <em>Al-Urful Wardi</em> 2/64 -Al-Hawi-.</li>
<li><strong>Al-Hafizh Ibnu Abi Khaitsamah</strong> <em>rahimahullah </em>mengumpulkan hadits-hadits tentang Al-Mahdi dalam sebuah kitab sebagaimana disebutkan Ibnu Khuldun dalam Muqaddimah <em>Tarikhnya</em> hal. 556.</li>
<li><strong>Al-Hafizh Jalaluddin Ash-Suyuthi</strong> <em>rahimahullah </em>dalam bukunya yang berjudul <em>“Al-Urful Wardi fi Akhbar Al-Mahdi”</em> telah dicetak bersama <em>Al-Hawi lil Fatawi</em> 2/57.</li>
<li><strong>Al-Hafizh Ibnu Katsir</strong> <em>rahimahullah </em>menulis risalah khusus tentang Al-Mahdi sebagaimana beliau sebutkan dalam kitabnya <em>An-Nihayah</em> 1/30.</li>
<li><strong>Syaikh Ali Al-Muttaqi Al-Hindi</strong> <em>rahimahullah </em>memiliki risalah khusus tentang Al-Mahdi sebagaimana disebutkan dalam kitab <em>Al-Isya’ah li Asyrat Sa’ah</em> hal. 121.</li>
<li><strong>Syaikh Mula Ali Al-Qari</strong> <em>rahimahullah </em>menulis kitab berjudul <em>“Al-Masyrab Al-Wardi fi Madzhab Al-Mahdi</em>” sebagaimana dalam Al-Isya’ah hal. 113.</li>
<li><strong>Al-Hafizh Asy-Syaukani</strong> <em>rahimahullah </em>dalam risalahnya <em>“At-Taudhih fi Tawaturi Maa Ja’a fi Al-Mahdi wa Dajjal wal Masih”.</em></li>
<li><strong>Al-Allamah Ash-Shan’ani</strong> <em>rahimahullah </em>dalam telah mengumpulkan hadits-hadits tentang kedatangan Al-Mahdi sebagaimana disebutkan Shiddiq Hasan Khan dalam <em>Al-Idha’ah</em> hal. 114</li>
<li><strong>Syaikh Abdul Alim Abdul Adzim</strong> <em>rahimahullah </em>menulis sebuah risalah <em>“Al-Ahadits Al-Waridhah fi Al-Mahdi fi Mizan Al-Jarh wa At-Ta’dil”</em>. Risalah ini adalah referensi yang paling luas tentang Al-Mahdi sebagaimana dikatakan oleh Al-Allamah Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad dalam Majalah <em>Al-Jami’ah Al-Islamiyyah</em> edisi 45 hal. 323.</li>
<li><strong>Syaikh Al-Allamah Abdul Muhsin Al-Abbad</strong> <em>rahimahullah </em>dalam risalahnya<em> “Aqidah Ahli Sunnah wal Atsar fi Al-Mahdi Al-Muntahdar”</em> dan <em>“Ar-Raddu ‘ala Man Kadzdzaba bil Ahadits As-Shahihah Al-Waridah fi Al-Mahdi”.</em> Dan keduannya telah tercetak.</li>
</ul>
<p>.</p>
<h5><span style="color: #ff6600;">SYUBHAT PENGKRITIK HADITS</span></h5>
<p>Sangat disayangkan sekali, aqidah mulia ini telah digugat oleh sebagain kalangan, diantaranya adalah <strong>Syaikh Muhammad Rasyid Ridha</strong> <em>rahimahullah </em>dalam <em>Tafsir Al-Manar</em> 9/499-504, <strong>Muhammad Farid Wajdi</strong> <em>rahimahullah </em>dalam Dairah <em>Ma’arif Al-Qarni Al-‘Isyrin</em> 10/480, <strong>Ahmad Amin</strong> <em>rahimahullah </em>dalam <em>Dhuha Islam</em> 3/237-241, <strong>Muhammad Al-Ghozali</strong> <em>rahimahullah </em>dalam <em>Musykilat fi Thariq Hayat Islamiyyah</em> hal. 139<a href="#_ftn11">[11]</a>, <strong>Ust. Umar Hubaisy</strong> <em>rahimahullah </em>dalam <em>Fatawa </em>hal. 334-335</p>
<p>Kesimpulan kritikan mereka sebagai berikut:</p>
<blockquote><p>1. Hadits-haditsnya tidak ada yang shahih</p>
<p>2. Ucapan Imam Ibnu Khuldun</p>
<p>3. Hadits-haditsnya karangan para politisi kelompok Syi’ah</p>
<p>4. Haditsnya tidak diriwayatkan Imam Bukhari Muslim</p>
<p>5. Haditsnya saling bertentangan</p>
<p>6. Membendung para pengaku Mahdi yang dusta</p>
<p>7. Menyebabkan manusia tidak berusaha</p></blockquote>
<p>.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>MENJAWAB SYUBHAT</strong></span></p>
<p>Sekarang kami mengajak para pembaca untuk mengikuti bersama kami sanggahan atas kritikan-kritikan tersebut:</p>
<p><strong>1. Hadits-haditsnya tidak ada yang shahih</strong></p>
<blockquote><p>Jawab: Siapakah yang mengatakan demikian?! Apakah mereka ahli hadits?! Ataukah ahli kalam dan filsafat yang tidak mengerti ilmu hadits?!! Tak perlu kita memperpanjang pembicaraan lagi, karena kami kira penjelasan di atas sudah cukup bagi pencari kebenaran<a href="#_ftn12">[12]</a>.</p></blockquote>
<p><strong>2. Ucapan Imam Ibnu Khuldun</strong></p>
<p>Seringkali para pengkritik berhujjah dengan keterangan Ibnu Khuldun dalam kitabnya yang masyhur itu dan menipu umat dengannya.</p>
<p><strong>Jawab:</strong> Alasan ini tidak bisa diterima karena dua sebab:</p>
<p><strong>Pertama</strong>: Ibnu Khuldun bukanlah ahli hadits. Oleh karena itulah para pakar hadits mengingkari dan membantah keterangannya tersebut. Diantaranya Al-Allamah Shiddiq Hasan Khan, beliau berkata setelah menukil ucapan Ibnu Khuldun: “Masalahnya tak seperti yang dia terangkan. Dan kebenaran lebih utama untuk diikuti”, Syaikh Adzim Abadi dan Al-Mubarakfuri mengatakan: “Dia jatuh dalam kesalahan dan jauh dari kebenaran”.<a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p><strong>Syaikh Al-Allamah Ahmad Syakir</strong> <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<blockquote><p>“<strong>Ibnu Khuldun</strong> tidak faham kaidah ahli hadits “Al-Jarh Muqaddam ‘ala Ta’dil” (Celaan lebih didahulukan daripada pujian). Seandainya dia mengetahui dan memahami kaidah tersebut, niscaya dia tidak akan berucap seperti ini. Atau mungkin dia tahu tetapi sengaja melemahkan hadits-hadits tentang Al-Mahdi karena situasi politik pada masanya”. Kemudian beliau menjelaskan bahwa keterangan Ibnu Khuldun banyak memuat kesalahan<a href="#_ftn14">[14]</a>”. <a href="#_ftn15">[15]</a></p></blockquote>
<p><strong>Syaikh Al-Albani</strong> <em>rahimahullah</em> juga berkata:</p>
<blockquote><p>“<strong>Ibnu Khuldun</strong> telah melakukan kesalahan yang amat fatal tatkala melemahkan kebanyakan hadits-hadits tentang Mahdi. Hal itu tak aneh, karena memang ilmu hadits bukanlah bidangnya”. <a href="#_ftn16">[16]</a></p></blockquote>
<p><strong>Kedua:</strong> Sekalipun <strong>Ibnu Khuldun</strong> menilai bahwa kebanyakan hadits tentang <strong>Mahdi</strong> adalah cacat, tetapi beliau tidak melemahkan semuanya. Perhatikan ucapan beliau usai memaparkannya: “Inilah beberapa hadits yang diriwayatkan oleh para imam tentang kedatangan <strong>Al-Mahdi</strong> di akhir zaman. Sebagaimana anda lihat sendiri tidak ada yang selamat dari cacat kecuali sedikit atau sedikit sekali”.<a href="#_ftn17">[17]</a></p>
<p>Oleh karena itulah Imam <strong>Muhammad Nasiruddin Al-Albani</strong> berkata dalam <em>Ash-Shahihah</em> 4/40: “Barangsiapa menisbatkan pada Ibnu Khuldun bahwa beliau melemahkan seluruh hadits tentang Al-Mahdi, sungguh dia telah berdusta baik lupa maupun sengaja”.<a href="#_ftn18">[18]</a></p>
<p><strong>3. Hadits-haditsnya karangan para politisi kelompok Syi’ah dan seluruh sanadnya tak luput dari seorang rawi Syi’ah.</strong></p>
<p><strong>Jawaban:</strong> Alasan ini sangat rapuh sekali karena:</p>
<p><strong>Pertama:</strong> Menyatakan secara mutlak seperti itu tidak benar dan hanya dugaan semata yang tidak ada buktinya karena empat hadits yang telah saya sebutkan di atas, tak ada seorang rawi-pun dalam sanadnya yang dikenal termasuk golongan Syi’ah. Benar, memang ada beberapa hadits tentang Mahdi yang dikarang oleh Syi’ah tetapi para ahli hadits telah menjelaskan secara detail dan terperinci tentangnya sehingga dapat terbedakan. “Adanya hadits-hadits tentang Mahdi yang palsu karena karangan politisi Syi’ah atau sejenisnya tidaklah berarti kita mengingkari hadits shahih tentang Mahdi” sebagaimana dikatakan oleh Ustadz Muhammad Hidhir Husain (Syaikh Al-Azhar dahulu).</p>
<p><strong>Kedua:</strong> Taruhlah memang semua hadits tentang Al-Mahdi tak luput dari rawi Syi’ah<a href="#_ftn19">[19]</a>, maka hal itu tidaklah merusak keabsahan hadits karena perselisihan madzhab bukanlah syarat absahnya suatu hadits sebagaimana diterangkan dalam kitab-kitab mustholah hadits. Oleh karenanya, Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dalam kitab shahihnya dari beberapa rawi Syi’ah dan kelompok-kelompok lainnya.<a href="#_ftn20">[20]</a></p>
<p><strong>4. Haditsnya tidak diriwayatkan Imam Bukhari Muslim</strong></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><strong>Pertama:</strong> Apakah hadits-hadits shahih hanya terhimpun dalam Shahih Bukhari dan Muslim saja?!! Tak ada satupun ulama yang mengatakan demikian, karena banyak juga hadits-hadits shahih yang terhimpun dalam kitab-kitab Sunan, Musnad, Mu’jam dan ensiklopedi hadits lainnya. Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata: “Sesunggunya Bukhari dan Muslim tidaklah mengeluarkan seluruh hadits shahih dalam kitabnya. Buktinya keduanya telah menshahihkan beberapa hadits dalam selain kitab shahihnya tersebut sebagaimana Tirmidzi dan lainnya menukil dari Bukhari bahwa beliau menshahihkan beberapa hadits yang tidak ada dalam kitab shahihnya, tetapi dalam kitab sunan”. <a href="#_ftn21">[21]</a></p>
<p><strong>Kedua:</strong> Sebenarnya dalam Shahih Bukhari Muslim ada beberapa hadits yang memberikan isyarat tentang <strong>Al-Mahdi</strong> seperti:</p>
<blockquote>
<h3 style="text-align: center;">عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا نَزَلَ ابْنُ مَرْيَمَ فِيْكُمْ وَإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ؟!</h3>
<p style="text-align: center;">Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> berkata: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda: “Bagaimana kalian apabila Isa bin Maryam turun pada kalian dan imam kalian dari kalian?!”. <a href="#_ftn22"><strong>[22]</strong></a></p>
</blockquote>
<blockquote>
<h3 style="text-align: center;">عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ يُقَاتِلُوْنَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِيْنَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. قَالَ: فَيَنْزِلُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ فَيَقُوْلُ أَمِيْرُهُمْ: تَعَالَ صَلِّ لَنَا. فَيَقُوْلُ: لاَ, إِنَّ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ أُمَرَاءُ, تَكْرِمَةُ اللهِ عَلَى هَذِهِ الأُمَّةِ</h3>
<p style="text-align: center;"><em>Dari Jabir bin Abdillah </em>radhiyallahu &#8216;anhu<em> berkata: Saya mendengar Rasulullah </em><em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em><em> bersabda: “Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang berperang di atas al-haq dan tegar (menang) hingga hari kiamat. Nabi </em><em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em><em> bersabda: “Maka Isa bin Maryam turun, lalu amir mereka mengatakan: Ayo, majulah menjadi imam shalat kami. Isa menjawab: Tidak, sesungguhnya sebagian kalian adalah pemimpin pada sebagian lainnya, kemulian Allah atas umat ini”.<a href="#_ftn23"><strong>[23]</strong></a></em></p>
</blockquote>
<p><strong>Al-Allamah Shiddiq Hasan Khan</strong> <em>rahimahullah</em> setelah membawakan beberapa hadits yang banyak sekali dalam kitabnya <em>Al-Idha’ah</em> hal. 144, beliau mengakhirinya dengan hadits Jabir di atas lalu berkomentar: “Memang benar dalam hadits ini tidak ada kata “Al-Mahdi” secara jelas, namun tidak ada maksud lain dari hadits ini dan hadits-hadits sejenisnya melainkan adalah Al-Mahdi yang dinanti-nanti sebagaimana dijelaskan dalam beberapa hadits dan atsar yang banyak sekali”.</p>
<p>Hal tersebut karena “hadits itu saling menafsirkan satu sama lainnya”. Diantara hadits yang menjelaskannya adalah sebagai berikut:</p>
<blockquote>
<h3 style="text-align: center;">عَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: يَنْزِلُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ فَيَقُوْلُ أَمِيْرُهُمْ الْمَهْدِيْ: تَعَالَ صَلِّ لَنَا. فَيَقُوْلُ: لاَ, إِنَّ بَعْضَهُمْ أَمِيْرُ بَعْضٍ, تَكْرِمَةُ اللهِ هَذِهِ الأُمَّةَ</h3>
<p style="text-align: center;">Dari Jabir <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> berkata: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda: “Tatkala Isa bin Maryam turun, amir mereka Al-Mahdi mengatakan: Kemarilah, imami kami dalam shalat. Isa menjawab: Tidak, sesungguhnya sebagian mereka adalah pemimpin atas lainnya, kemulian Allah pada umat ini”. <a href="#_ftn24">[24]</a></p>
</blockquote>
<p><strong>5. Haditsnya saling bertentangan</strong></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Anggapan ini tertolak karena Ta’arudh (kontradiksi) antara hadits barulah dianggap kalau memang haditsnya sama-sama shahih, tetapi kalau yang satu shahih dan satunya dha’if maka jelas tidak dianggap sebagaimana diketahui oleh setiap orang yang belajar ilmu hadits. Sebagai contoh hadits dari Ummu Salamah di atas: “<strong>Al-Mahdi</strong> adalah dari keturunanku dari anak keturunan<strong> Fathimah</strong>”. Dengan hadits <strong>Utsman bin Affan</strong> secara marfu’:</p>
<blockquote>
<h3 style="text-align: center;">الْمَهْدِيْ مِنْ وَلَدِ الْعَبَّاسِ عَمِّيْ</h3>
<p style="text-align: center;">Al-Mahdi dari keturunan anak Abbas, pamanku.</p>
</blockquote>
<ul>
<li>Bagaimana bisa dipertentangkan, sedangkan hadits Ummu Salamah sanadnya shahih dengan hadits maudhu’ yang diriwayatkan Imam Daruqutni dalam <em>Al-Afrad</em> no. 26, Ad-Dailami 4/84 dan Ibnu Jauzi dalam <em>Al-Wahiyat</em>: 1431 dan pada sanadnya tedapat rawi bernama Muhammad bin Walid Al-Qurasyi, sedangkan dia pendusta.<a href="#_ftn25">[25]</a></li>
</ul>
<ul>
<li>Jadi anggapan kontradiksi tersebut hanyalah muncul dari hadits-hadits yang tidak shahih tentang Mahdi. Sedangkan hadits-hadits yang shahih, maka tiada kontradiksi sedikitpun.</li>
</ul>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>6. Membendung para pengaku Mahdi yang dusta</strong></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><strong>Pertama:</strong> Sesungguhnya <strong>Imam Mahdi</strong> yang dikhabarkan oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memiliki ciri-ciri yang jelas sebagaimana penjelasan dalam hadits-hadits di atas seperti keluar di akhir zaman, laki-laki, keturunan ahli bait, namanya Muhammad bin Abdullah, berdahi lebar, berhidung mancung, menegakkan agama dan keadilan, dermawan dan shalih, mengimami Isa bin Maryam dalam shalat. Dengan demikian, apabila ada yang mengaku Mahdi sedangkan tidak sesuai dengan ciri-ciri tersebut, maka berarti dia adalah pendusta.</p>
<p><strong>Kedua:</strong> Para ulama telah membantah para pengaku Mahdi dusta tersebut<a href="#_ftn26">[26]</a>.  Jadi, benar kami setuju dengan kalian dalam mengingkari para pengaku Mahdi secara dusta seperti<strong> Juhaiman</strong> (Saudi Arabia) seperti halnya <strong>Mirza Ghulam Ahmad Al-Qadiyani</strong>, seorang dajjal India<a href="#_ftn27">[27]</a> yang mengaku sebagai Nabi Isa lalu mengaku sebagai Nabi. Namun seperti inikah cara kita membendung para pendusta tersebut?!! Apakah kita mengingkari aqidah yang shahih hanya karena adanya pengaku dusta tersebut?!! Kalau demikian caranya, kita akan bertabrakan dengan kaidah kita sendiri. Coba fikirkan, apa kita juga akan mengingkari adanya ilmu dan ulama karena adanya orang-orang bodoh yang mengaku sok berilmu?!! Dan apabila ada sebagian yang mengaku sebagai Tuhan seperti Fir’aun dan Dajjal, apakah cara membendungnya dengan mengingkari adanya Tuhan?!! Tidak, sekali-kali tidak!! Demikian pula kita beriman tentang Imam Mahdi yang hakiki dan mendustakan para pengaku Mahdi yang palsu.</p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>7. Menyebabkan manusia tidak berusaha</strong></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<blockquote><p>Kami sependapat dengan kalian dalam mengingkari pemahaman keliru dan khurafat Syetan ini, karena tidak ada keterangan sedikitpun dalam hadits-hadits Mahdi yang mengisyaratkan bahwa kejayaan Islam tidak mungkin digapai sebelum datangnya Mahdi. Namun kalau memang ada sebagian kalangan yang berpemaham keliru seperti itu, apakah caranya dengan mengingkari hadits-hadits shahih tentang Mahdi ataukah dengan memahamkan kepada mereka bahwa faham tersebut keliru tanpa mengingkari hadits shahih tentang Mahdi?!! Tak ragu lagi bahwa cara kedua ini yang benar. <a href="#_ftn28">[28]</a></p></blockquote>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kesimpulan:</strong></span></p>
<blockquote><p>Sesungguhnya keyakinan datangnya Imam Mahdi termasuk aqidah yang ditetapkan dalam hadits-hadits mutawatir yang wajib bagi setiap muslim untuk mengimaninya karena hal itu termasuk perkara ghaib<a href="#_ftn29">[29]</a>, sedangkan beriman dengan ghaib adalah sifat orang-orang yang beriman sebagaimana firman Allah:</p>
<h3 style="text-align: center;">ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ ِفيهِ هُدَى لِلْمُتَّقِينَ . الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ</h3>
<p style="text-align: center;"><em>Kitab (Al-Quraan) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.</em> (QS. Al-Baqarah: 2-3).</p>
<p>Dan tidak ada yang mengingkari aqidah ini kecuali orang yang jahil atau sombong. Saya memohon kepada Allah agar mewafatkan kita dalam beriman terhadapnya serta aqidah-aqidah shahih lainnya.<a href="#_ftn30">[30]</a></p></blockquote>
<p>.</p>
<p style="text-align: right;"><em>Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>(abiubaidah.com)<br />
</em></p>
<hr size="1" />
<p style="text-align: center;"><a href="#_ftnref1">[1]</a> Seperti ditegaskan oleh Ahmad Amin dalam <em>Dhuha Islam</em> 3/24.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> <em>ar-Risalah Qusyairiyyah</em> hal. 57, <em>ad-Da’ wa Dawa’</em> Ibnu Qayyim hal. 155.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Lihat <em>Ash-Shahihah</em> no. 2371.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a>. Dan orang yang meriwayatkan dari Abu Ash-Shddiq banyak sekali, bahkan Al-Albani mengatakan: “Menurut saya hadits ini mutawatir dari Abu Ash-Shiddiq dari Abu Said Al-Khudri. Dan yang paling shahih adalah dua jalur:</p>
<p>Pertama: Auf bin Abu Jamilah. Riwayat Ahmad 3/36, Ibnu Hibban: 1880, Al-Hakim 4/557 dan Abu Nuaim dalam <em>Al-Hilyah</em> 3/101. Al-Hakim berkata: “Shahih menurut syarat Bukhari Muslim” Dan disetujui Adz-Dzahabi dan memang seperti itu.</p>
<p>Kedua: Sulaiman bin Ubaid. Riwayat Al-Hakim 4/557-558 dan berkata: “Sanadnya shahih”. Dan disetujui Adz-Dzahabi dan Ibnu Khuldun. (Lihat <em>Ash-Shahihah</em> 4/40, 2/328).</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> <em>Silsilah Adh-Dha’ifah</em> al-Albani 1/181.</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Nama lengkapnya adalah Abul Hasan Muhammad bin Husain bin Ibrahim bin Ashim as-Sijistani al-Aaburriy. Beliau adalah ahli hadits besar Sijistan setelah Ibnu Hibban dan murid Imam Ibnu Khuzaimah. (Lihat <em>Siyar </em>16/299 dan <em>Tadzkirah Huffadz</em> 3/954 oleh adz-Dzahabi). Ucapan beliau ini banyak dinukil dan direstui oleh para ulama seperti Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam <em>Fathul Bari</em> 6/493-494, As-Suyuthi dalam <em>Al-Urful Wardi</em> hal. 81, 83, 84, Al-Kattani dalam <em>Nadhmul Mutanatsir</em> hal. 228 dan Al-Albani dalam <em>As-Shahihah</em> 5/372/2293.</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Sebagaimana dinukil oleh al-Kattani dalam <em>Nadhmul Mutanatsir</em> hal. 241 dan Al-Azhim Abadi dalam <em>Aunul Ma&#8217;bud</em> 11/308.</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Sebagaimana dinukil oleh Syaikh Asyraf Abdul Maqshud dalam kitabnya <em>Jinayah Syaikh al-Ghozali Ala Hadits wa Ahlihi</em> hal. 306-308</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> <em>Diwan Farazdaq </em>1/418 dan <em>Al-</em><em>Iidhah fi Ulum Balaghah, </em>Al-Khathib al-Qazwini 1/46. Ini adalah ucapan Farazdaq kepada Jarir bin &#8216;Athiyah al-Khathafi, keduanya adalah penyair ulung yang saling bersaing dan menjatuhkan sehingga dikumpulkan oleh Abu Ubaidah Ma&#8217;mar bin Mutsanna al-Bashri perdebatan mereka dalam kitabnya berjudul <em>Naqaidh Jarir wal Farazdaq</em>, cet Dar Kutub Ilmiyyah. Lihat pula <em>Asy-Syi&#8217;ru wa Asyu&#8217;ara</em> hal. 309-314 oleh Ibnu Qutaibah.</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Lihat <em>Asyrat As-Sa’ah</em> hal. 263 oleh Syaikh Yusuf Al-Waabil, <em>Aqidah Ahli Sunnah wal Atsar fi Al-Mahdi Al-Muntadhar</em> hal. 166-168 oleh Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad dan buku <em>“Menunggu Kedatangan Imam Mahdi, Dajjal, Nabi Isa”</em> oleh Abdul Latif Asyur.</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> <em>Lihat Asyrat As-Saa’ah</em> hal. 265-266 oleh Syaikh Yusuf al-Wabil dan <em>As-Shahihah</em> 4/42 oleh Al-Albani.</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> Lihat <em>ash-Shahihah</em> al-Albani 4/42, <em>Al-Adillah wa Syawahid</em> Salim al-Hilali hal. 113)</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> <em>Aunul Ma’bud</em> 11/243 dan <em>Tuhfatul Ahwadzi</em> 6/402</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a>. Dan Syaikh Ahmad bin Shiddiq Al-Ghumari memiliki kitab yang menjelaskan tentang kesalahan-kesalahan Ibnu Khuldun tentang hadits Mahdi dengan judul <em>“Ar-Raddu Ala Tawahhumi Ibnu Khuldun”.</em> Sebagaimana dalam buku <em>“Menunggu Kedatangan Imam Mahdi, Dajjal, Nabi Isa”</em> oleh Abdul Latif Asyur cet. Darul Nu’man, Kuala Lumpur.</p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> <em>Syarhul Musnad</em> 5/197-198.</p>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> <em>Takhrij Ahadits Fadhail Syam</em>: 45 cet. Mkt Al-Ma’arif.</p>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> Muqaddimah Tarikh Ibnu Khuldun 1/574.</p>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> Lihat pula bantahan menarik  Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad dalam risalahnya <em>Aqidah Ahli Sunnah wal Atsar</em> hal. 210-214</p>
