<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi &#187; Aqidah</title>
	<atom:link href="http://abiubaidah.com/category/1/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abiubaidah.com</link>
	<description>Membela Agama dengan Ilmu dan Hujjah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 25 May 2010 01:56:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>TURUNNYA NABI ISA BIN MARYAM DI AKHIR ZAMAN</title>
		<link>http://abiubaidah.com/turunnya-isa-bin-maryam-di-akhir-zaman.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/turunnya-isa-bin-maryam-di-akhir-zaman.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Apr 2010 12:56:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bantahan]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Isa]]></category>
		<category><![CDATA[Telaah Khusus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Merupakan kewajiban bagi setiap muslim adalah beriman terhadap setiap hadits yang telah shahih dari Nabi, karena pada hakekatnya hadits juga merupakan wahyu dari Allah. Allah berfirman,yang artinya: Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya. (QS. An-Najm: 3-4) Imam Ibnu Qudamah berkata: “Kita harus beriman terhadap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fabiubaidah.com%2Fturunnya-isa-bin-maryam-di-akhir-zaman.html%2F">
										</iframe>
										</div><p><img class="alignleft" title="نزول" src="http://www.up-king.com/almaciat/k6f04ltm0c4iksfupzv9.jpg" alt="" width="113" height="111" />Merupakan kewajiban bagi setiap muslim adalah beriman terhadap setiap hadits yang telah shahih dari Nabi, karena pada hakekatnya hadits juga merupakan wahyu dari Allah. Allah berfirman,yang artinya:</p>
<p style="text-align: center;"><em>Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.</em> (QS. An-Najm: 3-4)</p>
<p><strong>Imam Ibnu Qudamah</strong> berkata:</p>
<blockquote><p>“Kita harus beriman terhadap setiap apa yang diinformasikan oleh Nabi dan shahih penukilan tersebut, baik dijangkau oleh akal kita maupun tidak, kita harus percaya bahwa bahwa itu benar adanya sekalipun kita tidak mengetahui hakekatnya seperti hadits tentang Isra’ Mi’raj yang terjadi saat sadar bukan dalam tidur, karena kaum kuffar Quraish mengingkarinya sedangkan mereka tidak mengingkari mimpi. Demikian pula hadits yang menceritakan bahwa Malaikat pencabut nyawa pernah dating kepada Nabi Musa untuk mencabut nyawanya, lalu Musa memukulnya sehingga merusak matanya, kemudian Malaikat kembali kepada Allah sehingga dikembalikan lagi matanya. Termasuk diantaranya juga hadits-hadits yang berkaitan tentang tanda-tanda dekatnya hari kiamat seperti keluarnya Dajjal, turunnya Isa bin Maryam untuk membunuhnya, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, keluarnya hewan aneh, terbitnya matahari dari barat dan hadits-hadits shahih lainnya yang shahih”.<a href="#_ftn1">[1]</a></p></blockquote>
<p><span id="more-52"></span>Pembahasan kita kali ini adalah tentang hadits turunnya Isa bin Maryam ke dunia di akhir zaman, yang oleh sementara kalangan dianggap sebagai hadits yang tidak terpakai. Kita berharap dengan tulisan agar kiranya dapat menambah keimanan kita dan menghilangkan segala keraguan yang mungkin pernah melekat pada diri kita.</p>
<h4><span style="color: #ff6600;">A.    TEKS HADITS</span></h4>
<h2 style="text-align: center;">عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه يَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَيُوْشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيْكُمْ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا مُقْسِطًا فَيَكْسِرُ الصَّلِيْبَ وَيَقْتُلُ الْخِنْزِيْرَ وَيَضَعُ الْجِزْيَةَ وَيَفِيْضُ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ</h2>
<p style="text-align: center;"><em>Dari Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu</em><em> berkata: Rasulullah shallallahu a&#8217;laihi wa sallam</em><em> bersabda: Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh pasti akan turun pada kalian Ibnu Maryam sebagai hakim yang adil lalu dia menghancurkan salib, membunuh babi dan membebaskan pajak serta harta begitu melimpah sehingga tak ada seorangpun yang mau menerimanya”. <a href="#_ftn2"><strong>[2]</strong></a></em></p>
<h4><span style="color: #ff6600;">B.     TAKHRIJ HADITS</span></h4>
<ul>
<li>Karena haditsnya mutawatir dan diriwayatkan dari sekian banyak sahabat, maka sangatlah berat kalau kita turunkan semuanya. Oleh karenanya, cukuplah kiranya kita tampilkan saja daftar sahabat yang meriwayatkan hadits tentang turunnya Isa bin Maryam serta ahli hadits yang mencatatnya dalam kitab-kitab mereka.</li>
</ul>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>a. Daftar Nama Sahabat</strong></span></p>
<ul>
<li>Abu Hurairah,</li>
<li>Abdullah bin Amr,</li>
<li>Jabir bin Abdillah,</li>
<li>Nawwas bin Sam’an,</li>
<li>Abu Umamah al-Bahili,</li>
<li>Abdullah bin Umar,</li>
<li>Mujammi’ bin Jariyah,</li>
<li>Aisyah,</li>
<li>Hudzaifah bin Asid,</li>
<li>Utsaman bin Abu ‘Ash,</li>
<li>Samurah bin Jundub,</li>
<li>Abu Sa’id al-Khudri,</li>
<li>Abdullah bin Mas’ud,</li>
<li>Hudzaifah bin Yaman,</li>
<li>Anas bin Malik,</li>
<li>Abdullah bin Mughaffal,</li>
<li>Safinah,</li>
<li>Abu Bakrah,</li>
<li>Auf bin Aus,</li>
<li>Nafi’ bin ‘Albah,</li>
<li>Tsauban,</li>
<li>Kaisan,</li>
<li>Ibnu Abbas.<a href="#_ftn3">[3]</a></li>
</ul>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>b. Daftar Nama Periwayat Hadits</strong></span></p>
<p>Hampir <strong>tidak ada penyusun kitab hadits kecuali mencatat</strong> hadits tentang turunnya Isa bin Maryam di akhir zaman. Di antaranya adalah:</p>
<ul>
<li>Imam Bukhari,</li>
<li>Muslim,</li>
<li>Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya,</li>
<li>Abu Dawud,</li>
<li>Tirmidzi,</li>
<li>An-Nasai,</li>
<li>Ibnu Majah,</li>
<li>Ibnu Khuzaimah dalam at-Tauhid,</li>
<li>Ibnu Hibban dalam Shahihnya,</li>
<li>al-Hakim dalam <em>al-Mustadrak</em>,</li>
<li>Abu Awanah dalam <em>al-Mustakhraj</em>,</li>
<li>al-Isma’ili dalam <em>al-Mustakhraj</em>,</li>
<li>adh-Dhiya’ al-Maqdisi dalam <em>al-Mukhtarah</em>,</li>
<li>ath-Thayyalisi dalam Musnadnya,</li>
<li>Ishaq bin Rahawaih dalam Musnadnya,</li>
<li>Ibnu Abi Syaibah dalam <em>al-Mushannaf</em>,</li>
<li>Abu Ya’la dalam Musnadnya,</li>
<li>al-Bazzar dalam Musnadnya,</li>
<li>ad-Dailami dalam Musnadnya,</li>
<li>ath-Thabrani dalam <em>Mu’jam Kabir</em> dan <em>al-Ausath</em>,</li>
<li>al-Ajurri dalam <em>asy-Syari’ah</em>,</li>
<li>al-Baghawi dalam <em>Syarh Sunnah</em>,</li>
<li>Ibnu Abi Ashim dalam <em>al-Ahad wal Matsani</em>,</li>
<li>al-Ashbahani,</li>
<li>Ibnu Mardawaih,</li>
<li>Abdu bin Humaid dalam <em>al-Muntakhab</em>,</li>
<li>al-Baihaqi dalam <em>Sunan Kubra</em>, <em>Asma’ wa Sifat</em>, dan <em>al-Ba’ts wa Nusyur</em>,</li>
<li>Ibnu Asakair dalam <em>Tarikh Dimsyaq</em>,</li>
<li>ath-Thahawi,</li>
<li>Said bin Manshur,</li>
<li>Abu Nu’aim dalam al-Hilyah,</li>
<li>ad-Daruquthni,</li>
<li>al-Khathib al-Baghdadi,</li>
<li>Ibnu Hazm dalam <em>al-Muhalla</em>,</li>
<li>Ibnu Mandah dalam <em>al-Iman</em>,</li>
<li>Abu ‘Amr ad-Dani dalam <em>al-Fitan,</em></li>
<li>Abdur Razzaq dalam <em>al-Mushannaf</em>,</li>
<li>Hanbal bin Ishaq dalam <em>al-Fitan</em>,</li>
<li>Ibnu Jarir dalam Tafsirnya,</li>
<li>Ibnu Adi dalam <em>al-Kamil</em>,</li>
<li>Ibnu A’rabi dalam <em>Mu’jamnya</em> dan lain sebagainya banyak sekali.<a href="#_ftn4">[4]</a></li>
</ul>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>c. Haditsnya Mutawatir</strong></span></p>
<p>Melihat begitu banyaknya hadits tentang turunnya Isa bin Maryam, maka para pakar ilmu hadits menetapkan bahwa hadits-haditsnya mencapai derajat mutawatir, diantaranya adalah:</p>
<ul>
<li>Imam At-Thabari dalam <em>Jami’ul Bayan</em> 3/291,</li>
<li>Ibnu Katsir dalam Tafsirnya 2/566,</li>
<li>asy-Syaukani dalam risalahnya <em>“At-Taudhih”,</em></li>
<li>Shiddiq Hasan Khon dalam <em>Al-Idha’ah</em> hal. 160,</li>
<li>Al-Kattani dalam <em>Nadhmul Mutanatsir</em> hal. 147,</li>
<li>Syaraful Haq Azhim Abadi dalam <em>Aunul Ma’bud</em> 11/307,</li>
<li>Syaikh Ahmad Syakir dalam <em>Syarhul Musnad</em> 7/98-99 dan 8/20,</li>
<li>Syaikh Al-Albani dalam Ta’liq <em>Syarah Aqidah Thohawiyyah</em> hal. 501,</li>
<li>Asy-Syanqithi dalam <em>Adhwaul Bayan</em> 7/128, 130, 136,</li>
<li>Komisi Fatwa Saudi Arabia yang diketuai Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam <em>Fatawa Lajnah Daimah</em> 3/307,</li>
<li>Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam <em>Majmu Fatawanya</em> 1/453,</li>
<li>Syaikh Muhammad Anwar Syah al-Kisymiri dalam kitabnya <em>At-Tashrih bima Tawatara fi Nuzuli Masih</em>,</li>
<li>Syaikh Abdullah al-Ghumari dalam <em>Aqidah Ahli Islam fi Nuzuli Isa Alaihi Salam</em> hal. 5,</li>
<li>Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i dalam <em>Rudud Ahli Ilmu</em> hal. 25 dan lain sebagainya.</li>
</ul>
<p><strong>Abu Ubaidah</strong> -semoga Allah memberkahinya- bekata:</p>
<ul>
<blockquote>
<li>Demikianlah ketegasan para peneliti hadits. Apabila hadits tentang turunnya Isa bin Maryam tidak mutawatir, maka tidak ada contoh hadits mutawatir di dunia hadits selama-lamanya!!.</li>
</blockquote>
</ul>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>d. Para Ulama Yang Menshahihkan</strong></span></p>
<p>Disamping para ulama yang menegaskan haditsnya mutawatir akan saya sebutkan pula beberapa ulama yang menegaskan keabsahan haditsnya dengan kata-kata yang indah dan mantap sekalipun tidak secara tegas menetapkan mutawatir. Diantaranya:</p>
<ol>
<li><strong>Imam Ibnu Abdil Barr</strong> berkata dalam <em>At-Tamhid</em> 5/440: “<span style="color: #0000ff;">Dan dalil tentang kebenaran pendapat ini (masih hidupnya Isa sekarang) adalah hadits-hadits shahih dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bahwa Isa akan turun, membunuh Dajjal, menunaikan haji yang diriwayatkan dengan sanad-sanad yang tiada cacat padanya</span>”.</li>
<li><strong>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah</strong> berkata dalam <em>Majmu’ Fatawa</em> 4/329: “<span style="color: #0000ff;">Adapun Al-Masih (Isa), dia pasti akan turun ke bumi di atas menara putih sebelah timur Damaskus untuk membunuh Dajjal, menghancurkan salib dan membunuh babi sebagaimana telah tetap dalam hadits-hadits yang shahih. Oleh karenanya, beliau berada di langit kedua padahal beliau lebih utama daripada Yusuf, Idris dan Harun karena memang dia mau turun ke bumi sebelum tiba hari kiamat, berbeda halnya dengan para nabi lainnya</span>”.</li>
<li><strong>Al-Hafizh Al-Hatsami</strong> berkata dalam <em>Bahrul Fawaid</em>: “<span style="color: #0000ff;">Tentang turunnya Isa telah shahih dari sejumlah hadits yang banyak sekali. Diriwayatkan oleh para imam yang terpercaya dan tidak ada yang menolaknya kecuali orang yang sombong dan penyimpang</span>”. <a href="#_ftn5">[5]</a></li>
</ol>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>e. Kesepakatan Ulama</strong></span></p>
<ul>
<li>Berdasarkan dalil-dalil yang sangat jelas di atas, maka seluruh ulama terpercaya bersepakat bahwa turunnya Isa kelak di akhir zaman merupakan aqidah Islam yang wajib diimani oleh setiap muslim. Tidak ada yang mengingkarinya kecuali para ahli filsafat dan penyimpang agama yang sesat, menyesatkan dan menyelisihi Al-Qur’an, hadits dan kesepakatan ahli sunnah”. Demikian ditegaskan oleh <strong>As-Saffarini</strong> dalam <em>Lawami’ Anwar</em> 2/94-95 dan <strong>Syaikh Syaraful Haq Adzim Abadi</strong> dalam <em>Aunul Ma’bud</em> 11/312.</li>
</ul>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>f. Beberapa Kitab Khusus Berkaitan Turunnya Isa bin Maryam</strong></span></p>
<p>Begitu seriusnya masalah penting ini, maka sebagian peneliti hadits menulis secara khusus. Diantaranya:</p>
<ul>
<li><strong>Imam Jalaluddin Ash-Suyuthi</strong> dalam bukunya yang berjudul <em>“Nuzul Isa bin Maryam Akhir Zaman”.</em> Buku ini telah dicetak Darul Kutub Ilmiyyah, Bairut dengan editor Muhammad Abdul Qadir Atha. Dalam kitab ini, beliau menyebutkan beberapa hadits. Pada hal. 22, beliau menegaskan bahwa turunnya Isa bin Maryam dengan menegakkan hukum Islam didukung oleh hadits-hadits yang shahih dan kesepakatan ulama. Pada hal. 53-54, beliau membantah syubhat dan takwil sebagian kalangan seraya menegaskan bahwa pengingkaran turunnya Isa merupakan bentuk kekufuran. Pada hal. 56, beliau menceritakan bahwa ada sebagian orang yang mengingakari bahwa Isa shalat shubuh di belakang Al-Mahdi, bahkan mengarang tulisan khusus tentangnya. Imam Suyuthi membantahnya: “Ini sangat lucu sekali, karena shalatnya Isa di belakang Mahdi ditegaskan dalam hadits-hadits yang shahih (lalu memaparkannya)”.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Al-Hafizh Asy-Syaukani</strong> dalam risalahnya <em>“At-Taudhih fi Tawaturi Maa Ja’a fi Al-Mahdi wa Dajjal wal Masih<a href="#_ftn6"><strong>[6]</strong></a>”</em>. Dalam buku ini, beliau memaparkan sebanyak dua puluh sembilan hadits, kemudian beliau memaparkan dan menyimpulkan: “Seluruh hadits yang saya paparkan di atas mencapai derajat mutawatir sebagaimana tidak samar lagi bagi para peneliti (ilmu hadits)”.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Syaikh Muhammad Anwar Al-Kisymiri Al-Hindi</strong> (Wafat Th. 1352 H) dalam bukunya yang berjudul <em>“At-Tashrih Bimaa Tawatara fi Nuzul Al-Masih”</em>. Buku ini telah tercetak dengan editor Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah. Dalam bukunya ini, beliau mengumpulkan hadits-hadits tentang turunnya Isa sehingga mencapai sebanyak tujuh puluh hadits lebih.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong><a href="#_ftn7">[7]</a>. Syaikh Abul Fadhl Abdullah Muhammad As-Shiddiq Al-Ghumari</strong> menulis sebuah risalah berjudul <em>“Aqidah Ahli Islam fi Nuzul Isa Alaihi Salam”.</em> Buku ini telah dicetak dan diterbitkan Maktabah Al-Qahirah. Dalam kitab ini, dia menyebutkan para sahabat yang meriwayatkan hadits turunnya Isa bin Maryam sehingga mencapai lebih dari dua puluh lima sahabat dari tiga puluh lebih tabi’in. Pada hal. 5 dia menegaskan: “Tidak ada secuil keraguanpun tentang mutawatirnya hadits tentang turunnya Isa bin Maryam. Tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang-orang yang jahil dan dungu seperti kelompok Al-Qodiyaniyyah (Baca: Ahmadiyyah -pent) dan orang-orang yang sealiran dengan mereka, sebab telah dinukil dari jalan yang begitu banyak sekali sehingga tetap dalam kitab-kitab hadits secara mutawatir dari generasi ke generasi selanjutnya”.</li>
</ul>
<p>Pada hal. 12 dia menegaskan: “Sungguh telah shahih keyakinan tentang turunnya Isa dari sejumlah sahabat, tabi’in, tabi’ tabi’in, para imam dan seluruh ulama dari berbagai madzhab sepanjang masa hingga hari ini”.</p>
<ul>
<li><strong>Syaikh Al-Allamah Al-Muhaddits Muhammad Nasiruddin Al-Albani</strong> dalam risalahnya yang berjudul <em>“Qisshah Al-Masih Dajjal wa Nuzul Isa…”</em> Dalam kitab ini, beliau memaparkan hadits-hadits tentang keluarnya Dajjal dan turunnya Isa dari empat puluh sahabat. Pada hal. 24-25 beliau mengatakan: “Cukuplah akan hal itu kesepakatan para ulama pakar ahli hadits tentang mutawatirnya hadits Dajjal dan turunnya Isa dari langit seperti Al-Hafizh Ibnu Katsir<a href="#_ftn8">[8]</a>, Ibnu Hajar<a href="#_ftn9">[9]</a> dan selainnya, bahkan Imam As-Syaukani menulis sebuah risalah khusus berjudul <em>“At-Taudhih  fi Tawaturi Maa Ja’a fi Al-Mahdi wa Dajjal wal Masih”.</em></li>
</ul>
<h5><span style="color: #ff6600;">C.     SYUBHAT PENGKRITIK HADITS</span></h5>
<p>Sementara sebagian kalangan menghujat hadits-hadits tersebut hanya bertelakan pada berbagai alasan yang sangat kropos sekali. Diantaranya:</p>
<p><strong>1. Syaikh Mahmud Syaltut</strong><a href="#_ftn10">[10]</a> berpendapat bahwa hadits-hadits yang meriwayatkan tentang turunnya Nabi Isa mudhtharib (goncang). Dan juga hadits-hadits tersebut derajatnya Ahad, sedang masalah aqidah ditetapkan berdasarkan nash qath’I seperti ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits mutawatir<a href="#_ftn11">[11]</a>.</p>
<p><strong>2. Prof. KH. Hasbullah Bakri, SH.</strong> Dalam bukunya “Nabi Isa dalam Al-Qur’an dan Nabi Muhammad dalam Biybel. Diantara pendapatnya ialah: Hadits Bukhari dari Abu Hurairah tentang akan turunnya Nabi, walaupun dinyatakan shahih tetapi bertentangan dengan ayat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa Nabi Isa telah wafat. Tambahan lagi hadits ini bersumber dari Abu Hurairah yang kecerdasannya kurang tinggi sedang isinya mengandung persoalan historis yang tinggi.</p>
<p><strong>3. Dr. Quraish Shihab</strong> mengatakan bahwa ada ulama yang menyatakan “Isa as masih hidup di langit” bukanlah suatu kewajiban untuk mempercayainya. Serta beberapa hadits yang berkaitan dengan kenaikan Isa Al-Masih dan akan turun kelak menjelang kiamat. Hadits-hadits tersebut kesemuanya bermuara pada dua orang saja, yang keduanya bekas penganut agama Kristen, yaitu Ka’ab Al-Akhbar dan Wahb bin Munabbih (yang masih punya keterkaitan pada kepercayaan lamanya). Dengan demikian pengertian QS. 3:55 di atas bukan dalam arti diangkat fisiknya tapi diangkat derajatnya ke sisi Allah swt<a href="#_ftn12">[12]</a>.<a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p><strong>4. Syaikh Muhammad Abduh</strong> berkata: “Hadits tersebut hanyalah ahad dan berkaitan dengan masalah aqidah karena menunjukkan perkara-perkara ghaib. Sedangkan masalah aqidah tidak boleh diambil kecuali yang bersifat qath’iy (pasti) sebab dituntut sesuatu yang menyakinkan. Dan tidak ada dalam masalah ini hadits yang mutawatir”. Dia juga memaparkan pendapat para ulama seputar turunnya Isa Al-Masih lalu memperkuat pendapat yang menyatakan bahwa Isa tidak turun dan dia mentakwil ayat seraya berkata: “Makna رَافِعُكَ yaitu terangkatnya ruh setelah kematiannya, sedangkan arti turunnya ke bumi yaitu tersebarnya perdamaian dan toleransi diantara manusia”.<a href="#_ftn14">[14]</a></p>
<p><strong>5. Hasan Abdullah At-Turabi</strong> mengingkari turunnya Isa di akhir zaman. Tatkala ditanya: Bagaimana anda berani mengingkari hadits mutawatir? Jawabnya: “Saya tidak membicarakan hadits dari segi sanadnya tetapi menurut saya hadits itu bertentangan dengan akal, sedangkan apabila dalil bertentangan akal, maka akal harus lebih didahulukan”. <a href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p><strong>Dari komentar di atas dapat ditarik kesimpulan syubhat mereka pada dua point:</strong></p>
<p><strong>Pertama: Kritik dari segi sanad yaitu:</strong></p>
<blockquote><p><strong><span style="color: #ff0000;">a. Sahabat Abu Hurairah</span></strong></p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">b. Hanya bermuara pada Ka’ab Al-Ahbar dan Wahb bin Munabbih</span></strong></p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">c. Haditsny mudhtharib (goncang)</span></strong></p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">d. Haditsnya Ahad</span></strong></p></blockquote>
<p><strong>Kedua: Dari segi matan yaitu:</strong></p>
<blockquote><p><strong><span style="color: #ff0000;">a. Ta’wil arti turun</span></strong></p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">b. Bertentangan dengan akal</span></strong></p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">c. Kontradiksi dengan Al-Qur’an</span></strong></p></blockquote>
<p>.</p>
<h5><span style="color: #ff6600;">D.    MENJAWAB SYUBHAT</span></h5>
<p>Sebelum menjawab syubhat para pengingkar tersebut satu-persatu, penulis mengajak saudara pembaca untuk berpikir dengan <strong>otak jernih</strong>:</p>
<blockquote><p>“Mungkinkah para pengkritik tersebut dalam kebenaran sedang mereka sendiri berselisih tentang alasannya?” Ketahuilah wahai saudaraku bahwa perselisihan mereka itu saja sudah cukup menunjukkan kroposnya hujjah mereka. Sadarkah para pengingkar tersebut bahwa kelakuan mereka itu pada hakekatanya adalah mencela Nabi, para sahabat, para imam ahli hadits yang berjerih payah merekam hadits tersebut? Pikirkanlah baik-baik!!</p></blockquote>
<p>Baiklah, sekarang dengan memohon pertolongan dari Allah mari kita jawab alasan mereka satu-persatu walaupun secara ringkas.</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Pertama: Abu Hurairah, sahabat bermasalah.</strong></span></p>
<p><strong>Jawab:</strong> Alasan ini sangat rapuh sekali dan amat berbahaya bagi pelontarnya sendiri ditinjau dari beberapa segi<a href="#_ftn16">[16]</a>:</p>
<ul>
<li>Mencela sahabat termasuk perbuatan dosa besar dan kemunafikan yang tak samar lagi berdasarkan kesepakatan ulama. Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid mengatakan: “Seluruh pemeluk agama Islam bersepakat bahwa mencela salah satu sahabat merupakan bentuk kemunafikan yang nyata…”.<a href="#_ftn17">[17]</a></li>
<li>Kalau memang kalian tidak mau menerima riwayat Abu Hurairah karena dia bermasalah, lantas apakah para sahabat lainnya yang begitu banyak seperti Abdullah bin Umar, Nawwas bin Sam’an … juga bermasalah? Jawablah hai orang yang dikaruniai akal!!! Bila riwayat mereka masih tetap tidak dipercayai juga, maka saya ucapkan selamat tinggal dari dunia!! Karena pada hakekatnya anda telah menghancurkan pondasi-pondasi agama, menghina Allah, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, syari’at Islam, para ulama dan seluruh kaum muslimin semuanya? Apakah anda menyadarinya?</li>
</ul>
<p>.</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Kedua: Haditsnya bermuara pada Ka’ab Al-Ahbar dan Wahb bin Munabbih</strong></span></p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<ul>
<li>Ucapan ini menunjukkan kurangnya pengetahuan pelontarnya tentang ilmu hadits. Karena anda tahu sendiri bahwa hadits ini diriwayatkan oleh begitu banyak para sahabat Nabi. Kami tidak mengerti, apakah ucapan tersebut didasari kebodohan ataukah penyesatan ataukah kedua-duanya?!!</li>
<li>Perlu diketahui bahwa riwayat <strong>Ka’ab Al-Ahbar</strong> dan <strong>Wahb bin Munabbih</strong> dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sangat sedikit sekali. Dan hukum riwayat keduanya dalam ilmu musthalah hadits disebut “Mursal” karena keduanya tidak berjumpa dengan Nabi, sedangkan hadits mursal bukanlah hujjah. Adapun riwayat keduanya dari sahabat dan tabi’in, maka para ulama mengoreksinya seperti riwayat para tabi’in lainnya. <a href="#_ftn18">[18]</a></li>
<li>Ucapan <strong>Dr. Quraish Shihab</strong> ini telah didahului sebelumnya oleh <strong>Syaikh Mahmud Syaltut</strong> dalam tulisannya yang dimuat dalam Majalah <em>ar-Risalah</em>. <strong>Syaikh al-Albani</strong> berkata: “Saya telah meneliti hadits-hadits tentang turunnya Isa dari sumber aslinya (kitab-kitab hadits) seperti kutub sittah dan lain sebagainya sehingga saya dapat mengumpulkan banyak hadits dari beberapa jalur yang mutawatir lebih dari empat puluh sahabat. Saya sangat terkejut sekali ketika saya tidak menemukan nama Wahb bin Munabbih dan Ka’ab al-Ahbar pada jalur sanad-sanad tersebut sekalipun dalam hadits yang lemah sanadnya. Saya lalu berkeyakinan bahwa Syaikh Syaltut hanya menulis sesuai dengan apa yang terlintas dalam benaknya saja tanpa meneliti kitab-kitab hadits. Lalu saya menulis sebuah risalah terpisah untuk mencounter fatwanya itu tetapi…”.<a href="#_ftn19">[19]</a></li>
</ul>
<p>.</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Ketiga: Haditsnya “Mudhtarib”</strong></span></p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<ul>
<li>Hadits “<span style="text-decoration: underline;"><em><strong>Mudhtarib</strong></em></span>” itu adalah  hadits yang diriwayatkan dari seorang rawi atau beberapa rawi yang banyak dengan berbagai macam redaksi yang berbeda, sama-sama kuat dan tidak mungkin untuk dikompromikan atau dikuatkan salah satunya. Perbedaan tersebut menunjukkan tidak kuatnya hafalan rawi padahal itu adalah syarat sahnya suatu hadits. Sekalipun bisa terjadi pada matan (isi) hadits, namun yang paling banyak adalah pada sanad hadits. <a href="#_ftn20">[20]</a></li>
</ul>
<ul>
<li>Setelah anda memahami defenisi hadits mudhtarib, maka katakanlah padaku: Apakah hadits pembahasan kita termasuk kategori mudhtarib?! Adakah hadits shahih lain yang menyelisihnya?! Ahli hadits mana yang mengatakannya termasuk “mudhtarib”?! Dengan demikian maka dapatlah kita ketahui bahwa hadits turunnya Isa tidaklah termasuk mudhtarib (goncang) tetapi yang mudhtarib adalah pemikiran pelontarnya sendiri yang jauh dari ilmu hadits.</li>
</ul>
<p>.</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Keempat: Haditsnya “Ahad”</strong></span></p>
<ul>
<li>Hadits ahad hanya bersifat zhan (prasangka), tidak qath’i (pasti), sedangkan masalah aqidah harus bersifat pasti.</li>
</ul>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p>1. Kalian setuju dan bersepakat dengan kami bahwa hadits mutawatir menunjukkan <em>qath’I</em> (sesuatu yang menyakinkan). Lantas, siapakah yang paling berhak menetapkan hadits ini ahad, sedang hadits itu mutawatir? Tentunya ahli hadits. Sekarang kita ketahui bersama bahwa ahli hadits telah menetapkan hadits tersebut berderajat mutawatir. Lantas kenapa kalian masih bersikukuh menetapkannya berderajat ahad?! Kenapa kalian tidak percaya kepada penelitian ahli hadits dan lebih percaya kepada orang yang bukan ahli dalam bidangnya?!!!</p>
<p>Supaya lebih memantapkan saudara pembaca, berikut saya nukilkan perkataan berharga seorang pakar ilmu hadits abad ini, <strong>Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani</strong> dalam Ta’liq <em>Syarh Aqidah Thohawiyyah</em> hal. 501:</p>
<h2 style="text-align: center;">وَاعْلَمْ أَنَّ أَحَادِيْثَ الدَّجَّالِ وَنُزُوْلِ عِيْسَى q مُتَوَاتِرَةٌ يَجِبُ الإِيْمَانُ بِهَا وَلاَ تَغْتَرَّ بِمَنْ يَدَّعِيْ فِيْهَا أَنَّهَا أَحَادِيْثُ آحَادٌ فَإِنَّهُمْ جُهَّالٌ بِهَذَا الْعِلْمِ وَلَيْسَ فِيْهِمْ مَنْ تَتَبَّع طُرُقَهَا وَلَوْ فَعَلَ لَوَجَدَهَا مُتَوَاتِرَةً كَمَا شَهِدَ بِذَلِكَ أَئِمَّةُ هَذَا الْعِلْمِ كَالْحَافِظِ ابْنِ حَجَرٍ وَغَيْرِهِ. وَمِنَ الْمُؤْسِفِ حَقًّا أَنْ يَتَجَرَّأَ الْبَعْضُ عَلَى الْكَلاَمِ فِيْمَا لَيْسَ مِنْ اخْتِصَاصِهِمْ, لاَ سِيَّمَا وَالأَمْرُ دِيْنٌ وَعَقِيْدَةٌ.</h2>
