Dewasa ini kecintaan dan penghormatan terhadap ulama sangat minim sekali, bahkan betapa derasnya hujan celaan, penghinaan, kedustaan dan tuduhan pada mereka, baik karena faktor kejahilan, hawa nafsu, fanatik madzhab, cinta popularitas atau mungkin karena semua faktor tersebut!!.[1]
Seperti halnya para ulama Salaf lainnya, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani tak luput dari serbuan celaan, hinaan dan tuduhan. Beliau sendiri pernah berkata:
“Aku banyak dizhalimi oleh orang-orang yang mengaku berilmu, bahkan sebagian di antara mereka ada yang dianggap bermanhaj Salaf seperti kami. Namun -kalau memang benar demikian- berarti dia termasuk orang yang hatinya terjangkit penyakit hasad dan dengki.”[2]
Semua itu tidaklah aneh, karena memang setiap orang yang mengajak manusia kepada al-Qur’an dan as-Sunnah sesuai pemahaman para Sahabat, pasti mendapatkan resiko dan tantangan dakwah. Alangkah bagusnya perkataan Waraqah bin Naufal kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمَا جِئْتَ بِهِ إِلاَّ عُوْدِيَ
“Tidak ada seorang pun yang datang dengan mengemban ajaranmu kecuali akan dimusuhi.”[3]
Tetapi percaya atau tidak, semua celaan dan tuduhan dusta tersebut tidaklah membahayakan dan menggoyang kursi kedudukan Syaikh al-Albani t, bahkan sebalik-nya, sangat membahayakan nasib para pencela beliau sendiri.
يَا نَاطِحَ الْجَبَلِ الْعَالِيْ لِيَكْلِمَهُ
أَشْفِقْ عَلَى الرَّأْسِ لاَ تُشْفِقْ عَلَى الْجَبَلِ
Hai orang yang akan menabrak gunung tinggi untuk menghancurkannya
Kasihanilah kepala anda, jangan kasihan pada gunungnya[4].
Oleh karena itu, izinkanlah kami untuk memberikan sedikit komentar tentang beberapa omongan di atas.
.
1. Al-Albani berpemahaman murji’ah
Tuduhan ini bukanlah suatu hal yang aneh lagi. Terlalu banyak bukti-bukti untuk membantah tuduhan ini, karena Syaikh al-Albani telah menjelaskan secara gamblang aqidah beliau dalam banyak tulisannya yang sangat bersebrangan dengan aqidah murji’ah.
Alangkah bagusnya ucapan beliau tatkala mengatakan: “Demikianlah yang saya tulis semenjak dua puluh tahun silam lamanya dengan membela aqidah salaf Ahli Sunnah wal Jama’ah -segala puji hanya bagi Alloh-. Namun pada hari ini, bermunculan anak-anak kemarin sore yang jahil seraya menuduh kami dengan pemahaman murji’ah!! Hanya kepada Alloh kita mengadu dari jeleknya perilaku mereka berupa kejahilan dan kesesatan!!”. [5]
Tuduhan ini juga telah dibantah oleh para ulama Ahli Sunnah wal Jama’ah yang sezaman dengan beliau. Syaikh Abdul Aziz bin Baz pernah ditanya tentang tuduhan murji’ah kepada Syaikh al-Albani, lalu beliau menjawab:
“Syaikh Nasiruddin al-Albani termasuk di antara saudara-suadara kami yang terkenal dari ahli hadits dan ahli sunnah wal Jama’ah. Kita memohon kepada Alloh bagi kita dan beliau taufiq untuk segala kebajikan.
Sewajibnya bagi setiap muslim untuk takut kepada Alloh terhadap para ulama dan tidak berbicara kecuali di atas ilmu”.
Demikian juga Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin, beliau membantah tuduhan ini dengan kata-kata yang indah:
“Barangsiapa menuduh Syaikh al-Albani dengan pemahaman murjiah maka dia telah keliru, mungkin dia tidak mengenal al-Albani atau tidak mengetahui paham irja’!!
Al-Albani adalah seorang ahli Sunnah, pembelanya, imam dalam hadits, kami tidak mengetahui seorangpun yang menandinginya pada zaman ini[6], tetapi sebagian manusia -semoga Alloh mengampuninya- memiliki kedengkian dalam hatinya, sehingga tatkala melihat seorang yang diterima manusia, dia mencelanya seperti perbuatan orang-orang munafiq:
(orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang Mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya.
(QS. at-Taubah [9]: 79)
Mereka mencela orang yang bersedekah, baik sedekah dalam jumlah yang banyak maupun sedikit.
Al-Albani yang kami kenal melalui kitab-kitabnya dan duduk bersamanya -kadang-kadang- adalah seorang yang beraqidah salaf, manhajnya bagus, tetapi sebagian manusia yang ingin mengkafirkan hamba-hamba Alloh dengan hal yang tidak dikafirkan oleh Alloh, lalu dia menuduh orang yang menyelisihi mereka dalam takfir sebagai orang murji’ah secara dusta dan bohong. Oleh karena itu, janganlah kalian mendengarkan tuduhan ini dari siapapun orangnya”.[7]
إِذَا قَالَتْ حَذَامِ فَصَدِّقُوْهَا فَإِنَّ الْقَوْلَ مَا قَالَتْ حَذَامِ
Apabila Hadhami berucap maka benarkanlah
Karena kebenaran pada dirinya.
2. Al-Albani tidak mengerti fiqih
Ada lagi ucapan yang terlontar untuk mencela al-Albani, katanya:
Memang al-Albani jago dalam masalah hadits, tetapi masalah fiqih, beliau miskin!!
Sungguh ini merupakan kejahilan yang amat sangat dan ucapan seperti ini tidak lain kecuali hanya keluar dari mulut orang-orang yang jahil atau dengki[8].
- Aduhai, wahai para pencela ulama, apakah engkau lebih mengerti tentang fiqih hadits daripada orang yang engkau cela?! Bercerminlah terlebih dahulu dan simaklah bersamaku kisah berikut yang semoga bisa menjadikan pelajaran berharga bagi kita bersama:
- Al-Khothib al-Baghdadi menceritakan dari Abdulloh bin Hasan al-Hisnajani:
“Saya pernah di Mesir, saya mendengar seorang hakim mengatakan di Masjid Jami’: “Ahli hadits adalah orang-orang miskin yang tidak mengerti fiqih!!”.
Saya -yang saat itu kurang sehat- mendekati hakim tersebut seraya mengatakan: “Para sahabat Nabi berselisih tentang luka pada kaum lelaki dan wanita, lantas apa yang dikatakan Ali bin Thalib, Zaid bin Tsabit dan Abdulloh bin Mas’ud?”
Hakim tersebut lalu diam seribu bahasa.
Kemudian saya katakan padanya:
“Tadi engkau mengatakan bahwa ahli hadits tidak mengerti fiqih, sedangkan saya saja orang ahli hadits yang rendah menanyakan hal ini kepadamu namun engkau tidak mampu menjawabnya, lantas bagaimana engkau menuding bahwa ahli hadits tidak mengerti, padahal engkau sendiri saja tidak mengerti?!! [9]
Sungguh, barangsiapa membaca kitab-kitab al-Albani dengan adil dan inshof maka dia akan mengetahui kedalaman ilmunya dalam bidang fiqih, bacalah Silsilah Ash-shohihah, Ahkamul Janaiz, Sifat Sholat Nabi, Tamamul Minnah, kaset ceramah dan soal jawabnya, dan..dan ..dan lain sebagainya!! Bagaimana beliau bukan seorang yang faqih, padahal dia telah berkhidmah pada sunnah nabawiyyah lebih dari lima puluh tahun lamannya!!.
- Syaikh al-Albani sendiri pernah ditanya tentang omongan ini, beliau hanya menjawab: “Apakah engkau ingin aku berbicara tentang diriku?!” Terkadang beliau juga menjawab: “Jawaban omongan ini adalah apa yang engkau lihat, bukan apa yang engkau dengar”.[10]
- Ya, jawaban tentang fiqih al-Albani adalah apa yang kita lihat dalam kitab-kitabnya, soal jawabnya, dialognya, dan kaset-kasetnya, bukan apa yang kita dengar dari sebagian kalangan bahwa al-Albani miskin dalam bidang fiqih!!
