Studi Kritis Burdah Al-Bushiri
oleh:

Pengantar
Bagi sebagian kalangan warga Indonesia, “Burdah Al-Bushiri” bukanlah hal yang asing, lantaran buku itu kerap dibaca dalam acara-acara tertentu secara bersama dan bergilir dari rumah ke rumah pada setiap bulan, minggu, bahkan oleh sebagian orang dibaca setiap hari di rumahnya bersifat individual.
Di kampung Arab Bondowoso diceritakan, bahwa acara pembacaan Burdah bersama tersebut merupakan warisan turun-temurun dari masyarakat kampung Arab, dan telah mengalami regenerasi yang cukup panjang yaitu sebelum tahun 1970-an, artinya sudah berlangsung kurang lebih selama 34 tahun. (Majalah Cahaya Nabawi No. 33 Th. III Sya’ban 1426 H hal. 56)
Memang, “Burdah Al-Bushiri” ini sangat populer sekali, dibaca dan dikaji di rumah dan masjid seperti halnya Al-Qur’an, kalam ilahi. Lebih dari itu, banyak sekali buku yang mensyarahnya (menjelaskan makna kandungannya), sehingga terhitung lebih dari lima puluh jumlahnya, bahkan sebagiannya ada yang ditulis dengan tinta emas!!
Siapakah Al-Bushiri?
Dia bernama Muhammad bin Sa’id bin Hammad bin Muhsin bin Abdillah ash-Shanhaji al-Bushiri, nisbah kepada kotanya Abu Shir di Mesir, tetapi asalnya dari Maghrib. Dia lahir pada tahun 608 H, dia termasuk ahli di bidang syair tetapi sayangnya dia sangat miskin ilmu, buktinya dia menasabkan diri dan menjadi pembela salah satu tarikat Sufi yang sesat, yaitu tarikat Syadziliyah[1]. Dia wafat pada tahun 695 H. (Lihat Fawat Al-Wafayat 3/362 al-Kutbi, Al-A’lam 6/139 az-Zirakli, Mu’jam Muallifin 10/26 Kahhalah, Syadzarat Dzahab 5/432)
Judul Bukunya
Secara harfiyah “Burdah” memang bermakna selendang. Al-Bushiri membubuhkan judul antologinya dengan nama tersebut bukan berarti tanpa alasan. Sebab, alkisah di zaman nabi dulu ada seorang tokoh yang bernama Ka’ab bin Zuhair. Semula dia adalah seorang penyair non muslim yang tergolong paling radikal menentang dakwah Rasulullah, kemudian dia masuk Islam, lantas menggubah sajak buat Nabi yang isinya kala itu tergolong estetik. Intro puisi itu:
Kudengar kabar
Rasulullah berjanji padaku
Dan ampunan itu
Sungguh jadi tumpuan harapanku.
Untuk itu konon Nabi memberikan selendang beliau kepadanya.
Berdasar mirip dengan cerita di muka, Al-Bushiri mengaku bahwa dirinya juga bermimpi bahwa Nabi memberinya selendang tatkala dia melantunkan gubahan sajak-sajaknya!! (Dikutip dari buku “Burdah, Madah Rasul Dan Pesan Moral” yang dipuitisikan oleh Muhammad Baharun, Majalah Cahaya Nabawi hal. 55)
- Pengingkaran Para Ulama
Para ulama telah bangkit menunaikan tugas mereka dalam menyingkap penyimpangan yang ada dalam Burdah Bushiri, termasuk diantara mereka yang menjelaskan penyimpangannya adalah:
- Asy-Syaukani dalam Ad-Durr An-Nadzid hal. 26,
- Abdur Rahman bin Hasan dalam Rasail wa Masail Najdiyyah 2/33,
- Sulaiman bin Abdillah dalam Taisir Aziz hamid hal. 221-223,
- Abdullah Abu Buthain dalam Naqd Burdah dan Ta’sis Taqdis,
- Mahmud Syukri al-Alusi dalam Ghoyatul Amani 2/350, al-Ustadz Abdul Badi’ Saqr dalam kitab Naqd Burdah,
- dan masih banyak lagi lainnya.
- Beberapa Contoh Penyimpangan
Sebenarnya banyak sekali penyimpangan-penyimpangan yang terdapat dalam Burdah tersebut, namun sekedar contoh kita nukilkan sebagiannya saja. Hanya kepada Allah saja, kita bertawakkal:
1. Al-Bushiri mengatakan:
وَكَيْفَ تَدْعُوْ إِلَى الدُّنْيَا ضَرُوْرَة مَنْ لَوْلاَهُ لَمْ تُخْرَجِ الدُّنْيَا مِنَ الْعَدَمِ
Bagaimana engkau menyeru kepada dunia
Padahal kalau bukan karenanya (Nabi) dia tiada tercipta
Tidak ragu lagi bahwa bait ini mengandung ghuluw (berlebih-lebihan) kepada Nabi, dimana al-Bushiri menganggap bahwa dunia ini tidaklah diciptakan kecuali karena Nabi, padahal Allah berfirman:
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Mungkin saja ucapan di atas bersandar pada hadits palsu:
لَوْلاَكَ لَمَا خَلَقْتُ الأَفْلاَكَ
Seandainya bukan karenamu, Aku tidak akan menciptakan makhluk.
(Lihat Silsilah Adh-Dha’ifah al-Albani no. 282)
2. Al-Bushiri berkata:
دَعْ مَا ادَّعَتْهُ النَّصَارَى فِيْ نَبِيِّهِمْ وَ احْكُمْ بِمَا شِئْتَ فِيْهِ وَاحْتَكِمْ
Tinggalkanlah ucapan kaum Nashara terhadap nabi mereka
Adapun terhadapnya (Nabi Muhammad), ucaplah sesuka anda
Dalam bait ini, dia menganggap bahwa yang terlarang adalah kalau umat Islam mengatakan seperti ucapan orang-orang Nashara terhadap Nabi Isa bahwa beliau adalah Tuhan, anak tuhan dan salah satu tuhan dari yang tiga. Adapun selain itu maka hukumnya boleh-boleh saja.