<p style="text-align: center;">Ketahuilah bahwa hadits-hadits tentang Dajjal dan turunnya Isa bin Maryam telah mencapai derajat mutawatir yang wajib diimani. Janganlah anda tertipu dengan anggapan sebagian kalangan yang menyatakan bahwa haditsnya hanyalah ahad sebab mereka adalah manusia yang jahil tentang ilmu hadits. Tak ada dari kalangan mereka yang mau menelitinya. Seandainya mereka benar-benar mau menelitinya, niscaya mereka akan mendapatinya mutawatir sebagaimana ditegaskan oleh para pakar ilmu hadits seperti Ibnu Hajar dan lainnya. Sungguh amat disayangkan ketika sebagian manusia lancang berbicara tentang sesuatu yang bukan bidangnya. Lebih-lebih masalah ini berkaitan tentang aqidah dan agama.</p>
<p>2.  Ketahuilah bahwa sekalipun para ulama ahli hadits berbeda pendapat tentang hadits ahad apakah menunjukkan <em>zhan</em> atau <em>qath’i</em>, tetapi <strong>mereka tidak berselisih pendapat tentang hujjahnya hadits ahad. </strong>Janganlah anda tertipu oleh bualan dan filsafat sebagian kalangan yang mengoceh dan mengecoh umat dengan perselisihan ulama tentang; apakah hadits ahad menunjukkan dhan atau qath’i. Jadi, taruhlah haditsnya memang berderajat ahad, apakah berarti kita membuangnya begitu saja? Tak ada satupun ulama ahli hadits yang bertindak demikian, itu hanyalah pemahaman aneh dan filsafat kotor yang diusung dari pemikiran Mu’tazilah dan ahli kalam (filsafat). Camkanlah hal ini baik-baik pada hati kita!.</p>
<p>3. Pendapat para ulama ahli hadits yang lebih kuat bahwa tidak seluruh hadits ahad menunjukkan dhan, tetapi kadang-kadang bisa menunjukkan qath’i (pasti) apabila ada indikasi penguatnya seperti riwayat Bukhari Muslim, hadits masyhur yang banyak jalannya dan lain sebagainya<a href="#_ftn21">[21]</a>.</p>
<p>Bila kita teliti hadits pembahasan kita, niscaya akan kita dapati bahwa dia menunjukkan sesuatu yang qath’i karena memiliki qarinah-qarinah tersebut. Hal Itu kalau kita menganggap haditsnya hanya ahad, apalagi telah terbukti haditsnya berderajat mutawatir. <em>Wallahu A’lam</em>.</p>
<p>.</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Kelima: Ta’wil Arti Turun</strong></span></p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<ul>
<li>Kalau kita tilik dan cermati beberapa hadits tentang turunnya Isa secara tenang, pasti akan kita rasakan bahwa ta’wil seperti itu sangat kaku dan lucu. Perhatikanlah hadits lafadz-lafadz haditsnya secara jernih seperti “lalu dia menghancurkan salib, membunuh babi dan membebaskan pajak”. “Isa bin Maryam shalat di belakang imam Al-Mahdi”.<a href="#_ftn22">[22]</a> Isa bin Maryam turun di menara putih sebelah timur Damaskus, memakai pakaian yang harum  sambil meletakkan kedua lengan tangannya pada sayap dua malaikat, rambutnya meneteskan air, bila dia mengangkat kepala, maka air berkilau seperti berlian. Orang yang mencium baunya, pasti akan mati seketika dan baunya sejauh dia memandang. Hingga Isa mencari Dajjal dan ketemu di pintu Luddin (sebuah kota dekat Baitul Maqdis) dan membunuhnya”.<a href="#_ftn23">[23]</a> “Isa menunaikan ibadah haji/ umrah”.<a href="#_ftn24">[24]</a> “Isa kemudian wafat dan dishalati kaum muslimin” <a href="#_ftn25">[25]</a></li>
</ul>
<p>Sungguh alangkah bagusnya ucapan <strong>Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz</strong> <em>rahimahullah</em> tatkala membantah ta’wil ini: “Merupakan kebatilan yang sangat keji dan kelancangan yang sangat kelewatan batas terhadap Allah dan rasul-Nya adalah ta’wil sebagian kalangan tidak seperti dhahirnya. Sebab dia telah mengumpulkan dua bencana:</p>
<ul>
<li><strong>Pertama:</strong> Mendustakan dan tidak mengimani dalil-dalil yang tegas tentang turunnya Isa.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Kedua:</strong> Menuduh Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang paling mengerti syari’at dan ahli penasehat sebagai orang yang berbicara <em>ngacau</em> dan rancu, maksud ucapannya tidak seperti dia sabdakan secara <em>dhahir</em>. Sungguh ini merupakan kedustaan yang tiada taranya dan penipuan terhadap umat yang Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berlepas diri darinya. Ucapan seperti ini serupa dengan pendapat kaum para penyeleweng yang menisbahkan pada rasul dengan kerancuan demi maslahat mayoritas manusia”.<a href="#_ftn26">[26]</a></li>
</ul>
<p>Ajaibnya, takwil seperti ini juga digugat oleh <strong>Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi</strong> dalam bukunya yang berjudul <em>Kaifa Nata’amal Ma’a As-Sunnah An-Nabawiyyah</em> hal. 169-170.</p>
<p>.</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Keenam: Bertentangan Dengan Akal</strong></span></p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p>1. Katakanlah padaku: Semudah itukah kalian mementahkan hadits Nabi? Bila sesuai dengan akal kalian, baru diterima dan bila tidak sesuai akal kalian, maka ditolak begitu saja?! Seperti inikah sifat orang-orang yang mengaku beriman kepada Allah? Ataukah ini adalah ciri bala tentara Iblis yang dicontohkan oleh nenek moyang mereka tatkala memprotes perintah Allah dengan akalnya:</p>
<h2 style="text-align: center;">قَالَ مَامَنَعَكَ أَلاَّتَسْجُدَ إِذْأَمَرْتُكَ قَالَ أَنَاخَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ</h2>
<p style="text-align: center;"><em>Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis &#8220;Saya lebih baik daripadanya: “Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. </em>(QS. Al-A’raf: 12).</p>
<p>2. Kalau agama ini berdasar pada akal, maka katakan padaku: “Mengapa Allah mewajibkan shalat shubuh sebanyak dua rakaat, maghrib tiga raka’at, sedangkan dhuhur, ashar dan isya empat rakaat?” Kenapa  bacaan shalat dhuhur dan ashar lirih, sedangkan shubuh, maghrib dan isya dikeraskan?! Jawablah!!</p>
<p>3. Kalau agama ini berdasar pada akal, maka katakan padaku juga: “Akal siapakah yang menjadi standar dan patokan?” Apakah akal para ulama ataukah sembarangan orang?! Alangkah bagusnya ucapan <strong>Al-Qadhi Iyadh</strong>:</p>
<blockquote><p>“Turunnya Isa dan pembunuhannya terhadap Dajjal merupakan kebenaran menurut ahli sunnah wal Jama’ah berdasarkan hadits-hadits shahih tentang masalah tersebut. Tidak ada dalil akal maupun naql yang memustahilkannya. Oleh karenanya, maka aqidah ini wajib diimani. Adapun Mu’tazilah, Jahmiyyah, cs mengingkari aqidah ini…”.<a href="#_ftn27">[27]</a> Ucapan in dinukil dan disetujui oleh Imam Nawawi<a href="#_ftn28">[28]</a></p></blockquote>
<p>.</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Ketujuh: Kontradiksi Dengan Al-Qur’an</strong></span></p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p>1. Metode menubrukkan Al-Qur’an dengan hadits shahih merupakan ciri khas ahli bid’ah dan pengekor hawa nafsu semenjak dahulu hingga sekarang, karena hadits shahih diturunkan bukan untuk menentang Al-Qur’an, tetapi untuk menafsirkan dan menjelaskannya sebagaimana firman Allah:</p>
<h2 style="text-align: center;">وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَانُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ</h2>
<p style="text-align: center;"><em>Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur&#8217;an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.</em> (QS. An-Nahl: 44).</p>
<p><strong>Kemudian katakanlah padaku</strong>:</p>
<blockquote>
<ul>
<li>Siapakah orang yang paling faham tentang tafsir Al-Qur’an?!! Bukankah mereka adalah Nabi, para sahabat, serta para ulama Islam?!! Benar. Tetapi anehnya, kenapa mereka tidak mempersoalkannya?! Apakah anda lebih pandai daripada mereka?!!</li>
</ul>
</blockquote>
<p>2. Al-Qur’an sendiri telah menjelaskan tentang turunnya Isa bin Maryam kelak di akhir zaman:</p>
<p>1. Firman Allah:</p>
<h2 style="text-align: center;">وَإِن مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلاَّلَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا</h2>
<p style="text-align: center;"><em>Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.</em> (QS. An-Nisa’: 159).</p>
<p>Sahabat Nabi, <strong>Abdullah Ibnu Abbas</strong>, penafsir ulung mengatakan: “Yakni sebelum kematian Isa bin Maryam”.<a href="#_ftn29">[29]</a></p>
<p><strong>Imam Al-Hasan Al-Bashri</strong> juga berkata:</p>
<blockquote><p>“Yakni sebelum kematian Isa. Demi Allah, Isa sekarang masih hidup di sisi Allah, tetapi apabila dia turun, maka mereka akan beriman semua”.</p></blockquote>
<ul>
<li>Tafsir ini dikuatkan oleh mayoritas ulama seperti Ibnu Jarir, Ibnu Katsir dan sebagainya. <a href="#_ftn30">[30]</a></li>
</ul>
<p>2. Firman Allah:</p>
<h2 style="text-align: center;">وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِّلسَّاعَةِ فَلاَ تَمْتَرُنَّ بِهَا وَاتَّبِعُونِ هَذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ</h2>
<p style="text-align: center;"><em>Benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.</em> (QS. Az-Zukhruf: 61).</p>
<ul>
<li>Sahabat Nabi, <strong>Abdullah Ibnu Abbas</strong> mengatakan tentang ayat yang mulia ini: “Maksudnya adalah keluarnya Isa bin Maryam sebelum hari kiamat tiba”. <a href="#_ftn31">[31]</a></li>
<li><strong>Al-Hafizh Ibnu Katsir</strong> juga berkata dalam <em>Tafsirnya</em> 7/222: “Pendapat yang benar bahwa dhamir tersebut kembali pada Isa karena konteks kalimatnya berkaitan tentang beliau”. <a href="#_ftn32">[32]</a></li>
</ul>
<h3>3. Adapun alasan sebagian kalangan bahwa Isa sekarang telah wafat berdasarkan dalil surat Ali-Imran: 155, maka jawabannya cukup panjang, tetapi cukuplah saya mengatakan: “Siapakah pendahulu anda dalam faham ini?! Bukankah mereka adalah kaum Yahudi yang didustakan oleh Allah?!! Demi Allah, benar sekali. Oleh karena itu, para pemikir komtemporer yang mengingkari turunnya Isa dan menyakini wafatnya beliau sekarang, pada hakekatnya da adalah cucu pewaris Yahudi.</h3>
<h3>.</h3>
<h3><span style="color: #ff6600;">E. Kesimpulan dan Penutup</span></h3>
<p>Sebagai kata kesimpulan, <strong>Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Baz</strong> <em>rahimahullah</em> menegaskan:</p>
<blockquote><p>“Turunnya Isa telah ditetapkan berdasarkan Al-Qur’an, hadits mutawatir dan ijma ulama Islam sehingga mereka selalu menyebutnya dalam kitab-kitab aqidah. Barangsiapa yang mengingkarinya dengan alasan haditsnya “Ahad” tidak menunjukkan qath’i atau menta’wil bahwa maksud sebenarnya adalah manusia pada akhir zaman berpegang teguh dengan akhlak Isa Al-Masih berupa kasih sayang dan lemah lembut atau manusia menerapkan ruh syari’at dan intinya, maka semuaa itu adalah kebatilan nyata yang bertentangan dengan aqidah para imam kaum muslimin, bahkan nyata-nyata merupakan bentuk penentangan nash-nash shahih dan mutawatir, kejahatan terhadap syari’at yang mulia, kelancangan sangat terhadap Islam dan hadits Nabi, menuhankan hawa nafsu, keluar dari rel kebenaran dan petunjuk, orang tersebut tidak memiliki ilmu mapan tentang syari’at dan keimanan yang kuat serta pengagungan terhadap dalil dan hukum Islam”. <a href="#_ftn33">[33]</a></p></blockquote>
<p><a href="http://abiubaidah.com"><em>Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi</em></a></p>
<p><a href="http://abiubaidah.com"><em>abiubaidah.com</em></a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> <em>Lum’atul I’tiqad</em> 101-104 -Syarh Ibnu Utsaimin-.</p>
<h6><a href="#_ftnref2">[2]</a> HR. Bukhari no. 2222 dan Muslim no. 242.</h6>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Lihat <em>Qishshatul Masih</em> <em>Dajjal wa Nuzul Isa</em> al-Albani hal. 25- 28</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Lihat <em>Fathul Bari</em> Ibnu Hajar 6/492.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Dinukil oleh Al-Munawi dalam <em>Faidhul Qadir</em> 5/573. (Lihat pula <em>Al-Manarul Munif</em> hal. 148 oleh Ibnu Qayyim dan <em>Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an</em> 4/64 oleh Al-Qurthubi.</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Penulis belum mendapatinya sendiri, tetapi risalah ini banyak dinukil oleh para ulama seperti Al-Kattani dalam <em>Nadhmul Mutanatsir</em> hal. 145-146, Shiddiq Hasan Khon dalam <em>Al-Idha’ah</em> hal. 113, Al-Adhim Abadi dalam <em>Aunul Ma’bud</em> 11/308 dan Syaikh Al-Albani dalam <em>Qhisshah Dajjal  wa Nuzul Isa</em> hal. 25 dan lain sebagainya.</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a>. Dinukil dari kitab <em>“Asyraat As-Saa’ah”</em> hal. 351 oleh Syaikh Yusuf bin Abdullah Al-Wabil cet. Dar Ibnul Jauzi.</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> <em>An-Nihayah</em> Ibnu Katsir 1/148.</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a><sup>.</sup> Barangkali yang beliau maksud adalah keterangan Al-Hafizh dalam <em>Fathul Bari</em> 6/493-494 menukil ucapan Abul Hasan Al-Aburri dalam <em>Manaqib Syafi’i</em>: “Telah mutawatir hadits-hadits yang menerangkan bahwa Al-Mahdi termasuk kalangan umat ini dan Isa shalat (bermakmum) di belakangnya”.</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Terlepas apakah beliau telah kembali meralat ucapannya ini ataukah tidak, namun yang terpenting bagi kita adalah mengingatkan umat dari kesalahan pendapat beliau yang termuat dalam <em>al-Fatawa</em>. Kami katakana hal ini, sebab dalam risalahnya <em>al-Bid’ah Asbabbuha wa Madharuha</em> hal. 30 beliau menguatkan hadits-hadits tentang turunnya Isa. Diperkuat lagi oleh apa yang diceritakan DR. al-Buthi dalam kitabnya <em>Kubra Yaqiniyyat al-Kauniyyah</em> hal. 269: <strong>“Sebagian para ulama Azhar yang dekat dengan Syaikh Syaltut meriwayatkan bahwa beliau di akhir kehidupannya, di saat beliau terkena penyakit stroke di rumahnya, dia membakar semua kertas dan kitab yang berisi pendapat-pendapatnya yang ganjil, khususnya masalah turunnya Isa bin Maryam, dan beliau bersaksi di hadapan mereka bahwa beliau telah bertaubat kepada Allah dari keyakinan tersebut dan kembali memeluk aqidah mayoritas kaum muslimin Ahli Sunnah wal Jama’ah”.</strong> (Dinukil dari muqaddimah Syaikh Ali Hasan al-Halabi dalam <em>al-Fatawa al-Muhimmat</em> karya Syaikh Mahmud Syaltut hal. 13-15). Para ulama telah membantah pendapat Syaikh Syaltut tentang pengingkarannya terhadap turunnya Isa, seperti Syaikh Humud at-Tuwaijiri dalama <em>Ithaf Jama’ah</em> 3/128-136, Syaikh al-Albani dalam Muqaddimah <em>Qishshatul Masih</em>, dll. Dan Syaikh Al-Allamah Abdullah bin Ali bin Yabis memiliki sebuah kitab berjudul menarik <em>“I’lamul Anam mi Mukhalafah Syaikh Azhar Syaltut lil Islam”.</em> (Pemberitahuan kepada manusia tentang penyimpangan Syaikh Syaltut terhadap Islam).</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> <em>Al-Fatawa</em> hal. 61-62).</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> <em>Republika,</em> 18 Nopember 1994 hal. 10. Dikutip dari “<em>Kenaikan dan Kebangkitan Isa as dalam Bybel dan Al-Qur’an”</em> hal. 14 oleh Hj. Irene Handono. (Majalah <em>Al-Muslimun</em> 398 Mei 2003 hal. 22-23).</p>
<p><a href="#_ftnref13"></a></p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> <em>Al-A’mal Al-Kamilah</em> 5/37-38 dan lihat Tafsir <em>Al-Manar</em> 3/316-317. Syaikh Khalil al-Harras memiliki risalah bantahan khusus kepada Syaikh Rasyid Ridha dalam masalah ini berjudul <em>“Fashlul Maqal fi Raf’I Isa Alaihi Salam Hayyan wa fii Nuzulihi wa Qathlihi Dajjal”. </em></p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> Dinukil dari <em>Dirasat fi Sirah Nabawiyyah</em> hal. 308 oleh Syaikh Muhammad Surur Zainal Abidin.</p>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> Lihat kembali pembahasan &#8220;Hadits Lalat antara Ahli Hadits dan Ahli Medis&#8221; dalam buku ini</p>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> <em>Tashnif An-Nas baina Dhanni wal Yaqin</em> hal. 26</p>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> <em>Al-Anwar Al-Kasyifah</em> Syaikh Abdur Rahman al-Mu’allimi hal. 98.</p>
<p><a href="#_ftnref19">[19]</a> <em>Qishshatul Masih Dajjal wa Nuzul Isa </em>hal. 24</p>
<p><a href="#_ftnref20">[20]</a> Lihat <em>Tadrib Rawi</em> 1/262 oleh Imam As-Suyuthi.</p>
<p><a href="#_ftnref21">[21]</a> Lihat <em>Ma’rifah Ulum Hadits</em> Ibnu Sholah hal. 29, <em>Majmu Fatawa</em> Ibnu Taimiyyah 18/22-49, <em>Al-Baits Hatsits</em> Ibnu Katsir 1/125-128 dan <em>Nuzhah Nadhar</em> Ibnu Hajar hal. 74.</p>
<p><a href="#_ftnref22">[22]</a> HR. Muslim 247.</p>
<p><a href="#_ftnref23">[23]</a> HR. Muslim 2137.</p>
<p><a href="#_ftnref24">[24]</a> HR. Muslim 1252.</p>
<p><a href="#_ftnref25">[25]</a> HR. Ahmad 2/406, Abu Dawud 11/456 dan dishahihkan Ibnu Hajar 6/493.</p>
<p><a href="#_ftnref26">[26]</a> <em>Majmu Fatawa</em> Ibnu Baz 1/455 cet. Dar Al-Wathn.</p>
<p><a href="#_ftnref27">[27]</a> <em>Ikmal Mu’lim bi Fawaid Muslim</em> 8/492</p>
<p><a href="#_ftnref28">[28]</a> <em>Syarh Shahih Muslim</em> 18/383. Perlu diketahui bersama bahwa Imam Nawawi termasuk seorang ulama yang menguatkan bahwa hadits ahad menunjukkan <em>zhan </em>secara mutlak baik riwayat Bukhari Muslim maupun selainnya sebagaimana dalam <em>A-Taqrib</em> hal. 40 dan <em>Syarah Shahih Muslim</em> 1/26. Tetapi lihatlah wahai saudaraku bagaimana beliau tetap berhujjah dengan hadits ini. Maka camkanlah hal ini baik-baik agar anda tidak tertipu oleh filsafat yang dungu. Wallahu A’lam.</p>
<p><a href="#_ftnref29">[29]</a> Riwayat Ibnu Jarir 6/18 dan dishahihkan Ibnu Katsir dalam <em>An-Nihayah</em> 1/131 dan Ibnu Hajar dalam <em>Fathul Bari</em> 6/492.</p>
<p><a href="#_ftnref30">[30]</a> Lihat <em>Tafsir At-Thabari</em> 6/21, <em>Tafsir Ibnu Katsir</em> 2/415 dan <em>Adhwaul Bayan</em> As-Syanqithi 7/129-130.</p>
<p><a href="#_ftnref31">[31]</a> Dikeluarkan Imam Ahmad 4/329 dan dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir.</p>
<p><a href="#_ftnref32">[32]</a> Lihat pula <em>Tafsir At-Thabari</em> 25/90-91, <em>Tafsir Al-Qurthubi</em> 16/105 dan <em>Adhwaul Bayan As-Syanqithi</em> 7/128).</p>
<p><a href="#_ftnref33">[33]</a> <em>Majmu Fatawa</em> Ibnu Baz 1/454.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/turunnya-isa-bin-maryam-di-akhir-zaman.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TURUNNYA ALLAH KE LANGIT DUNIA</title>
		<link>http://abiubaidah.com/turunnya-allah-ke-langit-dunia.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/turunnya-allah-ke-langit-dunia.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Apr 2010 11:48:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Telaah Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Bantahan]]></category>
		<category><![CDATA[Telaah Khusus]]></category>
		<category><![CDATA[Turunnya Allah ke Langit Dunia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Tauhid Asma’ wa Sifat merupakan perkara urgen dalam wilayah tauhid, karena bagaimana mungkin seorang beribadah kepada Allah dengan sebenar-benarnya tanpa mengenal nama dan sifat Dzat yang dia ibadahi. Pada zaman salaf dahulu, masalah ini tidak terlalu rumit, lantaran mereka dapat menyikapinya secara proporsional. Namun, masalah ini kini menjadi krusial, lantaran percikan syubhat para ahli bid’ah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fabiubaidah.com%2Fturunnya-allah-ke-langit-dunia.html%2F">
										</iframe>
										</div><p><img class="alignleft" title="xxx" src="http://m7mad.net/images/blog/samaaa.jpg" alt="" width="120" height="143" />Tauhid Asma’ wa Sifat merupakan perkara urgen dalam wilayah tauhid, karena bagaimana mungkin seorang beribadah kepada Allah dengan sebenar-benarnya tanpa mengenal nama dan sifat Dzat yang dia ibadahi. Pada zaman salaf dahulu, masalah ini tidak terlalu rumit, lantaran mereka dapat menyikapinya secara proporsional. Namun, masalah ini kini menjadi krusial, lantaran percikan syubhat para ahli bid’ah yang kurang puas dengan manhaj salaf dalam Asma wa Sifat, sehingga mereka <em>memplintir </em>dan merubah dalil yang shahih dari makna aslinya, padahal -kalau disadari- sebenarnya mereka telah membeo kaum Yahudi yang terlaknat.</p>
<p>Contohnya terlalu banyak kalau mau diuraikan satu persatu, tetapi cukuplah sebagai perwakilan, hadits tentang nuzul (turunnya) Allah ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, dimana hadits ini telah diobok-obok oleh tangan sebagian kalangan yang tersesat jalan dan terombang-ambing dalam kebingungan nan kegelapan.</p>
<p>Nah, pada kesempatan kali ini kita akan mencoba untuk mengkaji hadits tersebut dan menguraikan belitan syubhat para pengekor hawa nafsu seputar hadits tersebut. Semoga Allah selalu meneguhkan kita untuk meniti di atas jalanNya yang lurus. Amiin.</p>
<h3><span style="color: #ff6600;"><span id="more-42"></span>TEKS HADITS</span></h3>
<h2 style="text-align: center;">عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ الأَخِيْرِ يَقُوْلُ : مَنْ يَدْعُوْنِيْ فَأَسْتَجِيْبَ لَهُ, مَنْ يَسْأَلُنِيْ فَأُعْطِيَهُ, مَنْ يَسْتَغْفِرُنِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda: “Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Dia berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku berikan, dan siapa yang yang memohon ampun kepadaKu, maka akan Aku ampuni”. <a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<h3>.</h3>
<h3><span style="color: #ff6600;">HADITSNYA MUTAWATIR</span></h3>
<p>Hadits tentang nuzulnya Allah tidak diragukan lagi keabsahannya. Seluruh ulama ahli hadits menshahihkannya, tidak ada satupun dari mereka yang melemahkannya. Bahkan, para ulama ahli hadits menilai bahwa derajat haditsnya mutawatir. Diantaranya:</p>
<p>1. <strong>Imam Abu Zur’ah</strong> berkata<a href="#_ftn2">[2]</a>: “Hadits-hadits tentang turunnya Allah ke langit dunia ini derajatnya mutawatir dari Rasulullah, diriwayatkan oleh sejumlah sahabat Rasulullah. Hadits tersebut menurut kami adalah shahih dan kuat”.</p>
<p>2. <strong>Utsman bin Sa’id Ad-Darimi</strong> berkata: “Hadits nuzul diriwayatkan dari dua puluh tiga lebih sahabat dari Nabi”.<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>3. <strong>Abdul Ghani Al-Maqdisi</strong>: “Telah mutawatir dan shahih hadits-hadits tentang turunnya Allah setiap hari ke langit dunia. Maka wajib bagi kita untuk beriman dengannya, pasrah menerimanya, tidak menentangnya, menjalankannya tanpa <em>takyif</em> (membagaimanakan) dan <em>tamtsil </em>(menyerupakan dengan makhluk) serta <em>takwil </em>(menyelewengkan artinya) sehingga meniadakan hakekat turunnya Allah”.<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>4. <strong>Imam Ibnu Abdil Barr</strong>: “Hadits ini adalah shahih sanadnya. Tidak ada perselisihan pendapat di kalangan ahli hadits tentang keabsahannya”. Beliau juga berkata: “Hadits ini dinukil dari jalan-jalan yang mutawatir dan jalur yang banyak sekali dari orang-orang yang adil dari Nabi”.<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>5. <strong>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</strong> menegaskan bahwa hadits ini mutawatir dan dinukil dari generasi ke generasi selanjutnya<a href="#_ftn6">[6]</a>. Beliau juga berkata: “Hadits masyhur yang diriwayatkan oleh banyak sahabat”.<a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>6. <strong>Imam Ad-Dzahabi</strong> berkata :“Saya telah menulis hadits-hadits tentang nuzul (turunnya Allah) dalam sebuah kitab khusus, derajat hadits-haditsnya saya berani menetapkannya mutawatir”.<a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>7. <strong>Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah</strong> berkata: “Sesungguhnya turunnya Allah ke langit dunia telah dijelaskan dalam hadits-hadits mutawatir dari Rasulullah, yang diriwayatkan oleh kurang lebih dua puluh delapan sahabat”. <a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Demikian pula ditegaskan oleh <strong>Imam Ibnu Abdil Hadi</strong><a href="#_ftn10">[10]</a>,  <strong>Al-Kattani</strong> <a href="#_ftn11">[11]</a>dan <strong>Al-Albani</strong><a href="#_ftn12">[12]</a>.</p>
<h4>.</h4>
<h4><span style="color: #ff6600;">Daftar Sahabat  Periwayat Haditz Nuzul</span></h4>
<p>Hadits nuzul ini diriwayatkan dari <strong>sejumlah sahabat Nabi</strong>, diantaranya</p>
<ul>
<li>Abu Bakar Ash-Shiddiq,</li>
<li>Ali bin Abi Thalib,</li>
<li>Abu Hurairah,</li>
<li>Jubair bin Muth’im,</li>
<li>Jabir bin Abdullah,</li>
<li>Abdullah bin Mas’ud,</li>
<li>Abu Sa’id Al-Khudri,</li>
<li>Amr bin ‘Abasah,</li>
<li>Rifa’ah bin ‘Arabah Al-Juhani,</li>
<li>Utsman bin Abi ‘Ash Ats-Tsaqafi,</li>
<li>Abdul Hamid bin Salamah dari ayahnya dari kakeknya,</li>
<li>Abu Darda’,</li>
<li>Mu’adz bin Jabal,</li>
<li>Abu Tsa’labah Al-Khusyani,</li>
<li>Aisyah,</li>
<li>Abu Musa Al-Asy’ari,</li>
<li>Ummu Salamah,</li>
<li>Anas bin Malik,</li>
<li>Hudzaifah bin Yaman,</li>
<li>Laqith bin Amir Al-‘Uqaili,</li>
<li>Abdullah bin Abbas,</li>
<li>Ubadah bin Shamith,</li>
<li>Asma’ binti Yazid,</li>
<li>Abul Khaththab,</li>
<li>‘Auf bin Malik,</li>
<li>Abu Umamah Al-Bahili,</li>
<li>Tsauban,</li>
<li>Abu Haritsah, dan</li>
<li>Khaulah binti Hakim. <a href="#_ftn13">[13]</a></li>
</ul>
<p>.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>SYARH HADITS</strong></span></p>
<p><strong>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah</strong> mengatakan:</p>
<blockquote><p>“Para salaf, para imam dan para ahli ilmu dan hadits telah bersepakat membenarkan dan menerima hadits ini. Barangsiapa yang berkata seperti perkataan rasul, maka dia benar. Tetapi barangsiapa yang memahami hadits ini atau hadits-hadits sejenisnya dengan pemahaman yang Allah suci darinya, seperti menyerupakanNya dengan sifat makhluk, dan menyifatinya dengan kekurangan, maka dia telah salah. Oleh karena itu madzhab salaf menyakini dalam sifat ini dengan menetapkan sifat-sifat bagi Allah dan tidak menyerupakannya dengan makhluk. Karena Allah disifati dengan sifat-sifat yang terpuji dan suci dari penyerupaan dengan makhlukNya”. <a href="#_ftn14">[14]</a><strong> </strong></p></blockquote>
