Studi Kritis Burdah Al-Bushiri
oleh:

Pengantar
Bagi sebagian kalangan warga Indonesia, “Burdah Al-Bushiri” bukanlah hal yang asing, lantaran buku itu kerap dibaca dalam acara-acara tertentu secara bersama dan bergilir dari rumah ke rumah pada setiap bulan, minggu, bahkan oleh sebagian orang dibaca setiap hari di rumahnya bersifat individual.
Di kampung Arab Bondowoso diceritakan, bahwa acara pembacaan Burdah bersama tersebut merupakan warisan turun-temurun dari masyarakat kampung Arab, dan telah mengalami regenerasi yang cukup panjang yaitu sebelum tahun 1970-an, artinya sudah berlangsung kurang lebih selama 34 tahun. (Majalah Cahaya Nabawi No. 33 Th. III Sya’ban 1426 H hal. 56)
Memang, “Burdah Al-Bushiri” ini sangat populer sekali, dibaca dan dikaji di rumah dan masjid seperti halnya Al-Qur’an, kalam ilahi. Lebih dari itu, banyak sekali buku yang mensyarahnya (menjelaskan makna kandungannya), sehingga terhitung lebih dari lima puluh jumlahnya, bahkan sebagiannya ada yang ditulis dengan tinta emas!!
Siapakah Al-Bushiri?
Dia bernama Muhammad bin Sa’id bin Hammad bin Muhsin bin Abdillah ash-Shanhaji al-Bushiri, nisbah kepada kotanya Abu Shir di Mesir, tetapi asalnya dari Maghrib. Dia lahir pada tahun 608 H, dia termasuk ahli di bidang syair tetapi sayangnya dia sangat miskin ilmu, buktinya dia menasabkan diri dan menjadi pembela salah satu tarikat Sufi yang sesat, yaitu tarikat Syadziliyah[1]. Dia wafat pada tahun 695 H. (Lihat Fawat Al-Wafayat 3/362 al-Kutbi, Al-A’lam 6/139 az-Zirakli, Mu’jam Muallifin 10/26 Kahhalah, Syadzarat Dzahab 5/432)
Judul Bukunya
Secara harfiyah “Burdah” memang bermakna selendang. Al-Bushiri membubuhkan judul antologinya dengan nama tersebut bukan berarti tanpa alasan. Sebab, alkisah di zaman nabi dulu ada seorang tokoh yang bernama Ka’ab bin Zuhair. Semula dia adalah seorang penyair non muslim yang tergolong paling radikal menentang dakwah Rasulullah, kemudian dia masuk Islam, lantas menggubah sajak buat Nabi yang isinya kala itu tergolong estetik. Intro puisi itu:
Kudengar kabar
Rasulullah berjanji padaku
Dan ampunan itu
Sungguh jadi tumpuan harapanku.
Untuk itu konon Nabi memberikan selendang beliau kepadanya.
Berdasar mirip dengan cerita di muka, Al-Bushiri mengaku bahwa dirinya juga bermimpi bahwa Nabi memberinya selendang tatkala dia melantunkan gubahan sajak-sajaknya!! (Dikutip dari buku “Burdah, Madah Rasul Dan Pesan Moral” yang dipuitisikan oleh Muhammad Baharun, Majalah Cahaya Nabawi hal. 55)
- Pengingkaran Para Ulama
Para ulama telah bangkit menunaikan tugas mereka dalam menyingkap penyimpangan yang ada dalam Burdah Bushiri, termasuk diantara mereka yang menjelaskan penyimpangannya adalah:
- Asy-Syaukani dalam Ad-Durr An-Nadzid hal. 26,
- Abdur Rahman bin Hasan dalam Rasail wa Masail Najdiyyah 2/33,
- Sulaiman bin Abdillah dalam Taisir Aziz hamid hal. 221-223,
- Abdullah Abu Buthain dalam Naqd Burdah dan Ta’sis Taqdis,
- Mahmud Syukri al-Alusi dalam Ghoyatul Amani 2/350, al-Ustadz Abdul Badi’ Saqr dalam kitab Naqd Burdah,
- dan masih banyak lagi lainnya.
- Beberapa Contoh Penyimpangan
Sebenarnya banyak sekali penyimpangan-penyimpangan yang terdapat dalam Burdah tersebut, namun sekedar contoh kita nukilkan sebagiannya saja. Hanya kepada Allah saja, kita bertawakkal:
1. Al-Bushiri mengatakan:
وَكَيْفَ تَدْعُوْ إِلَى الدُّنْيَا ضَرُوْرَة مَنْ لَوْلاَهُ لَمْ تُخْرَجِ الدُّنْيَا مِنَ الْعَدَمِ
Bagaimana engkau menyeru kepada dunia
Padahal kalau bukan karenanya (Nabi) dia tiada tercipta
Tidak ragu lagi bahwa bait ini mengandung ghuluw (berlebih-lebihan) kepada Nabi, dimana al-Bushiri menganggap bahwa dunia ini tidaklah diciptakan kecuali karena Nabi, padahal Allah berfirman:
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Mungkin saja ucapan di atas bersandar pada hadits palsu:
لَوْلاَكَ لَمَا خَلَقْتُ الأَفْلاَكَ
Seandainya bukan karenamu, Aku tidak akan menciptakan makhluk.
(Lihat Silsilah Adh-Dha’ifah al-Albani no. 282)
2. Al-Bushiri berkata:
دَعْ مَا ادَّعَتْهُ النَّصَارَى فِيْ نَبِيِّهِمْ وَ احْكُمْ بِمَا شِئْتَ فِيْهِ وَاحْتَكِمْ
Tinggalkanlah ucapan kaum Nashara terhadap nabi mereka
Adapun terhadapnya (Nabi Muhammad), ucaplah sesuka anda
Dalam bait ini, dia menganggap bahwa yang terlarang adalah kalau umat Islam mengatakan seperti ucapan orang-orang Nashara terhadap Nabi Isa bahwa beliau adalah Tuhan, anak tuhan dan salah satu tuhan dari yang tiga. Adapun selain itu maka hukumnya boleh-boleh saja.
Ucapan ini jelas sekali kebatilannya, sebab ghuluw itu sangat beraneka macam bentuknya dan kesyirikan itu ibarat laut tak bertepi, artinya dia tidak terbatas hanya pada ucapan kaum nashara saja, sebab umat-umat jahiliyyah dahulu yang berbuat syirik, tidak ada seorangpun diantara mereka yang berucap seperti ucapan Nashara. Jadi ucapan di atas merupakan pintu kesyirikan, sebab menurutnya ghuluw itu hanya terbatas pada ucapan kaum nashara saja.