Ucapan ini jelas sekali kebatilannya, sebab ghuluw itu sangat beraneka macam bentuknya dan kesyirikan itu ibarat laut tak bertepi, artinya dia tidak terbatas hanya pada ucapan kaum nashara saja, sebab umat-umat jahiliyyah dahulu yang berbuat syirik, tidak ada seorangpun diantara mereka yang berucap seperti ucapan Nashara. Jadi ucapan di atas merupakan pintu kesyirikan, sebab menurutnya ghuluw itu hanya terbatas pada ucapan kaum nashara saja.
4. Al-Bushiri berkata:
لاَطِيْبَ يَعْدِلُ تُرْبًا ضَمَّ أَعْظُمَهُ طُوْبَى لِمُنْتَشِقٍ مِنْهُ وَمُلْتَثِمِ
Tiada kebaikan yang melebihi tanah yang menimbun tulangnya
Kebahagiaan (surga) bagi orang yang dapat menciumnya
Dalam bait ini, al-Bushiri menyatakan bahwa tanah yang menimbun tulang-tulang Nabi adalah tempat yang paling utama dan mulia. Tidak hanya itu, tetapi bagi mereka yang menciumnya maka balasannya adalah surga dan kedudukan mulia. Tidak ragu lagi bahwa semua ini adalah termasuk ghuluw yang menjurus ke pintu kebid’ahan dan kesyirikan.
Syaikhul Islam berkata:
“Para imam telah bersepakat bahwa tidak boleh mengusap-ngusap kuburan nabi ataupun menciumnya, semua ini untuk menjaga kemurnian tauhid”. (Ar-Radd Ala Akhna’I hal. 41)
5. Al-Bushiri berkata:
أَقْسَمْتُ بِالْقَمَرِ الْمُنْشَقِّ إِنَّ لَهُ مِنْ قَلْبِهِ نِسْبَةً مَبْرُوْرَةَ الْقَسَمِ
Aku bersumpah dengan bulan yang terbelah bahwa
Ada sumpah yang terkabulkan pada dirinya
Dalam bait inipun terdapat penyimpangan yang amat nyata, sebab bersumpah dengan selain Allah termasuk bentuk kesyirikan.
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَِ
Dari Umar bin Khaththab bahwasanya Rasulullah bersabda: “Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah maka dia telah kufur atau berbuat syirik”. (HR. Ahmad 4509 dan Tirmidzi 1534)
Ibnu Abdil Barr berkata:
“Tidak boleh bersumpah dengan selain Allah untuk apapun dan bagaimanapun keadaannya, hal ini merupakan kesepakatan ulama”. Katanya juga: “Para ulama telah bersepakat bahwa bersumpah dengan selain Allah adalah terlarang, tidak boleh bersumpah dengan apapun dan siapapun”. (At-Tamhid 14/366-367)
6. Al-Bushiri berkata:
يَا أَكْرَمَ الرُّسُلِ مَا لِيْ مَنْ أَلُوْذُ بِهِ سِوَاكَ عِنْدَ حُلُوْلِ الْحَادِثِ الْعَمِمِ
Aku tidak memiliki pelindung Wahai rasul termulia
Selain dirimu di kala datangnya petaka
Perhatikanlah wahai saudaraku bagaimana bait ini mengandung unsur kesyirikan:
a. Dia meniadakan pelindung di saat datangnya petaka selain Nabi, padahal hal itu hanya khusus bagi Allah semata, tiada pelindung kecuali hanya Dia saja.
b. Dia berdoa dan memohon permohonan ini dengan penuh rendah diri, padahal hal itu tidak boleh diperuntukkan kecuali hanya kepada Allah saja. (Taisir Aziz Al-Hamid hal. 219-220)
Al-Allamah asy-Syaukani berkomentar tentang bait ini:
“Perhatikanlah bagaimana dia meniadakan semua pelindung kecuali hamba dan rasul Allah, Muhammad saja, dia lalai terhadap Rabbnya dan Rabb rasulnya. Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un”. (Ad-Durr An-Nadhid hal. 26)
7. Al-Bushiri berkata:
فَإِنَّ مِنْ جُوْدِكَ الدُّنْيَا وَضَرَّتَهَا وَمِنْ عُلُوْمِكَ عِلْمُ اللَّوْحِ وَالْقَلَمِ
Dan termasuk ilmumu adalah ilmu lauh (mahfudh) dan pena.
Diantara pemberianmu adalah dunia dan akheratnya
Dalam bait ini, dia menjadikan dunia dan akherat termasuk pemberian dan milik Nabi Muhammad, padahal Allah berfirman:
Dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akherat dan dunia. (QS. Al-Lail: 13)
Adapun ucapannya “Dan termasuk ilmumu adalah ilmu lauh (mahfudh) dan pena”. Maka ini adalah ucapan yang sangat batil sekali, karena hal itu berarti bahwa Nabi mengetahui ilmu ghaib, padahal Allah berfirman:
Katakanlah: Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghaib kecuali Allah. (QS. An-Naml: 65)
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. (QS. Al-An’am: 59)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat lainnya.
PENUTUP
Demikianlah sekelumit contoh penyimpangan yang terdapat dalam “Burdah” dan komentar seperlunya. Semoga saja hal itu cukup untuk mewakili penyimpangan-penyimpangan lainnya.
Akhirnya kami menghimbau kepada setiap muslim yang terikat dengan qasidah ini hendaknya dia meninggalkannya dan menyibukkan diri dengan kitab-kitab lainnya yang bermanfaat. Dan hendaknya diketahui bahwa hak Nabi Muhammad adalah dengan membenarkan seluruh ucapannya, mengikuti syari’atnya dan mencintainya tanpa kurang atau berlebih-lebihan.