- Sungguh, tuduhan ini adalah suatu kedzaliman, bagaimana seorang yang sejak umur dua puluh tahun mondar-mandir maktabah Zhohiriyyah dan terus meneliti kitab-kitab dari berbagai bidang ilmu tanpa henti, setelah itu dikatakan bukan faqih?! Bertaqwalah kepada Alloh wahai pencela ulama!!
.
3. Al-Albani tidak tahu fiqhul waqi’ (realita umat)
- Tuduhan ini juga banyak terlontar, seringkali kita membaca ucapan sebagian mereka: “Barangkali saja Syaikh al-Albani saat berfatwa tentang Palestina, sedang tidak membawa buku aqidah salaf!!”.[11] Dan kata-kata sejenisnya yang bernada melecehkan!! Tuduhan ini bukan hanya Syaikh al-Albani saja yang kena getahnya, para ulama salaf lainnya juga demikian semisal Syaikh Ibnu Baz, Ibnu Utsaimin dan lain sebagainya[12].
- Fiqhul Waqi’ dalam artian mengetahui realita yang terjadi pada umat dan makar-makar musuh terhadap Islam adalah suatu kewajiban penting yang harus ditunaikan oleh sekelompok tertentu dari para penuntut ilmu yang cerdas guna mengetahui hukum syar’I mengenainya, seperti halnya ilmu-ilmu lainnya, baik ilmu syar’I, sosial, ekonomi, politik dan sebagainya dari ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi manusia guna menuju kejayaan Islam.[13]
- Namun, apa hukumnya fiqhul waqi?! Hukumnya adalah fardhu kifayah, bila ada suatu kelompok kaum muslimin telah menunaikannya maka gugur kewajiban tersebut dari lainnya[14]. Oleh karena itu, maka kewajiban bagi kelompok muslim yang menggeluti fiqhul waqi’ untuk bekerjasama bersama para ulama, mereka akan memaparkan permasalahan dengan gambaran yang jelas dan para ulama akan menjelaskan hukumnya berdasarkan al-Qur’an dan hadits, sebab kesempurnaan adalah suatu hal yang sangat jarang dijumpai pada diri seorang, artinya seorang yang menyibukkan dengan ilmu syar’I dan dalam waktu yang bersamaan dia juga menyibukkan dengan ilmu fiqhul waqi‘, ini jarang sekali terkumpul pada seseorang.
- Dengan demikian, maka tuduhan sebagian kalangan “Si fulan memang alim, tetapi dia tidak mengerti fiqhul waqi'”. Ini adalah suatu pembagian yang menyelisihi syari’at dan waqi’ (realita)[15]. Sebab ungkapan ini seakan-akan mewajibkan kepada para ulama untuk mengilmui juga ilmu sosial, ekonomi, politik, siasat perang, persenjataan dan sebagainya!! Hal ini sulit terbayangkan bisa terkumpul pada seseorang. Oleh karenanya, hendaknya kaum muslimin saling bantu-membantu antara satu dengan yang lainnya.[16]
Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata: “Banyak tuduhan kepada sebagian ahli ilmu bahwa mereka tidak mengerti waqi’ (realita) dan program-program kaum munafiq dan sekuler. Hal ini bukanlah suatu aib dan celaan. Dahulu saja, Nabi tidak mengetahui keadaan sebagian orang munafiq padahal beliau adalah tuan manusia dan mereka juga bersama Nabi di Madinah bertahun-tahun lamanya. Nah, kalau demikian apakah tidak boleh kalau ulama tidak mengetahui keadaan kaum munafiqin?!!”.[17]
Namun harus kita ingat, kita tidak boleh berlebih-lebihan terhadap fiqhul waqi’, dengan menjadikannya sebagai metode bagi para dai dan pemuda dengan anggapan hal itu adalah jalan keselamatan, sungguh ini adalah kesalahan yang nyata[18]. Apakah kita ingin agar manusia sibuk dengan berita-berita koran, TV, radio, dan internet yang tidak bisa keabsahannya tidaak otentik dan melupakan kajian al-Qur’an dan hadits yang sangat jelas keontetikannya?! Alangkah bagusnya ucapan seorang:
مُنَايَ مِنَ الدُّنْيَا عُلُوْمٌ أَبُثُّهَا
وَأَنْشُرُهَا فِيْ كُلِّ بَادٍ وَحَاضِرِ
دُعَاءٌ إِلَى الْقُرْآنِ وَ السُّنَنِ الَّتِيْ
تَنَاسَى رِجَالٌ ذِكْرَهَا فِي الْمَحَاضِرِ
وَقَدْ أَبْدَلُوْهَا بِالْجَرَائِدِ تَارَةْ
وَتِلْفَازُهُمْ رَأْسُ الشُّرُوْرِ وَالْمَنَاكِرِ
وَبِالرَّادِيُوْ فَلاَ تَنْسَ شَرَّهُ
فَكَمْ ضَاعَ الْوَقْتُ بِهَا مِنْ خَسَائِرِ
Cita-citaku di dunia adalah menyebarkan ilmu
Ke pelosok desa dan kota
Mengajak menusia kepada al-Qur’an dan Sunnah
Yang kini banyak dilalaikan manusia.[19]
Mereka menggantinya dengan koran
Dan Televisi mereka sumber kerusakan dan kemunkaran
Dan juga Radio, jangan kamu lupakan kejelekannya
Betapa banyak waktu hilang sia-sia karenanya.[20]
Akhirnya, simaklah nasehat Syaikh al-Albani tatkala berkata:
“Adapun menuding sebagian ulama atau penuntut ilmu bahwa mereka tidak mengerti waqi’ dan tuduhan-tuduhan memalukan lainnya, maka ini adalah kesalahan yang amat nyata, tidak boleh diteruskan, karena hal itu termasuk mengolok-ngolok yang dilarang oleh Nabi dalam banyak haditsnya bahkan diperintahkan untuk sebaliknya yaitu saling mencintai antar sesama”.[21]
Simak juga nasehat Syaikh Abdul Aziz bin Baz tatkala berkata:
“Sewajibnya bagi setiap muslim untuk menjaga lidahnya dari ucapan-ucapan yang tidak pantas dan tidak berbicara kecuali di atas ilmu. Menuduh bahwa si fulan tidak mengetahui realita adalah membutuhkan ilmu, dan tidak boleh dikatakan kecuali oleh seorang yang memiliki ilmu. Adapun asal menuduh begitu saja tanpa ilmu maka hal ini merupakan kemungkaran yang besar”.[22]
4. Al-Albani dan Fatwa Palesthina
Fatwa ini sangat bikin heboh. Perhatikan ucapan sebagian mereka: “Sebagian pakar menganggap fatwa al-Albani ini membuktikan bahwa logika yang dipakai al-Albani adalah logika Yahudi, bukan logika Islam, karena fatwa ini sangat menguntungkan orang-orang yang berambisi menguasai Palesthina. Mereka menilai fatwa al-Albani ini menyalahi sunnah, dan sampai pada tingkatan pikun. Bahkan Dr. Ali al-Fuqayyir, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Yordania menilai bahwa fatwa ini keluar dari Syetan“.[23]
Untuk menjawab masalah ini, maka kami akan menjelaskan duduk permasalahan fatwa Syaikh al-Albani tentang masalah Palesthina ini dalam beberapa point berikut[24]:
1. Hijrah dan jihad terus berlanjut hingga hari kiamat tiba.
2. Fatwa tersebut tidak diperuntukkan kepada negeri atau bangsa tertentu.
3. Nabi Muhammad sebagai Nabi yang mulia, beliau hijrah dari kota yang mulia, yaitu Mekkah.
4. Hijrah hukumnya wajib ketika seorang muslim tidak mendapatkan ketetapan dalam tempat tinggalnya yang penuh dengan ujian agama, dia tidak mampu untuk menampakkan hukum-hukum syar’I yang dibebankan Allah kepadanya, bahkan dia khawatir terhadap cobaan yang menimpa dirinya sehingga menjadikannya murtad dari agama.