<p><strong>Imam Al-Ajurri</strong> berkata:</p>
<blockquote><p>“Iman dengan ini wajib, tetapi tidak boleh bagi seorang muslim untuk bertanya: Bagaimana Allah turun? Dan tidak ada yang mengingkari ini kecuali kelompok Mu’tazilah. Adapun ahli haq, mereka mengatakan: Beriman dengannya adalah wajib tanpa <em>takyif</em> (membagaimanakan), sebab telah shahih sejumlah hadits dari Rasulullah bahwasanya Allah turun ke langit dunia setiap malam.  Orang-orang yang meriwayatkan hadits ini kepada kita, mereka pula yang meriwayatkan hadits-hadits tentang hukum halal haram, shalat, zakat, puasa, haji dan jihad. Maka, sebagaimana para ulama menerima semua itu, maka mereka juga menerima hadits-hadits ini, bahkan mereka menegaskan: “Barangsiapa yang menolaknya maka dia adalah sesat dan keji”. Mereka waspada darinya dan memperingatkan umat dari penyimpangannya”. <a href="#_ftn15">[15]</a></p></blockquote>
<p><strong>Imam Ibnu Khuzaimah</strong> berkata:</p>
<blockquote><p>“Bab penyebutan hadits-hadits yang shahih sanad dan matan-nya. Para ulama Hijaz dan ‘Iraq meriwayatkan dari Nabi tentang turunnya Allah ke langit dunia setiap malam. Kita bersaksi dengan persaksian seorang yang menetapkan dengan lisannya dan membenarkan dengan hatinya penuh keyakinan terhadap hadits-hadits seputar turunnya Allah tanpa membagaimanakan sifatnya, sebab Nabi kita tidak menyifatkan kepada kita tentang sifat turunnya Allah ke langit dunia, tetapi hanya memberitakan kepada kita bahwa Dia turun, sedangkan Allah dan NabiNya tidak mungkin lalai untuk menjelaskan sesuatu yang dibutuhkan kaum muslimin dalam agama mereka. Maka kita membenarkan  hadits-hadits ini yang berisi penetapan turunnya Allah tanpa menyulitkan diri untuk membagaimanakan sifat turunNya, lantaran Nabi tidak menerangkan kepada kita tentang sifat turunnya Allah”.<a href="#_ftn16">[16]</a></p></blockquote>
<p><strong>Imam Ibnu Abdil Barr</strong> berkata:</p>
<blockquote><p>“Mayoritas imam Ahli Sunnah berpendapat bahwa Allah turun sebagaimana dikhabarkan oleh Rasulullah, mereka membenarkan hadits ini dan tidak membagaimanakannya”. <a href="#_ftn17">[17]</a></p></blockquote>
<p>.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>SYUBHAT DAN JAWABANNYA</strong></span></p>
<p>Dari segi sanad, sepertinya para ahli bid’ah tidak dapat berkutik apa-apa lagi lantaran sangat kuatnya. Namun mereka tetap tidak putus asa untuk menaburkan debu dengan mengarahkan bidikan pada matan (kandungan) hadits ini, seperti:</p>
<h4><span style="color: #ff0000;">A. Tasybih</span></h4>
<p>Mereka mengatakan<a href="#_ftn18">[18]</a>: Kalau kita tetapkan bahwa Allah punya sifat turun itu berarti Allah serupa dengan makhluk, padahal ini bertentangan dengan ayat:</p>
<h2 style="text-align: center;">لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىْءُُ</h2>
<p style="text-align: center;"><em>Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah.</em> <a href="#_ftn19">[19]</a>(QS. Asy-Syura: 11).</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<h4><span style="color: #0000ff;">Kaidah kita dalam masalah Asma wa Sifat adalah menetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah dalam Al-Qur’an atau rasulullah dalam haditsnya yang shahih tanpa menyerupakannya dengan sesuatupun dan mensucikanNya tapa mengingkari sifat-sifatNya sebagaimana firman Allah:</span></h4>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;"><em>Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. Dan Dia-lah Maha mendengar dan melihat.</em> (QS. Asy-Syura: 11).</span></p>
<ul>
<li>Firman  Allah: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىْءُُ  <em>“Tidak ada sesuatupun yang serupa denganNya”</em> merupakan bantahan terhadap golongan musyabbihah (yang menyerupakan Allah dengan makhluk).</li>
</ul>
<ul>
<li>Adapun firmanNya: وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ<em>“Dan Dia Maha mendengar lagi Maha  melihat”.</em> Merupakan bantahan terhadap golongan yang merubah makna sifat dan mengingkarinya. Jadi, kewajiban kita adalah menetapkna apa yang telah ditetapkan oleh Alloh dan menafikan apa Dia nafikan tanpa tahrif (merubah makna) dan ta’til (mengingkarinya). Inilah manhaj (metode) selamat yang harus ditempuh oleh setiap muslim, karena dibangun di atas ilmu dan kelrusan dalam i’tiqad. <a href="#_ftn20">[20]</a><strong> </strong></li>
</ul>
<p><strong>Imam Syaukani</strong> berkata,</p>
<blockquote><p>“ Barangsiapa yang memahami dan merenungi ayat mulia ini dengan sebenar-benarnya niscaya dia akan meniti di atas jalan yang putih dan jelas di persimpangan perselisihan manusia dalam masalah sifat-sifat Alloh. Lebih mantap lagi apabila engkau merenungi makna firman Allah: <em>“Dan Dia Maha mendengar lagi Maha melihat”.</em> karena penetapan ini setelah peniadaan sesuatu yang serupa telah mengandung keyakinan yang mantap dan obat penawar hati. Wahai pencari kebenaran, pegangilah hujjah yang jelas dan kuat ini, niscaya engkau dapat memberantas berbagai corak kebid’ahan dan meremukkan argumen para tokoh kesesatan dan ahli filsafat”. <a href="#_ftn21">[21]</a></p></blockquote>
<ul>
<li>Jadi, kita menetapkan sifat “turun” bagi Allah sebagaimana dikhabarkan oleh Nabi yang mulia tanpa menyerupakannya dengan turunnya makhluk. Apabila ada yang mengingkarinya dengan alasan “kalau kita tetapkan berarti kita menyerupakannya dengan makhluk”, maka ini bathil. Kita tanyakan kepadanya: Apakah anda menetapkan sifat mendengar dan melihat bagi Allah? Kalau dia tidak menetapkannya, maka dia telah mengingkari ayat di atas. Dan apabila dia menetapkannya, maka dia telah kontradiksi karena makhluk juga mempunyai sifat mendengar dan melihat. Kalau dia berkata: Kita tetapkan sifat melihat dan mendengar bagi Allah tetapi sama seperti makhlukNya. Kita jawab: Demikian pula kita tetapkan turunnya Allah tetapi tidak sama seperti makhlukNya. Mengapa kalian menetapkan sebagian sifat, tetapi tidak menetapkan sifat lainnya, padahal sama-sama berlandaskan dalil yang shahih? Sungguh ini suatu kontradiksi yang sangat ajaib sekali!!!.</li>
</ul>
<ul>
<li>Jadi sekali lagi, menetapkan sifat turun bagi Allah bukan berarti kita menyerupakannya dengan makhluk, tidak ada seorang ulama salaf-pun yang berfaham demikian, bahkan kata<strong> Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</strong> dalam <em>Majmu’ Fatawa</em> 5/252: “Apabila seseorang menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat makhlukNya, seperti mengatakan istiwa’ Allah serupa dengan istiwa’ makhlukNya, atau turunnya Allah serupa dengan turunnya makhluk, maka dia adalah mubtadi’ (ahli bid’ah), sesat dan menyesatkan, karena Al-Qur’an dan As-Sunnah serta akal menjelaskan bahwa Allah tidak serupa dengan makhluk dalam segala segi”.<a href="#_ftn22">[22]</a></li>
</ul>
<ul>
<li>Lucunya, mereka menuding kaum salaf yang menetapkan sebagaimana manhaj yang benar sebagai kaum musyabbihah atau mujassimah! Subhanallah, hanya kepada Allah kita mengadu!.</li>
</ul>
<p><strong>Imam Ibnu Abdil Barr</strong> mengatakan:</p>
<blockquote><p>“Seluruh Ahli Sunnah telah bersepakat untuk menetapkan sifat-sifat yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah serta mengartikannya secara dhahirnya. Tetapi mereka tidak menggambarkan bagaimananya sifat-sifat tersebut. Adapun Jahmiyyah, Mu’tazilah dan Khawarij mereka mengingkari sifat-sifat Allah dan tidak mengartikannya secara dhahirnya. Lucunya mereka meuding bahwa orang yang menetapkannya termasuk Musyabbih<a href="#_ftn23">[23]</a> (kaum yang menyerupakan Allah dengan makhluk)”. <a href="#_ftn24">[24]</a></p></blockquote>
<h4><span style="color: #ff0000;">B. Tahrif</span></h4>
<p>Banyak sekali takwil dan tahrif yang menyelimuti hadits yang tegas ini. Mereka mengatakan: Bukan Allah yang turun, tetapi perintah Allah!. Ada lagi yang mengatakan: Rahmat Allah! Lain lagi mentakwilkan: Malaikat dari para malaikat Allah!. Adapun <strong>KH. Sirajuddin Abbas</strong>, dia berpendapat lain lagi: “Maksud hadits ini -menurut Ahlus Sunnah- bahwasanya pintu rahmat Tuhan terbuka malam hari seluas-luasnya, khusus pada akhir-akhir malam. Sekalian do’a dan permohonan diterima ketika itu. Oleh karena itu hendaklah mendo’a banyak-banyak setiap malam. Inilah maksudnya hadits ini”. (<em><strong>I’tiqad Ahlussunnah wal Jama’ah</strong></em> hal. 276).</p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p>Tahrif seperti ini adalah <em><strong>bathil</strong></em> ditinjau dari <strong>dua segi</strong>:</p>
<p>Secara global: Asli dalam ungkapan seseorang adalah hakekat (bukan majaz) sehingga ada dalil yang memalingkannya kepada makna majaz. Sungguh amat mustahil sekali, bila Nabi Muhammad seringkali dan berulangkali mengucapkan suatu ungkapan yang didengar oleh banyak sahabatnya, namun kemudian beliau tidak menjelaskan makna sesungguhnya!. Siapakah orang yang lebih sayang terhadap umat manusia?! Nabi kita Muhammad ataukah kaum Mu’tazilah dan Asyairah?! Tidakkah mereka menyadari bahwa merubah arti dari dhahirnya adalah perilaku kaum Yahudi yang dikecam oleh Allah?!:</p>
<p style="text-align: center;"><em>Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya.</em></p>
<p style="text-align: center;">(QS. An-Nisa’: 46)</p>
<p style="text-align: center;"><em>Lalu orang-orang yang zhalim mengganti ucapan yang tidak dierintahkan kepada mereka.</em></p>
<p style="text-align: center;"><em> </em>(QS. Al-Baqarah: 59)</p>
<h4>Semoga Allah merahmati Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah tatkala mengatakan dalam <em>Nuniyahnya</em> 1923-1930:</h4>
<p style="text-align: center;">أَُمِرَ الْيَهُوْدُ بِأَنْ يَقُوْلُوْا : حِطَّةٌ              فَأَبَوْا وَقَالُوْا: حِنْطَةٌ لِهَوَانِ</p>
<p style="text-align: center;">وَكَذَلِكَ الْجَهْمِيُّ قِيْلَ لَهُ : اسْتَوَى           فَأَبَى وَزَادَ الْحَرْفَ لِلنُّقْصَانِ</p>
<p style="text-align: center;">نُوْنُ الْيَهُوْدِ وَلاَمُ جَهْمِيٍّ هُمَا               فِيْ وَحْيِ رَبِّ الْعَرْشِ زَائِدَتَانِ</p>
<p style="text-align: center;"><em>Orang Yahudi diperintahkan untuk mengatakan Hithah (ampunilah).</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Mereka enggan, bahkan berkata: Hinthah (gandum) demi kehinaan.</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Demikian pula Jahmi dikatakan padanya: Istawa (tinggi)</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Mereka enggan dan menambah huruf (istaula/berkuasa)<a href="#_ftn25"><strong>[25]</strong></a>.</em></p>
<h5 style="text-align: center;">Tambahan huruf “Nun” Yahudi dan “Lam” Jahmi</h5>
<p style="text-align: center;"><em>Keduanya dalam timbangan syar’I adalah tambahan.</em></p>
<p><strong>Adapun secara terperinci:</strong></p>
<ul>
<li>Urusan dan nikmat Allah tidaklah turun pada saat khusus sepertiga malam terakhir saja, bahkan kapanpun waktunya. Allah berfirman, yang artinya:</li>
</ul>
<p style="text-align: center;"><em>Dan apa saja nikmat yang ada ada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya).</em></p>
<p style="text-align: center;">(QS. An-Nahl: 53)</p>
<ul>
<li>Kemudian apalah faedahnya nikmat dan urusan Allah hanya turun ke langit dunia saja tetapi tidak turun ke bumi?!</li>
</ul>
<ul>
<li>Adapun kalau diartikan “malaikat” maka kita jawab: Apakah masuk akal kalau malaikat mengatakan: Siapa yang berdo’a kepadaKu, maka akan Aku kabulkan…?! Maka jelaslah bahwa tahrif ini adalah bathil, termentahkan oleh hadits fakta lapangan. <a href="#_ftn26">[26]</a></li>
</ul>
<ul>
<li>Alangkah bagusnya ucapan <strong>Syaikh Al-Allamah Imam Abdul Aziz bin Baz</strong> tatkala membantah perubahan makna seperti ini:</li>
</ul>
<blockquote><p>“Ini merupakan kesalahan yang nyata sekali, bertentangan dengan nash-nash yang shahih yang menetapkan nuzul (turunnya) Allah. Pendapat yang benar adalah pendapat salaf shaleh, yaitu menyakini turunnya Allah dan memahami riwayat ini sebagaimana datangnya, tanpa <em>takyif </em>(membagaimanakan), dan tanpa <em>tamtsil</em> (menyerupakan dengan makhluk). Inilah jalan yang paling benar, paling selamat, paling cocok, dan paling bijaksana. Pegangilah keyakinan ini dan gigitlah dengan gigi gerahammu serta waspadalah dari keyakinan-keyakinan yang menyelisihnya. Semoga engkau bahagia dan selamat”. <a href="#_ftn27">[27]</a></p></blockquote>
<h4><span style="color: #ff0000;">C. Akal-akalan</span></h4>
<blockquote>
<h4><span style="color: #0000ff;">KH. Sirajuddin Abbas berkata dalam buku hitamnya “Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah” hal. 276: “Sebagaimana dimaklumi dunia ini bundar, malam di suatu tempat, siang di tempat yang lain, kalau di Indonesia matahari sudah terbenam dan sudah malam maka di Makkah baru pukul dua belas siang. Kalau di Indonesia siang bolong umpamanya pukul sepuluh pagi, maka di Belanda betul-betul pukul dua malam. Dan begitulah seterusnya. Nah, kalau tuhan turun ke bawah pada sepetiga malam sebagaimana turunnya Ibnu Taimiyah, maka pekerjaan tuhan hanya turun-turun saja setiap waktu bagi seluruh penduduk dunia. Karena waktu malam sepertiga malam terakhir bergantian di seluruh dunia, sedang tuhan hanya satu”.</span></h4>
</blockquote>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Penulis sudah pernah membantah syubhat ini<a href="#_ftn28">[28]</a>, saya katakan waktu itu: Demikianlah jika seorang telah dimotori oleh akalnya! Mengapakah tuan menggambarkan Allah sedemikian rupa? Mengapakah tuan tiak pasrah terhadap hadits Rasul yang shahih? Bukankah Allah berfirman:</p>
<p style="text-align: center;"><em>Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadapan keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.</em></p>
<p style="text-align: center;">(QS. An-Nisa’: 65: )</p>
<ul>
<li><strong>Imam Bukhari</strong> meriwayatkan dari <strong>Imam az-Zuhri</strong> bahwasanya beliau mengatakan: “Wahyu itu dari Allah, Rasulullah hanya menyampaikan, kewajiban kita hanyalaha pasrah dan tunduk”. <a href="#_ftn29">[29]</a></li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Imam ath-Thohawi</strong> berkata: “Tidaklah selamat seorang hamba dalam agamanya kecuali apabila dia tunduk dan pasrah terhadap Allah dan RasulNya dan mengembalikan segala kesamaran kepada Dzat yang maha mengetahui”. <a href="#_ftn30">[30]</a></li>
</ul>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Kewajiban kita dalam hadits-hadits seperti ini adalah:</strong></span></p>
<ol>
<li><strong>Beriman dengan nash-nash yang shahih.</strong></li>
<li><strong>Tidak bertanya bagaimannya</strong> serta menggambarkannya, baik dalam fikiran, terlebih lagi dalam ungkapan. Karena hal itu termasuk berkata terhadap Allah tanpa dasar ilmu, sedangkan Allah tak dapat dijangkau dengan akal fikiran.</li>
<li><strong>Tidak menyerupakan sifatNya</strong> dengan sifat makhluk. Allah berfirman, yang artinya:</li>
</ol>
<p style="text-align: center;"><em>Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. Dan Dia-lah Maha mendengar dan melihat.</em></p>
<p style="text-align: center;">(QS. Asy-Syura: 11)</p>
<blockquote><p>Apabila kita memahami kewajiban ini, maka tidak akan ada lagi kerancuan dalam hadits nuzul atau lainnya yang menerangkan sifat-sifat Allah. Yang penting, jika tibasepertiga malam terakhir maka Rabb turun ke langit dunia, sebagaimana diberitakan oleh Nabi”. <a href="#_ftn31">[31]</a></p></blockquote>
<h4>.</h4>
<h4><span style="color: #ff6600;">FIQIH HADITS</span></h4>
<p>Hadits ini memiliki beberapa faedah yang banyak sekali. Dalam kitabnya <em>Al-Kawasyif Al-Jaliyyah</em> hal. 451-454, Syaikh Abdul Aziz Al-Muhammad As-Salman dapat menarik 38 faedah dari hadits di atas, diantaranya:</p>
<p><strong>1. Ketinggian Allah di atas arsy-Nya.</strong></p>
<p>Dalam hadits ini terdapat faedah berharga tentang sebuah aqidah yang banyak dilupakan oleh mayoritas kaum muslimin saat ini yaitu tentang ketinggian Allah di atas langit. Hal itu diambil dari lafadz “Turun” karena makna “turun” dalam bahasa adalah dari atas ke bawah bukan sebaliknya.</p>
<ul>
<li><strong>Imam Utsman bin Sa’id ad-Darimi</strong> berkata: “Hadits ini sangat pahit bagi kelompok Jahmiyah dan mematahkan faham mereka bahwa Allah tidak di atas arsy tetapi di bumi sebagaimana Dia juga di langit. Lantas bagaimanakah Allah turun ke bumi kalau memang Dia sendiri sudah di atas bumi? Sungguh lafazh hadits ini membantah faham mereka dan mematahkan argumen mereka”.<a href="#_ftn32">[32]</a></li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Imam Ibnu Abdil Barr</strong> berkata: “Dalam hadits ini terdapat dalil bahwasanya Allah berada di atas langit, di atas arsy sebagaimana dikatakan oleh para ulama. Hadits ini termasuk salah satu hujjah Ahli Sunnah terhadap kelompok Mu’tazilah dan Jahmiyah yang berpendapat bahwa Allah ada dimana-mana, bukan di atas arsy”. <a href="#_ftn33">[33]</a></li>
</ul>
<p><strong>2. Menetapkan sifat “kalam” (berbicara) bagi Allah</strong></p>
<ul>
<li>Faedah ini diambil dari kandungan hadits: <em>“Barangsiapa yang berdoa kepadaKu maka akan Aku kabulkan…”.</em> Sifat “kalam” merupakan salah satu sifat yang sempurna dan hakekat (bukan majaz) bagi Allah. Banyak sekali dalil yang mendukungnya, salah satunya adalah firman Allah, yang artinya:</li>
</ul>
<p style="text-align: center;"><em>Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.</em> (QS. An-Nisa’: 164)</p>
<blockquote><p>Pernah dikisahkan bahwa sebagian Mu’tazilah pernah datang kepada Abu ‘Amr bin Al-‘Alaa’, salah seorang pakar ahli qira’ah: Saya ingin agar anda membaca:</p>
<h2 style="text-align: center;">وَكَلَّمَ اللهَ مُوْسَى تَكْلِيْمًا</h2>
<p>Dengan menashabkan (menfathah) lafadz Allah, agar supaya yang berbicara (subyek) adalah Musa, bukan Allah. Abu ‘Amr lantas menjawab: Taruhlah aku membaca ayat ini seperti itu, lantas apa yang akan kau perbuat dengan firman Allah:</p>
<p><em>Dan tatkala Musa datang untuk (munajat kepada kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya.</em> (QS. Al-A’raf: 143)</p>
<p>Akhirnya, seorang <strong>Mu’tazilah itu diam seribu bahasa!</strong>. <a href="#_ftn34">[34]</a></p></blockquote>
<p><strong>3. Keutamaan sepertiga malam terakhir</strong></p>
<p>Malam hari adalah saat keheningan hati, ketenangan, keikhlasan, dimana  saat itu manusia dalam kelelapan tidur. Oleh karenanya, doa pada saat itu mustajab, terutama pada malam terakhir.</p>
<p>Allah berfirman, yang artinya:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><em>Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam.</em> (QS. Adz-Dzariyat: 16-17)</p>
</blockquote>
<p>Nabi juga bersabda:</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عَنْ أَبِيْ أُمَامَةَ قَالَ : قِيْلَ لِرَسُوْلِ اللهِ : أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ؟ قَالَ : جَوْفُ اللَّيْلِ الآخِرِ وَدُبُرُ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوْبَاتِ</h2>
<p style="text-align: center;"><em>Dari Abu Umamah berkata: Ditanyakan kepada Rasulullah: “Doa apakah yang paling mustajab? Beliau menjawab: “Akhir malam dan penghujung shalat lima waktu”. <a href="#_ftn35"><strong>[35]</strong></a></em></p>
</blockquote>
<ul>
<li><strong>Imam Abu Bakar Ath-Thurthusi</strong> berkata dalam: “Sebagai penutup bab ini, tidak pantas bagi seorang yang butuh kepada Allah kemudian dia tidur di waktu malam terakhir”.<a href="#_ftn36">[36]</a></li>
</ul>
<p>Maka pergunakanlah kesempatan berharga ini -wahai saudaraku- untuk memperbanyak doa, istighfar dan taubat sebelum maut menjemputmu.</p>
<h2 style="text-align: center;">اغْتَنِمْ فِيْ الْفَرَاغِ فَضْلَ رُكُوْعٍ              فَعَسَى أَنْ يَكُوْنَ مَوْتُكَ بَغْتَةْ</h2>
<h2 style="text-align: center;">كَمْ صَحِيْحٍ رَأَيْتَ مِنْ غَيْرِ سُقْمٍ                        ذَهَبَتْ نَفْسُهُ الْعَزِيْزَةُ فَلْتَةْ</h2>
<p style="text-align: center;"><em>Gunakanlah waktu luangmu untuk memperbanyak shalat</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Barangkali kematianmu datang tiba-tiba secara cepat.</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Betapa banyak orang yang sehat wal afiat, tiada cacat.</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Jiwanya yang sehat melayang  cepat<a href="#_ftn37"><strong>[37]</strong></a>.</em><em> </em></p>
<p>.</p>
<p><strong><em>Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi</em></strong></p>
<p><a href="http://abiubaidah.com"><strong>Abiubaidah.com</strong></a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> HR. Bukhari: 1145 dan Muslim: 758.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Sebagaimana dinukil oleh Abu Syaikh Ibnu Hibban dalam <em>Kitab As-Sunnah</em>. (Lihat <em>Umdatul Qary</em> 7/199 oleh Al-‘Ainiy).</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> <em>Naqdu Utsman bin Sa’id ‘ala Al-Marisi Al-Anid</em> hal. 283</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> <em>Al-Iqtishad fil I’tiqad </em>hal. 100</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> <em>At-Tamhid</em> 3/338</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> <em>Majmu Fatawa</em> 5/372</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> <em>Majmu Fatawa</em> 5/382 dan 16/421</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> <em>Al-Uluw </em>hal. 116 -Mukhtashar Al-Albani-</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> <em>Ash-Shawa’iq Al-Mursalah</em> 2/221 -Mukhtashar Al-Mushiliy-</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> <em>Ash-Sharimul Munki</em> hal. 229</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> <em>Nadhmul Mutanasir</em> hal. 192</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> <em>Silsilah Ash-Shahihah</em> 2/716-717 dan <em>Adh-Dha’ifah</em> 8/365</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> Lihat <em>Mukhtashar Shawaiq Mursalah</em> Ibnul Qayyim 2/230, <em>Umdatul Qori </em>Al-‘Aini 7/198, <em>Kitab Nuzul</em> Ad-Daruqutni.</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> <em>Syarah Hadits Nuzul</em> hal. 69-70.</p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> <em>Asy-Syari’ah</em> 2/93 -Tahqiq Walid bin Muhammad-.</p>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> <em>Kitab At-Tauhid wa Itsbat Shifat Ar-Rabb</em> hal. 125 -Tahqiq Muhammad Khalil Harras-.</p>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> <em>At-Tamhid</em> 3/349</p>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> Bandingkan dengan buku <em>“I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah</em>” hal. 272-273 oleh KH. Sirajuddin Abbas, Pustaka Tarbiyah, cet ke 19 Jakarta 1994. Ironisnya, tatkala penulis ke sebuah toko buku di Surabaya, ternyata kitab sesat dan menyesatkan ini dicetak ulang lagi oleh penerbit tersebut dengan cetakan yang baru dan mewah!!!</p>
<p><a href="#_ftnref19">[19]</a> Perhatikanlah -wahai saudaraku- para ahli bid’ah memenggal dalil dan tidak menyempurnakannya, karena lafadz berikutnya akan membungkam fahamnya!! Inikah amanah ilmiyah ataukah ini perilaku keji kaum Yahudi yang beriman dengan sebagian dan mengkufuri sebagian lainnya?!.</p>
<p><a href="#_ftnref20">[20]</a> <em>Taqrib at-Tadmuriyyah</em> hal 12 oleh Syaih Muhammad bin Shalih Utsaimin.</p>
<p><a href="#_ftnref21">[21]</a> <em>Fathul Qadir</em> 4/528.</p>
<p><a href="#_ftnref22">[22]</a> Ucapan mantap ini mendustakan cerita yang banyak beredar bahwa Ibnu Taimiyah menyerupakan turunnya Allah dengan turunnya beliau dari mimbar, sebagaimana sering didengungkan oleh kaum kuburiyyun dan ahli bid’ah, termasuk KH. Sirajuddin Abbas dalam buku hitamnya <em>I’tiqad Ahli bid’ah </em>hal. 266-267 dan <em>40 Masalah Agama</em> 2/215-217.</p>
<p><a href="#_ftnref23">[23]</a> Contoh mudah,  tuduhan KH. Sirajuddin Abbas terhadap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, katanya dalam buku yang sama hal. 262: “Akan tetapi sangat disayangkan, bahwa beliau terpengaruh dengan faham-faham kaum Musyabbihah dan Mujassimah, yang menyerupakan Tuhan dengan makhluk”.  Pada hal. 263: “Jadi beliau sebenarnya harus dimasukkan dalam Bab kaum Mujassimah atau Musyabbihah, karena ada persamaannya dalam I’tiqad”.</p>
<p><a href="#_ftnref24">[24]</a> <em>At-Tamhid</em> 3/351.</p>
<p><a href="#_ftnref25">[25]</a> Termasuk keajaiban dunia, KH. Sirajuddin Abbas dalam buku hitamnya <em>I’tiqad Ahli bid’ah</em> hal. 271-273 termasuk pembela tahrif makna istawa dengan menguasai, bahkan membantah para ulama yang mengartikannya secara lahirnya yaitu tinggi, tak cukup hanya itu dia juga menggap bahwa mereka sesat lagi menyesatkan!!!.</p>
<p><a href="#_ftnref26">[26]</a> Lihat <em>Majmu’ Fatawa</em> Ibnu Taimiyah 5/415-417, <em>Mukhtashar Shawaiq Mursalah</em> Ibnu Qayyim 2/221-224, <em>Syarh Aqidah Wasithiyah</em> Ibnu Utsaimin 2/434-435).</p>
<p><a href="#_ftnref27">[27]</a> <em>Ta’liq Fathul Bari</em> 3/30.</p>
<p><a href="#_ftnref28">[28]</a> Dlam makalahnya berjudul “Membongkar Kebohongan Terhadap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah” dimuat dalam Majalah <em>As-Sunnah</em> edisi 12/Th V/1422 H/2001 M.</p>
<p><a href="#_ftnref29">[29]</a> Lihat <em>Fathul Bari</em> 13/512).</p>
<p><a href="#_ftnref30">[30]</a> Lihat <em>Syarah Aqidah Ath-Thohawiyah</em> hal. 199).</p>
<p><a href="#_ftnref31">[31]</a> <em>Majmu’ Fatawa wa Maqolat</em> Syaikh Ibnu Utsaimin 1/216.</p>
<p><a href="#_ftnref32">[32]</a> Naqdhu Utsman bin Sa’id ‘ala Al-Mirrisi Al-Jahmi Al-Anid hal. 285).</p>
<p><a href="#_ftnref33">[33]</a> <em>At-Tamhid</em> 3/338. Lihat pula <em>Kitab At-Tauhid</em> hal. 126 oleh Imam Ibnu Khuzaimah, <em>Dar’u Ta’arudzil Aqli wa Naqli</em> 7/7 oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.</p>
<p><a href="#_ftnref34">[34]</a> <em>Syarh Aqidah Ath-Thohawiyah</em> 1/177 oleh Ibnu Abil Izzi Al-Hanafi, tahqiq Syu’aib Al-Arnauth.   Sebab kata “Rabbuhu” dalam ayat di atas mesti dan wajib sebagai subyek, tidak mungkin dirubah sebagai obyek sebagaimana tertera dalam kaidah nahwu. (Lihat <em>Syarh Qathr Nada</em>, Ibnu Hisyam hal. 182-183).</p>
