SUDAHKAH BENCANA MENYADARKAN HATI KITA?!

SUDAHKAH BENCANA
MENYADARKAN HATI KITA?!

Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As Sidawi

Hari-hari ini, kita diingatkan dengan bencana demi yang bertubi-tubi silih bergantian, ada gempa NTT, kebakaran hutan Kalimantan, meletusnya gunung dan lain sebagainya. Mungkin kita bertanya-tanya: Ada apa dengan semua ini? Dan apa hikmah di balik semua ini? Harus kita sadari bahwa Allah tidaklah menurunkan bencana ini melainkan karena terdapat hikmah yang mendalam.
﴿ ۡۖ وَعَسَىٰۤ أَن تَكۡرَهُوا۟ شَیۡـࣰٔا وَهُوَ خَیۡرࣱ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰۤ أَن تُحِبُّوا۟ شَیۡـࣰٔا وَهُوَ شَرࣱّ لَّكُمۡۚ وَٱللَّهُ یَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ﴾
“…Bisa jadi kalian membenci sesuatu dan itu baik bagi kalian dan bisa jadi kalian menyintai sesuatu dan itu buruk bagi kalian dan Allah mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 216)

Di antara hikmah adanya musibah-musibah ini adalah :

  1. Meyakini Tidak Ada Daya dan Kekuatan selain Allah

Melalui peristiwa bencana ini, kita jadi sadar bahwa kita anak manusia hanyalah makhluk yang lemah dan kerdil tak berdaya, kita sedikitpun tidak bisa menangkis dan menghentikan musibah. Maka tidak pantas kita menyombongkan diri. Betul firman Robb kita:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ أَنتُمُ ٱلْفُقَرَآءُ إِلَى ٱللَّهِ ۖ وَٱللَّهُ هُوَ ٱلْغَنِىُّ ٱلْحَمِيدُ
“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji”. (Fathir: 15)

Musibah-musibah ini juga menanamkan tauhid dan keimanan yang mengakar dalam hati sanubari kita sehingga kita tidak bergantung kecuali hanya kepada Allah, karena kita percaya bahwa yang menurunkan bencana hanyalah Allah dan tidak ada yang bisa menyelamatkan kita kecuali hanya Allah. Adapun selain Allah, sehebat apapun dia dan setinggi apapun pangkatnya, tidak akan bisa menyelamatkan kita, baik itu wali, kyai, kuburan, dokter, presiden dan lain sebagainya.
قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَىٰنَا ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ
Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal”. (QS. At-Taubah: 51)

  1. Bertaubat kembali kepada Allah

Adanya bencana yang melanda di negeri ini tentu bukanlah suatu hal yang kebetulan begitu saja, namun semua itu adalah teguran dan peringatan kepada kita agar kita bertaubat kepada Allah dari segala dosa, agar kita kembali bersimpuh kepada Allah dan menyibukkan diri dengan ibadah.
وَمَا نُرْسِلُ بِٱلْءَايَٰتِ إِلَّا تَخْوِيفًا
Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti. (QS. Al-Isra: 59)

Wahai hamba-hamba Allah, pernahkah terbesit dalam hati kita bahwa bencana yang menimpa bangsa saat ini adalah disebabkan perbuatan dosa kita, agar kita segera bertaubat dan kembali kepada -Nya?! Allah berfirman :
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Telah nampak kerusakan di daratan dan lauatan disebabkan ulah perbuatan manusia. Allah timpakan musibah karena sebab sebagian dosa mereka agar mereka kembali kepada Allah. (Ar-Ruum : 41)

Alangkah benarnya ucapan Syaikh Ibnu Utsaimin tatkala berkata dalam khutbahnya tentang dampak kemaksiatan: “Demi Allah, sesungguhnya kemaksiatan itu sangat berpengaruh pada keamanan suatu negeri, kenyamanan, dan perekonomian rakyat”.

Maka wajib bagi kita untuk kembali kepada Allah dan memperbanyak mohon ampun kepadaNya, semoga istighfar kita menjadi penangkal kita dari bencana.
وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun. (QS. Al-Anfal: 33)

Mari kita ramaikan masjid-masjid untuk shalat, kajian agama, perbanyak sedekah, istighfar dan melakukan amal-amal kebaikan. Rasulullah bersabda tatkala terjadi gerhana matahari pada zaman beliau:
إنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ مِن آيَاتِ اللهِ، وإنَّهُما لا يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ، وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُما فَكَبِّرُوا، وَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
“Sesungguhnya matahari dan rembulan merupakan dua tanda Allah Ta’ala, dan sesungguhnya tidaklah terjadi gerhana atas keduanya karena meninggalnya seseorang dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Maka apabila kalian melihatnya, dirikanlah takbiran, berdo’alah kepada Allah, sholatlah dan bersedakahlah.” (HR. Bukhari Muslim)

Janganlah kita termasuk orang-orang yang memiliki hati yang keras dan membatu, karena menganggap bahwa bencana-bencana tersebut hanyalah faktor alam semata sehingga kita masih terus larut dalam kelalaian kita selama ini.
فَلَوْلَآ إِذْ جَآءَهُم بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَٰكِن قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيْطَٰنُ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. Al-An’am: 43)

Sahabat Numan bin Basyir berkata: “Kebinasaan di atas kebinasaan tatkala seseorang tetap melakukan kemaksiatan di saat bencana melanda”. Karena hal itu menunjukkan keras hati manusia, dia tidak sadar akan teguran Allah padanya. Semoga Allah melembutkan hati kita semua.

