<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi &#187; Faidah Ilmiyah</title>
	<atom:link href="http://abiubaidah.com/category/faidah-ilmiyah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abiubaidah.com</link>
	<description>Membela Agama dengan Ilmu dan Hujjah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 25 May 2010 01:56:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>10 FAEDAH TENTANG THAHARAH</title>
		<link>http://abiubaidah.com/10-faedah-tentang-thaharah-2.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/10-faedah-tentang-thaharah-2.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 May 2010 07:49:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Faidah Ilmiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=691</guid>
		<description><![CDATA[KENAPA THAHARAH DULU? Kalau anda membuka kitab-kitab fiqih, niscaya akan anda dapati bahwa para ulama memulainya dengan kitab thaharah. Apa rahasia dan sebabnya?! Minimal ada tiga alasan di balik itu semua: Pertama: Karena thaharah merupakan syarat sahnya shalat yang merupakan ibadah yang paling utama. Kedua: Pembersihan itu sebelum perhiasan. Seperti kalau ada anak putri yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fabiubaidah.com%2F10-faedah-tentang-thaharah-2.html%2F">
										</iframe>
										</div><p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong><img class="alignnone" title="10 FAIDAH TENTANG THAHARAH" src="http://akhawat.islamway.com/forum/uploads/post-25674-1171811528.jpg" alt="" width="428" height="373" /></strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>KENAPA THAHARAH DULU?</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kalau anda membuka kitab-kitab fiqih, niscaya akan anda dapati bahwa <em>para ulama memulainya dengan kitab thaharah</em>. Apa rahasia dan sebabnya?! Minimal ada <em>tiga </em>alasan di balik itu semua:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pertama:</strong> Karena thaharah merupakan <em>syarat sahnya shalat</em> yang merupakan ibadah yang paling utama. <strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kedua:</strong> <em>Pembersihan itu sebelum perhiasan</em>. Seperti kalau ada anak putri yang masih kotor penuh debu dan kita ingin memakaikan padanya baju baru dan perhiasan, apakah akan langsung kita pakaikan ataukah kita memandikannya terlebih dahulu?! Demikian pula thaharah, dia adalah pembersihan dan shalat adalah perhiasannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ketiga:</strong> Sebagaimana seorang membersihkan badannya maka hendaknya dia juga membersihkan hatinya. Hal ini merupakan peringatan kepada pembaca atau penuntut ilmu agar <em>meluruskan niatnya terlebih dahulu dari kotoran-kotoran hati. </em> <a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p><span id="more-691"></span></p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="color: #ff0000;">RENUNGAN AYAT</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>Seorang wanita yang sedang haidh tidak boleh digauli suaminya  sehingga dia suci terlebih dahulu kemudian mandi darinya atau bertayammum</em>. Hal ini merupakan <em>madzhab mayoritas</em> ulama seperti Malik, Ahmad dan Syafi&#8217;i. Allah berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>وَيَسْئَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَآءَ فِي الْمَحِيضِ وَلاَتَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا <span style="color: #ff0000;">تَطَهَّرْنَ </span>فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللهُ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah:&#8221;Haidh itu adalah suatu kotoran&#8221;. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. <span style="color: #ff0000;">Apabila mereka telah mandi</span>, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintakan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.</em><a href="#_ftn2"><em><strong>[2]</strong></em></a><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Mujahid berkata: (<strong>يَطْهُرْنَ</strong>) yakni suci dari darah haidh, adapun  <em><strong>(</strong><strong>تَطَهَّرْنَ</strong><strong>)</strong> yakni mandi dengan air</em>. Sebagian Zhohiriyyah<a href="#_ftn3">[3]</a> mengatakan: Maksud (<strong>تَطَهَّرْنَ</strong>) adalah membersihkan farji mereka, tetapi pendapat ini tidak benar karena Allah berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا</strong><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Dan jika kamu junub maka mandilah,</em><em> </em><a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Jadi kata (<strong>تَطَهَّرَ </strong><strong> </strong>) dalam al-Qur&#8217;an maksudnya adalah <em>mandi</em>. <a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="color: #ff0000;">SUCINYA AIR</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Suatu saat <strong>Abu Bakar al-Abhari</strong> ahli fiqih pernah duduk bersama <strong>Yahya bin Sha&#8217;id</strong> ahli hadits, lalu ada seorang wanita datang melontarkan pertanyaan kepada Yahya bin Sha&#8217;id: &#8220;Wahai syeikh! Bagaimana menurut anda tentang sumur yang kejatuhan bangkai ayam, apakah airnya tetap suci ataukah menjadi najis?!&#8221; Yahya menjawab: &#8220;</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Lho, gimana ayam kok bisa jatuh di sumur?!</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Wanita itu menjawab: &#8220;Karena memang sumurnya tidak tertutup&#8221;. Yahya berkata lagi: &#8220;Kenapa kamu tidak menutupinya agar tidak kejatuhan sesuatu yang tidak diinginkan&#8221;. Mendengar <strong>Yahya yang mengelak</strong> dari memberikan jawaban memuaskan, maka <strong>al-Abhari langsung berkata</strong>:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">&#8220;<em>Wahai saudariku, apabila air di sumur tersebut berubah maka najis tetapi kalau tidak maka dia tetap suci</em>&#8220;.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Kisah ini memberikan faedah kepada kita akan <em>pentingnya mempelajari fiqih</em>. Sungguh<em> ilmu fiqih merupakan ilmu yang paling utama</em><a href="#_ftn6">[6]</a>. Apabila anda ingin mengetahui betapa agungnya kedudukan fiqih, maka lihatlah kedudukan al-Ashma&#8217;I dalam bahasa, Sibawaih dalam Nahwu, Ibnu Ma&#8217;in dalam rawi hadits, lalu bandingkah dengan kedudukan Imam Ahmad dan Syafi&#8217;I dalam fiqih!!. <a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>MANDI BESAR DAN JUMAT</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Apabila berkumpul jinabat dengan mandi jumat, jinabat dan haidh, jum&#8217;at dan mandi hari raya. Bolehkah digabung jadi satu ataukah harus mandi dua kali untuk masing-masing?!  Masalah ini <em>diperselisihkan ulama</em><a href="#_ftn8">[8]</a>. <em>Pendapat yang kuat adalah <strong>boleh</strong><strong> apabila dia meniatkan keduanya</strong></em>, berdasarkan zhahir keumuman dua hadits berikut:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ </strong><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Sesungguhnya semua amalan itu bergantung pada niatnya.</em><a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>مَنْ غَسَّل وَاغْتَسَلَ وَبَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَدَنَا مِنَ الإِمَامِ فَأَنْصَتَ, كَانَ بِكُلِّ خَطْوَةٍ يَخْطُوْهَا صِيَامُ سَنَةٍ وَقِيَامُهَا, وَذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيْرٌ</strong><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em><span style="color: #ff0000;">Barangsiapa yang menggauli isterinya<a href="#_ftn10"><strong>[10]</strong></a> kemudian mandi</span>, berpagi-pagi, dekat dengan imam dan mendengarkan khutbah, maka setiap langkah yang dia langkahkan seperti puasa dan shalat malam selama satu tahun. Hal itu sangat mudah bagi Allah.</em><a href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Pendapat ini dikuatkan oleh <strong>mayoritas ulama</strong>. <strong>Ibnu Mundzir</strong> berkata:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">&#8220;<em>Mayotitas ahli ilmu</em> yang kami ketahui berpendapat bahwa seorang yang<em> mandi untuk jinabat dan jum&#8217;at dalam sekali mandi, hal itu sudah cukup</em>&#8220;.<a href="#_ftn12">[12]</a></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>AWAS! ITU TIPU DAYA IBLIS!</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Diceritakan bahwa ada seorang pernah berkata kepada Imam <strong>Ibnu Aqil</strong>:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Saya menyelam dalam air berkali-kali, namun saya ragu apakah sah mandiku ataukah tidak, bagaimana pendapat anda?!</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Aqil menjawab:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><em>Pergilah, karena engkau telah gugur dari kewajiban shalat</em>. Orang itu bertanya: Bagaimana bisa seperti itu?! Beliau menjawab: Karena Nabi telah bersabda:</p>
</blockquote>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><strong>رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ عَنِ الْمَجْنُوْنِ حَتَّى يَفِيْقَ وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ</strong></p>
</blockquote>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Diangkat pena dari tiga golongan, <span style="color: #ff0000;"><strong>orang gila</strong></span> sehingga sadar, orang tidur hingga bangun, dan anak kecil hingga baligh&#8221;.</em></p>
</blockquote>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Nah, kalau ada orang yang menyelam di air berkali-kali tapi kok masih ragu apakah sah mandinya ataukah tidak, dia <em>termasuk kategori orang gila</em>.<a href="#_ftn13">[13]</a></p>
</blockquote>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>DOA KELUAR-MASUK WC</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْخَلاَءَ قَالَ: اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنَ <span style="color: #ff0000;">اْلخُبُثِ </span>وَ <span style="color: #ff0000;">اْلخَبَائِثِ</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dari Anas bin Malik berkata: Nabi apabila hendak<a href="#_ftn14">[14]</a> masuk wc beliau berdoa: &#8220;Ya Allah, Aku berlindung kepada-Mu dari segala kejelekan/gangguan Syaithon laki-laki dan Syaithon perempuan&#8221;.<a href="#_ftn15"><em><strong>[15]</strong></em></a><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Dalam lafadz ( </em><strong><em>اْلخُبُثِ</em></strong><em> ) ada <span style="color: #ff0000;">dua </span>bacaan; dengan <span style="color: #ff0000;">dhommah </span>dan <span style="color: #ff0000;">sukun</span>. Kalau dengan sukun (</em><span style="color: #ff0000;"><strong><em>اْلخُبْثِ</em></strong></span><em>) maksudnya adalah <span style="color: #ff0000;">segala kejelekan</span>, sedangkan dengan dhommah (</em><span style="color: #ff0000;"><strong><em>اْلخُبُثِ</em></strong></span><em><span style="color: #ff0000;"> </span>) adalah <span style="color: #ff0000;">syetan lelaki</span>. Riwayat dengan sukun lebih umum, oleh karenanya riwayat mayoritas ahli hadits adalah dengan sukun<a href="#_ftn16"><strong>[16]</strong></a>. </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Adapun hikmah doa ini sangat jelas, sebab wc adalah tempat kotor dan makhluk jahat seperti syetan, maka <strong>dianjurkan untuk memohon perlindungan kepada Allah dari segala kejahatan dan kejelekan, diantaranya adalah kejelekan syetan.</strong></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم : كَانَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْغَائِطِ <span style="color: #ff0000;">قَالَ: غُفْرَانَكَ</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Dari Aisyah bahwasanya Nabi apabila keluar dari wc, beliau berdoa : &#8220;Ya Allah,  aku mohon ampunan-Mu&#8221;.<a href="#_ftn17"><strong>[17]</strong></a> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Ada sebuah rahasia di balik doa ini, yaitu sebagaimana kotoran itu menyakitkan perut dan badan, demikian pula dosa, dia menyakitkan hati, maka dia <em>berdoa kepada Allah untuk meringankan beban dosa sebagaimana Allah telah meringankan dirinya dari beban kotoran</em>. Dan rahasia ucapan dan doa Nabi di atas lintasan hati seorang. <a href="#_ftn18">[18]</a></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>TIDUR, PEMBATAL WUDHU</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Apakah tidur membatalkan wudhu seorang?! Masalah ini <em>diperselisihkan para ulama</em>. Pendapat <em>yang benar adalah bahwa tidur<a href="#_ftn19">[19]</a> membatalkan wudhu</em>. Hal ini dikuatkan oleh <strong>Imam Abu Ubaid al-Qasim bin Sallam</strong> dalam kisah menarik sebagai berikut:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dahulu aku berfatwa kepada manusia bahwa orang yang tidur sambil duduk tidak perlu berwudhu lagi, sehingga suatu saat ada seorang yang duduk di sampingku pada hari jum&#8217;at, diapun tidur dan mengeluarkan angin kentut!. Akupun berkata padanya: Bangun dan berwudhulah. Dia menjawab: Saya enggak tidur kok. Aku berkata lagi padanya: Tadi kamu keluar kentut, jadi wudhumu batal! Orang itupun malah bersumpah bahkan dia mengatakan kepadaku: Malah kamu yang kentut! Sejak itulah, saya merubah pendapatku yang lama bahwa orang yang tidur sambil duduk tidak batal wudhunya. <a href="#_ftn20">[20]</a></p>
</blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="color: #ff0000;">AIR PENGGANTI TANAH</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><em>Soal: Kita semua tahu bahwa tanah adalah pengganti air, yaitu ketika seorang tidak mendapati air untuk wudhu maka dia bertayammum dengan tanah.  Nah, tahukah anda kapan air bisa menjadi pegganti tanah?!</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Jawab: <strong>Apabila ada seorang yang meninggal di kapal laut dan masih jauh dari daratan serta dikhawatirkan akan berubah baunya</strong>, maka pada kondisi seperti ini disyari&#8217;atkan untuk memandikannya, mengkafaninya, dan menyalatinya, kemudian mengikatnya dengan benda yang berat kemudian membuangnya ke laut karena tidak adanya tanah untuk menguburnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>وَمَنْ مَاتَ فِيْ بَحْرٍ قَدْ عَزَّ دَفْنُهُ</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>فَفِي الْبَحْرِ يُلْقَى وَهُوَ بِالتُّرْبِ بُدِّلاَ</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Barangsiapa mati di lautan dan berat untuk menguburnya</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Maka dilempar ke laut sebagai ganti dari tanah</em><a href="#_ftn21"><em><strong>[21]</strong></em></a><em>.</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>MENYIBAK HIKMAH</strong></span><em><br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>Sebagai seorang muslim sejati, kita beriman dengan tatanan Syari&#8217;at Islam, baik kita ketahui hikmahnya ataukah tidak</em>, namun bila penelitian menyibak hikmahnya, tentu saja hal itu akan lebih menambah kemantapan kita akan indahnya syari&#8217;at yang mulia ini. Berikut dua contoh yang telah dibuktikan oleh penelitian modern:</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam Majalah &#8220;American Family Physician&#8221; edisi bulan Maret 1990 M, dikutip komentar <strong>profesor Dizweel</strong>, seorang ketua rumah sakit di Wasingthon tentang khitan:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dahulu sekitar tahun 1975 M, saya termasuk musuh bebuyutan khitan, saya mengerahkan segala upaya untuk memerangi khitan. Hanya saja pada tahun delapan puluhan, banyak penelitian membuktikan b<em>anyaknya anak-anak yang tidak dikhitan mengalami kebengkakan pada alat saluran air seni</em>. Sekalipun demikian saya pun belum berfikir untuk menjadikan khitan sebagai solusinya. Tetapi…setelah penelitian lama dan mempelajari masalah ini dalam majalah-majalah kedokteran tentang khitan, sayapun akhirnya menemukan hasilnya sehingga saya menjadi pembela khitan untuk para anak-anak&#8221;.<a href="#_ftn22">[22]</a></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Sebagian para <strong>dokter di universitas Mesir</strong> mengadakan penelitian tentang <em>hubungan wudhu dengan kesehatan</em>, lalu mereka menghasilkan sebuah hasil yang mengejutkan! Terbukti <em>hidung orang yang tidak biasa berwudhu terlihat pucat, berminyak dan menyimpan debu. Demikian juga lubang hidung; lengket, kotor, berdebu dan rambut hidung mudah rontok.</em> Hal ini sangat berbeda dengan hidung orang yang biasa berwudhu; bersih mengkilat, tanpa mengandung debu, rambut hidungnya juga nampak jelas dan bersih dari debu&#8221;..<a href="#_ftn23">[23]</a></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>TIGA MASALAH DARAH NIFAS</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">1. Apabila seorang wanita keguguran maka ada <strong>dua </strong>kemungkinan:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pertama</strong>: <em>Janinnya belum membentuk</em>, yakni masih berupa darah atau sekerat daging maka ini adalah darah kotor, bukan darah nifas sehingga dia <em>tetap shalat</em>.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kedua</strong>: <em>Janinnya telah membentuk</em> seperti telah terlihat tangan, kaki atau kuku maka darahnya adalah <em>darah nifas</em>.<a href="#_ftn24">[24]</a></p>
