Studi Kritis Burdah Al-Bushiri
oleh:

Pengantar
Bagi sebagian kalangan warga Indonesia, “Burdah Al-Bushiri” bukanlah hal yang asing, lantaran buku itu kerap dibaca dalam acara-acara tertentu secara bersama dan bergilir dari rumah ke rumah pada setiap bulan, minggu, bahkan oleh sebagian orang dibaca setiap hari di rumahnya bersifat individual.
Di kampung Arab Bondowoso diceritakan, bahwa acara pembacaan Burdah bersama tersebut merupakan warisan turun-temurun dari masyarakat kampung Arab, dan telah mengalami regenerasi yang cukup panjang yaitu sebelum tahun 1970-an, artinya sudah berlangsung kurang lebih selama 34 tahun. (Majalah Cahaya Nabawi No. 33 Th. III Sya’ban 1426 H hal. 56)
Memang, “Burdah Al-Bushiri” ini sangat populer sekali, dibaca dan dikaji di rumah dan masjid seperti halnya Al-Qur’an, kalam ilahi. Lebih dari itu, banyak sekali buku yang mensyarahnya (menjelaskan makna kandungannya), sehingga terhitung lebih dari lima puluh jumlahnya, bahkan sebagiannya ada yang ditulis dengan tinta emas!!
Siapakah Al-Bushiri?
Dia bernama Muhammad bin Sa’id bin Hammad bin Muhsin bin Abdillah ash-Shanhaji al-Bushiri, nisbah kepada kotanya Abu Shir di Mesir, tetapi asalnya dari Maghrib. Dia lahir pada tahun 608 H, dia termasuk ahli di bidang syair tetapi sayangnya dia sangat miskin ilmu, buktinya dia menasabkan diri dan menjadi pembela salah satu tarikat Sufi yang sesat, yaitu tarikat Syadziliyah[1]. Dia wafat pada tahun 695 H. (Lihat Fawat Al-Wafayat 3/362 al-Kutbi, Al-A’lam 6/139 az-Zirakli, Mu’jam Muallifin 10/26 Kahhalah, Syadzarat Dzahab 5/432)
Judul Bukunya
Secara harfiyah “Burdah” memang bermakna selendang. Al-Bushiri membubuhkan judul antologinya dengan nama tersebut bukan berarti tanpa alasan. Sebab, alkisah di zaman nabi dulu ada seorang tokoh yang bernama Ka’ab bin Zuhair. Semula dia adalah seorang penyair non muslim yang tergolong paling radikal menentang dakwah Rasulullah, kemudian dia masuk Islam, lantas menggubah sajak buat Nabi yang isinya kala itu tergolong estetik. Intro puisi itu:
Kudengar kabar
Rasulullah berjanji padaku
Dan ampunan itu
Sungguh jadi tumpuan harapanku.
Untuk itu konon Nabi memberikan selendang beliau kepadanya.
Berdasar mirip dengan cerita di muka, Al-Bushiri mengaku bahwa dirinya juga bermimpi bahwa Nabi memberinya selendang tatkala dia melantunkan gubahan sajak-sajaknya!! (Dikutip dari buku “Burdah, Madah Rasul Dan Pesan Moral” yang dipuitisikan oleh Muhammad Baharun, Majalah Cahaya Nabawi hal. 55)
- Pengingkaran Para Ulama
Para ulama telah bangkit menunaikan tugas mereka dalam menyingkap penyimpangan yang ada dalam Burdah Bushiri, termasuk diantara mereka yang menjelaskan penyimpangannya adalah:
- Asy-Syaukani dalam Ad-Durr An-Nadzid hal. 26,
- Abdur Rahman bin Hasan dalam Rasail wa Masail Najdiyyah 2/33,
- Sulaiman bin Abdillah dalam Taisir Aziz hamid hal. 221-223,
- Abdullah Abu Buthain dalam Naqd Burdah dan Ta’sis Taqdis,
- Mahmud Syukri al-Alusi dalam Ghoyatul Amani 2/350, al-Ustadz Abdul Badi’ Saqr dalam kitab Naqd Burdah,
- dan masih banyak lagi lainnya.
- Beberapa Contoh Penyimpangan
Sebenarnya banyak sekali penyimpangan-penyimpangan yang terdapat dalam Burdah tersebut, namun sekedar contoh kita nukilkan sebagiannya saja. Hanya kepada Allah saja, kita bertawakkal:
1. Al-Bushiri mengatakan:
وَكَيْفَ تَدْعُوْ إِلَى الدُّنْيَا ضَرُوْرَة مَنْ لَوْلاَهُ لَمْ تُخْرَجِ الدُّنْيَا مِنَ الْعَدَمِ
Bagaimana engkau menyeru kepada dunia
Padahal kalau bukan karenanya (Nabi) dia tiada tercipta
Tidak ragu lagi bahwa bait ini mengandung ghuluw (berlebih-lebihan) kepada Nabi, dimana al-Bushiri menganggap bahwa dunia ini tidaklah diciptakan kecuali karena Nabi, padahal Allah berfirman:
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Mungkin saja ucapan di atas bersandar pada hadits palsu:
لَوْلاَكَ لَمَا خَلَقْتُ الأَفْلاَكَ
Seandainya bukan karenamu, Aku tidak akan menciptakan makhluk.
(Lihat Silsilah Adh-Dha’ifah al-Albani no. 282)
2. Al-Bushiri berkata:
دَعْ مَا ادَّعَتْهُ النَّصَارَى فِيْ نَبِيِّهِمْ وَ احْكُمْ بِمَا شِئْتَ فِيْهِ وَاحْتَكِمْ
Tinggalkanlah ucapan kaum Nashara terhadap nabi mereka
Adapun terhadapnya (Nabi Muhammad), ucaplah sesuka anda
Dalam bait ini, dia menganggap bahwa yang terlarang adalah kalau umat Islam mengatakan seperti ucapan orang-orang Nashara terhadap Nabi Isa bahwa beliau adalah Tuhan, anak tuhan dan salah satu tuhan dari yang tiga. Adapun selain itu maka hukumnya boleh-boleh saja.
Ucapan ini jelas sekali kebatilannya, sebab ghuluw itu sangat beraneka macam bentuknya dan kesyirikan itu ibarat laut tak bertepi, artinya dia tidak terbatas hanya pada ucapan kaum nashara saja, sebab umat-umat jahiliyyah dahulu yang berbuat syirik, tidak ada seorangpun diantara mereka yang berucap seperti ucapan Nashara. Jadi ucapan di atas merupakan pintu kesyirikan, sebab menurutnya ghuluw itu hanya terbatas pada ucapan kaum nashara saja.
4. Al-Bushiri berkata:
لاَطِيْبَ يَعْدِلُ تُرْبًا ضَمَّ أَعْظُمَهُ طُوْبَى لِمُنْتَشِقٍ مِنْهُ وَمُلْتَثِمِ
Tiada kebaikan yang melebihi tanah yang menimbun tulangnya
Kebahagiaan (surga) bagi orang yang dapat menciumnya
Dalam bait ini, al-Bushiri menyatakan bahwa tanah yang menimbun tulang-tulang Nabi adalah tempat yang paling utama dan mulia. Tidak hanya itu, tetapi bagi mereka yang menciumnya maka balasannya adalah surga dan kedudukan mulia. Tidak ragu lagi bahwa semua ini adalah termasuk ghuluw yang menjurus ke pintu kebid’ahan dan kesyirikan.
Syaikhul Islam berkata:
“Para imam telah bersepakat bahwa tidak boleh mengusap-ngusap kuburan nabi ataupun menciumnya, semua ini untuk menjaga kemurnian tauhid”. (Ar-Radd Ala Akhna’I hal. 41)
5. Al-Bushiri berkata:
أَقْسَمْتُ بِالْقَمَرِ الْمُنْشَقِّ إِنَّ لَهُ مِنْ قَلْبِهِ نِسْبَةً مَبْرُوْرَةَ الْقَسَمِ
Aku bersumpah dengan bulan yang terbelah bahwa
Ada sumpah yang terkabulkan pada dirinya
Dalam bait inipun terdapat penyimpangan yang amat nyata, sebab bersumpah dengan selain Allah termasuk bentuk kesyirikan.
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَِ
Dari Umar bin Khaththab bahwasanya Rasulullah bersabda: “Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah maka dia telah kufur atau berbuat syirik”. (HR. Ahmad 4509 dan Tirmidzi 1534)
Ibnu Abdil Barr berkata:
“Tidak boleh bersumpah dengan selain Allah untuk apapun dan bagaimanapun keadaannya, hal ini merupakan kesepakatan ulama”. Katanya juga: “Para ulama telah bersepakat bahwa bersumpah dengan selain Allah adalah terlarang, tidak boleh bersumpah dengan apapun dan siapapun”. (At-Tamhid 14/366-367)
6. Al-Bushiri berkata:
يَا أَكْرَمَ الرُّسُلِ مَا لِيْ مَنْ أَلُوْذُ بِهِ سِوَاكَ عِنْدَ حُلُوْلِ الْحَادِثِ الْعَمِمِ
Aku tidak memiliki pelindung Wahai rasul termulia
Selain dirimu di kala datangnya petaka
Perhatikanlah wahai saudaraku bagaimana bait ini mengandung unsur kesyirikan:
a. Dia meniadakan pelindung di saat datangnya petaka selain Nabi, padahal hal itu hanya khusus bagi Allah semata, tiada pelindung kecuali hanya Dia saja.
b. Dia berdoa dan memohon permohonan ini dengan penuh rendah diri, padahal hal itu tidak boleh diperuntukkan kecuali hanya kepada Allah saja. (Taisir Aziz Al-Hamid hal. 219-220)
Al-Allamah asy-Syaukani berkomentar tentang bait ini:
“Perhatikanlah bagaimana dia meniadakan semua pelindung kecuali hamba dan rasul Allah, Muhammad saja, dia lalai terhadap Rabbnya dan Rabb rasulnya. Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un”. (Ad-Durr An-Nadhid hal. 26)
7. Al-Bushiri berkata:
فَإِنَّ مِنْ جُوْدِكَ الدُّنْيَا وَضَرَّتَهَا وَمِنْ عُلُوْمِكَ عِلْمُ اللَّوْحِ وَالْقَلَمِ
Dan termasuk ilmumu adalah ilmu lauh (mahfudh) dan pena.
