<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi</title>
	<atom:link href="http://abiubaidah.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abiubaidah.com</link>
	<description>Membela Agama dengan Ilmu dan Hujjah</description>
	<lastBuildDate>Wed, 01 Feb 2012 02:21:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Fiqih Penyakit &#8220;AIDS&#8221;</title>
		<link>http://abiubaidah.com/fiqih-penyakit-aids.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/fiqih-penyakit-aids.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 02:15:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikih Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=1021</guid>
		<description><![CDATA[FIQIH PENYAKIT “AIDS&#8221; DALAM SYARI’AT ISLAM   Judul kitab       : Ahkamu Marodhil al-Aids fil Fiqhil Islami Penulis             : Dr. Rasyid Mufarrih asy-Syahri Penerbit           : Maktabah al-Muzaini, Saudi Arabia Cetakan           : Cetakan pertama/Shofar 1417 H   Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember diperingati untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS di seluruh dunia yang [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://abiubaidah.com/telaah-penyakit-menular.html/' rel='bookmark' title='PENYAKIT MENULAR: ANTARA  ILMU HADITS DAN ILMU MEDIS'>PENYAKIT MENULAR: ANTARA  ILMU HADITS DAN ILMU MEDIS</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/draft-artikel-fiqih-kontemporer.html/' rel='bookmark' title='DRAFT ARTIKEL FIQIH KONTEMPORER'>DRAFT ARTIKEL FIQIH KONTEMPORER</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;" align="center"><span style="color: #000000;"><strong>FIQIH PENYAKIT “AIDS&#8221; DALAM SYARI’AT ISLAM</strong></span></p>
<p style="text-align: left;"><span style="color: #000000;"><strong> </strong></span></p>
<p style="text-align: left;"><span style="color: #000000;">Judul kitab       : <em>Ahkamu Marodhil al-Aids fil Fiqhil Islami</em></span></p>
<p style="text-align: left;"><span style="color: #000000;">Penulis             : Dr. Rasyid Mufarrih asy-Syahri</span></p>
<p style="text-align: left;"><span style="color: #000000;">Penerbit           : Maktabah al-Muzaini, Saudi Arabia</span></p>
<p style="text-align: left;"><span style="color: #000000;">Cetakan           : Cetakan pertama/Shofar 1417 H</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #000000;"> <span id="more-1021"></span></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada tanggal <a title="1 Desember" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1_Desember"><span style="color: #000000;">1 Desember</span></a> diperingati untuk menumbuhkan kesadaran terhadap <a title="Wabah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wabah"><span style="color: #000000;">wabah</span></a> <a title="AIDS" href="http://id.wikipedia.org/wiki/AIDS"><span style="color: #000000;">AIDS</span></a> di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus <a title="HIV" href="http://id.wikipedia.org/wiki/HIV"><span style="color: #000000;">HIV</span></a>. Semua kalangan menyatakan protes dan murka akan penyakit kronis yang hingga kini belum ditemukan obat yang bisa menanggulanginya secara tuntas.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Penyakit berbahaya yang telah menjadi ‘hantu’ bagi dunia ini telah melanda banyak anak manusia. Oleh karenanya, diperlukan penjelasan tentang hukum-hukum agama seputar penyakit Aids dan info yang komplit akan bahayanya agar diwaspadai oleh manusia.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Nah, buku yang kini menjadi bahasan utama kita sekarang ini sangat unik pembahasannya dan perlu untuk dikaji dan disebarkan hasilnya, lantaran penulisnya telah mengumpulkan data-data akurat tentang penyakit Aids dalam pandangan sudut agama Islam, suatu kajian yang menunjukkan kepada kita akan kesempurnaan dan keindahan agama Islam.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Buku yang tercetak dengan dua jilid ini merupakan hasil kajian penulisnya yang nota bene seorang hakim di Thoif  dan merupakan tesis untuk meraih meraih gelar doktor dari Jami’ah Muhammad bin Su’ud, Riyadh Saudi Arabia.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Buku yang mendapat pengantar dari Mufti kerajaan Saudi Arabia, Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh ini terususun dari lima bab dan pembukaan;</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Pada pembukaan, sang penulis menjelaskan secara terperinci tentang definisi Aids dan bahayanya bagi pribadi dan masyarakat.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Pada bab kedua, penulis berbicara tentang pengaruh Aids dalam hukum-hukum mu’amalat seperti wakaf, wasiat dan sebagainya.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Pada bab ketiga, beliau memaparkan secara panjang lebar tentang fiqih Aids dalam masalah pernikahan, semenjak tes kesehatan, hubungan suami istri, kehamilan, aborsi, menyusui dan perceraian.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Pada bab keempat, penulis membahas hubungan Aids dengan masalah kriminal, hukum pidana dan bagaimana hukum menularkan penyakit Aids kepada orang lain.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Lalu penulis menutup dengan bab kelima dengan membahas tanggung jawab para dokter tentang penyakit aids, seraya menutup dengan kesimpulan-kesimpulan, daftar referensi dan daftar isi, sehingga jumlah halaman buku ini menembus 968 dan tercetak sebanyak dua jilid.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Akhirnya, selamat mengambil faedah dari buku ini dan menyebarkannya kepada orang lain. <a title="" href="#_ftn1"><span style="color: #000000;">[1]</span></a></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color: #000000;">Artikel <a href="http://www.AbiUbaidah.com" target="_blank"><span style="color: #000000;">www.AbiUbaidah.com</span></a></span></p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><span style="color: #000000;"><a title="" href="#_ftnref1"><span style="color: #000000;">[1]</span></a> Diterjemahkan oleh Abu Ubaidah as-Sidawi dari http://www.alsaha.com/users/DrMohammadalharthy/entries/255217.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
</div>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://abiubaidah.com/telaah-penyakit-menular.html/' rel='bookmark' title='PENYAKIT MENULAR: ANTARA  ILMU HADITS DAN ILMU MEDIS'>PENYAKIT MENULAR: ANTARA  ILMU HADITS DAN ILMU MEDIS</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/draft-artikel-fiqih-kontemporer.html/' rel='bookmark' title='DRAFT ARTIKEL FIQIH KONTEMPORER'>DRAFT ARTIKEL FIQIH KONTEMPORER</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/fiqih-penyakit-aids.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gempa Bumi dan Tsunami</title>
		<link>http://abiubaidah.com/bimbingan-islami-saat-gempa-bumi-dan-tsunami.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/bimbingan-islami-saat-gempa-bumi-dan-tsunami.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jan 2012 02:32:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin5</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah dan Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=858</guid>
		<description><![CDATA[Pada tahun tahun yang lalu, kita dikejutkan oleh bencana alam berupa gempa bumi disertai tsunami. Peristiwa dahsyat tersebut menyapu bangunan rumah, memakan korban jiwa, menjadikan manusia terluka-luka, dan menghancurkan harta dan sarana hidup manusia. Sungguh, ini adalah sebuah peristiwa besar yang seharusnya bagi kita untuk mengambil pelajaran darinya sehingga mempertebal keimanan kita dan memompa semangat [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada tahun tahun yang lalu, kita dikejutkan oleh bencana alam berupa gempa bumi disertai tsunami. Peristiwa dahsyat tersebut menyapu bangunan rumah, memakan korban jiwa, menjadikan manusia terluka-luka, dan menghancurkan harta dan sarana hidup manusia.</p>
<p>Sungguh, ini adalah sebuah peristiwa besar yang seharusnya bagi kita untuk mengambil pelajaran darinya sehingga mempertebal keimanan kita dan memompa semangat kita untuk menambah bekal amal sholih untuk menghadap Alloh. Pada kesempatan kali, izinkanlah kepada kami untuk membahas masalah gempa bumi ditinjau dari sudut agama Islam<a id="ref1" href="#1">[1]</a> dan berbagai masalah hukum fiqih yang berkaitan dengannya. Semoga bermanfaat.</p>
<p><strong> <strong><span style="font-size: medium;">Definisi Gempa</span></strong> </strong></p>
<p>Gempa bumi adalah goncangan besar dan keributan yang sangat. Alloh berfirman:</p>
<p dir="RTL" align="RIGHT"><a name="99_1"></a><a name="sign_99_1"></a> <span style="font-family: me_quran,serif;"><span style="font-size: medium;">إِذَا زُلْزِلَتِ ٱلْأَرْضُ زِلْزَالَهَا ﴿١﴾</span></span></p>
<blockquote><p>&#8220;<em>Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat)</em>,&#8221; (QS. az-Zalzalah [99]: 1)<a id="ref1" href="#1">[2]</a><sup><a name="sdfootnote2anc" href="#sdfootnote2sym"></a></sup></p></blockquote>
<p>Imam al-Baghowi <em>rahimahullah</em> berkata, “Gempa adalah goncangan dahsyat yang menakutkan.”<a id="ref1" href="#1">[3]</a><span id="more-858"></span></p>
<p><strong> <strong><span style="font-size: medium;">Gempa dan Tsunami Dalam Catatan Sejarah</span></strong> </strong></p>
<p>Barang siapa yang menelaah sejarah, niscaya akan mengetahui bahwa peristiwa bencana gempa bumi dan tsunami tidak hanya ada pada zaman sekarang, namun telah ada semenjak dahulu kala sebagaimana dipaparkan secara detail tempat dan tanggal kejadiannya oleh Imam Ibnul Jauzi dalam <em>al-Mudhisy</em> dan as-Suyuthi dalam <em>Kasyfu Sholsholah ’An Wasfi Zalzalah</em>. Setiap peristiwa bersejarah tersebut memuat hikmah dan pelajaran bagi setiap orang yang berakal. Tidak mungkin kami sebutkan semua peristiwa tersebut, namun cukuplah kita merenungi salah satu kisah tsunami berikut:</p>
<p>Jumadil Ula, 460 H. Bumi membelah, memuntahkan isi perutnya. Guncangannya dirasakan hingga di kota Rohbah dan Kufah. Air laut menyusut sejauh jarak perjalanan satu hari, terserap oleh bumi hingga terlihatlah permukaan bumi dasar laut yang bertabur permata dan berbagai bentuk batu unik lainnya. Orang-orang pun berhamburan untuk memungut setiap batu unik yang tampak. Tanpa diduga, ternyata tiba-tiba air laut kembali pasang dan menyapu mereka hingga sebagian besar mereka tergulung dan meninggal dunia.<a id="ref1" href="#1">[4]</a><strong></strong><sup><a name="sdfootnote4anc" href="#sdfootnote4sym"></a></sup></p>
<p>Apakah yang dapat kita petik dari kisah di atas?! Salah satu di antaranya, agar kita tidak tertipu dengan dunia yang menipu!!</p>
<p>Di Indonesia sendiri, gempa bumi akhir-akhir ini sering terjadi. Berikut ini data tentang sebagian peristiwa gempa bumi yang populer di Indonesia:<sup><a id="ref1" href="#1">[5]</a><strong></strong></sup></p>
<table width="491" border="1" cellspacing="0" cellpadding="1">
<colgroup>
<col width="73" />
<col width="57" />
<col width="106" />
<col width="129" />
<col width="108" />
<col width="156" /> </colgroup>
<tbody>
<tr valign="TOP">
<th width="73">Tanggal</th>
<th width="57">Kekuatan</th>
<th width="106">Episentrum</th>
<th width="129">Area</th>
<th width="108">Tewas</th>
<th width="156">Keterangan</th>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td style="text-align: center;" width="73">26 Desember 2004</td>
<td style="text-align: center;" width="57">9.3</td>
<td style="text-align: center;" width="106">Samudra Hindia</td>
<td style="text-align: center;" width="129">Nanggroe Aceh Darussalam dan sebagian Sumatera Utara</td>
<td style="text-align: center;" width="108">131.028 tewas dan sekitar 37.000 orang hilang</td>
<td width="156"></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="73"></td>
<td width="57"></td>
<td width="106"></td>
<td width="129"></td>
<td width="108"></td>
<td width="156"></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td style="text-align: center;" width="73">27 Mei 2006</td>
<td style="text-align: center;" width="57">5.9</td>
<td style="text-align: center;" width="106">7.977°LS 110.318°BT<br />
Bantul, Yogyakarta</td>
<td style="text-align: center;" width="129">Daerah Istimewa Yogyakarta dan Klaten</td>
<td style="text-align: center;" width="108">6.234</td>
<td width="156"></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td style="text-align: center;" width="73">17 Juli 2006</td>
<td style="text-align: center;" width="57">7.7</td>
<td style="text-align: center;" width="106">9.334°LS 107.263°BT<br />
Samudra Hindia</td>
<td style="text-align: center;" width="129">Ciamis dan Cilacap</td>
<td style="text-align: center;" width="108">&gt;400</td>
<td width="156"></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td style="text-align: center;" width="73">12 September 2007</td>
<td style="text-align: center;" width="57">7.7</td>
<td style="text-align: center;" width="106">4.517°LS 101.382°BT</td>
<td style="text-align: center;" width="129">Kepulauan Mentawai</td>
<td style="text-align: center;" width="108">10</td>
<td width="156"></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td style="text-align: center;" width="73">2 September 2009</td>
<td style="text-align: center;" width="57">7.3</td>
<td style="text-align: center;" width="106">8.24°LS 107.32°BT</td>
<td style="text-align: center;" width="129">Tasikmalaya dan Cianjur</td>
<td style="text-align: center;" width="108">&gt;87</td>
<td width="156"></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td style="text-align: center;" width="73">30 September 2009</td>
<td style="text-align: center;" width="57">7.6</td>
<td style="text-align: center;" width="106">0.725°LS 99.856°BT</td>
<td style="text-align: center;" width="129">Padang Pariaman, Kota Pariaman, Kota Padang, dan Agam</td>
<td style="text-align: center;" width="108">1.115</td>
<td style="text-align: center;" width="156">135.299 rumah rusak berat, 65.306 rumah rusak sedang, dan 78.591 rumah rusak ringan</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="73"></td>
<td width="57"></td>
<td width="106"></td>
<td width="129"></td>
<td width="108"></td>
<td width="156"></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td style="text-align: center;" width="73">9 November 2009</td>
<td style="text-align: center;" width="57">6.7</td>
<td style="text-align: center;" width="106">8.24°LS 118.65°BT</td>
<td style="text-align: center;" width="129">Pulau Sumbawa</td>
<td style="text-align: center;" width="108">1</td>
<td style="text-align: center;" width="156">80 orang luka dan 282 rumah rusak berat.</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td style="text-align: center;" width="73">25 Oktober 2010</td>
<td style="text-align: center;" width="57">7.7</td>
<td style="text-align: center;" width="106">3.61°LS 99.93°BT</td>
<td style="text-align: center;" width="129">Sumatera Barat</td>
<td style="text-align: center;" width="108">408 orang tewas</td>
<td width="156"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;"><strong><span style="font-size: medium;">.</span></strong></p>
<p><strong><span style="font-size: medium;">Faktor Penyebab Gempa</span></strong></p>
<p>Seringkali kita membaca komentar para penulis dan ilmuwan di media pasca kejadian gempa bumi atau tsunami yang mengatakan bahwa faktor penyebab terjadinya gempa hanyalah karena faktor alam dan letak geografis daerah bencana yang dekat dengan laut. Namun, benarkah hanya sekadar itu sebagai faktor penyebab terjadinya gempa?! Tidakkah ada faktor lain yang lebih dominan daripada itu?!</p>
<p>Gempa pertama pada masa Islam terjadi pada zaman Umar bin Khoththob <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>. Simaklah ucapan Shofiyyah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em>:</p>
<blockquote><p>“Pernah terjadi gempa bumi di Madinah pada masa Umar <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> sehingga beberapa pagar roboh, lalu Umar berkhotbah: ‘Wahai penduduk Madinah, alangkah cepatnya kalian berubah. Demi Alloh, seandainya gempa terulang lagi maka saya akan keluar dari kalian (karena khawatir menimpa dirinya juga).’”<a id="ref1" href="#1">[6]</a></p></blockquote>
<p>Perhatikanlah alangkah cerdasnya pemahaman Khalifah Umar! Tatkala beliau mendapati peristiwa aneh yang belum pernah terjadi pada zaman Nabi <em>shallallahu &#8216;alayhi wasallam</em><sup> <a id="ref1" href="#1">[7]</a></sup>, maka beliau mengetahui bahwa umat ini telah berbuat suatu hal baru yang menjadikan Alloh mengubah keadaan bumi.<a id="ref1" href="#1">[8]</a></p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah <em>rahimahulloh</em> berkata,</p>
<blockquote><p>“Gempa termasuk tanda kekuasaan Alloh yang Alloh timpakan untuk menimbulkan ketakutan pada hamba-Nya, seperti halnya gerhana matahari atau bulan dan peristiwa-peristiwa dahsyat semisalnya. Kejadian-kejadian tersebut memiliki sebab dan hikmah. Salah satu hikmahnya adalah untuk menimbulkan ketakutan. Adapun faktor penyebabnya, di antaranya adalah meluapnya uap dalam bumi sebagaimana air dan angin yang meluap di tempat yang sempit. Kalau meluap, sejatinya tentu ingin cari tempat keluar sehingga bumi terpecah dan terjadi gempa di bumi sekitar. Adapun ucapan sebagian orang bahwa sebabnya adalah karena kerbau menggerakkan kepalanya sehingga menggerakkan bumi, maka ini adalah kejahilan yang sangat nyata.<sup><a id="ref1" href="#1">[9]</a>  </sup>Seandainya benar demikian, niscaya akan terjadi gempa pada seluruh bumi padahal tidak demikian perkaranya.”<a id="ref1" href="#1">[10]</a><sup><a name="sdfootnote10anc" href="#sdfootnote10sym"></a></sup></p></blockquote>
<p>Adapun penisbatan peristiwa ini kepada alam semata, maka itu termasuk kebodohan dan kelalaian yang jauh dari tuntunan agama. Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i <em>rahimahullah</em> telah membantah pemikiran ini secara panjang lebar dalam risalahnya yang berjudul <em>Idhohul Maqol Fi Asbabi Zilzal war Roddu ’Ala Malahidah Dzulal</em>. Di akhir kitab tersebut, beliau mengatakan,</p>
<blockquote><p>“Dari penjelasan yang lalu dapat disimpulkan bahwa gempa bumi bisa jadi cobaan dari Alloh dan bisa jadi peringatan dari Alloh karena dosa hamba.<a id="ref1" href="#1">[11]</a> Dan semua itu dengan takdir Alloh sebagaimana telah lalu dalilnya. <span style="text-decoration: underline;">Adapun orang yang mengatakan karena sebab alam jika maksudnya adalah dengan takdir Alloh dan karena sebab dosa maka tidak kontradiksi dengan dalil, <strong>namun bila mereka berkeyakinan hanya sekadar faktor alam semata maka ini sangat bertentangan dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits dan ini merupakan pemikiran yang menyimpang</strong></span>”.<a id="ref1" href="#1">[12]</a></p></blockquote>
<p>Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<blockquote><p>“Sesungguhnya kebanyakan manusia sekarang menganggap bahwa musibah yang menimpa mereka baik dalam bidang perekonomian, keamanan atau politik disebabkan karena faktor-faktor dunia semata. Tidak ragu lagi bahwa semua ini merupakan kedangkalan pemahaman mereka dan lemahnya iman mereka serta kelalaian mereka dari merenungi al-Qur&#8217;an dan sunnah Nabi <em>shallallahu &#8216;alayhi wasallam</em>. Sesungguhnya di balik musibah ini terdapat faktor penyebab syar’i yang lebih besar dari faktor-faktor duniawi. Alloh berfirman:</p></blockquote>
<p dir="RTL" align="RIGHT"><a name="30_40"></a><a name="sign_30_40"></a><a name="30_41"></a><a name="sign_30_41"></a> <span style="font-family: me_quran,serif;"><span style="font-size: medium;">ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ ﴿٤١﴾</span></span></p>
<blockquote><p>&#8220;Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Alloh merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).&#8221; (QS. ar-Rum [30]: 41).”<sup><a id="ref1" href="#1">[13]</a></sup></p></blockquote>
<p><strong><span style="font-size: medium;">Hikmah di Balik Gempa</span></strong></p>
<p>Segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini pasti ada hikmah yang terkandung di dalamnya. Oleh karenanya, hendaknya kita pandai-pandai untuk mengambil pelajaran dari peristiwa gempa bumi dan tsunami ini. Dahulu, orang bijak berkata:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-size: medium;"><strong><span style="font-family: Traditional Arabic,serif;">مَنْ كَانَ ذَا فِكْرَةْ فَفِيْ كُلِّ شَيْئٍ لَهُ عِبْرَةْ</span></strong><strong></strong></span></span></p>
<blockquote><p>“Barang siapa yang berotak cerdas, niscaya segala sesuatu adalah pelajaran baginya.”</p></blockquote>
<p>Lantas, bagaimana kiranya dengan peristiwa besar seperti ini?!! Ada beberapa hal yang dapat menjadi renungan dan pelajaran bagi kita, di antaranya:</p>
<ol>
<li>Peristiwa ini menjadikan seorang muslim semakin beriman dan yakin akan kekuasaan Alloh <em>subhanahu wata&#8217;ala</em>. Seorang muslim yakin bahwa Allohlah yang mengatur alam ini sesuai dengan kehendak-Nya, dan memutuskan apa yang Dia inginkan. Tidak ada seorang pun yang bisa menolak keputusan-Nya, sekalipun semua ilmuwan berkumpul untuk menghadangnya dengan alat-alat modern dan super canggih!!</li>
<li>Peristiwa ini dapat menumbuhkan rasa takut dalam jiwa hamba-hamba-Nya sehingga mereka memperbaiki diri dari segala dosa menuju jalan yang lurus. Al-Muhallab <em>rahimahullah</em> berkata, “Adanya gempa adalah peringatan dari Alloh kepada penduduk bumi ketika mereka terang-terangan dengan kemaksiatan.”<a id="ref1" href="#1">[14]</a></li>
<li>Peristiwa ini mengingatkan kita akan nikmat Alloh <em>subhaanahu wa ta&#8217;ala</em> berupa menetapnya bumi. Aduhai, jika bumi ini bergoncang dalam sekejap saja, telah memakan korban jiwa yang tak sedikit jumlahnya, lantas bagaimana kiranya jika bergoncang sehari penuh, atau berhari-hari, apa yang akan terjadi dengan manusia di permukaannya?!!</li>
<li>Peristiwa ini mengingatkan kita akan goncangan besar kelak di akhirat yang menjadikan seorang ibu yang sedang menyusui bayinya lalai dari bayinya dan wanita hamil keguguran<a id="ref1" href="#1">[15]</a>, semua itu karena sangat dahsyatnya. Dengan demikian kita akan segera bertaubat, bersemangat dalam amal sholih, dan tidak tertipu dengan dunia.<sup><a id="ref1" href="#1">[16]</a></sup></li>
</ol>
<p><span style="font-size: medium;"><strong><span style="font-size: medium;">Amalan-Amalan Ketika Terjadi Gempa</span></strong><strong></strong></span></p>
<p>Ketika gempa bumi menyapa, bila tsunami menghampiri manusia, ketika para korban berjatuhan meninggal dunia, ketika bangunan hancur berkeping-keping menjadi tanah, ketika para wanita menjadi janda dan anak-anak menjadi yatim tanpa orang tua … pada saat itu semua hendaknya kita semua lebih mendekatkan diri kepada Alloh, mengingat akhirat, segera bertaubat, bersemangat ibadah, dan tidak tertipu dengan dunia yang fana. Berikut ini beberapa amalan yang hendaknya dilakukan ketika gempa dan tsunami terjadi:</p>
<p><strong>1. Taubat kepada Alloh</strong></p>
<p>Sesungguhnya peristiwa ini akan membuahkan bertambahnya iman seorang mukmin, memperkuat hubungannya dengan Alloh <em>subhaanahu wa ta&#8217;aala</em>. Dia sadar bahwa musibah-musibah ini tidak lain dan tidak bukan adalah akibat dosa-dosa anak manusia berupa kesyirikan, kebid’ahan, dan kemaksiatan. Tidaklah terjadi suatu malapetaka melainkan karena dosa, dan malapetaka itu tidak akan dicabut oleh Alloh <em>subhaanahu wa ta&#8217;aala</em> kecuali dengan taubat.</p>
<p>Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah <em>rahimahullah</em> berkata, “<em>Kadang-kadang Alloh mengizinkan bumi bernapas sehingga mengakibatkan gempa dan tsunami yang dahsyat, sehingga hal itu menjadikan ketakutan kepada Alloh, kesedihan, taubat dan berserah diri kepada Alloh.</em>”<sup><a id="ref1" href="#1">[17]</a></sup></p>
<p><strong>2. Banyak berdzikir, do’a, dan istighfar kepada Alloh</strong></p>
<p>Imam Syafi’i <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Obat yang paling mujarab untuk mengobati bencana adalah memperbanyak tasbih.” Imam as-Suyuthi <em>rahimahullah</em> berkomentar, “Hal itu karena dzikir dapat mengangkat bencana dan adzab, sebagaimana firman Alloh:</p>
<p dir="RTL" align="RIGHT"><a name="37_142"></a><a name="sign_37_142"></a><a name="37_143"></a><a name="sign_37_143"></a><a name="37_144"></a><a name="sign_37_144"></a> <span style="font-family: me_quran,serif;"><span style="font-size: medium;">فَلَوْلَآ أَنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلْمُسَبِّحِينَ ﴿١٤٣﴾ لَلَبِثَ فِى بَطْنِهِۦٓ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ ﴿١٤٤﴾ </span></span></p>
<p>&#8220;<em>Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Alloh, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.&#8221;</em> (QS. ash-Shoffat [37]: 143–144)<a id="ref1" href="#1">[18]</a></p>
<p>Renungkanlah juga bersama saya firman Alloh:</p>
<p dir="RTL" align="RIGHT"><a name="8_32"></a><a name="sign_8_32"></a><a name="8_33"></a><a name="sign_8_33"></a> <span style="font-family: me_quran,serif;"><span style="font-size: medium;">وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ ﴿٣٣﴾</span></span></p>
<p>&#8220;<em>Dan Alloh sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Alloh akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun&#8221;</em> (QS. al-Anfal [8]: 33)</p>
<p>Ayat mulia ini menunjukkan bahwa ada dua hal yang dapat melindungi manusia dari adzab. <em>Pertama</em>, adanya Nabi Muhammad <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> di tengah-tengah manusia dan ini bersifat sementara. <em>Kedua</em>, istighfar dan meninggalkan segala dosa dan ini bersifat seterusnya sekalipun Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> telah meninggal dunia.<sup><a id="ref1" href="#1">[19]</a></sup></p>
<p><strong>3. Membantu para korban bencana</strong></p>
<p>Saudaraku, bila kita sekarang dalam kenikmatan dan kesenangan, kita bisa makan, minum, dan memiliki rumah, maka ingatlah saudara-saudaramu yang terkena bencana. Saat ini mereka sedang kesusahan dan kesulitan. Maka ulurkanlah tanganmu untuk membantu mereka semampu mungkin. Rosululloh <em>shallallahu &#8216;alayhi wasallam</em>bersabda:</p>
<p dir="RTL" align="RIGHT"><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-size: medium;"><strong>مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ</strong></span></span></p>
<p>“<em>Barang siapa yang membantu menghilangkan kesusahan seorang mukmin di dunia, maka Alloh akan menghilangkan kesusahan darinya besok di hari kiamat.</em>” (HR. Muslim (2699))</p>
<p>Terlebih lagi orang kaya, pengusaha, pemerintah, dan bangsawan, hendaknya mereka mengeluarkan hartanya untuk membantu para korban. Dahulu, tatkala terjadi gempa pada masa Kholifah Umar bin Abdul Aziz <em>rahimahullah</em>, beliau menulis surat kepada para gubernurnya untuk bershodaqoh dan memerintah rakyat untuk bershodaqoh.<sup><a id="ref1" href="#1">[20]</a><a name="sdfootnote20anc" href="#sdfootnote20sym"></a></sup></p>
<p>Dan hendaknya para relawan saling membantu dan saling melengkapi antar sesama sehingga terwujudlah apa yang menjadi tujuan mereka<a id="ref1" href="#1">[21]</a>, jangan sampai ada terjadi pertengkaran atau perasaan bahwa dia adalah orang yang paling pantas dibanding lainnya.</p>
<p><strong>4.</strong> <strong>Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar</strong></p>
<p>Sebagaimana tadi kita sebutkan bahwa termasuk faktor terjadinya gempa adalah dosa umat manusia maka hendaknya hal itu dihilangkan, salah satu caranya dengan menegakkan dakwah, saling menasihati, dan amar ma’ruf nahi munkar sehingga mengecillah kemungkaran. Adapun bila kita acuh tak acuh dan mendiamkan kemungkaran maka tak ayal lagi bencana tersebut akan kembali menimpa kita.</p>
<p dir="RTL" align="RIGHT"><a name="5_78"></a><a name="sign_5_77"></a><a name="5_77"></a><a name="sign_5_78"></a><a name="5_79"></a><a name="sign_5_79"></a> <span style="font-family: me_quran,serif;"><span style="font-size: medium;">لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنۢ بَنِىٓ إِسْرَ‌ٰٓءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَ‌ٰلِكَ بِمَا عَصَوا۟ وَّكَانُوا۟ يَعْتَدُونَ ﴿٧٨﴾ كَانُوا۟ لَا يَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍۢ فَعَلُوهُ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا۟ يَفْعَلُونَ ﴿٧٩﴾</span></span></p>
<p>Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. (QS. al-Ma&#8217;idah [5]: 78–79)</p>
<p><strong><span style="font-size: medium;"><strong><span style="font-size: large;">Jangan Menambah Bencana di Atas Bencana </span></strong></span> </strong></p>
<p>Sebagian orang bertindak konyol, ingin menolak bala dari mereka, tetapi alih-alih bala tersebut berkurang, justru semakin parah dan bertambah. Sebabnya tidak lain banyak sekali amalan tolak bala yang bertentangan dengan agama. Di antara amalan yang perlu kami ingatkan di sini adalah:</p>
<p>Ini adalah adat jahiliah yang masih bercokol pada tubuh sebagian kaum muslimin. Ketika terkena bencana, mereka mengirimkan sesajen dan tumbal dengan harapan dapat menolak bala, namun anehnya hal itu justru memperparah bencana. Penulis jadi teringat kisah sebagian kawan bahwa ketika ada musibah lumpur panas Lapindo, beberapa orang mengirim tumbal kerbau yang dicelupkan hidup-hidup ke lumpur panas! Namun, kenyataannya sampai sekarang pun penyelesaian tak kunjung datang, bahkan semakin parah dan bertambah.</p>
<p><strong>1. Kirim tumbal dan sesajen</strong></p>
<p>Adat kirim tumbal dan sesajen bukanlah dari ajaran Islam. Justru Islam telah membatalkan hal ini. Alangkah menariknya apa yang dikisahkan oleh Imam Ibnu Katsir bahwa pada suatu saat, Sungai Nil di Mesir pernah kering tidak mengalirkan air. Maka penduduk Mesir mendatangi Amr bin Ash <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> seraya mengatakan,“Wahai Amir (Gubernur), Sungai Nil kita ini memiliki suatu musim untuk tidak mengalir kecuali dengan tumbal.” Amr bertanya, “Tumbal apakah itu?” Mereka menjawab, “Pada tanggal 12 di bulan seperti ini, biasanya kami mencari gadis perawan, lalu kita merayu orang tuanya dan memberinya perhiasan dan pakaian yang mewah, kemudian kita lemparkan dia ke Sungai Nil ini.” Mendengar hal itu, Amr mengatakan kepada mereka, “<span style="text-decoration: underline;">Ini tidak boleh dalam agama Islam. Islam telah menghapus keyakinan tersebut</span>.”</p>
