<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi</title>
	<atom:link href="http://abiubaidah.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abiubaidah.com</link>
	<description>Membela Agama dengan Ilmu dan Hujjah</description>
	<lastBuildDate>Fri, 20 Apr 2012 08:41:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>KESESATAN PAHAM INGKAR SUNNAH</title>
		<link>http://abiubaidah.com/kesesatan-paham-ingkar-sunnah.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/kesesatan-paham-ingkar-sunnah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2012 04:33:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ridwanyufid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sunnah dan Bid'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=1177</guid>
		<description><![CDATA[Ketahuilah wahai saudaraku –semoga Alloh Ta&#8217;ala merahmatimu– bahwasanya Alloh Ta&#8217;ala menurunkan dua wahyu berupa al-Qur&#8217;an dan al-Hikmah kepada Rosul-Nya dan mewajibkan kepada seluruh hamba untuk mengimani keduanya dan mengamalkan kandungannya. Alloh Ta&#8217;ala berfirman: وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّـهِ عَلَيْكَ وَرَحْمَتُهُ لَهَمَّت طَّائِفَةٌ مِّنْهُمْ أَن يُضِلُّوكَ وَمَا يُضِلُّونَ إِلَّا أَنفُسَهُمْ ۖ وَمَا يَضُرُّونَكَ مِن شَيْءٍ ۚ وَأَنزَلَ اللَّـهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ [...]
No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;" align="center">Ketahuilah wahai saudaraku –semoga Alloh Ta&#8217;ala merahmatimu– bahwasanya Alloh Ta&#8217;ala menurunkan dua wahyu berupa al-Qur&#8217;an dan al-Hikmah kepada Rosul-Nya dan mewajibkan kepada seluruh hamba untuk mengimani keduanya dan mengamalkan kandungannya. Alloh Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p dir="RTL"><strong>وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّـهِ عَلَيْكَ وَرَحْمَتُهُ لَهَمَّت طَّائِفَةٌ مِّنْهُمْ أَن يُضِلُّوكَ وَمَا يُضِلُّونَ إِلَّا أَنفُسَهُمْ ۖ وَمَا يَضُرُّونَكَ مِن شَيْءٍ ۚ وَأَنزَلَ اللَّـهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُن تَعْلَمُ ۚ وَكَانَ فَضْلُ اللَّـهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا ﴿<a href="file:///J:/RIDWAN/Al-Qur'an/An-Nisa%20[4%20113]%20-%20Tanzil%20Quran%20Navigator_files/An-Nisa%20[4%20113]%20-%20Tanzil%20Quran%20Navigator.htm">١١٣</a>﴾</strong></p>
<p style="text-align: left;" dir="RTL">“Dan Alloh telah menurunkan kitab dan hikmah kepadamu.” (QS. an-Nisa [4]:113)</p>
<p style="text-align: left;" dir="RTL">[Berdasarkan kesepakatan ulama salaf yang dimaksud dengan al-Kitab yaitu al-Qur'an dan al-Hikmah adalah Sunnah.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/HADITS%20AH%20(E).doc#_ftn1">[1</a></p>
<p style="text-align: left;" dir="RTL">akan apa yang dikabarkan oleh Rosululloh  dari Robbnya, kewajiban kita adalah membenarkan dan mengimaninya. Hal ini merupakan pokok dasar yang disepakati oleh seluruh kaum muslimin, tidak ada yang mengingkarinya</p>
<p style="text-align: left;" dir="RTL">[kecuali orang di luar Islam.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/HADITS%20AH%20(E).doc#_ftn2">[2</a></p>
<p>Namun anehnya, muncul sebuah pemahaman sesat yang mencukupkan diri dengan al-Qur'an saja tanpa hadits Nabi. Lebih aneh lagi, tatkala pemikiran beracun ini diadopsi oleh sebagian pemikir dan penulis zaman sekarang.</p>
<p>Sekadar contoh, simaklah ucapan Agus Mustofa berikut:<span id="more-1177"></span></p>
<p>“Kita bisa membayangkan, betapa riskannya kita memahami ucapan Nabi berdasarkan cerita dari orang lain. Bukannya kita tidak percaya tetapi harus hati-hati. Karena sangat boleh jadi orang-orang yang meriwayatkan hadits itu tidak paham 100 persen apa yang dimaksudkan oleh Nabi.</p>
<p>Seandainya Rasulullah sekarang ini masih hidup, kita pasti akan mengatakan: <em>sami’na wa atho’na</em>. Kami dengar dan kami taati. Tetapi karena hadits-hadits itu diceritakan berdasar kepada pemahaman maka kita harus menyeleksi dengan sangat ketat. Acuannya gampang. Cocokkan saja dengan al-Qur’an. Kalau ada hadits tidak sesuai dengan al-Qur’an maka bukan Qur’annya yang dikalahkan. Melainkan haditsnya yang harus disisihkan.</p>
<p>Maka, dalam hal azab kubur ini pun kita harus mengambil al-Qur’an sebagai sumber utama terlebih dahulu. Jika al-Qur’an ada, maka hadits-hadits itu berfungsi sebagai penjelasan. Akan tetapi jika di al-Qur’an tidak ada, kita harus menyeleksi secara ketat hadits-hadits tentang azab kubur. Apalagi yang bercerita tentang siksaan badan sebagaimana azab neraka, al-Qur’an tidak berbicara sedikitpun tentang siksaan badan dalam alam barzakh.”<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/HADITS%20AH%20(E).doc#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Kami katakan, bukankah ucapan ini termasuk pemikiran paham ingkar sunnah yang sesat dan menyesatkan?!! Oleh karenanya, pada kesempatan yang baik ini, sedikit ingin kami uraikan hadits yang menjadi pedoman paham sesat ini berikut komentar seputarnya. Hanya kepada Alloh w\ kita meminta ilmu yang bermanfaat.</p>
<h3>TEKS HADITS</h3>
<p dir="RTL" align="left"><strong>سَيَبْلُغُكُمْ عَنِّيْ أَحَادِيْثُ فَاعْرِضُوْهَا عَلَى الْقُرْآنِ,  فَمَا وَافَقَ الْقُرْآنَ فَالَزَمُوْهُ وَمَا خَالَفَ الْقُرْآنَ فَارْفُضُوْهُ</strong></p>
<p>“Apa yang datang kepada kalian dariku maka cocokkan lah dengan al-Qur’an, bila cocok dengan al-Qur’an maka saya mengucapkannya dan bila menyelisihi al-Qur’an maka saya tidak mengucapkannya.”</p>
<p><strong>LEMAH SEKALI.</strong> Diriwayatkan oleh al-Harawi dalam <em>Dzammul Kalam</em>: 2/78 dari <strong>Sholih al-Murri</strong>: Menceritakan kepada kami Hasan, dia berkata: Rosululloh n\ bersabda.</p>
<p>Sanad ini lemah, karena <em>mursal</em><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/HADITS%20AH%20(E).doc#_ftn4">[4]</a>, Hasan dalam sanad ini maksudnya adalah Hasan al-Bashri. Dan Sholih al-Murri yaitu Ibnu Basyir, dia lemah sekali. Disebutkan oleh adz-Dzahabi  dalam <em>adh-Dhu&#8217;afa</em> bahwa an-Nasa&#8217;i dan lainnya mengatakan tentangnya: “Dia ditinggalkan.” al-Hafizh  juga berkata dalam <em>at-Taqrib</em>: “Lemah.”</p>
<p>Hadits-hadits ini memiliki penguat-penguat lainnya tetapi semuanya parah, sehingga tidak bisa terangkat sebagaimana dikatakan oleh asy-Syaukani  dalam<em> al-Fawaid al-Majmu&#8217;ah</em> hlm. 281.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/HADITS%20AH%20(E).doc#_ftn5">[5]</a></p>
<h3>MENGKRITISI MATAN HADITS</h3>
<p>Matan hadits ini pun munkar sebagaimana ditegaskan ulama. Imam Ibnu Abdil Barr menukil ucapan Imam Abdurrohman bin Mahdi : “Orang-orang zindiq dan Khowarij yang memalsukan hadits-hadits tersebut.”</p>
<p>Lalu katanya: “Lafadz-lafadz ini tidak shohih dari Nabi menurut ahli hadits. Bahkan sebagian ahli ilmu membalik hadits ini seraya mengatakan: Kita cocokkan terlebih dahulu hadits ini dengan al-Qur’an, ternyata kita dapati kandungan hadits ini menyelisihi al-Qur’an, karena kita tidak mendapati al-Qur’an memerintahkan agar kita tidak menerima hadits kecuali yang cocok dengan al-Qur’an, namun al-Qur’an hanya memerintahkan untuk mengikuti Rosululloh, mentaatinya dan melarang untuk menyelisihinya.”<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/HADITS%20AH%20(E).doc#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Ibnu Baththoh juga menukil ucapan as-Saaji : “Hadits ini dipalsukan atas nama Nabi.” Ali bin Madini berkata: “Hadits ini tidak ada asalnya, orang-orang zindiq yang membuat hadits ini.”</p>
<p>Ibnu Baththoh berkomentar: “Benar ucapan as-Saaji dan Ibnul Madini, sebab hadits ini menyelisihi al-Qur’an dan mendustakan pencetusnya. Hadits yang shohih dan sunnah Rosululloh menolak hadits ini…”</p>
<h3>KESESATAN PAHAM INGKAR SUNNAH</h3>
<p>Imam as-Suyuthi berkata: “Ketahuilah –semoga Alloh merahmatimu– bahwa orang yang mengingkari hadits Nabi yang shohih sebagai hujjah, baik yang berupa ucapan maupun perbuatan, maka dia telah kufur, keluar dari Islam dan dikumpulkan bersama orang-orang Yahudi, Nashoro dan kelompok-kelompok kafir lainnya.”<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/HADITS%20AH%20(E).doc#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Jauh-jauh hari, Nabi telah menginformasikan akan munculnya kelompok sesat seperti ini, yaitu dalam haditsnya yang shohih:</p>
<p dir="RTL" align="left">أَلاَ إِنِّيْ أُوْتٍيْتُ الْقُرْاَنَ وَ مِثْلَهُ مَعَهُ. أَلاَ يُوْشِكُ رَجُلٌ شَبْعَانَ عَلَى أَرِيْكَتِهِ يَقُوْلُ: عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْقُرْاَنِ، فَمَا وَجَدْتُمْ فِيْهِ مِنْ حَلاَلٍ فَأَحِلُّوْهُ وَمَا وَجَدْتُمْ فِيْهِ مِنْ حَرَاٍم فَحَرِّمُوْهُ.</p>
<p>“Ketahuilah bahwa aku mendapatkan wahyu al-Qur’an dan juga semisalnya (hadits). Ketahuilah, hampir saja akan ada seseorang duduk seraya bersandar di atas ranjang hiasnya dalam keadaan kenyang, sedang dia mengatakan: Berpeganglah kalian dengan al-Qur’an. Apa yang kalian jumpai di dalamnya berupa perkara halal, maka halalkan lah. Dan apa yang kalian jumpai di dalamnya berupa perkara haram, maka haramkan lah.”<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/HADITS%20AH%20(E).doc#_ftn8"><strong>[8]</strong></a></p>
<p>Imam al-Baihaqi berkata: “Inilah khobar Rosululloh n/ tentang ingkarnya para ahli bid’ah terhadap hadits beliau. Sungguh apa yang beliau sampaikan telah nyata terjadi.”<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/HADITS%20AH%20(E).doc#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Syaikh Abu Hasan Ubaidulloh bin Muhammad ar-Rohmani mengatakan: “Hadits ini merupakan tanda di antara tanda-tanda kenabian. Sungguh, telah terbukti apa yang beliau kabarkan sebagaimana tidak asing lagi bagi penduduk India terutama penduduk Punjab dari Pakistan.”<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/HADITS%20AH%20(E).doc#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Al-Allamah al-Mubarokfuri mengatakan: “Hadits ini merupakan tanda di antara tanda-tanda kenabian. Sungguh telah terbukti nyata apa yang beliau kabarkan, karena ada seorang dari daerah Punjab (India) yang menamai dirinya dengan Ahlu Qur’an. Padahal, amatlah jauh antara dirinya dengan al-Qur’an.</p>
<p>Dahulu dia memang termasuk orang sholih, kemudian dia tersesat karena mengikuti langkah-langkah setan yang jauh dari jalan lurus. Akhirnya dia berbicara ngawur dengan perkataan yang tidak pernah diucapkan seorang muslim pun di dunia ini. Dengan lancangnya, dia menolak hadits-hadits Nabi n/ seraya berkata: Semua ini hanyalah dusta dan dibuat-buat saja. Kewajiban kita hanyalah mengamalkan kandungan al-Qur’an tanpa hadits-hadits Nabi, sekalipun toh shohih dan mutawatir. Barangsiapa tidak berbuat seperti demikian maka dia terancam dengan firman Alloh Ta&#8217;ala:</p>
<p dir="RTL">إِنَّا أَنزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِن كِتَابِ اللَّـهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ ۚ فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا ۚ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّـهُ فَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴿<a href="file:///J:/RIDWAN/Al-Qur'an/Al-Ma'ida%20[5%2044]%20-%20Tanzil%20Quran%20Navigator_files/Al-Ma'ida%20[5%2044]%20-%20Tanzil%20Quran%20Navigator.htm">٤٤</a>﴾</p>
<p style="text-align: left;" dir="RTL">“Barangsiapa tidak berhukum menurut apa yang diturunkan Alloh, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. al-Maidah [5]: 44)</p>
<p style="text-align: left;" dir="RTL">Masih banyak lagi perkataan-perkataan kufur lainnya yang keluar dari mulutnya. Ironisnya, banyak sekali orang-orang bodoh yang terjebak dalam jaringnya sehingga mereka pun mengangkatnya sebagai imam. Sungguh, para ulama masa kini telah menghukumi dia kafir dan mengeluarkannya dari Islam. Dan perkaranya seperti yang mereka katakan.”<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/HADITS%20AH%20(E).doc#_ftn11">[11</a></p>
<p style="text-align: left;" dir="RTL">Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani mengatakan:<strong> “</strong>Kelompok ini menamakan dirinya dengan al-Qur’aniyun (golongan al-Qur’an), padahal al-Qur’an berlepas diri dari mereka. Asumsi mereka, dalam memahami al-Qur’an tidaklah perlu memakai Sunnah Nabi, namun cukup hanya dengan bekal bahasa Arab. Padahal anda tahu sendiri bahwa bekal itu belum cukup bagi sahabat Jabir beserta sahabat-sahabat lainnya. Seperti yang telah kita ketahui bukankah mereka adalah orang-orang Arab tulen yang bahasa Arabnya istimewa dan al-Qur’an juga turun dengan bahasa mereka?! Lain halnya dengan kelompok al-Qur’aniyun ini. Mayoritas mereka –bahkan mungkin seluruh mereka– adalah orang-orang non-Arab.</p>
<p>Akhirnya, hasil dari pemahaman yang menyimpang ini, mereka keluar dari agama Islam dan mereka datang dengan membawa agama baru. Sholat mereka tidak seperti sholat kita, haji mereka tidak seperti haji kita, puasa mereka tidak seperti puasa kita. Dan –saya kurang tahu–, barangkali tauhid mereka juga tidak seperti tauhid kita.</p>
<p>Kelompok ini awalnya merajalela di India, kemudian merembet ke Mesir dan Syria. Saya pernah membaca salah satu kitab pedoman mereka yang berjudul ad-Dien tanpa nama pengarang. Saya katakan: Barangsiapa membaca kitab tersebut, niscaya dia akan mengetahui bahwa mereka telah keluar dari agama Islam. Semoga Alloh Ta'ala menghancurkan dua kelompok di atas tadi."<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/HADITS%20AH%20(E).doc#_ftn12">[12]</a></p>
<h3>PENUTUP</h3>
<p>Kami akhiri tulisan ini dengan nasihat Imam al-Ajurri, beliau berkata: “Selayaknya bagi para manusia berilmu dan berakal, apabila mendengar seorang berhujjah dengan hadits Nabi yang shohih, kemudian ada seorang jahil menentangnya seraya mengatakan: Saya tidak mau menerima kecuali dari al-Qur’an saja. Maka katakan padanya: Kamu adalah manusia jahil yang diingatkan oleh Nabi dan para ulama. Kemudian katakan juga padanya: Wahai jahil, sesungguhnya Alloh telah menurunkan kewajiban-kewajiban-Nya secara global dan memerintahkan Nabi-Nya agar menjelaskan perinciannya kepada umat manusia. Alloh Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p dir="RTL">بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ ۗ وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ ﴿<a href="file:///J:/RIDWAN/Al-Qur'an/An-Nahl%20[16%2044]%20-%20Tanzil%20Quran%20Navigator_files/An-Nahl%20[16%2044]%20-%20Tanzil%20Quran%20Navigator.htm">٤٤</a>﴾</p>
<p>“Dan kami turunkan kepadamu al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (QS. an-Nahl [16]: 44)</p>
<p>Alloh Ta&#8217;ala menjadikan Nabi-Nya sebagai penjelas syariat-Nya dan memerintahkan kepada umat manusia agar menaati Nabi Muhammad serta menjauhi larangannya. Alloh Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p dir="RTL">مَّا أَفَاءَ اللَّـهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ فَلِلَّـهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنكُمْ ۚ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّـهَ ۖ إِنَّ اللَّـهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ ﴿<a href="file:///J:/RIDWAN/Al-Qur'an/Al-Hashr%20[59%207]%20-%20Tanzil%20Quran%20Navigator_files/Al-Hashr%20[59%207]%20-%20Tanzil%20Quran%20Navigator.htm">٧</a>﴾</p>
<p>“Apa yang diberikan Rosul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. al-Hasyr [59]: 7)</p>
<p>Kemudian katakanlah kepada para pengingkar sunnah: Wahai jahil, Alloh Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p dir="RTL">وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللَّـهِ ۗ إِنَّ اللَّـهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ ﴿<a href="file:///J:/RIDWAN/Al-Qur'an/Al-Baqara%20[2%20110]%20-%20Tanzil%20Quran%20Navigator_files/Al-Baqara%20[2%20110]%20-%20Tanzil%20Quran%20Navigator.htm">١١٠</a>﴾</p>
<p>“Dan dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat.” (QS. al-Baqoroh [2]: 110)</p>
<p>Dari manakah engkau mengetahui bahwa sholat Shubuh dua roka&#8217;at, sholat Dhuhur empat roka&#8217;at, sholat Maghrib tiga roka&#8217;at, dan sholat Isya’ empat roka&#8217;at?! Dari manakah engkau mengetahui hukum-hukum seputar sholat, waktu-waktunya, syarat-syarat, dan pembatalnya?! Demikian pula zakat dan syariat-syariat Islam lainnya. Tidak akan dapat dipahami secara jelas, kecuali dari sunnah Nabi.</p>
<p>Inilah perkataan para ulama kaum muslimin. Barangsiapa mengatakan tidak seperti demikian, maka dia keluar dari agama dan memasuki agama para penyeleweng. Kita berlindung kepada Alloh Ta&#8217;ala dari kesesatan.”<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/HADITS%20AH%20(E).doc#_ftn13">[13]</a></p>
<p align="center">Oleh: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi</p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/HADITS%20AH%20(E).doc#_ftnref1"><strong>[1]</strong></a>     Imam asy-Syafi’i berkata: “Alloh menyebut al-Kitab yaitu al-Qur&#8217;an dan mengiringinya dengan al-hikmah. Saya mendengar para ahli ilmu tentang al-Qur&#8217;an yang saya ridhoi: “Al-Hikmah adalah sunnah Rosululloh.” (ar-Risalah hlm. 78)</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/HADITS%20AH%20(E).doc#_ftnref2"><strong>[2]</strong></a>     Ar-Ruuh Ibnu Qoyyim hlm. 131 secara ringkas</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/HADITS%20AH%20(E).doc#_ftnref3"><strong>[3]</strong></a>     Tak Ada Azab Kubur? hlm. 211-212. Dan lihat bantahan kami terhadap buku Agus Mustafa ini secara lebih terperinci dalam risalah kami yang berjudul Adakah Siksa Kubur? Cet. Pustaka Darul Ilmi, Bogor</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/HADITS%20AH%20(E).doc#_ftnref4"><strong>[4]</strong></a>     Mursal: Suatu hadits yang diriwayatkan dari tabi’in langsung kepada Rosululloh. Dan mursal termasuk bagian hadits yang lemah. (Lihat Jami’ Tahshil fi Ahkamil Marasil oleh al-Ala’i hlm. 31)</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/HADITS%20AH%20(E).doc#_ftnref5"><strong>[5]</strong></a>     Lihat Miftahul Jannah as-Suyuthi hlm. 30-32, Silsilah adh-Dho’ifah no. 1086-1090 oleh al-Albani</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/HADITS%20AH%20(E).doc#_ftnref6"><strong>[6]</strong></a>     Jami’ Bayani Ilmi wa Fadhlihi: 2/330</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/HADITS%20AH%20(E).doc#_ftnref7"><strong>[7]</strong></a>     Miftahul Jannah fil Ihtijaj bis Sunnah hlm.11</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/HADITS%20AH%20(E).doc#_ftnref8"><strong>[8]</strong></a>      HR. Abu Dawud: 4604, Ahmad: 4/130-131, dll. Hadits ini dishohihkan al-Albani dalam al-Misykah: 163</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/HADITS%20AH%20(E).doc#_ftnref9"><strong>[9]</strong></a>     Dala’il Nubuwwah: 1/25</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/HADITS%20AH%20(E).doc#_ftnref10"><strong>[10]</strong></a>   Mir’atul Mafatih: 1/258</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/HADITS%20AH%20(E).doc#_ftnref11"><strong>[11]</strong></a>   Tuhfatul Ahwadzi: 7/425</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/HADITS%20AH%20(E).doc#_ftnref12"><strong>[12]</strong></a>   Hajjatun Nabi n/ hlm. 54-55</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/HADITS%20AH%20(E).doc#_ftnref13"><strong>[13]</strong></a>   Asy-Syariah: 1/176-177</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
</div>
<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/kesesatan-paham-ingkar-sunnah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ALAT PETUNJUK ARAH QIBLAT</title>
		<link>http://abiubaidah.com/alat-petunjuk-arah-qiblat.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/alat-petunjuk-arah-qiblat.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2012 03:59:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ridwanyufid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikih Kontemporer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=1172</guid>
		<description><![CDATA[Pada zaman dahulu, manusia menggunakan bintang, bayangan dan sejenisnya untuk menentukan arah. Mereka terkadang mengalami kesulitan karena adanya awan dan mendung. Dengan perkembangan zaman ditemukanlah alat-alat modern untuk mentukan arah, semisal kompas maupun alat elektronik.  Alat-alat ini sangat dimanfaatkan oleh para pilot pesawat, nahkoda kapal, petualang dan lain sebagainya. Alat yang paling canggih saat ini [...]