<p style="text-align: justify;">2. Apabila ada seorang wanita melahirkan tetapi <em>tidak mengeluarkan darah maka dia telah suci</em>, baik melahirkannya secara tabiat yaitu lewat farji ataukah lewat perut karena operasi.<a href="#_ftn25">[25]</a></p>
<p style="text-align: justify;">3. Apabila ada seorang wanita melahirkan dua anak kembar, anak pertama pada tanggal satu dan anak kedua tanggal sepuluh misalnya dan dia mengeluarkan darah maka hal ini tetap dianggap nifas dan <em>memulai hitungan hari baru kembali</em>. <a href="#_ftn26">[26]</a></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<hr style="text-align: justify;" size="1" />
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref1">[1]</a> <em>Tanbihul Afham</em> hal. 7 dan <em>Syarh Mumti&#8217;</em> 1/27, Ibnu Utsaimin.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref2">[2]</a> QS. Al-Baqarah: 222.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref3">[3]</a> Sebagaimana dalam kitab <em>al-Muhalla</em> 10/81 oleh Ibnu Hazm. Dan ini merupakan pendapat Atho&#8217; sebagaimana dalam <em>al-Mushannaf</em> Ibnu Abi Syaibah 1/96.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Faedah:</strong> Syaikh al-Albani menguatkan pendapat ini dalam kitabnya <em>Adab Zifaf</em> hal. 129, namun pendapat beliau yang terakhir  adalah menguatkan pendapat mayoritas ulama, sebagaimana diceritakan oleh murid beliau Syaikh Husain al-Awayisyah dalam <em>Mausu&#8217;ah al-Fiqhiyyah al-Muyassarah</em> 1/281. Perhatikanlah!!</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref4">[4]</a> QS.Al-Maidah: 6.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref5">[5]</a> <em>Majmu Fatawa,</em> Ibnu Taimiyyah 21/624-626.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref6">[6]</a> Menakjubkanku juga ucapan Ibnul Jauzi dalam <em>Shaidhul Khathir</em> hal. 289: &#8220;Bukti terbesar yang menunjukkan pentingnya sesuatu adalah melihat kepada buahnya. Maka barangsiapa memperhatikan buah fiqih, niscaya dia akan mengetahui bahwa dia merupakan ilmu yang paling utama, karena para ulama empat madzhab lebih unggul daripada manusia lainnya padahal di zaman mereka ada yang lebih alim dari mereka dalam al-Qur&#8217;an, hadits dan bahasa&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref7">[7]</a> <em>Al-Hatstsu ala Hifzhi Ilmi,</em> Ibnul Jauzi hal. 24.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref8">[8]</a> Mengetahui perselisihan ulama sangat penting sekali. Alangkah indahnya ucapan Qotadah: &#8220;Barangsiapa yang tidak mengetahui perselisihan para fuqoha&#8217;, maka hidungnya belum mencium bau fiqih&#8221;. (<em>Jami&#8217; Bayanil IlmI,</em> Ibnu Abdil Barr  2/814-815).</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref9">[9]</a> HR. Bukhari: 1 Muslim: 1907.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref10">[10]</a> Demikian penafsiran Waki&#8217; dan Imam Ahmad bin Hanbal. (<em>Zadul Ma&#8217;ad</em> Ibnu Qayyim 1/373)</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref11">[11]</a> Shahih. Riwayat Abdur Razzaq 5570, Ahmad 4/9, Abu Dawud 345, Tirmidzi 496, Nasai 3/95, Ibnu Majah 1087 dengan sanad.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref12">[12]</a> <em>al-Ausath</em> 4/43.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref13">[13]</a> <em>Talbis Iblis</em>, Ibnul Jauzi hal. 166-167, <em>Iqhotsatul Lahfan</em>, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah 2/258.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref14">[14]</a> Arti ini secara jelas ditegaskan oleh riwayat Imam Bukhari dalam <em>Adabul Mufrad</em>: 692  dengan sanad shahih.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref15">[15]</a> <em> HR. Bukhori: 142, Muslim: 37.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref16"><em><strong>[16]</strong></em></a> <em>Sekalipun hal ini dianggap keliru oleh al-Khothtobi dalam </em>Ishlah Aghlath Muhaditstsin<em> hal. 28, namun pendapat beliau ini dibantah oleh para ulama semisal Imam Nawawi dalam </em>Syarh Muslim<em> 4/71 dan Ibnu Daqiq al-I&#8217;ed dalam </em>Ihkamul Ahkam<em> 1/96.</em></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref17">[17]</a> HR.Tirmidzi: 7, Abu Dawud: 30, Ibnu Majah: 300 dll. Dishohihkan Al-Albani dalam <em>Irwa&#8217;ul Gholil: </em>52.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref18">[18]</a> <em>Iqhotsatul Lahfan</em>, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah 1/124.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref19">[19]</a> Maksudnya di sini adalah tidur lelap yang menjadikan seorang seperti hilang ingatan dan tidak mengetahui kejadian di depannya, bukan hanya sekedar ngantuk atau tidur setengah sadar. (Lihat <em>Gharibul Hadits al-Khathabi</em> 2/32, <em>Subulus Salam </em>ash-Shan&#8217;ani <em>1/252-253, Tamamul Minnah</em> al-Albani hal. 101)</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref20">[20]</a> <em>al-Istidzkar</em> 1/150, Ibnu Abdil Barr.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref21">[21]</a><em> Ad-Durar al-Bahiyyah fil Alghoz al-Fiqhiyyah</em>, Dr. Muhammad bin Abdur Rahman al-Arifi hal. 8<em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref22">[22]</a> Asrar Khitan Tatajalla fi Thibbi Hadits, Hassan Syamsi Basya, hal. 29-31.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref23">[23]</a> (<em>Al-Istisyfa&#8217; bis Sholat,</em> Zuhair Rabih Qoromi Dinukil dari <em>Nawadir Syawarid</em>, Muhammad Khair Ramadhan, hal. 275, 282)</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref24">[24]</a> <em>60 Sualan &#8216;an Ahkamil Haidh,</em> Ibnu Utsaimin hal. 15-16.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref25">[25]</a> <em>Hasyiyah Raddil Muhtar,</em> Ibnu Abidin 1/199.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref26">[26]</a> <em>al-Ahkam Syar&#8217;iyyah lid Dima&#8217; ath-Thabi&#8217;iyyah, </em>Dr. Abdullah ath-Thayyar hal. 121.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/10-faedah-tentang-thaharah-2.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>10 FAEDAH TENTANG BID&#8217;AH</title>
		<link>http://abiubaidah.com/10-faedah-tentang-bidah.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/10-faedah-tentang-bidah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 03:50:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Faidah Ilmiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Faidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=620</guid>
		<description><![CDATA[I. BID&#8217;AH PEMECAH BELAH UMAT Bid’ah adalah penyebab utama perpecahan umat dan permusuhan di tengah-tengah mereka. Allah berfirman (yang artinya): “Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan,karena itu akan mencerai beraikan kalian dari jalanNya”. [1] Mujahid[2] menafsirkan “jalan-jalan” dengan aneka macam bid’ah dan syubhat.[3] Setelah menyebutkan beberapa dalil-dalil bahwa bid’ah adalah pemecah belah umat, Imam Asy Syatibi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fabiubaidah.com%2F10-faedah-tentang-bidah.html%2F">
										</iframe>
										</div><p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>I. </strong><strong>BID&#8217;AH PEMECAH BELAH UMAT</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bid’ah adalah penyebab utama perpecahan umat dan permusuhan di tengah-tengah mereka. Allah berfirman (yang artinya):</p>
<p><em> </em></p>
<p style="text-align: center;"><em>“Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan,karena itu akan mencerai beraikan kalian dari jalanNya”</em>. <a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<ul>
<li>Mujahid<a href="#_ftn2">[2]</a> menafsirkan “jalan-jalan” dengan aneka macam bid’ah dan syubhat.<a href="#_ftn3">[3]</a></li>
</ul>
<p>Setelah menyebutkan beberapa dalil-dalil bahwa bid’ah adalah pemecah belah umat, Imam Asy Syatibi mengatakan :”Semua bukti dan dalil ini menunjukan bahwa munculnya perpecahan dan permusuhan adalah ketika munculnya kebid’ahan”<a href="#_ftn4">[4]</a><span id="more-620"></span></p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam <em>Al Istiqomah</em> 1/42 :</p>
<blockquote><p>”bid’ah itu identik dengan perpecahan sebagaimana sunnah identik dengan persatuan.”</p></blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong>II. BILA BID&#8217;AH DIANGGAP SUNNAH</strong></p>
<p>Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu &#8216;anhu tatkala mengatakan:</p>
<blockquote><p><strong>كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا لَبِسَتْكُمْ فِتْنَةٌ يَهْرَمُ فِيْهَا الْكَبِيْرُ, وَيَرْبُوْ فِيْهَا الصَّغِيْرُ, إِذَا تُرِكَ مِنْهَا شَيْءٌ قِيْلَ تُرِكَتِ السُّنَّةُ. قَالُوْا : وَمَتَى ذَاكَ؟ قَالَ : إِذَا ذَهَبَتْ عُلَمَاؤُكُمْ, وَكَثُرَتْ قُرَّاؤُكُمْ, وَقَلَّتْ فُقَهَاؤُكُمْ, وَكَثُرَتْ أُمَرَاؤُكُمْ, وَقَلَّتْ أُمَنَاؤُكُمْ, وَالْتُمِسَتِ الدُّنْيَا بِعَمَلِ الآخِرَةِ, وَتُفُقِّهَ لِغَيْرِ الدِّيْنِ</strong></p>
<p><em>Bagaimana sikap kalian apabila datang sebuah fitnah yang membuat orang-orang dewasa menjadi pikun, anak-anak menjadi tua dibuatnya, dan manusia menganggapnya sunnah, apabila ditinggalkan maka dikatakanlah, “Sunnah telah ditinggalkan.” Mereka bertanya, “Kapankah itu terjadi?” Beliau menjawab, “Apabila telah wafat para ulama kalian dan meninggal para pembaca kalian, sedikitnya orang-orang faqih kalian, banyaknya para pemimpin kalian, sedikitnya orang-orang yang amanah, dunia dikejar dengan amalan akhirat, ilmu selain agama dipelajari secara mendalam.”</em><a href="#_ftn5">[5]</a></p></blockquote>
<ul>
<li>Syaikh al-Albani menerangkan bahwa hadits ini sekalipun mauquf pada Ibnu Mas&#8217;ud tetapi dia tergolong marfu’ hukman (sampai kepada Nabi n/), lalu lanjutnya: &#8220;Hadits ini merupakan salah satu bukti kebenaran kenabian Nabi dan risalah yang beliau emban, karena setiap penggalan hadits ini telah terbukti nyata pada zaman kita sekarang, di antaranya banyaknya kebid&#8217;ahan dan banyaknya manusia yang terfitnah olehnya sehingga menjadikannya sebagai suatu sunnah dan agama, lalu ketika ada Ahlus Sunnah yang memalingkannya kepada sunnah yang sebenarnya, maka mereka mengatakan: &#8220;Sunnah telah ditinggalkan&#8221;.!! <a href="#_ftn6">[6]</a></li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>III. SENJATA PAMUNGKAS </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<ul>
<li>Dari Said bin Musayyib, ia melihat seorang laki-laki menunaikan shalat setelah fajar lebih dari dua rakaat, ia memanjangkan rukuk dan sujudnya. Akhirnya Said bin Musayyib pun melarangnya. Orang itu berkata: &#8220;Wahai Abu Muhammad, apakah Allah aka menyiksaku dengan sebab shalat? &#8220;Beliau menjawab tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena menyelisihi As-Sunnah&#8221;.<sup> <a href="#_ftn7">[7]</a></sup></li>
</ul>
<ul>
<li>Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani mengomentari atsar ini dalam <em>Irwaul Ghalil</em> 2/236 &#8220;Ini adalah jawaban Said bin Musayyib yang sangat indah. Dan merupakan senjata pamungkas terhadap para ahlul bid&#8217;ah yang menganggap baik kebanyakan bid&#8217;ah dengan alasan dzikir dan shalat, kemudian membantai Ahlus Sunnah dan menuduh bahwa mereka (Ahlu Sunnah) mengingkari dzikir dan shalat! Padahal sebenarnya yang mereka ingkari adalah penyelewengan ahlu bid&#8217;ah dari tuntunan Rasul Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam dalam dzikir, shalat dan lain-lain&#8221;.</li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>IV. BID&#8217;AH HASANAH, ADAKAH?</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Sungguh aneh bin ajaib apa yang dikatakan oleh al-Ghumari dalam bukunya <em>&#8220;Itqon Shun&#8217;ah fi Tahqiqi Ma&#8217;na al-Bid&#8217;ah&#8221;</em> hlm. 5: &#8220;Sesungguhnya para ulama bersepakat untuk membagi bid&#8217;ah menjadi dua macam; bid&#8217;ah terpuji dan tercela…Tidak ada yang menyelisihnya kecuali asy-Syathibi!!!&#8221;.</p>
<p>Demikian ucapannya, sebuah ucapan yang tidak membutuhkan keterangan panjang tentang bathilnya, karena para ulama salaf semenjak dahulu hingga sekarang selalu mengingkari bid&#8217;ah dan menyatakan bahwa setiap kebid&#8217;ahan adalah sesat. Alangkah bagusnya ucapan sahabat Abdulloh bin Umar tatkala berkata:</p>
<p style="text-align: center;"><strong>كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَ إِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً </strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>Setiap bid’ah adalah kesesatan walaupun dipandang oleh manusia sebagai suatu kebaikan.</em> <a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p style="text-align: center;"><strong>V. KELUARGA WARNA WARNI</strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Sungguh unik apa yang dikisahkan oleh Ibnu Hazm dalam <em>Nuqothul Arus</em> sebagaimana dalam <em>Rosail Ibnu Hazm</em> 2/112-115, di antaranya:</p>
<ul>
<li>Hirosy memiliki enam anak, dua anaknya Ahlu Sunnah, duanya lagi dari Khowarij, duanya lagi dari Rafidhoh, mereka saling bermusuhan, sehingga suatu kali bapak mereka mengatakan: &#8220;Sesungguhkan Allah telah mencerai beraikan hati kalian!!&#8221;.</li>
</ul>
<ul>
<li>Sayyid al-Himyari Kisani adalah seorang Syi&#8217;ah, sedangkan kedua orang tuanya adalah khowarij, anaknya suka melaknat kedua orang tuanya dan kedua orang tuanya membalas melaknatnya juga!! <a href="#_ftn9">[9]</a></li>
</ul>
<p style="text-align: center;"><strong>VI. BID&#8217;AH MEMATIKAN SUNNAH</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<ul>
<li>Hassan bin &#8216;Athiyyah berkata: &#8220;Tidaklah suatu kaum melakukan suatu kebid&#8217;ahan dalam agama mereka, ekcuali Allah akan mencabut dari mereka sunnah semisalnya, kemudian dia tidak kembali ke sunnah hingga hari kiamat&#8221;. <a href="#_ftn10">[10]</a></li>
</ul>
<ul>
<li>Imam adz-Dzahabi berkata: &#8220;Mengikuti sunnah adalah kehidupan hati dan makanan baginya. Apabila hati telah terbiasa dengan bid&#8217;ah, maka tiada lagi ruang untuk sunnah&#8221;. <a href="#_ftn11">[11]</a></li>
</ul>
<p style="text-align: center;"><strong>VII. HATI ITU LEMAH</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<ul>
<li>Suatu kali, ada dua orang lelaki pengekor hawa nafsu datang kepada Muhammad bin Sirin seraya mengatakan: &#8220;Wahai Abu Bakr! Kami akan menceritakan kepadamu suatu hadits? Beliau berkata: Tidak. Keduanya mengatakan: Kami akan membacakan ayat Al-Qur&#8217;an kepadamu. Beliau berkata: Tidak, kalian yang pergi ataukah saya yang akan pergi. <a href="#_ftn12">[12]</a>Sufyan ats-Tsauri berkata: &#8220;Barangsiapa mendengarkan suatu kebid&#8217;ahan, maka janganlah dia menceritakan kepada teman duduknya, janganlah dia memasukkan syubhat dalam hati mereka&#8221;.</li>
