Tag: Ilmu

  • Semangat Ulama Dalam Menuntut Ilmu

    Semangat Ulama Dalam Menuntut Ilmu

    Semangat Ulama Dalam Menuntut Ilmu

    Alhamdulillah, rubrik Fawaid kini bisa hadir lagi untuk bertemu dengan para pembaca tercinta sekalian setelah dua tahun libur sementara, seakan-akan dia rindu dengan para pembaca dan semoga para pembaca juga merindukan kehadirannya dan bersemangat mengambil manfaat darinya.

    Nah, mengawali perjumpaan kita yang baru ini, kami akan sampaikan beberapa potret semangat ulama salaf dalam menuntut ilmu dengan banyak mengacu pada kitab al-Musyawwiq ilal Qiro’ah wa Tholabil Ilmi karya Ali bin Muhammad, cetakan Dar Alamil Fawaid, Makkah. Semoga kisah-kisah mereka dapat membakar semangat kita dalam menuntut ilmu. Amiin.

    Berdesakan Hingga Mengakibatkan Kematian

    Ishaq bin Abi Israil mengatakan: “Para penuntut ilmu hadits berdesakan pada Husyaim sehingga membuatnya terjatuh dari keledainya, dan itulah faktor penyebab kematiannya.” (Manaqib Imam Syafi’i hlm. 167–168 oleh al-Aburri dan al-’Uzlah hlm. 89 oleh al-Khothobi)

    Mirip dengan ini adalah kisah tentang sebab kematian seorang ahli nahwu tersohor yaitu Tsa’lab. Dikisahkan bahwa dia pernah keluar dari masjid usai sholat ashar pada hari Jum’at. Beliau memang sedikit tuli. Di tengah-tengah sedang asyik membaca kitab sambil berjalan, tiba-tiba ada kuda yang menabraknya sehingga dia tersungkur di sebuah lubang. Akhirnya dia ditolong dan dikeluarkan dalam keadaan berlumpur kemudian diantarkan ke rumah. Setelah itu dia merasakan sakit di bagian kepalanya dan keesokan harinya meninggal dunia. (Wafayatul A’yan 1/104 oleh Ibnu Khollikan)

    Tetap Belajar Sekalipun di Depan Singa

    Abul Hasan Bunan bin Muhammad bin Hamdan adalah salah seorang ulama yang dikenal banyak memiliki karomah. Suatu saat karena dia berani mengingkari Ibnu Thulun, maka dia dihukum dan dicampakkan di depan singa. Sang singa pun menciuminya tetapi anehnya dia tidak menerkam Abul Hasan. Akhirnya, dia pun dibebaskan. Orang-orang merasa heran dengan kejadian tersebut. Seorang pernah bertanya kepada beliau: “Bagaimana perasaan Anda tatkala berada di depan singa?” Beliau menjawab: “Saya tidak cemas sama sekali, bahkan saat itu saya sedang memikirkan tentang air liur binatang buas serta perbedaan pendapat di kalangan ulama ahli fiqih, apakah suci ataukah najis!!!” (al-Bidayah wa Nihayah 12/158 oleh Ibnu Katsir)

    Mau Dipukul Asalkan Mendapat Hadits

    Dalam biografi Hisyam bin Ammar disebutkan bahwa dia pernah masuk kepada Imam Malik tanpa izin seraya mengatakan: “Ceritakanlah kepadaku hadits.” Imam Malik mengatakan: “Bacalah.” Hisyam berkata: “Tidak, yang saya ingin adalah engkau menceritakan kepadaku hadits.” Tatkala Hisyam sering mengulang-ngulang hal itu, maka Imam Malik mengatakan: “Wahai pelayan, pukullah dia sebanyak lima belas kali.” Pelayan pun memukul Hisyam lima belas kali lalu membawanya kepada Imam Malik. Hisyam berkata kepada Imam Malik: “Kenapa engkau menzholimiku? Engkau telah memukulku tanpa dosa yang kuperbuat. Aku tidak menghalalkanmu.” Imam Malik berkata: “Terus, apa tebusannya?” Hisyam menjawab: “Tebusannya adalah engkau menceritakan kepadaku lima belas hadits.” Maka beliau pun menceritakan lima belas hadits kepada Hisyam. Hisyam berkata lagi kepada Imam Malik: “Tolong tambahi lagi pukulannya sehingga Anda menambahi lagi hadits untukku.” Mendengar itu, Imam Malik tertawa seraya mengatakan: “Pergilah kamu.” (Siyar A’lam Nubala 3/4093 oleh adz-Dzahabi, cetakan Baitul Afkar)

