Catatan Polemik Tentang Syeikh Al Albani Apakah Muhadits Atau Bahits?
Yusuf bin Mukhtar As Sidawi
Muqaddimah
Polemik tentang Syeikh Albani antara pro dan kontra terus bergulir, bahkan semakin ke sini semakin liar narasi-narasi buruk yang dialamatkan kepada Syeikh Albani. Awalnya hanya pembahasan Muhadits dan Bahits, namun para pendengki keluar dari sarangnya sehingga mengeluarkan isi hati mereka selama ini, sehingga keluarlah tuduhan bahwa Syeikh Albani mencela ulama, mengkafirkan Imam Bukhari, melemahkan hadits-hadits Shahih Bukhari Muslim, dan seterusnya.
Namun, begitulah cara Allah untuk mengharumkan nama baik Syeikh Albani, seperti kata penyair:
وَإِذَا أَرَادَ اللهُ نَشْرَ فَضِيْلَةٍ
طُوِيَتْ أَتَاحَ لَهَا لِسَانَ حَسُوْدِ
Bila Allah berkehendak menyebarkan keutamaan yang rahasia
Maka, Dia memberi kesempatan lidah pendengki untuk menebarkannya.
(Diwan Abu Tamam: 45)
Kami amat yakin bahwa semua ini adalah jalan Allah untuk semakin menyebarkan kebenaran, mengangkat derajat ulama dan memadamkan kebathilan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Termasuk sunnatullah, apabila Dia ingin menampakkan agamaNya, maka dia membangkitkan para penentang agama, sehingga Dia akan memenangkan kebenaran dan melenyapkan kebatilan, karena kebatilan itu pasti akan hancur binasa”. (Majmu’ Fatawa 28/57)
Serahkan Bidang Kepada Ahlinya
Telah disepakati bersama oleh setiap manusia berakal bahwa setiap bidang ilmu itu harus diserahkan kepada ahli di bidangnya; bidang hadits diserahkan kepada ahli hadits, bidang nahwu diserahkan kepada ahli nahwu, bidang fiqih diserahkan kepada ahli fiqih, bidang kedokteran diserahkan kepada para dokter. Demikian seterusnya.
Imam Syaukani dalam Adab Thalab (hal. 76) mengatakan: “Sesungguhnya keadilan seorang tidak sempurna sehingga dia mengambil semua bidang dari ahlinya.
Adapun jika dia mengambil ilmu dari orang yang bukan bidangnya maka dia akan terjatuh dalam ketimpangan dan kesalahan”.
Sungguh aneh bin ajaib, seorang yang bukan ahli di bidang hadits tapi berbicara tentang ulama pakar hadits. Sungguh, ini adalah awal dari bencana seandainya dia menyadarinya.
Menakjubkanku ucapan Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani tatkala mengatakan:
من تكلم في غير فنه أتى بالعجائب
“Barang siapa berbicara hal yang bukan bidangnya maka dia akan melontarkan kejanggalan-kejanggalan”(Fathul Bari 3/584, Kalimatul Haq karya Ahmad Syakir hlm. 131)
Al Albani, Muhadits Atau Bahits?
Sejujurnya, kalau kita membaca kitab-kitab mustholah hadits, kami belum mendapati istilah Bahits Hadits untuk sebuah gelar ulama. Yang ada adalah gelar Amirul Mukminin fil hadits, Al Musnid, Al Hafidz, Al Muhaddits, Al Hakim. Adapun gelar dengan Bahits, ini sebuah istilah yang belum kami temukan dalam kitab-kitab hadits sebagai sebuah gelar ulama yang bergelut dengan ilmu hadits. (Lihat Syarah Lughotul Muhaddits 288-290 karya Syeikh Thariq bin Awadhullah)
Lantas apa definisi Al Muhaddits? Muhadits adalah sebuah istilah gelar untuk seorang yang menggeluti ilmu hadits di zamannya secara riwayat dan dirayah, mengerti tentang ilmu sanad, ‘ilal, nama-nama perawi, dan lain sebagainya. Dia ahli di bidang tersebut sehingga dikenal luas kepakarannya di bidang itu.
Adapun ucapan sebagian ulama dulu bahwa kami tidak menganggap ahli hadits sampai dia menulis 20 ribu hadits, maka hal itu adalah pada zaman mereka. (Lihat Tadrib Rawi 1/37-38 karya As Suyuthi, Qawaid Tahdits hlm. 79 karya Al Qasimi).