</ul>
<ul>
<li>Imam adz-Dzahabi membawakannya dalam <em>Siyar A&#8217;lam Nubala&#8217;</em> 7/261, lalu berkomentar: &#8220;Mayoritas ulama salaf seperti ini kerasnya dalam memperingatkan dari bid&#8217;ah, mereka memandang bahwa hati manusia itu lemah, sedangkan syubhat kencang menerpa&#8221;.</li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>VIII. ANTARA BID&#8217;AH DAN MASLAHAT</strong></p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah memberikan sebuah kaidah penting tentang maslahat dan mafsadah, beliau berkata :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong>فَكُلُّ أَمْرٍ يَكُوْنُ الْمُقْتَضِيْ لِفِعْلِهِ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ</strong> صلى الله عليه و سلم<strong> مَوْجُوْدًا لَوْ كَانَ مَصْلَحَةً وَلَمْ يَفْعَلْ, يُعْلَمُ أَنَّهُ لَيْسَ بِمَصْلَحَةٍ</strong></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;"><em>Setiap perkara yang faktor dilakukannya ada pada zaman Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em><em>,</em></span><em><span style="color: #0000ff;"> yang nampaknya membawa maslahat tetapi tidak dikerjakan Nabi, maka jelas bahwa hal itu bukanlah maslahat</span>.</em> <a href="#_ftn13">[13]</a></p>
</blockquote>
<p>Beliau kemudian memberikan contoh, seperti adzan pada hari raya. Adzan itu sendiri pada asalnya adalah maslahat. Dan faktor dilakukannya juga ada, yaitu mengumpulkan jama’ah sholat. Tetapi Nabi tidak melakukannya. Berarti adzan pada hari raya bukanlah maslahat. Kita menyakini hal itu sesat sebelum kita mendapatakan larangan khusus akan hal tersebut atau  sebelum kita mendapaakan bahwa hal tersebut membawa mafsadah.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>IX. PESAN SUNAN BONANG</strong></p>
<p>Salah satu catatan menarik yang terdapat dalam dokumen &#8220;Het Book van Mbonang&#8221;<a href="#_ftn14">[14]</a> adalah peringatan dari sunan Mbonang kepada umat untuk selalu bersikap saling membantu dalam suasana cinta kasih, dan mencegah diri dari kesesatan dan bid&#8217;ah. Bunyinya sebagai berikut:<span style="color: #0000ff;"> </span><em><span style="color: #0000ff;">&#8220;Ee..mitraningsun! Karana sira iki apapasihana sami-saminira Islam lan mitranira kang asih ing sira lan anyegaha sira ing dalalah lan bid&#8217;ah</span>&#8220;. </em></p>
<p>Artinya: &#8220;Wahai saudaraku! Karena kalian semua adalah sama-sama pemeluk Islam maka hendaklah saling mengasihi dengan saudaramu yang mengasihimu. Kalian semua hendaklah mencegah dari perbuatan sesat dan bid&#8217;ah.<a href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p style="text-align: center;"><strong>X. MEMBANTAH AHLI BID&#8217;AH</strong></p>
<p>Alangkah bagusnya ucapan seorang:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>يَا طَالِبَ الْعِلْمِ صَارِمْ كُلَّ بَطَّالِ</strong><strong> </strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>وَكُلَّ غَاوٍ إِلىَ الأَهْوَاءِ مَيَّالِ</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>وَلاَ تَمِيْلَنَّ يَا هَذَا إِلَى بِدَعٍ</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>ضَلَّ أَصْحَابُهَا بِالْقِيْلِ وَالْقَالِ</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;"><em>Wahai penuntut ilmu, seranglah setiap ahli kebathilan</em></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;"><em>Dan setiap orang yang condong kepada hawa nafsu</em></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;"><em>Janganlah dirimu condong kepada bid&#8217;ah</em></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;"><em>Sungguh pelaku bid&#8217;ah telah tersesat karena kabar burung</em>.</span> <a href="#_ftn16">[16]</a></p>
<p style="text-align: center;">
<p>Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi</p>
<p>www.abiubaidah.com</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> QS.Al-An’am: 153.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Beliau adalah seorang pakar ilmu tafsir,beliau belajar dan khatam al qur’an beserta tafsirnya perayat kepada Ibnu Abbas sebanyak dua puluh sembilan kali. Sufyan Ats-Tsauri berkata :”Apabila datang padamu tafsir dari Mujahid, maka cukuplah dengannya.(lihat <em>Ma’rifah Qurra’</em> kibar 1/66-67 Adz-Dzahabi, <em>Muqodimah Tafsir</em> 94-95 Ibnu Taimiyyah).</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Jami’ul Bayan 5/88 Ibnu Jarir.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> <em>Al-I&#8217;tishom</em> 1/157.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> HR. Darimi 1/64, al-Hakim 4/514 dengan sanad hasan shohih.</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> <em>Qiyam Romadhan</em> hlm. 4-5.</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Dikeluarkan oleh al-Baihaqi dalam <em>Sunan Kubra</em> 2/466.</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Diriwayatkan oleh Lalikai dalam <em>Syarah Ushul I&#8217;tiqod</em>: 126, Ibnu Baththoh dalam <em>Ibanah</em>: 205, al-Baihaqi dalam <em>Madkhol Ila Sunan</em>: 191, dan Ibnu Nashr dalam <em>as-Sunnah</em>: 70 dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam <em>Ahkam Janaiz</em> hlm. 258.</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> <em>An-Nadhoir</em>, Syaikh Bakr Abu Zaid hlm. 86.</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Dikeluarkan al-Lalikai: 129, ad-Darimi: 98 dengan sanad shohih.</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> <em>Tasyabbuh al-Khosis bi Ahlil Khomis</em> hlm. 46.</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> Ad-Darimi 1/109.</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> Iqtidho’ Sirhotil Mustaqim 2/594.</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> Dokumen ini adalah sumber tentang walisongo yang dipercayai sebagai dokumen asli dan valid, yang tersimpan di Museum Leiden, Belanda. Dari dokumen ini telah dilakukan beberapa kajian oleh beberapa peneliti. Diantaranya thesis Dr. Bjo Schrieke tahun 1816, dan Thesis Dr. Jgh Gunning tahun 1881, Dr. Da Rinkers tahun 1910, dan Dr. Pj Zoetmulder Sj, tahun 1935.</p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> Dari info Abu Yahta Arif Mustaqim, pengedit buku <em>Mantan Kiai NU Menggugat Tahlilan, Istighosahan dan Ziarah Para Wali </em>hlm. 12-13.</p>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> <em>Dzail Tarikh Baghdad</em> 16/318, sebagaimana dalam <em>Ilmu Ushul Bida&#8217;</em> hlm. 300.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/10-faedah-tentang-bidah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>20 FAEDAH TENTANG AQIDAH</title>
		<link>http://abiubaidah.com/20-faedah-tentang-aqidah.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/20-faedah-tentang-aqidah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 12:30:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Faidah Ilmiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Faidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=603</guid>
		<description><![CDATA[Faidah I TOLERANSI AGAMA Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku. [1] Sebagian kalangan menjadikan ayat ini sebagai dalil untuk memperkuat ajaran toleransi antar umat beragama dan kebenaran agama selain Islam. Sungguh, ini adalah pemahaman yang bathil, bagaimana mungkin itu benar sedangkan Rasulullah selalu mengingkari, melarang dan mengancam dari agama selain Islam, bahkan ketika mereka menuntut beliau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fabiubaidah.com%2F20-faedah-tentang-aqidah.html%2F">
										</iframe>
										</div><p><img class="alignleft" src="http://www.oasetarbiyah.com/wp-content/uploads/2007/04/aqidah-salimah.jpg" alt="http://www.oasetarbiyah.com/wp-content/uploads/2007/04/aqidah-salimah.jpg" width="136" height="115" /></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="165" height="2"><strong>Faidah I</strong></td>
</tr>
<tr>
<td><strong>TOLERANSI AGAMA</strong></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><em>Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku.</em> <a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Sebagian kalangan menjadikan ayat ini sebagai dalil untuk memperkuat ajaran toleransi antar umat beragama dan kebenaran agama selain Islam. Sungguh, ini adalah pemahaman yang bathil, bagaimana mungkin itu benar sedangkan Rasulullah selalu mengingkari, melarang dan mengancam dari agama selain Islam, bahkan ketika mereka menuntut beliau agar menghentikan hal itu, beliau tetap tegar dalam pendiriannya. Lantas bagaimana mungkin ayat ini menunjukkan kebenaran agama mereka?!! Ayat ini menunjukkan perintah agar Nabi berlepas diri dari agama mereka yang bathil, bukan malah menyetujuinya.<a href="#_ftn2">[2]</a><span id="more-603"></span></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="165" height="2"><strong>Faidah II</strong></td>
</tr>
<tr>
<td><strong>KARTU AJAIB</strong></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<ul>
<li><strong>Abu Hasan, Ali bin Umar</strong> berkata: “Saya pernah mendapati seorang di suatu majlis, ketika dia mendengar hadits ini<a href="#_ftn3">[3]</a>, dia menjerit lalu meninggal dunia. Aku ikut mengurusi jenazahnya dan menyalatinya”.<a href="#_ftn4">[4]</a></li>
</ul>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="165" height="2"><strong>Faidah III</strong></td>
</tr>
<tr>
<td><strong>AL-QUR’AN MAKHLUK?</strong></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<ul>
<li><strong>Ahmad bin Nashr</strong> berkata: “Saya pernah mendapati seorang yang kesurupan jin, lalu saya bacakan ayat di telinganya, tiba-tiba jin wanita berkata kepadaku: Wahai Abu Abdillah, biarkanlah aku mencekiknya, karena dia mengatakan: Al-Qur’an makhluk!!!”.<a href="#_ftn5">[5]</a></li>
</ul>
<p>Suatu kaum dari Ashbahan pernah berkata kepada <strong>Shahib bin Abbad</strong>: Seandainya Al-Qur’an itu makhluk, berarti dia bisa mati, lalu kalau mati di akhir bulan Sya’ban, bagaimana kita shalat terawih nanti? Dia menjawab: Seandainya Al-Qur’an mati, maka Ramadhan juga ikut mati, kita tidak perlu shalat terawih, kita istirahat santai saja”. <a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="165" height="2"><strong>Faidah IV</strong></td>
</tr>
<tr>
<td><strong>KUNCI KEMENANGAN</strong></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Ketika pasukan Tatar menjajah Damaskus, banyak rakyat saat itu meminta bantuan kepada ahli kubur supaya lekas menghilangkan musibah tersebut, sehingga seorang penyair mereka mengatakan:</p>
<p style="text-align: center;"><strong>يَا خَائِفِيْنَ مِنَ التَّتَرْ      لُوْذُوْا بِقَبْرِ أَبِيْ عُمَرْ</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>عُوْذُوْا بِقَبْرِ أَبِيْ عُمَرْ      يُنْجِيْكُمْ مِنَ الضَّرَرْ</strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>Wahai orang-orang yang takut dari Tatar</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Berlindunglah ke kuburan Abu Umar</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Niscaya dia menyelamatkanmu dari bahaya.</em></p>
<p>Saya (Ibnu Taimiyyah) berkata pada mereka: “Seandainya orang-orang yang kalian mintai pertolongan tersebut ikut jihad bersama kalian, niscaya kalian akan kalah sebagaimana kaum muslimin mengalami kekalahan pada perang Uhud”. <a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Setelah itu kami mengajak manusia agar memurnikan agama dan berdoa hanya kepada Allah semata, sehingga manusia tidak diperkenankan untuk meminta pertolongan kecuali hanya kepadaNya semata, tidak boleh kepada selainNya walaupun dia seorang malaikat atau nabi yang terdekat, sebagaimana firman Allah tentang perang Badr:</p>
<p style="text-align: center;"><strong>إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ </strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu lalu Dia mengabulkan doamu.</em> <a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Nah, tatkala manusia berubah memperbaiki keadaan dan mereka hanya meminta pertolongan kepada Allah saja, maka Allah memberikan kemenangan kepada mereka dalam menghadapi musuh mereka dengan kemenangan yang tiada bandingnya, dimana pasukan Tatar belum pernah mengalami kekalahan seperti saat itu. Semua ini meruakan buah dari tauhid dan ketaatan kepada rasul. Sesungguhnya Allah berjanji akan menolong para utusanNya dan orang-orang beriman di dunia dan akherat.<a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="165" height="2"><strong>Faidah V</strong></td>
</tr>
<tr>
<td><strong>MENGGUGAT SYARI’AT</strong></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Seorang zindiq yang dikenal dengan Abu Ala’ al-Ma’arri menggugat syariat potong tangan bagi pencuri dalam syairnya:</p>
<p style="text-align: center;"><strong>يَدٌ بِخَمْسِ مِئِيْنٍ عَسْجَدٍ وُدِيَتْ</strong><strong><em> </em></strong><strong>مَا بَالُهَا قُطِعَتْ فِيْ رُبْعِ دِيْنَارِ؟</strong><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>تَنَاقُضٌ مَالَنَا إِلاَّ السُّكُوْتُ لَهُ</strong><strong><em> </em></strong><strong> </strong><strong>وَنَسْتَجِيْرُ بِمَوْلاَنَا مِنَ الْعَارِ</strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>Diyat tangan adalah lima ratus dinar</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Tetapi mengapa dia dipotong karena seperempat dinar?</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Kontradiksi nyata tapi kita tidak dapat berbuat kecuali hanya diam saja</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Dan memohon perlindungan kepada Allah dari kehinaan</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>.</em></p>
<p style="text-align: left;">Syair di atas di bantah dengan syair berikut ini<em><br />
</em></p>
<p style="text-align: center;"><strong>يَدٌ بِخَمْسِ مِئِيْنٍ عَسْجَدٍ وُدِيَتْ        لَكِنَّهَا قُطِعَتْ فِيْ رُبْعِ دِيْنَارِ</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>عِزُّ الأَمَانَةِ أَغْلاَهَا وَأَرْخَصَهَا           ذُلُّ الْخِيَانَةِ فَافْهَمْ حِكْمَةَ الْبَارِيْ</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>Diyat tangan adalah lima ratus dinar</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Tetapi dia dipotong karena seperempat dinar</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Kemuliaan amanat yang membuat tangan menjadi mahal</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Dan harganya menjadi murah tatkala dia berkhianat</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Maka fahamilah hikmah syariat Allah</em><a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="165" height="2"><strong>Faidah VI<br />
</strong></td>
</tr>
<tr>
<td><strong>LEBIH PARAH SYIRIKNYA</strong></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Seorang ulama India, <strong>Shiddiq Hasan Khan</strong> pernah bercerita tentang perjalanan hajinya dalam kitabnya <em>“Rihlah Shiddiq ila Baitil Atiq”</em> hal. 171-172: “Termasuk keajaiban yang tidak layak disembunyikan bahwa para  pelaut apabila merasa ketakutan terhadap kapal dan penumpangnya, mereka meminta tolong dengan memanggil nama Syaikh Aidarus<a href="#_ftn11">[11]</a> dan selainnya, mereka tidak menyebut Allah sedikitpun. Apabila saya mendengar mereka meminta tolong dan memanggil wali-wali mereka, saya sangat khawatir sekali akan turunnya bencana menimpa kapal yang kami tumpangi. Saya berkata dalam hati: Aduhai, apakah kapal ini akan sampai ke tepi dengan selamat?!! Sesungguhnya orang-orang musyrik Arab dahulu dalam kondisi seperti ini, mereka hanya berdoa kepada Allah saja dan melupakan tuhan-tuhan mereka yang bathil sebagaimana firman Allah:</p>
<p style="text-align: center;"><strong>فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ</strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya.</em> <a href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p>Anehnya, mereka yang menamakan diri mereka “muslim” malah berdoa kepada selain Allah dan menyebut nama-nama makhlukNya. Sungguh benar firman Allah:</p>