    Mirip dengan hal ini adalah kisah rihlah (perjalanan jauh untuk menuntut ilmu) yang dilakukan oleh Yahya bin Ma’in dan Ahmad bin Hanbal. Dikisahkan, ketika mereka hendak pulang, mereka singgah di Imam Abu Nu’aim Fadhl bin Dukain karena Yahya bin Ma’in ingin mengetes hafalannya. Setelah Imam Abu Nu’aim tahu bahwa dirinya sedang dites, maka dia menendang Yahya bin Ma’in. Akhirnya, Imam Ahmad berkata kepada Yahya: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu jangan mengetesnya karena dia adalah seorang yang kuat hafalannya.” Yahya berkata: “Demi Alloh, sungguh tendangannya lebih aku sukai daripada semua perjalananku ini.” (ar-Rihlah fi Tholabil Hadits hlm. 207 oleh al-Khothib al-Baghdadi)

    Semangat Menulis yang Menakjubkan

    As-Sam’ani menceritakan bahwa Imam al-Baihaqi pernah tertimpa penyakit di tangannya, sehingga jari-jemarinya dipotong semua, hanya tinggal pergelangan tangan saja. Sekalipun demikian, beliau tidak berhenti dari menulis, beliau mengambil pena dengan pergelangan tangannya dan meletakkan kertas di tanah seraya memeganginya dengan kakinya, lalu menulis dengan tulisan yang indah dan jelas. Demikianlah hari-harinya, sehingga setiap hari dia dapat menulis dengan tangannya kurang lebih sepuluh lembar. “Sungguh, ini adalah pemandangan sangat menakjubkan yang pernah saya lihat darinya,” kata as-Sam’ani. (at-Tahbir fil Mu’jam Kabir 1/223)

    Termasuk semangat yang menakjubkan pula adalah semangat Imam Ibnu Aqil yang telah menulis sebuah karya terbesar di dunia yaitu al-Funun. Tahukah Anda berapa jilid kitab tersebut? Sebagian mengatakan sebanyak 800 jilid dan ada yang mengatakan 400 jilid. Imam adz-Dzahabi berkata: “Belum pernah ada di dunia ini kitab yang lebih besar darinya. Seseorang pernah menceritakan kepadaku bahwa dia pernah mendapati juz yang empat ratus lebih dari kitab tersebut.” (Tarikh Islam 4/29)

    Sekalipun demikian besarnya kitab ini, tetapi sayangnya kitab ini termasuk perbendaharan umat Islam yang hilang, belum diketahui sampai sekarang kecuali hanya satu jilid saja yang ditemukan di perpustakaan Paris dan dicetak dalam dua jilid pada tahun 1970–1971. (Muqoddimah Kamil Muhammad Khorroth terhadap Zahrul Ghushun min Kitabil Funun hlm. 6)

    Kitab Bikin Pusing Istri Ulama

    Kebiasaan Imam Zuhri, kalau masuk rumah maka beliau meletakkan kitab-kitabnya bertumpukan di sekitarnya. Beliau menikmati kesibukannya tersebut sehingga lalai dari segala urusan dunia lainnya. Suatu saat istrinya pernah berkata padanya: “Demi Alloh, sungguh kitab-kitab ini lebih berat bagiku daripada tiga istri sainganku!!!” (Wafayatul A’yan 4/177–178 oleh Ibnu Khollikan)

    Berkali-Kali Khatam Kitab, Tidak Bosan

    Al-Muzani berkata: “Saya membaca kitab ar-Risalah karya asy-Syafi’i sejak lima tahun yang lalu, setiap kali aku membacanya saya mendapatkan faedah baru yang belum aku dapatkan sebelumnya.” (Manaqib Syafi’i hlm. 114 oleh al-Aburri)

