Muhammad bin Abdul Wahhab: Fitnah Nejed?

(Kritikan Ilmiah untuk Penentang Dakwah Tauhid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab)

disusun oleh:

Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi

.

membela dakwah tauhidSesungguhnya Alloh telah berjanji menjaga kemurnian agama-Nya, dengan membangkitkan sebagian hamba-Nya untuk berjuang membela agama dan membantah ahli bid’ah, para pengekor hawa nafsu, yang seringkali menyemarakkan agama dengan kebid’ahan dan mempermainkan dalil al-Qur’an dan as-Sunnah seperti anak kecil mempermainkan tali mainannya. Mereka memahami nash-nash dengan pemahaman yang keliru dan lucu. Hal itu karena mereka memaksakan dalil agar sesuai dengan selera hawa nafsu.

Bila anda ingin bukti, terlalu banyak, tetapi contoh berikut ini mungkin dapat mewakili.

Dalam sebuah majalah bulanan yang terbit di salah satu kota Jawa timur, seorang yang menamakan dirinya ”Masun Said Alwy” menulis sebuah artikel sekitar sepuluh halaman berjudul ”Membongkar Kedok Wahabi, Satu Dari Dua Tanduk Setan”.

Setelah penulis mencoba membaca tulisan tersebut, ternyata hanya keheranan yang saya dapati. Bagaimana tidak? Tulisan tersebut tiada berisi melainkan kebohongan dan kedustaan, sampai-sampai betapa hati ini ingin sekali berkata kepada penulis makalah tersebut, ”Alangkah beraninya anda berdusta! Tidakkah anda takut siksa?!”

Sungguh banyak sekali kebohongan yang kudapati([1]), namun yang menarik perhatian kita untuk menjadi topik bahasan rubrik hadits adalah ucapannya yang berkaitan tentang “hadits” sebagai berikut:

”Sungguh Nabi SAW telah memberitakan akan datangnya Faham Wahabi ini dalam beberapa hadits, ini merupakan tanda kenabian beliau SAW dalam memberitakan sesuatu yang belum terjadi. Seluruh hadits-hadits ini adalah shahih, sebagaimana terdapat dalam kitab shahih Bukhari & Muslim dan lainnya”. Di antaranya:

الْفِتْنَةُ مِنْ هَا هُنَا الْفِتْنَةُ مِنْ هَا هُنَا وَأَشَارَ إِلَى الْمَشْرِقِ

Fitnah itu datangnya dari sana, fitnah itu datangnya dari arah sana, sambil menunjuk ke arah timur (Nejed). HR. Muslim dalam Kitabul Fitan

يَخْرُجُ نَاسٌ مِنَ الْمَشْرِقِ يَقْرَأُوْنَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُوْنَ مِنَ الدِّيْنِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ لاَ يَعُوْدُوْنَ فِيْهِ حَتَّى يَعُوْدَ السَّهْمُ إِلَى فَوْقِهِ سِيْمَاهُمْ التَّحْلِيْقُ. رواه البخاري

Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al Qur’an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati), mereka keluar dari agama seperti anak anah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ke tempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur. HR. Bukhari no 7123, Juz 6 hal 20748. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Dawud dan Ibnu Hibban.

Nabi SAW pernah berdoa

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ شَامِنَا, اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ يَمَنِنَا

Ya Alloh, berikanlah kami berkah dalam negara Syam dan Yaman.

Para sahabat bertanya: Dan dari Nejed wahai Rasulullah, beliau berdoa: Ya Alloh, berikanlah kami berkah dalam negara Syam dan Yaman, dan pada yang ketiga kalinya beliau SAW bersabda:

هُنَاكَ الزَّلاَزِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلَعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ وَفِيْ رِوَايَةٍ قَرْنَا الشَّيْطَانِ

Di sana (Nejed) akan ada keguncangan fitnah serta di sana pula akan muncul tanduk Syetan. Dalam riwayat lain: Dua tanduk Syetan.


Bani Hanifah adalah kaum nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad bin Su’ud. Kemudian dalam kitab tersebut Sayyid Alwi menyebutkan bahwa orang yang tertipu ini tiada lain ialah Muhammad bin Abdul Wahhab…”.

Dalam hadits-hadits tersebut dijelaskan, bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul). Dan ini adalah merupakan nash yang jelas ditujukan kepada para penganut Muhammad bin Abdul Wahab, karena dia telah memerintahkan setiap pengikutnya mencukur rambut kepalanya hingga mereka yang mengikuti tidak diperbolehkan berpaling dari majlisnya sebelum bercukur gundul. Hal seperti ini tidak pernah terjadi pada aliran-aliran sesat lain sebelumnya seperti yang dikatakan oleh Sayyid Abdur Rahman al-Ahdal: “Tidak perlu kita menulis buku untuk menolak Muhammad bin Abdul Wahhab, karena sudah cukup ditolak oleh hadits-hadits Rasulullah SAW itu sendiri yang telah menegaskan bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul), karena ahli bid’ah sebelumnya tidak pernah berbuat demikian”.

Al Allamah Sayyid Alwi bin Ahmad bin Hasan bin Al-Quthub Abdullah Al-Haddad menyebutkan dalam kitabnya “Jala’udz Dzolam” sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abbas bin Abdul Muthalib dari Nabi SAW:

سَيَخْرُجُ فِيْ ثَانِيْ عَشَرَ قَرْنًا فِيْ وَادِيْ بَنِيْ حَنِيْفَةَ رَجُلٌ كَهَيْئَةِ الثَّوْرِ لاَيَزَالُُ يَلْعَقُ بَرَاطِمَهُ يَكْثُرُ فِيْ زَمَانِهِ الْهَرَجُ وَالْمَرَجُ يَسْتَحِلُّوْنَ أَمْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَيَتَّخِذُوْنَهَا بَيْنَهُمْ مَتْجَرًا وَيَسْتَحِلُّوْنَ دِمَاءَ الْمُسْلِمِيْنَ

Akan keluar di abad kedua belas nanti di lembah Bani Hanifah seorang lelaki, yang tingkahnya bagaikan sapi jantan (sombong), lidahnya selalu menjilat bibirnya yang besar, pada zaman itu banyak terjadi kekacauan, mereka menghalalkan harta kaum muslimin, diambil untuk berdagang dan menghalalkan darah kaum muslimin”. Al-Hadits.

INILAH JAWABANNYA

Demikianlah teks ucapannya sebagaimana termuat dalam Majalah ”Cahaya Nabawiy” Edisi 33 Th. III Sya’ban 1426 H (September 2005 M) hal. 15-17 tanpa saya kurangi atau tambahi (adapun penulisan cetak tebal dalam beberapa kata atau kalimat adalah dari admin blog). Ucapan di atas mendorong penulis menanggapinya dalam tiga point pembahasan:

I. Pertama: Dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab Adalah Fitnah Nejed?([2])

Sebenarnya apa yang dilontarkan oleh saudara Masun Said Alwy di atas bukanlah hal baru melainkan hanyalah daur ulang dari para pendahulunya yang mempromosikan kebohongan ini, semisal al-Haddad dalam Mishbahul Anam hal. 5-7, al-A’jili dalam Kasyful Irtiyab hal. 120, Ahmad Zaini Dahlan dalam Durarus Saniyyah fir Raddi ‘alal Wahhabiyyah hal. 54([3]), Muhammad Hasan al-Musawi dalam al-Barahin al-Jaliyyah hal. 71, an-Nabhani dalam ar-Raiyah ash-Sughra hal. 27, dan lain-lain dari orang-orang yang hatinya disesatkan Alloh. Semuanya berkoar bahwa maksud ”Nejed” dalam hadits-hadits di atas adalah Hijaz (Saudi Arabia sekarang) dan maksud fitnah yang terjadi adalah dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab!

Kebohongan ini sangat jelas bagi orang yang dikaruniai hidayah ilmu dan diselamatkan dari hawa nafsu, ditinjau dari beberapa segi:

A. Hadits itu saling menafsirkan

Bagi orang yang mau meneliti jalur-jalur hadits ini dan membandingkan lafazh-lafazhnya, niscaya tidak samar lagi baginya penafsiran makna Nejed yang benar dalam hadits ini. Dalam lafazh yang dikeluarkan Imam Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir 12/384 no.13422 dari jalur Ismail bin Mas’ud: Menceritakan kami Ubaidullah bin Abdullah bin Aun dari ayahnya dari Nafi’ dari Ibnu Umar – dengan lafazh:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ شَامِنَا, اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ يَمَنِنَا. فَقَالَهَا مِرَارًا, فَلَمَّا كَانَ فِيْ الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ, قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ! وَفِيْ عِرَاقِنَا؟ قَالَ: إِنَّ بِهَا الزَّلاَزِلَ وَالْفِتَنَ وَبِهَا يَطْلَعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

Wahai Alloh berkahilah kami dalam Syam kami, wahai Alloh berkahi kami dalam Yaman kami. Beliau mengulanginya beberapa kali, pada ketiga atau keempat kalinya, para sahabat berkata, ”Wahai Rasulullah! Dalam Iraq kami?” Beliau menjawab, ”Sesungguhnya di sana terdapat kegoncangan dan fitnah dan di sana pula muncul tanduk setan.”

  • Sanad hadits ini bagus. Ubaidullah seorang yang dikenal haditsnya, sebagaimana kata Imam Bukhari dalam Tarikh al-Kabir 5/388/1247. Ibnu Abi Hatim berkata dalam al-Jarh wat Ta’dil 5/322 dari ayahnya, ”Shalih (bagus) haditsnya.”
  • Dan dikuatkan dalam riwayat Ya’qub al-Fasawi dalam al-Ma’rifah 2/746-748, al-Mukhallish dalam al-Fawa’id al-Muntaqah 7/2-3, al-Jurjani dalam al-Fawa’id 2/164, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah 6/133, dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimsyaq 1/120 dari jalur Taubah al-‘Anbari dari Salim bin Abdullah bin Umar dari ayahnya dengan lafazh:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ مَكَّتِنَا, اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ مَدِيْنَتِنَا, اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ شَامِنَا, اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ صَاعِنَا وَبَارِكْ لَنَا فِيْ مُدِّنَا. فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ! وَفِيْ عِرَاقِنَا, فَأَعْرَضَ عَنْهُ, فَرَدَّدَهَا ثَلاَثًا, كُلُّ ذَلِكَ يَقُوْلُ الرَّجُلُ: وَفِيْ عِرَاقِنَا, فَيُعْرِضُ عَنْهُ, فَقَالَ: بِهَا الزَّلاَزِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

Wahai Alloh berkahilah kami dalam Makkah kami, wahai Alloh berkahilah kami dalam Madinah kami, wahai Alloh berkahilah kami dalam Syam kami. Wahai Alloh, berkahilah kami dalam sha’ kami dan berkahilah kami dalam mudd kami. Seorang bertanya, ”Wahai Rasulullah! Dalam Iraq kami.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpaling darinya dan mengulangi tiga kali. Namun tetap saja orang tersebut mengatakan, ”Dalam Iraq kami.” Nabi pun berpaling darinya seraya bersabda, ”Di sanalah kegoncangan dan fitnah dan di sana pula muncul tanduk setan.” (Sanad hadits ini shahih, sesuai syarat Bukhari-Muslim)

  • Imam Muslim dalam Shahihnya 2905 meriwayatkan dari Ibnu Fudhail dari ayahnya, dia berkata, ”Saya mendengar ayahku Salim bin Abdullah bin Umar berkata:

يَا أَهْلَ الْعِرَاقِ! مَا أَسْأَلَكُمْ عَنِ الصَّغِيْرَةِ وَأَرْكَبَكُمْ عَنِ الْكَبِيْرَةِ, سَمِعْتُ أَبِيْ عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ يَقُوْلُ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ n يَقُوْلُ : إِنَّ الْفِتْنَةَ تَجِيْئُ مِنْ هَا هُنَا وَأَوْمَأَ بِيَدِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ, مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

Wahai penduduk Iraq! Alangkah seringnya kalian bertanya tentang masalah-masalah sepele dan alangkah beraninya kalian menerjang dosa besar! Saya mendengar ayahku Abdullah bin Umar mengatakan, ”Saya mendengar Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, ’Sesungguhnya fitnah datangnya dari arah sini –beliau sambil mengarahkan tangannya ke arah timur–, dari situlah muncul tanduk setan….’”

Riwayat ini sangat jelas menunjukkan bahwa maksud ”arah timur” adalah Iraq sebagaimana dipahami oleh Salim bin Abdullah bin Umar.

  • Al-Khaththabi berkata dalam I’lam Sunan 2/1274, ”Nejed: arah timur. Bagi penduduk kota Madinah, nejednya adalah Iraq dan sekitarnya. Asli makna ’Nejed’ adalah setiap tanah yang tinggi, lawan kata dari ’Ghaur’ yaitu setiap tanah yang rendah seperti Tihamah (sebuah kota di Makkah–pen) dan Makkah. Fitnah itu muncul dari arah timur dan dari arah itu pula keluar Ya’juj dan Ma’juj serta Dajjal sebagaimana diriwayatkan dalam banyak hadits.”
  • Demikian pula dijelaskan oleh para ulama lainnya seperti:
  1. al-‘Aini dalam Umdatul Qari 24/200,
  2. al-Kirmani dalam Syarh Shahih Bukhari 24/168,
  3. al-Qashthalani dalam Irsyad Sari 10/181,
  4. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 13/47,
  5. dan sebagainya.

Hal ini dapat kita temukan juga dalam kitab-kitab kamus bahasa Arab seperti al-Qamus al-Muhith oleh ar-Razi dan Lisanul Arab oleh Ibnu Manzhur, dan dalam kitab-kitab gharib hadits seperti an-Nihayah fi Gharib Hadits oleh Ibnu Atsir.

Dengan sedikit keterangan di atas, jelaslah bagi orang yang memiliki pandangan, bahwa maksud ”Nejed” dalam riwayat hadits di atas bukanlah nama negeri tertentu, tetapi untuk setiap tanah yang lebih tinggi dari sekitarnya. Dengan demikian maka Nejed yang dikenal oleh dunia Arab banyak sekali jumlahnya. (lihat Mu’jam al-Buldan 5/265, Taj al-Arus 2/509, Mu’jam al-Mufahras li Alfazh Hadits 8/339)

  • Jadi, Nejed yang merupakan tempat munculnya tanduk setan dan sumber kerusakan (fitnah) adalah arah Iraq. Karena itulah timur kota Madinah Nabawiyah. Maka seluruh riwayat dan lafazh hadits ini kalau digabungkan, ternyata saling menafsirkan antara satu dengan lainnya, sebagaimana hal ini juga dikuatkan oleh penafsiran para ulama –yang terdepan adalah Salim, anak Ibnu Umar-radhiyallahu a’nhu- dan para pakar ahli bahasa.

.

(2) Sejarah dan fakta lapangan membuktikan kebenaran hadits Nabi n/ di atas. Benarlah, Iraq adalah sumber fitnah([4]), baik yang telah terjadi maupun yang belum terjadi. Seperti:

  1. Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj,
  2. Perang Jamal,
  3. Perang Shifin,
  4. Fitnah Karbala’,
  5. Tragedi Tatar.
  6. Demikian pula munculnya kelompok-kelompok sesat seperti
  • Khawarij yang muncul di kota Harura’ –kota dekat Kufah–,
  • Rafidhah (Syi’ah) –hingga kini masih kuat–,
  • Mu’tazilah,
  • Jahmiyah, dan
  • Qadariyah.

Awal kemunculan mereka di Iraq, sebagaimana dalam hadits pertama Shahih Muslim.


Dan kenyataan yang kita saksikan dengan mata kepala pada saat ini, keamanan di Iraq terasa begitu mahal. Banyak peperangan dan pertumpahan darah, serta andil (campur tangan) orang-orang kafir dalam menguasai Iraq. Kita berdo’a kepada Alloh agar memperbaiki keadaan di Iraq, menetapkan langkah para mujahidin di Iraq dan menyatukan barisan mereka. Amiin.