3.Mengingatkan Kita akan Datangnya Kematian dan Bersegera Bertaubat pada-Nya

Melihat peristiwa musibah demi musibah yang memakan banyak nyawa mengingatkan kita akan datangnya kematian yang pasti datang menghampiri kita semua.
Ketahuilah wahai saudaraku seiman, bahwa setinggi apapun jabatan kita, sebanyak berapapun harta kita, sekuat apapun tenaga kita, ingatlah bahwa kita semua sudah divonis Allah akan mati dan kita sedang antri menunggu jadwal kematian kita, walau bukan karena virus dan bencana.
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَـــةُ المَوْتِۗ ثُمَّ اِلَيْنَا تُرْجَعُـــوْنَ ﴿٥٧﴾
“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. Ar-Rum : 57)

Ya, mungkin saja kita bisa lari dari kejaran musuh, selamat dari buruan binatang buas, lolos dari kepungan bencana alam, atau sembuh dari penyakit kronis. Namun, yakinlah bahwa kita tidak akan bisa menghindar dari intaian kematian. Allah Ta‘ala berfirman:
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ ۗ
Dan di mana pun kalian berada, niscaya kematian itu akan mendatangi kalian, meskipun kalian berlindung di balik benteng yang sangat kokoh. (QS an-Nisaa’ [4]: 78)

Saudara-saudara kita yang meninggal karena bencana gempa tentu saja tidak tahu bahwa mereka sedang menuju kematian. Maka begitupun dengan kita, apa yang menimpa mereka bukan suatu hal yang mustahil akan menimpa kita juga. Jangan pernah merasa aman dari bencana wahai hamba Allah karena kematian itu amatlah dekat dengan kita.
أَفَأَمِنَ أَهْلُ ٱلْقُرَىٰٓ أَن يَأْتِيَهُم بَأْسُنَا بَيَٰتًا وَهُمْ نَآئِمُونَ
Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?
أَوَأَمِنَ أَهْلُ ٱلْقُرَىٰٓ أَن يَأْتِيَهُم بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ
Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?
اَفَاَمِنُوۡا مَكۡرَ اللّٰهِ‌ ۚ فَلَا يَاۡمَنُ مَكۡرَ اللّٰهِ اِلَّا الۡقَوۡمُ الۡخٰسِرُوۡنَ
Apakah mereka merasa aman dari siksaan Allah (yang tidak terduga-duga)? Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah selain orang-orang yang rugi. (QS. Al-Araf: 97-99)

Hendaknya kita sering mengingat kematian karena hal itu akan menyadarkan kita dari kelalaian dan membangunkan kita dari senda gurau dan permainan, memotivasi kita untuk melakukan ketaatan, bertaubat dari kesalahan dan merasa cukup dengan rezeki yang Allah berikan. Nabi bersabda mengingatkan kita semua:
«أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ». يَعْنِى الْمَوْتَ.
“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan,” yaitu kematian. (HR at-Tirmidzi dan disahihkan di dalam kitab Shahiih at-Tirmidziy)

Kita sering menyaksikan kematian tetangga kita, kerabat kita, sahabat kita, kita juga mengunjungi kuburan, tetapi adakah hati kita tergerak dan bergetar dengan semua peristiwa tersebut? Ataukah tidak berpengaruh sedikit pun untuk mengingat sang penghancur kelezatan?!!

Pernahkah kita berpikir: Hari ini saya menyalati jenazah sahabat saya, suatu saat nanti saya yang akan disalati seperti ini?! Hari ini saya mengantar jenazah tetangga saya, suatu saat nanti saya yang akan diantar. Hari ini saya ikut menguburkan kerabat saya, suatu saat nanti saya juga akan dikubur sepertinya?! Marilah kita menjadi hamba-hamba yang cerdas yang selalu mengingat mati.
فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ: «أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ»
Orang tersebut bertanya lagi, ‘Lalu orang beriman manakah yang paling berakal (cerdas)?’ Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya setelah kematian, merekalah yang berakal.’” (HR Ibnu Majah dan disahihkan di dalam kitab Shahiih Ibn Maajah)
Mari kita siapkan bekal iman dan amal shalih untuk setelah kematian. Jangan tertipu dengan dunia yang fana.

  1. Menguatkan Persatuan dan Saling Cinta Diantara Kaum Muslimin

Adanya bencana demi bencana menjadikan kaum muslimin saling bersatu, saling bahu membahu, saling menolong antara satu dengan lainnya, saling bekerja sama dalam kebaikan sehingga terwujudlah persatuan dan saling cinta yang sangat dianjurkan dalam agama kita yang mulia. Allah berfirman:
وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS. Al-Maidah: 2)
Nabi ﷺ bersabda:
مَثَلُ المُؤْمِنِيْنَ فِيْ تَوَادِّهِمْ وَ تَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الجَسَدِ الوَاحِدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُدْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَ الحُمَّى
“Perumpamaan kaum muslimin dalam saling mengasihi, saling menyayangi, dan saling menolong di antara mereka seperti perumpamaan satu tubuh. Tatkala salah satu anggota tubuh merasakan sakit, maka anggota tubuh yang lainnya akan merasakan pula dengan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Muslim)

Maka mari kita saudara-saudara kita yang terdambak bencana di sana dengan apa yang kita bisa baik dengan harta, tenaga atau doa.

Demikianlah nasehat yang dapat kami sampaikan, mohon maaf atas segala kekhilafan dan kekurangan, dan terima kasih atas segala perhatian. Was Salamu alaikum warohmatullahi wabarokatuhu.

Baca Juga Artikel Terbaru

Leave a Comment