<p>Beberapa bulan mereka menunggu, tetapi Sungai Nil tetap tidak mengalir sehingga hampir saja penduduk setempat nekad memberikan tumbal. Maka Amr menulis surat kepada Umar bin Khoththob <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> tentang masalah tersebut, lalu beliau menjawab, “Sikapmu sudah benar. Dan bersama ini saya kirimkan secarik kertas dalam suratku ini untuk kamu lemparkan ke sungai Nil.” Tatkala surat itu sampai, maka Amr mengambilnya, ternyata isi surat tersebut sebagai berikut:</p>
<blockquote><p>Dari hamba Alloh, Umar Amirul Mukminin kepada Nil, sungai penduduk Mesir. Amma ba’du. Bila kamu mengalir karena perintahmu sendiri maka kamu tidak perlu mengalir karena kami tidak butuh kepadamu, tetapi kalau kamu mengalir karena Alloh yang mengalirkanmu maka kami berdo’a agar Alloh mengalirkanmu.</p></blockquote>
<p>Setelah surat Umar <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> tadi dilemparkan ke Sungai Nil, dalam semalam saja Alloh telah mengalirkan Sungai Nil sehingga berketinggian enam belas hasta!!”<sup><a id="ref1" href="#1">[22]</a><a name="sdfootnote22anc" href="#sdfootnote22sym"></a></sup></p>
<p><strong>2. Undangan do’a bersama</strong></p>
<p>Sebagian orang melakukan ritual ibadah do’a bersama-sama untuk tolak bala dengan analogi seperti sholat <em>istisqo</em>&#8216; (minta hujan) yang jelas disyari’atkan dalam Islam. Namun, apakah hal ini dibenarkan?</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolani <em>rahimahulloh</em> mengatakan, “Pada asalnya, do’a untuk menghilangkan wabah tidaklah terlarang. Namun, <span style="text-decoration: underline;">berkumpul untuk berdo’a bersama seperti pada sholat <em>istisqo</em>&#8216; maka ini termasuk bid’ah (perkara baru) dalam agama.</span></p>
<p>Pada zaman sekarang, wabah<em> tho’un</em> pertama kali muncul di Kairo pada 27 Rabi’ul Akhir tahun 833 H, korban yang meninggal tidak lebih dari empat puluh orang. Kemudian mereka keluar ke tanah lapang pada 4 Jumadil Ula setelah dianjurkan untuk puasa seperti dalam <em>istisqo</em>&#8216;, mereka berkumpul dan berdo&#8217;a bersama lalu pulang. Belum selesai bulan Jumadil Ula, ternyata justru korban semakin banyak sehingga setiap hari korban yang mati lebih dari seribu.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Seandainya hal itu disyari’atkan, tentu tidaklah samar bagi salaf dan bagi para ulama sepanjang zaman, sedangkan tidak dinukil dari mereka hadits atau atsar satu pun.</span>”<a id="ref1" href="#1">[23]</a></p>
<p>Al-Hafizh as-Suyuthi <em>rahimahulloh</em> juga menguatkan tidak bolehnya. Kata beliau, “Hal itu tidak ada dalilnya yang shohih dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alayhi wasallam</em>.” Lanjutnya lagi, “Bencana seperti itu terjadi pada masa Imam <em>Huda</em> Umar bin Khoththob, sedangkan para sahabat saat itu masih banyak, <span style="text-decoration: underline;">namun tidak dinukil dari seorang pun dari mereka yang melakukan ritual (do’a bersama) tersebut</span>.”<a id="ref1" href="#1">[24]</a></p>
<p><strong> <span style="font-size: medium;"><strong><span style="font-size: medium;">Masalah-Masalah Seputar Gempa Bumi </span></strong></span> </strong></p>
<p>Ada beberapa masalah yang berkaitan dengan gempa yang kami pandang perlu untuk dikupas di sini agar kita memiliki ilmu tentangnya:</p>
<p><strong>1. Sholat ketika gempa</strong></p>
<p>Ketika terjadi gempa bumi, tsunami, atau bencana besar lainnya, apakah disyari’atkan kita melakukan sholat?! Masalah ini diperselisihkan oleh para ulama.</p>
<p>Imam Ibnul Mundzir <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Para ulama berselisih pendapat tentang sholat ketika gempa dan bencana besar sejenisnya.</p>
<ul>
<ul>
<li>Sebagian ulama berpendapat, hendaknya sholat sebagaimana sholat gerhana matahari atau bulan, sebab Nabi <em>shallallahu &#8216;alayhi wasallam</em> mengatakan, ‘<em>Sesungguhnya matahari dan bulan termasuk tanda-tanda kekuasaan Alloh.</em>’ Demikian juga dengan gempa bumi dan bencana serupa termasuk tanda-tanda kekuasaan Alloh. Kami telah meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> pernah sholat pada saat terjadi gempa di kota Bashroh.<a id="ref1" href="#1">[25]</a> Dan ini merupakan pendapat Ahmad, Ishaq, dan Abu Tsaur.</li>
<li>Imam Malik tidak berpendapat demikian (tidak disyari’atkan sholat).</li>
<li>Sebagian ulama berpendapat bahwa sholat disyari’atkan secara <strong>sendirian</strong>.”<sup><a id="ref1" href="#1">[26]</a></sup></li>
</ul>
</ul>
<p>Pendapat yang kuat adalah bahwa disyari’atkan sholat karena gempa dan semisalnya secara sendirian berdasarkan perbuatan Ibnu Abbas <em>radhiyallahu &#8216;anhuma</em> dan Hudzaifah bin Yaman <em>radhiyallahu &#8216;anhu </em><sup><a id="ref1" href="#1">[27]</a><a name="sdfootnote27anc" href="#sdfootnote27sym"></a></sup> serta agar dia tidak termasuk orang yang lalai.<a id="ref1" href="#1">[28]</a> Inilah yang dikuatkan al-’Ajluni ketika mengatakan, “Ketahuilah bahwa menurut kami disunnahkan sholat dua roka’at ketika gempa dan semisalnya<sup><a id="ref1" href="#1">[29]</a></sup> seperti sholat sunnah sebelum shubuh, tetapi secara sendirian menurut pendapat yang kuat dalam pandangan kami.” Lalu beliau melanjutkan, “Apabila gempa telah berhenti dan dia belum sholat maka tidak perlu diqodho&#8217; sebab ia termasuk sholat yang memiliki sebab yang luput jika sebabnya sudah tidak ada seperti sholat gerhana apabila gerhana sudah berhenti.”<sup><a id="ref1" href="#1">[30]</a></sup> <em>Wallohu A’lam</em>.</p>
<p><strong>2. Sholat Ghoib</strong></p>
<p>Sebagian orang tatkala mendengar adanya korban dalam bencana gempa, mereka melakukan sholat ghoib. Apakah disyari’atkan melakukan sholat ghoib untuk para korban bencana? Masalah ini diperselisihkan oleh para ulama dalam beberapa pendapat:</p>
<ul>
<li>Sholat ghoib tidak disyari’atkan secara mutlak, karena sholat ghoib yang dilakukan oleh Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> adalah khusus untuk beliau. Ini madzhab Abu Hanifah, Malik, dan sebuah riwayat dari Ahmad.</li>
<li>Sholat ghoib disyari’atkan secara mutlak, dengan dalil sholatnya Nabi <em>shallallahu &#8216;alayhi wasallam</em> pada Najasyi. Ini madzhab Syafi’i dan pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad.</li>
<li>Tidak disyari’atkan kecuali pada orang yang memiliki jasa besar.</li>
<li>Tidak disyari’atkan kecuali apabila mayit diketahui belum ada yang mensholatinya. Pendapat inilah yang paling kuat, karena banyak para sahabat Nabi <em>shallallahu &#8216;alayhi wasallam</em> yang meninggal dunia pada zaman beliau tetapi tidak dinukil bahwa beliau mensholati mereka.<a id="ref1" href="#1">[31]</a></li>
</ul>
<p><strong>3. Qunut Nazilah</strong></p>
<p>Apakah disyari’atkan bagi kaum muslimin untuk melakukan qunut nazilah karena bencana gempa bumi? Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> mengutarakan masalah ini dan menjawabnya. Kata beliau, “Apabila kaum tertimpa suatu bencan yang tidak ada kaitannya dengan anak Adam seperti wabah, tsunami, gempa bumi, apakah seseorang hendaknya melakukan qunut atau tidak? Jawabannya: Tidak qunut, sebab bencana seperti ini sering menimpa pada zaman Nabi namun beliau tidak melakukan qunut. <span style="font-size: medium;"><strong><span style="color: #ff0000;"><span style="font-size: small;">Dan setiap hal yang faktor penyebabnya sudah ada pada zaman Nabi tetapi beliau tidak melakukannya padahal tidak ada yang menghalanginya maka itu </span></span></strong><strong><span style="color: #c5000b;"><span style="font-size: small;"><span style="text-decoration: underline;">tidak disyari’atkan</span></span></span></strong></span><strong>.</strong> Ini adalah kaidah berharga<a id="ref1" href="#1">[32]</a> yang hendaknya seseorang menggigitnya dengan gigi geraham karena sangat berfaedah.”<sup><a id="ref1" href="#1">[33]</a><a name="sdfootnote33anc" href="#sdfootnote33sym"></a></sup></p>
<p><strong>4. Tata cara penguburan</strong></p>
<p>Bencana gempa bumi dan tsunami menelan korban yang sangat banyak sehingga menimbulkan keadaan darurat yang menyulitkan pengurusan jenazah untuk dilakukan sebagaimana ketentuan syari’at Islam dalam kondisi normal. Bagaimana pengurusan jenazah apabila kondisi darurat seperti itu?! Masalah ini telah dipelajari oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan mereka telah mengeluarkan fatwa tentang masalah ini. Berikut kami kutip fatwa mereka:</p>
<p><em>Pertama</em><strong>:</strong></p>
<p>Pada dasarnya, dalam keadaan normal, mayat wajib <em>dimandikan</em>, <em>dikafani</em>, <em>dishalatkan</em>, dan <em>dikuburkan</em>, menurut tata cara yang telah ditentukan menurut syari’at Islam.</p>
<p><em>Kedua</em><strong>:</strong></p>
<p>Dalam keadaan darurat di mana pengurusan (penanganan) jenazah tidak mungkin memenuhi ketentuan syari’at seperti di atas, maka pengurusan jenazah dilakukan sebagai berikut:</p>
<p>1. <span style="text-decoration: underline;">Memandikan dan mengkafani</span></p>
<p>a. Jenazah <em>boleh</em> tidak dimandikan; tetapi, apabila memungkinkan sebaiknya diguyur sebelum penguburan.</p>
<p>b. Pakaian yang melekat pada mayat atau kantong mayat dapat menjadi kafan bagi jenazah yang bersangkutan walaupun terkena najis.</p>
<p>2. <span style="text-decoration: underline;">Menshalatkan</span></p>
<p>Mayat boleh dishalati sesudah dikuburkan walaupun dari jarak jauh (<em>shalat ghaib</em>), dan boleh juga tidak dishalati menurut <em>qaul mu’tamad</em> (pendapat yang kuat).</p>
<p>3. <span style="text-decoration: underline;">Menguburkan jenazah</span></p>
<p>a. Jenazah korban wajib segera dikuburkan.</p>
<p>b. Jenazah boleh dikuburkan secara massal dalam jumlah yang tidak terbatas, baik dalam satu atau beberapa liang kubur <a id="ref1" href="#1">[34]</a>, dan tidak harus dihadapkan ke arah kiblat.</p>
<p>c. Penguburan secara massal tersebut boleh dilakukan tanpa memisahkan jenazah laki-laki dan perempuan; juga antara muslim dan non-muslim.</p>
<p>d. Jenazah boleh langsung dikuburkan di tempat jenazah ditemukan.<sup><a id="ref1" href="#1">[35]</a></sup></p>
<p>4. <span style="text-decoration: underline;">Barang peninggalan korban bencana</span></p>
<p>Ketika bencana menimpa, ada beberapa barang milik korban yang tertinggal, bagaimana tentang status harta tersebut?</p>
<p>Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi <em>rahimahullah</em> pernah ditanya tentang hal ini, apa hukum memungut barang-barang kecil maupun besar yang ditinggalkan oleh pemiliknya atau pemiliknya mati? Beliau menjawab, “Barang-barang itu dikumpulkan dan diserahkan kepada suatu kelompok yang tugasnya menjaga barang-barang tersebut. Lalu mengumumkan kepada yang masih hidup dari penduduk tersebut. Orang yang mengenali barangnya boleh mengambilnya. Ini lebih selamat baginya. Adapun bila barang tersebut tidak diketahui pemiliknya maka hukumnya adalah hukum barang temuan yang belum diketahui pemiliknya. Bisa saja barang tersebut untuk penemunya, bila si penemu itu orang yang berada tersebut maka barang temuan tersebut dijual kemudian dipakai oleh yayasan sosial untuk menanggung anak yatim dan janda-janda di negeri itu maka ini lebih baik.”<sup><a id="ref1" href="#1">[36]</a></sup></p>
<p><strong> <span style="font-size: medium;"><strong><span style="font-size: medium;">Bolehkah lari dari bencana gempa? </span></strong></span> </strong></p>
<p>Boleh bahkan dianjurkan keluar untuk menyelamatkan diri dari bencana gempa bumi dan semisalnya. Hal ini bukanlah sama sekali lari dari takdir, justru ini lari dari takdir menuju takdir, sebab iman kepada takdir bukan berarti kita tidak mengambil sebab. Demikian juga boleh keluar ke negeri lain kecuali dari wabah <em>tho’un</em> maka tidak boleh menurut pendapat yang kuat sebagaimana orang luar tidak boleh masuk ke wilayah yang kena wabah tho’un.<sup><a id="ref1" href="#1">[37]</a></sup></p>
<p>Demikian apa yang bisa kami kumpulkan dari pembahasan seputar masalah gempa bumi. Semoga Alloh menjaga kita dari segala bencana dan tidak menyiksa kita karena ulah perbuatan dosa orang bodoh di antara kita. Ya Alloh, ampunilah dosa-dosa kami, keluarga kami, anak dan istri kami. Ya Alloh, lunakkanlah hati kami. Ya Alloh, rahmatilah saudara-saudara kami yang meninggal dunia terkena bencana, sembuhkanlah orang yang sakit di antara mereka, berikanlah pengganti yang lebih baik bagi mereka. <em>Aamiin</em>.</p>
<p><strong>Referensi</strong></p>
<ol>
<li><em>Ada Apa di Balik Gempa Tsunami?</em> Khutbah Syaikh Dr. Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad. Ditranskip dan diterjemahkan oleh Ust. Anas Burhanuddin dan Ust. Abdullah Zaen.</li>
<li><em>Tahriku Sababah Fima Yata’allaqu Bi Zalzalah</em>. Al-’Ajluni, tahqiq Sufyan bin ’Ayisy Muhammad. Dar Ibnul Jauzi, Yordania, cet. pertama 1425 H.</li>
<li><em>Idhohul Maqol Fi Asbabi Zilzal</em>. Muqbil bin Hadi al-Wadi’i.</li>
<li><em>Al-Adzab al-Adna</em>. Dr. Muhammad bin Abdulloh as-Suhaim. Darul Minhaj, KSA, cet. pertama 1430 H.</li>
</ol>
<div id="sdfootnote1">
<p><a name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"></a><a id="1" href="#ref1">[1]</a><em></em>Para ulama kita telah membahas dan menulis masalah gempa bumi secara khusus, seperti as-Suyuthi (961 H) dalam kitabnya <em>Kasyfu Sholsholah Fi Washfi Zalzalah</em>, Hamid bin Ali al-’Amadi (1171 H) dalam kitabnya <em>al-Hauqolah Fi Zalzalah</em>, dan al-’Ajluni (1162 H) dalam <em>Tahrik Silsilah Fima Yata’allaqu Bi Zalzalah</em>. Hal ini menunjukkan kepada kita kebenaran ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam <em>al-Washiyyah ash-Shughro</em> (hlm. 352 — syarah Ibrohim al-Hamd), “Umat ini telah membahas setiap bidang ilmu secara tuntas.” Lihat dan baca juga kitab <em>Abjadul Ulum</em> kar. Shiddiq Hasan Khon.</p>
</div>
<div id="sdfootnote2">
<p><a name="sdfootnote2sym" href="#sdfootnote2anc"></a><a id="1" href="#ref1">[2]</a><em></em><em>Al-Hauqolah Fi Zalzalah</em> (hlm. 1) sebagaimana dalam <em>Tahrik Silsilah Fima Yata’allaqu Bi Zalzalah</em> kar. al-’Ajluni (hlm. 26).</p>
</div>
<div id="sdfootnote3">
<p><a name="sdfootnote3sym" href="#sdfootnote3anc"></a><a id="1" href="#ref1">[3]</a><em></em><em>Ma’alim Tanzil</em> (5/363)</p>
</div>
<div id="sdfootnote4">
<p><a name="sdfootnote4sym" href="#sdfootnote4anc"></a><a id="1" href="#ref1">[4]</a><em></em><em>Al-Bidayah wan Nihayah</em> kar. Ibnu Katsir (12/118)</p>
</div>
<div id="sdfootnote5">
<p><a name="sdfootnote5sym" href="#sdfootnote5anc"></a><a id="1" href="#ref1">[5]</a><em></em>Lihat &lt;<span style="color: #000080;"><span style="text-decoration: underline;"><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_gempa_bumi_di_Indonesia">http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_gempa_bumi_di_Indonesia</a></span></span>&gt;</p>
</div>
<div id="sdfootnote6">
<p><a name="sdfootnote6sym" href="#sdfootnote6anc"></a><a id="1" href="#ref1">[6]</a><em></em>Diriwayatkan al-Baihaqi dalam <em>Sunan</em>-nya (3/342), Ibnu Abi Syaibah dalam <em>al-Mushonnaf</em> (2/473) dengan sanad yang shohih sebagaimana dalam <em>Ma Shohha Min Atsar Shohabah</em> kar. Zakariya bin Ghulam al-Bakistani 1/517.</p>
</div>
<div id="sdfootnote7">
<p><a name="sdfootnote7sym" href="#sdfootnote7anc"></a><a id="1" href="#ref1">[7]</a><em></em>Gempa belum pernah terjadi pada masa Nabi <em>shallallahu</em> &#8216;<em>alayhi wasallam</em>, sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ibnu Abdil Barr, “Tidak ada hadits shohih dari Nabi <em>shallallahu</em> &#8216;<em>alayhi wasallam</em>, yang menyebutkan bahwa pernah terjadi gempa pada zaman beliau dan tidak ada juga sunnah yang shohih tentangnya.” (<em>at-Tamhid</em> (3/318))</p>
</div>
<div id="sdfootnote8">
<p>   <a id="1" href="#ref1">[8]</a><em></em><em>Al-Adzab al-Adna</em> kar. Dr. Muhammad as-Suhaim (hlm. 92)</p>
</div>
<div id="sdfootnote9">
<p><a name="sdfootnote9sym" href="#sdfootnote9anc"></a><a id="1" href="#ref1">[9]</a><em></em>Mirip dengan ini, anggapan sebagian orang bahwa penyebab gempa dan tsunami adalah karena jin penjaga laut sedang marah dan murka sehingga perlu diberi tumbal-tumbal kepala kerbau dan sebagainya, maka semua ini adalah khurofat jahiliah yang batil sebagaimana akan kita bahas insya Alloh.</p>
</div>
<div id="sdfootnote10">
<p><a name="sdfootnote10sym" href="#sdfootnote10anc"></a><a id="1" href="#ref1">[10]</a><em></em><em>Majmu’ Fatawa</em> (24/264)</p>
</div>
<div id="sdfootnote11">
<p><a name="sdfootnote11sym" href="#sdfootnote11anc"></a><a id="1" href="#ref1">[11]</a><em></em>Jadi, bencana itu bisa jadi sebagai ujian dan cobaan dan bisa jadi sebagai teguran dan siksaan, tergantung pada keadaan manusia yang terkena bencana. Bila dia orang sholih maka itu adalah cobaan dan bila sebaliknya maka itu adalah peringatan dan pelajaran bagi yang semisalnya. Hanya, karena kebanyakan manusia sekarang melalaikan kewajiban agama dan melakukan dosa, maka tidaklah mustahil bila hal itu adalah sebagai peringatan bagi kita semua. (Lihat <em>Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Baz</em> (2/478), <em>al-Adzab al-Adna</em> kar. Dr. Muhammad as-Suhaim (hlm. 34–35)). Perlu diketahui bahwa adanya gempa dan semisalnya tidak mengharuskan karena dosa manusia yang menjadi korbannya, bisa jadi adalah karena dosa kita juga tetapi mereka kena getahnya. Oleh karenanya, hendaknya kita semua berintrospeksi dan memperbaiki diri.</p>
</div>
<div id="sdfootnote12">
<p><a name="sdfootnote12sym" href="#sdfootnote12anc"></a><a id="1" href="#ref1">[12]</a><em></em><em>Idhohul Maqol Fi Asbabi Zilzal</em> (hlm. 42)</p>
</div>
<div id="sdfootnote13">
<p><a name="sdfootnote13sym" href="#sdfootnote13anc"></a><a id="1" href="#ref1">[13]</a><em></em><em>Atsar Dzunubi wal Ma’ashi</em> (hlm. 9)</p>
</div>
<div id="sdfootnote14">
<p><a name="sdfootnote14sym" href="#sdfootnote14anc"></a><a id="1" href="#ref1">[14]</a><em></em><em>Umdatul Qori</em> kar. al-’Aini (7/57)</p>
</div>
<div id="sdfootnote15">
<p><a name="sdfootnote15sym" href="#sdfootnote15anc"></a><a id="1" href="#ref1">[15]</a><em></em>Lihat QS. al-Hajj (22): 2.</p>
</div>
<div id="sdfootnote16">
<p><a name="sdfootnote16sym" href="#sdfootnote16anc"></a><a id="1" href="#ref1">[16]</a><em></em>Renungkanlah kembali nasihat Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin al-’Abbad dalam khotbahnya tentang gempa bumi, dimuat dalam Majalah Al Furqon edisi 108 dalam judul “Ada Apa di Balik Gempa Tsunami?”.</p>
</div>
<div id="sdfootnote17">
<p><a name="sdfootnote17sym" href="#sdfootnote17anc"></a><a id="1" href="#ref1">[17]</a><em></em><em>Miftah Dar Sa’adah</em> (1/221)</p>
</div>
<div id="sdfootnote18">
<p><a name="sdfootnote18sym" href="#sdfootnote18anc"></a><a id="1" href="#ref1">[18]</a><em></em><em>Ma Rowahul Wa’un Fi Akhbar Tho’un</em> (hlm. 69–70)</p>
</div>
<div id="sdfootnote19">
<p><a name="sdfootnote19sym" href="#sdfootnote19anc"></a><a id="1" href="#ref1">[19]</a><em></em>Lihat <em>Ghidza&#8217;ul Albab</em> kar. as-Saffarini (2/377).</p>
</div>
<div id="sdfootnote20">
<p><a name="sdfootnote20sym" href="#sdfootnote20anc"></a><a id="1" href="#ref1">[20]</a><em></em>Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam <em>al-Hilyah</em> (5/337), Ibnu Abi Dunya dalam <em>al-’Uqubat</em> (no. 23) dengan sanad <em>jayyid</em> (bagus).</p>
</div>
<div id="sdfootnote21">
<p><a name="sdfootnote21sym" href="#sdfootnote21anc"></a><a id="1" href="#ref1">[21]</a><em></em>Syaikh Ahmad an-Najmi pernah ditanya, “Bolehkah salafiyyin bekerja sama dengan orang-orang hizbi, begitu juga berangkat ke daerah tersebut melalui yayasan dakwah atau lainnya seperti salah satu stasiun televisi lokal untuk membantu korban?”</p>
<p>Beliau menjawab, “Orang-orang hizbi yang tidak memiliki paham takfir (gampang mengkafirkan muslimin), boleh kerja sama dengan mereka. Adapun yang dikenal memiliki paham takfir, maka seharusnya tidak boleh bekerja sama dengan mereka.”</p>
<p>(Sumber: <span style="color: #000080;"><span style="text-decoration: underline;"><a href="http://www.darussalaf.or.id/index.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=226">http://www.darussalaf.or.id/index.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=226</a></span></span>)</p>
</div>
<div id="sdfootnote22">
<p><a name="sdfootnote22sym" href="#sdfootnote22anc"></a><a id="1" href="#ref1">[22]</a><em></em><em>Al-Bidayah wan Nihayah</em> kar. Ibnu Katsir (7/100)</p>
</div>
<div id="sdfootnote23">
<p><a name="sdfootnote23sym" href="#sdfootnote23anc"></a><a id="1" href="#ref1">[23]</a><em></em><em>Badzlul Ma’un</em> (328–330) secara ringkas</p>
</div>
<div id="sdfootnote24">
<p><a name="sdfootnote24sym" href="#sdfootnote24anc"></a><a id="1" href="#ref1">[24]</a><em></em><em>Ma Rowahu Wa’un Fi Akhbari Tho’un</em> (hlm. 167). Dan lihat masalah ini secara luas dan detail dalam risalah <em>Hukmu Tada&#8217;ili Fi’li Tho’ath fi Nawazil wa Syada&#8217;id al-Mulimmat</em> kar. Syaikhuna Masyhur bin Hasan Alu Salman.</p>
</div>
<div id="sdfootnote25">
<p><a name="sdfootnote25sym" href="#sdfootnote25anc"></a><a id="1" href="#ref1">[25]</a><em></em>Diriwayatkan oleh Abdurrozzaq dalam <em>al-Mushonnaf</em> (3/101), al-Baihaqi (3/343), dan Ibnul Mundzir (5/314) dengan sanad shohih, sebagaimana dikatakan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam <em>Fathul Bari</em> (2/673) dan Zakariya al-Bakistani dalam <em>Ma Shohha min Atsar Shohabah</em> (1/516).</p>
</div>
<div id="sdfootnote26">
<p><a name="sdfootnote26sym" href="#sdfootnote26anc"></a><a id="1" href="#ref1">[26]</a><em></em><em>Al-Isyrof ’Ala Madzahib Ulama</em> (2/310)</p>
</div>
<div id="sdfootnote27">
<p><a name="sdfootnote27sym" href="#sdfootnote27anc"></a><a id="1" href="#ref1">[27]</a><em></em>Diriwayatkan Abdurrozzaq dalam <em>al-Mushonnaf</em> (3/101) dengan sanad yang shohih, sebagaimana dalam <em>Fiqhu Dalil </em>kar. Abdulloh al-Fauzan (2/253).</p>
</div>
<div id="sdfootnote28">
<p><a name="sdfootnote28sym" href="#sdfootnote28anc"></a><a id="1" href="#ref1">[28]</a><em></em>Lihat pula <em>al-Majmu’ Syarh Muhadzab</em> kar. an-Nawawi (5/59).</p>
</div>
<div id="sdfootnote29">
<p><a name="sdfootnote29sym" href="#sdfootnote29anc"></a><a id="1" href="#ref1">[29]</a><em></em>Adapun bencana lainnya selain dari gempa bumi, maka kami cenderung menguatkan bahwa tidak disyari’atkan karena tidak ada dalilnya dari Nabi <em>shallallahu</em> &#8216;<em>alayhi wasallam</em>, dan para sahabat <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em>. (Lihat <em>Fatawa Ibnu Baz</em> (13/45) dan <em>Fiqhu Dalil</em> kar. Abdulloh al-Fauzan (2/254))</p>
</div>
<div id="sdfootnote30">
<p><a name="sdfootnote30sym" href="#sdfootnote30anc"></a><a id="1" href="#ref1">[30]</a><em></em><em>Tahriku Silsilah Fima Yata’allaqu Bi Zalzalah</em> (hlm. 28)</p>
</div>
<div id="sdfootnote31">
<p><a name="sdfootnote31sym" href="#sdfootnote31anc"></a><a id="1" href="#ref1">[31]</a><em></em>Muqoddimah Syaikh Abdulloh as-Sa’ad terhadap risalah <em>al-Qoul Shoib Fi Hukmi Sholatil Ghoib</em> karya Sami Abu Hafsh. Lihat pembahasan bagus tentang sholat ghoib dalam <em>Ahkamul Jana&#8217;iz</em> kar. Syaikh al-Albani (hlm. 115–120).</p>
</div>
<div id="sdfootnote32">
<p><a name="sdfootnote32sym" href="#sdfootnote32anc"></a><a id="1" href="#ref1">[32]</a><em></em>Lihat kaidah ini dalam <em>Iqtidho&#8217; Shirothil Mustaqim</em> kar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (2/594).</p>
</div>
<div id="sdfootnote33">
<p><a name="sdfootnote33sym" href="#sdfootnote33anc"></a><a id="1" href="#ref1">[33]</a><em></em><em>Fathu Dzil Jalali wal Ikrom Syarh Bulughul Marom</em> (3/295). Lihat pula <em>Jami’ul Masa&#8217;il Fi Ahkami Qunut Nawazil</em> kar. Sa’ad bin Sholih az-Zaid (hlm. 56).</p>
</div>
<div id="sdfootnote34">
<p><a name="sdfootnote34sym" href="#sdfootnote34anc"></a><a id="1" href="#ref1">[34]</a><em></em>Dr. Abdulloh bin Umar as-Sahyibani <em>rahimahulloh</em> berkata, “Para fuqoha dari kalangan Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah, Hanabilah, semuanya bersepakat tentang bolehnya mengubur lebih dari satu mayat dalam satu kubur apabila dalam kondisi darurat, seperti kondisi perang, di mana banyak yang terbunuh dan berat bagi manusia untuk menggali dan mengubur satu persatu. Demikian juga dalam kondisi bencana-bencana besar seperti gempa bumi, tsunami, wabah dan sebagainya yang memakan banyak korban, sehingga memberatkan jika seandainya mengubur mayit satu persatu.” Kemudian beliau membawakan dalil-dalil yang menguatkan pendapat beliau. (<em>Ahkamul Maqobir Di Syari’ah Islamiyyah</em> (hlm. 221–222))</p>
</div>
<div id="sdfootnote35">
<p><a name="sdfootnote35sym" href="#sdfootnote35anc"></a><a id="1" href="#ref1">[35]</a><em></em><em>Himpunan Fatwa Majelis Ulama</em> (hlm. 444–445)</p>
</div>
<div id="sdfootnote36">
<p><a name="sdfootnote36sym" href="#sdfootnote36anc"></a><a id="1" href="#ref1">[36]</a><em></em>Sumber: &lt;<span style="color: #000080;"><span style="text-decoration: underline;"><a href="http://www.darussalaf.or.id/index.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=226">http://www.darussalaf.or.id/index.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=226</a></span></span>&gt;</p>
</div>
<div id="sdfootnote37">
<p><a name="sdfootnote37sym" href="#sdfootnote37anc"></a><a id="1" href="#ref1">[37]</a><em></em><em>Tahriku Silsilah Fima Yata’allaqu Bi Zalzalah</em> kar. al-’Ajluni (hlm. 39)</p>
</div>


<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/bimbingan-islami-saat-gempa-bumi-dan-tsunami.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melacak Status Hukum Kopi Luwak</title>
		<link>http://abiubaidah.com/melacak-status-hukum-kopi-luwak.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/melacak-status-hukum-kopi-luwak.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Dec 2011 05:17:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin5</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikih Kontemporer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=855</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu, ramai dibicarakan di media tentang masalah status hukum “kopi luwak”, apakah halal ataukah haram. Pasalnya, kopi khas Indonesia yang terkenal sangat mahal tersebut[1] ternyata—setelah diselidiki proses pembuatannya—adalah dari hewan luwak (sejenis musang) memakan buah kopi yang matang lalu bijinya dikeluarkan bersama kotorannya, lalu biji-biji tersebut dibersihkan. Nah, apakah karena prosesnya yang [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://abiubaidah.com/nikah-beda-agama.html/' rel='bookmark' title='Nikah Beda Agama (Hukum Islam VS Hukum Setan)'>Nikah Beda Agama (Hukum Islam VS Hukum Setan)</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/hukum-arisan.html/' rel='bookmark' title='Hukum Arisan'>Hukum Arisan</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/sorotan-tajam-hukum-perayaan-haul.html/' rel='bookmark' title='Hukum Perayaan Haul'>Hukum Perayaan Haul</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu yang lalu, ramai dibicarakan di media tentang masalah status hukum “kopi luwak”, apakah halal ataukah haram. Pasalnya, kopi khas Indonesia yang terkenal sangat mahal tersebut<a id="ref1" href="#1">[1]</a> ternyata—setelah diselidiki proses pembuatannya—adalah dari hewan luwak (sejenis musang) memakan buah kopi yang matang lalu bijinya dikeluarkan bersama kotorannya, lalu biji-biji tersebut dibersihkan.</p>
<p>Nah, apakah karena prosesnya yang seperti itu menjadikan kopi jenis ini najis alias haram?!! MUI telah mempelajari dan menyelidiki masalah ini lalu menyimpulkannya halal.<a id="ref1" href="#1">[2]</a> Hanya, masih ada sebagian orang mempertanyakan tentang kebenaran fatwa MUI tersebut. Oleh karena itu, kami memandang perlu untuk menulis pembahasan ini sebagai keterangan bagi kaum muslimin semuanya. Semoga bermanfaat.<span id="more-855"></span></p>
<p><strong>Hukum Kopi</strong></p>
<p>Ketahuilah wahai saudaraku seiman—semoga Alloh merahmatimu—bahwa asal hukum segala jenis makanan baik dari hewan, tumbuhan, laut maupun daratan adalah halal sampai ada dalil yang mengharamkannya.<a id="ref1" href="#1">[3]</a> Alloh berfirman:</p>
<p>يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُوا۟ مِمَّا فِى ٱلْأَرْضِ حَلَٰلًۭا طَيِّبًۭا</p>
<p><em>&#8220;Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi.&#8221;</em> (QS. al-Baqoroh [2]: 168)</p>
<p>Tidak boleh bagi seorang pun untuk mengharamkan suatu makanan kecuali berlandaskan dalil dari al-Qur‘an dan hadits yang shohih dan apabila seorang mengharamkan tanpa dalil, maka dia telah membuat kedustaan tentang Alloh.</p>
<p>Memang pada awal munculnya, kopi banyak diperdebatkan oleh ulama, bahkan banyak tulisan tentangnya. Ada yang mengharamkannya karena dianggap memabukkan dan ada yang menghalalkan karena asal minuman adalah halal.<a id="ref1" href="#1">[4]</a> Namun, dengan berjalannya waktu, pendapat yang mengharamkan itu hilang dan para ulama-pun bersepakat tentang halalnya kopi.<a id="ref1" href="#1">[5]</a> Sampai-sampai al-Hajawi mengatakan setelah menyebutkan perselisihan ulama tentang hukum kopi:</p>
<blockquote><p>“Orang yang mengharamkan kopi tidaklah memiliki alasan yang ilmiah sama sekali.” <a id="ref1" href="#1">[6]</a></p></blockquote>
<p><strong>HARAMKAH LUWAK?</strong></p>
<p>Luwak adalah binatang sejenis musang. Ia adalah binatang pengecut dan sangat licik. Dengan kelicikannya dia sering bisa bersama para binatang buas menyeramkan lainnya. Di antara keajaiban kelicikannya dalam mencari rezeki dia berpura-pura mati dan melembungkan perutnya serta mengangkat kaki dan tangannya agar disangka mati. Kalau ada hewan yang mendekatinya, seketika itu dia langsung menerkamnya.<a id="ref1" href="#1">[7]</a></p>
<p>Tentang hukum memakannya, para ulama berselisih pendapat:</p>