Diantara pemberianmu adalah dunia dan akheratnya
Dalam bait ini, dia menjadikan dunia dan akherat termasuk pemberian dan milik Nabi Muhammad, padahal Allah berfirman:
Dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akherat dan dunia. (QS. Al-Lail: 13)
Adapun ucapannya “Dan termasuk ilmumu adalah ilmu lauh (mahfudh) dan pena”. Maka ini adalah ucapan yang sangat batil sekali, karena hal itu berarti bahwa Nabi mengetahui ilmu ghaib, padahal Allah berfirman:
Katakanlah: Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghaib kecuali Allah. (QS. An-Naml: 65)
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. (QS. Al-An’am: 59)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat lainnya.
PENUTUP
Demikianlah sekelumit contoh penyimpangan yang terdapat dalam “Burdah” dan komentar seperlunya. Semoga saja hal itu cukup untuk mewakili penyimpangan-penyimpangan lainnya.
Akhirnya kami menghimbau kepada setiap muslim yang terikat dengan qasidah ini hendaknya dia meninggalkannya dan menyibukkan diri dengan kitab-kitab lainnya yang bermanfaat. Dan hendaknya diketahui bahwa hak Nabi Muhammad adalah dengan membenarkan seluruh ucapannya, mengikuti syari’atnya dan mencintainya tanpa kurang atau berlebih-lebihan.
Ya Allah! Saksikanlah bahwa kami sangat mencintai NabiMu dan membenci orang-orang yang tidak mencintai beliau!!. Ya Allah! Tetapkanlah hati kami di atas jalanMu yang lurus sehingga bertemu denganMu.
(Disadur dari Qawaidih Aqdiyyah fi Burdah Bushiri oleh Dr. Abdul Aziz bin Muhammad dan Muqaddimah Dr. Ali bin Muhammad al-Ajlan terhadap kitab Ar-Radd Ala Burdah karya Abdullah Abu Buthain).
[1] Syadziliyyah: Salah satu tarikat Sufi sesat yang populer di sebrbagai negara Islam, dan telah terpecah menjadi beberap keping. Disebut Syadziliyyah karena nisbah kepada pencetusnya Abul Hasan Ali bin Abdillah asy-Syadzili al-Maghribi yang lahir tahun 591 H di kota Aghmat (Maghrib), tumbuh di Syadzilah, sebuah kota dekat Tunis, kepadanyalah dia dinisbatkan, kemudian setelah itu dia pindah ke Mesir dan mempunyai beberapa pengikut di sana. Wafat tahun 656 H. (Lihat Al-Asrar Al-Aliyyah fi Saadah Syadziliyyah hal. 100-141 oleh Ahmad Syarif asy-Syadzili, Al-Al’lam 4/305 az-Zirakli, Mu’jam Muallifin 7/137 Kahhalah).

Kalau punya tali hanya sejengkal, jangamnlah memancing di laut yang dalam. Nanti mengira laut tak ada ikannya, padahal tali anda yang tak sampai ke dasar.
Kayaknya Pak Sidawi harus lanjutin kuliahnya sampe Doktor dech….
seperti Prof.DR. Salim Segaf, MA….. cuma lulusan S1 arab itu baca al-umm aja gak khatam, asybah wan nadzoir aja gak khatam,, semuanya saya yakin jarang yang khatam…
kalau ulama dulu kan tun tas tasssss…. Fatawa Ibnu Taimiyah, bin Baz.. saya yakin dia juga gak pernah hatam… saya juga sangsi kalau dia hafal qur’an…. kayaknya dia gak hafal al-Qur’an.. yang benar-benar hafal……
@ Al Akh Salafi Taubat rohimahulloh
Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS. Yunus [10]: 36)
Waspadalah kalian dari berprasangka, karena sesungguhnya prasangka itu sedusta-dusta perkataan (HR al Bukhari (5/1976, 2253 no. 4849 dan 5717, 6/2474 no. 6345), Muslim (4/1985 no. 2563), dan lain-lain, dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu.)
Ustadz Abu Ubaidah As-Sidawi, semoga Allah menegarkan Anda dan kita semua dalam memegang bara…
saya tidak nyangka-nyangka….. tanyakan saja sama pak sidawi… bener apa enggak… anda itu yang nyomot-nyomot hadits untuk membenarkan kata-kata anda!!! gak sopan….. coba anda udah khtam belum kitab-kitab itu???? ngerti gak!!!
@salafi taubat yg dirahmati Allah Ta’ala…
Perihal benar atau tidaknya ustadz Yusuf sudah hapal Al qur’an atau belum, itu urusan dia dengan Allah Ta’ala. Kita sebagai sesama muslim hendaknya husnudzon pada beliau, bukankah itu yg guru antum ajarkan? Saran ana untuk antum, daripada antum sibuk berprasangka ga karuan spt itu, sampai2 akhi ibnu abi irfan yg ingin memberi nasehat pun ikut kena semprot antum, lebih baik antum membahas mengenai artikel ini spy nyambung, coba kemukakan hujjah dari sisi antum, kita sama2 belajar disini. Ana harap jgn spt komen2 lain yg bisanya hanya menghujat ustadz Yusuf tanpa bisa mengeluarkan hujjah.
Maaf ya akh, kita fair aja disini. Ana liat dari semua komen diatas yg tidak setuju atas artikel ini kebanyakan hanya mengomentari dengan emosi dan malah ada yg mengatai ustadz dengan sebutan t** kucing, wallahul musta’an…sudah tidak adakah lagi hujjah sehingga tega mengatai spt itu?? Dimana adab seorang muslim yg katanya diajari oleh guru yg hapal sanad dan matan hingga 300.000 hadits, hapal kitab2 fiqih, tetapi antum hanya bisa suudzon dan meledek???
Maaf, klo ada kata2 yg menyinggung.
@ Al Akh Salafi taubat rohimahulloh
kalau antum tidak berprasangka, berarti antum yakin bahwa Al Ustadz Abu Ubaidah itu begini dan begitu sebagaimana yang antum katakan. adakah antum mempunyai bukti atas keyakinan antum tersebut?
“Tunjukkan kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (QS. (Al Baqoroh) 2:111)
Untuk salafy taubat dan kawan2nya. Semoga Alloh memberi mereka hidayah dan menghiasi dgn akhlaq yg indah.
Orang bijak pernah mengatakan: “Lihatlah ucapan seseorang bukan orangnya”.
Oleh karenanya, dalam dialog dan debat marilah kita ke inti permasalahan yang sedang dibahas, bukan ke sana dan kemari yang diluar pembahasan, kalau memang dalam artikel kami terdapat kesalahan, maka kiranya dapat dijelaskan dengan hujjah-hujjah yang ilmiah bukan sekedar kata-kata emosional tanpa arti.
Marilah kita jadikan Al-Qur’an dan hadits sebagai hakim dalam setiap perselisihan kita, dan marilah kita kembali kpd kebenaran tatkalah telah jelas bagi kita, tinggalkanlah kesombongan dan fanatik golongan yg kerapkali menghalangi manusia dari kebenaran .
Ingatlah selalu capan Imam Syafi’i berikut tentang adab berdebat: “Tidaklah saya berdebat untuk mencari kemenangan”. beliau juga mengatakan: “Tidaklah aku menyampaikan hujjah kepada seorang lalu dia menerimanya kecuali dia akan bertambah mulian dalam hatiku dan tidaklahHada seorang menolaknya kecuali akan rendah dari hatiku”. Putra Imam Syafi’i berkata: “Saya tidak pernah mendengar ayahku berdebat dengan suara keras”. (Lihat Tawali Ta’sis hlm. 112 oleh Ibnu Hajar). Apalagi mencela atau mengatakan ucapan kotor!!!. Hadakumulloh ikIla Shirotihil Mustaqim
Assalamu ‘alaikum… Setelah ana baca komentar2 di atas, terutama yang tidak setuju dengan isi artikel di atas, maka ana dapat ambil kesimpulan, bahwa yang namanya SILAFI “Tobat”??? n kawan-kawannya yang komentar kesana-kemari, tanpa bukti yang real, hanya berdasarkan hawa nafsunya saja, tidak jauh lebih pintar dari Al Ustadz Abu Ubaidah. Mereka hanya mengatakan si A, Si B, Si anu, Si itu telah begini dan begitu, khatam kitab A, kitab B, dan lain-lain, tapi dari dirinya sendiri tidak ada yang bisa dibanggakan, masih ada di titik “0”. Lihatlah komentar2 mereka, tak ada satupun dalil yang mereka bawakan. Hanya sekedar klaim saja, lebih mengedapankan hawa nafsu, menuduh tanpa bukti, dan lain-lain.
Untuk para penentang dakwah tauhid, ana do’akan semoga Allah memberi mereka hidayah & menghiasi dgn akhlaq yg indah.
Untuk admint ana mohon tidak menampilkan coment yang terkesan jorok.