<p><a href="#_ftnref19">[19]</a> Pelu diketahui bahwa Syi’ah dahulu hanya sekedar mengkritk atau melecehkan Utsman bin Affan, Mua’wiyah bin Abu Sufyan, Zubair bin Awam Thalhah dan lain sebagainya tetapi tetap jujur dan bagus hafalannya. (Lihat <em>Mizanul I’tidal</em> 1/118-119 –Biografi Abaan bin Taghlib- oleh Adz-Dzahabi dan <em>Al-Baits Hatsits</em> 1/304 oleh Syaikh Ahmad Syakir).</p>
<p><a href="#_ftnref20">[20]</a> Lihat <em>Hadyu Saari</em> hal. 459 oleh Ibnu Hajar, <em>Tsamarat Nadhar</em> hal. 86-93 oleh Ash-Shan’ani, <em>Al-Baits Hatsits</em> 1/303 Ahmad Syakir, <em>As-Shahihah</em> no. 396 Al-Albani.</p>
<p><a href="#_ftnref21">[21]</a> <em>Al-Baits Al-Hatsits</em> 1/106.</p>
<p><a href="#_ftnref22">[22]</a> HR. Bukhari 2449 Muslim 155.</p>
<p><a href="#_ftnref23">[23]</a> HR. Muslim 156</p>
<p><a href="#_ftnref24">[24]</a> HR. Harits bin Abu Usamah dalam Musnadnya. Ibnu Qayyim berkata dalam Al-Manar Al-Munif hal. 147-148: “Sanadnya jayyid (bagus)”. Dan disetujui oleh Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad dalam risalahnya “Al-Mahdi” dan Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 2236).</p>
<p><a href="#_ftnref25">[25]</a> <em>Silsilah adh-Dhaifah</em> no. 80</p>
<p><a href="#_ftnref26">[26]</a> Dalam Majalah <em>Buhuts Islamiyyah</em> edisi Rajab 1417 H ada sebuah makalah menarik tentang sejarah para pengaku Mahdi.</p>
<p><a href="#_ftnref27">[27]</a> Supaya diketahui saja bahwa yang menggelari seperti ini adalah Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani. (Lihat <em>Ash-Shahihah</em> 4/252/1683 dan <em>Maqalat Al-Albani</em> hal. 110 oleh Nuruddin Thalib).</p>
<p><a href="#_ftnref28">[28]</a> Lihat <em>ash-Shahihah</em> 4/42).</p>
<p><a href="#_ftnref29">[29]</a> Anehnya, dalam Majalah Al-Qudwah edisi 53 Jumadits Tsaniyah 1425 H/2004 M hal. 24-29 mencantumkan sebuah artikel dari Majlis Muthala’ah Dewan Asatidzah Tahdzibul Washiyyah yang menyimpulkan sebuah kesimpulan yang salah fatal, dimana mereka mengatakan: “Semua hadits Mahdi adalah palsu”. “Berita munculnya Imam Mahdi adalah tahayyul dan mempercayainya adalah musyrik”. Hanya kepada Allah-lah kita mengadu atas merajalelanya kajahilan dan kesombongan!! (Lihat Majalah Al Furqon edisi 1/Th. V Rubrik Soal Jawab). Kesimpulan serupa juga dilontarkan oleh Syaikh Abdullah bin Zaid dalam kitabnya <em>La Mahdi Ba’da Isa</em>, yang telah dibantah oleh dua alim besar, Syaikh Humud at-Tuwaijiri dalam kitabnya <em>Al-Ihtijaj bil Atsar ‘ala Man Kadzdzaba al-Mahdi al-Muntadzar,</em> dan Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad dalam kitabnya <em>Ar-Radd Ala Man Kadzdzaba bil Ahadits Ash-Shahihah fil Mahdi</em>. Semoga Allah membalas kebaikan beliau berdua.</p>
<p><a href="#_ftnref30">[30]</a> Majalah <em>At-Tamaddun Al-Islami</em> 22/642-646 sebagaimana dalam <em>Maqalat Al-Albani</em> hal. 110</p>
<p class="MsoTitle" style="text-align: center; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"><span lang="EN-US">TURUNNYA ISA BIN MARYAM</span></p>
<h1><strong><span lang="EN-US">DI AKHIR ZAMAN</span></strong></h1>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Merupakan kewajiban bagi setiap muslim adalah beriman terhadap setiap hadits yang telah shahih dari Nabi, karena pada hakekatnya hadits juga merupakan wahyu dari Allah. Allah berfirman:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><em><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.</span></em><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US"> (QS. An-Najm: 3-4)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US"> Imam Ibnu Qudamah berkata: “Kita harus beriman terhadap setiap apa yang diinformasikan oleh Nabi dan shahih penukilan tersebut, baik dijangkau oleh akal kita maupun tidak, kita harus percaya bahwa bahwa itu benar adanya sekalipun kita tidak mengetahui hakekatnya seperti hadits tentang Isra’ Mi’raj yang terjadi saat sadar bukan dalam tidur, karena kaum kuffar Quraish mengingkarinya sedangkan mereka tidak mengingkari mimpi. Demikian pula hadits yang menceritakan bahwa Malaikat pencabut nyawa pernah dating kepada Nabi Musa untuk mencabut nyawanya, lalu Musa memukulnya sehingga merusak matanya, kemudian Malaikat kembali kepada Allah sehingga dikembalikan lagi matanya. Termasuk diantaranya juga hadits-hadits yang berkaitan tentang tanda-tanda dekatnya hari kiamat seperti keluarnya Dajjal, turunnya Isa bin Maryam untuk membunuhnya, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, keluarnya hewan aneh, terbitnya matahari dari barat dan hadits-hadits shahih lainnya yang shahih”.</span><a name="_ftnref1" href="#_ftn1"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[1]</span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US"> Pembahasan kita kali ini adalah tentang hadits turunnya Isa bin Maryam ke dunia di akhir zaman, yang oleh sementara kalangan dianggap sebagai hadits yang tidak terpakai. Kita berharap dengan tulisan agar kiranya dapat menambah keimanan kita dan menghilangkan segala keraguan yang mungkin pernah melekat pada diri kita. </span></p>
<p class="MsoNormal">
<h4 style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"><span lang="EN-US">A.</span> <span lang="EN-US">TEKS HADITS</span></h4>
<h6 style="text-align: justify;"><span style="font-family: &amp;amp;" lang="AR-SA">عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ </span><span style="font-family: Islamic_; font-weight: normal;" lang="EN-US">a</span> <span style="font-family: &amp;amp;" lang="AR-SA"> يَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ </span><span style="font-family: Islamic_; font-weight: normal;" lang="EN-US">n</span> <span style="font-family: &amp;amp;" lang="AR-SA"> : وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَيُوْشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيْكُمْ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا مُقْسِطًا فَيَكْسِرُ الصَّلِيْبَ وَيَقْتُلُ الْخِنْزِيْرَ وَيَضَعُ الْجِزْيَةَ وَيَفِيْضُ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ</span></h6>
<h6 style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"><em><span style="font-size: 11pt; font-weight: normal;" lang="EN-US">Dari Abu Hurairah </span></em><span style="font-size: 11pt; font-family: Islamic_; font-weight: normal;" lang="EN-US">a</span><em><span style="font-size: 11pt; font-weight: normal;" lang="EN-US"> berkata: Rasulullah </span></em><span style="font-size: 11pt; font-family: Islamic_; font-weight: normal;" lang="EN-US">n</span><em><span style="font-size: 11pt; font-weight: normal;" lang="EN-US"> bersabda: Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh pasti akan turun pada kalian Ibnu Maryam sebagai hakim yang adil lalu dia menghancurkan salib, membunuh babi dan membebaskan pajak serta harta begitu melimpah sehingga tak ada seorangpun yang mau menerimanya”. </span></em><a name="_ftnref2" href="#_ftn2"></a><span class="MsoFootnoteReference"><em><span style="font-weight: normal;" lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[2]</span></strong></span></span></em></span></h6>
<p class="MsoNormal">
<h4 style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"><span lang="EN-US">B.</span> <span lang="EN-US">TAKHRIJ HADITS</span></h4>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Karena haditsnya mutawatir dan diriwayatkan dari sekian banyak sahabat, maka sangatlah berat kalau kita turunkan semuanya. Oleh karenanya, cukuplah kiranya kita tampilkan saja daftar sahabat yang meriwayatkan hadits tentang turunnya Isa bin Maryam serta ahli hadits yang mencatatnya dalam kitab-kitab mereka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">a. Daftar Nama Sahabat </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Abu Hurairah, Abdullah bin Amr, Jabir bin Abdullah, Nawwas bin Sam’an, Abu Umamah al-Bahili, Abdullah bin Umar, Mujammi’ bin Jariyah, Aisyah, Hudzaifah bin Asid, Utsamn bin Abu ‘Ash, Samurah bin Jundub, Abu Sa’id al-Khudri, Abdullah bin Mas’ud, Hudzaifah bin Yaman, Anas bin Malik, Abdullah bin Mughaffal, Safinah, Abu Bakrah, Auf bin Aus, Nafi’ bin ‘Albah, Tsauban, Kaisan, Ibnu Abbas.</span><a name="_ftnref3" href="#_ftn3"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[3]</span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">b. Daftar Nama Periwayat Hadits</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Hampir tidak ada penyusun kitab hadits kecuali mencatat hadits tentang turunnya Isa bin Maryam di akhir zaman. Diantaranya adalah Imam Bukhari, Muslim, Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dalam at-Tauhid, Ibnu Hibban dalam Shahihnya, al-Hakim dalam <em>al-Mustadrak</em>, Abu Awanah dalam <em>al-Mustakhraj</em>, al-Isma’ili dalam <em>al-Mustakhraj</em>, adh-Dhiya’ al-Maqdisi dalam <em>al-Mukhtarah</em>, ath-Thayyalisi dalam Musnadnya, Ishaq bin Rahawaih dalam Musnadnya, Ibnu Abi Syaibah dalam <em>al-Mushannaf</em>, Abu Ya’la dalam Musnadnya, al-Bazzar dalam Musnadnya, ad-Dailami dalam Musnadnya, ath-Thabrani dalam <em>Mu’jam Kabir</em> dan <em>al-Ausath</em>, al-Ajurri dalam <em>asy-Syari’ah</em>, al-Baghawi dalam <em>Syarh Sunnah</em>, Ibnu Abi Ashim dalam <em>al-Ahad wal Matsani</em>, al-Ashbahani, Ibnu Mardawaih, Abdu bin Humaid dalam <em>al-Muntakhab</em>, al-Baihaqi dalam <em>Sunan Kubra</em>, <em>Asma’ wa Sifat</em>, dan <em>al-Ba’ts wa Nusyur</em>, Ibnu Asakair dalam <em>Tarikh Dimsyaq</em>, ath-Thahawi, Said bin Manshur, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, ad-Daruquthni, al-Khathib al-Baghdadi, Ibnu Hazm dalam <em>al-Muhalla</em>, Ibnu Mandah dalam <em>al-Iman</em>, Abu ‘Amr ad-Dani dalam <em>al-Fitan,</em> Abdur Razzaq dalam <em>al-Mushannaf</em>, Hanbal bin Ishaq dalam <em>al-Fitan</em>, Ibnu Jarir dalam Tafsirnya, Ibnu Adi dalam <em>al-Kamil</em>, Ibnu A’rabi dalam <em>Mu’jamnya</em> dan lain sebagainya banyak sekali.</span><a name="_ftnref4" href="#_ftn4"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[4]</span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">c. Haditsnya Mutawatir</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Melihat begitu banyaknya hadits tentang turunnya Isa bin Maryam, maka para pakar ilmu hadits menetapkan bahwa hadits-haditsnya mencapai derajat mutawatir, diantaranya adalah Imam At-Thabari dalam <em>Jami’ul Bayan</em> 3/291, Ibnu Katsir dalam Tafsirnya 2/566, asy-Syaukani dalam risalahnya <em>“At-Taudhih”,</em> Shiddiq Hasan Khon dalam <em>Al-Idha’ah</em> hal. 160, Al-Kattani dalam <em>Nadhmul Mutanatsir</em> hal. 147, Syaraful Haq Azhim Abadi dalam <em>Aunul Ma’bud</em> 11/307, Syaikh Ahmad Syakir dalam <em>Syarhul Musnad</em> 7/98-99 dan 8/20, Syaikh Al-Albani dalam Ta’liq <em>Syarah Aqidah Thohawiyyah</em> hal. 501, Asy-Syanqithi dalam <em>Adhwaul Bayan</em> 7/128, 130, 136, Komisi Fatwa Saudi Arabia yang diketuai Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam <em>Fatawa Lajnah Daimah</em> 3/307, Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam <em>Majmu Fatawanya</em> 1/453, Syaikh Muhammad Anwar Syah al-Kisymiri dalam kitabnya <em>At-Tashrih bima Tawatara fi Nuzuli Masih</em>, Syaikh Abdullah al-Ghumari dalam <em>Aqidah Ahli Islam fi Nuzuli Isa Alaihi Salam</em> hal. 5, Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i dalam <em>Rudud Ahli Ilmu</em> hal. 25 dan lain sebagainya.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.05pt;"><span lang="EN-US">Abu Ubaidah -semoga Allah memberkahinya- bekata: Demikianlah ketegasan para peneliti hadits. Apabila hadits tentang turunnya Isa bin Maryam tidak mutawatir, maka tidak ada contoh hadits mutawatir di dunia hadits selama-lamanya!!.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">d. Para Ulama Yang Menshahihkan</span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span lang="EN-US">Disamping para ulama yang menegaskan haditsnya mutawatir akan saya sebutkan pula beberapa ulama yang menegaskan keabsahan haditsnya dengan kata-kata yang indah dan mantap sekalipun tidak secara tegas menetapkan mutawatir. Diantaranya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">a.</span> <span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Imam Ibnu Abdil Barr berkata dalam <em>At-Tamhid</em> 5/440: “Dan dalil tentang kebenaran pendapat ini (masih hidupnya Isa sekarang) adalah hadits-hadits shahih dari Nabi </span><span style="font-size: 11pt; font-family: Islamic_;" lang="EN-US">n</span><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US"> bahwa Isa akan turun, membunuh Dajjal, menunaikan haji yang diriwayatkan dengan sanad-sanad yang tiada cacat padanya”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">b.</span> <span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam <em>Majmu’ Fatawa</em> 4/329: “Adapun Al-Masih (Isa), dia pasti akan turun ke bumi di atas menara putih sebelah timur Damaskus untuk membunuh Dajjal, menghancurkan salib dan membunuh babi sebagaimana telah tetap dalam hadits-hadits yang shahih. Oleh karenanya, beliau berada di langit kedua padahal beliau lebih utama daripada Yusuf, Idris dan Harun karena memang dia mau turun ke bumi sebelum tiba hari kiamat, berbeda halnya dengan para nabi lainnya”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">c.</span> <span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Al-Hafizh Al-Hatsami berkata dalam <em>Bahrul Fawaid</em>: “Tentang turunnya Isa telah shahih dari sejumlah hadits yang banyak sekali. Diriwayatkan oleh para imam yang terpercaya dan tidak ada yang menolaknya kecuali orang yang sombong dan penyimpang”. </span><a name="_ftnref5" href="#_ftn5"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[5]</span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">e. Kesepakatan Ulama</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Berdasarkan dalil-dalil yang sangat jelas di atas, maka seluruh ulama terpercaya bersepakat bahwa turunnya Isa kelak di akhir zaman merupakan aqidah Islam yang wajib diimani oleh setiap muslim. Tidak ada yang mengingkarinya kecuali para ahli filsafat dan penyimpang agama yang sesat, menyesatkan dan menyelisihi Al-Qur’an, hadits dan kesepakatan ahli sunnah”. Demikian ditegaskan oleh As-Saffarini dalam <em>Lawami’ Anwar</em> 2/94-95 dan Syaikh Syaraful Haq Adzim Abadi dalam <em>Aunul Ma’bud</em> 11/312.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">f. <strong>Beberapa Kitab Khusus Berkaitan Turunnya Isa bin Maryam</strong></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt;"><span lang="EN-US">Begitu seriusnya masalah penting ini, maka sebagian peneliti hadits menulis secara khusus. Diantaranya:</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span lang="EN-US">a. Imam Jalaluddin Ash-Suyuthi dalam bukunya yang berjudul <em>“Nuzul Isa bin Maryam Akhir Zaman”.</em> Buku ini telah dicetak Darul Kutub Ilmiyyah, Bairut dengan editor Muhammad Abdul Qadir Atha. Dalam kitab ini, beliau menyebutkan beberapa hadits. Pada hal. 22, beliau menegaskan bahwa turunnya Isa bin Maryam dengan menegakkan hukum Islam didukung oleh hadits-hadits yang shahih dan kesepakatan ulama. Pada hal. 53-54, beliau membantah syubhat dan takwil sebagian kalangan seraya menegaskan bahwa pengingkaran turunnya Isa merupakan bentuk kekufuran. Pada hal. 56, beliau menceritakan bahwa ada sebagian orang yang mengingakari bahwa Isa shalat shubuh di belakang Al-Mahdi, bahkan mengarang tulisan khusus tentangnya. Imam Suyuthi membantahnya: “Ini sangat lucu sekali, karena shalatnya Isa di belakang Mahdi ditegaskan dalam hadits-hadits yang shahih (lalu memaparkannya)”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">b. Al-Hafizh Asy-Syaukani dalam risalahnya <em>“At-Taudhih fi Tawaturi Maa Ja’a fi Al-Mahdi wa Dajjal wal Masih</em></span><a name="_ftnref6" href="#_ftn6"></a><span class="MsoFootnoteReference"><em><span lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[6]</span></strong></span></span></em></span><em><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">”</span></em><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">. Dalam buku ini, beliau memaparkan sebanyak dua puluh sembilan hadits, kemudian beliau memaparkan dan menyimpulkan: “Seluruh hadits yang saya paparkan di atas mencapai derajat mutawatir sebagaimana tidak samar lagi bagi para peneliti (ilmu hadits)”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">c. Syaikh Muhammad Anwar Al-Kisymiri Al-Hindi (Wafat Th. 1352 H) dalam bukunya yang berjudul <em>“At-Tashrih Bimaa Tawatara fi Nuzul Al-Masih”</em>. Buku ini telah tercetak dengan editor Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah. Dalam bukunya ini, beliau mengumpulkan hadits-hadits tentang turunnya Isa sehingga mencapai sebanyak tujuh puluh hadits lebih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">d</span><a name="_ftnref7" href="#_ftn7"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[7]</span></span></span></span><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">. Syaikh Abul Fadhl Abdullah Muhammad As-Shiddiq Al-Ghumari menulis sebuah risalah berjudul <em>“Aqidah Ahli Islam fi Nuzul Isa Alaihi Salam”.</em> Buku ini telah dicetak dan diterbitkan Maktabah Al-Qahirah. Dalam kitab ini, dia menyebutkan para sahabat yang meriwayatkan hadits turunnya Isa bin Maryam sehingga mencapai lebih dari dua puluh lima sahabat dari tiga puluh lebih tabi’in. Pada hal. 5 dia menegaskan: “Tidak ada secuil keraguanpun tentang mutawatirnya hadits tentang turunnya Isa bin Maryam. Tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang-orang yang jahil dan dungu seperti kelompok Al-Qodiyaniyyah (Baca: Ahmadiyyah -pent) dan orang-orang yang sealiran dengan mereka, sebab telah dinukil dari jalan yang begitu banyak sekali sehingga tetap dalam kitab-kitab hadits secara mutawatir dari generasi ke generasi selanjutnya”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Pada hal. 12 dia menegaskan: “Sungguh telah shahih keyakinan tentang turunnya Isa dari sejumlah sahabat, tabi’in, tabi’ tabi’in, para imam dan seluruh ulama dari berbagai madzhab sepanjang masa hingga hari ini”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">e. Syaikh Al-Allamah Al-Muhaddits Muhammad Nasiruddin Al-Albani dalam risalahnya yang berjudul <em>“Qisshah Al-Masih Dajjal wa Nuzul Isa…”</em> Dalam kitab ini, beliau memaparkan hadits-hadits tentang keluarnya Dajjal dan turunnya Isa dari empat puluh sahabat. Pada hal. 24-25 beliau mengatakan: “Cukuplah akan hal itu kesepakatan para ulama pakar ahli hadits tentang mutawatirnya hadits Dajjal dan turunnya Isa dari langit seperti Al-Hafizh Ibnu Katsir</span><a name="_ftnref8" href="#_ftn8"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[8]</span></span></span></span><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">, Ibnu Hajar</span><a name="_ftnref9" href="#_ftn9"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[9]</span></span></span></span><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US"> dan selainnya, bahkan Imam As-Syaukani menulis sebuah risalah khusus berjudul <em>“At-Taudhih fi Tawaturi Maa Ja’a fi Al-Mahdi wa Dajjal wal Masih”.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<h5><span lang="EN-US">C.