- Inilah inti fatwa Syaikh al-Albani yang seringkali disembunyikan!!
- Imam Nawawi berkata dalam Roudhatut Tholibin 10/282:
“Apabila seorang muslim merasa lemah di Negara kafir, dia tidak mampu untuk menampakkan agama Allah, maka haram baginya untuk tinggal di tempat tersebut dan wajib baginya untuk hijrah ke negeri Islam…”.
5. Apabila seorang muslim menjumpai tempat terdekat dari tempat tinggalnya untuk menjaga dirinya, agamanya dan keluarganya, maka hendaknya dia hijrah ke tempat tersebut tanpa harus ke luar negerinya, karena hal itu lebih mudah baginya untuk kembali ke kampung halaman bila fitnah telah selesai.
6. Hijrah sebagaimana disyari’atkan dari Negara ke Negara lainnya, demikian juga dari kota ke kota lainnya atau desa ke desa lainnya yang masih dalam negeri.
- Point ini juga banyak dilalaikan oleh para pendengki tersebut, sehingga mereka berkoar di atas mimbar dan menulis di koran-koran bahwa Syaikh al-Albani memerintahkan penduduk Palesthina untuk keluar darinya!!! Demikian, tanpa perincian dan penjelasan!!!
7. Tujuan hijrah adalah untuk mempersiapkan kekuatan untuk melawan musuh-musuh Islam dan mengembalikan hukum Islam seperti sebelumnya.
8. Semua ini apabila ada kemampuan. Apabila seorang muslim tidak mendapati tanah untuk menjaga diri dan agamanya kecuali tanah tempat tinggalnya tersebut, atau ada halangan-halangan yang menyebabkan dia tidak bisa hijrah, atau dia menimbang bahwa tempat yang akan dia hijrah ke sana sama saja, atau dia yakin bahwa keberadaannya di tempatnya lebih aman untuk agama, diri dan keluarganya, atau tidak ada tempat hijrah kecuali ke negeri kafir juga, atau keberadaannya untuk tetap di tempat tinggalnya lebih membawa maslahat yang lebih besar, baik maslahat untuk umat atau untuk mendakwahi musuh dan dia tidak khawatir terhadap agama dan dirinya, maka dalam keadaan seperti ini hendaknya dia tetap tinggal di tempat tinggalnya, semoga dia mendapatkan pahala hijrah. Imam Nawawi berkata dalam Roudhah 10/282: “Apabila dia tidak mampu untuk hijrah, maka dia diberi udzur sampai dia mampu“.
- Demikian juga dalam kasus Palesthina secara khusus, Syaikh al-Albani mengatakan: “Apakah di Palesthina ada sebuah desa atau kota yang bisa dijadikan tempat untuk tinggal dan menjaga agama dan aman dari fitnah mereka?! Kalau memang ada, maka hendaknya mereka hijrah ke sana dan tidak keluar dari Palesthina, karena hijrah dalam negeri adalah mampu dan memenuhi tujuan”.
- Demikianlah perincian Syaikh al-Albani, lantas apakah setelah itu kemudian dikatakan bahwa beliau berfatwa untuk mengosongkan tanah Palesthina atau untuk menguntungkan Yahudi?!! Diamlah wahai para pencela dan pendeki, sesungguhnya kami berlindung kepada Allah dari kejahilan dan kezhaliman kalian!!.
9. Hendaknya seorang muslim meyakini bahwa menjaga agama dan aqidah lebih utama daripada menjaga jiwa dan tanah.
10. Anggaplah Syaikh al-Albani keliru dalam fatwa ini, apakah kemudian harus dicaci maki dan divonis dengan sembrangan kata?!! Bukankah beliau telah berijtihad dengan ilmu, hujjah dan kaidah?!! Bukankah seorang ulama apabila berijtihad, dia dapat dua pahala dan satu pahala bila dia salah?! Lantas, seperti inikah balasan yang beliau terima?!!
11. Syaikh Zuhair Syawisy mengatakan dalam tulisannya yang dimuat dalam Majalah Al Furqon, edisi 115, hlm. 19 bahwa Syaikh al-Albani telah bersiap-siap untuk melawan Yahudi, hampir saja beliau sampai ke Palesthina, tetapi ada larangan pemerintah untuk para mujahidin”.
Syaikh al-Albani sampai ke Palesthina pada tahun 1948 dan beliau sholat di masjidil Aqsho dan kembali sebagai pembimbing pasukan Saudi yang tersesat di jalan. Lihat kisah selengkapnya dalam bukunya berjudul “Rihlatii Ila Nejed”. (perjalananku ke Nejed).
Kami kira, keterangan singkat di atas cukup untuk membungkat mulut-mulut durhaka dan tulisan-tulisan hina yang menuding dengan sembrangan kata[25]!! Wallahu A’lam.
.
Catatan Kaki:
[1] Lihat Silsilah ash-Shohihah(I/4 dan II/17) oleh al-Albani.
[2] Silsilah Ahadits adh-Dho’ifah 1/29
[3] HR. Al-Bukhori (no. 7) dan Muslim (no. 160).
[4] Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlihi Ibnu Abdil Barr 2/310
[5] Adz-Dzabbul Ahmad ‘an Musnad Imam Ahmad hal. 32-33
[6] Apakah setelah pujian ini, kita percaya kepada ucapan para penyusun buku “Membongkar Kebohongan Buku Mantan Kiai NU…” hlm. 241 bahwa Syaikh al-Utsaimin menilai al-Albani tidak memiliki pengetahuan agama sama sekali!! Hanya kepada Alloh kita mengadu dari kebutaan dan kejahilan!!!
[7] Lihat At-Ta’rif wa Tanbi’ah bi Ta’shilatil Imam al-Albani fi Masailil IMan war Radd ‘alal Murjiah hlm. A43-144, Ar-Raddul Burhani, Ali Hasan al-Halabi hal. 72-74 dan Al-Imam Al-Bani wa Mauqifuhu Minal Irja’, Abdul Aziz ar-Rayyis hal. 40-43
[8] Lihat Manaqib Imam Ahmad bin Hanbal Ibnul Jauzi hal. 67)
[9] Syaraf Ashabil Hadits hal. 142
[10] Hayah al-Albani 2/502
[11] Sebagaimana dikatakan oleh penulis artikel “Mengapa Salafi Dimusuhi Umat” dalam Majalah Risalah Mujahidin edisi no. 1/Th. 1, Ramadhan 1427 H/September 2006 M, hlm. 2. Artikel ini telah dibantah oleh Ustadzunal Karim Aunur Rofiq bin Ghufron dalam Majalah al-Furqon edisi 5/Th. VI.
[12] Saya yakin bahwa para ulama yang dituding tidak mengerti waqi’ semisal Syaikh Ibnu Baz, Ibnu Utsaimin, al-Albani dan sebagainya, justru mereka lebih mengerti tentang fiqhul waqi’ daripada para pelontar tuduhan yang ngawur itu!! Barangsiapa membaca siroh perjalanan hidup mereka, maka akan membenarkan ucapan saya.
[13] Lihat Sual wa Jawab Haula Fiqhil Waqi’, al-Albani hlm. 34-35.
[14] Alangkah bagusnya ucapan Syaikh Rabi bin Hadi al-Madkholi: “Apabila sebagian kelompok mengaku bahwa mereka mengetahui fiqhul waqi’, lantas mengapa mereka mencela kaum salafiyyin dan mensifati mereka tidak mengerti waqi?! Bukankah kewajiban salafiyyin telah gugur karena adanya sebagian kaum muslimin yang menunaikannya?! (Ahlul Hadits Humut Thoifah al-Manshurah hlm. 92).