Untuk Al Ustadz Abu Ubaidah, semoga Allah ta’ala memberi kekuatan dan kemudahan dalam menyampaikan kebenaran dan berdakwah…
Dan yang terakhir, semoga Allah condongkan hati saya, hati ustadz, hati-hati para pembaca dan seluruh kaum muslimin kepada kebenaran….Amin. Jazakallah khairan katsiran
assalamualaikum…. semangat Usatadz Abu Ubaidah,lawan tauhid ya syirik, lawannya sunnah ya bid’ah…. namanya juga sufi kebanyakaan pakai perasaan yang kemudian dituangkan dengan kata2 sehingga yang membaca lagi mendengar sungguh terbuai….
Aduhai ahli burdah sungguh kata-katamu sangat indah lagi syahdu mendengarnya namun engkau tiada hiraukan Al-Qor’an lagi Hadist shohih tiadakah ilmu sampai padamu sehingga manakala kau untaikan kata-katamu hingga bertentangan dengan sunnah,maka tatkala ilmu sampai kepadamu engkaupun menutup hatimu…….. (afwan ana negur pakai syair pula)
Assalamualaikum..salam ukhuwah islamiyah.. Saya ini orang awam yg gak tau apa2. Sebagai orang awam saya ketawa cz lucu bgt kalo sesama muslim saling menyalahkan or saling bantah2an satu sama lainnya.. Ingatlah ajaran islam menyuruh pemeluknya rajin mengaji,mengkaji dan memahami bukan untuk alat saling mencaci maki sesama muslim. Hakikat bid’ah adalah ketika kita semua merasa hebat. Agama islam kuat bukan karena pemeluknya suka berdebat, agama islam kuat karena pemeluknya taat penuh adab kepada Allah dan RasulNYA. Apakah kita tidak melihat sejarah tauladan rasul muhammad saw dan para pewarisnya yg hebat tapi mereka bijak penuh adab. Salam bonek arek suroboyo.. Dadi wong islam sing kompak yo cak..
@ Al Akh Hafizz
membantah bid’ah dan ahlinya adalah jihad, sebagaimana antum melihat ada orang minum khomr kemudian antum mencegahnya, menasihatinya dan mengajaknya untuk membenci khomr.
bahkan bid’ah itu lebih besar bahayanya daripada khmor. bagaimana jika ada antum melihat orang minum khomr tetapi antum cuek ga mau peduli? antum berdosa bukan?
begitu pula jika antum membiarkan pelaku bid’ah, tentu saja dosanya lebih besar karena dampak yang ditimbulkan juga lebih besar.
jangan antum ketawakan orang yang membantah ahli bid’ah, karena setiap yang keluar dari pembantah ahli bid’ah pasti Al Quran dan As Sunnah. jika antum mentertawakan mereka, pada dasarnya antum mentertawakan Al Quran dan As Sunnah.
Assalamualaikum Ust Abu….Sebelumnya minta maaf , saya tahu artikel ini dari sebuah group milist, dan berikut jawaban saja….Ada beberapa catatan disini :
1 ) Pertama mengenai ” Muhammad bin Sa’id bin Hammad bin Muhsin bin Abdillah ash-Shanhaji al-Bushiri, nisbah kepada kotanya Abu Shir di Mesir, tetapi asalnya dari Maghrib.
Response saya : ” Yang benar syekh bushiri dibesarkan di dallasy, kota bani suwaif, Mesir. Beliau juga mempunyai nama “Abu Abdillah Syarafuddin Muhammad bin Hammad ad-Dalaashiy al-Shanhaji al-Syadzily”. Dalasy adalah nama daerah ( kecamatan di Bani suwaif ). Orang tua beliau pernah tinggal di maghrib, tapi akhirnya menetap di Mesir. Syekh Bushiri dilahirkan di desa Bushir bukan KOTA ABU SHIR. Antum tidak akan menemukan kota bernama Abu Shir di Mesir. Yang ada pegunungan Abu Shir bukan nama kota. ( sumber : Al-Mada’ih al-Nabawiyyah oleh Mahmud Ali Makky; saya baca dari buku diktat kuliah saya ).
dia termasuk ahli di bidang syair tetapi sayangnya dia sangat miskin ilmu, buktinya dia menasabkan diri dan menjadi pembela salah satu tarikat Sufi yang sesat, yaitu tarikat Syadziliyah[1].
pertama : syekh bushiri sangat miskin ilmu ? ( astaghfirullahal adzim ). Bagaimana seorang yang miskin ilmu bisa menyusun syair yang indah dan diakui nilai estetika penyair-penyair arab masa mamaluk dan ustmani, menginspirasi penyair-penyair awal abad 19 seperti al barudi dan ahmad syauqi ini. Ini sebuah ” fitnah yang keji dan tak berdasar ilmu”. Bagaimana antum bisa mengetahui kadar keilmuan beliau ? Lantas mengatakan beliau miskin ilmu. Seperti yang kita ketahui, para generasi-generasi muda di abad-abad mamalik dan usmani dididik dengan disiplin ilmu agama yang tinggi. Mereka sudah menghafal qur’an sejak kecil, demikian Syekh Bushiri, beliau pada masa anak-anak sudah hafal al Qur’an dan belajar ilmu-ilmu pengetahuan agama. Dan tidak ketinggalan belajar sastra dan prosa arab dengan baik. Harusnya antum memblack list juga Abu Nawas, karena sejarah mencatat kehidupan Abu Nawas di masa-masa muda dan dewasanya penuh dengan foya-foya dan seorang pemabuk tingkat tinggi, maka ada beberapa syair-syair yang dia karang untuk memuji-muji khamar. Walau pada akhir hayatnya dia bertobat dan mengarang syair abu nawas seperti yang kita baca di pondok.
buktinya dia menasabkan diri dan menjadi pembela salah satu tarikat Sufi yang sesat, yaitu tarikat Syadziliyah.
Darimana antum tahu kalau tarikat sufi syadziliyah itu sesat ? antum pernah melihat kesesatannya ? Antum pernah melihat pengikut tarikat sufi syaziliyah tidak mau sholat, tidak mau puasa ? Tuduhan ini terlampau keji dan tidak berdasar pada argument yang objektif. Saya beri informasi saja, bahwa tarikat syadziliah didirikan oleh abul hasan as Syadzili al Hasani. Beliau mempunyai murid Abul Abas Mursi, seorang sufi dan cendekiawan terkenal di masanya, kemudian Abul Abas Mursi ini mempunyai murid yang kita kenal dengan Ibn Athaillah yang mengarang kitab Al HIKAM. Kitab tasawuf ini sangat terkenal dan menjadi menu utama dalam pengajian pesantren-pesantren tradisional NU. Dalam kita AL HIKAM inilah petuah-petuah, ajaran lisan dan doa-doa Abul Hasan Asyadzili dihimpun. Kebetulan saya mengkajinya dan ikut dalam thariqoh as Shidiqiyyah As Syadziliah. Thoriqoh Syadzili hampir diikuti oleh sebagian besar masyarakat mesir, termasuk sebagian besar para dosen dan masyayikh Al Azhar. Bahkan sebagian besar Thoriqoh-thoriqoh sufi mu’tabaroh yang tergabung dalam ( Majlis Sufi A’la ) berkembang di Mesir bersambung pada Abul Hasan As Syadzili. Salah satu Syekh Al Azhar terkenal yang mengikuti thoriqoh as Syadzili Syekh Abdul Halim Mahmud, begitupula Hasan Al Bana dan Sayyid Qutb Ibrahim Husein asy-Syadzili. Dan sederet Kibar Al Azhar, dan ulama-ulama fiqih semisal taqiyyudin subki pengarang tobaqoh syafi’iyyah kubro. Astaghfirullahal Adzim….Jika antum membenarkan tuduhan bahwa Abul Hasan Syadzili adalah ulama sesat, maka secara otomatis antum telah menuduh sesat orang-orang yang bersangkutan dengan ajarannya, seperti ulama-ulama dan santri-santri NU, Mayoritas Ulama Al Azhar dan ulama-ulama lain yang kadar keilmuannya tidak diragukan lagi. Terlebih lagi tuduhan sesat ini otomatis teralamatkan kepada Imam Al Ghozali dan Al Makki yang menjadi inspirasi lahirnya thoriqhoh Syadziliyah ini ( lebih jelas baca Al Hikam oleh Syarh Syekh Romadhon Buthi ).
Ustad Abu yang Baik, semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan menghiasi hati anda……Untuk membaca dan menganalisa Syair Arab itu tidak seperti menerjemahkan tulisan-tulisan di buku MUTHOLA’AH atau buku-buku berbahasa arab pada umumnya. Dengan modal kamus lantas artinya bisa terkuak sesuai keinginan sang Penyair. Diperlukan kemampuan ekstra dan mumpuni dalam ilmu bahasa arab dan cabang-cabangnya semisal : ILMU Nahwu ( jangan ngandelin Nahwu Wadhih ) minimal Al Fiyah Ibn Malik, Syarh Ibnu Hisyam Al Anshori, atau Syarh Asymuni, Atau Khasiyah Shobban, atau Mugni Labib. Demikian juga diperlukan pemahaman tentang Shorof ( tidak cukup amtsilah tasrifiyyah ), diperlukan Ilmu Arudh wal Qowafi, Ilmu Lahjattt Arobiyyah ( karena perbedaan makna bahasa arab ditentukan juga oleh Lahjat masing-masing daerah ), Ilmu Musiqi Syair, Ilmu Balaghoh ( minimal Asrarul balaghoh dan Dalailul I’jaz karya Jurjani, atau al Iydhoh karya Qozwini ), Ittijaahat Adab Jaahili, Umawiy, Abasiy beserta Tarikhnya… .dan beberapa ilmu linguistic yang rata-rata belum pernah kita pelajari di Pondok. Jika sang penggali makna syair tidak membekali diri dengan ilmu alat yang kuat, Maka yang terjadi adalah KESESATAN dalam Memahami Sebuah Makna Syair. Contohnya… ..