<p><em><span style="text-decoration: underline;">Pendapat pertama</span></em>:</p>
<p><em>Boleh</em>. Ini adalah madzhab Syafi’i dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Alasannya, karena ia bukan termasuk binatang buas yang menyerang dengan taringnya.</p>
<p><em><span style="text-decoration: underline;">Pendapat kedua:</span></em></p>
<p><em>Haram</em>. Ini adalah pendapat Abu Hanifah dan pendapat yang populer dalam madzhab Ahmad. Alasannya, karena musang termasuk binatang buas yang diharamkan dalam hadits.</p>
<p>عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ a عَنِ النَّبِيِّ n قَالَ : « كُلُّ ذِيْ نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ فَأَكْلُهُ حَرَامٌ ».</p>
<p>Dari Abu Huroiroh <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> dari Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> bersabda: <em>“Setiap binatang buas yang bertaring maka memakannya adalah haram.</em>” <a id="ref1" href="#1">[8]</a></p>
<p>Pendapat yang kuat bahwa musang hukumnya haram, karena musang termasuk binatang buas yang dilarang dalam hadits. <em>Wallohu A’lam.</em><a id="ref1" href="#1">[9]</a></p>
<p><strong>NAJISKAH KOTORAN LUWAK?</strong></p>
<p>Masalah ini merupakan cabang dari permasalahan yang sebelumnya, karena para ulama menjelaskan bahwa kotoran binatang terbagi menjadi dua:</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Kotoran binatang yang dagingnya haram dimakan</span>. Hukumnya najis dengan kesepakatan ulama.<a id="ref1" href="#1">[10]</a></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Kotoran binatang yang dagingnya halal dimakan</span>. Hukumnya diperselisihkan ulama. Sebagian ulama berpendapat najis, sedangkan sebagian ulama lainnya berpendapat tidak najis dan inilah pendapat yang kami pilih karena kuatnya dalil-dalil mereka serta sesuai dengan kaidah asal. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah v\ berkata: “Adapun kencing dan kotoran binatang yang dagingnya dimakan, maka mayoritas salaf berpendapat bahwa hal itu tidaklah najis. Ini merupakan madzhab Malik, Ahmad, dan selainnya. Dan bahkan dikatakan: Tidak ada seorang pun sahabat yang berpendapat najis. Kami telah memaparkan masalah ini secara panjang lebar dalam kitab khusus dengan memaparkan belasan dalil bahwa hal itu (kencing dan kotoran hewan yang dagingnya dimakan) tidak termasuk najis.” <a id="ref1" href="#1">[11]</a></p>
<p><strong>HUKUM KOPI LUWAK</strong></p>
<p>Setelah melalui beberapa pembahasan di atas, sekarang kita akan membahas pokok permasalahan kita yaitu tentang status hukum kopi luwak.</p>
<p><strong>1. Gambaran Masalah</strong></p>
<p>Sebelum melangkah lebih lanjut, kita perlu mengetahui gambaran permasalahan yang sedang kita bicarakan ini, sebab sebagaimana kata para ulama kita:</p>
<p>الْحُكْمُ عَلَى الشَّيْءِ فَرْعٌ عَنْ تَصَوِّرِهِ</p>
<p>“Mengukumi sesuatu itu adalah cabang dari gambarannya.” <a id="ref1" href="#1">[12]</a></p>
<p>Kopi luwak yaitu buah kopi matang yang dimakan oleh luwak, kemudian dikeluarkan sebagai kotoran luwak tetapi biji-biji kopi tersebut tidak tercerna sehingga bentuknya masih dalam bentuk biji kopi. Jadi, di dalam perut musang biji kopi mengalami proses fermentasi dan dikeluarkan lagi dalam bentuk biji bersama dengan kotoran luwak. Selanjutnya, biji kopi luwak dibersihkan dan diproses seperti kopi biasa.</p>
<p><strong>2. Kaidah-Kaidah Fiqih Seputar Masalah</strong></p>
<p>Ada beberapa kaidah fiqih yang dapat kita terapkan dalam masalah ini:</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">a. Asal makanan adalah halal</span></p>
<p>Kaidah sudah kita sebutkan di atas, bahwa:</p>
<p>الأَصْلُ فِي الأَعْيَانِ الطَّهَارَةُ</p>
<p>“<em>Asal hukum segala jenis makanan adalah halal sampai ada dalil yang mengharamkannya</em>.” <a id="ref1" href="#1">[13]</a></p>
<p>Imam Syafi’i <em>rahimahullah </em>berkata: “Asal hukum makanan dan minuman adalah halal kecuali apa yang diharamkan oleh Alloh dalam al-Qur‘an-Nya atau melalui lisan Rosululloh <em>shallallahu &#8216;alayhi wasallam</em>, karena apa yang diharamkan oleh Rosululloh <em>shallallahu &#8216;alayhi wasallam</em> sama halnya dengan pengharaman Alloh.” <a id="ref1" href="#1">[14]</a></p>
<p>Demikianlah, dalam masalah ini hukum asalnya adalah boleh dan halal sampai ada dalil yang menunjukkan keharamannya. Kita tetap dalam keyakinan ini sampai datang bukti dan dalil kuat yang dapat memalingkan kita dari kaidah asal ini, adapun sekadar keraguan maka tidak bisa.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">b. Hukum itu berputar bersama sebabnya</span></p>
<p>Termasuk kaidah fiqih yang berkaitan dengan masalah ini adalah:</p>
<p>الْحُكْمُ يَدُوْرُ مَعَ عِلَّتِهِ وُجُوْدًا وَعَدَمًا</p>
<p>“<em>Hukum itu berputar bersama sebabnya, ada dan tidaknya.</em>” <a id="ref1" href="#1">[15]</a></p>
<p>Dalam masalah kopi luwak, alasan bagi yang melarangnya adalah adanya najis. Namun, tatkala najis tersebut sudah hilang dan dibersihkan maka hukumnya pun menjadi suci.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">c. Istihalah</span><a id="ref1" href="#1">[16]</a></p>
<p>Termasuk kaidah yang sangat berkaitan erat dengan masalah ini adalah kaidah <em>istihalah</em> dan membersihkan benda yang terkena najis:</p>
<p>النَّجَاسَةُ إِذَا زَالَتْ بِأَيِّ مُزِيْلٍ طَهُرَ الْمَحَلُّ</p>
<p>“<em>Benda najis apabila dibersihkan dengan pembersih apa pun maka menjadi suci.</em>” <a id="ref1" href="#1">[17]</a></p>
<p>Nah, tatkala biji kopi luwak yang bercampur dengan kotoran tersebut memang sudah dibersihkan, lantas kenapa masih dipermasalahkan lagi?!</p>
<p><strong>3. Masalah-Masalah Serupa Dalam Fiqih</strong></p>
<p>Sebenarnya masalah kopi luwak ini dapat kita kaji melalui pendekatan masalah-masalah yang mirip dengannya yang biasa dikenal dengan istilah <em>Asybah wa Nazho‘ir</em>. Ada beberapa masalah yang dapat kita jadikan sebagai pendekatan dengan masalah ini, yaitu:</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">a. Bila hewan mengeluarkan biji</span></p>
<p>Pendekatan yang paling mirip adalah apa yang dikatakan oleh para ulama fiqih yang menerangkan jika ada hewan memakan biji tumbuhan kemudian dapat dikeluarkan dari perut, jika kondisinya tetap—sehingga sekiranya ditanam dapat tumbuh<a id="ref1" href="#1">[17]</a>—maka tetap suci. Imam Nawawi <em>rahimahulloh</em>  berkata:</p>
<p>قَالَ أَصْحَابُنَا رَحِمَهُمُ اللّٰهُ : إِذَا أَكََلَتِ الْبَهِيْمَةُ حَبًّا وَخَرَجَ مِنْ بَطْنِهَا صَحِيْحًا ، فَإِنْ كَانَتْ صَلَابَتُهُ بَاقِيَةً بِحَيْثُ لَوْ زُرِعَ نَبَتَ ، فَعَيْنُهُ طَاهِرَةٌ لٰكِنْ يَجِبُ غَسْلُ ظَاهِرِهِ لِمُلَاقَاةِ النَّجَاسَةِ</p>
<p>“<em>Para sahabat kami (ulama madzhab Syafi’i)—semoga Allah merahmati mereka— mengatakan: ‘Jika ada hewan memakan biji tumbuhan kemudian dapat dikeluarkan dari perut, jika kekerasannya tetap dalam kondisi semula, yang sekiranya jika ditanam dapat tumbuh maka tetap suci tetapi harus disucikan bagian luarnya karena terkena najis…’ </em>” <a id="ref1" href="#1">[19]</a></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">b. Telur yang masih dalam bangkai</span></p>
<p>Masalah lain yang mirip dengan permasalahan ini adalah masalah telur yang berada di bangkai ayam, apakah najis ataukah tidak, pendapat yang kuat bahwa apabila telur sudah berkulit dan terpisah maka hukumnya suci. Imam Ibnu Qudamah <em>rahimahulloh</em> berkata:</p>
<p>وَإِنْ مَاتَتْ الدَّجَاجَةُ ، وَفِي بَطْنِهَا بَيْضَةٌ قَدْ صَلُبَ قِشْرُهَا ، فَهِيَ طَاهِرَةٌ . وَهٰذَا قَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ وَبَعْضِ الشَّافِعِيَّةِ وَابْنِ الْمُنْذِرِ وَلَنَا أَنَّهَا بَيْضَةٌ صُلْبَةُ الْقِشْرِ، طَرَأَتْ النَّجَاسَةُ عَلَيْهَا، فَأَشْبَهَ مَا لَوْ وَقَعَتْ فِي مَاءٍ نَجِسٍ .</p>
<p><em>“Apabila ada ayam mati (bangkai) dan di perutnya ada telur yang sudah mengeras kulitnya maka (telur tersebut) hukumnya suci. Inilah pendapat Abu Hanifah dan sebagian Syafi’iyyah dan Ibnu Mundzir. Alasan kami karena telur yang sudah berkulit keras tadi terkena najis, mirip kalau seandainya ia jatuh pada air yang najis (lalu dibersihkan maka jadi bersih).”</em> <a id="ref1" href="#1">[20]</a></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">c. Emas yang ditelan orang</span></p>
<p>Masalah yang mirip juga dengan masalah ini adalah kalau seandainya ada seorang menelan emas atau uang logam kemudian keluar bersama kotorannya. Bukankah emas atau uang logam tadi bila sudah dibersihkan maka ia suci, wahai saudaraku?!! Pikirkanlah!!</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p>Terlepas dari perselisihan ulama tentang musang apakah haram ataukah tidak, dan terlepas dari perselisihan ulama apakah kotoran hewan itu najis ataukah tidak, <span style="text-decoration: underline;">kami berpendapat bahwa biji kopi luwak yang bercampur dengan kotoran kalau memang sudah dibersihkan maka hukumnya adalah suci dan halal.</span> Barang siapa yang mengharamkan maka dia dituntut untuk mendatangkan dalil yang akurat. <em>Wallohu A’lam.</em></p>
<p>Daftar Referensi</p>
<p>Al-Mughni. Ibnu Qudamah. Tahqiq Abdulloh at-Turki dan Abdul Fattah al-Hulw. Dar Alamil Kutub. KSA. Cet kelima 1419 H.</p>
<p>Al-Majmu’ Syarh Muhadzab. An-Nawawi. Tahqiq Muhammad Najib al-Muthi’i. Dar Alamil Kutub. KSA. Cet kedua 1427 H.</p>
<p>Al-Ath’imah. Syaikh Salih bin Fauzan Al-Fauzan. Maktabah Ma’arif. KSA. Cet kedua 1419 H.</p>
<p>As-Sa’yul Hamid fi Masyru’iyyatil Mas’a al-Jadid. Masyhur bin Hasan Alu Salman. Dar al-Atsariyyah, Yordania. Cet pertama 1428 H.</p>
<p>CD Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia. Jakarta 2010.</p>
<p><a name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"></a><a id="1" href="#ref1">[1]</a>Diberitakan bahwa harga kopi luwak ini secangkirnya 100 ribu rupiah. Bahkan di Amerika bisa dijual dengan harga kurang lebih 300 ribu rupiah. Mirip hal ini adalah liur burung walet. Demikianlah kehendak dan keajaiban Alloh pada sebagian makhluk-Nya. Hal ini mengingatkan penulis pada apa yang disebutkan oleh ulama bahwa darah kijang bisa menjadi minyak kesturi yang sangat harum!!! (Lihat Diwan al-Mutanabbi 2/21 dan asy-Syarh al-Mumthi’ 1/98 oleh Ibnu Utsaimin)</p>
<p><a name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"></a><a id="1" href="#ref1">[2]</a>Teks fatwa MUI tersebut sebagai berikut:</p>
<p>1. Kopi Luwak sebagaimana dimaksud dalam ketentuan umum adalah <em>mutanajjis</em> (barang terkena najis), bukan najis.</p>
<p>2. Kopi Luwak sebagaimana dimaksud dalam ketentuan umum adalah halal setelah disucikan.</p>
<p>3. Mengonsumsi Kopi Luwak sebagaimana dimaksud angka 2 hukumnya boleh.</p>
<p>4. Memproduksi dan memperjualbelikan Kopi Luwak hukumnya boleh.</p>
<p><a name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"></a><a id="1" href="#ref1">[3]</a>Lihat al-Qowa’id an-Nuroniyyah hlm. 112 Ibnu Taimiyyah dan <em>Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah</em> 21/542.</p>
<p><a name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"></a><a id="1" href="#ref1">[4]</a>Syaikh Abdul Qodir bin Muhammad al-Jazuri menulis sebuah kitab berjudul <em>Umdah Shofwah fi Hilli Qohwah</em>. Dalam kitab tersebut beliau menjelaskan secara detail tentang halalnya kopi.</p>
<p><a name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"></a><a id="1" href="#ref1">[5]</a>Sebagaimana dikatakan oleh Mar‘i al-Karmi dalam <em>Tahqiq Burhan fi Sya‘ni Dukhon</em> hlm. 154.</p>
<p><a name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"></a><a id="1" href="#ref1">[6]</a><em>Ghomzu ’Uyunil Basho‘ir</em> 4/355. Lihat pula Muqoddimah Syaikhuna Masyhur bin Hasan Alu Salman terhadap risalah <em>Tausi’ah Mas’a</em> hlm. 17–21.</p>
<p><a name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"></a><a id="1" href="#ref1">[7]</a><em>Miftah Dar Sa’adah</em> 2/153 Ibnul Qoyyim</p>
<p><a name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"></a><a id="1" href="#ref1">[8]</a>HR. Muslim: 1933</p>
<p><a name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"></a><a id="1" href="#ref1">[9]</a>Diringkas dari <em>al-Ath’imah</em> hlm. 62–63 oleh Syaikh Sholih bin Fauzan al-Fauzan.</p>
<p><a name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"></a><a id="1" href="#ref1">[10]</a><em>Al-Mabsuth</em> 1/60 as-Sarokhsi, <em>al-Qowanin al-Fiqhiyyah</em> hlm. 27 Ibnu Juzai,<em> al-Kafi</em> 1/97 Ibnu Qudamah.</p>
<p><a name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"></a><a id="1" href="#ref1">[11]</a><em>Majmu’ Fatawa</em> 21/613–615</p>
<p><a name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"></a><a id="1" href="#ref1">[12]</a>Lihat <em>al-Ushul al-Amah wal Qowa’id al-Jami’ah lil Fatawa Syar’iyyah</em> hlm. 18 oleh Dr. Husain bin Abdul Aziz Alu Syaikh.</p>
<p><a name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"></a><a id="1" href="#ref1">[13]</a>Lihat <em>al-Qowa’id an-Nuroniyyah</em> hlm. 112 Ibnu Taimiyyah dan <em>Majmu’ Fatawa</em> Ibnu Taimiyyah 21/542.</p>
<p><a name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"></a><a id="1" href="#ref1">[14]</a><em>Al-Umm</em> 2/213</p>
<p><a name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"></a><a id="1" href="#ref1">[15]</a>Lihat <em>Mughni Dzawil Afham</em> hlm. 174 oleh Ibnu Abdil Hadi, <em>I’lamul Muwaqqi’in</em> 4/135 oleh Ibnu Qoyyim.</p>
<p><a name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"></a><a id="1" href="#ref1">[16]</a>Lihat masalah ini dalam kitab <em>al-Istihalah wa Ahkamuha fil Fiqh Islami</em> oleh Dr. Qodhafi Azzat al-Ghonanim.</p>
<p><a name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"></a><a id="1" href="#ref1">[17]</a>Lihat <em>Majmu’ Fatawa</em> 21/474, Hasyiyah Ibni Abidin 1/311, asy-Syarh al-Mumthi’ 1/424.</p>
<p><a name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"></a><a id="1" href="#ref1">[18]</a>Dan penelitian LP POM MUI membuktikan bahwa secara umum biji kopi yang keluar dari kotoran luwak tidak berubah serta dapat tumbuh jika ditanam.</p>
<p><a name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"></a><a id="1" href="#ref1">[19]</a><em>Al-Majmu’ Syarh Muahadzab</em> 2/409. Lihat pula <em>al-Mughni</em> 13/347 karya Ibnu Qudamah dan <em>al-Mantsur fil Qowa’id</em> 2/333–334 karya az-Zarkasyi, <em>Roudhoh Tholibin</em> 1/18 karya an-Nawawi.</p>
<p><a name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"></a><a id="1" href="#ref1">[20]</a><em>Al-Mughni</em> 1/101. Dan ini juga dikuatkan oleh Imam Nawawi dalam <em>Majmu’ Syarh Muhadzab</em> 1/132.</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://abiubaidah.com/nikah-beda-agama.html/' rel='bookmark' title='Nikah Beda Agama (Hukum Islam VS Hukum Setan)'>Nikah Beda Agama (Hukum Islam VS Hukum Setan)</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/hukum-arisan.html/' rel='bookmark' title='Hukum Arisan'>Hukum Arisan</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/sorotan-tajam-hukum-perayaan-haul.html/' rel='bookmark' title='Hukum Perayaan Haul'>Hukum Perayaan Haul</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/melacak-status-hukum-kopi-luwak.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ustadz Tampil di TV?</title>
		<link>http://abiubaidah.com/bolehkah-ustadz-tampil-di-layar.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/bolehkah-ustadz-tampil-di-layar.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Dec 2011 00:26:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin5</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Televisi]]></category>
		<category><![CDATA[Ustadz]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=841</guid>
		<description><![CDATA[Pada zaman sekarang, banyak sekali sarana-sarana modern yang menawarkan kemudahan dalam berbagai hal, termasuk di antaranya adalah dalam berdakwah. Mulai dari media tulis seperti majalah, koran, buletin, internet[1]; media suara (audio) seperti radio, kaset, handphone; bahkan media layar (audiovisual) seperti, TV, video, VCD, dan sebagainya sangat efektif dalam penyebaran dakwah dan sangat luas jangkauannya, sehingga—alhamdulillah—akhir-akhir [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://abiubaidah.com/biografi-singkat-ustadz-abu-ubaidah-yusuf-as-sidawi.html/' rel='bookmark' title='Biografi Singkat Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi'>Biografi Singkat Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/daurah-cikarang.html/' rel='bookmark' title='Daurah Intensif Ustadz Yusuf As-Sidawi di Cikarang Akhir Mei 2010'>Daurah Intensif Ustadz Yusuf As-Sidawi di Cikarang Akhir Mei 2010</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada zaman sekarang, banyak sekali sarana-sarana modern yang menawarkan kemudahan dalam berbagai hal, termasuk di antaranya adalah dalam berdakwah. Mulai dari media tulis seperti majalah, koran, buletin, internet<a id="ref1" href="#1">[1]</a>; media suara (audio) seperti radio, kaset, handphone; bahkan media layar (audiovisual) seperti, TV, video, VCD, dan sebagainya sangat efektif dalam penyebaran dakwah dan sangat luas jangkauannya, sehingga—alhamdulillah—akhir-akhir ini semakin marak perkembangan dakwah salafiyyah di bumi pertiwi ini.</p>
<p>Kalau radio dan majalah mungkin tidak terlalu bermasalah. Keduanya jelas disyari’atkan karena mengandung banyak maslahat dan sedikit sekali mengandung mafsadat. Oleh karenanya, tidak diketahui seorang ulama pun yang melarang asal hukumnya<sup><a id="ref1" href="#1">[2]</a></sup>. Namun, ada suatu masalah yang sering ditanyakan, dipermasalahkan, bahkan diperdebatkan yaitu tampilnya sebagian syaikh dan ustadz sekarang di VCD atau TV<sup><a id="ref1" href="#1">[3]</a></sup>, apakah hal itu sesuai dengan etika hukum Islam ataukah bertentangan?! Hal itu memunculkan tanda tanya besar yang membutuhkan jawaban berdasarkan argumentasi ilmiah.<span id="more-841"></span></p>
<p>Oleh karenanya, pada kesempatan kali ini, kami memandang perlu untuk membahas masalah ini agar kita tidak gegabah dalam menghukumi atau berburuk sangka kepada sebagian da’i dan ustadz. Semoga Alloh membimbing pena penulis dari ketergelinciran. dan tegur sapa pembaca sangat kami nantikan sebagai perbaikan di hari kemudian<a id="ref1" href="#1">[4]</a>.<sup><a name="sdfootnote4anc" href="#sdfootnote4sym"></a></sup></p>
<p>Masalah ini—bagaimana hukumnya ustadz tampil di layar—tidak lepas dari perselisihan, sebagaimana yang biasa terjadi pada masalah-masalah fiqih<sup><a id="ref1" href="#1">[5]</a></sup>. Paling tidak, ada dua pendapat di kalangan para ulama kontemporer mengenai masalah ini yang perinciannya akan kita uraikan berikut ini dengan argumentasinya masing-masing.</p>
<p><strong>Pendapat Pertama: Boleh</strong></p>
<p>Pendapat ini diperkuat dengan keumuman dalil yang menganjurkan dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar. Di antaranya adalah firman Alloh:</p>
<p dir="RTL" align="RIGHT"><a name="3_187"></a><a name="sign_3_186"></a><a name="3_186"></a><a name="sign_3_187"></a> <span style="font-family: me_quran,serif;"><span style="font-size: medium;">وَإِذْ أَخَذَ ٱللَّهُ مِيثَـٰقَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَـٰبَ لَتُبَيِّنُنَّهُۥ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُۥ فَنَبَذُوهُ وَرَآءَ ظُهُورِهِمْ وَٱشْتَرَوْا۟ بِهِۦ ثَمَنًۭا قَلِيلًۭا ۖ فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ ﴿١٨٧﴾</span></span></p>
<p><a name="3_1871"></a><em>Dan (ingatlah), ketika Alloh mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima.</em> (QS. Ali Imron [3]: 187)</p>
<p>Qotadah v\ mengatakan: “Ini adalah perjanjian yang dibebankan Alloh kepada ahli ilmu, barang siapa di antara mereka memiliki ilmu maka hendaknya menyampaikannya. Dan janganlah kalian menyembunyikan ilmu karena itu adalah kehancuran.”<a id="ref1" href="#1">[6]</a><sup><a name="sdfootnote6anc" href="#sdfootnote6sym"></a></sup></p>
<p>Dan masih banyak lagi dalil-dalil lainnya dari al-Qur‘an, hadits dan ucapan salafush sholih dalam masalah ini.</p>
<p><strong>Pendapat Kedua: Terlarang</strong></p>
<p>Sebagian kalangan melarang dai/ustadz tampil di media layar dengan beberapa alasan dan argumen sebagai berikut, di antaranya:</p>
<ol>
<li>Metode dakwah dengan cara seperti ini adalah baru dalam agama sehingga termasuk kategori bid’ah.</li>
<li>Menampilkan gambar sang ustadz, sedangkan hal ini termasuk gambar yang terlarang dalam hadits.</li>
<li>Memiliki dampak negatif seperti menjadikan sang ustadz tidak bisa terus terang dalam dakwah, membuat banyak orang berkeinginan membeli alat tersebut dan menjadikan wanita menonton gambar ustadz, padahal membendung sarana fitnah merupakan prinsip syari’at Islam.<sup><a id="ref1" href="#1">[7]</a></sup></li>
</ol>
<p><strong>Dialog dan Jawaban Atas Pendapat Kedua<sup><br />
</sup></strong></p>
<p>Berikut ini beberapa jawaban atas pendapat kedua sebagai dialog ilmiyyah yang bernuansa persaudaraan dalam menyikapi perbedaan bukan permusuhan.</p>
<p><strong>1. Metode dakwah dengan cara seperti ini adalah baru dalam agama sehingga termasuk kategori bid’ah</strong></p>
<p>Jawaban:</p>
<p>1) Alasan ini lemah, sebab berdakwah untuk menyebarkan kebenaran sejenis amar ma’ruf nahi munkar, jihad, dan sebagainya yang tidak terbatas pada sarana tertentu bahkan setiap sarana boleh digunakan selagi tidak bertentangan dengan agama. Bukti akan hal itu, syari’at Islam sangat menekankan untuk penyebaran ilmu dan dakwah tanpa terbatas pada sarana tertentu. Perhatikanlah hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alayhi wasallam</em>:</p>
<p style="text-align: right;">لِيُبَلِّغَ الشَّاهِدُ مِنْكُمُ الْغَائِبَ</p>
<p>“<em>Hendaknya orang yang hadir di antara kalian menyampaikan kepada yang tidak hadir.”</em> (HR. Bukhori: 105 dan Muslim: 1679)</p>
<p>Imam Syathibi <em>rahimahulloh</em> berkata: “Penyampaian ilmu tidaklah terbatas pada cara tertentu, boleh dengan cara apa pun baik untuk menjaga, mengajarkan, dan menulis serta lainnya. Demikian pula, untuk menjaganya dari penyelewengan tidaklah terbatas. Oleh karenanya, pengumpulan dan penulisan mushaf disepakati kebenarannya oleh salafush sholih, tidak dianggap batil. Dan selain mushaf lebih mudah urusannya, karena dalam hadits dianjurkan untuk mencatat ilmu.”<sup><a id="ref1" href="#1">[8]</a><a name="sdfootnote8anc" href="#sdfootnote8sym"></a></sup></p>
<p>Syaikh as-Sa’di <em>rahimahulloh</em> berkata: “Tidak ragu bahwa menyebarkan hukum apabila ditetapkan dengan suara yang lebih luas jangkauannya dan lebih menyebar, maka hal itu termasuk dalam kaidah besar ini.”<sup><a id="ref1" href="#1">[9]</a><a name="sdfootnote9anc" href="#sdfootnote9sym"></a></sup></p>
<p>Dengan demikian, maka setiap alat sarana dakwah modern yang tidak bertentangan agama bukanlah termasuk kategori bid’ah, tetapi termasuk <em>maslahat mursalah</em> yang diamalkan salafush sholih.<sup><a id="ref1" href="#1">[10]</a></sup> Oleh karena itu, mereka mendirikan majelis-majelis untuk mengajarkan ilmu dan menjawab pertanyaan secara tertib dan terjadwal, padahal cara seperti itu tidak ada pada zaman Nabi.<a id="ref1" href="#1">[11]</a></p>
<p>2) Maksud para ulama yang menyatakan bahwa <em>wasilah</em> (sarana) dakwah adalah <em>tauqifiyyah</em> (paten) adalah amal dakwah itu sendiri seperti sandiwara, nasyid, dan lainnya. Adapun alat untuk penyebaran dakwah seperti mikrofon, kaset, faks, sekolah, pesantren, yayasan, dan sejenisnya maka hukumnya adalah boleh selagi tidak bertentangan dengan syari’at. Jadi harus dibedakan antara keduanya.<a id="ref1" href="#1">[12]</a></p>
<p><strong>2. Menampilkan gambar sang ustadz, sedangkan hal ini termasuk gambar yang terlarang dalam hadits</strong></p>
<p>Jawaban:</p>
<p>1) Tidak ragu bahwa gambar-gambar makhluk bernyawa hukumnya haram. Namun permasalahannya, apakah gambar yang tampil di video dan VCD termasuk kategori gambar yang terlarang dalam hadits? Masalah ini masih menjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian ulama seperti Syaikh Ibnu Baz <em>rahimahulloh</em> memasukkannya dalam gambar terlarang dan sebagian lagi tidak memasukkannya seperti Syaikh Ibnu Utsaimin<sup><a id="ref1" href="#1">[13]</a><a name="sdfootnote13anc" href="#sdfootnote13sym"></a></sup>, Hammad al-Anshori<a id="ref1" href="#1">[14]</a>, dan sebagainya.<sup><a id="ref1" href="#1">[15]</a></sup></p>
<p>2) Anggaplah itu termasuk gambar yang terlarang, namun larangan tersebut termasuk larangan dengan sebab wasilah, yang diperbolehkan ketika ada kebutuhan dan masalahat yang besar. Imam Ibnul Qoyyim <em>rahimahulloh</em> berkata: “Sesuatu yang diharamkan karena wasilah dan membendung keharaman maka diperbolehkan ketika ada maslahat yang lebih besar seperti bolehnya <em>aroya</em> (menjual kurma kering dengan kurma basah yang masih di pohon) dalam riba <em>fadhl</em>, bolehnya sholat yang memiliki sebab setelah shubuh dan ashar, bolehnya lelaki melihat wanita karena ingin menikah, atau saksi dan dokter melihat wanita padahal hukum asalnya adalah terlarang.”<sup><a id="ref1" href="#1">[16]</a><a name="sdfootnote16anc" href="#sdfootnote16sym"></a></sup></p>
<p>3) Anggaplah perkara itu asalnya terlarang, namun tatkala penjelasan syari’at secara sempurna membutuhkan alat-alat modern tersebut dan bila tidak digunakan maka akan menyebabkan lemahnya kebenaran, menangnya kebatilan<sup><a id="ref1" href="#1">[17]</a></sup>, kejahilan manusia tentang agama, dan masih banyak lagi dampak lainnya, maka dibolehkan gambar seperti ini untuk memilih kerusakan yang lebih ringan sebagaimana kaidah yang mapan dalam agama. Di antara yang berfatwa demikian adalah Syaikh Abdul Aziz bin Baz <em>rahimahulloh </em>padahal beliau termasuk ulama yang mengharamkan gambar secara umum, beliau berkata: “Apabila gambar untuk kemaslahatan umum seperti gambar untuk pengajian ulama dan ceramah mereka agar para pendengar yakin bahwa ucapan ini betul-betul dari si fulan bukan lainnya maka dalam kondisi seperti ini bisa dikatakan boleh untuk kemaslahatan umum.”<sup><a id="ref1" href="#1">[18]</a></sup></p>
<p><strong>3. Memiliki beberapa dampak negatif</strong></p>
<p>Jawaban:</p>
<p>1) Anggapan bahwa alat-alat dakwah tersebut menjadikan sang ustadz tidak bisa terus terang dalam dakwah tidaklah benar. Bahkan justru sebaliknya, bila kita tidak memanfaatkan alat-alat tersebut maka berarti kita menyembunyikan ilmu, sebab Alloh memerintahkan kepada ulama untuk menyampaikan ilmu semampu mungkin. Oleh karenanya, barang siapa yang mampu menggunakan fasilitas itu maka dianjurkan baginya untuk memanfaatkannya, bahkan mungkin bisa jadi wajib hukumnya, sebab umat Islam sekarang sangat membutuhkan kepada penjelasan ulama tentang agama yang benar, sedangkan alat tersebut sangatlah cocok untuk kebutuhan mereka pada zaman sekarang.</p>
<p>Kemudian anggaplah terkadang ustadz tidak terus terang dalam sebagian masalah, maka hal itu tidak menjadikan terlarang selagi dia tidak mengatakan kebatilan dan mengharapkan dunia serta keinginan tenar/populer sebab sebagaimana kata ulama “<em>Li kulli maqom maqol</em>” (setiap medan ada pembicaraan yang sesuai).<sup><a id="ref1" href="#1">[19]</a><a name="sdfootnote19anc" href="#sdfootnote19sym"></a></sup></p>
<p>2) Adapun anggapan bahwa perkara tersebut membuat banyak orang berkeinginan membeli alat tersebut dan menjadikan wanita menonton gambar ustadz, ini juga merupakan alasan yang berlebihan karena alat-alat seperti TV sekarang memang sudah masuk ke hampir semua rumah orang. Dan anggaplah ada kemungkaran tersebut tetap saja tidak menjadikan terlarang disebabkan kemaslahatan yang lebih besar; sedangkan kaidah syari’at menyatakan bahwa agama dibangun di atas kemaslahatan yang murni, atau kemaslahatan yang lebih besar sekalipun ada sedikit kerusakan di dalamnya. Contoh: hukum rajam, potong tangan, dan jihad disyari’atkan oleh Alloh karena kemaslahatannya besar dan meluas untuk masyarakat banyak sekalipun ada sedikit kerusakan bagi yang dihukum.</p>
<p><strong>Pendapat yang Kuat</strong></p>
<p>Dari keterangan di atas dapat kita ketahui kuatnya pendapat pertama dan lemahnya pendapat kedua. Harus kita ingat bahwa Islam adalah agama yang dibangun di atas kemaslahatan, sedangkan tidak ragu lagi bahwa kehadiran ustadz atau syaikh dalam sarana-sarana modern membawa maslahat yang besar karena dengan alat tersebut dakwah akan menyebar ke segenap pelosok dan penjuru tempat dalam setiap jajaran manusia yang tak terhitung jumlahnya. Dengan demikian, diharapkan kebenaran dan dakwah ini akan banyak diikuti oleh orang.</p>
<p>Benar, kita tidak memungkiri adanya beberapa kekurangan dalam media itu. Akan tetapi, kita harus ingat akan kaidah bahwa</p>
<blockquote><p>“<em>kemaslahatan umum harus lebih didahulukan daripada kemaslahatan pribadi</em>.”<a id="ref1" href="#1">[20]</a></p></blockquote>
<p>Kami menyadari bahwa masalah ini termasuk wilayah ijtihad yang diperselisihkan ulama. Oleh karenanya, kami sangat berharap agar perbedaan pendapat dalam masalah ini tidak menjerumuskan kita untuk saling bermusuhan dan berlepas diri<sup><a id="ref1" href="#1">[21]</a></sup> tetapi marilah kita sikapi dengan lapang dada dan saling menghormati pendapat lain. Sebagaimana kami sangat menekankan kepada saudara-saudara kami yang tampil dalam media tersebut untuk meluruskan niat mereka dan membekali diri mereka dengan ilmu serta memperhatikan kaidah-kaidah dalam masalah ini, serta memberikan udzur kepada sebagian ustadz lain yang tidak mau tampil di media layar. Inilah nasihat dan pesan berharga <em>Samahatusy</em> Syaikh Abdul Aziz bin Baz <em>rahimahulloh </em>ketika ditanya tentang masalah ini:</p>
<blockquote><p>“<em>Barang siapa yang lapang dadanya dan memiliki ilmu maka hendaknya dia berdakwah di TV untuk menyampaikan risalah Alloh, semoga Alloh memberikan pahala baginya. Dan barang siapa belum bisa menerima hatinya dan menganggapnya sebagai syubhat sehingga tidak berdakwah di TV maka kami berharap dia diberi udzur</em>.”<sup><a id="ref1" href="#1">[22]</a><a name="sdfootnote22anc" href="#sdfootnote22sym"></a></sup></p></blockquote>
<p>Demikian apa yang dapat kami utarakan dalam kajian tulisan kali ini. Semoga bisa diambil manfaatnya. <em>Wallohu A’lam</em>.</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<div id="sdfootnote1">