[15] Pembagian ulama waqi’ dan ulama syari’at mengingatkan kita kepada pembagian kaum Sufi: Ulama syari’at dan ulama hakekat untuk memisahkan manusia dari para ulama robbaniyyun. Ini adalah salah satu dari sekian banyak dampak negatif dari salaf faham tentang fiqhul waqi. Lihat secara panjang lebar dalam buku Fiqhul Waqi’ Baina Nadhoriyyah wa Tahtbiq hlm. 44-60 karya Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi.
[16] Idem hlm. 39-41
[17] Wujub Tho’athis Shulthon fi Tho’atir Rohman -secara ringkas-, Muhammad al-‘Uraini hlm. 44-45, dari Madarikun Nadhor, Abdul Malik Romadhoni hlm. 199-200
[18] Idem. hlm. 48 dan 57.
[19] Siyar A’lam Nubala 18/206. Adz-Dzahabi berkomentar: “Syairnya Ibnu Hazm ini sangat indah sekali sebagaimana engkau lihat sendiri”.
[20] Mawarid azh-Zhom’an 3/4, Syaikh Abdul Aziz as-Salman.
[21] Sual wa Jawab Haula Fiqhil Waqi’, al-Albani hlm. 59-60.
[22] Majalah Robithah Alam Islami, edisi 313, dinukil dari Qowa’id fi Ta’amul Ma’a Ulama, Abdur Rahman Mu’alla al-Luwaihiq hal. 108.
[23] Membongkar Kebohongan Buku Mantan Kiai NU.. hlm. 244.
Faedah: Para penulis buku “Membongkar Kebohongan Buku Mantan Kiai NU…” dalam hujatan mereka terhadap al-Albani banyak berpedoman kepada buku “Fatawa Syaikh al-Albani wa Muqoronatuha bi Fatawa Ulama” karya Ukasyah Abdul Mannan, padahal buku ini telah diingkari sendiri oleh Syaikh al-Albani secara keras, sebagaimana diceritakan oleh murid-murid beliau seperti Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi dan Syaikh Salim al-Hilali. (Lihat Fatawa Ulama Akabir Abdul Malik al-Jazairi hlm. 106 dan Shofahat Baidho’ Min Hayati Imamil Al-Albani Syaikh Abu Asma’ hlm. 88). Dengan demikian, jatuhlah nilai hujatan mereka terhadap al-Albani dari akarnya. Alhamdulillah.
[24] Lihat As-Salafiyyun wa Qodhiyyatu Falestina hal. 14-37. Lihat pula Silsilah Ahadits ash-Shohihah no. 2857, Madha Yanqimuna Minas Syaikh, Muhammad Ibrahim Syaqroh hlm. 21-24, al-Fashlul Mubin fi Masalatil Hijrah wa Mufaroqotil Musyirikin, Husain al-Awaisyah, Majalah Al-Asholah edisi 7/Th. II, Rabiu Tsani 1414 H.
.
[25] Syaikh al-Albani mengatakan: “Sesungguhnya apa yang ditulis oleh saudara yang mulia Muhammad bin Ibrahim Syaqroh dalam risalah ini berupa fatwa dan ucapanku adalah kesimpulan apa yang saya yakini dalam masalah ini. Barangsiapa yang menukil dariku selain kesimpulan ini, maka dia telah keliru atau pengikut hawa nafsu”.

bagaimana dengan al bani sendiri yang mencela dan menzolimi banyak ulama dan syaikh2? terutama syaikh2 azhar? apa diabukan org yang menzolimi org lain? sampai mengatakan qardawi anjing, dan sya’ rowy ulama yang mengubah aqidah? lebih2 menyalah2kan sahih bukhari dan muslim?
Akhi Hendri, semoga Allah menambahkan ilmu bagi anda.
1. Kita harus selektif terhadap berita. Maka dengan tidak mengurangi penghormatan saya kepada anda, kami harap anda menunjukkan di kitab mana syaikh al-albani menggelari Syaikh Yusuf al-Qorodhawi dengan kata “anjing”?!
2. Masalah tuduhan bahwa Syaikh albani mencela ulama dan menyalah-nyalahkan shahih bukhori dan muslim, saya berharap antum membaca buku saya “Syaikh Al-Albani Dihujat”, cet Salwa Press, karena saya telah menjelaskan secara panjang tentang dustanya ucapan ini.
3. Adapun kritikan beliau kepada sebagian ulama atau syaikh, maka itu adalah kritikan dengan adab dan ilmu, maka jangan dianggap sebagai celaan, harus dibedakan antara keduanya. Al-Hafizh Ibnu Rojab punya kitab berjudul “Al-Farqu Baina Nashihah wa Ta’yir” (perbedaan antara nasehat dan celaan).
assalamualaikum,
salam kenal dari saya HILMAN di depok
terimakasih atas semua penjelasan Abu, mudah mudahan semua umat muslim yang masih berpegang teguh dengan sunah rosul selalu mendapat perlindungan,taufik dan hidayah dari ALLAH yang mempunyai alam semesta ini, saya mau tanya kepada pa Abu,saya mau beli buku buku tentang islam tapi saya tidak tau nama pengarang yang bermanhj salaf yg selalu brpegang tegu dengan sunah, mak lum pa Abu saya ini masih awam tentang islam,
semoga syariat islam dapat di tegakkan kembali, Amiin
wassalam
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Sesungguhnya setiap buku karangan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani yang ana ada dan Alhamdulillah sudah dibaca, di Mukadimah selalu beliau menekankan tentang IKHLAS. Hari yang tiada lagi bermanfaat harta dan anak bagi pemiliknya kecuali bagi mereka yang datang menghadap Tuhannya dengan hati yang ikhlas. Sesungguhnya setiap ilmu yang dicari harus dengan hati yang ikhlas, akan sirna semua kebatilan dan yang benar mengharapkan wajah Allah.
Jazakumullahu khairon katsiran atas penambahan ilmu.
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
kita mesti saling menghormati ulama, maka albany mesti kita hormati tapi dia adalah ulama di abad 20 dan lebih wajar dan lebih pantas lagi kalau kita menghormati pendapat ulama yang terlebih dahulu. walaupun itu tidak sesuai dengan pendapat ulama ikutan kita dan kita semazhab dengan kita. karena sangat berat memaksakan mazhab kita kepada orang yang sudah mempunyai mazhab apalagi mazhab yang sudah diakui sejak dahulu. seperti perkataan imam syafi’i bid’ah terbagi dua : bid’ah hasanah dan bid’ah dolallah. imam ibnu taimiyah juga mencantumkan perkataan ini di kitabnya majmu’ fatawa. Tetapi yang saya heran pendapat sekarang yang mengaku salaf, ingin memaksakan pendapatnya bahwa bid’ah itu semuanya sesat. dan mereka berkata bid’ah itu ada 2 juga yaitu bid’ah agama dan dunia. wahai saudaraku , kalau kalian berkata bid’ah itu ada 2 yaitu agama dan dunia karena ulama kalian membaginya seperti itu. maka biarkan kami juga membaginya menjadi 2 bid’ah hasanah dan dolallah. dan pimpinan kami dalam masalah ini adalah imam as-Syafi’i. dan kami lebih yakin bahwa keilmuan imam as-Syafi’i jauh diatas al-banny , ibn Taimiyah dan ulama sekarang
dan apabila ulama kalian telah sampai tingkat mujtahid maka hasil ijtihadnya bukan berarti dapat membatalkan ijtihad pendahulunya. kalau kalian masih muqollid sampai disinilah perkataan wasalam
Saudaraku Guwa, semoga Allah menyinari hidup anda. Wassalamu alaikum wa rohmatullah wa barakatuh
Imam Syafi’i tidak mengatakan adanya bid’ah hasanah dengan alasan sebagai berikut:
Assalamu’alaikum,
Abu ana izin copas atau share ya dari web ini,
Jazakallah khairan
Ust. apa sih pengertian Bid’ah???
apakah Bid’ah hanya dalam Ibadah?
jangan lah kita terlalu ta’asub terhadap albani.sehigga kita merusak kredibilitas ulama lain……..