وَكَيْفَ تَدْعُوْ إِلَى الدُّنْيَا ضَرُوْرَة مَنْ لَوْلاَهُ لَمْ تُخْرَجِ الدُّنْيَا مِنَ الْعَدَمِ
Bagaimana engkau menyeru kepada dunia
Padahal kalau bukan karenanya (Nabi) dia tiada tercipta
KAIFA diartikan Bagaimana… …….Sementara Harf Kaifa mempunyai banyak makna ustadz, dalam kitab Mughni Labib karya Ibnu Hisyam Al Anshori demikian dalam kitabnya yang menjadi diktat kita ( Awdhohul Masalik Ila Al Fiyah Ibn Malik ) memuat banyak point, diantaranya istifham untuk tujuan ta’ajub, ada istifham inkaariyy, dan juga istifham untuk tawbihii, ada juga istifham untuk jumlah syarth. Dan artinya tidak melulu BAGAIMANA …… Demikian juga untuk menganalisa syair Bushiri jangan baca buku-buku atau karangan-karangan yang meresponse negatif atas buku tersebut…. Antum harus baca dulu minimal syarh Matan Bushiri seperti
Hasyiyyah al-Bajuri ‘Ala Matan al-Burdah oleh Syekh Ibrahim al-Badjuri atau Syarah lathifan ‘Ala Burdah al-Madih oleh Syekh Khalid al-Azhar…. Dalam syarh al bajuri
:
وَكَيْفَ تَدْعُوْ إِلَى الدُّنْيَا ضَرُوْرَة مَنْ لَوْلاَهُ لَمْ تُخْرَجِ الدُّنْيَا مِنَ الْعَدَمِ
Diartikan ” Betapakah kesempitan bisa mempengaruhi beliau
memilih dunia; Sedangkan dunia ada karenanya ,dunia diciptakan dari tiada kepada ada. Aslinya ”
وَكَيْفَ ضَرُوْرَة
تَدْعُوْ إِلَى الدُّنْيَا مَنْ لَوْلاَهُ لَمْ تُخْرَجِ الدُّنْيَا مِنَ الْعَدَمِ
Disini terjadi taqdim dan ta’khir dalam musnad. Bait-bait tersebut memang berdimensi filosofis, di mana ungkapan-ungkapan dan kata-kata yang tertulis adalah cerminan
tentang ‘keberadaan’ Muhammad Saw. Karena Syair ini bergaya Tasawuf maka memandangnya harus menggunakan perspektif tasawuf. Tapi karena tasawuf sudah keburu dibid’ahkan oleh ulama-ulama salafi ( ya semoga penjelasan ini diterima ).
Sebenarnya banyak sekali penyimpangan- penyimpangan yang terdapat dalam Burdah tersebut, namun sekedar contoh kita nukilkan sebagiannya saja. Hanya kepada Allah saja, kita bertawakkal:
Pertama, Mukadimah menggambarkan
kerinduan Syekh Bushiri kepada Rasulullah SAW.
Kedua, Berisi nasihat yang berbicara tentang buruknya hawa nafsu yang cenderung mengajak kepada
kejahatan dan perlunya kewaspadaan terhadapnya.
Ketiga, Berisi pujian penulis terhadap Nabi yang syafaatnya sangat diharapkan.
Keempat, Membicarakan situasi dan kondisi ketika nabi Muhammad SAW. dilahirkan.
Kelima, Berbicara tentang mukjizat Rasulullah SAW.
Keenam, Berbicara tentang alQuran sebagai mukjizat terbesar dan kekal.
Ketujuh, Berbicara tentang isra’ dan mi’raj nabi Muhammad SAW.
Kedelapan, Berbicara tentang perjuangan nabi Muhammad SAW yang terjun langsung ke medan
perang.
Dan pasal
terakhir berisi doa dan tawasul al-Bushiri kepada
nabi Muhammad SAW.
Apakah Sub judul-Judul ini menunjukkan penyimpangan ?. Kalau hanya menemukan satu dua dan tiga bait-bait yang menyimpang, lantas jangan MENGENERALISIR bahwa bait-bait Bushiri memuat banyak penyimpangan. .! ( FITNAH ! )…
Selain Kasidah Burdah, al-Bushiri juga menulis beberapa kasidah lain di antaranya a!-Qashidah al-Mudhariyah dan al-Qashldahal- Hamziyah. Sisi lain dari profil al-Bushiri ditandai oleh kehidupannya yang sufistik, tercermin dari kezuhudannya, teku nberibadah, tidak menyukai kemewahan dan kemegahan duniawi. Dan Syair-Syair yang dibuatnya adalah gambaran dari hidupnya.
Sekali lagi sebelum penutup….. Mengingat Burdah adalah syair Arab kuno yang terikat oleh pakem-pakem khusus dan ketat, MAKA mau tidak mau dalam proses
penggaliannya harus melalui tafsir dan penjelasan syair tersebut. Tidak
kalah penting, Sang penggali harus melakukan kontak batin dengan syair tersebut;
dengan mencurahkan segenap kemampuan, pengalaman, perasaan, dan
pemikiran. Bukan malah buru-buru menuduhnya Sesat..sementara dia sendiri tidak mengetahui bagaimana pribadi sang penyair….. .Wallahu A’lam
Penutup :
Demikianlah sekelumit contoh kesalahan pemahaman dalam menafsiri Qosidah Burdah, Memang penyimpangan- penyimpangan yang berkaitan dengan Aqidah terjadi di Qosidah Bushiri ( Burdah ), Terlebih lagi Qoshidah ini bergaya Tasawuf sehingga tidak heran jika para ulama-ulama saudi Hafizhohumullohum membid’ahkannya. …
Semoga saja hal itu cukup untuk mewakili bahwa bait-bait Qosidah Bushiri tidak sesesat yang mereka tuduhkan….
Akhirnya kami menghimbau kepada setiap muslim yang terikat dengan qasidah ini hendaknya memahami dengan baik nilai-nilai estetika dan pesan-pesan moral yang berdasar akhlak Rosulullah, tidak buru-buru menuduhnya sesat tanpa didasari ilmu yang kuat. Dan tidak meninggalkannya dan menyibukkan diri dengan kitab-kitab yang bertujuan membid’ahkan dan menyesatkan tanpa membaca sumber buku tersebut. Dan hendaknya diketahui bahwa hak Nabi Muhammad adalah dengan membenarkan seluruh ucapannya, mengikuti syari’atnya dan mencintainya tanpa kurang atau berlebih-lebihan.
Ya Allah! Saksikanlah bahwa kami sangat mencintai Nabi Mu dan membenci orang-orang yang tidak mencintai beliau !!. Ya Allah! Tetapkanlah hati kami di atas jalan Mu yang lurus sehingga bertemu denganMu.
Sumber :
– Hasyiyyah al-
Bajuri ‘Ala Matan al-Burdah oleh Syekh Ibrahim al-Badjuri
– Syarah
lathifan ‘Ala Burdah al-Madih oleh Syekh Khalid al-Azhar
– Al-Mada’ih
al-Nabawiyyah oleh Mahmud Ali Makky
– Tarikh Adab Mamlukii, Muqoror tingkat tiga fakultas bahasa arab al Azhar
– Mukhtaaroth Min Al Adab Al Mamluuki, Muqoror tingkat tiga fakultas bahasa arab
– Khosois Syair , muqoror Al Azhar
– Mauqiful Islam Min Al Fan, wal Ilm, Wal Falsafah, Abdul Halim Mahmud
Akhi Abu Fata, semoga Allah menerangkan jalan kebenaran baginya.
Terima kasih atas komentar anda dan maaf bila agak terlambat jawaban ini karena adanya kesibukan kami.
1. Tentang biografi al-Bushiri (bukan al-Bushiri ahli hadits yang wafat tahun 840 H). Sebenarnya tidak ada yang salah dari tulisan kami, hanya saja antum memberikan tambahan informasi lebih detaik tentang desa kelahirannya, sedangkan kami hanya negaranya saja. Ibarat kalau saya mengatakan si fulan lahir di Indonesia, lalu anda menambahkan data lebih lengkap tentang desa dan kecamatannya. Dan kami ucapkan terima kasih atas tambhan info ini, semoga bermanfaat.
Adapun tentang nisbat ke bushir ataukah ke abu shir, memang ada perbedaan, sebagian ulama menulis abu shir seperti dlm Fawatul Wafayat 3/362 (dan itulah yang kami nukil), dan sebagian bushir seperti dalam al-A’lam 6/139 (sprti anda nukil). Saya tidak tahu apakah ini salah cetak ataukah perselisihan. Namun bagaimanapun, perselisihan ini adalah ringan karena tidak menyangkut inti masalah. Sekalipun skarang saya lebih cenderung kepada pendapat anda bahwa yang benar adalah bushir. (Mohon kepada admin untuk meralatnya). Sekali lagi, kami ucapkan terima kasih atas masukan anda ini. Semoga Allah merahmati Imam Syafi’i tatkala mengatakan: “Tidaklah saya berdebat untuk mencari kemenangan”. (Tawali Ta’sis hlm. 113 oleh Ibnu Hajar)
2. Ucapan anda “bagaimana al-bushiri dikatakan miskin ilmu padahal dia bisa menyusun syair…ini adalah fitnah yang keji”.
Akhi, ketahuilah bahwa ilmu yang sebenarnya adalah ilmu agama yang sesuai dg al-Qur’an dan hadits shohih. (Lihat Fadhlu Ilmi Salaf ‘ala Ilmi Khalaf hlm. 26 Ibnu Rojab dan Fathul Bari 1/192 Ibnu Hajar) Bukan hanya sekedar pintar syair saja. Bukankah banyak orang pintar syair tapi rusak aqidah dan pemikirannya?! Inilah sebenarnya maksud kami bahwa sekalipun beliau pintar syair tapi dia menyimpang aqidahnya, terbukti dengan banyaknya kesalahan dan penyimpangan dlm syair-syairnya dr aqidah yang benar.
