ADA APA DENGAN BULAN SYA’BAN?

ADA APA DENGAN BULAN SYA’BAN?

Yusuf Abu Ubaidah As Sidawi

Bulan Sya’ban adalah bulan yang mulia, bulan yang sering dilalaikan oleh umat manusia dan bulan diangkatnya amal-amal hamba kepada Allah, Rabb alam semesta.

عَنْ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ قَالَ : قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ, لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ, قَالَ : ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ, وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ, فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Dari Usamah bin Zaid berkata: Saya bertanya: Wahai Rasulullah, saya tidak melihatmu berpuasa di bulan seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban (karena seringnya), beliau menjawab: “Bulan itu banyak manusia lalai, yaitu antara Rojab dan Ramadhan, bulan diangkat amal-amal kepada Robb semesta alam, dan saya ingin untuk diangkat amalku dalam keadaan puasa”.

Oleh karenanya hendaknya bagi seorang hamba mengisi bulan syaban dengan amal shalih sebagai persiapan menyambut Ramadhan, seperti:

1. Memperbanyak puasa Sunnah

Rasulullah memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : مَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ, وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِيْ شَعْبَانَ
Dari Aisyah berkata: Saya tidak perlah mengetahui Nabi puasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan, dan saya tidak pernah mengetahui dia lebih banyak berpuasa daripada di bulan sya’ban.

2. Menqadha’ Puasa

Bagi yang punya hutang puasa Ramadhan lalu, hendaknya dia segera melunasinya bulan ini, jangan menunda lagi jika tidak ada udzur karena ini batas akhirnya. Sungguh, hutang kepada Allah lebih utama untuk dibayar daripada hutang kepada manusia.

عائشة رضي الله عنها أنها قالت: “كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَهُ إِلا فِي شَعْبَانَ، وَذَلِكَ لِمَكَانِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ”.

Aisyah berkata: Saya memiliki hutang puasa, namun saya tidak bisa menggantinya kecuali di bulan syaban. Hal itu karena kedudukan Rasulullah.

3. Membaca Al Quran

Disebutkan bahwa para ulama salaf dulu apabila mereka memasuki bulan Sya’ban maka mereka sudah mulai fokus dan banyak membaca Al-Qur’an. Mereka membawa Mushaf kemana-mana. Karenanya, bulan ini disebut juga dengan Syahrul Qurra’ (bulan para pembaca Al-Qur’an), sebagaimana dikatakan oleh Salamah bin Kuhail dan Habib bin Abi Tsabit. Bahkan ada diantara mereka yaitu ‘Amr bin Qais apabila masuk bulan Sya’ban, maka beliau sudah mulai menutup toko tempat ia berjualan agar fokus dengan Al-Qur’an.

Salah satu hikmah dari hal ini adalah untuk persiapan dan latihan sebelum masuk bulan Ramadhan. Abu Bakar Al Warraq Al Balkhi mengatakan:

شَهْرُ رَجَبٍ شَهْرٌ لِلزَّرْعِ ، وَشَعْبَانَ شَهْرُ السَّقْيِ لِلزَّرْعِ ، وَرَمَضَانَ شَهْرُ حَصَادِ الزَّرْعِ

Bulan Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban adalah bulan untuk mengairi tanaman sedangkan Ramadhan adalah bulan memanen hasil tanaman.

4. Menjernihkan Hati Dari Noda

Jernihkan hati kita dari noda-noda hati berupa syirik, bid’ah, permusuhan dan lain sebagainya. Nabi bersabda:

يَنْزِلُ اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَى إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ, فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ, إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

Alloh Tabaraka wa Ta’ala turun kepada makluk-Nya pada malam nishfu Sya’ban, lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.

Maka sebaik-baik amalan adalah engkau membersihkan hatimu dari segala penyakit hati.

5. Taubat

Bertaubat atas segala dosa adalah hal penting yang wajib dilakukan dalam menyambut Ramadhan. Marengek di hadapan Allah, meminta agar segala dosa kita ditutupi dan diampuni oleh-Nya.

Perlu kita sadari bahwa dosa-dosa yang kita perbuat hakikatnya adalah beban yang memberatkan langkah kaki kita dalam beribadah kepada Allah, sebagaimana firman-Nya:

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ، وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ، الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ.

“Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (hai Muhammad) untukmu, dan Kami telah menghilangkan bebanmu (dosa-dosamu), yang memberatkan punggungmu?” (QS. Al-Insyirah: 1-3)

Perhatikanlah ayat ini baik-baik, bagaimana Allah mengatakan kepada Nabi Muhammad bahwa dosa yang beliau perbuat memberatkan punggung beliau, padahal dosa yang beliau perbuat hanyalah sedikit, dan itupun telah diampuni oleh Allah. Lantas bagaimana dengan kita yang dosanya menumpuk?! Siang malam kita berbuat dosa tapi kita jarang bertaubat kepada Allah. Sementara Nabi Muhammad senantiasa bertaubat dan beristighfar setiap hari, beliau bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، تُوبُوا إِلَى اللَّهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ، فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ.

“Wahai manusia, bertobatlah kepada Allah dan mohonlah ampun kepada-Nya, karena aku bertobat dalam sehari sebanyak seratus kali.”

Kita sering kali merasa berat dalam beribadah kepada Allah lantaran dosa-dosa yang kita perbuat telah memberatkan langkah kaki kita. Sehingga kita tidak bisa berlari menuju Allah, padahal kita diperintah untuk berlari menuju-Nya. Ibnul Qayyim berkata: “Apabila punggung telah berat oleh beban tumpukan dosa, maka hati akan terasa berat melangkah menuju Allah dan anggota badan akan terasa berat untuk bangkit melakukan ketaatan”.

6. Hendaknya menjauhi kebid’ahan-kebidahan yang dilakukan di bulan syab’an berupa amalan-amalan khusus yang tidak ada contohnya dari Nabi baik berupa shalat nisfu syaba’n, perayaan nisfu syaban dan lains sebagainya, karena itu hanyalah sia-sia.

7. Ramadhan sudah di ambang pintu, sudah semestinya kita mempersiapkan diri menyambutnya:

1. Dengan Ilmu seputar Ramadhan, keutamaannya, fikihnya, amalan-amalannya
2. Dengan doa, agar dipertemukan dengan ramadhan, diberi kekuatan ibadah, dan diterima amalnya.

Baca Juga Artikel Terbaru

Leave a Comment