Ya Allah! Saksikanlah bahwa kami sangat mencintai NabiMu dan membenci orang-orang yang tidak mencintai beliau!!. Ya Allah! Tetapkanlah hati kami di atas jalanMu yang lurus sehingga bertemu denganMu.
(Disadur dari Qawaidih Aqdiyyah fi Burdah Bushiri oleh Dr. Abdul Aziz bin Muhammad dan Muqaddimah Dr. Ali bin Muhammad al-Ajlan terhadap kitab Ar-Radd Ala Burdah karya Abdullah Abu Buthain).
[1] Syadziliyyah: Salah satu tarikat Sufi sesat yang populer di sebrbagai negara Islam, dan telah terpecah menjadi beberap keping. Disebut Syadziliyyah karena nisbah kepada pencetusnya Abul Hasan Ali bin Abdillah asy-Syadzili al-Maghribi yang lahir tahun 591 H di kota Aghmat (Maghrib), tumbuh di Syadzilah, sebuah kota dekat Tunis, kepadanyalah dia dinisbatkan, kemudian setelah itu dia pindah ke Mesir dan mempunyai beberapa pengikut di sana. Wafat tahun 656 H. (Lihat Al-Asrar Al-Aliyyah fi Saadah Syadziliyyah hal. 100-141 oleh Ahmad Syarif asy-Syadzili, Al-Al’lam 4/305 az-Zirakli, Mu’jam Muallifin 7/137 Kahhalah).
Related posts:
- Benang Tipis: Antara Kemudahan Islam dan Bermudah-Mudahan dalam Mengamalkan Syariat Islam
- Muhammad bin Abdul Wahhab: Fitnah Nejed?
104 Responses to “Kesyirikan dalam Burdah Al-Bushiri”

saya gak tahu, atas dasar apa salay\fiyah menyirikan burdah busyairi? apa benar pemaham mereka sesuai dengan apa yang diinginkan imam busyairi? akan berapa kitab lagi dan berapa orang lagi yang akan antum antum syirikan? dari semua apa yang antum2 salahkan, syirikan baik secara golongan, kitab dan kelompok, kalu tidak syi’ah ikhwanul muslimin, kalu tidak keduanya itu lari ke syufi, atau tasawuf, seakan di dunia ini yang benar hnaya salafi wahabi saja, apa gak sadar sekian puluh buku beredar di pasaran yang membantah karia2nya ibnu taimiah, muhammad n\bin abdul wahab, al banny, ibnu bin baz dll, seakan antum2 itu maksum, yang masuk sorga hnaya antum antum slafy wahabi saja,
@ akh hendriawan….Apakah masih tidak jelas dalil2 dari Al Qur’an dan As Sunnah sebagaimana yg ustadz sampaikan?kita bicara ilmiah akhi,krn yg kita cari adalah kebenaran,bukan pembenaran.Pun yg kita bicarakan adalah tulisannya dan pemikirannya berdasarkan bukti yang ada bukan hanya qila wa qola,dan bukan judge ke orangnya.Kalo kita bisa berpikir jernih,coba kita pelajari dgn seksama,kita bandingkan mana yg lebih ilmiah dan mendekati kebenaran.Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah taufik kepada kita.amin.
I love Quran
I Love Hadist
I love Ratib
I love Maulid
I Love Barzanji
I love Burdah
sandarannya “si ahli hadist jaman kini” Al Bani, dia hafal ga hadist sebanyak 300.000 hadist beserta sanad dan matannya?
ABU UBAIDAH YUSUF AS-SIDAWI adlah orang yg tidak paham syair,tdk paham puisi,dan byk salah paham akan isi burdah karena tdk menguasai ilmu syair. Abu Ubaidah cuma melihat kulit luarnya tapi tidak memahami isi dari burdah itu sendiri,kpd abu ubaidah sebelum mengkoreksi karya org lain kuasai dulu ilmunya agar anda tidak kelihatan bodohnya
ABU UBAIDAH YUSUF AS-SIDAWI tuh siapa sih? aseli nanya nih
Allohumma inni a’udzu bika an usyrika bika syaian a’lamuhu
wa astaghfiruka lima la a’lamuhu
Syukron ustadz untuk artikelnya. Zadaniyallohu wa iyyaka ‘ilman nafi’a
Semoga Alloh condongkan hati saya, hati ustadz, hati-hati para pembaca dan seluruh kaum muslimin kepada kebenaran. Amin
#adi sufi
Memangnya mau dipahami gimana lagi akhi? bukankah dari lafaz syairnya sudah sangat jelas? apa mau di takwil-takwil dengan pemahaman yang lain? kalau seperti itu akan rusaklah pemahaman orang-orang awam..