<p style="text-align: center;"><strong>وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللّهِ إِلاَّ وَهُم مُّشْرِكُونَ </strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah.</em> <a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Hanya saja karena rahmat Allah yang begitu luas, akhirnya kapalpun sampai ke tujuan dengan selamat. <a href="#_ftn14">[14]</a></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="165" height="2"><strong>Faidah VII</strong></td>
</tr>
<tr>
<td><strong>ARGUMEN KROPOS</strong></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Ada seorang tokoh agama yang berdalil bahwa para wali itu memiliki kemampuan di kuburnya sehingga dimintai doa, dia berdalil dengan ayat:</p>
<p style="text-align: center;"><strong>وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أَمْوَاتاً بَلْ  أَحْيَاء عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ</strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup di sisi tuhannya dengan mendaat rezeki.</em> <a href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p>Lalu ada seorang awam kaum muslimin yang menjawab: “Kalau memang bacaannya adalah yarzuqun (mereka memberi rezeki) maka itu benar, tetapi kalau tidak maka ayat itu malah membantah dirimu sendiri”. <a href="#_ftn16">[16]</a></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="165" height="2"><strong>Faidah VIII</strong></td>
</tr>
<tr>
<td><strong>MENYELISIHI RAFIDHAH</strong></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Al-Alusi dalam kitabnya <em>“ath-Thurrah ‘ala Ghurrah”</em> 12/14 menyebutkan bahwa merupakan perkara yang populer di kalangan kelompok Syi’ah Rafidhah; dibenci memisahkan antara Nabi dan keluarganya dengan huruf (عَلَى ). Mereka berdalil dengan hadits palsu:</p>
<p align="right"><strong>مَنْ فَصَلَ بَيْنِيْ وَبَيْنِ آلِيْ بِ (عَلَى)  لَمْ يَنَلْ شَفَاعَتِيْ</strong></p>
<p><em>Barangsiapa yang memisah antaraku dengan keluargaku dengan huruf ala, maka dia tidak mendapatkan syafa’atku. </em></p>
<p>Tak sedikit dari tokoh Syi’ah sendiri telah menegaskan bahwa hadits ini palsu, maka hendaknya bagi Ahli Sunnah untuk menyelisihi Rafidhah dengan mengatakan:  <a href="#_ftn16">[17]</a> ( <strong>وعَلَى آلِهِ</strong>).</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="165" height="2"><strong>Faidah IX<br />
</strong></td>
</tr>
<tr>
<td><strong>ADA</strong><strong> NABI WANITA?</strong></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Sebagian ulama semisal Abul Hasan al-Asy’ari, al-Qurthubi, Ibnu Hazm berpendapat bahwa ada Nabi wanita seperti Maryam, Hawa, ibu Nabi Musa, Sarah, Hajar, Asiyah. Namun pendapat ini ganjil dan lemah ditinjau dari sembilan segi.<a href="#_ftn18">[18]</a></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="165" height="2"><strong>Faidah X<br />
</strong></td>
</tr>
<tr>
<td><strong>DIALOG ANTAR AGAMA</strong></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<ul>
<li><em><strong>Soal:</strong> Bolehkah mengadakan dialog/debat antar agama, seperti yang terjadi antara dai Ahmad Dedat dan pendeta Nashrani?</em></li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin</strong> menjawab: Debat/dialog antara kaum muslim dengan kaum kaum kafir apabila diperlukan maka hukumnya wajib. Namun bagi seorang yang akan berdebat dengan kaum kafir dia harus memiliki pengetahuan tentang Islam untuk memperkuat argumennya dan juga memiliki pengetahuan tentang kebobrokan agama lawan untuk membantah kerancuan-kerancuan yang akan diutarakan.</li>
</ul>
<p>Saya telah menyaksikan sebagian perdebatan antara dai Islami Ahmad Dedat dan pendeta nashari. Sungguh mengagumkanku perdebatannya, yang akhirnya dia dapat membungkam mulut pendeta nashrani tersebut dan mematahkan semua argumennya. Segala puji bagi Allah. <a href="#_ftn19">[19]</a></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<table style="height: 61px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="165" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="165" height="2"><strong>Faidah XI</strong></td>
</tr>
<tr>
<td><strong>AYAT TAUHID DITAFSIRKAN KESYIRIKAN</strong></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dalam sholat mereka, kaum muslimin selalu membaca sebuah ayat dalam surat al-Fatihah:</p>
<p style="text-align: center;"><strong>إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ </strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.</em> <a href="#_ftn20">[20]</a></p>
<p><strong>Syaikh Abdurrahman as-Sa’di</strong> berkata menafsirkan ayat di atas:</p>
<blockquote><p>“Yakni kita mengkhususkanMu saja dengan ibadah dan isti’anah (meminta pertolongan), karena mendahulukan obyek menunjukkan pembatasan, seakan-akan dia mengatakan: Kami beribadah kepadamu dan tidak beribadah kepada selainMu, kami meminta pertolongan kepadaMu dan tidak meminta kepada selainMu”.<a href="#_ftn21">[21]</a></p></blockquote>
<p>Adapun <strong>Nurcholis Madjid</strong>, dia malah mengatakan:</p>
<blockquote><p>&#8220;Kalau kita baru sampai pada <strong><em>iyyaka na&#8217;budu</em></strong> berarti kita masih mengklaim diri kita mampu dan aktif menyembah. Tetapi kalau sudah <strong><em>wa iyyaka nasta&#8217;in,</em></strong> maka kita lebur, menyatu dengan dengan Tuhan&#8221;.<a href="#_ftn22">[22]</a></p></blockquote>
<p>Lihatlah wahai saudaraku, bagaimana dia menafsirkan ayat tauhid dengan dengan sebuah paham yang sesat dan menyesatkan yaitu <em>Wahdatul wujud</em> (bersatunya hamba dengan Allah). Hanya kepada Allah kita mengadu!!</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="165" height="2"><strong>Faidah XII<br />
</strong></td>
</tr>
<tr>
<td><strong>AHMADIYYAH SESAT?!</strong></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p><strong>Syaikh al-Albani</strong> berkata: “Ketahuilah bahwa termasuk di antara para Dajjal yang mengaku Nabi adalah Mirza Ghulam Ahmad al-Qodiyani dari India, yang mengaku sebagai Imam al-Mahdi pada masa Inggris menjajah India, kemudian setelah itu dia mengaku sebagai Nabi Isa, dan akhirnya dia mengaku sebagai Nabi. Banyak juga orang yang tidak memiliki ilmu Al-Qur’an dan sunnah tertipu menjadi pengikutnya.</p>
<ul>
<li>Saya telah bertemu dengan sebagian penyebar Ahmadiyyah dari India atau Suria, sering sekali terjadi dialog antara diriku dengan mereka, saya mengajak mereka untuk berdialog seputar keyakinan mereka bahwa ada Nabi-nabi setelah Nabi Muhammad, salah satunya adalah Mirza Ghulam Ahmad!! Mereka mulai mengelak dari dialog seputar keyakinan tersebut, namun saya tetap mendesak mereka, sehingga merekapun kalah dan orang-orang yang hadir tahu bahwa mereka adalah dalam kebathilan.</li>
</ul>
<ul>
<li>Mereka memiliki keyakinan-keyakinan bathil lainnya yang banyak, menyelisihi ijma’ umat, seperti mengingkari hari kebangkitan dengan jasad, nikmat dan siksa hanya pada ruh saja tanpa jasad, siksa untuk orang kafir bisa terputus, mengingkari adanya Jin&#8230;Oleh karena itu Inggris mendukung Mirza, sehingga dia sendiri mengatakan: “Haram bagi kaum muslimin untuk menyerang Inggris!!” dan kesesatan-kesesatan lainnya. Sudah banyak buku-buku yang menjelaskan kebobrokan mereka dan bahwa bahwa mereka telah keluar dari barisan kuam muslimin. Bagi yang ingin mengetahui hakekat mereka, silahkan membacanya. <a href="#_ftn23">[23]</a></li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="165" height="2"><strong>Faidah XIII<br />
</strong></td>
</tr>
<tr>
<td><strong>S</strong><strong>YI&#8217;AH DAN SUNNAH BERSATU</strong></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Suatu hal yang sangat aneh, adanya sebagian kaum muslimin yang berusaha untuk menyatukan antara Syi’ah dan Sunnah<a href="#_ftn24">[24]</a>. Mungkinkah kaum muslimin akan bersatu dengan suatu kaum yang menjadikan celaan kepada ara sahabat dan mengkafirkan mereka sebagai agama?!! Bagaimana akan bersatu sedangkan tokoh Syi’ah sendiri enggan dengan persatuan ini?!</p>
<ul>
<li><strong>Syaikh Muhammad Rasyid Ridho</strong> berkata: “Saya adalah seorang yang sangat bersemangat untuk menyatukan antara sunnah dan syi’ah, saya telah berusaha semaksimal mungkin selama tiga abad dan saya tidak mengetahui seorang muslimpun yang lebih semangat daripada saya untuk persatuan tersebut, lalu nampak jelaslah bagiku dengan pengalaman yang lama bahwa mayoritas ulama Syi’ah sangat enggan dengan persatuan ini, sebab hal itu sangat berlawanan dengan  manfaat pribadi mereka berupa harta dan kedudukan. Saya telah berdialog tentang hal ini dengan banyak orang di Mesir, Suria, India dan Iraq. Dari pengalaman tersebut saya menarik <strong>kesimpulan bahwa Syi’ah sangat memusuhi Ahli Sunnah</strong>!!! Mereka bersemangat untuk menyebarkan kitab-kitab untuk mencela sunnah, para khalifah rasyidin yang menaklukkan negeri dan menyebarkan Islam di penjuru dunia, dan mencela para pembela sunnah dan imamnya serta orang-orang Arab secara umum”.<a href="#_ftn25">[25]</a></li>
</ul>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="165" height="2"><strong>Faidah XIV<br />
</strong></td>
</tr>
<tr>
<td><strong>MUBAHALAH DENGAN TOKOH AHMADIYYAH</strong></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Seorang <strong>ahli hadits India</strong>, <strong>Syaikh Tsana&#8217;ullah al-Amritsari</strong> (wft. 1367 H) pernah menantang <strong>Mirza Ghulam Ahmad al-Qodiyani</strong> pada tahun <strong>1326 H</strong> bahwa barangsiapa di antara keduanya yang berdusta dan berada di atas kebathilan, maka dia akan mati duluan dan terkena penyakit kolera. Akhirnya, selang beberapa waktu yang tidak lama, Mirza terkena penyakit kolera kemudian meninggal dunia, sedangkan Syaikh Tsanaullah, beliau hidup setelah itu emat puluh tahun lamanya.<a href="#_ftn26">[26]</a></p>
<p>Dalam kitab <em>&#8220;Al-Qodiyaniyyah&#8221;</em> hal. 158 karya <strong>Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir</strong> dikatakan</p>
<blockquote><p>&#8220;Koran-koran India saat itu memberitakan bahwa Ghulam Ahmad al-Qodiyani tatkala terkena kolera, dia mengeluarkan kotoran najis dari mulutnya sebelum mati, dan dia mati dalam keadaan duduk di kamar mandi untuk buang air besar!!&#8221;.<a href="#_ftn27">[27]</a></p></blockquote>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="165" height="2"><strong>Faidah XV</strong></td>
</tr>
<tr>
<td><strong>SEMOGA DOA YANG MUSTAJAB</strong></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Tatkala Bisyr al-Marrisi </strong>meninggal dunia, tidak ada seorang alimpun yang ikut mengurusi jenazahnya kecuali &#8216;Ubaid asy-Syuwainizi. Sepulangnya dari jenazah, orang-orang mencercanya karena kehadirannya, lalu dia berkata: &#8220;Tunggu dulu, akan saya beritakan ceritanya. Sungguh, tidak ada suatu amalanpun yang lebih saya harapkan pahalanya daripada saat aku menyaksikan jenazah Bisyr. Tatkala aku berdiri di shof, saya berdo&#8217;a:</p>
<p>Ya Alloh, sesungguhnya hamba-Mu ini, dia tidak beriman adanya ru&#8217;yah (melihat Alloh) di akherat, maka janganlah engkau beri dia nikmat melihat wajah-Mu di saat kaum mukminin semua melihat-Mu.</p>
<p>Ya Alloh, sesungguhnya hamba-Mu ini, dia tidak beriman adanya siksa kubur, maka siksalah dia di kuburnya dengan siksaan yang tidak Engkau berikan kepada seorangpun di alam semesta.</p>
<p>Ya Alloh, sesungguhnya hamba-Mu ini, dia mengingkari mizan (timbangan), maka ringankanlah timbangan-Nya di hari kiamat.</p>
<p>Ya Alloh, sesungguhnya hamba-Mu ini, dia mengingkari syafa&#8217;at, maka janganlah engkau memberinya syafa&#8217;at pada hari kiamat.</p>
<p>Akhirnya, orang-orang-pun diam dan tertawa…<a href="#_ftn10">[28]</a></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="165" height="2"><strong>Faidah XVI</strong></td>
</tr>
<tr>
<td><strong>SELAMAT NATAL</strong></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Al-Hafizh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata: “Adapun ucapan selamat dengan syiar-syiar kekufuran yang khusus, maka hukumnya adalah haram dengan kesepakatan ulama seperti ucapan selamat hari raya dan sebagainya. Kalau bukan kekufuran, maka minimal adalah haram, sebab hal tersebut sama halnya dengan memberi selamat atas sujud mereka terhadap salib, bahkan hal itu lebih parah dosanya dan lebih dahsyat kemurkaan di sisi Allah dengan ucapan selamat atas minum khomr, membunuh, zina dan sebagainya. Sungguh, banyak orang yang tidak memiliki agama dalam hatinya terjatuh dalam hal tersebut dan tidak mengetahuyi kejinya perbuatannya tersebut ”. <a href="#_ftn29">[29]</a></p>
<p><strong> </strong></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="165" height="2"><strong>Faidah XVII</strong></td>
</tr>
<tr>
<td><strong>TUMBAL, ADAT JAHILIYYAH</strong></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong> </strong></p>
<p>Pada suatu saat, sungai Nil di Mesir pernah kering tidak mengalirkan air, maka penduduk Mesir mendatangi ‘Amr bin Ash seraya mengatakan: Wahai amir, sungai Nil kita ini memiliki suatu musim untuk tidak mengalir kecuali dengan tumbal. Amr bertanya: Tumbal apakah itu? Mereka menjawab: Pada tanggal 12 di bulan seperti ini, biasanya kami mencari gadis perawan, lalu kita merayu orang tuanya dan memberinya perhiasan dan pakaian yang mewah, kemudian kita lemparkan dia ke sungai Nil ini. Mendengar hal itu, Amr mengatakan kepada mereka: “Ini tidak boleh dalam agama Islam, Islam telah menghapus keyakinan tersebut”.</p>
<p>Beberapa bulan mereka menunggu, tapi sungai Nil tetap tidak mengalir sehingga hampir saja menduduk sana nekat untuk memberikan tumbal, maka Amr menulis surat kepada Umar bin Khothob tentang masalah tersebut, lalu beliau menjawab: “Sikapmu sudah benar. Dan bersama ini saya kirimkan secarik kertas dalam suratku ini untuk kamu lemparkan ke sungai Nil”.</p>
<p>Tatkala surat itu sampai, maka Amr mengambilnya, ternyata isi surat tersebut sebagai berikut: “Dari hamba Allah, Umar amirul mukminin kepada Nil, sungai penduduk Mesir. Amma Ba’du: Bila kamu mengalir karena perintahmu sendiri maka kamu tidak perlu mengalir karena kami tidak butuh kepadamu, tetapi kalau kamu mengalir karena Allah yang mengalirkanmu maka kami berdoa agar Allah mengalirkanmu”.</p>
<p>Setelah surat Umar tadi dilemparkan ke sungai Nil, maka dalam semalam saja Allah telah mengalirkan sungai Nil sehingga berketinggian enam belas hasta!!”.<a href="#_ftn30"><strong><strong>[30]</strong></strong></a></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="165" height="2"><strong>Faidah XVIII</strong></td>
</tr>
<tr>
<td><strong>AHLI KITAB TIDAK KAFIR?</strong></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong> </strong></p>
<p>Ahli kitab alias Yahudi dan Nashrani adalah kaum kafir dengan ketegasan Al-Qur’an, hadits dan ijma’ kaum muslimin, berbeda dengan celotehan para engusung liberalisme. Allah berfirman:</p>
<p style="text-align: center;"><strong>إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُوْلَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ </strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.<a href="#_ftn31"><strong>[31]</strong></a></em></p>
<p style="text-align: center;"><strong>عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ</strong><strong> </strong><strong>عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ, لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ, ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ, إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ</strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>Dari Abu Hurairah dari Rasulullah beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tanganNya, Tidak ada seorangpun dari umat ini baik Yahudi maupun Nashrani yang mendengar tentangku kemudian dia meninggal dan tidak beriman kepada ajaranku, kecuali dia termasuk ahli neraka.</em><a href="#_ftn32">[32]</a></p>