No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;" align="center">Pada zaman dahulu, manusia menggunakan bintang, bayangan dan sejenisnya untuk menentukan arah. Mereka terkadang mengalami kesulitan karena adanya awan dan mendung. Dengan perkembangan zaman ditemukanlah alat-alat modern untuk mentukan arah, semisal kompas maupun alat elektronik.  Alat-alat ini sangat dimanfaatkan oleh para pilot pesawat, nahkoda kapal, petualang dan lain sebagainya.</p>
<p>Alat yang paling canggih saat ini adalah GPS <em>( Global Positioning System ).</em> Alat bekerja dengan bantuan 30 satelit GPS yang mengelilingi bumi. Alat ini menerima sinyal dari satelit dan diterjemahkan dalam bahasa yang bisa kita mengenai posisi suatu titik di muka bumi ini. Alat ini dapat memberikan petunjuk arah secara teliti dan akurat bila digunakan secara benar. Seperti kalau kita menginginkan arah Ka&#8217;bah maka dengan cara memasukkan Koordinat  21º 25’ 21.05” LU dan 39º 49’ 34.31BT. Apabila kordinat tersebut dimasukkan maka dengan cepat dia akan memberikan petunjuk arah kiblat, di manapun kita berada. Memang ada kemungkinan salah, tetapi tidak lebih dari 100 meter, sebuah jarak yang sedikit dan tidak berpengaruh, karena maksud dari kiblat bagi orang yang jauh dari Makkah adalah arahnya, bukan ka&#8217;bah itu sendiri.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Nah, bagaimana pandangan syari&#8217;at tentang alat modern ini ? Bolehkah alat tersebut digunakan untuk menentukan arah kiblat sholat?!. Masalah inilah yang akan kita kupas dalam pembahasan ini. Semoga Alloh q\ memberikan ilmu yang bermanfaat bagi kita semua.</p>
<h3>MENGHADAP KIBLAT, SYARAT SAHNYA SHOLAT<span id="more-1172"></span></h3>
<p>Sebagaimana dimaklumi bersama bahwa termasuk syarat sahnya sholat, baik wajib maupun sunnah adalah menghadap qiblat, hal ini berdasarkan dalil Al-Qur&#8217;an, hadits dan ijma&#8217; para ulama.</p>
<h2>1. Dalil al-Qur&#8217;an</h2>
<p dir="RTL">قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّـهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ ﴿<a href="http://tanzil.net/#2:144">١٤٤</a>﴾</p>
<p style="text-align: left;" dir="RTL">“Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.”  (QS. al-Baqoroh [2]: 144)</p>
<h2>2. Dalil Hadits</h2>
<p>Nabi n\ bersabda kepada orang yang jelek sholatnya:</p>
<p style="text-align: left;" dir="RTL">&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p>&#8220;Apabila kamu hendak sholat maka sempurnakanlah wudhumu, kemudian menghadplah ke kiblat lalu bertakbirlah.&#8221;</p>
<h2>3. Dalil Ijma&#8217;</h2>
<p>Para ulama telah bersepakat bahwa menghadap kiblat termasuk syarat sahnya sholat, sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rusyd<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn2">[2]</a>, al-Kasani<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn3">[3]</a>, an-Nawawi v\<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn4">[4]</a>, Ibnu Qudamah v\<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn5">[5]</a>, Ibnu Hazm<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn6">[6]</a> dan lain-lain banyak sekali<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn7">[7]</a>.</p>
<p>Namun, kewajiban menghadap kiblat dalam sholat ini dikecualikan dalam beberapa keadaan :</p>
<p align="left"><strong>Pertama: </strong>Dalam keadaan tidak mampu seperti sakit, menjaga pos perbatasan musuh, atau seperti orang yang di pesawat, kereta dan sebagainya yang tidak mendapati tempat kecuali kursinya yang tidak menghadap qiblat, maka boleh sholat menghadap ke arahnya, karena Alloh  tidak membebani jiwa kecuali semampunya.</p>
<p align="left"><strong>Kedua: </strong>Keadaan takut seperti kalau memerangi musuh atau lari dari musuh, lari dari banjir dan sebagainya maka qiblatnya adalah arah semampunya.</p>
<p align="left"><strong>Ketiga:</strong> Sholat sunnah di atas kendaraan saat safar.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Hikmah dari kewajiban menghadap kiblat adalah agar kaum muslimin menghadap kepada Alloh  dengan badan dan hatinya. Hatinya yaitu dengan menghadap kepada Alloh , sedangkan badannya yaitu dengan menghadap kepada rumah yang dimuliakan Alloh. Hikmah lainnya juga yang sangat nampak adalah agar umat Islam bersatu dan tidak bercerai berai.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn9">[9]</a></p>
<h3>CARA MENGETAHUI ARAH QIBLAT</h3>
<p>Ketahuilah wahai saudaraku -semoga Alloh selalu merahmatimu- bahwa para ulama dari kalangan ahli tafsir, ahli hadits dan ahli fiqih telah membahas secara detail  cara-cara untuk mengetahui arah qiblat<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn10">[10]</a>, di antaranya adalah:</p>
<p align="left">1. Alam bumi seperti gunung dan sungai</p>
<p align="left">2. Alam udara seperti angin, tapi ini adalah cara yang paling lemah</p>
<p align="left">3. Tanda di langit di malam hari yaitu bintang-bintang</p>
<p align="left">4. Tanda di langit di siang hari yaitu matahari</p>
<p align="left">5. Alat</p>
<p align="left">6. Mihrab masjid</p>
<p align="left">7. Informasi orang terpercaya.</p>
<p>Pada asalnya, kalau bisa hendaknya seorang yang akan sholat harus yakin tentang arah qiblat, jika tidak maka dengan informasi orang terpercaya, dan jika tidak maka dengan tanda-tanda kiblat tersebut.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn11">[11]</a></p>
<h3>ALAT PETUNJUK ARAH QIBLAT</h3>
<p>Para ulama berselisih tentang hukum mempelajari tanda-tanda kiblat antara sunnah dan wajib. Al-&#8217;Allamah al-Banuri  menjelaskan masalah ini secara panjang lebar lalu menyimpulkan: &#8220;Dari uraian di atas dapat kita simpulkan beberapa masalah :</p>
<p align="left"><strong>Pertama:</strong> Tanda-tanda arsitektur dapat dijadikan pedoman untuk mengetahui arah qiblat, waktu sholat dan sebagainya tetapi tidak bersifat wajib.</p>
<p align="left"><strong>Kedua:</strong> Barangsiapa yang mampu mengggunakan tanda-tanda tersebut maka hendaknya dia berpedoman dengannya dan lebih mendahulukannya dari tanda-tanda kiblat lainnya, karena dia menunjukkan tanda yang pasti atau prasangka yang kuat.</p>
<p align="left"><strong>Ketiga:</strong> Barangsiapa meninggalkan tanda-tanda tersebut padahal dia mampu, kemudian lebih memilih cara-cara lainnya untuk mengetahui arah kiblat dan waktu sholat maka hukumnya boleh dan sah sholatnya karena syari&#8217;at tidak membatasinya itu saja sebagai keluasan bagi mereka&#8221;.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn12">[12]</a></p>
<p>Tentang alat petunjuk arah kiblat modern secara khusus telah dibahas oleh para ulama. Dalam kitab <em>Bughyatul Arib </em>hlm. 93 dikatakan: &#8220;Perhatian: Barangsiapa yang memiliki jam untuk mengetahui waktu sholat atau alat  petunjuk arah qiblat, yang di India di sebut dengan Qutub Nama, atau Kiblat Nama, sedangkan di Arab disebut dengan Bait Ibroh, maka itu sudah mencukupi untuk mengetahui arah kiblat dan waktu sholat. Apabila alat-alat tersebut terbukti benar atau prsangka kuat kebanyakannya benar (karena prasangka kuat bisa digunakan dalam syari&#8217;at) sekalipun saya belum mendapati ada yang menegaskan hal itu. Benar, kaidah-kaidah fiqih tidak mendukung hal ini, akan tetapi hal ini telah berjalan secara adat dan kaum muslimin menggunakannya tanpa ada pengingkaran para ulama.&#8221;</p>
<p>Hal ini ditegaskan sebelumnya oleh ar-Romli, salah seorang ulama madzhab Syafi&#8217;iyyah, beliau mengatakan: &#8220;Diperbolehkan berpedoman pada <em>baitul ibroh</em> (alat petunjuk) tentang masuknya waktu sholat dan arah qiblat, karena keduanya menunjukkan prasangka kuat sebagaimana ijtihad.&#8221;<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Ibnu Badron, salah seorang ulama madzhab Hanabilah, berkata : &#8220;Adapun <em>baitul ibroh</em> (alat petunjuk arah qiblat) yang disebut dengan Kiblat Nama maka boleh dijadikan pedoman kalau sering benarnya.&#8221;<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn14">[14]</a></p>
<p>Beliau juga mengatakan<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn15">[15]</a> tatkala membahas masalah telegram: &#8220;Masalah ini persis dengan masalah-masalah lainnya yang biasa dijadikan oleh manusia dalam ibadah seperti alat penunjuk arah kiblat yang bila engkau letakkan maka dia akan menunjukkan ke arah qiblat. Nah, stelah diuji coba dan ternyata banyak benarnya maka itu termasuk tanda-tanda yang disebutkan ahli fiqih dalam kitab-kitab mereka. Dalilnya adalah penelitian dan percobaan dan ternyata jarang salahnya, sehingga bisa digunakan sebagai pedoman.&#8221;<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn16">[16]</a></p>
<p>Syaikh Dr. Khalid bin Ali al-Musyaiqih berkata: &#8220;Para ahli fiqih bersepakat tentang bolehnya berpedoman pada alat petunjuk arah qiblat.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn17">[17]</a> Hal ini telah ada pada zaman kita sekarang yakni sebuah alat elektronik yang menunjukkan arah utara dan barat secara akurat dan tidak terganggu dengan pengaruh-pengaruh alam  seperti halnya alat kuno. Adapun alat elektronik modern ini, dia sangat canggih dalam menunjukkan arah barat dan timur secara tepat. Jika memang demikian maka dia menunjukkan prasangka yang kuat yang dapat dianggap dalam masalah ibadah&#8221;.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn18">[18]</a></p>
<h3>SYARAT-SYARAT BOLEHNYA</h3>
<p>Alat modern dengan program GPS yang sekarang banyak di pasaran sangat ditentukan oleh penggunanya dengan memasukkan kode sesuai aturan. Oleh karena itu, apabila kode yang dimasukan keliru maka alat tersebut akan menghasilkan hasil yang keliru. Alat ini hanyalah buatan manusia yang memiliki kekurangan dan kelemahan. Oleh karenanya dia membutuhkan bantuan listrik ilmu tentang tata cara penggunaannya, sehingga apabila semuanya dilakukan maka akan menghasilkan hasil yang diinginkan insya Alloh.</p>
<p>Oleh karena itulah, sekalipun alat modern ini boleh digunakan dan dijadikan pedoman alat petunjuk arah qiblat, harus memenuhi beberapa syarat berikut:</p>
<ol start="1">
<li>Orang yang menggunakannya adalah orang yang mengerti tentang tata cara penggunaan alat tersebut.</li>
<li>Hasil alat modern tersebut tidak bertentangan dengan penelitian lain seperti dengan matahari atau bintang. Apabila memang ada pertentangan maka perlu diteliti ulang dengan lebih akurat lagi untuk kebenarannya.</li>
<li>Sebaiknya ditambahkan lagi dengan indikasi-indikasi lainnya tentang arah kiblat agar bertambah kuat hasil tersebut.</li>
</ol>
<p>Dengan memperhatikan syarat-syarat ini dan dengan diulang beberapa kali, kami kira akan membawa hasil yang memuaskan.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn19">[19]</a></p>
<h3>BAGAIMANA JIKA MASJID TERBUKTI TIDAK MENGHADAP QIBLAT?</h3>
<p>Masalah ini sering menjaid pertanyaan dan polemik, gambaran masalahnya adalah sebagai berikut : Ada sebuah masjid yang sudah dibangun dan dipakai sholat, namun setelah dicek dengan alat modern sekarang ternyata dia menyimpang dari qiblat. Maka yang menjadi masalah dan pertanyaan: Apakah sholat mereka sah? Dan apakah harus dirubah masjidnya?!</p>
<p>Jawaban: Sebelumnya, perlu diketahui bahwa cara menghadap kiblat ada dua macam:</p>
<p align="left"><strong>Pertama: </strong>Harus menghadap ka&#8217;bah itu sendiri, yakni  bagi orang yang sholat dekat dengan ka&#8217;bah.</p>
<p align="left"><strong>Kedua:</strong> Harus menghadap arah ka&#8217;bah, yakni bagi orang yang jauh dari ka&#8217;bah atau dekat tapi tidak melihat ka&#8217;bah.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn20">[20]</a></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjawab masalah ini sebagai berikut:</p>
<ol start="1">
<li>Apabila menyimpang dari Kiblat tersebut sedikit yakni tidak mengeluarkan seorang dari arah kiblat maka tidak masalah, sekalipun lurus adalah lebih utama.</li>
<li>Adapun apabila penyimpangnnya  dari kiblat sangat jauh sekali sehingga mengeluarkan seorang dari qiblat, seperti kalau arahnya ke selatan atau utara padahal qiblatnya di timur, maka tidak ragu lagi bahwa masjid perlu dirubah atau arahnya saja yang dirubah ke kiblat sedangkan arah masjid tetap.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn21">[21]</a></li>
</ol>
<p>Demikianlah keterangan para ulama yang dapat kami kumpulkan. Hanya kepada Alloh q\ kami memohon agar kita dianugerahi ilmu yang bermanfaat dan amal sholih. Walloh  A&#8217;lam.</p>
<h3>DAFTAR REFERENSI</h3>
<ol start="1">
<li><em>Atsar Taqniyah Al-Haditsah fil Khilaf Fiqhi, Dr. Hisyam bin Abdil Malik Alu Syaikh, Maktabah Ar-Rusyd, cet kedua 1428 H </em></li>
<li><em>Fiqih Nawazil,</em> Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid, Muassasah Ar-Risalah, Bairut cet pertama 1427 H</li>
<li><em>Fiqih Nawazil fil Ibadat,</em> Syaikh Khalid bin Abdillah al-Musyaiqih, tercetak dalam tulisan computer.</li>
<li><em>Fatawa Ibni Utsaimin fi Thoharah wa Sholat, kumpulan Fahd bin Nashir as-Sulaiman, Dar Tsuroyya, KSA, cet pertama 1429 H</em></li>
<li><em>Syarh Mumti&#8217;,</em> Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin, Dar Ibnil Jauzi, KSA, cet pertama 1422 H</li>
</ol>
<p align="center">Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi</p>
<div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref1"><strong>[1]</strong></a>     Lihat Atsaru Taqniyah Haditsah Fil Khilaf Fiqhi hlm. 167-170 karya Syaikh Dr. Hisyam Alu Syaikh.</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref2"><strong>[2]</strong></a>     Bidayatul Mujtahid  2/381</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref3"><strong>[3]</strong></a>     Bada&#8217;i Shona&#8217;i 1/340</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref4"><strong>[4]</strong></a>     al-Majmu&#8217; Syarh Muhadzab 3/193</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref5"><strong>[5]</strong></a>     al-Mughni  2/100</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref6"><strong>[6]</strong></a>     Marotibul Ijma&#8217;  hlm. 26</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref7"><strong>[7]</strong></a>     Lihat Ijma&#8217;at Ibni Abdil Barr 1/470-472 oleh Abdulloh bin Mubarok Alu Saif.</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref8"><strong>[8]</strong></a>     Taudhihul Ahkam 2/28-29 oleh Syaikh Abdulloh al-Bassam.</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref9"><strong>[9]</strong></a>     Syarh Mumti&#8217;  2/261 oleh Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin.</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref10"><strong>[10]</strong></a>   Lihat al-Bunayah 2/85-92 oleh al-&#8217;Aini, Buhgyatul Murib hlm  31-47 oleh al-Banuri.</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref11"><strong>[11]</strong></a>   Kifayah Akhyar 1/184-185. Lihat pula Syarh Mumti 2/2714-280 oleh Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin.</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref12"><strong>[12]</strong></a>   Bughyatul Arib hlm  90-93</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref13"><strong>[13]</strong></a>   Nihayatul Muhtaj 1/443</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref14"><strong>[14]</strong></a>   Ta&#8217;liq Akhshor Mukhtashorot  hlm. 22</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref15"><strong>[15]</strong></a>   al-Uqud al-Yaqutiyyah hlm. 268</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref16"><strong>[16]</strong></a>   Diringkas dari Fiqih Nawazil 1/228-237 oleh Syaikh Bakr Abu Zaid</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref17"><strong>[17]</strong></a>   Diantara para ulama tersebut adalah Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan anggota Lajnah Daimah, sebagaimana dalam Fatawa Lajnah Daimah 6/315 dan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin sebagaimana dalam Fatawa Ibnu Utsaimin 1/565.</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref18"><strong>[18]</strong></a>   Fiqih Nawazil Fil Ibadat  hlm. 47-48</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref19"><strong>[19]</strong></a>   Atsaru Taqinyah Haditsah hlm. 171-172 oleh Syaikh Dr. Hisyam bin Abdul Malik Alu Syaikh.</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref20"><strong>[20]</strong></a>   Syarh Mumti&#8217; 2/271 oleh Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin.</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref21"><strong>[21]</strong></a>     Fatawa Ibnu Utsaimin 1/562.</p>
</div>
</div>
<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/alat-petunjuk-arah-qiblat.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SIKSA KUBUR  SEBUAH AKIDAH YANG ABSOLUT</title>
		<link>http://abiubaidah.com/siksa-kubur-sebuah-akidah-yang-absolut.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/siksa-kubur-sebuah-akidah-yang-absolut.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2012 03:40:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ridwanyufid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah dan Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=1162</guid>
		<description><![CDATA[ Sesungguhnya keyakinan adanya adzab kubur merupakan salah satu di antara akidah Islam yang absolut berdasarkan dalil-dalil yang sangat banyak. Oleh karena itu wajib bagi seorang muslim untuk memahami akidah ini. Terlebih pada saat ini, ketika pemikiran-pemikiran bid’ah bermunculan dengan gencar yang dimotori oleh sebagian gerakan yang menghidupkan kembali kesesatan Khowarij dan sebagian Mu’tazilah yang mengingkari [...]
Related posts:<ol>
<li><a href='http://abiubaidah.com/adzab-kubur-mutawatir-atau-ahad.html/' rel='bookmark' title='ADZAB KUBUR, MUTAWATIR ATAU AHAD?'>ADZAB KUBUR, MUTAWATIR ATAU AHAD?</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/' rel='bookmark' title='Syaikh Al-Albani: Ahli Hadits yang Terdzalimi'>Syaikh Al-Albani: Ahli Hadits yang Terdzalimi</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/tanya-jawab-masuk-surga-amal.html/' rel='bookmark' title='Mungkinkah Kita Masuk Surga karena Amal yang Telah Kita Lakukan?'>Mungkinkah Kita Masuk Surga karena Amal yang Telah Kita Lakukan?</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;" dir="RTL" align="center"><strong> S</strong>esungguhnya keyakinan adanya adzab kubur merupakan salah satu di antara akidah Islam yang absolut berdasarkan dalil-dalil yang sangat banyak. Oleh karena itu wajib bagi seorang muslim untuk memahami akidah ini. Terlebih pada saat ini, ketika pemikiran-pemikiran bid’ah bermunculan dengan gencar yang dimotori oleh sebagian gerakan yang menghidupkan kembali kesesatan Khowarij dan sebagian Mu’tazilah yang mengingkari adzab kubur.Tidak perlu jauh-jauh, di hadapan penulis ada dua buku berbahasa Indonesia yang ditulis dengan tanpa malu dalam menyebarkan paham sesat dan menggoyahkan akidah umat. Dua buku yang kami maksud tersebut adalah:</p>
<ol>
<li><em>Absahkah Berdalil Dengan Hadits Ahad Dalam Masalah Akidah Dan Siksa Kubur?! </em>Karya Syamsuddin Ramadlan. Pengantar DR. Abdurrahman al-Baghdadi, cet Hanifah Press, Jakarta 2001.</li>
<li><em>Tak Ada Adzab Kubur?</em> Karya Agus Mustofa, cet. Padma Press, Surabaya, Jatim.</li>
</ol>
<p>Tulisan berikut merupakan salah satu partisipasi seorang hamba yang lemah dalam menjelaskan masalah ini serta membedah beberapa syubhat seputarnya. Kita berdo’a pada Alloh Ta’ala agar menjadikan tulisan ini ikhlas karena mengharap pahala dari-Nya dan bermanfaat bagi kita semua serta petunjuk bagi saudara kita yang tersesat jalan atau masih bingung mengenai nya.<span id="more-1162"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>A.    </strong><strong>DALIL-DALIL AL-QUR’AN</strong></li>
</ol>
<p>Ketahuilah wahai saudaraku seiman, bahwa masalah adzab kubur telah dijelaskan oleh Alloh Ta’ala dalam banyak ayat di kitab-Nya.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftn2">[2]</a> Berkata imam al-Qostholani: “Sebagian kelompok beranggapan bahwa adzab kubur tidak disebutkan dalam al-Qur’an tetapi hanya disebutkan dalam hadits-hadits Ahad. Oleh karenanya pengarang (Imam Bukhori) menyebutkan beberapa ayat yang menunjukkan siksa kubur untuk membantah mereka.”<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Cukuplah firman Alloh q\:</p>
<p align="right"><em>النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا ۖ وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ ﴿<a href="file:///J:/RIDWAN/Al-Qur'an/Ghafir%20[40%2046]%20-%20Tanzil%20Quran%20Navigator_files/Ghafir%20[40%2046]%20-%20Tanzil%20Quran%20Navigator.htm">٤٦</a></em></p>
<p style="text-align: left;" align="right"><em>“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang dan pada </em><em>hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras.” </em>(QS. Ghofir [40]: 46)</p>
<p>            Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata: “Ayat ini merupakan landasan pokok bagi Ahli sunnah untuk menetapkan adanya siksa kubur.”<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Imam as-Suyuthi berkata dalam kitab <em>al-Aja’ib</em> oleh al-Kirmani dikatakan bahwa “ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas tentang adanya siksa kubur.”<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Dan masih banyak lagi lainnya seperti surat dalam Ibrohim [14]: 27, Thoha [20]: 124, Nuh [71]: 25, at-Taubah [9]: 101 al-An’am [6]: 93, as-Sajdah [32]: 101, al-Mu’minun [23]: 99, ath-Thur [52]: 47, al-Waqi’ah [56]: 83-94, an-Nahl [16]: 32 dan sebagainya. Tentu semuanya dengan bantuan kitab-kitab tafsir dan hadits para ulama Salaf terkemuka. Sungguh benar imam Ibnul Qoyyim tatkala berkata: “Apabila anda menghayati hadits-hadits seputar siksa dan nikmat kubur, niscaya anda akan mendapatinya telah menjelaskan dan memperinci makna ayat al-Qur’an”.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftn6">[6]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>B.     </strong><strong>DALIL-DALIL HADITS NABI</strong></li>
</ol>
<p>Ketahuilah wahai saudaraku -semoga Alloh Ta’ala merohmatimu-, bahwa hadits-hadits tentang adanya adzab kubur banyak sekali. Bahkan mencapai derajat mutawatir, diriwayatkan oleh para imam sunnah dan ahli hadits dari sejumlah sahabat di antaranya Anas bin Malik, Abdulloh bin Abbas, Bara’ bin Azib, Umar bin Khoththob, Ummul Mukminin ‘Aisyah, Asma’ binti Abu Bakar, Abu Ayyub al-Anshori, Ummu Kholid, Abu Huroiroh, Abu Said al-Khudri, Samuroh bin Jundub, Utsman, Ali, Zaid bin Tsabit, Jabir bin Abdulloh, Sa’ad bin Abi Waqosh, Zaid bin Arqom, Abu Bakroh, Abdurrohman bin Samuroh, Abdulloh bin Amr bin Ash, Amr bin Ash, Ummu Mubasysyir, Abu Qotadah, Abdulloh bin Mas’ud, Abu Tholhah, Abdur Rohman bin Hasanah, Tamim ad-Daariy, Hudzaifah, Abu Musa, Nu’man bin Basyir, dan Auf bin Malik.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Para ulama ahli hadits telah menegaskan bahwa hadits-hadits tentang adzab kubur mencapai derajat mutawatir. Di antaranya adalah Imam Ibnu Abi Ashim,<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftn8">[8]</a> Imam Ibnu Abdil Barr, <a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftn9">[9]</a> Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah,<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftn10">[10]</a> al-Hafidz Ibnu Rojab,<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftn11">[11]</a> dan lain-lain banyak sekali.</p>
<p>Kita pilih satu hadits saja di antaranya yaitu hadits;</p>
<p dir="RTL"><strong>عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ </strong>a\<strong> قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ</strong><em>  </em><strong>: إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ يَقُوْلُ: اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَ مِنْ عَذَابِ اْلقَبْرِ وَ مِنْ فِتْنَةِ اْلمَحْيَا وَ اْلمَمَاتِ وَ مِنْ شَرِّ فِتْنَةِ اْلمَسِيْحِ اْلدَّجَّالِ</strong><strong></strong></p>
<p><em>Dari Abu Huroiroh ,berkata Rosululloh, “Jika salah satu dari kalian duduk tasyahud (akhir) maka hendaknya berlindung kepada Alloh dari empat perkara. Hendaknya berdo’a, “Ya Alloh sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari siksa neraka Jahanam, siksa kubur, fitnah hidup dan mati serta jeleknya fitnah Dajjal.” </em><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftn12">[12]</a></p>
<p>Imam Nawawi berkata: “Dalam hadits ini terdapat penetapan adanya adzab kubur dan fitnah kubur. Hal ini merupakan madzhab ahli haq, berbeda halnya dengan pendapat Mu’tazilah.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Dalam hadits ini terdapat bantahan terhadap orang-orang yang mengingkari adzab kubur.”<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftn14">[14]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>C.    </strong><strong>DALIL IJMA’</strong></li>
</ol>
<p>Para ulama Salaf telah bersepakat menetapkan adanya adzab kubur. Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Adzab kubur itu haq, tidaklah diingkari kecuali oleh orang yang sesat dan menyesatkan.”<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftn15">[15]</a> Imam Abul Hasan al-Asy’ari berkata: “Mereka (Ahlus Sunnah) telah bersepakat bahwa adzab kubur itu haq.” <a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftn16">[16]</a> Imam Ibnu Abdil Barr berkata: “Tidak ada perselisihan antara Ahlu Sunnah tentang Iman adanya adzab kubur.”<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftn17">[17]</a> Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Ini merupakan akidah seluruh kaum Salaf, Ahli Sunnah Wal Jama’ah. Pengingkarnya hanyalah segelintir dari kalangan ahli bid’ah.</p>
<p>Demikianlah dalil-dalil al-Qur’an, hadits mutawatir dan ijma’ kaum muslimin yang sangat otentik tentang adanya siksa kubur. Maka akankah seorang yang mengaku beriman kemudian masih meragukan hal ini?!</p>
<p>Setelah membawakan beberapa hadits dan atsar tentang siksa kubur, Imam al-Ajurri berkata: “Alangkah jeleknya keadaan orang-orang yang mengingkari hadits-hadits ini. Sungguh mereka telah tersesat dengan kesesatan yang sangat jauh.”<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftn18">[18]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>SYUBHAT DAN JAWABANNYA</strong></p>
<p>Ketahuilah wahai saudaraku-semoga Alloh Ta’ala merohmatimu- bahwa memahami akidah yang mulia ini adalah kewajiban bagi setiap muslim. Apalagi dengan adanya gerakan yang menghidupkan kembali kesesatan Khowarij dan sebagian Mu’tazilah yang mengingkari adanya adzab kubur. Syubhat yang mereka lontarkan yaitu:</p>
<p><strong>Pertama:</strong> Adzab kubur adalah Irasional</p>
<p><strong>Kedua:</strong> Adzab kubur hanyalah masalah khilafiyah.</p>
<p><strong>Ketiga:</strong> Dalil-dalil tentang adzab kubur saling bertentangan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kita memohon pertolongan kepada Alloh Ta’ala untuk memberikan sanggahan terhadap syubhat-syubhat tersebut.</p>
<p><strong>Syubhat pertama: </strong></p>
<p>Adzab kubur itu Irasional, tidak masuk akal, buktinya kalau kita bongkar kuburannya, tidak kita jumpai perubahan keadaan, pertanyaan malaikat, nikmat dan siksa kubur.</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Syubhat ini berasal dari kaum ateis dan zindiq yang telah dibantah secara panjang lebar oleh imam Ibnu Qoyyim dalam kitabnya <em>ar-Ruuh</em> hlm.112-131 dari sepuluh segi. Cukuplah bagi kita untuk menjawab dengan tiga segi berikut:</p>
<ol>
<li>Sesungguhnya adzab kubur telah tetap berdasarkan dalil yang qoth’i (pasti), yaitu al-Qur’an, hadits mutawatir dan ijma’ ulama Salaf.</li>
</ol>
<p>Maka pantaskah kita mengingkarinya hanya karena akal kita belum menjangkaunya?! Apakah akal dapat menjangkau segala sesuatu? Bukankah Alloh Ta’ala telah berfirman:</p>
<p style="text-align: right;"><em>وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا ﴿<a href="file:///J:/RIDWAN/Al-Qur'an/Al-Isra%20[17%2085]%20-%20Tanzil%20Quran%20Navigator_files/Al-Isra%20[17%2085]%20-%20Tanzil%20Quran%20Navigator.htm">٨٥</a></em></p>
<p><em>“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali sedikit.”</em> (QS. al-Isro’ [17]: 85)</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Adzab kubur termasuk perkara ghoib, sedangkan kewajiban kita adalah beriman terhadap perkara ghoib.</li>
</ol>
<p>Alloh Ta’ala berfirman ketika menyifati para hamba-Nya yang bertakwa:</p>
<p align="right"><em>الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ﴿<a href="file:///J:/RIDWAN/Al-Qur'an/Al-Baqara%20[2%203]%20-%20Tanzil%20Quran%20Navigator_files/Al-Baqara%20[2%203]%20-%20Tanzil%20Quran%20Navigator.htm">٣</a>﴾</em></p>
<p style="text-align: left;" align="right"><em></em><em style="text-align: left;">“Yaitu orang-orang yang beriman dengan perkara ghoib.”</em><span style="text-align: left;"> (QS. al-Baqoroh [2]: 3)</span></p>
<p>Makna al-ghoib adalah setiap perkara yang diinformasikan oleh Rosululloh di luar kapasitas akal manusia, seperti tanda-tanda dekatnya hari kiamat, siksa kubur, kebangkitan dari kubur, perkumpulan manusia di alam mahsyar, jembatan, timbangan, surga dan neraka. Semoga Alloh q\ menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang beriman.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftn19">[19]</a></p>
<ol>
<li>Sesungguhnya adzab dan nikmat kubur hanya dapat dirasakan oleh mayit dan tidak dirasakan oleh orang selainnya. Hal ini tidak aneh. Tidakkah engkau perhatikan seorang yang bermimpi, apabila dia bermimpi indah, maka dia akan merasakan kegembiraan tersendiri yang tidak dirasakan selainnya sekalipun ada orang yang berada di dekatnya!!. Demikian pula sebaliknya. Apabila ini bisa terjadi di dunia, maka apa yang memustahilkan untuk terjadi di alam barzakh?!.</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Syubhat kedua:</strong></p>
<p><strong>Adzab kubur hanyalah masalah khilafiyah</strong></p>
<p><strong>Jawaban: </strong></p>
<p>Benar, ini adalah masalah khilafiyah (perselisihan) tetapi antara siapa? Apakah antara para sahabat Nabi , tabi’in, tabi’ut tabi’in dan para ulama salaf!? Demi Alloh, engkau tidak akan jumpai sekalipun kalian bersatu padu mencarinya. Karena perselisihan ini tidak dikenal kecuali setelah generasi utama yang diprovokasi oleh kelompok Khowarij dan Mu’tazilah.</p>
<p>Imam Abul Hasan al-Asy’ari berkata: “Mereka berselisih tentang adzab kubur. Di antara mereka ada yang meniadakannya yaitu Mu’tazilah dan Khowarij, sebagian lagi menetapkannya yaitu mayoritas ahli Islam.”<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftn20">[20]</a></p>
<p>Beliau juga berkata: “Kaum Mu’tazilah mengingkari adzab kubur, padahal telah diriwayatkan dari Nabi dari jalan yang banyak, demikian pula dari sahabatnya. Tidak pernah dinukil dari seorangpun dari mereka, bahwa mereka ada yang mengingkarinya, meniadakan dan menolaknya. Dengan demikian, maka hal itu harus menjadi ijma’ (konsensus) para sahabat nabi.”<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftn21">[21]</a></p>
<p>Adapun ulama salaf, maka mereka telah bersepakat menetapkan adanya adzab kubur, sebagaimana penjelasan di atas.</p>
<p>Dengan demikian kita dapat memahami bahwa paham ingkar adzab kubur bukanlah paham para sahabat, tabi’in dan para ulama Salaf, namun merupakan paham Khowarij dan Mu’tazilah.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftn22">[22]</a></p>
<p>Jelaslah kiranya bagi kita semua sekarang bahwa masalah ini bukanlah masalah khilafiyah yang bisa ditoleransi seperti dalam masalah hukum fiqih, tetapi ini adalah permasalahan akidah dan ijma’ salaf. Kalaulah disebut masalah khilafiyah, maka ini adalah khilaf (perselisihan) antara ahli haq dan ahli batil, ahli sunnah dan ahli bid’ah.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftn23">[23]</a></p>
<p dir="RTL"><strong>وَ لَيْسَ كُلُّ خِلاَفٍ جَاءَ مُعْتَبَرًا </strong></p>
<p dir="RTL"><strong>                              إِلاَّ خِلاَفًا لَهُ حَظٌّ مِنَ اْلنَّظَرِ</strong></p>
<p><em>Tidak seluruh perselisihan itu dianggap</em></p>
<p><em>Kecuali perselisihan yang memang memiliki dalil yang kuat.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftn24"><strong>[24]</strong></a></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>SYUBHAT KETIGA: </strong></p>
<p>Dalil-dalil tentang adzab kubur saling bertentangan.</p>
<p><strong>Jawaban: </strong></p>
<ol>
<li>Kita harus yakin bahwa selamanya tidak mungkin terjadi kontradiksi antara al-Qur’an dengan al-Qur’an atau al-Qur’an dengan hadits yang shohih. Karena semuanya adalah haq dari Alloh Ta’ala, sedangkan al-haq tidak mungkin kontradiktif. Alloh Ta’ala berfirman:</li>
</ol>
<p align="right"><span style="text-align: left;">أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّـهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا ﴿<a href="file:///J:/RIDWAN/Al-Qur'an/An-Nisa%20[4%2082]%20-%20Tanzil%20Quran%20Navigator_files/An-Nisa%20[4%2082]%20-%20Tanzil%20Quran%20Navigator.htm">٨٢</a>﴾</span></p>
<p style="text-align: left;" align="right"><span style="text-align: left;"> </span><em style="text-align: left;">“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an? Kalau kiranya al-</em><em>Qur’an itu bukan dari sisi Alloh, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”</em> (QS. an-Nisa [4] : 82)</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Kita juga harus yakin bahwa para sahabat Rosululloh adalah generasi yang paling unggul dalam memahami al-Qur’an.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftn25">[25]</a> Maka tanyakanlah kepada mereka: “Apakah ada sahabat nabi -walaupun hanya seorang- yang menafsirkan ayat-ayat di atas seperti penafsiran kalian yakni meniadakan siksa kubur?! Apakah para sahabat nabi jahil dengan tafsir ayat tersebut, sedang kalian mendapat petunjuk?! Lantas, kenapa tidak ada seorang pun dari mereka yang meniadakan siksa kubur?! Kaliankah yang benar atau mereka?!</li>
</ol>
<p>Semoga Alloh merohmati Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tatkala mengatakan: “Apabila para sahabat, tabi’in dan para imam memiliki penafsiran ayat, kemudian datang suatu kaum yang menafsirkan ayat tersebut dengan penafsiran baru untuk menguatkan pemikiran yang dianutnya, dan pemikiran tersebut bukanlah termasuk madzhab sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka sesungguhnya mereka telah menyerupai kaum Mu’tazilah dan selainnya dari kalangan ahli bid’ah dalam masalah seperti ini. Singkat kata, siapa saja yang menyimpang dari madzhab dan penafsiran para sahabat dan tabi’in, maka dia salah bahkan terjatuh kebid’ahan.” <a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftn26">[26]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>FAKTOR PENYEBAB SIKSA KUBUR</strong></p>
<p><strong>            </strong>Siksa kubur memiliki beberapa faktor penyebab, di antaranya sebagaimana yang disebut dalam hadits berikut:</p>