<p><a name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"></a><a id="1" href="#ref1">[1]</a>Internet, di samping sebagai media tulis, sekaligus audio maupun audiovisual (<em>Red</em>).</p>
</div>
<div id="sdfootnote2">
<p><a name="sdfootnote2sym" href="#sdfootnote2anc"></a><a id="1" href="#ref1">[2]</a>Dr. Abdulloh ath-Thoriqi <em>rahimahulloh</em> berkata: “Media hukum asalnya adalah boleh. Buktinya, seandainya media dipegang oleh orang yang benar dan menggunakannya dalam penyebaran kebenaran, maka tidak diragukan lagi akan bolehnya, karena ia seperti mimbar dan panggung yang dijadikan alat untuk menyampaikan ilmu dan berdialog.” (<em>Hukmul Musyarokah Da’wiyyah fil Qonawat al-Fadho‘iyyah</em>, belum tercetak)</p>
</div>
<div id="sdfootnote3">
<p><a name="sdfootnote3sym" href="#sdfootnote3anc"></a><a id="1" href="#ref1">[3]</a>Yang penulis maksud dalam pembahasan ini adalah TV <em>streaming</em> (diakses melalui internet, Red) yang dikelola oleh saudara-saudara kita Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti <em>Ahsan TV</em>, <em>Sarana Sunnah TV</em>, <em>Rodja TV</em>, <em>Hang TV</em>, dan sebagainya. Adapun televisi-televisi umum yang banyak memuat kemungkaran, hal itu di luar pembahasan kita. Semoga pada kesempatan lainnya masalah itu bisa dibahas.</p>
</div>
<div id="sdfootnote4">
<p><a name="sdfootnote4sym" href="#sdfootnote4anc"></a><a id="1" href="#ref1">[4]</a>Pembahasan ini banyak menukil dari kitab <em>al-Futya al-Mu’ashir</em> karya Dr. Kholid bin Abdillah al-Muzaini, Dar Ibnul Jauzi, KSA, cet. pertama tahun 1430 H, dengan beberapa tambahan dari referensi lainnya.</p>
</div>
<div id="sdfootnote5">
<p><a name="sdfootnote5sym" href="#sdfootnote5anc"></a><a id="1" href="#ref1">[5]</a>Semoga Alloh merahmati Imam Ibnul Qoyyim tatkala mengatakan: “Adanya perbedaan pendapat di kalangan manusia adalah suatu hal yang pasti terjadi karena perbedaan pemahaman dan kadar akal mereka. Akan tetapi, yang tercela adalah permusuhan di kalangan mereka. Adapun perbedaan yang tidak menjadikan permusuhan dan pengelompokan, masing-masing yang berselisih tujuannya adalah ketaatan kepada Alloh dan rosul-Nya, maka perbedaan tersebut tidaklah berbahaya, karena memang itu adalah suatu kepastian pada manusia.” (<em>Showai’q al-Mursalah</em> 2/519)</p>
</div>
<div id="sdfootnote6">
<p><a name="sdfootnote6sym" href="#sdfootnote6anc"></a><a id="1" href="#ref1">[6]</a><em>Ma’alim Tanzil</em> 1/383 oleh al-Baghowi</p>
</div>
<div id="sdfootnote7">
<p><a name="sdfootnote7sym" href="#sdfootnote7anc"></a><a id="1" href="#ref1">[7]</a><em>Al-Fidiyu al-Islami wal Fadho‘iyyat al-Islamiyyah</em> hlm. 7, 11, 57 oleh Nashir bin Hamd al-Fahd</p>
</div>
<div id="sdfootnote8">
<p><a name="sdfootnote8sym" href="#sdfootnote8anc"></a><a id="1" href="#ref1">[8]</a><em>Al-I’tishom</em> 1/186</p>
</div>
<div id="sdfootnote9">
<p><a name="sdfootnote9sym" href="#sdfootnote9anc"></a><a id="1" href="#ref1">[9]</a><em>Al-Fatawa as-Sa’diyyah</em> hlm. 223–224</p>
</div>
<div id="sdfootnote10">
<p><a name="sdfootnote10sym" href="#sdfootnote10anc"></a><a id="1" href="#ref1">[10]</a>Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithi <em>rahimahulloh</em> berkata: “Kesimpulannya, para sahabat Nabi <em>shallallahu &#8216;alayhi wa sallam</em> mengamalkan <em>maslahat mursalah</em> yang tidak ada dalilnya selagi tidak bertentangan dengan syari’at atau membawa kerusakan yang lebih besar, demikian juga seluruh ulama madzhab berpegang pada maslahat mursalah sekalipun mereka mengatakan untuk menjauhinya. Barang siapa yang membaca kejadian-kejadian yang menimpa para sahabat dan masalah-masalah dalam fiqih madzhab niscaya dia akan mengetahui kebenaran hal ini.” (<em>al-Masholih al-Mursalah</em> hlm. 46)</p>
</div>
<div id="sdfootnote11">
<p><a name="sdfootnote11sym" href="#sdfootnote11anc"></a><a id="1" href="#ref1">[11]</a>Lihat tentang hal ini kitab <em>Adabul Imla‘ wal Istimla‘</em> karya as-Sam’ani (wafat 562 H).</p>
</div>
<div id="sdfootnote12">
<p><a name="sdfootnote12sym" href="#sdfootnote12anc"></a><a id="1" href="#ref1">[12]</a>Lihat <em>Hukmul Intima’</em> hlm. 160–161 oleh Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid, <em>al-Hujaj al-Qowiyyah ’ala Anna Wasa‘il Da’wah Tauqifiyyah</em> hlm. 88–90 oleh Syaikh Abdus Salam Barjas.</p>
</div>
<div id="sdfootnote13">
<p><a name="sdfootnote13sym" href="#sdfootnote13anc"></a><a id="1" href="#ref1">[13]</a>Lihat <em>al-Qoulul Mufid</em> 2/438–441, <em>Majmu’ Fatawa wa Rosa‘il</em> 2/262–267. Namun, perlu ditegaskan di sini bahwa yang diperbolehkan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin adalah foto atau gambar yang mengandung masalahat yang besar, bukan berarti beliau membolehkan gambar atau foto jenis ini secara mutlak!! Perhatikanlah!! (Lihat <em>Hukmut Tashwir bil Yad</em> oleh Dr. Abdulloh ath-Thoyyar)</p>
</div>
<div id="sdfootnote14">
<p><a name="sdfootnote14sym" href="#sdfootnote14anc"></a><a id="1" href="#ref1">[14]</a><em>Al-Majmu’</em> 2/720</p>
</div>
<div id="sdfootnote15">
<p><a name="sdfootnote15sym" href="#sdfootnote15anc"></a><a id="1" href="#ref1">[15]</a>Lihat perbedaan ulama dan dialog dalam masalah ini secara luas dalam <em>Ahkam Tashwir</em> oleh Ahmad ash-Shumail.</p>
</div>
<div id="sdfootnote16">
<p><a name="sdfootnote16sym" href="#sdfootnote16anc"></a><a id="1" href="#ref1">[16]</a><em>I’lamul Muwaqqi’in</em> 2/161</p>
</div>
<div id="sdfootnote17">
<p><a name="sdfootnote17sym" href="#sdfootnote17anc"></a><a id="1" href="#ref1">[17]</a>Telah sampai kabar kepada penulis bahwa aliran-aliran sesat seperti Ahamadiyyah, Syi’ah, Shufiyyah, mereka memiliki TV dakwah ala mereka. Lantas apakah kita Ahlus Sunnah diam dan mencukupkan dengan alat sederhana saja?!!</p>
</div>
<div id="sdfootnote18">
<p><a name="sdfootnote18sym" href="#sdfootnote18anc"></a><a id="1" href="#ref1">[18]</a><em>At-Tamtsiliyyah Tilfaziyyah wa Istikhdamuha fi Majali Dakwah</em> hlm. 188 oleh Muhammad Hasan al-Arhabi, dialog bersama Syaikh Ibnu Baz dalam Koran <em>Mir’atul Jami’ah</em> hlm. 9, Universitas Muhammad bin Su’ud di Riyadh 15/7/1404 H.</p>
</div>
<div id="sdfootnote19">
<p><a name="sdfootnote19sym" href="#sdfootnote19anc"></a><a id="1" href="#ref1">[19]</a>Lihat <em>al-Jami’ li Akhlaqi Rowi wa Adabis Sami’</em> No. 407 oleh al-Khothib al-Baghdadi.</p>
</div>
<div id="sdfootnote20">
<p><a name="sdfootnote20sym" href="#sdfootnote20anc"></a><a id="1" href="#ref1">[20]</a><em>Al-Muwafaqot</em> 2/348 oleh asy-Syathibi</p>
</div>
<div id="sdfootnote21">
<p><a name="sdfootnote21sym" href="#sdfootnote21anc"></a><a id="1" href="#ref1">[21]</a>Alangkah indahnya ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah <em>rahimahulloh</em>: “Adapun perselisihan dalam masalah hukum maka banyak sekali jumlahnya. Seandainya setiap dua orang muslim yang berbeda pendapat dalam suatu masalah harus saling bermusuhan, maka tidak akan ada persaudaraan pada setiap muslim. Abu Bakar <em></em> dan Umar <em>radhiyallahu &#8216;anhuma</em> saja—kedua orang yang paling mulia setelah Nabi <em>shallallahu &#8216;alayhi wasallam</em>—mereka berdua berbeda pendapat dalam beberapa masalah, tetapi keduanya tidak menginginkan kecuali kebaikan.” (<em>Majmu’ Fatawa</em> 5/408)</p>
</div>
<div id="sdfootnote22">
<p><a name="sdfootnote22sym" href="#sdfootnote22anc"></a><a id="1" href="#ref1">[22]</a><em>Liqo‘ati Ma’a Syaikhoni</em> 1/81 oleh Dr. Abdulloh ath-Thoyyar</p>
</div>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://abiubaidah.com/biografi-singkat-ustadz-abu-ubaidah-yusuf-as-sidawi.html/' rel='bookmark' title='Biografi Singkat Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi'>Biografi Singkat Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/daurah-cikarang.html/' rel='bookmark' title='Daurah Intensif Ustadz Yusuf As-Sidawi di Cikarang Akhir Mei 2010'>Daurah Intensif Ustadz Yusuf As-Sidawi di Cikarang Akhir Mei 2010</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/bolehkah-ustadz-tampil-di-layar.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kun-yah, Sunnah dalam Nama</title>
		<link>http://abiubaidah.com/kunyah-sebuah-sunnah-dalam-nama.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/kunyah-sebuah-sunnah-dalam-nama.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Oct 2011 09:57:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin5</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=834</guid>
		<description><![CDATA[MUQODDIMAH Ternyata ada sebagian kalangan yang melecehkan Sunnah “kunyah[1] ”. Penulis tahu hal ini ketika membaca komentar-komentar di situs kami.  Menurut mereka: sok Arab, sok alim dan lainnya. Demikianlah sikap dan komentar sebagian kalangan tentang Sunnah ini. Bagaimanakah sebenarnya hakikat permasalahannya?! In sya Alloh pada kesempatan ini, akan kita bahas tentang jawabannya. Semoga Alloh subhanahu [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://abiubaidah.com/lafadz-sayyiduna-dalam-sholat-bermasalahkah.html/' rel='bookmark' title='Lafadz &#8220;SAYYIDUNA&#8221; Dalam Sholat, Bermasalahkah?'>Lafadz &#8220;SAYYIDUNA&#8221; Dalam Sholat, Bermasalahkah?</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/pelajaran-penting-dalam-khutbah-hajah-nabi.html/' rel='bookmark' title='Pelajaran Penting dalam Khutbah Hajah Nabi'>Pelajaran Penting dalam Khutbah Hajah Nabi</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>MUQODDIMAH</strong></p>
<p>Ternyata ada sebagian kalangan yang melecehkan Sunnah “kunyah<a id="ref1" href="#1">[1] </a>”. Penulis tahu hal ini ketika membaca komentar-komentar di situs kami.  Menurut mereka: sok Arab, sok alim dan lainnya. Demikianlah sikap dan komentar sebagian kalangan tentang Sunnah ini. Bagaimanakah sebenarnya hakikat permasalahannya?! <em>In sya Alloh</em> pada kesempatan ini, akan kita bahas tentang jawabannya. Semoga Alloh <em>subhanahu wa ta&#8217;aala</em> selalu menambahkan ilmu yang bermanfaat bagi kita.</p>
<p><strong>DEFINISI KUNYAH</strong></p>
<p>Kunyah adalah nama yang diawali dengan “Abu” atau “Ibnu” untuk laki-laki, seperti Abu Abdillah dan Ibnu Hajar. Sedangkan “Ummu” atau “Bintu” adalah untuk perempuan, seperti Ummu Aisyah dan bintu Malik.<br />
Kunyah apabila bergabung dengan nama asli maka kunyah boleh diawalkan atau diakhirkan. Contoh Abu Hafsh Umar atau Bakr Abu Zaid. Namun yang lebih masyhur, kunyah diawalkan karena maksud dari kunyah adalah untuk menunjukkan kepada dzat bukan sebagai sifat.<a id="ref1" href="#1">[2] </a><span id="more-834"></span></p>
<p>Kunyah secara umum merupakan suatu penghormatan dan kemuliaan.<a id="ref1" href="#1">[3]</a>Seorang peyair berkata:</p>
<p style="text-align: center;">أُكْنِيْهِ حِيْنَ أُنَادِيْهِ لِأُكْرِمَهُ<br />
وَلاَ أُلَقِّبُهُ وَالسَّوْءَةُ اللَّقَبُ</p>
<p style="text-align: center;"><em>Aku memanggilnya dengan kunyah sebagai penghormatan padanya</em><br />
<em> Dan saya tidak menggelarinya, karena gelar adalah jelek baginya.</em><a id="ref1" href="#1">[4]</a></p>
<p>Namun terkadang kunyah juga bisa bermakna celaan seperti Abu Jahl, Abu Lahab dan lain sebagainya.<a id="ref1" href="#1">[5]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>DALIL-DALIL DISYARI’ATKANNYA KUNYAH</strong></p>
<p><em>Hadits Pertama</em>:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: x-small;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: medium;"><strong>عَنْ أَنَسٍ قَالَ</strong></span></span></span></span><span style="font-family: Humanst521 BT,Lucida Sans Unicode,sans-serif;"><span style="font-family: Islamic_,Courier New,fantasy;"><span style="font-size: medium;">: </span></span></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: x-small;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: medium;"><strong>كَانَ النَبِيُّ </strong></span></span></span></span><span style="font-family: Humanst521 BT,Lucida Sans Unicode,sans-serif;"><span style="font-size: medium;"><strong>- </strong></span></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: x-small;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: medium;">صلى الله عليه وسلم</span></span></span></span><span style="font-family: Humanst521 BT,Lucida Sans Unicode,sans-serif;"><span style="font-size: medium;"><strong>-</strong></span></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: x-small;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: medium;"><strong>أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا</strong></span></span></span></span><span style="font-family: Humanst521 BT,Lucida Sans Unicode,sans-serif;"><span style="font-family: Islamic_,Courier New,fantasy;"><span style="font-size: medium;">, </span></span></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: x-small;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: medium;"><strong>وَكَانَ لِيْ أَخٌ يُقَالُ لَهُ أَبُوْ عُمَيْرٍ</strong></span></span></span></span><span style="font-family: Humanst521 BT,Lucida Sans Unicode,sans-serif;"><span style="font-family: Islamic_,Courier New,fantasy;"><span style="font-size: medium;">, </span></span></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: x-small;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: medium;"><strong>قَالَ أَحْسَبُهُ فَطِيْمٌ</strong></span></span></span></span><span style="font-family: Humanst521 BT,Lucida Sans Unicode,sans-serif;"><span style="font-family: Islamic_,Courier New,fantasy;"><span style="font-size: medium;">, </span></span></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: x-small;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: medium;"><strong>وَكَانَ إِذَا جَاءَ قَالَ</strong></span></span></span></span><span style="font-family: Humanst521 BT,Lucida Sans Unicode,sans-serif;"><span style="font-family: Islamic_,Courier New,fantasy;"><span style="font-size: medium;">: </span></span></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: x-small;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: medium;"><strong>يَا أَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ نُغَيْرٌ ؟</strong></span></span></span></span></p>
<p>Dari Anas <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> ia berkata:</p>
<p>“Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wa sallam</em> adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Saya mempunyai saudara yang biasa dipanggil Abu Umair. Apabila Rosululloh <em>shalallahu &#8216;alayhi wa sallam</em> datang, beliau mengatakan, ’Wahai Abu Umair apa yang sedang dilakukan oleh <em>Nughoir</em> (Nughoir adalah sejenis burung)?’”<a id="ref1" href="#1">[6]</a></p>
<p>Imam Bukhori <em>rahimahulloh</em> membuat bab hadits ini dengan ucapannya <span style="text-decoration: underline;">“Bab kunyah untuk anak dan orang yang belum mempunyai anak”</span>. Al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahulloh</em> berkata: “Imam Bukhori mengisyaratkan dalam bab ini untuk membantah anggapan orang yang melarang kunyah bagi yang belum mempunyai anak dengan alasan bahwa hal itu menyelisihi fakta.”<a id="ref1" href="#1">[7]</a></p>
<p>Imam Ibnul Qosh asy-Syafi’i <em>rahimahulloh</em> berkata: “Dalam hadits ini terdapat faedah tentang bolehnya memberi kunyah kepada orang yang belum mempunyai anak.”<a id="ref1" href="#1">[8]</a></p>
<p><em>Hadits Kedua</em>:</p>
<p lang="en-US" dir="RTL" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: x-small;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: medium;"><strong>عَنْ عُرْوَةَ أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ </strong></span></span><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: medium;">لِلنَّبِيِّ </span></span></span></span><span style="font-family: Humanst521 BT,Lucida Sans Unicode,sans-serif;"><span style="font-size: medium;"><strong>- </strong></span></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: x-small;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: medium;">صلى الله عليه وسلم</span></span></span></span><span style="font-family: Humanst521 BT,Lucida Sans Unicode,sans-serif;"><span style="font-size: medium;"><strong>-</strong></span><span style="font-family: Islamic_,Courier New,fantasy;"><span style="font-size: medium;">: </span></span></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: x-small;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: medium;"><strong>يَا رَسُوْلَ اللهِ كُلُّ نِسَائِكَ لَهَا كُنْيَةٌ غَيْرِيْ</strong></span></span></span></span><span style="font-family: Humanst521 BT,Lucida Sans Unicode,sans-serif;"><span style="font-family: Islamic_,Courier New,fantasy;"><span style="font-size: medium;">, </span></span></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: x-small;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: medium;"><strong>فَقَالَ لَهَا رَسُوْلُ اللهِ</strong></span></span></span></span><span style="font-family: Humanst521 BT,Lucida Sans Unicode,sans-serif;"><span style="font-family: Islamic_,Courier New,fantasy;"><span style="font-size: medium;">: </span></span></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: x-small;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: medium;"><strong>إِكْتَنِيْ أَنْتِ أُمَّ عَبْدِ اللهِ</strong></span></span></span></span><span style="font-family: Humanst521 BT,Lucida Sans Unicode,sans-serif;"><span style="font-family: Islamic_,Courier New,fantasy;"><span style="font-size: medium;">, </span></span></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: x-small;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: medium;"><strong>فَكَانَ يُقَالُ لَهَا أُمُّ عَبْدِ اللهِ حَتَّى مَاتَتْ وَلَمْ تَلِدْ قُطُّ</strong></span></span></span></span></p>
<p>Dari Urwah bahwasanya ’Aisyah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em> pernah berkata kepada Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wa sallam:</em> “Wahai Rosululloh <em>shalallahu &#8216;alayhi wa sallam</em>, seluruh istrimu mempunyai kunyah selain diriku.”Maka Rosululloh<em> shalallahu &#8216;alayhi wa sallam</em> bersabda, “Berkunyahlah dengan Ummu Abdillah.” Setelah itu ’Aisyah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em> selalu dipanggil dengan Ummu Abdillah<a id="ref1" href="#1">[9]</a> hingga meninggal dunia, padahal dia tidak melahirkan seorang anak pun.”<a id="ref1" href="#1">[10]</a></p>
<p>Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani <em>rahimahulloh</em> berkata: “Hadits ini menunjukkan disyari’atkannya kunyah sekalipun belum mempunyai anak. Karena hal ini termasuk adab Islam yang menurut pengetahuan kami tidak ada dalam agama-agama lainnya. Maka hendaknya kaum muslimin menerapkan Sunnah ini baik kaum pria maupun wanita.”<a id="ref1" href="#1">[11]</a></p>
<p><em>Hadits Ketiga</em>:</p>
<p dir="RTL" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Traditional Arabic,serif;"><span style="font-size: medium;"><strong>أ</strong></span><span style="font-size: medium;"><strong>َنَّ عُمَرَ قَالَ لِصُهَيْبٍ مَا لَكَ تَكْتَنِى بِأَبِى يَحْيَى وَلَيْسَ لَكَ وَلَدٌ</strong></span></span><span style="font-size: medium;"><strong>. </strong></span><span style="font-family: Traditional Arabic,serif;"><span style="font-size: medium;"><strong>قَالَ كَنَّانِى رَسُولُ اللَّهِ </strong></span></span><span style="font-size: medium;"><strong>-</strong></span><span style="font-family: Traditional Arabic,serif;"><span style="font-size: medium;"><strong>صلى الله عليه وسلم</strong></span></span><span style="font-size: medium;"><strong>- </strong></span><span style="font-family: Traditional Arabic,serif;"><span style="font-size: medium;"><strong>بِأَبِى يَحْيَى</strong></span></span><span style="font-size: medium;"><strong>.</strong></span></p>
<p>“Umar <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> pernah mengatakan kepada Shuhaib: ‘Kenapa engkau berkunyah dengan Abu Yahya padahal kamu belum mempunyai anak?’ Maka dia menjawab: ‘Rosululloh <em>shalallahu &#8216;alayhi wa sallam</em> yang memberiku kunyah Abu Yahya.’”<a id="ref1" href="#1">[12]</a></p>
<p>Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani berkata: “Dalam hadits ini terdapat faedah disyari’atkan kunyah bagi yang belum mempunyai anak, bahkan dalam shohih Bukhori dan lainnya bahwa beliau <em>shalallahu &#8216;alayhi wa sallam</em> memberikan kunyah kepada putri kecil dengan Ummu Kholid.”</p>
<p>Sungguh disayangkan, banyak kaum muslimin yang melupakan Sunnah ini. Amat jarang sekali kita menjumpai orang yang berkunyah padahal dia mempunyai anak banyak. Apalagi lagi yang belum mempunyai anak?!<a id="ref1" href="#1">[13]</a><br />
Syaikh Ahmad al-Banna berkata: “Hadits-hadits di atas menunjukkan bolehnya kunyah bagi anak kecil dan dewasa baik sudah mempunyai anak atau belum (dan ini bukanlah suatu kebohongan), baik lelaki atau wanita, dan bolehnya berkunyah dengan selain anaknya. Abu Bakr <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> tidak memiliki anak yang namanya Bakr, Umar <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> tidak memiliki anak yang bernama Hafsh, Abu Dzar <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> tidak memiliki anak yang bernama Dzar, dan seterusnya banyak sekali tak terhitung.</p>
<p>Dibolehkan pula bagi wanita untuk berkunyah dengan nama anak orang lain sekalipun ia tidak memiliki anak, sebagaimana Nabi<em> shalallahu &#8216;alayhi wa sallam</em> memberi kunyah ’Aisyah dengan Ummu Abdillah. Jadi, kunyah itu tidak harus memiliki anak terlebih dahulu dan tidak harus juga ia berkunyah dengan nama anaknya.</p>
<p>Para ulama mengatakan: “Mereka memberikan kunyah kepada anak kecil sebagai rasa optimisme bahwa dia akan hidup hingga mempunyai anak dan sebagai penghindaran diri dari gelar-gelar jelek. Oleh karenanya seorang di antara mereka mengatakan: “Cepatlah berikan kunyah untuk anak-anak kalian sebelum didahului oleh gelar.” <em>Wallohu a’lam</em>.”<a id="ref1" href="#1">[14]</a></p>
<p><strong>KUNYAH PARA SALAF</strong></p>
<p>Berdasarkan hadits-hadits di atas yang menunjukkan disyari’atkannya kunyah bagi anak kecil dan orang dewasa sekalipun belum mempunyai anak, maka merupakan kebiasaan salaf dari kalangan sahabat adalah berkunyah sekalipun belum dikaruniai anak. Imam az-Zuhri rahimahulloh berkata: “Adalah beberapa sahabat, mereka berkunyah sebelum dikaruniai anak.”<a id="ref1" href="#1">[15]</a></p>
<ol>
<li>Ath-Thobroni meriwayatkan dengan sanad shohih dari Alqomah dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu &#8216;anhu bahwasanya Nabi shalallahu &#8216;alayhi wa sallam memberinya kunyah Abu Abdirrohman sebelum dikarunia anak.”</li>
<li>Al-Bukhori dalam Adabul Mufrod meriwayatkan dari Alqomah <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>: “Abdulloh bin Mas’ud <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> memberiku kunyah sebelum aku dikaruniai anak.”</li>
<li>Sa’id bin Manshur meriwayatkan dari Ibrahim, berkata: “Adalah Alqomah <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> diberi kunyah Abu Syibl padahal dia mandul tidak mempunyai anak.”</li>
<li>Al-Bukhori meriwayatkan dari Hilal al-Wazan berkata: “Urwah memberiku kunyah sebelum aku dikaruniai anak.”</li>
<li>Al-Bukhori dalam Tarikh Kabir meriwayatkan dari Hisyam: “Muhammad bin Sirin memberiku kunyah sebelum aku dikaruniai anak.”<a id="ref1" href="#1">[16]</a></li>
</ol>
<p>Oleh karenanya, semua ini dapat membantah pendapat sebagian kalangan yang melarang kunyah bagi orang yang belum mempunyai anak. Jika kita ingin mengutip semuanya, maka banyak sekali ulama salaf dan ahli hadits yang memiliki kunyah<a id="ref1" href="#1">[17]</a>, sehingga banyak pula ditulis kitab-kitab khusus yang membahas tentang kunyah mereka.</p>
<p>Dalam muqoddimah Syaikh Muhammad bin Sholih al-Murod terhadap kitab al-Muqtana fil Kuna hlm. 22-31 beliau menyebutkan lebih dari tiga puluh judul kitab tentang kunyah para perawi hadits, di antaranya adalah al-Kuna oleh Imam Muslim (2 jilid), al-Kuna wal Asma’ oleh ad-Daulabi (2 jilid), al-Kuna oleh Imam Ahmad, al-Hakim Abu Ahmad, Nasai’, Ibnu Mandah, Ali bin Madini dan lain sebagainya.<a id="ref1" href="#1">[18]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>KUNYAH DENGAN ABUL QOSHIM</strong></p>
<p>Rosululloh <em>shalallahu &#8216;alayhi wa sallam</em> menjelaskan mengenai penggunaan kunyah bagi kaum laki-laki dengan menggunakan kunyah Abul Qosim, beliau <em>shalallahu &#8216;alayhi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p><span style="font-family: Traditional Arabic,serif;"><span style="font-size: medium;"><strong>عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ يَقُوْلُ</strong></span></span><span style="font-family: Islamic_,Courier New,fantasy;"><span style="font-size: medium;">: </span></span><span style="font-family: Traditional Arabic,serif;"><span style="font-size: medium;"><strong>قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ</strong></span></span><span style="font-size: medium;"><strong>- </strong></span><span style="font-family: Traditional Arabic,serif;"><span style="font-size: medium;">صلى الله عليه وسلم</span></span><span style="font-family: Tempus Sans ITC,fantasy;"><span style="font-size: medium;"><strong>-</strong></span></span><span style="font-family: Islamic_,Courier New,fantasy;"><span style="font-size: medium;">: </span></span><span style="font-family: Traditional Arabic,serif;"><span style="font-size: medium;"><strong>سَمُّوْا بِاسْمِيْ</strong></span></span><span style="font-family: Islamic_,Courier New,fantasy;"><span style="font-size: medium;">, </span></span><span style="font-family: Traditional Arabic,serif;"><span style="font-size: medium;"><strong>وَلاَ تَكْتَنُوْا بِكُنْيَتِيْ</strong></span></span></p>
<p>Dari Abu Huroiroh <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> berkata, Abul Qosim <em>shalallahu &#8216;alayhi wa sallam</em> berkata: “Pakailah namaku dan jangan berkunyah dengan kunyahku.” <a id="ref1" href="#1">[19]</a></p>
<p>Para ulama berselisih dalam penggunaan kunyah Abul Qosim ini, al-Hafizh Ibnu Qoyyim <em>rahimahulloh</em> berkata: “Pendapat yang benar adalah boleh bernama dengan nama Muhammad dan dilarang berkunyah dengan kunyah Abul Qosim. Larangan ini lebih keras lagi pada masa beliau dan dilarang pula menggabung nama beserta kunyah beliau yakni Muhammad dan Abul Qosim.”<a id="ref1" href="#1">[20]</a></p>
<p>Demikianlah penjelasan singkat tentang sunnahnya kunyah dalam nama. Semoga hal ini bermanfaat bagi kita semua. Amiin.</p>
<p style="text-align: center;">___________________________________________________________________</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[1]</a> Baca kun-yah. Bukan kunyah.</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[2]</a> <em>Syarh Ibnu Aqil ‘ala alfiyah Ibni Malik</em> 1/115 dan <em>al-Qowaid al-Asasiyyah Li Lughotil Arobiyyah</em> hlm. 67 oleh Sayyid Ahmad al-Hasyimi.</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[3]</a> Para ulama berselisih pendapat tentang memberi kunyah kepada orang kafir dan ahli bid’ah. Pendapat yang benar pada asalnya adalah tidak boleh karena termasuk menghormati mereka, tetapi terkadang diperbolehkan apabila ada tujuan dan sebab syar’i. (<em>Mauqif Ahlis Sunnah wal Jama’ah Min Ahlil Bida’ wal Ahwa’</em> 2/584 oleh Dr. Ibrohim ar-Ruhaili <em>hafidzahullah</em>)</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[4]</a>  <em>Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud</em> hlm. 232 oleh Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah <em>rahimahulloh</em>.</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[5]</a> <em>Bekal Menanti Si Buah Hati</em> hlm. 36 oleh Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi <em>hafidzahullah</em>, cet. Media Tarbiyah, Bogor.</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[6]</a> HR. Bukhari 6203, Muslim 2150<br />
<strong>Faedah</strong>: Ibnu Qash asy-Syafi’i <em>rahimahulloh</em> di awal kitabnya <em>Juz fi Fawaid Hadits Ya Aba Umair</em>, menyebutkan bahwa sebagian manusia mencela ahli hadits dan menuding bahwa mereka meriwayatkan sesuatu yang tidak ada faedahnya seperti hadits Abu Umair. Kata beliau: &#8220;Apakah mereka tahu bahwa hadits ini ternyata menyimpan faedah dalam masalah fiqih, adab dan faedah lainnya sehingga mencapai enam puluh faedah?!.” (Lihat <em>Fathul Bari</em> oleh Ibnu Hajar 10/716, <em>Mu’jam al-Mushannafat fi Fathil Bari</em> oleh Masyhur bin Hasan <em>hafidzahullah</em> hlm. 167-168)</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[7]</a>  <em>Fathul Bari</em> 10/714</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[8]</a>  <em>Juz Fiihi Fawaid Hadits Abi Umair</em> hlm. 27, Tahqiq Shobir Ahmad al-Bathowi.</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[9]</a>  Abdulloh di sini adalah keponakan ‘Aisyah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em> yaitu Abdulloh bin Zubair <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>. Adapun riwayat yang menyebutkan bahwa ’Aisyah <em>radhyallahu &#8216;anha</em> pernah keguguran anaknya, maka riwayat ini adalah bathil secara sanad dan matan. (Lihat <em>Tuhfatul Maudud</em> hlm. 231 oleh Ibnu Qoyyim <em>rahimahulloh</em>, al-Adzkar 2/725 oleh an-Nawawi <em>rahimahulloh</em>, <em>al-Ijabah</em> hlm. 41 oleh az-Zarkasyi, <em>Silsilah Adh-Dho’ifah</em> no. 4137 oleh al-Albani <em>rahimahulloh</em>)</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[10]</a> HR. Ahmad 6/107, 151, Abu Dawud 4970, Abdur Rozzaq dalam <em>al-Mushannaf</em> 19858 dengan sanad shohih, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh al-Albani dalam <em>ash-Shohihah</em> no. 132</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[11]</a> <em>Silsilah Ahadits ash-Shohihah</em> 1/257</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[12]</a>  HR. Ibnu Majah: 3738 dan dihasankan oleh Ibnu Hajar dalam <em>al-Ahadits al-Aliyat</em> no. 25 dan dishohihkan al-Albani dalam <em>ash-Shohihah</em> no. 44</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[13]</a> <em>Silsilah Ahadits ash-Shohihah</em> 1/110-111. Lihat pula <em>Nihayatul Hajah Fi Syarh Sunan Ibni Majah</em> 2/1361 oleh as-Sindi dan <em>Silsilah Atsar ash-Shohihah</em> 1/14 oleh Abu Abdillah ad-Dani.</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[14]</a>  <em>Bulughul Amani fi Asrori Fathur Robbani</em> 2/2013. Lihat pula <em>Tuhfatul Maudud</em> hlm. 232 oleh Ibnu Qoyyim dan <em>Aunul Ma’bud</em> 13/212 oleh Adzim Abadi.</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[15]</a><em> al-Mushannaf Ibnu Abi Syaibah</em> (5/26278).</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[16]</a>  Lihat atsar-atsar ini dalam<em> Fathul Bari</em> 10/714 oleh Ibnu Hajar dan <em>Fadhlullohi ash-Shomad</em> 2/677 oleh Fadhlulloh al-Jilani. Dan atsar no. 2 dan 3 dishohihkan al-Albani dalam <em>Shohih Adab Mufrod</em> hlm. 228.</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[17]</a> Al-Hafizh Khothib al-Baghdadi berkata dalam <em>al-Jami’ li Akhlak Rowi wa Adabi Sami</em>’ 2/77: “Dalam ahli hadits banyak sekali para perawi yang cukup disebut dengan kunyah mereka tanpa nama dan nasab mereka karena kemasyhuran mereka dengan kunyah dan tidak dikhawatirkan tercampur dengan lainnya.”</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[18]</a> Lihat<em> al-Baitsul Hatsits</em> 2/594 oleh Ahmad Syakir, tahqiq Syaikhuna Ali Hasan al-Halabi <em>hafidzahullah</em>.</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[19]</a>  HR. Bukhori 3539, Muslim 2134</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[20]</a> <em>Zaadul Ma’ad</em> 2/347. Lihat perbedaan ‘ulama dalam masalah ini secara luas beserta dalil-dalilnya dalam <em>Ahkamul Maulud Fi Sunnah Muthohharoh</em> hlm. 95-103 oleh Salim asy-Syibli dan Muhammad Kholifah ar-Robbah.</p>