3. Ucapan anda “Apa kesesatan tarikat Syadziliyyah? Apakah anda tahu bahwa tarikat sydziliyyah tidak sholat dan tidak puasa”?!! Kemudian anda menceritakan sejarah dan tokoh-tokohnya.
Akhi, tarikat Syadziliyyah seperti halnya tarikat2 lainnya, Tijaniyyah, Qodiriyyah, Rifa’iyyah dll. (Lihat Dirosat fit Tasawwuf oleh Ihsan Ilahi Dhohir).
Katakan padaku: Dari manakah tarikat2 seperti, apakah ada ajarannya dari Nabi yang mulia?! Apakah Nabi dan para sahabat ikut tarikat Syadziliyyah?! Inti kekeliruan tarikat2 tsbt adalah tidak mengikuti Nabi dalam ibadah, tetapi hanya berdasarkan hawa nafsu semata. (Lihat Majmu Fatawa 3/24).seperti misalnya. salah satu ajaran tarikat Syadziliyyah adalah dzikir tentang mufrod “Huwa” “Allah” saja. Adakah hal ini diajarkan oleh Nabi dan para sahabatnya?
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Isim mufrad (kata benda tunggal) tidaklah termasuk kata yang memiliki arti menurut seluruh penduduk langit dan bumi. Oleh karena itu para ulama’ menganggap bid’ah apa yang dikerjakan para sufi yang berdzikir hanya dengan lafadz “Allah” karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ للهِ وَالله أَكْبَرُ
Sebaik-baik dzikir adalah La Ilaha illa Allah, sebaik-baik do’a adalah Al-Hamdulillah dan Allahu Akbar.”
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga telah mangajarkan para sahabatnya berdzikir tetapi dengan kalimat yang sempurna” (Majmu’ Fatawa 10/226).
Beliau juga berkata: “Dan dzikir dengan domir (kata ganti) “Huwa” atau dengan isim mufrad (kata tunggal) “Allah” lebih jauh dari As Sunnah dan lebih mendekati kebid’ahan dan kesesatan syetan. (Majmu’ Fatawa 10/227-233).
Adapun tokoh-tokoh yang anda sebutkan, hal itu sama sekali bukanlah ukuran kebenaran, karena standar kebanaran adalah Al-Qur’an, hadits dan para sahabat. Kalau seandainya hal itu sebagai ukuran, maka saya balik bertanya: Bukankah anda tahu bahwa banyak para ulama yang mengingkari tarikat? Lantas, apakah semua mereka berarti sesat?!
4. Kritikan anda terhadap inti makalah ini bahwa dalam memahami burdah harus mempelajari ilmu-ilmu bahasa arab dan melakukan kontak bathin…
Sudah sering saya jawab pembelaan seperti ini adalah bathil, karena kita hanya dituntut untuk menghukumi secara dhohir, adapun maksud bathinnya kita serahkan antara dirinya dengan Allah. Imam Syathibi berkata: “Sesungguhnya kita hanya menghukumi secara dhohir saja baik dalam hukum atau keyakinan orang lain. Nabi Muhammad yang mendapatkan wahyu, beliau menerapkan hukum dhohir pada orang-orang munafik”. (Al-Muwafaqot 2/271)
Sering kali juga kami nukilkan tentang masalah ini ucapan indah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: “Kaidah asal suatu ungkapan adalah secara hakekatnya. Hal ini telah disepakati oleh seluruh manusia dari berbagai bahasa, karena tujuan bahasa tidak sempurna kecuali dengan hal itu”. (Tanbih Rajulil Aqil 2/487).
Jadi pembelaan dari lafadz-lafadz yang jelas berisi penyimpangan dengan mengatakan bahwa maksudnya adalah begini dan beitu tidaklah diterima. Al-‘Iraqi berkata: “Tidak diterima dari orang yang berani terang-terangan mengeluarkan kata-kata yang jelas keji lalu mengatakan: Maksud saya begini dan begini yang berbeda dengan dhohir ucapan”. (Dinukil dari Tsalatsu Rosail fi Difa’ anil Aqidah hlm. 167 oleh Ahmad as-Sulami).
Maka, harapan kami kepada anda untuk menanggapi inti penjelasan kami tentang penyimpangan isi burdah, bukan hanya dengan penjelasan2 global seperti ini.
Dan sekedar info, ada buku yang sangat bagus sekali yang mengupas masalah burdah dan penyimpangannya berjudul “Al-Qowadih Al-Aqodiyyah fi Qoshidah al-Bushiri al-Burdiyyah” oleh ahmad as-Sulami, cet Maktabah ar-Rusyd. Kalau sekiranya anda ingin mencari kebenaran dan ingin mengetahui isi buku ini, kami bersedia untuk menfoto copikan untuk anda.
Demikian tanggapan dari kami, kurang lebihnya kami mohon maaf. Barokallahu fikum.
Setelah melihat bbrp komentar dari mereka yg kontra memang sangat benar jika dikatakan, tiada bekal dari seorang ahli bidah kecuali kemarahan dan dusta. Marah ketika dinasehati dan berdusta ketika berdebat
@ Ustadz Yusuf – Jazakallahu khairan Barakallahu fikum
Ustadz uhibbukum fillah.
(afwan ustd kalo salah bahasa arabnya).
Doakan kebaikan bagi saya ustadz.
Berilmu sebelum berkata dan beramal.
Untuk Ust. Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi, semoga Allah selalu memberi kekuatan didalam mendakwahkan Al Qur’an dan As Sunnah sesuai pemahaman para salafush sholih.
Jazakumullah khoiron.
Assalamuaalaikum ustadz abu ubaidah,subhanALLAH maha suci ALLAH,mlht semua komen2 diatas, saya semakin yakin dan mantap dgn manhaj salaf,dalil dan hujjah yg ustadz sampaikan begitu jelas dan gamblang,seterang matahari menghujam jauh kelubuk hati, teruskan dakwahy ya ustadz! Dan saran ana,perbanyak terus artikel2 spt ini agar org2 penentang dakwah tauhid dberikan hidayah oleh ALLAH JALALAHU,
Alhamdulillah saya sudah dengar kisahnya yang di sampaikan oleh KH. Udzairon Pinpinan Pondok Pesantren Al-Fatah Temboro Magetan Jawa Timur
Andaikata Burdah ini dibacakan pada acara-acara semisal Maulid Nabi dan lainnya, yang tentu saja banyak dihadiri masyarakat awam yang tidak mengenal ilmu alat, bagaimana kita bisa menjelaskan makna dhohir tersebut ? Afwan, jazakallahu khair
perdebatan seperti ini menandakan mrk yang berdebat seperti pengangguran yang pemalas, sehingga mengkritik beberapa aliran, jadi pesan saya kepada para pembaca yang di Rahmati Allah, carilah kegiatan yang menguntungkan masyarakat muslim lainnya, misalnya :
Sudah kah kita membayar zakat harta kita yang kita peroleh dari Allah ? sebagai rasa syukur terhadap nikmat dan rezeki yang diberikan Allah kepada kita, kalau belum mari kita membangun komitmen tersebut, karena masih banyak saudara kita yang muslim dan tinggal diperumahan kumuh, dan terkadang dimanfaatkan oleh jaringan kristen untuk pindah ke agama mereka dengan imbalan tentunya.
al akh andri…
apa yang antum katakan memang hal penting, namun jangan karena hal itu merupakan hal yang penting lantas antum menyepelekan hal yg disampaikan dalam artikel di atas. bukankah kesyirikan merupakan pembatal amal. percuma sholat, zakat, puasa, haji dll tapi masih tercampur dengan kesyirikan. bukankah dengan mendatangi dukun saja bisa menghapus pahala sholat selama 40 hari.
intinya, sholat dan ibadah lain memangs angat penting, namun percuma saja sholat dan ibadah tersebut jika masih melakukan amal kesyirikan.
akeh kang apal qur’an haditse seneng ngafirke mareng liyane.
kafire dewe gak di gatekke yen isih kotor ati akale.
hidup GUSDUR………..! ALLAHU AKBAR.
Nabi Muhammad tidak pernah mengajarkan syair, karena itu tidak layak baginya..semoga bermanfaat
pengumpulan hadits itu bid’ah, karena Rasul melarangnya karena takut campur aduk dgn Al-Qur’an, tapi bid’ah itu bukan dasar hukum, tp yg mendasar hukum itu orang berlaku baik atau berlaku buruk, jadi pada dasarnya semua jg memiliki kelebihan, jd saling mengingatkanlah temen2, ga usah saling caci sesama saudara muslim……
selama Ramadhan 1432 H saya membacakan syarah al-burdah karya Syaikh Khalid al-Azhariy di hadapan para santri..
1. Nabi Muhammad SAAW sungguh seseorang yang zuhud dalam urusan dunia, Kebutuhan beliau dalam urusan ini sebenarnya bisa saja terpenuhi. Bagaimana tidak, mudah bagi beliau untuk mendapatkan kekayaan duniawi jika saja beliau menghendaki. Tapi beliau tidak demikian.. Kebutuhan duniawi tidak membuat beliau tertarik kepada dunia.. Bagaimana bisa beliau tertarik pada dunia, sedangkan beliau adalah makhluk yang paling mulia, dunia ini takkan tercipta kecuali memang beliau akan diciptakan. Ini adalah bentuk pujian, dan saya kira tidak sampai ghuluw, toh kita tidak meyakini bahwa Allah butuh kepada beliau demi menciptakan alam semesta. inilah bait وكيف تدعو ..