maaf ya, jelas ekali anda memang penentang sufi, dengan tegas mengatakan syirik, dan lain2, apa anda sudah tela’ah juga kitab2 ibnu tayimiah yang tidak sedikit mengandung mempersamaakan allah dengan manusia? ibnu batutah dengan jelas menceritakan, bagaimana ibnu taimiyah dalam pidatonya mengumpamakn Allah turun ke dunia seperti dia turun dari tangga mimbar dan kemudian naik? dan bagaimana ibnu bin baz yang mengatakn kursi dalam qur’an adalah tempat kedua kakinya ALlah, na’uzubillahimin zalaik, kenapa see anda sibuk dengan menyalah2kan orang? baca tuch syarah burdah punya imam bajuri, dan makna idak aku ciptakan dunia kalu bukan karenamu, anda jangan sok pintar, salafusleh tidak pernah melakukan dan mengatakn apa yang anda kattakan, anda bukan salafi, tapi sebalenya,kalu anda liris hatinya dan merasa dihina ketika org2 mencela imam2 salafi semisal al bany, ibnu bin baz dan ustaimin, apa anda tidak berpikir kalu ulama2 yang lain anda hina dan sampai mengatakn syirik, apa orang lain juga ngak akan merasakan apa yang anda rasakan? ibnu baz yang nada bilang alim dan zuhud, telah membagi tauhid menjadi 3, uluhiyah, rububiyah, dan asma wa sifat, da dengan tegas mengatakn dalam kitab aqida bahwa kafir quraisy punya tauhid rububiyah, tapi tidak mempunyai tahuid uluhiyah, dan mengatakn mereka yang berziarah qubur, tauhidnya lebih jelek dari kaum kafir quraisy, apakah ini pernah dikatakn ulama2 slaf? kalu memenag mereka kafir quraisy mempercayai tahuid rububiyah, maka mereka akan masuk surga, karena mereka bisa mejawab pertanyaan ketika di tanya siapakah rabmu?, saya ikut sadzili, saya syafi’i, saya ahli sunnah wal jama’ah imam abu hasan as’ari dan abu mansur al maturidi, tentang al baniy, coba ceritakan saya hayat beliau, dimana beliau belajarm hadist dan siapa saja syaikh2nya? berapa se dia hafal hadist sesuai dengan snatnya, kemudian dia dngan seenaknya menyalah2kan dan mendo’ifkan hadis sahih bukhari dan muslim?
kalau memenag burdah itu mengandung syirik, tidak mungkin akan tetap ada sampai dizaman kita, penulisnya ikhlas menulis hanya mengharapkan ridha allah, tidak untuk uang, mencari penngikut, dan memecah belah umat dengan membid’ahkan dan mengkafirkan satu sama lain, sudah banyak ulama2 dahulu yang juga menyarah burdah, sampai2 ada di indo, lalu datanglah kalian ulama2 najad, dengan enak menyalah2kan banyak kitab dan golongan, seakan yang msuk surga hanya kelompok salafy saja,
jazakumullahu khoiroljaza, q sekarang menjadi tahu mana yang salah dan mana yang benar, tolong buat yang masih sering membaca ” burdah “, tolong untuk ditinggalkan.
@adi sufi: antum sendiri menguasai atau tdk ilmu syi’ir arob? kalo “tidak” berarti antum yang harus belajar, kalo “iya” berarti hal itu sudah cukup membuktikkan kerusakkan burdah bushiri karena si penulis sendiri (al bushiri) tidak mampu memberikan takwil pada apa yang ia tulis sehingga para pembacanya jatuh dalam kesyirikkan dan ghuluw dalm agama.
@abu salapi: beliau seorang mulazim di sebuah halaqoh tholabul ‘ilm di saudi, seorang dai yang membela hadits2 Nabi yang mulia Sholallohu ‘Alaihi wasalam dalam dakwahnya di tanah air.
@cupi: kalo tidak hapal kenapa?! memangnya mana yang lebih utama:?
hafal 300rb hadits tapi tdk bisa membedakan satupun mana yang shohih dan yang palsu sehingga seradak seruduk dalam beragama
ATAU
hapal 100 hadits saja tapi mampu membedakan dengan amanah ilmiah 1.000.000(satu juta) hadits shohih dan palsu?
yang hatinya bersih, fitrohnya terjaga, agamanya lurus, akalnya jernih, ilmunya manfaat pasti tahu jawabannya insya Alloh…
Kepada Ustadz…semoga Allah Subhana wa ta’ala memberikan kemudahan dalam berdakwah.. ….
Semoga Allah selalu memberikan kemudahan dan kekuatan buat Ustadz untuk selalu berdakwah….amien
Semoga Allah ta’ala memberi kekuatan dan kemudahan dalam menyampaikan kebenaran dan berdakwah…
Untuk saudaraku Hendriawan, semoga Allah meluruskan langkahnya menuju jalan yang lurus.
Yang saya tahu sebagian orang sudah menganggap burdah itu lebih utama daripada Qur’an. Buktinya, orang-orang itu lebih bersemangat belajar burdah daripada belajar Qur’an, dan burdahan di tempat saya diyakini mendatangkan berkah apabila rutin dibaca, berupa berkah rizki, kesehatan, keselamatan, kebahagian atau bahkan enteng jodoh.
as-sidawi itu kaum apa yach? dari mana itu? dari arab bukan?
kalau dari arab saya percaya dah…
iya, saya dah baca itu buku-buku yang ustadz Sidawi jelaskan.. kalo gak salah pengarangnya abu ubaidah ya… lupa-lupa inget.
Ustadz sidawi juga harus baca buku Abdullah Al-Harory, seorang mufti mekkah. atau “ulama’ul muslimin wal wahhabiyyun” husain hilmi ibnu said… banyak fatwa ulama pada aqidah yang anda anut itu. termasuk fatwa ibnu hajr al-arsqolani. ibnu taimiyahpun tidak menfatwakan syirik atau kafir bagi ulama-ulama sebelum dia. karena menurut kitab diatas, ibnu taimiyah yang pertama sekali orang yang membid’ahkan tawassul. tetapi tidak radikal seperti anda sidawi. tidak juga radikal seperti bin baz dan utsaimin. baca kitab boigrafi ibnu taimiyah karya muhaddits muhammad abu zahroh…… atau mungkin wilayah baca anda yang kurang, atau hanya memilah milh kitab yang mendukung teory anda…
Keilmiahan apa yang anda tunjukkan?kalau bait-bait burdah anda sandingkan dengan ayat-ayat qur’an yang anda sebutkan, tentunya berkesan ta’arudh (saling berlawanan). Ustadz Abu silahkan cermati dari sisi sastra Arab, karena Al-Bushiri mengarang karyanya itu bukan untuk menandingi Alqur’an, apalagi mempertentangkannya.