<h6 class="uiStreamMessage" data-ft="{&quot;type&quot;:1}"></h6>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://abiubaidah.com/lafadz-sayyiduna-dalam-sholat-bermasalahkah.html/' rel='bookmark' title='Lafadz &#8220;SAYYIDUNA&#8221; Dalam Sholat, Bermasalahkah?'>Lafadz &#8220;SAYYIDUNA&#8221; Dalam Sholat, Bermasalahkah?</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/pelajaran-penting-dalam-khutbah-hajah-nabi.html/' rel='bookmark' title='Pelajaran Penting dalam Khutbah Hajah Nabi'>Pelajaran Penting dalam Khutbah Hajah Nabi</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/kunyah-sebuah-sunnah-dalam-nama.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Imam Syafi&#8217;i Ngalap Berkah?</title>
		<link>http://abiubaidah.com/imam-syafi%e2%80%99i-rahimahullah-ngalap-berkah-di-kuburan-imam-abu-hanifah-rahimahullah.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/imam-syafi%e2%80%99i-rahimahullah-ngalap-berkah-di-kuburan-imam-abu-hanifah-rahimahullah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Sep 2011 06:14:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin5</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah dan Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Tak Nyata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=780</guid>
		<description><![CDATA[MUQODDIMAH Sengketa lahan di area pemakaman Mbah Priok alias Habib Hasan bin Muhammad al Haddad, Koja, Jakarta Utara, Rabu (14/4), berubah menjadi pertikaian berdarah. Lebih dari seratus orang, baik dari warga maupun petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Polisi mengalami luka-luka. Mbah Priok dikenal sebagai penyebar ajaran agama Islam di tanah Batavia, pada [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://abiubaidah.com/kontroversi-kedatangan-imam-mahdi.html/' rel='bookmark' title='Kontroversi Kedatangan Imam Mahdi'>Kontroversi Kedatangan Imam Mahdi</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/sumber-aqidah-imam-syafi%e2%80%99i.html/' rel='bookmark' title='Aqidah Imam Syafi’i'>Aqidah Imam Syafi’i</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/kajian-asyafii.html/' rel='bookmark' title='Kajian Umum Madiun: Prinsip-Prinsip Imam Asy-Syafi&#8217;i dalam Beragama'>Kajian Umum Madiun: Prinsip-Prinsip Imam Asy-Syafi&#8217;i dalam Beragama</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>MUQODDIMAH</strong></p>
<p>Sengketa lahan di area pemakaman Mbah Priok alias Habib Hasan bin Muhammad al Haddad, Koja, Jakarta Utara, Rabu (14/4), berubah menjadi pertikaian berdarah. Lebih dari seratus orang, baik dari warga maupun petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Polisi mengalami luka-luka.</p>
<p>Mbah Priok dikenal sebagai penyebar ajaran agama Islam di tanah Batavia, pada abad ke-18. Sosoknya begitu dihormati, sehingga kerap kali umat Islam berziarah ke makamnya. Rasa hormat warga terhadap sosok karismatik Mbah Priok laksana bensin dan percikan api yang mudah terbakar apabila tokoh yang mereka hormati direndahkan.</p>
<p>Demikian sekilas berita yang hangat baru-baru ini terjadi. Kita semua menyayangkan aksi itu terjadi. Tragedi itu harus diambil pelajaran agar jangan sampai terulang kembali dalam sejarah Indonesia. Caranya adalah dengan melakukan pencerahan dan pemahaman kepada masyarakat dan para tokoh.</p>
<p>Dari tragedi tersebut terdapat pelajaran yang sangat penting sekali, yakni bahwasannya sedemikian kuatnya sikap berlebih-lebihan mayoritas kaum muslimin kepada kuburan yang dikeramatkan, sehingga mereka rela mengorbankan jiwa guna mempertahankannya. Bagaimanakah sebenarnya hukum ‘<em>ngalap</em>’ berkah dengan kuburan?! Inilah yang akan kita bahas dalam kajian kita melalui sebuah kisah tak nyata tentang Imam Syafi’i <em>rahimahullah</em>.</p>
<p><strong>TEKS KISAH</strong></p>
<p>Konon, diceritakan bahwa Imam Syafi’i <em>rahimahullah</em> pernah mengatakan: “Saya ngalap berkah dengan Abu Hanifah <em>rahimahullah</em>. Aku mendatangi kuburannya setiap hari. Apabila aku ada hajat, maka aku pergi ke kuburannya, sholat dua roka’at dan berdo’a di sisi kuburan Abu Hanifah <em>rahimahullah</em>, kemudian tak lama dari itu Alloh <em>&#8216;azza wajalla</em> mengabulkan do’aku”.<span id="more-780"></span></p>
<p><strong>TAKHRIJ DAN DERAJAT KISAH</strong></p>
<p><strong>BATIL</strong>. Kisah ini dicantumkan oleh al-Khothib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad 1/123 dari jalur Umar bin Ishaq bin Ibrohim dari Ali bin Maimun dari asy-Syafi’i. Riwayat ini adalah <span style="text-decoration: underline;">lemah</span>, bahkan <span style="text-decoration: underline;">batil</span>, karena Umar bin Ishaq tidak dikenal dan tidak disebutkan dalam kitab-kitab perowi hadits.<a id="ref1" href="#1">[1] </a></p>
<p>Kisah ini adalah kedustaan yang amat nyata. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah <em>rahimahullah</em> berkata: “Ini adalah kedustaan yang sangat nyata bagi orang yang memiliki ilmu hadits… Orang yang menukil kisah ini hanyalah orang yang sedikit ilmu dan agamanya.”<a id="ref1" href="#1">[2]</a> Ibnu Qoyyim <em>rahimahullah</em> juga berkata: “Kisah ini termasuk kedustaan yang sangat nyata.”<a id="ref1" href="#1">[3]</a> Dalam kitab Tab’id Syaithon dijelaskan: “Adapun cerita yang dinukil dari Imam Syafi’i <em>rahimahullah</em> bahwa beliau biasa pergi ke kuburan Abu Hanifah <em>rahimahullah</em>, maka itu adalah kisah dusta yang amat nyata.”<a id="ref1" href="#1">[4]</a> Maka janganlah engkau dengarkan apa yang dikatakan oleh al-Kautsari bahwa sanad kisah ini adalah shohih<a id="ref1" href="#1">[5]</a>, karena ini adalah termasuk kesalahannya.</p>
<p><strong>Bukti-Bukti Kebatilan Kisah</strong></p>
<p>Beberapa bukti yang menguatkan kedustaan kisah ini adalah sebagai berikut.</p>
<ol>
<li>Tatkala imam Syafi’i <em>rahimahullah</em> datang ke Baghdad, di sana tidak ada kuburan yang biasa didatangi untuk berdo’a.</li>
<li>Imam Syafi’i <em>rahimahullah</em> telah melihat di Hijaz, Yaman, Syam, Iraq, Mesir, kuburan-kuburan para Nabi, sahabat dan tabi’in dimana mereka lebih utama daripada Abu Hanifah <em>rahimahullah</em>. Lantas, mengapa beliau hanya pergi ke kuburan Abu Hanifah <em>rahimahullah</em> saja?</li>
<li>Dalam kitabnya <em>al-Umm</em> 1/278, Imam Syafi’i <em>rahimahullah</em> telah menegaskan bahwa beliau membenci pengagungan kubur karena khawatir fitnah dan kesesatan. Maksud beliau dengan pengagungan yaitu sholat dan berdo’a di sisinya. Apakah mungkin beliau menyelisihi ucapannya sendiri?!<a id="ref1" href="#1">[6]</a></li>
<li>Hal yang menguatkan batilnya kisah ini adalah pengingkaran Imam Abu Hanifah <em>rahimahullah</em> terhadap meminta-minta kepada selain Alloh <em>subhanahu wa ta&#8217;aala</em>. Dalam kitab <em>ad-Durr al-Mukhtar</em> dan kitab-kitab Hanafiyyah sering dinukil ucapan Imam Abu Hanifah <em>rahimahullah</em>: “Saya membenci seorang meminta kecuali hanya kepada Alloh <em>&#8216;azza wajalla</em>”. “Tidak boleh bagi seorang pun meminta kepada selain Alloh <em>&#8216;azza wajalla</em> akan tetapi justru kepada-Nya saja.” Dan tidak ragu lagi bahwa dalam masalah tawassul pendapat Imam Syafi’i <em>rahimahullah</em> adalah sama dengan pendapat Abu Hanifah <em>rahimahullah</em>. Lantas, bagaimana mungkin beliau bertawassul kepadanya padahal ia tahu bahwa Abu Hanifah <em>rahimahullah</em> membenci dan mengharamkannya? Sama sekali tidak masuk akal. Bahkan hal itu akan membuat murka Imam Abu Hanifah <em>rahimahullah</em>. Semua itu adalah mustahil, kedua Imam ini berlepas diri dari kisah dusta tersebut. Namun, apa yang kita katakan kepada para pendusta?! Hanya kepada Alloh <em>&#8216;azza wajalla</em> kita mengadu. Ya Alloh, kami berlepas diri dari apa yang mereka perbuat.”<a id="ref1" href="#1">[7]</a><strong></strong></li>
</ol>
<p><strong>Memahami Masalah Tabarruk</strong></p>
<p>Kisah ini dijadikan dalil oleh sebagian kalangan untuk melegalkan ngalap berkah yang tidak disyari’atkan<a id="ref1" href="#1">[8]</a> seperti <em>ngalap</em> berkah kepada kuburan-kuburan orang sholih. Oleh karenanya, masalah tabarruk akan kami singgung secara singkat.</p>
<p>Ketahuilah wahai saudaraku bahwa sesungguhnya tabarruk atau yang biasa disebut dengan ngalap berkah ada dua macam:</p>
<p><em>1.Tabarruk masyru’</em>, yaitu tabarruk dengan hal-hal yang disyari’atkan. Seperti al-Qur’an, air zam-zam, bulan Romadhon dan sebagainya. Akan tetapi tidak boleh ber tabarruk dengan hal-hal tersebut kecuali sesuai syari’at dan dengan niat bahwa hal itu hanyalah sebab, sedangkan yang memberikan barokah adalah Alloh <em>subhanahu wa ta&#8217;aala</em>. Sebagaimana sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alayhi wa sallam</em>:</p>
<p><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: medium;"><strong>الْبَرَكَةُ مِنَ اللهِ</strong></span></span></span></p>
<p>“<em>Barokah itu (bersumber) dari Alloh subhanahu wa ta&#8217;aala</em>.”<a id="ref1" href="#1">[9]</a></p>
<p><em>2.Tabarruk Mamnu’</em>, yaitu tabarruk dengan hal-hal yang tidak disyari’atkan. Hukumnya<em><span style="text-decoration: underline;"> tidak boleh</span>,</em> seperti tabarruk dengan pohon, batu ajaib (!), kuburan, dzat kyai dan lain sebagainya.<a id="ref1" href="#1">[10]</a></p>
<p>Yakinlah bahwa tidak ada yang bisa mendatangkan manfaat dan menolak madhorot kecuali hanya Alloh <em>&#8216;azza wajalla</em> semata. Semua itu adalah <em>khurofat</em> <em>jahiliyyah</em> yang diberantas oleh agama Islam. Oleh karena itu, simaklah ucapan Amirul mukminin Umar bin Khoththob <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> tatkala berkata ketika mencium hajar aswad:</p>
<p><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: medium;"><strong>إِنِّى أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ ، وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ النَّبِىَّ </strong></span></span></span><span style="font-size: medium;"><strong>- </strong></span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: medium;"><strong>صلى الله عليه وسلم </strong></span></span></span><span style="font-size: medium;"><strong>- </strong></span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: medium;"><strong>يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ</strong></span></span></span></p>
<p>“Saya tahu bahwa engkau adalah batu yang tidak bisa memberikan bahaya atau manfaat. Seandainya saya tidak melihat Rosululloh <em>shalallahu &#8216;alayhi wa sallam</em> menciummu maka saya tidak menciummu.”<a id="ref1" href="#1">[11]</a></p>
<p>Imam Ibnul Mulaqqin <em>rahimahullah</em> berkata tentang atsar di atas: “Ucapan ini merupakan pokok dan landasan yang sangat agung dalam masalah <em>ittiba</em>’ (mengikuti) kepada Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wa sallam</em> sekalipun tidak mengetahui alasannya, serta meninggalkan ajaran jahiliyyah berupa pengagungan terhadap patung dan batu. Karena memang tidak ada yang dapat memberikan manfaat dan menolak bahaya kecuali Alloh <em>&#8216;azza wajalla</em> semata. Sedangkan batu tidak bisa memberikan manfaat, lain halnya dengan keyakinan kaum jahiliyyah terhadap patung-patung mereka.</p>
<p>Maka Umar <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> ingin memberantas anggapan keliru tersebut yang masih melekat dalam benak manusia.”<a id="ref1" href="#1">[12]</a> Jenis tabarruk ini telah diingkari secara keras oleh para ulama Syafi’iyyah. Menarik sekali dalam masalah ini apa yang telah dikisahkan bahwa tatkala ada berita kepada Imam Syafi’i <em>rahimahullah</em>, bahwa sebagian orang ada yang bertabarruk dengan peci Imam Malik <em>rahimahullah</em>, maka serta merta beliau mengingkari perbuatan itu.<a id="ref1" href="#1">[13]</a></p>
<p>Imam Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<blockquote>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: medium;"><strong>وَمَنْ خَطَرَ بِبَالِهِ أَنَّ الْمَسْحَ بِالْيَدِ وَنَحْوِهِ أَبْلَغُ فِي الْبَرَكَةِ فَهُوَ مِنْ جَهَالَتِهِ وَغَفْلَتِهِ لِأَنَّ الْبَرَكَةَ إِنَّمَا هِيَ فِيْمَا وَافَقَ الشَّرْعَ وَكَيْفَ يَنْبَغِي الْفَضْلَ فِيْ مُخَالَفَةِ الصَّوَابِ؟</strong></span></span></span></p>
<p>“Barangsiapa yang terbersit dalam hatinya, bahwa mengusap-usap dengan tangan dan semisalnya lebih mendatangkan barokah, maka hal itu menunjukkan kejahilannya dan kelalaiannya. Karena barokah itu hanyalah yang sesuai dengan syari’at. Bagaimanakah mencari keutamaan dengan menyelisihi kebenaran?!.”<a id="ref1" href="#1">[14]</a></p></blockquote>
<p>Al-Ghozali juga berkata:</p>
<blockquote>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: medium;"><strong>فَإِنَّ الْمَسَّ وَالتَّقْبِيْلَ لِلْمَشَاهِدِ عَادَةُ الْيَهُوْدِ وَالنَّصَارَى</strong></span></span></span></p>
<p>“Sesungguhnya mengusap-usap dan menciumi kuburan merupakan adapt istiadat kaum Yahudi dan Nasrani.”<a id="ref1" href="#1">[15]</a></p></blockquote>
<p>Demikianlah ketegasan para ulama Syafi’iyyah.<a id="ref1" href="#1">[16]</a> Bandingkanlah hal ini dengan fakta yang ada pada kaum muslimin sekarang!! Berikut ini dua kisah nyata tentang fakta di lapangan sekarang, kemudian saya serahkan komentar dan hukumnya kepada para pembaca sekalian.</p>
<p><em>Pertama:</em> Kisah yang dibawakan oleh <em>akhuna</em> (saudara kami), al-Ustadz Abdulloh Zaen: “Ketika penulis diberi kesempatan ke kota Martapura, sebagian kaum muslimin di sana dengan penuh keprihatinan bercerita: “Kira-kira 1 bulan setelah guru Ijay<a id="ref1" href="#1">[17]</a> dimakamkan, nisan di atas kuburannya hampir ambruk. Pasalnya setiap hari puluhan atau ratusan orang berziarah berebut menciumi dan mengusap-usap nisan tersebut!!” Hanya kepada Alloh <em>&#8216;azza wajalla</em> kita mengadu kejahilan sebagian kaum muslimin tersebut<a id="ref1" href="#1">.[18]</a></p>
<p><em>Kedua:</em> Kisah yang dibawakan oleh al-Ustadz Muhammad Arifin Badri: “Saya pernah mendengar penuturan salah seorang kawan saya sendiri (dan kisah ini adalah kisah yang ia alami secara langsung). Kawan saya berasal dari salah satu pondok pesantren di Kota Jombang Jawa Timur. Pada suatu hari ia diajak oleh bibinya berkunjung ke daerah Nganjuk –Jawa Timur untuk mengunjungi seorang wali. Setibanya di rumah wali itu, dia dipersilahkan masuk ke ruang tamu laki-laki, sedangkan bibinya dipersilahkan masuk ke ruang tamu wanita. Sepulang dari rumah wali itu, bibinya berkata: “Wah, tadi di ruang wanita, saya menyaksikan beberapa wali, di antaranya ada wali laki-laki yang keluar menemui kita dengan telanjang bulat dan tidak sehelai benang pun menempel di badannya. Setelah berada di tengah-tengah ruangan, wali telanjang itu disodori sebatang rokok oleh sebagian pelayannya. Ia pun mulai mengisap rokok, dan baru beberapa isapan rokoknya dicampakkan ke lantai. Melihat puntung rokok tergeletak di lantai itu, ibu-ibu yang sedang berada di ruang tamu berebut memungutnya. Setelah seorang ibu berhasil mendapatkannya ia langsung memerintahkan anaknya yang masih kecil untuk ganti mengisap puntung rokok tersebut. Alasannya “agar mendapatkan keberkahan sang wali dan menjadi anak pandai.”<a id="ref1" href="#1">[19]</a></p>
<p>Demikianlah pembahasan singkat tentang masalah ini. Semoga bermanfaat bagi semuanya. Amiin.<a id="ref1" href="#1">[20]</a></p>
<p style="text-align: center;">_____________________________________________________________________________________</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[1] </a>Lihat<em> Silsilah Ahadits Adh-Dho’ifah</em> 1/78 oleh al-Albani.</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[2]</a> <em>Iqtidho’ Shirothil Mustaqim</em> 2/685-686.</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[3] </a><em>Ighotsatul Lahfan</em> 1/399.</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[4]</a>  <em>At-Tawashul Ila Haqiqoti Tawassul</em> hlm. 339-340.</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[5]</a> <em>Maqolat al-Kautsari</em> hlm. 381.</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[6]</a> Lihat<em> Iqtidho’ Shirothil Mustaqim</em> 2/686 oleh Ibnu Taimiyyah dan <em>at-Tabarruk</em> hlm. 345 oleh Dr. Nashir al-Judai’.</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[7]</a>  <em>Qoshoshun Laa Tatsbutu</em> 2/85-86 oleh Syaikhuna Masyhur bin Hasan Salman <em>hafidzahullahu ta&#8217;ala</em>.</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[8]</a> Persis dengan kisah ini juga kisah tentang tabarruknya Imam Syafi’i <em>rahimahullah</em> dengan bajunya Imam Ahmad bin Hanbal <em>rahimahullah</em>. Kisah ini dibawakan oleh Ibnul Jauzi dalam <em>Manaqib</em> <em>Imam Ahmad bin Hanbal</em> hlm. 609-610. Kisah ini adalah kisah yang tidak shohih. (Lihat <em>Siyar A’lam Nubala’</em> 12/587-588 oleh adz-Dzahabi, <em>at-Tabarruk</em> hlm. 386-387 oleh Dr. Nashir al-Juda’i, <em>Qoshoshun Laa Tatsbutu</em> 4/85-90 oleh Yusuf al-‘Atiq).</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[9]</a>  HR. Bukhori 3579.</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[10]</a> Lihat masalah tabarruk secara luas dan bagus dalam kitab <em>“at-Tabarruk Anwa’uhu wa Ahkamuhu”</em> oleh DR. Nashir bin Abdirrohman al-Judai’.</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[11]</a> HR. Bukhori 1597 dan Muslim 1270.</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[12]</a> <em>Al-I’lam bi Fawa’id Umdatil Ahkam</em> 6/190. Lihat komentar indah para ulama madzhab Syafi&#8217;i lainnya tentang atsar ini dalam Juhud Syafi&#8217;iyyah fi Taqrir Tauhidil Ibadah oleh DR. Abdulloh al-‘Anquri hlm. 582-584.</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[13]</a>  Lihat <em>Manaqib Syafi’I</em> 1/508 oleh al-Baihaqi dan <em>Syarh Arba’in al-‘Ajluniyyah</em> hlm. 262-263 oleh Syaikh Jamaluddin al-Qosimi.</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[14]</a> <em> Al-Majmu’ Syarh Muhadzab</em> 8/275.</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[15]</a> <em>Ihya’ Ulumuddin</em> 1/254.</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[16]</a> Lihat secara luas upaya ulama madzhab Syafi’iyyah dalam menjelaskan tauhid ibadah dan memberantas syirik dalam <em>Juhud Syafi’iyyah fi Taqrir Tauhid Ibadah</em> oleh Dr. Abdulloh al-‘Unquri, <em>Bayanu Syirki ‘Inda Ulama Syafi’iyyah</em> oleh Dr. Abdurrohman al-Khumais, <em>Imam Syafi’i Menggugat Syirik</em> oleh akhuna al-Fadhil al-Ustadz Abdulloh Zaen.</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[17]</a>  Dia bernama Muhammad Zaini bin Abdul Ghoni, salah seorang yang sangat ditokohkan di Kalimantan. Meninggal pada 05 Rojab 1426 H/10 Agustus 2005. Di antara keanehannya dia pernah mengaku mimpi bertemu Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wa sallam</em> dan Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wa sallam</em> sujud kepadanya!!! <em>Allohul Musta’an.</em></p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[18]</a> <em> Imam Syafi’i Menggugat Syirik</em> hlm. 115-116.</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[19]</a> <em>Dzikir ‘Ala Tasawwuf </em> hlm. 45.</p>
<p style="text-align: left;"><a id="1" href="#ref1">[20] </a>Pembahasan ini dinukil dari bahan buku yang sedang disusun oleh penulis dengan judul <em>“Manhaj Salafi Imam Syafi’i.”</em> Semoga Alloh <em>ta&#8217;ala</em> memudahkan penyempurnaannya dengan rohmat-Nya. Amiin.</p>
<p class="sdfootnote" align="JUSTIFY"><span style="font-size: xx-small;"><br style="font-size: xx-small;" /></span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://abiubaidah.com/kontroversi-kedatangan-imam-mahdi.html/' rel='bookmark' title='Kontroversi Kedatangan Imam Mahdi'>Kontroversi Kedatangan Imam Mahdi</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/sumber-aqidah-imam-syafi%e2%80%99i.html/' rel='bookmark' title='Aqidah Imam Syafi’i'>Aqidah Imam Syafi’i</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/kajian-asyafii.html/' rel='bookmark' title='Kajian Umum Madiun: Prinsip-Prinsip Imam Asy-Syafi&#8217;i dalam Beragama'>Kajian Umum Madiun: Prinsip-Prinsip Imam Asy-Syafi&#8217;i dalam Beragama</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/imam-syafi%e2%80%99i-rahimahullah-ngalap-berkah-di-kuburan-imam-abu-hanifah-rahimahullah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Perayaan Haul</title>
		<link>http://abiubaidah.com/sorotan-tajam-hukum-perayaan-haul.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/sorotan-tajam-hukum-perayaan-haul.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Sep 2011 08:41:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin5</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah dan Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=798</guid>
		<description><![CDATA[Muqoddimah Di tanah air Indonesia ini, perayaan haul seorang syaikh, wali, sunan, kiai, habib, atau tokoh lainnya bukanlah hal yang asing bagi kebanyakan kita. Di pinggir-pinggir jalan sering dipajang spanduk bertuliskan &#8220;Hadirilah acara peringatan haul Syaikh—fulan—yang ke—sekian kalinya.&#8221; Acara haul sudah merupakan upacara ritual seremonial yang biasa dilakukan oleh umumnya masyarakat Indonesia untuk memperingati hari [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://abiubaidah.com/nikah-beda-agama.html/' rel='bookmark' title='Nikah Beda Agama (Hukum Islam VS Hukum Setan)'>Nikah Beda Agama (Hukum Islam VS Hukum Setan)</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/kajian-maulid.html/' rel='bookmark' title='Kajian Umum: Hakikat Perayaan Maulid Nabi'>Kajian Umum: Hakikat Perayaan Maulid Nabi</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/hukum-arisan.html/' rel='bookmark' title='Hukum Arisan'>Hukum Arisan</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Muqoddimah</strong></p>
<p>Di tanah air Indonesia ini, perayaan haul seorang syaikh, wali, sunan, kiai, habib, atau tokoh lainnya bukanlah hal yang asing bagi kebanyakan kita. Di pinggir-pinggir jalan sering dipajang spanduk bertuliskan &#8220;Hadirilah acara peringatan haul Syaikh—fulan—yang ke—sekian kalinya.&#8221;</p>
<p>Acara haul sudah merupakan upacara ritual seremonial yang biasa dilakukan oleh umumnya masyarakat Indonesia untuk memperingati hari kematian seseorang. Awalnya, acara ini biasanya diselenggarakan setelah proses penguburan, kemudian berlanjut setiap hari sampai hari ke-7. Lalu diselenggarakan lagi pada hari ke-40 dan ke-100. Untuk selanjutnya acara tersebut diadakan tiap tahun di hari kematian si mayit atau yang masyhur dikenal dengan &#8220;haul&#8221; yang berarti &#8220;tahun&#8221; dalam bahasa Arab.</p>
<p>Perayaan haul dengan berbagai variasi acaranya cukup memukau banyak kalangan, dihadiri oleh para tokoh agama dan petinggi daerah. Masyarakat pun berjubel-jubel antusias menghadirinya dengan berbagai macam keyakinan dan tujuan hingga tanpa disadari acara ini seakan menjadi suatu kelaziman. Konsekuensinya, bila ada yang tidak menyelenggarakan acara tersebut berarti telah menyalahi adat dan akibatnya diasingkan dari masyarakat. Bahkan, lebih jauh lagi, acara tersebut seolah-olah membangun opini muatan hukum yaitu sunnah atau wajib dikerjakan, dan sebaliknya bid’ah dan salah bila ditinggalkan.</p>
<p>Hal yang sangat mengherankan adalah kurangnya usaha banyak orang untuk mencari kebenaran tentang status hukum perayaan ini ditinjau dari sudut pandang syari’at Islam yang mulia. Oleh karena itu, penting sekali adanya penjelasan secara ilmiah dan komprehensif tentang masalah yang menjadi pro dan kontra ini sehingga tidak menyisakan celah-celah perdebatan dan keraguan pada masyarakat kaum muslimin tentang hakikat perayaan ini. Berikut ini adalah usaha sederhana dari hamba yang lemah ini untuk mengupas masalah ini. Semoga bermanfaat.<span id="more-798"></span></p>
<p><strong> Islam Telah Sempurna</strong></p>
<p>Di antara nikmat terbesar yang Alloh anugerahkan kepada umat ini adalah disempurnakannya agama ini sebagaimana dalam firman-Nya:</p>
<p lang="ar-SA"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: me_quran,sans-serif;"><span style="font-size: medium;">ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَـٰمَ دِينًۭا ۚ </span></span></span></p>
<p lang="ar-SA"><em>&#8220;Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Kuridhoi Islam sebagai agamamu.&#8221;</em> (QS. al-Ma‘idah [5]: 3)</p>
<p>Al-Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata, &#8220;Ini merupakan kenikmatan Alloh yang terbesar kepada umat ini, di mana Alloh telah menyempurnakan agama mereka sehingga mereka tidak membutuhkan agama selainnya dan (tidak membutuhkan) nabi selain nabi mereka. Oleh karena itu, Alloh menjadikannya sebagai penutup para nabi dan mengutusnya kepada jin dan manusia. Maka tidak ada sesuatu yang halal selain apa yang beliau halalkan, tidak ada yang haram kecuali yang beliau haramkan, tidak ada agama selain apa yang beliau syari’atkan, dan setiap apa yang beliau beritakan adalah benar dan jujur, tiada kedustaan di dalamnya.&#8221;</p>
<p>Tidaklah Rosululloh <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> meninggalkan dunia ini melainkan telah meninggalkan kaum muslimin dalam jalan yang terang-benderang, malamnya seperti siangnya. Semua permasalahan yang dibutuhkan oleh hamba telah dijelaskan dalam syari’at Islam, hingga permasalahan yang dipandang remeh oleh kebanyakan manusia seperti adab buang hajat.</p>
<p>Dengan sempurnanya Islam, maka segala perbuatan bid’ah dalam agama dinilai sebagai kelancangan terhadap syari’at dan ralat terhadap pembuat syari’at bahwa masih ada permasalahan yang belum dijelaskan. Al-Imam Malik bin Anas <em>rahimahullah</em> mengeluarkan perkataan emas tentang ayat ini. Beliau berkata:</p>
<p>مَنِ ابْتَدَعَ فِيْ الإِسْلَامِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً فَقَدْ زَعَمَ أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ ‏n‮ ‬خَانَ‮ ‬الرِّسَالَةَ‮ ‬لِأَنَّ‮ ‬اللَّهَ‮ ‬تَعَالَى‮ ‬يَقُوْلُ‮ ‬الْيَوْمَ‮ ‬أَكْمَلْتُ‮ ‬لَكُمْ‮ ‬دِينَكُمْ‮ ‬فَمَا‮ ‬لَمْ‮ ‬يَكُنْ‮ ‬يَوْمَئِذٍ‮ ‬دِيْنًا‮ ‬فَلَا‮ ‬يَكُوْنُ‮ ‬الْيَوْمَ‮ ‬دِيْنًا</p>
<p>“Barang siapa melakukan bid’ah dalam Islam dan menganggapnya baik (bid’ah hasanah), maka sesungguhnya dia telah menuduh Muhammad <em>shalallahu &#8216;alayhi wa sallam</em> mengkhianati risalah, karena Alloh Ta’ala berfirman, ‘Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu.’ Karena itu, apa saja yang di hari itu (pada zaman Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wa sallam</em>) bukan sebagai agama, maka pada hari ini juga tidak termasuk agama.”<sup><a id="ref1" href="#1">[1] </a></sup></p>
<p><strong>Perayaan Dalam Islam</strong></p>
<p>Ketahuilah—wahai saudaraku—bahwa perayaan tahunan dalam Islam hanya ada dua macam, Idul Fitri dan Idul Adha, berdasarkan hadits:</p>
<p dir="RTL" align="RIGHT"><span style="font-family: Traditional Arabic,serif;"><span style="font-size: medium;"><strong>عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ </strong></span></span><span style="font-family: Traditional Arabic,serif;"><span style="font-size: medium;">: </span></span><span style="font-family: Traditional Arabic,serif;"><span style="font-size: medium;"><strong>كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا</strong></span></span><span style="font-family: Traditional Arabic,serif;"><span style="font-size: medium;">, </span></span><span style="font-family: Traditional Arabic,serif;"><span style="font-size: medium;"><strong>فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم الْمَدِينَةَ قَالَ </strong></span></span><span style="font-family: Traditional Arabic,serif;"><span style="font-size: medium;">:</span></span><span style="font-family: Traditional Arabic,serif;"><span style="font-size: medium;"><strong>كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا </strong></span></span><span style="font-family: Traditional Arabic,serif;"><span style="font-size: medium;">: </span></span><span style="font-family: Traditional Arabic,serif;"><span style="font-size: medium;"><strong>يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى</strong></span></span></p>
<p>Dari Anas bin Malik <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> berkata, &#8220;Tatkala Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> datang di kota Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari untuk bersenang-senang (bergembira) sebagaimana di waktu jahiliah, lalu beliau bersabda, ‘Saya datang kepada kalian dan kalian memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang sebagaimana di waktu jahiliah. Dan sesungguhnya Alloh telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik, Idul Adha dan Idul Fitri.&#8221;<a id="ref15" href="#15"><sup>[2]</sup></a></p>