2. kita tidak sampai mempersamakan beliau dengan Tuhan sehingga mendakwa beliau sebagaimana apa yang dilakukan orang Nasrani kepada nabi mereka.. Kita memuji Nabi Muhammad, tapi kita tidak menganggap beliau sebagai Tuhan ataupun ankNya.. inilah batasan yang diberikan oleh al-Bushiri terkait pujian nabi. Antum boleh memuji beliau sesuka hati, tapi pahami betul-betul batasan ini.. Al-Bajuri menyatakan bahwa bait ini sejalan dengan sabda Nabi لا تطروني بما أطرت النصارى عيسى ابن مريم …. إلى أن قال وقولوا أنا عبد الله ورسوله ..inilah bait دع ما ادعنه النصارى …
3. Kita diciptakan dari turab, anggaplah itu sebagai bahan dasar.. bahan dasar Beliau tentu adalah semulia-mulianya turab,,, beruntung bagi yang mampu mencium jasad beliau, ingat ada sahabat yang meminta beliau untuk membuka baju beliau untuk membalas ketidaksengajaan beliau saat perang. Para sahabat geram karena disangka bahwa si sahabat ini akan mencambuk Nabi, ternyata, si sahabat tadi justru menciumi tubuh beliau… Allahumma sholli ‘ala Muhammad..
4. terjemahan bait أقسمت بالقمر juga perlu dikritisi, anda sebutkan “Aku bersumpah dengan bulan yang terbelah bahwa Ada sumpah yang terkabulkan pada dirinya” padahala al-bushiri ingin mempertegas (dengan sumpah) bahwa ada nisbah (kesamaan) antara dada beliau yang pernah dibelah dengan bulan yang juga pernah di belah.. sumpah yang digunakan adalah sumpah yang mabruurah, bisa diterima dalam pandangan al-bushiri..
5. Bait يا أكرم الخلق adalah dalam konteks syafaat,, hanya beliau yang diberi oleh Allah syafa’at al udhma, tiada yang lain..
ALLOOHU AKBAR!!
wah-wah sungguh serem debatnya, tapi-tapi-tapi, sudah jelas siapa yang bener dan sesiap yang salah, yaaaah yang penting hidup cuma sekali jangan sampe kekuar dari Al-Qur’an dab sunnah Rasulullah SAW.
terima kasih semua
waduh-waduh-waduuuuuh!
berat-berat-beeeerat klo Islam ini harus nurut Thoriqut-thoriqut SUFI, atau ikit JIL (jaringan Iblis Lalai) atu akut gerakan-geraka AHLUL AHWA’ abis rudak semua jadinya sendi-sendi Islam:
“RAWE-RAWE RANTAS” “BABLAS JEBLAS” musnahkan mereka dari buku Islam, supaya-supaya, supaya, supaya,….. Kalimat Alloh dan Sunnah-Sunnah Rasulullah saja yang tegak, amin
SUBHANALLOH-SUBHANALLOH-SUBHANALLOH-SUBHANALLOH.
benar-benar AHLUSSUNNAH itu adalah lawan AHLUL BID’AH.
tapi-tapi-tapi-tapi LUUUU harus tahu-setahu-tahunya, Nabi SAW sudah sumpah mati bahwa AHLUL BID’AH itu bakalah jadi pasukan neraka…..
kenapa kalian baaaaaanggggaa….
artikelnya kemana . . .
komentarnya kemana . ..
gitu benget ya mereka. gak malu apa tuh orang-orang ??
Alhamdulillah ada ust. seperti Abu Ubaidah di Indonesia
INNALILLAH… sungguh malang orang-orang yang tidak punya cinta kepada wali-wali Allah, sungguh malang mereka yang dengan mudah membid`ahkan sesuatu, sungguh malang mereka yang tidak mengikuti jalan para wali-wali Allah… siapa kita??? siapa kita??
saya sangat setuju dengan ABU FATA memahami sesuatu ga bisa hanya dengan dhahirnya tidak seperti kang yusuf ingat ALquran itu mukjizat untuk mendalami alquran tidak hanya dengan membaca terjemahnya saja tap alquran mempunyai hikmah seandainya mengulasnya tinta seluas lautan tak akan cukup CAMKANLAH alquran juga mengandung sastra tingkat tinggi sehingga segala ilmu bersumber daripadanya
ada 2 bid’ah ada bid’ah yang baik dan ada bid’ah yang jelek/ buruk. JANGAN SEKALI2 GAMPANG MEMBUAT PERATURAN ATAU HUKUM. islam menjunjung tinggi musyawarah. Kata kyai ku “sek ngaji dlohir ae senengae gonta ganti hukum, hukum tek gusti allah” (“masih belajar dohir sukanya merubah hukum, hukum itu milik Allah”). Mengaji banyak hal di antaranya dohir. yaitu belajar kitab2 pendahulu, hadist, Al- Qur’an dll. la mengaji dalam hal batin cari saja sendiri…..
Assalammu’alaikum Wa Rahmatullah Wa Barakatuh
Saudaraku seiman, Allah berfirman :
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (Adz-Dzaariyaat:56)
Ini merupakan kalimat yang tegas dan jelas yang mengisyaratkan :
1. Allah Pencipta merupakan Tauhid Rubbubiyah
2. Hanya Allah yang memiliki hak untuk diibadahi secara langsung tanpa perantara merupakan Tauhid Uluhiyah.
Apakah hamba diberikan kebebasan untuk beribadah kepada-Nya dengan cara, waktu, kadar, jenis yang diinginkan setiap hamba, jawabnya tidak!!!.
Syariat ini Allah turunkan tidak samar, semua serba jelas agar hamba tidak rancu dalam beribadah. Untuk itu diturunkan 2 petunjuk, Al-Qur’an dan Rasul dari golongan manusia seperti kita untuk diikuti.
Sekarang timbul pertanyaan, apakah 2 petunjuk ini masih kurang lengkap ?. Atau Sunah/Amalan Nabi masih kurang memuaskan hati kita, sehingga masih diinginkan amalan-amalan lain tapi tidak dicontohkan Nabi, seperti Qasidah Burdah yang jelas-jelas mengandung kalimat-kalimat syirik ?.
Jika demikian, maka sama halnya dengan meninggalkan makanan lezat yang telah terhidang, kemudian mencari nasi rawon basi dari tempat sampah!!.
Wassalam
Dari komentar komentar diatas memang terbukti HIDAYAH itu milik ALLAH SWT ……
Al-Bushiri dan Kasidah Burdah (610 – 695 H / 1213 – 1296 M)
Kasidah Burdah adalah salah satu karya paling populer dalam khazanah sastra Islam. Isinya, sajak-sajak pujian kepada Nabi Muhammad SAW, pesan moral, nilai-nilai spiritual, dan semangat perjuangan, hingga kini masih sering dibacakan di sebagian pesantren salaf dan pada peringatan Maulid Nabi. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa seperti Persia, Turki, Urdu, Punjabi, Swahili, Pastum, Melayu, Sindi, Inggris, Prancis, Jerman dan Italia.
Pengarang Kasidah Burdah ialah Al-Bushiri (610-695H/ 1213-1296 M). Nama lengkapnya, Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid al-Bushiri. Dia keturunan Berber yang lahir di Dallas, Maroko dan dibesarkan di Bushir, Mesir, Dia seorang murid Sufi besar, Imam as-Syadzili dan penerusnya yang bernama Abdul Abbas al-Mursi – anggota Tarekat Syadziliyah. Di bidang ilmu fiqih, Al Bushiri menganut mazhab Syafi’i, yang merupakan mazhab fiqih mayoritas di Mesir.
Di masa kecilnya, ia dididik oleh ayahnya sendiri dalam mempelajari Al Quran di samping berbagai ilmu pengetahuan lainnya. Kemudian ia belajar kepada ulama-ulama di zamannya. Untuk memperdalam ilmu agama dan kesusateraan Arab ia pindah ke Kairo. Di sana ia menjadi seorang sastrawan dan penyair yang ulung. Kemahirannya di bidang sastra syair ini melebihi para penyair pada zamannya. Karya-karya kaligrafinya juga terkenal indah.
Sebagian ahli sejarah menyatakan, bahwa ia mulanya bekerja sebagai penyalin naskah-naskah. Louis Ma’luf juga menyatakan demikian di dalam Kamus Munjibnya.
Sajak-sajak pujian untuk Nabi dalam kesusasteraan Arab dimasukkan ke dalam genre al-mada’ih an-nabawiyah, sedangkan dalam kesusasteraan-kesusasteraan Persia dan Urdu dikenal sebagai kesusasteraan na’tiyah (kata jamak dari na’t, yang berarti pujian). Sastrawan Mesir terkenal, Zaki Mubarok, telah menulis buku dengan uraian yang panjang lebar mengenai al-mada’ih an-nabawiyah. Menurutnya, syair semacam itu dikembangkan oleh para sufi sebagai cara untuk mengungkapkan perasaan religius yang Islami.
Kasidah Burdah terdiri atas 160 bait (sajak), ditulis dengan gaya bahasa (usiub) yang menarik, lembut dan elegan, berisi panduan ringkas mengenai kehidupan Nabi Muhammad SAW, cinta kasih, pengendalian hawa nafsu, doa, pujian terhadap Al Quran, Isra’ Mi’raj, jihad dan tawasul.
Dengan memaparkan kehidupan Nabi secara puitis, AI-Bushiri bukan saja menanamkan kecintaan umat Islam kepada- Nabinya, tetapi juga mengajarkan sastra, sejarah Islam, dan nilai-nilai moral kepada kaum Muslimin. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika kasidah Burdah senantiasa dibacakan di pesantren-pesantren salaf, dan bahkan diajarkan pada tiap hari Kamis dan Jumat di Universitas AI-Azhar, Kairo.
