Membela Hadits Nabi (Bag. I: MUQADDIMAH)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
الْحَمْدُ لِلَهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنِ اتَّبَعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ:
Sesungguhnya pokok landasan agama kita yang mulia adalah kitab suci Al-Qur’an dan sunnah Nabi. Allah telah berjanji akan menjaga kemurnian Al-Qur’an:
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al-Hijr: 9)
Jaminan Allah dalam ayat ini telah terbukti dan tak terbantahkan. Oleh karenanya, selama berabad-abad lamanya, tidak ada seorangpun yang mencoba untuk merubahnya, menambahinya, menguranginya atau menggantinya kecuali Allah pasti membongkar makarnya dan menyibak tirainya[1].
Adapun Sunnah Nabi, maka dia juga merupakan wahyu dari Allah yang berfungsi sebagai penjelas Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya:
Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. (QS. An-Nahl: 44)
Sebagai seorang muslim, kita mesti percaya bahwa setiap apa yang diucapkan oleh Nabi pasti benar dan tiada kebohongan di dalamnya, karena kita telah mengetahui bersama bahwa apa yang beliau ucapkan adalah berdasarkan bimbingan wahyu dari Rabbul Alamin.
Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya. (QS. An-Najm: 3-4)
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ : كُنْتُ أَكْتُبُ كُلَّ شَيْئٍ أَسْمَعُهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ أُرِيْدُ حِفْظَهُ, فَنَهَتْنِيْ قُرَيْشٌ, وَقَالُوْا : أَتَكْتُبُ كُلَّ شَيْئٍ وَرَسُوْلُ اللهِ بَشَرٌ يَتَكَلَّمُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَى ! فَأَمْسَكْتُ عَنِ الْكِتَابِ, فَذَكَرْتُ لِرَسُوْلِ اللهِ, فَأَوْمَأَ بِإِصْبِعِهِ إِلَى فِيْهِ, فَقَالَ : اكْتُبْ, فَوَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ مَا يَخْرُجُ مِنْهُ إِلاَّ حَقٌّ
Dari Abdullah bin Amr berkata: Dahulu aku menulis semua yang aku dengar dari Rasulullah untuk kuhafalkan, namun Quraish melarangngku seraya mengatakan: Apakah engau menulis segala sesuatu, padahal Rasulullah adalah seorang manusia yang berbicara ketika marah dan ridha?! Akupun menahan diri dari penulisan sehingga aku mengadukannya kepada Rasullalh, lantas beliau mengisyaratkan dengan jarinya ke mulutnya seraya bersabda: Tulislah, Demi Dzat Yang jiwaku berada di tanganNya, tidaklah keluar darinya (mulut Nabi) kecuali al-Haq (sesuatu yang jujur dan benar)[2].
(lebih…)