  • Ibnu Abdil Barr berkata dalam al-Istidzkar (27/248), ”Rasulullah mengkhabarkan datangnya fitnah dari arah timur, dan memang benar secara nyata bahwa kebanyakan fitnah muncul dari timur dan terjadi di sana. Seperti perang Jamal, perang Shifin, terbunuhnya al-Husain, dan lain sebagainya dari fitnah yang terjadi di Iraq dan Khurasan semenjak dahulu hingga sekarang. Akan sangat panjang kalau mau diuraikan. Memang, fitnah terjadi di setiap penjuru kota Islam, namun terjadinya dari arah timur jauh lebih banyak.”
  • Syaikh Abdur Rahman bin Hasan berkata dalam Majmu’atur Rasa’il wal Masa’il (4/264-265), ”Telah terjadi di Iraq beberapa fitnah dan tragedi mengerikan yang tidak pernah terjadi di Nejed Hijaz. Hal itu diketahui oleh seorang yang menelaah sejarah, seperti keluarnya Khawarij, pembunuhan al-Husain, fitnah Ibnu Asy’ats, fitnah Mukhtar yang mengaku sebagi nabi … dan apa yang terjadi pada masa pemerintahan Hajjaj berupa pertumpahan darah, sangat panjang kalau mau diuaraikan.”
  • Syaikh Mahmud Syukri al-Alusi al-Iraqi berkata dalam Ghayatul Amani (2/180), ”Tidak aneh, Iraq memang pusat fitnah dan musibah. Penduduk Islam di sana selalu dihantam fitnah satu demi satu. Tidak samar lagi bagi kita, fitnah ahli Harura’ (kelompok Khawarij–pen) yang mencemarkan Islam. Fitnah Jahmiyah yang banyak dikafirkan oleh mayoritas ulama salaf juga muncul dan berkembang di Iraq. Fitnah Mu’tazilah dan ucapan mereka terhadap Hasan al-Bashri serta lima pokok ajaran mereka yang berseberangan dengan paham Ahli Sunnah begitu masyhur. Fitnah ahli bid’ah kaum sufi yang menggugurkan beban perintah dan larangan yang berkembang di Bashrah. Dan fitnah kaum Rafidhah dan Syi’ah serta perbuatan ghuluw (berlebihan) mereka terhadap ahli bait, ucapan kotor terhadap Ali bin Abu Thalib-radhiyallahu a’nhu- serta celaan terhadap pembesar para sahabat, merupakan hal yang sangat masyhur juga.”

.

(3) Anggaplah bahwa ”Nejed” yang dimaksud hadits di atas adalah Nejed Hijaz, tetap saja tidak mendukung keinginan mereka, sebab hadits tersebut hanya mengkhabarkan terjadinya fitnah di suatu tempat, tidak menvonis perorangan seperti Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Terjadinya suatu fitnah di suatu tempat, tidaklah mengharuskan tercelanya setiap orang yang bertempat tinggal di tempat tersebut.

  • Bukankah Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- juga mengkhabarkan akan terjadi fitnah di kota Madinah Nabawiyah?! Seandainya terjadinya fitnah di suatu tempat pasti mengakibatkan setiap penduduknya tercela, maka itu artinya seluruh penduduk Madinah tercela, padahal tak seorangpun mengatakan hal ini. Bahkan tidak ada suatu tempat pun di dunia ini –baik telah terjadi maupun belum– kecuali akan terjadi fitnah di dalamnya. Lantas akankah seseorang berani mencela seluruh kaum muslimin seantero dunia?! Jadi, timbangan celaan seorang bukanlah karena dia lahir di tempat ini atau itu. Tetapi timbangannya adalah kalau dia sebagai pencetus fitnah berupa kekufuran, kesyirikan, dan kebid’ahan. (Shiyanatul Insan ‘an Waswasah Syaikh Dahlan hal. 498-500 oleh Syaikh Muhammad Basyir al-Hindi)
  • Syaikh Abdur Rahman bin Hasan mengatakan, ”Bagaimanapun juga, celaan itu silih berganti waktu tergantung kepada penduduknya, sekalipun memang tempat itu bertingkat-tingkat keutamaannya. Tempat maksiat pada suatu waktu bisa saja akan menjadi tempat ketaatan di waktu lain, demikian pula sebaliknya.
  • Seandainya Nejed tercela karena Musailamah (al-Kadzdzab) setelah kemusnahannya bersama para pengikutnya, niscaya Yaman juga tercela karena Aswad al-Ansiy yang mengaku nabi….
  • Kota Madinah tidaklah tercela karena kaum Yahudi tinggal di sana dan kota Makkah tidaklah tercela disebabkan penduduknya dahulu mendustakan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan memusuhi dakwahnya.” (Majmu’atur Rasa’il wal Masa’il 4/265).

Syaikh Abdul Lathif bin Abdur Rahman bin Hasan berkata dalam Minhaj Ta’sis wa Taqdis hal. 92,

”Timbangan keutamaan itu tergantung pada penduduknya, berbeda dan berpindah bersama ilmu dan agama. Kota dan desa yang paling utama di setiap waktu adalah yang paling banyak ilmu dan sunnahnya, dan sejelek-jelek kota adalah yang paling sedikit ilmu, paling banyak kejahilan, kebid’ahan, dan kesyirikan, paling lemah dalam menjalankan sunnah dan jejak salafush shalih. Jadi, keutamaan kota itu tergantung kepada penduduk dan orangnya.”

Sebagai kesimpulan, penulis ingin menurunkan ucapan berharga dari penjelasan ahli hadits abad ini, Muhammad Nashiruddin al-Albani yang telah menepis salah paham hadits ini dalam berbagai kesempatan. Beliau berkata setelah takhrij hadits yang panjang,

”Sengaja saya memperluas keterangan takhrij hadits shahih ini serta menyebutkan jalur dan lafazh-lafazhnya, karena sebagian ahli bid’ah yang memerangi sunnah dan menyimpang dari tauhid telah mencela Imam Muhammad bin Abdul Wahhab, pembaharu dakwah tauhid di jazirah Arab, dan mereka mengarahkan hadits ini pada beliau, dengan alasan karena beliau berasal dari Nejed yang populer saat ini.

Mereka tidak tahu atau memang pura-pura tidak tahu bahwa hal itu bukanlah yang dimaksud oleh hadits ini, namun yang dimaksud adalah Iraq sebagaimana dijelaskan oleh kebanyakan jalur hadits ini. Demikianlah yang ditegaskan oleh para ulama semenjak dahulu seperti Imam Khaththabi, Ibnu Hajar al-Asqalani, dan sebagainya.

Mereka tidak tahu juga bahwa orang yang berasal dari negeri tercela tidaklah otomatis dia tercela kalau memang dia orang yang shalih. Demikian pula sebaliknya, betapa banyak orang fajir dan fasik di Makkah, Madinah, dan Syam. Dan betapa banyak orang alim dan shalih di Iraq([5])? Alangkah bagusnya ucapan Salman al-Farisi kepada Abu Darda’ tatkala mengajak dirinya hijrah dari Iraq ke Syam, ”Amma ba’du, sesungguhnya negeri yang mulia tidaklah membuat seorang pun menjadi mulia, namun yang membuat mulia ialah amal perbuatannya.”

(Silsilah Ahadits Shahihah 5/305)

Beliau juga berkata,

”Jalur-jalur hadits ini menguatkan bahwa arah yang diisyaratkan oleh Nabi adalah arah timur, yang tepatnya adalah Iraq, sebagaimana anda lihat secara jelas dalam sebagian riwayat. Hadits ini merupakan tanda diantara tanda-tanda kenabian, sebab awal fitnah adalah dari arah timur, yang merupakan penyebab perpecahan di tengah kaum muslimin, demikian pula bid’ah-bid’ah muncul dari arah yang sama, seperti bid’ah Syi’ah, Khawarij, dan sebagainya. Imam Bukhari 7/77 dan Ahmad 2/85, 153 meriwayatkan dari Ibnu Abi Nu’min, bahwasanya dia menyaksikan Ibnu Umar -radhiyallahu a’nhu- ketika ditanya oleh seorang dari Iraq tentang hukum membunuh lalat bagi muhrim (orang yang sedang ihram). Maka berkata Ibnu Umar,

Wahai penduduk Iraq! Kalian bertanya kepadaku tentang orang muhrim membunuh lalat, padahal kalian telah membunuh anak putri-Rasulullah, sedangkan beliau (Nabi) sendiri bersabda: Keduanya (al-Hasan dan al-Husain) adalah kesayanganku di dunia.’”

(Silsilah Ahadits Shahihah 5/655-656)

Beliau juga berkata,

”Apa yang dikhabarkan oleh Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah terbukti. Sebab kebanyakan fitnah besar munculnya dari Iraq, seperti peperangan antara Ali dan Mu’awiyah, antara Ali dan Khawarij, antara Ali dan Aisyah, dan sebagainya yang disebutkan dalam kitab-kitab sejarah. Dengan demikian, hadits ini merupakan salah satu mu’jizat dan tanda-tanda kenabiannya.”

(Takhrij Ahadits Fadha’il Syam wa Dimsyaq, hal. 26-27)

.

II. Kedua: Muhammad bin Abdul Wahhab dan cukur rambut([6])

Adapun tudingan saudara Masun Said Alwy bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab memerintahkan setiap pengikutnya mencukur rambut kepalanya dan ini termasuk dalam hadits Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- tentang Khawarij, ”Tanda mereka adalah cukur rambut.”

  • Kebohongan ini pun bukanlah hal yang baru. Ini hanya daur ulang dari para pembohong sebelumnya seperti:
  1. Jamil az-Zuhawi al-Iraqi dalam al-Fajr ash-Shadiq dan
  2. Ahmad Zaini Dahlan dalam Durarus Saniyyah,
  3. dan lain-lain.

Tuduhan ini sangat mentah. Tujuan di balik itu sangat jelas, yaitu melarikan manusia dari dakwah yang disebarkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Ada beberapa point untuk mendustakan tuduhan ini:

(1) Mereka mendustakan tuduhan bohong ini

  • Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab berkata tatkala membantah tuduhan bahwa ulama dakwah mengkafirkan orang yang tidak mencukur rambut kepalanya, ”Sesungguhnya ini adalah kedustaan dan kebohongan kepada kami. Seorang yang beriman kepada Alloh dan hari akhir tidak mungkin melakukan hal ini. Karena kekufuran dan kemurtadan tidaklah terealisasikan kecuali dengan mengingkari perkara-perkara agama yang maklum bi dharurah (diketahui oleh semua). Macam-macam kekufuran, baik yang berupa ucapan maupun perbuatan adalah perkara yang maklum bagi para ahli ilmu. Tidak mencukur rambut kepala bukanlah termasuk di antaranya (kekufuran atau kemurtadan), bahkan kamipun tidak berpendapat bahwa mencukur rambut adalah sunnah, apalagi wajib, apalagi kufur keluar dari Islam bila ditinggalkan.” (Durarus Saniyyah 10/275-276, cet. kelima)
  • Syaikh Sulaiman bin Sahman berkata, ”Ini termasuk kebohongan, kedustaan, kezhaliman, dan penganiayaan.” (adh-Dhiya’ asy-Syariq hal. 119)
  • Syaikh Muhammad Basyir al-Hindi berkata juga, ”Ini adalah kedustaan yang sangat jelas dan kebohongan yang sangat keji.” (Shiyanatul Insan ‘an Waswasah Syaikh Dahlan hal. 560)

(2) Pendapat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tentang mencukur rambut

  • Merupakan bukti yang menguatkan kebohongan tuduhan ini, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab telah menjelaskan pendapatnya dalam masalah mencukur rambut atau memeliharanya, yang menyelisihi tuduhan musuh-musuhnya. Beliau berkata, ”Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang yang memelihara rambutnya? Dia menjawab, ’Sunnah yang bagus, seandainya kami mampu maka kami akan melakukannya. Rambut Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sampai ke bahunya.’ Dan disunnahkan sifat rambut seorang seperti sifat rambut Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Kalau panjang maka sampai ke bahu, kalau pendek maka sampai ke daun telinga.”
  • Beliau juga berkata, ”Dibencikah mencukur rambut kepala pada selain haji dan umrah? Ada dua riwayat; Pertama: Dibenci, berdasarkan sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- tentang Khawarij, ’Tanda mereka adalah bercukur.’ Kedua: Tidak dibenci, berdasarkan larangannya tentang qaza’ (mencukur sebagian rambut dan membiarkan sebagian lainnya), ’Cukurlah semua atau biarkan semua.’ (HR. Abu Dawud). Ibnu Abdil Barr berkata, ’Para ulama di setiap tempat bersepakat bolehnya bercukur.’ Cukuplah ini sebagai hujjah.” (Mukhtashar al-Inshaf wa Syarh al-Kabir, kumpulan karya Syaikh Ibnu Abdil Wahhab 1/28, cet. Jami’ah Imam)

(3) Pendapat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tentang Khawarij

  • Bagaimana mungkin Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dikategorikan termasuk hadits yang disinyalir Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- tentang Khawarij, padahal beliau sendiri berlepas diri dari Khawarij. Perhatikan ucapannya, ”Telah mutawatir hadits-hadits dari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- tentang ciri-ciri khawarij, kejelekan mereka serta anjuran memerangi mereka.” (Mukhtashar Sirah Rasul hal. 498)

(4) Ibadah dengan mencukur gundul merupakan syi’ar Khawarij

  • Adapun ucapan saudara ”Hal seperti ini tidak pernah terjadi pada aliran-aliran sesat lain sebelumnya”, ini merupakan kesalahan dan kejahilan. Sebab ibadah dengan cukur gundul ini adalah syi’ar aliran sesat Khawarij dan diikuti sebagian sufi.

Syaikh Muhammad Rasyid Ridha berkata dalam Fatawanya (hal. 347): ”Alasan para ulama membenci cukur rambut dan menganggapnya menyelisihi sunnah karena hal itu adalah syi’ar Khawarij dahulu.” (lihat pula Aridhatul Ahwadzi 7/256 oleh Ibnul Arabi dan Fathul Bari 13/669 oleh Ibnu Hajar)

  • Dan (syi’ar) ini juga diikuti oleh sebagian kelompok sufi, sebagaimana dijelaskan oleh:
  1. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam: al-Istiqamah 1/256
  2. dan muridnya, Ibnul Qayyim, dalam Ahkam Ahli Dzimmah2/749.

Maka ucapan “Hal ini tidak pernah terjadi pada aliran-aliran sesat lain sebelumnya” adalah kejahilan dan kesalahan.

.

III. Ketiga: Berdusta atas nama hadits([7])

Adapun hadits yang dinukil oleh saudara  Masun Said Alwy dari kitab “Jala’udz Dzolam fir Raddi ‘ala Najdi Al-Ladzi Adholla Awam” oleh Sayyid Alwy al-Haddad dari Abbas bin Abdul Muthallib, maka ini adalah kebodohan di atas kebodohan. Sebab hadits ini tidak ada asal usulnya sama sekali dalam kitab-kitab hadits, tetapi tetap dijadikan argumen untuk mendukung hawa nafsunya.

  • Anda jangan tertipu dengan ucapan di akhirnya: “Al-Hadits”!!

Seandainya itu diriwayatkan oleh ahli hadits, maka mengapa tidak dia sebutkan?! Apa beratnya? Lebih terkejut lagi, kalau anda tahu bahwa ucapan “Al-Hadits” ini sebenarnya bukan dari kitab aslinya, melainkan hanyalah ucapan Masun Said Alwy.