Kalau kita menerapkan defenisi ini, maka jelas Syeikh Al Albani memenuhi kriteria Al Muhadits dengan beberapa indikator:
- Karya-karya nya yang luar biasa dalam bidang hadits seperti Silsilah Ahadits Ash Shahihah, Silsilah Ahadits Adh Dhaifah, Irwaul Ghalil, meringkas Shahih Bukhari dan Muslim, memilah antara shahih dan dhaif kitab Sunan Tirmidzi, Sunan Abu Dawud, Sunan Ibnu Majah, Sunan Nasai, At Targhib wa Tarhib, Al Jami’u Shaghir, Al Adabul Mufrad, dan kitab-kitab hadits lainnya banyak sekali, sehingga dikatakan bahwa jumlah karya beliau lebih dari 300 kitab, baik yang tercetak atau masih manuskrip.
Salah satu karya Albani berjudul Ahkamul Janaiz terdiri sekitar 335 yang menggabungkan antara ilmu hadits dan fiqih, beliau tulis siang malam dalam tiga bulan. Lantas apa karya anda dan bisakah anda menulis karya semisal dalam setahun? - Pengakuan para ulama yang hidup di zaman nya, seperti Syeikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syeikh, Syeikh Abdul Aziz bin Baz, Syeikh Ibnu Utsaimin, Syeikh Hammad Al Anshari, Syeikh Abdul Muhsin Al Abbad, Syeikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i, Syeikh Taqiyyuddin Al Hilali, Syeikh Abdul Karim Al Khudhair dan lain sebagainya banyak sekali. Semuanya memuji kepakaran Syeikh Albani dalam ilmu hadits.
أُوْلَئِكَ آبَائِيْ فَجِئْنِيْ بِمِثْلِهِمْ
إِذَا جَمَعَتْنَا يَا جَرِيْرُ الْمَجَامِعُ
Merekalah orang tuaku, maka datangkanlah padaku semisal mereka
Apabila perkumpulan mengumpulkan kita wahai Jarir.
Menarik, ucapan Syaikh Dr. Bakr bin Abdillah Abu Zaid Rahimahullah tatkala membantah ucapan Muhammad Ali ash-Shabuni bahwa al-Albani tidak pandai hadits:
“Ini merupakan kejahilan yang sangat dalam dan pelecehan yang keterlaluan, karena kehebatan ilmu al-Albani dan perjuangannya membela Sunnah dan aqidah Salaf sangat populer di hati para ahli ilmu.
Tidak ada yang mengingkari hal itu kecuali musuh yang jahil. Saya tidak mau memperpanjang bahasan, saya serahkan hukumnya pada saudara pembaca”.
(At-Tahdzir min Mukhtasharat as-Shabuni fi Tafsir hal. 41)
- Pengakuan para tokoh non salafi dan para pendengki Syeikh Albani sekalipun seperti Al Ghumari, Said Mamduh, Abu Ghoddah, bahwa Albani pakar di bidang hadits.
- Beliau telah menghabiskan umurnya untuk berkhidmat kepada hadits nabi lebih dari 50 tahun lamanya.
- Popularitas di kalangan ulama dan para penuntut ilmu di berbagai negara, baik dalam majlis ilmu atau akademisi ilmu syari terutama ilmu hadits, bahkan tidak ada perpustakaan yang sepi dari karya-karya beliau.
Semua ini adalah indikator kuat bahwa Syeikh Albani layak disebut sebagai Muhadits zaman ini. Jika beliau bukan Muhadits di zamannya, maka tidak ada lagi yg berhak digelari Muhadits di zaman ini. Fikirkanlah.
Jika ada yang mengatakan: Kenapa harus ribut hanya masalah gelar Muhadits buat Syeikh Albani? Maka kami katakan kepadanya seperti ucapan sahabat Ibnu Abbas:
اسكت يا جاهل، لا يعرف الفضل لأهل الفضل إلا ذوو الفضل
Diamlah wahai jahil, tidaklah mengetahui keutamaan orang yang berilmu kecuali orang yang berilmu juga. (Tarikh Baghdad 14/15)
Hal ini mengingatkanku bahwa dahulu, ada orang yang mengingkari gelar Syeikhul Islam untuk Ibnu Taimiyyah, maka seorang ulama bernama Ibnu Nashiruddin menulis sebuah karya berjudul Ar Raddul Al Wafir sebagai pembelaan kepada Ibnu Taimiyyah dan membantah orang-orang yang mengingkari gelar Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
Benarkah Syeikh Muqbil Menilai Syeikh Al Albani Hanya Bahits Bukan Muhadits?