Al-Bushiri hidup pada suatu masa transisi perpindahan kekuasaan dinasti Ayyubiyah ke tangan dinasri Mamalik Bahriyah. Pergolakan politik terus berlangsung, akhlak masyarakat merosot, para pejabat pemerintahan mengejar kedudukan dan kemewahan. Maka munculnya kasidah Burdah itu merupakan reaksi terhadap situasi politik, sosial, dan kultural pada masa itu, agar mereka senantiasa mencontoh kehidupan Nabi yang bertungsi sebagai uswatun hasanah (suri tauladan yang baik), mengendalikan hawa nafsu, kembali kepada ajaran agama yang murni, Al Quran dan Hadis.
Sejarah Ringkas Kasidah Al-Burdah
Al-Burdah menurut etimologi banyak mengandung arti, antara lain :
1. Baju (jubah) kebesaran khalifah yang menjadi salah satu atribut khalifah. Dengan atribut burdah ini, seorang khalifah bias dibedakan dengan pejabat negara lainnya, teman-teman dan rakyatnya.
2. Nama dari kasidah yang dipersembahkan kepada Rasulullah SAW yang digubah oleh Ka’ab bin Zuhair bin Abi Salma.
Pada mulanya, burdah (dalam pengertian jubah) ini adalah milik Nabi Muhammad SAW yang diberikan kepada Ka’ab bin Zuhair bin Abi Salma, seorang penyair terkenal Muhadramin (penyair dua zaman: Jahiliyah dan Islam). Burdah yang telah menjadi milik keluarga Ka’ab tersebut akhirnya dibeli oleh Khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan seharga duapuluh ribu dirham, dan kemudian dibeli lagi. oleh Khalifah Abu Ja’far al-Manshur dari dinasti Abbasiyah dengan harga empat puluh ribu dirham. Oleh khalifah, burdah itu hanya dipakai pada setiap shalat fd dan diteruskan secara turun temurun.
Riwayat pemberian burdah oleh Rasulullah SAW kepada Ka’ab bin Zuhair bermula dari Ka’ab yang menggubah syair yang senantiasa menjelek-jelekkan Nabi dan para sahabat. Karena merasa terancam jiwanya, ia lari bersembunyi untuk menghindari luapan amarah para sahabat. Ketika terjadi penaklukan Kota Makkah, saudara Ka’ab yang bernama Bujair bin Zuhair mengirm surat kcpadanya, yang isinya antara lain anjuran agar Ka’ab pulang dan menghadap Rasulullah, karena Rasulullah tidak akan membunuh orang yang kembali (bertobat). Setelah memahami isi surat itu, ia berniat pulang kembali ke rumahnya dan bertobat.
Kemudian Ka’ab berangkat menuju Madinah. Melalui ‘tangan’ Abu Bakar Siddiq, di sana ia menyerahkan diri kepada Rasulullah SAW. Ka’ab memperoleh sambutan penghormatan dari Rasulullah. Begitu besarnya rasa hormat yang diberikan kepada Ka’ab, sampai-sampai Rasulullah melepaskan burdahnya dan memberikannya kepada Ka’ab.
Ka’ab kemudian menggubah kasidah yang terkenal dengan sebutan Banat Su’ad (Putri-putri Su’ad), terdiri atas 59 bait (puisi). Kasidah ini disebut pula dengan Kasidah Burdah. la ditulis dengan indahnya oleh kaligrafer Hasyim Muhammad al-Baghdadi di dalam kitab kaligrafi-nya, Qawaid al-Khat al-Arabi.
Di samping itu, ada sebab-sebab khusus dikarangnya Kasidah Burdah itu, yaitu ketika al-Bushiri menderita sakit lumpuh, sehingga ia tidak dapat bangun dari tempat tidurnya, maka dibuatnya syair-syair yang berisi pujian kepada Nabi, dengan maksud memohon syafa’afnya. Di dalam tidurnya, ia bermimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW. di mana Nabi mengusap wajah al-Bushiri, kemudian Nabi melepaskan jubahnya dan mengenakannya ke tubuh al-Bushiri, dan saat ia bangun dari mimpinya, seketika itu juga ia sembuh dari penyakitnya.
Pemikiran-Pemikiran Bushiri dalam Al-Burdah Burdah dimulai dengan nasib, yaitu ungkapan rasa pilu atas dukacita yang dialami penyair dan orang yang dekat dengannya, yaitu tetangganya di Dzu Salam, Sudah menjadi kelaziman bagi para penyair Arab klasik dalam mengawali karya syairnya selalu merujuk pada tempat di mana ia memperoleh kenangan mendalam dalam hidupnya, khususnya kampung halamannya. Inilah nasib yang diungkapkan Bushiri pada awal bait :
Amin tadzakurin jiranin bi Dzi Salami
Mazajta dam ‘an jara min muqlatin bi dami?
Tidakkah kau ingat tetanggamu di Dzu Salam
Yang air matanya tercucur bercampur darah?
Kemudian ide-ide al-Bushiri yang penting dilanjutkan dengan untaian-untaian yang menggambarkan visi yang bertalian dengan ajaran-ajaran tentang pengendalian hawa nafsu. Menurut dia, nafsu itu bagaikan anak kecil, apabila diteruskan menetek, maka ia akan tetap saja suka menetek. Namun jika ia disapih, ia pun akan berhenti dan tidak suka menetek lagi. Pandangan al-Bushiri tentang nafsu tersebut terdapat pada bait ke-18, yang isinya antara lain :
Wa an-nafsu kattifli in tuhmiihu syabba ‘ala
Hubbi ar-radha’i wa in tufhimhu yanfatimi
Nafsu bagaikan anak kecil, yang bila dibiarkan menetek
Ia akan tetap senang menetek. Dan bila disapih ia akan melepaskannya.
Dalam ajaran pengendalian hawa nafsu, al-Bushiri menganjurkan agar kehendak hawa nafsu dibuang jauh-jauh, jangan dimanjakan dan dipertuankan, karena nafsu itu sesat dan menyesatkan. Keadaan lapar dan kenyang, kedua-duanya dapat merusak, maka hendaknya dijaga secara seimbang. Ajakan dan bujukan nafsu dan setan hendaknya dilawan sekuat tenaga, jangan diperturutkan (bait 19-25).
Selanjutnya, ajaran Imam al-Bushiri dalam Burdahnya yang terpenting adalah pujian kepada Nabi Muhammad SAW. la menggambarkan betapa Nabi diutus ke dunia untuk menjadi lampu yang menerangi dua alam : manusia dan Jin, pemimpin dua kaum : Arab dan bukan Arab. Beliau bagaikan permata yang tak ternilai, pribadi yang tertgosok oleh pengalaman kerohanian yang tinggi. Al-Bushiri melukiskan tentang sosok Nabi Muhammad seperti dalam bait 34-59 :
Muhammadun sayyidui kaunain wa tsaqaulai
Ni wal fariqain min urbln wa min ajami
Muhammad adalah raja dua alam : manusia dannjin
Pemimpin dua kaum : Arab dan bukan Arab.
Pujian al-Bushiri pada Nabi tidak terbatas pada sifat dan kualitas pribadi, tetapi mengungkapkan kelebihan Nabi yang paling utama, yaitu mukjizat paling besar dalam bentuk Al Quran, mukjizat yang abadi. Al Quran adalah kitab yang tidak mengandung keraguan, pun tidak lapuk oleh perubahan zaman, apalagi ditafsirkan dan dipahami secara arif dengan berbekal pengetahuan dan makrifat. Hikmah dan kandungan Al Quran memiliki relevansi yang abadi sepanjang masa dan selalu memiliki konteks yang luas dengan peristiwa-peristiwa sejarah yang bersifat temporal. Kitab Al Quran solamanya hidup dalam ingatan dan jiwa umat Islam.
Selain Kasidah Burdah, al-Bushiri juga menulis beberapa kasidah lain di antaranya a!-Qashidah al-Mudhariyah dan al-Qashldah al-Hamziyah. Sisi lain dari profil al-Bushiri ditandai oleh kehidupannya yang sufistik, tercermin dari kezuhudannya, tekun beribadah, tidak menyukai kemewahan dan kemegahan duniawi.
Di kalangan para sufi, ia termasuk dalam deretan sufi-sufi besar. Sayyid Mahmud Faidh al-Manufi menulis di dalam bukunya, Jamharat al-Aulia. bahwa al-Bushiri tetap konsisten dalam hidupnya sebagai seorang sufi sampai akhir hayatnya. Makamnya yang terletak di Iskandaria, Mesir, sampai sekarang masih dijadikan tempat ziarah. Makam itu berdampingan dengan makam gurunya, Abu Abbas al-Mursi.
ngikut meraimaikan aza, ane makhluk awam. smoga kami pecinta nabi&waliyulloh duduk berdampingan dengan baginda nabi Muhammad menyaksikan kalian para penolak kisah baginda nabi Muhammad di usir dari surganya Allah, na’udzu billahimin dzaalik. ustadz abu fata ,,, syukron katsir.
ALLOHUMMA SHOLLI WASALLIM WA BAARIK ‘ALAIH, WA ‘ALAA ALIHI WA SHOHBIHI
yang buat artikel ketahuan kalo belajarnya pake terjemahan…
dalam al-qur’an ada salah satu firman Allah yang berbunyi ” Ar Rohmanu ‘ala al’arsy istawa”
kalau diterjemahkan apa adanya (lebih tepatnya dihukumi secara dhohir menurut Abu Ubaidah) adalah “Ar Rahman BERSEMAYAM DIATAS ‘ARSY “.
jika kita memahaminya secara dhohir dan apa adanya maka terlintas dalam benak kita bahwa Allah itu MEMILIKI TEMPAT atau BERTEMPAT di atas SINGGASANA..na’udzu billah..