    Ibnu Basykuwal menceritakan bahwa Abu Bakr bin Athiyyah mengulang-ngulang membaca kitab Shohih Bukhori sebanyak 700 kali.” (ash-Shilah 2/433)

    Disebutkan dalam biografi Abbas bin Walid al-Farisi bahwa ditemukan dalam sebagian akhir kitabnya suatu tulisan: “Saya telah membacanya sebanyak 1.000 kali.” !!! (Thobaqot Ulama Afrika wa Tunis hlm. 224)

    Abdulloh bin Muhammad, ahli fiqih dari Irak, beliau pernah membaca kitab al-Mughni karya Ibnu Qudamah (sekarang tercetak dengan 15 jilid) sebanyak 23 kali!! (Dzail Thobaqot Hanabilah 2/411)

    Mengusir Kantuk Dengan Membaca

    Ibnul Jahm berkata: “Apabila kantuk menyerangku pada selain waktu tidur, maka saya segera mengambil kitab hikmah, lalu saya mendapati hatiku berbunga-bunga kegirangan ketika mendapatkan ilmu.” (al-Hayawan 1/53 oleh al-Jahidz)

    Subhanalloh, bandingkan hal ini dengan perbuatan sebagian kita yang membaca justru dengan niat sebagai pengantar tidur!!!

    Dilarang Oleh Ibunya Tetapi Dia Bersiasat

    Imam Ibnu Tabban adalah seorang ulama yang bersemangat sangat tinggi dalam menuntut ilmu, sehingga dia pernah mempelajari kitab al-Mudawwanah sebanyak 1000 kali!!! Dia pernah berkata tentang dirinya: “Dahulu ketika saya awal-awal menuntut ilmu, saya gunakan seluruh malam untuk belajar, sehingga ibuku pernah melarangku dari membaca di malam hari. Akhirnya saya bersiasat untuk membuat lampu dan menaruhnya di bawah tempat tidur lalu saya berpura-pura tidur. Ketika saya rasa bahwa ibuku benar-benar telah tidur, maka saya keluarkan lampu dan melanjutkan belajar.” (Tartibul Madarik 1/78 al-Qodhi Iyadh)

    Puluhan Ribu Orang Hadir di Majelis Mereka

    Sejarah ulama dahulu sangat harum dengan semangat menuntut ilmu. Banyak di antara mereka berdesak-desakan membanjiri majelis ilmu. Berikut ini beberapa buktinya:

    • Diperkirakan bahwa jumlah orang yang hadir di majelis ilmu Ashim bin Ali sebanyak seratus enam puluh ribu orang. (Tarikh Baghdad 12/248)
    • Diperkirakan bahwa jumlah orang yang hadir di majelis ilmu Sulaiman bin Harb sebanyak empat puluh ribu orang. (al-Jarh wa Ta’dil 4/108)
    • Diperkirakan bahwa jumlah orang yang hadir di majelis ilmu Imam Bukhori sebanyak dua puluh ribu orang lebih. (al-Jami’ li Akhlaq Rowi 2/53)
    • Diperkirakan bahwa jumlah orang yang hadir di majelis ilmu Abu Muslim al-Kajji sebanyak empat puluh ribu orang lebih. (Tarikh Baghdad 6/121)

    Dan masih banyak lagi data lainnya. (Dinukil dari Qoshoshun wa Nawadir li Aimmatil Hadits hlm. 70–72 oleh Dr. Ali bin Abdillah ash-Shoyyah)

    Subhanalloh, pemandangan yang menakjubkan. Adapun pada zaman sekarang, kebanyakan manusia malah membanjiri tempat-tempat maksiat. Hanya kepada Alloh kita mengadukan semua ini!!!