Anehnya, sang ustadz mengatakan bahwa Al Albani hanya Bahits hadits dan tidak Muhaddits membawakan ucapan Syeikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i yang menyebut Syeikh Albani sebagai Bahits. Baginya, seakan-akan itu menguatkan klaimnya dan dia telah menemukan senjata pamungkas untuk pembenaran penilaiannya, ditambah dengan retorika dan kita-kata yang membius jamaahnya yang awam tentang ilmu hadits.
Betul bahwa Syeikh Albani adalah Bahits hadits, yakni peneliti hadits karena memang kesibukan beliau adalah meneliti hadits-hadits Nabi. Namun, apakah itu sebuah gelar yang diberikan kepada Albani seperti halnya Al Hafidz, Al Musnid, Al Muhaddits? Seperti tadi kami sampaikan bahwa Bahits bukanlah sebuah gelar yang masyhur dalam dunia hadits untuk seorang yang menggeluti hadits. Tidak seperti klaim ustadz bahwa Syeikh Albani hanyalah bahits yang merupakan sebuah tingkatan di bawah Muhadits.
Kemudian, Apakah sifat Bahits yang diberikan Syeikh Muqbil berarti menafikan gelar Muhaddits untuk Syeikh Al Albani?
Lantas bagaimana dengan ucapan-ucapan Syeikh Muqbil di banyak kesempatan bahwa Albani adalah pakar dan imam ahli hadits di zamannya?
Coba kita perhatikan baik-baik ucapan Syeikh Muqbil berikut ini:
الشيخ ناصر الدين الألباني حفظه الله تعالى وهو يعتبر أعلم زمانه في علم الحديث قد أفنى من عمره زيادة على الخمسين السنة.
Syeikh Nashiruddin Al Albani -semoga Allah menjaganya- termasuk orang yang paling alim/mengetahui bidang ilmu hadits. Beliau telah menghabiskan umurnya lebih dari 50 tahun untuk meneliti hadits. (Ijabatu Saail hlm. 550)
Beliau juga berkata:
إن الشيخ محمد ناصر الدين الألباني -حفظه الله- لا يوجد له نظير في علم الحديث. قد نفع الله بعلمه وبكتبه.
Sesungguhnya Syeikh Muhammad Nashiruddin -semoga Allah menjaganya- tidak ada yang semisalnya dalam ilmu hadits. Allah telah memberikan manfaat dengan ilmunya dan kitab-kitabnya.
والذي أعتقدت وأدين الله به: أن الشيخ محمد ناصر الدين الألباني -حفظه الله- من المجددين الذين يصدق عليه قول الرسول : إن الله الله يبعث لهذه الأمة على رأس كل مئة سنة من يجدد لها أمر دينها. رواه أبو داود وصححه العراقي وغيره.
Yang saya yakini dan saya beragama kepada Allah dengannya bahwa Syeikh Muhammad Nashiruddin Al Albani -semoga Allah menjaganya- termasuk pembaharu dalam agama yang disebutkan oleh Nabi dalam sabdanya: Sesungguhnya Allah mengutus pada setiap seratus tahun seorang yang memperbaharui perkara agama. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan dishahihkan Al Iraqi dan lainnya.
الشيخ ليس له نظير في علم السنة.
Syeikh (Albani) tidak ada yang semisalnya dalam ilmu hadits. (Lihat Hayatul Albani 2/554-556, Asy Syaibani)
Cukuplah kalimat-kalimat di atas sebagai pengakuan Syeikh Muqbil tentang kepakaran Syeikh Albani dalam ilmu hadits, dan pujian-pujian itu lebih dari cukup dari gelar Muhaddits untuk Albani.
إِذَا قَالَتْ حَذَامِ فَصَدِّقُوْهَا
فَإِنَّ الْقَوْلَ مَا قَالَتْ حَذَامِ
Apabila Hadhami berucap maka benarkanlah
Karena kebenaran pada dirinya.