<p dir="RTL"><strong>عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَرَّ النَّبِىُّ بِقَبْرَيْنِ فَقَالَ : إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِى كَبِيرٍ, أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ ، وَأَمَّا الآخَرُ فَكَانَ يَمْشِى بِالنَّمِيمَةِ. ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً ، فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ ، فَغَرَزَ فِى كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، لِمَ فَعَلْتَ هَذَا قَالَ : لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><em>“Dari Ibnu Abbas, beliau berkata: Nabi pernah melewati dua kuburan, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya penghuni kubur sedang disiksa, keduanya tidak disiksa dalam masalah yang berat, salah satunya karena tidak menjaga dari air kencing, adapun yang kedua dia suka mengadu domba. Lalu beliau mengambil pelepah kurma yang masih basah dan membelahnya menjadi dua dan menancap kan pada masing-masing kubur satu buah. Mereka bertanya: “Ya Rosululloh, kenapa kamu lakukan hal ini? Beliau menjawab: Agar diringankan siksa keduanya selama belum kering.”</em><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftn27">[27]</a></p>
<p>Hadits ini menjelaskan kepada kita tentang sebagian faktor penyebab adzab kubur, yaitu meremehkan najisnya air kencing dan namimah. Al-Hafizh Ibnu Rojab berkata: “Sebagian ulama menyebutkan rahasia dibalik pengkhususan “kencing dan namimah” sebagai faktor siksa kubur, yaitu karena alam kubur adalah rumah utama menuju kampung akhirat.</p>
<p>Kemaksiatan yang akan diberi balasan besok pada hari kiamat ada dua macam: Hak Alloh Ta’ala dan hak hamba. Hak Alloh Ta’ala pertama kali yang diadili adalah sholat, sedang hak hamba adalah darah. Adapun barzakh adalah tempat untuk mengadili perantara dua hak tersebut. Perantara sholat adalah suci dari hadats dan najis, sedangkan perantara pertumpahan darah adalah namimah dan mencela kehormatan. Jadi dalam alam barzakh dimulai untuk membalas kedua perantara tersebut.”<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftn28">[28]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>WAKTU SIKSA KUBUR</strong></p>
<p>Hadits di atas juga menjelaskan tentang waktu siksa kubur, apakah seterusnya hingga hari kiamat ataukah hanya sementara?! Jawabannya diperinci: Bagi orang kafir, maka siksaannya kekal sampai hari kiamat, seperti kaum Nuh dan pengikut Fir’aun, mereka akan tetap disiksa hingga kiamat tiba. Adapun bagi orang mukmin yang bermaksiat, maka siksaan mereka tidak kekal, bisa lama atau bisa juga sebentar sesuai dengan dosa dan ampunan Alloh Ta’ala.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftn29">[29]</a></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>MENGAPA SIKSA KUBUR TIDAK DINAMPAKKAN?</strong></p>
<p>Merupakan hikmah mengapa Alloh Ta’ala tidak menampakkan siksa kubur bagi manusia adalah:</p>
<ol>
<li>Untuk menutupi aib mayit.</li>
<li>Untuk menenangkan keluarga mayit.</li>
<li>Sebagai kasih sayang kepada manusia.</li>
</ol>
<p>Karena Alloh Ta’ala mengetahui bahwa manusia tidak akan kuat melihatnya. Mungkin kita akan selalu dibayangi dengan ketakutan manakala adzab itu ditampakkan.</p>
<ol>
<li>Untuk menguji keimanan seorang terhadap masalah ghoib.</li>
</ol>
<p>Seandainya dinampakkan berarti apa faedahnya ujian, sebab manusia akan beriman kepada sesuatu yang mereka saksikan dengan mata kepala mereka. Berbeda halnya bila tidak nampak maka hanya akan diimani oleh orang yang beriman saja.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftn30">[30]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>JENIS-JENIS SIKSA KUBUR</strong></p>
<p>Siksa Kubur memiliki beberapa jenis siksaan:</p>
<ol>
<li>Dipukul dengan palu besi sehingga berteriak keras.</li>
</ol>
<p dir="RTL"><strong>عَنْ أََنََسٍ عَنِ النَّبِىِّ  قَالَ « الْعَبْدُ إِذَا وُضِعَ فِى قَبْرِهِ ، وَتُوُلِّىَ وَذَهَبَ أَصْحَابُهُ حَتَّى إِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ ، أَتَاهُ مَلَكَانِ فَأَقْعَدَاهُ فَيَقُولاَنِ لَهُ : مَا كُنْتَ تَقُولُ فِى هَذَا الرَّجُلِ مُحَمَّدٍ ؟ فَيَقُولُ أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ. فَيُقَالُ : انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ مِنَ النَّارِ ، أَبْدَلَكَ اللَّهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنَ الْجَنَّةِ. قَالَ النَّبِىُّ : فَيَرَاهُمَا جَمِيعًا. وَأَمَّا الْكَافِرُ أَوِ الْمُنَافِقُ فَيَقُولُ : لاَ أَدْرِى، كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ. فَيُقَالُ : لاَ دَرَيْتَ وَلاَ تَلَيْتَ. ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَقَةٍ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أُذُنَيْهِ ، فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ إِلاَّ الثَّقَلَيْنِ.</strong></p>
<p><em>“Dari Anas dari Nabi, beliau bersabda: “Seorang hamba apabila dipendam di kuburnya, dan orang-orang yang mengantarnya telah berpaling meninggalkannya, maka dia mendengar suara sandal mereka. Lalu datanglah dua malaikat kemudian menyuruhnya duduk seraya bertanya padanya: Apa yang kamu katakan tentang Muhammad? Dia menjawab: Saya bersaksi bahwa dia adalah hamba Alloh dan Rosul-Nya, maka dikatakan padanya: Lihatlah calon tempat mu di neraka telah diganti oleh Alloh tempat di surga. Nabi bersabda: Maka dia melihat keduanya. Adapun orang kafir atau munafiq maka dia menjawab: Saya tidak tahu, aku mengatakan apa yang diucapkan manusia. Lalu dikatakan padanya: “Kamu tidak tahu, kemudian dia dipukul dengan palu dari besi satu pukulan di antara dua telinganya, sehingga dia berteriak dengan teriakan yang bisa didengar oleh sekitarnya kecuali jin dan manusia.”</em><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftn31">[31]</a><em></em></p>
<p><em> </em></p>
<ol>
<li>Dihimpitkan kuburnya</li>
</ol>
<p dir="RTL"><strong>عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ : قَالَ رسول الله :&#8230; « وَإِنَّ الْكَافِرَ ». فَذَكَرَ مَوْتَهُ قَالَ : « وَتُعَادُ رُوحُهُ فِى جَسَدِهِ وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولاَنِ : مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ : هَاهْ هَاهْ هَاهْ لاَ أَدْرِى</strong><strong>.</strong><strong> فَيَقُولاَنِ لَهُ : مَا دِينُكَ؟ فَيَقُولُ : هَاهْ هَاهْ لاَ أَدْرِى. فَيَقُولاَنِ : مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِى بُعِثَ فِيكُمْ؟ فَيَقُولُ : هَاهْ هَاهْ لاَ أَدْرِى. فَيُنَادِى مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ : أَنْ كَذَبَ فَأَفْرِشُوهُ مِنَ النَّارِ وَأَلْبِسُوهُ مِنَ النَّارِ وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى النَّارِ ». قَالَ : « فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا وَسَمُومِهَا ». قَالَ : « وَيُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلاَعُهُ ». زَادَ فِى حَدِيثِ جَرِيرٍ قَالَ : « ثُمَّ يُقَيَّضُ لَهُ أَعْمَى أَبْكَمُ مَعَهُ مِرْزَبَّةٌ مِنْ حَدِيدٍ لَوْ ضُرِبَ بِهَا جَبَلٌ لَصَارَ تُرَابًا ». قَالَ : « فَيَضْرِبُهُ بِهَا ضَرْبَةً يَسْمَعُهَا مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ إِلاَّ الثَّقَلَيْنِ فَيَصِيرُ تُرَابًا</strong></p>
<p><em>“Dari Baro’ bin Azib berkata: Rosululloh  bersabda: “…Adapun orang kafir, maka dia dikembalikan ruhnya dan didatangi dua malaikat dan menyuruhnya duduk seraya mengatakan: Siapa Robbmu? Dia menjawab: Ha, ha, ha, saya tidak tahu. Malaikat bertanya: Apa agamamu? Dia menjawab: Ha, ha saya tidak tahu. Malaikat bertanya lagi: Siapakah lelaki yang diutus kepadamu? Dia menjawab: Ha, ha saya tidak tahu. Maka ada seruan dari langit: Hamba ini berdusta, maka bentangkan tempat untuknya dari neraka dan pakaikan untuknya </em><em>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;dari neraka dan bukakan untuknya pintu ke neraka. Akhirnya datanglah kepadanya udara panas lagi beracun dan dihimpit kan baginya kuburannya hingga bengkok semua tulangnya. Dalam hadits Jarir ada tambahan: “Kemudian diutus kepadanya seorang yang buta dan tuli dengan membawa alat pukul dari besi yang seandainya dipukul kan ke gunung maka dia menjadi tanah. Setelah itu dia dipukul sehingga dia berteriak dengan teriakan yang didengar oleh Jin dan manusia sehingga dia menjadi tanah.”</em><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftn32">[32]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Digigit ular berbisa</li>
</ol>
<p dir="RTL"><strong>عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ </strong><strong>a\</strong><strong> ، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ  قَالَ : « إِنَّ المُؤْمِنَ فِيْ قَبْرِهِ لَفِيْ رَوْضَةٍ خَضْرَاءَ ، وَيُرْحَبُ لَهُ قَبْرُهُ سَبْعُوْنَ ذِرَاعًا ، وَيُنَوَّرُ لَهُ كَالقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ, أَتَدْرُوْنَ فِيْمَا أُنْزِلَتْ هَذِهِ الآيَةُ : </strong>قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ ﴿<a href="file:///J:/RIDWAN/Al-Qur'an/Ta-Ha%20[20%20123]%20-%20Tanzil%20Quran%20Navigator_files/Ta-Ha%20[20%20123]%20-%20Tanzil%20Quran%20Navigator.htm">١٢٣</a>﴾ وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ ﴿<a href="http://tanzil.net/#20:124">١٢٤</a>﴾ <strong>أَتَدْرُوْنَ مَا المَعِيْشَةُ الضَّنْكَةُ ؟ » قَالُوْا : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ : « عَذَابُ الكَافِرِ فِيْ قَبْرِهِ ، وَالذِّيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ ، إِنَّهُ يُسَلَّطُ عَلَيْهِ تِسْعَةٌ وَتِسْعُوْنَ تِنِّيْنٍا ، أَتَدْرُوْنَ مَا التِّنِّيْنُ ؟ سَبْعُوْنَ حَيَّةٍ ، لِكُلِّ حَيَّةٍ سَبْعُ رُءُوْسٍ يَلْسَعُوْنَهُ ، وَيَخْدِشُوْنَهُ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ))</strong></p>
<p>“Dari Abu Huroiroh dari Rosululloh, beliau bersabda: Sesungguhnya seorang mukmin di kuburnya dalam taman yang hijau dan di luaskan kuburnya tujuh puluh hasta, dan diberi penerang seperti malam bulan purnama. Tahukah kalian tentang apakah ayat ini turun? “Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thoha [20]: 123-124) Mereka menjawab: “Alloh dan Rosul-Nya lebih tahu.” Beliau n\ bersabda: “Adzab orang kafir di kuburnya. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, dia akan serang oleh sembilan puluh sembilan tinnin, tahukah kalian apa itu tinnin? Tujuh puluh ular, setiap ular memiliki tujuh kepala yang menghisapnya hingga hari kiamat.”<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftn33">[33]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftnref1">[1]</a> Diringkas dari buku kami dengan judul Adakah Siksa Kubur? Cet. Pustaka Darul Ilmi,Bogor. Bagi yang ingin memperluas pembahasan, silahkan lihat kitab aslinya.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftnref2">[2]</a> Demikian dikatakan Imam Suyuthi v\ dalam <em>Syarh ash-Shudur</em> hlm. 222</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftnref3">[3]</a> <em>Irsyad Saari</em> 3/468, lihat pula <em>Fathul Bari</em> 3/233</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftnref4">[4]</a> <em>Tafsirul Qur’anil Azhim</em> 4/81</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftnref5">[5]</a> <em>Al-Iklil fi Istinbathi Tanzil </em>3/1159</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftnref6">[6]</a> <em>Ar-Ruuh</em> hlm.134</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftnref7">[7]</a> <em>Ma’arij al-Qobul</em> 2/881, Hafidz al-Hakami, cet. Dar Ibnu Jauzi</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftnref8">[8]</a> <em>As-Sunnah</em> 1/608, tahqiq Dr. Basim al-Jawabirah</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftnref9">[9]</a> <em>At-Tamhid</em> 9/230</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftnref10">[10]</a> <em>Majmu Fatawa</em> 4/257</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftnref11">[11]</a> <em>Ahwaal Qubur</em> hlm. 81</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftnref12">[12]</a> HR. Bukhori 1377 Muslim 588 dan ini lafadznya</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftnref13">[13]</a> <em>Syarh Shohih Muslim</em> 4/237</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftnref14">[14]</a> <em>Fathul Bari</em> 2/318</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftnref15">[15]</a> <em>Thobaqot al-Hanabilah</em> 1/62</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftnref16">[16]</a> <em>Ar-Risalah Ila Ahli Saghor</em> hlm.159</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftnref17">[17]</a> <em>At-Tamhid</em> 9/230</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftnref18">[18]</a> <em>Asy-Syari’ah</em>, 364.!</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftnref19">[19]</a> <em>Fathul Qodir</em> 1/36 oleh Imam asy-Syaukani.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftnref20">[20]</a> <em>Maqolat Islamiyyin</em> 2/116.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftnref21">[21]</a> <em>Al-Ibanah ‘an Ushul Diyanah</em> hlm.125.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftnref22">[22]</a> Dr. Nashir bin Abdul Karim al-‘Aql berkata: “Perlu saya tegaskan di sini bahwa pemikiran Jahmiyyah dan Mu’tazilah masih berkeliaran hingga saat ini. Baik melalui sumber firqoh seperti Rofidhoh dan Khowarij, atau melalui gerakan dakwah seperti Hizbut Tahrir dan gerakan modern dari kalangan rasionalis, atau melalui pribadi seperti mayoritas pemikir, aktivis, dan cendekiawan kontemporer.” (<em>al-Jahmiyyah Wal Mu’tazilah</em> hlm.9)</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftnref23">[23]</a> Oleh karena itu, Imam Abdul Wahid asy-Syirazi menjadikan masalah ini termasuk batas pemisah antara Ahli Sunnah dengan Ahli bid’ah. Artinya, seorang yang percaya akan adanya siksa kubur maka dia adalah Ahli Sunnah dan seorang yang mengingkarinya adalah Mu’tazilah. (<em>Juz’ Fiihi Imtihani Sunni Minal Bid’i</em> hlm. 275)</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftnref24">[24]</a> Ucapan Abul Hasan al-Hashshar dalam qoshidahnya tentang surat Makkiyyah dan Madaniyyah dalam kitabnya <em>an-Nasikh wal Mansukh</em>. Lihat <em>al-Itqon fi Ulum Qur’an</em> 1/24 oleh al-Hafizh as-Suyuthi.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftnref25">[25]</a> Dinukil dari ucapan Dr. Abdurrohman al-Baghdadi dalam pengantar buku <em>Absahkah</em>…, XVII, Syamsudin Ramadhan.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftnref26">[26]</a> <em>Majmu’ Fatawa</em> 13/361, <em>Muqoddimah Tafsir</em> hal.124-125 -Syarh Ibnu ‘Utsaimin-.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftnref27">[27]</a> HR. Bukhori 216 dan Muslim 292.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftnref28">[28]</a> <em>Ahwal Qobr</em> hlm..89.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftnref29">[29]</a> Lihat <em>Syarh al-Akidah al-Wasithiyyah</em> Ibnu Utsaimin 2/123.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftnref30">[30]</a> <em>Syarh Akidah Wasithiyyah,</em> Ibnu Utsaimin 2/118.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftnref31">[31]</a> HR. Bukhori 1273, 1308 dan Muslim 2870.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftnref32">[32]</a> HR. Abu Dawud 2/281, al-Hakim 1/37-40, ath-Thoyyalisi: 753, Ahmad 4/287, 288, 295, 296, al-Ajurri dalam <em>asy-Syari’ah</em> 367-370, Nasai’ 1/282, Ibnu Majah 1/469-470, Abu Dawud 2/70, Ahmad 4/297, dishohihkan al-hakim, adz-Dzahabi, Ibnul Qoyyim v\ dalam <em>I’lamul Muwaqqi’in</em> 1/214 dan <em>Tahdzibus Sunan</em> 4/337 dan dia menukil penshohihan Abu Nu’aim dan selainnya. (Dinukil dari <em>Ahkamu Janaiz</em>, al-Albani hlm. 159, cet al-Maktab Islam). Imam Ibnu Qoyyim v\ dalam kitabnya <em>Ar-Ruuh</em> hlm. 91 menyebutkan bahwa Imam Daruqutni telah mengumpulkan jalan-jalan riwayat hadits Baro’ bin Azib tentang nikmat dan siksa kubur dalam sebuah buku khusus.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/edit%20aqidah%20104.doc#_ftnref33">[33]</a> HR. Ibnu Hibban: 3112 dan dihasankan al-Albani dalam <em>Shohih Targhib</em>: 3552 dan <em>At-Ta’liqot al-Hisan</em> 5/102-103.</p>
</div>
</div>
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://abiubaidah.com/adzab-kubur-mutawatir-atau-ahad.html/' rel='bookmark' title='ADZAB KUBUR, MUTAWATIR ATAU AHAD?'>ADZAB KUBUR, MUTAWATIR ATAU AHAD?</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/' rel='bookmark' title='Syaikh Al-Albani: Ahli Hadits yang Terdzalimi'>Syaikh Al-Albani: Ahli Hadits yang Terdzalimi</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/tanya-jawab-masuk-surga-amal.html/' rel='bookmark' title='Mungkinkah Kita Masuk Surga karena Amal yang Telah Kita Lakukan?'>Mungkinkah Kita Masuk Surga karena Amal yang Telah Kita Lakukan?</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/siksa-kubur-sebuah-akidah-yang-absolut.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sujud Dengan Tangan Atau Lutut Dahulu?</title>
		<link>http://abiubaidah.com/sujud-dengan-tangan-atau-lutut-dahulu.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/sujud-dengan-tangan-atau-lutut-dahulu.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Apr 2012 10:05:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ridwanyufid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=1143</guid>
		<description><![CDATA[Masalah fiqih hampir jarang sekali yang lolos dari perselisihan tajam di kalangan ulama kita yang mulia. Lantas, bagaimana cara mengetahui sinar kebenaran di antara perselisihan pendapat tersebut?! Ingatlah wahai saudaraku bahwa Alloh telah memerintahkan kepada kita untuk mengembalikan masalah perselisihan kepada al-Qur‘an dan hadits yang shohih. Adapun selain keduanya, maka tidak ada yang dapat mengalahkannya. [...]
Related posts:<ol>
<li><a href='http://abiubaidah.com/matahari-sujud.html/' rel='bookmark' title='MATAHARI SUJUD'>MATAHARI SUJUD</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/adzab-kubur-mutawatir-atau-ahad.html/' rel='bookmark' title='ADZAB KUBUR, MUTAWATIR ATAU AHAD?'>ADZAB KUBUR, MUTAWATIR ATAU AHAD?</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/dajjal-imajinasi-atau-fakta.html/' rel='bookmark' title='DAJJAL: IMAJINASI ATAU FAKTA?'>DAJJAL: IMAJINASI ATAU FAKTA?</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masalah fiqih hampir jarang sekali yang lolos dari perselisihan tajam di kalangan ulama kita yang mulia. Lantas, bagaimana cara mengetahui sinar kebenaran di antara perselisihan pendapat tersebut?! Ingatlah wahai saudaraku bahwa Alloh telah memerintahkan kepada kita untuk mengembalikan masalah perselisihan kepada al-Qur‘an dan hadits yang shohih. Adapun selain keduanya, maka tidak ada yang dapat mengalahkannya.</p>
<p>Jadi, metode yang benar dalam menyikapi masalah perselisihan ulama adalah mencari dalil yang lebih valid (shohih) dan kuat, bukan dengan fanatik madzhab, taklid buta, atau mengikuti pendapat mayoritas.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/114%20Hadits.doc#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Di antara masalah fiqih yang diperselisihkan ulama adalah masalah apakah ketika turun untuk sujud itu mendahulukan tangan ataukah lutut. Inilah yang akan kita kaji pada pembahasan kali ini untuk kita cari pendapat yang lebih kuat hujjahnya. Semoga bermanfaat.</p>
<h1>Teks Hadits</h1>
<p dir="RTL"><strong>عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ </strong>n<strong> : إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَبْرُكْ كَمَا يَبْرُكُ الْبَعِيرُ وَلْيَضَعْ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ</strong></p>
<div>
<p>Dari Abu Huroiroh a\, ia berkata, “Rosululloh n\ bersabda, ‘Apabila seorang di antara kamu turun sujud, janganlah turun seperti turunnya unta. Hendaklah ia meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya.’”<span id="more-1143"></span></p>
</div>
<p><strong>SHOHIH.</strong> Diriwayatkan al-Imam al-Bukhori dalam <em>Tarikh Kabir</em> (1/139), Abu Dawud (840), an-Nasa‘i (1008, 1009), Ahmad (2/381), ad-Darimi (1327), ad-Daroqutni (1/345), ath-Thohawi dalam <em>Syarh Musykil Atsar</em> (1/254), al-Baihaqi (2/99–100), al-Baghowi dalam <em>Syarh Sunnah</em> (3/134–135), Ibnu Hazm dalam <em>al-Muhalla</em> (4/128–129), dan lain-lain dari jalur ad-Darowardi: Menceritakan kepadaku Muhammad bin Abdulloh bin Hasan dari Abi Zinad dari al-A’roj dari Abu Huroiroh a\.</p>
<p>Sanad hadits ini shohih, seluruh rawinya terpercaya. Hadits ini dishohihkan oleh mayoritas ulama seperti al-Imam an-Nawawi, az-Zarqoni, Abdul Haq al-Isybili, Syaikh Ahmad Syakir, dan Syaikh al-Albani. Apalagi ad-Darowardi tidak sendirian dalam riwayat di atas, dia dikuatkan oleh Abdulloh bin Nafi’ sebagaimana dalam riwayat Abu Dawud (841), at-Tirmidzi (269), dan an-Nasa‘i. Sungguh ini merupakan <em>mutaba’ah</em> yang sangat kuat, karena Abdulloh bin Nafi’ adalah rowi terpercaya, termasuk rowinya al-Imam Muslim.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/114%20Hadits.doc#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Sebagian ahli ilmu dan ahli hadits telah menulis buku khusus sebagai pembelaan atas hadits ini.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/114%20Hadits.doc#_ftn3">[3]</a> Apa yang kami tulis di sini merupakan ringkasannya.</p>
<h1>Sekilas Bertentangan</h1>
<p dir="RTL"><strong>عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ </strong>a<strong> قَالَ : رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ </strong>n<strong> إِذَا سَجَدَ يَضَعُ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ</strong></p>
<div>
<p>Dari Wa‘il bin Hujr a\, ia berkata, “Aku pernah melihat Rosululloh n\ apabila sujud beliau meletakkan kedua lututnya sebelum dua tangannya.”</p>
</div>
<p><strong>DHO’IF.</strong> Diriwayatkan at-Tirmidzi (268), Abu Dawud (838), an-Nasa‘i (1087), Ibnu Majah (882), ad-Darimi (1326), ath-Thohawi dalam <em>Syarhul Ma’ani</em> (1/255), ad-Daroqutni (1/345), al-Hakim dalam <em>al-Mustadrok</em> (1/266), Ibnu Hibban (387), al-Baihaqi (2/98), dan al-Baghowi dalam <em>Syarh Sunnah</em> (3/133) dari jalur <strong>Syarik an-Nakho‘i</strong> dari Ashim bin Kulaib dari ayahnya dari Wa‘il bin Hujr a\.</p>
<p>Sanad hadits ini <em>dho’if</em> (lemah) karena dua sebab:</p>
<ol>
<li><em>1.    </em>Syarik bin Abdulloh an-Nakho‘i, Abu Abdillah. Al-Juzajani berkata, “Jelek hafalannya, goncang haditsnya.” Ibnu Ma’in berkata, “<em>Shoduq</em> terpercaya, tetapi bila menyelisihi maka hadits lainnya lebih saya senangi.” Ad-Daroqutni berkata, “Tidak kuat bila sendirian.”<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/114%20Hadits.doc#_ftn4">[4]</a><em></em></li>
<li><em>Mukholafah</em> (perselisihan) dalam sanad dan matannya.</li>
</ol>
<p>Kesimpulannya, hadits ini adalah lemah sebagaimana dikatakan ad-Daroqutni, al-Baihaqi, Ibnul Arabi, al-Albani, dan sebagainya.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/114%20Hadits.doc#_ftn5">[5]</a></p>
<h1>Hadits Mana yang Lebih Kuat?</h1>
<p>Dengan demikian, maka hadits tentang mendahulukan tangan tatkala turun sujud lebih kuat daripada yang mendahulukan lutut. Oleh karenanya, al-Hafizh Ibnu Hajar v\ berkata, “Hadits Abu Huroiroh a\ lebih kuat daripada hadits Wa‘il bin Hujr a\ karena mempunyai <em>syahid</em> (penguat) dari hadits Abdulloh bin Umar d\ yang dishohihkan Ibnu Khuzaimah dan disebutkan al-Bukhori secara <em>mu’allaq mauquf</em>.” Ibnu Sayyid Nas v\ mengatakan, “Hadits-hadits tentang mendahulukan tangan lebih kuat.”<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/114%20Hadits.doc#_ftn6">[6]</a> Penguatan ini berdasarkan beberapa alasan berikut:</p>
<ol>
<li>Hadits Wa‘il bin Hujr a\ derajatnya lemah dan hadits Abu Huroiroh a\ shohih, sebagaimana penjelasan di atas.</li>
<li>Hadits Abu Huroiroh a\ berupa perkataan, sedangkan hadits Wa‘il bin Hujr a\ berupa perbuatan. Dan telah tetap dalam kaidah ushul fiqih bahwa perkataan lebih didahulukan daripada perbuatan.</li>
<li>Hadits Abu Huroiroh a\ didukung oleh perbuatan Nabi n\ sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar d\ bahwa beliau mendahulukan kedua tangannya sebelum kedua lututnya. Beliau berkata, “Adalah Nabi n\ melakukan hal itu.”<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/114%20Hadits.doc#_ftn7">[7]</a> Al-Marwazi menceritakan dalam <em>Masa‘il</em>-nya (1/147/1) dengan sanad shohih dari al-Auza’i v\ berkata, “Saya mendapati manusia, mereka mendahulukan tangan mereka sebelum lutut mereka.”<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/114%20Hadits.doc#_ftn8">[8]</a></li>
</ol>
<h1>Perselisihan Ulama</h1>
<p>Sesungguhnya mengetahui perselisihan ulama adalah penting bagi penuntut ilmu karena kejahilan tentangnya menjadikan seorang akan bertikai, bermusuhan, dan sejenisnya.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/114%20Hadits.doc#_ftn9">[9]</a> Oleh karenanya, Imam Qotadah v\ berkata, “Barang siapa tidak mengetahui perselisihan ulama, maka hidungnya belum mencium bau fiqih.”<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/114%20Hadits.doc#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Perlu diketahui bahwa para ulama bersepakat tentang sahnya sholat seorang yang mendahulukan lututnya dahulu ketika sujud atau mendahulukan tangannya dahulu ketika sujud, kedua-duanya adalah sah dengan kesepakatan ulama. Hanya, mereka berselisih tentang mana yang lebih <em>afdhol</em> (utama).<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/114%20Hadits.doc#_ftn11">[11]</a> Hal itu menjadi dua pendapat:</p>
<h2>Pendapat pertama:</h2>
<p>Sebagian ulama berpendapat bahwa mendahulukan tumit dahulu lebih utama. Ini adalah madzhab Syafi’iyyah, Hanafiyyah, Hanabilah.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/114%20Hadits.doc#_ftn12">[12]</a> Mereka berdalil dengan hadits Wa‘il bin Hujr a\ di atas.</p>
<h2>Pendapat kedua:</h2>
<p>Sebagian ulama lainnya berpendapat mendahulukan tangan dahulu. Inilah pendapat Imam Malik, al-Auza’i, Ahmad bin Hambal dalam sebuah riwayat, dan ashhabul hadits. Pendapat ini didukung dan dikuatkan oleh Ibnu Hazm dalam <em>al-Muhalla</em> (4/129), al-Hakim dalam <em>al-Mustadrok</em> (1/226), ath-Thohawi dalam <em>Musykil al-Atsar</em> (2/167–169), Ibnu Arabi dalam <em>Aridhotul Ahwadzi</em> (2/68–69), asy-Syaukani dalam <em>Nailul Author</em> (2/284), Syaikh Ahmad Syakir dalam <em>Ta’liq Sunan at-Tirmidzi</em> (2/58–59), Syaikh al-Albani dalam <em>Shifat Sholat Nabi</em> (83), dan lain sebagainya.</p>
<p>Dan hati kami tidak ragu lagi bahwa pendapat kedua inilah yang lebih kuat berdasarkan hadits Abu Huroiroh a\ di atas, tidak bisa dipertentangkan dengan hadits Wa‘il bin Hujr a\ karena derajatnya lemah. Wallohu A’lam.</p>
<h1>Bersama al-Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah</h1>
<p>al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya <em>Zadul Ma’ad</em> (1/57–58) dan <em>Tahdzib Sunan</em> (3/73–75) menguatkan pendapat pertama dengan mengemukakan berbagai argumen yang kalau diteliti ternyata lemah.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/114%20Hadits.doc#_ftn13">[13]</a> Di antara argumen beliau yang paling menonjol adalah anggapannya bahwa hadits Abu Huroiroh ini adalah <em>maqlub</em> (terbalik), yang benar adalah “hendaknya dia mendahulukan lutunya sebelum tangannya” karena lutut binatang itu bukan di tangannya.</p>
<p>Namun, anggapan tersebut keliru, bahkan yang benar adalah “hendaknya mendahulukan tangannya sebelum lututnya”. Hal ini diperkuat oleh beberapa argumen:</p>
<ol>
<li>Kaidah mengatakan bahwa nash-nash syari’at harus ditafsirkan sesuai dengan penafsiran syari’at, jika tidak mungkin maka dibawa kepada penafsiran ahli bahasa.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/114%20Hadits.doc#_ftn14">[14]</a> Sementara itu, dalam hal ini telah ditafsirkan oleh Rosululloh n\ dan sahabat Ibnu Umar d\ dengan mendahulukan tangan terlebih dahulu.</li>
<li>Para ahli bahasa juga menguatkan pendapat yang menyatakan bahwa lutut binatang berkaki empat itu di tangannya, sebagaimana ditegaskan oleh al-Jahizh dalam <em>Kitabul Hayawan</em> (2/355), Ibnul Manzhur dalam <em>Lisanul Arab</em> (14/236), al-Azhari dalam <em>Tahdzib Lughoh</em> (10/216), Ibnu Sidah dalam <em>al-Muhkam wal Muhith al-A’zhom</em> (7/16). Semua ini menunjukkan bahwa lutut hewan unta itu berada di tangannya.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/114%20Hadits.doc#_ftn15">[15]</a></li>
</ol>
<h1>Bagaimana Jika Bangkit Berdiri?</h1>
<p>Adapun apabila bangkit mau berdiri ke roka’at berikutnya, maka disunnahkan untuk mendahulukan lutut terlebih dahulu dan bertelekan pada kedua tangan. Hal ini berdasarkan hadits Malik bin Huwairits a\ tatkala beliau menceritakan sifat sholat Nabi n\:</p>
<p dir="RTL"><strong>وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ عَنِ السَّجْدَةِ الثَّانِيَةِ جَلَسَ وَاعْتَمَدَ عَلَى الأَرْضِ ثُمَّ قَامَ</strong></p>
<div>
<p>Dan apabila beliau mengangkat kepalanya dari sujud kedua, beliau duduk dan berpegangan pada tanah kemudian berdiri.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/114%20Hadits.doc#_ftn16">[16]</a></p>
</div>
<p>Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani v\ berkata dalam <em>Tamamul Minnah</em> (hlm. 197), “Konsekuensi dari sunnah ini adalah mendahulukan lutut sebelum tangan, karena tidak mungkin bertelekan pada tanah dengan kedua tangan ketika hendak berdiri kecuali dengan cara seperti itu&#8230;.”<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/114%20Hadits.doc#_ftn17">[17]</a></p>
<p>Demikianlah pembahasan hadits ini secara singkat. Semoga bermanfaat.</p>
<p align="center">Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi</p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/114%20Hadits.doc#_ftnref1">[1]</a>     Lihat <em>Taufiq al-Bari Fi Hukmi Sholat Baina Sawari</em> hlm. 5–7 oleh Syaikhuna Ali bin Hasan al-Halabi.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/114%20Hadits.doc#_ftnref2">[2]</a>     Lihat <em>Irwa‘ul Gholil</em>: 2/78–79 oleh al-Albani.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/114%20Hadits.doc#_ftnref3">[3]</a>     Seperti Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini dalam risalahnya yang berjudul <em>Nahyu Shuhbah ’An Nuzuli bir Rukbah</em>. Dan Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani memiliki risalah khusus berjudul <em>Izalah Syukuku ’Inda Haditsil Buruk</em>, namun sayangnya risalah ini hilang sebagaimana dalam <em>Aro’ul Imam al-Albani Tarbawiyyah</em> hlm. 62 oleh Iyad asy-Syami.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/114%20Hadits.doc#_ftnref4">[4]</a>     Lihat <em>Mizanul I’tidal</em>: 3/373 oleh Imam Dzahabi dan <em>Tahdzib Tahdzib</em>: 2/493 oleh Ibnu Hajar.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/114%20Hadits.doc#_ftnref5">[5]</a>     Lihat <em>Irwa‘ul Gholil</em> no. 357 dan <em>Silsilah Ahadits adh-Dho’ifah</em>: 2/329–330 oleh al-Albani.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/114%20Hadits.doc#_ftnref6">[6]</a><em>     Bulughul Maram</em> (1/380–381 — <em>Subulus Salam</em>)</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/114%20Hadits.doc#_ftnref7">[7]</a>     Shohih. Diriwayatkan al-Imam al-Bukhori: 2/290 secara <em>mu’allaq</em> dan Ibnu Khuzaimah: 627, ath-Thahawi dalam <em>Syarh Ma’ani al-Atsar</em>: 1/254, ad-Daroqutni: 1/344, al-Hakim: 1/226, dan al-Baihaqi: 2/100 secara bersambung dan dishohihkan al-Hakim, adz-Dzahabi, Ibnu Khuzaimah, dan al-Albani dalam <em>Irwa’ul Gholil</em>: 2/77.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/114%20Hadits.doc#_ftnref8">[8]</a>     Lihat <em>al-Mughni</em> karya Ibnu Qudamah: 1/514, <em>Zadul Ma’ad</em> karya Ibnul Qoyyim: 1/230, <em>Fathul Bari</em> karya Ibnu Hajar: 2/290, <em>Tanqih Tahqiq</em> karya Ibnul Jauzi: 1/346, <em>Shifat Sholat</em> karya al-Albani hlm. 83.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/114%20Hadits.doc#_ftnref9">[9]</a><em>     Al-Majmu’ fi Tarjamati Syaikh Hammad al-Anshori</em>: 2/519</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/114%20Hadits.doc#_ftnref10">[10]</a><em>    Jami’ Bayanil Ilmi</em>, Ibnu Abdil Barr: 2/814–815</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/114%20Hadits.doc#_ftnref11">[11]</a><em>    Majmu’ Fatawa</em>: 22/449 karya Ibnu Taimiyyah.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/114%20Hadits.doc#_ftnref12">[12]</a><em>    Al-Hawi</em>: 2/152, <em>asy-Syarh Shoghir</em>: 1/119, <em>al-Muharror</em>: 1/63.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/114%20Hadits.doc#_ftnref13">[13]</a>    Lihat bantahan ilmiah pendapat al-Imam Ibnul Qoyyim ini secara luas dalam risalah <em>Nahyu Shuhbah ’An Nuzuli bir Rukbah</em> karya Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/114%20Hadits.doc#_ftnref14">[14]</a><em>    Mudzakkiroh Ushul Fiqih</em> hlm. 174–175 karya asy-Syinqithi</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/114%20Hadits.doc#_ftnref15">[15]</a>    Lihat <em>Nahyu Shuhbah</em> hlm. 20 oleh Abu Ishaq al-Huwaini, <em>at-Tarjih Fi Masa‘il Thoharoh wash Sholah</em> hlm. 238 oleh Dr. Muhammad al-Bazimul.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/114%20Hadits.doc#_ftnref16">[16]</a>    HR. al-Bukhori: 824, asy-Syafi’i dalam <em>al-Umm</em>: 1/101, an-Nasa‘i: 1/173, dan al-Baihaqi: 2/124 dan135.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/114%20Hadits.doc#_ftnref17">[17]</a>    Lihat pula <em>al-Umm</em>: 1/101 oleh al-Imam asy-Syafi’i dan <em>Fathul Bari</em>: 2/303 oleh Ibnu Hajar, <em>Silsilah Ahadits adh-Dho’ifah</em>: 2/392/927 oleh al-Albani.</p>
</div>
</div>
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://abiubaidah.com/matahari-sujud.html/' rel='bookmark' title='MATAHARI SUJUD'>MATAHARI SUJUD</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/adzab-kubur-mutawatir-atau-ahad.html/' rel='bookmark' title='ADZAB KUBUR, MUTAWATIR ATAU AHAD?'>ADZAB KUBUR, MUTAWATIR ATAU AHAD?</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/dajjal-imajinasi-atau-fakta.html/' rel='bookmark' title='DAJJAL: IMAJINASI ATAU FAKTA?'>DAJJAL: IMAJINASI ATAU FAKTA?</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/sujud-dengan-tangan-atau-lutut-dahulu.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>‘Raport Merah’ Aksi Demonstrasi</title>
		<link>http://abiubaidah.com/raport-merah-aksi-demonstrasi.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/raport-merah-aksi-demonstrasi.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Apr 2012 09:21:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ridwanyufid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikih Kontemporer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=1118</guid>
		<description><![CDATA[Muqoddimah Demonstrasi adalah kata yang tidak asing lagi pada zaman ini, hampir setiap saat media mengekspos berita tentang demo, baik dalam negeri atau luar negeri. Seakan-akan tak ada hari tanpa demonstrasi. Bila BBM naik, demonstrasi… Bila seorang tokoh kalah dalam pemilihan, demonstrasi… Bila gaji tak kunjung naik, demonstrasi… Bila keputusan pemerintah dianggap kurang tepat, demonstrasi… [...]