<p><a href="#_ftnref35">[35]</a> HR. Tirmidzi: 3499 dan dihasankan Imam Tirmidzi dan Al-Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi 3/442.<em> </em></p>
<p><a href="#_ftnref36">[36]</a> <em>Ad-Du’a Al-Ma’tsur wa Adabuhu</em> hal. 68</p>
<p><a href="#_ftnref37">[37]</a> <em>Bahjatul Majalis</em> 3/260.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/turunnya-allah-ke-langit-dunia.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>52</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MAUT  DISEMBELIH</title>
		<link>http://abiubaidah.com/maut-disembelih.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/maut-disembelih.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 12:18:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Telaah Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Maut Disembelih]]></category>
		<category><![CDATA[Takhrij Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Telaah Khusus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi A. Pengantar Sunnah Nabawiyyah sebagai penjelas kitab suci Al-Qur’an telah membahas secara gamblang tentang masalah-masalah “ilmu ghaib” yang berada di luar alam kita seperti Malaikat, Jin, Arsy, Kursi dan sebagainya. Sunnah juga membahas secara detail tentang kejadian setelah kematian berupa nikmat dan siksa kubur, kebangkitan hari kiamat, syafa’at, timbangan, shirat, surga, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fabiubaidah.com%2Fmaut-disembelih.html%2F">
										</iframe>
										</div><p style="text-align: center;"><strong>Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi</strong></p>
<p><strong><a href="http://abiubaidah.com/wp-content/uploads/2009/12/tangan.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-617" title="maut disembelih" src="http://abiubaidah.com/wp-content/uploads/2009/12/tangan.jpg" alt="" width="108" height="119" /></a><a href="http://abiubaidah.com/wp-content/uploads/2009/12/tangan1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-618" title="maut disembelih" src="http://abiubaidah.com/wp-content/uploads/2009/12/tangan1.jpg" alt="" width="108" height="119" /></a>A. Pengantar</strong></p>
<p>Sunnah Nabawiyyah sebagai penjelas kitab suci Al-Qur’an telah membahas secara gamblang tentang masalah-masalah “ilmu ghaib” yang berada di luar alam kita seperti Malaikat, Jin, Arsy, Kursi dan sebagainya. Sunnah juga membahas secara detail tentang kejadian setelah kematian berupa nikmat dan siksa kubur, kebangkitan hari kiamat, syafa’at, timbangan, shirat, surga, neraka dan sebagainya. Semua ini telah dibahas tuntas dalam Sunnah Nabawiyyah Shahihah sehingga tiada peluang bagi seseorang untuk ragu-ragu dalam masalah ini.<span id="more-54"></span></p>
<p>Perlu kita ingat bersama bahwa pembicaraan kita adalah mengenai hadits-hadits yang shahih dari Rasulullah saja. Adapun hadits-hadits yang tidak shahih, maka hal itu di luar tema pembicaraan kita dan telah dimaklumi bersama bahwa hal itu tidak bisa dijadikan sandaran dalam agama.</p>
<p>Sebagai seorang muslim sejati, kita harus pasrah menerima hadits-hadits shahih tersebut dan tidak mementahkannya hanya karena tidak diterima oleh logika kita atau dimustahilkan oleh akal pikiran kita. Kita semua tahu bahwa manusia pada zaman sekarang ini telah mampu membuat berbagai kecanggihan teknologi yang seandainya saja diberitakan kepada salah seorang yang hidup dahulu kala, niscaya dia akan memustahilkannya dan mungkin menvonis penceritanya sebagai orang gila. Kalau demikian, lantas bagaimana dengan kemampuan Allah, Dzat Yang tidak ada sesuatupun di langit dan di bumi yang dapat mengalahkannya?!!</p>
<p>Oleh karenanya para ulama menegaskan bahwa agama mungkin saja datang dengan sesuatu yang membuat bingung akal seorang, tetapi tidak mungkin dia datang dengan sesuatu yang dimustahilkan akal. Dari sinilah maka tidak mungkin dalil bertentangan dengan akal selama-lamanya. Apabila ada yang terkesan demikian, maka perlu dikoreksi, kemungkinan dalilnya yang tidak shahih, atau dalil akalnya yang tidak benar<a href="#_ftn1">[1]</a>.</p>
<p>Saudara pembaca yang semoga selalu dirahmati Allah, kajian kita kali ini masuk dalam kategori kaidah di atas, lantaran haditsnya shahih menurut undang-undang ilmu hadits dan merupakan masalah ghaib sehingga harus diterima oleh seorang muslim dengan pasrah tanpa memertentangkannya dengan logikanya. Namun kenapa masih banyak suara sumbang?! Mengapa hadits ini masih sering diobok-obok oleh orang?! Semoga tulisan ini dapat menggugah kita dari kelalaian kita selama ini dan menghilangkan kerancuan yang melekat pada hati kita selama ini. Amiin Ya Rabbal Alamin.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><!--more--></p>
<p><strong>B. TAKHRIJ HADITS</strong></p>
<p><strong> </strong>Ketahuilah wahai saudaraku tercinta -semoga Allah selalu memberkahi anda- bahwa hadits pembahasan kita ini derajatnya adalah <strong>SHAHIH </strong>tanpa sedikitpun keraguan di dalamnya, diriwayatkan oleh para ulama terpercaya dari sahabat Abu Said al-Khudri, Abdullah bin Umar, Abu Hurairah, Anas bin Malik dan sebagainya. Berikut keterangannya:</p>
<ol>
<li><strong>Riwayat      Abu Sa’id al-Khudri</strong></li>
</ol>
<p><strong>عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : يُؤْتَى بِالْمَوْتِ كَهَيْئَةِ كَبْشٍ أَمْلَحٍ فَيُنَادِي بِهِ مُنَادٍ : يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ ! فَيَشْرَئِبُوْنَ وَيَنْظُرُوْنَ, فَيَقًُوْلُ : هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : نَعَمْ, هَذَا الْمَوْتُ, وَكُلُّهُمْ قَدْ رَآهُ, ثُمَّ يُنَادِي مُنَادٍ : يَا أَهْلَ النَّارِ فَيَشْرَئِبُوْنَ وَيَنْظُرُوْنَ, فَيَقُوْلُ : هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : نَعَمْ, هَذَا الْمَوْتُ وَكُلُّهْمْ قَدْ رَآهُ فَيُذْبَحُ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ ثُمَّ يَقُوْلُ : يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ خُلُوْدٌ فَلاَ مَوْتَ, وَيَا أَهْلَ النَّارِ خُلُوْدٌ فَلاَ مَوْتَ, ثُمَّ قَرَأَ</strong><strong> </strong><strong>(وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ إِذْ قُضِيَ الأَمْرُ وَهُمْ فِيْ غَفْلَةٍ وَهُمْ لاَ يُؤْمِنُوْنَ) وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى الدُّنْيَا</strong><strong> </strong></p>
<p><em>Dari Abu Sa’id al-Khudri berkata: Rasulullah bersabda: “Kematian didatangkan pada bentuk kambing berkulit hitam putih, lalu seorang penyeru memanggil: Wahai penduduk surga! Mereka </em></p>
<p><em>menengok dan melihat, penyeru itu berkata: Apakah kalian mengenal ini? Mereka menjawab: Ya, ini adalah kematian, mereka semua telah melihatnya. Kemudian penyeru memanggil: Wahai penduduk neraka! Mereka menengok dan melihat, penyeru itu berkata: Apakah kalian mengenal ini? Mereka menjawab: Ya, ini adalah kematian, mereka semua telah melihatnya, lalu disembelih diantara surga dan neraka, lalu berkata: Wahai penduduk surga, kekekalan tiada kematian setelahnya, dan hai penduduk neraka, kekekalan dan tiada kematian setelahnya, lalu beliau membaca (Dan berilah mereka peringatan tatkala ditetapkan perkara sedangkan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak beriman). Dan beliau mengisyaratkan dengan tangannya ke dunia.</em></p>
<p><strong>SHAHIH. </strong>Diriwayatkan:</p>
<ol>
<li>Bukhari 4730, 6549,</li>
<li>Muslim 2849,</li>
<li>Ahmad 3/9,</li>
<li>Tirmidzi 3156,</li>
<li>Nasai dalam Sunan Kubra 11316,</li>
<li>al-Baghawi dalam <em>Syarh Sunnah</em> 4366 dan <em>Ma’alim Tanzil</em> 1/232,</li>
<li>al-Ajurri dalam <em>asy-Syari’ah</em> 944,</li>
<li>Abu Nuaim dalam <em>Hilyah Auliya’</em> 8/184,</li>
<li>ath-Thabari dalam <em>Jamiul Bayan</em> 16/87,</li>
<li>al-Baihaqi dalam <em>al-Ba’tsu wa Nusyur</em> 640,</li>
<li>Abdu bin Humaid dalam <em>al-Muntakhab </em>912.</li>
</ol>
<ul>
<li><strong>Tirmidzi </strong>berkata: “Hadits ini hasan shahih”</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Al-Baghawi</strong> berkata: “Hadits ini disepakati keshahihannya”.</li>
</ul>
<p><strong>2. Riwayat Abdullah bin Umar</strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong>عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِذَا صَارَ أَهْلُ الْجَنَّةِ إِلَى الْجَنَّةِ وَأَهْلُ النَّارِ إِلَى النَّارِ جِيْءَ بِالْمَوْتِ حَتَّى يُجْعَلَ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ ثُمَّ يُذْبَحُ ثُمَّ يُنَادِي مُنَادٍ : يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ لاَ مَوْتَ وَيَا أَهْلَ النَّارِ لاَ مَوْتَ فَيَزْدَادُ أَهْلُ الْجَنَّةِ فَرَحًا إِلَى فَرَحِهِمْ وَيَزْدَادُ أَهْلُ النَّارِ حُزْنًا إِلَى حُزْنِهِمْ </strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>Dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah bersabda: “Apabila penduduk surga telah memasuki surga dan penduduk neraka memasuki neraka, maka didatangkan kematian lalu diletakkan diantara surga dan neraka kemudian disembelih kemudian diserukan oleh penyeru: Wahai enduduk surga tiada kematian lagi dan wahai penduduk neraka tiada kematian lagi. Penduduk surga semakin bertambah kegembiraan mereka dan penduduk neraka semakin bertambah kesedihan mereka”.</em></p>
</blockquote>
<p><strong>SHAHIH. </strong>Diriwayatkan:</p>
<ol>
<li>Bukhari 6548,</li>
<li>Muslim 2850,</li>
<li>Ahmad 2/118, 120, 121,</li>
<li>ath-Thabrani dalam <em>al-Mu’jam Kabir</em> 13337,</li>
<li>Abu Nuaim dalam <em>Hilyah Auliya’</em> 8/183-184,</li>
<li>al-Baghawi dalam <em>Syarh Sunnah</em> 4367,</li>
<li>Ibnu Adi dalam <em>al-Kamil</em> 5/1680,</li>
<li>al-Baihaqi dalam <em>al-Ba’ts wa Nusyur</em> 642</li>
</ol>
<ul>
<li><strong>Al-Baghaw</strong>i berkata: “Hadits disepakati keshahihannya”.</li>
</ul>
<p><strong>3. Riwayat Abu Hurairah</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : يُؤْتَى بِالْمَوْتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُوْقَفُ عَلىَ الصَّرَاطِ فَيُقَالُ : يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ ! فَيَطَلَّعُوْنَ خَائِفِيْنَ وَجِلِيْنَ أَنْ يَخْرُجُوْا مِنْ مَكاَنِهِمْ الَّذِيْ هُمْ فِيْهِ, ثُمَّ يُقَالُ : يَا أَهْلَ النَّارِ فَيَطَلَّعُوْنَ مُسْتَبْشِرِيْنَ فَرِحِيْنَ أَنْ يَخْرُجٌوْا مِنْ مَكَانِهِمْ الَّذِيْ هُمْ فِيْهِ, فَيُقَالُ : هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا ؟ قَالُوْا : نَعَمْ,  هَذَا الْمَوْتُ, قَالَ : فَيُؤْمَرُ بِهِ فَيُذْبَحُ عَلَى الصِّرَاطِ ثُمَّ يُقَالُ لِلْفَرِيْقَيْنِ كِلاَهُمَا : خُلُوْدٌ فِيْمَا يَجِدُوْنَ لاَ مَوْتَ فِيْهَا أَبَدًا</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah bersabda: Kematian didatangkan pada hari kiamat lalu diletakkan di atas shirat (jembatan) lalu diserukan: Wahai penduduk surga! Mereka mengintip ketakutan untuk keluar dari tempat mereka. Kemudian dikatakan: Wahai penduduk neraka! Mereka mengintip penuh gembira dengan harapan keluar dari tempat mereka, lalu dikatakan: Apakah kalian mengenal ini? Mereka menjawab: Ya, ini adalah kematian, kemudian diperintahkan untuk disembelih di atas shirat dan dikatakan kepada kedua golongan tersebut: Kekekalan apa yang kalian dapati, tiada kematian di dalamnya selama-lamnya.</em></p>
<p><strong>HASAN SHAHIH. </strong>Diriwayatkan:</p>
<ol>
<li>Ahmad 2/261,</li>
<li>Ibnu Majah 4327,</li>
<li>Ibnu Hibban dalam Shahihnya 7450,</li>
<li>al-Hakim dalam <em>al-Mustadrak</em> 1/83,</li>
<li>ad-Darimi 2814,</li>
<li>al-Ajurri dalam <em>Asy-Syari’ah</em> 941,</li>
<li>Abu Ishaq bin Harb dalam <em>Musnad Abu Hurairah</em> 6,</li>
<li>Abdu bin Humaid dan Ibnu Mardawaih sebagaimana dalam <em>ad-Durr Mantsur</em> 1/102 oleh as-Suyuthi.</li>
</ol>
<ul>
<li><strong>Al-Hakim</strong> berkata: “Hadits ini shahih, sesuai syarat Muslim”.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Al-Mundziri</strong> dalam <em>at-Targhib wa Tarhib</em> 3/1394: “Riwayat Ibnu Majah dengan sanad jayyid (bagus)”.</li>
</ul>
<ul>
<li>Syaikh al-Albani berkata dalam <em>Shahih Ibnu Majah</em>: “Hasan Shahih”.</li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>4. Riwayat Anas bin Malik</strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong>عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم : يُؤْتَى بِالْمَوْتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُ كَبْشٌ أَمْلَحٌ فَيُوْقَفُ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ ثُمَّ يُنَادِي مُنَادٍ : يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ ! فَيَقُوْلُوْنَ : لَبَّيْكَ رَبَّنَا, قَالَ : فَيُقَالُ : هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : نَعَمْ رَبَّنَا, هَذَا الْمَوْتُ, ثُمَّ يُنَادِي مُنَادٍ : يَا أَهْلَ النَّارِ ! فَيَقُوْلُوْنَ : لَبَّيْكَ رَبَّنَا,  قَالَ : فَيُقَالُ لَهُمْ : هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : نَعَمْ رَبَّنَا,  هَذَا الْمَوْتُ, فَيُذْبَحُ كَمَا تُذْبَحُ الشَّاةُ فَيَأْمَنُ هَؤُلاَءِ وَيَنْقَطِعُ رَجَاءُ هَؤُلاَءِ</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>Dari Anas bin Malik berkata: Rasulullah bersabda: Kematian didatangkan pada hari kiamat seakan kambing berkulit hitam putih lalu diletakkan diantara surga dan neraka dan diserukan oleh penyeru: Wahai penduduk surga! Mereka mengatakan: Kami penuhi panggilanmu wahai Rabb kami, lalu dikatakan: Apakah kalian mengenal ini? Mereka menjawab: Ya, wahai Rabb kami, ini adalah kematian. Kemudian diserukan oleh penyeru: Wahai penduduk neraka! Mereka mengatakan: Kami penuhi panggilanmu wahai Rabb kami, lalu dikatakan: Apakah kalian mengenal ini? Mereka menjawab: Ya, wahai Rabb kami, ini adalah kematian, kemudian disembelih sebagaimana kambing disembelih, maka mereka (penduduk surga) merasa aman dan mereka (penduduk neraka) putus harapan mereka.</em></p>
</blockquote>
<p><strong>SHAHIH. </strong>Riwayat:</p>
<ol>
<li>Abu Ya’la dalam Musnadnya<strong> </strong>5/278<strong>,</strong></li>
<li>ath-Thabrani dalam <em>al-Mu’jam al-Ausath</em> 3672,</li>
<li>al-Bazzar 3557 -Kasyful Astar-</li>
</ol>
<ul>
<li><strong>Al-Haitsam</strong>i berkata: “Para perawinya perawi shahih kecuali Khalid ath-Thahi dan dia tsiqah (terpercaya)”.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Al-Mundziri</strong> berkata dalam <em>at-Targhib wa Tarhib</em> 3/1394: “Riwayat Abu Ya’la, Thabrani, al-Bazzar dan sanad mereka shahih”. Dan disetujui al-Albani dalam <em>Shahih Targhibnya</em>.</li>
</ul>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong>Walhasil, sebagaimana yang anda lihat sendiri wahai saudaraku, hadits ini derajatnya shahih, diriwayatkan oleh para ulama hadits terpercaya dalam kitab-kitab mereka. Maka janganlah anda mudah terpedaya dengan hembusan syubhat yang menantang di hadapan anda, bahkan gulingkanlah dia dengan kekuatan ilmu yang anda miliki. Jadilah dan banggalah dirimu sebagai pembela Rasulullah dan janganlah merasa takut, sesungguhnya pasukan Allah pasti akan menang!!</p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;">.</p>
<p><strong>C. MENYINGKAP TIRAI SYUBHAT</strong></p>
<p>Setelah membawakan dua hadits di atas dari riwayat Ibnu Umar dan Abu Sa’id al-Khudri, penulis <em>Kaifa Nata’amal Ma’a Sunnah Nabawiyyah</em> hal. 160-161 membuat suatu pertanyaan meragukan: “Tahukah anda bagaimana cara memahami hadits ini? Bagaimana kematian disembelih? Ataukah kematian mengalami mati?</p>
<p>Al-Qadhi Abu Bakar bin al-Arabi berkata: “Hadits ini dianggap rumit karena bertentangan dengan logika karena kematian adalah sifat dan sifat tidak berubah menjadi dzat, lantas bagaimana kok disembelih? Oleh karenanya sebagian kelompok mementahkan keabsahan hadits ini dan menolaknya. Kelompok lainnya mentakwil (menafsirkan tidak sesuai dhahirnya) seraya mengatakan: “Ini adalah majaz (kata kiasan) bukan hakekat sebenarnya”. Lainnya lagi menimpali: “Yang benar adalah disembelih seperti hakekatnya, tetapi yang disembelih adalah malaikat pencabut nyawa, semua orang mengenalnya karena dialah yang mencabut nyawa mereka”. Al-Hafizh mengatakan: “Pendapat ini disetujui oleh kalangan mutaakhirin (belakangan)”.</p>
<p>Semua penafsiran ini adalah untuk lolos dari menfafsirkan hadits secara hakekatnya yang bertentangan dengan logika sebagaimana kata Ibnul Arabi.</p>
<p>Cara ini lebih utama daripada menolak hadits, karena hadits ini telah shahih dari jalur-jalur terpercaya dari banyak sahabat. Sungguh merupakan tindakan serampangan kalau hadits ini ditolak padahal bisa kita tafsirkan seperti di atas…”.</p>
<p>Jawaban:</p>
<p>Sebelumnya terlebih dahulu kita berterima kasih kepada penulis di atas, karena beliau sedikit meringankan beban kita, lantaran beliau sepakat dengan kita tentang keabsahan hadits ini, bahkan beliau menegaskan bahwa merupakan tindakan <em>ngawur </em>kalau kita menolak keshahihan hadits ini. Sekali lagi kami berterima kasih atas pengakuan ini, namun masih tersisa masalah lain yang masih mengundang tanda tanya yang gatal di pikiran kita semua, yaitu apakah hadits ini secara hakekatnya ataukan dia hanya sekedar majaz seperti yang dikuatkan oleh penulis di atas<a href="#_ftn2">[2]</a>?!! Inilah yang akan kita singkap dalam point-point berikut ini:</p>
<p>.</p>
<p><strong>Pertama:</strong> <strong>Masalah Keimanan</strong></p>
<p>Kaidah yang harus kita tanamkan bersama dalam masalah ini dan juga masalah-masalah keyakinan terhadap masalah ghaib lainnya adalah iman terhadap khabar yang datang dari Allah, sebagaimana firmanNya:</p>
<p style="text-align: center;"><strong>هُدََى لِلْمُتَّقِيْنَ . الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>Petunjuk bagi orang-orang bertaqwa. Yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib.</em> (QS. Al-Baqarah: 3)<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Oleh karena para ulama dan imam seperti Sufyan ats-Tsauri, Malik bin Anas, Ibnul Mubarak, Ibnu Uyainah, Waki’ dan sebagainya mereka meriwayatkan hadits ini kemudian mengatakan: “Hadits ini diriwayatkan dan diimani tanpa ditanyakan: Bagaimana? Inilah yang dipilih oleh ahli hadits, yaitu meriwayatkan hadits ini dan diimani sebagaimana datangnya tanpa dikhayalkan atau ditanyakan: Bagaimana?<a href="#_ftn4">[4]</a>.</p>
<p>Dari sini anda tahu rahasia kenapa para ulama mencantumkan masalah ini dalam kitab-kitab aqidah, semisal Abdul Ghani al-Maqdisi dalam <em>Al-Iqtishad fil I’tiqad</em> hal. 194, Ibnu Qudamah dalam <em>Lum’ah I’tiqad</em> hal.133 -Syarh Ibnu Utsaimin- , Shiddiq Hasan Khan dalam <em>Qathfu Tsamar</em> hal. 125, bahkan dalam kitabnya <em>Juz’ fiihi Imtihan Sunni Minal Bid’i</em> hal. 343, Abdul Wahid asy-Syirazi menjadikan masalah ini sebagai pembeda antara ahli Sunnah dengan ahli bid’ah, beliau mengatakan: “Kalau ada yang ditanya apakah maut akan didatangkan dan disembelih ataukah tidak? Apabila dia menjawab: Disembelih antara surga dan neraka, maka dia ahlus Sunnah. Namun apabila dia mengingkarinya maka dia ahli bid’ah”.</p>
<p>Jadi, masalah ini adalah masalah keyakinan dan keimanan yang di luar kapasitas akal seorang<a href="#_ftn5">[5]</a>, yang harus diterima oleh seorang muslim dengan penuh kepasrahan. Kita berdoa kepada Allah agar menjadikan kita termasuk hamba-hambaNya yang beriman.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Kedua: Hakekat Atau Majaz?!</strong></p>
<p>Ada kaidah penting dan populer di kalangan ulama yang harus kita fahami juga dalam masalah ini, yaitu sebuah kaidah yang berbunyi:</p>
<p style="text-align: center;"><strong>الأَصْلُ فِي الْكَلاَمِ الْحَقِيْقَةُ فَلاَ يُعْدَلُ بِهِ إِلَى الْمَجَازِ -إِنْ قُلْنَا بِهِ- إِلاَّ إِذَا تَعَذَّرَتِ الْحَقِيْقَةُ</strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>Kaidah asal suatu ungkapan adalah hakekatnya, tidak boleh dibawa kepada majaz (kiasan) –kalau kita berpendapat ada majaz- kecuali apabila tidak mungkin diartikan secara hakekatnya<a href="#_ftn6"><strong>[6]</strong></a>.</em></p>
<p>Sebagai contoh sederhana: Lafadz (الأَسَدُ), pada asalnya dia bermakna singa, salah satu hewan buas. Apabila kita mendapati kata tersebut, maka pada asalnya adalah bermakna binatang singa, kecuali kalau ada indikasi yang menghalangi kita untuk mengartikan secara hakekatnya, seperti dalam kalimat berikut:</p>
<p style="text-align: center;"><strong>رَأَيْتُ الأَسَدَ يَخْطُبُ الْجُمُعَةَ عَلَى الْمِنْبَرِ</strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>Saya melihat singa khutbah jumat di atas minbar.</em></p>
<p>Dalam kalimat ini, tidak mungkin “singa” bermakna hewan, tetapi maksudnya adalah seorang pemberani, karena ada indikasi kuat yang mengahalangi kita untuk mengartikan secara hakekatnya.</p>
<p>Bentuk penerapan kaidah ini ke dalam hadits pembahasan adalah kata “maut” tetap kita artikan secara zhahirnya yaitu kematian, sampai ada indikasi kuat yang memalingkan dari makna aslinya. Wallahu A’lam.</p>
<p><strong>Ketiga: Jangan Ragukan Kemampuan Allah!!</strong></p>
<p>Hal ini juga harus kita yakini bersama bahwa Allah Maha mampu, tidak ada sesutupun yang tidak mampu Dia lakukan. Oleh karenanya, janganlah kita ukur kemampuan Allah dengan kemampuan makhluk, sebagaimana jangan kita ukur masalah akherat dengan masalah dunia, karena hal itu di luar kapasitas akal kita. Berikut beberapa dalil yang semoga bisa dijadikan sebagai gambaran bahwa perubahan dari sifat kepeda benda bukanlah suatu yang mustahil bagi Allah. Allah telah mengkhabarkan bahwa Dia akan menimbang amal perbuatan hambaNya:</p>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong><strong>ونضع الموازين القسط ليوم القيامة فلا تظلم نفس شيئا وإن كان مثقال حبة من خردل أتينا بها وكفى بنا حاسبين </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan) itu hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya dan cukup Kami sebagai pembuat perhitungan</em>. (QS. Al-Anbiya’: 47)</p>
<p>Hal ini harus kita yakini bersama, sekalipun secara akal kita yang terbatas bahwa amal perbuatan bukanlah benda yang bisa ditimbang.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>اقْرَؤُوْا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَسُوْرَةَ آلِ عِمْرَانَ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>Bacalah dua bunga, surat Al-Baqarah dan surat Ali Imron, karena keduanya akan datang pada hari kiamat seperti naungan.<a href="#_ftn7"><strong>[7]</strong></a></em></p>
<p>Dan dalam hadits tentang adzab dan nikmat kubur, diantaranya Nabi mengkhabarkan:</p>
<p style="text-align: center;"><strong>وَيَأْتِيْهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ حَسَنُ الثِّيَابِ طَيِّبُ الرِّيْحِ فَيَقُوْلُ : أَبْشِرْ بِالَّذِيْ يَسُرُّكَ, هَذَا يَوْمُكَ الَّذِيْ كُنْتَ تُوْعَدُ, فَيَقُوْلُ لَهُ : مَنْ أَنْتَ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِئُ بِالْخَيْرِ؟ فَيَقُوْلُ : أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;"><em> </em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Lalu datang padanya seorang berwajah tampan, berbaju bagus, dan aromanya wangi seraya mengatakan: Bergembiralah dengan hari yang menyenangkanmu, haru yang engkau dijanjikan untuknya, si mayit mengatakan: Siapakah dirimu, wajahmu seperti wajah orang yang datang dengan kebaikan, dia menjawab: Saya adalah amalmu yang shalih</em>. <a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Dan masih banyak lagi dalil-dalil lainnya yang serupa. Nah, kalau demikian apakah mustahil kalau Allah akan merubah kematian dalam bentuk kambing kemudian disembelih antara surga dan neraka?!! Apakah hal itu sulit bagi Allah wahai hamba Allah?!! Tidak, demi Allah, kecuali bagi orang-orang yang lemah imannya. <a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>.</p>
<p><strong>Keempat: Komentar Ulama</strong></p>
<p>Sebagaimana biasanya dalam tulisan-tulisan lainnya, metode dalam tulisan kami hanyalah menyusun dan menukil warisan peninggalan para ulama kita dalam kitab-kitab mereka, kami tidak mengada-ngada atau membuat sesuatu yang baru dalam agama. Demikian halnya masalah ini, kami dibimbing oleh para ulama kita dalam memahami hadits ini. Berikut sedikit nukilan komentar mereka:</p>
<p>1. <strong>Al-Hafizh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah</strong> berkata: “Kambing dan sembelihan dan persaksian penduduk Surga dan Neraka adalah pada hakekatnya, bukan khayalan atau sekadar kata kiasan, sebagaimana sebagian manusia terjatuh dalam kesalahan yang amat fatal sekali dalam masalah ini seraya mengatakan: “mati adalah sifat dan sifat tidak bisa menjadi benda apalagi disembelih”. Semua ini adalah tidak benar, karena Allah menjadikan amalan bisa membentuk, merubah sifat menjadi benda, atau merubah benda menjadi sifat. Semua ini adalah hal yang mungkin bagi Allah, bukan sesuatu yang mustahil. Tidak perlu kita bersusah payah mengatakan: “Yang disembelih adalah malaikat maut, karena semua ini adalah ralat yang rusak kepada Allah dan rasulNya, serta penafsiran bathil yang tidak diterima oleh akal maupun dalil. Faktor penyebabnya adalah dangkalnya pemamahan terhadap maksud ucapan Nabi…”. <a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Beliau juga memiliki ucapan yang bagus dalam kitabnya <em>Al-Kafiyah asy-Syafiyah fil Inthishar lil Firqah Najiyah<a href="#_ftn11"><strong>[11]</strong></a></em> 329-331 dengan judul “Pasal tentang disembelihnya kematian antara surga dan neraka, serta bantahan terhada orang yang mengartikan hal itu adalah Malaikat maut, atau itu hanyalah majaz bukan hakekatnya”.</p>
<p>2. <strong>Al-Allamah as-Saffarini</strong> berkata: “Al-Hakim at-Tirmidzi menukil bahwa madzhab salaf tentang hadits ini adalah tidak memperbincangkan maknanya, kita beriman dengannya dan kita serahkan ilmunya kepada Allah”. Setelah menukilkan penafsiran-penafsiran tentang hadits ini, beliau berkomentar: “Pendapat yang kami anut bahwa kematian adalah sesuatu yang ada dan merupakan dzat bukan sifat, serta makhluk dalam bentuk kambing sebagaimana telah shahih hadits-hadits tentangnya dari Nabi yang mulia dan dinukil oleh para imam serta dihimpun oleh para penulis pilihan”. <a href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p>3. <strong>Syaikh Muhammad Khalil Harras</strong> mengatakan: “Hal ini tidak mustahil dalam kemampuan Allah, bisa saja suatu sifat dirubah menjadi benda, demikian juga sebaliknya. Semua itu mungkin dan bisa terjadi. Telah banyak dalil yang menunjukkan tentang berubahnya suatu sifat menjadi dzat”.</p>