Jika masih ada yang berkilah lagi -sebagai kebiasaannya dalam beretorika-: Tetap saja Syeikh Muqbil tidak menyebut Syeikh Albani itu sebagai Muhadits, maka kami katakan: Baiklah, berikut kami nukilkan ucapan Syeikh Muqbil yang mensifati Syeikh Albani sebagai:
محدث العصر
Muhaddits (ahli hadits) zaman ini. (Lihat Sifat Shalat Nabi hlm. 118 karya Syeikh Muqbil bin Hadi)
وَإِذَا لَمْ تَرَ الهِلاَلَ فَسَلِّمْ
لأُنَاسٍ رَأَوْهُ بِالأَبْصَارِ
Apabila engkau tidak melihat bulan sabit maka serahkanlah
kepada manusia yang melihatnya dengan mata kepala.
Masihkah anda berkilah lagi? Ataukah ini adalah hawa nafsu dan kesomobongan yang membelenggu dirimu? Semoga Allah merahmati Imam Waki bin al-Jarrah tatkala berucap:
أَهْلُ الْعِلْمِ يَكْتُبُوْنَ مَالَهُمْ وَمَاعَلَيْهِمْ, وَأَهْلُ الْبِدَعِ وَالأَهْوَاءِ لاَ يَكْتُبُوْنَ إِلاَّ مَا لَهُمْ
“Ahli ilmu menulis semua sisi positif dan negatif yang ada pada mereka. Adapun ahli bid’ah dan pengekor hawa nafsu, mereka tidak menulis kecuali sisi positif yang ada pada mereka saja. (Sunan Daruquthni 1/26)
Nasehat & Renungan
Sebagai nasehat untuk diri kami pribadi dan saudara-saudara kami semua dalam masalah ini, izinkan kami menyampaikan beberapa nasehat dan faedah pengingat untuk kita semua:
- Adab Mulia Itu Bernama Tahu Diri
Salah satu adab mulia yang kini mulai pudar dari kita adalah tahu kapasitas diri. Mari kita tahu kapasitas diri kita, jangan merasa tahu segala bidang dan jangan bicara apa yang bukan bidang kita. Fudhail bin Iyadh berkata: “Puncak adab menurut kami adalah tatkala seorang tahu kadar dirinya”. (Hilyatul Auliya’, 10/169)
Seorang pernah mengatakan kepada Ibnul Mubarak “Berikanlah padaku wasiat”. Diapun menjawab:
” اعرف قدر نفسك “.
“Sadarilah Kapasitas Dirimu”. (Al Jarh wa Ta’dil 1/280)
Kasihanilah dirimu wahai hamba Allah, jangan kasihan sama Syeikh Albani.
يا نَاطِحَ الْجَبَلِ الْعَالِيْ لِيَكْلِمَهُ
أَشْفِقْ عَلَى الرَّأْسِ لاَ تُشْفِقْ عَلَى الْجَبَلِ
Hai orang yang akan menanduk gunung
tinggi untuk menghancurkannya
Kasihanilah kepala anda,
jangan kasihan pada gunung itu.
- Muliakanlah Ulama, Jangan Rendahkan Mereka
Para ulama adalah orang-orang yang dimuliakan oleh Allah. Cukuplah sebagai keutamaan mereka bahwa penduduk langit dan bumi hingga binatang semut dan ikan mendoakan kebaikan untuk mereka. Nabi bersabda:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ
“Sesungguhnya Allah, para MalaikatNya dan penduduk langit dan bumi, bahkan semut di sarangnya dan ikan di lautan mereka semua mendoakan kebaikan untuk orang-orang yang mengajarkan kebaikan untuk manusia”. (HR. Hakim dalam Al Mustadrak 1/93, Ath Thabarani dalam Al Ausath: 3960 dan dishahihkan Al Albani dalam Shahihul Jami’: 4214)
Para ulama menjelaskan kenapa para binatang turut mendo’akan para penuntut ilmu dan ulama, sebabnya adalah:
- Orang yang memiliki ilmu akan mengajarkan bagaimana berbuat baik kepada sesama makhluk, termasuk kepada Binatang, sehingga para binatang mendo’akannya sebagai balasan dari kebaikannya tersebut.
- Orang yang berilmu mengajarkan pula wajibnya menjaga lingkungan dan tidak merusak, sehingga para binatang pun menjadi terjaga. Karenanya, mereka mendo’akan kebaikan kepadanya. (Lihat Waratsatul Anbiya’ Syarah Hadits Abu Darda’, Ibnu Rajab (Majmu’ Rasail 1/29-30), Miftah Dar Sa’adah, Ibnul Qayyim 1/258).