Saudaraku Hengki, semoga Allah meluruskan langkah anda. Demi Allah tulisan di atas bukanlah berarti kita ta’ashub kepada Syaikh al-Albani, karena kami tahu bahwa al-Albani juga manusia yang kadang benar dan salah, tetapi pembelaan terhadap ulama atas kedhaliman kpd beliau. Bukankah kita diperintahkan untuk membela kehormatan suadara kita sesama muslim, lantas bagaimana kiranya apabila dia adalah ulama?! Kami juga terkadang menyelisihi beliau dlm bebrapa masalah fiqih, karena yang mnjadi standar kita semua adalah dalil bukan orang.
Saydara Joe, semoga Allah menambah ilmu bagi anda. Bid’ah yang tercela adalah setiap ungkapan pada ritual bid’ah dalam agama yang tidak ada contohnya dari Nabi dan para sahabatnya. Jadi bid’ah yang tercela itu dalam agama/ibadah saja, bukan masalah dunia. Oleh karena itu kaidahanya “asalah dalam ibadah haram sampai ada dalilnya” dan “asal dalam urusan dunia adalah boleh sampai ada dalil yang mengharamkannya”.
Assalaamu’alaykum. ustadzunaa, ana mau tanya bagaimana dengan kitab ini: “Albani Syudzudzuhu wa Akhtha-uhu” karya Al-A’zhami dalam 4 jilid? ustadz pernah dengar? bagaimankah isi kandungannya? objektifkah? benarkah syaikh yang mulia rahimahullah salah dalam menghukumi ratusan hadits? mohon jawaban antum…jujur…seandainya ana bisa untuk tidak taqlid dalam masalah penghukuman derajat hadits kepada Syaikh yang kucintai, Al-Albani atau siapalah,niscaya ana akan lakukan. Hanya saja kita tahu menghukumi status hadits bukanlah perkara kecil…mohon jawaban antum, agar batin ini tenang sebagai seorang muqallid dalam masalah ini. Demi Allah, pahit rasanya jadi muqallid…
Ketika membaca kitab antum ust sidawi, sungguh sangat tidak layak sekali didalam suatu kitab yang diterbitkan oleh penerbit ternama pula yang isinya sungguh MENGGELIKAN SEKALI.. kalau tidak salah seperti ini… ATAU YANG DEKAT-DEKAT DENGAN INI..
“SIAPA ALI MUSTAFHA YA’QUB DI BANDING DENGAN AL-BANI”….
duuh, sangat mengecewakan sekali… sungguh KECELAKAAN dibidang keilmuan indonesia… para DOSEN, S1, S2, bahkan para DOKOTOR DAN PROFESOR sangat kecewa dengan tulisan anda syehk…..
kalau saya balikkan kata-kata anda dengan….
“SIAPA ABU UBAIDAH AS-SIDAWI DIBANDING PROF. ALI MUSTAFA YA’QUB??”
……………….ATAU……………….
“SIAPA AL-BANI DIBANDING ALI MUSTAFA YA’QUB??”
…………..ATAU…………..
“SIAPA AL-BANI DIBANDING DENGAN IMAM AN-NAWAWI ATAU IBNU HAJAR AL-ATSQOLANI ATAU IMAM BUKHARI….”
KITA TAU PROF. ALI MUSTAFA YA’QUB MEMPUNYAI SANAD HADITS DARI PAKAR-PAKAR HADITS TERKEMUKA… CONTOH PROF. DR. M.M. AZAMI DAN LAIN-LAINNYA.. DAN SUDAH DILEGITIMASI OLEH DR. WAHBAB ZUHAILI PENULIS BUKU FIQHUL ISLAM WA ADILLATUH SERTA TAFSIR AL-MUNIR…
LAH AL-BANI PUNYA SANAD DARI SIAPA???? ATAU DAPAT LEGITIMASI DARI SIAPA??? GURU-GURUNYA SIAPA SAJA….
AYO TUNJUKAN KITAB APA HALAMAN BERAPA,, BESERTA KREDEBELITAS GURU GURUNYA…..
INI HADITS LOOO…. BUKAN MAIN-MAIN…..
TERUS ANDA UST, JANGAN NGOMONG SEMBARANGAN LAH TENTANG INI….
BAGAIMANA KALAU ADA ORANG BERKATA..
“ABU UBAIDAH AS-SIDAWI PUNYA SANAD DARI MANA??… GURU-GURU DIA SIAPA SAJA??? ATAU SUDAH MENDAPAT LEGITIMASI DARI SIAPA SAJA..???”
iNGAT UST… MENDAPAT LEGITIMASI ITU SANGAT SUSAH… HARUS MENJALANI BERBAGAI MACAM TEST… SAMA SEPERTI AL-BUKHARI DI TEST KETIKA INGIN MENDAPATKAN LEGITIMASI….
ANDA JANGAN MENANYAKAN “MANA BUKU YANG MENJELASKAN AL-BUKHARI DI LEGITIMASI DAN DI TEST…” HAL BERAPA CET MANA….” KARENA ANDA JUGA SUDAH TAU HAL ITU….
TIDAK SEMUA HARUS DI CETAK DALAM BUKU SYEH… APALAGI AL-BANI YANG BARU KEMAREN-KEMAREN INI BERSAMAAN DENGAN YUSUF AL-QORDLAWI…..
KEMUDIAN….. MASIH BERKAITAN DENGAN DIATAS….
ADA PERTANYAAN…
“SETELAH AL-BANI DI MINTA MENJADI DOSEN HADITS DI JAMI’AH ISLAMIYAH MADINAH…. TIDAK LAMA DARI ITU MENGAPA DIA DI KELUARKAN/DI MINTA TIDAK MENJADI DOSEN LAGI=TIDAK MENGAJAR LAGI….. MENGAPA INI? DI MINTA MASUK, GAK LAMA KOK DI MINTA KELUAR??”… INI FAKTA SEJARAH LO….. JANGAN TANYA DARI KITAB MANA HALAMAN BERAPA….. SEMUA SUDAH TAU ITU…..
DUUHH,,, KECELAKAAN DI BIDANG ILMU SUDAH MERAJALELA…….
SEMOGA ANDA MENDAPATKAN PETUNJUK… AMIN YA ALLAH, AMIN YA ALLAH…..
YA ALLAH,, JAGALAH AGAMA INI DARI ORANG-ORANG YANG TIDAK MENGERTI…… FAHAMKANLAH ORANG-ORANG YANG TIDAK MENGERTI YA ROBB… AMIIIN.
Akhi Ibnu Shalih
kitab “Al-Albani Syudzudzuhu wa Akhtouhu”, karya Syaikh Habiburrahman a’zhami yang sebelumnya atas nama Arsyad as-Salafi, isinya banyak celaan dan cercaan yang jauh dari akhlak Islami, banyak kesalahan, dan fanatik buta terhadap madzhab Abu Hanifah,
Telah dibantah oleh Syaikh albani sendiri dalam Ar-Roddu ala Arsyad as-Salafi, Syaikh Ali Hasan dan Salim al-Hilali dalam Ar-Radd Ilmi ala Habibirrahman a’zhami, Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini dalam Nab’ul Amani fi Tarjamti Syaikh albani, Syaikh Dr. Ashim al-Qoryuthi dalam Majalah Salafiyyah. (Lihat buku kami “Syaikh Albani Dihujat” hlm. 65-67)
Akhi Ustadz Ahmad Khoiruddin al-Bantani -saddadahullahu-.
Nah, sekarang anda tahu kan sebabnya. Makanya, jangan suka sama gosip dan jangan tergesa-gesa su’u zhon terhadap ulama. Semoga Allah menunjuki jalan anda untuk mencintai para ulama sunnah dan membersihakan hati anda dari kebencian kpd mereka.
Aduh, cukup sampai di sini aja dulu. Entar kalau terlalu panjang, khawatir capek bacanya. was Salam.