<p>Lanjutnya: “Kalau telah tetap bahwa beberapa amalan, bacaan dan selainnya dirubah oleh Allah menjadi suatu benda yang ditimbang, datang dan berbicara, maka tidak ada penghalang selama-lamanya kalau Allah merubah kematian menjadi bentuk kambing yang dilihat oleh penduduk surga agar bertambah gembira dan penduduk neraka agar bertambah sengsara. Kematian merupakan makhluk dengan ketegasan Al-Qur’an. Allah berfirman:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong>الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>Dialah Allah Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya</em>. (QS. Al-Mulk: 2)</p>
</blockquote>
<p>Dan tidak ragu lagi bahwa makhluk bisa saja dirubah oleh Allah kepada bentuk lain, dari sifat kepada dzat dan dari dzat kepada sifat. Semua ini adalah mungkin dalam kemampuan Allah. Hanya saja orang-orang jahil itu tidak menghormati Allah sepenuhnya sehingga mereka menganggap bahwa perubahan tersebut adalah mustahil, lalu mereka perlu untuk mendatangkan penafsiran-penafsiran bathil. Diantara mereka ada yang mendustakannya dan diantara mereka ada yang sibuk memalingkan artinya, dan sebagian lagi kebingungan tidak mengerti harus ngomong apa karena virus orang-orang jahil telah memenuhi telinganya sehingga dia buta dari memahami Al-Qur’an yang mulia..”. <a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p><strong>4.</strong><strong> Al-Allamah Ahmad Syakir</strong> setelah menukil ucapan Ibnul Arabi di atas, beliau berkomentar: “Semua ini adalah bertele-tele dan bersusah payah terhadap masalah ghaib yang disembunyikan ilmunya oleh Allah. Kewajiban kita hanyalah beriman dengan berita yang datang sebagaimana adanya, kita tidak mengingkari atau menyelewengkan artinya. Hadits ini shahih, maknanya juga shahih dari riwayat Abu Sa’id al-Khudri dalam Bukhari, dan riwayat Abu Hurairah dalam Ibnu Majah dan Ibnu Hibban. Alam ghaib yang berada di luar alam kita tidak bisa digambarkan oleh akal kita dengan apa yang kita saksikan di muka bumi ini…benda dan sifat hanyalah sebuah istilah untuk mempermudah pemahaman. Sebaiknya bagi seorang adalah beriman dan beramal shalih kemudian menyerahkan masalah ghaib kepada Dzat Yang mengetahui alam ghaib, dengan demikian niscaya dia akan selamat di hari kiamat.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّيْ لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّيْ وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>Katakanlah: “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu”.</em> (QS. Al-Kahfi: 109). <a href="#_ftn14">[14]</a></p>
<p style="text-align: left;">.</p>
<p><strong>D. FIQIH HADITS</strong></p>
<p>Hadits yang mulia ini dijadikan dalil oleh para ulama tentang masalah keabadian surga dan neraka dan bahwa keduanya tidak akan fana. Hal ini disamping telah ditunjukkan oleh hadits di atas, juga telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan merupakan ijma’ ulama kaum muslimin.</p>
<p><strong>Dalil Al-Qur’an: </strong></p>
<p>Sangat banyak sekali dali-dalil Al-Qur’an yang menunjukkan hal ini, diantaranya:</p>
<p>(QS. An-Nisa’: 57)</p>
<p>(QS. An-Nisa’: 168-169)</p>
<p><strong>Dalil Ijma’: </strong></p>
<p>Masalah ini juga merupakan kesepakatan ulama sunnah sebagaimana dinukil oleh banyak ulama, diantaranya, Al-Qurthubi beliau berkata: “Hadits-hadits shahih ini merupakan dalil yang tegas tentang kekalnya penduduk neraka selama-lamanya tanpa kematian, kehidupan, ketenangan dan keselamatan…Barangsiapa mengatakan bahwa mereka akan keluar darinya dan bahwa neraka akan kosong serta fana maka dia telah keluar dari rel akal dan menyelisihi ajaran yang dibawa oleh Nabi serta kesepakatan ahli sunnah.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُوْلَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيْرًا </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya. Dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang beriman, Kami biarkan dia leluasa terhadap kesesatan dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali</em>. (QS. An-Nisa’: 115)</p>
<p>Hanya saja bagian atas Jahannam akan kosong yaitu tempat orang-orang bermaksiat dari kalangan ahli tauhid”. <a href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p><strong>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah</strong>: “Para salaf umat ini, para imam dan seluruh ahli Sunnah wal Jama’ah telah bersepakat bahwa sebagian makhluk ada yang tidak fana selama-lamanya seperti surga, neraka, arsy dan sebagainya. Tidak ada yang mengatakan bahwa seluruh makhluk itu fana kecuali kelompok ahli kalam, ahli bid’ah seperti Jahm bin Shafwan dan sealiran dengannya dari kalangan Mu’tazilah. Pendapat ini bathil dan menyelisihi kitabullah, sunnah Rasulullah dan kesepakatan salaf”<a href="#_ftn16">[16]</a>. <a href="#_ftn17">[17]</a></p>
<p>Sebagai penutup, kita nukilkan bait <strong>al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi</strong><a href="#_ftn18">[18]</a> sebagai berikut:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong>ثَمَانِيَةٌ حُكْمُ الْبَقَاءِ يَعُمُّهَا</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong> مِنَ الْخَلْقِ وَالْبَاقُوْنَ فِيْ حَيِّزِ الْعَدَمْ</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>هِيَ الْعَرْشُ وَالْكُرْسِيُّ وَنَارٌ وَجَنَّةٌ </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>وَعَجْبٌ وَأَرْوَاحٌ كَذَا اللَّوْحُ وَالْقَلَمْ</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>Delapan perkara yang telah ditetapkan kekekalannya</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Dari Makhuk, dan selainnya akan hancur binasa</em><em> </em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Yaitu Arsy, Kursi, Neraka, Surga</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Ajb (tulang belakang), Ruh, Lauh Mahfudh, dan Pena.</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p></blockquote>
<p>www.abiubaidah.com</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Lihat   <em>Kaifa Nata’amal Ma’a   Sunnah</em> <em>Nabawiyyah</em> Dr. Yusuf al-Qardhawi hal. 173</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi dalam <em>al-Aqlaniyyun</em> hal. 71-73 mengkritik motede yang ditempuh oleh penulis <em>Kaifa Nata’amal Ma’a Sunnah Nabawiyyah</em> ini dan menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan metode terselubung dalam menggugat hadits Nabi.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Muqaddimah al-Albani dalam <em>Raf’ul Astar li Ibthal Qailina bi Fanai Nar</em>, ash-Shan’ani hal. 45</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Lihat <em>Sunan Tirmidzi</em> no. 2557</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Dalam <em>al-Fatawa al-Haditsiyyah</em> hal. 234, Ibnu Hajar al-Haitami menyatakan bahwa orang yang mengingkari hadits ini hanyalah mereka yang berakal dangkal!!.</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Kaidah asal suatu ungkapan adalah secara hakekatnya. Hal ini telah disepakati oleh seluruh manusia dari berbagai bahasa, karena tujuan bahasa tidak sempurna kecuali dengan hal itu”. (<em>Tanbih Rajulil Aqil</em> 2/487). Ibnu Badran juga berkata: “Kapan saja ada lafadz, maka harus dibawa kepada hakekat dalam babnya, baik bahasa, syara’ maupun ‘urf (kebiasaan)”. (<em>a-Madkhal</em> hal. 174)</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> HR. Muslim: 804</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Shahih. HR. Ahmad 4/287, Abu Dawud 2/281, al-Hakim 1/37 dll, dishahihkan Abu Nuaim, al-Hakim, adz-Dzahabi, al-Baihaqi, Ibnu Qayyim, al-Albani dalam <em>Ahkamul Janaiz</em> hal. 202.</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Lihat <em>Hadii Arwah Ila Biladi Afrah</em> Ibnu Qayyim hal. 486-487, <em>Syarh Aqidah Thahawiyah</em> Ibnu Abil Azzi al-Hanafi 1/93, <em>Syarh Qashidah Nuniyah</em> Khalil Harras 2/431-4333.</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> <em>Hadii Arwah Ila Biladi Afrah</em> hal. 486.</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Yang populer dengan Nuniyah Ibnu Qayyim. Lihat pula syarh kitab ini seperti <em>Taudhih Maqashid wa Tashih Qawaid</em> Ibnu Isa 2/591, <em>Syarh Qashidah Nuniyah</em> Khalil Harras 2/430-433, <em>Syarh Qashidah Nuniyah</em> Ibnu Utsaimin (kaset no. 58/B), <em>at-Ta’liq Mukhtashar</em> Shalih al-Fauzan 3/1276-1281.</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> <em>Lawamiul Anwar</em> 2/236.</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> <em>Syarh Qashidah Nuniyah</em> 2/431-433</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> <em>Musnad Imam Ahmad</em> 8/240-241/no. 5993</p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> <em>at-Tadzkirah li Ahwal Akhirah</em> 2/511-512)</p>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> Ucapan bagus ini menepis issu yang beredar bahwa Ibnu Taimiyyah berpendapat kalau Neraka itu fana.  Telah nyata dengan bukti-bukti ilmiyah bahwa beliau berlepas diri dari issu tersebut, demikian pula murid beliau Ibnu Qayyim al-Jauziyyah sebagaimana dijelaskan secara bagus oleh para peneliti masalah ini, diantaranya Dr. Ali al-Harbi al-Yamani dalam risalahnya <em>“Kasyfu Astar li Ibthal Iddi’a Fana Nar al-Mansub li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyyah wa Tilmidzhi Ibnu Qayyim”. </em>(Lihat pula <em>Ibnu Qayyim al-Jauziyyah </em>Bakr Abu Zaid hal. 108, <em>al-Minhah  Ilahiyah</em> Abdul Akhir hal. 276-277, Ta’liq <em>asy-Syari’ah</em> 3/1371-1375 oleh Dr. Abdullah bin Umar, <em>Daf’u Syubah al-Ghawiyyah</em> Murad Syukri hal. 111-113, <em>Da’awil Munawiin li Syaikhul Islam</em> <em>Ibnu Taimiyyah</em> Dr Abdullah bin Shalih al-Ghushn hal. 610-624)</p>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> <em>Majmu Fatawa</em> 18/307.</p>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> Demikianlah yang benar sebagaimana disandarkan oleh Syaikh Ibnu Isa dalam <em>Taudhih Maqashid</em> 1/96 dan Syaikh Abdul Karim Barjas dalam <em>Ash-Shafahat an-Nadhirah</em> hal. 225 . Adapun apa yang dikatakan Syaikh al-Albani dalam Muqaddimah <em>Raf’ul Astar</em> hal. 18 dan muqadddimah <em>Al-Ayaat al-Bayyinat</em> hal. 91 bahwa ini adalah ucapan Ibnu Qayyim dalam <em>Nuniyahnya</em>, maka kami tidak mengerti hal ini, sebab sangat jelas sekali bahwa <em>qafiyah</em> bait ini bukan <em>qafiyah</em> nun. Wallahu A’lam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/maut-disembelih.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DAJJAL: IMAJINASI ATAU FAKTA?</title>
		<link>http://abiubaidah.com/dajjal-imajinasi-atau-fakta.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/dajjal-imajinasi-atau-fakta.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 14:17:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Telaah Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Akhir Zaman]]></category>
		<category><![CDATA[Dajjal]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tanda-Tanda Kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[Telaah Khusus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[FITNAH DAJJAL IMAJINASI ATAU FAKTA? disusun oleh Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi I. Pengantar Sejenak, marilah kita alihkan perhatian kita untuk menyorot ke arah aqidah mayoritas para ilmuwan, aktivis dakwah dan tokoh Islam saat ini, dimana mereka sudah sampai pada taraf yang sangat memprihatinkan. Contoh mudah saja, keraguan mereka terhadap keluarnya Dajjal di akhir zaman, bahkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fabiubaidah.com%2Fdajjal-imajinasi-atau-fakta.html%2F">
										</iframe>
										</div><p align="center"><strong>FITNAH DAJJAL</strong></p>
<p align="center"><strong>IMAJINASI ATAU FAKTA?</strong></p>
<p align="center"><strong><img class="aligncenter size-full wp-image-267" title="نار" src="http://abiubaidah.files.wordpress.com/2009/10/d986d8a7d8b12.jpg" alt="نار" width="146" height="97" /><br />
</strong></p>
<p align="center">disusun oleh</p>
<p align="center"><strong><a href="http://abiubaidah.com">Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi</a><br />
</strong></p>
<p style="text-align:left;"><strong>I. Pengantar</strong></p>
<p>Sejenak, marilah kita alihkan perhatian kita untuk menyorot ke arah aqidah mayoritas para ilmuwan, aktivis dakwah dan tokoh Islam saat ini, dimana mereka sudah sampai pada taraf yang<strong> sangat memprihatinkan</strong>. Contoh mudah saja, <strong>keraguan mereka terhadap keluarnya Dajjal</strong> di akhir zaman, bahkan pengingkaran secara terus terang. Bagi kami, hal itu tak aneh, lantaran sejak beberapa abad lampau Umar bin Khaththab pernah menginformasikan:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:center;">أَلاَ وَإِنَّهُ سَيَكُوْنُ مِنْ بَعْدِكُمْ قَوْمٌ يُكَذِّبُوْنَ بِالرَّجْمِ وَالدَّجَّالِ وَبِالشَّفَاعَةِ وَبِعَذَابِ الْقَبْرِ وَبِقَوْمٍ يُخْرَجُوْنَ مِنَ النَّارِ بَعْدَمَا امْتَحَشُوْا</p>
<p style="text-align:center;"><em>Ketahuilah bahwa akan ada suatu <strong>kaum setelah kalian</strong> yang <strong>mendustakan</strong> hukum rajam, <strong>Dajjal</strong>, syafa’at, siksa kubur dan dikeluarkannya suatu kaum dari neraka setelah hitam kelam.<a href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a></em></p>
</blockquote>
<p><em><strong><br />
</strong></em></p>
<p>Ironisnya,  mereka menyuntikkan racun dan penyakit tersebut kepada orang-orang yang tidak memiliki akar agama Islam yang kuat dari kalangan para pemuda dan masyarakat awam, baik melalui tulisan maupun lisan, dengan bumbu berbagai syubhat kropos yang sekilas nampaknya ilmiah, proporsional dan rasional.</p>
<p>Melihat fenomena di atas, hamba yang lemah ini mendorong hatinya dan mengangkat pena-nya untuk menyoal masalah ini dan menyingkap tirai syubhat yang menyelubunginya sekalipun dalam kajian yang relatif singkat. Semoga Allah meneguhkan kita semua di atas jalan-Nya dan melindungi kita dari berbagai fitnah yang melanda di sekitar kita.</p>
<p>.</p>
<p><strong>II. URGENSI TOPIK TENTANG DAJJAL</strong></p>
<p>Sebuah realita nyata yang amat disayangkan dan perlu diluruskan bahwa sedikit sekali diantara para khatib dan penceramah pada zaman sekarang yang membahas dan memperbincangkan masalah <strong>Dajjal</strong> -apalagi masyarakat awam-. Hal ini merupakan bukti kebenaran hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em>:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:center;">لاَ يَخْرُجُ الدَّجَّالُ حَتَّى يَذْهَلَ النَّاسُ عَنْ ذِكْرِهِ وَحَتَّى تَتْرُكَ الأَئِمَّةُ ذِكْرَهُ عَلَى الْمَنَابِرِ</p>
<p style="text-align:center;"><em><strong>Dajjal tidak akan keluar</strong> sehingga <strong>manusia lupa mengingatnya</strong> dan para <strong>imam tidak menyampaikan</strong> tentangnya <strong>di atas mimbar</strong>. <a href="#_ftn2"><strong>[2]<span id="more-50"></span></strong></a></em></p>
</blockquote>
<p>Begitu pentingnya bahasan Dajjal dan begitu dahsat fitnahnya, sehingga bukan hanya disebutkan oleh Nabi Muhammad saja, tetapi setiap para Nabi semenjak dahulu juga telah memperingatkan kaum mereka dari Dajjal.</p>
<p style="text-align:left;"><strong> </strong></p>
<blockquote><p><em>Dari Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu</em><em> berkata: Rasulullah </em><em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em><em> bersabda: “Tidak ada seorang nabipun kecuali telah memperingatkan kaumnya dari Dajjal yang buta. Ketahuilah bahwa Dajjal itu buta sedangkan Rabb kalian tidaklah buta dan Dajjal tertulis antara kedua matanya “Kafir”. <a href="#_ftn3"><strong>[3]</strong></a></em></p></blockquote>
<p>Demikian juga para ulama sepanjang masa, sehingga <strong>Abdur Rahman al-Muharibi</strong> pernah berkata setelah meriwayatkan suatu hadits berkaitan tentang Dajjal:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:center;">يَنْبَغِيْ أَنْ يُدْفَعَ هَذَا الْحَدِيْثُ إِلَى الْمُؤَدِّبِ حَتَّى يُعَلِّمَهُ الصِّبْيَانَ فِيْ الْكُتَّابِ</p>
<p style="text-align:center;"><em>Hendaknya hadits ini diserahkan kepada seorang pendidik agar dia <strong>mengajarkannya</strong> kepada anak-anak <strong>dalam dunia kurikulum</strong>.</em> <a href="#_ftn4">[4]</a></p>
</blockquote>
<p><strong>As-Saffarini</strong> berkata:</p>
<blockquote><p>“Hendaknya bagi setiap alim untuk <strong>menebarkan hadits-hadits</strong> tentang <strong>Dajjal</strong> terhadap anak, istri dan kaum lelaki&#8230;” hingga beliau berkata: “<strong>Lebih-lebih pada zaman kita sekarang</strong>, dimana fitnah dan ujian <strong>begitu banyak</strong> nan <strong>bertubi-tubi</strong>, ilmu-ilmu sunnah begitu luntur, perkara sunnah dianggap sebagai bid&#8217;ah dan perkara bid’ah dianggap sebagai syari&#8217;at yang diikuti. <em>Laa Haula wa Laa Quwwata Illa Billahi Aliyyil Azhim</em>”. <a href="#_ftn5">[5]</a></p></blockquote>
<p>.</p>
<h3>III. TEKS HADITS</h3>
<blockquote>
<p style="text-align:center;">عَنِ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: غَيْرُ الدَّجَّالِ أَخْوَفُنِيْ عَلَيْكُمْ, إِنْ يَخْرُجْ وَأَنَا فِيْكُمْ فَأَنَا حَجِيْجُهُ دُوْنَكُمْ, وَإِنْ يَخْرُجْ وَلَسْتُ فِيْكُمْ فَامْرُؤٌ حَجِيْجُ نَفْسِهِ, وَاللهُ خَلِيْفَتِيْ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ, إِنَّهُ شَابٌّ قَطَطٌ عَيْنُهُ طَافِئَةٌ كَأَنِّيْ أُشَبِّهُهُ بِعَبْدِ الْعُزَّى بْنِ قَطَنٍ, فَمَنْ أَدْرَكَهُ مِنْكُمْ فَلْيَقْرَأْ عَلَيْهِ فَوَاتِحَ سُوْرَةِ الْكَهْفِ, إِنَّهُ خَارِجٌ خَلَّةً بَيْنَ الشَّامِ وَالْعِرَاقِ فَعَاثَ يَمِيْنًا وَعَاثَ شِمَالاً, يَا عِبَادَ اللهِ فَاثْبُتُوْا. قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ, وَمَا لَبْثُهُ فِيْ الأَرْضِ؟ قَالَ: أَرْبَعُوْنَ يَوْمًا, يَوْمٌ كَسَنَةٍ وَيَوْمٌ كَشَهْرٍ وَيَوْمٌ كَجُمُعَةٍ وَسَائِرُ أَيَّامِهِ كَأَيَّامِكُمْ, قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ فَذَلِكَ الْيَوْمٌ الَّذِيْ كَسَنَةٍ أَتَكْفِيْنَا فِيْهِ صَلاَةُ يَوْمٍ؟ قَالَ: لاَ اقْدُرُوْا لَهُ قَدْرَهُ. قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ, وَمَا إِسْرَاعُهُ فِيْ الأَرْضِ؟ قَالَ: كَالْغَيْثِ اسْتَدْبَرَتْهُ الرِّيْحُ فَيَأْتِيْ عَلَى الْقَوْمِ فَيَدْعُوْهُمْ فَيُؤْمِنُوْنَ بِهِ وَيسْتَجِيْبُوْنَ لَهُ فَيَأْمُرُ السَّمَاءَ فَتُمْطِرُ وَالأَرْضَ فَتُنْبِتُ فَتَرُوْحُ عَلَيْهِمْ سَارِحَتُهُمْ أَطْوَلَ مَا كَانَتْ ذُرًّا وَأَسْبَغَهُ ضُرُوْعًا وَأَمَدَّهُ خَوَاصِرَ, ثُمَّ يَأْتِيْ الْقَوْمَ فَيَدْعُوْهُمْ فَيَرُدُّوْنَ عَلَيْهِ قَوْلَهُ فَيَنْصَرِفُ عَنْهُمْ فَيُصْبِحُوْنَ مُمْحِلِيْنَ لَيْسَ بِأَيْدِيْهِمْ شَيْءٌ مِنْ أَمْوَالِهِمْ, وَيَمُرُّ بِالْخِرْبَةِ فَيَقُوْلُ لَهَا: أَخْرِجِيْ كُنُوْزَكِ, فَتَتْبَعُهُ كُنُوْزُهَا كَيَعَاسِيْبِ النَّحْلِ. ثُمَّ يَدْعُوْ رَجُلاً مُمْتَلِئًا شَبَاباً فَيَضْرِبُهُ بِالسَّيْفِ فَيَقْطَعُهُ جَزِلْتَيْنِ رَمْيَةَ الْغَرَضِ ثُمَّ يَدْعُوْهُ فَيُقْبِلُ وَيَتَهَلَّلُ وَجْهُهُ يَضْحَكُ, فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذْ بَعَثَ اللهًُ الْمَسِيْحَ بْنَ مَرْيَمَ فَيَنْزِلُ عِنْدَ الْمَنَارَةِ الْبَيْضَاءِ شَرْقِيَّ دِمْشَقَ بَيْنَ مَهْرُوْدَتَيْنِ وَاضِعًا كَفَّيْهِ عَلَى أَجْنِحَةِ مَلَكَيْنِ, إِذَا طَأْطَأَ رَأْسَهُ قَطَرَ وَإِذَا رَفَعَهُ تَحَدَّرَ مِنْهُ جُمَانٌ كَاللُّؤْلُؤِ, فَلاَ يَحِلُّ لِكَافِرٍ يَجِدُ رِيْحَ نَفَسِهِ إِلاَّ مَاتَ وَنَفَسُهُ يَنْتَهِيْ حَيْثُ يَنْتَهِيْ طَرْفُهُ فَيَطْلُبُهُ حَتَّى يُدْرِكَهُ بِبَابِ لُدٍّ فَيَقْتُلُهُ&#8230;</p>
<p>Dari Nawwas bin Sam’an radhiyallahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah shallallahu &#8216;alahi wa sallam bersabda: Selain <strong>Dajjal</strong> lebih menakutkanku atas kalian, seandainya dia keluar dan saya di tengah-tengah kalian, maka sayalah yang akan menghadapinya, tetapi apabila dia keluar sedangkan saya tidak ada di tengah-tengah kalian, maka masing-masing orang mengurus dirinya sendiri, Allah penolong setiap muslim. <strong>Dajjal</strong> adalah pemuda berambut keriting, matanya buta, seakan diriku memperumpakannya dengan Abdul Uzza bin Qathn. Barangsiapa diantara kalian menjumpainya, maka hendaknya membacakan padanya awal-awal surat Al-Kahfi, dia keluar di jalan antara Syam dan Iraq lalu membuat kerusakan di kanan dan kiri. Wahai hamba Allah, tetap kokhlah kalian! Kami bertanya: Hai Rasulullah, berapa lama dia tinggal di bumi? Nabi menjawab: Empat puluh hari, sehari seperti setahun, sehari seperti sebulan, sehari seperti sepekan kemudian hari berikutnya seperti hari-hari biasa. Kami bertanya: Wahai rasulullah, hari seperti setahun tadi apakah cukup bagi shalat sehari? Jawabnya: Tidak, perkirakanlah waktunya!. Kami bertanya lagi: Wahai rasulullah, bagaimana kecepatannya di atas bumi? Beliau menjawab: Seperti hujan yang dihembuskan oleh angin. Kemudian dajjal mendatangi suatu kaum lalu mereka percaya dan mendukungnya, maka dia memerintahkan langit untuk menurunkan air hujan sehingga turun hujan dan tanah untuk menumbuhkan tanaman dan tumbuh. Dia lalu mendatangi suatu kaum dan mereka menolak kemudian dia berpaling, akhirnya mereka paceklik tidak memiliki harta sedikitpun, dia melewati tempat reruntuhan seraya berkata: Keluarkan perbendaharaanmu, maka keluarlah perbendaharaanya seperti buah kurma. Lalu dia memanggil seorang pemuda dan memukunya dengan pedang menjadi dua bagian seukuran lemparan panah kemudian memanggilnya lagi dan pemuda tersebut bangun dengan wajah berseri-seri sambil tertawa.</p></blockquote>
<p><em>.<br />
</em></p>
<p><strong>HADITSNYA MUTAWATIR</strong></p>
<p>Hadits-hadits tentang keluarnya Dajjal di akhir zaman mencapai derajat mutawatir. Hampir seluruh kitab-kitab hadits dan aqidah mencantumkan pembahasan tentangnya. Diantara para pakar ahli hadits yang menegaskan mutawatirnya adalah<strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>Imam adz-Dzahabi</strong><a href="#_ftn6">[6]</a>,</li>
<li><strong>Ibnu Katsir</strong> dalam <em>an-Nihayah</em> 1/148,</li>
<li><strong>Asy-Syaukani</strong> dalam <em>At-Taudhih fi Tawaturi Maa Jaa fil Muntadhar wad Dajjal wal Masih</em><a href="#_ftn7">[7]</a>,</li>
<li><strong>Al-Munawi</strong> dalam <em>Faidhul Qodir</em> 3/660,</li>
<li><strong>Al-Kattani</strong> dalam <em>Nadhmul Mutanatsir</em> hal. 240-241,</li>
<li><strong>Syaikh Abdur Rahman bin Yahya al-Mu’allimi</strong> dalam <em>Al-Anwar Al-Kasyifah</em> hal. 233,</li>
<li><strong>Lembaga Riset Dakwah dan Fatwa Saudi Arabia</strong><a href="#_ftn8">[8]</a> dalam <em>Fatawa Lajnah Daimah </em>3/146,</li>
<li><strong>Syaikh al-Albani</strong> dalam <em>Ash-Shahihah</em> 1/297,</li>
<li><strong>Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi&#8217;I</strong> dalam <em>Rudud Ahli Ilmu </em>hal. 25.</li>
</ol>
<p>“Demikian pula, para ulama lainnya yang menegaskan tentang <strong>mutawatirnya</strong> hadits tentang <strong>turunnya Isa bin Maryam</strong>, karena hal itu berkonsekunsi menegaskan mutawatirnya hadits tentang Dajjal, sebab jalur-jalur haditsnya lebih banyak sebagaimana tidak samar bagi orang yang menggeluti ilmu hadits yang mulia ini”.<a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p><strong>Syaikh Al-Allamah Al-Muhaddits al-Albani</strong> berkata:</p>
<blockquote><p>“Cukuplah akan hal itu kesepakatan para ulama pakar ahli hadits tentang mutawatirnya hadits-hadits seputar Dajjal dan turunnya Isa dari langit seperti <strong>al-Hafizh Ibnu Katsir</strong>, <strong>Ibnu Hajar</strong> dan selainnya, bahkan <strong>Imam as-Syaukani</strong> menulis sebuah risalah khusus berjudul <em>At- Taudhih fi Tawaturi Maa Jaa fil Muntadhar wad Dajjal wal Masih</em>.</p></blockquote>
<p>Saya pribadi telah yakin dengan mutawatirnya hadits-hadits tentang Dajjal dan turunnya Isa <em>&#8216;alahi sallam</em>. Saya telah berhasil mengumpulkan lebih dari <strong>empat puluh jalur sanad dari empat puluh sahabat</strong>. Berikut <strong>beberapa nama para sahabat</strong> (tidak semua disebutkan-ed) yang meriwayatkan hadits-hadits tentang Dajjal:</p>
<ol>
<li>Hisyam bin Amir,</li>
<li>Abdullah bin Mughaffal,</li>
<li>Hudzaifah bin Yaman,</li>
<li>Jabir bin Abdullah,</li>
<li>Abdullah bin Umar,</li>
<li>Anas bin Malik,</li>
<li>Abu Hurairah,</li>
<li>Nawwas bin Sam’an,</li>
<li>Nafir bin Malik,</li>
<li>Aisyah,</li>
<li>Ummu Salamah,</li>
<li>sebagian sahabat Nabi,</li>
<li>Ubadah bin Shamit,</li>
<li>Abdullah bin Abbas,</li>
<li>Abu Bakrah ats-Tsaqafi,</li>
<li>seorang sahabat Nabi,</li>
<li>Safinah,</li>
<li>Abu Sa’id Al-Khudri,</li>
<li>Fathimah binti Qais,</li>
<li>Ummu Syarik,</li>
<li>Abdullah bin Mas’ud,</li>
<li>Abdullah bin ‘Amr,</li>
<li>Abu Umamah,</li>
<li>Sa’ad bin Waqqash,</li>
<li>Abdullah bin Maghnam,</li>
<li>Asma’ binti Yazid al-Anshariyah,</li>
<li>Mihjan bin Al-Adra’,</li>
<li>Utsman bin Abul ‘Ash,</li>
<li>Samurah bin Jundub,</li>
<li>Mujammi’ bin Jariyah,</li>
<li>Asma’ binti ‘Umais.</li>
</ol>
<ul>
<li>Sengaja saya memaparkan nama-nama tersebut agar jelas bagi orang yang memiliki pandangan bahwa hadits-hadits tentang Dajjal adalah mutawatir. <strong>Barangsiapa yang ragu tentang hal itu, dia tergolong orang yang ragu dalam agama secara keseluruhan</strong>”. <a href="#_ftn10">[10]</a></li>
</ul>
<ul>
<li>Dalam <em>Ta’liq</em> <em><strong>Syarh Aqidah Thohawiyyah</strong></em> hal. 501, <strong>Syaikh al-Albani</strong> mengatakan suatu perkataan yang sangat berharga sekali, berikut teks ucapan beliau berikut artinya:</li>
</ul>
<blockquote>
<p style="text-align:center;">وَاعْلَمْ أَنَّ أَحَادِيْثَ الدَّجَّالِ وَنُزُوْلِ عِيْسَى مُتَوَاتِرَةٌ يَجِبُ الإِيْمَانُ بِهَا وَلاَ تَغْتَرَّ بِمَنْ يَدَّعِيْ فِيْهَا أَنَّهَا أَحَادِيْثُ آحَادٌ فَإِنَّهُمْ جُهَّالٌ بِهَذَا الْعِلْمِ وَلَيْسَ فِيْهِمْ مَنْ تَتَبَّعَ طُرُقَهَا وَلَوْ فَعَلَ لَوَجَدَهَا مُتَوَاتِرَةً كَمَا شَهِدَ بِذَلِكَ أَئِمَّةُ هَذَا الْعِلْمِ كَالْحَافِظِ ابْنِ حَجَرٍ وَغَيْرِهِ. وَمِنَ الْمُؤْسِفِ حَقًّا أَنْ يَتَجَرَّأَ الْبَعْضُ عَلَى الْكَلاَمِ فِيْمَا لَيْسَ مِنْ اخْتِصَاصِهِمْ, لاَ سِيَّمَا وَالأَمْرُ دِيْنٌ وَعَقِيْدَةٌ.</p>