<p>Hadits ini menunjukkan bahwa Rosululloh <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> tidak ingin umatnya membuat-buat perayaan baru yang tidak disyari’atkan Islam. Alangkah bagusnya ucapan al-Hafizh Ibnu Rojab <em>rahimahullah</em>, &#8220;Sesungguhnya perayaan tidaklah diadakan berdasarkan logika dan akal sebagaimana dilakukan oleh ahli kitab sebelum kita, tetapi berdasakan syari’at dan dalil.&#8221;<a id="ref15" href="#15"><sup>[3]</sup></a></p>
<p>Beliau juga berkata, &#8220;Tidak disyari’atkan bagi kaum muslimin untuk membuat perayaan kecuali perayaan yang diizinkan syari’at yaitu Idul Fitri, Idul Adha, hari-hari tasyriq — ini perayaan tahunan, dan hari Jum’at — ini perayaan mingguan. Selain itu, menjadikannya sebagai perayaan adalah bid’ah dan tidak ada asalnya dalam syari’at.&#8221;<a id="ref15" href="#15"><sup>[4]</sup></a></p>
<p>Syaikh Bakr Abu Zaid <em>rahimahullah</em> berkata, &#8220;Perayaan dalam Islam itu terbatas dan diketahui. Hal ini sesuai dengan kaidah syari’at bahwa ibadah itu harus sesuai dengan dalil sehingga tidak boleh beribadah kepada Alloh kecuali dengan apa yang telah disyari’atkan. Dan hal ini juga berdasarkan kaidah haramnya berbuat bid’ah dalam agama. Dan sesuai dengan kaidah haramnya tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir dalam hal-hal yang khusus bagi mereka, baik berupa ucapan, perbuatan, mode dan sebagainya.&#8221;<a id="ref15" href="#15"><sup>[5]</sup></a></p>
<p>Adapun perayaan dan peringatan pada zaman sekarang, maka tak terhitung jumlahnya, baik di negeri muslim apalagi di negeri nonmuslim. Lihatlah, betapa banyak perayaan yang diselenggarakan di kuburan, petilasan, tokoh, negara, dan sebagainya dari perayaan-perayaan yang tidak diizinkan oleh Alloh. Di India misalnya, berdasarkan penelitian, penduduk muslim di sana memiliki 144 hari perayaan pada setiap tahunnya.<a id="ref15" href="#15"><sup>[6]</sup></a></p>
<p><strong>Gambaran Seputar Perayaan Haul</strong></p>
<p>Sebelum memasuki pembahasan lebih lanjut, alangkah baiknya kita mengetahui gambaran perayaan haul secara singkat agar kita memahami masalah ini dengan baik:<sup><a id="ref15" href="#15">[7]</a></sup></p>
<p><strong>Definisinya</strong></p>
<p>Haul yang sering disebut dengan khol adalah berasal dari kata Arab &#8220;haul&#8221; yang artinya secara bahasa adalah &#8220;tahun&#8221;. Adapun yang dimaksud dengan perayaan haul sebagaimana yang lazim berjalan di masyakat tanah air ialah acara peringatan hari ulang tahun kematian.</p>
<p><strong>Waktu dan tempat</strong></p>
<p>Acara ini biasanya diselenggarakan di halaman kuburan mayit yang diperingati atau sekitarnya, tetapi ada pula yang diselenggarakan di rumah, masjid, dan lain-lain. Adapun waktunya, biasanya diselenggarakan tepat pada hari ulang tahun wafat mayit yang diperingati, yang lazimnya tergolong orang yang berjasa kepada Islam dan kaum muslimin semasa hidupnya. Acara ini biasanya berlangsung sampai tiga hari tiga malam dengan aneka variasi acara. Dan bagi yang diselenggarakan secara pribadi, biasanya hanya secara sederhana dengan memakan waktu beberapa saat dengan sekadar penyelenggaraan acara tahlilan dan hidangan makan sesudahnya.</p>
<p><strong>Suasana acara</strong></p>
<p>Apabila acara haul ini untuk seorang yang berpengaruh besar di masa hidupnya, maka biasanya diselenggarakan besar-besaran dengan dibentuk panitia lengkap dengan bagian-bagiannya. Acara tersebut berjalan dengan meriah dengan berbagai acara seperti tilawah al-Qur‘an, bacaan tahlil secara massal dengan selingan acara kesenian seperti seni <em>hadhroh</em> (pemukulan rebana dengan bacaan sholawat Nabi). Dan di sepanjang jalan dalam jarak beberapa ratus meter dari pusat penyelenggaraan acara, biasanya penuh dengan aneka macam stan penjualan berbagai macam barang dagangan dan berbagai rupa makanan di samping penjualan mainan anak-anak yang menambah semaraknya suasana sehingga situasi pada hari-hari tersebut sangat meriah, tak ubahnya seperti pasar malam.</p>
<p><strong>Maksud dan Tujuan Acara<strong></strong></strong></p>
<p>Maksud penyelenggaraan acara ini antara lain untuk kirim pahala bacaan ayat-ayat suci al-Quran dan bacaan-bacaan lainnya di samping juga untuk tujuan seperti <em>tawassul</em>, <em>tabarruk</em> (ngalap berkah), <em>istighotsah</em>, dan pelepasan <em>nadzar</em> kepada si mayit. Disebutkan bahwa tujuan inti dari acara tersebut diadakan adalah dalam rangka mengenang sejarah atau biografi seorang yang ditokohkan. Oleh sebab itu, momentum <em>haul</em> selalu dinanti oleh umat Islam dengan tujuan, menapaktilasi dan meneladani rekam jejak perjuangan orang yang di-<em>haul</em>-i.</p>
<p><strong>Sejarah Perayaan Haul</strong></p>
<p>Ketahuilah wahai saudaraku—semoga Alloh <em>&#8216;azza wajalla</em> memberikan kepahaman kepadamu—bahwa perayaan haul ini tidaklah dikenal di zaman Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em>, para sahabat, para tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Perayaan tersebut tidak pula dikenal oleh imam-imam madzhab: Abu Hanifah, Malik, Ahmad, dan Syafi’i. Karena memang perayaan ini adalah perkara baru dalam agama Islam. Adapun yang pertama kali mengadakannya adalah kelompok <em>Rofidhoh</em> (Syi’ah) yang menjadikan hari kematian Husain pada bulan Asyuro yang telah diingkari oleh para ulama.</p>
<p>Alangkah bagusnya ucapan al-Hafizh Ibnu Rojab <em>rahimahullah</em>, &#8220;Adapun menjadikan hari Asyuro sebagai hari kesedihan (ratapan) sebagaimana dilakukan oleh kaum <em>Rofidhoh</em> karena terbunuhnya Husain bin Ali, maka hal itu termasuk perbuatan orang yang tersesat usahanya dalam kehidupan dunia sedangkan dia mengira berbuat baik. Alloh dan rosul-Nya saja tidak pernah memerintahkan agar hari musibah dan kematian para nabi dijadikan ratapan, lantas bagaimana dengan orang yang selain mereka?&#8221;<sup><a id="ref15" href="#15">[8]</a></sup></p>
<p>Husain bin Ali bin Abi Tholib adalah cucu Rosululloh <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> dari perkawinan Ali bin Abi Tholib <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> dengan putri beliau, Fatimah binti Rosulillah <em>radhiallahu &#8216;anha</em>. Husain sangat dicintai oleh Rosululloh <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em>. Namun, apa pun musibah yang terjadi dan betapapun kita sangat mencintai keluarga Rosululloh <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> tidak boleh menjadi alasan untuk bertindak melanggar aturan syari’at dengan memperingati hari kematian Husain!! Sebab, peristiwa terbunuhnya orang yang dicintai Rosululloh <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> sebelum Husain juga pernah terjadi, seperti terbunuhnya Hamzah bin Abdil Mutholib <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, dan hal itu tidak menjadikan Rosululloh <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> dan para sahabatnya <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em> mengenang atau memperingati hari terjadinya peristiwa tersebut, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Syi’ah untuk mengenang terbunuhnya Husain!!<sup><a id="ref15" href="#15">[9]</a></sup></p>
<p>Apalagi kalau kita telusuri bersama, sejatinya perayaan kematian seperti ini adalah berawal dari kepercayaan-kepercayaan nonmuslim tentang kembalinya arwah-arwah mayit sehingga perlu dibuatkan sajen-sajen. Tentu saja, kepercayaan-kepercayaan tersebut adalah batil menurut pandangan syari’at Islam.<sup><a id="ref15" href="#15">[10]</a></sup></p>
<p><strong>Hukum Perayaan Haul</strong></p>
<p>Menghukumi sesuatu ini boleh atau tidak bukanlah perkara yang amat mudah. Tidak boleh kita gegabah dalam menghukumi, apalagi tentang permasalahan ini yang sudah mendarah daging di masyarakat hingga saat ini. Marilah kita tinggalkan semua fanatisme golongan, hawa nafsu, dan adat yang tidak berdasar. Marilah kita kembalikan semua perselisihan kepada al-Qur‘an dan sunnah Rosululloh <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em>, sebagaimana firman Alloh:</p>
<p dir="RTL" align="RIGHT"><a name="sign_4_59"></a> <span style="font-family: me_quran,serif;"><span style="font-size: medium;">فَإِن تَنَـٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍۢ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۚ ذَ‌ٰلِكَ خَيْرٌۭ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا ﴿٥٩﴾</span></span></p>
<p><em>Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh (al-Qur‘an) dan Rosul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.</em> (QS. an-Nisa‘ [4]: 59)</p>
<p>Setelah kita mengembalikan masalah ini kepada al-Qur‘an dan Sunnah, ternyata tidak kita dapati satu pun dalil yang menunjukkan disyari’atkannya perayaan ini. Demikian juga kita tidak mendapati bahwa Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em>, para sahabat <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em>, dan para ulama/imam salaf mengadakan perayaan maulid, sehingga jelaslah bagi orang yang hendak mencari kebenaran dan jauh dari kesombongan bahwa perayaan maulid Nabi adalah perbuatan yang tertolak. <span style="text-decoration: underline;">Sekali lagi, janganlah standar kita adalah kebanyakan orang tetapi jadikan standar hukum kita adalah al-Qur‘an dan sunnah Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam.</em></span></p>
<p>Ada beberapa argumen yang menguatkan batilnya perayaan haul ini sebagai berikut:</p>
<p><em>Pertama</em>:</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Seandainya perayaan ini disyari’atkan, tentu akan dijelaskan oleh Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> sebelum wafatnya karena Alloh telah menyempurnakan agama-Nya.</span></p>
<p dir="RTL" align="RIGHT"><span style="font-family: me_quran,serif;"><span style="font-size: medium;">ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَـٰمَ دِينًۭا</span></span></p>
<p dir="RTL" align="RIGHT"><em>Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Kuridhoi Islam sebagai agamamu.</em> (QS. al-Ma‘idah [5]: 3)</p>
<p><em>Kedua</em>:</p>
<p>Seandainya perayaan maulid ini merupakan bagian agama yang disyari’atkan tetapi Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> tidak menjelaskannya kepada umat, maka itu berarti Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> berkhianat. Hal ini tidak mungkin karena <span style="text-decoration: underline;">Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> telah menyampaikan risalah Alloh dengan amanah dan sempurna</span> sebagaimana disaksikan oleh umatnya dalam perkumpulan yang besar di Arafah ketika haji wada’:</p>
<p>عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ فِيْ قِصَّةِ حَجَّةِ النَّبِيِّ : &#8230; وَأَنْتُمْ تُسْأَلُونَ عَنِّي، فَمَا أَنْتُمْ قَائِلُونَ؟ قَالُوا : نَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ، وَأَدَّيْتَ، وَنَصَحْتَ, فَقَالَ بِإِصْبِعِهِ السَّبَابَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى السَّمَاءِ، وَيَنْكُتُهَا إِلَى النَّاسِ : اللَّهُمَّ اشْهَدْ، اللَّهُمَّ اشْهَدْ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ</p>
<p>Dari Jabir bin Abdillah <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> tentang kisah hajinya Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> (setelah beliau berkhotbah di Arafah). Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> bersabda, &#8220;Kalian akan ditanya tentang diriku, lantas apakah jawaban kalian?&#8221; Mereka menjawab, &#8220;Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan, menunaikan, dan menasihati.&#8221; Lalu Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> mengatakan dengan mengangkat jari telunjuknya ke langit dan mengisyaratkan kepada manusia, &#8220;Ya Alloh, saksikanlah, ya Alloh saksikanlah, sebanyak tiga kali.&#8221;<sup><a id="ref15" href="#15">[11]</a></sup></p>
<p><em>Ketiga</em>:</p>
<p>Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> bersabda:</p>
<p>مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ</p>
<p><em>&#8220;Barang siapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada contohnya dari kami maka tertolak.&#8221;(HR. Muslim: 3243)</em></p>
<p>Hadits ini dan yang semakna dengannya menunjukkan tercelanya bid’ah dalam agama sekalipun dianggap baik oleh manusia. Dan perayaan haul termasuk perkara yang bid’ah dalam agama karena tidak pernah dicontohkan oleh Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> dan para sahabatnya <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em></p>
<p><em>Keempat</em>:</p>
<p>Seandainya perayaan haul ini disyari’atkan, niscaya tidak akan ditinggalkan oleh para sahabat <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em> dan para generasi utama yang dipuji oleh Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em>:</p>
<p>خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ</p>
<p><em>&#8220;Sebaik-baik manusia adalah masaku</em>.&#8221; (HR. al-Bukhori: 3651, Muslim: 2533)</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Seandainya perayaan haul ini baik, tentu para salaf lebih berhak mengerjakannya daripada kita karena mereka jauh lebih cinta kepada Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> dan mereka lebih bersemangat dalam melaksanakan kebaikan</span>.</p>
<p><em>Kelima</em>:</p>
<p>Perayaan <em>haul</em> termasuk acara <em>slametan</em> (selamatan, Jawa) kematian/tahlilan yang dilarang dalam hadits dan pendapat ulama dari berbagai madzhab.</p>
<p>عَنْ جَرِيْرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْبَجَلِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ :كُنَّا نَعُدُّ (وَفِيْ رِوَايَةٍ كُنَّا نَرَى) الإِجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَ صَنِيْعَةَ الطَّعَامِ مِنَ النِّيَاحَةِ</p>
<p>Dari Jarir bin Abdillah al-Bajali <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> berkata, &#8220;<em>Kami (para sahabat) menganggap (dalam riwayat lain berpendapat) bahwa berkumpul-kumpul kepada ahli mayit dan membuat makanan setelah (si mayit) dikubur termasuk kategori niyahah (meratapi).&#8221;<a id="ref15" href="#15">[12]</a></em></p>
<p>Dan para ulama dari berbagai madzhab telah menegaskan tentang bid’ahnya acara kematian baik 7 harinya, 40 harinya, 100 harinya atau 1.000 harinya, atau setahunnya. Anehnya, yang paling tegas mengingkari bid’ahnya acara kematian tersebut adalah ulama-ulama madzhab Syafi’i.<a id="ref15" href="#15">[13]</a> Di antaranya al-Imam asy-Syafi’i <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p>وَ أَكْرَهُ الْمَأَتِمَ وَهِيَ الْجَمَاعَةَ وَ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ بُكَاءٌ فَإِنَّ ذَلِكَ يُجَدِّدُ الْحُزْنَ وَ يُكَلِّفُ الْمُؤْنَةَ مَعَ مَا مَضَى مِنَ الأَثَرِ</p>
<p>&#8220;Dan saya membenci berkumpul-kumpul (dalam kematian) sekalipun tanpa diiringi tangisan karena hal itu akan memperbaharui kesedihan dan memberatkan tanggungan (keluarga mayit) serta berdasarkan atsar (hadits) yang telah lalu.&#8221;<a id="ref15" href="#15">[14]</a></p>
<p>Ucapan al-Imam asy-Syafi’i di atas sangat jelas menunjukkan bahwa beliau melarang peringatan kematian/<em>slametan</em>/<em>tahlilan</em>/<em>haul</em> karena tiga alasan:</p>
<ol>
<li>Mengingatkan kembali rasa kesedihan</li>
<li>Menyusahkan diri</li>
<li>Hadits yang menegaskan bahwa hal itu termasuk meratapi mayit.</li>
</ol>
<p><strong>Kemungkaran-Kemungkaran Perayaan Haul</strong></p>
<p>Perayaan haul ini di samping tidak ada ajarannya dalam agama Islam, juga banyak mengandung kemungkaran-kemungkaran yang bertentangan dengan syari’at. Bila demikian keadaannya, maka mungkinkah syari’at Islam yang mulia ini menganjurkan atau membolehkannya?!!</p>
<p>1. <strong>Dalam perayaan haul terdapat wasilah <em>ghuluw</em> (berlebih-lebihan) terhadap orang-orang sholih dan tempat-tempat keramat<a id="ref15" href="#15">[15]</a>, sehingga berdo’a dan memohon pertolongan kepada selain Alloh, bertabarruk (ngalap berkah) yang keliru<a id="ref15" href="#15">[16]</a> dan keyakinan-keyakinan keliru lainnya</strong>.</p>
<p>Firman Alloh:</p>
<p>يَـٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَـٰبِ لَا تَغْلُوا۟ فِى دِينِكُمْ</p>
<p><em>Wahai ahli kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu.</em> (QS. an-Nisa‘ [4]: 171)</p>
<p>Ayat ini, sekalipun ditujukan kepada ahli kitab, maksudnya adalah untuk memberikan peringatan kepada umat ini agar menjauhi sebab-sebab yang mengantarkan murka Alloh kepada umat-umat sebelumnya.<br />
Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> bersabda:</p>
<p>يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِى الدِّينِ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِى الدِّينِ</p>
<p>&#8220;<em>Wahai sekalian manusia, waspadalah kalian terhadap sikap berlebih-lebihan dalam agama karena sikap berlebih-lebihan dalam agama telah membinasakan orang-orang sebelum kalian</em>.&#8221;<a id="ref15" href="#15">[17]</a></p>
<p><strong>2. Bila perayaan ini diselenggarakan di area pekuburan maka terjatuh dalam larangan menjadikan kuburan sebagai tempat perayaan dan larangan menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah</strong>.</p>
<p>Rosululloh <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> bersabda :</p>
<p>لَا تَجْعَلُوا قَبْرِي عِيدًا وَصَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ تَبْلُغُنِي حَيْثُ كُنْتُمْ</p>
<p><em>&#8220;Janganlah kamu jadikan kuburanku sebagai ’id (perayaan) dan bersholawatlah kamu kepadaku karena sholawat itu akan sampai kepadaku di mana pun kamu berada.&#8221;<a id="ref15" href="#15">[18]</a></em></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Jika Rosululloh <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> melarang kuburannya dijadikan sebagai tempat hari raya, haul, atau tempat kunjungan beramai-ramai, bagaimana dengan kuburan selainnya?!! Tentu saja dilarang juga</span>.</p>
<p>Rosululloh <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> juga bersabda:</p>
<p>لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنْ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ</p>
<p>&#8220;Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, karena sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya Surah al-Baqoroh.&#8221; (HR. Muslim: 1300)</p>
<p>Hadits ini mengisyaratkan bahwa kuburan bukanlah tempat untuk beribadah. Oleh karena itu, Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> menganjurkan untuk membaca al-Qur‘an di rumah dan melarang menjadikan rumah sebagai kuburan yang tidak dibacakan al-Qur‘an di dalamnya.</p>
<p><strong>3. Ratapan kepada mayit</strong></p>
<p>Perayaan kematian ini termasuk meratapi mayit sebagaimana dalam hadits Jarir bin Abdillah al-Bajali <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> di atas. Sementara itu, meratapi mayit hukumnya adalah haram dengan kesepakatan ulama. Meratapi juga termasuk perkara jahiliah dan dosa besar<a id="ref15" href="#15">[20]</a>. karena Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> mengancam pelakunya dengan adzab<a id="ref15" href="#15">[21]</a>. Al-Qurthubi <em>rahimahullah</em> berkata, &#8220;Semua itu adalah haram dan termasuk perkara jahiliah tanpa ada perselisihan ulama.<a id="ref15" href="#15">[22]</a>&#8221;</p>
<p>Di antara hikmah di balik larangan ini adalah karena hal itu menyalakan kembali api kesedihan. Dikisahkan bahwa Ibnu Aqil—seorang ulama—pernah mengantarkan jenazah putra kesayangannya yang bernama Aqil. Tatkala berada di kuburan, ada seorang berteriak seraya membacakan firman Alloh:</p>
<p>قَالُوا۟ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلْعَزِيزُ إِنَّ لَهُۥٓ أَبًۭا شَيْخًۭا كَبِيرًۭا فَخُذْ أَحَدَنَا مَكَانَهُۥٓ ۖ إِنَّا نَرَىٰكَ مِنَ ٱلْمُحْسِنِينَ</p>
<p>Mereka berkata, &#8220;Wahai al-Aziz, sesungguhnya ia mempunyai ayah yang sudah lanjut usianya, lantaran itu ambillah salah seorang di antara Kami sebagai gantinya, sesungguhnya kami melihat kamu termasuk orang-orang yang berbuat baik.&#8221; (QS. Yusuf [12]: 78)</p>
<p>Mendengar hal itu, Ibnu Aqil <em>rahimahullah</em> berkata, <span style="text-decoration: underline;">&#8220;Sesungguhnya al-Qur‘an diturunkan untuk menenangkan kesedihan, bukan untuk menyalakan kesedihan.</span>&#8220;<a id="ref15" href="#15">[23]</a></p>
<p><strong>4. Pemborosan dan memberatkan diri</strong></p>
<p>Islam adalah agama yang mudah. Namun, sebagian orang mempersulit diri sendiri dan menyusahkan diri sendiri dengan mengeluarkan dana yang tidak sedikit guna mengadakan perayaan ini baik karena malu atau takut celaan masyarakat, dan kadang untuk bergaya, sehingga terjatuh dalam pemborosan dan mengamburkan harta secara sia-sia. Tahukah anda bahwa pada sebagian peringatan haul besar bisa sampai mengeluarkan dana milyaran?!! Bukankah sebaiknya jika di<em>shodaqoh</em>kan kepada fakir miskin atau kebutuhan yang bermanfaat lainnya?!! Alloh <em>&#8216;azza wajalla</em> berfirman:</p>
<p>إِنَّ ٱلْمُبَذِّرِينَ كَانُوٓا۟ إِخْوَ‌ٰنَ ٱلشَّيَـٰطِينِ ۖ وَكَانَ ٱلشَّيْطَـٰنُ لِرَبِّهِۦ كَفُورًۭا</p>
<p>&#8220;<em>Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Robbnya.&#8221;</em> (QS. al-Isro‘ [17]: 27)</p>
<p><strong>5. Ikhtilath</strong></p>
<p>Suatu yang tidak dipungkiri lagi bahwa perayaan haul tidak sepi dari kemungkaran seperti ikhtilath (campur baur) antara pria dan wanita, merokok, dan lain sebagainya.<a id="ref15" href="#15">[24]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Syubhat dan Jawabannya</strong></p>
<p>Pembahasan tentang upacara kematian ini sebenarnya cukup luas dan syubhat-syubhat tentangnya juga cukup banyak.<a id="ref15" href="#15">[25]</a> Namun, di sini saya akan mencantumkan satu syubhat secara khusus tentang acara peringatan haul yang dijadikan dalil oleh sebagian orang yang merayakannya. Berikut kutipan ucapan mereka:</p>
<p>Diriwayatkan bahwa Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> selalu berziarah ke makam para syuhada di Bukit Uhud pada setiap tahun. Demikian juga para sahabat:</p>
<p>وَ رَوَى الْبَيْهَقِي فِي الشَّعْبِ، عَنِ الْوَاقِدِي، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَزُوْرُ الشُّهَدَاءَ بِأُحُدٍ فِي كُلِّ حَوْلٍ. وَ إذَا بَلَغَ رَفَعَ صَوْتَهُ فَيَقُوْلُ: سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّار</p>
<p>Al-Baihaqi meriwayatkan dari al-Wakidi mengenai kematian, bahwa Nabi SAW senantiasa berziarah ke makam para syuhada di bukit Uhud setiap tahun. Dan sesampainya di sana beliau mengucapkan salam dengan mengeraskan suaranya, “Salamun alaikum bima shabartum fani’ma uqbad daar” — QS Ar-Ra’d: 24 — Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.</p>
<p>Inilah yang menjadi sandaran hukum Islam bagi pelaksanaan peringatan haul atau acara tahunan untuk mendoakan dan mengenang para ulama, sesepuh dan orang tua kita.</p>
<p>Lanjutan riwayat:</p>
<p>ثُمَّ أبُوْ بَكْرٍ كُلَّ حَوْلٍ يَفْعَلُ مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ عُمَرُ ثُمَّ عُثْمَانُ. وَ كاَنَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا تَأتِيْهِ وَ تَدْعُوْ. وَ كاَنَ سَعْدُ ابْنِ أبِي وَقَّاصٍ يُسَلِّمُ عَلَيْهِمْ ثُمَّ يَقْبَلُ عَلَى أصْحَابِهِ، فَيَقُوْلُ ألاَ تُسَلِّمُوْنَ عَلَى قَوْمٍ يَرُدُّوْنَ عَلَيْكُمْ بِالسَّلَامِ</p>
<p>Abu Bakar juga melakukan hal itu setiap tahun, kemudian Umar, lalu Utsman. Fatimah juga pernah berziarah ke bukit Uhud dan berdoa. Saad bin Abi Waqqash mengucapkan salam kepada para syuhada tersebut kemudian ia menghadap kepada para sahabatnya lalu berkata, “Mengapa kalian tidak mengucapkan salam kepada orang-orang yang akan menjawab salam kalian?”</p>
<p>Demikian dalam kitab Syarah Al-Ihya juz 10 pada fasal tentang ziarah kubur. Lalu dalam kitab Najhul Balaghah dan Kitab Manaqib As-Sayyidis Syuhada Hamzah RA oleh Sayyid Ja’far Al-Barzanji dijelaskan bahwa hadits itu menjadi sandaran hukum bagi orang-orang Madinah untuk yang melakukan Ziarah Rajabiyah (ziarah tahunan setiap bulan Rajab) ke maka Sayidina Hamzah yang ditradisikan oleh keluarga Syeikh Junaid al-Masra’i karena ini pernah bermimpi dengan Hamzah yang menyuruhnya melakukan ziarah tersebut.<a id="ref15" href="#15">[26]</a></p>
<p><strong>Jawaban</strong>:</p>
<p>Sebetulnya syubhat seperti ini sangat nyata sekali kelemahannya bagi seorang yang dikaruniai oleh Alloh ilmu agama. Namun karena khawatir adanya saudara kami yang kurang berilmu tertipu dengan syubhat ini maka izinkanlah kami memberikan komentar terhadap syubhat ini:</p>
<ol>
<li>Kami telah mengecek kitab<em> Syu’abul Iman</em> karya al-Imam al-Baihaqi, bahkan kami juga melacaknya melalui program <em>“Maktabah Syamilah”</em>, namun sayangnya hadits dengan redaksi di atas tidak kami temukan. Oleh karena itu, tanpa mengurangi rasa hormat kami berharap kepada saudara kami yang membawakan hadits di atas untuk mencantumkan sumbernya secara jelas juz dan halamannya, agar kita lihat sanad hadits ini, sebab <span style="text-decoration: underline;">bila tanpa sanad, maka semua orang bisa berbicara,</span> sebagaimana kata al-Imam Ibnul Mubarok <em>rahimahulloh</em>.</li>
<li> Kalau kita cermati nukilan di atas, kita akan merasakan kejanggalan, bagaimana al-Waqidi langsung meriwayatkan dari Rosululloh <em>shalallahu &#8216;alayhi wa sallam</em>, padahal beliau (al-Waqidi) wafat tahun 207 H. Berarti ada mata rantai sanad yang terputus. Apalagi, al-Waqidi telah dilemahkan haditsnya oleh mayoritas ulama ahli hadits seperti al-Bukhori, an-Nasa‘i, ad-Daroquthni, dan lain-lain, sehingga al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahulloh</em> berkata menyimpulkan statusnya, “Matruk (ditinggalkan haditsnya) sekalipun dia luas ilmunya.<a id="ref15" href="#15">[27]</a></li>
<li>Anggaplah hadits ini shohih, tetap bisa dijadikan dalil tentang perayaan haul? Coba anda bayangkan, dari arah mana segi perdalilan hadits ini? Bukankah yang terdapat dalam hadits ini hanya berbicara tentang ziarah kubur saja, lantas bagaimana bisa disamakan dengan perayaan haul yang lazim diamalkan manusia zaman sekarang dengan aneka variasi acaranya yang khas? Pernah model perayaan seperti diamalkan oleh Nabi dan para sahabatnya?! Sungguh, ini adalah penyesatan yang sangat nyata dalam berdalil.</li>
<li>Kami tambahkan di sini bahwa mimpi Syaikh Junaid al-Masro’i di atas adalah bukanlah hujjah sama sekali, karena mimpi bukanlah landasan dalam agama Islam<a id="ref15" href="#15">[28]</a> itu hanyalah bualan kaum sufi belaka yang beribadah dengan impian dan hawa nafsu. Demikian juga ritual rojabiyyah itu tidak ada dasarnya dalam agama, bahkan termasuk bid’ah dalam agama.<a id="ref15" href="#15">[29]</a></li>
</ol>
<p><strong>Penutup</strong><br />
Demikianlah penjelasan singkat tentang perayaan haul. Semoga tulisan ini dapat menjadi sinar kebenaran bagi para pencari kebenaran. Carilah kebenaran itu dan peganglah erat-erat. Tinggalkan segala belenggu fanatik dan taklid yang acapkali membutakan pandangan orang dan yakinlah bahwa timbangan kebenaran itu bukanlah pada mayoritas atau minoritas, melainkan pada dalil yang dibangun di atas al-Qur‘an, hadits shohih sesuai dengan pemahaman salaf sholih. Semoga Alloh menjadikan kita termasuk para pencari kebenaran dan penegak kebenaran. Amin.</p>
<p style="text-align: center;">____________________________________________________________</p>
<p><a id="1" href="#ref1">[1] </a> <em>Al-I’tishom</em> 1/64–65 al-Imam asy-Syatibi (tahqiq: Salim al-Hilali)</p>
<p><a id="1" href="#ref1">[2] </a>HR. Ahmad: 3/103, Abu Dawud: 1134, dan an-Nasa‘i: 3/179.</p>
<p><a id="1" href="#ref1">[3] </a><em>Fathul Bari:</em> 1/159, Tafsir Ibnu Rojab: 1/390</p>
<p><a id="1" href="#ref1">[4] </a><em>Latho‘iful Ma’arif</em> hlm. 228</p>
<p><a id="1" href="#ref1">[5] </a><em>Iedul Yuyil Bid’atun Fil Islam</em> hlm. 7–8</p>
<p><a id="1" href="#ref1">[6] </a><em>Ahkam Iedain Fi Sunnah al-Muthohharoh</em> hlm. 14, Ali bin Hasan al-Halabi</p>
<p><a id="1" href="#ref1">[7] </a>Diringkas dari buku &#8220;<em>Kupas Tuntas Masalah Peringatan Haul</em>&#8221; karya Imron AM, hlm. 13–14, cet. al-Fikar, tahun 2005 M.</p>
<p><a id="1" href="#ref1">[8] </a> <em>Latho‘iful Ma’arif</em> hlm. 113</p>
<p><a id="1" href="#ref1">[9] </a><em>Syahr al-Muharrom wa Yaum ’Asyuro</em>, Abdulloh Haidir, hlm. 29</p>
<p><a id="1" href="#ref1">[10] </a><em>Al-Arba’in wal Khomis wa Dzikro Sanawiyyah</em> hlm. 12–13 oleh Amr Abdul Mun’im. Lihat pula buku &#8220;<em>Santri NU Menggugat Tahlilan&#8221;</em> oleh Harry Yuniardi dan buku <em>&#8220;Muallaf Menggugat Tahlilan</em>&#8221; oleh Ust.  Abdul Aziz (mantan pendeta Hindu).</p>
<p><a id="1" href="#ref1">[11] </a>HR. Muslim: 1218</p>
<p><a id="1" href="#ref1">[12] </a><em>Shohih</em>. Dikeluarkan Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnad-nya (2/204) dan ini lafazhnya dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (1/514 no. 1612) dan dishohihkan oleh an-Nawawi, al-Bushoiri, asy-Syaukani, Ahmad Syakir, dan al-Albani dalam Ahkamul Jana‘iz hlm. 210 cet. Mkt. Ma’arif.</p>
<p><a id="1" href="#ref1">[13] </a>Lihat <em>al-Majmu’:</em> 5/290 karya an-Nawawi,<em> al-Amru Bil Ittiba</em>’ hlm. 288 karya as-Suyuthi, <em>I’anah Tholibin:</em> 2/145–146 oleh Syaikh Abu Bakar Muhammad Syatho.</p>
<p><a id="1" href="#ref1">[14] </a><em>Al-Umm</em>: 1/318</p>
<p><a id="1" href="#ref1">[15] </a>Lihat masalah ini dalam <em>al-Atsar wal Masyahid wa Atsaru Ta’zhimihima ’Ala Ummat Islamiyyah</em> oleh Dr. Abdul Aziz al-Jufar.</p>
<p><a id="1" href="#ref1">[16] </a>Di antara kepercayaan masyarakat yang sampai saat ini masih menebal adalah bahwa barokah mayit yang diupacarai itu menembus sampai ke berkat (nasi/<em>bubur kharisa</em> hasil <em>kenduri)</em> upacara <em>haul</em> sehingga mereka menyimpan berkat tersebut untuk persediaan selama setahun dengan cara dikeringkan, biasanya untuk obat panas dengan cara direndam dalam air kemudian diminumkan pada si sakit atau setiap kali mereka menanak nasi maka berkat <em>haul</em> tadi ditaburkan sedikit agar berasnya tidak habis-habis karena berkahnya mbah Kyai. (Lihat <em>Buku Putih Kyai NU</em> hlm. 184 oleh Kyai Afrokhi Abdul Ghoni). Dan lihat tentang masalah tabarruk dengan kuburan orang sholih dalam kitab <em>at-Tabaruk</em> oleh Dr. Nashir al-Juda’i hlm. 388–415.</p>