Cuma ingin mendoakan antum “JAZAAKALAH KHAIR”…
Subhanallah… Ust Abu Ubaidah bahasa anda sungguh lembut,…
Ana semakin yakin dengan manhaj salaf ini Insya ALLAH…
Subhanalloh. Jazakumulloh khoiron katsiron
Barokallohufik ya Abu Ubaidah
Assalaamu’alaikum
mau tanya ustadz,
saya pernah baca di internet, artikel seperti sumber dibawah ini :
yang menyatakan bahwa syaikh albani telah membid’ahkan fiqh madzhab dan mempunyai faham anti madzhab dan malah dituduh ingin meruntuhkan syariah islam. disitu juga terjadi diskusi antara Syaikh Albani dan Dr. Said Ramadhon Al Buthi, bisa dijelaskan siapa ulama ini (Al Buthi)?
Terus terang saya sebagai orang yg baru belajar manhaj salaf jadi bingung, krn persepsi saya setelah baca artikel tersebut, bhw syaikh albani melakukan bid’ah paling merusak dan ingin meruntuhkan syariah islam, dan juga syaikh Albani berselisih pendapat dengan 4 imam madzhab yg ada (Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hambali)
mohon penjelasannya ustad, makasih
Untuk saudaraku abdurrohman, semoga Alloh menghilangkan kebingungannya.
Syaikhul Albani sendiri pernah ditanya tentang tuduhan ini, lalu beliau menjawab menukil ucapan seorang penyair
Orang lain yang berbuat jahat tapi saya yang kena getahnya
Seakan-akan diriku seperti jari seorang yang menyesali dirinya
Benar, orang yang mengenal Syaikh albani, pasti akan mengetahui bahwa ini adalah kedustaan terhadap beliau.
Tatkala beliau mengajak manusia untuk kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah dengan pemahaman salaf shalih dan mengngkari fanatsime madzhab, beliau dianggap mengingkari madzhab, padahal inilah metode yang dianjurkan oleh imam-imam madzab sendiri yaitu agar mengambil Al-Qur’an dan Sunnah, bukan fanatik atau taklid buta kpd imam tertentu.
Kesimpulannya, ini adalah tuduhan dusta, bahkan yang sebenarnya, beliau sangat menghormati para imam madzhab semuanya tanpa pilih-pilih dan menganjurkan untuk memahami ilmu dengan bantuan kitab-kitab ulama madzab. (Lihat lebih luas kitab Al-Manhaj Salafi Inda Syaikh Albani hlm. 250-257 oleh Syaikh Amr Abdul Mun’im dan As-Salafiyyah oleh Syaikh Albani hlm. 137-141).
Adapun buku Syaikh Dr. Said al-Buthi tentang masalah ini, sudah dibantah oleh Syaikh Muhammad Ied Abbasi dalam kitabnya “Bid’ah Ta’ashub Madzhabi”.
Semoga dengan penjelasan ini, kebingiungan anda menjadi hilang. Amiin Yaa Robbal alamin.
Assalamu’alaikum.. wr.. wb..
Ma’af ustazd… saya akan tanggapi masalah anda…. taqlid itu wajib bagi orang awam… termasuk anda juga masih taqlid kepada Ulama anda… Al_Bani, Bin Baz, Dan Utsaimin… taqlid dalam masalah agama tidak asal-asalan mengambil istimbat dari al-Qur’an dan Sunnah…..
bagaimana coba kalau yang di ikuti itu orang bodoh…?? maka yang mengikuti jadi bodoh…. bagaimana jika mengambil istimbat sendiri lalu mengabaikan kaedah-kaedah yang ada… ingat ustad….,,, MENJADI MUJTAHID ITU TIDAKLAH MUDAH.. SAMPAI YUSUF AL-QORLDAWI SENDIRI HANYA MENCAPAI MUJTAHID MUTLAQ/FATWA.. BUKAN MUJTAHID MAZHAB…
dan ANDA PUN BELUM MENCAPAI DERAJAT MUJTAHID MAZHAB DALAM HAL INI…..
DAN DI DUNIA SEKARANG INI TIDAK ADA MUJTAHID MAZHAB…
1. Sekarang kalau Ulama setingkat Wahbah Zuhaily, Imam Nawawi al_Bantani, Al_thobari saja menganut ajaran imam mazhab 4… apalagi kita???
2. coba perhatikan contoh taqlid buta di dalam al_qur’an.. tentang orang kafir… dibawah ini. al_baqoroh ayat 170. :
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آَبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ
Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.
sekarang kita artikan TIDAK MENGETAHUI = JAHIL
kita artikan TIDAK MENDAPAT PETUNJUK = KAFIR
berarti sama dong anak-cucu dengan nenek moyangnya dalam kekafiran dan kebodohan….
SEKARANG IMAM SYAFI’I, AHMAD, HANAFI, MALIKI,,, SIAPA MEREKA??? APAKAH ORANG BODOH??? APAKAH ORANG KAFIR???
KITA SETUJU BAHWA MEREKA ADALAH ORANG-ORANG YANG HEBAT, ‘ALIM ALLAMAH(ALIM YANG MENGAMALKAN ILMUNYA), MUKMIN SHOLEH…. BERARTI KITA YANG MENGIKUTINYA TERMASUK ORANG-ORANG YANG IKUT KECIPRATAN HEBATNYA, SHOLEHNYA, DAN TAQWA.. SEMOGA ANAK-CUCU KITA SEPERTI MEREKA… AMIN..
LALU KETIKA USTAD ABU UBAIDAH MELARANG TAQLID MAZHAB,, UMMAT INI… KHUSUSNYA BANG ABDURRAHMAN,, MAU TAQLID SAMA SIAPA??? LAH UJUNG-UJUNGNYA BERTANYA SAMA UTADZ ABU LAGI… DAN TAQLID LAGI UJUNG-UJUNGNYA… KALAU TIDAK MENDAPATKAN JAWABAN DARI USTAD ABU,, LAH BANG ABDURRAHMAN TANYA LAGI SAMA ORANG LAIN…. INI KAN NAMANYA TAQLID USTAD ABU.. SAYA YAKIN USTAD ABU SENDIRI TAQLID KOK SAMA GURU-GURU DAN FATWA-FATWANYA….
SILAHKAN DIRENUNGKAN!!!!
Ahmad Khoiruddin Al_Bantani
oya, saya tidak tau bahwa anda menanggapi persoalan di kolom yang satunya di sini…
baik,,, saya akan jelaskan sama anda….. biar jelas…. dan agar tidak terjadi saling merendahkan sana-sini… Dan akan menjadi WACANA bagi saudara kami yang lain… artikel sudah saya siapkan…. saya mau kuliah dulu ustad….. ..
…tapi Inya Allah akan saya bandingi tulisan dan argumentasi ustad…..
Jazakallah khair ya Ust Abu Ubaidah …..semoga para penentang dakwah tauhid dan sunnah diberi Hidayah oleh Allah Subhana wa ta’ala…
@ Al Akh Al Bantani
sepertinya antum hendak mengatakan bahwa antonim dari taqlid adalah ijtihad, sehingga bagi orang awam ada kewajiban taqlid karena mereka haram berijtihad.
ini adalah kesalahan fatal. lawan dari taqlid bukanlah ijtihad, melainkan ittiba’. para imam seperti Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali dan lainnya juga melarang dari taqlid kepada mereka.
para imam selalu menyandingkan antara haramnya taqlid dengan wajibnya ittiba’. memang para imam yang antum sebutkan tadi bukan manusia bodoh, sehingga mereka kompeten untuk dijadikan panutan. tapi mereka manusia biasa yang bisa benar dan salah.
Teruskan dakwah tauhid ini ustadz, semoga Alloh menguatkan, menetapkan keimanan kita. dan buat penentang dakwah tauhid smg Alloh memeberi hidayah sehingga mereka bisa membedakan mana yg benar dan mana yg salah, amin!
Albani sebenarnya secara tidak langsung pernah mengakui kesembronoannya dalam menilai hadits. Ini dapat terlihat dg gamblang dalam kitab “taraju’ul al’allamah al-albani fima nashsha ‘alaiyh tashhihan wa tadl’fan” (ralat albani atas penjelasannya mengenai penilaian sahih dan dha’if). Dalam kitab ini, albani megaku terus terang kesalahannya dalam menilai shaih dan dloifnya hadits yg pernah ia tulis. Dalam kitab ini albani meralat penilaiannya atas 621 hadits yg sebenarnya shohih tetapi ia nilai dlo’if dan sebaliknya. Jumlah kesslahan 621 bukan sedikit jika dikaitkan dg gelar “almuhaddits” yg disandangkan oleh para pengikut2nya. Masihkah layak disebut muhaddits? pantaskah disandingkan dg nama besar Imam Suyuthi dan para hafidz hadits yg lain?