4. Al-Bushiri berkata:
لاَطِيْبَ يَعْدِلُ تُرْبًا ضَمَّ أَعْظُمَهُ طُوْبَى لِمُنْتَشِقٍ مِنْهُ وَمُلْتَثِمِ
Tiada kebaikan yang melebihi tanah yang menimbun tulangnya
Kebahagiaan (surga) bagi orang yang dapat menciumnya
Dalam bait ini, al-Bushiri menyatakan bahwa tanah yang menimbun tulang-tulang Nabi adalah tempat yang paling utama dan mulia. Tidak hanya itu, tetapi bagi mereka yang menciumnya maka balasannya adalah surga dan kedudukan mulia. Tidak ragu lagi bahwa semua ini adalah termasuk ghuluw yang menjurus ke pintu kebid’ahan dan kesyirikan.
Syaikhul Islam berkata:
“Para imam telah bersepakat bahwa tidak boleh mengusap-ngusap kuburan nabi ataupun menciumnya, semua ini untuk menjaga kemurnian tauhid”. (Ar-Radd Ala Akhna’I hal. 41)
5. Al-Bushiri berkata:
أَقْسَمْتُ بِالْقَمَرِ الْمُنْشَقِّ إِنَّ لَهُ مِنْ قَلْبِهِ نِسْبَةً مَبْرُوْرَةَ الْقَسَمِ
Aku bersumpah dengan bulan yang terbelah bahwa
Ada sumpah yang terkabulkan pada dirinya
Dalam bait inipun terdapat penyimpangan yang amat nyata, sebab bersumpah dengan selain Allah termasuk bentuk kesyirikan.
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَِ
Dari Umar bin Khaththab bahwasanya Rasulullah bersabda: “Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah maka dia telah kufur atau berbuat syirik”. (HR. Ahmad 4509 dan Tirmidzi 1534)
Ibnu Abdil Barr berkata:
“Tidak boleh bersumpah dengan selain Allah untuk apapun dan bagaimanapun keadaannya, hal ini merupakan kesepakatan ulama”. Katanya juga: “Para ulama telah bersepakat bahwa bersumpah dengan selain Allah adalah terlarang, tidak boleh bersumpah dengan apapun dan siapapun”. (At-Tamhid 14/366-367)
6. Al-Bushiri berkata:
يَا أَكْرَمَ الرُّسُلِ مَا لِيْ مَنْ أَلُوْذُ بِهِ سِوَاكَ عِنْدَ حُلُوْلِ الْحَادِثِ الْعَمِمِ
Aku tidak memiliki pelindung Wahai rasul termulia
Selain dirimu di kala datangnya petaka
Perhatikanlah wahai saudaraku bagaimana bait ini mengandung unsur kesyirikan:
a. Dia meniadakan pelindung di saat datangnya petaka selain Nabi, padahal hal itu hanya khusus bagi Allah semata, tiada pelindung kecuali hanya Dia saja.
b. Dia berdoa dan memohon permohonan ini dengan penuh rendah diri, padahal hal itu tidak boleh diperuntukkan kecuali hanya kepada Allah saja. (Taisir Aziz Al-Hamid hal. 219-220)
Al-Allamah asy-Syaukani berkomentar tentang bait ini:
“Perhatikanlah bagaimana dia meniadakan semua pelindung kecuali hamba dan rasul Allah, Muhammad saja, dia lalai terhadap Rabbnya dan Rabb rasulnya. Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un”. (Ad-Durr An-Nadhid hal. 26)
7. Al-Bushiri berkata:
فَإِنَّ مِنْ جُوْدِكَ الدُّنْيَا وَضَرَّتَهَا وَمِنْ عُلُوْمِكَ عِلْمُ اللَّوْحِ وَالْقَلَمِ
Dan termasuk ilmumu adalah ilmu lauh (mahfudh) dan pena.
Diantara pemberianmu adalah dunia dan akheratnya
Dalam bait ini, dia menjadikan dunia dan akherat termasuk pemberian dan milik Nabi Muhammad, padahal Allah berfirman:
Dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akherat dan dunia. (QS. Al-Lail: 13)
Adapun ucapannya “Dan termasuk ilmumu adalah ilmu lauh (mahfudh) dan pena”. Maka ini adalah ucapan yang sangat batil sekali, karena hal itu berarti bahwa Nabi mengetahui ilmu ghaib, padahal Allah berfirman:
Katakanlah: Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghaib kecuali Allah. (QS. An-Naml: 65)
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. (QS. Al-An’am: 59)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat lainnya.
PENUTUP
Demikianlah sekelumit contoh penyimpangan yang terdapat dalam “Burdah” dan komentar seperlunya. Semoga saja hal itu cukup untuk mewakili penyimpangan-penyimpangan lainnya.
Akhirnya kami menghimbau kepada setiap muslim yang terikat dengan qasidah ini hendaknya dia meninggalkannya dan menyibukkan diri dengan kitab-kitab lainnya yang bermanfaat. Dan hendaknya diketahui bahwa hak Nabi Muhammad adalah dengan membenarkan seluruh ucapannya, mengikuti syari’atnya dan mencintainya tanpa kurang atau berlebih-lebihan.
Ya Allah! Saksikanlah bahwa kami sangat mencintai NabiMu dan membenci orang-orang yang tidak mencintai beliau!!. Ya Allah! Tetapkanlah hati kami di atas jalanMu yang lurus sehingga bertemu denganMu.
(Disadur dari Qawaidih Aqdiyyah fi Burdah Bushiri oleh Dr. Abdul Aziz bin Muhammad dan Muqaddimah Dr. Ali bin Muhammad al-Ajlan terhadap kitab Ar-Radd Ala Burdah karya Abdullah Abu Buthain).
[1] Syadziliyyah: Salah satu tarikat Sufi sesat yang populer di sebrbagai negara Islam, dan telah terpecah menjadi beberap keping. Disebut Syadziliyyah karena nisbah kepada pencetusnya Abul Hasan Ali bin Abdillah asy-Syadzili al-Maghribi yang lahir tahun 591 H di kota Aghmat (Maghrib), tumbuh di Syadzilah, sebuah kota dekat Tunis, kepadanyalah dia dinisbatkan, kemudian setelah itu dia pindah ke Mesir dan mempunyai beberapa pengikut di sana. Wafat tahun 656 H. (Lihat Al-Asrar Al-Aliyyah fi Saadah Syadziliyyah hal. 100-141 oleh Ahmad Syarif asy-Syadzili, Al-Al’lam 4/305 az-Zirakli, Mu’jam Muallifin 7/137 Kahhalah).
Related posts:
- Muhammad bin Abdul Wahhab: Fitnah Nejed?
- Benang Tipis: Antara Kemudahan Islam dan Bermudah-Mudahan dalam Mengamalkan Syariat Islam
84 Responses to “Kesyirikan dalam Burdah Al-Bushiri”


Kalau punya tali hanya sejengkal, jangamnlah memancing di laut yang dalam. Nanti mengira laut tak ada ikannya, padahal tali anda yang tak sampai ke dasar.