  • Seharusnya saudara Masun Said Alwy menukil takhrij lucu dari kitab aslinya. Si pengarang kitab tersebut mengatakan, ”Hadits ini memiliki syawahid (penguat-penguat) yang mendukung maknanya, sekalipun tidak diketahui siapa yang meriwayatkannya.” !!
  • Kalau memang tidak diketahui siapa yang meriwayatkannya, mengapa dia berdalil dengannya?! Jadi, hadits ini hanyalah buatan orang tersebut dan yang semodel dengannya. Dia berdusta atas nama Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- secara terang-terangan di depan makhluk. Aduhai, alangkah rusaknya hati yang berani berbuat demikian, dan alangkah buruknya hati yang mencintai orang-orang model mereka! Mereka berdusta atas nama Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan mengaku cinta Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Mungkinkah dua hal ini dapat bersatu di hati seseorang?! Sekali-kali tidak, kecuali di hati seorang ahli bid’ah dan pendusta.
  • Sungguh lucu ucapannya “Tidak diketahui siapa yang meriwayatkannya”. Seandainya dia menyandarkannya kepada kitab yang tidak ada wujudnya, niscaya akan lebih laris kebohongannya di tengah-tengah orang-orang jahil, bukan bagi para ulama yang mengetahui cahaya ucapan Nabi.

Kami harap anda jangan heran, karena berdusta dan menyebarkan hadits-hadits dusta adalah kebiasaan setiap penggemar bid’ah.

.

PENUTUP & NASIHAT

Usai kita menanggapi tiga permasalahan di atas, penulis merasa perlu menyodorkan nasihat bagi kita semua dan secara khusus kepada saudara Masun Said Alwy, penulis artikel ”Membongkar Kedok Wahabi”:

(1) Hendaknya kita mempelajari makna hadits dengan bantuan kitab-kitab syarah (penjelasan) para ulama agar tidak ngawur menafsirkannya.

  • Alangkah indahnya ucapan Sufyan bin ‘Uyainah:

يَا أَصْحَابَ الْحَدِيْثِ تَعَلَّمُوْا مَعَانِيَ الْحَدِيْثِ فَإِنِّيْ تَعَلَّمْتُ مَعَانِيَ الْحَدِيْثِ ثَلاَثِيْنَ سَنَةً

Wahai penuntut ilmu hadits! Pelajarilah makna hadits, sesungguhnya saya mempelajari makna hadits selama tiga puluh tahun.

(2) Hendaknya kita lebih selektif dan kritis dalam menerima berita, sebagaimana yang diperintahkan Alloh dalam kitab-Nya (yang artinya):

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti. (QS. al-Hujurat: 6)

  • Syaikh Muhammad Rasyid Ridha berkata, ”Sesungguhnya telah sampai kepada para ulama India dan Yaman berita-berita tentang Syaikh Ibnu Abdil Wahhab. Lalu mereka membahas, memeriksa, dan meneliti sebagaimana perintah Alloh, hingga jelaslah bagi mereka bahwa para pencelanya adalah pembohong yang tidak amanah.” (Muqaddimah Syiyanatul Insan hal. 29-30)
  • Maka kepada para pendengki dakwah ini, bersikap adillah kalian dan periksalah berita yang sampai kepada kalian, niscaya kalian akan segera sadar bahwa kalian dibutakan dengan kedustaan dan tuduhan!

(3) Seringkali kami menasehatkan kepada saudara-saudara kami agar waspada dalam menyampaikan hadits lemah dan palsu, apalagi dusta yang tidak ada asal usulnya. Ditambah lagi, apabila hal itu untuk mendukung selera hawa nafsu. Semua itu dosa yang sangat berbahaya, karena termasuk dusta atas nama Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

  • Sebagaimana kami nasehatkan juga agar kita selektif dalam menyebutkan hadits, yaitu hendaknya disertai riwayatnya, jangan hanya sekedar menyebutkan “al-Hadits” begitu saja.

Akhirnya kita memohon kepada Alloh hidayah dan taufiq, sesungguhnya Dia Maha Pemurah.

.

artikel: https://abiubaidah.com


([1]) Seperti tuduhan kejinya bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab adalah alat Inggris untuk menyebarkan ajaran barunya, mengkafirkan kaum muslimin, punya keinginan mengaku nabi, merendahkan Nabi n/ dan melecehkannya, menghancurkan makam-makam bersejarah dan tuduhan-tuduhan dusta lainnya. Penulis telah berniat membongkar kebohongan-kebohongan ini secara terperinci pada edisi ini tetapi keterbatasan halaman mengurungkan niatnya. Semoga pada edisi-edisi berikutnya, Alloh memudahkan terwujudnya niat baiknya. Amiin.

([2]) Disadur dari kitab al-Iraq fi Ahadits wa Atsar al-Fitan oleh Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman, cet. Maktabah al-Furqan.

([3]) Telah diulas bantahannya dalam majalah AL FURQON Edisi 3 Tahun V Rubrik ”Kutub”. Silakan baca kembali.

([4]) Oleh karenanya, para ulama menjadikan hadits ini sebagai salah satu tanda-tanda kenabian Nabi Muhammad n/. Lihat Umdatul Qari 24/200 oleh al-’Aini dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 5/655, dan Takhrij Ahadits Fadhail Syam hal. 26-27 oleh al-Albani.

([5]) ”Tak seorang muslim pun mengatakan tercelanya para ulama Iraq. Bagaimana tidak, para pembesar ahli hadits, fiqh, dan jarh wa ta’dil, mayoritas mereka dari Iraq.” (Mishbah Zhalam hal. 336)

([6]) Disadur dari risalah Sya’rus ar-Ra’si oleh Sulaiman bin Shalih al-Khurasyi.

([7]) Lihat Muqaddimah Hadzihi Mafahimuna oleh Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh.

-shallallahu ‘alaihi wa sallam-

Baca Juga Artikel Terbaru

125 Thoughts to “Muhammad bin Abdul Wahhab: Fitnah Nejed?”

  1. mujahidindonesia

    Subhanallah, cukup jelas pembahasannya akhi..jazakumullah..

  2. mujahidindonesia

    izin copas..

  3. supriman

    Ulasan yang baik sebagai penjelas kpd orang awam

  4. hendriawan

    bagaimana menurut anda dengan kitab yang di tulis oleh syaikh sulaiman bin abdul wahab, tentang saudaranya atau surat buat saudaranya yang bernama muhammad bin abdul wahab? sekali2 tulisin orang2 apa kandungan kitab as sowa’iqul ilahiyah donk?

  5. IbnAbdullah

    Jazakumullah khairon atas ulasannya…

  6. Abu Abdurrahman

    Semoga menjadi cahaya pagi yang terang di hati saudara muslim khususnya di Indonesia..amien

  7. Hasyim maulana

    Hujjah yang teramat kuat mematahkan syubhat yang begitu lemah.Jazakallah khoir ustadz atas ulasanny,insy Allah bermanfaat bagi mereka yang menginginkannya.

  8. Dian

    Assalamualaikum,ulasannya sangat di mengerti terutama bagi saya yang baru mengenal dakwah salafiyah,dian tasikmalaya

  9. ummuirfan

    Jazakumullahu khairon katsiran atas tulisan yang bermanfaat. Ana ingin berkongsi sajak dari seorang sahabat di Singapura melalui email…..
    Luahan rasa dari seorang sahabat………..

    ——————–

    Wahabi Adalah Wahabi

    Aku nasihatkan, rujukan kita adalah al-Qur’an dan sunnah Nabi
    Lalu aku dipanggil Wahabi

    Aku katakan, hadis hendaklah dipastikan sahih dari Nabi
    Lalu aku dipanggil Wahabi

    Aku cuba amalkan ibadatku mengikut cara Nabi
    Lalu aku dipanggil Wahabi

    Aku cuba amalkan solat mengikut cara Nabi
    Lalu aku dipanggil Wahabi

    Aku nasihatkan bahawa amalan itu dan ini bukan dari Nabi
    Lalu aku dipanggil Wahabi

    Aku katakan ramai guru-guru kini tidak mengajar dengan kaedah yang asli
    Lalu aku dipanggil Wahabi

    Aku bertanya guru, apakah dalil sahih untuk aku ikuti
    Lalu aku dipanggil Wahabi

    Aku katakan agama ini tidak semesti semuanya mengikut as-Syafie
    Lalu aku dipanggil Wahabi

    Aku katakan, khurafat, syirik dan bid’ah amat dilarang oleh Nabi
    Lalu aku dipanggil Wahabi

    Aku tidak hadiri kenduri arwah kerana ianya dilarang oleh Nabi
    Lalu aku dipanggil Wahabi

    Aku mengatakan kenduri arwah juga dilarang oleh as-Syafie
    Lalu aku dipanggil Wahabi

    Aku katakan amalan khusus Nisfu Sya’ban bukan diajar oleh Nabi
    Lalu aku dipanggil Wahabi

    Aku juga katakan ianya juga dilarang oleh al-Qaradhawi
    Lalu aku dipanggil Wahabi

    Aku pun tidak tahu, siapakah sebenarnya Wahabi?

    Kata mereka Wahabi adalah Wahabi

    Aku bertanya lagi, siapakah sebenarnya Wahabi?

    Kata mereka Wahabi adalah Wahabi

    Aku semakin bingung siapa itu Wahabi

    Namun …

    Jika benar Wahabi adalah yang nak ikut sunnah Nabi… Biarlah aku dipanggil Wahabi

    Jika benar Wahabi yang melarang khurafat, syirik dan bid’ah dari
    diikuti… Biarlah aku dipanggil Wahabi

    Jika Wahabi hanya beramal dengan amalan yang sahih dari Nabi…Biarlah aku dipanggil Wahabi

    Aku ingin mendapat keredhaan dari Ilahi
    Biarlah aku dipanggil Wahabi
    Semoga di akhirat bersama Nabi aku berdiri
    Biarkan aku dipanggil Wahabi
    Aku hanya inginkan syafaat Nabi untuk syurga yang kekal abadi
    Biarlah aku terus dipanggil Wahabi

    Di Singapura kami yang bermanhaj salaf selalu dipanggil Wahabi oleh orang awam mahupun yang bergelar ustaz……. Semoga Allah memberi kami Istiqomah di jalanNya.

  10. wong Djowo

    “INI BID’AH ITU SYIRIK”

    Aku baca sirah dan maulid NABI
    Kata wahabi, aku musyrik

    Aku perbanyak salawat NABI
    Kata wahabi, aku musyrik

    Aku cintai para wali
    Kata wahabi, aku musyrik

    Aku berziarah kubur karena perintah NABI
    Kata wahabi, aku musyrik

    Aku kirimkan doa ‘tuk orang mati
    Kata wahabi, aku musyrik

    Aku katakan, Nabi pun mengajari tawassul
    Kata wahabi, aku musyrik

    Aku cium tangan para ulama
    Kata wahabi, aku musyrik

    Aku hormati anak cucu Nabi
    Kata wahabi, aku musyrik

    Aku hadiri majelis dzikir
    Kata wahabi, aku musyrik

    Aku bersihkan hati ini
    Kata wahabi, aku musyrik

    Ku katakan, Qur’an hadits tidak boleh ditafsiri sendiri
    Kata wahabi, aku musyrik

    Aku tak tahu, siapa yang sebenarnya musyrik
    Kata wahabi, musyrik adalah musyrik

    Aku kian bingung, apakah semua musyrik?
    Kata wahabi, sekali musyrik tetap musyrik..

    Kukatakan lagi, jika wirid kami syirik.. apa gerangan wiridmu?
    Kata wahabi, kami berwirid sepanjang hari

    Ku tanya, wirid apakah itu?..
    Kata wahabi, kami berwirid setiap saat

    Ku tanya lagi, wirid yang mana?
    Kata wahabi, wirid kami hanya satu

    Aduhai, kenapa bertele-tele… ajari kami wiridmu
    Kata wahabi, bunyinya begini, “ini bid’ah itu syirik”..
    “ini bid’ah itu syirik”….. (100x tiap hari)

    Jika Wali songo islamkan orang musyrik
    Wahabi bilang, selain wahabi semua musyrik..

  11. Aku heran membaca tulisanmu…
    Betapa mudahnya dusta dirimu…
    Tanyakanlah kepada kawan-kawanku…
    Semua akan mendustakanmu…
    sholawat, ziarah kubur, cinta nabi, siapa tak setuju…
    Jika dirimu berani dan setuju…
    Maka aku menantangmu…
    Kepanjangan kalau merinci satu persatu…
    Cukup sekian tanggapan dariku…
    Semoga ALLAH menunjukimu…

  12. ahmad khoiruddin al-Bantani

    semoga Allah juga menunjuki dirimu wahai saudara seimanku…
    abu ubaidillah yusuf as-sidawi kan namamu….
    tapi orang didesamu tak memanggilmu seperti itu…
    cuma orang arab dan yang berlagak arab yang berlaku…
    kearab saja sana…. insyaAllah namamupun tak semasyhur Imam Nawawi al_Bantani dan Kyai Abbas Buntet yang kami banggakan ke tawadu’annya itu….

  13. Qodrat Arispati

    Hmm, ada jagoan nih. Inilah ciri khas penganut wahabi. Mudah emosi, karena sudah terlanjur menganggap diri yang paling benar. Tidak sabaran, tidak mau dengar pandangan orang dari jama’ah lain. Yang dikatakan ‘wong Djowo’ di atas itu benar, dan itulah yang dia rasakan. Nah, dia itu memberikan reaksi dengan gaya yang halus. Dan inilah ciri khas orang-orang seperti Wong DJowo itu. Halus, tidak kasar. Akhlaqnya tinggi.

    Seharusnya sindiran dari Wong Djowo itu menjadi renungan kaum wahabi. Sudah jelas nggak ada wirid yang bunyinya: “Ini Bid’ah itu syirik, Ini bid’ah itu syirik”. Semua orang juga tahu nggak ada wirid yang begini dalam ajaran wahhabi. Itu hanya sindiran, renungkanlah….

    Jangan biasakan menantang, itu nggak baik Tidak ada contohnya dari Nabi Muhammad SAW. Jadi cabutlah tantanganmu, kalau tidak, nanti akan ada jagoan lain yang melayani tantanganmu.

  14. @ Q Arispati

    السلامم عليكم

    Kami kira, yang dimaksud ustadz bukan menantang duel, tetapi menantang argumentasi dan dalil.

  15. Qodrat Arispati

    Maksudku juga begitu pak! Mosok aku nggak mudeng maksudmu? Apakah Anda pikir nggak ada jagoan debat dari jamah lain yang memiliki argumentasi dan dalil? Banyak, banyak, mereka pasti lebih pakar dari anda. Yang belajar Tafsir Al-Qur’an, yang belajar Ilmu Hadits, tidak dari jama’ah anda sendiri. Dalam Jama’ah selain yang Anda ikuti juaga banyak pakar dan maestronya. Ingat ini Pak, sadarilah ini. Mereka pasti akan mampu menunjukkan kelemahanmu. Ada istilah “di atas langit masih ada langit”. Hanya Allah Swt yang Maha Tinggi. Maha Tinggi segala-galanya. Punya Ilmu tidak pantas menyombongkan diri. Inilah prinsip orang arifin.

  16. Untuk kedua saudaraku Ahmad Khoiruddin dan Qodrat Arispati, semoga Allah menunjukkan keduanya jalan yang benar.

    Kita di sini membahas secara ilmiyah, bukan menang-menangan, kalau memang kalian setuju dengan pernyataan saudaraku yang menamakan dirinya “wong jowo” maka kami menantang semuanya untuk mendatangkan hujjah, di kitab apa, hlm berapa, dan ulama siapa yang mengingkari dzikir, sholawat, ziarah kubur, cinta Nabi dll dan bahwasanya pelakunya dikatakan musyrik.

    Tuduhan inilah yang kami membutuhkan bukti dari pelontarnya. Dan inilah maksud tantangan kami kpd kalian. Kalau kalian sanggup untuk mendatangkannya maka kami-pun insyallah akan siap untuk menjawabnya. Namun kalau kalian tidak sanggup maka akan nampaklah siapa yang berdusta dan siapa yang sembarangan berbicara. Kalau seandainya semua orang boleh berbicara tanpa bukti maka semua orang akan berbicara semaunya”.

    Demi Allah,tidak ada seorang satu wahabi-pun sekalipun yang awam dan anak kecil yang mengingkari asal disyariatkannya dzikir, ziarah kubur, sholawat, cinta Nabi dan sebagainya.