Syeikhuna Sulaiman Ar Ruhaili berkata: “Salah satu wasiat guruku yang sangat menakjubkanku adalah pesannya padaku: “Wahai Sulaiman, jangan jadikan dirimu lebih rendah dari hewan”.
Aku berkata: Kok bisa begitu?Beliau menjawab: Janganlah kamu mencela para ulama rabbani yang dikenal dengan sunnah dan tauhid, tetapi hendaknya engkau menyebutkan keutamaan mereka dan mendoakan kebaikan mereka. Sesungguhnya Nabi bersabda:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ
“Sesungguhnya Allah, para MalaikatNya dan penduduk langit dan bumi, bahkan semut di sarangnya dan ikan di lautan mereka semua mendoakan kebaikan untuk orang-orang yang mengajarkan kebaikan untuk manusia”. (Lihat Syarh Al Washiyyah Ash Sughro hlm. 150)
Kita tidak boleh nyinyir dan merendahkan siapapun, bahkan hewan saja gak boleh, apalagi muslim, apalagi ulama. Mari renungkan bersama sabda Nabi ﷺ :
لا تسبوا الديك فإنه يوقظ للصلاة
“Janganlah kalian menghina ayam jago, karena dia membangunkan kalian untuk sholat”. (Hasan. HR. Abu Dawud: 5101 dan Ahmad 21679 dan dishahihkan al Albani)
Subhanallah, kalau menghina ayam saja gak boleh, apalagi menghina manusia? apalagi jika dia adalah ulama dan umaro yang punya pengaruh di tengah masyarakat?!
Syeikhuna Abdur Rozzaq bin Abdul Muhsin Al Abbad berkata: “Jika Nabi melarang dari mencela ayam jago karena dia membangunkan manusia untuk shalat, lantas bagaimana halnya dengan mencela ulama yang membangunkan hati manusia dan menyadarkan hamba yang lalai? Tentu saja jasa para ulama lebih agung daripada jasa ayam, sehingga mereka pun lebih utama untuk dihormati dan dimuliakan kedudukan mereka”. (Syarh Kifayatul Mutaabbid wa Tuhfatul Mutazahhid hlm. 63)
- Membela Albani dan Menjulukinya Dengan Muhadits bukan berarti berlebihan Kepada Beliau
Membela kehormatan saudara kita adalah amalan mulia, apalagi membela para ulama sunnah, apalagi sejatinya orang yang merendahkan ulama pada dasarnya bukan hanya menyerang pribadinya saja tetapi dakwah yang diembannya.
Rasulullah bersabda:
مَن ردَّ عَن عِرضِ أخيهِ ردَّ اللَّهُ عن وجهِهِ النَّارَ يومَ القيامةِ
Barang siapa yang membela kehormatan saudaranya maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka kelak pada hari kiamat. (HR. At Tirmidzi: 1931 dan dishahihkan Albani)
Syeikh Albani berkata: “Kewajiban kita adalah membela orang-orang beriman dan menjernihkan kehormatan mereka dari segala kebohongan dan kebatilan yang dilontarkan kepada mereka, baik karena faktor kejahilan, kezhaliman, atau mungkin kedua-duanya secara bersamaan”. (Difa’ Anil Hadits Nabawi was Sirah hlm. 101)
Perlu diketahui bahwa saat kita membela kehormatan Syeikh Albani ini sama sekali bukan berarti kita ghuluw kepada Al Albani. Tatkala para ulama menggelari Syeikh Albani dengan Muhadits bukan berarti mereka berlebihan kepada Albani seperti klaim dan tuduhan sang Ustadz. Sama sekali hal itu tidak benar.
Ahlu Sunnah sikap mereka terhadap ulama pertengahan antara berlebihan dan meremehkan. Inilah yang diterapkan oleh para ahli Sunnah (Salafiyyun) terhadap Syaikh al-Albani, mereka menghormati dan mencintai beliau karena ilmu, aqidah, dakwah dan perjalanannya yang sesuai dengan kebenaran. Namun dalam waktu yang sama, mereka tidak mengkultuskan beliau dan taklid buta kepada beliau. Apabila memang jelas bagi mereka ketergelinciran suatu pendapat Syaikh al-Albani, maka mereka meninggalkannya dengan tetap menghormati beliau. Berikut beberapa bukti yang menguatkannya:
- Fatwa Lajnah Da’imah Saudi Arabia.