    Waktu Libur Tetapi Dia Tetap Hadir

    Jika Alloh telah memberimu nikmat semangat untuk menuntut ilmu maka jagalah nikmat tersebut. Jangan sampai ia menghilang darimu karena ia adalah pertanda bahwa Alloh menghendaki kebaikan bagimu. Al-Askari menyebutkan bahwa Abul Hasan al-Karkhi berkata: “Saya selalu menghadiri majelis ilmu Abu Hazim pada hari Jum’at padahal hari itu tidak ada pelajaran. Aku lakukan hal itu agar kebiasaanku menghadiri majelis ilmu tidak hilang.” (al-Hatstsu ’ala Tholabil Ilmi hlm. 78)

    Saudaraku, renungkanlah kisah di atas baik-baik. Dia meninggalkan keinginan dirinya dan berjuang melawan hawa nafsunya demi menuntut ilmu dan menjaga semangat tersebut agar tidak luntur. (Ma’alim fi Thoriq Tholabil Ilmi hlm. 69 oleh Abdul Aziz as-Sadhan)

    Bandingkanlah hal ini dengan sikap sebagian kita yang malas menghadiri majelis ilmu dengan alasan-alasan lagu lama “maaf saya lagi sibuk”, “maaf saya lagi banyak urusan”, dan sebagainya. Alangkah indahnya ucapan penyair:

    رَأَيْتُ النَاسَ يَشْكُوْنَ الزَّمَانَا    وَمَا لِزَماَنِنَا عَيْبٌ سِوَانَا

    نَعِيْبُ زَمَانَنَا وَالْعَيْبُ فِيْنَا        وَلوْ نَطَقَ الزَّمَانُ بِهِ رَمَاناَ

    Saya melihat banyak manusia mengeluh tentang waktu

    Padahal tidak ada kesalahan pada waktu selain kita sendiri

    Kita mencela waktu padahal yang salah adalah diri kita sendiri

    Seandainya saja waktu bisa bicara tentu akan marah kepada kita. (Manaqib Imam Syafi’i hlm. 65 oleh al-Aburri)

  • Urgensi Ilmu dan Ulama

    Urgensi Ilmu dan Ulama

    Urgensi Ilmu dan Ulama

    1. Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu mengatakan:

    الْعِلْمُ خَيْرٌ مِنْ الْمَالِ .الْعِلْمُ يَحْرُسُك ، وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالِ .الْعِلْمُ حَاكِمٌ وَالْمَالُ مَحْكُومٌ عَلَيْهِ .مَاتَ خَزَّانُ الْأَمْوَالِ وَبَقِيَ خَزَّانُ الْعِلْمِ أَعْيَانُهُمْ مَفْقُودَةٌ ، وَأَشْخَاصُهُمْ فِي الْقُلُوبِ مَوْجُوْدَةٌ

    “Ilmu lebih baik daripada harta. Ilmu yang menjagamu, sedangkan kamu yang menjaga harta. Ilmu itu hakim, sedangkan harta dihakimi. Para penyimpan harta meninggal dunia, namun penyimpan ilmu tetap ada. Sekalipun badan mereka tiada, nama mereka tetap ada dalam hati.” (Adab ad-Dunya wad Din hlm. 48 oleh al-Mawardi)

    2.    Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu mengatakan:

    تَذَاكُرُ الْعِلْمِ بَعْضَ لَيْلَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ إِحْيَائِهَا

    “Mempelajari ilmu di sebagian malam itu lebih aku cintai daripada menghidupkan malam (dengan ibadah).” (al-Mushannaf 11/253 oleh Abdurrazzaq, Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlihi 1/117 oleh Ibnu Abdil Barr)

    3.    Abdurrahman bin Mahdi Rahimahullahu mengatakan:

    الَّرجُلُ إِلَى الْعِلْمِ أَحْوَجُ مِنْهً إلِىَ الأَكْلِ وَالشُّرْبِ

    “Seorang itu lebih butuh kepada ilmu daripada kepada makan dan minum.” (Hilyatul Auliya‘ 9/4 oleh Abu Nu’aim)

    4.    Rabi’ah Rahimahullahu mengatakan:

    العِلْمُ وَسِيْلَةٌ إِلَى كُلِّ فَضِيلَةٍ

    “Ilmu adalah sarana menuju segala keutamaan.” (Siyar A’lam an-Nubala‘ 6/90 oleh adz-Dzahabi)