<p><a id="1" href="#ref1">[17] </a>HR. an-Nasa‘i: 3057 dengan sanad shohih</p>
<p><a id="1" href="#ref1">[18] </a>HR. Abu Dawud: 1746 dishohihkan oleh al-Albani dalam <em>Shohihul Jami’</em> no. 7226.</p>
<p><a id="1" href="#ref1">[19] </a>Lihat <em>Fathul Bari</em> kar. Ibnu Hajar: 1/685.</p>
<p><a id="1" href="#ref1">[20] </a>Lihat <em>al-Kaba‘ir</em> oleh al-Imam adz-Dzahabi (tahqiq: Masyhur bin Hasan) hlm. 358–359</p>
<p><a id="1" href="#ref1">[21] </a>Karena patokan (definisi) dosa besar adalah “setiap dosa yang memiliki hukuman di dunia seperti membunuh, berzina, mencuri, atau yang mendapat ancaman di akhirat berupa adzab, murka, atau dilaknat pelakunya oleh Alloh atau melalui lisan rosul-Nya”. (Lihat<em> Majmu’ Fatawa</em>: 11/650–657 Ibnu Taimiyyah, al-Kaba‘ir hlm. 89 adz-Dzahabi)</p>
<p><a id="1" href="#ref1">[22] </a><em>Al-Mufhim</em>: 2/577</p>
<p><a id="1" href="#ref1">[23] </a><em>Al-Qoulul Mufid</em>: 2/25 Ibnu Utsaimin</p>
<p><a id="1" href="#ref1">[24] </a>Lihat pula <em>Bid’aul Qubur Anwa’uhu wa Ahkamuhu</em> hlm. 339–340 oleh Syaikh Sholih al-Ushoimi dan <em>at-Tabarruk</em> hlm. 417 oleh Dr. Nashir al-Juda’i, <em>al-Arba’in wal Khomis wa Dzikro Sanawiyyah</em> hlm. 14–46 oleh Amr Abdul Mun’im, 2/260.</p>
<p><a id="1" href="#ref1">[25] </a>Sudah banyak ustadz dan peneliti yang menulis buku tentang hal ini, seperti Ustadzuna Abdul Hakim bin Amir Abdat dalam <em>Hukum Tahlilan Menurut Empat Madzhab</em>, Ustadz Abu Ihsan al-Medani dalam <em>Bincang-Bincang Seputar Tahlilan Yasinan dan Maulidan</em>, ustadzuna Abu Ibrohim dalam <em>Penjelasan Gamblang Tentang Yasinan Tahlilan dan Selametan</em>, Ustadz Hartono Ahmad Jaiz dalam<em> Tarekat Tasawwuf Tahlilan dan Maulidan</em>, Ustadz Abdul Aziz dalam <em>Muallaf Menggugat Tahlilan</em>, saudara Harry Yuniardi dalam <em>Santri NU Menggugat Tahlilan.</em> Dan saya juga memiliki tulisan ringkas mengenai hal ini berjudul<em> Tahlilan Dalam Pandangan Ulama Madzhab</em>, tercetak bersama buku saya <em>Polemik Perayaan Maulid Nabi.</em></p>
<p><a id="1" href="#ref1">[26] </a>http://www.nu.or.id/</p>
<p><a id="1" href="#ref1">[27] </a><em>Tahdzib Tahdzib:</em> 9/364–365. Lihat pula <em>as-Siroh an-Nabawiyyah Fi Dhou‘i al-Mashodir Ashliyyah:</em> 1/32–33 oleh Dr. Mahdi Rizqulloh.</p>
<p><a id="1" href="#ref1">[28] </a>Lihat masalah ini secara bagus dalam <em>al-Muqoddimat al-Mumahhidat as-Salafiyyat Fi Tafsir Ru‘a wal Manamat</em> hlm. 247–276 oleh Masyhur Hasan Salman dan Umar Abu Tholhah, dan kitab <em>Ushulun Bila Ushulin</em> hlm. 63–76 oleh Dr. Muhammad bin Isma’il al-Muqoddam.</p>
<p><a id="1" href="#ref1">[29] </a>Lihat <em>Bida’un wa Akhtho</em>‘ 3 hlm. 18 oleh Ahmad as-Sulami.</p>
<p>&nbsp;</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://abiubaidah.com/nikah-beda-agama.html/' rel='bookmark' title='Nikah Beda Agama (Hukum Islam VS Hukum Setan)'>Nikah Beda Agama (Hukum Islam VS Hukum Setan)</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/kajian-maulid.html/' rel='bookmark' title='Kajian Umum: Hakikat Perayaan Maulid Nabi'>Kajian Umum: Hakikat Perayaan Maulid Nabi</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/hukum-arisan.html/' rel='bookmark' title='Hukum Arisan'>Hukum Arisan</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/sorotan-tajam-hukum-perayaan-haul.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lafadz &#8220;SAYYIDUNA&#8221; Dalam Sholat, Bermasalahkah?</title>
		<link>http://abiubaidah.com/lafadz-sayyiduna-dalam-sholat-bermasalahkah.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/lafadz-sayyiduna-dalam-sholat-bermasalahkah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jun 2011 09:23:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin5</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah dan Bid'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=772</guid>
		<description><![CDATA[Beradab kepada Rosululloh shalallahu &#8216;alayhi wasallam merupakan kewajiban kita. Tidak ada seorang muslim pun yang memiliki keimanan mempermasalahkan hal itu. Namun, bagaimana wujud adab kepada Rosululloh shalallahu &#8216;alayhi wasallam? Sebuah pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang ilmiah. Bagaimana dengan perkataan sayyiduna dalam sholawat ketika sholat. Apakah sebaiknya kita mengucapkannya dengan alasan adab kepada Nabi, ataukah tidak [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://abiubaidah.com/kunyah-sebuah-sunnah-dalam-nama.html/' rel='bookmark' title='Kun-yah, Sunnah dalam Nama'>Kun-yah, Sunnah dalam Nama</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/nikah-tanpa-kua.html/' rel='bookmark' title='Nikah Tanpa KUA: Bermasalahkah?'>Nikah Tanpa KUA: Bermasalahkah?</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/pelajaran-penting-dalam-khutbah-hajah-nabi.html/' rel='bookmark' title='Pelajaran Penting dalam Khutbah Hajah Nabi'>Pelajaran Penting dalam Khutbah Hajah Nabi</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beradab kepada Rosululloh <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> merupakan kewajiban kita. Tidak ada seorang muslim pun yang memiliki keimanan mempermasalahkan hal itu. Namun, bagaimana wujud adab kepada Rosululloh <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em>? Sebuah pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang ilmiah. Bagaimana dengan perkataan <em>sayyiduna </em>dalam sholawat ketika sholat. Apakah sebaiknya kita mengucapkannya dengan alasan adab kepada Nabi, ataukah tidak mengucapkan karena hal juga merupakan petunjuk Nabi? Inilah yang akan menjadi pokok bahasan kita kali ini. Selamat mengikuti.</p>
<p><strong>TEKS HADITS</strong></p>
<blockquote><p>لاَ تُسَيِّدُوْنِيْ فِي الصَّلاَةِ<br />
<em> “Janganlah kalian menjadikan aku sayyid dalam sholat</em>.”</p></blockquote>
<p>Bahwa hadits diatas TIDAK ADA ASALNYA. Hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama ahli hadits. Al-Hafizh as-Sakhowi menegaskan: “Tidak ada asalnya”<a id="ref1" href="#1"><sup>[1] </sup></a>Dan disetujui murid beliau Abdurrohman bin Ali asy-Syaibani<a id="ref2" href="#2"><sup>[2]</sup></a>, al-Qori <a id="ref3" href="#3"><sup>[3]</sup></a> dan lain sebagainya.</p>
<p>Selain hadits ini adalah dusta dan tidak ada asalnya, ditinjau dari segi bahasa Arab, dalam lafadz hadits ini terdapat kejanggalan sebab secara kaidah bahasa seharusnya‭ ( لاَ‮ ‬تُسَوّدُوْنِيْ‭ ) dengan wawu karena fi’ilnya adalah wawi ‭( ‮ ‬سَادَ-‮  ‬يَسُوْدُ‭)<span id="more-772"></span></p>
<p>Seorang penyair berkata:</p>
<blockquote><p>وَمَا سَوَّدَتْنِيْ عَامِرٌ عَنْ وَرَاثَةٍ         أَبَى اللهًُ أَنْ أَسْمُوَ بِأُمٍّ وَلاَ أَبٍ<br />
<em> Tidaklah Amir memuliakanku karena warisan.</em><br />
<em> Alloh enggan kalau aku mulia dengan ibu atau bapak</em>.<a id="ref4" href="#4"><sup>[4]</sup></a></p></blockquote>
<p>An-Naji dalam <em>Kanzu al-Afah </em>mengatakan: “Adapun nukilan dari <em>Sayyid Waro</em> (Nabi) bahwa beliau bersabda:</p>
<p>‘Janganlah kalian mengatakan aku <em>sayyid </em>dalam sholat’, maka ini adalah kedustaan dan kepalsuan. Orang awam yang sering membawakan hadits ini pun salah dalam mengucapkan. Mereka mengatakan  لاَ‮ ‬تُسَيِّدُوْنِيْ‭ ‬  dengan <em>ya‭</em>’‬,‭ ‬padahal yang benar adalah dengan <em>wawu‭</em>”‬.<a id="ref5" href="#5"><sup>[5]</sup></a></p>
<p><strong>ROSULULLOH <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam </em>ADALAH SAYYIDUNA</strong></p>
<p>Makna <em>sayyid </em>adalah seorang yang utama, mulia, agung, berkedudukan tinggi, pemimpin umat, dan lain sebagainya dari kebaikan dan keutamaan. <a id="ref5" href="#5"><sup>[6]</sup></a></p>
<p>Rosululloh <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> adalah <em>sayyid </em>anak Adam. Beliau <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> bersabda:</p>
<blockquote><p>أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ‭ ‬وَلاَ‮ ‬فَخَرَ<br />
<em> “Saya adalah sayyid anak Adam dan tidak sombong</em>.<a id="ref5" href="#5"><sup>[7]</sup></a></p></blockquote>
<p>Imam al-Izzu bin Abdussalam berkata: “<em>Sayyid </em>adalah seorang yang memiliki sifat dan akhlak yang indah. Hal ini menunjukkan bahwa beliau manusia yang paling utama di dunia dan akhirat. Adapun di dunia karena beliau memiliki akhlak-akhlak yang agung sedangkan di akhirat karena balasan atau pahala bergantung pada akhlak. Kalau Alloh <em>subhanahu wa ta&#8217;aala</em> melebihkan Nabi Muhammad <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam </em>dari segenap manusia pada sisi akhlak, maka kelak Alloh <em>subhanahu wa ta&#8217;aala</em> melebihkan beliau derajatnya di akhirat.</p>
<p>Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam </em>mengatakan hadits ini agar umatnya mengetahui kedudukan beliau di sisi <em>Robb</em>nya. Dan karena penyebutan kebaikan itu biasanya menjadikan kesombongan, maka Nabi menepis anggapan yang muncul dari orang jahil tersebut.” <a id="ref5" href="post.php?post=772&amp;action=edit&amp;message=10#5"><sup>[8]</sup></a></p>
<p>Bila ada yang bertanya: &#8220;Lantas bagaimana dengan teks hadits&#8221; :</p>
<blockquote><p>عَنْ مُطَرِّفٍ قَالَ قَالَ أَبِى انْطَلَقْتُ فِى وَفْدِ بَنِى عَامِرٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقُلْنَا أَنْتَ سَيِّدُنَا. فَقَالَ « السَّيِّدُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ». قُلْنَا وَأَفْضَلُنَا فَضْلاً وَأَعْظَمُنَا طَوْلاً. فَقَالَ « قُولُوا بِقَوْلِكُمْ أَوْ بَعْضِ قَوْلِكُمْ وَلاَ يَسْتَجْرِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ‏‭</p>
<p>“<em>Dari Muthorrif berkata: Ayahku mengatakan: Saya pernah pergi ke rombongan Bani Amir kepada Rosululloh shalallahu &#8216;alayhi wasallam, lalu kami mengatakan: Kamu adalah : Sayyiduna, maka Nabi bersabda: As-Sayyid adalah Alloh<sup><a id="ref5" href="post.php?post=772&amp;action=edit&amp;message=10#5">[9]</a></sup>. Ini menunjukkan bahwa As-Sayyid merupakan salah satu nama Alloh &#8216;azza wa jalla. Kami mengatakan: Kamu adalah orang yang paling mulia dan agung di antara kami, maka beliau bersabda: Katakanlah dengan ucapan kalian atau sebagian ucapan kalian tetapi janganlah Setan menggelincirkan kalian.” (HR. Abu Dawud 4808)</em></p></blockquote>
<p>Dzohir hadits ini tidak melarang kita mengatakan Nabi Muhammad <em>shallahu &#8216;alayhi wasallam</em> adalah <em>Sayyiduna</em>. Bukankah sekilas ada pertentangan antara dua hadits di atas?</p>
<p>Masalah ini telah dibahas oleh para ulama. Pendapat yang kuat menurut kami bahwa boleh mengatakan <em>Sayyid </em>kepada Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> atau selainnya<sup><a id="ref5" href="post.php?post=772&amp;action=edit&amp;message=10#5">[10]</a></sup>. Adapun hadits ini, tidaklah menunjukkan larangan mengatakan Nabi <em>shallahu &#8216;alayhi wasallam</em> adalah <em>Sayyiduna</em>, bahkan beliau mengizinkan dengan ucapannya <em>“Katakanlah dengan ucapan kalian”</em>. Yang dilarang oleh Nabi <em>shallahu &#8216;alayhi wasallam</em> adalah kalau setan menggelincirkan mereka yang berujung kepada sikap <em>ghuluw </em>(berlebih-lebihan) kepada Nabi <em>shallahu &#8216;alayhi wasallam</em> dan mengangkat beliau dari derajat yang telah ditetapkan oleh Alloh <em>subhanahu wa ta&#8217;aala</em>.<sup><a id="ref5" href="post.php?post=772&amp;action=edit&amp;message=10#5">[11]</a></sup></p>
<p><strong>LAFADZ DZIKIR ADALAH <em>TAUQIFIYYAH</em></strong></p>
<p>Dzikir-dzikir yang telah ditentukan waktu dan tempatnya bersifat <em>tauqifiyyah </em>(paten). Tidak boleh seseorang menambah, mengurangi atau merubah lafadznya walaupun maknanya shohih<sup><a id="ref5" href="post.php?post=772&amp;action=edit&amp;message=10#5">[12]</a></sup>. Untuk lebih memahami kaidah ini, perhatikan hadits berikut; Baro’ bin Azib berkata:</p>
<blockquote><p>“<em>Rosululloh shalallahu &#8216;alayhi wasallam pernah berkata kepadaku: ‘Apabila engkau mendatangi tempat tidurmu maka berwudhulah seperti wudhumu untuk sholat. Kemudian berbaringlah ke sisi kanan serta bacalah do’a: ‘Ya Alloh aku berserah diri kepada-Mu, aku serahkan segala urusanku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu, karena mengharap dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat bersandar dan tempat menyelamatkan kecuali kepada-Mu. Ya Alloh aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan aku beriman kepada nabi-Mu yang telah Engkau utus’. Maka jika engkau meninggal pada malam harinya sungguh engkau meninggal dalam keadaan fitroh dan jadikanlah do’a tersebut akhir yang engkau ucapkan. Aku mencoba untuk mengingat-ingatnya kembali dan aku katakan: ‘rosul-Mu yang telah Engkau utus’. Nabi berkata: ‘Salah, tapi katakanlah dan nabi-Mu yang telah Engkau utus’.” (HR. Bukhori 247, Muslim 2710)</em>.<a id="ref13" href="#13"><sup>[13]</sup></a></p></blockquote>
<p>Ibnu Bathol <em>rahimahulloh</em> berkata: “Lafadz-lafadz itu tidak boleh diganti karena telah keluar dari taman hikmah dan <em>jawami’ul kalim</em> (kalimat singkat tapi padat). Seandainya ucapan Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> boleh dirubah dengan ucapan lainnya niscaya akan hilang faedah kehebatan bahasa Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em>.” <a id="ref14" href="#14"><sup>[14]</sup></a></p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahulloh </em>berkata: “Hikmah yang paling tepat mengapa Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam </em>menyalahkan ucapan &#8216;rosul&#8217; sebagai ganti dari &#8216;nabi&#8217; adalah bahwa lafadz-lafadz dzikir adalah <em>tauqifiyyah</em>. Ada kekhususan yang tidak boleh dengan <em>qiyas</em>. Wajib untuk menjaga lafadz yang syar&#8217;i.”<a id="ref15" href="#15"><sup>[15]</sup></a></p>
<p>Imam al-Albani <em>rahimahulloh</em> mengatakan: “Dalam hadits ini terdapat peringatan yang sangat tegas, bahwa wirid-wirid dan dzikir adalah <em>tauqifiyyah</em>. Tidak boleh dirubah, baik dengan menambah, mengurangi atau merubah lafadz yang tidak merubah arti. Karena lafadz &#8216;rosul&#8217; lebih umum dari &#8216;nabi&#8217;, tetapi Rosululloh <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> tetap menyalahkannya”. <a id="ref16" href="#16"><sup>[16]</sup></a></p>
<p>Alangkah bagusnya ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah <em>rahimahulloh </em>: “Termasuk kesalahan besar sebagian manusia adalah menjadikan dzikir-dzikir yang bukan dari Nabi sekalipun berasal dari tokoh mereka sendiri, lalu meninggalkan dzikir-dzikir dari Nabi Sayyid anak Adam dan Imam makhluk serta hujjah atas seluruh hamba”.<a id="ref17" href="#17"><sup>[17]</sup></a></p>
<p>Ibnu ‘Allan <em>rahimahulloh </em>mengatakan: “Tidak boleh seorang pun berpaling dari lafadz do’a Nabi. Dalam hal ini setan telah menggelincirkan manusia, sehingga ada suatu kaum yang membuat-buat lafadz do’a yang memalingkan dari petunjuk Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em>. Maka waspadalah, janganlah kalian menyibukkan dengan hadits kecuali yang shohih saja.”<a id="ref18" href="#18"><sup>[18]</sup></a></p>
<p><strong>BOLEHKAH MENAMBAH SAYYIDUNA DALAM SHOLAT?</strong></p>
<p>Al-Munawi <em>rahimahulloh</em> berkata:</p>
<blockquote><p>“Adapun menyebut <em>Sayyidina </em>dalam sholawat, maka hal ini dijelaskan oleh Rosululloh <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> tatkala para sahabat bertanya kepada beliau tentang tata caranya, lalu beliau <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> menjawab: ‘<span style="text-decoration: underline;">Katakanlah Allohumma sholli ‘ala Muhammad’ tanpa menyebut sayyidina.”</span></p></blockquote>
<p>Oleh karenanya, Ibnu Abdissalam ragu-ragu. Apakah yang lebih utama adalah menyebut <em>sayyidina </em>sebagai bentuk adab kepada Nabi atau tidak menyebut <em>sayyidina </em>karena mengikuti dalil yang ada.</p>
<p>Sebagian mereka menguatkan pendapat yang kedua yaitu mencukupkan dengan lafadz yang ada, tanpa menambahinya. Sebagian lagi merinci, apabila dalam lafadz sholawat yang sudah ada contohnya tidak boleh ditambahi, apabila membuat sholawat sendiri tanpa lafadz yang sudah ada contohnya maka boleh menambahinya.<a id="ref19" href="#19"><sup>[19]</sup></a></p>
<p>Syaikh al-Albani <em>rahimahulloh</em> berkata: “Pembaca memperhatikan bahwa tidak ada satu pun lafadz tambahan <em>Sayyid</em> pada hadits-hadits sholawat ketika sholat. Oleh karenanya, para ulama belakangan berselisih apakah tambahan tersebut disyari’atkan dalam sholawat <em>Ibrohimiyyah</em><a id="ref20" href="#20"><sup>[20]</sup></a></p>
<p>Saya akan nukilkan fatwa penting dari al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani karena beliau adalah termasuk ulama Syafi’i yang ahli di bidang hadits dan fiqih.</p>
<p>Al-Hafidz Muhammad bin Muhammad al-Ghorobili (796-835) (murid imam Syafi’i ) berkata<a id="ref21" href="#21"><sup>[21]</sup></a>: “Beliau (Ibnu Hajar) ditanya tentang sifat sholawat kepada Nabi dalam sholat atau di luar sholat. Apakah disyaratkan mengucapkan <em>sayyidina </em>ataukah tidak dan manakah yang lebih utama? Beliau menjawab: “Mengikuti atsar-atsar yang datang adalah lebih utama, jangan dikatakan: Barangkali Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> meninggalkan hal itu karena sikap <em>tawadhu</em>’ beliau. Karena kita katakan bahwa seandainya hal itu disunnahkan niscaya hal itu akan dinukil dari para sahabat dan tabi&#8217;in, dan kami tidak mendapatkannya atsar dari sahabat dan tabi’in tentang hal itu.</p>
<p>Demikianlah pendapat al-Imam asy-Syafi&#8217;i  –Semoga Alloh meninggikan derajatnya– dan ia adalah orang yang lebih mengagungkan Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em>. Di dalam khotbahnya yang termuat di kitab al-Umm dan merupakan pegangan utama pengikut madzhabnya, beliau berkata:</p>
<blockquote><p><em>“<span style="text-decoration: underline;">Allohumma Sholli &#8216;ala Muhammad &#8230;” </span>dan tidak berkata “<span style="text-decoration: underline;">Allohumma Sholli &#8216;ala sayyidinaa Muhammad &#8230;”</span> Al-Qodhi Iyadh membuat suatu bab tentang sholawat kepada Nabi dalam kitabnya asy-Syifa’. Beliau menyebutkan atsar-atsar yang banyak sekali dari sahabat dan tabi’in, tetapi tidak ada satupun tambahan &#8216;sayyidina&#8217;.</em></p></blockquote>
<p>Masalah ini telah masyhur dalam fiqih. Namun seandainya hal itu sunnah niscaya tidak akan samar dan tidak dilalaikan oleh mereka semua, dan kebaikan itu adalah dalam <em>ittiba</em>’. <em>Wallahu A’lam</em>”.</p>
<p>Apa yang difatwakan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahulloh</em> adalah kebenaran yang harus dipegang. Oleh karena itu Imam Nawawi <em>rahimahulloh</em> berkata dalam ar-Rodhoh 1/265:</p>
<blockquote><p><em>“Lafadz sholawat yang paling utama adalah: Allohumma Sholli ‘Ala Muhammad…tanpa menyebutkan sayyiduna.&#8221;</em></p></blockquote>
<p>Kita yakin bahwa Nabi Muhammad <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> adalah <em>Sayyiduna</em>, tetapi yang menjadi pembahasan adalah bolehkan menambahi lafadz dalam sholawat yang tidak ada contohnya? Seandainya tambahan itu termasuk ibadah yang mendekatkan kepada Alloh <em>subhanahu wa ta&#8217;aala</em>, tentu akan disampaikan oleh Rosululloh <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> dan para salaf.</p>
<p>Kita mengetahui bahwa <em>Salafush Sholih</em> dari kalangan sahabat dan tabi&#8217;in tidaklah beribadah kepada Alloh <em>subhanahu wa ta&#8217;aala</em> dengan mengucapkan ‘<em>Sayyidina</em>’ di dalam sholat. Padahal mereka pasti lebih menghormati Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> daripada kita, dan lebih mencintainya<a id="ref22" href="#22"><sup>[22]</sup></a>. Dan perbedaan antara mereka dan kita bahwa kecintaan dan pengagungan mereka terhadap Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> adalah benar-benar dipraktikkan dengan <em>ittiba</em>’ kepada Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em>.”<a id="ref23" href="#23"><sup>[23]</sup></a></p>
<p style="text-align: right;"><em>Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>(www.abiubaidah.com)</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>__________________________________________________________________<br />
</em></p>
<p><a id="1" href="#ref1">[1]</a> Al-Maqoshidul Hasanah hlm. 529.</p>
<p><a id="2" href="#ref2">[2]</a> Tamyiz Thoyyib Minal Khobits hlm. 191.<em></em></p>
<p><a id="3" href="#ref3">[3]</a> Al-Mashnu’ fii Ma’rifatil Hadits Maudhu’ hlm. 206.</p>
<p><a id="4" href="#ref4">[4]</a> Raddul Muhtar 2/224 oleh Ibnu Abidin.</p>
<p><a id="5" href="#ref5">[5] </a>Kasyful Khofa’ 2/476 oleh al-‘Ajluni.</p>
<p><a id="6" href="#ref6">[6]</a> Lihat Al-Mufhim 6/48 oleh al-Qurthubi dan Al-Yawaqit wa Duror 1/198 oleh al-Munawi.</p>
<p><a id="7" href="#ref7">[7]</a> HR. Muslim 1/2176.</p>
<p><a id="8" href="#ref8">[8]</a> Bidayatus Su’ul fii Tafdhil Rosul hlm. 34, Tahqiq al-Albani</p>
<p><a id="9" href="#ref9">[9]</a> Ini menunjukkan bahwa As-Sayyid merupakan salah satu nama Alloh q\. (Lihat Fiqhul Asma Husna hlm. 311 oleh Dr. Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad, An-Nahjul Asma 3/143 oleh Muhammad Hamud an-Najdi).</p>
<p><a id="10" href="#ref10">[10]</a> Ada perbedaan tentang bolehnya mengatakan sayyid kepada selain Nabi n\, seperti kepada tokoh, alim dan lainnya. Pendapat yang benar adalah boleh berdasarkan dalil-dalil yang banyak. (Lihat Al-‘Urfu An-Nadi oleh asy-Syaukani, Bada’iul Fawaid 3/213 oleh Ibnu Qoyyim) dan Mu’jam al-Manahi Lafdziyyah hlm. 306-307 oleh Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid). Namun tidak boleh mengatakan sayyid kepada orang kafir, munafiq dan ahli bid’ah karena itu termasuk penghormatan kepada mereka. (Lihat Mauqif Ahli Sunnah wal Jama’ah Min Ahli Bida’ wal Ahwa 2/570 oleh Dr. Ibrahim ar-Ruhaili). Termasuk juga mengatakan kepada orang kafir dengan Mr, ini tidak boleh. (Lihat Mu’jam al-Manahi Lafdziyyah hlm. 287oleh Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid dan Fatawa Nur Ala Darb 1/414 oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz).</p>
<p><a id="11" href="#ref11">[11]</a> Al-‘Urfu An-Nadi fii Jawaz Ithlaq Lafdzi Sayyidi –Fathur Robbani- 11/5649 oleh asy-Syaukani dan Al-Qoulul Mufid 2/515 oleh Ibnu Utsaimin.</p>
<p><a id="12" href="#ref12">[12]</a> Lihat penjelasan lebih luas tentang kaidah berharga ini dalam Tashih Dua’ hlm. 41-42 oleh Syaikh Bakr Abu Zaid dan Ahkamul Adzkar hlm. 7 oleh Zakariyya Ghulam al-Bakistani.</p>
<p><a id="13" href="#ref13">[13]</a> Lihat faedah-faedah berharga hadits ini dalam kitab Min Kulli Surotin Faedah hlm. 55-62 oleh Syaikh Abdul Malik bin Ahmad Romadhani.</p>
<p><a id="14" href="#ref14">[14]</a> Syarh Shohih Bukhori 1/365.</p>
<p><a id="15" href="#ref15">[15]</a> Fathul Bari 11/114.</p>
<p><a id="16" href="#ref16">[16]</a> Shohih at-Targhib wat Tarhib 1/388.</p>
<p><a id="17" href="#ref17">[17]</a> Majmu’ Fatawa 22/525.</p>
<p><a id="18" href="#ref18">[18]</a> Syarh al-Adzkar 1/17.</p>
<p><a id="19" href="#ref19">[19]</a> Al-Yawaqit wa Duror 1/199-200.</p>
<p><a id="20" href="#ref20">[20]</a> Para ahli fikih Madzhab Hanafiyyah dan Syafi’iyyah belakangan berpendapat bahwa tambahan sayyidina dalam sholat adalah sunnah dengan alasan adab kepada Nabi. (Lihat Raddul Muhtar 2/224 oleh Ibnu Abidin, Hasyiyah al-Bajuri 1/156, Argumentasi Ulama Syafi’iyyah hlm. 208 oleh Ust. Mujiburrahman).</p>
<p><a id="21" href="#ref21">[21]</a> Dalam sebuah manuskrip di Maktabah Dhohiriyyah. Fatwa ini juga dinukil oleh Syaikh Jamaluddin al-Qosimi dalam al-Fashlul Mubin ‘ala Aqdi al-Jauhar Tsamin hlm. 70 sebagaimana dalam al-Qoulul Mubin fi Akhto’il Mushollin hlm. 154 oleh Syaikhuna Masyhur Hasan Salman <em>rahimahulloh.</em></p>
<p><a id="22" href="#ref22">[22]</a> Inilah hakekat cinta kepada Nabi <em>shalallahu &#8216;alayhi wasallam</em> yang sebenarnya, yaitu dengan <em>ittiba</em>’ (mengikuti sunnah beliau) dan tunduk terhadap petunjuk beliau, bukan hanya sekadar dengan pengakuan belaka.</p>
<p><a id="23" href="#ref23">[23]</a> Dinukil secara ringkas dari Ashl Shifat Sholat Nabi  3/938-944 oleh al-Albani. Lihat pula Ittihaf Anam Bima Yata’allaqu bis Sholati was Salam Ala Khoiril Anam hlm. 55-57 oleh Ahmad bin Abdillah as-Sulami.</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://abiubaidah.com/kunyah-sebuah-sunnah-dalam-nama.html/' rel='bookmark' title='Kun-yah, Sunnah dalam Nama'>Kun-yah, Sunnah dalam Nama</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/nikah-tanpa-kua.html/' rel='bookmark' title='Nikah Tanpa KUA: Bermasalahkah?'>Nikah Tanpa KUA: Bermasalahkah?</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/pelajaran-penting-dalam-khutbah-hajah-nabi.html/' rel='bookmark' title='Pelajaran Penting dalam Khutbah Hajah Nabi'>Pelajaran Penting dalam Khutbah Hajah Nabi</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/lafadz-sayyiduna-dalam-sholat-bermasalahkah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hadits tentang &#8220;Kesialan&#8221;</title>
		<link>http://abiubaidah.com/memahami-hadits-tentang-kesialan.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/memahami-hadits-tentang-kesialan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 May 2011 23:46:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah dan Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Nasib Sial]]></category>
		<category><![CDATA[Takdir Baik]]></category>
		<category><![CDATA[Takdir Buruk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=770</guid>
		<description><![CDATA[Kata orang, kita sekarang sudah berada di zaman modern dan era globalisasi. Namun, entah kenapa, khurofat-khurofat jahiliah masih saja diadopsi oleh sebagian kaum muslimin sekarang, walaupun mereka sudah menyandang pendidikan tinggi. Di antara khurofat tersebut adalah perbuatan tathoyyur yaitu merasa sial dengan burung atau lainnya. Dalam Islam, khurofat seperti itu diberantas dan sebaliknya kita diperintahkan [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://abiubaidah.com/hadits-palsu-cinta-tanah-air.html/' rel='bookmark' title='Hadits Palsu: Cinta Tanah Air adalah Sebagian dari Iman'>Hadits Palsu: Cinta Tanah Air adalah Sebagian dari Iman</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/telaah-penyakit-menular.html/' rel='bookmark' title='PENYAKIT MENULAR: ANTARA  ILMU HADITS DAN ILMU MEDIS'>PENYAKIT MENULAR: ANTARA  ILMU HADITS DAN ILMU MEDIS</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/keajaiban-hadits-lalat.html/' rel='bookmark' title='KEAJAIBAN HADITS  LALAT'>KEAJAIBAN HADITS  LALAT</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kata orang, kita sekarang sudah berada di zaman modern dan era globalisasi. Namun, entah kenapa, khurofat-khurofat jahiliah masih saja diadopsi oleh sebagian kaum muslimin sekarang, walaupun mereka sudah menyandang pendidikan tinggi. Di antara khurofat tersebut adalah perbuatan <em>tathoyyur</em> yaitu merasa sial dengan burung atau lainnya. Dalam Islam, khurofat seperti itu diberantas dan sebaliknya kita diperintahkan untuk hanya bertawakkal kepada Alloh dalam segala urusan.</p>
<p>Ada suatu masalah penting di sini yang permasalahannya perlu kami dudukkan dengan benar, yaitu adanya beberapa hadits yang sekilas saling bertentangan. Dalam banyak hadits, khurofat tersebut ditiadakan bahkan dimasukkan kategori kesyirikan. Namun, di sisi lain ada beberapa hadits yang sekilas mengisyaratkan adanya beberapa makhluk yang membawa sial. Bagaimana permasalahannya?! Dan bagaimana komentar ulama mengenainya?! Marilah kita kaji bersama masalah ini secara ilmiah.</p>
<h3><span id="more-770"></span></h3>
<h3><strong>Teks Hadits</strong></h3>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong>عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الشُّؤْمُ فِى الدَّارِ وَالْمَرْأَةِ وَالْفَرَسِ ».</strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>Dari Abdulloh bin Umar </em><em> berkata: “Saya mendengar Nabi shallalllahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: ‘Kesialan itu dalam tiga perkara: kuda, wanita, dan rumah.’”</em><a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align: center;"><strong>عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنْ كَانَ الشُّؤْم فَفِى الْمَرْأَةِ وَالْفَرَسِ وَالْمَسْكَنِ ».</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>Dari Sahl bin Sa’ad  bahwasanya Rosululloh shallalllahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: “Seandainya kesialan itu ada, maka pada wanita, kuda, dan tempat tinggal.”</em><a href="#_ftn2">[2]</a></p>
</blockquote>
<p>Bila kita cermati dua hadits di atas, akan kita dapati dua lafazh yang berbeda, pada hadits pertama dengan lafazh tegas dan pada hadits kedua dengan lafazh syarat (seandainya ada).</p>
<h3></h3>
<h3><strong>Sekilas Bertentangan</strong></h3>
<p>Sekilas pandang, seakan-akan terjadi kontradiksi antara hadits di atas dengan dalil-dalil dan hadits-hadits yang banyak sekali tentang larangan merasa sial, di antaranya yang paling tegas adalah hadits Abdulloh bin Mas’ud <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>:</p>
<blockquote><p><em>“Thiyaroh (merasa sial) adalah termasuk kesyirikan.”</em><a href="#_ftn3">[3]</a></p></blockquote>
<p>Hadits ini dengan tegas menyatakan bahwa <em>thiyaroh</em> (tathoyyur) adalah termasuk kesyirikan.</p>
<h3></h3>
<h3>Bagaimana Cara Memadukannya?</h3>
<p>Para ulama telah berusaha untuk memadukan antara kedua hadits di atas dan mereka menegaskan bahwa di sana ada perbedaan antara kesialan dengan tiga hal (yaitu: wanita, rumah, dan kendaraan) di atas dengan thiyaroh yang syirik. Namun, metode mereka dalam memadukannya beragam, di antaranya<a href="#_ftn4">[4]</a>:</p>
<p><strong>Pertama</strong>: Sebagian mereka mengatakan bahwa pada asalnya merasa sial itu tidak boleh, tetapi khusus dengan tiga hal di atas maka boleh.<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p><strong>Kedua</strong>: Sebagian ulama mengatakan bahwa bolehnya merasa sial dengan tiga hal di atas adalah <em>mansukh</em> (terhapus) dengan hadits-hadits larangan.<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p><strong>Ketiga</strong>: Melemahkan dan mengingkari hadits-hadits yang menyatakan kesialan pada tiga hal di atas atau mengingkari ketegasan lafazh tersebut, yang benar menurut mereka adalah dengan lafazh: <em>“Kalau memang ada kesialan pada sesuatu, maka tiga perkara.”</em><a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Pendapat yang kuat adalah yang merinci bahwa kesialan itu ada dua macam:</p>