No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1>Muqoddimah</h1>
<p>Demonstrasi adalah kata yang tidak asing lagi pada zaman ini, hampir setiap saat media mengekspos berita tentang demo, baik dalam negeri atau luar negeri. Seakan-akan tak ada hari tanpa demonstrasi.</p>
<p>Bila BBM naik, demonstrasi…</p>
<p>Bila seorang tokoh kalah dalam pemilihan, demonstrasi…</p>
<p>Bila gaji tak kunjung naik, demonstrasi…</p>
<p>Bila keputusan pemerintah dianggap kurang tepat, demonstrasi…</p>
<p>Demikian seterusnya…</p>
<p>Berita sedang aktual adalah demonstrasi besar-besaran di negeri Sungai Nil, Mesir, yang dilakukan oleh rakyat Mesir yang menuntut lengsernya Presiden Muhammad Husni Mubarok dari kursi kepresidenan. Tak cukup sekadar demonstrasi, tragedi ini merupakan tragedi berdarah yang menelan banyak korban. Hal itu mengingatkan penulis pada sejarah lengsernya presiden kedua Indonesia.</p>
<p>Aneh memang, banyak kalangan menilai bahwa demonstrasi adalah obat alternatif yang jitu dan solusi tepat untuk mengatasi seabrek problem yang menyelimuti umat manusia. Masalahnya, benarkah demonstrasi adalah solusi? Ataukah demonstrasi adalah polusi yang membawa kerusakan dan petaka?!! Bagaimanakah hukum demonstrasi dalam pandangan Islam? Bagaimana juga dengan sejarahnya? Di sinilah kami mengajak pembaca sekalian untuk mengkaji masalah ini dengan lapang dada dan niat mencari kebenaran.</p>
<h1>Definisi Demonstrasi</h1>
<p>Dalam sebuah kamus bahasa Indonesia, demonstrasi diartikan sebagai pengungkapan kemauan secara beramai-ramai baik setuju atau tidak setuju akan sesuatu, sambil berarak-arakan dengan membawa spanduk/panji-panji, poster, dan sebagainya yang berisikan tulisan yang menggambarkan tujuan demonstrasi tersebut.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Jadi, demonstrasi adalah suatu metode untuk mengungkapkan aspirasi para demonstran terhadap negara atau atasan dengan menuntut terwujudnya tuntutan mereka dari aksi tersebut.<span id="more-1118"></span></p>
<h1>Sejarah Demonstrasi</h1>
<p>Bila kita telusuri sejarah, akan kita dapati bahwa demonstrasi bukan berasal dari Islam. Demonstrasi tidak dikenal pada zaman Nabi n\ dan para sahabat f\, tetapi dilakukan oleh orang Khowarij yang ingin menggulingkan Utsman dan Ali bin Abi Tholib d\.</p>
<p>Kemudian seiring dengan bergolaknya revolusi Prancis, demonstrasi dihidupkan oleh orang-orang kafir Prancis bersama dengan induknya yang bernama demokrasi. Oleh karena itu, negara Prancis secara resmi memasukkan demokrasi dalam undang-undang mereka dengan label Hak Asasi Manusia (HAM) pada tahun 1791. Disebutkan dalam pasal tiga, “Rakyat adalah sumber kekuasaan, setiap badan dan individu berhak mengatur hukum, hukum dan hak diambil dari mereka.” Ini adalah penegasan bahwa kekuasaan adalah milik rakyat yang tidak dapat dipenggal-penggal lagi serta tanpa kompromi dan tidak akan dapat diubah-ubah.</p>
<p>Kemudian tatkala Prancis menjajah dunia, di antaranya adalah negara-negara Arab seperti Mesir, Tunisia, Aljazair, Maroko, dan negara-negara muslim lainnya, maka secara bersamaan masuklah sistem demokrasi tersebut ke negeri-negeri jajahan.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn2">[2]</a></p>
<h1>Hukum Demonstrasi dan Argumentasinya</h1>
<p>Demonstrasi merupakan masalah kontemporer yang belum dikenal pada zaman Nabi n\, namun hal itu bukan berarti ia tidak memiliki hukum dalam kacamata syari’at, sebab agama Islam merupakan agama yang sempurna dan mampu menjawab segala permasalahan dengan dalil-dalil umum dan kaidah-kaidah fiqih yang telah dijelaskan para ulama. Alangkah bagusnya ucapan al-Imam asy-Syafi’i v\ tatkala mengatakan, “Tidak ada suatu masalah baru apa pun yang menimpa seorang berpengetahuan agama kecuali dalam al-Qur&#8217;an telah ada jawaban dan petunjuknya.” <a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Tidak diragukan lagi bagi seorang yang mau menimbang suatu hukum berdasarkan cahaya al-Qur&#8217;an dan Sunnah serta kaidah-kaidah fiqhiyyah bahwa demonstrasi hukumnya tidak boleh, berdasarkan beberapa argumen sebagai berikut:</p>
<h2>1.  Demonstrasi merupakan perkara baru dalam agama</h2>
<p>Oleh para pembelanya, demonstrasi dianggap sebagai salah satu sarana dakwah dan bagian dari ajaran Islam. Padahal, demonstrasi merupakan perkara baru dalam agama dan tidak dikenal oleh Islam, serta tidak pernah dicontohkan dan dipraktikkan oleh Nabi n\ yang mulia. Tidak pernah Rosululloh n\ beserta para sahabatnya berdemonstrasi dengan memasang spanduk, meneriakkan yel-yel dan sebagainya ke rumah Abu Jahal atau lainnya, padahal faktor pendorong untuk melakukannya sudah ada pada zaman beliau. Beliau dan para sahabatnya telah dizalimi dengan sangat mengenaskan. Mereka disiksa, dibunuh, diboikot, dan sebagainya. Namun demikian, beliau tidak menggunakan metode ini, maka hal itu menunjukkan bahwa metode ini tidak membawa kebaikan sedikit pun.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah v\ memberikan sebuah kaidah penting tentang maslahat dan mafsadat, beliau berkata:</p>
<p dir="RTL"><strong>فَكُلُّ أَمْرٍ يَكُوْنُ الْمُقْتَضِيْ لِفِعْلِهِ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ</strong>n<strong> مَوْجُوْدًا لَوْ كَانَ مَصْلَحَةً وَلَمْ يَفْعَلْ, يُعْلَمُ أَنَّهُ لَيْسَ بِمَصْلَحَةٍ</strong></p>
<div>
<p>“Setiap perkara yang faktor dilakukannya ada pada zaman Nabi n\, yang tampaknya membawa maslahat tetapi tidak dikerjakan Nabi n\, maka jelas bahwa hal itu bukanlah maslahat.” <a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn4">[4]</a></p>
</div>
<p>Beliau kemudian memberikan contoh, seperti adzan pada hari raya. Adzan itu sendiri pada asalnya adalah maslahat. Dan faktor dilakukannya juga ada, yaitu mengumpulkan jama’ah sholat, tetapi Nabi n\ tidak melakukannya pada hari raya. Berarti adzan pada hari raya bukanlah maslahat. Kita meyakini hal itu sesat sebelum kita mendapatkan larangan khusus akan hal tersebut atau sebelum kita mendapatkan bahwa hal tersebut membawa mafsadat.</p>
<p>Demikian juga, apabila kita terapkan kaidah ini dalam masalah demonstrasi. Tidak diragukan bahwa faktor pendorong demonstrasi dan sejenisnya adalah suatu kezaliman, atau suatu hak atau hukum yang tidak ditegakkan. Semua itu sudah ada pada zaman Nabi n\ dan para salaf, namun mereka tidak menerapkan (melakukan)nya, maka hal ini menunjukkan bahwa demonstrasi tidak disyari’atkan dan bahwa meninggalkannya merupakan metode salaf.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn5">[5]</a></p>
<h2>2.  Demonstrasi termasuk tasyabbuh kepada orang-orang kafir</h2>
<p>Tidak diperselisihkan oleh siapa pun bahwa demonstrasi adalah produk orang-orang kafir dan munafik yang sejak dahulu kala ingin membuat kerusakan di muka bumi.</p>
<p>Syaikh Sholih bin Fauzan b\ berkata, “Menumbuhkan kebencian kepada pemimpin dalam hati rakyat merupakan usaha para perusak yang ingin membuat kekacauan di muka bumi. Orang-orang munafik sejak dahulu telah berusaha melakukan hal ini ketika mereka ingin memisahkan kaum muslimin dari Rosululloh n\ untuk membuat kekacauan pada masyarakat seraya mengatakan:</p>
<p dir="RTL">لَا تُنفِقُوا۟ عَلَىٰ مَنْ عِندَ رَسُولِ ٱللَّهِ حَتَّىٰ يَنفَضُّوا۟ ۗ</p>
<div>
<p>“Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rosululloh supaya mereka bubar (meninggalkan Rosululloh).” (QS. al-Munafiqun [63]: 7)</p>
</div>
<p>Maka setiap usaha untuk membuat permusuhan antara pemimpin dengan rakyat adalah usaha kaum munafik dan perusak di muka bumi yang bila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kalian membuat kerusakan”, mereka menjawab, “Kami adalah orang-orang yang memperbaiki.” <a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Pikirkanlah, bukankah syari’at Islam telah melarang kita sebagai umat Islam untuk meniru orang-orang kafir?! Nabi n\ bersabda:</p>
<p dir="RTL"><strong>مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ</strong></p>
<div>
<p>“Barang siapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.” <a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn7">[7]</a></p>
</div>
<p>Lantas, kenapakah kita meninggalkan petunjuk Nabi n\ dan malah mengambil produk manusia kafir?! Apakah petunjuk mereka lebih benar dan utama?! Celaka, tidakkah mereka berpikir dahulu dari mana asal mula demonstrasi ini sebelum melakukannya?! Adakah Islam mengajarkannya ataukah ajaran orang-orang kafir yang telah mereka praktikkan dan perjuangkan?!! Hanya kepada Alloh kita mengadukan semua ini.</p>
<h2>3.  Kerusakan yang ditimbulkan demonstrasi lebih banyak</h2>
<p>Al-Hafizh Ibnul Qoyyim v\ berkata, “Apabila seorang merasa kesulitan tentang hukum suatu masalah, apakah mubah ataukah haram, maka hendaklah dia melihat kepada mafsadat (kerusakan) dan hasil yang ditimbulkan olehnya. Apabila ternyata sesuatu tersebut mengandung kerusakan yang lebih besar, maka sangatlah mustahil bila syari’at Islam memerintahkan atau memperbolehkannya, bahkan keharamannya merupakan sesuatu yang pasti. Lebih-lebih apabila hal tersebut menjurus kepada kemurkaan Alloh dan Rosul-Nya baik dari jarak dekat maupun dari jarak jauh, seorang yang cerdik tidak akan ragu akan keharamannya.” <a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Dengan bercermin kepada kaidah yang berharga ini marilah kita bersama-sama melihat hukum demonstrasi secara adil. Apakah yang kita dapati bersama? Kita akan mendapati dampak negatif dan kerusakan-kerusakan akibat demonstrasi, di antaranya: hilangnya keamanan negara, hilangnya wibawa pemimpin, kerusakan bangunan dan jalan, penjarahan, kemacetan lalu lintas, keluarnya kaum wanita di jalan-jalan, aksi mogok makan<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn9">[9]</a> yang sangat mengkhawatirkan, bahkan tak jarang nyawa manusia melayang.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn10">[10]</a> Kemudian, tanyakan pada dirimu, bukankah demonstrasi sudah seringkali digelar? Lantas apa hasilnya? Pikirkanlah!!</p>
<h2>4.  Menyelisihi sunnah Nabi n\ dalam menasihati pemimpin</h2>
<p>Pemimpin suatu negara adalah manusia biasa seperti kita. Mereka juga terkadang salah, maka kewajiban bagi setiap muslim adalah saling memberikan nasihat dan mengingatkan. Ini adalah suatu kewajiban agama dan amalan ibadah yang sangat utama.</p>
<p>Namun, tentu saja cara menasihati pemimpin tidak sama dengan menasihati orang biasa, sebagaimana tidak sama cara seorang anak menasihati orang tua dengan cara orang tua menasihati anak. Sebab itu, Islam memberikan rambu-rambu tentang etika menasihati pemimpin agar tidak malah menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Rosululloh n\ bersabda:</p>
<p dir="RTL"><strong>مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِيْ سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِ لَهُ عَلاَنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذَ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أََدَّى الَّذِيْ كَانَ عَلَيْهِ لَهُ</strong></p>
<div>
<p>“Barang siapa hendak menasihati penguasa, janganlah ia menampakkannya terang-terangan. Akan tetapi, hendaklah ia mengambil tangannya (sang penguasa tersebut), kemudian menyepi. Apabila penguasa itu mau menerima, maka itulah yang dimaksud. Apabila tidak menerima, sungguh dia telah menunaikan kewajibannya.” <a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn11">[11]</a></p>
</div>
<p>Inilah cara yang syar’i dan selamat, yaitu menasihati pemimpin secara sembunyi-sembunyi empat mata, atau melalui surat, atau melalui orang dekat pemimpin, dan sebagainya, bukan dengan membeberkan kesalahan pemimpin di mimbar-mimbar bebas, di tempat umum, koran, majalah, dan—termasuk juga—demonstrasi. Maka kami nasihatkan, janganlah engkau tertipu dengan banyaknya orang yang menempuh cara-cara keliru seperti itu walaupun niat pelakunya baik, karena cara yang demikian jelas menyelisihi sunnah.</p>
<h2>5.  Jembatan menuju pemberontakan</h2>
<p>Al-Imam al-Bukhori (7053) dan Muslim (1849) telah meriwayatkan bahwa Rosululloh n\ bersabda:</p>
<p dir="RTL"><strong>مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ، فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيْتَةً جَاهِليَّةً</strong></p>
<div>
<p>“Barang siapa membenci sesuatu pada pemimpinnya<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn12">[12]</a> maka hendaknya dia bersabar, karena seorang yang keluar dari pemimpin satu jengkal saja maka dia mati sepertinya matinya orang di masa jahiliah.” <a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn13">[13]</a></p>
</div>
<p>Kalau keluar satu jengkal saja tidak boleh, lantas dalam aksi demonstrasi berapa jengkal?! Bukankah biasanya aksi demonstrasi dijadikan alat untuk memberontak dan menggulingkan kursi kepemimpinan?! Ibnu Abi Jamroh v\ berkata, “Maksudnya <em>keluar dari pemimpin</em> yaitu berusaha untuk melepaskan ikatan bai’at yang dimiliki oleh sang pemimpin dengan cara apa pun. Nabi n\ menggambarkan dengan satu jengkal, karena usaha tersebut bisa menjurus kepada tertumpahnya darah tanpa alasan yang benar.” <a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn14">[14]</a></p>
<p>Perlu kami tegaskan di sini bahwa yang disebut <em>menghujat</em> dan <em>memberontak</em> pemimpin tidak harus dengan pedang, tetapi juga mencakup segala sarana menuju kepadanya seperti: mencela pemimpin, menyebarkan kejelekan pemimpin, dan—termasuk pula—melakukan aksi demonstrasi. Sebab, manusia tidak akan memberontak pemimpin dengan pedang tanpa ada yang menyalakan api kebencian di hati mereka walaupun dengan dalih menegakkan pilar amar ma’ruf nahi munkar. Hal ini ditegaskan secara bagus oleh Abdulloh bin ’Ukaim bahwa menyebarkan kejelekan pemimpin adalah kunci untuk menumpahkan darahnya. Beliau mengatakan, “Saya tidak akan membantu untuk menumpahkan darah seorang kholifah selama-lamanya setelah Utsman a\.” Ditanyakan kepadanya, “Wahai Abu Ma’bad! Apakah engkau membantunya?” Beliau menjawab, <strong>“Saya menilai bahwa menyebutkan kejelekannya adalah kunci untuk menumpahkan darahnya.”</strong> <a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn15">[15]</a></p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar v\ berkata, “Faktor utama terbunuhnya Utsman a\ adalah celaan kepada para gubernurnya, yang secara otomatis kepada beliau juga yang mengangkat mereka sebagai gubernur.” <a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn16">[16]</a></p>
<p>Perhatikanlah hal ini baik-baik wahai saudaraku. Janganlah kita tertipu dengan godaan setan dan pujian manusia bahwa kita adalah seorang pemberani dan lantang bicara kebenaran, berani mengkritik pemerintah, dan sebagainya, karena semua itu adalah tipu daya Iblis semata!!</p>
<p>Dari sinilah kita mengetahui kebenaran fatwa para ulama kita Ahlus Sunnah wal Jama’ah semisal Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, Syaikh Sholih al-Fauzan yang menegaskan bahwa aksi demonstrasi adalah tidak boleh dan terlarang dalam tinjauan agama.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn17">[17]</a> Adapun syubhat-syubhat yang dihembuskan oleh sebagian kalangan yang melegalkan demonstrasi maka semua itu adalah argumen yang sangat rapuh dalam timbangan syari’at.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn18">[18]</a></p>
<h1>Demonstrasi Damai</h1>
<p>Sebagian kalangan mencoba untuk memperindah demonstrasi dengan label “demonstrasi damai”, “demonstrasi aman”, dan sebagainya untuk melegalkan aksi demonstrasi, yaitu dengan melakukan aksi demonstrasi secara tertib, rapi, menjaga emosi, dan sebagainya.</p>
<p>Aduhai, siapakah yang bisa menjamin para demonstran dari emosi mereka saat aksi tersebut?! Bukankah kita harus membendung segala sarana menuju kerusakan?! Alangkah miripnya keadaan mereka dengan ucapan penyair:</p>
<p dir="RTL"><strong>أَلْقَاهُ فِي الْيَمِّ مَكْتُوْفاً وَقَالَ لَهُ  #  إِيَّاكَ إِيَّاكَ أَنْ تَبْتَلََّ بِالْمَاءِ</strong></p>
<div>
<p>Dia melemparnya ke laut dalam keadaan terikat</p>
</div>
<div>
<p>Lalu berkata: &#8220;Awas, hati-hati jangan sampai basah kena air.</p>
</div>
<p>Kemudian, apakah kemungkaran demonstrasi hanya terbatas pada kerusakan saja?! Bukankah di sana ada kemungkaran lainnya, seperti tasyabbuh dengan orang kafir, bid&#8217;ah, menyelisihi metode Nabi dalam nasihat, menjurus kepada pemberontakan dan lain sebagainya.</p>
<p>Syaikh Abu Ishaq b\ pernah ditanya, “Kalau faktor terlarangnya demonstrasi adalah kerusakan yang ditimbulkan darinya, lantas bolehkah mengadakan aksi demonstrasi damai untuk menyampaikan aspirasi rakyat tanpa membuat kerusakan?”</p>
<p>Beliau menjawab, “Yang saya yakini, demonstrasi tetap tidak boleh sekalipun dilakukan secara damai. Demonstrasi berasal dari barat. Demonstrasi di negeri mereka bisa mengubah keputusan politik. Adapun demonstrasi di negeri Islam tidak mengubah sedikit pun. Kemudian anggapan bahwa demonstrasi (bisa berjalan dengan) damai, itu tidak terjamin. Buktinya, demonstrasi yang diatur oleh negara kita (Mesir) tetap terjadi pengrusakan dan aksi bentrok antara para demonstran dan polisi padahal negara sendiri yang mengatur demonstrasi.” <a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn19">[19]</a></p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin v\ pernah ditanya, “Bila ada seorang pemimpin yang tidak berhukum dengan hukum Alloh membolehkan kepada rakyatnya untuk mengadakan aksi demonstrasi damai dengan undang-undang yang dibuat oleh pemimpin, lalu para demonstran menjalankannya, sehingga apabila diingkari mereka menjawab, ‘Kami tidak menentang pemimpin, kami melakukan sesuai dengan undang-undang pemimpin’, apakah hal ini dibolehkan secara syar’i padahal jelas menyelisihi dalil?”</p>
<p>Beliau menjawab, “Ikutilah jalan para salaf. Kalau memang ini dilakukan oleh salaf maka itu baik dan bila tidak dilakukan oleh mereka maka itu jelek. Tidak diragukan lagi bahwa demonstrasi adalah jelek, karena menyebabkan kekacauan, bentrokan, dan kezaliman baik (terhadap) kehormatan, harta, dan badan. Sebab, manusia pada saat aksi tersebut kadang seperti orang mabuk yang tidak mengerti apa yang dia katakan dan perbuat. Maka demonstrasi semuanya adalah jelek, baik pemerintah memberikan izin atau tidak. Izin sebagian pemerintah hanyalah sekadar penampilan luar saja, karena seandainya engkau mengetahui isi hatinya tentu dia akan sangat membencinya, tetapi dia secara politik mengatakan, ‘Saya harus demokratis dan memberikan kebebasan untuk rakyat.’ Semua ini bukanlah manhaj salaf.” <a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftn20">[20]</a></p>
<h1>Penutup</h1>
<p>Demikianlah untaian kata yang dapat kami goreskan dalam lembaran ilmiah ini, sebagai bentuk nasihat dan penjelasan kepada kaum muslimin seluruhnya. Tidak ada sama sekali kepentingan pribadi atau politik dalam tulisan ini, tetapi yang ada adalah kebenaran yang tulus — yang kami yakini harus dijelaskan kepada umat.</p>
<p>Dan di akhir tulisan ini, kami mengimbau kepada seluruh kaum muslimin untuk kembali kepada ajaran agama Islam yang suci berdasarkan al-Qur&#8217;an dan hadits sesuai dengan pemahaman salaf sholih. Marilah kita semua bertaubat kepada Alloh dan memperbaiki diri kita agar segala krisis, fitnah, dan problem segera diangkat oleh Alloh. Hanya Islamlah solusi untuk mengatasi semua itu, bukan dengan metode-metode barat.</p>
<h1>Daftar Referensi</h1>
<ol>
<li><em>Al-Muzhoharot wa al-I’tishomat wa al-Idhrobat Ru’yah Syar’iyyah.</em> Dr. Muhammad bin Abdurrohman al-Khumais. Darul Fadhilah, KSA, cet. pertama, 1427 H.</li>
<li><em>Hukm</em><em>u</em><em> al-Idhrob ’an Tho’am fi al-Fiqh al-Islami.</em> Dr. Abdulloh bin Mubarok bin Abdillah Alu Saif. Jami’ah Imam Ibnu Su’ud, KSA, cet. pertama, 1427 H.</li>
<li><em>Demonstrasi Solusi Atau Polusi?</em> Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi. Pustaka Darul Ilmi, Bogor, cet. pertama, 1430 H.</li>
</ol>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref1">[1]</a><em>     Kamus Istilah Populer</em> hlm. 62</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref2">[2]</a>     Lihat <em>Tanwir Zhulumat Bi Kasyfi Mafasid al-Intikhobat</em> kar. Muhammad al-Imam dan <em>al-Muzhoharot wa al-I’tishomat wa al-Idhrobat Ru&#8217;yah Syar’iyyah</em> kar. Dr. Muhammad bin Abdurrohman al-Khumais hlm. 19–20.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref3">[3]</a><em>     Ar-Risalah</em> hlm. 20</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref4">[4]</a><em>     Iqtidho&#8217; Shiroth al-Mustaqim</em>: 2/594</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref5">[5]</a><em>     Haqiqoh al-Khowarij fi Syar’i wa ’Abri Tarikh</em> kar. Faishol al-Jasim hlm. 147–148</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref6">[6]</a><em>     Al-Ajwibah Mufidah ’An As&#8217;ilah Manahij Jadidah</em> hlm. 132–133</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref7">[7]</a>     HR. Abu Dawud : 4002, Ahmad dalam <em>Musnad</em>-nya: 2/50, dihasankan oleh Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Hajar, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam <em>Irwa&#8217; al-Gholil</em> no. 1269.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref8">[8]</a><em>     Madarij as-Salikin</em>: 1/496</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref9">[9]</a>     Lihat buku khusus tentang aksi mogok makan yang berjudul <em>Hukm al-Idhrob ’An Tho’am fi al-Fiqh al-Islami</em> kar. Dr. Abdulloh bin Mubarok bin Abdillah Alu Saif.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref10">[10]</a>    Lihat perinciannya dalam buku kami, <em>Demonstrasi Solusi Atau Polusi?</em> hlm. 67–74.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref11">[11]</a>    HR. Ibnu Abi Ashim: 2/507, Ahmad: 3/403, al-Hakim: 3/290, hadits ini dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam <em>Zhilal al-Jannah</em> hlm. 507.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref12">[12]</a>    Ash-Shona’ni v\ berkata, “Maksudnya adalah pemimpin setiap negara (bukan kholifah sedunia), karena sejak pertengahan masa Daulah Abbasiyyah manusia sudah tidak lagi berkumpul dalam satu pemimpin, tetapi setiap negara memiliki pemimpin masing-masing. Seandainya hadits ini dibawa kepada kholifah umat Islam seluruh dunia, maka sedikit sekali faedahnya.” (Subul as-Salam: 4/72)</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref13">[13]</a>    Karena orang-orang jahiliah tidak memiliki pemimpin, tetapi masing-masing kelompok membantai lainnya. (Lihat <em>Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah</em>: 28/487 dan <em>Subul as-Salam</em> kar. ash-Shon’ani: 4/72)</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref14">[14]</a><em>    Fathul Bari</em> kar. Ibnu Hajar: 13/7</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref15">[15]</a>    Dikeluarkan Ibnu Sa’ad: 6/115, al-Fasawi dalam <em>al-Ma’rifah wa Tarikh</em>: 1/213.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref16">[16]</a><em>    Fathul Bari</em>: 13/115</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref17">[17]</a>    Lihat perincian fatwa mereka dalam <em>al-Muzhoharot wa al-I’tishomat wa al-Idhrobat</em> hlm. 85–106, <em>al-Fatawa Syar’iyyah fi al-Qodhoya ’Ashriyyah</em> hlm. 181–188 kumpulan Muhammad bin Fahd al-Hushoin, Majalah <em>al-Asholah</em> Edisi 30/Th. 5 (Syawwal 1421) hlm. 59–60, buku kami <em>Demonstrasi Solusi Atau Polusi?</em> hlm. 53–64.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref18">[18]</a>    Lihat <em>al-Muzhoharot wa al-I’tishomat wa al-Idhrobat Ru&#8217;yah Syar’iyyah</em> hlm. 54–76, <em>Demonstrasi Solusi Atau Polusi?</em> hlm. 91–111.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref19">[19]</a><em>    Fatawa Syaikh Abi Ishaq al-Huwaini</em>: 1/38 (Maktabah Syamilah)</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/112%20Fiqih%20Nawazil.doc#_ftnref20">[20]</a><em>    Liqo&#8217; al-Bab Maftuh</em>: 179/18 (Maktabah Syamilah)</p>
</div>
</div>
<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/raport-merah-aksi-demonstrasi.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kemungkaran-Kemungkaran Dalam Perayaan Maulid Nabi</title>
		<link>http://abiubaidah.com/kemungkaran-kemungkaran-dalam-perayaan-maulid-nabi.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/kemungkaran-kemungkaran-dalam-perayaan-maulid-nabi.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Apr 2012 09:07:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ridwanyufid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sunnah dan Bid'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=1107</guid>
		<description><![CDATA[Perayaan peringatan maulid ini bermacam-macam bentuknya. Ada yang hanya sekadar berkumpul dan membacakan kisah maulid (kelahiran) Nabi n\, qosidah, dan ceramah agama. Ada yang membuat makanan serta sejenisnya untuk para hadirin. Ada yang merayakannya di masjid, langgar (surau), dan ada yang di rumah. Dan ada juga yang tak cukup hanya demikian, mereka meramaikan perayaan maulid [...]