</span> <span lang="EN-US">SYUBHAT PENGKRITIK HADITS</span></h5>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Sementara sebagian kalangan menghujat hadits-hadits tersebut hanya bertelakan pada berbagai alasan yang sangat kropos sekali. Diantaranya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">1. Syaikh Mahmuad Syaltut</span><a name="_ftnref10" href="#_ftn10"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[10]</span></span></span></span><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US"> berpendapat bahwa hadits-hadits yang meriwayatkan tentang turunnya Nabi Isa mudhtharib (goncang). Dan juga hadits-hadits tersebut derajatnya Ahad, sedang masalah aqidah ditetapkan berdasarkan nash qath’I seperti ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits mutawatir</span><a name="_ftnref11" href="#_ftn11"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[11]</span></span></span></span><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">2. Prof. KH. Hasbullah Bakri, SH. Dalam bukunya “Nabi Isa dalam Al-Qur’an dan Nabi Muhammad dalam Biybel. Diantara pendapatnya ialah: Hadits Bukhari dari Abu Hurairah tentang akan turunnya Nabi, walaupun dinyatakan shahih tetapi bertentangan dengan ayat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa Nabi Isa telah wafat. Tambahan lagi hadits ini bersumber dari Abu Hurairah yang kecerdasannya kurang tinggi sedang isinya mengandung persoalan historis yang tinggi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">3. Dr. Quraish Shihab mengatakan bahwa ada ulama yang menyatakan “Isa as masih hidup di langit” bukanlah suatu kewajiban untuk mempercayainya. Serta beberapa hadits yang berkaitan dengan kenaikan Isa Al-Masih dan akan turun kelak menjelang kiamat. Hadits-hadits tersebut kesemuanya bermuara pada dua orang saja, yang keduanya bekas penganut agama Kristen, yaitu Ka’ab Al-Akhbar dan Wahb bin Munabbih (yang masih punya keterkaitan pada kepercayaan lamanya). Dengan demikian pengertian QS. 3:55 di atas bukan dalam arti diangkat fisiknya tapi diangkat derajatnya ke sisi Allah swt</span><a name="_ftnref12" href="#_ftn12"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[12]</span></span></span></span><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">.</span><a name="_ftnref13" href="#_ftn13"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[13]</span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US"> 4. Syaikh Muhammad Abduh berkata: “Hadits tersebut hanyalah ahad dan berkaitan dengan masalah aqidah karena menunjukkan perkara-perkara ghaib. Sedangkan masalah aqidah tidak boleh diambil kecuali yang bersifat qath’iy (pasti) sebab dituntut sesuatu yang menyakinkan. Dan tidak ada dalam masalah ini hadits yang mutawatir”. Dia juga memaparkan pendapat para ulama seputar turunnya Isa Al-Masih lalu memperkuat pendapat yang menyatakan bahwa Isa tidak turun dan dia mentakwil ayat seraya berkata: “Makna </span><span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;amp;" lang="AR-SA">رَافِعُكَ</span> <span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US"> yaitu terangkatnya ruh setelah kematiannya, sedangkan arti turunnya ke bumi yaitu tersebarnya perdamaian dan toleransi diantara manusia”.</span><a name="_ftnref14" href="#_ftn14"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[14]</span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">5. Hasan Abdullah At-Turabi mengingkari turunnya Isa di akhir zaman. Tatkala ditanya: Bagaimana anda berani mengingkari hadits mutawatir? Jawabnya: “Saya tidak membicarakan hadits dari segi sanadnya tetapi menurut saya hadits itu bertentangan dengan akal, sedangkan apabila dalil bertentangan akal, maka akal harus lebih didahulukan”. </span><a name="_ftnref15" href="#_ftn15"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[15]</span></span></span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span lang="EN-US">Dari komentar di atas dapat ditarik kesimpulan syubhat mereka pada dua point:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Pertama: Kritik dari segi sanad yaitu:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">a. Sahabat Abu Hurairah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">b. Hanya bermuara pada Ka’ab Al-Ahbar dan Wahb bin Munabbih</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">c. Haditsny mudhtharib (goncang)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">d. Haditsnya Ahad </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Kedua: Dari segi matan yaitu:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">a. Ta’wil arti turun</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">b. Bertentangan dengan akal</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">c. Kontradiksi dengan Al-Qur’an</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<h5><span lang="EN-US">D.</span><span lang="EN-US">MENJAWAB SYUBHAT</span></h5>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt;"><span lang="EN-US">Sebelum menjawab syubhat para pengingkar tersebut satu-persatu, penulis mengajak saudara pembaca untuk berfikir dengan otak jernih: “Mungkinkah para pengkritik tersebut dalam kebenaran sedang mereka sendiri berselisih tentang alasannya?” Ketahuilah wahai saudaraku bahwa perselisihan mereka itu saja sudah cukup menunjukkan kroposnya hujjah mereka. Sadarkah para pengingkar tersebut bahwa kelakuan mereka itu pada hakekatanya adalah mencela Nabi, para sahabat, para imam ahli hadits yang berjerih payah merekam hadits tersebut?! Fikirkanlah baik-baik!!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Baiklah, sekarang dengan memohon pertolongan dari Allah mari kita jawab alasan mereka satu-persatu walaupun secara ringkas. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Pertama: Abu Hurairah, sahabat bermasalah.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><strong><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Jawab:</span></strong><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US"> Alasan ini sangat rapuh sekali dan amat berbahaya bagi pelontarnya sendiri ditinjau dari beberapa segi</span><a name="_ftnref16" href="#_ftn16"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[16]</span></span></span></span><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">1. Mencela sahabat termasuk perbuatan dosa besar dan kemunafikan yang tak samar lagi berdasarkan kesepakatan ulama. Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid mengatakan: “Seluruh pemeluk agama Islam bersepakat bahwa mencela salah satu sahabat merupakan bentuk kemunafikan yang nyata…”.</span><a name="_ftnref17" href="#_ftn17"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[17]</span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">2. Kalau memang kalian tidak mau menerima riwayat Abu Hurairah karena dia bermasalah, lantas apakah para sahabat lainnya yang begitu banyak seperti Abdullah bin Umar, Nawwas bin Sam’an … juga bermasalah? Jawablah hai orang yang dikaruniai akal!!! Bila riwayat mereka masih tetap tidak dipercayai juga, maka saya ucapkan selamat tinggal dari dunia!! Karena pada hakekatnya anda telah menghancurkan pondasi-pondasi agama, menghina Allah, Rasulullah </span><span style="font-size: 11pt; font-family: Islamic_;" lang="EN-US">n</span><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">, syari’at Islam, para ulama dan seluruh kaum muslimin semuanya? Apakah anda menyadarinya?!!! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Kedua: Haditsnya bermuara pada Ka’ab Al-Ahbar dan Wahb bin Munabbih</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Jawab: </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">1. Ucapan ini menunjukkan kurangnya pengetahuan pelontarnya tentang ilmu hadits. Karena anda tahu sendiri bahwa hadits ini diriwayatkan oleh begitu banyak para sahabat Nabi. Kami tidak mengerti, apakah ucapan tersebut didasari kebodohan ataukah penyesatan ataukah kedua-duanya?!!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">2. Perlu diketahui bahwa riwayat Ka’ab Al-Ahbar dan Wahb bin Munabbih dari Nabi </span><span style="font-size: 11pt; font-family: Islamic_;" lang="EN-US">n</span><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US"> sangat sedikit sekali. Dan hukum riwayat keduanya dalam ilmu musthalah hadits disebut “Mursal” karena keduanya tidak berjumpa dengan Nabi, sedangkan hadits mursal bukanlah hujjah. Adapun riwayat keduanya dari sahabat dan tabi’in, maka para ulama mengoreksinya seperti riwayat para tabi’in lainnya. </span><a name="_ftnref18" href="#_ftn18"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[18]</span></span></span></span></p>
<p class="MsoBodyText"><span lang="EN-US">3. Ucapan DR. Quraish Shihab ini telah didahului sebelumnya oleh Syaikh Mahmud Syaltut dalam tulisannya yang dimuat dalam Majalah <em>ar-Risalah</em>. Syaikh al-Albani berkata: “Saya telah meneliti hadits-hadits tentang turunnya Isa dari sumber aslinya (kitab-kitab hadits) seperti kutub sittah dan lain sebagainya sehingga saya dapat mengumpulkan banyak hadits dari beberapa jalur yang mutawatir lebih dari empat puluh sahabat. Saya sangat terkejut sekali ketika saya tidak menemukan nama Wahb bin Munabbih dan Ka’ab al-Ahbar pada jalur sanad-sanad tersebut sekalipun dalam hadits yang lemah sanadnya. Saya lalu berkeyakinan bahwa Syaikh Syaltut hanya menulis sesuai dengan apa yang terlintas dalam benaknya saja tanpa meneliti kitab-kitab hadits. Lalu saya menulis sebuah risalah terpisah untuk mencounter fatwanya itu tetapi…”.<a name="_ftnref19" href="#_ftn19"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[19]</span></span></span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Ketiga: Haditsnya “Mudhtarib”</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt;"><strong><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Jawab:</span></strong><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US"> Hadits “Mudhtarib” itu adalah hadits yang diriwayatkan dari seorang rawi atau beberapa rawi yang banyak dengan berbagai macam redaksi yang berbeda, sama-sama kuat dan tidak mungkin untuk dikompromikan atau dikuatkan salah satunya. Perbedaan tersebut menunjukkan tidak kuatnya hafalan rawi padahal itu adalah syarat sahnya suatu hadits. Sekalipun bisa terjadi pada matan (isi) hadits, namun yang paling banyak adalah pada sanad hadits. </span><a name="_ftnref20" href="#_ftn20"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[20]</span></span></span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span lang="EN-US">Setelah anda memahami defenisi hadits mudhtarib, maka katakanlah padaku: Apakah hadits pembahasan kita termasuk kategori mudhtarib?! Adakah hadits shahih lain yang menyelisihnya?! Ahli hadits mana yang mengatakannya termasuk “mudhtarib”?! Dengan demikian maka dapatlah kita ketahui bahwa hadits turunnya Isa tidaklah termasuk mudhtarib (goncang) tetapi yang mudhtarib adalah pemikiran pelontarnya sendiri yang jauh dari ilmu hadits.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Keempat: Haditsnya “Ahad”</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Hadits ahad hanya bersifat zhan (prasangka), tidak qath’i (pasti), sedangkan masalah aqidah harus bersifat pasti. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Jawab:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">1. Kalian setuju dan bersepakat dengan kami bahwa hadits mutawatir menunjukkan <em>qath’I</em> (sesuatu yang menyakinkan). Lantas, siapakah yang paling berhak menetapkan hadits ini ahad, sedang hadits itu mutawatir? Tentunya ahli hadits. Sekarang kita ketahui bersama bahwa ahli hadits telah menetapkan hadits tersebut berderajat mutawatir. Lantas kenapa kalian masih bersikukuh menetapkannya berderajat ahad?! Kenapa kalian tidak percaya kepada penelitian ahli hadits dan lebih percaya kepada orang yang bukan ahli dalam bidangnya?!!! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Supaya lebih memantapkan saudara pembaca, berikut saya nukilkan perkataan berharga seorang pakar ilmu hadits abad ini, Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani dalam Ta’liq <em>Syarh Aqidah Thohawiyyah</em> hal. 501:</span></p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-family: &amp;amp;" lang="AR-SA">وَاعْلَمْ أَنَّ أَحَادِيْثَ الدَّجَّالِ وَنُزُوْلِ عِيْسَى </span><span style="font-size: 11pt; font-family: Islamic_; font-weight: normal;" lang="EN-US">q</span><span style="font-family: &amp;amp;" lang="AR-SA"> مُتَوَاتِرَةٌ يَجِبُ الإِيْمَانُ بِهَا وَلاَ تَغْتَرَّ بِمَنْ يَدَّعِيْ فِيْهَا أَنَّهَا أَحَادِيْثُ آحَادٌ فَإِنَّهُمْ جُهَّالٌ بِهَذَا الْعِلْمِ وَلَيْسَ فِيْهِمْ مَنْ تَتَبَّع طُرُقَهَا وَلَوْ فَعَلَ لَوَجَدَهَا مُتَوَاتِرَةً كَمَا شَهِدَ بِذَلِكَ أَئِمَّةُ هَذَا الْعِلْمِ كَالْحَافِظِ ابْنِ حَجَرٍ وَغَيْرِهِ. وَمِنَ الْمُؤْسِفِ حَقًّا أَنْ يَتَجَرَّأَ الْبَعْضُ عَلَى الْكَلاَمِ فِيْمَا لَيْسَ مِنْ اخْتِصَاصِهِمْ, لاَ سِيَّمَا وَالأَمْرُ دِيْنٌ وَعَقِيْدَةٌ.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span lang="EN-US">Ketahuilah bahwa hadits-hadits tentang Dajjal dan turunnya Isa bin Maryam telah mencapai derajat mutawatir yang wajib diimani. Janganlah anda tertipu dengan anggapan sebagian kalangan yang menyatakan bahwa haditsnya hanyalah ahad sebab mereka adalah manusia yang jahil tentang ilmu hadits. Tak ada dari kalangan mereka yang mau menelitinya. Seandainya mereka benar-benar mau menelitinya, niscaya mereka akan mendapatinya mutawatir sebagaimana ditegaskan oleh para pakar ilmu hadits seperti Ibnu Hajar dan lainnya. Sungguh amat disayangkan ketika sebagian manusia lancang berbicara tentang sesuatu yang bukan bidangnya. Lebih-lebih masalah ini berkaitan tentang aqidah dan agama. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">2. Ketahuilah bahwa sekalipun para ulama ahli hadits berbeda pendapat tentang hadits ahad apakah menunjukkan <em>zhan</em> atau <em>qath’i</em>, tetapi mereka tidak berselisih pendapat tentang hujjahnya hadits ahad Janganlah anda tertipu oleh bualan dan filsafat sebagian kalangan yang mengoceh dan mengecoh umat dengan perselisihan ulama tentang; apakah hadits ahad menunjukkan dhan atau qath’i. Jadi, taruhlah haditsnya memang berderajat ahad, apakah berarti kita membuangnya begitu saja? Tak ada satupun ulama ahli hadits yang bertindak demikian, itu hanyalah pemahaman aneh dan filsafat kotor yang diusung dari pemikiran Mu’tazilah dan ahli kalam (filsafat). Camkanlah hal ini baik-baik pada hati kita!.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">3. Pendapat para ulama ahli hadits yang lebih kuat bahwa tidak seluruh hadits ahad menunjukkan dhan, tetapi kadang-kadang bisa menunjukkan qath’i (pasti) apabila ada indikasi penguatnya seperti riwayat Bukhari Muslim, hadits masyhur yang banyak jalannya dan lain sebagainya</span><a name="_ftnref21" href="#_ftn21"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[21]</span></span></span></span><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align: left; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"><span lang="EN-US">Bila kita teliti hadits pembahasan kita, niscaya akan kita dapati bahwa dia menunjukkan sesuatu yang qath’i karena memiliki qarinah-qarinah tersebut. Hal Itu kalau kita menganggap haditsnya hanya ahad, apalagi telah terbukti haditsnya berderajat mutawatir. Wallahu A’lam.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Kelima: Ta’wil Arti Turun</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Jawab: Kalau kita tilik dan cermati beberapa hadits tentang turunnya Isa secara tenang, pasti akan kita rasakan bahwa ta’wil seperti itu sangat kaku dan lucu. Perhatikanlah hadits lafadz-lafadz haditsnya secara jernih seperti “lalu dia menghancurkan salib, membunuh babi dan membebaskan pajak”. “Isa bin Maryam shalat di belakang imam Al-Mahdi”.</span><a name="_ftnref22" href="#_ftn22"></a><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[22]</span></strong></span></span></strong></span><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US"> Isa bin Maryam turun di menara putih sebelah timur Damaskus, memakai pakaian yang harum sambil meletakkan kedua lengan tangannya pada sayap dua malaikat, rambutnya meneteskan air, bila dia mengangkat kepala, maka air berkilau seperti berlian. Orang yang mencium baunya, pasti akan mati seketika dan baunya sejauh dia memandang. Hingga Isa mencari Dajjal dan ketemu di pintu Luddin (sebuah kota dekat Baitul Maqdis) dan membunuhnya”.</span><a name="_ftnref23" href="#_ftn23"></a><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[23]</span></strong></span></span></strong></span><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US"> “Isa menunaikan ibadah haji/ umrah”.</span><a name="_ftnref24" href="#_ftn24"></a><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[24]</span></strong></span></span></strong></span><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US"> “Isa kemudian wafat dan dishalati kaum muslimin” </span><a name="_ftnref25" href="#_ftn25"></a><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[25]</span></strong></span></span></strong></span><strong> </strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span lang="EN-US">Sungguh alangkah bagusnya ucapan Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz </span><span style="font-family: Islamic_;" lang="EN-US">t</span><span lang="EN-US"> tatkala membantah ta’wil ini: “Merupakan kebatilan yang sangat keji dan kelancangan yang sangat kelewatan batas terhadap Allah dan rasul-Nya adalah ta’wil sebagian kalangan tidak seperti dhahirnya. Sebab dia telah mengumpulkan dua bencana: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Pertama:</span></strong><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US"> Mendustakan dan tidak mengimani dalil-dalil yang tegas tentang turunnya Isa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Kedua:</span></strong><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US"> Menuduh Rasul </span><span style="font-size: 11pt; font-family: Islamic_;" lang="EN-US">n</span><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US"> yang paling mengerti syari’at dan ahli penasehat sebagai orang yang berbicara ngacau dan rancu, maksud ucapannya tidak seperti dia sabdakan secara dhahir. Sungguh ini merupakan kedustaan yang tiada taranya dan penipuan terhadap umat yang Nabi </span><span style="font-size: 11pt; font-family: Islamic_;" lang="EN-US">n</span><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US"> berlepas diri darinya. Ucapan seperti ini serupa dengan pendapat kaum para penyeleweng yang menisbahkan pada rasul dengan kerancuan demi maslahat mayoritas manusia”.</span><a name="_ftnref26" href="#_ftn26"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[26]</span></span></span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span lang="EN-US">Ajaibnya, takwil seperti ini juga digugat oleh Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam bukunya yang berjudul <em>Kaifa Nata’amal Ma’a As-Sunnah An-Nabawiyyah</em> hal. 169-170.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Keenam: Bertentangan Dengan Akal</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Jawab: </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">1. Katakanlah padaku: Semudah itukah kalian mementahkan hadits Nabi? Bila sesuai dengan akal kalian, baru diterima dan bila tidak sesuai akal kalian, maka ditolak begitu saja?! Seperti inikah sifat orang-orang yang mengaku beriman kepada Allah? Ataukah ini adalah ciri bala tentara Iblis yang dicontohkan oleh nenek moyang mereka tatkala memprotes perintah Allah dengan akalnya:</span></p>
<h2><span style="font-family: &amp;amp;" lang="AR-SA">قَالَ مَامَنَعَكَ أَلاَّتَسْجُدَ إِذْأَمَرْتُكَ قَالَ أَنَاخَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ</span></h2>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><em><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis &#8220;Saya lebih baik daripadanya: “Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. </span></em><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">(QS. Al-A’raf: 12).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoBodyText"><span lang="EN-US">2. Kalau agama ini berdasar pada akal, maka katakan padaku: “Mengapa Allah mewajibkan shalat shubuh sebanyak dua rakaat, maghrib tiga raka’at, sedangkan dhuhur, ashar dan isya empat rakaat?” Kenapa bacaan shalat dhuhur dan ashar lirih, sedangkan shubuh, maghrib dan isya dikeraskan?! Jawablah!! </span></p>