Pengakuan ini dalam satu sisi memang mengagumkan, karena dia secara terus terang mengaku salah/keliru sebagai bentuk tanggung jawab, tetapi dari sisi lain juga menunjukkan atas kapasitas albani yg sebenarnya dalam menilai hadits ternyata tidak seperti yg di banggakan para pengikutnya.
Jazakllah khoiran katsiran, ustd. Abu Ubaidah
Ades Satria, semoga Allah menambahkan ilmu baginya.
Gelar “Al-Muhaddits” untuk Syaikh al-Albani bukanlah dari beliau, bahkan karena tawadhu’nya beliau tidak ridho dengannya. (Lihat Su’alat Al-Halabi lis Syaikh al-Albani 1/75).
Gelar tersebut dari para ulama sunnah dan para ahli hadits yang hidup sezaman-nya , bahkan oleh musuh-musuh beliau sendiri, bahkan beliau mendapatkan piagam penghargaan Raja Faishol atas jerih payahnya dalam hadits. (Lihat secara luas dalam buku kami Syaikh Al-Albani Dihujat hlm. 71-82)
Adapun adanya beberapa ralat beliau, maka hal ini tidak mengurangi kehebatan beliau dlm hadits, bahkan hal itu mengangkat derajatnya karena beliau tidak sombong kembali kpd kebenaran sebagaimana beliau sendiri sering mengatakan: “Ilmu tidak mengenal kejumudan”. Kemudian kesalahan tersebut bila dibandingkan dengan jumlah hadits yang dihukumi oleh al-Albani maka terhitung sedikit, karena hadits yang beliau hukumi sangat banyak sekali jumlahnya, puluhan ribu mas!!!
Kebahagiaan dan Cahaya Kelembutan Nya swt semoga selalu menaungi hari hari anda dan keluarga,
Saudaraku yg kumuliakan,
beliau itu bukan Muhaddits, karena Muhaddits adalah orang yg mengumpulkan hadits dan menerima hadits dari para peiwayat hadits, albani tidak hidup di masa itu, ia hanya menukil nukin dari sisa buku buku hadits yg ada masa kini, kita bisa lihat Imam Ahmad bin Hanbal yg hafal 1.000.000 hadits (1 juta hadits), berikut sanad dan hukum matannya, hingga digelari Huffadhudduniya (salah seorang yg paling banyak hafalan haditsnya di dunia), (rujuk Tadzkiratul Huffadh dan siyar a’lamunnubala) dan beliau tak sempat menulis semua hadits itu, beliua hanya sempat menulis sekitar 20.000 hadits saja, maka 980.000 hadits lainnya sirna ditelan zaman,
Imam Bukhari hafal 600.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya dimasa mudanya, namun beliau hanya sempat menulis sekitar 7.000 hadits saja pada shahih Bukhari dan beberapa kitab hadits kecil lainnya, dan 593.000 hadits lainnya sirna ditelan zaman, demikian para Muhaddits2 besar lainnya, seperti Imam Nasai, Imam Tirmidziy, Imam Abu Dawud, Imam Muslim, Imam Ibn Majah, Imam Syafii, Imam Malik dan ratusan Muhaddits lainnya…..
Lanjutan…..
Muhaddits adalah orang yg berjumpa langsung dg perawi hadits, bukan jumpa dg buku buku, albani hanya jumpa dg sisa sisa buku hadits yg ada masa kini.
Albani bukan pula Hujjatul Islam, yaitu gelar bagi yg telah hafal 300.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya, bagaimana ia mau hafal 300.000 hadits, sedangkan masa kini jika semua buku hadits yg tercetak itu dikumpulkan maka hanya mencapai kurang dari 100.000 hadits.
AL Imam Nawawi itu adalah Hujjatul islam, demikian pula Imam Ghazali, dan banyak Imam Imam Lainnya.
Albani bukan pula Alhafidh, ia tak hafal 100.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya, karena ia banyak menusuk fatwa para Muhadditsin, menunjukkkan ketidak fahamannya akan hadits hadits tsb,
Abani bukan pula Almusnid, yaitu pakar hadits yg menyimpan banyak sanad hadits yg sampai ada sanadnya masa kini, yaitu dari dirinya, dari gurunya, dari gurunya, demikian hingga para Muhadditsin dan Rasul saw, orang yg banyak menyimpan sanad seperti ini digelari Al Musnid, sedangkan Albani tak punya satupun sanad hadits yg muttashil.
berkata para Muhadditsin, “Tiada ilmu tanpa sanad” maksudnya semua ilmu hadits, fiqih, tauhid, alqur;an, mestilah ada jalur gurunya kepada Rasulullah saw, atau kepada sahabat, atau kepada Tabiin, atau kepada para Imam Imam, maka jika ada seorang mengaku pakar hadits dan berfatwa namun ia tak punya sanad guru, maka fatwanya mardud (tertolak), dan ucapannya dhoif, dan tak bisa dijadikan dalil untuk diikuti, karena sanadnya Maqtu’.
apa pendapat anda dengan seorang manusia muncul di abad ini lalu menukil nukil sisa sisa hadits yg tidak mencapai 10% dari hadits yg ada dimasa itu, lalu berfatwa ini dhoif, itu dhoif.
(jawaban habib munzir al musawwa mengenai al albani) bagaimana tanggapan anda akh…hehehe
Tanggapan saya yang kedua…dengarkan neh ya
Sebaiknya kita lebih berhati hati jangan terlalu mudah mencela ulama karena kita orang awam….mengenai syaikh ala albani menurut saya fatwa fatwa yang dikeluarkannnya tentu ada benarnya ada salahnya wong namanya juga manusia begitu juga imam imam yang dulu apalagi kita orang yang awam…tapi……..kalau ada dua pendapat misalnya fatwa imam as syafii dan syaikh ala albani…jujur saja ana lebih memilih pendapatnya imam as syafii karena alasan berikut :
imam syafii punya sanad guru,jelas kan sedangkan al albani menurut biografi yang saya baca ia belajar ilmu hadist secara ototidak lihat wikipedia kalau gak percaya dan orang yang punya sanad lebih saya percayai
Wong yang belajar dengan guru saja kadang ada salahnya apalgi yang belajar cuman dari buku
contoh;
orang belajar dari guru dan buku maka ada penjelasan yang gamblang dengan praktek dari gurunya yang ia dapat dari gurunya gurunya dari gurunya dst (bersanad) sedangkan yang belajar dari buku ya cuman tahu secara leterlek tanpa ada penjelasan yang lebih rinci…….ya gak
kesimpulannya: kalau ada masalah atau perbedaaan pendapat ulama saya lebih tsiqoh merujuk pada imam yang empat khususnya imam syafii karena madzab saya madzab syafii
dan bermadzab itu tidak tercela bagi orang awam dan saya kira orang-orang zaman sekarang ini banyak yang awam jadi gak papa taklid ma salah satu imam….yang tidak taklid itu orang berilmu kayak imam ahmad ia tidak bertaklid kepada gurunya imam syafii karena ia orang berilmu ahli hadist hafal al quran menguasai ilmu fiqih ilmu ushul fiqih dll ….coba tanya kita berapa surat yang kita hafal berapa hadist yang kita tahu ,jadi kalau ada orang yang melarang taklid pada zaman ini sya rasa BERKEPALA BESAR,SOK BERILMU ,KEMAKI (bahasa jawa)……….tahu ilmu fiqih ilmu hadist ndak hafal alquran ndak kok gak mau taklid pada ulama yang ahli dibidangnya…..
Assalaamu’alaikum.