Related posts:<ol>
<li><a href='http://abiubaidah.com/kajian-maulid.html/' rel='bookmark' title='Kajian Umum: Hakikat Perayaan Maulid Nabi'>Kajian Umum: Hakikat Perayaan Maulid Nabi</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/pelajaran-penting-dalam-khutbah-hajah-nabi.html/' rel='bookmark' title='Pelajaran Penting dalam Khutbah Hajah Nabi'>Pelajaran Penting dalam Khutbah Hajah Nabi</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/cara-mengingkari-kemungkaran.html/' rel='bookmark' title='Agar “Mengingkari Kemungkaran” Tidak Menjadi Kemungkaran'>Agar “Mengingkari Kemungkaran” Tidak Menjadi Kemungkaran</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perayaan peringatan maulid ini bermacam-macam bentuknya. Ada yang hanya sekadar berkumpul dan membacakan kisah maulid (kelahiran) Nabi n\, qosidah, dan ceramah agama. Ada yang membuat makanan serta sejenisnya untuk para hadirin. Ada yang merayakannya di masjid, langgar (surau), dan ada yang di rumah.</p>
<p>Dan ada juga yang tak cukup hanya demikian, mereka meramaikan perayaan maulid ini dengan dibumbui keharaman dan kemungkaran. Seperti, <em>ikhtilath</em> (campur baur) antara pria dan wanita, joget, dan menyanyi, bahkan syirik — semisal meminta pertolongan kepada Nabi n\.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftn1">[1]</a> Hukum perayaan seperti ini lebih besar dosanya dari jenis pertama di atas. Bahkan hal ini diingkari secara keras oleh tokoh pendiri organisasi Islam besar di Indonesia, Muhammad Hasyim Asy’ari al-Jombangi, yang juga pendiri Pondok Pesantren Tebu Ireng. Dia berkata dalam kitabnya, <em>al-Tanbihat al-Wajibat li Man Yashna’ Maulid Bi al-Munkarot</em> (Beberapa Peringatan Wajib untuk Orang yang Berbuat Kemungkaran Dalam Maulid) hlm. 17–18. Berikut kami nukil nash perkataannya, dan terjemahan dari kami:</p>
<p dir="RTL">عَمَلُ الْمَوْلِدِ عَلَى الْوَصْفِ الَّذِيْ وَصَفْتُهُ أَوَّلاً حَرَامٌ, لاَ يَخْتَلِفُ فِيْ حُرْمَتِهِ اثْنَانِ, وَلاَ يَنْتَطِحُ فِيْ مَنْعِهِ عَنْزَانِ, وَلاَ يَسْتَحْسِنُهُ ذَوُوْالْمُرُوْءَةِ وَالإِيْمَانِ, وَإِنَّمَا يَرْغَبُ فِيْهِ مَنْ طُمِسَتْ بَصِيْرَتُهُ, وَاشْتَدَّتْ فِيْ الْمَآكِلِ وَالْمَشَارِبِ رَغْبَتُهُ, وَلاَ يَخَافُ فِيْ الْمَعَاصِيْ لَوْمَةَ لاَئِمٍ, وَلاَ يُبَالِيْ أَنَّهُ مِنَ الْعَظَائِمِ, وَكَذَا التَّفَرُّجُ عَلَيْهِ وَالْحُضُوْرُ فِيْه,ِ وَإِعْطَاءُ الْمَالِ لِأَجْلِهِ, فَإِنَّ ذَلِكَ كُلَّهُ حَرَامٌ شَدِيْدُ التَّحْرِيْمِ لِمَا فِيْهِ مِنَ الْمَفَاسِدِ الَّتِيْ سَتُذْكَرُ إِنْشَاءَ اللهُ فِيْ آخِرِ التَّنْبِيْهَاتِ</p>
<p>“Perayaan maulid seperti yang saya sifatkan pertama kali (dibumbui maksiat) hukumnya haram, tidak ada perselisihan antara dua orang akan keharamannya dan tidak ada dua tanduk yang bertabrakan tentang terlarangnya (maulid), tidak dianggap baik oleh orang yang mempunyai sifat takut dan iman. Akan tetapi, yang menyenanginya hanyalah orang yang dibutakan matanya dan sangat bernafsu terhadap makan dan minum serta tidak takut maksiat kepada siapa pun dan tidak peduli dengan dosa apa pun. Demikian pula menontonnya, menghadiri undangannya, dan menyumbang harta untuk perayaan tersebut. Semua itu hukumnya haram dan sangat haram karena mengandung beberapa kemungkaran, yang akan kami sebutkan di akhir kitab.”</p>
<p>Setelah itu, al-Ustadz Hasyim Asy’ari menjelaskan kemungkaran-kemungkaran yang biasa dilakukan oleh sebagian orang dalam perayaan maulid Nabi n\ pada halaman 38–46:<span id="more-1107"></span></p>
<h1>PERTAMA: Musik dan Permainan Sejenis Judi</h1>
<p>Ustadz Hasyim Asy’ari mengisyaratkan hal ini pada hlm. 8–10 sebagai berikut:</p>
<p>“Pada malam Senin tanggal 25 Rob’iul Awal tahun 1355 H saya melihat sebagian santri pondok pesantren agama mengadakan perayaan maulid dengan menghadirkan alat-alat musik kemudian membaca sedikit ayat al-Qur’an serta kisah kelahiran Nabi n\. Kemudian setelah itu, mereka mulai mengerjakan kemungkaran seperti pencak (jenis beladiri silat) dengan menabuh gendang. Semua itu dilakukan di hadapan para wanita yang bukan mahrom. Demikian pula musik, permainan sejenis judi (baca: domino), campur baur laki-laki perempuan, joget dan tenggelam dalam hal yang sia-sia, tertawa, dan mengeraskan suara di masjid dan sekelilingnya. Melihat semua itu saya pun mengingkari mereka dari kemungkaran-kemungkaran tersebut. Lalu mereka pun bubar.</p>
<p>Tatkala perkaranya seperti yang saya gambarkan tadi, dan saya khawatir kejadian menjijikkan ini akan bertambah menyebar ke tempat lainnya atau akan ditambah lagi oleh orang-orang awam dengan kemaksiatan lainnya, maka saya tulislah buku ini sebagai nasihat dan petunjuk kepada kaum muslimin.” <a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftn2">[2]</a></p>
<h1>KEDUA: Pemborosan</h1>
<p>Yaitu mengeluarkan harta untuk mendukung keharaman. Misalkan untuk zina, minum khamar, atau maulid yang dibumbui maksiat. Alloh e\ berfirman:</p>
<p dir="RTL">إِنَّ ٱلْمُبَذِّرِينَ كَانُوٓا۟ إِخْوَ‌ٰنَ ٱلشَّيَـٰطِينِ ۖ وَكَانَ ٱلشَّيْطَـٰنُ لِرَبِّهِۦ كَفُورًۭا ﴿٢٧﴾</p>
<p>Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Robbnya. (QS. al-Isro&#8217; [17]: 27)</p>
<p>Mengeluarkan harta untuk perayaan tersebut hukumnya haram karena sama dengan membantu maksiat. Haram pula menonton dan menghadiri undangannya. Sebab, kaidahnya, setiap hal yang haram hukumnya maka haram pula menonton dan menghadirinya.</p>
<h1>KETIGA: Terang-Terangan Dalam Maksiat.</h1>
<p>Padahal Rosululloh n\ bersabda:</p>
<p dir="RTL"><strong>كُلُّ أُمَّتِيْ مُعَافَى إِلاَّ الْمُجَاهِرُوْنَ </strong></p>
<p>“Setiap umatku diampuni, kecuali orang yang terang-terangan dalam bermaksiat.” <a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Ibnu Baththol v\ berkata, “Hadits ini menjelaskan tentang tercelanya orang yang terang-terangan dalam bermaksiat. Sebab terang-terangan dalam bermaksiat termasuk pelecehan terhadap hak Alloh e\ dan rosul-Nya serta orang-orang sholih dari kaum muslimin.” <a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftn4">[4]</a></p>
<h1>KEEMPAT: Bersifat Nifak</h1>
<p>Karena ia menampakkan sesuatu yang sesungguhnya di hatinya tidak ada. Artinya, dengan maulid Nabi tersebut ia menampakkan rasa cinta dan memuliakan Nabi Muhammad n\. Padahal hatinya penuh dengan maksiat.</p>
<h1>KELIMA: Sebab Kehancuran Agama</h1>
<p>Apabila para santri melakukan hal ini, kemudian seseorang yang alim (baca: kiai) diam tak mengingkari, maka ini menyebabkan orang-orang awam akan menyangka bolehnya bahkan kebaikan hal itu dalam syari’at. Akhirnya, perbuatan tersebut akan menyebabkan hilangnya syari’at dan tumbuhnya kebatilan. Padahal semua itu dilarang dalam syari’at. Sebab itu, haram bagi seorang alim untuk diam dari perbuatan tersebut (maulid) karena menyebabkan orang-orang awam berkeyakinan akan bolehnya sesuatu yang menyelisihi syari’at.</p>
<h1>KEENAM: Termasuk Jenis Penghinaan Kepada Rosululloh n\</h1>
<p>Sebab, penghinaan tidak hanya dengan perkataan, tetapi bisa juga dengan perbuatan. Alloh e\ berfirman:</p>
<p dir="RTL">إِنَّ ٱلَّذِينَ يُؤْذُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ لَعَنَهُمُ ٱللَّهُ فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًۭا مُّهِينًۭا ﴿٥٧﴾</p>
<p>Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Alloh dan Rosul-Nya, Alloh akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. (QS. al-Ahzab [33]: 57)</p>
<p>Imam al-Bukhori meriwayatkan dari Anas dan Abu Huroiroh d\ dari Rosululloh n\ bahwa sesungguhnya Alloh e\ berfirman:</p>
<p dir="RTL"><strong>مَنْ عَادَى لِيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ</strong></p>
<p>“Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku mengumumkan perang kepadanya.” (HR. al-Bukhori: 6502 dengan sanad dho’if, tetapi hadits ini shohih dengan berbagai jalannya, lihat <em>Fath al-Bari</em>: 13/143 dan <em>Silsilah Shohihah</em> no. 1640)</p>
<p>Sementara itu, tidak diragukan lagi bahwa Nabi n\ adalah tuan (penghulu)nya para wali sebagaimana dalam hadits di atas. Oleh sebab itu, dari ayat dan hadits di atas, jelaslah bahwa maulid Nabi n\ yang dibumbui maksiat<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftn5">[5]</a>  termasuk penghinaan kepada Nabi n\ dan orang-orang yang merayakannya sungguh dalam dosa besar, amat dekat kepada kekufuran dan dikhawatirkan mati dalam keadaan <em>su’ul khotimah</em>. Tidak ada yang dapat menyelamatkannya kecuali taubat dan kemurahan Alloh e\. Dan apabila dengan maulid tersebut mereka memaksudkan penghinaan kepada Nabi n\, maka tidak ragu lagi bahwa dia telah kufur. Alloh e\ berfirman:</p>
<p dir="RTL">فَلْيَحْذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿٦٣﴾</p>
<p>Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rosul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih. (QS. an-Nur [24]: 63)</p>
<p>Maka wajib bagi pemerintah kaum muslimin dan orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk menegakkan fondasi agama dan memberantas syubhat-syubhat para penyeleweng agar mengingkari dan menghukum mereka dengan hukuman yang keras agar mereka berhenti dari perilaku jelek dan keji ini — yang hampir saja mengeluarkan seseorang dari keimanannya.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Demikianlah perkataan Ustadz Hasyim Asy’ari. Lalu, adakah mereka yang memahami dan mengikutinya?!!</p>
<h1>KETUJUH: Keyakinan Bahwa Nabi n\ Atau Rohnya Datang</h1>
<p>Termasuk kemungkaran dalam acara perayaan maulid ini juga adalah keyakinan bahwa Nabi Muhammad atau ruhnya hadir dalam acara maulid, sehingga saat disebut namanya, para hadirin berdiri untuk menghormatinya, bahkan barangsiapa yang tidak berdiri dianggap sebagai orang yang meremehkan Nabi dan bisa menjadi kafir!!</p>
<p>Keyakinan ini adalah batil sekali, karena beberapa hal:</p>
<ol>
<li>Keyakinan ini membutuhkan dalil yang shohih dan jelas, karena Nabi n\ tidak keluar dari kuburnya sebelum hari kiamat. Beliau tidak menghadiri perkumpulan mereka, bahkan beliau berada di kuburnya dan rohnya di sisi Alloh dalam kemuliaan.</li>
<li>Seorang yang tidak berdiri belum tentu meremehkan Nabi n\ karena bisa jadi dia malas padahal dia mencintai Nabi n\. Atau, dia tidak berdiri karena ada larangan dari Nabi n\ dan mengikuti perbuatan salaf sholih yang tidak berdiri kepada Nabi n\ padahal mereka sangat mencintai Nabi n\. Mereka tahu bahwa Nabi n\ membenci hal itu karena perbuatan tersebut menyerupai nonmuslim.</li>
<li>Berdiri untuk menghormati Nabi n\ bukanlah bentuk pengagungan kepadanya karena Nabi n\ melarang perbuatan tersebut, sedangkan pengagungan kepadanya harus sesuai dengan syari’atnya.</li>
</ol>
<p dir="RTL"><strong>مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَتَمَثَّلَ لَهُ الرِّجَالُ قِيَامًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ</strong></p>
<p>“Barang siapa yang senang dihormati manusia dengan cara berdiri untuknya, maka hendaklah ia mengambil tempat di neraka.” <a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftn7">[7]</a></p>
<p dir="RTL"><strong>عَنْ أَنَسٍ قَالَ : لَمْ يَكُنْ شَخْصٌ أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : وَكَانُوا إِذَا رَأَوْهُ لَمْ يَقُومُوا لِمَا يَعْلَمُونَ مِنْ كَرَاهِيَتِهِ لِذَلِكَ</strong></p>
<p>Dari Anas a\ berkata, “Tidak ada seorang pun yang lebih dicintai oleh para sahabat dibandingkan Rosululloh n\, mereka apabila melihat beliau tidak berdiri untuk beliau karena mereka tahu bahwa Nabi n\ membenci hal itu.” <a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Syaikh Mahmud Muhammad Khoththob as-Subki v\ berkata, “Hendaknya diketahui bahwa berdiri ketika disebut kelahiran Nabi n\ adalah perkara yang bid’ah. Telah salah orang yang menganggapnya baik, karena dia lupa dengan nash yang jelas. Alasan bahwa hal itu sebagai pengagungan dan kegembiraan adalah alasan yang tertolak, karena suatu hukum tidaklah ditetapkan kecuali dengan syari’at yang datang dari Robbul’alamin.” <a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Para ulama telah menulis secara khusus masalah ini, seperti Muhammad al-Hajawi ats-Tsa’alibi dalam kitabnya <em>Shofa’ al-Maurid Fi Adami Qiyam ’Inda Sama’ al-Maulid</em>, Muhammad Abid bin Saudah menulis <em>Musamarot al-A’lam wa Tanbih al-Awm Bi Karohati al-Qiyam li Dzikri Maulid Khoiri al-Anam</em>, dan sebagainya.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftn10">[10]</a></p>
<h1>KEDELAPAN: Sponsor Hadits-Hadits Lemah dan Palsu</h1>
<p>Di antara kemungkaran perayaan maulid seringnya terlontar dari mereka hadits-hadits dusta, padahal hal itu termasuk dosa besar dengan kesepakatan ulama.</p>
<p>Berikut tiga contoh hadits yang sering muncul dalam acara-acara maulid berserta keterangannya agar kita mewaspadainya:</p>
<h2>1.         Perayaan maulid Nabi</h2>
<p dir="RTL"><strong>مَنْ أَقَامَ مَوْلِدِيْ كُنْتُ شَفِيْعًا لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ, وَمَنْ أَنْفَقَ دِرْهَمًا فِيْ مَوْلِدِيْ فَكَأَنَّمَا أَنْفَقَ جَبَلاً مِنَ الذَّهَبِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ </strong></p>
<p>“Barang siapa yang merayakan maulid (hari kelahiran)ku, maka aku akan menjadi pemberi syafa’atnya di hari kiamat. Dan barang siapa yang menginfakkan satu dirham untuk maulidku maka seakan-akan dia telah menginfakkan satu gunung emas di jalan Alloh.”</p>
<p>Perkataan serupa juga dinisbatkan kepada Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali bin Abi Tholib, sebagaimana dalam kitab <em>Madarij al-Shu’udh</em> hlm. 15 kar. Syaikh Nawawi Banten.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftn11">[11]</a><strong></strong></p>
<p><strong>TIDAK ADA ASALNYA.</strong> Sejak awal mendengar ucapan yang dianggap hadits ini, hati penulis langsung mengingkarinya karena bagaimana mungkin hadits ini shohih, sedangkan maulid tidak pernah dicontohkan oleh Rosululloh n\ dan para sahabatnya?!! Akan tetapi, penulis ingin memperkuat pendapatnya dengan perkataan ulama. Sebab itu, penulis pun membolak-balik kitab-kitab hadits, tetapi tidak menjumpainya satu huruf pun, baik dalam kitab-kitab hadits yang shohih, dho’if, maupun maudhu’ (palsu). Alhamdulillah, pada suatu kesempatan penulis menanyakannya kepada Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftn12">[12]</a> lalu beliau menjawab:</p>
<p dir="RTL"><strong>هَذَا كَذِبٌ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ اخْتَلَقَهُ الْمُبْتَدِعَةُ</strong></p>
<p>“Ini merupakan kedustaan kepada Rosululloh n\ yang hanya dibuat-buat oleh para ahlulbid’ah.”</p>
<p>Kepada para saudara kami yang berhujjah dengan hadits ini, kami katakan, “Dengan tidak mengurangi penghormatan kami, datangkan kepada kami sanad hadits ini agar kami mengetahuinya!!”</p>
<h2>2.         Hikmah penciptaan makhluk</h2>
<p dir="RTL"><strong>لَوْلاَكَ لَمَا خَلَقْتُ الأَفْلاَكَ</strong></p>
<p>Seandainya bukan karenamu (Nabi Muhammad), Aku (Alloh) tidak akan menciptakan makhluk.</p>
<p><strong>MAUDHU’.</strong> Sebagaimana dikatakan ash-Shoghoni.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftn13">[13]</a> Diriwayatkan ad-Dailami dalam <em>Musnad</em>-nya 2/41 dari jalur Ubaidulloh bin Musa al-Qurosyi: Menceritakan kepada kami Fudhoil bin Ja’far bin Sulaiman dari <strong>Abdushshomad</strong> bin Ali bin Abdulloh bin Abbas dari ayahnya, Ibnu Abbas secara marfu’.</p>
<p>Kecacatan hadits terletak pada <strong>Abdushshomad</strong>. Al-Uqoili v\ berkata tentangnya, “Haditsnya tidak terjamin. Dan orang-orang sebelum Abdushshomad tidak saya kenal.”</p>
<p>Ibnul Jauzi v\ juga meriwayatkannya dalam <em>al-Maudhu’at</em> (1/288–289) dari sahabat Salman a\, lalu berkomentar, “Haditsnya maudhu.’ ” Dan disetujui as-Suyuthi dalam <em>al-Ala&#8217;i</em>: 1/282.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftn14">[14]</a></p>
<p>Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Ucapan ini bukanlah hadits Nabi n\ baik dari jalur yang shohih maupun lemah, tidak dinukil oleh seorang pun dari ahli hadits, baik dari Nabi n\ atau dari sahabat, bahkan ucapan ini tidak diketahui siapa yang mengucapkannya.” <a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftn15">[15]</a></p>
<p>Makna hadits ini pun tidak benar, karena bertentangan dengan firman Alloh:</p>
<p dir="RTL">وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ﴿٥٦﴾</p>
<p>Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku. (QS. adz-Dzariyat [51]: 56)</p>
<p>Ayat ini menegaskan bahwa Alloh menciptakan anak Adam untuk beribadah, bukan karena Nabi Muhammad n\.</p>
<h1>3.       Nur Muhammad</h1>
<p dir="RTL"><strong>أَوَّلُ مَا خَلَقَ اللهُ نُوْرُ نَبِيِّكَ يَا جَابِرُ !</strong></p>
<p>“Makhluk yang pertama kali diciptakan adalah cahaya Nabimu, wahai Jabir!”</p>
<p><strong>TIDAK ADA ASALNYA.</strong> Hadits yang populer ini adalah batil, demikian juga semua hadits yang menegaskan bahwa Nabi Muhammad n\ diciptakan dari cahaya, karena hal itu bertentangan dengan firman Alloh:</p>
<p dir="RTL">قُلْ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٌۭ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰٓ إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلَـٰهُكُمْ إِلَـٰهٌۭ وَ‌ٰحِدٌۭ ۖ</p>
<p>Katakanlah, “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku, ‘Bahwa sesungguhnya ilah (sembahan) kamu itu adalah Ilah Yang Esa.’ ” (QS. al-Kahfi [18]: 110)</p>
<p dir="RTL"><strong>قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  : خُلِقَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُوْرٍ, وَخُلِقَ إِبْلِيْسُ مِنْ نَارِ السَّمُوْمِ, وَخُلِقَ آدَمُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ مِمَّا قُدْ وُصِفَ لَكُمْ</strong></p>
<p>Rosululloh n\ bersabda, “Malaikat diciptakan dari cahaya, Iblis dicptakan dari api yang menyala-nyala, dan Adam diciptakan dari apa yang telah disifatkan pada kalian.” <a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftn16">[16]</a></p>
<p>Hadits ini secara jelas menunjukkan bahwa malaikat saja yang diciptakan dari cahaya, bukan Adam dan anak keturunannya.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftn17">[17]</a></p>
<p>Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah v\ menegaskan bahwa hadits ini adalah dusta dengan kesepakatan ahli hadits.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftn18">[18]</a> Demikian juga ditegaskan oleh Syaikh Sulaiman bin Sahman.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftn19">[19]</a> As-Suyuthi v\ juga menegaskan bahwa hadits ini tidak ada sanadnya.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftn20">[20]</a> Demikian juga Jamaluddin al-Qosimi<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftn21">[21]</a> dan Muhammad Rosyid Ridho,<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftn22">[22]</a> keduanya menegaskan bahwa hadits ini tidak ada asalnya.</p>
<p>Samahatusy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz v\ berkata, <strong>“Adapun ucapan sebagian manusia, ahli khurafat dan orang-orang Sufi bahwa Nabi n\  diciptakan dari cahaya dan makhluk pertama adalah cahaya Muhammad, semua ini adalah tidak ada asalnya, ucapan batil dan kedustaan belaka.”</strong> <a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftn23">[23]</a></p>
<p>Akhirnya, Demikianlah sebagian kemungkaran-kemungkaran yang biasa terjadi dalam acara perayaan maulid, suatu hal yang menguatkan kebatilan perayaan ini. Alangkah bagusnya ucapan Syaikh Muhammad Abdussalam as-Syaqiry tatkala berkata:</p>
<p>“&#8230;. Di bulan ini (Rob’iul Awal), Rosululloh n\ dilahirkan dan juga diwafatkan. Lantas mengapa mereka bergembira dengan kelahirannya tetapi tidak sedih dengan wafatnya? Oleh karenanya, menjadikan kelahiran beliau sebagai perayaan merupakan perkara bid’ah munkarah dan sesat serta tidak sesuai dengan syariat dan akal. Seandainya hal itu merupakan amalan yang baik, bagaimana mungkin dilalaikan oleh Abu Bakar, Umar bin Khoththob, Utsman, para sahabat, para tabi’in, para tabi’ut tabi’in, serta ulama kaum muslimin? Tidak syak lagi bahwa perayaan tersebut hanyalah dibuat-buat oleh para sufi yang suka makan, dan oleh para pengangguran dari kalangan ahlulbid’ah yang kemudian diikuti oleh mayoritas manusia. Pahala apa yang akan diperoleh dari harta yang dihambur-hamburkan? Keridhoan apa yang akan didapat dalam perkumpulan para penyanyi, artis, pelacur, perampok, dan lain-lain? Dan adakah kebaikan dalam perkumpulan para kiai beserban merah, hijau, kuning, dan hitam?</p>
<p>Apa manfaat yang bisa dipetik? Tidak lain hanyalah penghinaan orang-orang kafir Eropa kepada kita dan agama kita, sehingga mereka menyangka bahwa Nabi Muhammad n\ beserta para sahabatnya seperti itu — <em>innaa lillahi wa innaa ilaihi roji’un</em>. Mengapa mereka tidak berpikir bahwa manusia kini dilanda kemiskinan, kelaparan, penyakit, dan kebodohan? Bukankah sebaiknya harta-harta tersebut digunakan untuk pembangunan pabrik bagi para penganggur? Atau untuk membuat senjata-senjata guna menghadapi musuh-musuh Islam? Mengapa para tokoh agama hanya diam, bahkan turut mendukungnya? Dan mengapa negara juga diam terhadap penghamburan harta yang menyebabkan negara dalam kehinaan yang parah? &#8230;.” <a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftn24">[24]</a></p>
<div>
<p align="center">Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi</p>
<p>&nbsp;</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftnref1">[1]</a><em>     Huquq Nabi</em> hlm. 139–140</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftnref2">[2]</a>     Demikianlah kecaman yang begitu keras dan tegas dari Ustadz Hasyim Asy’ari! Maka bagaimanakah kiranya jika dia melihat para pengikutnya sekarang yang tidak mengindahkan nasihatnya, bahkan dengan terang-terangan tanpa malu mereka menambahi dengan aneka kemaksiatan dan kemungkaran? <em>Innaa lillahi wa innaa ilaihi roji’un</em>. Semoga Alloh e\ merahmati al-Imam al-Barbahari ketika berkata, “Waspadailah olehmu perkara baru (bid’ah). Sebab, bid’ah yang awalnya kecil, lambat laun akan terbiasa dan menjadi besar. Demikian pula setiap bid’ah pada umat ini, awalnya hanya kecil mirip dengan kebenaran, hingga pelakunya tertipu dan tidak mampu lagi keluar darinya&#8230;.” (Syarh al-Sunnah hlm. 68–69)</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftnref3">[3]</a>     HR. al-Bukhori: 6069 dan Muslim: 2990</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftnref4">[4]</a>     Lihat <em>Fath al-Bari</em> kar. Ibnu Hajar: 12/110.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftnref5">[5]</a>     Karena menurut Ustadz Hasyim Asy’ari, maulid hukumnya boleh dilakukan jika tidak dibumbui oleh maksiat, dan ini adalah pendapat yang salah sekalipun lebih ringan daripada bid’ah yang bercampur dengan maksiat. Wallohu A’lam.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftnref6">[6]</a>     Lihat <em>al-Tanbihat al-Wajibat li Man Yashna’ Maulid Bi al-Munkarot</em> hlm. 38–46.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftnref7">[7]</a>     HR. al-Bukhori dalam <em>Adab al-Mufrod</em>: 977, Abu Dawud: 5229, at-Tirmidzi: 2755. Lihat <em>Silsilah Ahadits al-Shohihah</em>: 375.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftnref8">[8]</a>     HR. Ahmad: 3/132, at-Tirmidzi: 2754 dll. dan dishohihkan at-Tirmidzi, an-Nawawi, al-Iraqi, Ibnul Qoyyim, dan al-Albani dalam <em>al-Shohihah</em>: 385.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftnref9">[9]</a><em>     Al-Maqomat al-Aliyyah Fi Nasy&#8217;ati al-Fakhimah al-Nabawiyyah</em> hlm. 43</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftnref10">[10]</a>    Lihat <em>Ihkam al-Kalam Fi Mas&#8217;alati al-Qiyam</em> hlm. 213-218, Abu Tholhah Umar bin Ibrohim bin Hasan.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftnref11">[11]</a>    Lihat <em>Hadits-Hadits Bermasalah</em> kar. Prof. Ali Musthofa Ya’qub hlm. 102</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftnref12">[12]</a>    Beliau adalah salah seorang murid imam ahli hadits besar, al-Albani, yang berkunjung ke Indonesia dalam rangka dakwah. Pertanyaan ini saya tanyakan kepada beliau pada hari Rabu 6 Muharrom 1423 H, sebelum sholat Zhuhur di Masjid al-Irsyad, Surabaya.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftnref13">[13]</a><em>    Al-Ahadits al-Maudhu’ah</em> hlm. 7</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftnref14">[14]</a><em>    Silsilah Ahadits al-Dho’ifah</em>: 282</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftnref15">[15]</a><em>    Majmu’ al-Fatawa</em>: 11/96</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftnref16">[16]</a>    HR. Muslim: 8/226</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftnref17">[17]</a><em>    Silsilah Ahadits al-Shohihah</em>: 458</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftnref18">[18]</a><em>    Majmu’ al-Fatawa</em>: 18/367</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftnref19">[19]</a><em>    Al-Showai’q al-Mursalah al-Syihabiyyah</em> hlm. 15</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftnref20">[20]</a><em>    Al-Hawi li al-Fatawi</em>: 2/43</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftnref21">[21]</a><em>    Syarh al-Arba’in al-Ajluniyyah</em>: 343</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftnref22">[22]</a><em>    Fatawa Rosyid Ridho</em>: 2/447</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftnref23">[23]</a><em>    Fatawa Nur ’Ala Darb</em>: 1/112–113</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/111%20Sunnah%20Bid'ah.doc#_ftnref24">[24]</a><em>    Al-Sunan wa al-Mubtada’at</em> hlm. 123</p>
</div>
</div>
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://abiubaidah.com/kajian-maulid.html/' rel='bookmark' title='Kajian Umum: Hakikat Perayaan Maulid Nabi'>Kajian Umum: Hakikat Perayaan Maulid Nabi</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/pelajaran-penting-dalam-khutbah-hajah-nabi.html/' rel='bookmark' title='Pelajaran Penting dalam Khutbah Hajah Nabi'>Pelajaran Penting dalam Khutbah Hajah Nabi</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/cara-mengingkari-kemungkaran.html/' rel='bookmark' title='Agar “Mengingkari Kemungkaran” Tidak Menjadi Kemungkaran'>Agar “Mengingkari Kemungkaran” Tidak Menjadi Kemungkaran</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/kemungkaran-kemungkaran-dalam-perayaan-maulid-nabi.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PROFESI PENGACARA  MENGAPA TIDAK?</title>
		<link>http://abiubaidah.com/profesi-pengacara-mengapa-tidak.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/profesi-pengacara-mengapa-tidak.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Apr 2012 09:03:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ridwanyufid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikih Kontemporer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=1102</guid>
		<description><![CDATA[Muqoddimah Sesungguhnya syari’at Islam adalah syari’at yang sempurna dan paripurna yang membahas segala hal yang dibutuhkan oleh hamba. Di antara sekian bukti akan hal itu adalah konsep Islam yang sangat jelas tentang pengadilan. Dan di antara sekian bahasan dalam pengadilan adalah “pengacara”. Nah, apakah masalah pengacara dibahas dalam Islam? Adakah penjelasannya dalam kitab-kitab para ulama?! [...]