Kayaknya Pak Sidawi harus lanjutin kuliahnya sampe Doktor dech….
seperti Prof.DR. Salim Segaf, MA….. cuma lulusan S1 arab itu baca al-umm aja gak khatam, asybah wan nadzoir aja gak khatam,, semuanya saya yakin jarang yang khatam…
kalau ulama dulu kan tun tas tasssss…. Fatawa Ibnu Taimiyah, bin Baz.. saya yakin dia juga gak pernah hatam… saya juga sangsi kalau dia hafal qur’an…. kayaknya dia gak hafal al-Qur’an.. yang benar-benar hafal……
@ Al Akh Salafi Taubat rohimahulloh
Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS. Yunus [10]: 36)
Waspadalah kalian dari berprasangka, karena sesungguhnya prasangka itu sedusta-dusta perkataan (HR al Bukhari (5/1976, 2253 no. 4849 dan 5717, 6/2474 no. 6345), Muslim (4/1985 no. 2563), dan lain-lain, dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu.)
Ustadz Abu Ubaidah As-Sidawi, semoga Allah menegarkan Anda dan kita semua dalam memegang bara…
saya tidak nyangka-nyangka….. tanyakan saja sama pak sidawi… bener apa enggak… anda itu yang nyomot-nyomot hadits untuk membenarkan kata-kata anda!!! gak sopan….. coba anda udah khtam belum kitab-kitab itu???? ngerti gak!!!
@salafi taubat yg dirahmati Allah Ta’ala…
Perihal benar atau tidaknya ustadz Yusuf sudah hapal Al qur’an atau belum, itu urusan dia dengan Allah Ta’ala. Kita sebagai sesama muslim hendaknya husnudzon pada beliau, bukankah itu yg guru antum ajarkan? Saran ana untuk antum, daripada antum sibuk berprasangka ga karuan spt itu, sampai2 akhi ibnu abi irfan yg ingin memberi nasehat pun ikut kena semprot antum, lebih baik antum membahas mengenai artikel ini spy nyambung, coba kemukakan hujjah dari sisi antum, kita sama2 belajar disini. Ana harap jgn spt komen2 lain yg bisanya hanya menghujat ustadz Yusuf tanpa bisa mengeluarkan hujjah.
Maaf ya akh, kita fair aja disini. Ana liat dari semua komen diatas yg tidak setuju atas artikel ini kebanyakan hanya mengomentari dengan emosi dan malah ada yg mengatai ustadz dengan sebutan t** kucing, wallahul musta’an…sudah tidak adakah lagi hujjah sehingga tega mengatai spt itu?? Dimana adab seorang muslim yg katanya diajari oleh guru yg hapal sanad dan matan hingga 300.000 hadits, hapal kitab2 fiqih, tetapi antum hanya bisa suudzon dan meledek???
Maaf, klo ada kata2 yg menyinggung.
@ Al Akh Salafi taubat rohimahulloh
kalau antum tidak berprasangka, berarti antum yakin bahwa Al Ustadz Abu Ubaidah itu begini dan begitu sebagaimana yang antum katakan. adakah antum mempunyai bukti atas keyakinan antum tersebut?
“Tunjukkan kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (QS. (Al Baqoroh) 2:111)
Untuk salafy taubat dan kawan2nya. Semoga Alloh memberi mereka hidayah dan menghiasi dgn akhlaq yg indah.
Orang bijak pernah mengatakan: “Lihatlah ucapan seseorang bukan orangnya”.
Oleh karenanya, dalam dialog dan debat marilah kita ke inti permasalahan yang sedang dibahas, bukan ke sana dan kemari yang diluar pembahasan, kalau memang dalam artikel kami terdapat kesalahan, maka kiranya dapat dijelaskan dengan hujjah-hujjah yang ilmiah bukan sekedar kata-kata emosional tanpa arti.
Marilah kita jadikan Al-Qur’an dan hadits sebagai hakim dalam setiap perselisihan kita, dan marilah kita kembali kpd kebenaran tatkalah telah jelas bagi kita, tinggalkanlah kesombongan dan fanatik golongan yg kerapkali menghalangi manusia dari kebenaran .
Ingatlah selalu capan Imam Syafi’i berikut tentang adab berdebat: “Tidaklah saya berdebat untuk mencari kemenangan”. beliau juga mengatakan: “Tidaklah aku menyampaikan hujjah kepada seorang lalu dia menerimanya kecuali dia akan bertambah mulian dalam hatiku dan tidaklahHada seorang menolaknya kecuali akan rendah dari hatiku”. Putra Imam Syafi’i berkata: “Saya tidak pernah mendengar ayahku berdebat dengan suara keras”. (Lihat Tawali Ta’sis hlm. 112 oleh Ibnu Hajar). Apalagi mencela atau mengatakan ucapan kotor!!!. Hadakumulloh ikIla Shirotihil Mustaqim
Assalamu ‘alaikum… Setelah ana baca komentar2 di atas, terutama yang tidak setuju dengan isi artikel di atas, maka ana dapat ambil kesimpulan, bahwa yang namanya SILAFI “Tobat”??? n kawan-kawannya yang komentar kesana-kemari, tanpa bukti yang real, hanya berdasarkan hawa nafsunya saja, tidak jauh lebih pintar dari Al Ustadz Abu Ubaidah. Mereka hanya mengatakan si A, Si B, Si anu, Si itu telah begini dan begitu, khatam kitab A, kitab B, dan lain-lain, tapi dari dirinya sendiri tidak ada yang bisa dibanggakan, masih ada di titik “0″. Lihatlah komentar2 mereka, tak ada satupun dalil yang mereka bawakan. Hanya sekedar klaim saja, lebih mengedapankan hawa nafsu, menuduh tanpa bukti, dan lain-lain.
Untuk para penentang dakwah tauhid, ana do’akan semoga Allah memberi mereka hidayah & menghiasi dgn akhlaq yg indah.
Untuk admint ana mohon tidak menampilkan coment yang terkesan jorok.
Untuk Al Ustadz Abu Ubaidah, semoga Allah ta’ala memberi kekuatan dan kemudahan dalam menyampaikan kebenaran dan berdakwah…
Dan yang terakhir, semoga Allah condongkan hati saya, hati ustadz, hati-hati para pembaca dan seluruh kaum muslimin kepada kebenaran….Amin. Jazakallah khairan katsiran
assalamualaikum…. semangat Usatadz Abu Ubaidah,lawan tauhid ya syirik, lawannya sunnah ya bid’ah…. namanya juga sufi kebanyakaan pakai perasaan yang kemudian dituangkan dengan kata2 sehingga yang membaca lagi mendengar sungguh terbuai….