“Muhammad Nashiruddin al-Albani kami kenal sebagai seorang yang memiliki ilmu, keutamaan, pengagungan dan pembelaan sunnah, mendukung madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah dan melarang fanatik dan taklid buta. Kitab-kitab beliau memuat banyak mutiara faedah, tetapi beliau seperti para ulama lainnya juga, tidak mashum, kadang salah dan kadang benar. Kita berharap agar pendapatnya yang benar diberi dua pahala dan pendapat yang salah diberi satu pahala sebagai pahala ijtihad, sebagaimana telah shohih dari Nabi bahwa beliau bersabda:
إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ وَاحِدٌ
“Apabila seorang hakim (ulama) mengambil keputusan dan berusaha (mencari yang benar) maka dia mendapat dua pahala, dan apabila salah dia mendapatkan satu pa-hala. (Fatawa Lajnah Diamah 12/224)
- Ucapan Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Baaz
“Syaikh Nasiruddin al-Albani termasuk di antara saudara-saudara kita yang istimewa, terpercaya dan terkenal memiliki otoritas ilmu, keutamaan dan perhatian tentang hadits, tetapi beliau tidak mashum, kadang juga salah dalam menshohihkan dan mendho’ifkan hadits. Kendatipun demikian, tidak boleh mencela, merendahkan dan menggunjingnya, tetapi disyariatkan untuk berdoa agar Alloh menambah taufiq baginya dan kebaikan niat dan amal perbuatan… (Fatawa Islamiyyah 4/122)
3.Ucapan Syaikh al-Allamah Muhammad bin Sholih al-Utsaimin: “Syaikh al-Albani adalah orang yang sangat dalam ilmunya, luas telaahnya dan kuat argumennya. Namun semua orang dapat diambil dan ditolak ucapannya selain perkataan Alloh dan Rosul-Nya. (Hayatul Albani 2/543)
Beliau juga berkata: “Al-Albani adalah alim, muhaddits, faqih. Saya berani menjadi saksi bahwa Syaikh al-Albani seorang yang beraqidah lurus dan selamat, tetapi bukan berarti kita mengatakan bahwa beliau tidak pernah salah, karena tak ada yang mashum kecuali Rosululloh. Beliau terkadang salah dalam beberapa pendapatnya”. (Majalah Al-Ashalah edisi 28 Tahun VI/Jumadil Akhir 1420 H)
- Julukan Muhadits dan Bahits, Mana Yang Adil?
Kita sepakat bahwa dalam menilai seorang kita harus adil yaitu menempatkan sesuatu pada porsinya dan kedudukannya. Tidak boleh kita berlebihan dalam meninggikan dan tidak boleh merendahkan dari kedudukannya. Oleh karenanya, seorang harus berhati-hati dalam menilai dan menghukumi manusia.
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Dan sebagaimana dimaklumi bersama bahwa menghukumi diantara manusia dalam agama dan ucapan mereka lebih berat daripada menghukumi mereka dalam jual beli dan harta mereka”. (Dar’u Ta’arudhil Aqli wa Naqli 7/464)
Jangan sampai kebencian kita dan kecintaan kita kepada seseorang menjadikan kita tidak berbuat adil dalam menilainya. Allah berfirman:
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Maidah: 8)
Bila kepada musuh saja kita harus adil, lantas bagaimana kiranya kepada seorang muslim, apalagi kepada ulama?! (Lihat Al Istiqomah 1/38 karya Ibnu Taimiyyah, Badaiul Fawaid 2/165-166 karya Ibnul Qayyim)
Klaim sang ustadz yang mengingkari gelar Muhadits terhadap Syeikh Albani dan memposisikan beliau hanya sekedar Bahits dengan klaim adil dan mendudukan pada porsinya dan mengklaim bahwa gelar Muhadits untuk Syeikh Albani adalah sikap yang berlebihan. Subhanallah, timbangan keadilan apa yang dipakai olehnya? Apakah para ulama bahkan para musuhnya yang menjuluki beliau sebagai Muhadits semuanya berlebihan kepada Albani? Apakah para ulama tersebut salah dalam menilai Syeikh Al Bani, sedangkan anda yang inshaf dan adil dalam menilai beliau?
هبني قُلْتُ : هَذَا الصُّبْحُ لَيْلٌ
أَيَعْمَى الْعَالِمُوْنَ عَنِ الضِّيَاءِ
Anggaplah bahwa diriku mengatakan
Sesungguhnya Shubuh itu adalah malam
Apakah orang yang mengerti sudah buta dari sinar?!.