<p><em>Ketahuilah bahwa hadits-hadits tentang Dajjal dan turunnya Isa bin Maryam telah mencapai derajat mutawatir yang wajib diimani. Janganlah anda tertipu dengan anggapan sebagian kalangan yang menyatakan bahwa haditsnya hanyalah ahad sebab mereka adalah manusia yang jahil tentang ilmu hadits. Tak ada dari kalangan mereka yang mau menelitinya. Seandainya mereka benar-benar mau menelitinya, niscaya mereka akan mendapatinya mutawatir sebagaimana ditegaskan oleh para pakar ilmu hadits seperti Ibnu Hajar dan lainnya. Sungguh amat disayangkan ketika sebagian manusia lancang berbicara tentang sesuatu yang bukan bidangnya. Lebih-lebih masalah ini berkaitan tentang aqidah dan agama. </em></p></blockquote>
<p>.</p>
<p><strong>IV. SYUBHAT DAN JAWABAN</strong></p>
<p>Tak henti-hentinya, <strong>musuh-musuh sunnah dari kalangan ahli bid’ah dan ahli filsafat</strong> menebarkan syubhat untuk menguatkan pendapat mereka dan menipu umat dengannya. Namun, yakinlah bahwa<strong> pembela kebenaran tidak akan lemah untuk menghadang gencarnya serangan mereka</strong>. Banyak syubhat seputar masalah ini, tetapi kami hanya akan menukil <strong>dua saja:</strong></p>
<p><strong>1. Akal</strong></p>
<ul>
<li><strong>Al-Ustadz Al-Maududi</strong> -semoga Allah mengampuninya- berkata dalam <em>Rosail wa Masail</em> hal. 57 cet th 1351 H: “Rasulullah menganggap bahwa Dajjal akan keluar di masa beliau atau dekat dengan masa beliau. Namun, anggapan ini telah lewat 1350 tahun silam lamannya dan beberapa abad yang panjang, tetapi toh Dajjal juga belum keluar. Maka anggapan Nabi itu tidak benar”!!!</li>
</ul>
<ul>
<li>Pada<strong> hal. 55, Al-Ustadz Al-Maudud</strong>i mengatakan: “Seluruh riwayat dan hadits seputar Dajjal ternyata hanyalah logika dan pendapat beliau saja, yang mana beliau sendiri ragu akan hal itu”.!!!</li>
</ul>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p>Bukankah ucapan ini adalah <strong>pengingkaran terang-terangan terhadap hadits Nabi</strong>?! Bukankah Allah telah berfirman tentang Nabi:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:center;">وَمَايَنطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلاَّوَحْيٌ يُوحَى</p>
<p style="text-align:center;"><em>…dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). </em>(QS. An-Najm: 3-4).</p>
</blockquote>
<p>Tak perlu penulis perpanjang lebar bantahan ini, karena kebatilannya telah amat terang seterang matahari di siang bolong. Sungguh sangat menyedihkan dan membuat hati ini seakan teriris-iris membaca ucapan di atas, lantaran perkataan seperti itu pada hakekatnya tidaklah keluar dari orang-orang yang beriman kepada perkara ghaib, padahal Allah berfirman mensifati hamba-Nya yang bertaqwa:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:center;">الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ</p>
<p style="text-align:center;"><em>Orang-orang yang beriman dengan perkara ghaib.</em> (QS. Al-Baqarah: 3)</p>
</blockquote>
<p>Makna ghaib adalah setiap perkara yang dikhabarkan oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> di luar kapasitas akal manusia seperti tanda-tanda dekatnya hari kiamat, siksa kubur, kebangkitan dari kubur, perkumpulan manusia di alam mahsyar, jembatan, timbangan, surga dan neraka.<a href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p>.</p>
<p><strong>2. Perubahan Makna</strong></p>
<ul>
<li><strong>Syaikh Muhammad Abduh</strong> berpendapat bahwa maksud <strong>Dajjal adalah simbol khurafat</strong>, <strong>kebohongan</strong> dan <strong>kerusakan</strong><a href="#_ftn12">[12]</a>.</li>
<li>Pendapat serupa juga dikemukakan oleh M<strong>uhammad Fuhaim Abu ‘Ubayyah (rektor utusan Al-Azhar di Libanon)</strong>. <a href="#_ftn13">[13]</a></li>
</ul>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<ul>
<li>Kalau kita cermati hadits-hadits berkaitan tentang Dajjal, tentu akan kita akan mendapati lucunya takwil seperti ini. Coba perhatikan hadits di atas saja, dimana Nabi menceritakan bahwa Dajjal adalah seorang yang buta.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Imam al-Albani</strong> berkata: “Hadits ini jelas menunjukkan bahwa <strong>Dajjal</strong> akbar termasuk <strong>manusia</strong>, dia memiliki sifat-sifat manusia, terlebih lagi tatkala Nabi menggambarkannya seperti sahabat<a href="#_ftn14">[14]</a> Abdul &#8216;Uzza bin Qathn. Hadits ini merupakan salah satu dalil sekian dalil yang banyak sekali tentang batilnya takwil sebagian kalangan bahwa Dajjal bukan berwujud manusia, melainkan simbol kemajuan bangsa Eropa, kemegahan da fitnahnya! Jadi, Dajjal adalah manusia dan fitnahnya sangat dahsyat sekali sebagaimana ditunjukkan oleh beberapa hadits-hadits yang shahih. Kita berlindung kepada Allah darinya”. <a href="#_ftn15">[15]</a></li>
</ul>
<ul>
<li>Kalau kita mau menelusuri takwil seperti ini, ternyata biangnya adalah kaum <strong>Jahmiyyah</strong> dan <strong>Mu&#8217;tazilah</strong>, dua firqoh yang jelas sekali kesesatannya.<strong> Imam Al-Ashbahani</strong> berkata “Pasal penjelasan bahwa Dajjal akan keluar tanpa keraguan. Adapun kelompok Jahmiyyah, mereka mengatakan bahwa Dajjal adalah setiap orang yang jelek”.<a href="#_ftn16">[16]</a></li>
</ul>
<ul>
<li>Walhasil, Dajjal memang benar-benar akan keluar di akhir dan dia adalah berwujud orang secara hakiki (<strong>bukan simbol</strong>). Inilah aqidah yang harus diyakini oleh setiap muslim dan muslimah dengan kesepakatan ulama&#8217; salaf, sekalipun diingkari oleh beberapa kelompok sesat dan menyesatkan.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Imam Al-Qodhi Iyadh</strong> berkata dalam <em>Ikmal Mu’lim bi Fawaid Muslim</em> 8/492: “Hadits-hadits ini merupakan hujjah bagi Ahli Sunnah wal Jama’ah tentang kebenaran adanya Dajjal dan bahwasanya Dajjal adalah seorang tertentu yang Allah jadikan sebagai ujian bagi hamba-Nya. Allah memberinya keluarbiasaan seperti mampu menghidupkan orang mati yang dibunuhnya, mampu menyuburkan tanaman dan sungai serta perbendaharaan bumi, mampu memerintahkan langit untuk menurunkan hujan sehingga menurunkan air hujan ke bumi. Semua itu dengan kehendak Allah. Kemudian Allah melemahkan Dajjal sehingga tidak dapat membunuh seorang mukmin kemudian Isa bin Maryam membunuhnya. Inilah madzhab Ahli Sunnah wal Jama’ah, seluruh ahli hadits dan ahli fiqih. Sungguh hal ini telah diingkari sebagian Khowarij, Mu’tazilah dan Jahmiyyah sehingga mereka mengingkari wujudnya Dajjal dan menolak hadits-hadits yang shahih…”. <a href="#_ftn17">[17]</a></li>
</ul>
<ul>
<li>Di antara takwil batil seputar masalah Dajjal juga yaitu penafsiran sebagain kalangan bahwa<strong> tulisan “kafir” pada Dajjal</strong> bukanlah secara hakekatnya, namun hanya sekedar <strong>simbol kelemahannya </strong>sebagaimana diutarakan oleh <strong>Abu ‘Ubbiyyah</strong> dalam Ta’liq <em>an-Nihayah</em> 1/91.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Takwil seperti ini telah dibantah oleh para ulama kita:</strong></li>
</ul>
<ol>
<li><strong>Imam al-Qurthubi</strong> berkata: “Ini adalah pemalingan makna dari hekekat hadits tanpa indikator yang perlu…”.<a href="#_ftn18">[18]</a></li>
<li><strong>Imam Nawawi</strong> berkata: “Pendapat yang benar sebagaimana pendapat ahli haq bahwa tulisan ini adalah secara dhahirnya dan bahwasanya tulisan itu secara hakekatnya. Allah menjadikannya sebagai tanda dari tanda-tanda yang jelas tentang kekufurannya, kedustaannya dan kebatilannya. Allah menampakkan hal itu bagi setiap muslim, baik bisa baca tulis atau tidak dan tidak menampakkannya bagi orang yang Allah kehendaki sengsara. Semua itu bukanlah perkara yang mustahil”.<a href="#_ftn19">[19]</a> Ucapan diatas juga disetujui oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar, dimana beliau menegaskan bahwa pendapat yang menyatakan kalau tulisan tersebut hanyalah sekedar majaz: “Itu adalah pendapat yang lemah”.<a href="#_ftn20">[20]</a> Wallohu A’lam.</li>
</ol>
<p>.<strong><br />
</strong></p>
<p><strong>V. MENGGALI ILMU DARI HADITS-HADITS TENTANG DAJJAL</strong></p>
<p>Berbicara tentang Dajjal sebenarnya panjang sekali, terlalu panjang kalau diuraikan semua. Namun, penulis merasa perlu untuk menyebutkan sebagiannnnya, semoga bisa diambil faedahnya. Sebelumnya, kami ingin menukilkan ucapan bagus <strong>Syaikh Al-Allamah Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di</strong> dalam risalahnya <em>Fitnah Dajjal </em>hal. 27-30 -secara ringkas- sebagai berikut:</p>
<p><strong>Pertama</strong>: Kaum muslimin bersepakat untuk menerima bulat semua dalil yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Semua yang dikhabarkan oleh Allah maka pasti akan terjadi, tidak terelakkan. Baik kita mengetahui dengan mata kepala kita sendiri atau tidak. Hal ini disepakati oleh semua ulama kaum muslimin. Tidak sempurna iman seorang hamba kecuali dengannya.</p>
<p><strong>Kedua</strong>: Apa yang dikhabarkan Nabi, perintah dan larangannya, semuanya benar dan bermanfaat bagi semua hamba dan umat. Khabar beliau tentang Dajjal, fitnah dan perintah berlindung darinya, semua sangat bermanfaat bagi umat. Membenarkan hal itu akan menambah keimanan seorang mukmin dan berlindung kepada Allah.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>: <strong>Fitnah Dajjal</strong> ada dua macam<a href="#_ftn21">[21]</a>:</p>
<ol>
<li>Jenis orang yang disifatkan oleh Nabi dengan sifat-sifat yang tertera dalam banyak hadits.</li>
<li>Jenis fitnah Dajjal yang mencakup seluruh kebathilan yang dipoles dengan baju yang indah sehingga banyak manipu manusia.</li>
</ol>
<p>.</p>
<p><strong>1. Siapakah pengikut Dajjal?</strong></p>
<p>Banyak hadits yang menjelaskan tentang para<strong> pengikut Dajjal</strong>, diantaranya:</p>
<p><strong>a. Yahudi</strong>, khususnya <strong>Yahudi Ashbahan </strong>sebagaimana sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em>:</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:center;">يَتْبَعُ الدَّجَّالَ مِنْ يَهُوْدِ أَصْبَهَانَ سَبْعُوْنَ أَلْفًا عَلَيْهِمْ الطَّيَّالِسَةُ</h2>
<p style="text-align:center;"><em>Akan mengikuti Dajjal tujuh puluh ribu Yahudi Ashbahan, mereka mengenakan jubah<a href="#_ftn22"><strong>[22]</strong></a>. </em></p>
</blockquote>
<p><strong>Syaikh Salim bin I’ed al-Hilali</strong> berkata:</p>
<blockquote><p>“Mengapa Nabi menyebutkan Yahudi Ashbahan (Iran) secara khusus?! Jawabnya, karena <strong>hubungan yang amat erat antara Yahudi dengan Syi’ah</strong>. Sejarah mencatat bahwa kaum Syi’ah sepanjang masa selalu membantu kaum Yahudi untuk menghancurkan kaum muslimin, <strong>tidak seperti yang sering digambarakan oleh media-media penyesat sekarang yang menggambarkan bahwa kaum Syi’ah mengusir Yahudi dan memerdekakan negeri dari Yahudi</strong>. Demi Allah, semua itulah politik dan kedustaan”. <a href="#_ftn23">[23]</a></p></blockquote>
<p><strong>b. Kaum wanita</strong>, berdasarkan hadits riwayat <strong>Imam Ahmad 7/19</strong>0 dengan <strong><em>sanad shahih</em></strong> dari <strong>Ibnu Umar</strong> bahwa <strong>Nabi</strong> <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> bersabda:</p>
<blockquote><p>“Dajjal akan turun ke Mirqonah (nama sebuah lembah) dan <strong>mayoritas pengikutnya adalah kaum wanita</strong>, sampai-sampai ada seorang yang pergi ke isterinya, ibunya, putrinya, saudarinya dan bibinya kemudian <strong>mengikatnya</strong> karena khawatir keluar menuju Dajjal”.</p></blockquote>
<p><strong>c. Kelompok khawarij</strong>, berdasarkan sabda Nabi:</p>
<h2 style="text-align:center;">يَنْشَأُ نَشْأٌ يَقْرَأُوْنَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيْهِمْ, كُلَّمَا خَرَجَ فَرْقٌ قُطِعَ حَتَّى يَخْرُجَ فِيْ أَعْرَاضِهِمْ الدَّجَّالُ</h2>
<p style="text-align:center;"><em>Akan muncul suatu kelompok yang membaca Al-Qur’an tetapi tidak sampai pada tenggorokan mereka. Setiap kali muncul, mereka dibasmi habis hingga keluar pada pasukan besar mereka Dajjal</em>.<a href="#_ftn24">[24]</a></p>
<p style="text-align:center;"><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>2. Pertarungan antara Dajjal dan seorang mukmin.</strong></p>
<p>Dalam riwayat <strong>Imam Muslim</strong> (2938) dari hadits <strong>Abu Sai’id al-Khudri</strong> terdapat kisah menarik tentang <strong>pertarungan antara Dajjal dengan seorang mukmin</strong>,<strong> ringkasnya</strong>:</p>
<blockquote>
<ul>
<li>Ada seorang <strong>pemuda beriman sebaik-baik manusia</strong> datang kepada Dajjal seraya berkata padanya: &#8220;Wahai manusia,<strong> ini adalah Dajjal yang telah diceritakan Rasulullah dalam haditsnya</strong>!&#8221;</li>
</ul>
<ul>
<li>Dajjal berkata: Apakah kamu beriman padaku?</li>
<li>Jawab pemuda itu: “Kamu adalah pendusta”. Pemuda itu kemudian digergaji sehingga terbelah menjadi dua, lalu Dajjal melewati dua potongan badannya kemudian menyuruhnya berdiri.</li>
<li>Pemuda itupun berdiri lagi seraya berkata: “Saya malah bertambah mantap tentang dirimu”.</li>
<li>Setelah itu, Dajjal ingin membunuhnya tetapi tidak bisa”.</li>
</ul>
</blockquote>
<p>.</p>
<p><strong>Dalam kisah tersebut ada beberapa feadah yang dapat kita petik, diantaranya:</strong></p>
<p><strong>a. Pentingnya aqidah dan manhaj yang kokoh dalam hati</strong>. Perhatikanlah, bagaimana pemuda tersebut tetap kokoh seperti gunung sekalipun harus menanggung penganiayaan Dajjal yang begitu sadis! Oleh karena itu, janganlah sekali-kali engkau -wahai saudaraku- merasa jemu dan bosan dalam mempelajari dan memupuk aqidah dan manhaj dalam hati kita.</p>
<p><strong>b. Boleh</strong> bahkan disyaria’atkan bagi seorang yang <strong>mapan dan kokoh keimanannya</strong> untuk<strong> menghadapi Dajjal</strong>. Dari sinilah diambil <em><strong>kaidah manhajiyah</strong></em>, bahwa orang yang berhak untuk menghadang fitnah ahli bid’ah -yang menggeliat pada zaman sekarang- adalah ahli ilmu dan penuntut ilmu yang mapan, <strong>bukan orang-orang awam atau penuntut ilmu <em>ingusan</em></strong>, sehingga dengan amat mudahnya mereka akan <strong>terbius oleh syubhat-syubhat ahli bid’ah</strong>. Demikianlah karakteristik golongan selamat, mereka senantiasa berjuang dengan gigih untuk melawan dan menumpas para dajjal junior dari kalangan penyesat manusia dan penjahat agama. Yakinlah bahwa kebatilan akan sirna dan kebenaran pasti jaya.</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:center;">لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ يُقَاتِلُوْنَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِيْنَ عَلَى مَنْ نَاوَأَهُمْ حَتَّى يُقَاتِلَ آخِرُهُمْ الْمَسِيْحَ الدَّجَّالَ</h2>
<p style="text-align:center;"><em>Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang berjuang di atas kebenaran, mereka menang melawan orang yang menghadang mereka sehingga akhir dari mereka perang melawan Dajjal</em>. <a href="#_ftn25">[25]</a></p>
</blockquote>
<p><strong>c. Ilmu yang bermanfaat</strong> dan terpuji dalam Islam adalah<strong> ilmu Al-Qur’an</strong> dan <strong>hadits yang shahih</strong>. Oleh karena itulah, hendaknya kita menyibukkan diri untuk mempelajari dan menggeluti keduanya. Sungguh merupakan kesalahan yang amat fatal sekarang ini, kalau kita menyibukkan para pemuda dengan apa yang kini biasa disebut dengan<strong> <em>fiqhul waqi’</em></strong> yaitu menggeluti koran, situs internet, satelit, tv, radio dengan tujuan untuk mengetahui program orang-orang kafir dalam menghancurkan Islam. Memang itu adalah tujuan yang baik, tetapi cara seperti itu yang tidak baik. Perhatikanlah -wahai saudaraku- <em>perkataan seorang pemuda mukmin tersebut</em> “<strong>Engkau adalah Dajjal yang telah diberitakan oleh Nabi dalam hadits-haditsnya</strong>”.</p>
<ul>
<blockquote>
<li>Jadi, dengan apakah pemuda tersebut mengenal Dajjal?! <strong>Apakah karena dia mendengar berita dari radio BBC London atau CNN Amerika?!!</strong> Tidak, sama sekali tidak, tetapi dia mengetahuinya<strong> dari hadits Nabi</strong>. Subhanallah, Allohu akbar, demikianlah <strong>fiqih waqi’ yang sebenarnya</strong><a href="#_ftn26">[26]</a>!!.</li>
</blockquote>
</ul>
<p><strong>d. Menetapkan karomah</strong> bagi <strong>orang-orang beriman</strong> dan ini akan terus berlanjut hingga akhir zaman sebagaimana dialami oleh pemuda beriman tersebut.</p>
<p><strong>e. Bantahan kepada pemahaman tasawwuf</strong>, karena kedigdayaan dan keluarbiasaan yang muncul pada seorang tidak mesti menunjukkan keshalehan seorang, tetapi harus diukur dengan barometer syari’at. Tidakkah engkau lihat bahwa Dajjal juga memiliki keluarbiasaan, tetapi apakah hal itu menunjukkan dia shaleh dan baik?!! Jadi harus dibedakan antara karomah dan istidraj. Karomah adalah keluarbiasaan yang Allah anugerahkan kepada hamba-Nya yang beriman dan bertaqwa, adapun kedigdayaan yang muncul dari orang yang menyimpang, penyihir dan para dajjal maka hal itu disebut <strong>istidraj</strong> dan<strong> tipuan Iblis</strong>. Alangkah indahnya ucapan seorang penyair:</p>
<p style="text-align:center;">إِذَا رَأَيْتَ شَخْصًا قَدْ يَطِيْرُ                             وَفَوْقَ مَاءِ الْبَحْرِ يَسِيْرُ</p>
<p style="text-align:center;">وَلَمْ يَقِفْ عَلَى حُدُوْدِ الشَّرْعِ                            فَإِنَّهُ مُسْتَدْرَجٌ بِدْعِيْ</p>
<p style="text-align:center;"><em>Bila engkau lihat seorang <strong>dapat terbang</strong></em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Dan <strong>berjalan di atas lautan</strong></em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Padahal dia <strong>tidak mentaati</strong> undang-undang <strong>syari’at</strong></em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Maka ketahuilah bahwa<strong> dia adalah ahli bid’ah yang dimanja.</strong></em></p>
<p align="left">.<em><br />
</em></p>
<p><strong>2. Kewajiban berlindung dari fitnah Dajjal</strong></p>
<p>Cara mengatasi segala fitnah secara umum adalah dengan taqwa dan ibadah. Termasuk pula fitnah dajjal. Oleh karenanya, perhatikanlah tentang pertanyaan para sahabat Nabi takala mereka mendengar cerita Nabi tentang Dajjal, dimana mereka bertanya tentang shalat, tidak tentang individu. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa solusi menghadapi fitnah adalah ibadah dan taqwa. Nabi bersabda:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:center;">الْعِبَادَةُ فِيْ الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ</p>
<p style="text-align:center;"><em>Ibadah di saat fitnah seperti hijrah kepadaku</em>. <a href="#_ftn27">[27]</a></p>
</blockquote>
<p style="text-align:left;">.</p>
<p><strong>VI. Berikut beberapa Faktor penyelamat dari fitnah Dajjal:</strong><strong> </strong></p>
<ul>
<li><strong><em>Pertama,</em> Membekali diri dengan Islam, iman dan tauhid terutama tauhid asma wa sifat</strong> sehingga seorang mengetahui bahwa Dajjal hanyalah manusia biasa yang buta padahal Allah tidak buta. Dia juga yakin bahwa hamba tidak mungkin melihat Allah sampai meninggal dunia, sedangkan Dajjal dapat dilihat manusia ketika muncul akhir zaman.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong><em>Kedua,</em> Banyak berlindung kepada Allah dari fitnah Dajjal,</strong> terutama ketika dalam shalat:</li>
</ul>
<blockquote>
<p style="text-align:center;">عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ :قَالَ رَسُوْلُ اللهِ إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ يَقُوْلُ اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ</p>
<p style="text-align:center;"><em>Jika salah seorang diantara kalian duduk dalam tasyahud akhir, maka hendaklah dia berlindung kepada Allah dari empat perkara. Hendaknya dia berdoa: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa Neraka Jahannam, siksa kubur, fitnah hidup dan mati serta jeleknya fitnah Dajjal.<a href="#_ftn28"><strong>[28]</strong></a></em></p>
</blockquote>
<ul>
<li><strong><em>Ketiga,</em> Menghafal sepuluh ayat pertama surat Al-Kahfi:</strong></li>
</ul>
<blockquote>
<p style="text-align:center;">عَنْ أَبِيْ الدَّرْدَاءِ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم قَالَ : مَنْ حَفِظَ عَشَرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُوْرَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ</p>
<p style="text-align:center;"><em>Dari Abu Darda’ </em>a<em> bahwasanya Nabi </em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam<em> bersabda: Barangsiapa yang menghafal sepuluh ayat dari surat Al-Kahfi, maka dia akan dijaga dari fitnah Dajjal</em>. <a href="#_ftn29">[29]</a></p>
</blockquote>
<ul>
<li><strong><em>Keempat,</em> Menjauh dari Dajjal dan tidak mendekatinya,</strong> kecuali apabila dia yakin bahwa Dajjal tidak membahayakan dirinya, sangat kuat aqidahnya kepada Allah dan mengenal ciri-ciri Dajjal sebagaimana disifatkan oleh Nabi.</li>
</ul>
<blockquote>
<p style="text-align:center;">عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: مَنْ سَمِعَ بِالدَّجَّالِ فَلْيَنْأَ عَنْهُ, فَوَاللهِ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَأْتِيْهِ وَهُوَ يَحْسِبُ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ فَيَتَّبِعُهُ مِمَّا يَبْعَثُهُ مِنَ الشُّبُهَاتِ</p>
<p style="text-align:center;"><em>Dari Imran bin Hushain </em>رضي الله عنه<em> berkata: Rasulullah صلى الله عليه و سلم</em><em> bersabda: Barangsiapa yang mendengar Dajjal, maka hendaknya dia menjauh darinya. Demi Allah, sesungguhnya seseorang datang menghampirinya dengan anggapan bahwa dirinya beriman, lalu dia mengikuti Dajjal karena terbius oleh syubhat-syubhatnya.<a href="#_ftn30"><strong>[30]</strong></a></em></p>
</blockquote>
<ul>
<li><strong><em>Kelima,</em> Tinggal di kota Mekkah dan Madinah.</strong></li>
</ul>
<blockquote>
<p style="text-align:center;">يَجِيْئُ الدَّجَّالُ فَيَطَأُ الأَرْضَ إِلاَّ مَكَّةَ وَالْمَدِيْنَةَ, فَيَجِدُ بِكُلِّ نَقْبٍ مِنْ نَقَابِهَا صُفُوْفًا مِنَ الْمَلاَئِكَةِ</p>
<p style="text-align:center;"><em>Tatkala Dajjal datang, dia menjajaki seluruh bumi kecuali kota Mekkah dan Madinah. Dia menjumpai pada setiap gang/lorong terdapat para malaikat yang berbaris<a href="#_ftn31"><strong>[31]</strong></a>. </em></p>
</blockquote>
<p>Kita berdo’a kepada Allah agar menjadikan kita termasuk hamba-Nya yang beriman dan meneguhkan kita semua hingga maut menjemput kita. Amiin.</p>
<p>.</p>
<p>artikel: <a href="http://abiubaidah.com"><strong>www.abiubaidah.wordpress.com</strong></a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Hasan. Riwayat Ahmad dalam Musnadnya 1/24, Ad-Dani dalam <em>Al-Fitan</em> 2/23 dan dihasankan al-Albani dalam <em>Qishshaotul Masih</em> hal. 30.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Shahih. Diriwayatkan Abdullah bin Ahmad dalam <em>Zawaid Musnad Ahmad</em> 4/71-72 dan dishahihkan al-Haitsami dalam <em>Majma’ Zawaid</em> 7/646 dan al-Albani dalam <em>Qishshotul Masih Dajjal</em> hal. 30.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> HR. Bukhari no. 7131 dan Muslim no. 2933</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Lihat <em>Sunan Ibnu Majah</em>: 4077.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> <em>Lawami’ Anwar</em> 2/106-107.</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Sebagaimana dinukil oleh murid beliau, Ibnu Katsir dalam <em>Nihayah Al-Bidayah</em> 1/124.</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Sebagaimana dinukil oleh al-Kattani dalam <em>Nadhmul Mutanatsir</em> hal. 241 dan Al-Azhim Abadi dalam <em>Aunul Ma&#8217;bud</em> 11/308.</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Yang diketuai oleh samahatus syaikh al-Allamah Abdul Aziz bin Baz.</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Demikian dikatakan oleh Syaikh al-Albani dalam foot note <em>Tamamul Minnah</em> hal. 79.</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> <em>Qishshatul Masih Dajjal</em> hal. 24-28 secara ringkas.</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> <em>Fathul Qodir</em> 1/34 oleh Imam asy-Syaukani.</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> <em>Tafsir Al-Manar</em> 3/317.</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> Ta&#8217;liq <em>an-Nihayah</em> 1/152 oleh Imam Ibnu Katsir.</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> Demikianlah ketegasan Syaikh al-Albani, bahwa Abdul Uzza bin Qathn termasuk sahabat, namun yang benar bahwa beliau bukan termasuk sahabat, karena dia telah wafat pada masa Jahiliyyah. (Lihat <em>al-Ishabah</em> 4/239, <em>Fathul Bari</em> 6/488, 13/100 oleh Ibnu Hajar).</p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> <em>Silsilah Ahadits Ash-Shahihah</em> 3/19.</p>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> <em>Al-Hujjah Fi Bayanil Mahajjah</em> (1/416)</p>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> Dinukil dan disetujui oleh imam Nawawi dalam <em>Syarh Shahih Muslim</em> (18/371) dan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam <em>Fathul Bari</em> 13/105. Lihat <em>Nihayah Al-Bidayah</em> 1/148 oleh Ibnu Katsir dan <em>Faidhul Qodir</em> 3/662 oleh al-Munawi.</p>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> <em>At-Tadzkirah Fi Akhwal Muata wal Akherah</em> 2/778.</p>
<p><a href="#_ftnref19">[19]</a> <em>Syarh Shahih Muslim</em> 18/373</p>
<p><a href="#_ftnref20">[20]</a> <em>Fathul Bari</em> 13/100</p>
<p><a href="#_ftnref21">[21]</a> Lihat pula <em>Bughyatul Murtab</em> Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hal. 483</p>
<p><a href="#_ftnref22">[22]</a> HR. Muslim: 2944</p>
<p><a href="#_ftnref23">[23]</a> Kaset Syarh Ushul Sunnah Ahmad bin Hanbal no. 9.</p>
<p><a href="#_ftnref24">[24]</a> Hasan. HR. Ibnu Majah: 174 dan dihasankan al-Albani dalam <em>Ash-Shahihah</em>: 2455.</p>
<p><a href="#_ftnref25">[25]</a> Lihat <em>Ash-Shahihah</em>: 1959.</p>
<p><a href="#_ftnref26">[26]</a> Lihat tulisan ustadzuna Abu Aisyah Arif Fathul Ulum “Fiqih Waqi’/Pemahaman Realita” dalam Majalah Al Furqon edisi 10. Th. III.</p>
<p><a href="#_ftnref27">[27]</a> HR. Muslim 2948.</p>
<p><a href="#_ftnref28">[28]</a> HR. Muslim 588.</p>
<p><a href="#_ftnref29">[29]</a> HR. Muslim 809.</p>
<p><a href="#_ftnref30">[30]</a> Shahih. HR. Ahmad 4/43, 441, Abu Dawud 4319, al-Hakim 4/531 dan dishahihkan al-Albani dalam <em>al-Misykah</em> 5488.</p>