<p class="MsoBodyText">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">3. Kalau agama ini berdasar pada akal, maka katakan padaku juga: “Akal siapakah yang menjadi standar dan patokan?” Apakah akal para ulama ataukah sembarangan orang?! Alangkah bagusnya ucapan Al-Qadhi Iyadh: “Turunnya Isa dan pembunuhannya terhadap Dajjal merupakan kebenaran menurut ahli sunnah wal Jama’ah berdasarkan hadits-hadits shahih tentang masalah tersebut. <strong>Tidak ada dalil akal maupun naql yang memustahilkannya</strong>. Oleh karenanya, maka aqidah ini wajib diimani. Adapun Mu’tazilah, Jahmiyyah cs mengingkari aqidah ini…”.</span><a name="_ftnref27" href="#_ftn27"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[27]</span></span></span></span><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US"> Ucapan in dinukil dan disetujui oleh Imam Nawawi</span><a name="_ftnref28" href="#_ftn28"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[28]</span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Ketujuh: Kontradiksi Dengan Al-Qur’an</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Jawab:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">1. Metode menubrukkan Al-Qur’an dengan hadits shahih merupakan ciri khas ahli bid’ah dan pengekor hawa nafsu semenjak dahulu hingga sekarang, karena hadits shahih diturunkan bukan untuk menentang Al-Qur’an, tetapi untuk menafsirkan dan menjelaskannya sebagaimana firman Allah:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"><strong><span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;amp;" lang="AR-SA">وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَانُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><em><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur&#8217;an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.</span></em><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US"> (QS. An-Nahl: 44).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Kemudian katakanlah padaku: Siapakah orang yang paling faham tentang tafsir Al-Qur’an?!! Bukankah mereka adalah Nabi, para sahabat, serta para ulama Islam?!! Benar. Tetapi anehnya, kenapa mereka tidak mempersoalkannya?! Apakah anda lebih pandai daripada mereka?!! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">2. Al-Qur’an sendiri telah menjelaskan tentang turunnya Isa bin Maryam kelak di akhir zaman:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">1. Firman Allah:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"><strong><span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;amp;" lang="AR-SA">وَإِن مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلاَّلَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><em><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.</span></em><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US"> (QS. An-Nisa’: 159).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Sahabat Abdullah Ibnu Abbas, penafsir ulung mengatakan: “Yakni sebelum kematian Isa bin Maryam”.</span><a name="_ftnref29" href="#_ftn29"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[29]</span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Imam Al-Hasan Al-Bashri juga berkata: “Yakni sebelum kematian Isa. Demi Allah, Isa sekarang masih hidup di sisi Allah, tetapi apabila dia turun, maka mereka akan beriman semua”. Tafsir ini dikuatkan oleh mayoritas ulama seperti Ibnu Jarir, Ibnu Katsir dan sebagainya. </span><a name="_ftnref30" href="#_ftn30"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[30]</span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">2. Firman Allah:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"><strong></strong><strong><span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;amp;" lang="AR-SA">وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِّلسَّاعَةِ فَلاَ تَمْتَرُنَّ بِهَا وَاتَّبِعُونِ هَذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><em><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.</span></em><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US"> (QS. Az-Zukhruf: 61).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Sahabat Abdullah Ibnu Abbas mengatakan tentang ayat yang mulia ini: “Maksudnya adalah keluarnya Isa bin Maryam sebelum hari kiamat tiba”. </span><a name="_ftnref31" href="#_ftn31"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[31]</span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt;" lang="EN-US">Al-Hafizh Ibnu Katsir juga berkata dalam <em>Tafsirnya</em> 7/222: “Pendapat yang benar bahwa dhamir tersebut kembali pada Isa karena konteks kalimatnya berkaitan tentang beliau”. </span><a name="_ftnref32" href="#_ftn32"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[32]</span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<h3><span style="font-weight: normal;" lang="EN-US">3. Adapun alasan sebagian kalangan bahwa Isa sekarang telah wafat berdasarkan dalil surat Ali-Imran: 155, maka jawabannya cukup panjang, tetapi cukuplah saya mengatakan: “Siapakah pendahulu anda dalam faham ini?! Bukankah mereka adalah kaum Yahudi yang didustakan oleh Allah?!! Demi Allah, benar sekali. Oleh karena itu, para pemikir komtemporer yang mengingkari turunnya Isa dan menyakini wafatnya beliau sekarang, pada hakekatnya da adalah cucu pewaris Yahudi. </span></h3>
<p class="MsoNormal">
<h3><span lang="EN-US">Kesimpulan dan Penutup</span></h3>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span lang="EN-US">Sebagai kata kesimpulan, Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Baz </span><span style="font-family: Islamic_;" lang="EN-US">t</span><span lang="EN-US"> menegaskan: “Turunnya Isa telah ditetapkan berdasarkan Al-Qur’an, hadits mutawatir dan ijma ulama Islam sehingga mereka selalu menyebutnya dalam kitab-kitab aqidah. Barangsiapa yang mengingkarinya dengan alasan haditsnya “Ahad” tidak menunjukkan qath’i atau menta’wil bahwa maksud sebenarnya adalah manusia pada akhir zaman berpegang teguh dengan akhlak Isa Al-Masih berupa kasih sayang dan lemah lembut atau manusia menerapkan ruh syari’at dan intinya, maka semuaa itu adalah kebatilan nyata yang bertentangan dengan aqidah para imam kaum muslimin, bahkan nyata-nyata merupakan bentuk penentangan nash-nash shahih dan mutawatir, kejahatan terhadap syari’at yang mulia, kelancangan sangat terhadap Islam dan hadits Nabi, menuhankan hawa nafsu, keluar dari rel kebenaran dan petunjuk, orang tersebut tidak memiliki ilmu mapan tentang syari’at dan keimanan yang kuat serta pengagungan terhadap dalil dan hukum Islam”. <a name="_ftnref33" href="#_ftn33"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[33]</span></span></span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent">
<p class="MsoBodyTextIndent">
<p class="MsoBodyText3" style="text-align: justify; direction: rtl; unicode-bidi: embed;">
<p class="MsoBodyTextIndent">
<div>
<hr size="1" />
<div id="ftn1">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[1]</span></span></span></span><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"> <em>Lum’atul I’tiqad</em> 101-104 -Syarh Ibnu Utsaimin-.</span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<h6 style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-weight: normal;" lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[2]</span></span></span></span><span style="font-size: 8pt; font-weight: normal;" lang="EN-US"> HR. Bukhari no. 2222 dan Muslim no. 242.</span></h6>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[3]</span></span></span></span><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"> Lihat <em>Qishshatul Masih</em> <em>Dajjal wa Nuzul Isa</em> al-Albani hal. 25- 28</span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[4]</span></span></span></span><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"> Lihat <em>Fathul Bari</em> Ibnu Hajar 6/492.</span></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[5]</span></span></span></span><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"> Dinukil oleh Al-Munawi dalam <em>Faidhul Qadir</em> 5/573. (Lihat pula <em>Al-Manarul Munif</em> hal. 148 oleh Ibnu Qayyim dan <em>Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an</em> 4/64 oleh Al-Qurthubi.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText">
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[6]</span></span></span></span><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"> Penulis belum mendapatinya sendiri, tetapi risalah ini banyak dinukil oleh para ulama seperti Al-Kattani dalam <em>Nadhmul Mutanatsir</em> hal. 145-146, Shiddiq Hasan Khon dalam <em>Al-Idha’ah</em> hal. 113, Al-Adhim Abadi dalam <em>Aunul Ma’bud</em> 11/308 dan Syaikh Al-Albani dalam <em>Qhisshah Dajjal wa Nuzul Isa</em> hal. 25 dan lain sebagainya.</span></p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"><a name="_ftn7" href="#_ftnref7"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[7]</span></span></span></span><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US">. Dinukil dari kitab <em>“Asyraat As-Saa’ah”</em> hal. 351 oleh Syaikh Yusuf bin Abdullah Al-Wabil cet. Dar Ibnul Jauzi.</span></p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn8" href="#_ftnref8"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[8]</span></span></span></span><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"> <em>An-Nihayah</em> Ibnu Katsir 1/148.</span></p>
</div>
<div id="ftn9">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"><a name="_ftn9" href="#_ftnref9"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[9]</span></span></span></span><sup><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US">.</span></sup><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"> Barangkali yang beliau maksud adalah keterangan Al-Hafizh dalam <em>Fathul Bari</em> 6/493-494 menukil ucapan Abul Hasan Al-Aburri dalam <em>Manaqib Syafi’i</em>: “Telah mutawatir hadits-hadits yang menerangkan bahwa Al-Mahdi termasuk kalangan umat ini dan Isa shalat (bermakmum) di belakangnya”.</span></p>
</div>
<div id="ftn10">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"><a name="_ftn10" href="#_ftnref10"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[10]</span></span></span></span><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"> Terlepas apakah beliau telah kembali meralat ucapannya ini ataukah tidak, namun yang terpenting bagi kita adalah mengingatkan umat dari kesalahan pendapat beliau yang termuat dalam <em>al-Fatawa</em>. Kami katakana hal ini, sebab dalam risalahnya <em>al-Bid’ah Asbabbuha wa Madharuha</em> hal. 30 beliau menguatkan hadits-hadits tentang turunnya Isa. Diperkuat lagi oleh apa yang diceritakan DR. al-Buthi dalam kitabnya <em>Kubra Yaqiniyyat al-Kauniyyah</em> hal. 269: <strong>“Sebagian para ulama Azhar yang dekat dengan Syaikh Syaltut meriwayatkan bahwa beliau di akhir kehidupannya, di saat beliau terkena penyakit stroke di rumahnya, dia membakar semua kertas dan kitab yang berisi pendapat-pendapatnya yang ganjil, khususnya masalah turunnya Isa bin Maryam, dan beliau bersaksi di hadapan mereka bahwa beliau telah bertaubat kepada Allah dari keyakinan tersebut dan kembali memeluk aqidah mayoritas kaum muslimin Ahli Sunnah wal Jama’ah”.</strong> (Dinukil dari muqaddimah Syaikh Ali Hasan al-Halabi dalam <em>al-Fatawa al-Muhimmat</em> karya Syaikh Mahmud Syaltut hal. 13-15). Para ulama telah membantah pendapat Syaikh Syaltut tentang pengingkarannya terhadap turunnya Isa, seperti Syaikh Humud at-Tuwaijiri dalama <em>Ithaf Jama’ah</em> 3/128-136, Syaikh al-Albani dalam Muqaddimah <em>Qishshatul Masih</em>, dll. Dan Syaikh Al-Allamah Abdullah bin Ali bin Yabis memiliki sebuah kitab berjudul menarik <em>“I’lamul Anam mi Mukhalafah Syaikh Azhar Syaltut lil Islam”.</em> (Pemberitahuan kepada manusia tentang penyimpangan Syaikh Syaltut terhadap Islam).</span></p>
</div>
<div id="ftn11">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><a name="_ftn11" href="#_ftnref11"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%;" lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[11]</span></span></span></span><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%;" lang="EN-US"> <em>Al-Fatawa</em> hal. 61-62).</span></p>
</div>
<div id="ftn12">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"><a name="_ftn12" href="#_ftnref12"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[12]</span></span></span></span><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"> <em>Republika,</em> 18 Nopember 1994 hal. 10. Dikutip dari “<em>Kenaikan dan Kebangkitan Isa as dalam Bybel dan Al-Qur’an”</em> hal. 14 oleh Hj. Irene Handono. (Majalah <em>Al-Muslimun</em> 398 Mei 2003 hal. 22-23).</span></p>
</div>
<div id="ftn13">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><a name="_ftn13" href="#_ftnref13"></a></p>
</div>
<div id="ftn14">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"><a name="_ftn14" href="#_ftnref14"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[14]</span></span></span></span><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"> <em>Al-A’mal Al-Kamilah</em> 5/37-38 dan lihat Tafsir <em>Al-Manar</em> 3/316-317. Syaikh Khalil al-Harras memiliki risalah bantahan khusus kepada Syaikh Rasyid Ridha dalam masalah ini berjudul <em>“Fashlul Maqal fi Raf’I Isa Alaihi Salam Hayyan wa fii Nuzulihi wa Qathlihi Dajjal”. </em></span></p>
</div>
<div id="ftn15">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><a name="_ftn15" href="#_ftnref15"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%;" lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[15]</span></span></span></span><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%;" lang="EN-US"> Dinukil dari <em>Dirasat fi Sirah Nabawiyyah</em> hal. 308 oleh Syaikh Muhammad Surur Zainal Abidin.</span></p>
</div>
<div id="ftn16">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn16" href="#_ftnref16"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[16]</span></span></span></span><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"> Lihat kembali pembahasan &#8220;Hadits Lalat antara Ahli Hadits dan Ahli Medis&#8221; dalam buku ini</span></p>
</div>
<div id="ftn17">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn17" href="#_ftnref17"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[17]</span></span></span></span><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"> <em>Tashnif An-Nas baina Dhanni wal Yaqin</em> hal. 26</span></p>
</div>
<div id="ftn18">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><a name="_ftn18" href="#_ftnref18"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[18]</span></span></span></span><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"> <em>Al-Anwar Al-Kasyifah</em> Syaikh Abdur Rahman al-Mu’allimi hal. 98.</span></p>
</div>
<div id="ftn19">
<p class="MsoBodyText"><a name="_ftn19" href="#_ftnref19"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[19]</span></span></span></span><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"> <em>Qishshatul Masih Dajjal wa Nuzul Isa </em>hal. 24</span></p>
</div>
<div id="ftn20">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn20" href="#_ftnref20"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[20]</span></span></span></span><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"> Lihat <em>Tadrib Rawi</em> 1/262 oleh Imam As-Suyuthi. </span></p>
</div>
<div id="ftn21">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><a name="_ftn21" href="#_ftnref21"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[21]</span></span></span></span><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"> Lihat <em>Ma’rifah Ulum Hadits</em> Ibnu Sholah hal. 29, <em>Majmu Fatawa</em> Ibnu Taimiyyah 18/22-49, <em>Al-Baits Hatsits</em> Ibnu Katsir 1/125-128 dan <em>Nuzhah Nadhar</em> Ibnu Hajar hal. 74.</span></p>
</div>
<div id="ftn22">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn22" href="#_ftnref22"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[22]</span></span></span></span><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"> HR. Muslim 247.</span></p>
</div>
<div id="ftn23">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn23" href="#_ftnref23"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[23]</span></span></span></span><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"> HR. Muslim 2137.</span></p>
</div>
<div id="ftn24">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn24" href="#_ftnref24"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[24]</span></span></span></span><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"> HR. Muslim 1252.</span></p>
</div>
<div id="ftn25">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn25" href="#_ftnref25"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[25]</span></span></span></span><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"> HR. Ahmad 2/406, Abu Dawud 11/456 dan dishahihkan Ibnu Hajar 6/493. </span></p>
</div>
<div id="ftn26">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><a name="_ftn26" href="#_ftnref26"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[26]</span></span></span></span><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"> <em>Majmu Fatawa</em> Ibnu Baz 1/455 cet. Dar Al-Wathn. </span></p>
</div>
<div id="ftn27">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn27" href="#_ftnref27"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[27]</span></span></span></span><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"> <em>Ikmal Mu’lim bi Fawaid Muslim</em> 8/492</span></p>
</div>
<div id="ftn28">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><a name="_ftn28" href="#_ftnref28"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[28]</span></span></span></span><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"> <em>Syarh Shahih Muslim</em> 18/383. Perlu diketahui bersama bahwa Imam Nawawi termasuk seorang ulama yang menguatkan bahwa hadits ahad menunjukkan <em>zhan </em>secara mutlak baik riwayat Bukhari Muslim maupun selainnya sebagaimana dalam <em>A-Taqrib</em> hal. 40 dan <em>Syarah Shahih Muslim</em> 1/26. Tetapi lihatlah wahai saudaraku bagaimana beliau tetap berhujjah dengan hadits ini. Maka camkanlah hal ini baik-baik agar anda tidak tertipu oleh filsafat yang dungu. Wallahu A’lam. </span></p>
</div>
<div id="ftn29">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><a name="_ftn29" href="#_ftnref29"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[29]</span></span></span></span><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"> Riwayat Ibnu Jarir 6/18 dan dishahihkan Ibnu Katsir dalam <em>An-Nihayah</em> 1/131 dan Ibnu Hajar dalam <em>Fathul Bari</em> 6/492.</span></p>
</div>
<div id="ftn30">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><a name="_ftn30" href="#_ftnref30"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[30]</span></span></span></span><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"> Lihat <em>Tafsir At-Thabari</em> 6/21, <em>Tafsir Ibnu Katsir</em> 2/415 dan <em>Adhwaul Bayan</em> As-Syanqithi 7/129-130.</span></p>
</div>
<div id="ftn31">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><a name="_ftn31" href="#_ftnref31"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[31]</span></span></span></span><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"> Dikeluarkan Imam Ahmad 4/329 dan dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir. </span></p>
</div>
<div id="ftn32">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><a name="_ftn32" href="#_ftnref32"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[32]</span></span></span></span><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"> Lihat pula <em>Tafsir At-Thabari</em> 25/90-91, <em>Tafsir Al-Qurthubi</em> 16/105 dan <em>Adhwaul Bayan As-Syanqithi</em> 7/128).</span></p>
</div>
<div id="ftn33">
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 0cm;"><a name="_ftn33" href="#_ftnref33"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;amp;" lang="EN-US">[33]</span></span></span></span><span style="font-size: 8pt;" lang="EN-US"> <em>Majmu Fatawa</em> Ibnu Baz 1/454.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText">
</div>
</div>
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://abiubaidah.com/imam-syafi%e2%80%99i-rahimahullah-ngalap-berkah-di-kuburan-imam-abu-hanifah-rahimahullah.html/' rel='bookmark' title='Imam Syafi&#8217;i Ngalap Berkah?'>Imam Syafi&#8217;i Ngalap Berkah?</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/kontemporer-zakat-profes.html/' rel='bookmark' title='Menyibak Kontroversi Zakat Profesi'>Menyibak Kontroversi Zakat Profesi</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/sumber-aqidah-imam-syafi%e2%80%99i.html/' rel='bookmark' title='Aqidah Imam Syafi’i'>Aqidah Imam Syafi’i</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/kontroversi-kedatangan-imam-mahdi.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>10 FAEDAH  TENTANG KITAB</title>
		<link>http://abiubaidah.com/10-faedah-tentang-kitab.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/10-faedah-tentang-kitab.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Nov 2010 04:23:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Faidah-faidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=717</guid>
		<description><![CDATA[I. MENULIS KITAB, AMALAN UTAMA Al-Hafizh Ibnu Jama&#8217;ah al-Kinani asy-Syafi&#8217;i mengatakan: &#8220;Termasuk adab seorang alim adalah menyibukkan diri dengan menulis bila telah memiliki keahlian, karena menulis dapat memperluas wacana ilmiyahnya tentang berbagai bidang ilmu dan menelaah kitab-kitab ulama. Dan hendaknya bagi seorang yang ingin mengarang karya tulis untuk memilih suatu pembahasan yang manfaatnya besar dan [...]