<p>Imam asy-Syathibi berkata: “Kami melihat dan mendengar bahwa kebanyakan Yahudi dan Nashrani mengetahui tentang agama Islam dan banyak mengetahui banyak hal tentang seluk-beluknya, tetapi semua itu tidak bermanfaat bagi mereka <strong>selagi mereka tetap di atas kekufuran<a href="#_ftn33"><strong>[33]</strong></a> dengan kesepakatan ahli Islam”</strong>.<a href="#_ftn34">[34]</a></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="165" height="2"><strong>Faidah XIX<br />
</strong></td>
</tr>
<tr>
<td><strong>JIN MASUK SURGA?</strong></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong> </strong></p>
<p>Jin terbagi menjadi dua macam:</p>
<p>1. Jin kafir, maka mereka akan masuk Neraka berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an, hadits dan ijma’ ulama. Allah berfirman:</p>
<p><strong>وَلَوْ شِئْنَا لَآتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدَاهَا وَلَكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّي لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ </strong></p>
<p><em>Dan kalau kami menghendaki niscaya kami akan berikan kepada tiap- tiap jiwa petunjuk, akan tetapi Telah tetaplah perkataan dari padaKu: &#8220;Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka Jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama.&#8221;</em><a href="#_ftn35">[35]</a></p>
<p>Dan para ulama bersepakat tentang hal ini, sebagaimana dinukil oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam <em>an-Nubuwwat</em> hlm. 396, Ibnul Qoyyim dalam <em>Thoriqul Hijratain</em> hlm. 417, dan Ibnu Muflih dalam <em>al-Furu’</em> 1/603.</p>
<p>2. Jin mukmin, apakah mereka bisa masuk surga? Ada perselisihan di kalangan ulama. Mayoritas mereka mengatakan bahwa jin mukmin akan masuk surga sebagaimana manusia mukmin, ini pendapat al-Auza’I, Ibnu Abi Laila, Abu Yusuf, dan dinukil dari Malik, Syafi’I dan Ahmad bin Hanbal. Mereka berdalil dengan firman Allah:</p>
<p style="text-align: center;"><strong>وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِّمَّا عَمِلُوا وَلِيُوَفِّيَهُمْ أَعْمَالَهُمْ وَهُمْ لَا  يُظْلَمُونَ </strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang Telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan. </em><a href="#_ftn36">[36]</a></p>
<p style="text-align: center;"><strong>فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ </strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin</em>.<a href="#_ftn37">[37]</a></p>
<p>Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa jin mukmin tidak masuk surga, lalu mereka berselisih apakah akan menjadi tanah seperti hewan ataukah ganjaran mereka sekedar selamat dari neraka.</p>
<p>Pendapat yang kuat adalah pendapat pertama sebagaimana ditegaskan oleh Syaikhul Islam dalam <em>an-Nubuwwat</em> hlm. 397, Ibnu Katsir dalam <em>Tafsirnya</em> 7/287 dan Ibnu Hajar al-Haitami dalam <em>al-Fatawa al-Haditsiyyah</em> hlm. 70.<a href="#_ftn38">[38]</a></p>
<p><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="165" height="2"><strong>Faidah XX<br />
</strong></td>
</tr>
<tr>
<td><strong>KEBEBASAN </strong> <strong> </strong><strong>BERPIKIR</strong></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Soal:</strong> Kita mendengar dan membaca ungkapan “Kebebasan Berpikir” yaitu suatu ajakan untuk berkeyakinan bebas. Apa komentar anda tentang ungkapan ini?!</p>
<p><strong>Jawab:</strong> Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjawab: Komentar kami terhadap ungkapan tersebut; Barangsiapa yang membolehkan seorang untuk bebas berkeyakinan, menyakini agama semaunya maka dia telah kafir, karena setiap orang yang berkeyakinan bahwa seorang boleh beragama selain agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad maka dia kafir, harus dimintai taubat, bila bertaubat maka diterima dan bila tidak maka wajib dibunuh.</p>
<p>Agama bukanlah pemikiran, tetapi wahyu dari Allah yang diturunkan kepada para RasulNya agar diyakini oleh para hambaNya. Ungkapan ini yaitu kebebasan berpikir dengan artian kebebasan beragama harus dibuang dari kamus-kamus kitab Islam, karena akan membawa makna yang rusak, yaitu Islam dikatakan sebagai pemikiran, Nashrani adalah pemikiran dan Yahudi adalah pemikiran, sehingga syari’at hanyalah pemikiran yang diyakini oleh manusia semaunya, padahal agama samawi adalah wahyu dari Allah, bukan pemikiran.</p>
<p>Kesimpulannya, barangsiapa berkeyakinan bolehnya seorang beragama sesukanya dan bebas beragama maka dia kafir kepada Allah, karena Allah berfirman:</p>
<p style="text-align: center;"><strong>وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي  الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ </strong></p>
<p style="text-align: center;">Barangsiapa mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. <a href="#_ftn39">[39]</a></p>
<h3 style="text-align: center;"><strong>إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ</strong><strong> </strong></h3>
<p style="text-align: center;">Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. <a href="#_ftn40">[40]</a></p>
<p>Maka tidak boleh bagi seorangpun untuk meyakini bahwa agama selain Islam boleh dipeluk, bahkan bila dia meyakini hal ini maka para ahli ilmu telah menegaskan bahwa dia kafir keluar dari Islam”. <a href="#_ftn41">[41]</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> QS. Al-Kafirun: 6.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Lihat Badai’ Fawaid 1/248, Ibnu Qayyim.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Yakni hadits bithaqah (kartu) syahadat “Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq kecuali hanya Allah dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusannya”. Haditsnya diriwayatkan Tirmidzi 2/106, Ibnu Majah 4300, Ahmad 2/213, al-Hakim 1/6. (Lihat Ash-Shahihah al-Albani no. 135)</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Juz Bithaqah hal. 35-36, Hamzah al-Kinani.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> <em> Thabaqat Hanabilah</em> 1/81, Ibnu Abi Ya’la.</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> <em>Mu’jam Udaba’</em> 2/473, Yaqut al-Hamawi.</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Semoga Allah merahmati Syaikhul Islam!! Sungguh, alangkah tajamnya pemahaman beliau! Kalau saja pasukan perang di kalangan sahabat mengalami kekalahan dalam perang Uhud, padahal kesalahan mereka tidak sampai kepada derajat syirik, lantas bagaimana kiranya apabila pasukan perang bergelimang dalam kubang kesyirikan?!! Ya Allah, hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan dan kemenangan untuk kaum muslimin dimanaun berada.</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> QS. Al-Anfal: 9.</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Lihat <em>Istighasyah fi Raddi ‘Alal Bakri</em> 2/631-6333, Ibnu Taimiyyah.</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> <em>I’lam Muwaqqi’in</em> 3/287, Ibnu Qayyim.</p>
<p><strong>Faedah:</strong> Imam adz-Dzahabi berkata dalam <em>Mizanul I’tidal</em> 1/112: “Dia memiliki syair yang menunjukkan bahwa dia adalah zindiq”.  Yaqut al-Hamawi juga berkata: “al-Ma’arri adalah keledai yang tolol, sebab hikmah di balik syari’at ini sangat jelas, seandainya saja tangan pencuri tidak dipotong kecuali aabila telah mencapai lima ratus dinar maka akan banyak pencurian kurang dari lima ratus dinar. Dan seandainya saja diyat tangan hanya sekedar seperempat dinar maka akan banyak orang yang memotong tangan lalu dengan mudahnya dia akan membayar tebusannya yang hanya seperemat dinar. Kita berlindung kepada Allah dari kesesatan”. (Mu’jam Udaba’ 1/430).</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Banyak sekali orang yang disebut dengan Aidarus, namun mungkin yang paling mendekati di sini adalah yang paling popular diantara mereka, yaitu Abu Bakar Abdullah asy-Syadzili al-Aidarus, wafat tahun (914 ). Lihat biografinya dalam <em>al-Kawakib as-Saairah</em> 1/113 oleh al-Ghozzi.</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> QS. Al-Ankabut: 65.</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> QS. Yusuf: 106.</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> Dinukil dari Ta’liq <em>Kasyfu Syubuhat</em>, Ali al-Halabi hal. 72-74</p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> QS. Ali Imran: 169.</p>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a><em> Tuhfah Thalib al-Jalis</em> hal. 56, Abdul Lathif Alu Syaikh.</p>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a><em> </em><em>Mu’jam Manahi Lafdziyyah</em> hal. 594, Bakr Abu Zaid.</p>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> <em> ar-Rusul wa Risalat </em>hal. 84-88, DR. Umar Sulaiman al-Asyqar.</p>
<p><a href="#_ftnref19">[19]</a> <em>Ash-Shahwah Islamiyah</em> hal. 160-161.</p>
<p><a href="#_ftnref20">[20]</a> QS. Al-Fatihah: 5.</p>
<p><a href="#_ftnref21">[21]</a> <em>Taisirul Karimir Rahman</em> hlm. 28.</p>
<p><a href="#_ftnref22">[22]</a> <em>Tabloid Tekad</em>, <em>Harian Republika</em> No. 44/th.II, 4-10 September 2000 hlm. 11, dari buku <em>Tarekat Tasawwuf</em> hlm. 109, Hartono Ahmad.</p>
<p><a href="#_ftnref23">[23]</a> <em>Silsilah Ahadits Ash-Shahihah</em> 4/252-253.</p>
<p><a href="#_ftnref24">[24]</a> Lihat buku <em>Laisa Minal Islam</em> hlm. 70-71 oleh Muhammad al-Ghozali dan <em>Sunnah-Syi&#8217;ah Bergandengan Tangan, Mungkinkah Bergandeng Tangan?</em> karya DR. M. Quraisy Shihab hlm. 258, penerbit Lentera Hati, cet pertama</p>
<p><a href="#_ftnref25">[25]</a> Majalah Al-Manar 31/290, dinukil dari <em>Khud’atu Taqrib Baina Sunnah wa Syi’ah</em> Asyrof bin Abdul Maqshud hlm. 39-40.</p>
<p><a href="#_ftnref26">[26]</a><em>Nuzhatul Khowathir wa Bahjatul Masami&#8217; wa Nawadhir,</em> Abdul Hayyi al-Hasani 8/95.</p>
<p><a href="#_ftnref27">[27]</a> <em>Ar-Riyadh Nadiyyah</em>, Ali Hasan al-Halabi hal. 41-42.</p>
<p><a href="#_ftnref28">[28]</a> <em> Akhbar Zhirof wal Mutamaajinin</em> Ibnul Jauzi hlm. 65-66.</p>
<p><a href="#_ftnref29">[29]</a> <em>Ahkam Ahli Dzimmah</em> hlm. 202-203.</p>
<p><a href="#_ftnref30">[30]</a> <em>Al-Bidayah wa Nihayah,</em> Ibnu Katsir 7/100.</p>
<p><a href="#_ftnref31">[31]</a> <em> </em>QS. Al-Bayyinah: 6.</p>
<p><a href="#_ftnref32">[32]</a> HR. Muslim 153.</p>
<p><a href="#_ftnref33">[33]</a> Syaikh Masyhur bin Hasan berkomentar: “Seperti para orientalis dan para peneliti ilmu syari’at dari orang-orang kafir. Dan hal ini sangat masyhur sekali pada zaman sekarang”.</p>
<p><a href="#_ftnref34">[34]</a> <em>Al-Muwafaqot</em> 1/85, tahqiq Syaikh Masyhur Hasan.</p>
<p><a href="#_ftnref35">[35]</a> QS. As-Sajadah: 13.</p>
<p><a href="#_ftnref36">[36]</a> QS. Al-Ahqof: 19.</p>
<p><a href="#_ftnref37">[37]</a> QS. Ar-Rohman: 56.</p>
<p><a href="#_ftnref38">[38]</a> Diringkas dari <em>Fathul Mannan</em> 1/144-150 Masyhur bin Hasan dan <em>Buhuts Nadiroh</em> hlm. 214 Fahd bin Abdillah ash-Shoq’abi.</p>
<p><a href="#_ftnref39">[39]</a> QS. Ali Imron: 85.</p>
<p><a href="#_ftnref40">[40]</a> QS. Ali Imron: 19.</p>
<p><a href="#_ftnref41">[41]</a> <em>Majmu’ Fatawa wa Rosail Syaikh Ibnu Utsaimin</em> 3/99-100.</p>
<p><strong><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/20-faedah-tentang-aqidah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>7 FAEDAH SEPUTAR DAKWAH</title>
		<link>http://abiubaidah.com/10-faedah-seputar-dakwah.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/10-faedah-seputar-dakwah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 23:04:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Faidah Ilmiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Faidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah dalam Berdakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=466</guid>
		<description><![CDATA[Faidah I: KAIDAH PENTING Al-Hafizh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata: “Mengingkari kemungkaran memiliki empat tingkatan: Pertama: Apabila kemungkaran tersebut hilang dan berganti sebaliknya Kedua: Apabila mengecil sekalipun tidak hilang seluruhnya,. Ketiga: Apabila berganti dengan kemungkaran semisalnya. Keempat: Apabila berganti kepada yang lebih parah darinya. Tingkatan pertama dan kedua disyari’atkan Tingkatan ketiga perlu pertimbangan Tingkatan keempat hukumnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fabiubaidah.com%2F10-faedah-seputar-dakwah.html%2F">
										</iframe>
										</div><p style="text-align: justify;"><strong>Faidah I: KAIDAH PENTING</strong></p>
<p><strong>Al-Hafizh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah</strong> berkata: “Mengingkari kemungkaran memiliki empat tingkatan:</p>
<ul>
<li>Pertama: Apabila kemungkaran tersebut hilang dan berganti sebaliknya<img class="alignright size-full wp-image-490" title="دعوة إلي الله يا أخي" src="http://abiubaidah.com/wp-content/uploads/2009/11/دعوة-إلي-الله-يا-أخي.jpg" alt="دعوة إلي الله يا أخي" width="124" height="99" /></li>
</ul>
<ul>
<li>Kedua: Apabila mengecil sekalipun tidak hilang seluruhnya,.</li>
</ul>
<ul>
<li>Ketiga: Apabila berganti dengan kemungkaran semisalnya.</li>
</ul>
<ul>
<li>Keempat: Apabila berganti kepada yang lebih parah darinya.<span id="more-466"></span></li>
</ul>
<blockquote><p>Tingkatan pertama dan kedua disyari’atkan</p></blockquote>
<blockquote><p>Tingkatan ketiga perlu pertimbangan</p></blockquote>
<blockquote><p>Tingkatan keempat hukumnya haram.</p></blockquote>
<p>Lanjut beliau: “Saya mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -semoga Allah menerangi kuburnya- berkata:</p>
<blockquote><p>Pada zaman pasukan Tatar, aku bersama para kawanku pernah melewati orang-orang lagi asyik minum khamr, seorang kawan mengingkari mereka namun aku menegurnya seraya kukatakan padanya: “Sesungguhnya Allah mengharamkan khamr karena menghalangi manusia dari mengingat Allah dan mengingat shalat, dan mereka apabila minum khamr maka mereka tidak membunuh, menawan anak-anak dan merampok harta, jadi biarkan saja mereka”.<a href="#_ftn1">[1]</a></p></blockquote>
<p style="text-align: justify;"><strong><br />
</strong></p>
<table style="height: 28px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="141" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="141" height="2"><strong>Faidah II </strong></td>
</tr>
<tr>
<td><strong>INDAHNYA COBAAN</strong></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Imam adz-Dzahabi menceritakan dalam <em>Siyar A’lam Nubala’</em> 8/80-81 tentang cobaan yang menimpa Imam Malik bin Anas karena suatu fatwanya, dimana beliau dipanggil oleh pemimpin saat itu, lalu dilepasi bajunya, dicambuki, dan ditarik tangannya  hingga terlepas tulang pundaknya, tetapi semua itu malah menjadikan beliau setelah itu dalam ketinggian derajat. Imam adz-Dzahabi berkomentar: “Demikianlah buah cobaan yang terpuji, dia mengangkat derajat seorang hamba dalam hati orang-orang yang beriman!!”.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Faidah III</strong>: <strong>JANGAN TERGESA-GESA</strong></p>
<p>Hendaknya bagi setiap juru dakwah untuk saling menyayangi dan saling memaafkan antara sesama. Bila ada suatu kabar miring tentang saudaranya, maka janganlah dia tergesa-gesa meresponnya, hendaknya dia mengecek kebenarannya terlebih dahulu karena betapa banyak kabar yang ternyata hanya sekedar gosip semata, yang justru kerapkali meretakkan hubungan antara para juru dakwah!!!. Rasulullah bersabda:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;" dir="rtl"><strong>كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ</strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>“Cukuplah seorang dianggap berdusta apabila dia menceritakan setiap yang dia dengar”.</em><a href="#_ftn2">[2]</a></p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;">Dahulu dikatakan:</p>
<p style="text-align: left;">
<blockquote>
<p style="text-align: center;" dir="rtl"><strong>وَمَا آفَةُ الأَخْبَارِ إِلاَّ رُوَاتُهَا</strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>Tidaklah kecacatan sebuah kabar kecuali dari penukilnya</em><a href="#_ftn3">[3]</a>.</p>
</blockquote>
<p>Dan apabila berita tersebut memang benar, maka kedepankanlah <em>husnu zhan</em> (baik sangka) kepada saudaramu dalam memahami ucapan atau perbuatannya.</p>