<p><a href="#_ftnref31">[31]</a> HR. Bukhari Muslim<em>.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/dajjal-imajinasi-atau-fakta.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kita Tidak Mungkin Bersatu dengan Allah !!!</title>
		<link>http://abiubaidah.com/kita-tidak-mungkin-bersatu-dengan-allah.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/kita-tidak-mungkin-bersatu-dengan-allah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 22:08:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Telaah Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Sesat]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Telaah Khusus]]></category>
		<category><![CDATA[Wahdatul Wujud]]></category>
		<category><![CDATA[Wali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Membedah Kekeliruan Kaum Sufi dalam Memahami Hadits Wali disusun oleh Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi A. Pengantar Sesungguhnya membela kemurnian agama dan membantah para ahli bid’ah dengan argumen dan hujjah merupakan kewajiban yang amat mulia dan landasan utama dalam agama. Oleh karenanya, para ulama salafush shalih lebih mengutamakannya daripada ibadah sunnah, bahkan mereka menilai bahwa hal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fabiubaidah.com%2Fkita-tidak-mungkin-bersatu-dengan-allah.html%2F">
										</iframe>
										</div><p style="text-align:center;"><strong>Membedah Kekeliruan Kaum Sufi</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>dalam Memahami Hadits Wali</strong></p>
<p style="text-align:center;">disusun oleh</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://abiubaidah.com/about/"><strong>Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi</strong></a></p>
<p style="text-align:left;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:22.7pt;line-height:150%;"><img class="alignleft size-full wp-image-262" title="أحبك في الله" src="http://abiubaidah.files.wordpress.com/2009/10/d982d984d8a8.jpg" alt="أحبك في الله" width="130" height="98" /></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:22.7pt;line-height:150%;"><strong>A. Pengantar</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:22.7pt;line-height:150%;">Sesungguhnya membela kemurnian agama dan membantah para ahli bid’ah dengan argumen dan hujjah merupakan kewajiban yang amat mulia dan landasan utama dalam agama. Oleh karenanya, para ulama salafush shalih lebih mengutamakannya daripada ibadah sunnah, bahkan mereka menilai bahwa hal tersebut merupakan jihad dan ketaatan yang sangat utama. <strong>Imam Ahmad</strong> pernah ditanya:</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:22.7pt;line-height:150%;">“Manakah yang lebih engkau sukai, antara seorang yang berpuasa (sunnah), shalat (sunnah), dan i’tikaf dengan seorang yang membantah ahli bid’ah?” Beliau menjawab: “Kalau dia <strong>shalat dan i’tikaf</strong> maka maslahatnya <strong>untuk dirinya pribadi</strong>, tetapi kalau dia <strong>membantah ahli bid’ah</strong> maka <strong>maslahatnya untuk kaum muslimi</strong>n, ini lebih utama.” <a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[1]</span></span><!--[endif]--></span></a></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:22.7pt;line-height:150%;">Di antara para <strong>ahli bid’ah</strong> yang <strong>tidak kalah bahayanya</strong> adalah <strong>kelompok Sufiyah</strong> yang memborong sekian banyak kesesatan dan penyimpangan yang beraneka ragam, di antara sekian kesesatan mereka yang paling berbahaya adalah aqidah <em>wahdatul</em><sup>(<a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[2]</span></span><!--[endif]--></span></a>)</sup><em> wujud</em> (Manunggaling Kawula Gusti/bersatunya Tuhan dengan hamba), sebuah aqidah yang bertentangan seratus persen dengan pokok-pokok ajaran Islam, bahkan menghancurkan persendiannya baik dalam aqidah, ibadah, akhlaq, dan sebagainya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Bangkit membantah mereka (ahli wahdatul wujud) merupakan kewajiban yang sangat utama, sebab mereka adalah perusak akal dan agama manusia, mereka membuat kerusakan di muka bumi, dan menghalangi dari jalan Alloh. Bahaya mereka terhadap agama melebihi bahaya para penjajah dunia seperti perampok dan pasukan Tatar yang hanya merampas harta tanpa merusak agama.” <a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[3]</span></span><!--[endif]--></span></a></p>
<ul style="text-align:left;">
<li><strong>Mungkin sebagian kita ada yang bergumam</strong>:</li>
</ul>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:22.7pt;line-height:150%;">“Mengapa aqidah wahdatul wujud ini harus dipermasalahkan? Bukankah aqidah itu hanya ada pada beberapa tokoh zaman dulu saja semisal Ibnu Arabi, Ibnu Faridh, Ibnu Sab’in, dan sebagainya?! Bukankah aqidah itu sudah hilang dari permukaan bumi di masa kini?! Lantas mengapa perlu dibahas seperti ini?! Bukankah ini hanya sia-sia belaka?!”</p>
</blockquote>
<ul style="text-align:left;">
<li><strong>Kami jawab</strong>:</li>
</ul>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:22.7pt;line-height:150%;">“Tenanglah saudaraku! Jangan anda gegabah menilai seperti itu, bukalah mata anda lebar-lebar niscaya anda akan mengetahui (walau terkadang terselubung) betapa banyaknya pengibar bendera aqidah rusak ini di negeri kita dari <strong>para kyai, habib, penulis, aktivis, bahkan diajarkan di kuliah-kuliah agama seperti IAIN</strong>, contohnya.</p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:22.7pt;line-height:150%;">Barangkali untuk lebih menenangkan hati, tidak mengapa kita nukil sebuah contoh –sekalipun hati ini sebenarnya terasa berat untuk menukilnya<sup>(<a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[4]</span></span><!--[endif]--></span></a>)</sup>–. Masih terngiang-ngiang di telinga saya ucapan keji <strong>Abdul Muqsith Ghazali MA</strong>, kawan Ulil Abshar dalam debat buku “Ada Pemurtadan di IAIN”,katanya:<span id="more-56"></span></p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:22.7pt;line-height:150%;">“<strong>Anjing akbar</strong>, tidak ada yang salah dengan pernyataan itu. Apa yang salah?! Sama sekali tidak ada yang salah, <strong>Akbar Tanjung, Anjing Akbar, Sekolah Akbar</strong>. Tidak ada yang salah. <strong>Itu kalau diniati bahwa anjing itu adalah Alloh</strong>.”</p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:22.7pt;line-height:150%;">Lebih lanjut, dia mengatakan:</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:22.7pt;line-height:150%;">“Kalau dia menemukan sifat <em>jamal </em>dan <em>kamal</em> (keindahan dan kesempurnaan) dalam anjing itu maka <em>enggak</em> salah, justru dia akan naik <em>maqamnya</em> (kedudukannya), seperti Ibnu Arabi<sup>(<a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[5]</span></span><!--[endif]--></span></a>)</sup> dalam kitabnya <em>Fushus Hikam</em><sup>(<a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[6]</span></span><!--[endif]--></span></a>)</sup>, dia menemukan <em>takalluf</em>nya ketika berhubungan suami istri. <strong>Ini adalah pluralisasi penafsiran yang akan dipuji sejarah</strong>!!!”</p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:22.7pt;line-height:150%;">Aduhai, alangkah persisnya hari ini dengan kemarin!! Bukankah ucapan di atas adalah warisan nenek moyang para tokoh Sufi yang sesat dan menyesatkan dahulu?!! Coba anda perhatikan ucapan seorang <strong>tokoh Sufi</strong> berikut:</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;">وَمَا الْكَلْبُ وَالْخِنْزِيْرُ إِلاَّ إِلَهُنَا</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;">وَمَا اللَّهُ إِلاَّ رَاهِبٌ فِيْ كَنِيْسَةِ</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><em>Tiada anjing dan babi itu, melainkan Tuhan kita juga</em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><em>Dan tiadalah Alloh itu kecuali rahib di gereja</em></strong></p>
</blockquote>
<ul style="text-align:left;">
<li>Salah seorang <strong>sufi</strong>, <strong>Abul Husain an-Nuri</strong> tatkala <strong>mendengar anjing yang menggonggong</strong>, dia mengatakan:</li>
</ul>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:22.7pt;line-height:150%;">“<em>Labbaika wa Sa’daika</em>” (Aku penuhi panggilanmu).” <a name="_ftnref7" href="#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[7]</span></span><!--[endif]--></span></a></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:22.7pt;line-height:150%;"><strong>Maha Suci Alloh dari ucapan mereka!</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:22.7pt;line-height:150%;"><strong><br />
</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:22.7pt;line-height:150%;">Kemudian, jangan anda menyangka kalau mereka tidak memiliki argumen/dalil yang mendukung keyakinan sesat tersebut. Sungguh aneh bin ajaib memang, hampir tidak ada ahli bid’ah pun kecuali memiliki dalil untuk memperkuat kesesatan mereka. Demikian pula para penganut paham wahdatul wujud, mereka memiliki dalil –sekalipun lebih tepatnya disebut syubhat– dari al-Qur’an dan hadits untuk mendukung keyakinan tersebut, salah satunya adalah hadits wali yang akan menjadi tema bahasan kita kali ini. Namun, hal ini tak aneh kalau kita ingat ucapan <strong>Imam asy-Syathibi</strong>:</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:22.7pt;line-height:150%;">“Betapa sering engkau dapati <strong>ahli bid’ah</strong> dan penyesat umat <strong>mengemukakan dalil dan hadits dengan memaksakannya</strong> agar sesuai dengan pemikiran mereka dan menipu orang-orang awam dengan dalil-dalil tersebut. <strong>Lucunya</strong> mereka <strong>menganggap </strong>bahwa diri mereka<strong> di atas kebenaran</strong>!!” <a name="_ftnref8" href="#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[8]</span></span><!--[endif]--></span></a></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:left;"><strong>B. Teks Hadits</strong></p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;">عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ اللَّهَ قَالَ: مَنْ عَادَى لِيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِليَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ. وَمَا زَالَ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِيْ يُبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِيْ لأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِيْ لأُعِيْذَنَّهُ، وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِيْ عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><em>Dari Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah shallallahu &#8216;alahi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Alloh berfirman: ‘Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada-Ku dengan melakukan suatu amalan yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan pada mereka, kemudian hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan perkara sunnah sehingga Aku mencintai-Nya. Apabila Aku mencintainya maka Aku adalah pendengarannya yang dia mendengar dengannya, penglihatannya yang dia melihat dengannya, tangannya yang dia memegang dengannya, dan kakinya yang dia berjalan dengannya. Apabila dia meminta kepada-Ku maka Aku akan memberinya, dan apabila dia meminta perlindungan kepada-Ku maka Aku akan melindunginya. Dan tidaklah Aku bimbang akan sesuatu seperti kebimbangan-Ku dari mencabut nyawa seorang mukmin, dia benci kematian padahal Saya tidak ingin untuk menyakitinya (tetapi itu adalah kepastian).’”</em></p>
</blockquote>
<ul style="text-align:left;">
<li><strong>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</strong> mengatakan:
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:22.7pt;line-height:150%;">“Hadits ini adalah hadits yang paling shahih tentang para wali.”. <a name="_ftnref9" href="#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[9]</span></span></span></a></p>
</li>
</ul>
<ul style="text-align:left;">
<li>Beliau juga mengatakan:</li>
</ul>
<blockquote><p>“Hadits ini sangat mulia dan merupakan hadits yang paling mulia tentang sifat wali.” <a name="_ftnref10" href="#_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[10]</span></span><!--[endif]--></span></a></p></blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:22.7pt;line-height:150%;">Demikianlah komentar indah terhadap hadits yang menjadi topik bahasan kita kali ini. Namun hal itu bukan berarti bahwa hadits ini selamat dari serangan dan hujatan, sebab kenyataan di lapangan membuktikan bahwa hadits ini mendapat kritikan dari dua segi; sanad dan matannya secara bersamaan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:22.7pt;line-height:150%;">Sebagian kalangan ada yang mempermasalahkannya dari segi sanadnya, dan sebagian lagi ada yang salah paham terhadap matannya. Dari situlah, kami merasa terdorong untuk membahas hadits ini dari segi sanad dan matannya serta meluruskan kesalahpahaman tersebut. Semoga Alloh menjadikan kita semua termasuk wali-wali-Nya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:150%;"><strong><br />
</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:150%;"><strong>C. Sanad Hadits</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:22.7pt;line-height:150%;">Sebagian kalangan ada yang mengkritik hadits ini dari sanadnya, di mana memang pada sanadnya terdapat rawi yang dibicarakan oleh para ulama ahli hadits, yaitu Khalid bin Makhlad. <a name="_ftnref11" href="#_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[11]</span></span><!--[endif]--></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:left;line-height:150%;">Jawaban:<sup>(<a name="_ftnref12" href="#_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[12]</span></span><!--[endif]--></span></a>)</sup></p>
<ul style="text-align:left;">
<li>Hadits ini diriwayatkan<strong> Bukhari</strong> dalam <em>Shahih</em>nya (6502), <strong>Abu Nu’aim</strong> dalam <em>al-Hilyah</em> (1/4), <strong>al-Baghawi</strong> dalam <em>Syarh Sunnah</em> (1248), <strong>Abul Qasim al-Mahrawani</strong> dalam <em>al-Fawa’id al-Muntakhabah ash-Shihah</em> (1/3/2),<strong> Ibnul Hamami ash-Shufi</strong> dalam <em>Muntakhab min Masmu’atihi</em> (1/171), dan ketiganya menyatakan shahih, <strong>Rizqullah al-Hanbali </strong>dalam <em>Ahadits min Masmu’atihi</em> (1/2), <strong>Yusuf bin Hasan an-Nabilsi</strong> dalam <em>Ahadits as-Sittah al-Iraqiyyah</em> (1/26),<strong> al-Baihaqi </strong>dalam <em>al-Asma’ wa Shifat</em> (491) dan <em>az-Zuhud</em> (2/83) dari jalan <strong>Khalid bin Makhlad</strong>: Menceritakan kami<strong> Sulaiman bin Bilal</strong>: Menceritakanku<strong> Syarik bin Abdullah bin Abu Nimr dari Atha’</strong> dari <strong>Abu Hurairah</strong>…</li>
</ul>
<ul style="text-align:left;">
<li>Sanad hadits ini lemah, dia termasuk beberapa hadits sedikit yang dikritik oleh para ulama terhadap Bukhari. <strong>Adz-Dzahabi</strong> mengatakan pada biografi <strong>Khalid bin Makhlad al-Qathawani</strong> setelah menyebutkan komentar para ulama ahli hadits tentangnya: “Hadits ini aneh sekali. Seandainya bukan karena kewibawaan <em>Jami’us Shahih</em> (Shahih Bukhari), niscaya saya akan memasukkannya termasuk <em>munkarat </em>Khalid bin Makhlad, sebab lafazhnya aneh dan ditambah lagi Syarik sendirian dalam riwayatnya padahal dia bukan seorang yang pakar…”</li>
</ul>
<ul style="text-align:left;">
<li>Ucapan ini dinukil secara ringkas oleh <strong>al-Hafizh Ibnu Hajar</strong> dalam <em>Fathul Bari</em> (11/292-293) lalu katanya: “Namun hadits ini memiliki beberapa jalur lain yang dengan terkumpulnya menunjukkan bahwa hadits ini ada asalnya.” Kemudian beliau menyebutkan delapan jalur penguat.</li>
</ul>
<ul style="text-align:left;">
<li><strong>Syaikh al-Muhaddits al-Albani </strong>berkomentar dalam <em>ash-Shahihah</em> (4/185-186): “Demikianlah ucapan al-Hafizh. Beliau telah memaparkannya secara panjang lebar. Hal itu sangat wajar, sebab hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam <em>Shahih</em>nya bukanlah suatu hal yang mudah untuk mencela keabsahannya hanya karena kelemahan pada sanadnya, karena mungkin saja hadits tersebut memiliki beberapa penguat yang menguatkan dan mengangkatnya. Nah, apakah hadits ini termasuk di antaranya? Al-Hafizh telah memaparkan delapan penguat dan menetapkan bahwa dengan terkumpulnya jalan-jalan tadi menunjukkan bahwa hadits ini ada asalnya.</li>
</ul>
<ul style="text-align:left;">
<li>Menimbang, karena termasuk syarat diterimanya penguat adalah tidak terlalu lemah sebagaimana ditegaskan oleh para ulama dalam ilmu musthalah hadits, sehingga kalau terlalu lemah maka tidak bisa terangkat; dan juga harus sempurna, sehingga kalau tidak sempurna pun tidak diterima, maka kita harus meneliti dalam beberapa penguat ini, apakah memenuhi dua persyaratan tersebut ataukah tidak.”</li>
</ul>
<ul style="text-align:left;">
<li>Setelah membahas secara panjang lebar, beliau menyimpulkan di akhir bahasan (4/190): “<strong>Kesimpulannya</strong>, kebanyakan penguat ini tidak bisa menguatkan hadits ini, ada yang karena sangat lemahnya dan ada pula karena ringkasnya (tidak sempurna), kecuali mungkin hadits Aisyah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em> dan Anas bin Malik <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, di mana kalau keduanya digabungkan dengan sanad hadits Abu Hurairah <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> ini maka bisa terangkat kepada derajat shahih, insya Alloh. Dan telah dishahihkan oleh para ulama yang telah saya sebutkan di muka.”</li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:22.7pt;line-height:150%;">Barangsiapa yang <strong>ingin memperluas takhrij hadits</strong> ini, kami sarankan membaca <strong><em>Silsilah Ahadits ash-Shahihah</em> (4/183-193) oleh al-Albani</strong>, karena beliau telah memaparkan jalur-jalurnya dengan pembahasan yang jarang didapati di kitab lainnya.<sup>(<a name="_ftnref13" href="#_ftn13"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[13]</span></span><!--[endif]--></span></a>)</sup></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:150%;"><strong>D. Matan Hadits<sup>(<a name="_ftnref14" href="#_ftn14"><!--[if !supportFootnotes]--><sup><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[14]</span></sup><!--[endif]--></a>)</sup></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:22.7pt;line-height:150%;">Sebagian kalangan dari kaum Sufi berdalil dengan hadits ini untuk memperkuat aqidah rusak mereka yaitu “<strong>wahdatul wujud</strong>”, bahwa <strong>Tuhan bersatu dengan hamba</strong>, sebab Alloh mengkhabarkan bahwa dirinya adalah pendengaran hamba, penglihatannya, tangannya, dan kakinya. <a name="_ftnref15" href="#_ftn15"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[15]</span></span><!--[endif]--></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:left;line-height:150%;"><strong>Jawaban:</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:22.7pt;line-height:150%;">Hadits ini tidak mendukung aqidah mereka secuil pun, bahkan sebaliknya malah <strong>membantah aqidah mereka</strong><sup><strong>(</strong><a name="_ftnref16" href="#_ftn16"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[16]</span></span><!--[endif]--></span></a>)</sup> ditinjau dari beberapa segi:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:150%;">1|   Alloh mengatakan: “Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang terhadapnya.” Dalam hadits ini Alloh menetapkan tiga wujud: diri-Nya, wali-Nya, musuh-Nya. Maka bagaimana kalian jadikan mereka satu dzat saja?!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:150%;">2|   Alloh mengatakan: “Tidaklah hamba-Ku melakukan suatu amalan yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan pada mereka, kemudian hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan perkara sunnah sehingga Aku mencintainya.”</p>
<ul>
<li>Jadi Alloh menetapkan adanya hamba yang mendekatkan diri kepada Alloh dengan kewajiban dan sunnah dan bahwasanya dia senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya sehingga Alloh mencintainya. Hal itu menunjukkan adanya hamba dan Rabb, Yang mencintai dan yang dicintai, yang beribadah dan Yang diibadahi. <strong>Lantas bagaimana kalian jadikan keduanya satu dzat saja</strong>?!</li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:150%;">3|   Alloh mengatakan: “Apabila Aku mencintainya maka Aku adalah pendengarannya yang dia mendengar dengannya…”</p>
<ul>
<li>Kecintaan ini diraih oleh hamba setelah dia mendekatkan diri kepada Alloh dan setelah Alloh mencintainya. Adapun menurut keyakinan wahdatul wujud bahwa Alloh adalah hamba itu sendiri, baik setelah mendekatkan diri maupun sebelumnya.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:150%;">4|   Dalam hadits ini Alloh mengkhususkan keutamaan tersebut bagi wali-Nya tetapi dalam pandangan wahdatul wujud hal itu umum mencakup seluruh makhluk baik wali maupun musuh Alloh. Kalau demikian masalahnya, <strong>lantas apa keistimewaan wali</strong>?!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:150%;">5|   Dalam hadits ini Alloh hanya menyebut pendengaran, penglihatan, tangan, dan kaki, tetapi mereka memperluasnya meliputi perut, paha, hidung dan sebagainya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:150%;">6|   Di akhir hadits, Alloh berfirman: “Kalau dia meminta kepada-Ku maka Aku akan memberinya, dan apabila dia meminta perlindungan kepada-Ku maka Aku akan melindunginya.” Hal ini sangat jelas bahwa di sana ada yang meminta dan ada Yang dimintai, ada yang meminta perlindungan dan ada Yang dimintai perlindungan. Semua ini berseberangan dengan aqidah wahdatul wujud.</p>
<ul style="text-align:left;">
<li>Adapun <strong>makna hadits ini yang benar</strong>:</li>
</ul>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:22.7pt;line-height:150%;">Sesungguhnya seorang hamba, apabila dia menunaikan perkara yang diwajibkan Alloh padanya kemudian berusaha menambahinya dengan perkara-perkara sunnah dengan segala kemampuannya, niscaya Alloh akan mencintainya dan menolongnya dalam segala urusannya, kalau dia mendengar maka dia pendengarannya mendapatkan bimbingan Alloh sehingga tidak mendengar kecuali kebaikan, tidak menerima kecuali kebenaran dan menolak kebatilan. Dan apabila dia memandang dengan penglihatannya, dia memandang dengan cahaya dan hidayah dari Alloh, sehingga dia memandang kebenaran dan mengikutinya, dan memandang kebatilan dan menjauhinya. Demikian pula apabila dia berjalan, maka dia berjalan dengan bimbingan Alloh sehingga dia berjalan dalam ketaatan kepada Alloh seperti mencari ilmu, jihad, dakwah, silaturrahmi dan sebagainya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:22.7pt;line-height:150%;">Walhasil, seluruh amalannya, kekuatannya, dan anggota badannya dalam hidayah Alloh, penjagaan-Nya dan taufiq-Nya. <a name="_ftnref17" href="#_ftn17"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[17]</span></span><!--[endif]--></span></a></p>
</blockquote>
<ul style="text-align:left;">
<li><strong>Al-Hafizh Ibnu Rajab</strong> berkata: “Apabila kecintaan dan pengagungan kepada Alloh memenuhi hati seorang hamba maka setiap apa pun selain-Nya akan terhapus dari hatinya, sehingga tidak tersisa pada diri hamba sesuatu pun dari hawa dan keinginannya kecuali sesuai dengan apa yang dicintai Alloh. Ketika itulah dia tidak berucap kecuali dengan mengingat-Nya, tidak bergerak kecuali dengan perintah-Nya, bila dia berbicara, berjalan, mendengar, melihat semuanya dengan bimbingan dari Alloh. Inilah maksud dari sabda beliau: ‘Aku adalah pendengarannya, pandangannya, tangannya, dan kakinya.’ Siapa pun yang menafsirkan selain ini, maka sesungguhnya dia mengisyaratkan kepada aqidah <em>hulul </em>dan wahdatul wujud yang Alloh dan Rasul-Nya berlepas diri darinya.”<a name="_ftnref18" href="#_ftn18"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[18]</span></span><!--[endif]--></span></a></li>
</ul>
<ul style="text-align:left;">
<li><strong>Abu Sulaiman al-Khaththabi</strong> berkata: “Semua perumpamaan yang digambarkan oleh Nabi ini maksudnya adalah –<em>Wallohu A’lam</em>– bahwa Alloh memberikan taufiq kepadanya untuk melakukan amalan dengan anggota badannya tersebut, yakni Alloh memudahkannya dengan anggota badan tersebut untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dicintai oleh Alloh dan menjaganya dari terjerumus kepada perbuatan yang dibenci Alloh berupa mendengarkan ucapan batil dan sia-sia dengan pendengarannya, memandang hal yang haram dengan matanya, berjalan menuju keharaman dengan kakinya. Atau bisa jadi maksud hadits ini adalah lekasnya terkabulkannya do’a wali sebab usaha manusia itu adalah dengan empat anggota tubuh tersebut.” <a name="_ftnref19" href="#_ftn19"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[19]</span></span><!--[endif]--></span></a></li>
</ul>
<ul style="text-align:left;">
<li>Samahatusy<strong> Syaikh Abdul Aziz bin Baz</strong> juga berkata: “Seorang yang <strong>sedikit saja memiliki bekal ilmu bahasa Arab</strong> tidak akan memahami bahwa maksud hadits ini bahwa Alloh adalah pendengaran manusia, penglihatannya, tangan, dan kakinya. Maha Suci Alloh dari ucapan mereka. Tetapi maksudnya adalah bahwa Alloh memberikan taufiq kepada para wali-Nya dalam setiap gerakan mereka disebabkan ketaatan mereka kepada-Nya.” <a name="_ftnref20" href="#_ftn20"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[20]</span></span><!--[endif]--></span></a>Demikianlah makna hadits ini secara benar sebagaimana dipahami oleh para ulama ahli hadits semenjak dahulu hingga sekarang. Peganglah ucapan mereka dan cukuplah hal itu sebagai pedoman bagi kita.</li>