Related posts:<ol>
<li><a href='http://abiubaidah.com/kontemporer-zakat-profes.html/' rel='bookmark' title='Menyibak Kontroversi Zakat Profesi'>Menyibak Kontroversi Zakat Profesi</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/kita-tidak-mungkin-bersatu-dengan-allah.html/' rel='bookmark' title='Kita Tidak Mungkin Bersatu dengan Allah !!!'>Kita Tidak Mungkin Bersatu dengan Allah !!!</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/cara-mengingkari-kemungkaran.html/' rel='bookmark' title='Agar “Mengingkari Kemungkaran” Tidak Menjadi Kemungkaran'>Agar “Mengingkari Kemungkaran” Tidak Menjadi Kemungkaran</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: left;">
<h1>Muqoddimah</h1>
</div>
<p>Sesungguhnya syari’at Islam adalah syari’at yang sempurna dan paripurna yang membahas segala hal yang dibutuhkan oleh hamba. Di antara sekian bukti akan hal itu adalah konsep Islam yang sangat jelas tentang pengadilan. Dan di antara sekian bahasan dalam pengadilan adalah “pengacara”. Nah, apakah masalah pengacara dibahas dalam Islam? Adakah penjelasannya dalam kitab-kitab para ulama?! Bagaimana kriteria pengacara dalam Islam?! Inilah yang akan menjadi topik bahasan kita kali ini. Semoga Alloh memberikan pemahaman kepada kita semua.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftn1">[1]</a></p>
<h1>Definisi Pengacara</h1>
<p>Pengacara (advokat) adalah ahli hukum yang berwenang sebagai penasihat atau pembela perkara dalam pengadilan.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftn2">[2]</a></p>
<h1>Dalil Disyari’atkannya Pengacara</h1>
<p>Adanya pengacara dalam persidangan adalah perkara yang dibolehkan, berdasarkan dalil-dalil yang banyak dari al-Qur&#8217;an, hadits, ijma’, dan akal.</p>
<h2>1.  Dalil Al-Qur’an</h2>
<p dir="RTL">إِنَّآ أَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلْكِتَـٰبَ بِٱلْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ ٱلنَّاسِ بِمَآ أَرَىٰكَ ٱللَّهُ ۚ وَلَا تَكُن لِّلْخَآئِنِينَ خَصِيمًۭا ﴿١٠٥﴾</p>
<p>Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Alloh wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat. (QS. an-Nisa&#8217; [4]: 105)</p>
<p>Dalam ayat ini terdapat larangan menjadi pengacara secara batil, berarti kalau dalam kebenaran maka dibolehkan. Syaikh as-Sa’di (1376 H) berkata, “Pemahaman ayat ini menunjukkan bolehnya sebagai pengacara bagi seorang yang tidak dikenal dengan kezaliman.” <a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftn3">[3]<span id="more-1102"></span></a></p>
<h2>2.  Dalil Hadits</h2>
<p>Dari Fathimah binti Qois a\ bahwasanya Abu ’Amr menceraikannya tiga cerai dari kejauhan dirinya, dia mengutus wakilnya untuk membawakan gandum kepada Fathimah, tetapi Fathimah malah marah kepadanya. Lalu wakil tersebut mengatakan, “Demi Alloh, kamu itu tidak memiliki hak lagi.” Setelah itu Fathimah melapor kepada Rosululloh n\, lalu bersabda, “Tidak ada kewajiban baginya untuk menafkahimu lagi.” (HR. Muslim: 1480)</p>
<p>Hadits ini menunjukkan bolehnya perwakilan dalam persengketaan (pengacara), karena Fathimah melaporkan perkara wakil suaminya tersebut kepada Nabi n\, namun Nabi tidak mengingkarinya, berarti beliau menyetujui adanya wakil dalam persengketaan.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftn4">[4]</a></p>
<h2>3.  Dalil Ijma’</h2>
<p>Secara global, tidak ada perselisihan di kalangan ulama tentang bolehnya mewakilkan dalam persengketaan baik dalam harta, pernikahan, dan sejenisnya.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftn5">[5]</a> Bahkan, secara khusus sebagian ulama telah menukil adanya ijma’ dalam masalah ini. As-Sarokhsi (490 H) berkata, “Perwakilan dalam pengadilan sudah ada semenjak masa Nabi n\ hingga hari ini tanpa adanya pengingkaran dari siapa pun.” <a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftn6">[6]</a> As-Sumnani (499 H) menjelaskan tentang pengacara, “Nabi n\ juga pernah mewakilkan, demikian juga para imam yang adil dari kalangan sahabat dan tabi’in. Hal ini juga diamalkan oleh manusia di semua negara.” <a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftn7">[7]</a></p>
<h2>4.  Dalil Akal</h2>
<p>Seorang kadang-kadang membutuhkan wakil dalam persidangan, entah karena dia tidak suka perdebatan atau tidak memiliki keahlian dalam berdebat—baik membela atau membantah—maka sangat sesuai jika syari’at membolehkannya.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftn8">[8]</a></p>
<h1>Bolehkah Berprofesi Sebagai Pengacara?</h1>
<p>Berprofesi sebagai pengacara hukumnya boleh apabila untuk membela kebenaran dan menolong orang yang terzalimi, baik dengan mengambil gaji atau tidak. Dalilnya adalah firman Alloh:</p>
<p dir="RTL">إِنَّمَا ٱلصَّدَقَـٰتُ لِلْفُقَرَآءِ وَٱلْمَسَـٰكِينِ وَٱلْعَـٰمِلِينَ عَلَيْهَا وَٱلْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِى ٱلرِّقَابِ وَٱلْغَـٰرِمِينَ وَفِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةًۭ مِّنَ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌۭ ﴿٦٠﴾</p>
<p>Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Alloh dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Alloh, dan Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. at-Taubah [9]: 60)</p>
<p>Dalam ayat ini terdapat dalil bolehnya pemerintah mewakilkan seorang untuk mengambil zakat dan membagikannya kepada yang berhak dengan adanya imbalan bagi amil zakat tersebut.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftn9">[9]</a> Kalau amil zakat berhak mendapatkan imbalan atas pekerjaannya, maka demikian juga pengacara berhak mendapatkan imbalan atas pekerjaannya.</p>
<p>Lajnah Da&#8217;imah (komite fatwa) Arab Saudi pernah ditanya tentang hukum profesi sebagai pengacara, maka mereka menjawab, “Apabila dia berprofesi sebagai pengacara bertujuan untuk membela kebenaran, menumpas kebatilan dalam pandangan syari’at, mengembalikan hak kepada pemiliknya, dan menolong orang yang terzalimi, maka hal itu disyari’atkan, karena termasuk tolong-menolong dalam kebaikan. Adapun apabila tujuannya bukan demikian maka tidak boleh karena termasuk tolong-menolong dalam dosa. Alloh berfirman:</p>
<p dir="RTL">وَكَيْفَ يُحَكِّمُونَكَ وَعِندَهُمُ ٱلتَّوْرَىٰةُ فِيهَا حُكْمُ ٱللَّهِ ثُمَّ يَتَوَلَّوْنَ مِنۢ بَعْدِ ذَ‌ٰلِكَ ۚ وَمَآ أُو۟لَـٰٓئِكَ بِٱلْمُؤْمِنِينَ ﴿٤٣﴾</p>
<p>Dan bagaimanakah mereka mengangkatmu menjadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai Taurat yang di dalamnya (ada) hukum Alloh, kemudian mereka berpaling sesudah itu (dari putusanmu)? Dan mereka sungguh-sungguh bukan orang yang beriman. (QS. al-Ma&#8217;idah [5]: 43)<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Bahkan, sebenarnya kalau kita membuka sejarah Islam, profesi pengacara sudah ada sejak dahulu sekalipun tidak mesti dalam setiap persidangan. Bukti akan hal itu banyak sekali, di antaranya apa yang dikatakan oleh as-Sumnani (499 H), “Bab tentang pengacara dan kewajiban mereka.” <a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftn11">[11]</a> Bab ini menunjukkan bahwa profesi pengacara sudah ada sejak dahulu. Bahkan, dalam kitab biografi, ada sebagian orang yang dikenal sebagai pengacara, seperti Abu Marwa Utsman bin Ali bin Ibrohim (346 H), beliau dikenal sebagai pengacara yang profesional.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftn12">[12]</a></p>
<h1>Syarat-Syarat Berprofesi Sebagai Pengacara</h1>
<p>Pada zaman sekarang, banyak keluhan tentang adanya para pengacara yang tidak memenuhi standar agama dan tidak memiliki kriteria yang diharapkan. Karena itu, penting sekali kita mengetahui syarat-syarat sebagai pengacara dalam Islam dan kewajiban mereka:</p>
<h2>1.  Mengetahui hukum-hukum syar’i</h2>
<p>Seorang pengacara sejati harus memiliki ilmu tentang hukum-hukum syar’i seputar mu’amalah baik yang berkaitan tentang pernikahan, kriminal, pengadilan, dan sebagainya. Sebab, bila tidak demikian maka dia akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki.</p>
<p>Ibnu Abdi Dam (642 H) menjelaskan faktor tentang tujuan dia menulis kitab tentang adab-adab seorang hakim, “Tujuan inti dari memaparkan masalah ini agar mudah diketahui oleh para pengacara yang merupakan wakil dari hakim dalam menyelesaikan persengketaan hukum.” <a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftn13">[13]</a></p>
<h2> 2. Adil dan terpercaya</h2>
<p>Seorang pengacara harus memiliki sifat amanat, menjaga rahasia, dan adil, karena dia mengemban kepentingan kaum muslimin yang telah memberikan kepercayaan mereka kepada para pengacara.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftn14">[14]</a></p>
<h2>3.  Pria</h2>
<p>Seorang pengacara harus pria sebab dia akan sering berurusan dengan banyak lelaki baik hakim, saksi, terdakwa, dan sebagainya, dan sering tinggal di kantor pengacara dan kantor persidangan, padahal semua itu bertentangan dengan tugas seorang wanita yang sejatinya tetap tinggal di rumah, menunaikan tugas rumah, merawat anak-anak, dan tugas-tugas mulia lainnya. Cukuplah profesi ini ditangani oleh kaum pria saja<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftn15">[15]</a>. Sebab itu, dalam undang-undang sebagian negara kafir pun ada larangan pengacara dari kaum wanita.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftn16">[16]</a></p>
<h1>Pengacara yang Tidak Lulus Sensor</h1>
<p>Ada beberapa hal yang dapat menghalangi seorang pengacara untuk lulus menjadi pengacara ideal, di antaranya:</p>
<h2>1.  Bertujuan untuk menyakiti musuh</h2>
<p>Hal itu dilarang karena tidak boleh bagi kita untuk menyakiti sesama muslim. Alloh berfirman:</p>
<p dir="RTL">وَٱلَّذِينَ يُؤْذُونَ ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَـٰتِ بِغَيْرِ مَا ٱكْتَسَبُوا۟ فَقَدِ ٱحْتَمَلُوا۟ بُهْتَـٰنًۭا وَإِثْمًۭا مُّبِينًۭا ﴿٥٨﴾</p>
<p>Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (QS. al-Ahzab [33]: 58)</p>
<p>Oleh karena itu, apabila pengacara memiliki permusuhan pribadi dengan lawannya maka tidak boleh ia menjadi pengacara (pada kasus tersebut) karena dia akan berusaha untuk menyakitinya dan meluapkan dendamnya kepada orang tersebut kecuali bila dia (musuhnya) ridho.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftn17">[17]</a></p>
<h2>2.  Suka Berbelit-belit</h2>
<p>Apabila ada seorang pengacara yang dikenal berbelit-belit sehingga mengutarakan hal-hal yang tidak ada kenyataannya dengan tujuan untuk memperpanjang masalah dan menyakiti lawan, maka dia tidak boleh diangkat sebagai pengacara.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftn18">[18]</a></p>
<h2>3.  Bila Hakim Pilih Kasih Kepadanya</h2>
<p>Apabila ada indikasi kuat bahwa hakim akan pilih kasih kepadanya baik karena hubungan kerabat atau hubungan kawan dekat dan sebagainya maka tidak boleh sebagai pengacara dalam kasus tersebut. Oleh karenanya, Syaikh Muhammad bin Ibrohim alu Syaikh berpendapat bahwa hendaknya hakim tidak menjadi hakim dalam kasus yang pengacaranya adalah anaknya sendiri.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftn19">[19]</a></p>
<h2>4.  Sebagai Penggugat dan Pembela dalam Satu Kasus</h2>
<p>Masalah ini diperselisihkan oleh ulama, namun pendapat terkuat adalah tidak boleh karena hal itu kontra, bagaimana dia menjadi penggugat dan dalam waktu yang sama dia menjadi pembela?! Ini adalah madzhab Hanafiyyah dan pendapat yang kuat dalam madzhab Syafi’iyyah.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftn20">[20]</a></p>
<h1>Kewajiban Pengacara</h1>
<p>Ada beberapa kewajiban yang harus diperhatikan oleh para pengacara:</p>
<h2>1.  Melaksanakan Tugas</h2>
<p>Kewajiban pengacara adalah melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya dan tidak melampuinya, karena dia adalah wakil dari seorang yang telah mewakilkannya.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftn21">[21]</a></p>
<h2>2.  Menghormati Majlis Pengadilan</h2>
<p>Pengacara harus beradab dan menghormati sidang pengadilan baik kepada hakim, terdakwa, dan saksi. Dia berkata sopan kepada mereka dan tidak mengeluarkan kata-kata yang kotor<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftn22">[22]</a>. Dan tidak mengapa untuk menyebutkan tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepadanya sekalipun dengan menyifati penuduh dengan kezaliman karena hal itu bukanlah termasuk ghibah yang terlarang.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftn23">[23]</a></p>
<h2>3.  Memenuhi Panggilan Mahkamah Pengadilan</h2>
<p>Pengacara harus segera untuk memenuhi panggilan mahkamah pengadilan ketika diminta datang dalam waktu yang ditentukan seraya menghadirkan data-data dan dokumen yang diperlukan. Semua itu dengan keterangan yang jelas dan data yang komplet. Janganlah dia berbelit-belit dan mempersulit jalannya sidang karena hal itu hanya akan memperuncing masalah.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftn24">[24]</a></p>
<h2>4.  Menjunjung Tinggi Kejujuran</h2>
<p>Pengacara harus menjunjung tinggi kejujuran. Tugasnya adalah membela kebenaran dan tidak boleh baginya untuk membela kebatilan dan kesalahan. Seandainya seseorang memberikan keterangan-keterangan yang bohong maka tidak boleh sang pengacara menyembunyikannya, tetapi harus menjelaskan fakta sesungguhnya dengan jujur dan adil.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftn25">[25]</a></p>
<h2>5.  Mencurahkan Tenaganya</h2>
<p>Pengacara harus berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakan tugasnya baik membantah tuduhan, menyampaikan bukti, atau membela hak. Tidak boleh dia menipu atau memberikan keterangan sebelum waktunya yang sesuai atau mengakhirkannya dari waktu yang sesuai.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftn26">[26]</a></p>
<h2>6.  Menjaga Rahasia</h2>
<p>Apabila ada hal-hal yang seharusnya dirahasiakan maka tidak boleh pengacara membongkarnya, apalagi hal-hal yang berkaitan dengan pribadi rumah tangga atau menyebabkan kerusakan di masyarakat.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftn27">[27]</a></p>
<h2>7.  Memiliki kantor atau rumah yang mudah diketahui</h2>
<p>Tujuannya, jika sewaktu-waktu dibutuhkan oleh hakim atau terdakwa maka dengan mudah dapat dihubungi<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftn28">[28]</a>. Dan hal itu pada zaman sekarang sangat mudah dengan adanya alat telekomunikasi yang modern.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Demikianlah penjelasan secara singkat tentang pengacara dalam Islam. Semoga bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi para pengacara dan calon pengacara yang ingin sukses dunia dan akhirat.</p>
<p align="center">Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi</p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftnref1">[1]</a>    Penulis banyak mengambil faedah untuk pembahasan ini dari tulisan Syaikh Abdulloh bin Muhammad alu Khunain berjudul “al-Wakalah ’ala Khushumah wa Ahkamuha al-Mihaniyyah fil Fiqih Islami wa Nizhomil Muhamat Su’udi”, dimuat dalam Majalah al-’Adl edisi 15, Rojab 1423 H.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftnref2">[2]</a><em>    Kamus Besar Bahasa Indonesia</em>, Edisi III (2005)</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftnref3">[3]</a><em>    Taisir Karimir Rohman</em>: 2/351</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftnref4">[4]</a><em>    Syarh Adab al-Qodhi</em>: 3/402</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftnref5">[5]</a><em>    Al-Mughni</em> karya Ibnu Qudamah: 5/204, <em>Durorul Hukkam</em> karya Ali Haidar: 3/368</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftnref6">[6]</a><em>    Al-Mabsuth</em>: 19/4</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftnref7">[7]</a><em>    Roudhoh al-Qudhot</em> karya as-Sumnani: 1/181</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftnref8">[8]</a><em>    Ahkamul Qur&#8217;an</em> karya Ibnul ’Arobi: 3/220, <em>al-Kafi</em> karya Ibnu Qudamah: 2/239</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftnref9">[9]</a><em>    Adhwa&#8217;ul Bayan</em> karya asy-Syinqithi: 4/49</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftnref10">[10]</a><em>  Fatawa Lajnah Da&#8217;imah</em>: 1/792. Ketua: Syaikh Abdul Aziz bin Baz, anggota: Abdurrozzaq ’Afifi, Abdulloh al-Ghudayyan, dan Abdulloh bin Qu’ud. Lihat pula fatwa-fatwa ulama lainnya tentang hukum profesi pengacara dalam kitab <em>al-MuhamahTarikhuha fi Nudhum wa Mauqif Syari’ah Minha</em> karya Syaikh Masyhur Hasan Salman hlm. 139–148.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftnref11">[11]</a><em>  Roudhoh al-Qudhot</em>: 1/122</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftnref12">[12]</a><em>  Tarikh Baghdad</em>: 11/303–304</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftnref13">[13]</a><em>  Adabul Qodho&#8217;</em> hlm. 692</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftnref14">[14]</a><em>  Roudhoh al-Qudhot</em>: 1/122, <em>Tanbihul Hukkam ’Ala Ma’akhidzil Ahkam</em> karya Ibnul Munashif hlm. 141, <em>Tabshiroh al-Hukkam Fi Ushul Aqdhiyah wa Manahij Ihkam</em> karya Ibnu Farhun: 1/282.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftnref15">[15]</a><em>  Al-Muhamah Fi Dhou&#8217;i Syari’ah Islamiyyah wal Qowanin al-Arobiyyah</em> karya Muslim Muhammad Jaudat hlm. 130</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftnref16">[16]</a><em>  Al-Muhamah Fi Nidhom Qodho&#8217;i</em> karya Muhammad Ibrahim Zaid hlm. 44</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftnref17">[17]</a><em>  Mawahibul Jalil</em> karya al-Kaththob: 5/200</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftnref18">[18]</a><em>  Adab al-Qodhi</em> karya al-Khoshof: 2/78</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftnref19">[19]</a><em>  Fatawa wa Rosa&#8217;il</em>: 8/43</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftnref20">[20]</a><em>  Al-Mabsuth</em>: 19/15, <em>Adab al-Qodhi</em> karya Ibnul Qosh: 1/217, <em>Hilyah Ulama</em> karya asy-Syasyi 5/129.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftnref21">[21]</a><em>  Mu’inul Hukkam ’Ala al-Qodhoya wal Ahkam</em> karya Abu Ishaq Ibrohim bin Hasan: 2/684</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftnref22">[22]</a><em>  Mu’inul Hukkam Fima Yataroddadu Bainal Khoshmaini min al-Ahkam</em> karya ’Ala&#8217;uddin ath-Thorobilsi: hlm. 21</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftnref23">[23]</a><em>  Majmu’ Fatawa</em>: 28/219.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftnref24">[24]</a><em>  Tabshiroh Hukkam</em> karya Ibnu Farhun: 1/180, <em>Adab al-Qodhi</em> karya al-Mawardi 1/251</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftnref25">[25]</a><em>  Roudhoh al-Qudhot</em> 1/124</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftnref26">[26]</a><em>  Al-Muhamah Risalah wa Amanah</em> karya Ahmad Hasan Karzun hlm. 61, 82</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftnref27">[27]</a><em>  Ibid</em>. hlm. 62.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/110%20Fiqih%20Nawazil%20(BARU).doc#_ftnref28">[28]</a><em>  Qurrotu ’Uyunil Akhbar</em> karya Ibnu Abidin 1/322</p>
</div>
</div>
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://abiubaidah.com/kontemporer-zakat-profes.html/' rel='bookmark' title='Menyibak Kontroversi Zakat Profesi'>Menyibak Kontroversi Zakat Profesi</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/kita-tidak-mungkin-bersatu-dengan-allah.html/' rel='bookmark' title='Kita Tidak Mungkin Bersatu dengan Allah !!!'>Kita Tidak Mungkin Bersatu dengan Allah !!!</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/cara-mengingkari-kemungkaran.html/' rel='bookmark' title='Agar “Mengingkari Kemungkaran” Tidak Menjadi Kemungkaran'>Agar “Mengingkari Kemungkaran” Tidak Menjadi Kemungkaran</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/profesi-pengacara-mengapa-tidak.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembatal-Pembatal[1] Puasa di Zaman Modern (Bagian kedua dari dua tulisan)</title>
		<link>http://abiubaidah.com/pembatal-pembatal1-puasa-di-zaman-modern-bagian-kedua-dari-dua-tulisan.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/pembatal-pembatal1-puasa-di-zaman-modern-bagian-kedua-dari-dua-tulisan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Apr 2012 08:56:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ridwanyufid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah dan Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=1096</guid>
		<description><![CDATA[Semakin mendekati akhir zaman, peralatan medis semakin canggih, permasalahan pun menjadi kian berkembang dan semakin kompleks. Pertanyaan seputar “pembatal puasa” masih saja bermunculan, terutama berkaitan dengan permasalahan-permasalahan yang belum pernah ada zaman dahulu. Pada edisi kali ini, dengan izin Alloh, kami melanjutkan pembahasan bagian kedua, melanjutkan pembahasan yang telah kami sampaikan pada edisi yang telah [...]