Cobalah anda untuk tidak mengkritisi secara ekstrem, lalu mengkafirkan saudara seiman seagama. “Man kaffara musliman faqad kafar”. na’udzu billah..
akhiy, ustadz Abu Ubaidah..dalam agama kita, ada yang ushuliy dan ada pula yang furu’iy, ana rasa antum tau mana saja batasannya..
ketika kebencian dan penghinaan Ka’ab bin Zuhair menyeruak, justru Rasulullah SAW membukakan kedua belah tangannya kepadanya, sehingga ia menerima ajakan dakwah Nabi..kami berharap, semoga Imam Al-Bushiri akan membukakan kedua belah tangannya bagi antum kelak..
akhiy, bagaimanakah ingin anda katakan, jika banyak ulama yang dikenal kealimannya di dunia Islam menerima karya Al-Bushiri?
akhiy, Al-Bushiry tidak ada maksud apa-apa, kecuali kecintaan seorang pecinta..seperti Imam Syafi’i yang rela menyebut dirinya Rafidhi karena cinta Nabi SAW, atau Imam Abu Hanifah yang menyebut dirinya Nashibi karena kecintaan kepada sahabat Nabi, atau Imam Maliki yang rela berjalan kaki di bumi Madinah..
apakah mereka, alayhim shabibur rahmah war ridhwan, ghulat?
Al-Bushiri hanya mengatakan di ujung penanya..famablaghul ‘ilmi fihi annahu basyar wa annahu khaira khalqillahi kullihimi..semoga Allah menunjukkan kebaikan dan kebenaran buat kita semua..
Padahal telah jelas dan gamblang pemisah antara tauhid dan syirik, sunnah dan bid’ah. akantetapi kebnyakan merka menuruti hawa nafsunya dan taqlid pada ustad, syaihknya ketimbang apa yang disabdakan dari Rosululloh shalallohu’alaihiwasalam
Ya Ustad Abu Ubaidah smoga Alloh Subhanahuwata’ala merahamatimu,,..
Akhi Ahmad Khoiruddin, semoga Allah menunjuki anda untuk menerima kebenaran.
Sekian dulu dari saya. Saya tetap berdoa agar antum mendapatkan hidayah.
Was Salam.
Akhi al-ustadz Ahmad, semoga Allah melapangkan hati anda untuk menerima kebenaran.
1. Ada kaidah yang disepakati oleh ulama ahli bahasa “asal semua ungkapan adalah dibawa kepada makna hakikatnya“. karena suatu ucapan tidak bisa dipahami kecuali dengan hal itu.
(Tanbih Rojulil Aqil karya Ibnu Taimiyyah).
Jadi, kita mengkritisi dhohir ucapan saja, adapun batinnya dan niat baik pelakunya, itu urusan dia dengan Allah. Jadi ini untuk bukan sikap ekstrim lho!!.
2. “Sehingga mengkafirkan saudara seiman”. Maaf, dari segi mana anda memahami bahwa saya mengakfirkan seseorang? Kita sedang mengkritisi ucapan, bukan menghukum orang. karena vonis orang itu butuh syarat-syarat yang ekstra ketat, tidak serampangan “tidak setiap orang yang mengatakan/melakukan kekufruan berarti dia kafir”.
3. “Niat karena cinta Nabi”. Sekali lagi, masalah niat itu urusan dengan Allah. Kita hanya menghukumi secara dhohir. Kemudian sebagaimana kata sahabat Ibnu Mas’ud “Betapa banyak orang meniatkan kebaikan tapi tidak mendapatkannya!!”. Sekedar niat yang baik tidaklah cukup, harus dengan ditambah “sesuai dengan sunnah rasulullah”. Bukankah banyak orang yang menyimpang dan maksiat tapi niat mereka baik??!!
Wallahu A’lam.
Semoga Allah Ta’ala selalu menjaga anda ya ustadz Abu Ubaidah untuk membela Sunnah.
Sekiranya tulisan ilmiah seperti ini akan terus mendapatkan tuduhan buruk dan pembalikan makna dari tujuan tulisan itu sendiri bagi orang-orang yang merasa ilmunya melebihi para Ulama (namun tdk menguasai ilmu itu).
Tulisan ini bermanfaat sekali utk ana dan mudah-mudahan utk semua yang haus akan kebenaran bukan pembenaran.
Semoga semakin banyak orang yang tersadarkan atas keutamaan untuk melihat “KEBENARAN” yang disampaikan oleh seseorang, BUKAN melihat “Seseorang” yang menyampaikan kebenaran. Sehingga jika orang itu melihat atas si “A”, si “B” bisa jatuh pada “ikut-ikutan” semata atas nama besar orang itu sehingga mengesampingkan DALIL ILMIAH (Al Qur’an dan Hadits serta Pemahaman Salafush Shalih).
Jazakallahu khairan katsir.
