*Semoga Meraih Husnul Khatimah Ya Syaikhona*
_Yusuf Abu Ubaidah As Sidawi_
Kita semua hari Jumat kemarin berduka atas wafatnya salah satu ustadz senior dan tokoh dakwah sunnah di negeri ini yaitu Ustadzuna wa Waliduna Aunur Rafiq bin Ghufran. Air mata ini menangis, hati ini bersedih, kita semua berduka ditinggal olehmu ya Syaikhona Al Karim.
Namun kami sadar bahwa kita semua milik Allah, dan semuanya ada batas usia yang ditentukan olehNya, tiada yang kekal di dunia yang fana ini. Kami sadar bahwa ini semuanya sudah suratan takdir Allah. Dan ketentuan Allah adalah yang terbaik untuk hambaNya.
Di antara prinsip Ahli Sunnah wal Jamaah adalah tidak memvonis individu seseorang dengan surga atau neraka kecuali dengan dalil. Namun kita berharap bagi mereka yang berbuat baik dan khawatir bagi mereka yang berbuat buruk.
Kita pun demikian berharap kepada Syeikhunaa dan berdoa untuk beliau tempat terbaik, walau kita tidak memastikannya.
Hal yang membuat kita optimis adalah adanya tanda-tanda husnul khatimah dan bisyarah (kabar gembira). Diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Meninggal dunia pada hari Jumat
Beliau wafat di hari yang mulia yaitu hari Jumat, 21 Dzul qo’dah (salah satu bulan haram yang mulia) 1447 H.
Dan wafat di hari Jumat merupakan salah satu tanda husnul khatimah.
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ
“Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat, melainkan Allah akan menjaganya dari fitnah (siksa) kubur.” (HR. Ahmad, 10:87 dan Tirmidzi, no. 1074. Dan dihasankan Al Albani dalam Ahkamul Janaiz)
2. Meninggal Di Atas Tauhid dan Sunnah
Syeikhuna selama hidupnya sangat perhatian dengan dakwah Tauhid dan banyak mengajarkan kitab-kitab Tauhid dan aqidah salaf, seperti Fathul Majid, Syarh Aqidah Thohawiyyah, dll.
Kekuatan Tauhid inilah yang membuat beliau tegar dan kokoh saat menghadapi ujian.
Pernah ada seorang yang mencari kesaktian yang kemudian diberi hidayah, dia cerita bahwa dia keliling untuk mencari kyai-kyai sakti, namun tatkala bertemu beliau, badannya lemas seakan tak memiliki kekuatan.
Beberapa kali juga kami meruqyah seorang yang kesurupan, jin nya santai meremehkan kami, namun tatkala beliau datang, bahkan saat mendengar suara sandal beliau saja jinnya sudah ketakutan dan merintih kesakitan.
Dan saat kondisi beliau menurun drastis sebelum wafat, yang terucap dari lisan beliau adalah mengulang-ngulang berdzikir dengan tasbih, tahlil, istighfar dan sebagainya.
Dalam hadits, Nabi bersabda:
مَن لَقيَ اللهَ لا يُشرِكُ به شيئًا دَخَلَ الجَنَّةَ، ومَن لَقيَه يُشرِكُ به دَخَلَ النَّارَ.
“Barang siapa yang mati berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak berbuat syirik kepada Allah maka dia akan masuk surga.
Dan barang siapa yang meninggal dunia berjumpa dengan Allah dalam keadaan berbuat syirik kepada Allah maka dia akan masuk neraka. (HR. Muslim: 93)
3. Berkeringat Di Kening
Ini juga termasuk tanda husnul khatimah karena harus menahan dahsyatnya kematian sehingga menjadi pelebur dosanya.
Kami melihat beliau berkeringat di kening beliau tersebut. Bahkan kami beberapa kali mengusapnya karena banyaknya keringat yang keluar.