    Namun, yang mereka luruskan adalah berbagai kekeliruan dalam ziarah kubur, dzikir atau sholawat dan berbagai cara yang tidak dicontohkan oleh Nabi. Hal ini seharusnya kita menerimanya dengan lapang dada agar ibadah kita diterima oleh Allah. Bukankah kalau ada orang ingin sholat dzuhur -misalnya- sebelum masuk waktunya dan sejumlah 6 rakaat secara sengaja, kita akan mengingkari perbuatan tersebut, bukan karena sholatnya tapi karena tata cara yang keliru tersebut.

    Untuk lebih jelasnya, perhatikan bersamaku dua atsar berikut:

    1. Sahabat Abdullah bin Umar pernah mendengar orang bersin lalu mengatakan: “Alhamdulillah dan sholawat dan salam kepada Rasulullah” Maka Ibnu Umar mengatakan: “Bukan seperti itu Rasulullah mengajarkan kepada kita. Namun Nabi hanya mengatakan: “Apabila salah seorang diantara kalian bersin maka ucapkanlah Alhamdulillah”beliau tidak mengatakan: Dan bersholawatlah kepada Rasulullah“. (Hasan. Riwayat Tirmidzi: 2738)

    Perhatikanlah, apakah Ibnu Umar mengingkari sholawat? Tidak, sama sekali tidak, tetapi yang beliau ingkari tatkala sholawat diletakkan bukan pada tempat yang diajarkan oleh Rasulullah. Fahamilah!

    2. Sa’id bin Musayyib pernah melihat orang sholat setelah munculnya fajar lebih dari dua rakaat, maka diapun melarang orang tersebut. Lalu orang itu menjawab: “Wahai Abu Muhammad! Apakah Allah akan menyiksaku karena sholat?! Beliau menjawab: Tidak, tetapi akan menyiksamu karena menyelisihi sunnah“. (Riwayat Baihaqi 2/466, ad-Darimi 1/116 dll dengan sanad shohih).

    Kami kira atsar ini adalah tamparan pedas bagi para pelontar tuduhan dan ucapan-ucapan tanpa bukti seperti di atas.

    Maka sebelum saudara meminta kami mencabut “tantangan” maka hendaknya sang pelontar tuduhan keji di atas mencabut “tuduhan”nya terlebih dahulu

    .
    Wassalam.

  17. Untuk akhi Hendriawan, semoga Allah menambahkan ilmu bagimu.
    Pertanyaan saudara tentang Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab (saudara Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab) dan kitab bantahannya kepada beliau, saya sudah menjelaskan secara panjang masalah ini dalam buku saya “Meluruskan Sejarah Wahhabi” hlm. 58-63
    Ringkasnya sebagai berikut: Kami tidak mengingkari bahwa syaikh sulaiman termasuk penentang dakwah, namun ada 2 point untuk menanggapi hal ini,

    1. Adanya keluarga yang menentang dakwah tauhid bukanlah alasan bathilnya dakwah tersebut, bukankah keluarga para nabi dan rosul ada yang menjadi penentang dakwah?

    2. Mayoritas ulama dan ahli sejarah telah menyebutkan bahwa syeikh sulaiman telah bertaubat dan menerima dakwah tauhid, pada tahun 1190 H. Apakah hal ini sudah diketahui semuanya?

    Sebagai info, ada buku baru berjudul “Daf’ul irtiyab ‘an Syaikh Sulaiman bin abdil Wahhab” karya Syeikh Ahmad bin Abdurrohman al-Uwain. Dalam kitab tersebut, dibuktikan secara jelas tentang taubatnya beliau. Was salam.

  18. ibnu abi irfan

    Na’am ustadz… Andai mereka juga tahu bahwa Ibnu Mas’ud mengingkari dzikir berjamaah, apakah mereka berani menuduh bahwa beliau telah mengharamkan dzikir?

    mereka tidak melihat pada diri mereka sendiri. mereka mengamalkan hadits dhoif dengan alasan bisa dipakai sebagai fadhilah amal, tapi ternyata dipakai juga sebagai dalil hukum. di saat yang sama mereka menolak hadits shohih dengan alasan haditsnya ahad, tidak boleh dipahamai secara tekstual, haditsnya bertentangan dengan Al Quran dan seribu alasan lainnya.

    mereka hanya ingin mencari-cari celah untuk meninggalkan sunnah dan melestarikan bid’ah.

  19. Herman Sudrajat

    Assalamualaikum,
    Syukron uztad atas artikelnya. Saya sendiri sudah membaca buku Uztad mengenai masalah ini, yaitu “Meluruskan Sejarah Wahhabi.” Menurut saya buku itu membuka wawasan saya mengenai apa dan siapa itu Wahhabi. Dan setelah saya komparasi dengan mencari tahu dari pustaka-pustaka lain (studi literasi kecil-kecilan), akhirnya saya berkeyakinan bahwa istilah Wahhabi hanya dilontarkan oleh orang yang tidak setuju dengan dakwah tauhid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Terlebih setelah saya mendegarkan beberapa kajian yang diberikan oleh uztad-uztad yang notabene dijuluki Uztad Wahhabi, tidak sedikit pun saya dapati mereka mudah mengkafirkan orang, atau mengharamkan “an sich” dzikir itu sendiri, namun yang menjadi pembahasan adalah “cara”-nya, bukan “an sich” dzikirnya.

    Selanjutnya, saya ingin menyarankan kepada saudara-saudara saya yang seiman, alangkah indahnya dan akademisnya apabila kita berselisih pendapat, kita ber-hujjah dengan sumber-sumber tertulis yang dapat dipertanggung jawabkan…

    Syukron, jazzakumulloh khoiron…

  20. salafy tobat

    seringkali membaca tanpa prasangka buruk tulisan orang yang berpaham tidak sama dengan anda, akan membuat anda lebih arif bijaksana. Kalau tidak percaya cobalah!

  21. Ahmad Khoiruddin al_Bantani

    assalamu’alaikum. wr. wb.

    saudaraku as-sidawi, pernyataan-pernyataan anda membid’ahkan orang-orang muslim indonesia itu yang gak diajarkan Rasullah saw. perbuatan membid’ahkan orang itu akan memunculkan fitnah baru dalam islam. itu namanya tidak MA’RUF.
    beda ketika arab dibawa keindonesia dalam hal sosial, adat dan kebiasaan.
    FAHAMI HADITS HARUS DENGAN ASBABUL WURUDNYA, TEKS DAN KONTEKS NYA…
    BIAR TIDAK SALAH….. APALAGI KAPRAH… SUDAH SALAH TAPI KAPRAH..
    anda ngomong tentang al-Qur’an dan sunnah, tetapi jangan meninggalkan ijma’ dan qiyas serta permasalahan ushul fiqh lainnya.. sangat janggal sekali ketika ali tidak segera meng-QISHAS orang yang membunuh UTSMAN BIN AFFAN. padahal sudah jelas didalam al-Qur’an hukum Qisas. sebagai sahabat tentunya BELIAU lebih mengerti tentang al-Qur’an. akan tetapi mengapa beliau tidak melakukan, tetapi lebih mendahulukan memberantas partai-partai pembangkang dalam kota madinah waktu itu? dan kemudian Ali dianggap KAFIR oleh orang-orang yang keras harus dengan Al-Qur’an dan sunnah yang kemudian hari disebut AL-KHOWARIJ. apakah ali termasuk kafir dalam hal ini akhi? padahal Ali Ra sudah melihat jika si Pembunuh Ustman segera dibunuh/di Qishas maka akan terjadi pembunuhan atau perang besar-besaran YANG MENELAN KORBAN LEBIH BANYAK DARI SEKEDAR TERBUNUHNYA KHALIFAH UTSMAN di kota madinah waktu itu. dan ini MAQOSHID SYARI’AH ISLAMIYAH yang benar. bukan asal-asalan dalam mengambil istimbat hukum akhi…..
    ada aturan tertentu untuk menjaga 1. nyawa 2. harta 3. harga diri/kehornatan 4. kemashlahatan bersama 5. agama 6. negara dan semuanya….
    bukankah itu tujuan syariat islam.
    kemudian apa yang anda bid’ahkan di indonesia seperti MAULID, YASINAN MALAM JUM’AT, SELAMETAN KEMATIAN DLL itu apanya yang bid’ah? terus Al-Quran yang anda baca serta titik, sukun, fathah, dan seluruh ilmu-ilmu dan seperangkatnya itu bukan bid’ah? apa letak bid’ahnya?
    kalau letak bid’ahnya itu pada klaim ANDA BAHWA ITU ibadah misalkan, karena menurut anda bid’ah itukan ibadah. mana ibadahnya? setau saya yang melakukan itu semua kami tidak mengklaimnya sebagai IBADAH…. TAPI SEREMONIAL alias ACARA ALIAS budaya alias adat alias kebiasaan alias INDONESIA ASLI. gak ada hubungannya dengan ibadah. kalau ada yang baik didalamnya seperti zikr, yasin ya pasti diganjar Allah. dan budayanya sebagai warisan indonesia (WALI SONGO) ya tidak dapat apa-apa. setidaknya kami rukun dengan melaksanakan itu. daripada tidak rukun dengan mengatakan ini bid’ah, itu sesat karena tidak dicontohkan Rasullah saw.
    kalau bicara tidak dicontohkan Rasul saw, banyak sekali yang anda pakai, yang anda amalkan, bahkan internet yang dipakai ini tidak dicontohkan Rasulallah…. ini semua BID’AH=BARU….
    saya anjurkan anda lebih banyak belajar tentang Indonesia dan kultur masyarakatnya…
    PESAN KAMI, JANGAN MEMBID’AHKAN, MENSYIRIKKAN, MENSESATKAN ORANG TERLEBIH DAHULU.
    KARENA ANDA TELAH MENGGADAIKAN DIRI ANDA ATAU SAUDARA ANDA YANG AKAN SESAT NANTINYA… SESAT BERARTI MASUK NERAKA,..
    ALANGKAH PELITNYA ANDA SAUDARA SENDIRI TIDAK BOLEH MASUK SYURGA… APAKAH TAKUT SEMPIT? ATAU ANDA SENANG MELIHAT SAUDARA DI AZAB DINERAKA..

    Ilmu anda tidak akan dilihat orang kalau sudah dimasyarakat, tetapi AKHLAQ yang dilihat oleh masyarakat…

    oya, buku anda yang sebagai sanggahan terhadap buku PROF. DR KH. ALI MUSTAFA YA’KUB, MA.. telah banyak dibaca orang di jakarta.. Oleh kalangan Prof, Doktor, dosen, mahasiswa S1 dan S2 , bahkan santri-santri umumnya… mereka menyesalkan sekali tulisan anda ustadz… bukan merendahkan, tetapi Buku anda itu TIDAK ILMIYAH.. makanya, untuk mempertanggungjawabkan tulisan anda kami FORUM MAHASISWA mengajak anda berdiskusi tentang keabsahan BUKU ANDA DAN KYAI MUSTHOFA.. karena anda dalam blog anda ini telah mencemarkan nama baik seseorang. bahkan mengaku anda sebagai ORANG YANG LEBIH MUDA UMURNYA dapat mengalahkan Argumen orang sekaliber ANAK MURID MM. AZAMI..
    tidak salah memang, tapi KLAim seperti ini, KLAIM BENER SENDIRI DAN KLAIM PALING ILMIYAH ini yang kurang benar..

    BUKTIKAN SAJA KALAU MEMANG ANDA STIQOT DALAM HAL INI…
    BEDAH BUKU ANDA…… DATANGLAH KE JAKARTA..

    SALAM UKHUWAH UNTUK SEMUA ORANG MUSLIM, SEMOGA KITA SEMUA BERADA DISYURGA KELAK BERSAMA-SAMA MUSLIM LAINNYA…

    buat kawanku, qodrat, ummi Irfan, abu ubaidah..dan Wong Jowo, ini emailku…. xxxxxx@yahoo.com. add ya….

    wassalamu’alaikum.wr.wb..

    =====================================

    admin:
    1. maaf, email Anda kami edit karena kami tidak ingin kaum muslimin (khususnya yang masih awam) terpengaruh syubhat Anda.
    2. Untuk ustadz Abu Ubaidah >>> email beliau masih tersimpan dalam web ini. Jika Ustadz membutuhkan, akan kami sampaikan.

    (Admin)

  22. Achmad Bahauddin al_Bantani

    Assalamu’alaykum warohmatullohi wabarokatuh

    @ Ahmad Khoiruddin al_Bantani,

    semoga Alloh senantiasa membaguskan agama anda sebagaimana nama anda

    kalau saya melihat apa yang dilakukan ustadz bukan membid’ahkan orang-orang muslim indonesia akan tetapi yang beliau bid’ahkan adalah perbuatannya sedangkan untuk menyatakan seseorang itu ahli/pelaku bid’ah maka ada kaidah2 tersendiri yang harus dipenuhi, seperti apakah telah sampai dalil kepada orang tersebut tentang perbuatan yang dia lakukan itu merupakan perbuatan bid’ah? atau apakah dia melakukan perbuatan tersebut atas kesadarannya sendiri tanpa ada paksaan? dsb. barulah seseorang itu bisa dnyatakan pelaku bid’ah, kalau belum terpenuhi hal2 tersebut maka kita tidak bisa menghukumi dia sebagai pelaku bid’ah, kalau perbuatannya sudah jelas merupakan perbuatan bid’ah karena bid’ah merupakan ibadah yang dilakukan tanpa ada contoh dan perintah dari Nabi shalallohu ‘alaihi wa sallam dan kalau misalkan dikatakan bahwa MAULID, YASINAN MALAM JUM’AT, SELAMETAN KEMATIAN DLL hanya merupakan SEREMONIAL alias ACARA ALIAS budaya alias adat alias kebiasaan semata, coba kita tanyakan kepada para pelakunya apakah mereka melakukan semua itu tanpa mengharap pahala dari Alloh? ataukah mereka melakukannya karena mengharap pahala dari Alloh? kalau mereka melakukannya karena mengharap pahala dari Alloh maka berarti mereka menganggap perbuatan tersebut sebagai IBADAH.

    Wallahu ‘alam.

  23. achmad komaruddin al_banteni al_sundawi al_jawi al_indinisiyyi

    MAULID (MULUDAN JAWANYA), YASINAN BACA SURAT YASIN, rATIBAN hADDAD BACA ZIKIR MA’TSUROT SUSUNAN iMAM aBDULLAH aL-hADDAD, TAHLILAN BACA KALIMAT TAHLIL YANG DISUSUSN OLEH OLAMA TEMPO DOELOE, SELAMETAN KEMATIAN, PERNIKAHAN, KHITANAN, KELAHIRAN, jUGA WIRIDAN PAKAI BIJI TASBIH, SHALAT PAKAI SAJADAH, AZAN PAKAI PENGERAS SUARA, DAN RATUSAN ATAU MUNGKIN RIBUAN JUMLAHNYA YANG SEMACAM INI. sEMUANYA SUDAH JELAS BID’AH-NYA. yAITU BID’AH KHASANAH. gITU AJA PADA REPOT SIH? sUDAHLAH, SEMOGA MASUK SURGA SEMUANYA. uNTUK ANAK-ANAK WAHABI jANGAN PADA SOK TAHU BIKIN KRITERIA MENGHUKUMI BID’AH, KALAU KRITERIAMU SALAH, KAMU SENDIRI NANTI YANG MASUK NERAKA. JUGA ORANG-ORANG YANG IKUT DENGANMU. kASIHAN KAN?