Related posts:<ol>
<li><a href='http://abiubaidah.com/mewaspadai-kitab-kitab-bermasalah.html/' rel='bookmark' title='Waspadailah Kitab-Kitab Berbahaya Berikut Ini&#8230;'>Waspadailah Kitab-Kitab Berbahaya Berikut Ini&#8230;</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/20-faedah-tentang-aqidah.html/' rel='bookmark' title='20 FAEDAH TENTANG AQIDAH'>20 FAEDAH TENTANG AQIDAH</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/10-faedah-tentang-bidah.html/' rel='bookmark' title='10 FAEDAH TENTANG BID&#8217;AH'>10 FAEDAH TENTANG BID&#8217;AH</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ff6600;"><strong>I. MENULIS KITAB, AMALAN UTAMA</strong></span></p>
<p><strong>Al-Hafizh Ibnu Jama&#8217;ah al-Kinani asy-Syafi&#8217;i</strong> mengatakan: &#8220;Termasuk adab seorang alim adalah menyibukkan diri dengan menulis bila telah memiliki keahlian, karena menulis dapat memperluas wacana ilmiyahnya tentang berbagai bidang ilmu dan menelaah kitab-kitab ulama.</p>
<p>Dan hendaknya bagi seorang yang ingin mengarang karya tulis untuk memilih suatu pembahasan yang manfaatnya besar dan sangat di butuhkan oleh manusia, lebih baik lagi bila pembahasan tersebut belum pernah dibahas sebelumnya, dengan memilih kata-kata yang jelas, tidak terlalu panjang sehingga membosankan dan tidak juga terlalu ringkas sehingga&#8221;.<a href="#_ftn1">[1]</a><span id="more-717"></span></p>
<p>Alangkah bagusnya ucapan seorang penyair:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">
<h3 style="text-align: center;">كَتَبْتُ وَقَدْ أَيْقَنْتُ يَوْمَ كِتَابَتِيْ     بِأَنَّ يَدِيْ تَفْنَى وَيَبْقَى كِتَابُهُ</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَ أَعْلَمُ أَنَّ اللهَ لاَبُدَّ سَائِلِيْ         فَيَا لَيْتَ شِعْرِيْ مَا يَكُوْنُ جَوَابُهُ</h3>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><em>Ketika saya menulis saya yakin</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Bahwa tanganku akan binasa dan tulisanku kekal</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Dan saya tahu bahwa Allah pasti menanyakanku</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Aduhai, apa nanti jawabannya?</em><a href="#_ftn2">[2]</a><em> </em></p>
<p style="text-align: center;">
</blockquote>
<p><strong> </strong></p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>II. SEMANGAT MEMBACA DAN MENULIS KITAB</strong></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<ul>
<li><strong>Al-Imam Al-Muzani</strong> membaca kitab <em>Ar-Risalah</em> karya Imam Syafi&#8217;i sebanyak lima puluh kali. <a href="#_ftn3">[3]</a></li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Abdullah bin Muhammad</strong> membaca kitab <em>Al-Mughni</em> karya Ibnu Qudamah sebanyak dua puluh tiga kali.<a href="#_ftn4">[4]</a></li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Ibnul Jahm</strong> apabila dia mengantuk pada selain waktu tidur, maka dia mengusir ngantuknya dengan membaca kitab-kitab hikmah sehingga ngantuknya hilang.<a href="#_ftn5">[5]</a><strong> </strong></li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Ibnu Tabban</strong> membaca kitab sepanjang malam. Ibunya pernah melarang dan menyuruhnya tidur, maka dia menyembunyikan sebuah lampu, apabila ibunya tidur dia menyalakan lampu dan meneruskan untuk membaca.<a href="#_ftn6">[6]</a></li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Muhammad bin Ahmad bin Qudamah</strong> menulis dengan tangannya beberapa kitab yang banyak sekali, di antaranya <em>Tafsir Al-Baghowi</em>, <em>Al-Mughni</em>, <em>Hilyah</em> Abu Nu&#8217;aim, <em>Al-Ibanah</em> Ibnu Baththoh, dan Al-Khiroqi serta mushaf dengan jumlah yang banyak.<a href="#_ftn7">[7]</a><strong> </strong></li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Imam Ismail al-Jurjani</strong> menulis setiap malam sembilan puluh lembar kertas dengan tulisan yang bagus dan hati-hati.<a href="#_ftn8">[8]</a></li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>III. TAFSIR JALALAIN</strong></span></p>
<ul>
<li>Sebagian ulama Yaman berkata: &#8220;Saya mnghitung huruf-huruf Al-Qur&#8217;an dan Tafsir al-Jalalain, ternyata saya mendapatinya sama hingga sampai surat Al-Muzammil. Dan mulai surat al-Mudatsir tafsir lebih banyak daripada Al-Qur&#8217;an. Dari sini, maka boleh membawa Tafsir Al-Jalalain tanpa wudhu&#8221;. <a href="#_ftn9">[9]</a></li>
</ul>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>IV. KITAB BUKAN BANTAL</strong></span></p>
<ul>
<li><strong>Nuaim bin Naim</strong> pernah berkata: <strong>Imam Ahmad bin Hanbal</strong> pernah ditanya: Apakah seorang boleh meletakkan kitab di bawah kepalanya? Beliau bertanya: Kitap apa? Penanya menjwab: Kitab hadits. <strong>Imam Ahmad</strong> berkata: Kalau memang dia khawatir untuk dicuri maka boleh, adapun menjadikannya sebagai bantal maka tidak boleh&#8221;.<a href="#_ftn10">[10]</a></li>
</ul>
<p>.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>V. MEWASPADAI KITAB-KITAB BID&#8217;AH</strong></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<ul>
<li><strong>Imam Abu Zur&#8217;ah</strong> pernah ditanya tentang <strong>Harits al-Muhasibi</strong> dan kitab-kitabnya, maka beliau berkata kepada penanya: &#8220;Waspadalah dirimu dari kitab-kitab ini! Ini adalah kitab-kitab bid&#8217;ah dan sesat, peganglah hadits&#8221;. Dikatakan padanya: &#8220;Dalam kitab-kitab ini terdapat pelajaran&#8221;. Dia menjawab: <span style="text-decoration: underline;">Barangsiapa yang baginya Al-Qur&#8217;an tidak ada pelajaran, maka tidak ada pelajaran baginya juga dalam kitab-kitab ini</span>&#8220;. Kemudian dia berkata: &#8220;Alangkah cepatnya manusia menuju kepada bid&#8217;ah&#8221;.<a href="#_ftn11">[11]</a></li>
</ul>
<p>Aduhai, alngkah miripnya hari ini dengan kemarin! Lantas, bagaimanakah kiranya, bila Imam Abu Zur&#8217;ah mendapati kitab-kitab pada zaman sekarang yang berisi penyimpangan dan kesesatan seperti kitab-kitab <strong>Sayyid Quthub</strong>, <strong>An-Nabhani</strong>, <strong>Al-Ghozali</strong>, <strong>Al-Qorodhawi</strong>, <strong>al-Kautsari</strong>, <strong>As-Saqqof</strong>, <strong>al-Buthi</strong>, <strong>Muhammad Surur</strong> dan kitab-kitab pergerakan lainnya.<a href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p>.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>VI. WALIMAH KITAB FATHUL BARI</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong> </strong></span></p>
<p><strong>Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolani</strong> mengarang kitab <em>Fathul Bari Syarh Shohih Bukhori</em> selama seperempat abad lebih, beliau memulai pada awal tahun <strong>817 H</strong> dan selesai pada <strong>awal Rojab</strong> tahun <strong>842 H</strong>, belum lagi tambahan-tambahan yang beliau cantumpkan setelah itu sehingga selesai sebelum <strong>wafatnya</strong> pada tahun <strong>852 H</strong>.</p>
<p>Beliau menempuh metode menakjubkan dalam mengarang kitabnya. Awalnya melalui imla&#8217; selama lima tahun, kemudian beberapa muridnya yang cerdas berkumpul dan mengusulkan agar dibukukan syarahnya tersebut. Akhirnya, beliapun menulis dengan tangannya sendiri sedikit demi sedikit, sehingga kitabnya telah dikoreksi dan diteliti secara jeli.</p>
<p>Tatkala selesai karya syarah Bukhori tersebut, <strong>Al-Hafizh Ibnu Hajar</strong> mengadakan sebuah walimah besar-besaran pada hari <strong>Sabtu 8 Sya&#8217;ban tahun 842 H</strong>. Dalam acara tersebut, dibacakan majlis akhir dari Fathul Bari dan walimah itu dihadiri oleh pembesar ulama, tokoh, penuntut ilmu dan kaum muslimin.</p>
<p><strong>Al-Biqo&#8217;i</strong> menyebutkan bahwa orang-orang pasar baik kaum laki-laki maupun wanita keluar untuk rekreasi. Lanjutnya: &#8220;Sampai-sampai saya mengira bahwa tidak ada seorang tokohpun di Mesir kecuali hadir dalam walimah tersebut. Hari itu adalah hari yang  istimewa, belum ada sepertinya di zaman itu. Pada kesempatan tersebut, dilantunkan syair-syair indah berisi pujian kepada penulis dan kitabnya, <strong>Fathul Bari</strong> dijual dengan harga <strong>tiga ratus dinar</strong>.<a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>VII. MAHAR  KITAB</strong></span></p>
<p><strong>Abu Bakar Al-Kasyani</strong> adalah seorang tokoh ulama yang beruntung, dia berguru kepada <strong>Imam Abu Bakar As-Samaragandi</strong> sekaligus menikah dengan putrinya yang terkenal  pintar dan ahli ibadah. Tahukah anda sebab pernikahannya?! Al-kisah, Fathimah adalah seorang wanita yang cantik jelita dan pandai sekali, dia hafal kitab karya ayahandanya <em>At-Tuhfah fi Al-Fiqih</em>, banyak para raja yang hendak meminangnya, tetapi sang ayah tidak merestuinya.</p>
<p>Tatkala Al-Kasyani datang belajar kepadanya dan nampak kepandaiannya dalam bidang fiqih sehingga dia mengarang kitab Al-Bada&#8217;i sebagai penjelasan dari kitab At-Tuhfah fil Fiqih. Tatkala dia menyodorkan kepada sang guru, karuan aja sang guru sangat bergembira lali menikahkannya dengan putrinya serta menjadikan maharnya adalah kitab tersebut. Oleh karena itu, para fuqoha&#8217; pada masanya mengatakan: &#8220;Dia mensyarah (menulis penjelasan) kitab Tuhfah-nya dan mendapatkan putrinya&#8221;.<a href="#_ftn14">[14]</a></p>
<p>Dikisahkan juga bahwa apabila Al-Kasyani salah, maka istrinya yang menegur dan meluruskannya. Fatwa yang keluar ditanda tangani olehnya dan ayahnya. Tatkala sudah menikah dengan Al-Kasyani, maka ditanda tangani olehnya, ayahnya dan suaminya.<a href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p>.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>VIII. BAGAIMANA MENELAAH KITAB?</strong></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Syaikh Ibnu Utsaimin</strong> berkata: &#8220;Menelaah kitab terbagi menjadi dua macam:</p>
<p><strong>Pertama:</strong> Menalaah dengan tadabbur (memahami dan menghayati). Hal ini perlu hati-hati dan tidak tergesa-gesa.</p>
<p><strong>Kedua:</strong> Hanya sekedar menelaah saja dengan membaca isi kitab dan pembahasan yang terdapat di dalamnya. Hal ini cukup dengan tela&#8217;ah sekilas. Dan cara yang paling utama dalam membaca kitab adalah memahami dan menghayati makna-makna yang terkandung serta meminta bantuan kepada yang mengerti agar dapat memahaminya&#8221;.<a href="#_ftn16">[16]</a></p>
<p>.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>IX. PERPUSTAKAAN KITAB BUKAN DEKOR</strong></span></p>
<p>Hendaknya bagi kita untuk memiliki sebuah perpustakaan yang berisi kitab-kitab penting yang sangat kita butuhkan. Namun, jangan jadikan perpustakaan kita hanya sekedar sebagai pajangan belaka, tetapi jadikan tujuan kita untuk mengambil faedah dari kitab-kitab tersebut dengan membaca dan menelaahnya.</p>
<p>Sungguh, betapa banyak orang yang memiliki sebuah perpustakaan yang berisi ratusan dan ribuan kitab tetapi dia tidak mengerti tentang isi kitabnya sendiri!!! Ada seorang ulama pernah mengunjungi perpustakan model seperti ini, tetapi setelah dia mengetes pemiliknya ternyata dia tidak pernah membaca dan menelaah kitab-kitabnya sendiri, maka sang alim-pun menyindirnya: &#8220;Kitab-kitabmu banyak sekali tetapi airmu sedikit sekali&#8221;!!!</p>
<p><strong>Al-Hafizh As-Sakhowi</strong> menceritakan bahwa ada seseorang pernah datang kepada <strong>Al-Hafizh Al-&#8217;Iraqi</strong>, memprotesnya tatkala beliau menghukumi suatu hadits dengan palsu padahal hadits tersebut tercantumkan dalam kitab-kitab hadits!! Al-Hafizh Al-&#8217;Iraqi akhirnya meminta kepadanya untuk menghadirkan kitab tersebut untuk dikoreksi. Lelaki itupun pergi untuk mengambil kitabnya, ternyata kitab yang dibawanya adalah kitab yang khusus mencantumkan hadits-hadits palsu yaitu <em>Al-Mau&#8217;dhu&#8217;at</em> oleh <strong>Ibnul Jauzi</strong>.<a href="#_ftn17">[17]</a></p>
<p>.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>X. BEROBAT DENGAN MEMBAKAR KITAB</strong></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dalam biografi <strong>Imam Ash-Shon&#8217;ani</strong> diceritakan bahwa suatu saat beliau pernah terkena mencret, keluarganya telah berusaha mencarikan obat untuknya tetapi belum membuahkan hasil. Tiba-tiba beliau diberi dua kitab yaitu <em>Al-Insan Al-Kamil</em> oleh <strong>Abdul Qodir al-Jili</strong> dan <em>Al-Madhmun Bihi Ala Ahlihi</em> karya <strong>Al-Ghozali</strong>.</p>
<p><strong>Ash-Shon&#8217;ani</strong> berkata: &#8220;Saya yakin kitab ini bukan karyanya tetapi dusta&#8221;. Lanjutnya: &#8220;Kemudian saya menelaah dua kitab tersebut, ternyata saya mendapati kekufuran yang amat nyata, maka saya perintahkan agar dua kitab tersebut dibakar lalu apinya digunakan untuk memebuat roti untukku. Beliaupun kemudian memakan roti tersebut dengan niat kesembuhan. Setelah itu, beliau tidak pernah sakit sedikitpun.<a href="#_ftn18">[18]</a></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: right;"><em><strong>Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi</strong></em></p>
<p style="text-align: right;"><a href="http://abiubaidah.com"><em>www.abiubaidah.com</em></a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> <em>Tadzkirotus Sami&#8217; wal Mutakallim </em>hlm. 54.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> <em>Al-Ghurar ‘Ala Thurar</em> 2/246,  Muhammad Khair Ramadhan Yusuf.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Lihat Muqoddimah Ar-Risalah hlm. 4.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> <em>Dzail Thobaqot Hanabilah</em> 2/411.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> <em>Al-Hayawan</em> al-Jahizh 1/53.</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> <em>Tartibul Madarik </em>Al-Qodhi Iyadh 1/78.</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> <em>Dzail Thobaqot Hanabilah</em> 2/53.</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> <em>Siyar A&#8217;lam Nubala&#8217;</em> 13/54.</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> <em>Kasyfu Zhunun &#8216;an Asamil Kutub wal Funun </em>1/308.</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> <em>Thobaqotul Hanabilah</em> 1/391.</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> <em>Tarikh Baghdad</em> 8/218.</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> <em>Bayanu Manhaj Salaf fii Mua&#8217;malati Ahlil Bida&#8217; wal Ahwa&#8217; </em>hlm. 144 karya Salim bin Ied al-Hilali.</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> <em>Manhaj Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani fil Aqidah </em>hlm. 102-103 oleh Muhammad Ishaq Kandu.</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> <em>Thobaqotul Fuqoha&#8217; </em>hlm. 102,</p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> <em> Al-Fawaid Al-Bahiyyah</em> hlm. 158, dinukil dari <em>Huququl Mar&#8217;ah</em> hlm. 280 oleh DR. Nawwal binti Abdul Aziz.</p>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> <em>Kitabul Ilmi</em> hlm. 89.</p>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> <em>Fathul Mughits</em> 1/294. Lihat pula <em>Min Buthunil Kutub</em> 1/17 oleh Yusuf al-&#8217;Atiq dan <em>Ma&#8217;alim fi Thoriq Tholabil Ilmi</em> hlm. 179 oleh Abdul Aziz As-Sadhan.</p>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> <em>Kutub Hadzaro Minha Ulama</em> 1/45 oleh Syaikh Masyhur bin Hasan Salman.</p>
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://abiubaidah.com/mewaspadai-kitab-kitab-bermasalah.html/' rel='bookmark' title='Waspadailah Kitab-Kitab Berbahaya Berikut Ini&#8230;'>Waspadailah Kitab-Kitab Berbahaya Berikut Ini&#8230;</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/20-faedah-tentang-aqidah.html/' rel='bookmark' title='20 FAEDAH TENTANG AQIDAH'>20 FAEDAH TENTANG AQIDAH</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/10-faedah-tentang-bidah.html/' rel='bookmark' title='10 FAEDAH TENTANG BID&#8217;AH'>10 FAEDAH TENTANG BID&#8217;AH</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/10-faedah-tentang-kitab.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>10 Faidah Tentang Wanita</title>
		<link>http://abiubaidah.com/10-faidah-tentang-wanita.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/10-faidah-tentang-wanita.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Nov 2010 23:51:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Faidah-faidah]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=714</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160; I. WANITA JUGA MEMBUTUHKAN ILMU &#160; Al-Hafizh Ibnul Jauzi pernah mengeluhkan keadaan para wanita pada zamannya, katanya: &#8220;Berapa kali kuanjurkan kepada manusia agar mereka menuntut ilmu syar&#8217;I, karena ilmu laksana cahaya yang menyinari. Menurutku kaum wanita lebih dianjurkan dari kaum lelaki, karena jauhnya mereka dari ilmu agama, dan hawa nafsu begitu mengakar pada [...]