<ul>
<li>Amirul mukminin Umar bin Khaththab berkata:</li>
</ul>
<blockquote><p>“Janganlah engkau menyangka jelek suatu kalimat yang keluar dari saudaramu muslim sedangkan <strong>engkau masih bisa mendapatkan ruang kebaikan dalam memahaminya</strong>”.<a href="#_ftn4">[4]</a></p></blockquote>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="165" height="2"><strong>Faidah IV</strong></td>
</tr>
<tr>
<td><strong>PUJIAN DAN CELAAN<br />
</strong></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Imam Ibnu Hazm</strong> berkata: “Sebuah cara  yang paling manjur untuk mendapatkan ketenangan adalah mengabaikan omongan orang dan memperhatikan ucapan Sang Pencipta alam. Barangsiapa yang menyangka bahwa dirinya bisa selamat dari celaan manusia, maka dia telah gila.</p>
<ul>
<li>Seorang yang mencermati secara seksama -sekalipun ini pahit rasanya- niscaya akan mengetahui bahwa celaan manusia kepadanya justru lebih baik daripada pujian mereka, sebab pujian kalau memang benar maka bisa menyeretnya lupa daratan dan menimbulkan penyakit <em>‘ujub</em> (bangga diri) yang akan merusak keutamaannya, namun apabila pujian itu tidak benar dan dia bergembira dengannya, maka berarti dia gembira dengan kedustaan. Sungguh ini kekurangan yang sangat.</li>
</ul>
<ul>
<li>Adapun celaan manusia, kalau memang benar maka hal itu dapat mengeremnya dari perbutan yang tercela, dan ini sangat bagus sekali, semuanya pasti menginginkannya kecuali orang yang kurang akalnya. Namun apabila celaannya tidak benar dan dia sabar, berarti dia mendapatkan keutamaan sabar, dan akan mengambil pahala kebajikan orang yang mencelanya sehingga dia akan menuai pahala kelak di hari kiamat hanya dengan perbuatan yang tidak memberatkan. Sungguh ini adalah kesempatan berharga, semuanya pasti menginginkannya kecuali orang yang gila ”.<a href="#_ftn5">[5]</a></li>
</ul>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="165" height="7"><strong> FAIDAH V</strong></td>
</tr>
<tr>
<td><strong>JANGAN BERSEDIH</strong></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Saudaraku, janganlah engkau sedih hati dengan sedikitnya orang yang menghadiri pengajianmu atau mendengarkan ceramahmu! Ingatlah selalu hadits Nabi:</p>
<p dir="rtl"><strong>عُرِضَتْ عَلَيَّ الأُمَمُ, فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّهْطُ, وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلاَنِ, وَالنَّبِيَّ وَلَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ </strong></p>
<p><em>Dinampakkan kepadaku semua umat, lalu saya melihat ada seorang Nabi bersama tiga hingga sembilan pengikutnya, ada seorang nabi bersama satu atau dua pengikut, dan ada seorang nabi yang tidak memiliki pengikut satupun<a href="#_ftn6"><strong>[6]</strong></a>.</em></p>
<ul>
<blockquote>
<li><strong>Mahmud bin Syukri al-Alusi</strong> berkata: “Seorang alim tidaklah berkurang kedudukannya hanya dikarenakan sedikitnya murid sebagaimana Nabi tidaklah berkurang kedudukannya dikarenakan sedikitnya pengikut”.<a href="#_ftn7">[7]</a></li>
</blockquote>
</ul>
<p>Sekalipun hanya beberapa orang yang ingin belajar kepadamu, maka ajarilah mereka ilmu yang Allah anugerahkan kepadamu, semoga Allah melipatgandakan pahala bagimu. Ingatlah selalu kisah-kisah para ulama sebelum kita yang jauh lebih alim daripada kita.</p>
<ul>
<blockquote>
<li><strong>Imam Malik</strong> berkata: “Aku mendatangi Nafi’ ketika usiaku masih kecil bersama seorang temanku, beliaupun turun untuk mengajariku. Beliau duduk setelah shubuh di masjid, namun tidak ada seorangpun yang datang kepadanya”. <a href="#_ftn8">[8]</a></li>
</blockquote>
</ul>
<ul>
<blockquote>
<li><strong>Imam Atha’ bin Robah</strong>, dia adalah seorang yang paling dicintai manusia, namun yang hadir di majlisnya hanyalah delapan atau sembilan orang saja”.<a href="#_ftn9">[9]</a></li>
</blockquote>
</ul>
<p>.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p style="text-align: center;"><strong>FAIDAH VI: ADAB BERDIALOG</strong></p>
<blockquote><p>Pernah dikatakan kepada Hatim al-Asham<a href="#_ftn10">[10]</a>: “Engkau adalah orang ‘ajami (bukan Arab), kamu juga tidak fashih, namun kamu selalu menang dalam berdebat, apa rahasianya?! Dia menjawab: Saya memiliki tiga kunci dalam berdebat, aku bergembira apabila lawanku benar, aku sedih bila dia salah, dan aku menjaga diriku untuk tidak menyakitinya”. Tatkala ucapan ini sampai kepada Imam Ahmad bin Hanbal, beliau berkomentar: “Subhanallah! Alangkah cerdasnya orang ini!!”. <a href="#_ftn11">[11]</a></p></blockquote>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="141" height="0"><strong>FAIDAH VII</strong></td>
</tr>
<tr>
<td><strong>CITA-CITA KITA</strong></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align: center;" dir="rtl"><strong>مُنَايَ مِنَ الدُّنْيَا عُلُوْمٌ أَبُثُّهَا           وَأَنْشُرُهَا فِيْ كُلِّ بَادٍ وَحَاضِرِ</strong></p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl"><strong>دُعَاءٌ إِلَى الْقُرْآنِ وَ السُّنَنِ الَّتِيْ       تَنَاسَى رِجَالٌ ذِكْرَهَا فِي الْمَحَاضِرِ</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl"><strong>وَقَدْ أَبْدَلُوْهَا بِالْجَرَائِدِ تَارَةْ            وَتِلْفَازُهُمْ رَأْسُ الشُّرُوْرِ وَالْمَنَاكِرِ</strong></p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl"><strong>وَبِالرَّادِيُوْ فَلاَ تَنْسَ شَرَّهُ               فَكَمْ ضَاعَ الْوَقْتُ بِهَا مِنْ خَسَائِرِ</strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>Cita-citaku di dunia adalah menyebarkan ilmu</em><em> </em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Ke pelosok desa dan kota</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Mengajak menusia kepada Al-Qur’an dan Sunnah</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Yang kini banyak dilalaikan manusia.</em><a href="#_ftn12">[12]</a><em> </em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Mereka menggantinya dengan koran</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Dan Televisi mereka sumber kerusakan dan kemunkaran</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Dan juga Radio, jangan kamu lupakan kejelekannya</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Betapa banyak waktu hilang sia-sia karenanya<a href="#_ftn13"><strong>[13]</strong></a>.</em></p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;"><em><a href="http://abiubaidah.com">Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi</a></em></p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://abiubaidah.com">www.abiubaidah.com</a></p>
<p style="text-align: left;">.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>CATATAN KAKI:</strong></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> <em>I’lam Muwaqqi’in</em>, 4/339-340.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> <em> </em>HR. Muslim: 5.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> <em>Ghoyah Nihayah</em> 1/263, sebagaimana dalam <em>An-Nadhair</em> Bakr Abu Zaid hal. 301</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Dikeluarkan al-Mahamili dalam <em>Al-Amali</em>: 460.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> <em>Mudawah Nufus </em>hal. 80-81.</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Syaikh al-Albani berkata: “Dalam hadits ini terdapat dalil yang sangat jelas bahwa banyak dan sedikitnya pengikut bukanlah timbangan benar atau salahnya seorang dai”. Lanjutnya: “Dalam hadits ini juga terdapat pelajaran bagi para dai dan mad’u (yang didakwahi), seorang dai hendaknya terus maju dalam kancah dakwah tanpa menghiraukan sedikitnya orang yang menerima dakwahnya, karena kewajibannya hanyalah menyampaikan. Demikian pula bagi orang yang didakwahi hendaknya tidak sedih karena sedikitnya orang yang menerima dakwah, atau meragukan dakwah yang benar, apalagi menolaknya hanya dengan alasan sedikitnya pengikut, seandainya dakwah yang benar tentu akan diikuti banyak orang!!”. (Lihat <em>Silsilah ash-Shahihah</em> 1/2/755-756).</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> <em>al-Misku wal Idzhir</em> hal. 198.</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> <em>Siyar A’lam Nubala’</em> 8/107.</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> <em>Siyar A’lam Nubala’</em> 5/84, lihat <em>Ma’alim fi Thalabil Ilmi</em>, Abdul Aziz as-Sadhan hal. 310.</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> <em>Al-Asham</em> adalah gelar yang artinya tuli. Konon ceritanya, ada seorang wanita bertanya kepadanya tentang suatu permasalahan, namun dengan tidak sengaja dia keluar kentut bersuara, sehingga wanita tadi merasa malu. Untuk menjaga perasaannya, Hatim berpura-pura tidak mendengar seraya berkata: “Keraskanlah suaramu”. Wanita itupun merasa senang karena dia menduga Hatim tidak mendengar suara kentutnya. Setelah itu Hatim terus menjadi tuli. (<em>al-Muntadham</em> 11/253)</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> <em>al-Muntadham fi Tarikhi Muluk wal Umam</em>, Ibnul Jauzi 11/254.</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> <em>Siyar A’lam Nubala</em> 18/206. Adz-Dzahabi berkomentar: “Syairnya Ibnu Hazm ini sangat indah sekali sebagaimana engkau lihat sendiri”.</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> dari Madarik Nadhar Abdul Malik al-Jazairi</p>
<p>.</p>
<p><strong>Lihat artikel sebelumnya (silakan di<em>klik</em>):</strong></p>
<ul>
<li><strong><a href="http://abiubaidah.com/fawaid-muqaddimah.html/">Mencatat Faidah: Tips Mudah Mengumpulkan Banyak Ilmu<br />
</a></strong></li>
<li><strong><a href="http://abiubaidah.com/10-faidah-tentang-ilmu.html/">10 Faidah Tentang Ilmu</a><br />
</strong></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/10-faedah-seputar-dakwah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>10 FAIDAH TENTANG ILMU</title>
		<link>http://abiubaidah.com/10-faidah-tentang-ilmu.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/10-faidah-tentang-ilmu.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 17:01:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Faidah Ilmiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Faidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=457</guid>
		<description><![CDATA[FAIDAH I: KEUTAMAAN ILMU Sesungguhnya Allah menjadikan buruan yang ditangkap oleh anjing yang bodoh sebagai bangkai yang haram dimakan, sebaliknya Allah menghalalkan buruan yang ditangkap oleh anjing yang berilmu. Hal ini menunjukkan tentang keutamaan ilmu. Allah berfirman, yang artinya: Mereka menanyakan kepadamu: &#8220;Apakah yang Dihalalkan bagi mereka?&#8221;. Katakanlah: &#8220;Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fabiubaidah.com%2F10-faidah-tentang-ilmu.html%2F">
										</iframe>
										</div><table style="height: 94px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="144" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="141" height="11">
<h2>FAIDAH I:</h2>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<h2>KEUTAMAAN ILMU</h2>
</td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<ul>
<li>Sesungguhnya Allah menjadikan buruan yang ditangkap oleh anjing yang bodoh sebagai bangkai yang haram dimakan, sebaliknya Allah menghalalkan buruan yang ditangkap oleh <img class="alignright size-full wp-image-462" title="abiubaidah.com" src="http://abiubaidah.com/wp-content/uploads/2009/11/علم-2.jpg" alt="abiubaidah.com" width="120" height="90" />anjing yang berilmu. Hal ini menunjukkan tentang keutamaan ilmu. Allah berfirman, yang artinya:</li>
</ul>
<p><em>Mereka menanyakan kepadamu: &#8220;Apakah yang Dihalalkan bagi mereka?&#8221;. Katakanlah: &#8220;Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya). dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat cepat hisab-Nya.</em><a href="#_ftn1">[1]</a><span id="more-457"></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Seandainya bukan karena kemuliaan ilmu, niscaya buruan hasil anjing bodoh dan pintar sama hukumnya”.<a href="#_ftn1">[2]</a></p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;">.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">
</blockquote>
<table style="height: 94px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="144" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="141" height="11">
<h2>FAIDAH II:</h2>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<h2>ILMU YANG BERMANFAAT</h2>
</td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<ul>
<li><strong>Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali</strong> berkata <a href="#_ftn3">[3]</a></li>
</ul>
<blockquote><p>“Ilmu bermanfaat adalah mempelajari Al-Qur’an dan sunnah serta memahami makna kandungan keduanya dengan pemahaman para sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in. Demikian juga dalam masalah hukum halal dan haram, zuhud dan masalah hati, dan lain sebagainya.</p></blockquote>
<blockquote><p><strong>Pertama</strong>: Dia berusaha terlebih dahulu memilah antara hadits shahih dan lemah.</p></blockquote>
<blockquote><p><strong>Kedua:</strong> Dia berusaha memahami makna kandungannya. Sungguh, pada semua itu terdapat kecukupan bagi orang yang berakal dan kesibukan bagi orang yang ingin mendapatkan ilmu bermanfaat.</p></blockquote>
<blockquote><p>Barangsiapa mengikhlaskan hatinya untuk mengharap wajah Allah dan memohon pertolongan kepadaNya, niscaya Dia akan menolongnya, menunjukinya, memudahkannya, dan memahamkannya. Pada saat itulah, ilmu ini akan membuahkan buahnya yang terpenting yaitu Khsyatullah (takut kepada Allah), sebagaimana firman Allah:</p>
<p style="text-align: center;"><em>Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hambaNya, hanyalah ulama.</em><a href="#_ftn4">[4]</a></p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;">.</p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<table style="height: 94px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="144" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="141" height="11">
<h2>FAIDAH III:</h2>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<h2>BUAH ILMU</h2>
</td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong>عَنْ جُنْدُبِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : مَثَلُ الْعَالِمِ الَّذِيْ يُعَلِّمُ النَّاسَ الْخَيْرَ وَيَنْسَى نَفْسَهُ كَمَثَلِ السِّرَاجِ يُضِيْئُ لِلنَّاسِ وَيُحْرِقُ نَفْسَهُ</strong></p>
<ul>
<li>Dari Jundub bin Abdillah berkata: Rasulullah bersabda: “Perumpamaan seorang berilmu yang mengajarkan kebaikan kepada manusia tetapi melupakan dirinya seperti lampu yang menyinari manusia tetapi membakar dirinya sendiri”.<a href="#_ftn5">[5]</a></li>
</ul>
</blockquote>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: left;">.</p>
<blockquote>
<table style="height: 94px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="144" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="141" height="11">
<h2>FAIDAH IV:</h2>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<h2>KUTU BUKU</h2>
</td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</blockquote>
<blockquote>
<ul>
<li>Kebiasaan <strong>Imam Zuhri</strong> kalau masuk rumah, maka beliau meletakkan kitab-kitabnya bertumpukan di sekitarnya. Beliau menikmati kesibukannya tersebut sehingga lalai dari segala urusan dunia lainnya. Suatu saat isterinya pernah berkata padanya: “<strong>Demi Allah, sungguh kitab-kitab ini lebih berat bagiku daripada tiga isteri sainganku</strong>!!!”.<a href="#_ftn6">[6]</a></li>
</ul>
</blockquote>
<ul>
<li><strong>Ibnu Qayyim </strong>berkata: “Guru kami (Ibnu Taimiyyah) pernah bercerita padaku: “Ketika sakit menimpaku, seorang dokter berkata padaku: Sesungguhnya bacaanmu dan pembicaraanmu tentang ilmu akan menambah sakitmu”.</li>
</ul>
<p>Aku menjawab: Saya tidak bisa sabar menahan hal itu. Sekarang jawablah pertanyaanku berdasarkan ilmu pengetahuanmu: Bukankah hati apabila senang dan kuat maka akan mampu mengusir penyakit?</p>
<p>Jawab sang dokter: Ya, benar.</p>