Aduhai ahli burdah sungguh kata-katamu sangat indah lagi syahdu mendengarnya namun engkau tiada hiraukan Al-Qor’an lagi Hadist shohih tiadakah ilmu sampai padamu sehingga manakala kau untaikan kata-katamu hingga bertentangan dengan sunnah,maka tatkala ilmu sampai kepadamu engkaupun menutup hatimu…….. (afwan ana negur pakai syair pula)
Assalamualaikum..salam ukhuwah islamiyah.. Saya ini orang awam yg gak tau apa2. Sebagai orang awam saya ketawa cz lucu bgt kalo sesama muslim saling menyalahkan or saling bantah2an satu sama lainnya.. Ingatlah ajaran islam menyuruh pemeluknya rajin mengaji,mengkaji dan memahami bukan untuk alat saling mencaci maki sesama muslim. Hakikat bid’ah adalah ketika kita semua merasa hebat. Agama islam kuat bukan karena pemeluknya suka berdebat, agama islam kuat karena pemeluknya taat penuh adab kepada Allah dan RasulNYA. Apakah kita tidak melihat sejarah tauladan rasul muhammad saw dan para pewarisnya yg hebat tapi mereka bijak penuh adab. Salam bonek arek suroboyo.. Dadi wong islam sing kompak yo cak..
@ Al Akh Hafizz
membantah bid’ah dan ahlinya adalah jihad, sebagaimana antum melihat ada orang minum khomr kemudian antum mencegahnya, menasihatinya dan mengajaknya untuk membenci khomr.
bahkan bid’ah itu lebih besar bahayanya daripada khmor. bagaimana jika ada antum melihat orang minum khomr tetapi antum cuek ga mau peduli? antum berdosa bukan?
begitu pula jika antum membiarkan pelaku bid’ah, tentu saja dosanya lebih besar karena dampak yang ditimbulkan juga lebih besar.
jangan antum ketawakan orang yang membantah ahli bid’ah, karena setiap yang keluar dari pembantah ahli bid’ah pasti Al Quran dan As Sunnah. jika antum mentertawakan mereka, pada dasarnya antum mentertawakan Al Quran dan As Sunnah.
Assalamualaikum Ust Abu….Sebelumnya minta maaf , saya tahu artikel ini dari sebuah group milist, dan berikut jawaban saja….Ada beberapa catatan disini :
1 ) Pertama mengenai ” Muhammad bin Sa’id bin Hammad bin Muhsin bin Abdillah ash-Shanhaji al-Bushiri, nisbah kepada kotanya Abu Shir di Mesir, tetapi asalnya dari Maghrib.
Response saya : ” Yang benar syekh bushiri dibesarkan di dallasy, kota bani suwaif, Mesir. Beliau juga mempunyai nama “Abu Abdillah Syarafuddin Muhammad bin Hammad ad-Dalaashiy al-Shanhaji al-Syadzily”. Dalasy adalah nama daerah ( kecamatan di Bani suwaif ). Orang tua beliau pernah tinggal di maghrib, tapi akhirnya menetap di Mesir. Syekh Bushiri dilahirkan di desa Bushir bukan KOTA ABU SHIR. Antum tidak akan menemukan kota bernama Abu Shir di Mesir. Yang ada pegunungan Abu Shir bukan nama kota. ( sumber : Al-Mada’ih al-Nabawiyyah oleh Mahmud Ali Makky; saya baca dari buku diktat kuliah saya ).
dia termasuk ahli di bidang syair tetapi sayangnya dia sangat miskin ilmu, buktinya dia menasabkan diri dan menjadi pembela salah satu tarikat Sufi yang sesat, yaitu tarikat Syadziliyah[1].
pertama : syekh bushiri sangat miskin ilmu ? ( astaghfirullahal adzim ). Bagaimana seorang yang miskin ilmu bisa menyusun syair yang indah dan diakui nilai estetika penyair-penyair arab masa mamaluk dan ustmani, menginspirasi penyair-penyair awal abad 19 seperti al barudi dan ahmad syauqi ini. Ini sebuah ” fitnah yang keji dan tak berdasar ilmu”. Bagaimana antum bisa mengetahui kadar keilmuan beliau ? Lantas mengatakan beliau miskin ilmu. Seperti yang kita ketahui, para generasi-generasi muda di abad-abad mamalik dan usmani dididik dengan disiplin ilmu agama yang tinggi. Mereka sudah menghafal qur’an sejak kecil, demikian Syekh Bushiri, beliau pada masa anak-anak sudah hafal al Qur’an dan belajar ilmu-ilmu pengetahuan agama. Dan tidak ketinggalan belajar sastra dan prosa arab dengan baik. Harusnya antum memblack list juga Abu Nawas, karena sejarah mencatat kehidupan Abu Nawas di masa-masa muda dan dewasanya penuh dengan foya-foya dan seorang pemabuk tingkat tinggi, maka ada beberapa syair-syair yang dia karang untuk memuji-muji khamar. Walau pada akhir hayatnya dia bertobat dan mengarang syair abu nawas seperti yang kita baca di pondok.
buktinya dia menasabkan diri dan menjadi pembela salah satu tarikat Sufi yang sesat, yaitu tarikat Syadziliyah.
Darimana antum tahu kalau tarikat sufi syadziliyah itu sesat ? antum pernah melihat kesesatannya ? Antum pernah melihat pengikut tarikat sufi syaziliyah tidak mau sholat, tidak mau puasa ? Tuduhan ini terlampau keji dan tidak berdasar pada argument yang objektif. Saya beri informasi saja, bahwa tarikat syadziliah didirikan oleh abul hasan as Syadzili al Hasani. Beliau mempunyai murid Abul Abas Mursi, seorang sufi dan cendekiawan terkenal di masanya, kemudian Abul Abas Mursi ini mempunyai murid yang kita kenal dengan Ibn Athaillah yang mengarang kitab Al HIKAM. Kitab tasawuf ini sangat terkenal dan menjadi menu utama dalam pengajian pesantren-pesantren tradisional NU. Dalam kita AL HIKAM inilah petuah-petuah, ajaran lisan dan doa-doa Abul Hasan Asyadzili dihimpun. Kebetulan saya mengkajinya dan ikut dalam thariqoh as Shidiqiyyah As Syadziliah. Thoriqoh Syadzili hampir diikuti oleh sebagian besar masyarakat mesir, termasuk sebagian besar para dosen dan masyayikh Al Azhar. Bahkan sebagian besar Thoriqoh-thoriqoh sufi mu’tabaroh yang tergabung dalam ( Majlis Sufi A’la ) berkembang di Mesir bersambung pada Abul Hasan As Syadzili. Salah satu Syekh Al Azhar terkenal yang mengikuti thoriqoh as Syadzili Syekh Abdul Halim Mahmud, begitupula Hasan Al Bana dan Sayyid Qutb Ibrahim Husein asy-Syadzili. Dan sederet Kibar Al Azhar, dan ulama-ulama fiqih semisal taqiyyudin subki pengarang tobaqoh syafi’iyyah kubro. Astaghfirullahal Adzim….Jika antum membenarkan tuduhan bahwa Abul Hasan Syadzili adalah ulama sesat, maka secara otomatis antum telah menuduh sesat orang-orang yang bersangkutan dengan ajarannya, seperti ulama-ulama dan santri-santri NU, Mayoritas Ulama Al Azhar dan ulama-ulama lain yang kadar keilmuannya tidak diragukan lagi. Terlebih lagi tuduhan sesat ini otomatis teralamatkan kepada Imam Al Ghozali dan Al Makki yang menjadi inspirasi lahirnya thoriqhoh Syadziliyah ini ( lebih jelas baca Al Hikam oleh Syarh Syekh Romadhon Buthi ).