    5.    Imam Syafi’i Rahimahullahu mengatakan:

    مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ، عَظُمَتْ قِيْمَتُهُ، وَمَنْ تَكَلَّمَ فِي الفِقْهِ، نَمَا قَدْرُهُ، وَمَنْ كَتَبَ الحَدِيْثَ، قَوِيَتْ حُجَّتُهُ، وَمَنْ نَظَرَ فِي اللُّغَةِ، رَقَّ طَبْعُهُ، وَمَنْ نَظَرَ فِي الحِسَابِ، جَزُلَ رَأَيُهُ، وَمَنْ لَمْ يَصُنْ نَفْسَهُ، لَمْ يَنْفَعْهُ عِلْمُهُ

    “Barangsiapa yang mempelajari al-Qur‘an maka kedudukannya akan tinggi. Barangsiapa yang berbicara tentang fiqih maka kapasitas ilmunya akan berkembang. Barangsiapa yang menulis hadits maka argumentasinya akan kuat. Barangsiapa mempelajari bahasa maka tabiatnya akan halus. Barangsiapa mempelajari berhitung maka akan encer otaknya. Barangsiapa tidak menjaga dirinya maka ilmunya tidak akan bermanfaat baginya.” (Siyar A’lam an-Nubala‘ 10/24 oleh adz-Dzahabi)

    6.    Hasan al-Bashri Rahimahullahu mengatakan:

    لَأَنْ أَتَعَلَّمَ بَاباً مِنَ الْعِلْمِ فَأُعَلِّمُهُ مُسْلِمًا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ تَكُوْنَ لِيْ الدُّنْيَا كُلُّهَا فِي سَبِيْلِ اللهِ تَعَالَى

    “Sungguh saya mempelajari satu bab dalam ilmu lalu saya mengajarkannya kepada seorang muslim lebih saya cintai daripada saya memiliki dunia seluruhnya di jalan Allah.” (al-Faqih wal Mutafaqqih 1/102 oleh al-Khathib al-Baghdadi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab 1/21 oleh an-Nawawi)

    7.    Abu Muslim al-Khaulani v\ mengatakan:

    الْعُلَمَاءُ فِي الأَرْضِ مِثْلُ النُّجُوْمِ فِي السَّمَاءِ إِذَا بَدَتْ لِلنَّاسِ اهْتَدَوْا بِهَا وَإِذَا خَفِيَتْ عَلَيْهِمْ تَحَيَّرُوْا

    “Ulama itu di bumi bagaikan bintang di langit. Apabila mereka tampak bagi manusia, mereka (manusia) akan mendapatkan petunjuk jalan. Namun, jika bintang tidak tampak pada mereka, niscaya mereka kebingungan.” (Tadzkirah as-Sami’ wal Mutakallim hlm. 25 oleh Ibnu Jama’ah)

    8.    Mutharrif bin Abdillah Rahimahullahu mengatakan:

    الْعِلْمُ أَفْضَلُ مِنَ الْعَمَلِ، أَلاَ تَرَى أَنَّ الرَّاهِبَ يَقُوْمُ اللَّيْلَ ، فَإِذَا أَصْبَحَ أَشْرَكَ

    “Ilmu itu lebih utama daripada amal. Tidakkah engkau perhatikan seorang ahli ibadah yang shalat malam namun di pagi harinya dia berbuat syirik.” (al-Faqih wal Mutafaqqih 1/110 oleh al-Khathib al-Baghdadi)

    9.    Sufyan bin Uyainah Rahimahullahu mengatakan:

    تَدْرُوْنَ مَا مَثَلُ الْعِلْمِ ، مَثَلُ دَارِ اْلكُفْرِ وَدَارِ الإِسْلاَمِ. فَإِنْ تَرَكَ أَهْلُ الإِسْلاَمِ الْجِهَادَ جَاءَ أَهْلُ الْكُفْرِ فَأَخَذُوْا الإِسْلاَمَ ، وَإِنْ تَرَك النَّاسُ الْعِلْمَ صَارَ النَّاسُ جُهَّالًا