  24. ibnu suseno

    assalamua”laikum
    Wah jadi tau mana yang yang berdalil di atas ilmu dan bashiroh dengan yang berdalil pakai hawa nafsu dan taklid buta, sudah keluar masuk majelis tapi hati ini hanya tenang dengan majelis-majelis yang di asuh oleh para ashatizah salafiyah , karena di bacakan dalam majelisnya adalah Al-Quran, Assunnah dan perkataan para sahabat dan para ulama yang mengikuti para sahabat bukan yang lainnya , kita di bimbing untuk beribadah di atas dalil yang shohih ( apabila telah datang dalil maka batallah perkataan-perkataan), sholat seperti sholatnya Rosulullah, puasa seperti puasanya Rosulullah, infaq seperti infaqnya Rosulullah juga berhaji seperti berhajinya Rosulullah, apa yang salah ? yang salah yaitu yang beribadah tidak mencontoh ibadahnya Rosulullah yang telah di jamin surga oleh Allah Ta a’la toh masa kita tidak mau mengikuti Rosulullah yang telah di jamin masuk surga oleh Allah lantas kita mau masuk surganya siapa?????? ibadah adalah beban maka jangan tambahkan bebanmu dengan sesuatu yang tidak ada dalillnya ( dalil adalah apa yang berasal dari Al-Quran, Al Hadist dan kesepakatan para sahabat ) Rosullah sangat sayang pada kaum muslimin sehingga beliau hanya menyuruh kita dengan ibadah yang kita sanggupi di antara ibadah-ibadah yang telah di contohkan oleh beliau dan ibadah yang tidak di contohkan di namakan bid”ah, rasanya sia-sia apabila kita beribadah tapi dengan ibadah yang tidak pernah ada contohnya dari Rosulullah. mendingan irit ibadah dan hanya beribadah dengan ibadah yang ada contohnya, nggak sia-sia dan mendapatkan pahala karena telah mencontoh ibadah Rosulullah jadi ngak boros tenaga.

    semoga bisa ikut sharing……..

    fitrah manusia yang bersihlah yang akan dapat menerima kebenaran rasanya sulit kalo mo sharing tapi fitrah kita sudah ternodai dengan hawa nafsu yah paling-paling emosi yang keluar, bukannya menerima kebenaran malah marah-marah…????? padahal kebenaran itu ngak sulit kok cuma menerima apa yang datang dari Allah dan Rosul-Nya tidak menolak , kalo belum bisa menjalani tidak ada paksaan, wah mudahkan kok coba aja

    wassalam

  25. Al Haq Minnallah

    Assalamu’alaikum, ustadz..barakallahu fiikum..
    teruskan da’wah sunnah ini…tegakkan sunnah dan musnahkan bid’ah di muka bumi…….

  26. Al Haqqu Minallah

    Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang tidak pernah merasa dirinya tidak benar..semuanya mengaku dialah yang paling benar termasuk Ahmad khoiruddin pasti pernyataan di atas adalah karena dirinya merasa benar…kalau tidak ngapain dia harus ngotot dengan pendapatnya..kalau Ahmad khoiruddin ini tidak merasa benar dengan pendapatnya..berarti boleh dong kalau saya nyatakan pendapat anda salah.. kalau anda marah berarti anda telah merasa benar. kebenaran itu diukur dengan al qur’an, as sunnah, qiyas, ijma sesuai pemahaman para sahabat Rasulullah. ini adalah al haq.

  27. asyrop qomarudin

    ya ustad , saya tidak bisa membantu apa-apa selain mendoakan kesabaran bagi ustad untuk melakukan dakwah ini (apalagi setelah membaca komen full caps lock di atas…….) .

  28. Ummat Muhammad

    Untuk ibnu suseno dan yang lain-lainnya yang sepaham dengan wahaby. Sebelumnya aku mohon maaf kepada anda semua. Saya mau bertanya: apakah Anda semuanya sholat pakai sajadah? apakah anda pernah jadi makmum sholat dengan posisi di atas Imam (di masjid tingkat)? Apakah anda pernah shalat taraweh berjama’ah sebulan penuh di masjid? Ketahuilah, ini semua adalah tidak ada contoh dari Nabi Muhammad SAW. Coba cari dalilnya di Qur’an atau di Hadits, ada nggak dalil yang shohih untuk tiga kasus di atas?
    Nabi Muhammad SAW tidak pernah mencontohkan sholat tarawih berjama’ah sebulan penuh di masjid. Rasulullah tidak pernah mencontohkan shalat pakai sajadah. Rasulullah tidak pernah memberi contoh makmum shalat posisinya lebih tinggi dari imam. Imam di lantai bawah, mamkmumnya di lantai atas, bahkan ada yang sampai empat tingkat. Ketahuilah, ini semua adalah bid’ah. Kalau anda melakukan hal ini berarti anda adalah pelaku bid’ah. Tapi tidak usah risau, sebab yang anda lakukan adalah bid’ah khasanah. Insyaallah dapat pahala dari Allah SWT. Sebab kalau berdosa, neraka akan penuh sesak oleh orang-orang yang rajin shalat pakai sajadah. Nah, renungkanlah, renugkanlah, berpikirlah….
    Adapun orang pertama yang memperkenalkan hukum bid’ah khasanah adalah Sayyidina Umar ibnu Khottob Al-Faruq, yaitu ketika terjadi perdebatan awal mula akan dilaksanakan shalat Tarawih berjamaah sebulan penuh. Saat itu terjadi debat, sebab Rasulullah tidak pernah mencontohkan. Mereka takut akan terjerumus dalam bid’ah. Nah, ketika itulah Sahabat Umar melontarkan istilah hukum syar’i: Inilah bid’ah khasanah. Sahabat Umar adalah orang pertama (pelopor) Shalat tarawih berjama’ah sebulan penuh dengan dasar hukum bahwa itu adalah bid’ah khasanah. Kata Nabi Muhammad, sunnah khulafaurasidin almahdiyyin disuruh gigit pakai geraham, Sedangkan Umar Ibnu Khattab adalah khulafaurrasidin. Artinya sunnah Umar Al-Faruq ini bisa dijadikan dasar hukum syar’i. Ketahuilah kata Nabi SAW, setan aja nyingkir kalau berpapasan dengan Sahabat Umar ini. Apa ini maksudnya?
    Jadi, kalau memang Anda semua pada ngaku bermanhaj Salafus Sholih, seharusnya Anda pakai dong hukum bid’ah khasanah yang diprakarsai oleh Sahabat Nabi yang bernama Umar Ibnul Khottob ini. Jangan diingkari, sebab kalau diingkari akan terbentur oleh fakta-fakta, bahwa faktanya muslim sedunia melakukan shalat Tarawih berjamaah sebulan penuh, Muslim sedunia Shalat pakai sajadah, Muslim sedunia shalat berjama’ah Imam di bawah makmum di atasnya. Ini adalah sedikit contoh dari sedemikian banyak contoh kasus. Nah, mulai sekarang berpikirlah yang tertib, jangan mengandalkan kata-kata kotor, berlaku sopanlah karena kesopanan adalah akhlak mulia. Kata Nabi: Aku diutus untuk memperbaiki akhlak yang mulia. Wallahu a’lam.

    Sebelum dan sesudahnya, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Dari xxxxxxx.Com, http://xxxxxxxx.blogspot.com (maaf, karena banyak mengandung syubhat, alamat blognya kami edit -admin).

  29. Qodrat Arispati

    Kepada Pengelola Blog ini, Anda sudah melakukan TINDAKAN TIDAK BERMORAL dengan menghapus alamat EMAIL dari Akhina Achmad Khairuddin Al_Bantani. Anda bikin blog sudah seharusnya juga mengikuti aturan ngeBlog. Tindakan Anda yang sewenang-wenag dan arogan sungguh sangat memalukan. Kenapa Anda tidak Pede, sehingga merasa perlu menghapus alamat Email orang demi melindungi para pengikutmu. Apakah Anda pikir pengikutmu tidak memiliki otak sehingga perlu diproteksi sedemikian ketat?

    Achmad Khiruddin telah menunjukkan sifat Gentle-nya dengan berani mencantumkan alamat Emailnya, kenapa kau tidak lebih gentle? Saya menyesalkan tindakan hina ini. Saya baru tahu kalau khairuddin pasang Email dan saya belum sempat mencatat email-nya yang bagiku sangat penting.

    Untuk Anda para pendukung paham wahaby, kalau anda semua dongkol dengan protes ini, silahkan tulis sumpah serapahmu di sini, atau lewat email-ku biar aku sendiri yang tahu. Ini alamatku: qodratarispati@yahoo.com. Aku tunggu sumpah serapahmu sekehendakmu.

  30. Untuk saudaraku ust Ahmad Khoiruddin, semoga Allah menyinari jalannya.

    1. Ucapan terima kasih buat anda yang telah meluangkan waktu dalam partisipasi, semoga ini adalah jembatan untuk mendapatkan hidayah. Hanya Allah Yang membolak-balik hati manusia.

    2. Saya harapkan kepada saudara apabila menanggapi untuk tidak keluar dari point pembahasan dan membuktikannya secara ilmiyah, bukan gegabah, seperti:
    dalam memahami hadits harus dengan asbab wurudnya, jangan lupakan ijma’ dan qiyas.
    Coba, siapa yang melupakannya? Semua yang kenal dengan saya, insyallah tahu bahwa kami tidak mengingkari ijma’ dan qiyas, bahkan dalam menetapkan bid’ahnya tahlilan-pun kita berdalil dengan ijma’ shahabat,

    kata Jarir bin Abdillah: “Kami memandang bahwa kumpul-kumpul dan membuatkan makanan setelah kematian termasuk niyahah” (meratapi). (Shohih. HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
    Dan ini sesuai dengan qiyas, karena keluarga mayit saat dalam kesedihan, maka tidak pantas untuk mengeluarkan biaya selametan, bahkan hendaknya dia malah dibantu. Nah, tahu kan sekarang siapa yang menggunakan ijma’ dan qiyas?!! Pikirkanlah!!

    3. Maulid, tahlilan, yasinan itu bukan ibadah, tetapi adat saja?!
    Stop mas, kalau bicara jangan bikin orang yang tahu jadi pingin ketawa ngakak’ gini dong?! Semua orang yang melakukan hal itu yakin gak’ terima kalau dengar omongan kalian bahwa ritual yang mereka amalkan hanya adat saja bukan ibadah! Bukankah mereka mengharapkan dengannya pahala, bahkan mereka menilai lebih utama daripada orang yang tidak melakukannya, bahkan membantah sekuat tenaga kpd orang yang mengkritikanya?!!

    4. Pesan anda “Jangan membid’ahkan, mensyirikkan, menyesatkan terlebih dahulu…apakah anda senang saudara anda disiksa?”!!
    Wah, hebat pesan-nya, terus apa artinya perintah Allah untuk “dakwah” dan amar makruf NAHI MUNKAR. Ya, kalau membid’ahkan, mensyirikakan, serta menyesatkan yang gak salah alias sembarangan, itu baru pesan yang benar, tapi kalau memang salah ya harus diingatkan toh biar gak disiksa. Masa’ kita lihat saudara tersesat diem aja, mana bukti kecintaan kita kepada mereka?!!. Jadi kita mengingatkan seperti ini justru karena kita gak pingin kalau ada saudara kita yang disiksa karena terjerumus dalam dosa syirik dan bid’ah. Gitu lho, sesuai dengan ijma’ dan qiyas kan?!! He..he.. Semoga Allah menyinari jalan kalian. Amiin.

  31. Sambungan untuk Akh Ahmad Khoiruddin juga.

    Maaf, ada yang ketinggalan, maklum kebanyakn yang perlu dijawab. Adapun masalah buku saya “Syaikh Albani Dihujat” dikatakan TIDAK ILMIYAH. Ya, kalau gak ngerepotin sih ana minta bukti-bukti tidak ilmiyahnya, masalah apa, di halman berapa, nanti kita diskusikan. Wallahi, saksikanlah, kalau memang saya salah, saya akan meralatnya insyallah. Adapun sekedar ngomong “tidak ilmiyah” semua orang juga bisa, adik-adik kita yang duduk di TK juga bisa ngomong gitu aja. Was Salam.

  32. Untuk Ummat Muhammad, semoga Allah menunjuki mereka semua.

    1. Kaya’nya nih kita betul-betul harus paham dulu apa artinya Bid’ah yang sering dikatakan Nabi bahwa Kullu Bid’atin Dholalah (setaiap bid’ah itu sesat). Kalau boleh tahu, definisi bid’ah menurut anda apa yah?!

    2. Kami setuju dengan anda bahwa sholat di sajadah (yang tidak melalaikan), sholat di masjid tingkat, shlat tarawih sebulan penuh bukan termasuk bid’ah. Emangnya ada ya orang yng berakal bahwa hal itu bid’ah yang terlarang?!

    a. sholat di atas sajadah mirip dengansholat di atas tikar yang pernah dilakukan Rasulullah.
    b. sholat di masjid tingkat, itu urusan dunia mas, seperti internet, hp, pesawat, listrik dll, bid’ah itu dalam ibadah dan agama, bukan dalm urusan dunia. apalagi ini sesuai dengan kaidah fiqih bahwa “bagian atas mengikuti bagian bawahnya”.
    c. Sholat tarawih sebulan penuh juga gak bid’ah, karena asli tarawih pernah dilakukan oleh Rasulullah, hanya saja beliau meninggalkannya karena kahwatir dianggap wajib. Setelah wafatnya beliau, kekhawatiran itu tidak ada lagi maka dihidupkan Khalifah Umar bin Khothob.

    4. Apa yang dilakukan oleh Khalifah Umar tsb bukan bid’ah tercela, sebab sholat tarawih pernah dilakukan Nabi. Masa’ kita berani membid’ahkan apa yang dilakukan oleh Nabi?!!

    Jadi beliau bukan berarti pencetus bid’ah hasanah (!) sehingga dikembangkan sebagai dalil bolehnya bid’ah dalam agama seperti tahlilan, yasinan dll, gak mungkin lah orang seperti Umar melakukan bid’ah-bid’ah yang dilarang oleh Nabi.
    Beliau hanya menghidupkan sunnah Nabi yang ditinggalkan sementara waktu karena khawatir dianggap wajib, yaitu sholat tarawih.
    Marilah kita lebih banyak menuntut ilmu dan membaca karya-karya ulama yang mengulas masalah ini secara gamblang seperti kitab Al-I’tishom oleh Imam Syathibi sehingga kita akan lebih paham.

    Wallahu A’lam.

  33. Akhi Qodrat Arispati, semoga Allah menghiasi anda dengan akhlak yang mulia.

    1. Kenapa sih nak kok marah-marah gitu, apa gak bisa dengan bahasa yang sopan dan lembut. Katanya “wahabi” kurang berakhlak, lah kok sekarang kelihatan ya siapa yang kurang berakhlak!!! Sungguh mengherankan dunia ini!!

    2. Pesan-ku kpd semua saudaraku, jangan emosi kita terpancing dengan kata-kata kasar mereka, hendaknya kita tetap menunjukkan akhlak yang indah. Imam Syafi’i pernah mengatakan:

    Orang pandir mencercaku dengan kata-kata jelek
    Maka saya tidak ingin menjawabnya
    Dia bertambah pandir dan saya bertambah lembut
    Seperti kayu wangi yang dibakar malah menambah wangi.

    (Diwan Syafi’i hlm. 156).

    Ya Allah, hiasilah kami dengan akhlak yang mulia dan berilah kepada saudara-saudara kami hidayah agar mereka mengetahui dan menerima kebenaran. Amiin.

  34. @ Qodrat Arispati

    Baik email Anda maupun Al-Bantani tidak kami hapus, masih tersimpam dalam web kami. Yang kami edit itu URL (halaman blognya). Kalaupun Anda ingin mengkritik kami, silakan sampaikan ke email administrator risalah.yusuf@gmail.com atau jika ditujukan kepada usatdz abu ubaidah, dapat disampaikan langsung ke room komentar dalam web ini.

    Yang tidak kami tampilkan adalah url (halaman web/blog) agar tidak menimbulkan syubhat di tengah -tengah kaum muslimin. Mana ada larangan dalam dunia blog/web untuk TIDAK MENCANTUMKAN URL PEMBACA?