أحسنك الله يا أبا عبيدة و نفعك … وبارك الله فيك … و للمسلمين جميعا
Bismillah,
Semoga Allah Ta’ala selalu menjaga anda ya ustadz Abu Ubaidah untuk membela Sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya: Dari Hudzaifah Ibnul Yaman rodhiallohu ta’ala ‘anhu berkata: Manusia bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir jangan-jangan menimpaku. Maka aku bertanya; Wahai Rasulullah, sebelumnya kita berada di zaman Jahiliah dan keburukan, kemudian Alloh mendatangkan kebaikan ini. Apakah setelah ini ada keburukan? Beliau bersabda: ‘Ada’. Aku bertanya: Apakah setelah keburukan itu akan datang kebaikan? Beliau bersabda: “Ya, akan tetapi di dalamnya ada dakhanun”. Aku bertanya: Apakah dakhanun itu? Beliau menjawab: “Suatu kaum yang mensunnahkan selain sunnahku dan memberi petunjuk dengan selain petunjukku. Jika engkau menemui mereka maka ingkarilah”. Aku bertanya: Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan? Beliau bersabda: “Ya”, dai – dai yang mengajak ke pintu Jahanam. Barang siapa yang mengijabahinya, maka akan dilemparkan ke dalamnya. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, berikan ciri-ciri mereka kepadaku. Beliau bersabda: “Mereka mempunyai kulit seperti kita dan berbahasa dengan bahasa kita”. Aku bertanya: Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya? Beliau bersabda: “Berpegang teguhlah pada Jama’ah Muslimin dan imamnya”. Aku bertanya: “Bagaimana jika tidak ada jama’ah maupun imamnya?” Beliau bersabda: “Hindarilah semua firqah itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu”. (Riwayat Bukhari VI615-616, XIII/35. Muslim XII/135-238 Baghawi dalam Syarh Sunnah XV/14. Ibnu Majah no. 3979, 3981. Hakim IV/432. Abu Dawud no. 4244-4247.Baghawi XV/8-10. Ahmad V/386-387 dan hal. 403-404, 406 dan hal. 391-399)
Jazakallahu khairan katsir.
#hendriawan
stiap org boleh saja mrasa pling benar asalkan brdasarkan ilmu. ilmu yg mana d katakan imam As syafi’i: ilmu adalah Al qur’an n Sunnah. akhi apa timbangan kbenaran? Al Qur’an n hadits? antum katakn; klo burdah mngandung ksyirikan tidak mungkin ada sampai zaman kita. waduh pye iki msalah agama ko d hukumi pke akal n prasaan,
perdukunan, jimat2, tumbal/sesaji, tawasul yg isiny brdoa mlalui prantara malaikat,nabi n org sholeh, kan smpai k zaman qta apkh itu bkn syirik?
n anda ktakan: klo org kafir quraisy prcya tauhid rububiyah maka mreka akn masuk surga krna bisa mnjwab ktika d tanya siapa Rabbmu? gampang bgt yach mas msk surga hny dgn percy tauhid rububiyah? bknkah kafir quraisy ktika d larang menyembah brhala mrka mnjwb tidaklah kami mnyembh brhala mlainkn untuk mndekatkan diri kpada Allah.
Niat yg baik blm tntu baik bila amalanny tdk sesuai Sunnah. ‘tetapi kbnyakan d antara kamu benci pada kebenaran itu’ zukhruf:78
Tersingkaplah mana kebenaran dan mana kebathilan. Jazakallohu khoir ya ustad Abu Ubaidah. Semoga Alloh menetapkan hati kita dalam beragama diatas hujjah yang shohihah, memahami Al-qur’an dan sunnah berdasarkan pemahaman para sahabat nabi rodhiallohu’anhum. Dan menjauhkan hati kita dari pemahaman berdasarkan akal, hawa nafsu dan taqlid buta.
Orang indonesia ni … memang takda keja lain… asyik debat benda furuq atau yang mendalam maknanya seperti tasawuf…
Allah tak akan sesatkan org yang menyintai Nabi SAW..
Sudahlah org indon… kami di malaysia hormati ulama2 dari indon.. tp kalau mcm ni gaya.. hancur la…
biarlah burdah tu.. kalau ust tak mau tgl, sapa nak amal teruskan.. kalau burdah tu betul, sapa yang amal dapat pahala sapa yang tak amal rugi… tp kalau burdah tu salah, Allah maha mengampuni hambanya yang menyintai kekasihNya :
Nabi Muhammad SAW Imamul Mursalieen…
@ Orng Malaysia :
Barangsiapa melakukan amal perbuatan yang bukan atas perintah kami maka itu tertolak. (HR. Muslim)
Memberitahukan yang hak bukanlah suatu sia – sia , yang hak itu harus dibela dan dijelaskan kepada khalayak (umat) agar mereka tidak tersesat, menjelaskan sesuatu yang sesat kepada khalayak (umat) juga bukan hal yang tercela bahkan wajib bagi setiap kaum muslimin melakuakan amar ma’ruf nahi munkar bahhkan mendakwahkannya jika dia mampu, ini adalah salah satu usaha dari amar ma;ruf nahi munkar, Insya Allah.
Mencintai Nabi shalallahu alaihi wa sallam adalah dengan memperjuangkan dan menjalankan sunnah beliau yang shahih, coba antum baca dan renungkan comment saya diatas mengenai hadist dari Hudzaifah Ibnul Yaman rodhiallohu ta’ala.
Antum boleh saja tidak setuju dengan pendapat kami, tapi sampaikanlah itu dengan ilmiah, dengan dalil. Kita berAgama ini dengan dalil bukan dengan apa yang menurut kita baik!
Allahu Ta’ala A’lam Bisowaf
Al Akh Org Malaysia
“Dan tetaplah memberi peringatan, karena peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (Adz Dzariyat 55)
kalo antum menganggap bahwa peringatan dari Ustadz Abu Ubaidah tentang kesyirikan dalam Burdah Al Bushiri ini tidak bermanfaat, bahkan menganggapnya sebagai fitnah, ana khawatir antum termasuk orang yang tidak beriman atau lemah imannya.