</ul>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;">إِذَا قَالَتْ حَذَامِ فَصَدِّقُوْهَا</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;">فَإِنَّ الْقَوْلَ مَا قَالَتْ حَذَامِ</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><em>Apabila Hadhami<a name="_ftnref21" href="#_ftn21"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[21]</span></strong></span><!--[endif]--></span></a> berucap maka benarkanlah</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><em>Karena kebenaran pada dirinya</em>.</p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:150%;"><strong><br />
</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:150%;"><strong>E. Fawa’id Hadits<sup>(<a name="_ftnref22" href="#_ftn22"><!--[if !supportFootnotes]--><sup><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[22]</span></sup><!--[endif]--></a>) [Pelajaran yang Bisa Dipetik]<br />
</sup></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:22.7pt;line-height:150%;">Hadits ini memiliki banyak faedah. Al-Hafizh asy-Syaukani menulis kitab khusus tentang penjelasan hadits ini berjudul <em>Qathrul Walyi bi Syarhi Hadits Wali</em>. Di antara faedah yang dapat dipetik dari hadits ini sebagai berikut:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:150%;"><strong>1|   Keutamaan para wali (kekasih) Alloh</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:22.7pt;line-height:150%;">Tetapi siapakah yang disebut wali Alloh?! Mereka adalah setiap hamba yang beriman dan bertaqwa kepada Alloh, sebagaimana firman-Nya, yang artinya:</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><em>Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Alloh itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih. (Yaitu) orang-orang beriman dan mereka selalu bertaqwa</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;">(QS. Yunus [10]: 62-63)</p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:150%;"><strong>2|   Sifat utama wali Alloh</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:22.7pt;line-height:150%;">Sifat mereka adalah melaksanakan kewajiban dan menambahinya dengan perkara sunnah. Oleh karenanya, jangan tertipu dengan penampilan para wali gadungan dari para tukang sihir dan penyimpang yang <em>doyan</em> kesyirikan, kebid’ahan, dan kemaksiatan, sekalipun mereka menampakkan kedigdayaan dan keluarbiasaan, sebab semua itu adalah tipu daya setan.</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;">إِذَا رَأَيْتَ شَخْصًا يَطِيْرُ</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;">وَفَوْقَ مَاءِ الْبَحْرِ قَدْ يَسِيْرُ</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;">وَلَمْ يَقِفْ عَلَى حُدُوْدِ الشَّرْعِ</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;">فَإِنَّهُ مُسْتَدْرَجٌ بِدْعِيْ</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><em>Bila engkau lihat seorang dapat terbang</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><em>Dan berjalan di atas lautan</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><em>Padahal dia tidak menaati tatanan syari’at</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><em>Maka ketahuilah bahwa dia ahli bid’ah yang dimanja</em>.<em> </em></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:150%;"><strong>3|   Bahaya menyakiti para wali</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:22.7pt;line-height:150%;">Menyakiti para wali Alloh merupakan dosa besar, sebab Alloh menyatakan perang terhadapnya. Maka celakalah orang-orang yang mencela para nabi<sup>(<a name="_ftnref23" href="#_ftn23"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[23]</span></span><!--[endif]--></span></a>)</sup>, para sahabat nabi, dan para ulama salafush shalih.<sup>(<a name="_ftnref24" href="#_ftn24"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[24]</span></span><!--[endif]--></span></a>)</sup></p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><em>Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminah tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;">(QS. al-Ahzab [33]: 58)</p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:22.7pt;line-height:150%;"><strong>Al-Hafizh Ibnu Katsir</strong> berkata dalam <em>Tafsir</em>nya (4/481):</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:22.7pt;line-height:150%;">“Barisan yang pertama kali masuk dalam ancaman ayat ini adalah orang-orang yang kafir kepada Alloh dan Rasul-Nya, kemudian kaum Rafidhah (Syi’ah) yang biasa mencela para sahabat dan menuduh mereka yang bukan-bukan serta menyifati mereka berlainan tajam dengan sifat yang diberikan Alloh kepada mereka, di mana Alloh memuji mereka dan mengkhabarkan bahwa Dia telah ridha kepada kaum Muhajirin dan Anshar, tetapi orang-orang jahil dan tolol itu mencela dan menghina mereka, dan menuduh mereka yang bukan-bukan. Sungguh mereka adalah manusia yang terbalik hatinya, mencela manusia terpuji dan memuji manusia tercela.”</p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:150%;"><strong>4|   Menetapkan “perang” bagi Alloh</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:22.7pt;line-height:150%;">Alloh telah menyebutkan juga tentang riba, yang artinya:</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><em>&#8220;Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Alloh dan rasul-Nya akan memerangimu.</em>&#8220;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;">(QS. al-Baqarah [2]: 279)</p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:150%;"><strong>5|   Menetapkan sifat “cinta” bagi Alloh.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:150%;"><strong>6|   Perintah Alloh terbagi menjadi dua, ada yang wajib dan ada yang sunnah.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:150%;"><strong>7|   Anjuran memperbanyak amalan sunnah.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:150%;"><strong>8|   Banyak mengamalkan perkara sunnah merupakan sebab kecintaan Alloh.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:150%;"><strong>9|   Sesungguhnya Alloh apabila mencintai seorang hamba, maka Alloh akan mengabulkan do’anya dan memenuhi permintaannya.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:150%;"><strong>10| Seorang hamba akan merasakan dekat kepada Alloh ketika dia beramal shalih.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:22.7pt;line-height:150%;">Demikianlah pembahasan kita kali ini, kami mengajak diri kami dan saudara kami untuk mempertebal keimanan dan ketaqwaan kepada Alloh, semoga Alloh menjadikan kita semua termasuk wali-wali-Nya. <em>Amiin</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:150%;">artikel: [<a href="http://abiubaidah.com/about/">www.abiubaidah.wordpress.com</a> ]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:150%;">.</p>
<div style="text-align:left;"><!--[if !supportFootnotes]--><strong>Catatan kaki:</strong></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"> <em>Majmu Fatawa</em> Ibnu Taimiyah 28/131.</span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"> Demikianlah yang lebih tepat dalam bahasa Arab, dengan memfathah huruf wawu, sekalipun yang lebih populer adalah wihdatul wujud, dengan mengkasrah wawu.</span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"> <em>Majmu Fatawa</em> 2/132.</span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"> Dalam bahasa Arab ada sebuah kata hikmah <em>“<strong>Mukrahun Akhuka La Bathal</strong>”</em> (Saudaramu terpaksa, padahal sebenarnya dia tidak berani), sebagaimana dalam <em>Majma’ Amtsal</em> (hal. 274) oleh al-Maidani. <strong>Imam as-Suyuthi</strong> juga pernah mengatakan: </span></p>
<blockquote>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US">“Ketahuilah wahai saudaraku –semoga Alloh merahmatimu– bahwa di antara ilmu ada yang seperti obat, dan di antara pendapat ada yang seperti tempat buang hajat yang tidak diingat kecuali ketika dibutuhkan saja.” (<em>Miftahul Jannah</em> hal. 5)</span></p>
</blockquote>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"> Dia adalah seorang <strong>dedengkot Sufi</strong>, pengibar bendera wahdatul wujud (wafat 638 H). Dia mempunyai berbagai <strong>pemikiran kufur</strong>. Oleh karenanya, para ulama menganggapnya sesat bahkan tak sedikit yang mengkafirkannya. <strong>Syaikh Burhanuddin al-Biqa’i</strong> (885 H) menulis sebuah kitab berjudul <strong><em>Tanbih al-Ghabiyyi ’ala Takfir Ibni Arabi</em></strong> sebanyak 241 halaman. Dalam kitab tersebut, beliau menukil <strong>±50 ulama</strong> yang mengkafirkan atau minimal menganggapnya sesat; di antaranya:</span></p>
<ul>
<li><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US">al-Izz bin Abdussalam,</span></li>
<li><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US">Ibnu Daqiq al-’Ied,</span></li>
<li><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US">Ibnu Shalah,</span></li>
<li><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US">al-Hafizh Ibnu Hajar,</span></li>
<li><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US">al-Bulqini,</span></li>
<li><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US">al-Iraqi,</span></li>
<li><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US">Abu Zur’ah al-Iraqi,</span></li>
<li><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US">al-’Aini, adz-Dzahabi,</span></li>
<li><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US">Badruddin bin Jama’ah,</span></li>
<li><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US">al-Jazari,</span></li>
<li><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US">Ibnu Hisyam,</span></li>
<li><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US">as-Subki,</span></li>
<li><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US">Abu Hayyan,</span></li>
<li><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US">dan lainnya. (Lihat pula <strong><em>Mashra’ Tashawwuf</em></strong> hal. 138-168 oleh <strong>Burhanuddin al-Biqa’i</strong> dan <strong><em>ar-Radd ’ala ar-Rifa’i wa al-Buthi</em></strong> hal. 111-113 oleh <strong>Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad</strong>)</span></li>
</ul>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"> <strong>Al-Hafizh adz-Dzahabi</strong> berkata dalam <em>Siyar A’lamin Nubala’</em> (23/48): </span></p>
<blockquote>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US">“Di antara karya tulisnya (Ibnu Arabi) yang paling jelek adalah kitab <em>Fushus</em>, sebab kalau di dalamnya itu bukan kekufuran, maka tidak ada kekufuran di dunia ini. Kita memohon kepada Alloh ampunan dan keselamatan.”</span></p>
</blockquote>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"><strong>Ismail Abul Fida’</strong> dalam kitabnya <em>Akhbar Basyar</em> (4/79) menyebutkan: “Pada tahun 744 H, kami merobek kitab <em>Fushus Hikam</em> karya Muhyiddin Ibnu Arabi di madrasah ’Ushfuriyah di kota Halab usai pelajaran sebagai peringatan akan haramnya menelaah dan memiliki kitab tersebut. Saya berkata tentangnya:</span></p>
<blockquote>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:center;"><em><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US">Ini adalah Fushus (batu mata cincin) yang tiada berharga</span></em></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:center;"><em><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US">Saya telah membaca ukirannya tetapi pahalanya ada pada sebaliknya.</span></em><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:center;"><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US">(Lihat pula <em>Kutub Hadzara Minha al-Ulama</em> 1/37 oleh Syaikh Masyhur Hasan Salman).</span></p>
</blockquote>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US">Anehnya, kitab ini telah <strong>disyarah oleh kurang lebih seratus lebih ulama Sufi</strong>, tiga di antara mereka adalah murid-murid Ibnu Arabi sendiri!! (Lihat <em>Muallafat Ibnu Arabi</em> hal. 479 oleh Utsman Yahya, <em>Aqidah Shufiyyah</em> hal. 158 oleh DR. Ahmad bin Abdul Aziz)</span></p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn7" href="#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"> <em>al-Luma’ fi Tashawwuf</em> hal. 461 oleh Abdullah ath-Thusi, tahqiq Abdul Halim Mahmud, sebagaimana dalam <em>ar-Rudud Ilmiyyah fi Dahdzi Abathil Shufiyyah</em> hal. 266 oleh DR. Muhammad bin Ahmad al-Juwair.</span></p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a name="_ftn8" href="#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"> <em>al-Muwafaqat</em> 3/52.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText"><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"> </span></p>
</div>
<div id="ftn9">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn9" href="#_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"> <em>al-Furqan baina Auliya’ Rahman wa Auliya’ Syaithan</em> hal. 50.</span></p>
</div>
<div id="ftn10">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a name="_ftn10" href="#_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"> <em>Majmu’ Fatawa</em> 18/129.</span></p>
</div>
<div id="ftn11">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a name="_ftn11" href="#_ftnref11"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"> Lihat <em>Mizan I’tidal</em> 1/64 adz-Dzahabi: biografi Khalid bin Makhlad, <em>Jami’ul Ulum wal Hikam</em> 2/330-331 Ibnu Rajab, <em>Tafsir al-Manar</em> Rasyid Ridha: surat Yunus [10]: 62-63, <em>as-Sunnah Nabawiyyah</em> Muhammad Ghazali: hal. 77 cet. Keenam.</span></p>
</div>
<div id="ftn12">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn12" href="#_ftnref12"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"> Diringkas dari <em>Silsilah Ahadits ash-Shahihah</em> (4/184-190/no.1640) oleh al-Muhaddits al-Albani.</span></p>
</div>
<div id="ftn13">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn13" href="#_ftnref13"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"> Dan hal ini merupakan salah satu bukti di antara banyak bukti pembelaan dan penghormatan Syaikh al-Albani terhadap <em>Shahih Bukhari-Muslim</em>, berbeda dengan anggapan sebagian kalangan. Lihat uraian penulis tentang masalah ini secara agak luas dalam bukunya “Syaikh al-Albani Dihujat” hal. 75-80. Semoga Allah memudahkan kami untuk mencetak ulang buku ini kembali.</span></p>
</div>
<div id="ftn14">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn14" href="#_ftnref14"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[14]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"> Dinukil dengan beberapa tambahan dari kitab <em>Aqidah Shufiyyah Wihdatul Wujud Khafiyyah</em> (hal. 564-566) oleh DR. Ahmad bin Abdul Aziz al-Qushayyir, cet. Maktabah ar-Rusyd.</span></p>
</div>
<div id="ftn15">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a name="_ftn15" href="#_ftnref15"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[15]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"> Lihat <em>Fushus Hikam</em> hal. 189 Ibnu Arabi, <em>Thabaqat Kubra</em> 2/24 asy-Sya’rani, <em>Syarh Fushus Hikam</em> 1/19 al-Qaishari, <em>Iqadhul Himam</em> hal. 52 Ibnu Ajibah, <em>Syarh Jawahir Nushus</em> hal. 47 an-Nabilisi.</span></p>
</div>
<div id="ftn16">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn16" href="#_ftnref16"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[16]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"> Alangkah bagusnya ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: </span></p>
<blockquote>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US">“<strong>Setiap ayat yang digunakan oleh ahli bid’ah maka pada ayat itu sendiri terdapat dalil yang membantah ucapannya, dan setiap dalil akal yang digunakan oleh ahli bid’ah maka pada dalil itu sendiri terdapat dalil yang menunjukkan kerusakan ucapannya</strong>.” (Lihat <em>al-Aqud ad-Durriyyah</em> hal. 39 oleh muridnya, Ibnu Abdil Hadi)</span></p>
</blockquote>
</div>
<div id="ftn17">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a name="_ftn17" href="#_ftnref17"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[17]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"> Lihat <em>Majmu’ Fatawa</em> 2/341 Ibnu Taimiyah, <em>ad-Da’ wa Dawa’</em> hal. 315-319 Ibnul Qayyim, <em>Fathul Bari</em> 11/344 Ibnu Hajar, <em>Qathrul Walyi bi Syarhi Hadits Wali</em> hal. 428-429 asy-Syaukani, <em>Fatawa Lajnah Da’imah</em> 3/158, <em>Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin</em> 1/257-258.</span></p>
</div>
<div id="ftn18">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a name="_ftn18" href="#_ftnref18"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[18]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"> <em>Jami’ul Ulum wal Hikam</em> 2/347.</span></p>
</div>
<div id="ftn19">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a name="_ftn19" href="#_ftnref19"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[19]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"> <em>Syarh Sunnah</em>, al-Baghawi, 5/20.</span></p>
</div>
<div id="ftn20">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a name="_ftn20" href="#_ftnref20"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[20]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"> <em>Majmu’ Fatawa wa Maqalat</em> 3/66-67.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText"><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"> </span></p>
</div>
<div id="ftn21">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn21" href="#_ftnref21"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[21]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"> <strong>Hadzami</strong> adalah nama wanita, istri seorang penyair. Makna bait ini:</span></p>
<blockquote>
<ul>
<li><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US">“Wanita ini dalam setiap ucapannya selalu benar, sehingga apabila dia mengatakan suatu ucapan maka ketahuilah bahwa itu adalah ucapan yang paten, tidak boleh diselisihi, kalian harus membenarkannya dan meyakini ucapannya.” (<em>Sabilul Huda bi Tahqiq Syarh Qathr Nada</em>, Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, hal. 35). </span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US">Dialah yang digelari dengan <strong>Zarqa’ Yamamah</strong>, yang konon ceritanya dapat melihat sesuatu yang jaraknya sejauh perjalanan tiga hari dengan mata kepalanya. Dan ketika dia terbunuh, dilihat ternyata pangkal matanya penuh dengan celak mata Itsmid. (Lihat <em>Khizanatul Adab</em> oleh al-Baghdadi 10/255 dan <em>Syarh Mumti’</em> 1/157 oleh Syaikh Ibnu Utsaimin).</span></li>
</ul>
</blockquote>
</div>
<div id="ftn22">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn22" href="#_ftnref22"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[22]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"> Dinukil –dengan beberapa tambahan– dari <em>Syarh Arba’in Nawawiyyah</em> (hal. 409-412) oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.</span></p>
</div>
<div id="ftn23">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn23" href="#_ftnref23"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[23]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"> Beberapa bulan lalu, kita dibuat heboh oleh kelakuan jahat beberapa warga Denmark yang menampilkan gambar karikatur Nabi Muhammad yang penuh dengan bom dan rudal di kepalanya. Tapi yakinlah bahwa hal itu adalah <strong>pertanda kehancuran mereka sendiri</strong>, sebab Alloh telah berjanji untuk menghancurkan orang-orang yang merendahkan beliau (QS. al-Kautsar [108]: 3). </span></p>
<ul>
<li><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"><strong>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</strong> berkata dalam kitabnya <em>ash-Sharimul Maslul</em> (hal. 165): “Setiap orang yang melecehkan Nabi, membencinya, dan memusuhinya, maka Alloh pasti membinasakannya dan melenyapkannya.” Salah satu yang telah terbukti, baru beberapa hari kemudian dari ulah perbuatan mereka, negara Denmark langsung mengalami kerugian besar dalam perekonomiannya disebabkan pemboikotan negara-negara Islam terhadap produk-produknya!! Maha Benar Alloh.</span></li>
</ul>
</div>
<div id="ftn24">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn24" href="#_ftnref24"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[24]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"> Alangkah indah ucapan<strong> Imam Syafi’i:</strong></span></p>
<blockquote>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US">“Kalau para ulama bukan wali Alloh, maka saya tidak tahu siapakah mereka?” Oleh karenanya, barangsiapa yang merendahkan dan mencela para ulama Sunnah, maka dia berada di ambang kehancuran.<strong> </strong></span></p>
</blockquote>
<ul>
<li><span style="font-size:8pt;" lang="EN-US"><strong>Imam Ibnu Asakir</strong> berkata dalam <em>Tabyin Kadzib al-Muftari</em> (hal. 29): “Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa daging para ulama –semoga</span> <span style="font-size:8pt;" lang="EN-US">Alloh merahmati mereka– beracun. Alloh pasti menyingkap tirai para pencela mereka, karena menuduh dan menodai kehormatan mereka merupakan perbuatan dosa besar.”</span></li>
</ul>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/kita-tidak-mungkin-bersatu-dengan-allah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mungkinkah Kita Masuk Surga karena Amal yang Telah Kita Lakukan?</title>
		<link>http://abiubaidah.com/tanya-jawab-masuk-surga-amal.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/tanya-jawab-masuk-surga-amal.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 02:14:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=248</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apakah seorang hamba masuk surga karena amalnya? Jawab: Ini merupakan masalah yang sangat penting, yang telah disalahpahami oleh beberapa kelompok yang tidak memahami agama Islam secara benar. Kami katakan, “Amal shalih seorang hamba merupakan penyebab masuk surga.” Alloh Ta’ala berfirman: وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fabiubaidah.com%2Ftanya-jawab-masuk-surga-amal.html%2F">
										</iframe>
										</div><p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<blockquote><p>Apakah seorang hamba masuk surga karena amalnya?</p></blockquote>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-252" title="selamat datang di abiubaidah.wordpress.com" src="http://abiubaidah.files.wordpress.com/2009/10/tanda-tanya-1.jpg" alt="selamat datang di abiubaidah.wordpress.com" width="149" height="149" />Ini merupakan masalah yang sangat penting, yang telah disalahpahami oleh beberapa kelompok yang tidak memahami agama Islam secara benar. Kami katakan,</p>
<blockquote><p><strong>“Amal shalih seorang hamba merupakan penyebab masuk surga.”</strong></p></blockquote>
<ul>
<li>Alloh Ta’ala berfirman:<span id="more-248"></span></li>
</ul>
<blockquote><p><span style="font-family:Traditional Arabic;font-size:large;">وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا<strong> بِمَا</strong> كُنتُمْ تَعْمَلُونَ </span></p>
<p>Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan. (QS. az-Zukhruf: 72)</p></blockquote>
<ul>
<li>Dan Alloh juga berfirman:</li>
</ul>
<blockquote><p><span style="font-family:Traditional Arabic;font-size:large;"> ادْخُلُواْ الْجَنَّةَ <strong>بِمَا </strong>كُنتُمْ تَعْمَلُونَ </span></p>
<p>Masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan. (QS. an-Nahl: 32)</p></blockquote>
<p>Huruf <strong>ب (ba’)</strong> dalam ayat di atas disebut<strong> <em>ba’ sababiyah</em></strong> (yang menunjukkan arti sebab). Artinya, dengan sebab amal-amal kalian.</p>
<p>Adapun hadits Nabi -shallallallahu ‘alahi wa sallam- bahwa beliau bersabda:</p>
<blockquote><p>لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ أَحَدٌ<strong> بِعَمَلِهِ</strong> قِيْلَ وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللهُ بِرَحْمَتِهِ<br />
Tidaklah seseorang masuk surga <strong>dengan amalnya</strong>. Ditanyakan, “Sekalipun engkau wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Sekalipun saya, hanya saja Alloh telah memberikan rahmat kepadaku.” (HR. Bukhari 5673, Muslim 2816)</p></blockquote>
<p>Huruf<strong> ب (ba’) </strong>pada hadits ini disebut ba’ iwadh wal muqabalah (yang menunjukkan sebagai ganti). Seperti orang mengatakan (misalnya), “Aku membeli kitab dengan seribu rupiah.” Jadi, maksud hadits ini amal hamba itu bukanlah sebagai ganti harga surga, namun karena kemurahan, rahmat, dan karunia Alloh.</p>
<p>Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa (8/70), muridnya –al-Hafizh Ibnul Qayyim– dalam Miftah Dar as-Sa’adah (1/119-120), al-Allamah Ibnu Abil Izzi al-Hanafi dalam Syarah Aqidah Thahawiyah (hal. 438), al-Allamah Ahmad bin Ali al-Miqrizi dalam Kitab Tajrid Tauhid Mufid (hal. 108-109).<br />
Memang, di sana ada penjelasan lainnya dalam mengkompromikan antara ayat dengan hadits di atas sebagaimana dipaparkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Bari (13/85-86). Silakan melihatnya.</p>
<ul>
<li>Dan dalam masalah ini ada <strong>dua kelompok yang tersesat</strong>:</li>
</ul>
<ol>
<li> <strong>Kelompok pertama</strong>, yaitu orang-orang yang mengimani takdir tanpa mengambil sebab-sebab yang disyari’atkan serta amalan-amalan shalih sehingga mereka kufur terhadap kitab-kitab dan para rasul Alloh.</li>
<li> <strong>Kelompok kedua</strong>, yaitu orang-orang yang menuntut pahala dari Alloh layaknya pekerja pada majikannya, karena mereka beranggapan penuh akan kebaikan amal mereka. Kelompok ini adalah manusia-manusia jahil dan tersesat, sebab bila Alloh memerintah atau melarang hamba-Nya, itu bukan berarti Alloh butuh terhadap mereka, tetapi demi kebaikan mereka sendiri. (lihat Majmu’ Fatawa 8/71)</li>
</ol>
<p>dijawab oleh:</p>
<p><a href="http://abiubaidah.com"><strong>Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi</strong></a></p>
<p><a href="http://abiubaidah.com">http://abiubaidah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/tanya-jawab-masuk-surga-amal.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