    Baarakallah fiik

    (admin)

  35. Ahmad Khoiruddin Al_Bantani

    Alhamdulillah, insya Allah saya tidak marah.. bahkan saya apresiasi pesan anda.sebenarnya saya ingin memberikan suatu wacana yang agak dingin.. tidak menerima ya tidak apa-apa. Kami tidak marah,, dan kami tidak akan menyesatkan anda karena berbeda dengan kami. Kerena kami sadar kalian pun berhak beribadah dengan cara yang kalian yakini. Cuma kalian jangan dulu mennyesatkan atau membid’ahkan atau mengklaim kami sesat Cuma karena berbeda dengan kalian…

    Coba dipelajari dulu apa yang kami lakukan, jangan memulai perkara jika tidak ada ilmu… coba contoh Ibnu Taimiyah (pencetus faham salafi yang kemudian dilanjutkan fahamnya oleh Bin Wahhab yang menurut Imam Abu Zahroh sudah tidak seperti Ibnu Taimiyah lagi, membid’ahkan apa yang di perbolehkan sehingga melahirkan banyak perdebatan sampai sekarang)..

    Ibnu Taimiyah tidak seperti pengikutnya sekarang, beliau sopan dalam tuturkata, bergaul.. dia sebagai seorang prajurit sekaligus ulama wajar bila bawaannya keras dan extrim, tetapi semua ada batasan. Bisa dibaca dibuku biografi Ibnu Taimiyah karangan Imam Muhaddits Abu Zahroh bab terakhir tentang Wahhabi.
    Jadi yang perlu diluruskan lagi adalah klaim sesat anda kepada kami. Atau kepada ratiban kami, tahlilan kami, zikir bersama-sama kami, biji tasbih kami, tawassul kami…..

    Dulu kami tentram dengan kebiasaan kami tersebut, tetapi setelah datang wahhabi dari timur tengah ”saudi”, sekitar tahun 70 tau 80-an, suasana menjadi panas. Tidak nyaman… padahal Ibnu hajar, Imam Hakim di dalam kitab al-Mustadroknya, Al-Baihaqi, As-Suyuthi (pengarang al-itqan fii ulumil qur’an, biasanya kitab ini di pelajari oleh Mufassir sebagai kaedah dasar selain kitab al-Burhan nya az-Zarkasyi), Ibnu Jauzi dalam kitab al-wafa’, As-syaukani, Qodli ‘Iyadl, Imam Nawawi pengarang hadits arba’in, imam jazari, Az-Zarqoni, Imam Ibnu Katsir, al-Qurtubi, dan banyak lagi… dan bisa dibaca para karangan-karangan mereka… bisa dibaca didalam kitab MAFAHIM YAJIBU AN TUSHOHHAH karya Syaid Muhammad bin ‘Alawi bin Abbas al-Maliki al Hasany, Cet As-Sofwah, Mekkah al-Mukarromah, Hal 171. Dan banyak lagi kitab-kitab lain yang tidak saya tuliskan disini…

    Akhi, semua akan merasa benar sendiri, termasuk orang kafirpun akan merasa benar dengan apa yang dia yakini… tidak terkecuali anda wahai saudaraku… jadi kalau saya merasa benar itu semata-mata hanya “Dzon” dan Dzon itu adalah sebagaian dari keyakinan. Anda heran kan Kok bisa Dzon sebagian dari keyakinan, itulah kaedah tafsir.. bisa dilihat dikitab al-Burhan bab Az-Dzon dan Kitab Usul Fiqh manapun.. tabi bukan Dzon yang selama ini kita ketahui, tapi inilah banyak orang salah sangka tentang terma Dzon… beda antara Dzon yang di Al-Qur’an yang dilarang dengan Dzon Di Kaedah Ushul dan Tafsir….,,, saya lanjutkan, dan saya yang memiliki Dzon tersebut tidak serta merta menyesatkan atau membid’ahkan anda.. karena saya yakin anda pun mempunyai “Dzon” itu, walau berbeda realita nya..

    Jadi tidak usah membid’ahkan orang sebelum mendengar argumennya, jangan membid’ahkan atau menyesatkan orang kalau hanya berbeda dengan anda…… yach, kasarnya harus banyak mendengarkan orang, dan jangan hanya ingin di dengar….

    Akhi, adapun Ijma’ ada pada zaman shohabat. Misal : ketika Muaz bin jabal dikirim ke yaman atau masalah perbedaan interpretasi sahabat tentang sholat asar di bani quraidzoh dan lain-lain. Tetapi masih sedikit jumlahnya. Tetapi saya baru mendengar ada Qiyas di zaman Sahabat. Ah, mungkin saya saja yang belum banyak belajar dan mengikuti halaqoh pengajian serta tidak banyak mendengarkan orang….

    Tetapi yang saya tau Qiyas itu mempunyai kaedah-kaedah ushul fiqh yang harus ditaati dan dipenuhi. Dan Ushul Fiqh itu belum ada pada zaman Rasul Muhammad Saw…

    Narik becak, sepeda ontel, jadi badut di taman mini juga tidak ada zaman Rasul akhi, tetapi bisa bernilai ibadah jika ikhlas dan tidak melanggar apa yang diharamkan serta tidak menghalalkan apa yang telah diharamkan Allah…. dan Ibadah akan mendapat balasan dari Allah…
    Kemudian yang namanya syubhah itu artinya tidak jelas… tidak menampilkan Email saya atau email saudara-saudara saya yang lain itu juga namanya berusaha untuk berbuat syubhah… kami tidak mau kesyubhatan merajalela di dunia Islam khusunya di Indonesia yang kita rebut dari belanda dan jepang dengan darah ulama, santri serta darah masyarakat Indonesia yang lain…


    Saya beri contoh suatu yang subhat selain subhat diatas :

    Al-BANI mengatakan shalat ba’diyah asar itu adalah SUNNAH (lihat silsilah al-Ahadits ash-Shahihah juz 6 halaman 1013-1014)
    Syaihk BIN BAZ mengatakan shalat Ba’diyah asar itu HARAM (lihat majmu’ Fatawa wa maqalat Mutranawwiyah Syaihk bin Baz Juz 11 Hal. 286)
    SYEHK UTSAIMIN BERKATA “shalat asar itu tidak memiliki rawatib baik qobliyah maupun ba’diyah. Yang disunnatkan bagi manusia adalah salat dua rakaat sebelumnya sebagai solat mutlaq. Dan apabila anda tidak mendapatkan shalat tersbut sebelum shalat asar, anda jangan mengerjakannya setelah asar karena diharamkan kepada siapapun menunaikan sholat sunnat pada waktu-waktu yang terlarang kecuali shalat yang memiliki sebab berdasarkan sabda Nabi “tidak ada sholat setela asar hingga terbenam matahari”… lihat majmu’ fatawa war rasail syeh utaimin juz 14 hal. 343-344)

    Bingung kan?

    Nah ini loch satu (1) contoh dari suatu yang gak jelas… dan Banyak lagi yang lebih dari pada ini.. satu aliran saja banyak kontraversi.dan Ummat ini mau dibawa kemana bila Imam-imam ini saja tidak jelas… bila Imam Bentrok, maka kasihan pengikutnya…
    Mungkin ini hanya wacana saja untuk sekedar renungan hangat bagi yang masih belum jelas atau masih didalam kesyubhatan…

    Hasbunallah….

    Salam hangat untuk saudaraku Qodrat Arispati, Al-Jawi Al-Indunisi, Wong Jowo, Ummat Muhammad.. mari kita belajar untuk transparan dan jelas,,, jangan berbuat syubhat alias tidak jelas.. ini email_ku Preeendd,,, el_shafa@yahoo.com

  36. Ahmad Khoiruddin Al_Bantani

    oya kurang Cak Qodrat….. Cak al_Jawi, Cak Wong Jowo, dan Cak Umat Muhammad…. dan Cak-Cak yang lain… maksudnya adalah jangan mengikuti sesuatu yang subhat, karena Subhat itu masuknya kepada yang haram alias dilarang.. seseorang yang masih suybhat itu masuk dalam lingkarang haram, alias karus di imtihan dulu ke absahannya… Ok..

  37. @ Ahmad Al-Bantani

    Sebelum Anda menuliskan komentar terakhir di atas, Ustadz Abu Ubaidah sudah meminta alamat URL dan email Anda, dkk. blog salafytobat dan ummat muhammad insya Allah akan dipelajari ustadz Abu Ubaidah.

    Mohon dimengerti bahwa salah satu alasan kami (administrator) tidak menampilkan URL anda, dkk di depan umum adalah agar diskusi menjadi terarah dan fokus. Untuk menanggapi suatu pertanyaan, tentu membutuhkan waktu agar tidak asal jawab. Anda ingin jawaban ilmiah dan bukan hanya sekadar klaim bukan? Perlu diingat pula bahwa untuk “mengetik” pun juga sudah menghabiskan waktu tersendiri, belum lagi kesibukan ustadz yang lain. Demikian pula, isi URL yang kami anggap syubhat, tentu tidak kami tampilkan. Namun, jangan khawatir, kami menyimpan email Anda. Ketika Anda memberi komentar, bukankah Anda menuliskan email? Insya Allah, kami simpan email itu.

    Dan perlu diketahui pula, sebelum membantah sesuatu, tentu sesuatu tersebut perlu dipelajari dulu dengan cermat. Jangan khawatir, blog salafytobat insya Allah akan dipelajari Ustadz (ustadz sudah menanyakan URL-nya kepada kami). Namun, jika bantahannya tidak segera keluar, mohon tidak terburu-buru. Adapun pertanyaan-pertanyaan ringan yang kiranya bisa dijawab satu, dua, atau tiga kalimat, silakan diajukan di sini (web ini), insya Allah ustadz Online setiap hari untuk memantau isi web ini.

    Baarakallah fiik.

    ==========================

    @ Untuk Ustadz Abu Ubaidah

    Blog salafytobat sudah sangat terkenal di berbagai penjuru tanah air, dan menjadi rujukan bagi mereka yang membenci dakwah tauhid dan sunnah. Isi blog ini memang ditujukan untuk menyerang dakwah Islam yang dihidupkan lagi oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, dan para ulama sunnah mu’assirin seperti masyaikh ahlus-sunnah saudi, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, dan rekan-rekan beliau dari kalangan ulama ahlus-sunnah. Sepengetahuan kami, belum ada asatidz salafiyin yang secara khusus menelaah blog ini.

    Maka, jika Ustadz memiliki kelonggaran waktu, alangkah baiknya jika ustadz mengkaji isi blog tersebut dan memberikan kritikan balik secara ilmiah. Insya Allah, syubhat-syubhat pembenci dakwah tauhid terkumpul dalam blog tersebut. Memang, segala syubhat tentang salafy yang ditemukan admin blog tersebut dari berbagai sumber, akan diposting di blog tersebut. Artinya, kalau kita ingin mengetahui apa saja argumentasi mereka yang membenci salafy, cukup melihat blog tersebut. Belum lagi, isi dari blog salafytobat ini juga disebarkan secara massal di facebook.

    Kami kira, mereka yang tidak sependapat dengan dakwah antum, akan malas membeli buku-buku antum, atau majalah Al-Furqon. Namun, qaddarullah mereka akhirnya dapat membaca tulisan antum di web ini, demikian pula di facebook yang juga turut disebar ikhwan-ikhwan saudara kita, bihamdillah.

    Maka, kami memohon kepada Allah agar Dia memberikan kekuatan kepada Antum untuk berjihad dengan tangan dan pena antum. Semoga dengan langkah ini, banyak saudara-saudara kita yang belum mengerti hakikat manhaj salaf, akan mulai mengenal dan merasakan indahnya manhaj yang haq ini. Semoga Allah senantiasa membimbing kita semua, dan menunjukkan al-haq kepada kita semua. Amiiin

    Oh, ya. Kami kirimkan URL lagi, yang dulu tidak kami tampilkan di web ini, blog forsansalaf. Dapat diperiksa di email Ustadz.

    (admin)

  38. Ahmad Khoiruddin Al_Bantani

    oya asudara admin…… ane gak punya URL atau BLOG…
    cuma akan kami usahakan punya…. dan kami akan kabari lagi….

  39. Ibnu Abi Irfan

    “Dulu kami tentram dengan kebiasaan kami tersebut, tetapi setelah datang wahhabi dari timur tengah ”saudi”, sekitar tahun 70 tau 80-an, suasana menjadi panas.” (Al Akh Ahmad Khoiruddin Al_Bantani )

    jika kebiasaan yang dimaksud adalah meminta syafa’at kepada ahli kubur, antum hidup di zaman para sahabatpun tidak akan tentram. justru sikap mereka lebih keras daripada pemerintah Saudi.

    bukankah Rasululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam pernah memerintahkan Ali bin Abi Tholib dengan sabdanya : “Jangan kau biarkan patung-patung itu sebelum kau hancurkan dan jangan pula kau tinggalkan kuburan yang menggunduk tinggi sebelum kau ratakan.” (riwayat Muslim)

    sebenarnya kalianlah yang menempatkan diri kalian sendiri dalam keadaan yang tidak menentramkan.

  40. Qodrat Arispati

    Kepada Admin dan Sdr Abu Ubaidah AsSidawi…. Saya mohon maaf. Memang benar bahwa saya agak emosi, ini karena pas kebetulan saya seperti dapat durian runtuh ketika ada alamat EMAIL-nya Mas Achmad Khairuddin, eh malah dihapus. Namanya juga manusia biasa, jadi emosi, jadi turun derajatku sebagai manusia tidak berakhlak. Untuk itu saya mengaku khilaf, sekali lagi saya mohon maaf, juga kepada yang lainnya.

    Saya setuju dengan Mas Kharuddin, tidak perlu emosi dan marah-marah. Oh ya Mas Khairuddin, saya sambut nasehatmu dengan senang hati dan terima kasih. Memang benar kita jangan masuk ke wilayah subhat yang merupakan lingkaran haram. Tapi Mas…, Qodrat Arispati itu memang nama Asli saya bukan nama samaran. Kalau gak percaya cek di Dinas Kependudukan DKI. He he he…. Jangan nanti malah repot. Percaya Aja sama saya, dijamin nggak bohong.

    Nah, ada cerita sedikit buat kita semua. Sudah 3 hari ini saya mengikuti do’a dan zikir tahlil (tahlilan) di rumah tetangga yang Ibundanya dipanggil Allah SWT. Seperti biasa, setelah pembacaan tahlil selesai maka diisi dengan Tausiah yang disampaikan Ustadz Kampung sini. Hari pertama Tema-nya tentang kematian, hari kedua TENTANG KEMATIAN LAGI, dan tadi adalah hari ketiga (hari terakhir) tentang KEMATIAN LAGI tapi disampaikan dengan gaya santai dan banyak tertawa karena terhibur. Kenapa agak bercanda, beliau beralasan agar jangan sedih terus. Sebab sudah dua hari berbicara serius tentang kematian. Uraiannya tentang kematian sungguh-sungguh mendalam dan berbobot, dengan rujukan Al-Qur’an, Hadits Imam Bukhari, Imam Muslim dan hadits shahih yang lain, juga merujuk pada kitab-kitab karya Ulama-ulama Ahlussunnah Waljama’ah. Coba bayangkan, tiga hari bicara tentang kematian. Kami seperti sedang kursus, ilmu kami tentang kematian benar-benar bertambah dan Insya-Allah akan membuat kami menjadi lebih baik dari sebelumnya.

    Setelah usai acara tadi saya yang bukan asli warga sini (perantau) sempat berbincang. Dalam pembicaraan di antara kami, akhirnya tersingkap latar belakang pendidikannya. Beliau (masih sangat muda belia 30-an tahun) nggak pernah kuliah di Arab Saudi ataupun di negara timur tengah yang lain. Beliau hanya mondok di pesantren tradisional 12 tahun, terus kuliah administrasi, dan sekarang bekerja di kantor perpajakan. Eh nggak nyangka. Saya pikir beliau lulusan timur tengah…? Karena ilmu yang ditranfer-nya kepada hadirin sangat-sangat ilmiah dan mendalam. Saya pribadi merasakan manfaatnya lahir batin.