Ustad Abu yang Baik, semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan menghiasi hati anda……Untuk membaca dan menganalisa Syair Arab itu tidak seperti menerjemahkan tulisan-tulisan di buku MUTHOLA’AH atau buku-buku berbahasa arab pada umumnya. Dengan modal kamus lantas artinya bisa terkuak sesuai keinginan sang Penyair. Diperlukan kemampuan ekstra dan mumpuni dalam ilmu bahasa arab dan cabang-cabangnya semisal : ILMU Nahwu ( jangan ngandelin Nahwu Wadhih ) minimal Al Fiyah Ibn Malik, Syarh Ibnu Hisyam Al Anshori, atau Syarh Asymuni, Atau Khasiyah Shobban, atau Mugni Labib. Demikian juga diperlukan pemahaman tentang Shorof ( tidak cukup amtsilah tasrifiyyah ), diperlukan Ilmu Arudh wal Qowafi, Ilmu Lahjattt Arobiyyah ( karena perbedaan makna bahasa arab ditentukan juga oleh Lahjat masing-masing daerah ), Ilmu Musiqi Syair, Ilmu Balaghoh ( minimal Asrarul balaghoh dan Dalailul I’jaz karya Jurjani, atau al Iydhoh karya Qozwini ), Ittijaahat Adab Jaahili, Umawiy, Abasiy beserta Tarikhnya… .dan beberapa ilmu linguistic yang rata-rata belum pernah kita pelajari di Pondok. Jika sang penggali makna syair tidak membekali diri dengan ilmu alat yang kuat, Maka yang terjadi adalah KESESATAN dalam Memahami Sebuah Makna Syair. Contohnya… ..
وَكَيْفَ تَدْعُوْ إِلَى الدُّنْيَا ضَرُوْرَة مَنْ لَوْلاَهُ لَمْ تُخْرَجِ الدُّنْيَا مِنَ الْعَدَمِ
Bagaimana engkau menyeru kepada dunia
Padahal kalau bukan karenanya (Nabi) dia tiada tercipta
KAIFA diartikan Bagaimana… …….Sementara Harf Kaifa mempunyai banyak makna ustadz, dalam kitab Mughni Labib karya Ibnu Hisyam Al Anshori demikian dalam kitabnya yang menjadi diktat kita ( Awdhohul Masalik Ila Al Fiyah Ibn Malik ) memuat banyak point, diantaranya istifham untuk tujuan ta’ajub, ada istifham inkaariyy, dan juga istifham untuk tawbihii, ada juga istifham untuk jumlah syarth. Dan artinya tidak melulu BAGAIMANA …… Demikian juga untuk menganalisa syair Bushiri jangan baca buku-buku atau karangan-karangan yang meresponse negatif atas buku tersebut…. Antum harus baca dulu minimal syarh Matan Bushiri seperti
Hasyiyyah al-Bajuri ‘Ala Matan al-Burdah oleh Syekh Ibrahim al-Badjuri atau Syarah lathifan ‘Ala Burdah al-Madih oleh Syekh Khalid al-Azhar…. Dalam syarh al bajuri
:
وَكَيْفَ تَدْعُوْ إِلَى الدُّنْيَا ضَرُوْرَة مَنْ لَوْلاَهُ لَمْ تُخْرَجِ الدُّنْيَا مِنَ الْعَدَمِ
Diartikan ” Betapakah kesempitan bisa mempengaruhi beliau
memilih dunia; Sedangkan dunia ada karenanya ,dunia diciptakan dari tiada kepada ada. Aslinya ”
وَكَيْفَ ضَرُوْرَة
تَدْعُوْ إِلَى الدُّنْيَا مَنْ لَوْلاَهُ لَمْ تُخْرَجِ الدُّنْيَا مِنَ الْعَدَمِ
Disini terjadi taqdim dan ta’khir dalam musnad. Bait-bait tersebut memang berdimensi filosofis, di mana ungkapan-ungkapan dan kata-kata yang tertulis adalah cerminan
tentang ‘keberadaan’ Muhammad Saw. Karena Syair ini bergaya Tasawuf maka memandangnya harus menggunakan perspektif tasawuf. Tapi karena tasawuf sudah keburu dibid’ahkan oleh ulama-ulama salafi ( ya semoga penjelasan ini diterima ).
Sebenarnya banyak sekali penyimpangan- penyimpangan yang terdapat dalam Burdah tersebut, namun sekedar contoh kita nukilkan sebagiannya saja. Hanya kepada Allah saja, kita bertawakkal:
Pertama, Mukadimah menggambarkan
kerinduan Syekh Bushiri kepada Rasulullah SAW.
Kedua, Berisi nasihat yang berbicara tentang buruknya hawa nafsu yang cenderung mengajak kepada
kejahatan dan perlunya kewaspadaan terhadapnya.
Ketiga, Berisi pujian penulis terhadap Nabi yang syafaatnya sangat diharapkan.
Keempat, Membicarakan situasi dan kondisi ketika nabi Muhammad SAW. dilahirkan.
Kelima, Berbicara tentang mukjizat Rasulullah SAW.
Keenam, Berbicara tentang alQuran sebagai mukjizat terbesar dan kekal.
Ketujuh, Berbicara tentang isra’ dan mi’raj nabi Muhammad SAW.
Kedelapan, Berbicara tentang perjuangan nabi Muhammad SAW yang terjun langsung ke medan
perang.
Dan pasal
terakhir berisi doa dan tawasul al-Bushiri kepada
nabi Muhammad SAW.
Apakah Sub judul-Judul ini menunjukkan penyimpangan ?. Kalau hanya menemukan satu dua dan tiga bait-bait yang menyimpang, lantas jangan MENGENERALISIR bahwa bait-bait Bushiri memuat banyak penyimpangan. .! ( FITNAH ! )…
Selain Kasidah Burdah, al-Bushiri juga menulis beberapa kasidah lain di antaranya a!-Qashidah al-Mudhariyah dan al-Qashldahal- Hamziyah. Sisi lain dari profil al-Bushiri ditandai oleh kehidupannya yang sufistik, tercermin dari kezuhudannya, teku nberibadah, tidak menyukai kemewahan dan kemegahan duniawi. Dan Syair-Syair yang dibuatnya adalah gambaran dari hidupnya.