Related posts:<ol>
<li><a href='http://abiubaidah.com/syirik-zaman-modern.html/' rel='bookmark' title='Masihkah Ada Syirik di Zaman Modern?'>Masihkah Ada Syirik di Zaman Modern?</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/hadits-puasasyawal.html/' rel='bookmark' title='Puasa Syawal: Benarkah Disyariatkan ???'>Puasa Syawal: Benarkah Disyariatkan ???</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/turunnya-isa-bin-maryam-di-akhir-zaman.html/' rel='bookmark' title='TURUNNYA NABI ISA BIN MARYAM DI AKHIR ZAMAN'>TURUNNYA NABI ISA BIN MARYAM DI AKHIR ZAMAN</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semakin mendekati akhir zaman, peralatan medis semakin canggih, permasalahan pun menjadi kian berkembang dan semakin kompleks. Pertanyaan seputar “pembatal puasa” masih saja bermunculan, terutama berkaitan dengan permasalahan-permasalahan yang belum pernah ada zaman dahulu. Pada edisi kali ini, dengan izin Alloh, kami melanjutkan pembahasan bagian kedua, melanjutkan pembahasan yang telah kami sampaikan pada edisi yang telah lalu.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftn2">[2]</a> Di antara permasalahan-permasalahan yang perlu kita ketahui hukumnya bagi orang yang berpuasa adalah:</p>
<h1>1.   منظار المعدة (Endoscopy)</h1>
<p><em>Endoscopy</em> adalah suatu alat medis yang dimasukkan melalui mulut, kerongkongan, terus ke lambung dan alat pencernaan, berfungsi untuk melihat kondisi dalam perut seperti luka-luka dan semisalnya, atau berfungsi untuk membantu mengeluarkan sesuatu dari dalam perut atau tujuan lainnya.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftn3">[3]<span id="more-1096"></span></a></p>
<h2>Pendekatan Masalah</h2>
<p>Ini adalah permasalahan yang tidak pernah dibahas pada zaman dahulu. Para ulama masa kini, sebelum menghukumi masalah ini, mereka membahas permasalahan yang mendekatinya, yaitu apakah memasukkan sesuatu apa pun ke dalam rongga termasuk pembatal puasa, walaupun sesuatu itu bukan makanan atau minuman?</p>
<h2>Hukumnya</h2>
<p>Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftn4">[4]</a><strong></strong></p>
<ul>
<li><strong>Pendapat pertama</strong>. Mayoritas para ulama berpendapat bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam rongga manusia, bukan berupa makanan dan minuman<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftn5">[5]</a>, membatalkan puasa. Inilah madzhab Imam Abu Hanifah<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftn6">[6]</a>, madzhab Malik, madzhab Syafi’i, dan madzhab Hanbali.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftn7">[7]</a></li>
</ul>
<p>Dalilnya, menurut mereka, pendapat ini didasari oleh hadits Nabi n\, beliau memerintahkan orang berpuasa supaya menghindari celak mata (HR. Abu Dawud 1/724), dan mereka memberi alasan bahwa celak mata akan masuk ke dalam rongga sehingga batal puasanya padahal celak mata bukan makanan dan bukan pula minuman.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftn8">[8]</a><strong></strong></p>
<ul>
<li><strong>Pendapat kedua</strong>. Segala sesuatu yang masuk ke dalam rongga manusia, jika bukan makanan atau minuman, tidak membatalkan puasa karena tidak dapat diqiyaskan kepada keduanya. Ini adalah pendapat al-Hasan bin Sholih, madzhab sebagian ulama Malikiyyah<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftn9">[9]</a>, dan dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftn10">[10]</a><strong></strong></li>
</ul>
<p><strong>Pendapat yang kuat</strong> adalah pendapat kedua, yaitu sesuatu (bukan makanan dan minuman) yang dimasukkan ke dalam rongga orang yang berpuasa tidak membatalkan puasa, dan pendapat ini dikuatkan oleh beberapa perkara, di antaranya:</p>
<ul>
<li>Yang dimaksudkan memasukkan sesuatu ke dalam perut yang membatalkan puasa adalah makanan atau minuman, karena inilah yang <em>ma’ruf</em> (yang dipahami oleh manusia), bukan besi, batu, tanah, dan lainnya.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftn11">[11]</a></li>
<li>Alloh melarang seorang yang berpuasa untuk makan dan minum bukan hanya karena masuknya makanan dan minuman itu ke rongganya, melainkan untuk menguji ketaqwaannya dan karena makanan itu mengenyangkan.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftn12">[12]</a></li>
<li>Adapun hadits yang disebutkan, maka hadits itu adalah hadits <em>dho’if</em> (lemah) karena dalam sanadnya ada Abdurrohman bin Nu’man, perowi lemah—sebagaimana dikatakan oleh Yahya bin Ma’in—dan ditambah lagi ada perowi ayahnya Nu’man, dia perowi yang <em>majhul</em> (tidak dikenal) — sebagaimana dikatakan oleh Imam adz-Dzahabi. (Lihat <em>Silsilah Dho’ifah</em> oleh al-Albani No. 1014)</li>
</ul>
<h2>Kesimpulan Tentang منظار المعدة (Endoscopy)</h2>
<p>Sebagaimana keterangan di atas, dapat kita simpulkan bahwa alat seperti ini hukum asalnya <strong>tidak membatalkan puasa</strong>, karena memasukkan alat ini ke dalam rongga bukan termasuk salah satu pembatal puasa, bukan termasuk makan dan minum, dan tidak bisa diqiyaskan kepada keduanya.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftn13">[13]</a></p>
<h2>Catatan</h2>
<p>Akan tetapi, jika memasukkan alat ini ke dalam rongga disertai dengan bahan-bahan cair untuk mempermudah masuknya alat ini, maka yang demikian ini membatalkan puasa. Penyebab batalnya puasa adalah masuknya benda cair itu, bukan karena masuknya alat tersebut.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftn14">[14]</a></p>
<h1>2.   التخدير الموضعي (Bius Lokal)</h1>
<p>Yaitu pembiusan pada bagian tubuh tertentu dengan suntikan obat yang dimasukkan ke bawah kulit sehingga sekitar bagian tubuh tersebut tidak akan merasakan sakit jika dibedah atau dioperasi, dan dia masih sadar ingatannya.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftn15">[15]</a></p>
<h2>Hukumnya</h2>
<p>Bius lokal tidak membatalkan puasa. Alasannya, karena bius lokal sekadar memasukkan sedikit obat penghilang rasa sakit ke bawah kulit, tidak masuk ke dalam rongga, maka ini sama dengan hukum jarum suntik (الإبر العلاجية) yang tidak membatalkan puasa, karena ia bukan termasuk makanan, bukan minuman, tidak menggantikan keduanya, dan tidak bisa diqiyaskan kepada keduanya.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftn16">[16]</a></p>
<h1>3.   الكلي التخدير (Bius Total)</h1>
<p>Yaitu pembiusan yang dilakukan dengan menghilangkan kesadaran secara keseluruhan untuk kepentingan medis, seperti pembedahan atau operasi.</p>
<h2>Hukumnya</h2>
<p>Para ulama masa kini berbeda pendapat tentang masalah ini, sebagaimana para ulama dahulu berbeda pendapat tentang hukum seorang yang berpuasa lalu kehilangan kesadarannya/pingsan.</p>
<p>Seorang yang kehilangan kesadarannya tidak lepas dari dua kemungkinan:</p>
<ul>
<li><em>Kemungkinan pertama</em>, hilang kesadaran sehari penuh (dari subuh sampai maghrib); maka <em>jumhur ulama</em>, di antaranya Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad, mengatakan bahwa puasa orang seperti ini batal<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftn17">[17]</a>. Dalilnya, Sabda Nabi n\ dalam hadits qudsi tentang pahala puasa:</li>
</ul>
<p dir="RTL">الصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَأَكْلَهُ وَشُرْبَهُ مِنْ أَجْلِي</p>
<p><em>“Puasa adalah untuk-Ku, dan Aku-lah yang membalasnya, (berpuasa itu) meninggalkan hawa nafsu, makan dan minum hanya karena Aku.”</em> (HR. Bukhori: 6938 dan Muslim: 1945)</p>
<p><strong>Keterangan</strong>. Alloh menyandarkan “keharusan menahan hawa nafsu, makan, dan minum” pada orang yang sedang berpuasa, sedangkan seorang yang tidak sadar dari subuh sampai maghrib tidaklah menahan dirinya dari hal itu, maka dia sama dengan tidak berpuasa.</p>
<p>Sedangkan <em>ulama madzhab Hanafi dan al-Muzani</em> dari kalangan ulama madzhab Syafi’i berpendapat bahwa puasanya sah,<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftn18">[18]</a> dengan alasan karena dia telah meniatkannya; maka hukumnya sama dengan tidur. Akan tetapi, pendapat jumhur lebih kuat karena tidak sama antara tidur dengan orang yang kehilangan kesadarannya satu hari penuh. Orang yang tidur bisa dibangunkan kapan saja, berbeda dengan orang yang kehilangan kesadaran. Demikian pula, karena jika seseorang sekadar berniat lalu kehilangan kesadarannya (belum menahan diri dari pembatal-pembatal puasa sehari penuh), maka belum dikatakan berpuasa.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftn19">[19]</a><em></em></p>
<ul>
<li><em>Kemungkinan kedua</em>, hilang kesadaran tetapi tidak sehari penuh (ada waktu sadar antara subuh sampai maghrib), maka di sinilah permasalahan yang banyak diperdebatkan para ulama.</li>
</ul>
<p>−     <em>Pendapat pertama</em>. Puasanya tidak sah. Ini adalah pendapat Imam Malik.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftn20">[20]</a><em></em></p>
<p>−     <em>Pendapat kedua</em>. Jika sempat sadar sebelum tergelincir matahari, lalu dia memperbarui niatnya, maka puasanya sah. Namun, jika sadarnya setelah tergelincirnya matahari maka puasanya batal. Akan tetapi, perincian seperti ini tidak terdapat dalil yang kuat. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftn21">[21]</a><em></em></p>
<p>−     <em>Pendapat ketiga</em>. Inilah pendapat yang terkuat, seorang yang berpuasa lalu hilang kesadaran tetapi tidak sehari penuh (ada waktu sadar antara subuh sampai maghrib), maka puasanya sah secara mutlak. Ini adalah pendapatnya Imam Ahmad dan Imam Syafi’i.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftn22">[22]</a></p>
<p>Hal ini dikuatkan karena orang seperti ini telah melakukan puasa yang disebutkan Nabi n\, yaitu “(berpuasa itu) meninggalkan hawa nafsu, makan dan minum serta pembatal yang lain”, dan dia telah melakukannya dengan sengaja (sadar) walaupun sesaat.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftn23">[23]</a></p>
<h2>Kesimpulan Hukum Bius Total Dalam Berpuasa</h2>
<p>Dari penjelasan di atas kita ketahui bahwa bius total yang menghilangkan kesadaran sehari penuh (dari subuh sampai maghrib) membatalkan puasa. Akan tetapi, jika tidak menghilangkan kesadaran sehari penuh (ada waktu sadar antara subuh sampai maghrib) maka tidak membatalkan puasa.</p>
<h1>4.   Cuci Darah</h1>
<p>Yaitu proses pencucian darah dengan menggunakan suatu alat medis, dan dilakukan dengan dua cara:</p>
<ul>
<li><em>Pertama</em>, menggunakan alat medis yang menyerap seluruh darah pasien, lalu alat ini bekerja membersihkan darah dari kotoran yang membahayakan, kemudian dikembalikan ke tubuhnya melalui urat leher.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftn24">[24]</a><em></em></li>
<li><em>Kedua</em>, cara lain digunakan dengan memasukkan alat seperti pipa ke dinding perut di atas pusar, lalu dimasukkan melalui alat ini ke dalam perutnya sekitar dua liter zat cair yang memiliki kadar glukosa sangat tinggi, lalu sementara didiamkan, kemudian ditarik kembali dan demikian diulang beberapa kali dalam satu hari sampai darah pasien bersih dari penyakit-penyakit yang mengganggu.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftn25">[25]</a></li>
</ul>
<p>Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini.</p>
<ul>
<li><em>Pendapat pertama</em>, tidak membatalkan puasa. Mereka melandasi pendapatnya dengan tidak adanya dalil yang gamblang dan tidak dapat diqiyaskan dengan pembatal-pembatal yang jelas. Ini adalah pendapat Dr. Muhammad al-Khoyyath.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftn26">[26]</a><em></em></li>
<li><em>Pendapat kedua</em>, cuci darah membatalkan puasa. Ini adalah pendapat Syaikh bin Baz dalam salah satu fatwanya<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftn27">[27]</a>, Syaikh Ibnu Utsaimin<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftn28">[28]</a>, Dr. Wahbah az-Zuhaili<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftn29">[29]</a>, dan keputusan Fatwa Lajnah Da‘imah.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftn30">[30]</a></li>
</ul>
<p>Pendapat yang kuat adalah pendapat yang kedua yaitu cuci darah membatalkan puasa, dengan alasan bahwa cuci darah mengharuskan adanya tambahan darah segar, bahkan ditambahkan pula bahan- bahan kimia yang dapat menggantikan makanan dan minuman. Akan tetapi, jika dalam cuci darah tidak ditambahkan hal lain kecuali cuci darah itu sendiri, maka tidak membatalkan puasa.<a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftn31">[31]</a></p>
<p>Inilah yang dapat kami himpun dari beberapa permasalahan baru dalam hal pembatal puasa, mudah- mudahan pada kesempatan lain kami dapat melanjutkan pembahasan berikutnya, dan mudah- mudahan bermanfaat. <em>Amiin</em>.</p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftnref1">[1]</a>               <strong>Perhatian!</strong> Yang kami maksudkan di sini adalah perkara-perkara yang ada di zaman modern, tetapi belum tentu ia merupakan pembatal. Akan tetapi, kami bahas di sini untuk mengetahui hukum yang sebenarnya apakah ia pembatal puasa atau bukan. Sebagaimana pembahasan bagian pertama dahulu, kami sarikan pembahasan ini dari sebuah risalah berjudul <em>Mufathirot ash-Shiyam al-Mu’ashiroh</em> karya Dr. Ahmad bin Muhammad al-Kholil, cet. Dar Ibnul Jauzi, 1426 H, dan kami tambahkan dari referensi penting lainnya, semoga bermanfaat.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftnref2">[2]</a>               Yaitu pembahasan “Pembatal-pembatal puasa di zaman modern”, yang dimuat sekitar empat tahun yang lalu (Edisi Khusus, Bulan Romadhon/Syawwal 1427 (Oktober/November 2006)).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftnref3">[3]</a>               Lihat <em>al-Mufaththiroth al-Mu’ashiroh</em> hlm. 4 karya Syaikh Dr. Kholid al-Musyaiqoh, dan <em>Mufathirot ash-Shiyam al-Mu’ashiroh</em> hlm. 39.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftnref4">[4]</a>               Penyebab perselisihan ini adalah sebagian ulama menyamakan sesuatu yang masuk ke dalam perut antara makanan atau minuman dengan sesuatu yang bukan makanan atau minuman. (Lihat perkataan ini oleh Ibnu Rusyd dalam <em>Bidayatul Mujtahid</em> 2/153)</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftnref5">[5]</a>               Sebagai contoh, seandainya seseorang yang berpuasa menelan sepotong besi atau sebutir kerikil, maka batal-lah puasanya.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftnref6">[6]</a>               Hanya, madzhab Abu Hanifah mensyaratkan untuk batalnya puasa itu jika sesuatu yang masuk ke dalam rongga itu benar-benar masuk dengan sempurna, tidak ada yang tersisa sebagiannya di luar atau tidak dikeluarkan kembali sesuatu itu. (Lihat <em>Mufathirot ash-Shiyam al-Mu’ashiroh</em> hlm. 41)</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftnref7">[7]</a>               Lihat <em>Tabyinul Haqo‘iq</em> 1/326 az-Zaila’i, <em>al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab</em> 6/317, <em>asy-Syarhul Kabir</em> 7/410, <em>Syarhul Zarqoni ’alal Kholil</em> 1/207, <em>Bidayatul Mujtahid</em> 2/153, dan <em>Syarh Muntahal Irodat</em> 1/448.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftnref8">[8]</a>               Lihat <em>Syarhul Umdah</em> oleh Syaikhul Islam 1/385.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftnref9">[9]</a>               Lihat <em>al-Furu’</em> 3/46.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftnref10">[10]</a>             Lihat <em>Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah</em> 20/528.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftnref11">[11]</a>             Lihat <em>Mu’jam Maqoyis al-Lughoh</em> 1/122 dan <em>Mufathirot ash-Shiyam al-Mu’ashiroh</em> hlm. 45.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftnref12">[12]</a>             Lihat <em>Mufathirot ash-Shiyam al-Mu’ashiroh</em> hlm. 44.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftnref13">[13]</a>             Inilah pendapat Syaikh Muhammad Bakhit (lihat <em>ad-Din al-Kholish</em> 8/457), dan Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin dalam <em>asy-Syarhul Mumthi’</em> 6/383.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftnref14">[14]</a>             Demikianlah yang diingatkan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin dalam <em>asy-Syarhul Mumthi’</em> 6/383.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftnref15">[15]</a>             Lihat <em>al-Mufaththiroth al-Mu’ashiroh</em> hlm. 52–53.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftnref16">[16]</a>             Demikian dikatakan para ulama masa kini seperti Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh Ibnu Bakhith, Syaikh Muhammad Saltut, Dr. Fadhl Muhammad Abbas, dan keputusan Majma’ al-Fiqhi; dan tidak diketahui adanya perbedaan pendapat bahwa “sekadar jarum suntik tidak membatalkan puasa”. (Lihat <em>Majmu’ Fatawa wa Maqolat Mutanawwi’ah Syaikh Ibnu Baz</em> 15/257, <em>Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin</em> 19/220–221, <em>ad-Din al-Kholish</em> 8/457, <em>al-Fatawa</em> hlm. 136, <em>at-Tibyan wal Ithof</em> hlm. 109, <em>Majalah al-Majma’</em> th. ke-10 hlm. 464, <em>al-Mufaththiroth al-Mu’ashiroh</em> hlm. 7, dan <em>Mufathirot ash-Shiyam al-Mu’ashiroh</em> hlm. 52.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftnref17">[17]</a>             Lihat <em>Mufathirot ash-Shiyam al-Mu’ashiroh</em> hlm. 53.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftnref18">[18]</a>             Lihat pendapat seperti ini dalam <em>al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab</em> 6/345 dan <em>al-Mughni</em> 3/343.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftnref19">[19]</a>             Lihat <em>Syarh az-Zarqoni ’ala Kholil</em> 1/203 dan <em>Mufathirot ash-Shiyam al-Mu’ashiroh</em> hlm. 53–54.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftnref20">[20]</a>             Lihat <em>al-Mufaththiroth al-Mu’ashiroh</em> hlm. 8.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftnref21">[21]</a>             Lihat <em>al-Fatawa al-Hoindiyah</em> 1/197, <em>al-Mufaththiroth al-Mu’ashiroh</em> hlm. 8, dan <em>Mufathirot ash-Shiyam al-Mu’ashiroh</em> hlm. 54.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftnref22">[22]</a>             Lihat <em>al-Mughni</em> 3/343 dan <em>Mufathirot ash-Shiyam al-Mu’ashiroh</em> hlm. 54.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftnref23">[23]</a>             Lihat <em>Syarhul Umdah</em> kitab <em>ash-Shiyam</em> 1/47 dan <em>Mufathirot ash-Shiyam al-Mu’ashiroh</em> hlm. 54–55.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftnref24">[24]</a>             Lihat <em>Mufathirot ash-Shiyam al-Mu’ashiroh</em> hlm. 72.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftnref25">[25]</a>             <em>Ibid</em>.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftnref26">[26]</a>             Lihat <em>Majalah al-Majma’ al-Fiqhi</em> th. ke-10, 2/290, <em>Mufathirot ash-Shiyam al-Mu’ashiroh</em> hlm. 73, dan <em>al-Mufaththiroth al-Mu’ashiroh</em> hlm. 8.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftnref27">[27]</a>             Lihat <em>Majmu’ Fatawa wa Maqolat Mutanawwi’ah Syaikh Ibnu Baz</em> 15/275.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftnref28">[28]</a>             Lihat <em>Liqo‘ al-Bab al-Maftuh</em> 10/188.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftnref29">[29]</a>             Lihat <em>Majalah al-Majma’ al-Fiqhi</em> th. ke-10, 2/378.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftnref30">[30]</a>             Fatwa No. 5693, tgl. 27-8-1406 H</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///J:/RIDWAN/ABU%20UBAIDAH%20WEB/106%20Pembatal%20Puasa%20Modern.doc#_ftnref31">[31]</a>             Lihat <em>Majmu’ Fatawa wa Maqolat Mutanawwi’ah Syaikh Ibnu Baz</em> 15/275.</p>
</div>
</div>
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://abiubaidah.com/syirik-zaman-modern.html/' rel='bookmark' title='Masihkah Ada Syirik di Zaman Modern?'>Masihkah Ada Syirik di Zaman Modern?</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/hadits-puasasyawal.html/' rel='bookmark' title='Puasa Syawal: Benarkah Disyariatkan ???'>Puasa Syawal: Benarkah Disyariatkan ???</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/turunnya-isa-bin-maryam-di-akhir-zaman.html/' rel='bookmark' title='TURUNNYA NABI ISA BIN MARYAM DI AKHIR ZAMAN'>TURUNNYA NABI ISA BIN MARYAM DI AKHIR ZAMAN</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/pembatal-pembatal1-puasa-di-zaman-modern-bagian-kedua-dari-dua-tulisan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bila HP Berdering di Tengah Sholat</title>
		<link>http://abiubaidah.com/bila-hp-berdering-di-tengah-sholat.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/bila-hp-berdering-di-tengah-sholat.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2012 06:41:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mangamir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikih Kontemporer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=1076</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika, ada seorang ikhwan mengajukan pertanyaan kepada penulis saat dauroh di salah satu kota luar Jawa, “Ustadz, kemarin ada kejadian di masjid kampung, ketika kami tengah menjalankan sholat, tiba-tiba HP seorang makmum berdering dengan nada suara tawa seorang bayi. Spontan saja, nada lucu itu membuat geli jama’ah sholat dan membuat sebagian mereka tak kuasa menahan tawa. Bagaimana hukum sholatnya, apakah batal ataukah tidak?”

Kejadian di atas ternyata bukanlah satu-satunya. Masih banyak kejadian serupa yang terjadi karena ulah HP yang tidak terkondisikan dengan baik. Bukankah sering kita mendengarkan nada HP alunan musik dan nyanyian saat kaum muslimin bermunajat kepada Alloh di rumah-Nya yang mulia?!

Dari sinilah, hati ini terdorong untuk membahas masalah hukum mematikan dering HP di tengah sholat. Semoga Alloh menambahkan ilmu yang bermanfaat bagi kita.
