Membela Kehormatan Ulama, Kurang Kerjaan?

Membela Kehormatan Ulama, Kurang Kerjaan?

Yusuf Abu Ubaidah As Sidawi

Membela kehormatan saudara kita sesama muslim saja adalah amalan mulia, apalagi membela para ulama sunnah. Sungguh, ini adalah ibadah teragung dan mulia. Rasulullah bersabda:

مَن ردَّ عَن عِرضِ أخيهِ ردَّ اللَّهُ عن وجهِهِ النَّارَ يومَ القيامةِ

Barang siapa yang membela kehormatan saudaranya maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka kelak pada hari kiamat. (HR. At Tirmidzi: 1931 dan dishahihkan Albani)

Ash Shan’ani rahimahullah berkata: “Sebaik-baik manusia adalah orang yang menyebarkan kebaikan para ulama. Dan membela kehormatan mereka jika mendengar celaan yang dialamatkan kepada mereka”. (At Tanwir, 9/528)

Syeikh Albani berkata: “Kewajiban kita adalah membela orang-orang beriman dan menjernihkan kehormatan mereka dari segala kebohongan dan kebatilan yang dilontarkan kepada mereka, baik karena faktor kejahilan, kezhaliman, atau mungkin kedua-duanya secara bersamaan”. (Difa’ Anil Hadits Nabawi was Sirah hlm. 101)

Perlu ditegaskan di sini bahwa pembelaan kita kepada para ulama semisal Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah, Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Al Muhaddits Syeikh Al Albani dan lainnya bukanlah sekedar pembelaan kepada pribadi mereka semata, tetapi kepada aqidah dan ilmu yang beliau-beliau sebarkan.

Perhatikanlah kritikan-kritikan para musuh dakwah sunnah, kebanyakannya adalah seputar masalah aqidah, karena memang para ulama tersebut telah menaruh perhatian khusus untuk membela aqidah yang benar dan membantah penyimpangan manusia dalam masalah ini. Jadi, ini bukan masalah sederhana wahai saudaraku.

Makanya, para ulama sunnah sejak dulu tegas terhadap orang-orang yang merendahkan dan melecehkan para ulama ahli hadits. Diceritakan bahwasanya Ahmad bin Hasan pernah mengatakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal: Wahai Abu Abdillah, orang-orang menyebut ahli hadits pada Ibnu Abi Qutailah di Makkah lalu dia berkomentar: Ahli hadits itu kaum yang jelek!!!
Mendengar cerita itu, Imam Ahmad bin Hanbal berdiri sambil menyeret pakaiannya seraya mengatakan: Zindiq, zindiq, hingga memasuki rumahnya!!! (Syarafu Ashabil Hadits, Al Khathib Al Baghdadi hlm. 45)

Makanya, orang yang berbicara tentang kehormatan ulama harus betul-betul hati-hati, tidak boleh gegabah dan asal-asalan saja. Alangkah bagusnya apa yang dikatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar: “Diharuskan bagi seorang yang ingin menilai suatu ucapan, perbuatan atau golongan untuk berhati-hati dalam menukil dan tidak memastikan kecuali benar-benar terbukti, tidak boleh mencukupkan diri hanya pada issu yang beredar, apalagi jika hal itu menjurus kepada celaan kepada seorang ulama. (Dzail Tabril Masbuk hlm 4 karya As Sakhawi)

Setelah ini, lantas pantaskah pembelaan kepada ulama semisal Syeikh Albani dari tuduhan bukan Muhaddits dianggap sebagai kurang kerjaan?! Sungguh itu sebuah kesalahan yang harus diluruskan. Semoga Allah senantiasa memimbing langkah kita di atas jalan kebenaran.

Dan perlu kami tegaskan bahwa pembelaan kita kepada para ulama bukanlah berarti kita mengkultuskan mereka, fanatik buta, atau taklid kepada mereka, atau mengikuti semua pendapat mereka. Tidak, sama sekali tidak, karena mereka hanya manusia biasa yang bisa salah dan bisa benar. Dan setiap orang, boleh diambil dan ditinggalkan pendapatnya kecuali hanya Rosululloh.

Sebagai nasehat buat diri sendiri dan semua saudara kami yang menulis, terlebih para ustadz, mari kita berhati-hati dalam menulis di medsos, tulislah ilmu yang bermanfaat secara ilmiah, dengan ikhlas, adil, hati-hati dan beradab sehingga membawa maslahat bagi umat, bukan tulisan-tulisan yang kontroversial yang tidak bermanfaat bagi umat, karena semua tulisan kita akan ada pertanggung jawabannya di hadapan Allah kelak.

Alangkah bagusnya ucapan seorang penyair:

كَتَبْتُ وَقَدْ أَيْقَنْتُ يَوْمَ كِتَابَتِيْ
بِأَنَّ يَدِيْ تَفْنَى وَيَبْقَى كِتَابُهُ
وَ أَعْلَمُ أَنَّ اللهَ لاَبُدَّ سَائِلِيْ
فَيَا لَيْتَ شِعْرِيْ مَا يَكُوْنُ جَوَابُهُ

Ketika saya menulis saya yakin
Bahwa tanganku akan binasa dan tulisanku kekal
Dan saya tahu bahwa Allah pasti menanyakanku
Aduhai, apa nanti jawabannya?

Baca Juga Artikel Terbaru

Leave a Comment