Sekali lagi sebelum penutup….. Mengingat Burdah adalah syair Arab kuno yang terikat oleh pakem-pakem khusus dan ketat, MAKA mau tidak mau dalam proses
penggaliannya harus melalui tafsir dan penjelasan syair tersebut. Tidak
kalah penting, Sang penggali harus melakukan kontak batin dengan syair tersebut;
dengan mencurahkan segenap kemampuan, pengalaman, perasaan, dan
pemikiran. Bukan malah buru-buru menuduhnya Sesat..sementara dia sendiri tidak mengetahui bagaimana pribadi sang penyair….. .Wallahu A’lam
Penutup :
Demikianlah sekelumit contoh kesalahan pemahaman dalam menafsiri Qosidah Burdah, Memang penyimpangan- penyimpangan yang berkaitan dengan Aqidah terjadi di Qosidah Bushiri ( Burdah ), Terlebih lagi Qoshidah ini bergaya Tasawuf sehingga tidak heran jika para ulama-ulama saudi Hafizhohumullohum membid’ahkannya. …
Semoga saja hal itu cukup untuk mewakili bahwa bait-bait Qosidah Bushiri tidak sesesat yang mereka tuduhkan….
Akhirnya kami menghimbau kepada setiap muslim yang terikat dengan qasidah ini hendaknya memahami dengan baik nilai-nilai estetika dan pesan-pesan moral yang berdasar akhlak Rosulullah, tidak buru-buru menuduhnya sesat tanpa didasari ilmu yang kuat. Dan tidak meninggalkannya dan menyibukkan diri dengan kitab-kitab yang bertujuan membid’ahkan dan menyesatkan tanpa membaca sumber buku tersebut. Dan hendaknya diketahui bahwa hak Nabi Muhammad adalah dengan membenarkan seluruh ucapannya, mengikuti syari’atnya dan mencintainya tanpa kurang atau berlebih-lebihan.
Ya Allah! Saksikanlah bahwa kami sangat mencintai Nabi Mu dan membenci orang-orang yang tidak mencintai beliau !!. Ya Allah! Tetapkanlah hati kami di atas jalan Mu yang lurus sehingga bertemu denganMu.
Sumber :
- Hasyiyyah al-
Bajuri ‘Ala Matan al-Burdah oleh Syekh Ibrahim al-Badjuri
- Syarah
lathifan ‘Ala Burdah al-Madih oleh Syekh Khalid al-Azhar
- Al-Mada’ih
al-Nabawiyyah oleh Mahmud Ali Makky
- Tarikh Adab Mamlukii, Muqoror tingkat tiga fakultas bahasa arab al Azhar
- Mukhtaaroth Min Al Adab Al Mamluuki, Muqoror tingkat tiga fakultas bahasa arab
- Khosois Syair , muqoror Al Azhar
- Mauqiful Islam Min Al Fan, wal Ilm, Wal Falsafah, Abdul Halim Mahmud
Akhi Abu Fata, semoga Allah menerangkan jalan kebenaran baginya.
Terima kasih atas komentar anda dan maaf bila agak terlambat jawaban ini karena adanya kesibukan kami.
1. Tentang biografi al-Bushiri (bukan al-Bushiri ahli hadits yang wafat tahun 840 H). Sebenarnya tidak ada yang salah dari tulisan kami, hanya saja antum memberikan tambahan informasi lebih detaik tentang desa kelahirannya, sedangkan kami hanya negaranya saja. Ibarat kalau saya mengatakan si fulan lahir di Indonesia, lalu anda menambahkan data lebih lengkap tentang desa dan kecamatannya. Dan kami ucapkan terima kasih atas tambhan info ini, semoga bermanfaat.
Adapun tentang nisbat ke bushir ataukah ke abu shir, memang ada perbedaan, sebagian ulama menulis abu shir seperti dlm Fawatul Wafayat 3/362 (dan itulah yang kami nukil), dan sebagian bushir seperti dalam al-A’lam 6/139 (sprti anda nukil). Saya tidak tahu apakah ini salah cetak ataukah perselisihan. Namun bagaimanapun, perselisihan ini adalah ringan karena tidak menyangkut inti masalah. Sekalipun skarang saya lebih cenderung kepada pendapat anda bahwa yang benar adalah bushir. (Mohon kepada admin untuk meralatnya). Sekali lagi, kami ucapkan terima kasih atas masukan anda ini. Semoga Allah merahmati Imam Syafi’i tatkala mengatakan: “Tidaklah saya berdebat untuk mencari kemenangan”. (Tawali Ta’sis hlm. 113 oleh Ibnu Hajar)
2. Ucapan anda “bagaimana al-bushiri dikatakan miskin ilmu padahal dia bisa menyusun syair…ini adalah fitnah yang keji”.
Akhi, ketahuilah bahwa ilmu yang sebenarnya adalah ilmu agama yang sesuai dg al-Qur’an dan hadits shohih. (Lihat Fadhlu Ilmi Salaf ‘ala Ilmi Khalaf hlm. 26 Ibnu Rojab dan Fathul Bari 1/192 Ibnu Hajar) Bukan hanya sekedar pintar syair saja. Bukankah banyak orang pintar syair tapi rusak aqidah dan pemikirannya?! Inilah sebenarnya maksud kami bahwa sekalipun beliau pintar syair tapi dia menyimpang aqidahnya, terbukti dengan banyaknya kesalahan dan penyimpangan dlm syair-syairnya dr aqidah yang benar.
3. Ucapan anda “Apa kesesatan tarikat Syadziliyyah? Apakah anda tahu bahwa tarikat sydziliyyah tidak sholat dan tidak puasa”?!! Kemudian anda menceritakan sejarah dan tokoh-tokohnya.
Akhi, tarikat Syadziliyyah seperti halnya tarikat2 lainnya, Tijaniyyah, Qodiriyyah, Rifa’iyyah dll. (Lihat Dirosat fit Tasawwuf oleh Ihsan Ilahi Dhohir).
Katakan padaku: Dari manakah tarikat2 seperti, apakah ada ajarannya dari Nabi yang mulia?! Apakah Nabi dan para sahabat ikut tarikat Syadziliyyah?! Inti kekeliruan tarikat2 tsbt adalah tidak mengikuti Nabi dalam ibadah, tetapi hanya berdasarkan hawa nafsu semata. (Lihat Majmu Fatawa 3/24).seperti misalnya. salah satu ajaran tarikat Syadziliyyah adalah dzikir tentang mufrod “Huwa” “Allah” saja. Adakah hal ini diajarkan oleh Nabi dan para sahabatnya?
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Isim mufrad (kata benda tunggal) tidaklah termasuk kata yang memiliki arti menurut seluruh penduduk langit dan bumi. Oleh karena itu para ulama’ menganggap bid’ah apa yang dikerjakan para sufi yang berdzikir hanya dengan lafadz “Allah” karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ للهِ وَالله أَكْبَرُ
Sebaik-baik dzikir adalah La Ilaha illa Allah, sebaik-baik do’a adalah Al-Hamdulillah dan Allahu Akbar.”
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga telah mangajarkan para sahabatnya berdzikir tetapi dengan kalimat yang sempurna” (Majmu’ Fatawa 10/226).