Al-qur’an sarat dengan sastra yang sangat tinggi…(bagi Abu mungkin syair itu bukan satra)..kenapa??karena al-qur’an adalah Mu’jizat…dan Mu’jizat yang diberikan Allah pada Rosul nya itu selalu menyesuaikan dengan kondisi/ zaman….pada zaman Rosul sya’ir adalah sebuah ‘kehebatan’ bagi masyarakat arab..sehingga sya’ir nya seseorang yang dianggap paling bagus akan di pamerkan dan itu menjadi kebahagiaan dan bisa membawa pengaruh..
ust Abu..mohon kalau memahami teks arab jangn hanya mengandalkan terjemah itu bisa menyesatkan..!!!apalagi sya’ir arab..itu ada ilmunya.
coba perhatikan ayat ini :
‘KHUDZUU ZIINATAKUM ‘INDA KULLI MASJIDIN..”
menurut anda terjemahannya itu bagaimana??
” LAISA KAMITSLIHI SYAIUN…”
ini juga terjemahannya bagaimana?? disini ada huruf ‘KAF’ dan lafadz ‘MITSLI” yang sama-sama memiliki arti ‘SEPERTI’…akan rancu kan?????
Alhamdulillah hirobbilalamin.
Segala puji hanya bagi Allah semata. tidak ada yang lain
dan semoga kemuliaan selalu tercurah bagi junjungan kita Nabi Muhamad SAW.
Tidak cukupkah kita mengamalkan Alquran serta Hadits,
Apakah perlu ditambah dengan sesuatu yang masih meragukan,
Apakah dengan tidak melaksanakan kasidah Burdah amal kita menjadi tidak sempurna
Maaf saya sendiri baru belajar sedikit sekali soal ilmu islam, bahkan saya masih sangat awam terhadap ajaran islam.
Yang saya khawatirkan, seolah-olah kita melaksanakan sesuatu untuk mendapatkan PAHALA …………….Tetapi ternyata malah mendapat Celaka
Sementara hal2 yang wajib dilaksankan seperti Sholat, Shaum di bulan ramadhan, Dzakat, dan juga menjalankan semua perintah Allah serta menjauhi Larangan Allah, malah diremehkan,
kalau memang ada perselisihan apa tidak sebaiknya jangan sampai saling mencaci, ini juga kan bukan ajaran islam, karena diskusi mencari yang Haq dengan emosi tinggi tentu mempercepat kerusakan hati kita sendiri.
Wassallam
al-bushiri menulis bait tersebut dalam konteks syaír/sajak yg mngkin terlihat ghuluw kalo kita memandangnya menggunakan kacamata nash/teks biasa. walloohu a’lam.
ada sebuah kisah menarik yg beliau tuangkan dalam kitabnya, ketika al-Bushiri menderita sakit lumpuh, sehingga ia tidak dapat bangun dari tempat tidurnya, maka dibuatnya syair-syair yang berisi pujian kepada Nabi, dengan maksud memohon syafa’afnya. Di dalam tidurnya, ia bermimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW. di mana Nabi mengusap wajah al-Bushiri, kemudian Nabi melepaskan jubahnya dan mengenakannya ke tubuh al-Bushiri, dan saat ia bangun dari mimpinya, seketika itu juga ia sembuh dari penyakitnya.
Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairoh bahwa Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa yang melihatku disaat tidur maka seakan-akan dia melihatku pada saat terjaga dan setan tidaklah dapat menyerupaiku.” (HR. Bukhori)
Juga hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwasanya Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa yang melihatku disaat tidur maka sungguh dia telah melihatku. Sesungguhnya setan tidak bisa menyerupaiku.” (HR, Tirimidzi, dia berkata ini adalah hadits hasan shahih)
Hanya orang bodoh yang tidak bisa membedakan mana syirik mana pujian. Andaikata kita melakukan sambutan kepada bupati, atau orang yang secara status lebih tinggi di kalangan masyarakat, akan mengatakan: “kepada yang terhormat bapak bupati” dll…. Itu adalah bahasa penghormatan yang wajar2 saja, tidak ada kesyirikan di dalamnya. Dan tidak mungkin pula seorang bupati mengatakan kepada yang terhormat diri saya sendiri bupati… Dst,
Kalau mengenai penghormatan kepada nabi dianggap syirik karena berlebihan, saya ingin tahu, kadar yang biasa seperti apa? Kadar yang sedang seperti apa? Dan yg berlebihan seperti apa? Apakah saat anda memanjangkan jenggot karena dianggap sunnah kemudian setelahnya membeli obat penumbuh rambut untuk menunjukkan identitas diri anda poengamal sunnah itu tidak berlebih2an? Apakah jidat anda kapalan (padahal juga sholatnya masih standar) tidak berlebih2 an?
Anda kalau saya boleh katakan ibarat orang jahiliyah, yang sangat benci dengan orang yang cinta rosul. Beginilah dahulu cara kafir kuraisyi menentang nabi, dan sekarang anda adopsi dengan berbagai dalil yang anda comot seenak peler anda.
banyak juga tokoh sufi yang harus “diakhiri” hidupnya, bukan karena sesat, tapi menyesatkan orang-orang yang bodoh, yang perlu bagi kita adalah bagaimana memahamai dan merasakan ungkapan cinta sang pecinta terhadap Allah dan Rasulnya, bukan membid’ahkan, memusyrikkan
Mohon maaf saya hanya mau tanya …
Bukankah dalam shalat kota membaca alfatiha …
” Segala Puji hanya milik Allah ……”
Apakah artinya dalam ibadah pujian hanya ditujukan hanya kepada Allah semata ??? bukan kepada mahluknya ?
Baik wali , malaikat maupun para nabi ?
Tolong beri pencerahan ???
Dari silang pendapat diatas, bisa kelihatan mana yang berilmu dan yang tidak berilmu alais mengikuti hawa nafsu, yang merasa tidak atau kurang berilmu sebaiknya menanyakan kepada yang berilmu :
فاسئلوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون
Kalau merasa tidak setuju dengan suatu pendapat sebaiknya tabayun dulu jangan serta merta menyalahkan apalagi dengan kata2 yang bisa menyinggung perasaan, dan apabila kita dalam posisi tidak tahu, sementara yang berpendapat adalah orang yang memiliki ilmu yang tinggi, hanya orang bodohlah yang berani berkomentar.
Ingat, bahwa orang akan memiliki pemikiran dengan jalan sudut pandang yang berbeda, jadi tasamuhlah. Dari dulu juga alam jagat ini diramaikan dan diributkan oleh orang-orang yang tidak tasamuh, yang hanya merasa bahwa pendapat dialah yang benar sementara yang lain salah.
Kalau Syekh Zaruk mengatakan bahwa kelompok seperti itu seperti “minuman keras” yang hanya akan menimbulkan “Adawah” dan “baghdlo” khususnya di kalangan umat Islam. Umat Islam sedang tenang tenang datang kelompok yang suka-menyalah-nyalahkan akibatnya umat jadi kacau timbul permusuhan. Ingat kebenaran yang kita pegang hari ini meskipun bersumber dari Al-Quran dan Al-Hadits adalah dzonny itupun yang memilikinya hanya para Ulama. Jadi jauhilah minuman keras. Wallahu A’lam
@setan jail…
seorang muslim yang baik pasti menggunakan nama nama yang baik dan perkataan yang sopan dalam berdiskusi.
jangan pakai nama setanjail … saya yakin anda diberikan nama yang baik oleh orang tua anda .
Apa yang menurut anda baik belum tentu baik dalam tinjauan syarii…..tolong camkan itu.
Tapi intinya pengamalan dalam ibadah harus ada tuntunannya dar Nabi kita ….. bukan dari sekedar mimpi seseorang yang mengaku ngaku bertemu dengan nabi .
Ohhh alangkah mudahnya agama islam ini rusak bila orang dengan seenaknya mengaku ngaku dalam mimpi …..dan kemudian membuat amalan amalan baru berdasarkan klaim mimpi tersebut.
Maukah saudara saudaraku sekalian merusak agama kita sendiri ????…
Ini semua cuma nasehat kepada sesama muslim …
@ASKAF BIN SANBAT , saudaraku..
Ajaran islam bukankah suatu karya sastra …..jangan merendahkan ajaran islam dengan membandingkannya dengan karya sastra buatan manusia.
Untuk urusan beribadah sudah ada tuntunannya dengan Itiba kepada Nabi kita.
Kalau anda bilang qasidah burqa adalah karya sastra … tolong jangan digunakan dalam ritual ibadah kita .
Saya rasa saudaraku setuju dengan pendapat ini ….
wasss
Lalu gmana dg hdits2 Nabi smisal crita2 bhw akan datang bgini n bgitu,apa crita tsb brarti Nabi ngwur ?!. Bgmn firman Alloh Fala yudhhiru ‘ala ghoibihi ahadaa ILLA MANIRTADLO MIN ROSUL ?(S.Jin).
orang-orang yang merasa paling benar, mengaku paham isi al-quran dan hadist yang berbasa arab hanya dengan cara instan. ibarat siswa yang ujian bahasa indonesia tetapi selalu mendapat nilai 5 meski itu bahasnya sendiri karena dia tidak mau mempelajarinya.
sidawi emg ente siapa berani memanggil imam bushiri dng julukan bushiri ,apa anda pernah mimpi bertemu Rasulullah seperti beliau ,wah parah ente layan fak ilmu ente kalau hanya untuk mencari titik masalah sauatu amalan pemahaman lain
dasar manusia gag suka ulama ,sadar gag ente bisa baca qur’an hadist kalau gag ulama gag bakalan ente bisa ,gag mungkin rasulullah mengajarkan kepada ente melainkan lewat para sallafusholih ,wahabi dul mangap !!!