Apakah adil jika seorang dokter spesialis namun dinilai sebagai dokter magang? Apakah adil jika menggelari seorang profesor doktor sebagai guru magang?
Sebagaimana tidak adil jika meninggikan derajat seorang di atas kedudukannya, demikian juga tidak adil jika merendahkan seorang dari kedudukannya, Allah berfirman:
فَأَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَٱلْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا۟ ٱلنَّاسَ أَشْيَآءَهُمْ
Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, (QS. Al-A’raf: 85)
Jika Allah saja mengecam orang-orang yang mengurangi timbangan dan takaran, lantas bagaimana dengan orang orang yang mengurangi timbangan keadilan dalam menilai seorang ulama?! Fikirkanlah.
- Jangan membantah dengan caci maki
Salah satu resiko hidup di zaman sekarang adalah kita sulit membendung omongan orang yang beraneka ragam karakternya. Adanya orang-orang seperti itu adalah ujian buat kita semua. Semua kita sama-sama menghadapinya. Tidak perlu baper menghadapi komen-komen di dunia maya.
Yang jelas siapapun yang menyampaikan statemen dia harus siap diuji kebenarannya. Sebagaimana ustadz berani mengkritik Syeikh Albani maka harus siap juga dikritik pandangan dan penilaiannya serta siap diuji keotentikan klaimnya. Harus siap bertanggung jawab secara ilmiah di dunia sebelum nanti bertanggung jawab di akherat. Karena semua kita akan berdiri di hadapan Allah mempertanggung jawabkan ucapan dan perbuatan kita di dunia ini.
Sekalipun demikian, kami menasehatkan kepada kami pribadi dan saudara-saudara kami semua : Mari kita membela kebenaran dengan cara yang benar, jangan dengan caci maki dan curang.
Syeikh Abdur Rahman bin Yahya Al-Mu’allimi رحمه الله berkata:
“Sebesar apapun kita mencintai kebenaran. Namun kita jangan membela kebenaran kecuali dengan cara yang benar”. (Majmu Muallafat wa Atsar Syeikh 4/6).
Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Sunnah itu dibela dengan kebenaran, kejujuran dan keadilan. Tidak dibela dengan kedustaan dan kedzaliman. Jika seorang membantah kebathilan dengan kebathilan pula, dan melawan kebid’ahan dengan kebid’ahan pula, maka ini termasuk yang dicela oleh salaf dan para imam”. (Dar’u Ta’arudzil Aqli wa Naqli 7/182)
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: ”Membantah hanya dengan mencela dan umpatan maka semua orang juga bisa. Seorang yang hendak membantah orang musyrik dan ahli kitab saja harus menjelaskan hujjah yang menjelaskan kebenaran dan membongkar kebathilan mereka”. (Majmu Fatawa 4/186)
- Kritik Bukan Menghina, Dan Menghina Bukan Kritik
Masih banyak orang tidak bisa membedakan antara menghina dan mengkritik. Seringkali kritikan dianggap sebagai celaan. Sebaliknya, seringkali hinaan dianggap sebagai kritik ilmiah. Oleh karenanya, Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali menulis sebuah risalah khusus untuk membahas perbedaan ini berjudul “Al-Farqu Baina an-Nashihah wa at-Tayir.
Diantara ucapan beliau (hal. 9-12): “Adapun menjelaskan kesalahan seorang ulama sebelum-nya, apabila beradab yang baik dan sopan dalam mengkritik maka tidak apa-apa, tidak tercela”
Lanjutnya: “Apabila tujuan si pengkritik adalah menjelaskan ketergelinciran pendapat seorang ulama dan agar tidak diikuti manusia, maka tidak ragu lagi bahwa dia berpahala dan menegakkan pilar nasehat untuk Alloh, Rasul-Nya, para pemimpin dan kaum Muslimin secara umum.
Adapun apabila tujuan penulis tersebut adalah membongkar aib seorang ulama dan menampakkan cacatnya pada umat, maka hal itu adalah haram, baik mengkritiknya secara langsung atau tidak, baik di saat masih hidup atau sesudah wafatnya. Hal itu termasuk perbuatan dosa yang diancam oleh Alloh dalam al-Qur’an-Nya dan Nabi dalam haditsnya”.