Beliau juga berkata: “Dan dzikir dengan domir (kata ganti) “Huwa” atau dengan isim mufrad (kata tunggal) “Allah” lebih jauh dari As Sunnah dan lebih mendekati kebid’ahan dan kesesatan syetan. (Majmu’ Fatawa 10/227-233).
Adapun tokoh-tokoh yang anda sebutkan, hal itu sama sekali bukanlah ukuran kebenaran, karena standar kebanaran adalah Al-Qur’an, hadits dan para sahabat. Kalau seandainya hal itu sebagai ukuran, maka saya balik bertanya: Bukankah anda tahu bahwa banyak para ulama yang mengingkari tarikat? Lantas, apakah semua mereka berarti sesat?!
4. Kritikan anda terhadap inti makalah ini bahwa dalam memahami burdah harus mempelajari ilmu-ilmu bahasa arab dan melakukan kontak bathin…
Sudah sering saya jawab pembelaan seperti ini adalah bathil, karena kita hanya dituntut untuk menghukumi secara dhohir, adapun maksud bathinnya kita serahkan antara dirinya dengan Allah. Imam Syathibi berkata: “Sesungguhnya kita hanya menghukumi secara dhohir saja baik dalam hukum atau keyakinan orang lain. Nabi Muhammad yang mendapatkan wahyu, beliau menerapkan hukum dhohir pada orang-orang munafik”. (Al-Muwafaqot 2/271)
Sering kali juga kami nukilkan tentang masalah ini ucapan indah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: “Kaidah asal suatu ungkapan adalah secara hakekatnya. Hal ini telah disepakati oleh seluruh manusia dari berbagai bahasa, karena tujuan bahasa tidak sempurna kecuali dengan hal itu”. (Tanbih Rajulil Aqil 2/487).
Jadi pembelaan dari lafadz-lafadz yang jelas berisi penyimpangan dengan mengatakan bahwa maksudnya adalah begini dan beitu tidaklah diterima. Al-’Iraqi berkata: “Tidak diterima dari orang yang berani terang-terangan mengeluarkan kata-kata yang jelas keji lalu mengatakan: Maksud saya begini dan begini yang berbeda dengan dhohir ucapan”. (Dinukil dari Tsalatsu Rosail fi Difa’ anil Aqidah hlm. 167 oleh Ahmad as-Sulami).
Maka, harapan kami kepada anda untuk menanggapi inti penjelasan kami tentang penyimpangan isi burdah, bukan hanya dengan penjelasan2 global seperti ini.
Dan sekedar info, ada buku yang sangat bagus sekali yang mengupas masalah burdah dan penyimpangannya berjudul “Al-Qowadih Al-Aqodiyyah fi Qoshidah al-Bushiri al-Burdiyyah” oleh ahmad as-Sulami, cet Maktabah ar-Rusyd. Kalau sekiranya anda ingin mencari kebenaran dan ingin mengetahui isi buku ini, kami bersedia untuk menfoto copikan untuk anda.
Demikian tanggapan dari kami, kurang lebihnya kami mohon maaf. Barokallahu fikum.
Setelah melihat bbrp komentar dari mereka yg kontra memang sangat benar jika dikatakan, tiada bekal dari seorang ahli bidah kecuali kemarahan dan dusta. Marah ketika dinasehati dan berdusta ketika berdebat
@ Ustadz Yusuf – Jazakallahu khairan Barakallahu fikum
Ustadz uhibbukum fillah.
(afwan ustd kalo salah bahasa arabnya).
Doakan kebaikan bagi saya ustadz.
Berilmu sebelum berkata dan beramal.
Untuk Ust. Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi, semoga Allah selalu memberi kekuatan didalam mendakwahkan Al Qur’an dan As Sunnah sesuai pemahaman para salafush sholih.
Jazakumullah khoiron.
Assalamuaalaikum ustadz abu ubaidah,subhanALLAH maha suci ALLAH,mlht semua komen2 diatas, saya semakin yakin dan mantap dgn manhaj salaf,dalil dan hujjah yg ustadz sampaikan begitu jelas dan gamblang,seterang matahari menghujam jauh kelubuk hati, teruskan dakwahy ya ustadz! Dan saran ana,perbanyak terus artikel2 spt ini agar org2 penentang dakwah tauhid dberikan hidayah oleh ALLAH JALALAHU,
Alhamdulillah saya sudah dengar kisahnya yang di sampaikan oleh KH. Udzairon Pinpinan Pondok Pesantren Al-Fatah Temboro Magetan Jawa Timur
Andaikata Burdah ini dibacakan pada acara-acara semisal Maulid Nabi dan lainnya, yang tentu saja banyak dihadiri masyarakat awam yang tidak mengenal ilmu alat, bagaimana kita bisa menjelaskan makna dhohir tersebut ? Afwan, jazakallahu khair
perdebatan seperti ini menandakan mrk yang berdebat seperti pengangguran yang pemalas, sehingga mengkritik beberapa aliran, jadi pesan saya kepada para pembaca yang di Rahmati Allah, carilah kegiatan yang menguntungkan masyarakat muslim lainnya, misalnya :
Sudah kah kita membayar zakat harta kita yang kita peroleh dari Allah ? sebagai rasa syukur terhadap nikmat dan rezeki yang diberikan Allah kepada kita, kalau belum mari kita membangun komitmen tersebut, karena masih banyak saudara kita yang muslim dan tinggal diperumahan kumuh, dan terkadang dimanfaatkan oleh jaringan kristen untuk pindah ke agama mereka dengan imbalan tentunya.
al akh andri…
apa yang antum katakan memang hal penting, namun jangan karena hal itu merupakan hal yang penting lantas antum menyepelekan hal yg disampaikan dalam artikel di atas. bukankah kesyirikan merupakan pembatal amal. percuma sholat, zakat, puasa, haji dll tapi masih tercampur dengan kesyirikan. bukankah dengan mendatangi dukun saja bisa menghapus pahala sholat selama 40 hari.
intinya, sholat dan ibadah lain memangs angat penting, namun percuma saja sholat dan ibadah tersebut jika masih melakukan amal kesyirikan.
akeh kang apal qur’an haditse seneng ngafirke mareng liyane.
kafire dewe gak di gatekke yen isih kotor ati akale.
hidup GUSDUR………..! ALLAHU AKBAR.
Nabi Muhammad tidak pernah mengajarkan syair, karena itu tidak layak baginya..semoga bermanfaat
pengumpulan hadits itu bid’ah, karena Rasul melarangnya karena takut campur aduk dgn Al-Qur’an, tapi bid’ah itu bukan dasar hukum, tp yg mendasar hukum itu orang berlaku baik atau berlaku buruk, jadi pada dasarnya semua jg memiliki kelebihan, jd saling mengingatkanlah temen2, ga usah saling caci sesama saudara muslim……
selama Ramadhan 1432 H saya membacakan syarah al-burdah karya Syaikh Khalid al-Azhariy di hadapan para santri..
