Bersama Pemerintah Dalam Status Bencana

Bersama Pemerintah Dalam Status Bencana

Yusuf Abu Ubaidah As Sidawi

Di saat negara menghadapi masa-masa sulit seperti saat bencana melanda sekarang ini, sebagian orang memancing di air keruh, menggunakan kesempitan sebagai kesempatan untuk melemparkan peluru hujatan kepada pemimpin. Anehnya, sebagian kalangan yang sudah ngaji pun tergoyahkan prinsipnya dan latah mengikuti arus netizen yang tak paham aqidah shahihah.

Kami pribadi bukanlah politikus praktis, buzzer atau antek pemerintah, tapi sebagai seorang muslim yang ingin kebaikan untuk sesama, izinkan kami mengingatkan untuk saudara-saudara kami di manapun berada, terkhusus mereka yang sudah ngaji agama dan sunnah agar dalam situasi sulit dan musibah seperti ini kita berpegang kepada prinsip-prinsip agama kita dan tidak bergeser darinya sejengkal pun.

Saat ini begitu menggema seruan dan desakan agar pemerintah segera mengumumkan status bencana nasional untuk bencana Aceh dan Sumatera. Tak hanya itu, merekapun menihilkan upaya pemerintah dan menganggap bahwa pemerintah tak hadir menanganinya.

Medsos dipenuhi komentar sinis, narasi kebencian dan adu domba, serta kekecewaan yang dijadikan sebagai bahan bakar provokasi.

Saudaraku yang kami cintai karena Allah, saat-saat sulit seperti ini bukanlah saatnya untuk saling menyalahkan dan mencaci maki, emosi, apalagi saling baku hantam dan saling ribut sesama kita. Tapi yang dibutuhkan adalah persatuan dan kesatuan, sinergi, ta’awun dalam kebaikan, gotong royong bersama untuk membantu saudara-saudara kita terdampak bencana dengan harta, tahta, tenaga dan doa serta apapun yang kita bisa. Ini yang paling urgent. Mari kita jadikan ujian ini sebagai kesempatan bagi kita semua untuk berlomba menggapai pahala dan surga serta menunjukkan solidaritas persaudaraan sesama saudara kita.

Adapun tentang status bencana, maka serahkan dan percayakan hal itu kepada ahlinya yaitu pemerintah kita yang jauh lebih mengerti apa yang terbaik buat negara. Jangan paksakan pendapat kita untuk diterima, karena tidak semua kita mengerti tentang politik dalam negeri dan luar negeri yang diketahui oleh para pemimpin negara.

Diantara kaidah agama dan manhaj salaf saat fitnah melanda adalah mengembalikan problematika kepada kepada para ulama dan pemimpin. Hal ini untuk menjaga rakyat dari komentar-komentar sembarangan dan pendapat-pendapat ngawur yang malah berakibat fatal dan membawa kepada kerusakan. Allah berfirman:

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri (pemimpin dan ulama) di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu). (QS. An-Nisa’: 83)

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di berkata: “Dalam ayat ini terdapat kaidah adab bahwa ketika ada suatu permasalahan maka hendaknya diserahkan kepada ahli di bidangnya dan tidak mendahului mereka, karena hal itu akan lebih mendekati kebenaran dan lebih selamat dari kesalahan”.(Taisirul Karim Ar Rahman hlm. 194)

Syeikhu Masayikhina Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata: “Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang awam tidak sama seperti para pemimpin, para ulama dan ahli musyawarah.
Masalah politik bukanlah ranah, kapasitas dan komsumsi publik.
Siapa yang ingin agar masyarakat umum sama dengan para pemimpin dalam mengatur negara, pendapatnya dan pemikirannya, maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata dan telah keluar dari petunjuk sahabat, petunjuk khulafa Rasyidin dan salaf umat ini”.
(Syarah Riyadh Shalihin 6/225)

Syeikhuna Prof. Dr. Khalid bin Ali Al-Musyaqih (salah satu murid senior Syeikh Utsaimin) menasehatkan kepada kita bagaimana sikap yang benar di tengah bencana wabah melanda, beliau menjelaskan: “Hendaknya seorang mengikuti arahan-arahan dari badan resmi Pemerintah, karena arahan-arahan ini berkaitan dengan kebutuhan mayoritas orang. Dan hal-hal yang berkaitan dengan mayoritas orang maka dikembalikan kepada waliyyul amri.

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)”. (QS. An-Nisa’: 83)

Maka dalam hal-hal yang berkaitan dengan keamanan manusia dan problematika umum seperti ini, seharusnya kita menjadi satu barisan dan bergandengan tangan di bawah komando pemerintah dan arahan para ahli, jangan memecah belah barisan.
Barangsiapa yang memiliki pendapat pribadi maka hendaknya dia menyimpannya untuk dirinya sendiri. Rujukan kita adalah para ulama dan ulil amri. Allah berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.
(An Nisa’: 59). (Al Ahkam Al Fiqhiyyah Al Muta’alliqoh Bi Wabai Corona” hlm. 4)

Kita sadar bahwa musibah ini musibah besar, masih banyak kekurangan di sini sana, butuh gotong royong bersama antara pemerintah dan kita semua. Tidak mungkin hanya pemerintah saja, sebagaimana juga tidak mungkin masyarakat biasa saja yang menanganinya. Namun kita harus saling sinergi, saling melengkapi, saling membantu kita butuh persatuan bukan perseteruan, kita butuh membangun bukan menghancurkan.

Semoga Allah memberkahi kita semua, menjaga persatuan dan kesatuan kita, menjadikan kita kuat dan sabar, terutama untuk saudara-saudara kami yang terdampak bencana, semoga diberi kesabaran dan kekuatan menghadapi ujian hidup ini dan semoga lekas sembuh keadaan ini. Amin.

Baca Juga Artikel Terbaru

Leave a Comment