Related posts:<ol>
<li><a href='http://abiubaidah.com/10-faidah-tentang-ilmu.html/' rel='bookmark' title='10 FAIDAH TENTANG ILMU'>10 FAIDAH TENTANG ILMU</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/polemik-presiden-wanita.html/' rel='bookmark' title='POLEMIK PRESIDEN WANITA'>POLEMIK PRESIDEN WANITA</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/hadits-wanita-saudi.html/' rel='bookmark' title='Wanita di Saudi Arabia'>Wanita di Saudi Arabia</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>I. WANITA JUGA MEMBUTUHKAN ILMU</strong></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Al-Hafizh Ibnul Jauzi</strong> pernah mengeluhkan keadaan para wanita pada zamannya, katanya: &#8220;Berapa kali kuanjurkan kepada manusia agar mereka menuntut ilmu syar&#8217;I, karena ilmu laksana cahaya yang menyinari. Menurutku kaum wanita lebih dianjurkan dari kaum lelaki, karena jauhnya mereka dari ilmu agama, dan hawa nafsu begitu mengakar pada mereka. Kita lihat seorang putrid yang tumbuh besar tidak mengerti tata cara bersuci dari haidh, tidak bisa membaca Al-Qur&#8217;an dengan baik dan tidak mengerti rukun-rukun Islam atau kewajiban istri terhadap suami, akhirnya mereka mengambil harta suami tanpa izinnya, menipu suami dengan anggapan boleh demi keharmonisan rumah tangga serta musbibah-musibah lainnya&#8221;.<a href="#_ftn2">[1][2]</a></p>
<p>Ini pada zaman <strong>Ibnul Jauzi</strong>, lantas bagaimana kiranya beliau mendapati wanita zaman kita? Betapa banyak para wanita zaman sekarang yang begitu mengerti tentang kehidupan par artis, pemain film secara detail, tetapi dia tidak mengerti tentang hukum darah haidh.<span id="more-714"></span></p>
<p>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>II. HUKUM WANITA SETANGAHNYA LAKI-LAKI</strong></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ada beberapa hukum, dimana wanita setengahnya laki-laki, yaitu:</p>
<ol>
<li>Warisan</li>
<li>Diyat</li>
<li>Aqiqoh</li>
<li>Persaksian</li>
<li>Pembebasan budak. <a href="#_ftn3"><strong><strong>[3]</strong></strong></a></li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>.</p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>III. KHITAN BAGI WANITA</strong></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wanita khitan?! Jangan merasa asing, jangan merasa kaget, apalagi berusaha untuk menganggapnya risih dan perbuatan hina sebagaimana dilontarkan oleh sebagian kalangan pada zaman sekarang!! Sebab, khitan bagi wanita merupakan amalan yang masyhur pada wanita salaf dahulu:</p>
<p><em>Dari Aisyah</em> radhiyallahu &#8216;anha <em>istri Nabi</em> shallallallahu &#8216;alaihi wa sallam <em>berkata,</em></p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><em>”Apabila dua khitan telah bertemu (bersebadan) maka wajib mandi, saya melakukannya bersama Rasulullah</em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam <em>kemudian kami mandi.”</em><a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p style="text-align: center;">
</blockquote>
<p>Hadits ini menunjukkan disyari’atkan khitan bagi kaum wanita. Imam Ahmad berkata mengomentari hadits ini, ”Dalam hadits ini terdapat isyarat bahwa kaum wanita juga khitan.” <a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<h3 style="text-align: center;"><strong>عَنْ أُمِّ عَطِيَّةِ الأَنْصَارِيَّةِ </strong><strong>رضي الله عنها</strong><strong> أَنَّ امْرَأَةً كَانَتْ تَخْتَنُ بِالْمَدِيْنَةِ, فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ </strong>صلى الله عليه و سلم<strong> : لاَ تَنْهَكِيْ فَإِنَّ ذَلِكَ أَحْظَى لِلْمَرْأَةِ, وَأَحَبُّ إِلىَ الْبَعْلِ</strong></h3>
<p style="text-align: center;"><em>Dari Ummu Athiyah al-Anshariyah -radhiyallahu &#8216;anha-</em> <em>bahwasanya ada seorang wanita yang mengkhitan di Madinah, Rasulullah</em> -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- <em>bersabda kepadanya, ”Janganlah terlalu dalam karena hal itu lebih menceriakan wanita dan lebih menyenangkan suami.”</em><a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p><strong>Syaikh al-Albani</strong> berkata: &#8220;Khitan bagi wanita merupakan perkara yang biasa pada masa salaf (sahabat). Berbeda dengan prasangka sebagian orang yang tidak memiliki ilmu&#8221;.<a href="#_ftn7"><strong><strong> [7]</strong></strong></a></p>
<p><strong><strong><br />
</strong></strong></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>IV. SAFAR TANPA MAHRAM</strong></span></p>
<p>Ketahuilah, keharaman safar seorang wanita tanpa mahram adalah keharaman sangat tegas dalam syariat ini. Rasulullah juga bersabda:</p>
<h3 style="text-align: center;"><strong>لاَ يَحِلُّ ِلامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيْرَةَ ثَلاَثِ لَيَالٍ إِلاَّ وَمَعَهَا ذُوْ مَحْرَمٍ</strong></h3>
<p style="text-align: center;"><em>Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Alloh dan hari akhir untuk safar selama perjalanan tiga malam<a href="#_ftn8"><strong>[8]</strong></a> kecuali bersama mahramnya</em>.<a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p><strong>Syaikh Ahmad Syakir</strong> mengatakan: &#8220;Hadits ini termasuk pokok yang agung dari pokok agama Islam. Karena kandungannya bertujuan menjaga wanita dari kerusakan yang dapat menimpanya berupa kerusakan moral atau kehormatannya. Wanita itu lemah, mudah terpengaruh, bisa jadi akalnya dipermainkan hingga syahwatnya bisa terkalahkan&#8221;.<a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>.</p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>V. KESUDAHAN PEJUANG EMANSIPASI<a href="#_ftn11"><strong>[11]</strong></a></strong></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Jamil Shidqi az-Zahaawi</strong> adalah salah seorang penyair dari Iraq (1279-1354 H).</p>
<ul>
<li>Umar Ridha Kahalah juga mengatakan: “Az-Zahawi memiliki pemikiran-pemikiran <em>nyeleneh </em>dan meyelisihi mayoritas, berani dalam menyebarkan pemikirannya, termasuk pembela emansipasi wanita yang menyebabkannya banyak dilanda problematika, sehingga di akhir hayatnya dia hidup dalam kesempitan dan kegundahan”.<a href="#_ftn12"><strong><strong>[12]</strong></strong></a></li>
</ul>
<p><strong><strong><br />
</strong></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>VI. MANDI KETIKA SEDANG HAIDH</strong></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Apakah wajib mandi wanita yang tengah sedang haidh? Masalah ada tiga gambaran:</p>
<ol>
<li>Wanita yang mimpi basah dan mengeluarkan mani, padahal dia di tengah sedang haidh.</li>
<li>Wanita yang dicumbui oleh suaminya (selain farji) lalu dia mengeluarkan mani</li>
<li>Wanita yang jima&#8217; dengan suaminya, lalu dia haidh sebelum sempat mandi.</li>
</ol>
<p>Para ahli ilmu berpendapat dalam tiga permasalahan ini bahwa mandi hukumnya sunnah sehingga bersih dari bekas jnabat. Dan mandi ini tidak mewakili hukum mandi ketika darah telah berhenti (suci dari haidh), karena masing-masing ada hukumnya. <a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>VII. SIFAT SHOLAT WANITA</strong></span></p>
<p>Tidak ada dalil yang shohih tentang perbedaan sifat sholat lelaki dengan wanita. Hal ini dikuatkan dengan keumuman hadits:</p>
<blockquote>
<h3 style="text-align: center;"><strong>صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ</strong></h3>
<p style="text-align: center;"><em>Sholatlah sebagaimana kalian melihat aku sholat.</em></p>
</blockquote>
<ul>
<li>Dhohir hadits ini mencakup umum untuk kaum lelaki dan wanita. Inilah pendapat Ibrahim an-Nakha&#8217;I, beliau berkata: &#8220;Seorang wanita melakukan dalam sholatnya seperti apa yang dilakukan kaum lelaki&#8221;.<a href="#_ftn14">[14]</a></li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Imam Bukhari</strong> juga meriwayatkan dalam <em>Tarikh Shoghir</em> hal. 95 dengan sanad shohih dari Ummu Darda&#8217; bahwa dia duduk dalam sholatnya seperti duduknya lelaki, dan dia adalah seorang wanita yang berilmu. <a href="#_ftn15">[15]</a></li>
</ul>
<p>Adapun hadits:</p>
<blockquote>
<h3 style="text-align: center;"><strong>إِذَا سَجَدْتُمَا فَضُمَّا بَعْضَ اللَّحْمِ إِلَى الأَرْضِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ لَيْسَتَ فِيْ ذَلِكَ كَالرَّجُلِ</strong></h3>
<p style="text-align: center;"><em>Apabila kalian berdua (wanita) sujud, maka rapatkanlah sebagian daging ke tanah, Karen wanita dalam hal itu tidak sama dengan lelaki.</em></p>
<p style="text-align: center;">
</blockquote>
<p>Hadits ini derajatnya lemah<strong>, </strong>diriwayatkan al-Baihaqi 2/223, Abu Dawud dalam <em>al-Marasil</em> 117. Al-Baihaqi berkata: &#8220;Hadits munqathi&#8217;&#8221;. Yakni mursal, sebab Yazid bin Abu Habib adalah seorang tabi&#8217;in terpercaya, tetapi dia meriwayatkan langsung dari Nabi. <a href="#_ftn16">[16]</a></p>
<p>.</p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>VIII. DI MANAKAH KECEMBURUAN?</strong></span></p>
<p>Pada zaman sekarang, rasa cemburu untuk kehormatan istri dan putrinya  nyaris hampir terlupakan. Istri dan anaknya menjadi pusat lirikan orang, pergi berduaan dengan orang yang bukan mahramnya, namun tiada kecemburuan sedikitpun dalam hatinya? Manakah kecemburuanmu wahai kaum lelaki? Dan manakah sifat malumu wahai kaum wanita?</p>
<p>Dahulu, ada seorang Arab gunung menceraikan istrinya karena dia cemburu ketika istrinya jadi pusat lirikan orang. Tatkala ditanyakan padanya, dia bersenandung dengan qosidah <em>Haaiyahnya</em> yang masyhur:</p>
<h3 style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>وَأَتْرُكُ حُبَّهَا مِنْ غَيْرِ بُغْضٍ</strong></span></h3>
<h3 style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>وَذَاكَ لِكَثْرَةِ الشُّرَكَاءِ فِيِْهِ</strong></span></h3>
<h3 style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>إَذَا وَقَعَ الذُّبَابُ عَلَى طَعَامٍ </strong></span></h3>
<h3 style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong> رَفَعْتُ يَدِيْ وَنفْسِيْ تَشْتَهِيْهِ</strong></span></h3>
<h3 style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>وَتَجْتَنِبُ الأَسْوَدُ وُرُوْدَ مَاءٍ</strong></span></h3>
<h3 style="text-align: center;"><strong> <span style="color: #ff0000;">إِذَا كَانَ الْكلاَبُ وَلَغْنَ فِيْهِ</span></strong></h3>
<p style="text-align: center;"><em>Aku tinggalkan cinta kepadanya tanpa kebencian</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Karena banyak orang bersaing denganku padanya</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Bila lalat hinggap pada makanan</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Aku angkat tanganku, sekalipun masih menginginkannya</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Wanita hitam akan menjauhi air</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Bila ada anjing yang minum di sana.<a href="#_ftn17"><strong>[17]</strong></a></em></p>
<p><em><strong><br />
</strong></em></p>
<p>.</p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="color: #ff0000;">IX. WANITA DAN MODE</span> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Soal</strong>: Sekarang marak sebuah fenomena di tengah-tengah kaum wanita, mereka memotong rambut hingga ke bahu hingga terlihat menawan, memakai sandal jinjit, dan memakai alat-alat kecantikan. Apa hukum hal-hal di atas?</p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p><strong>Pertama: </strong>Potong rambut ada beberapa keadaan:</p>
<p>1.      Potongan yang menyerupai potongan laki-laki maka hukumnya haram dan dosa besar, sebab Nabi melaknat kaum wanita yang menyerupai kaum pria.</p>
<p>2.      Potongan yang menyerupai potongan khas wanita kafir, maka hukumnya juga haram, karena tidak boleh menyerupai orang-orang kafir.</p>
<p>3.      Potongan yang tidak menyerupai pria dan wanita kafir, hukumnya diperselisihkan ulama menjadi tiga pendapat; boleh, haram, dan makruh.</p>
<p>(Pendapat yang kuat adalah boleh, berdasarkan hadits:</p>
<blockquote>
<h3 style="text-align: center;"><strong>لَيْسَ عَلَى النِّسَاءِ حَلْقٌ ، إِنَّمَا عَلَى النِّسَاءِ التَّقْصِيْرُ</strong></h3>
<p style="text-align: center;"><em>Wanita tidak boleh mencukur habis rambutnya tetapi boleh memendekkannya.</em><a href="#_ftn18"><strong><strong>[18]</strong></strong></a><strong> </strong></p>
</blockquote>
<p><strong>Kedua:</strong> Sandal jinjit yang keterlaluan hukumnya tidak boleh dan menjurus kepada tabarruj (bersolek ala jahiliyyah) dan menjadi pusat perhatian orang, padahal Allah berfirman:</p>
<p><a href="#_ftn19">[19]</a>Maka segala sesuatu yang menjadikan wanita tampil beda dan pusat perhatian dengan perhiasannya maka tidak diperbolehkan.</p>
<p><strong>Ketiga:</strong> Menggunakan alat-alat kecantikan hukumnya boleh selama tidak ada bahayanya dan tidak mengandung fitnah.  <a href="#_ftn20">[20]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>.</p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>X. HUMOR WANITA</strong></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li><strong>Al-Jahizh</strong> berkata: &#8220;Aku pernah melihat seorang wanita yang tinggi sekali, waktu itu aku sedang makan, aku ingin mencandainya maka kukatakan padanya: &#8220;Turunlah, mari kita makan bersama&#8221;. Tidak tahunya, dia malah menjawab: &#8220;Hee, kamu saja yang naik, biar kamu bisa melihat indahnya dunia…</li>
</ul>
<ul>
<li>Seorang wanita mak comblang pernah datang kepada seorang pria, katanya: &#8220;Aku punya seorang wanita seperti pohon bunga narsis, apakah kamu punya minat? Tatkala &#8220;hari h&#8221;-nya, ternyata wanita itu nenek tua yang jelek rupanya. Pria itu berkata pada mak comblang: &#8220;Kamu telah menipuku!!&#8221;. Wanita itu menjawab: &#8220;Demi Allah, saya tidak menipumu, saya katakan  bahwa dia seperti pohon bunga narsis karena rambutnya putih, wajahnya kuning, dan betisnya hijau…</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Abu Hanifah</strong> berkata: Seorang wanita pernah menipuku, dia memberikan isyarat padaku kepada sebuah kantong yang jatuh di jalan, saya kira kantong itu miliknya, maka akupun mengambil dan membawanya kepada wanita tersebut. Ternyata, setelah dekat, dia mengatakan padaku: &#8220;Tolong ya, jaga kantong ini sampai pemiliknya datang…<a href="#_ftn21">[21]</a></li>
</ul>
<hr size="1" />
<p style="text-align: center;"><a href="#_ftnref1">[1]</a> <em>Imam Ibnu Baz Durusun wa ‘Ibar</em> Abdul Aziz as-Sadhan hal. 49.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> <em>Imam Ibnu Baz Durusun wa ‘Ibar</em> Abdul Aziz as-Sadhan hal. 49.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> <em>Tahrirul Qowaid</em> Ibnu Rojab 3/93.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> HR. Tirmidzi 108, 109, Ahmad 6/161, Syafi’i dalam <em>al-Umm</em> 1/31, Ibnu Majah 608 dan ini lafazhnya, dan Abdur Razzaq dalam <em>al-Mushannaf</em> 939, 940.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> <em>Tuhfatul Maudud</em> 166 oleh Ibnul Qayyim.</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> HR. Abu Dawud 5271 dan lainnya, dishahihkan al-Albani dalam <em>ash-Shahihah</em> 722.</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> <em>Ash-Shahihah </em>2/348.</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Pembatasan ini tidaklah dimaksud, bahkan semua yang dinamakan safar maka wanita dilarang kecuali bersama mahramnya. (<em>Syarah Shahih Muslim</em> 9/110).</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> HR.Bukhari 1086, Muslim 1338.</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> <em> Audhohul Bayan fi Hukmi Safarin Niswan</em> hal.44, oleh Samir az-Zuhairi.</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Lihat sejarah emansipasi secara bagus dalam buku <em>Hirosatul Fadhilah </em>karya Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid hlm. 139-178.</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> <em>Mu’jam Muallifin</em> 1/505.</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> <em>Al-Ahkam Asy-Syar&#8217;iyyah li Dima&#8217; Thobi&#8217;iyyah, </em>DR. Abdullah bin Muhammad ath-Thoyyar hlm. 67.</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah 2/75 dengan sanad shohih.</p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> <em>Ashlu Sifat Sholat Nabi </em>al-Albani 3/1040.</p>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> <em>Silsilah Ahadits adh-Dha&#8217;ifah</em>: 2652.</p>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> Lihat qosidah ini dalam <em>Hayatul Hayawan al-Kubro</em> ad-Damiri 1/2.</p>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> <em> </em>Shahih. HR. Abu Zur&#8217;ah dalam Tarikh Dimsyaq 1/88 dan dishahihkan al-Albani dalam Ash-Shahihah: 605.</p>
<p><a href="#_ftnref19">[19]</a> QS. Al-Ahzab: 33.</p>
<p><a href="#_ftnref20">[20]</a> Diramu dari <em>Majmu&#8217;ah As&#8217;ilah Tahummul Usroh Muslimah,</em> Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin hlm. 9-10, dan tambahan tarjih dari penulis.</p>
<p><a href="#_ftnref21">[21]</a> Kisah-kisah ini dibawakan oleh al-Hafizh Ibnul Jauzi dalam <em>Akhbar Zhirof wal Mutamajinin </em>hlm. 154, 157, 160.</p>
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://abiubaidah.com/10-faidah-tentang-ilmu.html/' rel='bookmark' title='10 FAIDAH TENTANG ILMU'>10 FAIDAH TENTANG ILMU</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/polemik-presiden-wanita.html/' rel='bookmark' title='POLEMIK PRESIDEN WANITA'>POLEMIK PRESIDEN WANITA</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/hadits-wanita-saudi.html/' rel='bookmark' title='Wanita di Saudi Arabia'>Wanita di Saudi Arabia</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/10-faidah-tentang-wanita.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MATAHARI SUJUD</title>
		<link>http://abiubaidah.com/matahari-sujud.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/matahari-sujud.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Nov 2010 22:18:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya hak makhluk yang paling utama adalah hak Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, tidak ada hak makhluk yang lebih tinggi darinya. Alloh berfirman (yang artinya): Sesungguhnya Kami mengutus kamu (Muhammad) sebagai saksi, pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan. Supaya kamu sekalian beriman kepada Alloh dan Rasul-Nya, memuliakannya dan menghormatinya (Rasul). Dan bertasbihlah kepada-Nya di [...]
Related posts:<ol>
<li><a href='http://abiubaidah.com/sujud-dengan-tangan-atau-lutut-dahulu.html/' rel='bookmark' title='Sujud Dengan Tangan Atau Lutut Dahulu?'>Sujud Dengan Tangan Atau Lutut Dahulu?</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sesungguhnya hak makhluk yang paling utama adalah hak Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, tidak ada hak makhluk yang lebih tinggi darinya. Alloh berfirman (yang artinya):</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Sesungguhnya Kami mengutus kamu (Muhammad) sebagai saksi, pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan. Supaya kamu sekalian beriman kepada Alloh dan Rasul-Nya, memuliakannya dan menghormatinya (Rasul). Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.<sup>(<a href="#_ftn1">[1]</a>)</sup></p>
<p style="text-align: center;">(QS.Al-Fath:8-9)</p>
<p style="text-align: center;"><span id="more-76"></span></p>
</blockquote>
<p>Maksud “memuliakan dan menghormati Nabi” yakni dengan pengagungan yang selayaknya, tidak kurang dan tidak pula berlebihan, baik di masa hidupnya maupun setelah wafatnya. Di masa hidupnya yaitu dengan mengagungkan pribadi dan Sunnah beliau. Adapun setelah wafatnya yaitu dengan mengagungkan Sunnah dan syari`atnya.</p>
<p>Di antara hak Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> atas umatnya adalah umat ini harus membenarkan setiap apa yang beliau khabarkan, baik hal-hal yang berkaitan dengan masa lampau maupun masa yang akan datang, menjalankan semua perintahnya, menjauhi semua larangannya serta menyakini bahwa petunjuknya adalah petunjuk yang paling baik dan paling sempurna.</p>
<p>Di antara hak beliau juga adalah membela Sunnah/haditsnya dengan mencurahkan segala kemampuan sesuai keadaan. Apabila musuh menyerang Sunnah dengan argumen dan syubhat, maka kita lawan dengan menyebarkan ilmu, menepis syubhat serta membongkar kebobrokannya. Dan apabila musuh menyerang dengan senjata, maka kita hadapi dengan senjata pula. Sungguh tidak mungkin bagi seorang mukmin yang memiliki kemampuan, tatkala dia mendengar hujatan terhadap syari`at Nabi<em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> atau pribadi beliau, dia diam begitu saja tanpa ada pembelaan<a href="#_ftn2">[2]</a>.</p>