@ Org Malaysia : yuk bareng ngaji tauhid..
hati2 dalam bersikap dan berkomentar……tindakan berlebihan kepada Rosululloh itu sudah sering dilakukan para sahabat Rosul SAW, jd kl ada yg alergi bila ada orang yg berbuat sesuatu yg berlebihan kepada ROsululloh, mudah2an bukan orientalis non muslim yg sudah belajar theologi (baca artikel2 ARIMATEA), krn segala sesuatu tergantung niatnya bukan
senata-mata tergantung zhohirnya…
Ada yg berpendapat ..”kl hal2 yg baru (maulid, yasinan….dll) itu benar pastilah Rosululloh dan sahabat sudah melakukannya”…padahal perlu difikirkan pula pencapat yg mengatakan…” kl hal2 yg baru (maulid, yasinan…..dlll) itu bid’ah sesat pasti Rosululloh & para sahabat sudah melarangnya, sementara dalil2 yg dipakai para penuduh bid’ah tidak tersebut larangan2 untuk hal2 diatas……itu HANYA PENDAPAT OKNUM ULAMA2 UG MENGAKU MANHAJ SALAF DALAM MENAFSIRKAN HADIST/AL-QUR’AN….sebagaimana ditulis di banauk buku yg berdedar……intinya adalah yg perlu kita junjung adalah WALLOHU A’LAM BISHOWAB…..jgn gampang su’uzhon kepada kegiatan2 saudara2 kita muslimin yg biasanya di NU dll….
hingga saya berfikir bahwa kl kesimpulan pendapat -yg keluar dari hasil penafsiran dari hadist2 – tentang tuduhan bid’ah kepada kegiatan sebagian muslim indonesia mengatakan …”bahwa apapun yang tidak ada perintah serta contoh dari Rosululloh SAW adalah bid’ah yang sesat”…, Maka berarti MELARANG muslimin melakukan kegiatan2 tersebut tanpa adanya nash yang mutlak tertulis – cuma atas dasar hasil penafsiran/dikait-kaitkandari hadist2 trentang bid’ah, berarti tuduhan2 bid’ahpun juga adalah BERBUAT BID’AH…
Kalo kita mau menelaah uraian dari ust. Abu Ubaidah insya Alloh kita akan mendapati ilmu yg banyak. paparan itu penuh dg hujjah dan banya refereci2 yg dipake. yg penting dalam menelaah itu kita berlepas dari taklid dan ghuluw yg berlebihan yg menyebabkan kita mati-matian membela kelompok kita TANPA alasan, hujjjah yg shohih. sebenarnya sangat ilmiah pembahasan dari ust. Abu ubaidah. tinggal bagaimana si pembaca mau menerima kebenaran tsb semoga kita semua slalu diberi kekuatan untuk slalu sami’na wa’thona thp kebenaran,amin. Buat para pembaca hendaknya dalam memberi comment yg ilmiyyah dg disertai hujjah yg shohih. Kita disini mencari mana yg sesuai dg sunnah mana yg bidah. o y ustad ana copypaste artikelnya ya? jazaakalloh.
ini adalah ekspresi ungkapan kecintaan kepada baginda Nabi besar Muhammad apa di ilang syirik???
Seandainya bukan karenamu, Aku tidak akan menciptakan makhluk
ini ada dalam hadist qudsi
masa di blang syirik
akhi Hilal, semoga Allah memberikan hilal pada hatinya.
1. Pernyataan saudara “Berlebihan pada rasulullah sering dilakukan oleh para sahabt Nabi”, aku minta anda mendatangkan buktinya. Bukankah Nabi yang bersabda: “Janganlah kalian berlebihan padaku”. “Hati-hatilah kalian dari sikap berlebihan”. Bukankah Nabi telah mengingkari seorang sahabat yang mengatakan: “Kehendak Allah dan kehendakmu”?!!
2. “Segala sesuatu tergantung niatnya bukan dhohirnya”, ini suatu kekeliruan fatal, karena sekadar niat saja tak cukup, syarat diterimanya amal ada dua: niat yang ikhlas dan mutaba’ah. Bukankah sahabat yang mengatkn di atas niatnya baik, bukankah para shabat yang mengatakan: Saya akan sholat malam terus tidak tidur, puasa tidak berbuka, membujang tidak nikah, niat mrka bagus?! Tapi knp Rasulullah mengingkarinya? Dan kami tanyakan kepd anda: “Seandainya ada orang sholat zhubuh 5 rokaat secara sengaja dengan niat baik, apakah diterima sholatnya?!
3. Tidak ada dalil khsus untuk melarang bid’ah tertentu. Kita harus tahu kaidah bahwa asal dalam ibadah adalah haram sampai ada dalil yang mencontohkannya dan asal dalam masalah dunia adalah halal sampai ada dalil yang melarangnya. Jadi kalau ada yang berbuat ibadah, yang perlu ditanya adalah mana dalilnya, bukan mana dalil yang melarangnya. Sekarang mana dalilnya secara khsuss sholat shubuh 5 rokaat, mana dalilnya larangan haji di bulan puasa, atau puasa romdhn bulan sya’ban?!.
Marilah kita berargumen dengan dalil, bukan dengan perasaan. Wallahu A’lam.
Pecinta burdah, semoga Allah memberinya hidayah.
“Kalau bukan karenamu, Aku tidak akan menciptakan dunia”. Itu hadits kan hadits qudsi masa’ dibilang syirik? Saya kan sudah bilang bahwa hadits itu tidak ada asalnya, coba datangkan bukti kepada kami sanad hadits ini, di kitab apa, halman berapa, bagaimana status haditsnya? Tidak semua hadits qudsi itu shohih mas, sedangkan dalam beribadah dan berkeyakinan kita harus berlandaskan hadits yang SHOHIH.
Ya…ustadz…koq yang ditawari buku cuma Hendriawan? Saya juga mau dikirimi bukunya, Ustadz….
hati hati mengatakan seseorang syirik itu bisa kembali kepada anda
apa antum kira Ustadz Abu Ubaidah itu ngawur dan tidak hati-hati dalam menulis artikel ini?
kenapa antum sendiri tidak hati-hati menulis komentar, karena artikel yang antum komentari itu mengandung dalil-dalil Al Quran dan As Sunnah.