1. Nabi Muhammad SAAW sungguh seseorang yang zuhud dalam urusan dunia, Kebutuhan beliau dalam urusan ini sebenarnya bisa saja terpenuhi. Bagaimana tidak, mudah bagi beliau untuk mendapatkan kekayaan duniawi jika saja beliau menghendaki. Tapi beliau tidak demikian.. Kebutuhan duniawi tidak membuat beliau tertarik kepada dunia.. Bagaimana bisa beliau tertarik pada dunia, sedangkan beliau adalah makhluk yang paling mulia, dunia ini takkan tercipta kecuali memang beliau akan diciptakan. Ini adalah bentuk pujian, dan saya kira tidak sampai ghuluw, toh kita tidak meyakini bahwa Allah butuh kepada beliau demi menciptakan alam semesta. inilah bait وكيف تدعو ..
2. kita tidak sampai mempersamakan beliau dengan Tuhan sehingga mendakwa beliau sebagaimana apa yang dilakukan orang Nasrani kepada nabi mereka.. Kita memuji Nabi Muhammad, tapi kita tidak menganggap beliau sebagai Tuhan ataupun ankNya.. inilah batasan yang diberikan oleh al-Bushiri terkait pujian nabi. Antum boleh memuji beliau sesuka hati, tapi pahami betul-betul batasan ini.. Al-Bajuri menyatakan bahwa bait ini sejalan dengan sabda Nabi لا تطروني بما أطرت النصارى عيسى ابن مريم …. إلى أن قال وقولوا أنا عبد الله ورسوله ..inilah bait دع ما ادعنه النصارى …
3. Kita diciptakan dari turab, anggaplah itu sebagai bahan dasar.. bahan dasar Beliau tentu adalah semulia-mulianya turab,,, beruntung bagi yang mampu mencium jasad beliau, ingat ada sahabat yang meminta beliau untuk membuka baju beliau untuk membalas ketidaksengajaan beliau saat perang. Para sahabat geram karena disangka bahwa si sahabat ini akan mencambuk Nabi, ternyata, si sahabat tadi justru menciumi tubuh beliau… Allahumma sholli ‘ala Muhammad..
4. terjemahan bait أقسمت بالقمر juga perlu dikritisi, anda sebutkan “Aku bersumpah dengan bulan yang terbelah bahwa Ada sumpah yang terkabulkan pada dirinya” padahala al-bushiri ingin mempertegas (dengan sumpah) bahwa ada nisbah (kesamaan) antara dada beliau yang pernah dibelah dengan bulan yang juga pernah di belah.. sumpah yang digunakan adalah sumpah yang mabruurah, bisa diterima dalam pandangan al-bushiri..
5. Bait يا أكرم الخلق adalah dalam konteks syafaat,, hanya beliau yang diberi oleh Allah syafa’at al udhma, tiada yang lain..
ALLOOHU AKBAR!!
wah-wah sungguh serem debatnya, tapi-tapi-tapi, sudah jelas siapa yang bener dan sesiap yang salah, yaaaah yang penting hidup cuma sekali jangan sampe kekuar dari Al-Qur’an dab sunnah Rasulullah SAW.
terima kasih semua
waduh-waduh-waduuuuuh!
berat-berat-beeeerat klo Islam ini harus nurut Thoriqut-thoriqut SUFI, atau ikit JIL (jaringan Iblis Lalai) atu akut gerakan-geraka AHLUL AHWA’ abis rudak semua jadinya sendi-sendi Islam:
“RAWE-RAWE RANTAS” “BABLAS JEBLAS” musnahkan mereka dari buku Islam, supaya-supaya, supaya, supaya,….. Kalimat Alloh dan Sunnah-Sunnah Rasulullah saja yang tegak, amin
SUBHANALLOH-SUBHANALLOH-SUBHANALLOH-SUBHANALLOH.
benar-benar AHLUSSUNNAH itu adalah lawan AHLUL BID’AH.
tapi-tapi-tapi-tapi LUUUU harus tahu-setahu-tahunya, Nabi SAW sudah sumpah mati bahwa AHLUL BID’AH itu bakalah jadi pasukan neraka…..
kenapa kalian baaaaaanggggaa….
INNALILLAH… sungguh malang orang-orang yang tidak punya cinta kepada wali-wali Allah, sungguh malang mereka yang dengan mudah membid`ahkan sesuatu, sungguh malang mereka yang tidak mengikuti jalan para wali-wali Allah… siapa kita??? siapa kita??
saya sangat setuju dengan ABU FATA memahami sesuatu ga bisa hanya dengan dhahirnya tidak seperti kang yusuf ingat ALquran itu mukjizat untuk mendalami alquran tidak hanya dengan membaca terjemahnya saja tap alquran mempunyai hikmah seandainya mengulasnya tinta seluas lautan tak akan cukup CAMKANLAH alquran juga mengandung sastra tingkat tinggi sehingga segala ilmu bersumber daripadanya
ada 2 bid’ah ada bid’ah yang baik dan ada bid’ah yang jelek/ buruk. JANGAN SEKALI2 GAMPANG MEMBUAT PERATURAN ATAU HUKUM. islam menjunjung tinggi musyawarah. Kata kyai ku “sek ngaji dlohir ae senengae gonta ganti hukum, hukum tek gusti allah” (“masih belajar dohir sukanya merubah hukum, hukum itu milik Allah”). Mengaji banyak hal di antaranya dohir. yaitu belajar kitab2 pendahulu, hadist, Al- Qur’an dll. la mengaji dalam hal batin cari saja sendiri…..
Assalammu’alaikum Wa Rahmatullah Wa Barakatuh
Saudaraku seiman, Allah berfirman :
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (Adz-Dzaariyaat:56)
Ini merupakan kalimat yang tegas dan jelas yang mengisyaratkan :
1. Allah Pencipta merupakan Tauhid Rubbubiyah
2. Hanya Allah yang memiliki hak untuk diibadahi secara langsung tanpa perantara merupakan Tauhid Uluhiyah.
Apakah hamba diberikan kebebasan untuk beribadah kepada-Nya dengan cara, waktu, kadar, jenis yang diinginkan setiap hamba, jawabnya tidak!!!.
Syariat ini Allah turunkan tidak samar, semua serba jelas agar hamba tidak rancu dalam beribadah. Untuk itu diturunkan 2 petunjuk, Al-Qur’an dan Rasul dari golongan manusia seperti kita untuk diikuti.
Sekarang timbul pertanyaan, apakah 2 petunjuk ini masih kurang lengkap ?. Atau Sunah/Amalan Nabi masih kurang memuaskan hati kita, sehingga masih diinginkan amalan-amalan lain tapi tidak dicontohkan Nabi, seperti Qasidah Burdah yang jelas-jelas mengandung kalimat-kalimat syirik ?.
Jika demikian, maka sama halnya dengan meninggalkan makanan lezat yang telah terhidang, kemudian mencari nasi rawon basi dari tempat sampah!!.
Wassalam