Related posts:<ol>
<li><a href='http://abiubaidah.com/lafadz-sayyiduna-dalam-sholat-bermasalahkah.html/' rel='bookmark' title='Lafadz &#8220;SAYYIDUNA&#8221; Dalam Sholat, Bermasalahkah?'>Lafadz &#8220;SAYYIDUNA&#8221; Dalam Sholat, Bermasalahkah?</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>Muqoddimah</h3>
<p>Suatu ketika, ada seorang <em>ikhwan</em> mengajukan pertanyaan kepada penulis saat <em>dauroh</em> di salah satu kota luar Jawa, “Ustadz, kemarin ada kejadian di masjid kampung, ketika kami tengah menjalankan sholat, tiba-tiba HP seorang makmum berdering dengan nada suara tawa seorang bayi. Spontan saja, nada lucu itu membuat geli jama’ah sholat dan membuat sebagian mereka tak kuasa menahan tawa. Bagaimana hukum sholatnya, apakah batal ataukah tidak?”</p>
<p>Kejadian di atas ternyata bukanlah satu-satunya. Masih banyak kejadian serupa yang terjadi karena ulah HP yang tidak terkondisikan dengan baik. Bukankah sering kita mendengarkan nada HP alunan musik dan nyanyian saat kaum muslimin bermunajat kepada Alloh di rumah-Nya yang mulia?!</p>
<p>Dari sinilah, hati ini terdorong untuk membahas masalah hukum mematikan dering HP di tengah sholat. Semoga Alloh menambahkan ilmu yang bermanfaat bagi kita.<span id="more-1076"></span></p>
<h3>HP, Sebuah Anugerah Ilahi</h3>
<p>Saudaraku, sesungguhnya nikmat Alloh kepada hamba-Nya banyak sekali pada sepanjang zaman dan tempat. Alloh berfirman:</p>
<p dir="RTL">وَءَاتَىٰكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ إِنَّ ٱلْإِنسَـٰنَ لَظَلُومٌۭ كَفَّارٌۭ ﴿٣٤﴾</p>
<div>
<p>Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Alloh, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Alloh). (QS. Ibrohim [14]: 34)</p>
</div>
<p>Di antara nikmat tersebut adalah ditemukannya alat-alat elektronik modern seperti telepon dan HP yang sangat besar manfaatnya dalam mempermudah urusan manusia di dunia. Oleh karenanya, hendaknya kita beradab dengan adab-adab penggunaannya<a title="" href="#_ftn1">[1]</a> dan pandai-pandai mensyukurinya dengan cara menggunakannya dalam kebaikan seperti dakwah, bakti kepada orang tua, menyambung silaturrohim, dan lain-lain; bukan malah sebaliknya, menggunakan HP untuk bermaksiat kepada Alloh seperti menyetel musik dan nyanyian, pacaran, menyebarkan fitnah dan kedustaan, dan sebagainya.</p>
<p>Alat kecil dan unik ini pada saat sekarang bak jamur di musim hujan yang dikonsumsi oleh hampir semua lapisan masyarakat baik miskin atau kaya, kecil atau dewasa, pria atau wanita, pelajar atau orang biasa. Seakan-akan hampir semua kantong tak sepi darinya.</p>
<p>Namun, seiring dengan beredarnya HP ini, muncul juga segudang masalah dan pertanyaan yang mencuat berkaitan dengan HP, ada yang bertanya tentang hukum nada musiknya, ada yang bertanya tentang hukum foto kameranya<a title="" href="#_ftn2">[2]</a>, ada yang bertanya tentang hukum membawa HP yang berisi program al-Qur‘an ke WC<a title="" href="#_ftn3">[3]</a>, ada yang bertanya tentang hukum menggunakan nada lantunan ayat al-Qur‘an dan adzan sebagai nada panggil dan tunggu<a title="" href="#_ftn4">[4]</a>, dan seabrek masalah lainnya yang banyak sekali.</p>
<p>Di antaranya sekian banyak persoalan tersebut, yang menjadi inti pembahasan kita di sini yaitu hukum seorang yang sedang sholat mematikan nada dering HP yang dapat mengganggu kekhusyukan sholat, apakah hal ini termasuk gerakan yang diperbolehkan ataukah tidak?! Anda ingin tahu jawabannya? Ikutilah pembahasan selanjutnya!</p>
<h3>Macam-Macam Gerakan Dalam Sholat</h3>
<p>Sebelum memasuki pembahasan, perkenanlah kami memaparkan terlebih dahulu pembagian yang dilakukan ulama tentang hukum gerakan dalam sholat, karena hal itu ada korelasinya yang sangat erat dengan bahasan kita sekarang. Ketahuilah wahai saudaraku seiman—semoga Alloh merahmatimu—bahwa para ulama membagi gerakan dalam sholat menjadi lima hukum:</p>
<ol>
<li><strong>Wajib</strong> yaitu gerakan untuk suatu kewajiban dalam sholat, seperti gerak untuk menghadap kiblat, melepas peci yang terkena najis, dan sebagainya.</li>
<li><strong>Sunnah</strong> yaitu gerakan untuk suatu sunnah dalam sholat, seperti gerak untuk memperbaiki <em>shof</em> (barisan sholat) yang kurang lurus.</li>
<li><strong></strong><strong>Mubah</strong> yaitu gerakan yang sedikit karena ada hajat (kebutuhan) seperti menggaruk kulit yang gatal atau membetulkan baju.<a title="" href="#_ftn5">[5]</a><strong></strong></li>
<li><strong>Makruh</strong> yaitu gerakan yang sedikit tanpa ada hajat seperti membunyikan telapak tangan, melihat-lihat jam.</li>
<li><strong>Haram</strong> yaitu gerakan yang banyak, berkesinambungan, dan bukan karena darurat. Patokannya adalah adat masyarakat setempat. Sekiranya mereka menilai kalau orang yang melakukan gerakan tersebut berarti bukan sedang dalam sholat, seperti kalau ada seorang di tengah-tengah sholat menjawab telepon dan mengirim SMS, maka hal ini membatalkan sholatnya.<a title="" href="#_ftn6">[6]</a></li>
</ol>
<h3>Dalil-Dalil Tentang Bolehnya Gerakan Saat Sholat Apabila Ada Hajat</h3>
<p>Ada beberapa dalil yang sangat jelas menunjukkan bolehnya gerakan seperti mematikan dering HP di tengah sholat ini. Kami cukupkan di sini beberapa saja:</p>
<h3>Dalil Pertama:</h3>
<p dir="RTL"><strong>عَنْ أَبِيْ سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : بَيْنَمَا رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِأَصْحَابِهِ، إِذْ خَلَعَ نَعْلَيْهِ فَوَضَعَهُمَا عَنْ يَسَارِهِ، فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ الْقَوْمُ أَلْقَوْا نِعَالَهُمْ، فَلَمَّا قَضَى رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ قَالَ : مَا حَمَلَكُمْ عَلَى إِلْقَائِكُمْ نِعَالِكُمْ قَالُوْا رَأَيْنَاكَ أَلْقَيْتَ نَعْلَيْكَ فَأَلْقَيْنَا نِعَالَنَا فَقَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَام أَتَانِي فَأَخْبَرَنِي أَنَّ فِيهِمَا قَذَرًا.</strong></p>
<div>
<p>Dari Abu Sa’id al-Khudri <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> berkata, “Suatu ketika Rosululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah sholat mengimami para sahabat, tiba-tiba beliau melepas sandalnya dan meletakkannya di sebelah kirinya. Tatkala para sahabat melihat hal itu, maka mereka pun langsung melepas sandal-sandal mereka. Setelah selesai sholat, maka Rosululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bertanya, ‘Kenapa kalian melepas sandal-sandal kalian?’ Mereka mengatakan, ‘Karena kami melihat engkau melepas sandal, maka kami juga melepas sandal kami.’ Selanjutnya Rosululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengatakan, ‘Sesungguhnya Jibril <em>&#8216;alaihissalam</em> tadi datang kepadaku seraya mengabarkan kepadaku bahwa pada sandalku ada najisnya.’” (HR. Abu Dawud: 650, Ahmad: 3/20, Ibnu Khuzaimah: 1017, Ibnu Hibban 5/560)</p>
</div>
<p>Dalam hadits ini secara jelas Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melakukan gerakan di tengah sholat yaitu melepas sandal.</p>
<h3>Dalil Kedua:</h3>
<p dir="RTL"><strong>إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنَ النَّاسِ فَأَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلْيَدْفَعْهُ فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ فَإِنَّمَا هو شَيْطَانٌ</strong></p>
<div>
<p>“Apabila salah seorang di antara kalian sholat menghadap <em>sutroh</em> (pembatas) dari manusia, lalu ada seorang yang ingin untuk lewat di depannya maka hendaknya dia menahannya, kalau masih tidak mau maka hendaknya dilawan karena dia adalah setan.” (HR. al-Bukhori: 487 dan Muslim: 259)</p>
</div>
<p>Dalam hadits ini Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menganjurkan kepada orang yang sedang sholat untuk menghalangi orang yang hendak lewat di depannya. Tidak diragukan lagi bahwa hal itu termasuk gerakan dalam sholat.</p>
<h3>Dalil Ketiga:</h3>
<p dir="RTL"><strong>عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ </strong>d<strong> قَالَ : نِمْتُ عِنْدَ مَيْمُونَةَ </strong>s<strong> وَالنَّبِيُّ </strong>n<strong> عِنْدَهَا تِلْكَ اللَّيْلَةَ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ قَامَ يُصَلِّي فَقُمْتُ على يَسَارِهِ فَأَخَذَنِيْ فَجَعَلَنِيْ عَنْ يَمِينِهِ</strong></p>
<div>
<p>Dari Ibnu Abbas <em>radhiallahu &#8216;anhuma</em> berkata, “Saya pernah tidur di rumah bibi Maimunah <em>radhiallahu &#8216;anha</em><em> </em>ketika Rosululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tinggal bersamanya malam itu, beliau kemudian berwudhu lalu sholat malam, saya pun berdiri sholat di samping kirinya, lalu Rosululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menarikku dan meletakkanku di samping kanannya&#8230;.” (HR. al-Bukhori: 666 dan Muslim: 184)<a title="" href="#_ftn7">[7]</a></p>
</div>
<p>Dalam hadits ini juga Rosululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melakukan gerakan di tengah sholat karena ada tujuannya.</p>
<p>Sebenarnya, masih banyak dalil-dalil lainnya lagi yang menunjukkan bolehnya gerakan di tengah sholat apabila memang ada hajatnya. Namun, menurut kami tiga hadits di atas cukup untuk mewakili lainnya.</p>
<h3>Hukum Mematikan HP yang Berdering Saat Sholat</h3>
<p>Setelah kita mengetahui pembagian gerakan dalam sholat dan dalilnya, lantas masuk kategori manakah gerakan untuk mematikan HP di tengah sholat?!</p>
<p>Perlu diketahui bahwa hendaknya bagi seorang yang akan sholat untuk mematikan HP-nya terlebih dahulu atau men-<em>silent</em> (mendiamkannya, mematikan nada deringnya) agar tidak mengganggu jama’ah sholat di tengah sholat berjalan.</p>
<p>Apabila memang ada seorang yang tidak melakukan hal itu, kemudian HP-nya berdering di tengah sholat maka kewajibannya adalah untuk mematikannya sekalipun tangannya perlu bergerak ke saku baju padahal dia sedang sholat, sebab gerakan ini termasuk gerakan yang sedikit untuk suatu hajat, bahkan mayoritas ulama berpendapat bahwa menoleh apabila sedikit maka tidak membatalkan sholat<a title="" href="#_ftn8">[8]</a>, lantas bagaimana kiranya dengan mematikan HP tanpa menoleh, tentu lebih boleh hukumnya. Apalagi, jika seorang tidak mematikan HP di tengah sholat niscaya akan mengganggu kekhusyukan dirinya dan jama’ah lainnya yang sedang melakukan sholat.</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> pernah menjelaskan bahwa gerakan dalam sholat untuk menggaruk badan dan membenarkan baju adalah agar tidak mengganggu orang yang sholat, kata beliau, “Karena menghilangkan sebab-sebab yang mengganggu orang sholat dapat membantunya untuk terus khusyuk dalam sholat yang sangat dianjurkan dalam agama.”<a title="" href="#_ftn9">[9]</a><strong></strong></p>
<p><strong>Kesimpulannya,</strong> hendaknya seorang menonaktifkan HP terlebih dahulu ketika akan sholat. Namun, apabila berdering di tengah sholat dan dapat mengganggu kekhusyukan maka boleh—bahkan wajib—baginya untuk mematikannya sekalipun dia tengah sedang melakukan sholat, sebab jika tidak maka akan mengganggu kekhusyukan sholat. Semua itu dengan syarat apabila dia tidak menambah dengan gerakan-gerakan lainnya seperti melihat nama dan nomor penelepon dan sebagainya.<a title="" href="#_ftn10">[10]</a></p>
<h3>Dampak Negatif Tidak Mematikan Dering HP Saat Sholat</h3>
<p>Penulis masih ingat betul bahwa pernah suatu saat ketika kami sholat di Jami’ Ibnu Utsaimin, tiba-tiba ada dering nada musik yang mengganggu konsentrasi sholat dan sang pemiliknya cukup lama tidak segera mematikan HP-nya. Maka usai sholat, sang imam masjid, Syaikhuna Sami bin Muhammad <em>hafizhahullah</em> langsung memberikan ceramah singkat. Di antara yang beliau sebutkan ialah bahwa dering nada HP di tengah sholat dan tidak segera mematikannya adalah tidak boleh dan memiliki banyak kerusakan, di antaranya:</p>
<ul>
<li>Mengganggu kaum muslimin yang sedang melakukan sholat, padahal mengganggu dan menyakiti seorang muslim hukumnya haram dan termasuk dosa. Alloh berfirman:</li>
</ul>
<p dir="RTL">وَٱلَّذِينَ يُؤْذُونَ ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَـٰتِ بِغَيْرِ مَا ٱكْتَسَبُوا۟ فَقَدِ ٱحْتَمَلُوا۟ بُهْتَـٰنًۭا وَإِثْمًۭا مُّبِينًۭا ﴿٥٨﴾</p>
<div>
<p>Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (QS. al-Ahzab [33]: 58)</p>
</div>
<ul>
<li>Deringnya HP di tengah sholat merupakan perkara yang tidak ada faedahnya sama sekali dan sia-sia belaka, sebab apakah dia mau menjawab dan berbicara ketika tengah sholat?!</li>
</ul>
<ul>
<li>Perbuatan ini bisa dikategorikan pelecehan kepada Alloh. Sebab, bagaimana mungkin seorang yang sedang bermunajat kepada Alloh namun malah seperti itu kondisinya. Bukankah kalau seorang melakukan hal itu di hadapan presiden—misalnya—maka dianggap meremehkannya, lantas bagaimana dengan Alloh yang jauh lebih kita agungkan?!</li>
</ul>
<ul>
<li>Perbuatan ini menodai kehormatan masjid, karena hal-hal itu tidaklah pantas di rumah Alloh yang agung dan mulia?</li>
</ul>
<ul>
<li>Lebih parah lagi, apabila nada dering yang bunyinya adalah musik dan nyanyian—yang jelas haram hukumnya—maka keharamannya berlipat ganda.</li>
</ul>
<p>Demikianlah pembahasan kita tentang masalah ini. Semoga hal ini menjadi nasihat dan tambahan ilmu bagi kita semua.</p>
<h3>Daftar Referensi</h3>
<ol>
<li><em>Masa‘il Mu’ashiroh Mimma Ta‘ummu Biha al-Balwa Fil Ibadat</em>. Nayif bin Jam’an Juraidan. Daru Kunuz Isybiliya, KSA, cet. pertama, 1430 H.</li>
<li><em>Ahkamu al-Harokah Fish Sholah</em>. Dr. Sa’aduddin bin Muhammad al-Kibbi. Maktabah Ma’arif, KSA, cet. pertama, 1428 H.</li>
<li><em>Adabul Hathif</em>. Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid. Darul Ashimah, KSA, cet. kedua, 1418 H</li>
</ol>
<div>Penulis: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi<br />
artikel <a href="http://abiubaidah.com/bila-hp-berdering-di-tengah-sholat.html/" target="_blank">www.abiubaidah.com</a><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a>     Lihat adab-adab telepon dan HP secara bagus dalam risalah <em>Adabul Hathif</em> karya Syaikh Bakr Abu Zaid.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a>     Lihat <em>Shina’ah Shuroh Bil Yad</em> hlm. 53–58 karya Dr. Abdulloh ath-Thoyyar.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a>     Lihat <em>Fiqhu Nawazil</em>: 2/36 karya Dr. Muhammad al-Jizani.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a>     Lihat <em>Adabul Hathif</em> hlm. 20–21 karya Syaikh Bakr Abu Zaid.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a>     Lihat atsar Ali bin Abi Tholib <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> tentang hal ini, diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhori dalam Shohih-nya. (<em>Fathul Bari</em>: 3/94)</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a><em>     Lihat al-Furuq wat Taqosim al-Badi’ah an-Nafi’ah</em> hlm. 117 karya Syaikh as-Sa’di dan <em>Syarh Mumti’</em>: 3/356–358 karya Syaikh Ibnu Utsaimin. Dan lihat masalah gerakan dalam sholat secara rinci (detail) dalam risalah berjudul <em>Ahkamul Harokah Fish Sholat</em> karya Dr. Sa’duddin bin Muhammad al-Kibbi.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a><strong>     Faedah:</strong> Hadits ini memuat banyak sekali faedah, sebagian penulis menghimpun faedah-fedah yang terkandung di dalamnya, sehingga mampu mencapai seratus faedah. Lihat buku 100 Faedah Muhimmah fi Haditsin Li Habril Ummah karya Muhammad bin Hasan al-Bulqosi.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a><em>     At-Tamhid</em>: 21/103 karya Ibnu Abdil Barr, <em>al-Mughni</em>: 1/696 karya Ibnu Qudamah.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a><em>     Fathul Bari</em>: 3/94</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a>    Lihat <em>Ahkamul Harokah Fish Sholah</em> hlm. 63 karya Dr. Sa’duddin al-Kibbi dan <em>Masa‘il Mu’ashiroh Mimma Ta‘ummu Biha al-Balwa Fi Fiqhil Ibadat</em> hlm. 324–327 karya Nayif bin Jam’an Juraidan.</p>
</div>
</div>
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://abiubaidah.com/lafadz-sayyiduna-dalam-sholat-bermasalahkah.html/' rel='bookmark' title='Lafadz &#8220;SAYYIDUNA&#8221; Dalam Sholat, Bermasalahkah?'>Lafadz &#8220;SAYYIDUNA&#8221; Dalam Sholat, Bermasalahkah?</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/bila-hp-berdering-di-tengah-sholat.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agar “Mengingkari Kemungkaran” Tidak Menjadi Kemungkaran</title>
		<link>http://abiubaidah.com/cara-mengingkari-kemungkaran.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/cara-mengingkari-kemungkaran.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2012 04:35:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mangamir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah dan Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=1070</guid>
		<description><![CDATA[Tidak ragu lagi bahwa mengingkari kemungkaran merupakan kewajiban agama dan ibadah yang sangat utama. Namun, harus diketahui bahwa pengingkaran memiliki etika dan kaidah yang telah diajarkan oleh Rosululloh shallallahu 'alaihi wa sallam, karena beliau adalah seorang yang paling mengerti tentang metode dakwah yang terbaik. Mungkinkah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan kepada umatnya tata cara buang air besar, lalu melupakan untuk mengajarkan mereka tata cara inkarul munkar?!!
Related posts:<ol>
<li><a href='http://abiubaidah.com/kemungkaran-kemungkaran-dalam-perayaan-maulid-nabi.html/' rel='bookmark' title='Kemungkaran-Kemungkaran Dalam Perayaan Maulid Nabi'>Kemungkaran-Kemungkaran Dalam Perayaan Maulid Nabi</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/kita-tidak-mungkin-bersatu-dengan-allah.html/' rel='bookmark' title='Kita Tidak Mungkin Bersatu dengan Allah !!!'>Kita Tidak Mungkin Bersatu dengan Allah !!!</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/profesi-pengacara-mengapa-tidak.html/' rel='bookmark' title='PROFESI PENGACARA  MENGAPA TIDAK?'>PROFESI PENGACARA  MENGAPA TIDAK?</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak ragu lagi bahwa mengingkari kemungkaran merupakan kewajiban agama dan ibadah yang sangat utama. Namun, harus diketahui bahwa pengingkaran memiliki etika dan kaidah yang telah diajarkan oleh Rosululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, karena beliau adalah seorang yang paling mengerti tentang metode dakwah yang terbaik. Mungkinkah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengajarkan kepada umatnya tata cara buang air besar, lalu melupakan untuk mengajarkan mereka tata cara inkarul munkar?!!<span id="more-1070"></span></p>
<p dir="RTL"><strong>عَنْ أَبِي ذَرٍّ ، قَالَ : تَرَكْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَمَا طَائِرٌ يُقَلِّبُ جَنَاحَيْهِ فِي الْهَوَاءِ ، إِلا وَهُوَ يُذَكِّرُنَا مِنْهُ عِلْمًا ، قَالَ : فَقَالَ : صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ ، ويُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ ، إِلا وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ.</strong></p>
<div>
<p>Abu Dzar al-Ghifari <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> pernah mengatakan, “Rosululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> meninggalkan kita, sedangkan tidak ada seekor burung pun yang mengepakkan kedua sayapnya di udara kecuali beliau telah menjelaskan kepada kami. Sesungguhnya Rosululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, ‘Tidak ada sesuatu pun yang mendekatkan kalian ke surga dan menjauhkan dari neraka kecuali telah dijelaskan kepada kalian.’ ” <a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
</div>
<p>Kita beralih kepada masalah yang aktual sekarang. Aksi-aksi anarkis dan kekerasan banyak terjadi di Pandeglang, Cikasik, Temanggung, dan lainnya karena perbedaan paham agama, sampai-sampai ada keinginan dari pemerintah untuk membubarkan ormas Islam yang dianggap bermasalah. Semua itu dikarenakan ulah sebagian kalangan yang keliru dalam metode mengingkari kemungkaran sehingga inginnya untuk mengubah kemungkaran, tetapi malah memperbesar kemungkaran.</p>
<p dir="RTL"><strong>رَامَ نَفْعًا فَضَرَّ مِنْ غَيْرِ قَصْدٍ # وَمِنَ الْبِرِّ مَا يَكُوْنُ عُقُوْقًا</strong></p>
<div>
<p>Maksud hati ingin raih kebaikan, namun tanpa sengaja justru menimbulkan kerusakan.</p>
</div>
<div>
<p>Sesungguhnya di antara kebaikan ada yang menjadi kedurhakaan</p>
</div>
<p>Oleh karenanya, melalui rubrik hadits ini kami ingin mengkaji salah satu hadits Nabi yang bisa kita jadikan dalil tentang masalah ini.</p>
<h3>Teks Hadits</h3>
<p dir="RTL"><strong>عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ فِى الْمَسْجِدِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذْ جَاءَ أَعْرَابِىٌّ فَقَامَ يَبُولُ فِى الْمَسْجِدِ فَقَالَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَهْ مَهْ. قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ تُزْرِمُوهُ دَعُوهُ ». فَتَرَكُوهُ حَتَّى بَالَ. ثُمَّ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ « إِنَّ هَذِهِ الْمَسَاجِدَ لاَ تَصْلُحُ لِشَىْءٍ مِنْ هَذَا الْبَوْلِ وَلاَ الْقَذَرِ إِنَّمَا هِىَ لِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالصَّلاَةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ ». أَوْ كَمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم .قَالَ فَأَمَرَ رَجُلاً مِنَ الْقَوْمِ فَجَاءَ بِدَلْوٍ مِنْ مَاءٍ فَشَنَّهُ عَلَيْهِ.</strong></p>
<div>
<p>Dari Anas bin Malik <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> berkata, “Ketika kami sedang di masjid bersama Rosululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, tiba-tiba datang seorang Arab badui lalu berdiri untuk kencing di masjid. Para sahabat Rosul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menghardiknya, tetapi Rosululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, ‘Janganlah kalian memutusnya, biarkanlah dia selesai kencing dulu.’ Maka mereka membiarkan orang tersebut kencing hingga selesai. Setelah itu Rosululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menasihatinya, ‘Sesungguhnya masjid ini tidak boleh digunakan untuk kotoran dan kencing, masjid adalah tempat untuk dzikir, sholat, dan membaca al-Qur&#8217;an.’ Atau seperti sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Setelah itu, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memerintah seseorang untuk mengambil satu ember air dan menyiramnya.’ ” <a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
</div>
<h3>Fiqih Hadits</h3>
<p>Hadits ini memuat banyak sekali mutiara faedah yang terkandung di dalamnya.<a title="" href="#_ftn3">[3]</a> Di antaranya yang menjadi inti pembahasan kita adalah metode mengingkari kemungkaran yaitu tidak boleh mengingkari kemungkaran jika malah menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Perhatikanlah hadits ini baik-baik, ketika para sahabat hendak mengingkari orang badui yang kencing di masjid tersebut, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menahan mereka karena apabila hal itu diteruskan maka akan mendatangkan kerusakan yang lebih besar, di antaranya:</p>
<p><em>Pertama:</em> Akan membahayakan orang tersebut karena memberhentikan seorang yang tengah kencing adalah berbahaya dan menyakitkan.</p>
<p><em>Kedua:</em> Seandainya dibiarkan terlebih dahulu maka dia akan menumpahkan najis pada bagian kecil dari masjid, tetapi kalau saja dia ditegur di tengah-tengah kencing niscaya air kencing akan mengena pada badannya dan pakaiannya serta malah melebar ke bagian masjid lainnya.<a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Kita tidak boleh mengingkari kemungkaran dengan kemungkaran juga. Kita harus memperhatikan antara maslahat dan mafsadatnya. Apakah kita akan mengingkari suatu kemungkaran dengan menimbulkan kemungkaran yang besar darinya?! Semoga Alloh merahmati al-Imam Hasan al-Bashri tatkala melihat seorang khowarij yang keluar untuk mengingkari kemungkaran, beliau berkata, “Si miskin itu melihat kemungkaran dan ingin mengingkarinya tetapi malah jatuh pada kemungkaran yang lebih munkar darinya.” <a title="" href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah <em>rahimahullah</em> berkata, “Pernah dikatakan, ‘Hendaknya perintahmu kepada kebaikan dengan cara yang baik dan laranganmu dari kemungkaran bukan suatu kemungkaran.’ Kalau <em>amar ma’ruf nahi munkar</em> termasuk kewajiban dan sunnah yang agung, maka hendaknya maslahatnya lebih besar daripada kerusakannya.” <a title="" href="#_ftn6">[6]</a></p>
<h3>Jangan Memperbesar Kemungkaran</h3>
<p>Perlu diketahui bahwa syari’at yang suci dan mudah ini dibangun di atas kemaslahatan dan menolak kemudaratan. Barang siapa meneliti sikap para nabi—<em>’alaihimush sholatu wassalam</em>—dan kisah-kisah mereka yang diceritakan dalam al-Qur&#8217;an, niscaya dia akan mengetahui dengan yakin tanpa sedikit pun keraguan. Hal ini dipraktikkan oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sebagaimana diketahui oleh seorang yang memiliki pengetahuan tentang syari’at sekalipun hanya sedikit. Di antaranya, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tidak membunuh kaum munafik. Dalam banyak kejadian, telah nyata bagi Rosululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kemunafikan beberapa orang yang seharusnya mereka mendapatkan hukuman setimpal untuk dibunuh, tetapi Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tidak melakukannya, bahkan bersabda:</p>
<p dir="RTL"><strong>لَا يَتَحَدَّثُ النَّاسُ أَنَّ مُحَمَّدًا يَقْتُلُ أَصْحَابَهُ</strong></p>
<div>
<p>“Jangan sampai manusia bercerita bahwa Muhammad membunuh para sahabatnya.” (HR. al-Bukhori: 4542 dan Muslim: 4682)</p>
</div>
<p>Dalam hadits ini Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjelaskan bahwa beliau tidak menghukum dan membunuh orang-orang munafik untuk meraih kemaslahatan yang lebih besar bagi Islam dan menolak kerusakan yang lebih besar. Sebab, apabila tersebar bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> membunuh mereka tanpa diketahui sebabnya yang jelas oleh manusia umum, maka hal tersebut akan membuat orang-orang kafir lari dari agama Islam.<a title="" href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Dari sini tampak jelas bagi kita bahwa tidak boleh mengingkari suatu kemungkaran apabila malah mendatangkan kemungkaran yang lebih besar.</p>
<p>Alangkah bagusnya ucapan al-Imam Ibnul Qoyyim <em>rahimahullah</em> tatkala berkata, “Sesungguhnya Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mensyari’atkan kepada umatnya kewajiban mengingkari kemungkaran agar terwujudkan kebaikan yang dicintai oleh Alloh dan rosul-Nya. <strong>Namun, apabila mengingkari kemungkaran mengharuskan munculnya kerusakan yang lebih besar maka tidak boleh mengingkarinya sekalipun perbuatan dan pelakunya tersebut dibenci oleh Alloh, seperti mengingkari para pemimpin dengan memberontak mereka, karena ini adalah sumber segala kerusakan dan fitnah sepanjang zaman</strong>.” <a title="" href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Lanjutnya, <strong>“Barang siapa yang mencermati kecamuknya berbagai fitnah yang berbentuk kecil maupun besar di dunia Islam, niscaya dia akan mengetahui bahwa faktor penyebabnya adalah melalaikan kaidah ini dan tidak sabar menghadapi kemungkaran lalu ingin mengubahnya tetapi malah membawa kerusakan yang lebih besar darinya.”</strong> <a title="" href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Sungguh ini adalah ucapan berharga yang sepantasnya dicatat dengan tinta emas. Camkanlah kaidah ini baik-baik karena melalaikannya telah membuat mayoritas orang terpeleset dalam fitnah yang kerusakan. Adakah di antara kita yang mau memperhatikannya dan memetik pelajaran darinya?!! Ya Alloh, jauhkanlah kami dari fitnah.</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah <em>rahimahullah</em> melanjutkan, “Mengingkari kemungkaran memiliki empat tingkatan:</p>
<p><em>Pertama:</em> Apabila kemungkaran tersebut hilang dan berganti sebaliknya</p>
<p><em>Kedua:</em> Apabila mengecil sekalipun tidak hilang seluruhnya</p>
<p><em>Ketiga:</em> Apabila berganti dengan kemungkaran semisalnya</p>
<p><em>Keempat:</em> Apabila berganti kepada yang lebih parah darinya</p>
<p>Tingkatan pertama dan kedua disyari’atkan, tingkatan ketiga perlu pertimbangan, dan tingkatan keempat hukumnya haram. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah—semoga Alloh menerangi kuburnya—berkata, ‘Pada zaman pasukan Tatar, aku bersama para kawanku pernah melewati orang-orang yang lagi asyik minum khamar. Seorang kawan mengingkari mereka namun aku menegurnya seraya kukatakan padanya: <em>Sesungguhnya Alloh mengharamkan khamr karena menghalangi manusia dari mengingat Alloh dan mengingat sholat, dan mereka apabila minum khamar maka mereka tidak membunuh, menawan anak-anak, dan merampok harta, jadi biarkan saja mereka</em>.’ ” <a title="" href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Kita berpindah kepada Syaikh Abdurrohman bin Nashir as-Sa’di <em>rahimahullah</em>, sebagaimana dimaklumi bersama bahwa beliau berpendapat haramnya rokok, bahkan beliau menulis risalah khusus tentang haramnya rokok.<a title="" href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p>Namun, ketika beliau pernah bepergian jauh dengan mobil yang sopirnya adalah perokok, maka beliau memberikan kesempatan waktu istirahat untuk merokok. Ketika ditanya tentang hal itu, beliau menjawab, “Para sopir itu adalah pecandu rokok. Bila mereka tidak merokok, maka kepala mereka akan pusing dan mungkin bisa ngawur nyopirnya sehingga membahayakan penumpang.” <a title="" href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p>Demikian juga, suatu saat ada penjual kayu bakar pernah menaruh kayu bakar di rumah beliau dan bungkus rokoknya tertinggal, maka Syaikh as-Sa’di memanggil dan mengembalikan rokoknya. Ketika penjual tadi menanyakan mengapa beliau mengembalikannya padahal itu adalah rokok, beliau menjawab, “Karena jika kamu kehilangan rokok ini, nanti kamu akan membeli baru lagi sebagai penggantinya dengan menggunakan uang hasil jual kayu tadi, padahal itu sebenarnya adalah jatah untuk makan keluargamu.” Akhirnya penjual itu mengambil rokok tersebut kemudian membuangnya seraya mengatakan, “Ya Alloh, sekarang saya bertaubat dari rokok dan tidak akan mengisapnya lagi.” <a title="" href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Demikianlah ketajaman ilmu para ulama yang mengetahui fiqih metode mengingkari kemungkaran. Semoga Alloh merahmati mereka semua dan menjadikan kita seperti mereka.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Sehubungan dengan masalah yang menghangat sekarang ini di publik dan media seiring dengan sering terjadinya tindakan kekerasan karena perbedaan paham agama, maka kami menasihatkan:</p>
<ol>
<li>Kepada pemerintah dan jajarannya untuk bertindak tegas terhadap aliran-aliran yang telah terbukti sesat dan menyesatkan serta menodai agama Islam seperti kelompok Ahmadiyah, sebab kekurangtegasan pemerintah dalam menyikapi masalah ini terkadang menjadi faktor utama terjadinya kerusuhan. Kewajiban ulama hanyalah menjelaskan dan menasihati, sedangkan pembubaran maka itu bukanlah wewenang mereka. Sungguh merupakan kesalahan, opini sebagian kalangan bahwa terjadinya kerusuhan tersebut adalah disebabkan fatwa MUI tentang kafirnya Ahmadiyah. Ini sama sekali tidak benar, sebab fatwa tersebut adalah benar, tetapi yang salah adalah tindakan anarkis sebagian masyarakat yang itu tidak diinginkan sama sekali oleh MUI. Jadi, jangan dicampuradukkan antara keduanya.</li>
<li>Kepada masyarakat untuk tidak main hakim sendiri-sendiri, tetapi hendaknya mereka menyerahkan hukum untuk ditangani oleh pemerintah yang berwenang sehingga tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Semoga Alloh memberikan taufik kepada kita semua untuk tetap tegar di atas agama-Nya. Amin.</li>
</ol>
<div>Penulis: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi<br />
Artikel <a href="http://www.abiubaidah.com" target="_blank">www.abiubaidah.com</a><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a>      Diriwayatkan oleh ath-Thobaroni dalam <em>al-Mu’jam al-Kabir</em>: 1647 dengan sanad yang shohih. Lihat <em>ash-Shohihah</em> kar. al-Albani: 1803.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a>      HR. al-Bukhori: 219 dan Muslim: 284.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a>      Lihat risalah <em>Hadits Baulil A’robi Waqofat wa Ta’ammulat</em> kar. Dr. Falih bin Muhammad ash-Shughoir.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a><em>      Syarh Shohih Muslim</em> kar. an-Nawawi: 1/191. Lihat pula risalah <em>Hadits Baulil A’robi Waqofat wa Ta’ammulat</em> kar. Dr. Falih bin Muhammad ash-Shughoir.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a><em>      Asy-Syari’ah</em> kar. al-Ajurri: 1/145</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a><em>      Al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ’anil Munkar</em> hlm. 19</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a><em>      Adab Tholab wa Muntaha Arob</em> kar. asy-Syaukani hlm. 159</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a>      Termasuk dalam hal ini adalah aksi-aksi demonstrasi untuk menumbangkan pemimpin yang marak akhir-akhir ini. Sejarah menjadi saksi bahwa tidaklah hal itu membawa kebaikan tetapi justru memperburuk keadaan. Hanya kepada Alloh kita memohon agar melindungi kita semua dari kejahatan fitnah.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a><em>      I’lamul Muwaqqi’in</em> (tahqiq Syaikh Masyhur bin Hasan Salman): 4/338–339</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a><em>   Ibid</em>.: 4/339–340</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref11">[11]</a>   Judul bukunya <em>Hukmu Syurbi Dukhon</em> sebagaimana tercantum dalam <em>Majmu’ah Mu&#8217;allafat Syaikh as-Sa’di</em>: 7/479–489.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref12">[12]</a><em>   Mawaqif Ijtima’iyyah min Hayati Syaikh Abdurrohman bin Nashir as-Sa’di</em> hlm. 135–136</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref13">[13]</a><em>   Ibid</em>. hlm. 69</p>
</div>
</div>
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://abiubaidah.com/kemungkaran-kemungkaran-dalam-perayaan-maulid-nabi.html/' rel='bookmark' title='Kemungkaran-Kemungkaran Dalam Perayaan Maulid Nabi'>Kemungkaran-Kemungkaran Dalam Perayaan Maulid Nabi</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/kita-tidak-mungkin-bersatu-dengan-allah.html/' rel='bookmark' title='Kita Tidak Mungkin Bersatu dengan Allah !!!'>Kita Tidak Mungkin Bersatu dengan Allah !!!</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/profesi-pengacara-mengapa-tidak.html/' rel='bookmark' title='PROFESI PENGACARA  MENGAPA TIDAK?'>PROFESI PENGACARA  MENGAPA TIDAK?</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/cara-mengingkari-kemungkaran.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 1.441 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2012-05-18 14:37:08 -->