    “Tahukah kalian perumpamaan ilmu? Perumpamaannya seperti negara Islam dan negara kafir. Jika orang Islam meninggalkan jihad maka orang kafir akan menghancurkan Islam. Jika manusia meninggalkan ilmu maka manusia akan bodoh.” (al-Faqih wal Mutafaqqih 1/103 oleh al-Khathib al-Baghdadi)

    10. Wahb bin Munabbih Rahimahullahu mengatakan:

    يَتَشَعَّبُ مِنَ الْعِلْمِ الشَّرَفُ وَإِنْ كَانَ صَاحِبُه دَنِيًا، وَالْعِزُّ وَإِنْ كَانَ مَهِيْنًا، وَالْقُرْبُ وَإِنْ كَانَ قَصِيًا، وَالْغِنَى وَإِنْ كَانَ فَقِيْرًا، وَ الْمَهَابَةُ وَإِنْ كَانَ وَضِيْعًا

    “Bercabang dari ilmu sebuah kemuliaan sekalipun orangnya rendahan, dekat sekalipun awalnya jauh, kekayaan sekalipun sebelumnya fakir, wibawa sekalipun awalnya tak terhormat.” (Tadzkirah as-Sami’ wal Mutakallim hlm. 25 oleh Ibnu Jama’ah)

    11. Sufyan ats-Tsauri Rahimahullahu mengatakan:

    مَا أَعْرِفُ شَيْئًا أَفْضَلَ مِنْ طَلَبِ الْحَدِيْثِ إِذَا أُرِيْدَ بِهِ وَجْهُ اللهِ

    “Saya tidak mengetahui sesuatu yang lebih mulia daripada mencari hadits jika memang ikhlas mengharapkan wajah Allah.” (Tahdzib Tarikh Dimasyq oleh Ibnu Asakir 3/354)

     

  • 10 FAIDAH TENTANG ILMU

    FAIDAH I:

    KEUTAMAAN ILMU

    • Sesungguhnya Allah menjadikan buruan yang ditangkap oleh anjing yang bodoh sebagai bangkai yang haram dimakan, sebaliknya Allah menghalalkan buruan yang ditangkap oleh abiubaidah.comanjing yang berilmu. Hal ini menunjukkan tentang keutamaan ilmu. Allah berfirman, yang artinya:

    Mereka menanyakan kepadamu: “Apakah yang Dihalalkan bagi mereka?”. Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya). dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat cepat hisab-Nya.[1] (lebih…)

  • Mencatat Faidah: Tips Mudah dalam Mengumpulkan Banyak Ilmu

    [ Muqaddimah Rubrik Fawaid yang Akan Disampaikan Berseri dalam Web Ini]

    kumpulan faidah

    A. Muqaddimah

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

    الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ :

    Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya (2699) sebuah hadits dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi bersabda: (lebih…)

  • HADITS BATHIL: Menuntut Ilmu Meskipun Harus ke Negeri Cina

    disusun oleh:

    Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As-Sidawi

    awas hadits bathil!

    A. PENGANTAR

    Dalam sebuah majalah yang pernah penulis baca, dikisahkan bahwa ada seorang muballigh dari Cina tatkala berceramah di hadapan jama’ah Indonesia, dia mengemukakan hadits ini seraya berkomentar: “Bapak-bapak, ibu- ibu, seharusnya banyak bersyukur, karena bapak ibu tidak perlu repot-repot pergi ke Cina, karena orang Cina-nya sudah datang ke sini”!!!

    Sepanjang ingatan penulis juga, hadits ini tercantum dalam buku pelajaran kurikulum sekolah Tsanawiyyah masa penulis (entah kalau sekarang), sehingga dulu pernah ada seorang kawan menyampaikan hadits ini tatkala latihan ceramah, kemudian ada seorang ustadz yang menegur: “Untuk apa menuntut ilmu ke China? Ilmu apa yang mau dicari di sana? Ilmu dunia atau agama?”.

    Nah, apakah hadits yang kondang ini shohih dari Nabi? Inilah yang akan menjadi pembahasan kita pada edisi kali ini. Semoga bermanfaat.

    .

    B. TEKS HADITS

    اطْلُبُوْا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنِ

    Carilah ilmu sekalipun di negeri Cina.

    BATHIL. Diriwayatkan oleh; (lebih…)