<ol>
<li>Kesialan yang haram, seperti keyakinan orang-orang jahiliah yaitu pada hal-hal tertentu yang dianggap membawa sial bahwa hal itu berpengaruh pada keadaan dan merupakan faktor kebaikan dan keburukan, sehingga menghalangi mereka dari keinginan dan tekad mereka. Imam Nawawi v\ berkata tatkala menjelaskan segi kesyirikan thiyaroh: “Sebab mereka berkeyakinan benda tersebut berpengaruh untuk maju mundurnya suatu keinginan.”<a href="#_ftn8">[8]</a></li>
<li>Kesialan yang ditetapkan dalam hadits, yaitu apa yang dijumpai pada hati seorang kebencian pada hal-hal tertentu ketika terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan padanya. Di antara ciri-cirinya:</li>
<li>Kesialan ini tidak muncul kecuali setelah terjadinya kemadhorotan yang berulang-ulang. Seandainya seorang merasa terkena madhorot dari sesuatu, maka boleh baginya untuk meninggalkannya.</li>
<li>Kesialan ini muncul karena adanya sifat yang tercela, berbeda dengan kesialan terlarang yang biasanya muncul karena sebab yang tidak jelas, seperti membatalkan rencana bepergian gara-gara melihat seekor burung.</li>
<li>Dampak dari kesialan ini adalah meninggalkan, dengan tetap berkeyakinan bahwa hanya Alloh saja yang menciptakan dan mengatur kebaikan dan keburukan. Kesialannya bukan karena zat benda tersebut memiliki pengaruh, melainkan karena apa yang Alloh takdirkan pada benda tersebut berupa kebaikan dan kejelekan. Hal ini diperkuat oleh hadits dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> bahwa ada seorang berkata kepada Nabi <em>shallalllahu &#8216;alaihi wa sallam</em>: “Wahai Rosululloh, dahulu kami berada di rumah dan jumlah kami serta harta kami banyak, tatkala kami pindah rumah lain, jumlah kami dan harta kami menjadi sedikit.” Lalu Nabi <em>shallalllahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda: “Tinggalkan rumah tersebut.”<a href="#_ftn9">[9]</a></li>
</ol>
<p>Dalam hadits ini, Nabi <em>shallalllahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memerintahkan kepada orang tersebut pindah rumah tatkala beliau mendapati kebencian mereka, adanya madhorot yang menimpa mereka serta berulangnya hal itu pada mereka. Nabi <em>shallalllahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memerintahkan untuk pindah agar hilang perasaan benci dalam hati mereka, bukan karena zat rumah itu memiliki pengaruh.<a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Demikianlah perincian para ulama dalam masalah ini, sehingga dengan demikian hilanglah anggapan tentang adanya kontradiksi pada hadits-hadits Rosululloh <em>shallalllahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.<a href="#_ftn11">[11]</a></p>
<h3></h3>
<h3>Beberapa Masalah Tentang Hadits</h3>
<p>Untuk melengkapi pembahasan hadits ini, kami akan sedikit menambahkan beberapa pembahasan seputar hadits ini secara ringkas<a href="#_ftn12">[12]</a>.</p>
<p><strong>1.  Definisi tathoyyur</strong></p>
<p>Tathoyyur (thiyaroh) adalah merasa sial karena melihat atau mendengar sesuatu seperti keyakinan orang jahiliah dahulu apabila melihat burung terbang ke arah kanan maka pertanda baik dan bila terbang ke kiri maka pertanda keburukan.</p>
<p>Perlu diketahui bahwa khurofat ini sampai sekarang masih bercokol di sebagian masyarakat. Sebagai contoh, sebagian masyarakat masih meyakini bila ada burung gagak melintas di atas maka itu pertanda akan ada orang mati, bila burung hantu berbunyi pertanda ada pencuri, bila mau beergian lalu di jalan dia menemui ular menyeberang maka pertanda kesialan sehingga perjalanan harus diurungkan.</p>
<p>Demikian pula ada yang merasa sial dengan bulan Muharrom (Suro: Jawa), hari Jum’at Kliwon, ada juga yang merasa sial dengan angka seperti angka 13 dan sebagainya.<a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p><strong>2.  Hukum thiyaroh</strong></p>
<p>Thiyaroh hukumnya adalah haram dan termasuk kesyirikan yang menodai tauhid seseorang, karena dua hal:</p>
<p><strong>Pertama</strong>: Seorang yang merasa sial berarti telah menghilangkan tawakkalnya kepada Alloh dan dia malah berpedoman pada selain Alloh.</p>
<p><strong>Kedua</strong>: Seorang yang merasa sial berarti bergantung pada perkara yang tidak ada hakikatnya padahal hanya khayalan belaka, sehingga semua ini dapat menodai tauhid seorang hamba.</p>
<p>Orang yang merasa sial tidak lepas dari dua keadaan:</p>
<p><strong>Pertama</strong>: Dia meninggalkan keinginannya karena mengikuti keyakinan sialnya. Ini adalah bentuk kesialan yang paling berbahaya bagi aqidah seorang.</p>
<p><strong>Kedua</strong>: Dia melanjutkan keinginannya, namun dengan perasaan takut dan gundah dalam hatinya. Ini juga berbahaya bagi tauhid seorang sekalipun lebih ringan dari yang sebelumnya.</p>
<p>Maka hendaknya bagi seseorang untuk melanjutkan keinginannya dengan lapang dada dan tawakkal yang kuat kepada Alloh tanpa melirik pada kesialan karena hal itu berarti buruk sangka kepada Alloh. Bahkan merasa sial juga bisa sampai kepada derajat syirik besar yang mengelurkan seorang dari Islam yaitu apabila dia menyakini bahwa benda yang dia anggap pembawa sial tadi memiliki pengaruh secara dzatnya, karena dengan demikian berarti dia menjadikan tandingan bagi Alloh dalam masalah penciptaan dan pengaturan.<a href="#_ftn14">[14]</a></p>
<p><strong>3.  Hukum meninggalkan tiga hal (rumah, istri, kendaraan)</strong></p>
<p>Maksudnya kalau seandainya seorang terkena cobaan pada tiga hal tersebut terus-menerus sehingga dia merasa keberatan dan merasakan kebencian terhadapnya, bolehkah untuk meninggalkannya?! Jawabannya adalah boleh dan ini tidak termasuk kesialan yang dilarang. <strong>Imam al-Baghowi</strong> <em>rahimahullah</em> mengomentari hadits pembahasan: “Ini adalah petunjuk Nabi <em>shallalllahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bagi yang memiliki rumah, istri, atau kuda yang tidak menyenangkannya agar dia berpisah darinya. Kalau rumah maka dengan pindah darinya, kalau istri maka dengan menceraikannya, kalau kuda (kendaraan) maka dengan menjualnya. Dan semua ini tidaklah termasuk thiyaroh yang terlarang.”<a href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p><strong>4.  Tanda-tanda kesialan pada tiga hal dan faktor pengkhususannya</strong></p>
<p>Para ulama menyebutkan bahwa tanda kesialan pada rumah yaitu sempitnya, tetangga yang jelek, sering kena musibah (pencurian, misalnya), jauhnya dari masjid sehingga tak mendengar adzan, dan sebagainya. Tanda kesialan istri yaitu dengan kemandulannya, jelek akhlaknya, selingkuh, dan sebagainya. Adapun tanda kesialan pada kuda adalah sulit ditumpangi, lambat jalannya, dan sebagainya.</p>
<p>Adapun kenapa dikhususkan tiga hal tersebut saja? Jawabannya adalah karena tiga hal itu kebutuhan primer seorang yang selalu berkaitan dengan manusia yaitu rumah, istri, dan kendaraan.<a href="#_ftn16">[16]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Demikianlah pembahasan yang dapat kami sajikan. Semoga bermanfaat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;"><em>Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>(www.abiubaidah.com)</em></p>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> HR. Bukhori: 2858 dan Muslim: 2225</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> HR. Bukhori: 5095 dan Muslim: 2226</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> HR. Ahmad 1/389, Abu Dawud: 3910, Tirmidzi: 1614, dan dishohihkan al-Albani dalam <em>Shohih Sunan Tirmidzi</em> 2/216.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Diringkas dari <em>Ahadits Aqidah</em> karya Sulaiman bin Muhammad ad-Dubaikhi 1/115–129, Darul Bayan al-Haditsiyyah, cet. pertama 1422 H.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Lihat <em>Fathul Bari</em> 10/213 oleh Ibnu Hajar, <em>Ma’alim Sunan</em> 4/236, 237, <em>Ta‘wil Mukhtalifil Hadits</em> hlm. 106 oleh Ibnu Qutaibah, <em>Taisir Aziz Hamid</em> hlm. 377 oleh Sulaiman bin Abdillah, <em>al-Adab Syar’iyyah</em> 4/7 oleh Ibnu Muflih.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Lihat <em>at-Tamhid</em> 9/290 oleh Ibnu Abdil Barr.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Lihat <em>Syarh Ma’anil Atsar</em> 4/314 oleh ath-Thohawi, <em>Tahdzibul Atsar</em> 1/31 oleh ath-Thobari, <em>at-Tamhid</em> 9/283 oleh Ibnu Abdil Barr, <em>al-Ijabah li Irodi Mastadrokathu Aisyah ’ala Shohabah</em> hlm. 128 oleh az-Zarkasyi, <em>Silsilah Ahadits ash-Shohihah</em> 1/727, 4/565 oleh al-Albani.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a><em> Syarh Muslim</em> 14/471</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> HR. Abu Dawud: 3917, al-Bukhori dalam <em>Adabul Mufrod</em>: 918 dan dihasankan al-Albani dalam <em>Shohih Sunan Abu Dawud</em> 2/743.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a><em> Ta‘wil Mukhtalifil Hadits</em> hlm. 99 oleh Ibnu Qutaibah</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Lihat <em>Miftah Dar Sa’adah</em> 3/344 oleh Ibnul Qoyyim, <em>Latho‘if Ma’arif</em> hlm. 83 oleh Ibnu Rojab, <em>Majmu’ Fatawa Ibnu Baz</em>: 142, <em>al-Majmu’ Tsamin</em> oleh Ibnu Utsaimin 1/61.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> Diringkas dari risalah <em>Ma’na Hadits asy-Syu’mu fi Tsalatsah</em> oleh Dr. Muhammad bin Abdul Aziz al-Ali.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> Lihat risalah <em>at-Tathoyyur</em> oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd dan lihat kembali tulisan Ustadzuna Abu Nu’aim <em>rahimahullah</em> tentang masalah ini dalam Majalah Al Furqon Edisi 5/Th. III hlm. 23.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> Lihat <em>Miftah Dar Sa’adah</em> 2/320, <em>Latho‘iful Ma’arif</em> hlm. 71, <em>al-Qoulus Sadid</em> hlm. 18 oleh as-Sa’di, <em>al-Qoulul Mufid</em> 1/560 oleh Ibnu Utsaimin.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a><em> Syarh Sunnah</em> 9/13, 12/178–179</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a><em> Syarh Sunnah</em> 9/14 oleh al-Baghowi, <em>Faidhul Qodir</em> 3/33 oleh al-Munawi.</p>
</div>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://abiubaidah.com/hadits-palsu-cinta-tanah-air.html/' rel='bookmark' title='Hadits Palsu: Cinta Tanah Air adalah Sebagian dari Iman'>Hadits Palsu: Cinta Tanah Air adalah Sebagian dari Iman</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/telaah-penyakit-menular.html/' rel='bookmark' title='PENYAKIT MENULAR: ANTARA  ILMU HADITS DAN ILMU MEDIS'>PENYAKIT MENULAR: ANTARA  ILMU HADITS DAN ILMU MEDIS</a></li>
<li><a href='http://abiubaidah.com/keajaiban-hadits-lalat.html/' rel='bookmark' title='KEAJAIBAN HADITS  LALAT'>KEAJAIBAN HADITS  LALAT</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/memahami-hadits-tentang-kesialan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Binatang Juga Mengutuk Perzinaan</title>
		<link>http://abiubaidah.com/binatang-juga-mengutuk-perzinaan.html/</link>
		<comments>http://abiubaidah.com/binatang-juga-mengutuk-perzinaan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 May 2011 00:46:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiubaidah.com/?p=763</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya kedudukan kitab Shohih Bukhori dan Muslim sangat tinggi dalam pandangan para ulama. Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Para ulama—semoga Alloh merahmati mereka—bersepakat bahwa kitab yang paling shohih setelah al-Qur‘an adalah Shohih Bukhori dan Muslim.”[1]. Beliau juga berkata: “Umat telah bersepakat tentang keshohihan dua kitab ini dan wajibnya beramal dengan hadits-haditsnya.” [2] Namun anehnya, sebagian kalangan [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sesungguhnya kedudukan kitab <em>Shohih Bukhori dan Muslim</em> sangat tinggi dalam pandangan para ulama. Imam Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata: “Para ulama—semoga Alloh merahmati mereka—bersepakat bahwa kitab yang paling shohih setelah al-Qur‘an adalah <em>Shohih Bukhori dan Muslim</em>.”<a href="#_ftn1">[1]</a>. Beliau juga berkata: “Umat telah bersepakat tentang keshohihan dua kitab ini dan wajibnya beramal dengan hadits-haditsnya.” <a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Namun anehnya, sebagian kalangan telah gegabah dalam melemahkan hadits-hadits Bukhori-Muslim dengan penuh kelancangan tanpa hujjah yang ilmiah. Sikap semacam itu, sembarangan tanpa hujjah dalam melemahkan hadits yang terdapat di dalamnya, adalah kebiasaan ahli bid’ah. Banyak sekali contoh-contohnya, namun pembahasan kali ini adalah salah satu di antaranya. Semoga Alloh menjadikan kita pejuang-pejuang sunnah dan pembela hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.<span id="more-763"></span></p>
<h3>Teks Hadits</h3>
<blockquote>
<h3 style="text-align: center;"><strong>قَالَ الإِمَامُ الْبُخَارِيُّ : حَدَّثَنَا نُعَيْمُ بْنُ حَمَّادٍ ، حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ عَنْ حُصَيْنٍ ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ قَالَ : رَأَيْتُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ قِرْدَةً اجْتَمَعَ عَلَيْهَا قِرَدَةٌ قَدْ زَنَتْ فَرَجَمُوهَا فَرَجَمْتُهَا مَعَهُم.</strong></h3>
<p style="text-align: center;"><em>Imam Bukhori berkata: Menceritakan kepada kami Nu’aim bin Hammad, menceritakan kepada kami Husyaim dari Hushoin dari ’Amr bin Maimun, dia berkata: “Saya pernah melihat pada masa jahiliah ada seekor kera yang berzina, lalu beberapa kera berkumpul untuk merajamnya, lalu saya ikut merajam bersama mereka.”</em></p>
</blockquote>
<h3>Takhrij Hadits</h3>
<blockquote><p><strong>SHOHIH</strong>. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam <em>Shohih</em>-nya: 3849 dan <em>Tarikh Kabir</em> 6/367 dari Nu’aim bin Hammad: Menceritakan kepada kami Husyaim dari Hushoin dari ’Amr bin Maimun. Dan Ibnu Abdil Barr dalam <em>al-Isti’ab</em> 1/374 dari jalur Abbad bin Awwam dari Hushoin. Dan juga al-Isma’ili sebagaimana dalam <em>Fathul Bari</em> 7/201 dari jalur Isa bin Khithon dari ’Amr bin Maimun dalam kisah yang panjang. Dengan demikian maka hadits ini adalah shohih dan kuat.</p></blockquote>
<h3>Syubhat dan Bantahan</h3>
<ul>
<li>Sebagian kalangan mempermasalahkan hadits ini dari segi sanad dan matan-nya. Sebagai pembelaan terhadap hadits Bukhori ini, kita berusaha untuk menjelaskan duduk permasalahannya:</li>
</ul>
<h3>Syubhat Pertama: Dari segi sanad</h3>
<p>Dipermasalahkan rowi Nu’aim bin Hammad dan Husyaim seorang yang mudallis, sedangkan dia meriwayatkan dengan lafazh <em>’an</em>.</p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<ol>
<li>Nu’aim bin Hammad tidaklah sendirian, dia dikuatkan oleh Abbad bin Awwam—seorang rowi yang terpercaya—juga Isa bin Khithon sebagaimana dalam penjelasan takhrij di atas.</li>
<li>Sekalipun Husyaim meriwayatkan dengan lafazh <em>’an</em> (dari) dalam riwayat ini, tetapi dalam <em>Tarikh Kabir</em> dia meriwayatkan dengan lafazh <em>haddatsana</em> (menceritakan kepada kami) sehingga kekhawatiran tersebut hilang, bahkan Imam Bukhori mengiringkan bersama Hushoin rowi lain yang bernama Abu Malih.<a href="#_ftn3">[3]</a></li>
<li>Perlu diketahui terlebih dahulu bahwa kisah ini bukanlah dari Nabi <em> </em><em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> atau sahabat, melainkan dari ’Amr bin Maimun <em>rahimahullah</em> dan beliau adalah seorang <em>mukhodhrom</em> yaitu tabi’in yang mendapati masa jahiliah dan memeluk agama Islam pada masa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tetapi tidak bertemu dengan beliau.<a href="#_ftn4">[4]</a></li>
<li>Tujuan inti Imam Bukhori menyebutkan kisah ini adalah untuk menjelaskan bahwa ’Amr bin Maimun mendapati masa jahiliah. Oleh karena itu, beliau mencantumkannya dalam <em>Bab al-Qosamah fil Jahiliyyah</em>.</li>
<li>’Amr bin Maimun menceritakan kisah tersebut karena adanya indikasi-indikasi kuat bahwa kera tersebut melakukan perzinaan. Ini hanyalah sekadar cerita yang diungkapkan berdasarkan praduga kuat, bukan berarti memastikan zina atau rajam betulan atau menganggap bahwa binatang adalah makhluk yang <em>mukallaf</em>. Namun, beliau menyebut demikian karena menyerupai perbuatan zina.</li>
</ol>
<h3>Syubhat Kedua: Dari segi Matan</h3>
<p>Ada baiknya bila kami kutip kisah lengkap dan panjang yang diriwayatkan oleh al-Ismaili agar kita mengetahui jalur kisah ini secara lengkap. Kata ’Amr bin Maimun <em>rahimahullah</em>:</p>
<blockquote><p>“Suatu saat ketika saya berada di Yaman menggembala kambing milik keluarga saya dan saya berada di tempat yang tinggi. Saya melihat ada seekor kera jantan bersama kera betina berdua-duan lalu mereka berdua tidur berpelukan. Tiba-tiba datang kera betina lain lebih kecil (muda) lalu menggoda kera betina. Kemudian kera betina secara pelan-pelan keluar dari pelukan jantannya kemudian pergi bersama kera muda tadi lalu keduanya berjima’ lalu dia kembali ke kepala jantannya dengan pelan-pelan. Tak lama, jantannya bangun kaget kemudian mencium dubur betina lalu berteriak sehingga berkumpullah kera-kera yang cukup banyak. Sang betina terus berteriak sembari mengisyaratkan tangannya ke betina. Kera-kera itu akhirnya pergi ke kanan dan ke kiri lalu mereka datang membawa kera muda yang aku kenal tadi. Setelah itu mereka membawa keduanya ke lubang kecil kemudian merajam keduanya. Sungguh aku telah melihat rajam pada selain anak adam.” <a href="#_ftn5">[5]</a></p></blockquote>
<h3><span style="color: #ff0000;">Mutiara Hadits</span></h3>
<p>Atsar ini mengandung beberapa pelajaran berharga, di antaranya:</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>1.  Kejinya perbuatan zina</strong></span></p>
<p>Zina adalah perbuatan seorang lelaki menggauli wanita di luar pernikahan yang sah atau perbudakan<a href="#_ftn6">[6]</a>. Zina termasuk dosa besar setelah syirik dan pembunuhan<a href="#_ftn7">[7]</a>, sebagaimana ditegaskan dalam al-Qur‘an, hadits, ijma’, dan akal. Perhatikanlah firman Alloh:</p>
<p style="text-align: center;">وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَـٰحِشَةًۭ وَسَآءَ سَبِيلًۭا ﴿٣٢﴾</p>
<p style="text-align: center;"><em>Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.</em> (QS. al-Isro‘ [17]: 32)</p>
<p>Perhatikanlah bagaimana Alloh menyifati perzinaan dengan perbuatan keji dan buruk karena memang dalam perzinaan terdapat beberapa dampak negatif yang banyak sekali seperti hancurnya keutuhan keluarga, bercampurnya nasab, merebaknya penyakit-penyakit berbahaya, menimbulkan permusuhan, kehinaan, keruwetan hati, dan sebagainya.<a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Jika binatang saja merasa jijik dan mengutuk perbuatan zina dan pelakunya padahal mereka tiada berakal, lantas bagaimana dengan dirimu wahai manusia?! Sungguh menyedihkan hati kita maraknya perzinaan, pencabulan, perselingkuhan di negeri ini, banyaknya pos-pos perzinaan yang terlindungi, dan mesin-mesin pengantar menuju perzinaan dari gambar-gambar porno dan seronok yang meruyak di internet dan majalah, bahkan televisi!!</p>
<p>Maka melalui tulisan ini, kami menghimbau kepada pemerintah untuk menyikapi masalah ini secara tegas. Alangkah bagusnya ucapan Imam al-Mawardi <em>rahimahullah</em>: “Adapun mu’amalat yang mungkar seperti zina dan transaksi jual beli haram yang dilarang syari’at—sekalipun kedua belah pihak saling setuju—apabila hal itu telah disepakati keharamannya maka merupakan kewajiban bagi pemimpin untuk mengingkari dan melarangnya serta menghardiknya dengan hukuman yang sesuai dengan keadaan dan pelanggaran.” <a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Lebih parah lagi dari semua tadi, apa yang dilakukan oleh kelompok Syi’ah tatkala menjadikan praktik perzinaan yang keji atas nama ibadah di balik kedok “nikah mut’ah”. Sungguh, ini adalah perzinaan yang lebih besar dosanya karena menjadikan kemaksiatan sebagai ibadah. Hanya kepada Alloh kita mengadukan kebodohan mereka.</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>2.  Penegakan hukum rajam bagi pezina adalah haq</strong></span></p>
<p>Kebenaran hukum rajam bagi pezina yang <em>muhshon</em> (sudah menikah) dalam syari’at ini ditetapkan berdasarkan Kitabulloh dan mutawatir sunnah Rosululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> serta kesepakatan kaum muslimin semenjak dahulu hingga sekarang. Tidak ada yang menyelisihinya kecuali Khowarij yang ucapan mereka tidak perlu dilirik.<a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Sekalipun demikian jelasnya hukum rajam dalam Islam<a href="#_ftn11">[11]</a>, anehnya masih ada sekelompok orang dari para pemikir dan penulis masa kini<a href="#_ftn12">[12]</a> yang menggugat hukum ini hanya karena mengikuti arus hawa nafsu mereka, dan mengikuti langkah nenek moyang mereka dari kalangan Khowarij. Hanya kepada Alloh kita mengadukan semua ini.<a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Tidakkah orang-orang tersebut mengambil pelajaran dari kera-kera yang menegakkan hukum Alloh ketika anak adam tidak menegakkannya?!!<a href="#_ftn14">[14]</a></p>
<p>Mirip dengan kisah ini, apa yang diceritakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah <em>rahimahullah</em>, beliau berkata:</p>
<blockquote><p>“Sebagian syaikh terpercaya bercerita kepadaku bahwa dia melihat di masjid suatu jenis burung bertelur, lalu ada seorang mengambil telurnya dan menggantinya dengan telur jenis burung lainnya. Tatkala telur burung itu menetas, maka yang keluar adalah jenis lain. Serta merta mengetahui hal itu, maka sang jantan langsung memanggil kawan-kawannya sehingga mereka semua mengeroyok si betina sampai mati. Seperti ini sangatlah populer dalam kebiasaan binatang.” <a href="#_ftn15">[15]</a></p></blockquote>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>3.  Belajar dari kecerdikan sebagian hewan<a href="#_ftn16">[16]</a></strong></span></p>
<p>Imam Ibnul Qoyyim <em>rahimahullah</em> berkata: “Banyak manusia berakal yang belajar dari binatang beberapa perkara yang bermanfaat dalam mencari rezeki, akhlak, produksi, peperangan, kesabaran, dan sebagainya.” <a href="#_ftn17">[17]</a></p>
<p>Terlebih lagi kera, ia adalah binatang yang cukup cerdas. Oleh karenanya, al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata: “Disebut secara khusus kera dalam hadits ini karena ia memiliki kecerdasan lebih dibandingkan dengan hewan lainnya dan cepat belajar menirukan, hal yang jarang dijumpai pada kebanyakan hewan lainnya.” <a href="#_ftn18">[18]</a></p>
<p>Di antara <strong>kecerdasan kera</strong> adalah apa yang diceritakan oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<blockquote><p>“Dahulu ada seorang yang menjual khomer di kapal bersama kera. Apabila dia menjual khomer maka dia campuri dengan air. Maka kera mengambil kantong uang lalu naik di kayu (tiang) layar kapal seraya membagi uang, sebagian dinar ia lempar ke laut dan sebagian dinar ia lempar ke kapal.” (HR. Ahmad 2/306, an-Naqqosy dalam <em>Funun Ajaib</em> 78–79, Abu Syaikh dalam <em>Thobaqot Muhadditsin</em> 2/104, Abu Nu’aim dalam <em>Akhbar Ashbahan</em> 2/28 dengan sanad shohih)</p></blockquote>
<ul>
<li>Hadits ini menunjukkan kecerdikan sebagian hewan. Al-Munawi <em>rahimahullah</em> berkata dalam <em>Faidhul Qodir</em> 1/491: “Telah shohih bahwa sekelompok orang pernah melihat kera bisa menjahit dan kera yang digaji untuk menjaga sawah.” Lalu beliau berkata: “Cerita seperti ini banyak sekali.”</li>
<li>Adakah manusia yang dapat mengambil pelajaran dari semua ini?! Apakah mereka akan sombong dari menuntut ilmu sehingga kalah dengan hewan?!!</li>
</ul>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>4.  Di Manakah Sifat Cemburu sekarang ini?<a href="#_ftn19">[19]</a></strong></span></p>
<p>Cemburu merupakan sifat yang mulia. Dengannya terjaga kehormatan seorang dan keluarganya. Adapun bila sifat cemburu telah hilang maka akan terkoyak pula kehormatan seorang dan keluarganya. Anehnya, sifat yang mulia ini sangat jarang kita jumpai pada zaman sekarang dengan alasan kebebasan dan perkembangan zaman. Orang yang cemburu dianggap kampungan, kolot, dan ketinggalan zaman!! Oleh karenanya, sering kita dengan dengar ucapan sebagian orang: “Ini zaman modern, bukan zaman Siti Nurbaya lagi”!!!</p>
<blockquote><p><em>Subhanalloh</em>, apakah kita tidak mengambil pelajaran dari binatang yang masih memiliki kecemburuan?!! Imam Abu Ubaidah Ma’mar bin Mutsanna <em>rahimahullah</em> menyebutkan dalam <em>Kitabul Khoil</em> dari jalur al-Auza’i bahwa ada seekor kuda diperintah untuk menggauli ibunya maka dia enggan. Akhirnya, ibu kuda tadi dimasukkan ke rumah dan ditutupi kain lalu perintahkan kepada anaknya untuk menggaulinya. Karena dia tidak tahu, maka ia pun menggaulinya. Tatkala ia mencium aroma ibunya serta-merta ia menggigit dzakarnya sendiri dengan giginya sampai putus.” <a href="#_ftn20">[20]</a></p>
<p>Kisah yang mirip juga adalah kisah kecemburuan seekor sapi yang bunuh diri karena dia telah menggauli ibunya sendiri. Alkisah, sapi tersebut ditutup matanya lalu diseret ke ibunya agar menggaulinya. Setelah proses pengawinan selesai, dibukalah mata sapi tadi, dan ketika dia tahu bahwa yang ia gauli adalah ibunya sendiri maka serta-merta sapi tersebut langsung lari terbirit-birit menghantamkan kepalanya ke tembok sehingga berlumuran darah, lalu lari dengan gila menuju sungai kemudian menenggelamkan dirinya hingga mati!! <em>Subhanalloh</em>, jika binatang saja memiliki cemburu seperti itu, lantas bagaimana dengan dirimu wahai manusia?!!!<a href="#_ftn21">[21]</a></p></blockquote>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>5.  Inilah Makna “Jahiliyyah”</strong></span></p>
<p><em>Jahiliyyah</em> (jahiliah) adalah masa sebelum datangnya Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang penuh dengan kejahilan dan kesesatan. Jahiliah secara mutlak adalah masa sebelum Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> saja. Maka termasuk kesalahan apabila menyifati masa diutusnya Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan jahiliah secara mutlak.<a href="#_ftn22">[22]</a> Dari sini pula dapat kita ketahui kesalahan sebagian tokoh pergerakan yang mencuatkan sebuah istilah “Jahiliah Abad 20”.<a href="#_ftn23">[23]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;"><em>Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>www.abiubaidah.com</em></p>
<div>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a><em> Syarh Shohih Muslim</em> 1/14</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a><em> Tahdzib al-Asma‘ wa Lughot</em> 1/73</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a><em> Fathul Bari</em> 7/201</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Lihat <em>al-Ishobah</em> 3/118, <em>Siyar</em> 4/158, <em>Kasyful Musykil</em> 4/175 Ibnul Jauzi, dan <em>Tafsir al-Qurthubi</em> 1/442.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Lihat <em>Fathul Bari</em> 7/201–202, <em>Ta‘wil Mukhtalifil Hadits</em> hlm. 473–474 Ibnu Qutaibah.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a><em> Bidayatul Mujtahid</em> oleh Ibnu Rusyd 2/324</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Imam Ahmad bin Hanbal <em>rahimahullah</em> berkata: “Saya tidak mengetahui dosa yang lebih besar setelah pembunuhan daripada dosa zina.” (<em>ad-Da‘ wa Dawa‘</em> oleh Ibnul Qoyyim hlm. 230)</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Lihat <em>ad-Da‘ wa Dawa‘</em> Ibnul Qoyyim hlm. 250–251 dan <em>at-Tadabir al-Waqiyah Mina Zina</em> oleh Dr. Fadhl Ilahi.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a><em> Al-Ahkam as-Sulthoniyyah</em> hlm. 406</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a><em> Sailul Jarror</em> 4/328 oleh asy-Syaukani</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Lihat masalah rajam secara luas dalam <em>al-Maqoshid Syar’iyyah lil Uqubat Syar’iyyah</em> oleh Dr. Rowiyah Ahmad Abdul Karim dan <em>al-Hudud wa Ta’zirot</em> oleh Syaikh Bakr Abu Zaid.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> Seperti Hasan at-Turabi sebagaimana dalam <em>Riyadhul Jannah fir Roddi ’ala Madrosah Aqliyah</em> Dr. Sayyid Husain hlm. 74. Kalau di Indonesia, pengingkaran ini dimotori oleh JIL yang dikenal banyak menyebarkan pemikiran-pemikiran beracun. Maka waspadailah!!</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a><em> Al-Mulakhosh al-Fiqhi</em> 2/445 Sholih al-Fauzan</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a><em> Syifa‘ul Alil</em> 1/250 Ibnul Qoyyim</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a><em> Majmu’ Fatawa</em> 15/147</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> Lihat lebih lengkap dalam <em>Kitab al-Hayawan</em> oleh ad-Damiri dan <em>Ghoroib wa Ajaib Makhluqotillah</em> yang disusun oleh Abul Mundzir Kholil Amin.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a><em> Syifa‘ul Alil</em> 1/252</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a><em> Fathul Bari</em> 7/202</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref19">[19]</a><em> Al-Muru‘ah wa Khowarimuha</em> hlm. 263 oleh Syaikhuna Masyhur bin Hasan Alu Salman</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref20">[20]</a><em> Fathul Bari</em> 7/203</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref21">[21]</a><em> Hal Ataka Hadits Rofidhoh</em> hlm. 125 — Maktabah Syamilah</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref22">[22]</a> Lihat <em>al-Ajwibah al-Mufidah</em> hlm. 149–150 oleh Syaikh Sholih bin Fauzan</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref23">[23]</a> Lihat bantahannya dalam <em>Hayah Albani</em> 1/391–394 dan <em>Mu’jam Manahi Lafzhiyyah</em> hlm. 212–214 oleh Syaikh Bakr Abu Zaid.</p>
</div>
</div>


<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiubaidah.com/binatang-juga-mengutuk-perzinaan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 1.302 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2012-02-06 03:02:42 -->