<p>Aku berkata lagi: Demikian pula hatiku, dia sangat senang dengan ilmu dan aku merasakan kegembiraan dengannya.</p>
<p>Dokter menjawab: “Ini keluar dari cara pengobatan kami…”. <a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>.</p>
<table style="height: 94px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="144" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="141" height="11">
<h2>FAIDAH V:</h2>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<h2>KESABARAN</h2>
</td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<ul>
<li>Kesabaran saat menuntut ilmu sangat diperlukan. Coba perhatikan ucapan Imam Ahmad: “<strong>Aku terus mempelajari  permasalahan darah haidh selama sembilan tahun sehingga aku memahaminya</strong>”.<a href="#_ftn8">[8]</a></li>
</ul>
<ul>
<li>Perangilah penyakit malas bila menghampirimu dan latihlah dirimu agar terbiasa dalam ilmu. Ikrimah berkata:</li>
</ul>
<blockquote><p>“Ibnu Abbas mengikat kakiku dalam mempelajari Al-Qur’an dan hadits”. <a href="#_ftn9">[9]</a></p></blockquote>
<ul>
<li>Sungguh benar ucapan seorang penyair:</li>
</ul>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong>النَّفْسُ كَالطِّفْلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى                   حُبِّ الرَّضَاعِ وَإِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِمُ</strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>Jiwa itu seperti anak bayi, kalau kau biarkan</em><em> </em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Maka dia akan suka menyusu</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Dan bila engkau menyapihnya diapun akan berhenti.</em></p>
</blockquote>
<p><em>.<br />
</em></p>
<table style="height: 94px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="144" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="141" height="11">
<h2>FAIDAH VI:</h2>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<h2>CINTA POPULARITAS</h2>
</td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<ul>
<li><strong>Ibnu Jama’ah al-Jinani</strong> berkata:</li>
</ul>
<blockquote><p>“Hendaknya seorang penuntut ilmu <strong>tidak hanya</strong> mencukupkan diri untuk belajar kepada<strong> guru-guru yang populer</strong> saja, karena hal itu dinilai oleh al-Ghozali termasuk <strong>kesombongan</strong> dan <strong>kebodohan</strong>. Ketahuilah bahwa kebenaran adalah seperti barang hilang yang dicari oleh seorang mukmin, dia akan mengambilnya dimanapun dia mendapatkannya dan berterima kasih kepada orang yang memberikan kepadanya. Demikian pula seorang<strong> penuntut ilmu</strong>, dia akan<strong> lari dari kebodohan</strong> sebagaimana dia <strong>lari dari singa</strong>. Dan orang yang lari dari singa, dia tidak akan peduli siapapun orangnya yang menunjukkan jalan keluar kepadanya”.<a href="#_ftn10">[10]</a></p></blockquote>
<table style="height: 94px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="144" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="141" height="11">
<h2>FAIDAH VI:</h2>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<h2>SEMANGAT PARA WANITA</h2>
</td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ: قَالَتِ النِّسَاءُ لِلنَّبِيِّ : غَلَبَنَا عَلَيْكَ الرِّجَالُ, فَاجْعَلْ لَنَا يَوْمًا مِنْ نَفْسِكَ. فَوَعَدَهُنَّ يَوْمًا لَقِيَهُنَّ فِيْهِ فَوَعَظَهُنَّ وَأَمَرَهُنَّ, فَكَانَ فِيْمَا قَالَ لَهُنَّ : مَا مِنْكُنَّ امْرَأَةٌ تُقَدِّمُ ثَلاَثَةٌ مِنْ وَلَدِهَا إِلاَّ كَانَ لَهَا حِجَابًا مِنَ النَّارِ. فَقَالَتِ امْرَأَةٌ : وَاثْنَيْنِ؟ فَقَالَ : وَاثْنَيْنِ. </strong></p>
<p><em>Dari Abu Sa’id al-Khudri menceritakan bahwa sejumlah para wanita berkata kepada Nabi: “Kaum lelaki lebih banyak bergaul denganmu daripada kami, maka jadikanlah suatu hari untuk kami”. Nabi menjanjikan mereka suatu hari untuk bertemu dengan mereka guna menasehati dan memerintah mereka. Diantara sabda beliau saat itu: “Tidak ada seorang wanitapun yang ditinggal mati oleh tiga anaknya kecuali akan menjadi penghalang baginya dari neraka”. Seorang wanita bertanya: “Bagaimana kalau Cuma dua?”. Nabi menjawab: “Sekalipun Cuma dua”</em><a href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p>.</p>
<ul>
<li><strong>Al-Hafizh Ibnu Hajar</strong> berkata:</li>
</ul>
<blockquote><p>“Hadits ini menunjukkan <strong>semangat para wanita sahabat</strong> dalam mempelajari masalah-masalah agama”.<a href="#_ftn12">[12]</a></p></blockquote>
<p>.</p>
<table style="height: 94px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="144" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="141" height="11">
<h2>FAIDAH VIII:</h2>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<h2>MURID DURHAKA</h2>
</td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>.</p>
<ul>
<li>Ma’an bin Aus memiliki sebuah syair indah yang bisa dijadikan pelajaran berharga bagi setiap penuntut ilmu. Syairnya sebagai berikut:</li>
</ul>
<p>.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>فَيَا عَجَبًا لِمَنْ رَبَّيْتُ طِفْلاً                    أُلَقِّمُهُ بِأَطْرَافِ الْبَنَانِ </strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>أُعَلِّمُهُ الرِّمَايَةَ كُلَّ يَوْمٍ                        فَلَمَّا اسْتَدَّ سَاعِدُهُ رَمَانِي</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>أُعَلِّمُهُ الْفُتُوَّةَ كُلَّ وَقْتٍ                       فَلَمَّا طَرَّ شَارِبُهُ جَفَانِي</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>وَكَمْ عَلَّمْتُهُ نَظْمَ الْقَوَافِيْ                     فَلَمَّا قَالَ قَافِيَةً هَجَانِي</strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>Sungguh mengherankan, orang yang kudidik semenjak kecil</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Aku menyuapinya dengan jari tanganku</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Aku mengajarinya memanah setiap hari</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Setelah pandai, dia malah memanahku</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Aku mengajarkannya bermurah hati setiap waktu</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Setelah tumbuh kumisnya, dia malah berbuat kasar padaku</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Betapa seringnya aku mengajarinya syair</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Setelah bisa membuat satu syair, dia malah mencaciku</em><a href="#_ftn13">[13]</a>.</p>
<p style="text-align: left;">.</p>
<table style="height: 94px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="144" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="141" height="11">
<h2>FAIDAH IX:</h2>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<h2>JANGAN BERFATWA TANPA ILMU</h2>
</td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<ul>
<li>Hendaknya seorang penuntut ilmu tidak malu untuk mengatakan tentang suatu permasalahan yang tidak diketahuinya: “<strong>Saya tidak tahu</strong>”. Sungguh, hal itu sama sekali tidak mengurangi derajat mereka, bahkan meninggikan mereka. Ditambah lagi, bahwa hal itu memiliki beberapa faedah berikut:</li>
</ul>
<ol>
<li>Dia menunaikan kewajibannya.</li>
<li>Dia akan segera mencari jawabannya baik oleh dirinya sendiri maupun oleh orang lain, sebab seorang murid tatkala mendapati gurunya belum mengetahui jawabannya, dia akan bersungguh-sungguh untuk mencari jawabannya lalu menghadiahkan jawabannya tersebut kepada gurunya.</li>
<li>Hal itu menunjukkan kehati-hatiannya dalam menjawab permasalahan.</li>
<li>Sebagai pelajaran dan contoh bagi para muridnya. <a href="#_ftn14">[14]</a></li>
</ol>
<p>.</p>
<table style="height: 94px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="144" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="141" height="11">
<h2>FAIDAH X:</h2>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<h2>KIAT UNTUK SEMANGAT</h2>
</td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><em><strong>Soal</strong>: Terkadang kita perhatikan pada sebagian penuntut ilmu kurangnya semangat dalam menimba ilmu. Apakah kiat-kiat yang dapat menyembulkan semangat menuntut ilmu?</em></p>
<p><strong>Jawab</strong>: Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjawab:</p>
<p>“Kurangnya semangat dalam menuntut ilmu syar’I merupakan salah satu musibah besar. Ada beberapa kiat yang dapat mengobatinya, diantaranya:</p>
<ul>
<li><strong>Pertama:</strong> Ikhlas karena Allah dalam menuntut ilmu. Seorang apabila memurnikan niatnya hanya untuk Allah dalam menuntut ilmu dan menyadari bahwa dirinya mendapat pahala dalam amalan tersebut niscaya dia akan bersemangat.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Kedua:</strong> Berteman dengan teman-teman yang memberinya motivasi dalam menuntut ilmu dan membantunya dalam dialog serta membahas permasalahan.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Ketiga:</strong> Melatih dirinya untuk sabar dan membiasakan diri dalam menuntut ilmu. Adapun jika dia melepas dirinya tanpa kendali maka dirinya akan mengajaknya kepada perbuatan jelek dan Syetan akan mengajaknya untuk malas dalam menuntut ilmu”. <a href="#_ftn15">[15]</a></li>
</ul>
<p>.</p>
<p><a href="http://abiubaidah.com/biografi-ustadz-yusuf/"><strong>Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi</strong></a></p>
<p><a href="http://abiubaidah.com"><strong>www.abiubaidah.com</strong></a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> QS. Al-Maidah: 4.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> <em>Miftah Dar Sa’adah</em> Ibnu Qayyim 1/236</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> <em>Fadhlu Ilmi Salaf ‘ala Ilmi Khalaf</em> (hal. 26).</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> QS. Fathir: 28.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> HR. Ath-Thabrani dalam <em>Mu’jam Kabir</em> 1/84/2, al-Khathib al-Baghdadi dalam <em>Iqtidha’ Ilmu Amal</em> 70 dan dishahihkan al-Albani dalam Tahqiqnya.</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> <em>Wafayatul A’yan</em> Ibnu Khallikan 4/177-178.</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> <em>Raudhatul Muhibbin</em> hal. 70.</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> <em>Thabaqat Hanabilah</em> Ibnu Abi Ya’la 1/268.</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> <em>Siyar A’lam Nubala</em> adz-Dzahabi 5/14.</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> <em>Tadzkirah Sami’ fi Adabil Alim wal Muta’allim</em> hal. 87.</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> HR. Bukhari 101.</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> <em>Fathul Bari</em> 1/259.</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> <em>Majma’ al-Amtsal</em> al-Maidani 2/200. Bait kedua terdapat dalam <em>al-Iqdu al-Farid</em> Ibnu Abdi Rabbihi 3/56 dan <em>Adab Dunya wa ad-Diin al-Mawardi</em> hal. 77. (Dari <em>al-Masu’ah asy-Syi’riyyah</em> DR. Badr bin Abdullah an-Nashir 124-125).</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> Lihat <em>al-Fatawa as-Sa’diyyah</em> Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di hal. 628-629.</p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> <em>Kitab Ilmu </em>hal. 105.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Lihat Pula Artikel Faidah-Faidah Ilmiah Berikut Ini:</strong></p>
<ul>
<li><strong><a href="http://abiubaidah.com/fawaid-muqaddimah.html/">Mencatat Faidah: Tips Mudah Mengumpulkan Banyak Ilmu</a></strong></li>
<li><strong><a href="http://abiubaidah.com/10-faedah-seputar-dakwah.html/">7 Faidah Seputar Dakwah</a><br />
</strong></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/10-faidah-tentang-ilmu.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencatat Faidah: Tips Mudah dalam Mengumpulkan Banyak Ilmu</title>
		<link>http://abiubaidah.com/fawaid-muqaddimah.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/fawaid-muqaddimah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 00:51:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Faidah Ilmiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[Faidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=451</guid>
		<description><![CDATA[[ Muqaddimah Rubrik Fawaid yang Akan Disampaikan Berseri dalam Web Ini] A. Muqaddimah بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ : Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya (2699) sebuah hadits dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi bersabda: وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fabiubaidah.com%2Ffawaid-muqaddimah.html%2F">
										</iframe>
										</div><p style="text-align: center;">[<strong> Muqaddimah Rubrik Fawaid yang Akan Disampaikan Berseri dalam Web Ini</strong>]</p>
<p style="text-align: center;"><img class="alignleft size-full wp-image-453" title="kumpulan faidah" src="http://abiubaidah.com/wp-content/uploads/2009/11/كتب-21.jpg" alt="kumpulan faidah" width="99" height="129" /></p>
<p><strong>A. Muqaddimah</strong></p>
<p align="center">بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ</p>
<p style="text-align: center;">الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ :</p>
<p><strong>Imam Muslim</strong> meriwayatkan dalam Shahihnya (2699) sebuah hadits dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi bersabda:<span id="more-451"></span></p>
<p style="text-align: center;">وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ</p>
<p style="text-align: center;"><em>“Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”.</em></p>
<p><strong>Al-Hafizh Ibnu Rajab</strong> berkata: “Menempuh jalan menuntut ilmu memiliki dua makna:</p>
<ul>
<li>Pertama: Secara hakekat, yaitu melangkahkan kaki untuk menghadiri majlis ilmu</li>
</ul>
<ul>
<li>Kedua: Lebih luas, yaitu menempuh berbagai cara yang mengantarkan menuju ilmu seperti menulis, menghafal, mempelajari, mengulangi, memahami dan lain sebagainya.<a href="#_ftn1">[1]</a></li>
</ul>
<p>Di antara cara menimba ilmu yang sangat bermanfaat sekali adalah menghimpun fawaid (faedah) yang kita dengar, lihat, baca dan sebagainya. Nah, rubrik baru ini merupakan suatu contoh bagi saudara-saudara kami yang haus ilmu. Kami berdoa kepada Allah agar memberikan manfaat dan pahala atasnya serta contoh bagi para penuntut ilmu, karena barangsiapa memberikan contoh yang baik dalam Islam maka dia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya hingga hari kiamat<a href="#_ftn2">[2]</a>.</p>
<p>Namun sebelumnya perlu kiranya kita menjelaskan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan fawaid dan apa manfaatnya?! Inilah yang ingin kita bahas terlebih dahulu pada edisi kali ini. Kita memohon kepada Allah agar menambahkan kepada ilmu yang bermanfaat, keimanan dan amal shalih. Amin.</p>
<p><strong>B. Defenisi Al-Fawaid</strong></p>
<p><strong><em>Al-Fawaid</em></strong> diambil dari bahasa Arab  الْفَوَائِدُ )) bentuk jama’ (plural) dari kata mufradnya (tunggal) (   ( الْفَائِدَةُyang secara bahasa artinya adalah setiap yang engkau dapatkan berupa ilmu, harta dan sebagainya.<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Adapun maksud Al-Fawaid dalam pengertian para penulis kitab adalah sebuah kitab yang menghimpun beberapa masalah yang beraneka macam mutiara ilmu dan hal-hal penting yang diperoleh oleh seorang selama perjalanan panjangnya bersama ilmu, ulama’, kitab, fakta dan sebagainya yang tidak hanya terbatas pada satu bidang tertentu saja, tetapi mencakup banyak bidang ilmu; tafsir, hadits, akhlak, bahasa, syair, tarikh, kisah, fatwa dan lain sebagainya<a href="#_ftn4">[4]</a>.</p>
<p><strong>C. Manfaat Menghimpun Al-Fawaid</strong></p>
<p>Mengetahui buah sebuah bidang ilmu sangatlah bermanfaat sekali, sebab dengan hal itu kita akan terdorong untuk lebih perhatian dan semangat meraihnya. Adapun manfaat menghimpun fawaid sangatlah banyak sekali, diantaranya:</p>
<p><strong>1. Menjaga dan Mengikat Ilmu</strong></p>