  41. Qodrat Arispati

    Oh, nambah boleh ya? Begini, saudara Admin menyuruh Ustadz-nya untuk menelaah ILMU-nya SALFY TOBAT itu bagus sekali. Pasanglah niat yang lurus dalam hati, lalu kunjungi WEB SALAFY TOBAT. Insya Allah beliau (Abu Ubaidah As-sidawi) akan segera bertobat juga. Amin…. Ya Allah, Ya Mujibassa’ilin birohmatika ya arhamar-rohimiin. (Boleh dong mendo’akan yang bagus-bagus kepada sesama makhluk Allah Azza wajalla?)

  42. Ahmad Khoiruddin Al_Bantani

    untuk saudara Ibnu Abi Irfan….

    ini yang perlu diluruskan…… saya tanya : “siapa yang kekubur minta syafaat? Toh Rasulallah yang akan memberikan Syafaat Kubro, al-Qur’an pun bisa memberikan syafaat, amal-amal baik kita juga,… justru anda yang salah lihat saudara ibnu… anda cuma lihat bungkusnya aja…”..
    coba sekali-kali ikut ziarah, dan dengarkan baik-baik apa doa yang mereka lantunkan….
    pernyataan anda itu sama dengan orang buta yang berkata “gajah itu lebar”… karena kebetulan dia pegang telinganya.. dsb.
    harus arif dalam bertindak akhi…
    kemudian masalah tentram… maksud kami adalah tentram dalam ibadah kami… dan mencakup muamalat kami.. tradisi kami …..
    jangan salah ulama terdahulu itu tentram dengan tawasul mereka, dan berbagai ibadah yang mereka lakukan… dan ulama-ulama dahulu semua bertawasul.. dari abad 1 H sampai abad 7 H. nah pada abad ke 7 H inilah Ibnu taimiyah datang dengan interpretasi baru.. yaitu dengan mensyirikkan Tawassul… ini hasil dari penafsiran ayat 2 surat az-zumar “maa na’buduhum illa lituqooribuuna ilallahi zulfaa”… otomatis mereka juga(ulama-ulama sebelum itu di musyirkan oleh Pengikut Ibnu Taimiyah-terlebih ketika faham wahhabi muncul dan lebih extrim mengkafirkan mereka)”.. dan hal tersebut juga mengganggu ketentraman ulama-ulama sezamannya dan muncul pergolakan hingga sekarang… jadi salah kalau hanya terjadi sekarang akhi… di indonesia.. ini bisa dibaca dikitab biografi Ibnu Taimiyah karangan Imam Abu Zahroh bab terakhir… saya bilang kami tentram dulu itu karena indonesia belum di masuki faham wahabi era itu,… masih berpegang pada manhaj Ahlus sunnah wal jama’ah.. bermazhab Syafi’i…sekarang?? wallahu’alam.. dan itu yang kami rasakan…

    kemudian hadits yang anda kemukakan….. itu hadits shohih.
    tapi coba kemudia kalau kita fikir pakai “AKAL SEHAT”.. apa sebenarnya maksud dari berhala-berhala itu? dan apa sebenarnya maksud dari kuburan yang meninggi harus di ratakan??
    sekarang apakah di indonesia ada patung berhala yang di sembah seperti dulu latta, uzza, dkk? mungkin orang hindu atau cina yang punya.. sekarang itu pohon, dukun, dan mungkin hukum yang tidak adil sebagai interpretasi dari BERHALA MASA KINI, perempuanpun bisa jadi BERHALA bila ditaati lebih dari mentaati Allah.. taat didalam kemaksiatan tentunya…
    sekarang ada liberalisme, sekularisme, DLL… apakah ini bukan BERHALA juga namanya… ini berhala AKHI.. dan berhala itu tidak mesti patung…. hawa nafsu yang ada didalam diri kita juga adalah BERHALA…. DAN HARUS KITA HANCURKAN…

    kemudian MERATAKAN KUBUR??? pernah Wahhabi saudi ingin meratakan KUBUR Nabi di era tahun 50-han,, di era Bin BAZ…. masih awal-awal orde baru…Makam Rasulallah pun akan dihancurkan, hajar aswad, sumur zam-zam…. karena dianggap akan mengundang Syirik.. lalu Indonesia mengutus 3 Ulama Delegasi untuk berdiskusi masalah ini.. dan akhirnya Makam rasulallah tidak jadi di ratakan..
    tapi itulah orang arab… selalu khawatir akan syirik.. Rasulallah pun, dan tak kurang lagi KITA SEMUA…alhamdulillah sich,, tapi mbok yo wajar saja.. bisa-bisa kita enggak akan pernah lihat Ka’bah lagi karena di anggap khawatir akan menjadi sarana syirik….
    masih tentang sifat arab di atas… ada mahasiswa2 indonesia mengagumi sebuah GUNUNG di madinah waktu itu, mereka “orang arab” berkata “La Ya Akhi ,, Maa Indakum yanfadu wa maa Indallahi Baaq”, Innahu Syirk.. ” apa yang ada pada kamu adalah fana’/musnah, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal..”, itu syirik..
    loch,,, kita heran.. apanya yang syirik?? orang cuma kagum atas kebesaran Allah kok syirik..
    Nah,, kembali kepada Masalah kuburan… jadi yang dimaksud itu, sebagai mana sabda rasul yang maknanya : “jangan menjadikan kuburan itu sebagai tempat penyembahan=keramat=kalo liwat situ bisa kualat=membuat kuburan tersebut sesuatu yang ditakuti melebihi takutnya kepada selain Allah”…” gitu loch..
    jadi, supaya tidak menjadi sarana kemusyrikan,, ya mendingan di ratakan saja…. tapi apa semua kubur mesti diratakan,,,?? ya tidak dong… “KUBUR RASULALLAH TIDAK?? KUBUR BAQI’ YA MASIH ADA GUNDUKANNYA”
    kemudian kalimat “kuburan” itu juga sebagai isyarat tempat yang sunyi… yang menimbulkan rasa takut…BIASANYA SESEORANG KALAU TAKUT, MINTA TOLONG…
    kalau sekarang itu bisa berbentuk “RUMAH KOSONG YANG ADA JINNYA, KEMUDIAN DIADAKAN SESAJI SUPAYA SI JIN TIDAK MENGGANGGU,, ATAU GUNUNG ANGKER,, ATAU HUTAN TUA YANG BANYAK MAKHLUS HALUS ALIAS JIN DISITU, ATAU SUNGAI, ATAU WC.. Hihihi..”… INI yang harus di berantas…. bukan kuburan ujug-ujug ditarakan tanpa sebab… tapi membiarkan POHON GEDE, HUTAN TUA ANGKER, GUA HANTU, GUCI BERDARAH malah tambah disembah dan ditakuti..
    gitu loch mas….

    Sapuntene Mas…..

  43. Untuk akh Ahmad Khoiruddin, semoga Allah membuka hatinya untuk menerima kebenaran dakwah tauhid.

    1. Alhamdulillah, kayaknya sudah ada kemajuan dari antum. Teruslah berdoa kepda Allah agar menunjukkan jalan yang benar dan mengikutinya, pelajarilah dakwah tauhid ini secara ikhlas, hilangkan sifat kebencian, fanatik dan hawa nafsu, semoga Allah suatu saat merahmati anda.

    2. Menanggapi tanggapan antum, kami katakan bahwa perselisihan itu ada dua macam:

    a. Perselisihan dalam masalah prinsip, seperti masalah aqidah dan tauhid yang telah disepakati ulama, maka di sini tidak ada toleransi, siapa yang menyelisihinya maka tersesat. Bukankah orang yang mengingkari adzab kubur, ketinggian Allah. kebenaran Islam dll adalah sesat?!!

    b. Perselisihan dalm masalah ijtihadiyyah, sprti kebanyakan masalah fiqih, termasuk yang anda contohkan di atas, yaitu adakah sholat setlah ashar ataukah tidak, maka di sini kita harus berlapang dada, tidak boleh saling menyesatkan. Oleh karenanya, syaikh albani, ibnu baz dan utsaimin walaupun ada perbedaan pendapat dalm fiqih diantara mereka, namun mereka tetap saling mencintai, menghormati, memuji dan membela antara satu dengan yang lain, karena persamaan pendapat dalam semua masalah adalah mustahil adanya.

    Apakah anda bahkan kyai anda selalu sama dalam setiap pendapat?!! Gak kan?!! (Lihat tulisan saya “Perselisihan adalah rohmat? yang sudah dimuat di blog ini). >>>KLIK DISINI<<<

    Demikian, semoga tanggapan ini jelas dan mendapatkan tempat dalam hati saudara. Was Salam.

  44. Akhi Qodrat, semoga Allah meunjuki anda ke jalan yang benar.
    1. Alhamdulillah, antum berani mengaku salah. Ini suatu kemajuan yang sangat bagus. Semoga, ke depan lagi antum dilapangkan dada oleh Allah untuk mengakui kesalahan-kesalahan lainnya dan dimudahkan Allah untuk bertaubat dari hujatan-hujatan terhadap dakwah tauhid dan ulama-ulama sunnah. Amiin.

    2. Cerita-nya menarik juga ya, tapi apa manfaatnya? apa perbuatan dia bisa dijadikan hujjah dalam agama?!! Gak kan?!

    3. Situs “Salafi Tobat” sudah ana buka, jujur saya sebenarnya ingin untuk menanggapi satu persatu, tapi hal ini tentunya membutuhkan buku yang berjilid-jilid dan waktu yang lama, apalagi kebanyakan pembahasannya sudah pernah saya bahas dalam karya-karya saya seperti “Syaikh Albani Dihujat”, “Meluruskan Sejarah Wahhabi”, “Membela Ibnu Taimiyyah”, “Di Mana Allah?”, “Polemik Perayaan Maulid Nabi” dan sebagainya. Oleh karenanya, saya setuju dengan usulan saudara admin agar kita mencukupkan dengan materi yang ada terlebih dahulu dan bila ada sanggahan maka kami siap untuk jihad membela agama Allah dan membantah syubuhat yang ada. Semoga Allah memudahkan.

    4. Terakhir, pesan saya kpd pengelola situs “Salafy tobat” untuk segera bertaubat (sebagaimana nama web-nya) kepada Allah dari aksi-aksinya dalam menebarkan kedustaan. Sungguh, banyak sekali kedustaan-kedustaan yang ada padanya yang tidak mungkin kita sebut satu-persatu di sini, di antaranya seperti ucapan mereka: Albani mengkafirkan Imam Bukhori (!), Syaikh al-Ustaimin mengkafirkan Imam Ibnu Hajar dan Nawawi. Wallahi, wallahi, wallahi, semua orang yang mengerti tentang ulama2 tersebut akan mendustakan tuduhan-tuduhan keji ini. Takutlah kalian wahai hamba Allah dari tuduhan dan kedustaan. Jangan hanya mengutip beberapa kata lalu dipahami sendiri kemudian mengambil kesimpulan meleset jauh yang tidak terlintas dalam benak pelontarnya sendiri. Bagaimana albani mengkafirkan Imam Bukhori, padahal beliau sendiri mensifati Bukhori dengan Imam Dunia, Amirul muhaditsin, imam muhaditsin (Silsilah Ahadits Shohihah IV/ya’, III/ha’, VI/980) apalagi kitab yang dijadikan rujukan adalah Fatawa albani yang didustakan oleh albani sendiri.
    Bagaimana syaikh utsaimin mengkafirkan Imam Nawawi dan Ibnu Hajar, padahal beliau selalu memuji dan membela keduanya (Lihat Syarh Arbain Nawawiyyah hlm. 8 dan Kitab Ilmu hlm.199-201)

    Maka kepada para pencela ulama, bertaubatlah kepada Allah sebelum Allah merenggut nyawa kalian. Ingatlah bahwa “daging para ulama itu beracun” (Tabyin Kadzibil Muftari hlm. 29 oleh Ibnu Asakir)

    Dan ingatlah bahwa celaan kalian kepada ulama tidaklah berfaedah kecuali hanya menghancurkan diri kalian sendiri.

    Hai orang yang ingin menabrak gunung tinggi untk menghancurkannya
    Kasihanilah kepala anda jangan kasihan sama gunungnya.

    Dan pesanku kepda suadaraku semua seperti pesan akh Ahmad Khoiruddin dan Qodrat juga “Jangan masuk dalam wilayah syubhat”. Dan situs “salafytobat ini” termasuk wilayah yang penuh dengan syubhat. Was salam.

  45. Ahmad Khoiruddin Al_Bantani

    ust Abu tersinggung ya dengan ucapan saya “jangan masuk wilayah shubhat ya”…?? saya itu menasehati secara umum… baik makanan, minuman, tindakan, maupun bacaan atau tulisan… tidak secara khusus blog ini… buktinya saya pun masuk blog ini… gitu kok tersinggung…. eh, terus jangan bilang blog salafi tobat penuh ke syubhatan,,, apakah anda mau blog anda ini di katakan penuh kesyubhatan?? tidak kan?? saya pun tidak mengucapkan blog anda ini penuh kesyubhatan kok… tapi anda aja yang merasa begitu… kalau merasa,, berarti iya… kan logikanya kayak gitu… kalau tidak merasa ya mengapa di ladeni…???

    Ingat akhi,, jangan main-main dengan sholat… walaupun sholat sunnah,, itu masuk kepada Haram atau tidak….. “KARENA SHOLAT ITU ASLINYA ADALAH HARAM,, KECUALI ADA DALIL YANG MENGALIHKAN KEHARAMANNYA”
    dan ini jelas haramnya….. “saya lebih setuju pendapat Syeh Bin Baz, Utsaimin, dan Mazhab 4 lainnya…”…

    Anda ingat Al-Bani pernah mengatakan bahwa sholat tarawih 23 rokaat itu bid’ah….karna tidak ada haditsnya dan tidak pernah dilakukan Rasulallah??? kemudian di kecam oleh kerajaan saudi…. … pasti anda ingat ustadz!!!

    coba di buka dulu kitabnya… jangan membantah dulu… mungkin anda belum lihat… dan belum baca…. apa mau saya tuliskan lagi kesyubhatan lainnya…??? biar semua bisa membedakan mana yang jelas dan yang tidak jelas…????

    Ma’af ya Ustadz.. tidak seharusnya orang semuda saya berkata seperti ini kepada antum yang lebih tua… cuma saya rasa ini adalah forum ilmiyah… dan harus dengan cara yang santun memberikan tanggapan…

    Kemudian saya minta ustadz jelaskan Keharaman NIYAHAH=meratap…..untuk siapa? dari sahabat mana? silahkan Ustadz kumpulkan hadits nya… dan kita tarjih bersama-sama…. dan kita bandingkan!!! biar semua baca ustadz!!

    kemudian Mulid ustadz abu…. saya bilang acara adat, seremonial belaka… karena apa? ada pembawa acara… ada acara…. dan acara nya baik… mengenang Nabi,,, perjuangan beliau,,, dan banyak lagi…. kan baik tuch… dan yang yang baik itu…….????? anda tau sendiri lah… kalau pada maulid tersebut ada joget2, kholwat, dan rangkayan kemaksiatan… maka itu dosa…

    yach intinya maulid Nabi Muhammad itu kalau di saudi itu semacam HAUL BIN BAZ… acara mengenang Syeh Bin Baz… \
    \
    tapi saya heran, Maulid Kok di bid’ahkan tapi Haul Bin Baz kok Tidak apa-apa…..

    Mana yang lebih utama, RASULALLAH ATAU SYEH BIN BAZ ATAU BIN WAHHAB???

    KEMUDIAN… ANDA BILANG MENGINGKARI AZAB KUBUR…. SIAPA YANG MENGINGKARI AZAB QUBUR???? SEMUA UMMAT ISLAM BERSEPAKAT ADANYA AZAB QUBUR….