Maaf, saya orang awam (telaah saya terhadap kitab ‘ulama sangat2 terbatas) dan saya tertarik dengan pernyataan mas roel pada komentar pertamanya pada paragraf pertama, maka muncul rasa igin tahu saya, sehingga saya ingin bertanya kepada mas roel:
1. Apa benar imam Ahmad hafal 1 juta hadits? 1 juta yang dimaksud disini adalah satu juta matan atau satu juta sanad sehingga satu matan memiliki beberapa sanad jadi matannya kurang dari satu juta tapi sanadnya mencapai satu juta?
2. Pengertian muhaddits yang anda sampaikan diatas itu ada dikitab apa ya?
3. 980.000 hadits hilang ditelan zaman? apakah ini benar? Lalu bagaimana dengan otentisitas agama kita ini? apakah agama kita ini masih sempurna dengan hilangnya 980.000 hadits? ini bukan jumlah yang sedikit lho mas, apalagi kalo didalamnya terdapat perkara2 ahkam dan ‘aqiidah. Maka jangan2 dari gerakan shalat kita ini ada yang kurang? Dan jangan2 ‘aqidah kita ini ada yang kurang pula?
4. Seandainya benar bahwa 980.000 hadits telah hilang lalu apakah semua hadits yang hilang itu adalah hadits maqbul yang bisa dijadikan hujjah?
Sekian pertanyaan saya untuk paragraf pertama dari komentar anda yang pertama. Jujur, saya benar2 ingin tahu…Ntar kalo hal ini dah terjawab, maka kita akan lanjut ke paragraf2 selanjutnya ya mas…salam dari saudaramu yang masih muqallid ini.
Assalamua’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh
Barokallohufik.
Ustadz, terima kasih atas artikelnya. ana semakin yakin dengan Manhaj Salafus Shalih.
U. akh roel:
Berhati2 akh….sebaiknya ajh dalam menulis dg kata yg baik.
Klo akh gak setuju dengan Ustadz..mohon akh buat bantahanya.
Afwan, coba akh Roel cantuman biodata akh…
biar ana yg awam bisa tau tentang kualitas keilmuan akh..
Untuk ibnu Shalih….afwan akh ana juga masih awam kurang berilmu…pernyataan itu bukan dari saya seperti yang saya tulis di bagian akhir tulisan saya itu adalah tanggapan habib munzir al musawa mengenai syaikh al albani yang saya dapat di situs majelis rosulullah…..dan saya kira ilmu saya tidak ada apa2nya dengan antum….jadi saya belum bisa menjawab pertanyaan antum karena keterbatasan ilmu,saya malah takut nanti malah jatuh kepada dosa dan pelanggaran…antum tanyakan saja kepada habib munzir al musawa di majelis rosulullah karena Dia lebih mengetahui…
kepada tatang: Afwan akh tatang jika antum merasa tersinggung…bukan maksud saya menghina ustad atau melecehkannnya….saya sadar diri kok ana gak ada seujung kuku hitamnya soal ilmu…..jadi saya mohon maaf jika ada yang tersinggung dari tulisan saya…..saya cuman mau mengungkapkan yang ada dalam hati saya melihat perdebatan soal ini….
kayaknya kalau saya teruskan nanti malah kemudhorotannnya lebih besar daripada maanfaatnya.
Jazakallah khoiron katsiron
Untuk Saudaraku Roel
Waiyyaaka, Jazaakallahu khairan katsiiran
Memang sepatutnya orang yang cetek ilmu (Muqallid) seperti kita berdua ini, lebih baik hati2 jika berbicara agama dan selalu tawadhu’ seperti yang diperintahkan oleh Rabbunaa ‘Azza Wa Jalla dan Kekasih kita Rasuulullah Shalawatullah wa Salaamuhu ‘alihi…karena yang saya yakini bahwasannya “mengeluarkan sebuah pernyataan adalah hal yang mudah tapi melandasinya dengan argumentasi yang kokoh dan teruji adalah lain soal”. Wallahua’lam.
sukron, untuk ust Abu Ubaidah, Jazakallohu Khoiron
uda ga usah pada ribut, ga usah takliq buta, yang penting ente-ente pada doyan ama ngaji yg bener, tau siapa guru kita, silsilah guru kita, guru kita belajar apa siapa, sampe ga guru kita ngajinya/nyambung ke Rosulullah SAW, gitu aja repot
sdh mjd sunnatulloh penentang dawah tauhid akan selalau ada…trskan dawah nya ustadz…..sesungguhnya ahlul bid’ah merasa gerah dg semakin tersebarnya dawah tauhid, dawah yg mengajak kpd alquran & sunnah ala fahmi salaf…..smg penentang dawah tauhid dibukakan hatinya oleh Alloh Jalla wa ‘ala shg mau menerima kebenaran
bukankah Al Muhaddits adalah ahli hadits. dan bukankah ahli hadits adalah orang yang menguasai ilmu hadits. seperti ahli fisika yang menguasai ilmu fisika, ahli matematika yang menguasai ilmu matematika dan sebagainya.
kesempurnaan penguasaan ilmu hadits oleh Syaikh Al Albani sudah diakui baik dari kawan maupun lawan. kalau penguasaan ilmu hadits sudah sempurna, tentunya tidak perlu diragukan lagi bahwa beliau adalah seorang ahli hadits.
wew..mana yang benar?tak doakan aja, siapa yg bsk sandalnya hilang berarti salah jalannya..amin.
senyum dikit dong.
assalammu’alaykum
alhamduillah, syukron abu ubaidah atas ilmunya, ana jadi paham sekarang siapa Syaikh Al-Abani.
@ akhi roel: afwan sebelumnya,menurut ana situs wikipedia tidak bisa dijadikan sumber terpercaya, karena situs tersebut dapat disunting oleh berbagai pihak dan dapat disalahgunakan untuk memberikan informasi yang salah.
Jazakalloh khoiron
udah tadz apakah antum selalu mendakwahkan tauhid, lako udah ana ingin bertanya apa makna dari kalimat syahadat tauhid dan syahadat rosul. rukun islam ada 5. nomor dua sampai no lima ada niatnya, berarti untuk no 1 pasti juga ada niatnya, tolong tadz ana apa niatnya sahadat. maskur
anda perlu tau dari awal
Islam untuk Pemula silahkan kunjungi
Tauhid Pemula
http://kajian.net/bagian/1-kajian/5-islam-untuk-pemula.html
syukran. ust terus kn dakwah salafiyah ini!!
ustadz abu ubaidah,semoga alloh ta’ala selalu menolong anda untuk menyebarkan dakwah yang berkah ini dan menolong anda untuk menghancurkan syirik dan bid’ah.Dan para pencela ‘ulama sunnah kelak mereka akan tahu akibatnya..!
بارك الله فيك أيها الأستاذ و سدد خطاك و نور سبيلك
subhaanallah.. Ustadz, coba liat. Dr bbrapa kmentator diatas ada yg mnyingkat kalimat “سبحان الله و تعالى” dg “swt”.. Apakah hal tsb trmasuk adab yg baik trhadap lafadhz jalaalah??
Smoga ustadz ttp sbar dlm brdkwah..
Lanjutkan..
جزاك الله خيرا
betul sekali,,terkadang ahlul bidah gerakan,,karena tkut bidahnya terbongkar kebusukannya yg merusakkemurnian agama islam
@ Al Akh Abimanyu: semua amal itu tergantung niatnya. termasuk rukun Islam no 1, yakni syahadatain. hanya saja yang tidak dipahami, bahkan oleh orang2 yang dianggap berilmu, niat itu tempatnya di dalam hati, bukan urusan lisan.
Ustadz Abu Ubaidah, maaf saya kembali lagi….. untuk tulisan saya tentang al_albani sudah saya tulis…. tapi bukan di Web ini.. coba buka di Web —-edited—–
==========
admin: Insya Allah, link-nya sudah kami kirimkan ke situs ustadz Abu Ubaidah.
afwan..ini tanggapan ustadz terhadap ahmad khoiruddin tentang masalah taqlid..kok ga dibahas ya? penting sekali ini untuk ummat yang sedang kebingungan..