Dari Buraidah bin Al-Hashib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَوْتُ المُؤْمِنِ بِعِرْقِ الجَبِيْن
“Kematian seorang mukmin dengan keringat di kening.” (HR. Tirmidzi, no. 982; Ibnu Majah, no. 1452, An-Nasa’i, no. 1828, dan Ahmad, no. 23022. Dishahihkan Syaikh Al-Albani)
4. Sabar dengan sakit
Beberapa tahun terakhir sebelum meninggal beliau menderita sakit yang mengharuskan beliau istirahat total, bahkan dari dakwah dan mengajar yang sudah mendarah daging di aliran darah beliau.
Beliau menghadapi cobaan sakit tersebut dengan sabar.
Dan sakit yang menimpa seorang mukmin adalah pelebur dosa-dosanya.
Rasulullah bersabda:
«مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا عَنْهُ مِنْ خَطَايَاهُ
“Tiada satu pun yang menimpa seorang muslim berupa kelelahan, sakit, gelisah, kesedihan, gangguan, dan kesusahan—sampai-sampai duri yang menusuknya—melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya.” (HR al-Bukhari: 5641, Muslim: 6513)
5. Meninggalkan Umur Kedua
Termasuk tanda kebaikan bagi seorang hamba adalah tatkala Allah memudahkannya memiliki proyek kebaikan sebelum meninggal dunia.
Syeikhuna sebelum meninggalkan dunia ini memiliki proyek kebaikan: ilmu yang dia ajarkan, pesantren Al Furqon yang dia dirikan, kitab Mukhtarat yang dia tulis, para santri yang dia cetak dan menjadi dai di berbagai tempat, masjid-masjid yang dibangun lewat perantara beliau. Semua itu adalah umur kedua beliau dan tabungan pahala di akherat kelak untuk beliau insya Allah.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
إذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ (رواه مسلم، رقم 1631)
“Jika anak Adam meninggal, terputuslah amalnya kecuali dari yang tiga; Shedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak saleh yang mendoakan.” (HR. Muslim, no. 1631)
6. Dishalatkan oleh banyak orang
Jenazah Syeikhuna dishalatkan oleh ribuan kaum muslimin bahkan penuntut ilmu yang bertauhid. Semuanya memadati Masjid Jami’ Al Furqon usai shalat jumat berlangsung.
Tentu saja semakin banyak yang menshalati dan mendoakan adalah tanda kebaikan. Dalam hadits, Nabi bersabda:
مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا لَا يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا شَفَّعَهُمُ اللَّهُ فِيه
“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia lalu jenazahnya dishalati oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun kecuali mereka akan memberikan syafa’at baginya.” (HR Muslim 2/654)
7. Didoakan dan dipuji banyak orang
Entah berapa banyak doa yang dipanjatkan untuk beliau dari kaum muslimin wal muslimat di media sosial. Banyak juga yang mengirimkan kalimat takziah dan doa untuk beliau kepada kami. Pujian dan kenangan manis orang-orang saat berinteraksi dengan beliau banyak bermunculan. Semua ini tanda kebaikan untuk beliau.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Mereka lewat mengusung jenazah, lalu mereka memujinya dengan kebaikan. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wajib.” Kemudian mereka lewat dengan mengusung jenazah yang lain, lalu mereka membicarakan kejelekannya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wajib.” Umar bin Al-Khattab lantas bertanya, “Apakah yang wajib itu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا فَوَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِى الأَرْضِ
“Yang kalian puji kebaikannya, maka wajib baginya surga. Dan yang kalian sebutkan kejelekannya, wajib baginya neraka. Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi.” (HR. Bukhari, no. 1367 dan Muslim, no. 949)
Demikian tanda-tanda husnul khatimah dan bisyarah (kabar gembira) untuk beliau. Kita berharap dan berdoa agar beliau betul-betul meraih husnul khatimah dan mendapatkan kedudukan tinggi di surga. Amin.