- Akhlak Mulia Itu Bernama Berani Kembali Kepada Kebenaran
Salah satu akhlak mulia yang dimiliki ulama Rabbaniyun adalah menerima nasehat dan kembali kepada kebenaran dari siapapun yang menyampaikan kepadanya, baik yang selevel, lebih atas atau bahkan lebih bawah levelnya. Dahulu dikatakan:
الرجوع إلى الحق فضيلة والتمادي في الباطل رذيلة
Kembali kepada kebenaran adalah keutamaan dan terus bertahan dalam kebathilan adalah kehinaan.
Hal itu karena kebenaran adalah barang berharga yang tak bisa dinilai dengan dunia.
الحكمة ضالة المؤمن أينما وجدها أخذها
Hikmah itu adalah barang hilang seorang mukmin. Dimanapun dia mendapatinya dia akan mengambilnya.
Inilah yang dipraktekkan oleh para ulama salaf dahulu dan mereka nasehatkan kepada kita semua. Al Hafidz Ibnu Rajab berkata:”Para ulama salaf yang disepakati ilmu dan keutamaan mereka, mereka menerima kebenaran dari siapapun yang menyampaikan kepada mereka sekalipun anak kecil. Mereka juga menasehatkan para sahabat dan pengikut mereka untuk menerima kebenaran apabila nampak kebenaran pada selain pendapat mereka”. (Al Farqu Baina Nasihah wa Ta’yir hlm. 10)
Demikian juga Imam Al Ajurri, beliau berkata tatkala menyebutkan akhlak ulama: “Bila seorang alim telah berfatwa kemudian dia tahu bahwa fatwanya keliru maka dia tidak sombong untuk meralatnya.
Jika dia berpendapat suatu pendapat lalu dibantah oleh selainnya baik yang lebih tinggi, selevel atau lebih rendah darinya, dan ternyata memang dia salah, maka dia segera meralat ucapannya, memuji orang yang mengingatkannya dan mengucapkan terima kasih padanya”. (Akhlakul Ulama hlm. 27)
Berbeda dengan orang pada zaman sekarang, ketika dia salah lalu ada yang mengkritiknya maka dia sombong, marah, berkelit dan justru merendahkan orang yang mengkritiknya dan mencari-cari pembenaran atas kesalahannya lalu merasa dirinya yang terdzalimi. di dunia ini. Benar kata Ibnu Qudamah tatkala mengatakan:
“Adalah para salaf, mereka cinta terhadap orang yang mengingatkan kesalahan mereka. Sedangkan kita sekarang, orang yang paling kita benci adalah orang yang mengingatkan keesalahan kita”. (Mukhtashor Minhaj Qoshidin hlm. 196)
Jadi, harusnya kita gembira tatkala ada yang mengingatkan kesalahan kita. Syaikh Shalih Al Fauzān berkata:”Orang yang menginginkan kebenaran akan senang dengan nasihat dan teguran saat dia terjatuh dalam kesalahan.” (Syarh Kitābul ‘Ubūdiyyah, hal. 252)
Syeikh Abdur Rahman As Sa’di berkata saat menjelaskan adab seorang guru: “Hendaknya bagi seorang guru untuk kembali kepada kebenaran. Janganlah suatu ucapan yang pernah diucapkan dan ternyata dia tahu bahwa itu salah menjadi penghalang baginya untuk kembali kepada kebenaran, karena ini menunjukkan tanda inshaf dan tawadhu kepada kebenaran.
Ini adalah akhlak mulia yang akan menambah kepercayaan murid-muridmu kepadamu, serta bertambah cinta dan menirumu. Maka wajib mengikuti kebenaran walaupun itu datang dari anak kecil atau senior.
Termasuk kenikmatan Allah kepada seorang guru bila dia mendapati ada diantara muridnya yang mengingatkan kesalahannya dan mengarahkan ke jalan yang benar agar dia tidak terus dalam kesalahannya, maka ini perlu disyukuri kepada Allah serta berterima kasih kepada yang mengingatkan, baik muridnya atau selainnya”. (Al Fatawa As Sa’diyyah hlm. 627-628)
Hati-hatilah dari menolak kebenaran yang datang. Alangkah bagusnya ucapan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah tatkala berkata: “Orang yang sombong tidak menerima kebenaran, niscaya dia akan ditimpa mengikuti kebathilan”. (Majmu Fatawa 7/629).
Semoga Allah menganugerahkan kepada kita akhlak mulia berupa tawadhu dan menerima kebenaran. Dan semoga Allah menjauhkan kita dari kesombongan dan menolak kebenaran.