<p>Berikut ini adalah salah satu contoh upaya pembelaan terhadap Sunnah Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dari hujatan. Lantas, apakah kita akan merealisasikan kewajiban kita? Apakah kita akan memenuhi hak Nabi kita <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>? Bertanyalah pada diri kita masing-masing wahai saudaraku pembaca!</p>
<p><strong>TEKS HADITS</strong></p>
<blockquote>
<h3 style="text-align: center;">عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ أَنَّ اْلنَّبِيَّ قَالَ يَوْمًا : أَتَدْرُوْنَ أَيْنَ تَذْهَبُ هَذِهِ اْلشَّمْسُ؟ قَالُوْا: اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: إِنَّ هَذِهِ تَجْرِيْ حَتىَّ تَنْتَهِيَ إِلىَ مُسْتَقَرِّهَا تَحْتَ اْلعَرْشِ, فَتَخِرَّ سَاجِدَةً, فَلاَ تَزَالُ كَذَالِكَ حَتىَّ يُقَالَ لَهَا: اِرْتَفِعِيْ, اِرْجِعِيْ مِنْ حَيْثُ جِئْتِ فَتَرْجِعُ, فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَطْلِعِهَا, ثُمَّ تَجْرِيْ لاَ يَسْتَنْكِرُهَا اْلنَّاسُ مِنْهَا شَيْئًا حَتىَّ تَنْتَهِيَ عَلىَ مُسْتَقَرِّهَا ذَلِكَ تَحْتَ اْلعَرْشِ فَيُقَالُ لَهَا: اِرْتَفِعِيْ, أَصْبِحِيْ طَالِعَةً مِنْ مَغْرِبِكِ, فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَغْرِبِِهَا. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ: أَتَدْرُوْنَ مَتىَ ذَاكُمْ؟ ذَاكَ حِيْنَ (لاَ يَنْفَعُ نَفْسًا إِيْمَانُهَا لَمْ تَكُنْ ءَامَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِيْ إِيْمَانِهَا خَيْرًا) (الأنعام: 158)</h3>
</blockquote>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Dari Abu Dzar  bahwa pada suatu hari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah bersabda, “Tahukah kalian ke manakah matahari ini pergi?” Mereka berkata, “Alloh dan Rasul-Nya lebih mengetahui?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya matahari ini berjalan sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu dia bersujud. Dia tetap selalu seperti itu sehingga dikatakan kepadanya: ‘Bangunlah! Kembalilah seperti semula engkau datang’, maka dia pun kembali dan terbit dari tempat terbitnya, kemudian dia berjalan sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu dia bersujud. Dia tetap selalu seperti itu sehingga dikatakan kepadanya: ‘Bangunlah! Kembalilah seperti semula engkau datang’, maka dia pun kembali dan terbit dari tempat terbitnya, kemudian berjalan sedangkan manusia tidak menganggapnya aneh sedikitpun darinya sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu dikatakan padanya: ‘Bangunlah, terbitlah dari arah barat’, maka dia pun terbit dari barat.” Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda (yang artinya), “Tahukah kalian kapan hal itu terjadi? Hal itu terjadi ketika tidak bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu atau dia belum mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.”</p>
</blockquote>
<p><strong>Takhrij Hadits</strong></p>
<ul>
<li>Diriwayatkan oleh Bukhari 4802,3199,7424,7433, Muslim 159 -dan ini lafazhnya, Ath-Thayyalisi dalam <em>Musnad</em>nya 460, Ahmad dalam <em>Musnad</em>nya 5/145,152,165,177, Abu Dawud 4002, Tirmidzi 3227, Nasa’i dalam <em>Sunan Kubra</em> 11430, Al-Baghawi dalam <em>Syarh Sunnah</em> 4292, 4293, dan lain sebagainya. Seluruhnya dari jalur Ibrahim bin Yazid at-Taimi dari ayahnya dari Abu Dzar z/.</li>
</ul>
<ul>
<li>Abu Isa At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih.” Al-Baghawi berkata, “Hadits shahih menurut syarat Muslim.” <a href="#_ftn3">[3]</a></li>
</ul>
<p><strong>Syubhat dan Jawabannya</strong><sup>(<a href="#_ftn4"><sup>[4]</sup></a>)</sup></p>
<ul>
<li>Kendatipun hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim, namun bukan berarti dia harus selamat dari kritikan, baik dari segi sanad maupun matannya. Buktinya, ada sebagian kalangan yang mencoba untuk mempermasalahkannya. Namun sayangnya, argumen yang mereka kemukakan dinyatakan “lemah” dalam timbangan ilmu hadits, sebagaimana akan jelas bagi saudara pembaca sesaat lagi.</li>
</ul>
<h3 style="text-align: center;">سَوْفَ تَرَى إِذَا انْجَلَى الْغُبَارُ</h3>
<h3 style="text-align: center;">أََفَرَسٌ تَحْتَكَ أَمْ حِمَارُ</h3>
<p style="text-align: center;"><em>Bila debu telah terang maka engkau akan segera tahu</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Apakah kuda ataukah keledai yang berada di bawahmu<a href="#_ftn5"><strong>[5]</strong></a></em>.</p>
<p><strong>1. Sanad Hadits</strong></p>
<ul>
<li>Syaikh Rasyid Ridha berkomentar tentang sanadnya, “Hadits ini diriwayatkan oleh syaikhain (Bukhari-Muslim) dari beberapa jalur dari Ibrahim bin Yazid bin Syarik at-Taimi dari Abu Dzar z/, sedangkan dia adalah <em>mudallis</em>. Sekalipun mayoritas ulama menganggapnya <em>tsiqah</em> (terpercaya). Imam Ahmad berkata, ‘Dia tidak bertemu Abu Dzar.’ Ad-Daruquthni berkata, ‘Dia tidak mendengar dari Hafshah, tidak pula Aisyah c/, bahkan tidak pula mendapati masa keduanya.’ Ibnu Madini berkata, ‘Dia tidak mendengar dari Ali, dan tidak pula Ibnu Abbas c/.’ Demikian disebutkan dalam <em>Tahdzibut Tahdzib</em>.</li>
</ul>
<ul>
<li>Selain itu hadits ini juga diriwayatkan dari mereka secara `<em>an`anah</em><a href="#_ftn6">[6]</a>, maka hal ini mengandung kemungkinan bahwa orang yang menceritakannya dari mereka bukan orang yang tsiqah.</li>
</ul>
<ul>
<li>Apabila dalam sebagian riwayat shahihain (shahih Bukhari-Muslim) dan kitab-kitab sunan saja terdapat kecacatan semacam ini, yakni kemungkinan masuknya <em>israiliyyat</em><sup> (<a href="#_ftn7">[7]</a>)</sup> dan kesalahan penukilan, lantas bagaimana kiranya hadits-hadits yang tidak diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim dan para penulis kitab-kitab sunan?!” <a href="#_ftn8">[8]</a><strong></strong></li>
</ul>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<ul>
<li>Demikianlah perkataaan <strong>Syaikh Muhammad Rasyid Ridha</strong>, semoga Alloh mengampuninya! Padahal kalau dicermati, perkataan di atas sangat berbahaya dan mengandung celaan terhadap hadits yang shahih dari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, atau minimal <em>tasykik</em> (meragukan) keabsahannya, padahal hadits tersebut disepakati oleh Bukhari-Muslim yang telah diterima oleh umat dengan bulat.</li>
</ul>
<ul>
<li>Aduhai, seandainya beliau meneliti ulang lagi sanad hadits ini dan mengikuti jejak para ulama ahli hadits yang mengimani setiap hadits shahih, tidak memberatkan diri terhadap sesuatu yang di luar kapasitas akal mereka serta mengartikan maknanya sesuai zhahirnya, niscaya beliau akan selamat dari keruwetan yang beliau gambarkan.</li>
</ul>
<ul>
<li>Terus terang, sebenarnya penulis yang lemah ini merasa wibawa untuk mengomentari ucapan beliau. Bagaimana tidak, karena dia sekarang tidak berhadapan dengan para ahli bid`ah seperti biasanya, tetapi dengan seorang yang dikenal berjasa banyak dalam membela dan menghidupkan ilmu-ilmu Islam di masanya<sup>(<a href="#_ftn9">[9]</a>)</sup>. Sedangkan penulis hanyalah seorang penuntut ilmu kecil yang baru belajar kemarin sore. Namun bagaimanapun juga kebenaran tetaplah kebenaran yang harus kita junjung tinggi dan kesalahan tetaplah kesalahan yang harus kita luruskan dengan adab Islami. Alangkah bagusnya ucapan al-Hafizh Ibnu Qayyim: “Syaikhul Islam (al-Harawi) sangat kami cintai, tetapi al-haq lebih kami cintai.”<sup>(<a href="#_ftn10">[10]</a>)</sup></li>
</ul>
<ul>
<li>Al-Hafizh Ibnu Rajab berkata, “Adapun menjelaskan ketergelinciran seorang ulama sebelumnya, apabila dengan adab yang bagus maka tidak tercela&#8230;.” Lanjutnya, “Apabila tujuan si pengkritik adalah menjelaskan al-haq agar manusia tidak tertipu dengan ketergelinciran seorang alim tersebut, maka tidak ragu lagi bahwa dia berpahala dan perbuatannya termasuk nasehat untuk Alloh, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin, baik si pengkritik tersebut kecil maupun besar.” <a href="#_ftn11">[11]</a></li>
</ul>
<ul>
<li>Sengaja, penulis memberi muqaddimah ini sebelum memasuki tanggapan agar tidak ada nantinya seorang yang salah paham sehingga menilai kritikan ini sebagai hujatan dan celaan terhadap Syaikh Rasyid Ridha. Jadi, tanggapan kami terhadap Syaikh Muhammad Rasyid Ridha tidak lain kecuali untuk menampakkan kebenaran dan meluruskan ketergelinciran. <em>Wa-Allohu a`lam</em>.</li>
</ul>
<p>Adapun kritikan beliau tentang sanad hadits ini dengan alasan bahwa Ibrahim bin Yazid at-Taimi adalah seorang <em>mudallis </em>dan tidak bertemu dengan Abu Dzar, maka ini adalah ketergelinciran beliau, sebab hadits ini bersambung sanadnya dan diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqah (terpercaya). Adapun perinciannya sebagai berikut:</p>
<blockquote><p>a. Sanad hadits ini bukan seperti yang beliau katakan, yaitu Ibrahim bin Yazid at-Taimi dari Abu Dzar, tetapi yang benar -sebagaimana dalam Bukhari-Muslim dll- adalah Ibrahim bin Yazid at-Taimi <span style="text-decoration: underline;">dari ayahnya</span> dari Abu Dzar.</p></blockquote>
<ul>
<li>Ayah Ibrahim adalah <strong>Yazid bin Syarik at-Taimi</strong>, dia meriwayatkan dari Umar, Ali, Abu Dzar, Ibnu Mas`ud dan para sahabat lainnya. Dan meriwayatkan darinya anak beliau sendiri (Ibrahim bin Yazid), Ibrahim an-Nakha’i, dan selainnya. Beliau dinilai tsiqah oleh Ibnu Ma`in, Ibnu Hibban, Ibnu Sa`ad, dan Ibnu Hajar. Abu Musa al-Madini berkata, “Dikatakan: Yazid mendapati masa jahiliyah.”<a href="#_ftn12">[12]</a></li>
</ul>
<blockquote><p>b. <strong>Ibrahim bin Yazid</strong> telah menegaskan bahwa dia mendengar dari ayahnya, sebagaimana dalam riwayat Imam Muslim:</p>
<h3>&#8230; حَدَّثَنَا يُوْنُسُ عَنْ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ يَزِيْدَ التَّيْمِيِّ <span style="color: #ff0000;"><strong><span style="text-decoration: underline;">سَمِعَهُ</span></strong></span> فِيْمَا أَعْلَمُ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ</h3>
<p>Sedangkan telah mapan dalam disiplin ilmu hadits bahwa seorang rawi yang tsiqah -atau bahkan mudallis sekalipun -apabila telah menegaskan “mendengar” maka riwayatnya diterima.</p></blockquote>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Walhasil, hadits ini adalah shahih tiada cacat di dalamnya</strong></span>. Oleh karena itu, para ulama ahli hadits menerimanya dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang mempermasalahkannya.</p>
<p><strong>2. Matan</strong></p>
<p><strong>Syaikh Muhammad Rasyid Ridha</strong> mengatakan bahwa matan hadits ini sangat mengandung keruwetan<a href="#_ftn13">[13]</a>.</p>
<p><strong> Syaikh Abu Rayyah</strong> juga berkata, “Di antara hadits yang sangat sulit dimengerti karena menyelisihi kenyataan adalah seperti hadits Abu Dzar <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> yang diriwayatkan Bukhari-Muslim dan selainnya tentang keberadaan matahari setelah terbenam.” <a href="#_ftn14">[14]</a></p>
<p>Demikian beliau berdua menilai bahwa hadits ini mengandung keruwetan dan sulit dimengerti oleh akal orang. Lantas manakah sudut yang dipermasalahan?! <em>Wa-Allohu a`lam</em>, hal itu tidak mereka ungkapkan secara jelas, sekalipun menurut hemat penulis kejanggalan mereka terhadap hadits ini kembali kepada dua titik permasalahan -yang kalau boleh saya gambarkan dengan bahasa saya adalah- sebagai berikut:</p>
<p>1. Bagaimana mungkin matahari sujud?! Bagaimana sifat sujudnya?! Kalau memang sujud, mengapa tetap berjalan sesuai waktu tanpa pernah terlambat sedikit pun?!</p>
<p>2. Bagaimana dikatakan matahari sujud di bawah Arsy padahal kita lihat dengan mata kepala bahwa dia tetap di bawah langit?<strong>!</strong></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Sebelum kita memasuki jawaban dua permasalahan di atas, perlu kita ingat kembali bahwa kewajiban kita terhadap hadits yang shahih adalah mengimani dan membenarkannya dengan tiada keraguan di dalamnya. Inilah kewajiban dan adab kita terhadap sunnah Nabi Muhammad<sup>(<a href="#_ftn15">[15]</a>)</sup>. Alangkah bagusnya cerita al-Hafizh Ibnul Qayyim, “Pada suatu hari saya pernah berdialog dengan salah seorang pembesar mereka, saya bertanya kepadanya, ‘Andaikan saja Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> hidup di tengah-tengah kita, lalu beliau mengucapkan suatu ucapan kepada kita, apakah wajib bagi kita untuk mengikutinya tanpa harus melirik kepada pendapat, ucapan maupun madzhab orang lain? Ataukah kita tidak wajib membenarkannya sehingga kita timbang terlebih dahulu dengan pendapat dan akal manusia?!’ Dia menjawab, ‘Ya jelas harus membenarkannya tanpa melirik kepada selainnya.’ Saya bertanya lagi, ‘Lantas apa yang menghapus kewajiban ini dari kita dan dengan apa kewajiban tersebut dihapus?’ Akhirnya dia meletakkan jari-jemarinya ke mulut kebingungan dan tidak berkata satu kata pun.” <a href="#_ftn16">[16]</a></p>
<p>Adapun penjelasan dan jawaban secara terperinci, maka marilah kita baca bersama keterangan dan komentar ulama tentangnya sebagai berikut. Semoga Alloh memudahkan kita untuk memahaminya.</p>
<p><strong>1. Sujudnya Matahari</strong></p>
<ul>
<li>Ibnul Arabi berkata, “Ada suatu kaum yang mengingkari sujudnya matahari padahal hal itu adalah shahih dan mungkin saja.”<a href="#_ftn17">[17]</a></li>
</ul>
<p>Sungguh mengherankan!! Bagaimana mereka mengingkari sujudnya matahari? Tidakkah mereka membaca firman Alloh (yang artinya):</p>
<blockquote><p><em><br />
</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Alloh bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata, dan sebagian besar daripada manusia</em></p>
<p style="text-align: center;"><em> </em>(QS.Al-Hajj:18)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: center;"><em><strong><span style="color: #ff0000;"><br />
</span></strong></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><strong><span style="color: #ff0000;">Mungkin timbul pertanyaan: Kalau matahari sujud, lantas bagaimana sujudnya?</span></strong></em></p>
<ul>
<li><strong>Imam Nawawi</strong> berkata, “Adapun sujudnya matahari, maka hal itu dengan perbedaan yang diciptakan Alloh baginya.” <a href="#_ftn18">[18]</a></li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Al-Hafizh Ibnu Katsir</strong> berkata, “Setiap makhluk sujud karena keagungan Alloh baik suka maupun terpaksa. Dan sujudnya segala sesuatu itu berbeda-beda sesuai dengan pribadinya masing-masing.” <a href="#_ftn19">[19]</a></li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Al-Kaththabi</strong> berkata, “Dalam hadits ini terdapat informasi bahwa matahari sujud di bawah Arsy. Hal itu tidak mustahil bisa terjadi ketika dia melewati Arsy dalam peredarannya.”<a href="#_ftn20">[20]</a></li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Baz</strong> berkata, “Seluruh makhluk bersujud dan bertasbih kepada Alloh dengan tasbih dan sujud yang diketahui Alloh sekalipun kita tidak mengerti dan mengetahuinya.” <a href="#_ftn21">[21]</a></li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin</strong>, “Hadits ini menunjukkan bahwa makna (لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا) adalah tempat peredaran, karena dia sujud di bawah Arsy. Kita tidak mengetahui bagaimana sifat sujudnya, sebab matahari tidak sama seperti manusia sehingga sujudnya bisa disetarakan dengan sujudnya manusia, bahkan dia adalah makhluk yang lebih besar. Oleh karena itu, janganlah muncul pertanyaan kepada kita: Apakah matahari sujud sambil berjalan ataukah berhenti dahulu? Bagaimana matahari sujud dan meminta izin kepada Alloh sedangkan dia terus berjalan dalam orbitnya?!!” <a href="#_ftn22">[22]</a></li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Syaikh Abdur Rahman al-Mu`allimi</strong> berkata, “Bagaimanapun sifat sujudnya matahari, yang penting hal itu menunjukkan kepada kita akan kepasrahan dan ketundukannya yang sempurna terhadap perintah Rabbnya selama-lamanya. Barangkali saja tenggelamnya matahari ke arah bawah seperti dalam pandangan mata kita itu yang dimaksud dengan sujudnya matahari.” <a href="#_ftn23">[23]</a></li>
</ul>
<p>Walhasil, kita harus beriman bahwa matahari itu sujud kepada Alloh, sedangkan bagaimana sifat sujudnya maka hal itu di luar kapasitas akal kita. Masalah ini mirip sekali dengan apa yang telah Alloh firmankan dalam kitab-Nya (yang artinya):</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Alloh. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.</p>
<p style="text-align: center;">(QS.Al-Isra’:44)</p>
</blockquote>
<p><strong>2. Sujud di bawah Arsy</strong></p>
<p><strong>Al-Kaththabi</strong> berkata tentang sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ‘Tempat peredarannya adalah di bawah Arsy’, “Kita tidak memungkiri bila matahari memiliki tempat peredaran di bawah Arsy yang tidak kita jangkau dan saksikan. Kita hanya dikhabarkan tentang sesuatu yang ghaib, maka kita tidak mendustakannya dan membagaimanakannya, karena keilmuan kita terbatas dan tidak menjangkaunya.” <a href="#_ftn24">[24]</a></p>
<p><strong>Ibnul Jauzi</strong> berkata: “Mungkin masalah dalam hadits ini dianggap rumit oleh orang yang tidak membidangi ilmu seraya berkomentar: “Kita melihatnya terbenam ke bumi dan Al-Qur’an mengabarkan bahwa matahari terbenam dalam laut yang berlumpur hitam (al-Kahfi: 86). Jadi kalau dia berputar di bawah bumi dan naik, lantas kapan dia berada di bawah arsy?! Jawabnya: Sesungguhnya langit yang tujuh seperti poros penggilingan, demikian pula Arsy karena besarnya dia seerti penggilingan, dimana saja matahari sujud maka dia sujud di bawah arsy. Itulah tempat peredarannya”.<a href="#_ftn25">[25]</a></p>
<p><strong>Syaikh Dr. Abdullah Al-Ghunaiman</strong> berkata, “Sujudnya matahari di bawah Arsy tidaklah berarti dia keluar dari orbitnya atau ketinggalan dalam peredarannya ke bumi, bahkan dia selalu muncul ke suatu bagian dari bumi, sedangkan waktunya bagi penduduk bumi berbeda-beda menurut peredarannya.</p>
<p>Dan sebagaimana dimaklumi bahwa pergantian malam dan siang sangat berkaitan erat dengan peredarannya. Oleh karenanya, mungkin timbul pertanyaan: Di manakah letak sujudnya di bawah Arsy? Kapan hal itu terjadi, padahal dia selalu berjalan? Jarak jauhnya dari bumi juga tidak pernah berubah suatu waktu pun, sebagaimana peredarannya juga tidak pernah berubah seperti yang kita saksikan sendiri.</p>
<p><strong>Jawabannya</strong> adalah: Matahari sujud setiap malam di bawah Arsy sebagaimana dikhabarkan oleh Nabi n/ yang jujur. Dia juga selalu muncul pada bagian dari bumi, dan dia juga selalu berjalan dalam orbitnya di bawah Arsy siang dan malam. Bahkan setiap makhluk pun berada di bawah Arsy, tetapi dalam waktu dan tempat tertentu dia sujud yang tidak diketahui makhluk tetapi diketahui berdasarkan wahyu. Sujud tersebut adalah hakiki sesuai dengan zhahir nash. Adapun beredar, maka hal itu tidak pernah lepas darinya selama-lamanya. <em>Wa-Allohu a`lam</em>.”</p>
<p>Lanjut beliau, “Perbedaan peredaran matahari itu hanyalah bagi yang berada di bumi, artinya dia terbit di tempat tertentu dan terbenam di tempat tertentu, padahal dalam peredarannya di orbitnya tidak ada perbedaan ini. Jadi sujudnya matahari tidaklah berbeda dengan perbedaan malam dan siang, karena perbedaan ini hanyalah bagi yang berada di bumi, adapun sujudnya di tempat dan waktu tertentu tidaklah berbeda.”<a href="#_ftn26">[26]</a></p>
<p><strong>FIQIH HADITS</strong></p>
<p>Hadits ini menyimpan beberapa faedah yang cukup banyak, di antaranya:</p>
<p><strong>1. Bagusnya cara pengajaran Nabi</strong>, yaitu dengan melontarkan sebuah pertanyaan kepada para sahabatnya. Cara seperti ini seringkali beliau praktekkan dalam banyak hadits. Tidak diragukan lagi bahwa sistem pengajaran seperti ini sangat bermanfaat sekali dalam pematangan ilmu dan ketetapannya dalam akal pikiran, sebab seorang yang ditanya akan merasa penasaran untuk mengetahui jawabannya, sehingga ketika jawaban datang kepadanya sedang dia dalam kondisi penasaran dan haus mencari jawaban, tak ragu lagi bahwa hal itu akan lebih terekam dalam hatinya.<a href="#_ftn27">[27]</a></p>
<p>Faedah ini hendaklah diperhatikan oleh kita semua, khususnya para ustadz dan para da`i dalam mentransfer ilmu kepada orang lain. Janganlah dia menyampaikan secara hamparan begitu saja, karena hal ini akan lebih mudah hilang dari ingatan, tetapi hendaknya seorang guru untuk berusaha menggunakan cara-cara agar ilmu yang dia sampaikan bisa menetap dalam hati, baik dengan soal-jawab, <em>muraja`ah</em>, diskusi, dan lain sebagainya.</p>