Assalaamu’alaykum
@Ustadzunaa Abu ‘Ubaidah
Semoga Allah selalu menjaga dan menambah ilmu antum
@Untuk saudaraku para pembaca yang bisa bahasa arab
silakan lihat: “BANTAHAN UNTUK QASIDAH BURDAH AL-BUSHIRI”= الردود على قصيدة البردة للبوصيري
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=8642
@ Al Akh Ibnu Shalih: ana baru belajar bahasa arab stage awal. bantahan qosidah burdah itu ditulis oleh siapa akh? jazakalloh khoiron
@Ibnu Abi Irfan
1. Ana juga masih stage awal dalam bahasa arab bahkan mungkin levelnya dibawah antum
2. Sebenarnya bukan cuma bantahan tapi ruduud (bantahan2). Diantara yang membantahnya:
a. Syaikh Jamil Zainu
b. Al-Imam Asy-Syaukaniy
c. Syaikh Sulaiman (Penulis kitab Taisirul ‘Aziizil Hamid) dan Syaikh ‘Abdurrahman (Penulis kitab Fathul Majid)
d. Syaikh Al-Imam ‘Abdullah bin ‘Abdur Rahman
e. Al-Imam Al-Alusi
f. Syaikh ‘Abdul Badii’
g. Syaikh Dr. ‘Abdul ‘Aziiz Alu ‘Abdul Lathif
h. Dll
Kalau antum mau lihat bagaimana komentar ‘ulama tentang kasidah ini silakan klik: http://saaid.net/feraq/sufyah/39.htm
“Ya Allah, limpahkanlah kepada kami kecintaan kepada keimanan dan jadikanlah ia indah dalam hati kami, dan limpahkanlah kepada kami kebencian kepada kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk. Ya Allah wafatkanlah kami dalam keadaan muslim, dan hidupkanlah kami dalam keadaan muslim, dan kumpulkanlah kami dengan orang-orang sholeh tidak dalam keadaan hina tidak juga tertimpa fitnah.” Amiin.
semoga Allah mengampuni al bushiri dn meninggikan derajatnya dn semoga Allah mengampuni orang2 yg mencelanya
mengapa msh ada jg org yg gemar memvonis syirik sesat dn bid’ah trlbh lg pd ulama.padahal ulama2 tdhulu sgt brhati2 dlm hal ini.
mengapa rujukannya cuman ulama2 itu sj.tdk pernah merujuk pd ulama2 empat madzhab
mengapa rujukan kitabnya tdk pernah dr kitab ulama2 4 madzab
sesungguhnya hanya Allah lah yg mengetahui jalan siapa yg plg lurus
so… TAI KUCING buat Abu Ubaidah yang sudah melecehkan burdah..
jangan sok mensyirikkan.. awakmu dewe ki wes iso opo wae tah..
suka ganggu orang aja..
setiap kali aku berjumpa dengan website2 yang buatan orang2 seperti anda.. pasti tidak terlepas dari mensyirikkan orang..
koyo2 ki sampeyan yang punya jagat.. basi deh..
ente2 semua tu pada pengen narsis dengan kelompok ente sendiri.. iya kan… ngaku de..h.
paling ujung2nya juga kekuasaan.. he3..
wes to ora usah ngono…
aku juga senang, anda mendoakan supaya kami dapat hidayah..
tapi yo awakmu juga dipikir…
he4.. mas Abu.. entuk salam teko Taylor Swift..
al-Hafizh al-Bushiri, pentahqiq Sunan Ibn Majah. Beliau Ulama seorang Imam Besar. Hanya orang yg perpandangan luas yg bisa menyelami ucapan beliau.
Syeikh Abu ‘Ubaidah al-Jawi, buku2 antum sudah saya baca. Ada niatan hati untuk meluruskan salah paham yg antum alami. Tapi, buat apa? Betapapun penuntut menyanggah tulisan antum, tidak akan bermanfaat bagi antum kecuali jika Allah menghendaki lain.
Statement plig ANEH yg pernah gw baca dari seorang ustadz…..emg ulama yg udah al-hafizh dan al-hujjah itu pada ga amanah semua? cuma Albani doang ??? Jgn bikin saya ketawa deh…
Siapa bener mas..ulama yg hafal 300.000 hadist tp seradak-seruduk seperti kata anda itu? coba sebutkan namanya?
Ini mah ucapan yg berdasar fanatisme saja, jangan asal jeplak…mending ente belajar ilmu hadist, rawi, rijal, sm ilmu alat yg bener dulu deh…ckckckckck
Dalam ilmu ushul dlm beramal harus ada dalil (shohih) dulu baru berbuat, bukan berbuat dulu baru mencari dalilnya.
Smg Allah merohmati ustad Abu Ubaidah dg sll terus memberikan pencerahan..khususnya buat saya yg baru mulai dpt membedakan yg hak dan yg bathil..jazakallah khoir.
@ashfi abu zukhruf…
Agama ini adalah nasehat, oleh karena itu mengapa antum tidak mau untuk meluruskan ustadz abu ubaidah jika menurut anda perlu diluruskan, apalagi saya sudah liat akun facebook anda, ternyata SMA anda lulusan tarbiyah salafiyah, anda kuliah di UIN Jkt dan anda menuntut ilmu hadits di Ma’had hadits Darussunnah, tentunya anda paham bagaimana cara membantah dengan hujjah. Kalo memang ada yg perlu diluruskan dari buku ustadz abu ubaidah, silahkan anda bantah lengkap dengan hujjah anda, kenapa belum2 anda sudah suudzon bahwa sanggahan antum tidak bermanfaat untuk beliau? Saya yakin, ustadz abu akan berbaik hati menerima sanggahan antum dan akan dengan senang hati berdiskusi.
@syahri ramadhan,
ente sudah belajar ilmu hadits kah? tolong dong saya dijelaskan, bagaimana kriteria yg dipakai para muhaddits didalam menentukan keshahihan suatu hadits…Dan bagaimana mengkompromikan pertentangan dari para ulama hadits mengenai status ke-tsiqohan seorang rawi?