<p>Tulisan sangat penting untuk menjaga ilmu, lebih meresap dalam hafalan, memudahkan kita untuk membaca ulang terutama apabila dibutuhkan, bisa dibawa ke sana-kemari dan lain sebagainya. Betapa seringnya seorang yang menyepelekan sebuah faedah karena mengandalkan hafalannya seraya mengatakan: “Ah, gampang, insyallah saya tidak lupa”, akhirnya dia lupa dan berangan-angan aduhai seandainya dahulu dia menulisnya!!. Oleh karena itu, camkanlah baik-baik nasehat<strong> Sya’bi</strong>:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong>“Apabila engkau mendengar sesuatu, maka</strong> <strong>tulislah sekalipun di tembok”.</strong></p>
</blockquote>
<ul>
<li><strong>Imam Syafi’I</strong> juga pernah bertutur:</li>
</ul>
<p style="text-align: center;">الْعِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةُ قَيْدُهُ                     قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْحِبَالِ الْوَاثِقَهْ</p>
<p style="text-align: center;">فَمِنَ الْحَمَاقَةِ أَنْ تَصِيْدَ غَزَالَةً  وَتَتْرُكَهَا بَيْنَ الْخَلاَئِقِ طَالِقَهْ</p>
<p style="text-align: center;"><em>Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja.</em><a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p><strong>2. Menambah Khazanah Ilmu Pengetahuan</strong></p>
<p>Banyak diantara kita yang telah lama menghadiri majlis taklim dan banyak membaca buku atau majalah, tetapi dia merasa bahwa dia tidak memiliki kekuatan ilmu, padahal seandainya dia mau rajin mencatat masalah-masalah ilmu yang penting dalam sebuah daftar khusus, menyusunnya, kemudian dia sering membacanya berulang-ulang, niscaya dengan izin Allah dia akan merasa bahwa dirinya memiliki bahan yang cukup banyak, baik untuk menyampaikan khutbah, pengajian, tulisan, cerita dan lain sebagainya. Semua ini telah kami coba dan hasilnyapun sangat memuaskan, maka cobalah sendiri wahai saudaraku yang mulia.</p>
<p style="text-align: center;">وَمَنْ لَمْ يُجَرِّبْ لَيْسَ يَعْرِفْ قَدْرَهُ                       فَجَرِّبْ تَجِدْ تَصْدِيْقَ مَا ذَكَرْنَاه</p>
<p style="text-align: center;"><em>Barangsiapa belum mencoba, maka belum tahu hasilnya</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Cobalah sendiri, niscaya kamu akan tahu kejujuran ucapan saya.<a href="#_ftn6"><strong>[6]</strong></a></em></p>
<p><strong>3. Barang Simpanan Di Masa Tua</strong></p>
<p><strong>Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid</strong> berkata:</p>
<blockquote><p>“Diantara faedah menghimpun fawaid yang paling berharga adalah ketika di saat lanjut usia dan badan telah lemah, dia akan memliki bahan materi yang dapat dia nukil tanpa susah payah harus mencari-cari lagi”.<a href="#_ftn7">[7]</a></p></blockquote>
<p>Sebagai contoh <strong>al-Hafizh Ibnu Hajar</strong> mengatakan tentang hadits Umar tentang niat:</p>
<blockquote><p>“Saya telah meneliti jalur riwayat hadits ini dalam kitab-kitab hadits yang populer dan kitab-kitab kecil semenjak aku menuntut ilmu hadits sampai sekarang, namun saya tidak mendapatkan lebih dari seratus jalur”.<a href="#_ftn8">[8]</a>.</p></blockquote>
<p>Menarik juga ucapan <strong>Syaikh Abdul Muhsin Abbad</strong> tentang dirinya:</p>
<blockquote><p>“Kenanganku yang paling menarik adalah buku-buku kurikulum dan buku tulisku ketika sekolah dulu semenjak ibtidai’yah, mutawassitah, tsanawiyah dan jami’ah, semuanya masih ada dalam lemariku sampai sekarang”.<a href="#_ftn9">[9]</a></p></blockquote>
<p><strong>D. Potret Salaf Dalam Menghimpun Al-Fawaid<a href="#_ftn10">[10]</a></strong></p>
<p>Apabila anda membaca sejarah para ulama dan bagaimana semangat mereka dalam memanfaatkan waktu dan mencatat faedah, niscaya anda akan terheran-heran!!</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">لاَ تَعْرِضَنَّ لِذِكْرِنَا بِذِكْرِهِمْ                 لَيْسَ الصَّحِيْحُ إِذَا مَشَى كَالْمُقْعَدِ</p>
<p style="text-align: center;"><em>Janganlah kamu bandingkan kami dengan mereka</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Orang sehat tidak sama jalannya dengan orang sakit.</em></p>
<p style="text-align: center;">Berikut sekelumit contoh kabar tentang mereka:</p>
</blockquote>
<ul>
<li><strong>Imam Bukhari</strong> yang digelari sebagai <strong><em>“jabal Hifzh”</em></strong> (hafalannya seperti gunung), beliau bangun berkali-kali dalam satu malam untuk mencatat faedah. Berkata al-Firabri:</li>
</ul>
<p>“Pada suatu malam, saya pernah bersama Muhammad bin Ismail (Bukhari) di rumahnya, saya menghitung dia bangun dan menyalakan lampu untuk mengingat ilmu dan mencatatnya sebanyak delapan belas kali dalam satu malam”.<a href="#_ftn11">[11]</a></p>
<ul>
<li><strong>Imam Syafi’I</strong> (204 H) yang namanya taka asing lagi bagi kita  Kawannya al-Humaidi menceritakan bahwa dirinya tatkala di Mesir pernah keluar pada suatu malam, ternyata lampu rumah Syafi’I masih nyala. Tatkala dia naik ternyata dia mendapati kertas dan alat tulis. Dia berkata: Apa semua ini wahai Abu Abdillah (Syafi’i)?! Beliau menjawab: Saya teringat tentang makna suatu hadits dan saya khawatir akan hilang dariku, maka sayapun segara menyalakan lampu dan menulisnya”.<a href="#_ftn12">[12]</a></li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Abul Qashim bin Ward at-Tamimi</strong> (540 H). Diceritakan oleh Ibnu Abbar al-Hafizh bahwa beliau tidak mendapatkan sebuah kitabpun kecuali dia menelaah bagian atas dan bawahnya, kalau beliau menjumpai sebuah faedah padanya maka beliau salin di kertas miliknya sehingga terkumpul banyak sekali.<a href="#_ftn13">[13]</a></li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Az-Zarkasyi</strong> (794 H). Diceritakan oleh Ibnu Hajar bahwa beliau sering sekali pergi ke pasar buku, kalau dia datang ke sana dia menelaah di toko buku sepanjang siang, dia menulis masalah-masalah yang menarik di sebuah kertas, kemudian apabila dia pulang ke rumah dia salin ke kitab-kitab karyanya.<a href="#_ftn14">[14]</a></li>
</ul>
<ul>
<li>Para ulama banyak membukukan fawaid mereka dalam kitab tersendiri. Sebut misalnya,</li>
</ul>
<ol>
<li>Kitab <em>Al-Funun</em> oleh Ibnu Aqil yang merupakan <strong>kitab terbesar</strong> dalam masalah ini,</li>
<li><em>Shaidhul Khathir</em> oleh Ibnul Jauzi,</li>
<li><em>Qaidul Awabid</em> oleh ad-Daghuli sebanyak<strong> empat ratus jilid</strong>,</li>
<li><em>Bada’I Fawaid </em>dan<em> Al-Fawaid</em> oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah,</li>
<li><em>At-Tadzkirah</em> oleh al-Kindi dalam <strong>lima puluh jilid</strong>,</li>
<li><em>Majma’ Fawaid wa Manba’ Faraid</em> oleh al-Miqrizi<strong> sebanyak seratus jilid</strong>,</li>
<li><em>Tadzkirah Suyuthi</em> sebanyak <strong>lima puluh jilid</strong></li>
<li>dan masih banyak lagi lainnya.</li>
</ol>
<p><strong>E. Beberapa Masalah Tentang Al-Fawaid</strong></p>
<p>Untuk melengkapi bahasan ini ada beberapa permasalahan penting yang perlu untuk diperhatikan bersama seputar masalah fawaid sebagai berikut:</p>
<p><strong>1. Jangan Meremehkan Faedah!!</strong></p>
<p>Jangan sekali-kali menganggap sepele sebuah faedah, karena satu faedah diremehkan kemudian diremehkan kemudian diremehkan kalau dikumpulkan maka akan terkumpul banyak sekali.</p>
<ul>
<li><strong>Imam Nawawi</strong> menasehatkan kepada para penuntut ilmu agar mencatat hal-hal berharga yang dia peroleh baik ketika menelaah kitab atau mendengar dari seorang guru:</li>
</ul>
<blockquote><p>“Janganlah dia meremehkan suatu faedah yang dia dapatkan atau dengar dalam bidang apapun, tetapi hendaknya dia segera mencatat dan sering berulang-ulang membaca kembali catatannya”.</p></blockquote>
<p>Beliau juga menasehatkan:</p>
<blockquote><p>“Janganlah dia menunda untuk mencatat sebuah faedah sekalipun dia menganggapnya mudah, sebab betapa banyak kecacatan dikarenakan menunda, apalagi di waktu lain dia akan mendapatkan ilmu baru lagi”.<a href="#_ftn15">[15]</a></p></blockquote>
<p>Sebuah nasehat yang sangat berharga dari Imam Nawawi, peganglah erat-erat nasehat ini niscaya engkau akan mendapatkan manfaat yang besar. Sungguh, betapa banyak diantara kita yang <strong>kecewa</strong> dan <strong>mengeluh</strong> karena dia <strong>tidak mencatat ilmu</strong> yang dia peroleh atau <strong>berpedoman pada hafalannya</strong>, tetapi <strong>hafalan pun pudar tidak dapat membantunya</strong>. Coba bayangkan orang seperti <strong>Al-Hafizh Ibnu Hajar </strong>yang dikenal sebagai ulama kondang saja <strong>beliau pernah kecewa karena tidak mencatat sebagian faedah dalam bidang tafsir</strong>.<a href="#_ftn16">[16]</a> <strong>Lantas bagaimana kiranya dengan kita?!!</strong></p>
<p><strong>2. Jangan Sembunyikan Faedah</strong></p>
<blockquote><p>Terkadang terlontar sebuah permasalahan di sebuah majlis sesama penuntut ilmu atau<strong> sesama kawan sendir</strong>i, sedangkan engkau tahu jawabannya yang seandainya mereka mendengarnya darimu niscaya akan memperoleh faedah yang cukup banyak. Namun terkadang <strong>Syetan</strong> membisikkan padamu: “<strong>Kalau kamu sampaikan ilmu ini, niscaya mereka akan tahu dan menukilnya kepada manusia tetapi kebaikanmu tidak disebut sama sekali</strong>”. Saudaraku, lemparlah jauh-jauh bisikan Syetan ini, sebab orang seperti ini tidak akan berbarokah ilmunya, dan kamu tahu sendiri ancaman bagi orang yang menyembunyikan ilmu. Keluarkanlah faedahmu dengan segera, semoga Allah melipatgandakan pahala bagimu.<a href="#_ftn17">[17]</a></p></blockquote>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>3. Sandarkan Kepada Ahlinya</strong></p>
<p>Dahulu dikatakan: “Termasuk keberkahan ilmu engkau menyandarakannya kepada ahlinya”.<a href="#_ftn18">[18]</a></p>
<p style="text-align: center;">إِذَا أَفَادَكَ إِنْسَانٌ بِفَائِدَةٍ                      مِنَ الْعُلُوْمِ فَأَدْمِنْ شُكْرَهُ أَبَدَا</p>
<p style="text-align: center;">وَقُلْ فُلاَنٌ جَزَاهُ اللهُ صَالِحَةً    أَفَادَنِيْهَا وَأَلْقِ الْكِبْرَ وَالْحَسَدَا</p>
<p style="text-align: center;"><em>Apabila ada seorang yang memberikan faedah kepadamu</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Berupa ilmu maka banyaklah terima kasih padanya selama-lamanya</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Katakanlah: Semoga Allah membalas si fulan dengan kebaikan</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Karena dia telah memberiku faedah, tinggalkan kesombongan dan kedengkian<a href="#_ftn19"><strong>[19]</strong></a>.</em></p>
<p>Terkadang kita mendapatkan sebuah faedah berharga dari seorang kawan yang telah susah payah mendapatkannya, tetapi setelah itu kita menasabkannya kepada diri kita sendiri tanpa mengingat jerih payah saudara kita. Jangan, sekali-kali jangan, hindarilah perangai jelek ini. Hargailah jasa orang lain padamu, semoga Allah memberkahi ilmumu.</p>
<p><strong>4. Jangan Lupa Muraja’ah</strong></p>
<p>Apabila anda telah memiliki buku yang menghimpun masalah-masalah penting ini, maka seringlah anda membacanya berkali-kali, baik dengan diajarkan kepada orang lain secara lisan maupun tulisan, atau sekedar dibaca sendiri karena ilmu apabila tidak sering diulang-ulang maka lambat laun akan pudar dari ingatan. Diceritakan oleh <strong>Ibnul Jauzi</strong> bahwa ada seorang alim yang mengulang-ngulang pelajaran di rumahnya berkali-kali.</p>
<p>Seorang nenek tua akhirnya berkomentar: “Demi Allah, aku telah menghafalnya”.</p>
<p>Sang alimpun menyuruh nenek tadi supaya mengulanginya dan diapun dapat mengulanginya.</p>
<p>Setelah beberapa hari kemudian, sang alim berkata kepada nenek tadi: “Nek, coba ulangi pelajaran waktu itu”.</p>
<p>Si nenek menjawab: “Kalau sekarang ya saya sudah lupa”.</p>
<p>Si alim berkata: “Saya selalu mengulang hafalanku berkali-kali agar supaya tidak menimpaku  apa yang telah menimpamu”.<a href="#_ftn20">[20]</a></p>
<p><strong>F. Akhirul Kalam</strong></p>
<p>Saudaraku, perjalanan menimba ilmu begitu panjang sekali sebagaimana kata Nabi:</p>
<p style="text-align: center;">مَنْهُوْمَانِ لاَ يَشْبَعَانِ : طَالِبُ عِلْمٍ وَ طَالِبُ دُنْيَا</p>
<p style="text-align: center;"><em>Dua orang yang bergairah tidak pernah kenyang; penuntut ilmu dan pemburu dunia.</em><a href="#_ftn21">[21]</a></p>
<p>Sebagain ulama mengatakan:</p>
<blockquote><p>“Penuntut ilmu hadits bersama tinta hingga ke liang kuburan”.</p></blockquote>
<p>Pernah dikatakan kepada<strong> Imam Ibnu Mubarak</strong>:</p>
<blockquote><p>“Seandainya saja engkau dihidupakan kembali setelah mati, apa yang ingin kamu lakukan? Beliau menjawab: <strong>Aku akan menuntut ilmu hingga malaikat maut mencabut nyawa untuk kedua kalinya</strong>”.</p></blockquote>
<p>Oleh karena itu, bersemangatlah wahai saudaraku -semoga Allah menjagamu- untuk menambah bekal ilmu dan jangan pernah sekali-kali meninggalkan ilmu.<a href="#_ftn22">[22]</a> Wallahu A’lam.</p>
<p><a href="http://abiubaidah.com"><strong><br />
</strong></a></p>
<p><a href="http://abiubaidah.com"><strong>Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi</strong></a></p>
<p><a href="http://abiubaidah.com"><strong>www.abiubaidah.com</strong></a></p>
<p><strong>.<br />
</strong></p>
<p><strong>CATATAN KAKI:</strong></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> <em>Risalah Waratsah Anbiya’ Syarh Hadits Abi Darda’</em> hal. 12.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> <em>Al-Muntaqa Min Faraid Fawaid</em> hal. 3 oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> <em>Ash-Shihah </em>oleh Al-Jauhari 2/521.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Muqaddimah <em>Fawaid Al-Fawaid</em> Ali Hasan al-Halabi hal. 7</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> <em>Diwan Syafi’I</em> hal. 103</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> <em>Mandzumah ash-Shan’ani fil Hajj</em> hal. 83</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> <em>Hilyah Thalib Ilmi</em> hal. 261 -Syarh Ibnu Utsaimin.</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> <em>Fathul Bari</em> 1/15.</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Akhir kitab <em>Ar-Radd Ala Man Kadzdzaba Ahadits Shahihah Anil Mahdi</em>.</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Lihat <em>Al-Musyawwiq Ila Qira’ah wa Thalabi Ilmi oleh Ali bin Muhammad al-Imran hal. 121-122</em></p>
<p><a href="#_ftnref11"><em><strong>[11]</strong></em></a><em> </em><em>Siyar A’lam Nubala’ 12/404.</em></p>
<p><a href="#_ftnref12"><em><strong>[12]</strong></em></a><em> </em><em>Adab Syafi’I wa Manaqibuhu Ibnu Abi Hatim hal. 44-45.</em></p>
<p><a href="#_ftnref13"><em><strong>[13]</strong></em></a><em> </em><em>Mu’jam Ashhabi ash-Shadafhi</em> hal. 25</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a><em> </em><em>Ad-Durar Al-Kaminah</em> 3/397-398.</p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a><em> Al-Majmu’</em> 1/38-39.</p>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> <em>Al-Jawahir wa Ad-Durar ash-Sakhawi </em>2/611.</p>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> <em>Ma’alim fi Thalabi Ilmi </em>Abdul Aziz as-Sadhan hal. 290.</p>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> <em>Bustanul Arifin</em> hal. 29, an-Nawawi<strong> </strong></p>
<p><a href="#_ftnref19">[19]</a> <em>Dzail Thabaqat Hanabilah</em> Ibnu Rajab2/87</p>
<p><a href="#_ftnref20">[20]</a> <em>Al-Hatstsu Ala Hifdzi Kitab</em> hal. 21</p>
<p><a href="#_ftnref21">[21]</a> Shahih Jami’ 5/374.</p>
<p><a href="#_ftnref22">[22]</a> <em>Ma’alim fi Thalabi Ilmi </em>Abdul Aziz as-Sadhan hal. 322.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Lihat Pula Artikel Selanjutnya di bawah ini (<a href="http://abiubaidah.com/category/faidah-ilmiyah/">Silakan Di</a><em><a href="http://abiubaidah.com/category/faidah-ilmiyah/">klik</a>):</em></strong></p>
<ul>
<li><strong><a href="http://abiubaidah.com/10-faidah-tentang-ilmu.html/">10 Faidah tentang Ilmu</a></strong></li>
<li><strong><a href="http://abiubaidah.com/10-faedah-seputar-dakwah.html/">7 Faidah Seputar Dakwah</a><br />
</strong></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/fawaid-muqaddimah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