<p>2. Dalam hadits ini terdapat dalil yang jelas bahwa matahari mengelilingi bumi, bukan malah sebaliknya, bumi mengelilingi matahari<a href="#_ftn28">[28]</a>. Segi pendalilannya karena Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyandarkan “pergi” kepada matahari, bukan bumi, sedangkan kita yakin seyakin-yakinnya bahwa Alloh lebih mengetahui daripada makhluk-Nya. Dan kita tidak mungkin bergeser meninggalkan dalil yang jelas hanya karena teori-teori manusia yang tidak didasari dengan asas yang meyakinkan.</p>
<p>Perlu diketahui bahwa dalil-dalil tentang masalah ini (matahari mengelilingi bumi) sangat banyak<sup>(<a href="#_ftn29">[29]</a>)</sup>, maka akankah kita mengatakan bahwa bumi yang mengelilingi matahari, sebagaimana yang banyak beredar pada zaman ini?! Tidak, sebelum betul-betul kita menemukan dalil dan bukti jelas yang dapat kita jadikan hujjah di hadapan Alloh. Dan hal itu sampai detik ini belum kita dapati, maka kita harus kokoh menetapkan dalil sesuai zhahirnya dan tidak bergeser darinya.<a href="#_ftn30">[30]</a></p>
<p>Sungguh amat mengherankan dan tidak diterima oleh akal sehat, bagaimana kita (umat Islam) mengenal tanda-tanda kekuasaan Alloh dari orang-orang yang tidak mengenal Alloh (baca: orang kafir)?! Apakah orang-orang kafir barat itu lebih tahu tentang cara mengenal kekuasaan Alloh daripada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan para sahabatnya? Apakah Alloh dan Rasul-Nya tidak pernah menjelaskan masalah ini kepada kita? Sungguh benar ucapan penyair:</p>
<blockquote>
<h3 style="text-align: center;">وَمَنْ يَكُنِ الْغُرَابُ لَهُ دَلِيْلاً</h3>
<h3 style="text-align: center;">يَمُرُّ بِهِ عَلِى جِيَفِ الْكِلاَبِ</h3>
<p style="text-align: center;"><em>Barangsiapa yang penunjuk jalannya adalah burung gagak </em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Maka dia akan mengantarkannya ke bangkai-bangkai anjing</em></p>
</blockquote>
<p>Perlu kami tegaskan di sini bahwa setiap dalil -baik dari ayat maupun hadits- yang digunakan landasan untuk menguatkan pendapat “bumi mengelilingi matahari” adalah penafsiran dan pemahaman yang tidak benar, sebagaimana dikatakan oleh <strong>Syaikh Abdul Karim bin Shalih al-Humaid</strong> dalam risalahnya <em>Hidayah al-Hairan fi Mas’alah ad-Dauran</em> hal.18.</p>
<blockquote>
<h3 style="text-align: center;">وَكَمْ مِنْ عَائِبٍ قَوْلاً صَحِيْحًا</h3>
<h3 style="text-align: center;">وَآفَتُهُ مِنَ الْفَهْمِ السَّقِيْمِ</h3>
<p style="text-align: center;"><em>Betapa banyak pencela ucapan yang benar</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Sisi cacatnya adalah pemahaman yang dangkal<a href="#_ftn31"><strong>[31]</strong></a></em></p>
</blockquote>
<p>Di antara dalil yang sering dijadikan landasan adalah firman Alloh (yang artinya):</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><em>Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awan</em>.</p>
<p style="text-align: center;">(QS.An-Naml:88)</p>
</blockquote>
<p><strong>Syaikh Ibnu Utsaimin</strong> berkata, “Sebagian orang berkata bahwa ayat ini menunjukkan, bumi mengelilingi matahari. Penafsiran ini keliru dan berkata atas Alloh tanpa dasar ilmu, karena konteks ayat di atas tidak menunjukkan hal itu, coba perhatikan secara sempurna:</p>
<p style="text-align: center;">&#8220;<em>Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Alloh. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri. Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Alloh yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu, sesungguhnya Alloh Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik daripadanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tentram dari kejutan yang dahsyat pada hari itu</em>.&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">(QS.An-Naml:87-89)</p>
<p>Ayat ini secara jelas menunjukkan bahwa kejadian tersebut adalah ketika hari kiamat.”<a href="#_ftn32">[32]</a><strong></strong></p>
<p><strong>3. Terbitnya matahari dari barat adalah salah satu tanda besar dekatnya hari kiamat.</strong></p>
<p>Hadits ini merupakan di antara salah satu hadits yang banyak sekali, bahkan berderajat mutawatir<sup>(<a href="#_ftn33">[33]</a>)</sup> bahwa terbitnya matahari adalah salah satu tanda dekatnya kiamat. Maka hal ini wajib diimani oleh setiap muslim yang mengaku Alloh sebagai Rabbnya, Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah nabinya, dan Islam adalah agamanya. Anehnya, sebagian kalangan masih ada yang meragukan aqidah ini<sup>(<a href="#_ftn34">[34]</a>)</sup>. <em>Wa-Allohul Musta`an</em>.</p>
<p><strong>4. Sunnah merupakan penjelas Al-Qur’an.</strong></p>
<p>Hadits bisa dijadikan contoh yang bagus tentang kedudukan Sunnah/hadits sebagai penjelas Al-Qur’an, yaitu:</p>
<p>a. Surat Yasin:38</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><em>Dan matahari berjalan di tempat peredarannya</em>. Sebagaimana penjelasan di muka. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 6/576)</p>
</blockquote>
<p>b. Surat Al-An`am:158</p>
<p style="text-align: center;">&#8220;<em>Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Rabbmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia belum mengusahakan kebaikan pada masanya</em>.&#8221;</p>
<p>Maksud “sebagian tanda-tanda Rabbmu” adalah terbitnya matahari dari arah barat, sebagaimana dijelaskan dalam banyak hadits. Ini juga dikuatkan oleh para ulama ahli tafsir.</p>
<p><strong>Imam ath-Thabari</strong> berkata, “Pendapat yang paling benar tentangnya adalah apa yang ditunjukkan oleh banyak hadits dari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bahwa hal itu adalah ketika matahari terbit dari arah barat.”<a href="#_ftn35">[35]</a>.</p>
<p><strong>Al-Allamah asy-Syaukani</strong> juga berkata, “Apabila telah tetap penfasiran Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan jalan yang shahih ini, maka dia harus didahulukan.” <a href="#_ftn36">[36]</a></p>
<p><strong>5. Matahari merupakan tanda kekuasaan Alloh.</strong></p>
<p>Alloh berfirman (yang artinya):</p>
<p style="text-align: center;">&#8220;<em>Dan sebagian tanda-tanda kekuasan-Nya adalah malam, siang, matahari, dan bulan&#8221;</em></p>
<p style="text-align: center;">(QS.Fushshilat:37)</p>
<p>Perhatikanlah bagaimana dia berjalan secara teratur tanpa maju ataupun mundur sedikit pun sejak awal penciptaannya hingga kelak jika Alloh hendak menghancurkan dunia. Demikian pula bentuknya yang begitu besar dan manfaatnya yang begitu banyak bagi kehidupan makhluk di bumi, baik bagi tubuh, pohon, sungai, lautan, dan lain sebagainya. Belum lagi sinarnya yang menyinari dunia sehingga manusia tidak membutuhkan listrik. Dan masih banyak lagi lainnya<a href="#_ftn37">[37]</a>.</p>
<p>Oleh karena itu saya mengajak saudara-saudaraku untuk merenungi tanda-tanda kekuasaan Alloh yang ada di sekitar kita, baik langit, bumi, lautan, matahari, rembulan, malam, siang, dan sebagainya sehingga dapat menambah keimanan kita kepada Alloh.</p>
<p><em><br />
</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Alloh di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertaqwa.</em>&#8220;</p>
<p style="text-align: center;">(QS.Yunus:6)</p>
<p>Akhirnya, kita berdo`a kepada Alloh agar memberikan taufiq dan meneguhkan kita semua. <em>Aamiin</em>.</p>
<hr size="1" />
<p style="text-align: center;"><sup>([1])</sup> Syaikh As-Sa`di berkata dalam <em>Tafsir</em>nya hal.736, “Alloh menyebutkan dalam ayat ini hak-Nya dan hak Rasul-Nya secara bersamaan yaitu keharusan beriman kepada keduanya. Hak yang khusus bagi Nabi n/ yaitu menghormati dan mengagungkannya. Adapun hak yang khusus bagi Alloh yaitu bertasbih dan menyucikan-Nya dengan melaksanakan shalat dan ibadah lainnya.”</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> <em>Huquq Da`at Ilaiha Fithrah</em> hal.5, Syaikh Ibnu Utsaimin.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Lihat <em>Tafsir Ibnu Katsir</em>, surat Yasin:38 dan <em>Silsilah ash-Shahihah</em> 2403, Al-Albani.</p>
<p><sup>([4])</sup> Sebagai amanat ilmiah, saya sampaikan bahwa gerbang pembuka bahasan ini adalah kitab <em>Asyrath as-Saa`ah</em> oleh Syaikh Yusuf bin Abdillah Al-Wabil. 393-397. Dahulu pernah dikatakan, “Diantara keberkahan ilmu adalah menyandarkannya kepada ahlinya.” (Lihat <em>Bustanul Arifin</em> hal.29, Imam Nawawi)</p>
<p><a href="#_ftnref5"><em><strong>[5]</strong></em></a><em> </em><em>Ihya’ Ulumuddin</em> 4/8</p>
<p><sup>([6])</sup> <em>`An`anah</em> adalah periwayatan hadits dengan lafazh <em>`an</em> (عَنْ) artinya ‘dari’.</p>
<p><sup>([7])</sup> Lihat keterangan batilnya kemungkinan ini dalam <em>Zhulumat Abu Rayyah</em> hal.286-287 oleh Syaikh Muhammad Abdur Razzaq Hamzah.</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> <em>Tafsir al-Manar</em> 8/211-212, cet.kedua, Darul Ma`rifah, Beirut</p>
<p><sup>([9])</sup> Sekalipun harus diakui bahwa beliau memiliki beberapa ketergelinciran dalam aqidah. (Lihat Manhaj <em>Madrasah al-Aqliyyah al-Hadtsisah fi Tafsir</em> hal.187-192 oleh Fahd ar-Rumi, dan <em>Manhaj Rasyid Ridha fil Aqidah</em> oleh Tamir Muhammad Mahmud)</p>
<p><sup>([10])</sup> <em>Madarij Salikin</em> 2/38. Di akhir-akhir menulis makalah ini, saya menemukan ucapan Syaikh Abdur Rahman Hamzah yang persis dengan perkataan di atas. Dalam <em>Zhulumat Abu Rayyah</em> hal.237 beliau berkata, “Aku termasuk murid Sayyid Rasyid Ridha dan mengambil manfaat banyak darinya. Aku bersyukur kepada Alloh kemudian berterima kasih pada guruku, namun hal itu tidaklah mencegahku untuk menyelisihinya dalam masalah yang al-haq nampak bagiku, sebagaimana pernah dikatakan seorang bijak bahwa dia mencintai gurunya tetapi kebenaran lebih ia cintai darinya.”</p>
<p><a href="#_ftnref11"><em><strong>[11]</strong></em></a><em> </em><em>Al-Farqu baina an-Nashihah wa Ta’yir</em> hal. 11</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> Lihat <em>Tahdzibut Tahdzib</em> Ibnu Hajar 11/337</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> <em>Tafsir al-Manar</em> 8/211</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> <em>Adhwa’ `ala as-Sunnah an-Nabawiyyah</em> hal.338</p>
<p><sup>([15])</sup> Banyak di antara manusia beranggapan bahwa “adab” hanyalah terbatas pada hubungan antara sesama manusia. Sungguh ini adalah penyempitan makna, karena adab mempunyai ruang lingkup yang luas, meliputi adab terhadap Alloh, Rasul-Nya, dan sesama manusia. (Lihat <em>Madarijus Salikin</em> 2/391, Ibnul Qayyim dan <em>Makarimul Akhlaq </em>hal. 13, Ibnu Utsaimin.</p>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> Madarij Salikin 2/404</p>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> Fathul Bari 6/299</p>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> Syarh Shahih Muslim 2/197</p>
<p><a href="#_ftnref19">[19]</a> Tafsir Al-Qur’an al-Azhim 5/398</p>
<p><a href="#_ftnref20">[20]</a> <em>Syarh Sunnah</em> 15/95-96, al-Baghawi</p>
<p><a href="#_ftnref21">[21]</a> Majmu` Fatawa wa Maqalat 8/295</p>
<p><a href="#_ftnref22">[22]</a> Tafsir Surat Yasin hal.137</p>
<p><a href="#_ftnref23">[23]</a> <em>Al-Anwar al-Kasyifah</em> hal.294</p>
<p><a href="#_ftnref24">[24]</a> <em>Syarh Sunnah</em> 15/95-96, al-Baghawi</p>
<p><a href="#_ftnref25">[25]</a> <em>Kasyful Musykil an Hadits Shahihain</em> 1/359.</p>
<p><a href="#_ftnref26">[26]</a> <em>Syarh Kitab Tauhid min Shahih Bukhari</em> 1/212<em>, Bayan Talbis Jahmiyyah</em> Ibnu Taimiyyah 2/228</p>
<p><a href="#_ftnref27">[27]</a> <em>Syarh Kitab Tauhid</em> 1/408, Syaikh Dr. Abdullah al-Ghunaiman</p>
<p><a href="#_ftnref28">[28]</a> <em>Fathul Bari</em> 6/299, Ibnu Hajar</p>
<p><sup>([29])</sup> Dalam kitab <em>ash-Shawa’iq asy-Syadidah ‘ala Atba’ Haiah Jadidah</em> oleh Syaikh Humud at-Tuwaijiri dan <em>Al-Maurid Zilal fi Tanbih `ala Akhtha’ Zhilal</em> 1/251-276 Syaikh Muhammad ad-Duwais disebutkan 25 dalil ayat Al-Qur’an, 16 hadits dan ijma` ulama. (Lihat juga masalah ini dalam <em>Majmu` Fatawa</em> Ibnu Utsaimin 1/72-75, <em>Hidayah al-Hairan fi Mas’alah ad-Dauran</em> oleh Syaikh Abdul Karim al-Humaid, <em>Matahari Mengelilingi Bumi Bantahan Terhadap Barat Kafir</em> oleh Surkan H.J. Saniman, <em>Matahari Mengelilingi</em> <em>Bumi</em> oleh akhuna wa ustadzuna Ahmad Sabiq Abu Yusuf).</p>
<p><a href="#_ftnref30">[30]</a> Lihat <em>Syarh Arba`in Nawawiyah</em> hal.289, <em>Tafsir Surat Yasin</em> hal.139, <em>Tafsir Surat Al-Kahfi</em> hal.32 oleh Syaikh Muhammad bin Utsaimin.</p>
<p><a href="#_ftnref31">[31]</a> <em>Diwan al-Mutanabbi</em> hal. 232</p>
<p><a href="#_ftnref32">[32]</a> Tafsir Surat Al-Kahfi hal.81</p>
<p><sup>([33])</sup> Sebagaimana dinyatakan oleh al-Hafizh Ibnu Katsir dalam <em>Nihayah Bidayah</em> 1/144, al-Kattani dalam <em>Nazhmul Mutanatsir</em> hal.241dan Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam <em>Majmu` Fatawa</em>nya 8/295.</p>
<p><sup>([34])</sup> Termasuk di antaranya Syaikh Rasyid Ridha dalam <em>Tafsir al-Manar</em> 8/211. “Apabila demikian sikap mereka terhadap hadits mutawatir, lantas bagaimana kiranya bila haditsnya tidak sampai derajat mutawatir?! Oleh karena itu tak aneh bila Syaikh Muhammad Abduh tidak percaya terhadap hadits-hadits tentang fitnah akhir zaman yang termuat dalam kitab-kitab shahih kecuali sedikit sekali, sebagaimana dikatakan muridnya Rasyid Ridha dalam <em>al-Manar</em> 9/466.” (<em>Manhaj Madrasah Aqliyyah al-Hadtsitsah fi Tafsir</em> hal.524)</p>
<p><a href="#_ftnref35">[35]</a> <em>Jami`ul Bayan</em> 8/103</p>
<p><a href="#_ftnref36">[36]</a> <em>Fathul Qadir</em> 2/182</p>
<p><a href="#_ftnref37">[37]</a> <em>Syarh Tsalatsah Ushul</em> hal.48, Ibnu Utsaimin</p>
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://abiubaidah.com/sujud-dengan-tangan-atau-lutut-dahulu.html/' rel='bookmark' title='Sujud Dengan Tangan Atau Lutut Dahulu?'>Sujud Dengan Tangan Atau Lutut Dahulu?</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/matahari-sujud.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Info Safari Dakwah Asatidz Majalah Al-Furqon 2010 (Pontianak &#8211; Cikarang &#8211; Sukoharjo &#8211; Yogyakarta &#8211; Lombok &#8211; Kediri &#8211; Malang &#8211; Bengkulu &#8211; Palembang)</title>
		<link>http://abiubaidah.com/safari-dakwah-2010.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/safari-dakwah-2010.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 May 2010 01:56:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi dan Serba-serbi]]></category>
		<category><![CDATA[daurah]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Pengajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=709</guid>
		<description><![CDATA[. Jadwal Kajian Safari Dakwah Al Furqon (InsyaAlloh) Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron A. Pontianak &#124; Sabtu 22 Mei 2010 Tema: Pola Membina Keluarga Islami Tempat: Masjid Raya Pontianak B. Pontianak &#124; Ahad 23 Mei 2010 Tema: Menyikapi Perbedaan Pendapat Para Ulama Tempat: Masjid Univ Tanjung Pura CP: 081345061551 . Ustadz Abu Ubaidah A. Kediri [...]
Related posts:<ol>
<li><a href='http://abiubaidah.com/daurah-cikarang.html/' rel='bookmark' title='Daurah Intensif Ustadz Yusuf As-Sidawi di Cikarang Akhir Mei 2010'>Daurah Intensif Ustadz Yusuf As-Sidawi di Cikarang Akhir Mei 2010</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/kajian-maulid.html/' rel='bookmark' title='Kajian Umum: Hakikat Perayaan Maulid Nabi'>Kajian Umum: Hakikat Perayaan Maulid Nabi</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/kajian-asyafii.html/' rel='bookmark' title='Kajian Umum Madiun: Prinsip-Prinsip Imam Asy-Syafi&#8217;i dalam Beragama'>Kajian Umum Madiun: Prinsip-Prinsip Imam Asy-Syafi&#8217;i dalam Beragama</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2010/05/Info-Safari-Dakwah-safar-lid-dakwah.jpg"><img class="size-large wp-image-274 aligncenter" title="Info Safari Dakwah (safar lid dakwah)" src="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2010/05/Info-Safari-Dakwah-safar-lid-dakwah-767x1024.jpg" alt="" width="508" height="1024" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;">.</span></p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="color: #0000ff;">Jadwal Kajian Safari Dakwah Al Furqon (InsyaAlloh)</span></strong></p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong><span id="more-709"></span>Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron</strong></span></p>
<blockquote><p><strong>A. Pontianak | Sabtu 22 Mei 2010<br />
</strong> Tema: Pola Membina Keluarga Islami<br />
Tempat: Masjid Raya Pontianak</p></blockquote>
<blockquote><p><strong>B. Pontianak | Ahad 23 Mei 2010</strong><br />
Tema: Menyikapi Perbedaan Pendapat Para Ulama<br />
Tempat: Masjid Univ Tanjung Pura<br />
CP: 081345061551</p></blockquote>
<p>.</p>
<p><strong><span style="color: #ff6600;">Ustadz Abu Ubaidah</span></strong></p>
<blockquote><p><strong>A. Kediri | Ahad, 23 Mei 2010</strong><br />
Bedah buku: 14 Praktek Hikmah Dalam Dakwah<br />
Tempat: Ponpes Thoifah Manshuroh Pare-Kediri<br />
CP: 08125969156</p></blockquote>
<blockquote><p><strong>B. Cikarang | 29 Mei 2010</strong><br />
Sabtu, 29 Mei (08.00 &#8211; 10.00)<br />
Bedah buku: Adab dan Akhlak Penuntut Ilmu karya Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawwas</p>
<p>Sabtu, 29 Mei (10.00 &#8211; 12.00)<br />
Bedah Buku: Prinsip Dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah</p>
<p>Ahad, 30 Mei 2010 (08:00-10.00)<br />
Bedah Buku: Syaikh al-Albani Dihujat</p>
<p>Ahad, 30 Mei 2010 (10:00-12.00)<br />
Tema: Jangan Gegabah Memvonis Kafir<br />
Tempat: Masjid Baitul Ma&#8217;muur. Telaga Sakinah,Telaga Murni, Cikarang<br />
CP: 081386084044 / 08129398392</p></blockquote>
<blockquote><p><strong>C. Lombok | Sabtu 3-4 Juli 2010</strong><br />
Bedah buku: Meluruskan Sejarah Wahabi &amp; Membakar Semangat Penuntut Ilmu<br />
Tempat: Islamic Centre al-Hunafa&#8217; Mataram &amp; Islamic Centre Bagek Nyake Lombok Timur<br />
CP: 081915944673 &amp; 085277173572</p></blockquote>
<p>.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>Ustadz Arif Fathul Ulum</strong></span></p>
<blockquote>
<ul>
<li>Yogyakarta | Ahad, 30 Mei 2010</li>
<li>Tema: Dirikanlah Daulah Islam Dalam Hati Kalian</li>
<li>Tempat: Masjid Pogung Raya Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta</li>
<li>CP: 081328319185</li>
</ul>
</blockquote>
<p>.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>Ustadz Abu Zahroh</strong></span></p>
<blockquote>
<ul>
<li>Malang | Sabtu 05 Juni 2010</li>
<li>Bedah Buku: Untukmu Yang merindukan Keluarga Sakinah</li>
<li>Tempat: Masjid Muhajirin Jl. Bendungan Siguragura (Barat Kampus ITN)</li>
<li>CP: 081333857648</li>
</ul>
</blockquote>
<p>.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>Ustadz Syahrul Fatwa</strong></span></p>
<blockquote>
<ul>
<li>Sukoharjo | Ahad 20 Juni 2010</li>
<li>Bedah Buku: Ensiklopedi Amalan Sunnah di Bulan Hijriyyah</li>
<li>Tempat: Ma&#8217;had al-Ukhuwah Sukoharjo &#8211; Solo</li>
<li>CP: 085293155252</li>
</ul>
</blockquote>
<p>.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>Ustadz Abu Ibrohim</strong></span></p>
<blockquote>
<ul>
<li>Bengkulu | 3-4 Juli 2010</li>
<li>Tema: Kaidah-kaidah Fiqih</li>
<li>Tempat: Masjid Muhtadin Kota Bengkulu</li>
</ul>
</blockquote>
<p>.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>Ustadz Abdul Adzim</strong></span></p>
<blockquote>
<ul>
<li>Palembang | 3-4 Juli 2010</li>
<li>Bedah Buku: Pengeboman, Jihad atau Terorisme</li>
<li>Tempat: Masjid Bhakti (dpn Sumatra Express) Palembang</li>
<li>CP: 08127134326</li>
</ul>
</blockquote>
<p>.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>Ustadz Ahmad Sabiq</strong></span></p>
<blockquote>
<ul>
<li>Lombok | Sabtu 3-4 Juli 2010</li>
<li>Bedah buku: Kaidah Praktis Memahami Fiqih &amp; Pendidikan Anak</li>
<li>Tempat: Islamic Centre al-Hunafa&#8217; Mataram &amp; Islamic Centre Bagek Nyake Lombok Timur</li>
<li>CP: 081915944673 &amp; 085277173572</li>
</ul>
</blockquote>
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://abiubaidah.com/daurah-cikarang.html/' rel='bookmark' title='Daurah Intensif Ustadz Yusuf As-Sidawi di Cikarang Akhir Mei 2010'>Daurah Intensif Ustadz Yusuf As-Sidawi di Cikarang Akhir Mei 2010</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/kajian-maulid.html/' rel='bookmark' title='Kajian Umum: Hakikat Perayaan Maulid Nabi'>Kajian Umum: Hakikat Perayaan Maulid Nabi</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/kajian-asyafii.html/' rel='bookmark' title='Kajian Umum Madiun: Prinsip-Prinsip Imam Asy-Syafi&#8217;i dalam Beragama'>Kajian Umum Madiun: Prinsip-Prinsip Imam Asy-Syafi&#8217;i dalam Beragama</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/safari-dakwah-2010.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