    JADI JANGAN MEMALINGKAN MASALAH USTADZ…

    masalah mencela Ulama Ustadz… saya mau bertanya, siapa yang mencela??? saya tidak mencela ustadz…. saya hanya membela Ulama-ulama yang bertawassul dengan kemulyaan Nabi… PAdahal Ustazd sendiri yang berkata TAWASSUL ITU SYIRIK….. ITUKAN BERARTI MENCELA TAWASSUL… DAN MENCELA TAWASSUL BERARTI MENCELA ORANG-ORANG(ULAMA-ULAMA) YANG BERTAWASSUL… NAH, SAYA BALIKKAN LAGI… BERARTI USTADZ DAN GOLONGAN USTADZ YANG MENCELA PARA ULAMA DI ATAS… INGAT USTADZ, “daging ulama itu BERACUN”….

    Saya tidak mau anda mendapat azab ustadz, karena anda adalah orang muslim yang saya sayangi… saya sayang kepada anda dan berdoa agar kita berkumpul di Syurganya kelak…

    dan inilah yang dimaqsudkan Imam Syafi’i…. imam mazhab Kami….

    Orang pandir mencercaku dengan kata-kata jelek
    Maka saya tidak ingin menjawabnya
    Dia bertambah pandir dan saya bertambah lembut
    Seperti kayu wangi yang dibakar malah menambah wangi.
    (Diwan Syafi’i hlm. 156).

    Saya tunggu tulisan Ustad di Blog Ini….

  46. Qodrat Arispati

    Semakin jelas siapa yang lebih berisi dan berbobot. Makanya ustadz Abu Ubaid, jangan suka meremehkan orang, dan menganggap diri lebih pintar. Mas Ahmad Khairuddin ini baru semester tiga kuliahnya, sudah bisa berpikir lebih tertib, lebih teratur dan lebih bisa diterima oleh akal sehat. Akhirnya Ustadz sendiri sekarang yang suka berbelok dan berkelit karena terpojok oleh argumen sendiri. Bersikap rendah hati sedikit kan gak rugi? Malah bagus agar nantinya nggak mempersulit diri sendiri.

    Seperti sekarang ini, anda menghadapi pendekar dari Banten ini, yang sebelum-sebelumnya anda remehkan, terbukti jauh lebih unggul argumentasinya. Ini adalah pelajaran berharga buat yang lain-lainnya, bahwa sikap tinggi hati itu tidak diridhoi Allah SWT. Kemarin saya langsung minta maaf kepada anda semua, itu karena saya tidak mau tinggi hati. Saya tidak ingin memandang anda terlalu ‘under estimate’ sejak awal, tapi tiba-tiba saya tersasar lagi di blog ini, jadi terlibat lagi.

    Mengenai cerita saya di atas tentang Tausiah Kematian, jika anda (Ust. Abu Ubaid) memiliki sedikit saja kerendahan hati, pastilah Anda bisa menangkap maksudnya kenapa saya bercerita tentang hal tersebut di blog ini. Tapi kenyataannya anda tidak bisa mengambil manfaatnya, yaitu latihan bersikap rendah hati.

  47. Akh Khoiruddin, semoga Allah memberinya hidayah.
    1. Alhamdulillah, Allah Maha Tahu bahwa saya tidak tersinggung sama sekali dngan ucapan anda tersebut, karena saya yakin bahwa dakwah yang dibangun di atas Al-Qur’an dan sunnah dg pemahaman salaf ini adalah haq, tidak ada syubhat dan keraguan di dlmnya, bahkan adanya para penentang dakwah tauhid ini semakin membuat kami bertambah yakin, sebab mereka trnyata tidak memiliki argumen kecuali argumen yang lemah seperti sarang laba-laba. Benar kata Imam Ibnul Qoyyim:
    Janganlah kamu takut dengan tipu daya musuh
    Karena senjata mereka hanyalah kedustaan dan kebohongan.
    2. Apa yang saya lakukan hanyalah menukil dan meminjam perkataan anda sebagai nasehat kepada saudara-saudara yang lain. Masa’ gitu aja gak boleh?! Jangan pelit gitu dong!! He..he.. Seharusnya antum tambah seneng kan, ucapan anda dinukil untuk nasehat.
    Kalau anda katakan maksudnya khusus begini dan begitu. Ya akhi, bukankah ada kaidah “al-ibroh bi umumil Lafdz laa bikhususi sabab” (Yang menjadi patokan adalah keumuman lafadz, bukan kekhususan sebab”).
    3. Ada pepatah dalm bahasa Arab “Min Alamatir Rijal Adamul Munaqosyah fil Misal”. (termasuk tanda pria adalah tidak mendebat contoh). Seperti masalah siksa kubur, jelas sekali itu hanya sekedar contoh masalah prinsip yang tidak bisa ditoleransi, bukan saya menuduh anda termasuk pengingkar kubur. Coba baca lagi deh baik-baik biar gak disangka memalingkan masalah!!
    4. Termasuk etika dalam dialog dan debat adalah tidak lari dari inti pembahasan, maka saya harapkan saudara menepati etika ini, biarlah masalah tahlilan, tawassul, maulid (tapi kok ada haul Syaikh bin Baz segala, emang ada ya? Saya di sana beberapa tahun kok gak pernah dengar tuh, jangan ngada-ngada gitu dong!! He…), kita bahas pada kesempatan lainnya. Sudah siap kok artikelnya, ikuti aja terus perkembangannya, karena menuntut ilmu itu memang butuh kesabaran “Barangsiapa yang ingin dapat ilmu sekaligus, maka akan hilang sekaligus juga”. Jadi, mari kita fokuskan ke inti pembahasan, jangan ke sana ke mari dulu. Apalagi, masih banyak lho PR antum yang masih ana tunggu seperti masalah Syeikh albani di artikel “Albani yang terzhalimi” kok gak ada sambungannya nih. Ana masih tunggu bukti-bukti antum yang sudah saya bantah. (oh ya, masalah syeikh albani yang antum singgung di atas sebaiknya di artikel syaikh albani aja, biar lebih teratur gitu lho).
    Demikian, kurang lebihnya saya mohon maaf. Demi Allah, tidak ada maksud dalam hati menyakiti perasaan siapapun dan golongan manapun. Was salam.

  48. Untuk akh Qodrat, semoga Allah menghiasinya dengan akhlak yang mulia.
    1. “Semakin jelas siapa yang lebih berisi dan berbobot” penggalan ini kami sangat setuju. Biarlah akal para pembaca -semoga Allah selalu membimbing mereka- yang menilai siapakah yang lebih kuat argumen/hujjah dan siapakah yang lebih ilmiyah.
    2. Termasuk adab dialog adalah menfokuskan kepada inti pembahasan. Kami harap anda mengikuti adab ini, maaf karena menurut saya anda telah keluar dari inti pembahasan dengan membahas masalah-masalah pribadi seperti “menganggap pinter sendiri”, “Meremehkan orang lain”, “Tinggi hati” dll (Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat-sifat jelek tersebut dan menghiasi kita dengan akhlak yang mulia). Jujur saja, bukankah ini lari dari pembahasan artikel?!! Bukankah kalau saya mau, saya bisa memutar hal ini kepada anda, tapi saya mau gak mau melakukan hal itu, karena hal itu keluar dari pembahasan dan masalah pribadi, bukan masalh ini yang sedang kita bahas.
    Demikian, kurang lebihnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Wallahu A’lam.

  49. Ahmad Khoiruddin Al_Bantani

    ustadz, alhamdulillah… ada perbaikan kata-kata dari masing-masing pihak…. dan KAMI JUGA YAKIN MEMANG DAKWAH HAQ KAMI INI AKAN MENDAPAT TANTANGAN…ITULAH YANG MEMBUAT KAMI SEMAKIN PERCAYA DENGAN APA YANG KAMI JALANI…..
    akan saya jelaskan…..
    1. akhi, kalimat al ‘ankabut untuk orang kafir yang ingkar terhadap ajaran Allah swt, ingkar terhadap nabi, dan menyembah Tuhan Selain ALLAH SWT… akan saya tuliskan ayatnya….. al – ‘ankabut ayat 41 :

    مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
    “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui”..
    ayat ini jangan di bawa-bawa untuk orang muslim akhi… sama saja mengkafirkan orang muslim sendiri… kitakan mau kalau didunia ini penuh kedamaian…. jangan gara-gara kata-kata saya atau argumen saya mengena kemudian saya di LEMPAR pakai ayat ini…

    2. masalah “al ibrotu bi ‘umumil lafdzi, laa bi khususis sabab”… itu adalah kaedah tafsir yang sudah paten… akan tetapi anda juga harus perhatikan.. tidak semua kaedah itu berlaku pada semua ayat.. di dalam kaedah tafsir juga ada yang namanya “al ‘ibrotu bi khususis sabab laa bi ‘umumil lafzdi”…
    saya contohkan : pada surat al baqoroh ayat 158.. “innas shofa wal marwata min sya’airillah faman hajjal baita awi’tamaro FALAA JUNAAHA ‘ALAIHI AN YATTOWWAFA BIHIMA..”kalau tidak di fahami ayat itu dengan asbabun nuzulnya,, niscaya ayat itu tidak difahami sampai sekarang… ayat masalah tawaf… coba renungkan artinya dan kolerasikan ayat yang anda renungkan ITU DENGAN melihat asbab nuzulnya… pasti bertolak belakang dengan apa yang anda fikirkan… saya rasa anda tau hal ini…
    dalam ini banyak di dalam al-Qur’an…. “alhamdulillah saya sudah khatam kitab al-burhan, al-itqon, mabahits fii ulumil qur’an,,…”.. alhamdulillah,, seperti anda menulis bahwa anda sudah khatam membaca kitab2 yang banyak kemaren di kolom yang lain…

    3. apanya yang bohong akhi??? kami jelas… refrensi jelas.. tinggal dibuka saja kok dikitabnya… saya yakin anda punya kitab-kitab Syaikh Al-BAni, Bin Baz dan Syeh Utsaimin RADIYALLAHU’ANHUM… ini bukan bohong semata… justru anda yang kelihatannya emosi dan membuat tipu daya sehingga menempatkan ayat untuk orang kafir kepada orang muslim…

    4. azab qubur itu ada,,, tidak usah diperbedatkan lagi.. bisa dilihat disurat al mukmin/az zumar ayat 46.. tentang FIR’AUN YANG DISIKSA DENGAN DITAMPAKKAN NERAKA PADANYA SEPANJANG HARI SAMPAI HARI KIAMAT TIBA..

    5. justru saya ingin ketawa cara argumen anda mengatakan TAHLILAN merugikan… menambah sengsara orang yang ditingal mati keluarganya…. orang tahlilan itu berdoa, agar yang meninggal itu di ampuni dosanya… sayapun berdoa kepada setiap orang muslim yang saya kenal dan yang belum saya kenal untuk diampuni dosanya…. dan ini di syari’atkan… coba baca di surat AL-HAYSR AYAT 10…

    6. anda ustadz abu ubaidah sungguh ceroboh… mengapa saya katakan seperti itu ustadz…. saya kutip dari pernyataan ustadz “bertaubatlah kepada Allah sebelum Allah merenggut nyawa kalian”…. ini berarti mendoakan kami mati…..
    sedangkan ALLAH berfirman menegur Nabi Muhammad saw :
    “LAISA LAKA MINAL AMRI SYAIUN AW YATUBA ‘ALAIHIM FAINNAHUM DZOLIMUN”… Ayat ini berkenaan tentang RASULALLAH MENDOAKAN KEMATIAN ORANG KAFIR….. ORANG KAFIR SAJA RASULALLAH DITEGUR,,, DAN SAYA HARUS TEGAS MENEGUR ANDA WAHAI USTAZD…. INI ADALAH SUATU KEBATHILAN….
    padahal Allah juga berfirman :

    وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
    untuk saudara kita yang sudah meninggal saja harus di doakan yang baik…. apalagi masih hidup syeh…

    7. Anda menyuruh orang untuk berbuat MAKRUF… tetapi anda sendiri TIDAK MA’RUF KEPADA ORANG DI SEKELILING ANDA…
    Coba dibaca di tafsir Ar-Razi, FII DZILALIL QUR’AN, IBNU KATSIR DLL.. tentang tafsir surat ali Imron ayat 104 tentang AL-AMRU DIL MAKRUF WAN NAHYU ‘ANIL MUNGKAR….
    INGAT USTADZ DIDALAM AYAT INI SAYA AKAN TULISKAN LENGKAPNYA..

    وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

    INGAT USTAD… DISINI ADA TERMA :
    1. KHOIR
    2. MA’RUF
    3. MUNGKAR

    kalau masih bingung akan makna-makna ayat ini.. silahkan buka didalam kitab “mu’jam li ghoroibi alfadzil qur’an” karya raghib al-ashfahani….

    8. ustadz,,, anda merasa menulis tidak yang kira-kira makna atau mirip-mirip kayak gini..
    “SIAPA ALI MUSTHAFA YA’QUB DIBANDINGKAN AL-BANI”
    KALO ENGGAK MERASA YA ENGGAK APA-APA.. TOH ORANG YANG BACA..
    TAPI KALO MERASA MENULIS,,, SAYA AKAN BERPESAN(SEBAGAI ORANG YANG KULIAH DI INDONESIA YANG TIAP HARI MAKANANNYA ADALAH MAKALAH DAN ILMIYAH)
    ustadz,, di dalam dunia ilmiyah tidak ada seperti ini… ini namanya tidak FER..

    COBA saya akan mencoba analogikan kepada anda…. bagaimana jika saya bilang didalam buku saya(KALAU SAYA NULIS BUKU SIIH)..
    “SIAPA ABU UBAIDAH JIKA DIBANDINGKAN PAK YAI ALI MUSHTAFA YA’QUB”
    ATAU DIBALIK
    “SIAPA AL-BANI DIBANDING DENGAN ALI MUSTHAFA YA’QUB?

    kan gak enak sich… semua harus reil ustad..

    sekarang saya mau pecah permasalahan ini…
    siapa sekarang Syeh AL_BANI?? siapa guru-gurunya?? mendapat legitimasi dari siapa saja?? mengajar dimana saja?? saya butuh data kongkrit tentang KE-KREDIBELAN syeh al_Bani…. dari mana saja… dari buku tah,, dari cerita-cerita orang tah,, dari mana saja pokonya.. SAYA TIDAK BUTUH HALAMAN,, BUKU,, ATAU HADITS.. KAN ANDA YANG TAU TENTANG BELIAU TO’…

    Prof. Ali Musthafa Ya’qub, MA… termasuk Murid DAN MEMPUNYAI SANAD HADITS dari MM AZAMI pendekar hadits dari INDIA.. penakluk oroientalis IGNAS GHOLDZIHER DAN JOSEP SHACH…. MM AZAMI PUNYA SANAD dari guru-guru yang KREDIBEL PULA….
    PROF. ALI M. YA’KUB DIAKUI KREDIBELNYA.
    MENDAPAT LEGITIMASI DARI SEORANG MUFASSIR SEKALIGUS MUHADDITS SERTA AHLI FIQH…. WAHBAH ZUHAILI… PENGARANG TAFSIR AL-MUNIR, FIQHUL ISLAM WA ADILLATUH, DAN BANYAK LAGI…. SEBELUMNYA PAK ALI MENJALANI RANGKAIAN TEST DARI BEBERAPA ULAMA SEBELUM MENYANDANG TINGKAT LEGITIMASI..
    SEBENTAR LAGI KELUAR BUKU KYAI MUSTAFA, KATA PENGANTAR OLEH WAHBAH ZUHAILI…

    oke ustadz…. jelaskan??? saya tunggu komen ustadz… untuk dulur kula kang kodrat,,, HASBUNALLAH WANI’MAL WAKIL… NI’MAL MAULAA WANI’MAN NASHIR… TONG SEDIH,, GUSTI PANGERAN JEUNG HAMBA-HAMBANA ANU TAQWA…

  50. Ahmad Khoiruddin Al_Bantani

    RALAT…. PADA KOLOM KE-2 ADA KEKELIRUAN… ITU BUKAN TAWAF…. TAPI SA’I….

    WAL ‘AFWU MINGKUM….. WA ASTAGFIRULLAH…

Leave a Comment